Hajad Dalem Sekaten 2019 Fokus Pada Tradisi dan Gelar Budaya

this formate

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Setiap tahun, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Sekaten pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa Sultan Agungan. Hajad Dalem Sekaten dibuka dengan prosesi Miyos Gangsa dan ditutup dengan prosesi Kondur Gangsa.

Pagi hari berikutnya, yang merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW dalam Tahun Jawa, diperingati dengan Hajad Dalem Garebeg Mulud. Tahun ini, Miyos Gangsa. Kondur Gangsa dan Garebeg Mulud akan dilaksanakan pada tanggal 1, 9, dan 10 November 2019. 

Bersamaan dengan pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten kali ini, keraton akan menggelar pameran budaya yang bertujuan untuk semakin menguatkan akar tradisi. Sebaliknya,  acara akan digelar tanpa adanya pasar malam yang biasanya ikut menyemarakkan rangkain acara Sekaten Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tahun ini.

Hal ini diungkapkan Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Kridomardowo Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, yang juga merupakan salah satu panitia Sekaten 2019.

“Untuk tahun ini kami coba untuk break dulu [pasar malam dalam perayaan Sekaten] untuk [memperbaiki] kondisi alun-alun,” kata KPH Notonegoro saat memberikan keterangan kepada wartawan, hari ini.

Keputusan untuk meniadakan pasar malam dalam rangkaian perayaan Sekaten ini, ujarnya,  merupakan permintaan langsung dari Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Suami dari Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X ini menjelaskan sejatinya dalam tradisi perayaan Sekaten tidak ada pasar malam.

Untuk itu, kata dia, nantinya perayaan Sekaten akan berpusat di Masjid Gedhe Kauman. Sementara alun-alun utara yang biasanya untuk pasar malam akan dikosongkan.  

Wakil Ketua Panitia Sekaten GKR Bendoro mengatakan rangkaian Sekaten tahun ini akan digelar dari tanggal 1 hingga 10 November 2019. Selain sejumlah ritual wajib yang selalu diadakan pada setiap Sekaten, tahun ini akan diadakan pameran budaya.

Pameran akan berlangsung pada 1 hingga 9 November 2019 di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Sitihinggil Keraton Yogyakarta.

“Tema besar yang diangkat dalam pemeran tersebut berkaitan dengan ‘Sri Sultan Hamengku Buwono l’,” kata putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.

Kegiatannya a.l biografi Sri Sultan Hamengku Buwono I, perannya dalam sejarah, karya dan obyek serta anugerah pahlawan. Terdapat pula agenda pendukung yang diselenggarakan pada saat pameran, antara lain Tur kuratorial, yang merupakan ulasan ahli terhadap koleksi yang dipamerkan dan dikemas dalam kegiatan diskusi terbuka. 

Ada pelatihan seni, yang merupakan wahana interaktif bagi masyarakat saat berkunjung ke pameran, lomba karawitan, diikuti oleh kelompok karawitan tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama se-DIY , pertunjukan dan perlombaan seni, yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang bagi komunitas, sanggar, ataupun institusi seni untuk dapat tampil mengisi acara setiap hari di Bangsal Pagelaran.

Kegiatan lainnya adalah diskusi Film Budaya, yakni ruang diskusi terbuka bagi masyarakat umum terhadap film maupun dokumentasi budaya koleksi Keraton Yogyakarta maupun koleksi instansi lain.

Sekaten dipercaya sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak pada awal abad XVI. Sekaten terus menerus dilestarikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah seperti Pajang dan Mataram, baik pada saat pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga Surakarta dan Yogyakarta. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Mister Aladin Travel Carnaval Siapkan Masyarakat Hadapi Liburan Akhir Tahun 2019

this formate

Nitha Sudewo, Chief Operating Officer (COO) Mister Aladin ( kanan)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Travel Online, Mister Aladin kembali mengadakan travel fair untuk ketiga kalinya bertema “Mister Aladin Travel Carnaval” untuk menyambut kemeriahan libur akhir tahun.

Menghadapi liburan akhir tahun, Nitha Sudewo, Chief Operating Officer (COO) Mister Aladin mengatakan travel carnaval ini memungkinkan masyarakat untuk merencanakan liburan termasuk dengan pengeluaran yang lebih hemat karena pihaknya menawarkan beragam tiket dan produk dengan harga hemat.

Mister Aladin Travel Carnival 2019 ke 3,seperti tahun sebelumnya berlangsung di Mal Kota Kasablanka. Berbeda dengan tahun sebelumnya, travel fair tahun ini memberikan beragam promo dan menjadi ajang peluncuran resmi fitur pesawat internasional dan kereta api di Mister Aladin,” ujar Nitha Sudewo, hari ini.

Menurut Nitha, berdasarkan data transaksi, tren liburan traveler, mereka lebih memilih traveling di kuartal empat atau akhir tahun. ” Jadi kita memilih periode ini agar dapat mengantisipasi keinginan pelanggan,” ujar Nitha lebih lanjut.

Kegiatan dilaksanakan 3-6 Oktober 2019 di Grand Atrium Mal Kota Kasablanka, Jakarta, pihaknya optimistis kegiatan ini juga akan mendongkrak sales travel online nya. Apalagi membandingkan revenue Mister Aladin secara keseluruhan di tahun 2018 dengan tahun 2019 hingga kuartal tiga, terjadi kenaikan sebesar 2,5 kali lipat. 

“Dengan adanya fitur  baru yaitu penjualan tiket kereta yang terus meningkat mendekati kuartal empat serta peluncuran fitur Pesawat Internasional kami optimis jumlah revenue hingga akhir tahun 2019 nanti akan mencapai tiga kali lipat dibanding tahun 2018 lalu,” ungkap Nitha. 

Dia optimistis gaya hidup masyarakat Indonesia untuk berwisata tetap tinggi. Banyaknya pembangunan tempat-tempat wisata di tambah tersedianya tempat pariwisata yang beraneka ragam dan transportasi, maka masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai daerah baik dalam jarak dekat maupun jarak yang jauh terutama Asia Tenggara.

Menurut Nitha, pemesanan hotel di luar negeri meningkat di kuartal empat. Data Mister Aladin di kuartal empat 2018 menunjukkan pemesanan hotel di Bangkok meningkat sebesar 54%, Kuala Lumpur 48%, dan Penang 40% dibandingkan kuartal tiga.

Tidak hanya Asia, semakin banyak pula orang yang memesan hotel di Eropa dan peningkatannya mencapai 2,3 kali lipat pada akhir tahun 2018 lalu. “Meskipun destinasi luar negeri diprediksi akan lebih populer di akhir tahun ini, beberapa destinasi domestik juga masih diminati wisatawan Indonesia,” ungkapnya.

Hal ini menurutnya terlihat dari data di Mister Aladin yang menunjukkan bahwa peningkatan pemesanan hotel di kuartal IV 2018 yang paling besar adalah Yogyakarta (53%), disusul Malang (50%), dan Bandung (30%) dibandingkan di kuartal III tahun 2018.

Mister Aladin melihat peningkatan jumlah wisatawan yang pergi ke luar negeri dan ke beberapa destinasi di Pulau Jawa adalah sebuah potensi yang perlu diakomodasi. Inilah yang menjadi alasan peluncuran fitur Pesawat Internasional dan Kereta Api secara resmi dalam acara Mister Aladin Travel Carnival.

Ke depan berwisara dengan kereta api juga makin digemari karena beberapa alasan, antara lain harganya terjangkau, nyaman, dan rutenya melalui banyak destinasi Instagenic baru. Tidak hanya itu, kenaikan penjualan tiket kereta di Mister Aladin sudah terlihat sejak soft launching di bulan April 2018.

“Penjualan tiket kereta di Mister Aladin mengalami peningkatan secara konstan, yaitu sebesar 30% per kuartal, atau tumbuh lima kali lipat sejak diluncurkan hingga Juli 2019,” jelasnya.

Pada travel fair tahun ini acara dibagi menjadi dua sesi, sesi offline dan online. Mister Aladin Travel Carnaval sesi offline dimeriahkan dengan beragam promo fantastis di semua produk, kesempatan liburan gratis, talk show bersama selebritas dan travel vlogger serta masih banyak lagi.

Sedangkan selama sesi online yang sudah diaplikasikan Mister Aladin pada 30 September – 6 Oktober 2019, pelanggan seluruh Indonesia bisa memperoleh diskon hotel hingga 50% pada saat happy hour, diskon kereta, pesawat, aktivitas promo 20% dan promo spesial dari MNC Bank, Bank Mandiri, UOB, dan OCBC NISP.

“Mister Aladin adalah travel online dari MNC Travel, oleh karena itu kami memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Jasa Perjalanan Wisata,” ujar Nitha menepis pertanyaan pers banyak travel online yang tidak memiliki izin usaha.

 

Diserbu Turis, Bukit Punthuk Setumbu Dongkrak Taraf Hidup Rakyat

this formate

MAGELANG, bisniswisata.co.id: Banyak jalan menikmati keindahan dan kemegahan Candi Borobudur. Salah satunya mengamati situs sejarah yang dibangun pada abad ke VIII itu dari kawasan bukit Punthuk Setumbu. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara, datang sejak subuh ke Punthuk Setumbu untuk menikmati matahari terbit (sunrise) dengan latar pemandangan Candi Borobudur, Gunung Merapi dan Merbabu.

Hanya berjarak 4,8 kilometer dari Candi Borobudur, untuk menyambangi Punthuk Setumbu hanya diperlukan waktu tempuh dengan kendaraan selama sekitar 11 menit. Guna mencapai titik puncak bukit ini, Anda harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menaiki anak tangga selama kurang lebih 10 menit hingga 20 menit.

Wilayah Punthuk Setumbu salah satunya dipopulerkan lewat adegan dalam film layar lebar “Ada Apa Dengan Cinta 2” tahun 2016 yang diperankan Nicholas Saputra (Rangga) dan Dian Sastrowardoyo (Cinta). Dalam sekuel film “Ada Apa Dengan Cinta” itu, digambarkan adegan Rangga mengajak Cinta menikmati keindahan alam di Punthuk Setumbu melalui Rumah Doa Bukit Rhema, atau banyak orang dahulu menyebutnya Gereja Ayam.

Harga tiket masuk ke lokasi tersebut terbilang ramah di kantong, yakni Rp 20.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 50.000 untuk wisatawan mancanegara (wisman). Nominal yang sama juga berlaku saat kita ingin memasuki kawasan Rumah Doa Bukit Rhema.

Kini, Bukit Punthuk Setumbu semakin tenar, semakin diserbu wisata dan menjadi destinasi wisata “Anyar” di Kabupaten Magelang. Kehadiran wisatawan yang grafiknya semakin naik, berdampak positif sekaligus mampu mendongkrak taraf hidup masyarakat sekitarnya. Bukit tempat wisatawan bisa menikmati keindahan sinar matahari pagi (sunrise) berlatar Candi Borobudur itu, dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa.

Nuryazid, Kepala Desa Kurahan dan juga ketua pengelola Punthuk Setumbu, bercerita bahwa pendapatan pengelolaan kawasan tersebut sampai akhir tahun 2018 telah menyentuh Rp 1,6 miliar. Pendapatan tersebut diperoleh dari kedatangan 105.000 wisatawan dalam negeri dan 17.000 wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang tahun 2018.

Dari pendapatan tersebut, selain sudah dapat memberikan masukan tambahan bagi para pekerja yang ada di desa tersebut. “Kami bisa menyisihkan untuk tabungan karyawan, pembangunan masjid, kas desa, perawatan jalan dan penerangan,” tutur Nuryazid seperti dilansir laman KONTAN, Kamis (03/10/2019).

Pembagian kerja bagi warga desa pun terbilang cukup merata. Saban hari, setidaknya ada 38 orang yang mengurus Punthuk Setumbu. Mereka perwakilan dari enam Rukun Tetangga (RT) dengan 205 kepala keluarga yang berada di kawasan tersebut.

Setiap orang, secara bergantian akan mendapat jatah bekerja selama 2 pekan di Punthuk Setumbu. “Setiap orang di desa kami, bisa mengantongi pendapatan sebanyak Rp 600.000-Rp 700.000 dalam dua pekan,” ujar Nuryazid.

Aicha dan Sabrine, dua wanita asal Prancis di Punthuk Setumbu menyatakan kekagumannya. Keduanya mengaku akan menghabiskan waktu selama tiga pekan di Indonesia, sejak mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pada Minggu (22/9).

Aicha mengatakan, dia dan Sabrine mengetahui Borobudur dan wisata sekitarnya dari blog-blog dan instagram. “Di sini, Punthuk Setumbu, alam dan landscape-nya begitu indah. Itulah sebabnya kami ke Indonesia,” ujar Aicha yang berprofesi sebagai tenaga marketing pada sebuah perusahaan keuangan di Prancis.

Keduanya mengaku senang menikmati wisata bernuansa alam. Sabrine mengatakan, tahun sebelumnya mereka berdua berwisata ke Malaysia. namun dari sisi pemandangan dan masakan, Sabrine mengaku lebih menyukai Indonesia.

Awalnya, Punthuk Setumbu mulai dikenal setelah ada fotografer dari Borobudur yang mengambil pemandangan matahari terbit (sunrise) dengan latar Candi Borobudur sekitar tahun 2006-2008. Foto itu kemudian viral, karena menang dalam salah satu lomba foto yang diadakan KOMPAS. Sejak itu, lebih banyak lagi fotografer dan wisatawan yang berkunjung ke Punthuk Setumbu. Para warga pun mulai menjajakan jasa sebagai guide ke lokasi pengambilan gambar.

Padahal dahulu, warga Punthuk Setumbu sendiri hanya memakai lokasi tersebut untuk menggembala ternak. Tidak hanya itu, “Sejak dulu, tiap Senin Legi, warga di sini biasa mengadakan selamatan, sedekah bumi, makan ketupat dan tempe bacem bersama seluruh warga desa di puncak,” kenang Nuryazid.

Baru saat semakin banyak wisatawan berdatangan, pada tahun 2013 warga dusun sepakat mengelola Punthuk Setumbuh secara bersama-sama. Seiring peningkatan jumlah pengunjung, lanjut Nuryazid, pengelola Punthuk Setumbu menerima bantuan dana dari pemerintah daerah. Dana tersebut lantas dipakai untuk membangun dan memperbaiki sarana dan prasarana di Punthuk Setumbu. (ndy)

Ready To Wear Ala Schiaparelli dan Ralph&Russo di Paris Fashion Week

this formate

PARIS, bisniswisata.co.id: Apa jadinya jika dua rumah mode couture merambah ke ranah siap-pakai? Rumah mode legendaris Schiaparelli yang berbasis di Paris dan rumah mode yang berasal dari Inggris menjadi contoh model bisnis mode super eksklusif namun berisiko tinggi. Untuk pertama kalinya, dua rumah mode ini menggelar fashion show untuk koleksi siap pakai pertama kali di Paris, meski keduanya tidak masuk dalam kalender resmi Paris Fashion Week.

Seperti dilansir CNN, Kamis (03/10/2019), Maison Schiaparelli didirikan Elsa Schiaparelli tahun 1927. Setelah tutup tahun 1954, rumah mode Schiaparelli ‘tidur lelap’ selama hampir 6 dekade sebelum buka kembali dengan pemilik dan desainer baru.

Ketika posisi kepala kreatif dipegang oleh Bertrand Guyon di tahun 2017, Schiaparelli kembali mendapat gelar ‘haute couture’, dan baru kali ini, dengan desainer Daniel Roseberry, Schiaparelli mengadakan pagelaran show untuk koleksi ready-to-wear pertama kalinya.

Koleksi perdana siap pakai karya Daniel Roseberry untuk rumah mode couture Schiaparelli merupakan sebuah kumpulan dari semesta alternatif yang berbeda-beda. Salah satu temanya adalah sebuah menara yang diselimuti dengan bunga, di mana idenya berasal dari flowery head, keyakinan Elsa Schiaparelli yang memasukkan benih ke hidung dengan keyakinan bahwa benih itu akan tumbuh dan mempercantik dirinya.

Alih-alih memakai warna shocking pink menyala yang merupakan ciri khas Schiaparelli, Roseberry menggunakan pink blush lembut, hijau rumput laut, rona tanah, dan biru cyan. Potongan-potongan jaket klasik disandingkan dengan elemen-elemen surealis yang kental, seperti payet berbentuk kerumunan semut, hiasan bulu warna-warni layaknya Cendrawasih, hingga aplikasi make up tiga dimensi warna-warni dengan corak katak pohon beracun Ranitomeya amazonica.

Ready-to-wear yang dikembangkan dari sebuah koleksi haute couture ini memiliki tingkat kematangan dan teknik eksekusi yang baik. Strategi hyper-exclusive yang dijalankan oleh Schiaparelli juga tidak biasa. Koleksi siap pakai mereka di kawasan elit Place Vendome hanya bisa dikunjungi dengan perjanjian sebelumnya (by appointment only).

Sementara rumah mode Ralph&Russo yang ‘baru’ berusia 10 tahun, memulai bisnis mereka dari couture. Dipakai oleh banyak selebriti dunia seperti Kyle Minogue, Angelina Jolie, dan Beyonce hingga keluarga kerajaan Inggris, Ralph&Russo merupakan rumah mode eksklusif yang sejak dua tahun lalu telah meluncurkan koleksi siap pakai, meski hanya tersedia di London, Paris, dan Dubai.

Dengan didukung oleh salah satu atelier couture terbesar di Inggris, dengan lebih dari 200 artisan yang bekerja untuk koleksi couture, tidak heran jika Tamara Ralph meluncurkan koleksi prêt-à-porter yang juga memiliki kualitas sekelas couture.

Warna-warna pastel ceria yang mengingatkan akan tumpukan es krim di musim panas mendominasi runway yang berwarna pink segar. Koleksi ini memiliki range yang lebar, dari gaun santai, baby doll, mantel mandi yang dipasangkan dengan sandal lembut berwarna biru muda, hingga gaun-gaun malam yang mewah bertabur kristal dan dihiasi sulaman bulu burung unta.

Gaun-gaun ringan berbahan sutera memilik struktur yang simpel, dan setelan-setelan memiliki siluet yang santai. Dan untuk pertama kalinya, Ralph&Russo juga mengeluarkan sepatu sneakers. Sebuah koleksi yang fun. (ndy)

Kabut Asap, 5 Penerbangan di Bandara Banjarmasin Delay

this formate

BANJARMASIN, bisniswisata.co.id; Kabut asap kembali menyelimuti landasan pacu Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (3/10/2019). Akibatnya, 5 penerbangan yang seharusnya berangkat ke kota Banjarmasin dengan tujuan berbagai wilayah, terpaksa mengalami penundaan keberangkatan atau delay.

Kepala Komunikasi dan Legal Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin Aditya Putra Patria saat dihubungi mengatakan, jarak pandang di landasan pacu hanya 300 meter. “Visibility (jarak pandang) tadi hanya sekitar 300 meter, ini berdampak pada 5 penerbangan yang harus delay,” ujar Aditya seperti dilansir laman Kontan, Kamis (03/09).

Selain menggangu jadwal keberangkatan, kabut asap juga membuat 2 penerbangan yang seharusnya mendarat lebih cepat terpaksa mengitari langit Banjarmasin menunggu kabut asap mereda. “Tadi juga ada 2 penerbangan yang holding (berputar-putar) baru mendarat, itu dari Jakarta dan Surabaya,” lanjut Aditya.

Menurut Aditya, jarak pandang yang hanya 300 meter membuat pesawat hanya stay di apron selama 1 jam. Para penumpang tetap diminta tetap berada di atas pesawat untuk menghindari penumpukan di ruang tunggu bandara. “Delay tadi hanya sekitar sejam saja, pesawat tetap stand by di apron, setelah visibility sudah di atas 500 meter, pesawat diberangkatkan satu persatu,” tambah Aditya.

Kabut asap yang menyelimuti landasan pacu diakibatkan dari kebakaran lahan di areal yang tak jauh dari Bandara Syamsuddin Noor. Lokasi tersebut adalah Guntung Damar di mana ada ratusan hektar lahan gambut yang terbakar dan saat ini masih terus dilakukan upaya pemadaman. (ndy)

Agustus 2019, Kunjungan Wisman ke Daerah Kian Bergairah

this formate

TANJUNGPINANG, bisniswisata.co.id: Meski sepanjang Agustus 2019, beberapa wilayah di Indonesia terjadi bencana alam, kenaikan harga tiket pesawat yang masih tinggi bahkan muncul asap kebakaran hutan dan lahan, namun tak menyurutkan wisatawan mancanegara (wisman) berwisata ke beberapa daerah di Indonesia. Malah kunjungan turis asing semakin bergairah dan tak pengaruh dengan kondisi di Indonesia.

Hal ini terbukti yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) di beberapa provinsi. Seperti BPS Provinsi Kepulauan Riau mencatat selama Agustus 2019, kunjungan wisman tercatat sebanyak 265.718 kunjungan (naik 21,91 persen) dari bulan Juli. Dan, bila dibandingkan dengan kunjungan wisman pada Juli 2019 hanya mencapai 217.957 kunjungan.

“Jika dibandingkan Agustus 2018 lalu, jumlah kunjungan wisman ke Kepri naik sebesar 12,55 persen. Kenaikan jumlah kunjungan wisman Agustus 2019 dikarenakan adanya kenaikan jumlah kunjungan wisman dari pintu masuk utama yang ada di Kepri.,” papar Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Kepri, Rahmad Iswanto

Lewat pintu masuk Kota Tanjungpinang naik 30,75 persen, Kota Batam naik 24,20 persen dan Kabupaten Karimun naik 21,34 persen. Namun kunjungan wisman melalui pintu masuk di Kabupaten Bintan turun 12,97 persen, dari sebelumnya mencapai 20,40 persen, “Pintu masuk wisman di Bintan pada Agustus 2019 justru mengalami penurunan yang signifikan dari 20,40 persen menjadi 12,97 persen saja pada Agustus lalu,” ujarnya.

Kunjungan wisman secara kumulatif Januari-Agustus 2019, ke Kepri mencapai 1.888.958 kunjungan, atau naik 13,67 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. “Jumlah kunjungan wisman terbanyak pada Januari hingga Agustus 2019 melalui Kota Batam 1.270.873 kunjungan (67,28 persen), Kabupaten Bintan 425.250 kunjungan (22,51 persen), Kota Tanjungpinang 116.600 kunjungan (6,17 persen) dan Kabupaten Karimun 76.235 kunjungan atau (4,04 persen),” ujarnya.

Jumlah wisman berkebangsaan Singapura yang berkunjung ke Kepri sebanyak 129.333 kunjungan. Jika dibandingkan dengan Juli 2019, kunjungan wisman berkebangsaan Singapura naik sebesar 26,03 persen dari 102.623 kunjungan pada Juli 2019. Rata-rata dari 10 negara wisman terbanyak yang berkunjung ke Kepri mengalami kenaikan pada Agustus 2019 jika dibanding dengan bulan sebelumnya, kecuali wisman berkebangsaan Australia.” uajrnya.

#. Riau

BPS Sumatera Barat mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Agustus 2019 mencapai 5.985 orang atau mengalami kenaikan 15 persen dibandingkan Juli. “Pada Juli 2019 kunjungan wisatawan asing ke Sumbar 5.197 orang, Agustus naik menjadi 5.985 salah satunya didorong oleh adanya even Pasa Harau di Kabupaten Limapuluh Kota,” kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang.

Kunjungan wisatawan asing pada Agustus 2019 memberikan kontribusi sebesar 0,38 persen terhadap total wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 1.555.436 orang. Agustus 2019 kunjungan wisman ke Sumbar didominasi turis Malaysia sebanyak 4.600 orang, Australia 366 orang, dan Perancis 88 orang. China 65 orang, Inggris 58 orang, Amerika Serikat 56 orang, Singapura 52 orang, Jerman 39 orang, New Zealand38 orang, Brazil 37 dan negara lainnya 586 orang.

Ia memastikan jumlah yang terdata tersebut adalah mereka yang masuk melalui imigrasi di Bandara Internasional Minangkabau, jika sebelumnya dari Jakarta atau Medan maka akan di data di bandara kedatangan.

#. Jawa Timur

Kunjungan Wisman yang datang ke Jawa Timur melalui pintu masuk Juanda pada Agustus 2019 sebanyak 29.751 kunjungan. Artinya, ada kenaikan sebesar 18,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 25.143 kunjungan. Namun demikian, jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, jumlah kunjungan Wisman tersebut menurun 12,92 persen. “Jika dibanding bulan yang sama tahun lalu memang masih mengalami penurunan sebesar 12,92 persen. Agustus 2018, Jatim kedatangan 34.166 Wisman,” kata Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono.

Sepuluh negara asal Wisman terbanyak yang mendominasi kunjungan ke Provinsi Jawa Timur pada Agustus 2019 yaitu Malaysia, Singapura, China, Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, Thailand, India, Korea Selatan, dan Prancis. Wisman dari 10 negara utama tersebut mencakup 64,40 persen dari total kedatangan Wisman ke Jawa Timur.

Dari sepuluh negara tersebut, Wisman Malaysia menempati posisi tertinggi, yaitu dengan kontribusi sebesar 26,76 persen. Kemudiam diikuti Singapura di posisi kedua dan China di posisi ketiga, berturut-turut mencapai 11,32 persen, dan 8,68 persen. Dibandingkan dengan Juli 2019, kata Teguh, kunjungan Wisman dari sepuluh negara utama pada Agustus 2019 mengalami kenaikan. Dari 17.470 kunjungan menjadi 19.161 kunjungan, atau naik sebesar 9,68 persen.

#. Jawa Tengah

Arus kunjungan wisman ke wilayah Jateng melalui Bandara Adi Sumarmo Solo dan Ahmad Yani Semarang periode Agustus 2019 mencapai sebanyak 2.629 wisman. BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat jumlah kunjungan wiswan sebanyak itu, mengalami kenaikan signifikan 39,47%, dibandingkan Juli yang tercatat hanya sebanyak 1.885 kunjungan wisman.

Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono mengatakan untuk jumlah kunjungan wisman terbanyak melalui pintu masuk Bandara Adi Sumarmo berasal dari warga negara China mencapai 469 wisman, sedangkan yang terbanyak dari pintu masuk Bandara Ahmad Yani Semarang masih didominasi berasal dari warga Malaysia sebanyak 640 wisman.

Selain itu, lanjutnya, untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jateng selama Agustus 2019 tercatat sebesar 45,15%, mengalami penurunan sebesar 1,87 poin dibanding TPK Juli yang tercatat sebesar 47,02%. “TPK selama Agustus 2019 tertinggi terjadi pada hotel bintang 4 mencapai sebesar 52,63% dan terendah hotel bintang 1 sebesar 31,45%. Rata-rata Lama Menginap (RLM) tamu hotel bintang selama Agustus 2019 tercatat sebesar 1,29 malam, naik 0,03 poin dibanding Juli yang tercatat sebesar 1,26 malam,” sambungnya.

#. Aceh

Arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Aceh menunjukan pertumbuhan positif pada Agusutus 2019. Total ada sebanyak 2.944 wisman yang masuk melalui pintu kedatangan di Provinsi Aceh pada bulan lalu, atau naik 3,55 persen dibanding Juli 2019. Meski begitu, secara komulatif, sejak Januari-Agusutus, total jumlah wisman yang masuk mengalami penurunan, di mana pada periode itu total kunjungan sebanyak 19.108 orang atau turun 14,59 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.

BPS Aceh mencatat, wisman terbanyak pada Agustus 2019 berasal dari Malaysia yaitu 2.083 orang, mengalami peningkatan sebesar 17,48 persen dibanding Juli.
Lima besar wisman lainnya masing-masing berasal dari Tiongkok (103 orang), Jerman (44 orang), Inggris (43 orang), Perancis (39 orang), dan Singapura (38 orang). Secara Kumulatif dari Januari–Agustus 2019, wisman terbanyak berasal dari nMalaysia (10.916 orang), Jerman (959 orang), Amerika Serikat (796 orang), Tiongkok (628 orang), dan Inggris (492 orang).

#. Sumatera Utara

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumatera Utara (Sumut) melalui 4 pintu masuk pada bulan Agustus 2019 mencapai 26.835 kunjungan. Jumlah tersebut mengalami kenaikan hingga 19,71 dibandingkan yang datang pada bulan Juli 2019 yang hanya mencapai 22.417 kunjungan. Hal ini dipaparkan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Syeh Suhaimi.

Dalam periode Agustus 2019, jumlah wisman yang berkunjung di Sumut mengalami kenaikan 11, 61 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yaitu dari 24.044 kunjungan tahun 2018 naik menjadi 26.835 kunjungan tahun 2019. “Kunjungan wisman yang paling banyak itu adalah dari Malaysia mencapai 12.360 kunjungan atau 46,06 persen,” katanya.

Kemudian negara yang banyak berkunjung lainnya yakni Singapura, China, Jerman, Perancis, Australia, Inggris, Belanda, Taiwan dan Amerika Serikat.
Lanjutnya, meski kunjungan naik, namun tingkat hunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumut pada bulan Agustus 2019 mencapai rata-rata 47, 88 persen, atau turun 0,54 poin dibanding bulan Juli 2019.

#. Bali

Secara kumulatif, wisman China yang datang ke Bali pada Januari-Agustus 2019 menurun hingga 12,66 % dibandingkan periode sama pada 2018. Berikutnya adalah wisman Australia (19,24%), India (5,95%), Inggris (4,58%), Amerika Serikat (4,38%), Jepang (4,09%), Perancis (3,39%), Korea Selatan (3,25%), Jerman (3,03%), dan Malaysia (2,68%).

Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia di hotel berbintang di Bali pada Agustus 2019 mencapai 2,83 hari. Menurut kabupaten dan kota, rata-rata tamu terlama menginap di Kota Denpasar selama 3,01 hari pada Agustus 2019, sedangkan terendah di Kabupaten Buleleng 1,85 hari. Rata-rata lamanya tamu menginap di hotel nonbintang di Bali pada Agustus 2019 mencapai 2,54 hari. Angka ini turun dibandingkan pada bulan sebelumnya. Menurut kabupaten dan kota, rata-rata lama menginap tamu tertinggi terjadi di Kabupaten Gianyar (3 hari), sedangkan terendah di Kabupaten Jembrana (1,02 hari).

Kepala BPS Provinsi Bali, Adi Nugroho menyebut bulan Agustus 2019, tercatat angka kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali mencapai 616.706 kunjungan atau 2,02 persen dibandingkan bulan Juli lalu. “Kedatangan wisatawan wisman ke Provinsi Bali pada Agustus 2019 tercatat sebanyak 616.706 kunjungan, dengan wisman yang datang melalui bandara sebanyak 615.027 kunjungan, dan yang melalui pelabuhan laut sebanyak 1.679 kunjungan,” ucapnya.

#. Sulawesi Utara

Jumlah wisman yang datang ke Sulawesi Utara melalui pintu masuk Bandar Udara Sam Ratulangi turun 8,24 persen secara tahunan pada Agustus 2019. BPS Sulut mencatat jumlah turis asing yang masuk melalui Bandar Udara (Bandara) Sam Ratulangi sebanyak 14.175 orang pada Agustus 2019. Jumlah itu naik 26,48 persen dibandingkan dengan 11.207 orang pada Juli 2019.

Jumlah wisman yang masuk pada Agustus 2019 turun 8,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pasalnya, jumlah wisatawan yang masuk sebanyak 15.448 pada Agustus 2018. Kepala Badan Pusat Satistik (BPS) Sulut Ateng Hartono mengungkapkan secara jumlah wisman yang masuk sebanyak 87.312 orang pada Januari 2019—Agustus 2019. Sementara itu, total pelancong asing yang masuk pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 86.448 orang. “In tumbuh hanya 0,94 persen, mudah-mudahan dengan dibukanya penerbangan Manado—Davao bisa mendorong,” jelas Hartono.

Berdasarkan kebangsaan, wisatawan China masih mendominasi kunjungan ke Sulut pada Agustus 2019. Tercatat, pelancong dari Negeri Panda sebanyak 12.772 atau berkontrbusi 90,10 terhadap total jumlah wisman yang masuk. Turis berkebangsaan Jerman dan Amerika Serikat menyusul dengan jumlah masing-masing 213 orang dan 150 orang. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Wouw Keren, Gunung Lawu Bertopi Awan

this formate

MAGETAN, bisniswisata.co.id: Ada pemandangan cantik, menarik bahkan indah di Gunung Lawu. Gunung yang berada di Magetan Jawa Timur kembali mengenakan topi awan. Pemandangan langka ini menjadi perhatian bagi warga Kabupaten Magetan dan sekitarnya. Memang, gunung bertopi awan bukanlah fenomena baru. Hal seperti ini cukup sering terjadi dan pernah terlihat di gunung Semeru, Merapu, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan pada Juli lalu di Rinjani.

Lasmoro warga KPR Terung Permai Magetan mengatakan, menyaksikan fenomena alam tersebut sejak pukul 05.00 WIB saat berolah raga. “Sejak pukul setengah enam saya lihat tadi Gunung Lawu bertopi. Bagus sekali, enggak biasanya,” papar Lasmoro seperti dilansir laman Kompas, Kamis (3/10/2019).

Dilanjutkan, bentuk sempurna kumpulan awan putih di atas Gunung Lawu yang membentuk topi tersebut terjadi pukul 05.30 WIB di mana matahari mulai muncul. Embusan angin membuat awan yang membentuk topi memudar sekitar pukul 06.00 WIB. “Paling bagus tadi sekitar pukul 05.30 WIB. Awannya putih bentuknya sempurna seperti topi, Pukul 06.00 WIB ini sudah mulai memudar diterpa angin awannya,” tambahnya.

Menyaksikan pemandangan indah ini, paling tepat di lokasi persawahan di Desa Widorokandang. Di lokasi ini, gunung Lawu terlihat tampak penuh dari kaki gunung hingga puncak Lawu. Pemandangan menakjubkan yang terekam adalah pada pukul 05.20 WIB di mana saat matahari muncul membuat topi awan di puncak Gunugn Lawu menjadi gradasi merah.

Apalagi, saat fenomena alam topi awan tersebut tidak ada mendung sedikit pun yang menghalangi pemandangan. Fenomena Gunung Lawu bertopi awan juga pernah terjadi pada 8 Maret 2019 lalu. Sebelumnya, pada 10 Desember 2019, puncak Gunung Semeru atau yang dikenal dengan sebutan Mahameru, Jawa Timur, mengalami fenomena yang tidak biasa.

Puncak “para dewa” itu tertutup awan yang melingkar sehingga membuatnya seperti bertopi. Saat itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, fenomena itu terjadi lantaran tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis. Awan tersebut terbentuk karena pusaran angin di puncak.

Dalam dunia astronomi, topi awan disebut sebagai awan lentikular. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin pernah menjelaskan kepada Kompas.com, awan lentikular memiliki bentuk menyerupai lensa. Awan lentikular yang menutupi puncak gunung muncul sebagai akibat dari aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran. “Itu sering terjadi di puncak gunung,” ujar Thomas saat itu.

Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia mengatakan, awan lentikular memiliki sifat statis alias tidak bergerak, atau selalu menetap di satu tempat. “Awan ini terbentuk saat aliran udara lembab menubruk suatu penghalang besar, sehingga membentuk putaran stasioner,” kata Marufin.

Saat putaran stasioner terjadi, awan lentikular dapat bertahan di atas puncak gunung selama beberapa jam hingga berhari-hari. “Meski indah, topi awan berbahaya. Jadi Awan lentikular seperti yang nampak dalam foto memang indah dan memukai, tapi jangan salah, awan jenis ini justru berbahaya. Awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin laksana badai di sana,” ungkap Marufin.

Hal ini pun memiliki dampak bagi pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya. Bagi wisatawan pendaki gunung, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan momok hipotermia. Sedang untuk pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga bisa kehilangan altitudenya dengan cepat. (ndy)

Tingkat Hunian Hotel di Jakarta Menyedihkan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tingkat hunian hotel di Ibukota Jakarta sepanjang Agustus 2019, kondisinya sangat menyedihkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jakarta selama Agustus 2019 menunjukkan penurunan. TPK adalah persentase banyaknya malam kamar yang terjual terhadap banyaknya malam kamar yang tersedia pada hotel berbintang.

“TPK hotel berbintang di DKI Jakarta Agustus 2019 mencapai 58,11% mengalami penurunan sebesar 6,04 poin dari TPK Juli 2019 yang mencapai 64,15% . Demikian pula jika dibandingkan dengan TPK Agustus 2018 sebesar 74,12%, TPK Agustus 2019 juga mengalami penurunan sebesar 16,01 poin,” demikian laman BPS DKI melaporkan secara resmi, Kamis (3/10/2019).

Agustus 2019, jika diamati menurut klasifikasi hotel berbintang, TPK hotel bintang dua merupakan yang tertinggi, yaitu mencapai 66,42%, sedangkan yang terendah adalah TPK hotel bintang lima yang hanya mencapai 51,35%.

Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu yaitu tamu asing dan tamu Indonesia pada hotel berbintang di Agustus 2019 adalah selama 1,98 hari. Terjadi penurunan sebesar 0,02 hari jika dibandingkan dengan rata-rata lama menginap bulan Juli 2019 yang sebesar 2 hari.

Di sisi lain, rasio tamu asing terhadap tamu Indonesia untuk hotel berbintang pada Agustus 2019 sebesar 0,17 atau mengalami peningkatan 0,02% dibandingkan dengan rasio bulan Juli 2019 sebesar 0,15. Namun, jika dibandingkan dengan rasio Agustus 2018, rasio tamu Asing terhadap tamu Indonesia Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 0,02%.

Sementara catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat menyebutkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai rata rata 54,14% atau turun 5,87 poin dibandingkan TPK Agustus 2018. Begitu pula jika dibanding dengan TPK Juli 2019 yang tercatat 56,73%, TPK Agustus 2019 turun sebesar 2,59 poin.

TPK tertinggi tercatat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 67,98%, diikuti Provinsi Bali sebesar 67,1%, dan Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 62,69%. Sedangkan TPK terendah tercatat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sebesar 34,13%.

Penurunan TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2019 dibanding Agustus 2018 tercatat di sebagian besar provinsi. Provinsi dengan penurunan tertinggi terjadi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 16,01 poin, diikuti Provinsi Kalimantan Selatan 14,08 poin, dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 11,14 poin. Sedangkan penurunan terendah tercatat di Provinsi Papua, yaitu sebesar 0,10 poin.

Kenaikan TPK hotel klasifikasi bintang terjadi di sembilan provinsi, dengan kenaikan paling besar terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 23,94 poin, dan kenaikan paling kecil terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,22 poin.

Jika dibandingkan dengan TPK Juli 2019, terjadi penurunan di sebagian besar provinsi, dengan penurunan tertinggi tercatat di Provinsi DI Yogyakarta, yaitu sebesar 8,86 poin, diikuti Provinsi Aceh 6,78 poin, dan Provinsi Kalimantan Selatan 6,32 poin. Sedangkan penurunan terendah tercatat di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu sebesar 0,10 poin.

Bila dilihat menurut klasifikasi hotel, TPK tertinggi pada Agustus 2019 tercatat pada hotel bintang 4 yang mencapai 58,88%. Sedangkan TPK terendah tercatat pada hotel bintang 1 yang hanya mencapai 37,03%. Penurunan TPK hotel berbanding lurus dengan rata rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia. Rata-rata lama menginap tamu asing pada Agustus 2019 mencapai 1,84 hari atau turun 0,1 poin jika dibanding rata-rata lama menginap pada Agustus 2018.

Sementara, jika dibandingkan dengan Juli 2019, rata-rata lama menginap pada Agustus 2019 naik sebesar 0,04 poin. Secara umum, rata rata lama menginap tamu asing Agustus 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan rata rata lama menginap tamu Indonesia, yaitu masing-masing 2,71 hari dan 1,68 hari.

Jika dirinci menurut provinsi, rata-rata lama menginap tamu yang terlama pada Agustus 2019 tercatat di Provinsi Aceh, yaitu 2,89 hari, diikuti Provinsi Bali 2,83 hari, dan Provinsi Papua Barat sebesar 2,61 hari, sedangkan rata-rata lama menginap tamu yang terpendek terjadi di Provinsi Banten sebesar 1,15 hari.

Untuk tamu asing, rata-rata lama menginap paling lama tercatat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu sebesar 6,88 hari, sedangkan terpendek terjadi di Provinsi Banten, yaitu 1,13 hari. Sementara rata rata lama menginap terlama untuk tamu Indonesia tercatat di Provinsi Aceh sebesar 2,92 hari, sedangkan terpendek terjadi di Provinsi Banten dan Kalimantan Utara sebesar 1,16 hari. (ndy)

Indesso, Integrasikan 3 Pilar Jaga Sustainability Industri Atsiri

this formate

BALI, bisniswisata.co.id,-  BERBEKAL pengalaman lebih dari 50 tahun di industri minyak atsiri, Indesso berkomitmen dalam penyediaan bahan baku berbasis alam yang berkualitas untuk industri fragrans, perisa, dan makanan. Oleh karena itu, Indesso mendedikasikan 15% dari 600 karyawannya untuk mengembangkan riset, inovasi, aplikasi produk, dan kualitas produk yang difasilitasi R & D Center. Melalui riset, Indesso menghadirkan inovasi produk, menjaga aspek keberlanjutan (sustainability) budidaya bahan baku dan produksi atsiri beserta produk turunannya.

“Di samping aspek keberlanjutan, riset dan inovasi merupakan landasan utama Indesso dalam menjalankan bisnis. Kami tidak berbisnis hanya untuk keuntungan semata. Tapi lingkungan pun harus dipelihara. Karena itu, kami integrasikan 3P pilar; people, partnership, dan planet sebagai pijakan aspek keberlanjutan bisnis,” ujar Robby Gunawan, Presiden Direktur Indesso di sela acara IFEAT 2019.

Indesso, produsen bahan baku aromatik terkemuka Indonesia sebagai sponsor Platinum dalam Konferensi International Federation of Essential Oils and Aroma Trades (IFEAT) 2019 di Nusa Dua Bali pada 29 September – 3 Oktober 2019. Dalam IFEAT 2019 ini, Indesso menawarkan beragam produk yang bisa dicoba masyarakat dalam ajang konferensi global terbesar industri bahan baku perisa dan fragrans di dunia.

Selain itu, Indesso memberi perhatian pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitar area pabrik dan area sumber bahan baku (di perkebunan atau penyulingan). Tahun 2018 lalu, Indesso pun mendonasikan puluhan mesin jahit dan pelatihan menjahit tas untuk kaum ibu di area sekitar pabrik, di samping mendirikan “Museum Atsiri” sebagai sarana informasi dan pengetahuan dalam memproduksi bahan baku aromatik, minyak atsiri, dan ekstrak kepada masyarakat. Fasilitas ini, termasuk kebun aromatik, dan prototipe penyulingan tradisional sebagai pusat pembelajaran.

 Seperti diketahui, Indesso saat ini memiliki tiga jenis produk utama, yaitu aromatic chemical dan essential oils, natural extracts, dan savoury products. Bahan-bahan baku seperti minyak nilam yang dapat diaplikasikan ke dalam pembuatan parfum. Karena itu, pengadaan sumber bahan baku Indesso dapat ditelusuri melalui model kemitraan yang transparan, dari hulu hingga hilir.

Green dan Memberdayakan

 “Kami pun menjalankan bisnis dengan prinsip kemitraan yang sinergis. Selain untuk memberdayakan, masyarakat dapat ikut bekerjasama dalam pengembangan produk. Indesso membuka peluang kepada para klien untuk ikut berpartisipasi dalam program keberlanjutan sumber daya,” kata Paul S. Gunawan, Direktur Sales dan Marketing untuk Aroma Ingredients.

Indesso tercatat sebagai perusahaan pertama dalam industri bahan baku aromatik dan makanan yang memasang panel surya dalam skala besar dan mengintegrasikannya dengan aliran listrik yang disuplai PLN. Panel surya ini telah menghasilkan energi bersih sebesar 882.123 kWh (per 24 September 2019) sejak pertama kali dipasang pada Maret 2018. Karena itu, Indesso secara aktif bertekad mengurangi carbon footprint pada aktivitas produksinya.

Dalam hal pengelolaan limbah, Indesso berkomitmen meminimalisasi dampak limbah, bila perlu didaur ulang. Seperti pengolahan limbah dalam produksi eugenol dari minyak cengkeh yang kini menghasilkan zero waste karena seluruh bahan yang digunakan dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Lebih lagi, Indesso pun mendaur ulang ampas dalam produksi ekstrak teh menjadi kompos alami yang kemudian didonasikan kepada para petani. (Dwi/redaksi@bisniswisata.co.id)

Menpar: Media Value Efektif Promosikan Pariwisata Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya prihatin dengan kondisi Travel Information Centre (TIC) di sejumlah bandara di Indonesia. Keprihatinan itu bersumber dari minimnya wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) yang datang ke pusat informasi pariwisata. Lebih memprihatinkan lagi hampir tidak ada orang yang datang.

“Saya kerap bertanya kepada setiap pejabat di lingkungan Kementrian Pariwisata TIC itu dibutuhkan atau tidak?. Dan tidak ada yang mau menjawab. Memang dulu sangat dibutuhkan dan diharapkan, namun sekarang ternyata tidak ada wisatawan yang datang. Berarti tidak dibutuhkan,” papar Menpar Arief Yahya acara Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta, Rabu (2/10).

Namun demikian, lanjut dia, ke depannya TIC harus ada perubahan total dengan memasang Videotron, TV billboard, TV Screen atau Liquid Crystal Display (LCD) di setiap bandara sehingga memudahkan wisatawan untuk melihat video tentang pariwisata Indonesia. “Sekarang kan eranya serba praktis. Apalagi turis milenial, yang jarang bertanya namun apa yang dilihat langsung dipahami. Nah kita harus mengikuti perubahan itu,” tambahnya.

Disisi lain, keberadaan Videotron maupun LCD itu media value yang sangat efektif mempromosikan pariwisata Indonesia. Juga melalui Videotron maupun LCD para pemasang iklan juga tertarik untuk memasang iklannya. “Nah kalau cuma TIC mana ada yang mau pasang iklan,” lontarnya.

Dilanjutkan, tahun 2021, Indonesia menyelenggaran event sport tourism yang sangat akbar, balap motor MotoGP 2021 yang berlangsung di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemenpar sangat mendukung sekelai event balap motor MotoGP 2021 ini, karena memiliki media value yang sangat besar. Ditargetkan akan dihadiri 100.000 wisatawan asing yang gemar MotoGP.

Jika dihitung secara matematika kehadiran 100.000 orang akan ada pemasukan 100 Juta dolar AS atau sekitar Rp 1 triliun, dengan asumsi pengeluaran wisaman 1,000 dollar AS. ” Pemasukkan itu cuma dari wisatawan yang datang. Belum termasuk pemasukan dari siaran TV oleh 26 broadcaster ke 200 negara. Jadi media valeunya bisa dua kali lipat. Kemenpar tahu media valuenya tinggi. Dari anggaran yang dikeluarkan untuk penyelenggaran Mot GP sebesar 1 juta Euro, media value yang dihasilkan sebesar Rp2 triliun,” ungkap Manpar.

Terkait dengan Media Value, Menpar menilai penyelenggaraan Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) memiliki media value yang tinggi sehingga dinilai efektif untuk mempromosikan kebijakan strategis Kementerian Pariwsata (Kemenpar) dan destinasi wisata di Tanah Air. Karenanya, pihaknya tak segan meningkatkan anggaran untuk hadiah yang diberikan.

Tahun 2017 hadiah yang diberikan Rp200 juta, tahun 2018 naik menjadi Rp300 juta, dan 2019 meningkat signifikan menjadi Rp500 juta. “Hadiahnya relatif besar. Tapi Media Value APWI 2019 bisa mencapai Rp15 miliar. Jauh lebih tinggi dari anggaran yang kami berikan. Ilmunya media valuenya tinggi, dan eskposurenya besar sehingga sangat membantu promosi sesuai tema yang ditetapkan, dan tahun depan kami akan naikkan menjadi Rp1 miliar dengan tema Tourism 4.0,” kata Menpar.

Sekretaris Kementerian Pariwisata, Kurleni Ukar menambahkan, pemberian penghargaan APWI 2019 merupakan bentuk apresiasi Kemenpar kepada para pewarta pariwisata atas karya tulisan dan tayangan televisi terbaik mereka seputar Millennial Tourism sebagaimana tema utama dan Destinasi Super Prioritas yang mendapat perhatian khusus pemerintah.

Dengan tema wisata milenial, pihaknya berharap kinerja sektor pariwisata Indonesia semakin baik termasuk dalam upaya memenuhi target kunjungan 18,5 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini, di mana lebih dari 50 persen datang dari kalangan kaum milenial.

Lomba APWI 2019 diadakan dengan dua tema besar, yaitu Millennial Tourism dan 5 Destinasi Super Prioritas. Kompetisi diikuti peserta masing-masing kategori yaitu Majalah 28 karya, Surat Kabar 40 karya, Televisi 73 karya, Blog 92 karya, Media Online 117 karya, dan Kategori Khusus 79 karya dan satu kategori Best of The Best. Lomba tahunan yang sudah digelar sejak 2003 ini juga memberikan voucher liburan dengan total nilai sebesar Rp31 juta dari tiket.com. (end)