2019, Tren Bisnis Asuransi Perjalanan masih Cerah

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tren bisnis asuransi perjalanan sepanjang tahun 2019 masih cerah dan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Apalagi, target kunjungan wisatawan domestik yang dipatok Kementerian Pariwisata mencapai 275 juta wisatawan domestik sehingga memberikan peluang yang cukup baik bagi perusahaan perasuransian, khususnya untuk produk asuransi perjalanan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengklaim bahwa total premi yang berasal dari asuransi perjalanan mengalami peningkatan dari hingga kuartal II 2019. Sayangnya saat ini, AAJI belum memiliki data spesifik terkait produk asuransi perjalanan, namun pertumbuhan total premi asuransi jiwa sampai dengan akhir tahun 2019 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 10,5%.

Diharapkan produk asuransi perjalanan juga turut menunjukkan pertumbuhan yang positif sampai dengan akhir tahun 2019 ini. “Cara para pemain melakukan penetrasi pasar ke pasar yaitu bekerjasama dengan pihak ketiga dan memanfaatkan teknologi digital sebagai saluran penjualan,” papar Togar Pasaribu seperti dilansir laman Kontan, Rabu (02/10/2019).

Potensi dan prospek bisnis asuransi perjalanan ke depannya diperkirakan akan semakin baik. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaraan, baik pribadi maupun umum untuk mengunjungi tempat wisata tertentu. “Banyak hal yang tidak terduga yang akan terjadi selama perjalanan, misalnya kecelakaan sehingga setiap orang perlu memiliki asuransi agar dapat memberikan perlindungan diri,” jelas Togar.

Selain itu, semakin banyaknya masyarakat yang melakukan perjalanan wisata sehingga diperlukan asuransi perjalanan yang dapat memberikan manfaat asuransi terkait kesehatan, kecelakaan, ataupun kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan selama mereka melakukan perjalanan wisata.

Saat ini, lanjut dia, sektor pariwisata memang menjadi salah satu tonggak perekonomian Indonesia dan hal ini disambut sangat baik oleh perusahaan asuransi jiwa. Hal tersebut dibuktikan dengan keterlibatan beberapa perusahaan asuransi jiwa dalam konsorsium asuransi perjalanan yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata.

Untuk meningkatkan jumlah premi di bisnis ini, Togar menekankan kepada pelaku asuransi jiwa harus bisa menciptakan produk yang baik dan terjangkau baik dari sisi harga, cara pembelian, pembayaran maupun pada saat klaim. Selain itu, edukasi pasar juga harus dilakukan agar asuransi perjalanan tidak hanya melindungi kesehatan dan kecelakaan tetapi juga segala sesuatu yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan wisata.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe juga menilai lini bisnis asuransi perjalanan akan cerah setidaknya sampai akhir tahun ini. “Kami memandang produk asuransi individu akan terus tumbuh. Salah satunya adalah asuransi perjalanan,” kata dia.

Dody menilai, saat ini perusahaan asuransi membuat produk asuransi perjalanan yang inovatif dan mengikuti keinginan dari pasar. berikutnya adalah melakukan kerjasama dengan perusahaan angkutan umum, biro perjalanan wisata, dan komunitas. Untuk itu, Dody mengharapkan Kementerian pariwisata dapat memfasilitasi kerjasama dengan dinas pariwisata di daerah agar dapat memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata daerah. (ndy)

BCA Tingkatkan Kualitas SDM Warga Desa Wisata Binaan

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) turut aktif mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui program Solusi Bisnis Unggul. BCA mewujudkannya dengan menggelar wokrshop digital marketing bagi sekitar 15 orang perwakilan desa wisata binaan BCA yang melengkapi para pemuda/i mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari mulai 1 hingga 3 Oktober 2019.

“Melalui workshop ini, kami berharap dapat mengembangkan wawasan dan keterampilan teknologi digital khususnya dalam penggunaan website dan media sosial di desa wisata, sehingga mampu memanfaatkan kedua platform tersebut untuk mempromosikan desa wisata ke depannya,” papar Vice President CSR BCA Ira Bachtar, Selasa (1/10/2019).

Berdasarkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi pengguna internet di Indonesia per 2018 ialah 64,8% dengan presentase terbesar ada di Pulau Jawa sebesar 55,7%. Perkembangan digital yang sangat pesat ini memberikan peluang yang berpotensi untuk mempermudah kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali dalam bidang ekonomi.

Hal ini menjadi dasar bagi BCA untuk berkontribusi melalui kegiatan pelatihan digital marketing yang akan melibatkan empat daerah desa binaan, yakni Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, dan Banyuwangi untuk dapat menggunakan teknologi digital dalam mencapai profitabilitas dari sektor wisata yang dimiliki daerahnya masing-masing, jelasnya.

Workshop digital merketing bagi warga desa wisata binaan BCA ini diselenggarakan sebagai bentuk partisipasi BCA dalam fungsi tanggung jawab sosialnya untuk turut serta mengembangkan bisnis di lingkungan komunitas maupun desa wisata yang berkontribusi memakmurkan masyarakat daerah.

Pelatihan ini membantu para peserta untuk bisa menghasilkan output berupa kemampuan dalam pengelolaan dan pengoperasian website dan media sosial dengan memperhatikan dari segi isi, tata letak, dan pemilihan informasi dengan cara strategis yang menarik sehingga bisa mendorong keberhasilan industri pariwisata yang ada melalui kemudahan teknologi saat ini.

“Pelatihan ini diadakan atas dasar pentingnya mengembangkan kualitas SDM dalam penggunaan teknologi digital untuk mempromosikan daerah wisatanya. Karenanya, BCA menginisiasi program pelatihan sebagai salah satu wadah untuk semakin memperkaya pengetahuan maupun kompetensi setiap individu khususnya pemuda/i di desa wisata agar mendorong perekonomian mereka dengan cara yang cepat, efektif, dan efisien,” sambungnya. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Destinasi Wisata Nusa Penida Menjanjikan Sayang Minim Kamar

this formate

NUSA PENIDA, bisniswisata.co.id: Bisnis hotel di kawasan wisata Nusa Penida, Bali dinilai sangat potensial. Mengingat minat kunjungan wisatawan ke pulau cantik yang terletak di sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung, sangat ramai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Klungkung, Bali ini memiliki tiga pulau dengan jumlah total penginapan 197 unit.

“Prospek pariwisata Nusa Penida, sangat bagus. Mengingat di Bali daratan sudah ramai dan macet. Waktu tempuh ke Nusa Penida juga tidak terlalu lama, yakni sekitar 30 menit dari Bali daratan,” ujar Managing Director Nara Hotels International, Francis Dehnhardt dalam keterangannya, Rabu (2/10/2019).

Data BPS Kabupaten Klungkung menyebutkan, pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Nusa Penida mencapai 133.848 wisatawan. Karena itu, Nusa Penida membutuhkan penginapan berupa hotel yang memadai dengan fasilitas berstandar internasional dengan pelayanan maksimal.

Kini, di tiga pulau kawasan Nusa Penida hanya terdapat 197 penginapan. Dari jumlah tersebut hanya tersedia empat ruang pertemuan dan 94 restoran. Hanya 27 atau 14 persen dari total penginapan yang memiliki kamar lebih dari 15. Bahkan, mayoritas yakni 78 atau setara 40 persen dari penginapan yang ada hanya memiliki berkisar 5-9 kamar, selebihnya memiliki 5-14 kamar.

Francis menyebut, pihaknya akan hadir di Nusa Penida dengan mendirikan hotel berstandar internasional berkapasitas 120 kamar setara dengan bintang tiga premium. “Tujuannya adalah untuk menampung wisatawan mancanegara yang kekurangan kamar untuk menginap. Biasanya mereka datang untuk berwisata, lalu pulang di hari yang sama karena tidak ada hotel yang memadai. Ceruk pasar ini yang kami sasar,” paparnya seperti dilansir laman Kompas.

Pulau Nusa Penida memiliki 17 destinasi wisata yang menarik. Bahkan, Nusa Penida disebut masih “perawan” ini, menyimpan begitu banyak keindahan alam unik yang tak boleh dibiarkan begitu saja. Kamu harus berkunjung dan menikmati pemandangan yang begitu menakjubkan.

Pulau dengan julukan The Golden Egg of Bali itu, memiliki destinasi dibagi ke dalam 3 kategori wilayah yakni di Barat, Selatan, dan Timur. Semua destinasi sangat instagramable, antara lain:

Wisata Pantai
Di Nusa Penida memang dikeliling pantai yang cantik. Tercatat ada enam pantai yang kerap disambangi wisatawan yakni Pantai Pasih Uug, Pantai Banah, Pantai Crystal Bay, Pantai Atuh, Pantai Suwehan. Semua pantai ini memiliki ciri khas tersendiri. Pantai Pasih Uug misalnya memiliki jembatan yang berlubang di tengah ini begitu indah dengan hamparan pemandangan laut turquoise di sekitarnya.

Pantai Banah ada tebing-tebing yang berada di tengah lautan lepas. Namun masyarakat lokal lebih sering menyebut istilah tebing-tebing ini dengan nama Pantai Banah. Tebing paling terkenal adalah yang memiliki lubang besar di tengah yang diakibatkan oleh hantaman ombak keras. Walaupun tebing tersebut terbentuk dari batuan kapur namun terdapat tanaman-tanaman yang tumbuh subur di atasnya sehingga memberikan pemandangan indah nan kontras dengan birunya laut bila dilihat dari kejauhan.

Pantai Atuh untuk menginjak pasirnya harus berjuang menuruni ratusan anak tangga yang curam. Walaupun pantai ini berada di area yang sulit dijangkau namun dipuaskan dengan keindahan Air lautnya berwarna turquoise dan pasirnya juga begitu bersih dan halus. Juga bisa untuk snorkling namun harus tetap hati-hati karena ombak di pantai ini cukup besar.

Pantai Suwehan memiliki ciri khas yang unik pada batu berbentuk segitiga lancip menyerupai merek volcom, tak heran nama lain dari pantai ini adalah Pantai Volcom. Namun warga sekitar memberi nama batu tersebut Batu Jineng. Pantai ini memiliki pasir yang sangat putih dan bersih, selain itu pantai ini merupakan pantai yang paling susah dijangkau karena akses yang masih sangat sulit dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di Nusa Penida.

Angel’s Billabong

Berlokasi tidak jauh dari Pasih Uug, Angel’s Billabong juga memiliki keindahannya sendiri. Angel’s Billabong merupakan natural infinity pool di mana kolam ini merupakan kolam alami tempat air sungai yang bermuara sebelum berakhir di lautan. Kolam ini dikelilingi oleh batu karang yang berwarna berbeda di setiap tempat berbeda pula. Air di kolam alami ini juga sangat jernih dan kamu bisa berenang di bawah sana. Hanya saja, jangan datang di Juni bila ingin menikmati jernihnya air kolam ini karena angin timur dari Australia sedang menerpa Pulau Bali. Ombaknya sangat tinggi dan kita pun tidak diperbolehkan turun dan berenang ke bawah, khawatir bisa ketarik ke laut sehingga dapat mengancam keselamatan.

#. Kelingking Secret Point,

Kelingking Beach yang lebih terlihat mirip seperti Tyrannosaurus Rex dibandingkan jari kelingking ini juga menawarkan pemandangan yang tak kalah indah. Disebut secret point karena dulunya, keindahan Kelingking Beach hanya bisa dinikmati dari kejauhan saja atau dari secret point/spot yang dibuat oleh orang lokal. Namun, seiring berjalannya waktu tepatnya semenjak tahun lalu, sudah dibuka jalan untuk bisa turun ke bawah dan bisa langsung menikmati pantai dan bermain-main di atas pasirnya. Pemandangan tebing nan unik, halusnya pasir yang berwarna putih, dan birunya laut menghasilkan pemandangan yang spektakuler.

Paluang Cliff

Paluang Cliff juga cukup dekat dari area Kelingking Secret Point. Dengan menggunakan sepeda motor sekitar 7 menit, kamu bisa tiba di lokasi ini. Paluang Cliff itu sendiri merupakan sebuah spot yang memungkinkan pengunjung untuk bisa melihat tebing/batu yang terdapat di Kelingking Beach. Bisa dikatakan bahwa Paluang Cliff ini merupakan hidden spot untuk bisa melihat keindahan batu yang ada di Kelingking Beach dari sudut pandang yang berbeda alias dari belakangnya. Paluang Cliff menjadi salah satu spot terbaik untuk menyaksikan sunset.

Mata Air Tembeling

Nusa Penida tidak hanya kaya akan pantai namun juga mata air, salah satunya Mata Air Tembeling. Berlokasi di tengah hutan yang tidak terlalu jauh dari area pantai, kamu perlu berjalan kaki sekitar 60 menit dari lokasi parkiran umum karena jalanan yang masih jelek. Awalnya, mata air ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ibu yang sedang hamil (hamil dalam bahasa Bali, beling). Dia mencari sapi-nya yang tidak kelihatan hingga akhirnya nyasar ke hutan ini, karena hal tersebut maka nama mata air ini disebut Tembeling. Sebelum mata air ini terkenal seperti sekarang dan menjadi tempat wisata, tempat ini dulu difungsikan sebagai sumber air minuman warga sekitar karena airnya yang jernih. Selain itu, mata air ini juga masih difungsikan sebagai tempat untuk ritual keagamaan. Hal terpenting adalah mata air ini hanya bisa dipakai oleh pria saja baik untuk berendam atau berenang. Wanita hanya bisa berendam atau sekedar bermain air di kolam kecil yang tidak terlalu jauh dari mata air tersebut.

Air Terjun Seganing

Air Terjun Seganing memiliki pemandangan yang tak kalah indah dengan air yang super jernih. Bagi wisatawan yang hobi memancing bisa melakukannya di sini.
Namun untuk bisa sampai ke tempat ini kamu terlebih dahulu harus melewati jalanan sempit di pinggir tebing yang sangat curam dan ada bagian jalan yang hanya bisa dilalui dengan merangkak melewati semak-semak belukar. Tidak hanya sampai di situ, hempasan gelombang ombak ke tebing-tebing membuat area jalan bergetar. Tak heran begitu mengetahui fakta ini banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk bisa mampir karena begitu besar risiko yang harus diemban. Wisatawan yang takut akan ketinggian sangat tidak disarankan untuk mampir ke tempat ini.

Air Terjun dan Mata Air Peguyangan

Bila kamu memiliki waktu yang banyak di Nusa Pendia, kamu perlu berkunjung ke Air Terjun Peguyangan. Air terjun ini tidak biasa karena memiliki kolam alami di pinggir tebing yang bisa dipakai untuk berenang atau berendam. Pemandangan yang diberikan juga tak main-main karena di hadapanmu langsung terlihat dengan jelas lautan lepas. Tidak hanya kolam alami, di sini juga terdapat mata air suci yang bisa dipakai untuk minum, gapura yang bisa dijadikan sebagai spot foto, dan juga pura warga yang bisa dipakai untuk berdoa bagi kamu yang beragama Hindu.

Selain itu, air terjun yang jatuh juga langsung ke lautan lepas sehingga memberikan pertunjukan alam yang menakjubkan. Agar bisa tiba di tempat ini kamu harus dalam kondisi yang fit karena jalanan yang begitu curam dan berbahaya. Trekking juga jauh karena kamu perlu melalui sekitar 870 anak tangga, dan bagi yang takut ketinggian tidak disarankan berkunjung ke tempat ini. Hal penting yang perlu diingat adalah bagi wisatawan wanita yang sedang menstruasi dilarang keras untuk dekat dengan mata air yang ada, dilarang untuk mencuci muka atau melakukan apapun di area mata air tersebut karena mata air tersebut adalah sumber air utama bagi penduduk sekitar.

Bukit Teletubbies

Pemandangan yang hijau dengan bukit-bukit rumput berderetan membuat tempat ini layak disebut sebagai Bukit Teletubbies. Angin di sini sangat sejuk karena memang Nusa Penida merupakan pulau yang berada di dataran tinggi. Untuk tiba di destinasi ini kamu tidak perlu melakukan trekking karena mobil bisa langsung mengakses spot ini walaupun jalanan berbatu-batu dan sempit. Kamu hanya perlu jalan beberapa langkah ke spot terbaik untuk foto.

Pulau Seribu

Sejatinya, Pulau Seribu dan Pantai Atuh berada di area yang berdekatan. Sedangkan Pulau Seribu dan Raja Lima adalah lokasi yang sama namun penyebutan spotnya saja yang dibedakan. Bedanya, di spot Raja Lima kita bisa berfoto bersama patung yang ada di sebelah kita. Pulau Seribu Nusa Penida ini sering disebut sebagai Raja Ampat ala Bali karena keindahan dan bentuknya yang mirip. Tak heran bila pengunjung berusaha untuk bisa sampai ke spot ini mumpung sudah berada di Nusa Penida. Hati-hati dengan setiap gerakan di sini karena terbatasnya ruang gerak.

Raja Lima

Seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya bahwa objek yang akan kamu foto adalah sama seperti di Pulau Seribu, yakni bebatuan yang membentuk seperti pulau-pulau kecil layaknya Raja Ampat, namun bedanya kamu bisa mengambil foto dengan angle yang berbeda. Keindahan pulau-pulau itu sangat jelas terlihat karena spot ini berada di bukit yang tinggi. Karena itulah butuh perjuangan untuk bisa sampai ke tempat ini dan tentu saja jangan sia-siakan kesempatan ya!

Rumah Pohon Batu Molenteng

Rumah Pohon ini berlokasi di area Pulau Seribu, Raja Lima, dan Pantai Atuh. Berada di atas bukit kamu akan menyaksikan keindahan laut dan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya. Kamu hanya perlu menyiapkan stamina yang prima agar bisa trekking ke sini. Tidak hanya bisa berfoto, kamu juga bisa menginap dengan daya tampung hingga 5 orang. Bila kamu hanya ingin berfoto maka biaya yang dikenakan sebesar Rp 10.000 per orang.

Manta Point

Bagi yang gemar dengan olahraga menyelam, kamu bisa melakukan olahraga ini di Tanjung Pandan, Nusa Penida. Di sana terdapat tebing yang terbentuk dari batuan kapur yang lebih dikenal dengan istilah Manta Point. Lokasi ini menarik begitu banyak minat para wisatawan yang hobi menyelam karena mereka bisa menemukan Ikan Pari Manta yang ramah sepanjang tahun. Selain itu terdapat begitu banyak plankton yang menjadi makanan burung-burung. Kamu hanya perlu diam dan tenang maka tak berapa lama Manta tersebut akan mendekati dan mengelilingimu seakan mengajak bermain. (ndy)

Horeee, Pulau Komodo Tak Jadi Ditutup

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Pulau Komodo, di Labuhan Bako Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya tidak jadi ditutup. Namun demikian, jumlah wisatawan yang datang menyaksikan hewan langka ini, dibatasi. Pembatasan wisatawan datang memiliki nilai strategis serta sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetap menjaga Pulau Komodo sebagai cagar biosfer dan warisan dunia tanpa mematikan potensi ekonomi daerah.

Demikian hasil Rapat Kordinasi (Rakor) Pengelolaan Taman Nasional Komodo bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat, yang dipimpin Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan di Kantor Menko Maritim Jakarta, Senin (30/09/2019).

“Selain kelestarian alam, pemerintah juga melakukan penataan bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pihak terkait, dibuat aturan adanya pembatasan jumlah wisatawan ke Pulau Komodo dengan diadakannya tiket kapasitas kunjungan atau wisatawan,” papar Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan dalam keterangan rilisnya, Rabu (02/10/2019).

Pengaturan tiket itu, lanjut dia, dilakukan dengan sistem kartu keanggotaan tahunan yang bersifat premium. Untuk membership premium, diarahkan ke Pulau Komodo di mana komodo besar ada di sana. Wisatawan yang tidak memiliki kartu premium akan diarahkan ke lokasi komodo yang lain. “Nanti mereka [wisatawan nonpremium] akan diarahkan ke komodo yang kecil, seperti di Pulau Rinca. Jadi mereka hanya bisa di sana, tidak bisa ke mana-mana lagi,”.

Nantinya, sambungnya, pengelola juga akan membangun sarana dan prasarana wisata alam berstandar internasional seperti Pusat Riset Komodo di Pulau Komodo, serta penataan kapal wisata ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo.

Rakor juga membahas berbagai kekurangan dalam hal sarana dan prasarana yang menjadi perhatian untuk pengembangan seperti kapasitas ranger, sarana patroli, guide tour terlatih, sarana toilet, dermaga dan lain-lain.

Menurut Menteri LHK, Siti Nurbaya, kawasan wisata Pulau Komodo lebih baik ditata bersama dalam kewenangan bersama konkuren; dan dipastikan tidak akan ada relokasi penduduk.

Dilanjutkan, dalam Rakor tersebut juga dibahas berbagai kekurangan dalam hal sarana dan prasarana yang menjadi perhatian untuk pengembangan seperti kapasitas ranger, sarana patroli, guide tour terlatih, amenities toilet, dermaga dan lain-lain. Hal-hal itu membutuhkan peningkatan dan penyempurnaan untuk standar wisata internasional.

Bahkan kewenangan bersama tersebut akan mencakup pada pembenahan spot-spot wisata, dukungan manajemen, promosi, guide, ranger, patroli dan floating ranger station serta pusat riset komodo. “Paralel dengan itu, investasi juga dapat dilakukan pada kawasan ini sesuai aturan dalam kerja sama pengelola dengan BUMD dan swasta atau melalui perizinan swasta dan pengembangan wisata khusus konservasi dan wild adventures,” terang Siti Nurbaya.

Diakui, KLHK memutus Tim Terpadu untuk mengidentifikasi permasalahan di wilayah Taman Nasional Komodo, termasuk Pulau Komodo di dalamnya. Taman nasional ini pun sejatinya sudah menyandang Wolrd Heritage Site tahun 1991 dan sebelumnya tahun 1977 ditetapkan sebagai cagar biosfir dunia.

Beberapa masalah yang dilaporkan Tim Terpadu yakni persoalan distribusi pengembangan paket wisata special interests, mass tourism dan atraksi wisata yang bisa dieksplorasi seperti nite-safari, satwa kakak tua jambul kuning dan lainnya seperti diving, snorkeling serta trekking.

“Dibahas juga untuk pengaturan regulasi ticketting dan pajak serta retribusi dan integrasi pembiayaan atau biaya-biaya yang dipungut dari wisatawan agar menjadi terpadu dan jelas, baik di Labuan Bajo maupun di Kawasan Taman Nasional Komodo,” papar Siti Nurbaya.

“Pulau Komodo lebih baik ditata bersama dalam kewenangan bersama konkuren dan tidak akan ada relokasi penduduk. Terkait kerangka waktu, akan segera ditetapkan keputusan untuk kokurensi dan beberapa hal sudah ada yang bisa dilaksanakan hingga akhir tahun ini dan tahun depan,” tambahnya.

Dalam catatan KLHK melalui Tim Terpadu, jumlah populasi komodo di kawasan Taman Nasional Komodo sebanyak 2.897 ekor. Paling banyak di Pulau Komodo sekitar 1.727 ekor, lalu di Pulau Rinca 1.049 ekor dan terakhir ada di Pulau Gili Motang dan Nusa Kode sekitar 50-60 ekor.

Wilayah pengembangan di Pulau Komodo untuk kegiatan tercatat seluas 400 hektar dari keseluruhan wilayah satu Pulau Komodo yaitu 31.000 hektar. Terdapat pula di kawasan ini adanya desa pemukiman sejak tahun 1926 seluas 17 hektar yang dihuni oleh 507 KK. Terhadap kawasan pemukiman akan dilakukan penataan, tapi bukan relokasi atau re-settlement.

Mengenai pengelolaan Pulau Komodo, Deputi Bidang Infrastruktur Ridwan Djamaluddin mengatakan Pusat Riset Komodo akan dibangun di Pulau Komodo. Kapal pesiar menuju Pulau Komodo dan Labuan Bajo juga akan ditata. “Kami juga harus membangun sarana dan prasarana wisata alam berstandar internasional dan membangun sarana prasarana pendukung yang memadai di luar kawasan Pulau Komodo ini,” ujar Ridwan.

Sebelumnya, ada dua pendapat tentang langkah untuk melindungi habitat komodo. Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat ingin Pulau Komodo ditutup sementara untuk meningkatkan konservasi sehingga pasokan makanan dan habitat komodo pulih. Di sisi lain, Kementerian Pariwisata ingin Pulau Komodo jangan ditutup, tetapi jumlah pengunjung dibatasi saja.

Wacana penutupan Pulau Komodo pertama kali dilontarkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, pada sebuah forum diskusi di Kupang pada 21 November 2018. Ia menegaskannya kembali pada awal tahun 2019. Alasan utama sang gubernur adalah meningkatkan populasi komodo, juga rusa yang menjadi mangsa mereka. Hingga Desember 2018, menurut Pemprov NTT, jumlah populasi komodo mencapai sekitar 2.800 ekor yang berdiam di Pulau Komodo dan Rinca.

Selain untuk meningkatkan populasi komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, penutupan TNK juga untuk meningkatkan ukuran tubuh Komodo yang dinilai semakin kecil. Viktor menduga tubuh komodo yang mengecil adalah dampak dari populasi rusa yang berkurang karena perburuan ilegal.

Rencana tersebut kemudian memancing debat publik dan pro-kontra. Terutama karena turisme di Pulau Komodo telah menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga setempat. Bahkan mendapat perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk datang langsung ke Pulau Komodo. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Hari Batik, Ribuan Pelajar Cirebon Pecahkan Rekor Dunia

this formate

CIREBON, bisniswisata.co.id: Hari Batik Nasional bagi pelajar Cirebon tidak dilampiaskan dengan melakukan aksi demo, seperti pelajar Ibukota yang kurang kerjaan meski dapat bayaran. Namun berbondong-bondong mendatangi halaman belakang pendopo Batik Trusmi di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon.

Aksi membatik ramai-ramai ini, diawali membuat langsung proses membatik di atas secarik kain putih secara bersama-sama. Para pelajar dengan antusias duduk secara berkelompok. Tiap kelompok dilengkapi satu buah malam atau lilin yang berfungsi untuk menutupi garis motif batik.

Sejumlah panitia kemudian membagikan secarik kain putih yang sudah bermotif kepada para peserta. Mereka juga membagikan canting kepada satu per satu pelajar sebagai alat utama untuk membatik. Aktivitas membatik yang dilakukan para pelajar Kota Udang – sebutan bagi kota Cirebon, sebagai upaya memecahkan rekor dunia pembatikan massal.

Para pelajar sebanyak 2.832 pelajar membatik dengan motif Mega Mendung khas Cirebon, pada Senin (1/10/2019). “Kami ingin mengangkat kembali dan membawa batik Cirebon dengan motif Mega Mendung mendunia,” ujar Owner BT Batik Trusmi Cirebon Ibnu Riyanto.

Selain memecahkan rekor MURI, lanjut Ibnu, tujuan lain kegiatan membatik massal untuk memotivasi generasi penerus. Bagi pelajar minimal ini, ada perasaan bangga dari generasi muda menggunakan batik Cirebon atau daerah lain. “Batik dari Cirebon saja minimal entah jadi pengusaha entah perajin atau pengguna batik itu sendiri,” ujar dia.

Dia optimis, seperti dilansir laman Liputan6, Rabu (02/10/2019) kegiatan membatik massal ini memotivasi generasi penerus. Minimal 10 persen dari 2.800 pelajar memiliki keinginan jadi pengusaha batik. Memang Batik merupakan usaha sektor UKM yang menggunakan sistem padat karya. Oleh karena itu, dia berharap ada penerus pengusaha batik.

“Bayangkan 10 persen dari 2.832 pelajar dari 17 Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon. Jadi ada 280 pengusaha baru muncul. Satu kain batik mempekerjakan 15 orang kalau ada 280 pengusaha baru batik Cirebon maka banyak tenaga kerja yang terserap,” ujar dia.

Hingga saat ini kondisi pembatik Cirebon masih didominasi oleh orangtua. Karenanya dengan kegiatan membatik bersama ini dapat mencetak generasi baru yang berminat menjadi perajin batik.

General Manager Batik Trusmi Arief Purwanto menyebut, kegiatan ini merupakan upaya Batik Trusmi untuk memperingati Hari Batik Nasional. Tahun ini, Batik Trusmi Cirebon menggandeng para pelajar sebagai upaya untuk mengedukasi generasi muda yang bertugas melestarikan batik di masa mendatang. Kegiatan ini mengkhususkan pada motif batik mega mendung, sesuai tema ‘Mega Mendung untuk Negeri’.

Para pelajar ini membatik secara bersama-sama dengan motif mega mendung yang sudah menjadi ciri khas dan identitas batik Cirebon. “Kegiatannya, para siswa membatik dengan pola mega mendung, karena tema tahun ini “mega mendung untuk negeri”. Mega mendung adalah identitas dan motif dari Cirebon, kita ingin me-nasional-kan mega mendung,” tambah Arief.

Musium Rekor Indonesia (MURI) menyatakan kegiatan Pelajar Membatik Massal memecahkan rekor baru di Indonesia. Bahkan, kegiatan tersebut masuk dalam rekor dunia. “Karena membatik tidak ada di luar hanya ada di Indonesia,” kata Senior Manager Muri Ariani Siregar.

Rekor baru membatik di Cirebon, sambung dia, mampu mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh sekolah Santo Alusius Bandung. Sekolah tersebut mencatat sebanyak 2.500 siswa mengikuti kegiatan membatik. “Kami sudah melakukan verifikasi langsung di lokasi dan tercatat ada 2832 pelajar dari 17 sekolah ikut dalam pemecahan rekor MURI. Rekor dunia tercatat yang ke 9.206 ya dan bukti tercatatnya prestasi tadi kami serahkan kepada BT Batik Trusmi,” ucapnya.

Sebelum ini, BT Batik Trusmi pernah menorehkan rekor MURI dua kali, masing-masing kategori pemilik toko batik terluas 4.840 meter persegi pada usia termuda (22 tahun) pada 24 Maret 2013 dan kategori pembuatan cap batik terbesar ukuran 2×3 meter pada 1 Oktober 2014. “Prestasi ini kami catat di MURI sebagai rekor dunia dengan urutan ke-9206,” ujarnya. (ndy)

September – 27 Oktober 2019, Wonderful Indonesia Culiary & Shopping Festival 2019

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PERKEMBANGAN industri kuliner dan belanja di Indonesia mengalami grafik peningkatan yang menggembirakab. Hal ini tak lepas dari peranan sosial media yang terus menerus menyajikan berbagai konten seputar kuliner dan belanja. Karena itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) berinisiatif mengambil peranan dalam memfasilitasi kebutuhan wsisata kuliner dan belanja dengan kembali menggelar Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival (WICSF).

WICSF 2019 menyiapkan berbagai program kuliner dan belanja menarik, seperti Lesehan Malam, Kuliner Kampung Halaman, Kelas Membatik, Gebyar Batik Muda Nusantara hingga music performance yang pastinya dikemas secara apik dan modern sehingga cocok untuk dinikmati oleh segala rentang usia.

Menginjak tahun ke-4, WICSF yang menjadi Calendar of Event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya mulai dari tanggal 27 September yang sekaligus merayakan Hari Pariwisata Dunia. Tahun ini, WICSF 2019 kembali diselenggarakan selama sebulan penuh mulai dari 27 September hingga 27 Oktober 2019 dan digelar serentak di seluruh pusat perbelanjaan di Indonesia.

Dikenal sebagai surganya wisata kuliner, WICSF 2019 mengangkat berbagai jajanan pasar hingga jajanan kekinian yang tak diragukan lagi kelezatannya, seperti Nasi Gudeg, Nasi Pedas Bali hingga Roti Srikaya khas Pontianak. Kehadiran ragam kuliner Indonesia tak lepas dari tujuan untuk meningkatkan dan mengangkat jajanan tradisional Indonesia khususnya yang dikelola oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sehingga kedepannya sajian kuliner nusantara dapat semakin dikenal di kancah internasional dan mampu meningkatkan omzet dan transaksi UMKM.

Selain itu, kehadiran berbagai sajian nusantara di berbagai pusat perbelanjaan juga tentunya memudahkan pengunjung lokal maupun mancanegara yang ingin mencicipi ragam sajian khas dari berbagai daerah di Indonesia. Juga memanjakan pengunjung dengan berbagai sajian kuliner nusantara, tentunya WICSF 2019 juga akan dilengkapi dengan ragam program belanja dan diskon menarik yang dapat dijumpai di berbagai store di pusat perbelanjaan Indonesia.

Menariknya, WICSF 2019 akan diselenggarakan bersamaan dengan perayaan 10 tahun penetapan Batik Indonesia secara resmi oleh UNESCO dan masuk ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) pada tahun 2009 lalu. UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Daftar

Representatif karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia, serta memberi kontribusi bagi terpeliharanya warisan budaya tak-benda pada saat ini dan di masa mendatang. Ditambah lagi, sebagai salah satu warisan budaya bangsa, batik telah bertransformasi ke dalam berbagai kreasi modern.

Keindahan batik yang tak lekang oleh waktu dan dapat dikenakan di berbagai kesempatan baik formal maupun casual tentunya membuat Batik diminati oleh berbagai kalangan. Selain itu, hampir seluruh kota di Indonesia memiliki motif batik khas daerahnya sendiri, seperti Batik Pekalongan, Batik Jepara, Batik Solo, Batik Tasik dan lain sebagainya.

Selain motifnya yang berbeda, cara pembuatannya juga beraneka ragam mulai dari Batik Tulis, Batik Cap hingga Batik print. Ketiganya tentunya memiliki keindahan dan keunikan masing-masing.

Dan untuk memeriahkan perayaan 10 tahun penetapan Batik Indonesia oleh UNESCO, WICSF 2019 menyiapkan berbagai pameran Batik yang tersebar di seluruh pusat perbelanjaan di Indonesia, seperti Gebyar Batik Muda Nusantara, Pesona Batik Wastra Nusantara, Indonesia Culture Exhibition dengan diskon menarik. Sebagai tambahannya, terdapat juga kelas membatik oleh Rumah Batik Palbatu guna meningkatkan antusiasme masyarakat dan mendorong pertumbuhan Batik di pasar global.

Kehadiran berbagai pengrajin batik dan keterlibatan UMKM di WICSF 2019 ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kehidupan pengrajin Batik daerah serta membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia. Tentunya hal ini juga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanagara untuk datang dan merasakan pengalaman terbaiknya berbelanja berbagai produk lokal Indonesia di WICSF 2019.

Inovasi dan ragam konten yang terus berkembang inilah yang menjadikan WICSF sebagai acara yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat. Setiap tahunnya, terdapat berbagai konten menarik yang terus berusaha disajikan oleh pusat perbelanjaan. Sehingga kedepannya, selain dikenal dengan pemandangan wisata yang indah, Indonesia juga dapat dikenal sebagai surga belanja dan wisata kuliner. (redaksibisniswisata@gmail.com)

IFEAT 2019 : Atsiri dan Aroma, Tidak Berkompetisi

this formate

BALI, bisniswista.co.id,- INDONESIA memegang peran penting dalam perdagangan atsiri dan aroma dunia. Kekayaan hayati bumi Nusantara menyediakan bahan baku  essential oil yang berkualitas dan jadi unggulan. Produk unggulan Indonesia adalah cengkih, nilam, sereh wangi, minyak pala dan minyak masoi. Serta ginger oil akan menambah daftar produk unggulan minyak atsiri Indonesia. IFEAT pun terbentuk sebagai jawaban atas kasus minyak atsiri Indonesia pada tahun 1977 an.

 “ Dalam industri,  atsiri dan aroma itu tidak berkompetisi, tetapi saling melengkapi, menguatkan sehingga mampu mengisi kebutuhan akan minyak atsiri dan aroma serta menjaga keberlanjutan industri, “jelas Presiden IFEAT, Alastair Hitchen menjawab bisniswisata.co.id disela penyelenggaraan konferensi  tahunan  International Federation of Essential Oils and Aroma Trades (IFEAT) 2019 di Nusa Dua Bali pada 29 September – 3 Oktober 2019.

Konferensi stake holder industri atsiri dunia  ini diikuti lebih dari 1300 peserta utama, 550 co delegate dari 73 negara, dan tahun ini disertai ajang pameran produk minyak essensial yang diikuti lebih dari 30 perusahaan besar. IFEAT 2019 di Bali, dengan tema the Natural of Asia  menjadi event terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan konferensi yang mempertemukan penyedia bahan baku, para peneliti/ahli, pedagang, pemakai produk ini  ditangani PT Melali MICE selaku Professional Conference Organizer yang ditunjuk kantor pusat IFEAT di London, Inggris. Federasi ini bergerak dalam transaksi minyak natural esensial, ekstrak minyak resin, flower absolute mau pun chemical, yang merupakan flavour industry dan fragrance industry.

“Konferensi  setiap tahun, memungkinkan  setiap orang bisa bertatap muka, bertemu dengan supplier, costumer, petani, pengedar, pengepul dan pemroses,” terang Alastair, 

Kehadiran ribuan peserta konferensi, menurut Alastair Hitchen menunjukkan industri essensial oil and aroma ini sangat menjanjikan, baik untuk pengembangan ilmu, teknologi terlebih secara ekonomi. Penyelenggaraan di Indonesia membuka peluang semua komponen dari hulu sampai end- user essentials oil and aroma bertemu. Dalam konferensi juga dibahas perihal strategi berproduksi minyak atsiri —- dominan berbahan baku alam — yang bertanggungjawab. Terlebih bagi Indonesia yang menyimpan keragam hayati sumber atsiri dunia, produk yang sangat ditentukan oleh keadaan alam.

Farfum sampai Perisa

Menurut Dewan Atsiri Indonesia, di dunia ini ada sekitar 200 jenis minyak Atsiri yang diperdagangkan secara luas. Produk atsiri Indonesia, 90 persen untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Konferensi tahunan ini memberi gambaran kebutuhan pasar, trend produk yang dicari, tuntutan kualitas yang diharapkan pembeli.

“Jumlah pembeli  dan nilai transaksi yang terjadi selama konferensi,  memberi gambaran kebutuhan pasar dalam industri ini. Baik kebutuhan transparency, traceability dan sustainability. Untuk itu, memproduksi minyak itu tidak hanya sekadar kualitasnya. Tetapi bertanggung jawab terhadap lingkungan. Produksi atsiri sangat tergantung pada keadaan alam,” jelas  Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Dewan Atsiri Indonesia, Arianto Mulyadi menambahkan.

Dewan Atsiri Indonesia mengakui, minyak atsiri dan turunannya merupakan salah satu komoditas ekspor yang banyak digunakan dalam industri parfum, kosmetik, farmasi dan makanan, sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi. Selain itu, teknologi pengolahannya masih memungkinkan untuk diusahakan dalam skala industri atau usaha koperasi mau pun pengumpul atsiri dalam skala UKM.

Diperlukan adanya standar mutu nasional dan internasional, untuk  menjawab persaingan pasar dalam perdangan minyak atsiri yang semakin ketat. Beberapa faktor mempengaruhi kualitas dari minyak atsiri seperti jenis atau varietas baku yang digunakan, penanganan bahan segar, proses pengeringan, proses produksi minyak dan penetuan mutu minyak atsiri. Dengan dipenuhinya faktor-faktor penunjang kualitas dan mutu dari minyak atsiri, maka persaingan perdagangan minyak atsiri antar negara dapat di anulir karena kualitas terjamin dari minyak atsiri asal Indonesia. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Agustus 2019, 1,56 Juta Wisman Sambangi Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sepanjang Agustus 2019, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang sambangi Indonesia mencapai 1,56 juta kunjungan. Jumlah ini naik 4,83% dibandingkan dengan Juli 2019. Kenaikan bukan hanya dibandingkan Juli, namun juga periode yang sama tahun 2018 yang datang ke Indonesia naik 2,94% atau cuma 1,51 juta kunjungan di Agustus 2018.

“Wisman Agustus meningkat karena kalau lihat trennya Juni, Juli dan Agustus merupakan peak season musim liburan sekolah dan cuti untuk musim summer AS, Kanada dan Eropa. Pattern menurun November dan kembali naik Desember,” papar Kepala BPS Suhariyanto di gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Secara kumulatif (Januari-Agustus), jumlah kunjungan wisman mencapai 10,87 juta kunjungan atau naik 2,67% dibandingkan periode yang sama 2018 tercatat 10,58 juta kunjungan. Jumlah kunjungan ini masuk melalui jalur udara sebanyak 6,49 juta kunjungan, jalur laut 2,8 juta kunjungan dan jalur darat 1,57 juta kunjungan. “Diharapkan jumlah kunjungan wisman makin banyak sehingga bisa memasukkan devisa ke dalam negeri,” harapnya.

Dilanjutkan, jumlah kunjungan wisman ini masuk melalui bandara sebanyak 992,02 ribu kunjungan, melalui pintu masuk laut 371,48 ribu kunjungan dan melalui jalur darat sebanyak 191,94 ribu kunjungan. “Peningkatan terbesar terjadi di Tanjung Benoa, Bali. Kalau YoY peningkatan 2,94% terbesar untuk Bandar udara Internasional Lombok,” jelasnya.

Kenaikan jumlah kunjungan wisman melalui jalur udara terjadi di sekitar delapan bandara. Kenaikan tertinggi melalui Bandara Internasional Lombok dan kenaikan terendah melalui Bandara Husein Sastranegara. “Bandara Lombok karena jumlah wisman naik sebesar 53%. Karena dulu kan sempat gempa dan turunnya dalam sekali dan sekarang kembali pada posisi normal,” jelasnya.

Namun demikian, Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang datang melalui pintu masuk udara pada Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 1,39 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada bulan yang sama tahun 2018. “Penurunan kunjungan wisman tersebut terjadi di tujuh pintu masuk udara dengan persentase penurunan tertinggi tercatat di Bandara Sultan Badaruddin II, Sumatera Selatan yang mencapai 27,84 persen,” jelas Suhariyanto.

Diakui, pada Agustus 2019, pelancong asing yang menggunakan pesawat mengalami penurunan cukup tajam pada Agustus 2019 dibandingkan periode yang sama tahun 2018. “Hal ini terjadi akibat kebakaran hujan, ada gangguan penebangan untuk rute di Sumatera dan Kalimatan,” ucap dia.

Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai rata-rata 54,14 persen atau turun 5,87 poin dibandingkan dengan TPK Agustus 2018 yang tercatat sebesar 60,01 persen. “Begitu pula, jika dibanding TPK Juli 2019, TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 2,59 poin,” jelasnya.

Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Agustus 2019 tercatat sebesar 1,84 hari, terjadi penurunan sebesar 0,10 poin jika dibandingkan keadaan Agustus 2018. (ndy)

Agustus 2019: Wisman ke Jateng Naik, Sulut Malah Turun

this formate

SEMARANG, bisniswisata.co.id: JUMLAH wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Jawa Tengah (Jateng) melalui pintu masuk bandara Adi Sumarmo dan Ahmad Yani pada Agustus 2019 melonjak hingga 39,47%. Data BPS jumlah wisman yang berkunjung ke Jateng pada Agustus total sebanyak 2.629 kunjungan, naik signifikan dibandingkan Juli yang tercatat sebanyak 1.885 kunjungan.

Jumlah kunjungan wisman terbanyak melalui pintu masuk bandara Adi Sumarmo berasal dari warga negara berkebangsaan China yaitu 469, disusul Spanyol 21 dan Malaysia 4. “Terbanyak dari pintu masuk bandara Ahmad Yani masih berasal dari warga negara berkebangsaan Malaysia yaitu 640 kunjungan, disusul Singapura 267 kunjungan dan China sebanyak 80 kunjungan,” kata Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono, Selasa (1/10/2019).

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jateng pada Agustus 2019 tercatat sebesar 45,15%, mengalami penurunan sebesar 1,87 poin dibanding TPK bulan Juli yang tercatat sebesar 47,02%. Jika dibanding periode yang sama di tahun 2018 maka TPK Agustus 2019 juga mengalami penurunan sebesar 0,17 poin “TPK bulan Agustus 2019 tertinggi terjadi pada hotel bintang 4 yaitu sebesar 52,63% dan terendah hotel bintang 1 sebesar 31,45%,” ujarnya.

Rata-rata Lama Menginap (RLM) tamu hotel bintang pada Agustus 2019 sebesar 1,29 malam, naik 0,03 poin dibanding Juli hanya 1,26 malam. “Pada Agustus 2019, RLM mancanegara tercatat sebesar 1,78 malam, mengalami kenaikan sebesar 0,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya (Juli) yang tercatat sebesar 1,66 malam. Sedangkan untuk RLM domestik tercatat 1,28 malam, mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode Juli yang tercatat sebesar 1,25 malam,” katanya.

Sementara itu BPS Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melaporkan Jumlah wisman yang datang ke Sulawesi Utara melalui pintu masuk Bandar Udara Sam Ratulangi turun 8,24 persen secara tahunan pada Agustus 2019. Jumlah wisman masuk melalui Bandar Udara (Bandara) Sam Ratulangi sebanyak 14.175 orang pada Agustus 2019. Jumlah itu naik 26,48 persen dibandingkan dengan 11.207 orang pada Juli 2019.

Jumlah wisman yang masuk pada Agustus 2019 turun 8,24 persen dibandingkan periode yang sama 2018. Pasalnya, jumlah turis yang masuk sebanyak 15.448. Jumlah wisman yang masuk sebanyak 87.312 orang pada Januari 2019—Agustus 2019. Total pelancong asing yang masuk pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 86.448 orang. “Ini tumbuh hanya 0,94 persen, mudah-mudahan dengan dibukanya penerbangan Manado—Davao bisa mendorong,” jelasnya Kepala BPS Sulut Ateng Hartono di Manado, Selasa (1/10/2019).

Berdasarkan kebangsaan, wisatawan China masih mendominasi kunjungan ke Sulut pada Agustus 2019. Tercatat, pelancong dari Negeri Panda sebanyak 12.772 atau berkontrbusi 90,10 terhadap total jumlah wisman yang masuk. Turis berkebangsaan Jerman dan Amerika Serikat menyusul dengan jumlah masing-masing 213 orang dan 150 orang. “Sulut harus meningkatkan destinasi wisata. Dengan demikian, diharapkan jumlah wisman yang datang akan semakin banyak,” paparnya seperti dilansir laman Bisnis.

Dino Gobel, Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pariwisata mengungkapkan wisman yang masuk melalui Manado mencapai 10.000 orang per bulan. Pada 2019, total wisman yang masuk ditargetkan mencapai 150.000. Dari sisi domestik, kedatangan wisatawan sudah mencapai 2 juta hingga Agustus 2019. Kunjungan wisatawan domestik ditargetkan mencapai 2,5 juta pada tahun ini. “Pada 2020, angka kunjungan akan naik drastis dengan asing 200.000 orang dan domestik 3 juta orang,” paparnya. (ndy)

Riset: Wisatawan Prioritaskan Kemudahan Ketimbang Harga

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Survei Travelport Global Digital Traveler Research 2019 yang mendapat respon positif sebanyak 23 ribu responden di 20 negara, termasuk Indonesia, menemukan banyak wisatawan saat ini semakin memprioritaskan kemudahan, dibandingkan permasalahan harga. Ini terlihat dari hasil riset yang menemukan hanya 18% responden yang memesan tiket pesawat berdasarkan harga tiket pesawat.

Untuk semua kategori usia, saat memesan tiket penerbangan, wisatawan biasanya ingin mempersonalisasi pengalaman mereka sendiri (42%) melalui tambahan berupa extra legroom (tempat duduk yang lega), tambahan bagasi dan peningkatan menu makanan.

Ada sekitar 24% wisatawan yang lebih suka menerima penawaran yang bisa dipercaya (berkualitas), seperti Flexi (fleksibel) dan Saver (lebih hemat), untuk memenuhi tingkat kebutuhan personalisasi dasar.

Menurut Chief Customer and Marketing Officer Travelport Fiona Shanley, wisatawan juga seorang konsumen. “Mereka ingin merasakan pengalaman solusi digital secara sederhana dan menarik dari penyedia jasa perjalanan dan agen travel,” ujarnya.

Ada sekitar 71% dari wisatawan yang saat ini menganggap penting sebuah maskapai penerbangan menawarkan pengalaman digital yang baik ketika memesan tiket penerbangan (naik 3% dibandingkan 2018). Selain itu, ada 58% yang juga mempertimbangkan hal ini ketika memilih akomodasi (naik 7% dibandingkan 2018).

Saat merencanakan sebuah perjalanan, sebanyak 77% wisatawan telah meninjau video dan foto yang diposting oleh agen perjalanan di media sosial. Ada 36% dari wisatawan Gen Y yang saat ini ‘hampir selalu’ melakukan hal ini dalam proses pencarian. Facebook dinilai sebagai platform media sosial yang paling berpengaruh oleh semua kelompok umur kecuali Gen Z yang menempatkan Instagram sedikit lebih berpengaruh daripada Facebook

Bagi Fiona, penelitian terbaru dari Travelport secara global menunjukkan bahwa teknologi adalah kunci. “Mulai dari menyajikan penawaran yang relevan dan dipersonalisasi hingga memberikan proposisi yang menarik dari sumber terpercaya,” tutupnya.

Ditempat terpisah Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Prof. Azril Azahari mengakui membenarkan bahwa digital traveler akan semakin tinggi dalam pelayanannya selama melancong, karena millenials seperti Mobile payment bahkan memunculkan Travel Lifecycle. Mulai dari Planning – Booking – The Journey – hingga sampai destinasi selalu menjadi perhatian serius.

“Millennials beranggapan bahwa “Technology is key to their traveling and their travel experience”. Namun jangan lupa bahwa traveling juga membutuhkan “Best Experience” yang Uniqueness dan authentic yang sangat beda dari tempat asalnya,” ungkapnya serius.

Dilanjutkan, wisatawan asing selalu mencari sesuatu yang unik dan otentik yang tidak dijumpainya di negara asalnya. Mereka mencari Daya Tarik, sehingga membuat mereka merasa tenang “Serenity”. “Jadi disamping membutuhkan “High tech”, ternyata travellers juga sangat membutuhkan “High Toucgh” agar mendapatkan “Best Experrience. Ini yang harus dipahami oleh kalangan industri pariwisata termasuk pemerintah,” tandasnya.

Karena itu, lanjut dia, kita harus mempelajari dengan baik pergeseran paradigma pariwisata terutama pada perilaku Wisatawan (Tourist Behavior) sehingga membentuk “Travel Lifecycle “. “Nah, pergeseran pola wisatawan akan bergerak mengikuti pergeseran “SHIFTING TOURISM PARADIGM dunia yang sudah dimulai sejak tahun 2010. Jika kita tidak mengikuti dan memahami pergeseran itu, maka pemerintah akan tertinggal (atau ditinggal) oleh para turist asing. Ini yang harus dipahami,” sarannya. (end)