Budi Isman: Paket Sekoci Solusi Win-win di Tengah Pandemi

this formate

Budi Satria Isman ( kiri) bersama Anton Thedy dalam New Normal Seri di Instagram Live

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meski bisnis travel & tourism yang paling pertama terpukul dengan pandemi global COVID-19, para pelaku usahanya masih tetap optimistis di tengah kondisi pemasukan nihil alias nol dengan keyakinan  kondisi ini hanya bersifat sementara dan jangka pendek.

” Teman-teman saya di bisnis travel yang umumnya kategori UMKM tetap optimistis kondisi sekarang ini bukan ‘kiamat’ tapi hanya serangan ‘badai’  yang pasti berlalu meskipun dari sisi cash-flow hanya tinggal hingga Juni,” kata Anton Thedy, pendiri TX Travel di Instagram Live, hari ini.

Bersama tamunya, Budi Satria Isman yang pernah menjabat posisi CEO dan posisi kunci lainnya di beberapa perusahaan multi nasional, Anton membahas Leadership in Crisis dan langkah apa yang harus dilakukan ke depan karena pandemi global COVID-19 sudah melanda 215 negara dan ada 4,18 juta kasus.

Budi Isman yang lebih suka disebut Angel Investor, Pengusaha dan Pelatih Eksekutif (Executive Coach) mengatakan sejak lahir kedunia dia sudah melewati krisis tingkat nasional maupun dunia dan semua bisa dilewati dengan selamat.

” Waktu kecil ada gerakan G 30 S PKI, lalu tahun 1973 perang minyak pertama, lanjut perang minyak ke dua tahun 1978-1979, setelah itu tiap 10 tahun sekali ada siklus krisis, misalnya hancurnya saham dunia pada 1987- 1989, Krisis moneter 1997-1998 serta tumbangnya rezim Presiden Soeharto, lanjut global krisis lagi 2007-2008,” kata Budi santai

Meski sebenarnya sudah pengalaman menghadapi krisis, tapi memang belum pernah terjadi pembatasan perjalanan dan pergerakan orang secara serentak di seluruh dunia sehingga akhirnya berdampak langsung pada perekonomian yang tumbuh minus dan menimbulkan krisis baru.

” Krisis-krisis sebelumnya, perusahaan besar colapse tapi tertolong oleh UMKM dimana usaha ini justru yang memperkerjakan 97% rakyat Indonesia. Di krisis pandemi global saat ini dua-duanya banyak colapse, ” jelas Budi Isman.

Oleh karena itu, untuk yang menggeluti bisnis travel & tourism dan meyakini bisnisnya masih bisa bangkit lagi pasca COVID-19 maka identifikasilah dan buat skenario bisnis dulu untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Perbarui model bisnis dan kalau cash-flow sudah tidak bisa dipertahankan maka ibarat makanan bekukan saja dulu masuk freezer.

” Mau pakai teori apapun yang jelas dalam jangka pendek ini, bisnis penghasilannya nol. Jadi pengusaha maupun karyawannya cari cash flow dengan mengerjakan bisnis yang masih bisa bertahan untuk bisa mempertahankan hidup,” ujarnya blak-blakan.

Bagi yang masih memiliki uang cadangan jangan lupa terus menggemakan brand  di media sosial seperti yang dilakukan Anton Thedy dengan Instagram Live tiap hari dan program lainnya agar orang tidak lupa untuk berwisata.

Meski tidak ada THR, bahkan terima gajipun hanya 25%, tetaplah kreatif dan cari peluang untuk bisa menghasilkan cash-flow yang seimbang. Jutaan orang kini sudah dirumahkan, cuti tanpa gaji, banyak pula yang sudah benar-benar kehilangan pekerjaan.

” Jadi simpelnya ganti haluan dulu meski tidak cocok dengan bisnis kita karena semua orang harus bisa bertahan hidup.Kalau perlu jual aset-aset untuk bisa survive ditengah ketidakpastian kapan pandemi ini berakhir,” sarannya.

Bisnis yang cocok dengan kondisi sekarang tentunya E-commerce, makanan sehat, E-learning, home entertainment, jamu dengan kemasan modern, bisnis nutrisi, E-Magazine, pengiriman logistik dan lainnya.

” Pokoknya karena orang banyak di rumah maka kalau perlu produk branded Versace keluarkan seri daster nyaman buat di rumah. Kalau saya pilih E-Learning misalnya karena mau cari pahala yang banyak. Kursus sistem daring biaya jadi murah dan yang ikut bisa banyak orang,” kata Budi tergelak.

Dia mengingatkan bahwa di setiap krisis pasti juga ada tipe orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nah banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan sehingga meskipun aset bagus terpaksa harus dijual oleh pemiliknya dengan harga miring.

“Kalau harga idealnya Rp 100 bisa-bisa dijual dengan harga Rp 25. Tak heran di tengah krisis ini para investor pemakan ‘bangkai’ istilah untuk mereka yang mengincar perusahaan bagus dengan harga miring akan mencari perusahaan colapse dengan harga serendah-rendahnya,” kata Budi Isman.

Dia bercerita dari kalangan investor yang banyak membuka restoran di mall -mall begitu ada pandemi dan saat terjadi karantina, PSBB dan mall ditutup mereka juga langsung menutup bisnisnya untuk dibekukan selama setahun minimal.

” Buat investor yang juga menjalankan uang orang lain,  keputusan cepat menutup bisnis triliunan rupiah memang mudah saja karena begitu kondisi pulih dan orang mulai ke restoran lagi tinggal re-start. Nah buat yang kategori UMKM tentu sangat berat dan umumnya ingin mempertahankan karyawannya yang loyal dan profesional,” kata Budi.

Karyawan yang loyal dan profesional harus dipertahankan karena menjadi aset penting yang menjalankan perusahaan. Oleh karena itu untuk perusahaan kategori UMKM saat harus terjadi pengurangan karyawan maka mereka yang sudah mau pensiun, punya performa kurang bagus dan karyawan lepas maka merekalah yang didahulukan keluar untuk mengurangi fix cost.

Leader in crisis memang harus jaga cash flow, mengurangi fix cost tetapi tetap harus manusiawi dalam melepas karyawannya untuk berbagai skema yang disepakati karena PHK di saat krisis juga memakan biaya yang besar.

Anton menjelaskan bahwa bisnis TX travel adalah bisnis franchaise yang rata-rata jumlah karyawan cabang maksimal 20 orang. Perusahaan biro perjalanan wisatanya ini ada 200 cabang lebih di seluruh negri dengan kantor pusat yang memiliki 150 karyawan.

Apa yang disarankan Budi Isman telah dijalankan bahkan dia juga mendorong para karyawannya untuk mendapatkan penghasilan dari sektor lain misalnya ada yang jualan ranginang, makanan tradisional yang banyak disajikan masyarakat Betawi kala Lebaran.

Budi Isman pada kesempatan itu juga berbagi program paket sekoci yang dijalankannya ketika terjadi krisis  moneter global dan tengah memimpin perusahaan multinasional Coca Cola. Dia harus memangkas 8000 tenaga sales dari 20.000 karyawan yang ada.

” Sekoci itu perahu penyelamat, jadi kalau kita harus menyelamatkan perusahaan carilah program yang win-win solution. Kami jual truk-truk pengangkut minuman kepada karyawan yang harus di PHK. Mereka bisa beli cicil dan jadi distributor mandiri dan tetap mendistribusikan soft drink yang jadi produk kami,”

Dari sisi perusahaan, ujarnya status 8000 karyawan yang dilepas itu tetap jadi sales dari usaha mereka sendiri dan tidak menjadi beban fix cost yang harus ditanggung  perusahaan.

Saat pandemi Corona sekarang ini, salah satu perusahaan kue dengan 1000 karyawan yang menjadi klien Budi juga mengurangi pegawai tetapnya dengan jalan menerapkan paket sekoci. Sebagian dari mereka tidak bekerja lagi tapi menjadi agent dari produk kue yang selama ini diproduksinya.

” Karyawan yang berubah jadi mitra ini aktif menjual produk bahkan ada yang bisa menjual 3000 boks/ hari. Dengan demikian pabrik terus beroperasi sementara berkurangnya fix cost menyelamatkan cash flow sehingga perusahaan bisa bertahan,” urainya.

Budi yang aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, pelatih business di perusahaan besar dan asing, penasehat perusahaan dan pegiat sosial, berpesan mengorbankan 100 orang untuk mempertahankan 900 orang lainnya adalah program sekoci yang manusiawi.

Pria asal Sungai Penuh, Kerinci, Jambi yang mendirikan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Mandiri atau lebih dikenal ProIndonesia ini juga mengingatkan untuk mencari pahala sebesar-sebesarnya di saat pandemi.

 

Pameran Move On , Angkat Perempuan dan  Corona

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pameran dari rumah karya Yusuf Susilo Hartono ( YSH)  bertajuk “Move On”, yang didukung oleh  Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, digelar via Zoom, pada Jumat, 15 Mei 2020, pukul 11.00 WIB. Selanjutnya dapat dilihat pada kanal YouTube – budayasaya. Rencananya pameran ini diresmikan oleh Sri Hartini Sesditjenbud, mewakili Direktorat Jenderal Kebudayaan yang mendukung program ini. Dengan host meeting wartawan Indah Ariani.

Perupa Yusuf Susilo Hartono (YSH) melalui 70-an sketsa (pilihan 2002-2020) dengan subyek perempuan, ingin menyuarakan kebebasan, kasih sayang, tradisi, kebenaran dan kemanusiaan. Dihasratkan sebagai ekspresi sekaligus doa agar pandemic Corona COVID-19 segera berakhir, dan manusia di muka bumi bisa hidup dengan kesadaran dan cara baru, yang lebih manusiawi dan berkeilahian.

Menurut Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Citra Smara Dewi selaku kurator pameran ini menyatakan perempuan dalam karya YSH bukan semata memiliki spirit keindahan, kelenturnan dan dinamis, seperti tersirat pada seri karya Ballerina, namun juga memiliki spirit cinta kasih yang tulus melalui karya  ibu dan anak.

Dalam dimensi lain perempuan juga hadir dalam mengisi ruang-ruang psikologis melalui karya sketsa potret dengan berbagai eskpresi yang penuh misteri. Menggenapi karya sketsa YSH, tema-tema kemanusiaan yang terbalut dengan dimensi spiritual terlihat pada karya yang merespon fenomena global yaitu wabah COVID-19. YSH menyikapi fenomena tersebut melalui sosok perempuan dalam doa yang khusuk mengharap wabah cepat berlalu.

Tema-tema perempuan dalam sejarah perkembangan seni rupa merupakan tema klasik yang tetap relevan dimaknai dan diinterpretasikan kembali pada spirit jamannya. Bagi YSH,  perempuan tidak identik dengan stigma “yang lemah”, justru sebaliknya sebagai mahluk yang lebih kuat, indah dan istimewa.

Sebagai seniman multi talenta, yang sekaligus wartawan dan penyair, alam bawah sadarnya mempengaruhi konsep berkaryanya. Saat sketsanya mengkritisi berbagai peristiwa sosial, budaya, kemanusiaan,kadang terlihat kontemplatif, yaitu suasana sunyi yang jauh dari kebisingan, dengan menghadirkan seorang sosok/figur. Kadang tersirat keramaian melalui berbagai peristiwa yang dirangkai dalam satu bingkai karya bak reportase sebuah berita.

Citra menegaskan, “Sketsa-sketsa YSH menyiratkan kekuatan ‘estetika yang berbicara’ melalui keragaman bentuk ekspresi.  Sementara berbagai material, media dan eskpresi beragam yang menjadi pilihan YSH tentu bukan merupakan akhir dari sebuah pencapaian, karena kreativitas merupakan proses yang terus bergerak secara organik.”

Sebagian karya- karya sketsa Yusuf Susilo yang dipamerkan secara virtual berjudul Corona merah hati, 2020, Antara Hidup Mati? 2020, Bersabung do’a di taman korona, 2020 dan Perayaan dan Kenangan, 2019

Testimoni para sahabat

Beberapa sahabatnya memberi kesaksian atas karya dan perjalanan YSH di bidang seni. Budayawan Madura KH.D. Zawawi Imron, yang dikenal luas sebagai sastrawan, penyair dan pelukis, yang mengikuti sepak terjang YSH sejak 1980-an menyatakan, “ Yang saya hargai pada YSH ialah kesetiaannya berkarya di bidang sketsa selama 40 tahun. Ke mana saja ia pergi selalu membawa peralatan bikin sketsa. Belakangan ia melakukan eksperimen selingkar bentuk sehingga pada karya-karyanya terakhir ia menemukan sejenis deformasi yang unik dan estetik.”

Pengamat seni rupa Agus Dermawan T menambahkan, sebagai seniman multi minat dan multi bisa, YSH antusias merekam masa lalu, dan bersemangat mengangkat peristiwa masa kini yang berkonteks, misalnya kali ini wabah Corona. Karya-karya YSH, tambah koreografer Rusdi Rukmarata dari EKI Dance Company, menunjukkan keterikatan perasaannya yang sangat kuat dengan obyek yang akhirnya menjadi goresan-goresan indah tetapi dramatis.

“Goresan-goresan YSH dipantik oleh rasa,” tutur penari, aktris film dan Dosen IKJ Nungki Kusumastuti, yang mengenalnya sejak 1980-an. Goresan rasa tadi, juga dirasakan oleh salah satu tokoh balet Indonesia Maya Tamara LRAD-ARAD, dari Namarina Dance Academy.

“Simak sketsa ballerinanya. Garisnya tajam dan lentur. Seakan gerakan Ballet Achappe Pas de bourrée…Pose into Arabesque dan attitude Bersama ketukan musik Allegro, Andante, Vituoso. Itulah yang ada di kanvasnya,” tutur Maya.

Mantan guru yang pernah kuliah di  FKIP-IKIP ini dikenal sebagai perupa, wartawan budaya senior dan penyair, mulai berkarya sejak 1980 melalui jalur sanggar. Sampai sekarang  mantan Pemred Majalah Seni Rupa Visual Art, yang kini mengelola Majalah Galeri, pernah beberapa kali pameran tunggal antara lain di Balai Budaya (1990), Taman Ismail Marzuki (2010), Pusat Kebudayaan Jepang – Indonesia (2012) , Galeri Nasional Indonesia (2014),

Yusuf juga pernah Pameran Sketsa Keliling 3 kota : Jakarta, Bojonegoro, Surabaya (2013). Pameran bersamanya yang pernah diikuti antara lain bersama Daoed Joesoef, Ruliati dkk (1993),  “Manifesto” (2010), “Bayang” (2011), “Sketsaforia” (2019). Tahun 2000 menjadi Finalis Philip Morris Indonesia Art Awards, dan tahun 2001 finalis Indofood Art Award.

Di antara buku-bukunya tentang seni rupa, sastra dan jurnalistik, berjudul  “Menangkap Momen dan Memaknai Essensi (Moment and Essence)”, merupakan kumpulan 300 sketsa pilihan tahun 1982- 2013, terbit tahun 2013.

 

 

Kisah Para Turis Asing Pilih Tetap Tinggal di Indonesia Akibat Corona

this formate

Juan Pablo (kanan) foto bersama dengan salah seorang peselancar lokal, Minggu, 26 April lalu. (Foto: rizal adhi pratama/ tugumalang.id )

MALANG, Jatim, bisniswisata.co.id: Tidak bisa pulang dan tidak mau pulang adalah dua hal yang berbeda. Namun pandemi global COVID-19 yang kini melanda 215 negara dengan jumlah kasus 4,1 juta orang memang membuat wisatawan mancanegara yang tengah berlibur di Indonesia dihadapi dilema pilihan yang berat.

Di satu sisi ingin segera pulang namun pembatasan perjalanan dan lockdown yang diterapkan dinegara asal juga membuat mereka juga ‘terjebak’ di tempat-tempat eksotis sehingga akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia hingga pandemi berakhir dan menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

Jupa, begitu warga Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang, akrab menyapa Juan Pablo, turis asal Spanyol yang tidak bisa pulang ke negaranya karena lockdown. Saat ditemui tugumalang.id, Jupa sedang bersantai di kemah, pinggir pantai Wedi Awu, sebuah pantai di Pelosok Purwodadi, Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Jupa sedang santai bermain saksofon, memainkan alunan lagu lokal Spanyol. Pria 56 tahun tersebut sudah berada di kawasan pantai Wedi Awu sejak 15 Januari 2020. Dia mengatakan, masuk ke Indonesia untuk berwisata di Bali.

“Setelah Bali memutuskan menutup pariwisata, teman saya mengajak ke sini (Tirtoyudo),” ucapnya dengan bahasa Inggris dan menambahkan bahwa dia sebenarnya sudah berniat pulang ke Spanyol.

Namun, dia dua kali terlambat pergi ke bandara. Pertama yaitu penerbangan ke Singapura, kedua penerbangan ke Thailand. Dari dua  negara transit tersebut Jupa seharusnya sudah kembali ke Spanyol. “Ya sudah tiket saya melayang karena terlambat pergi ke bandara waktu di Bali,” jelasnya dengan ekspresi santai.

Namun, terjebaknya Jupa di Indonesia, menurutnya sebuah berkah yang luar biasa. Pasalnya, dia memang ingin berwisata di Bali. Meski akhirnya dia malah tinggal lama di Purwodadi, yang pantainya, menurut Jupa, tak kalah dengan Bali. Seolah Jupa jatuh cinta dengan pantai Wedi Awu dan suasana pedesaan yang asri dan sejuk.

“Di sini saya hidup sehat, no smoking no alcohol. Saya selalu menunggu ombak bagus, main surfing di sini (Wedi Awu), di pantai Lenggoksono. Saya juga mancing ikan buat makan,” 

Jupa bercerita, keluarganya memang keturunan pelaut. Empat generasi keluarganya keturunan pelaut di Basque Country (wilayah otonom Kerajaan Spanyol). Indonesia menurutnya tidak beda jauh dengan Spanyol, karena banyak pelabuhan dan perahu.

Jupa sendiri sudah pernah datang ke Indonesia tahun 1985 lalu. Saat itu menurutnya, Bali masih bersih dan asri. Berbeda dengan saat ini yang sudah ramai dikunjungi para wisatawan. Namun pesona Bali kata Jupa, tetap menarik bagi turis mancanegara.

Untuk urusan komunikasi, Jupa ternyata sudah lama belajar Bahasa Indonesia, meskipun sedikit saja. Tidak banyak bendahara kata yang dia punya, tapi Jupa bisa mengatakan “aku cinta Indonesia”. Bahkan logatnya pun mulai medok, terkontaminasi logat penduduk lokal Jawa.

“Saya berkomunikasi English-Indonesia dan campur Bahasa Jawa,” kata dia sambil tersenyum bangga. Selama lebih 2 bulan tinggal di Purwodadi Kabupaten Malang ini, Jupa sangat jatuh cinta dengan pantai, terumbu karang dan ombaknya. 

Bahkan seandainya ada kesempatan selama 3 bulan lagi untuk tinggal, Jupa akan bersemangat belajar Bahasa Jawa. “Senang sekali tinggal di sini. Saya pernah menangkap ikan besar selengan pakai tombak, ikan di sini luar biasa. Papan surfing saya ketika berselancar, pernah digigit sama hiu besar, dua kali,” Jupa bercerita dengan semangat.

Meskipun, rumah menurutnya adalah tempat pulang. Dia sudah ingin pulang, karena rindu dan khawatir dengan istri dan 3 anaknya di Spanyol. Saat ini, komunikasi yang mereka jalin hanya lewat pesan daring. Jupa berharap virus Corona segera musnah dan berhenti penyebarannya.

“Dua bulan lalu kita semua masih bisa bercanda tentang Corona, tapi saat ini kita harus sopan dengannya. Di Kuala Lumpur, Australia dan Amerika, corona sudah jadi masalah besar, ribuan orang meninggal,” 

Tetap aman di Bali 

Anastasia Strelevske, wanita Ukraina, yang tiba di Bali bersama ibunya Larysa pada Januari 2020, adalah salah satu dari sedikit wisatawan yang tersisa di pulau Dewata dan memilih tidak mau pulang ke negaranya.

Dia telah membayar $ 240 per bulan untuk tinggal di hotel mewah baru di tepi pantai Kuta dan mereka tidak memiliki rencana untuk pergi. “Tinggal di sini baik, saya tidak ingin kembali ke negara saya. Ini bagus,” katanya.

Sementara toko dan bar bekerja dengan jam terbatas atau ditutup, kehidupan belum sepenuhnya terhenti di Bali dan bisnis lokal masih bersaing untuk mendapatkan permasukan dari beberapa wisatawan yang masih tertinggal.

Anastasia bercerita, dia mengambil bagian dalam kelas yoga reguler bersama dengan 50 orang dan berjalan-jalan di sepanjang jalan pantai bersama ibunya. “Tetap di sini baik, aku tidak ingin kembali ke negaraku.” kata Anastasia Strelevske seperti dikutip dari  Sydney Morning Herald.

Kebetulan dia bekerja di Dubai dan Arab Saudi, di sana sangat ketat dibandingkan dengan Bali. “Jadi saya tinggal, saya senang di sini, itu bagus. Saya akan tinggal sampai selesai.”

Dia pragmatis tentang risiko kesehatan yang terkait dengan tetap di Bali. “Jika saya menjaga jarak, tetap sehat, menjaga [sistem kekebalan] saya kuat, bahkan jika saya sakit, saya akan menjadi lebih baik.”

Dari Denpasar, Agence France-Presse atau AFP melaporkan bahwa ratusan wisatawan China yang gemar berwisata di Bali telah memperpanjang izin tinggal sampai situasi di negaranya benar-benar aman.

Mereka berupaya untuk tidak pulang karena khawatir terinfeksi virus korona atau Covid-19 yang justru berawal dari Wuhan, China, negara asal mereka. Indonesia telah menutup semua penerbangan menuju dan dari China sejak Februari. 

Pemerintah China sebenarnya telah menjemput warga mereka di luar negeri, termasuk Indonesia, namun hanya puluhan orang yang memanfaatkannya. Penolakan pulang itu setidaknya disampaikan Li, turis China yang bekerja di sebuah perusahaan Eropa.

Dia mengaku seperti pengungsi yang bertahan di negeri orang untuk menghindari dampak buruk di kampung halaman. “Saya seorang pengungsi internasional. China seperti penjara besar, semua kota diisolasi,” kata pria yang hanya menyebutkan nama keluarga itj.

Li mengaku tak percaya dengan jaminan Pemerintah China bahwa virus korona telah berhasil dikendalikan. Meski demikian Li mengaku punya kekhawatiran. Istri dan dua anaknya yang masih kecil ditinggal di kampung halaman sampai menunggu krisis kesehatan di negaranya berakhir. 

Selain itu dia juga mengkhawatirkan pekerjaannya. Sebagai manager perusahaan multinasional, dia tetap harus menggerakkan anak buah. “Saya seorang manager, tidak bisa meminta anak buah melanjutkan bekerja sementara saya sembunyi di sini,” katanya.

Sekitar 1,2 juta turis China mengunjungi Bali setiap tahun, kelompok pendatang terbesar kedua setelah Australia. Turis China menghabiskan ratusan juta dolar AS bagi perekonomian lokal Bali.

Dua wisatawan asing asal Italia juga tidak bisa keluar dari Raja Ampat, Papua Barat. Mereka tidak bisa kembali ke negara asalnya karena penerbangan dari Indonesia menuju Italia ditutup di tengah wabah virus corona.

Ceo wisatawan asal Italia di Pelabuhan Falaya Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat, medio Maret lalu seperti dikutip Antara mengatakan dia belum tahu sampai kapan penerbangan ke Italia ditutup. Namun dirinya dan sahabatnya masih tetap tinggal di Kabupaten Raja Ampat sampai habis masa berlaku visa izin berwisata.

“Saya dan seorang sahabat sudah berada di Indonesia khususnya di Raja Ampat sebelum wabah virus corona melanda negara kami hingga akhirnya penerbangan ditutup. Kami menikmati keindahan alam sampai habis masa berlakunya visa,  baru mencari jalan pulang ke Italia,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa dirinya takut terinfeksi virus corona yang saat ini melanda belahan dunia dan mengakibatkan banyak orang meninggal dunia. Bahkan takut pulang ke negaranya sendiri.

Dia  berharap setelah masa berlakunya visa berakhir pemerintah Indonesia masih memberikan izin untuk tinggal sampai virus corona di negara asalnya berakhir.

“Kami berharap masih diberikan izin tinggal di Indonesia sampai virus yang menghebohkan dunia ini berakhir. Mari kita berdoa agar Indonesia dan Italia cepat pulih dari virus corona,” tambahnya.

 

Program BISA Sasar Kelompok Sadar Wisata, Pelaku dan Pengelola Destinasi Wisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program Bersih, Indah, Sehat dan Aman ( BISA) akan menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat kelompok sadar wisata, asosiasi pariwisata dan ekonomi kreatif serta sentra kreatif untuk menerapkan aturan baru pasca pandemi global COVID-19 atau disebut New Normal.

“Gerakan ini akan memberdayakan para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan, keindahan, Kesehatan, keamanan, di destinasi wisata dan tetap menghasilkan karya kreatif,” kata Dr. Frans Teguh MA, Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan & Konservasi Kemenparekraf, hari ini.

Seperti diketahui, tiga tahapan program Kemenparekraf menghadapi pandemi global ini adalah masa Tanggap Darurat, Pemulihan dan Normalisasi. Oleh karena itu melalui program tersebut, ujarnya, pada tahap normalisasi para pelaku diharapkan sudah terbantu dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan memiliki stabilitas ekonomi yang lebih baik.

” Usaha mereka harus terus jalan, namun dengan program BISA maka para pelaku akan terbiasa menerapkan aturan  New Normal” pasca-COVID-19 sesuai prinsip hygiene dan sanitasi yang prima untuk memperkuat daya tarik dan reputasi destinasi wisata,” kata Frans Teguh.

Bagi desa-desa wisata dan kelompok sadar wisata di tanah air sudah familiar dalam penerapan 7 Sapta Pesona yaitu Aman, Tertib. Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah dan Kenangan. Melalui program BISA maka di dorong untuk menerapkan pariwisata yang berkelanjutan, memiliki ketahanan dan bertanggung jawab.

“Fokus kita adalah penerapan Community Base Tourism yang berfokus pada manusianya untuk mengembangkan dan memperkuat ekosistem Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sehingga dalam mengelola usaha maupun destinasi wisatanya menerapkan aksi sesuai prinsip sustainable tourism,” tambahnya.

Hal-hal yang harus menjadi perhatian adalah masalah kebersihan ( Bersih = B) berarti selain toilet dan sampah juga menjaga polusi sehingga menghasilkan Indah = I  meningkatkan daya tarik alam dan budaya. Masyarakatnya harus pro-aktif memperkuat ambiance atau aura destinasi dengan tradisi dan atraksi seni budaya.

Selain itu ada keserasian bentang alam dan budaya misalnya  penataan taman, kegiatan tanam pohon restorasi karang. Selanjutnya unsur Sehat = S, hygiene, sanitation, health care dan terakhir Aman = A seperti menghidupkan kembali budaya siskamling, cakap dalam menghadapi situasi darurat (emergency ) dan safety service.

“Budaya Jaga Jarak ( Social dan physic distancing serta protokol kesehatan harus mendapat dukungan dari berbagai unsur di daerah mulai dari Pemerintah Daerahnya, Badan Otorita, Pengelola kawasan destinasi bahkan termasuk peran Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTNP),”

Frans Teguh mengatakan banyak yang harus dilakukan di era New Normal karena metode atau pola kerja, sistem monitoring, pendampingan, quality control, kebersihan dan keamanan.  Bahkan perlu sertifikasi bahwa suatu destinasi wisata  sudah memenuhi kebutuhan wisatawan pasca COVID-19.

Persaingan antar destinasi wisata akan sangat ketat karena itu untuk memenangkan persaingan maka manajemen pengelolaan usaha tidak bisa diabaikan mulai dari promosinya, reputasi branding, pengelolaan  keuangan sampai laporan akuntabilitasnya.

” Sasaran utamanya adalah Kelompok sadar wisata (Pokdarwis), Asosiasi Parekraf, Homestay, sentra kreatif di lokasi destinasi wisata. Seperti diketahui kita memiliki lima destinasi super prioritas di tambah lagi Kepulauan Riau, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogya sehingga total 11 Provinsi.

Untuk setiap provinsi dialokasikan bagi 10 lokasi  destinasi pariwisata dengan pelaksanaan kegiatan a.l bantuan pembelian peralatan dan modal kerja, fasilitas kebersihan, keindahan, peralatan kesehatan dan fasilitas keamanan/keselamatan.

Selain itu pihaknya juga akan memberikan pelatihan dan pendampingan pengelolaan untuk  mendorong dan mengapresiasi program ketahanan usaha dan mitigasi plan di destinasi pariwisata. 

Untuk menopang ketahanan usaha para pelaku, kata Frans Teguh, dilakukan penyusunan dan review SOP dan  mitigasi plan, rekap/identifikasi entitas atau kelembagaan yang telah maupun yang belum memiliki SOP & mitigasi plan serta menyusun rekomendasi insentif utk entitas yang memiliki skema mitigasi plan dan SOP.

” Penerapan New Normal pasca pandemic dalam pelaksanaannya akan membutuhkan rebound strategy terutama kesiapan destinasi dalam aspek Standar Kemanusiaan Inti dalam hal Kualitas dan Akuntabilitas atau biasa disebut the Core Humanitarian Standard ( CHS) “

CHS, ungkap Frans untuk membangun kepercayaan (trust) dan simpati publik yaitu wisatawan domestik maupun mancanegara melalui penguatan promosi destinasi yang sudah memenuhi CHS. Seperti diketahui pandemi global yang melanda 215 negara ini sudah mencapai 4,18 juta kasus sehingga ke depan pelaksanaan verifikasi, audit, dan sertfikasi CHS memang dibutuhkan.

 

Iker Casillas: Ambassador Responsible Tourism UNWTO

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: Kiper legendaris Real Madrid, Spanyol dan pemenang Piala Dunia Iker Casillas, dalam upacara virtual hari ini, ditetapkan sebagai Duta Besar Khusus untuk Pariwisata yang Bertanggung Jawab (Ambassador for Responsible Tourism)  Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

Penjaga gawang ini  berjanji untuk mempromosikan manfaat kepariwisataan bertanggungjawab dan memberikan visibilitas lebih besar terhadap nilai-nilai hakiki pariwisata dunia.

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili, menyerahkan plakat khusus kepada Casillas atas kesediaannya mendukung keberlanjutan pariwisata dunia  di saat-saat kritis, ketika sektor ini mengalami pukulan keras dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

 “Olahraga dan pariwisata mampu membangkitkan rasa kemanusian umat. Aktivitas yang mengedepankan nilai-nilai bersama tentang solidaritas, kerja tim, dan keunggulan. Spirit berkualitas ini dibutuhkan komunitas global sekarang dan kedepan,  karena kita menghadapi tantangan besar darurat kesehatan dunia. Sebagai pemain, Iker Casillas adalah pemenang dan pemimpin, dan saya senang dia memutuskan untuk mendukung kami dengan kepribadian dan ide-ide baru untuk mempromosikan pariwisata, ” ungkap Pololikashvili.

Casillas kemudian bergabung dengan tokoh sepak bola terkemuka lainnya seperti Lionel Messi, Andrés Iniesta, Michel Salgado, Fernando Hierro, Didier Drogba dan Vicente del Bosque, yang telah ditunjuk sebagai duta organisasi untuk promosi pariwisata yang bertanggung jawab.

Tugas utama Iker Casillas adalah menggemakan pesan utama Organisasi Pariwisata Dunia dalam menghadapi COVID-19. Kata Casillas, “bersama-sama, kita dapat mencapainya, lebih baik tinggal di rumah hari ini sehingga kita dapat melakukan perjalanan besok.”

Daftar Terbaru 10 Bandara Terbaik di Dunia, Changi Airport Masih Nomor Satu

this formate

Rain Vortex,  Changi, Air terjun indoor tertinggi di dunia (foto: sign builder)

LONDON, bisniswisata.co.id: Meski saat ini kebanyakan orang masih bertanya-tanya kapan mereka bisa kembali terbang, Skytrax – lembaga independen pemeringkat penerbangan yang berkedudukan di London – mengeluarkan daftar 10 besar bandara terbaik di dunia. Singapura untuk ke-8 kalinya kembali dinobatkan sebagai bandara terbaik. 

Di peringkat kedua ada Bandara Haneda di Tokyo, disusul Bandara Internasional Hamad di Doha yang menduduki peringkat tiga. Pengumuman pemenang Award semula direncanakan dilakukan pada 1 April bertepatan dengan acara Passenger Terminal Expo di Paris, Perancis. Namun karena pandemi Covid-19, acara tersebut dibatalkan. Sebagai gantinya, panitia mengumumkan hasil survei kepuasan pelanggan bandara di seluruh dunia pada Minggu (10/5/2020) secara virtual yang disiarkan langsung di channel Youtube.

“Setelah pengumuman penghargaan tertunda selama hampir enam minggu, kami merasa kini saatnya memberi sedikit kegembiraan ke industri bandara di masa-masa sulit ini,” kata Edward Plaisted, CEO Skytrax, dalam pernyataannya.

Studi tahunan Skytrax yang dilakukan lewat survei tingkat kepuasan ini melibatkan pelanggan lebih dari 100 negara. Survei berlangsung mulai September 2019 hingga Februari 2020 dan melibatkan 550 bandara. 

Kemenangan Singapura sebenarnya sudah dapat diprediksi. Peresmian Jewel Changi Airport pada April tahun lalu menegaskan bandara tersebut menawarkan sejumlah fasilitas yang mengesankan. Kompleks multi guna ini dirancang apik menghubungkan tiga dari empat terminal di Bandara Changi.   

Eksterior bangunan berbentuk donat yang dibingkai dengan baja dan kaca menampilkan kesan eksotik. Pengembangan bandara seluas 135.700 meter persegi itu dirancang khusus arsitek kenamaan Moshe Safdie. Daya tarik lain di bandara tersebut adalah air terjun buatan bernama HSBC Rain Vortex setinggi 40 meter yang letaknya di tengah taman di dalam kubah Jewel. Rain Vortex disebut sebagai air terjun indoor tertinggi di dunia.

Berikut ini daftar 10 negara dengan bandara terbaik di dunia, dilansir dari CNN:

  1. Changi Airport (Singapura)
  2. Tokyo Haneda Airport
  3. Hamad International Airport (Doha, Qatar)
  4. Incheon International Airport (Korea Selatan)
  5. Munich Airport (Jerman)
  6. Hong Kong International Airport
  7. Narita International Airport (Tokyo)
  8. Chūbu Centrair International Airport (Nagoya, Jepang)
  9. Amsterdam Schiphol Airport
  10. Kansai International Airport (Osaka, Jepang)

 

 

 

Dia yang Di Garis Depan

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: DIDEDIKASIKAN kepada mereka-mereka yang ada di garis depan dalam cerita menghadapi pandemi COVID-19. “Ada beberapa temanku dokter dan paramedis yang sudah terlalu lama nggak pulang ke rumah,” kata Dadang Pranoto yang lebih popular sebagai Pohon Tua, penulis lagu utama Dialog Dini Hari, saat merilis single baru yang diberi judul lantang, Garis Depan.

Pandemik COVID-19 menjadikan pergerakan masyarakat dunia menjadi senyap yang mengkhawatirkan, akibat pembatasan pergerakan oleh pemerintah. Persoalan keseharian dalam darurat kesehatan juga mempengaruhi dinamikan kalangan pemusik seperti dialami grup musisi Dialog Dini Hari. Secara kolektif, mereka bergumul dengan isu-isu yang sama; tentang bagaimana persoalan umat manusia ini ditanggulangi. Sekaligus melihat ke depan dan menyalakan harapan optimistis.

 “Ingat ketika sibuk tur, main di sana, di sini. Perlu waktu lama, bengong di rumah biar dapat ide untuk karya baru. Pandemik, ketika band nggak ada kesibukan lain, ya waktunya dipakai untuk ngobrol dan diskusi. Akhirnya bikin sesuatu,” ungkap Pohon Tua menjelaskan apa yang terjadi di belakang layar kehidupannya bersama Brozio Orah (bas dan synthesizer) dan Deny Surya (drums), dua orang personil Dialog Dini Hari yang lain.

 “Karena ngobrol dan diskusi itu tadi, dari satu lagu jadi dua lagu, jadi tiga lagu dan seterusnya. Prosesnya terus berlangsung,” lanjut Pohon Tua.

Single Garis Depan dan juga Kulminasi II – single lainnya–  akan menjadi bagian dari mini album (EP/ Extended Player) bertajuk Setara. Uniknya mini album Setara di mixing di Lengkung Langit Studio dan mastering di Posko Studio oleh Deny Surya, rekamannya dilakukan dari studio rumah masing- masing personil Dialog Dini Hari.

Pandemik menuntut semua pihak meminimalisir komunikasi fisik dan mengubahnya jadi serangkaian obrolan virtual serta menahan rindu untuk bercengkerama dengan orang-orang yang banyak membantu Dialog Dini Hari bertahun-tahun.

 “Kami masih punya banyak api yang tertahan paska Parahidupdi rilis tahun lalu. Itu yang juga membuat kami terus menulis,” jelas Pohon Tua.

Parahidup adalah album penuh ketiga Dialog Dini Hari, dirilis tahun 2019. Periode kedepan, secara optimis merupakan periode paling produktif untuk urusan karya dalam kisah panjang Dialog Dini Hari.

Selamat mendengarkan Garis Depan. EP Setara, ungkap Pohon Tua kemungkinan besar dirilis bulan Juni 2020. Bisa mundur, bisa juga tepat waktu. Namanya juga kesenian, yang selalu berjalan paralel dengan ketidakpastian.

Seruan 5 Badan Dunia untuk Selamatkan Pariwisata Afrika

this formate

Sektor pariwisata Afrika perlu bantuan (Foto: Hospitality net)

JENEWA, Swiss, bisniswisata.co.id: Lima lembaga transportasi udara dan pariwisata internasional meminta agar organisasi keuangan dunia, negara donor, dan mitra pembangunan, untuk ikut menyelamatkan sektor perjalanan  ( travel) dan pariwisata ( tourism) di negara-negara Afrika. Saat ini ada sekitar 24,6 juta orang bergantung pada sektor ini. 

Tanpa ada dana darurat, krisis akibat pandemi COVID-19 dapat menyebabkan rontoknya sektor pariwisata di Afrika dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Sektor ini menyumbang US$ 169 miliar atau setara 7,1% dari PDB seluruh negara yang ada di benua Afrika.

Kelima lembaga tersebut adalah IATA (International Air Transport Association), UNWTO (the UN World Tourism Organization), WTTC (the World Travel & Tourism Council), AFRAA (the African Airlines Association), dan AASA (the Airlines Association of Southern Africa).

 “Dampak COVID-19 di Afrika akan terus berlanjut dan brutal. Perjalanan udara dan pariwisata ditutup. Inilah saatnya negara-negara internasional berkumpul untuk membantu komunitas-komunitas paling rentan. Kelangsungan hidup industri ini dan sektor terkait lainnya membawa pengaruh serius bagi seluruh sistem transportasi udara Afrika, ”kata CEO AASA, Chris Zweigenthal dalam rilis Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (World Travel and Tourism Council/WTTC) di Jenewa.

Sebenarnya, sejumlah negara di Afrika telah berupaya membantu kalangan paling terdampak. Namun, minimnya ketersediaan sumber daya telah menyulitkan mereka melewati masa krisis ini.Saat ini situasinya betul-betul kritis. Maskapai penerbangan, hotel, losmen, pondok, restoran, tempat pertemuan dan bisnis terkait lainnya mengalami kerugian yang terus meningkat.

Kondisinya semakin parah karena mayoritas atau sekitar 80% sektor travel dan tourism di sana adalah kelompok usaha kecil dan menengah. Untuk menghemat, banyak perusahaan sudah merumahkan karyawan atau menawarkan cuti yang tidak dibayar.

Usulan yang ditawarkan kelima lembaga tersebut, antara lain, termasuk: penyaluran bantuan US$10 miliar bagi industri travel & tourism di Afrika; membuka akses sumber hibah sebanyak mungkin untuk membantu keuangan perusahaan; memberi dispensasi termasuk penangguhan kewajiban membayar pinjaman; dan sesegera mungkin mencairkan dana guna menyelamatkan bisnis dari kemungkinan kolaps.

Industri penerbangan, misalnya, merupakan inti dari rantai bisnis travel  dan tourism yang telah menciptakan lapangan kerja bagi 24,6 juta orang di Afrika. Kini, mata pencaharian mereka terancam akibat pandemi COVID-19. 

Kebijakan pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan upaya membendung penyebaran virus ini sudah benar. “Tetapi, bantuan keuangan untuk menyelamatkan sektor perjalanan dan pariwisata juga diperlukan. Kehancuran ekonomi akibat COVID-19 akan membawa kemunduran 10 tahun ke belakang bagi Afrika. Jadi, bantuan keungan hari ini merupakan investasi penting bagi masa depan jutaan warga Afrika paska pandemi,” kata Dirjen dan CEO IATA, Alexandre de Juniac. 

UNWTO: Kunjungan Wisatawan Internasional 2020 Bisa Terjum Bebas Hingga 80%.

this formate

Kunjungan wisatawan internasional  ke seluruh dunia tahun ini diperkirakan turun hingga 80% ( foto: Kemenparekraf)

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id:  Kunjungan wisatawan internasional telah turun 22% di kwartal pertama tahun ini dan sepanjang tahun 2020 diperkirakan bisa terjun bebas hingga 60-80%, ungkap laporan World Tourism Organization ( UNWTO).

Dunia kehilangan sedikitnya 67 juta lebih wisatawan internasional yang tidak melakukan perjalanan hingga Maret lalu dan jika diterjemahkan ke dalam kerugian ekspor senilai US$ 80 miliar

Akibat pandemi COVID-19, data terbaru dari Organisasi Pariwisata Dunia ini krisis dapat menyebabkan penurunan tahunan antara 60% dan 80% bila dibandingkan dengan angka 2019.  Ini menempatkan jutaan mata pencaharian dalam risiko dan mengancam terhentinya kemajuan yang telah dicapai sustainable development goals (SDGs).

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Dunia menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.  Pariwisata telah terpukul keras, dengan jutaan pekerjaan berisiko di salah satu sektor ekonomi yang paling padat karya,” 

Meskipun Asia dan Pasifik menunjukkan dampak tertinggi secara relatif dan absolut (-33 juta kedatangan), dampak di Eropa, meskipun dalam persentase lebih rendah, volumenya cukup tinggi (-22 juta).

Kedatangan turis internasional, 2019 dan kwartal 1 2020 (% perubahan)

Skenario Pariwisata Internasional 2020

Prospek pariwisata internasional untuk tahun ini telah diturunkan beberapa kali sejak wabah pandemi global COVID-19 yang melanda 217 negara, ditengah  ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi.  

Skenario saat ini menunjukkan kemungkinan penurunan kedatangan wisatawan dunia dari 58% menjadi 78% untuk tahun ini.  Hal Ini tergantung pada kecepatan menahan penyebaran virus dan durasi berapa lama pembatasan perjalanan dan penutupan perbatasan dilakukan oleh suatu negara.

Skenario berikut untuk tahun 2020 didasarkan pada tiga kemungkinan dan tergantung kapan mulai dicabutnya pembatasan dan dibuka bertahap perbatasan internasional; 

Skenario 1 (-58%) jika kelonggaran perjalanan mulai awal Juli. Skenario 2 (-70%) jika ada pelonggaran pembatasan perjalanan pada awal September dan skenario 3 (-78%) jika kelonggaran pembatasan perjalanan baru pada awal Desember.

Kedatangan turis internasional pada tahun 2020: tiga skenario (perubahan bulanan,%)

* Data aktual hingga Maret termasuk perkiraan untuk negara yang belum melaporkan data. Sumber: UNWTO

Catatan: Skenario yang disajikan dalam grafik ini bukan perkiraan.  Mereka mewakili perubahan bulanan alternatif dalam kedatangan berdasarkan pembukaan bertahap perbatasan nasional dan pencabutan pembatasan perjalanan pada tanggal yang berbeda dan masih didominasi  ketidakpastian yang tinggi.

Di bawah ini skenario dari dampak akibat hilangnya permintaan  perjalanan internasional yang dapat diterjemahkan menjadi:

*Kehilangan 850 juta hingga 1,1 miliar turis internasional

*Kehilangan pendapatan dari kunjungan wisatawan internasional dari  US$ 910 miliar menjadi US $ 1,2 triliun

*100 hingga 120 juta pekerjaan pariwisata langsung berisiko.

Sejauh ini ini COVID -19 adalah krisis terburuk yang dihadapi pariwisata internasional sejak data kunjungan mulai dicatat  pada 1950. Dampaknya akan terasa pada tingkat yang berbeda-beda di berbagai wilayah global dan pada waktu yang tumpang tindih, dengan Asia dan Pasifik diperkirakan akan pulih lebih dulu.

Para ahli melihat pemulihan pada tahun 2021

Menurut survei Panel Pakar UNWTO, permintaan domestik diperkirakan akan pulih lebih cepat dari permintaan internasional. Mayoritas negara mengharapkan untuk melihat tanda-tanda pemulihan pada kuartal terakhir tahun 2020 tetapi sebagian besar pada tahun 2021.

Berdasarkan pengalanan menangani krisis sebelumnya, perjalanan liburan diharapkan untuk pulih lebih cepat, terutama perjalanan untuk mengunjungi teman dan kerabat, daripada perjalanan bisnis.

Perkiraan mengenai pemulihan perjalanan internasional lebih positif di Afrika dan Timur Tengah dengan sebagian besar ahli memperkirakan pemulihan masih pada tahun 2020. 

Para ahli di Amerika adalah yang paling tidak optimis dan paling tidak percaya pada pemulihan pada tahun 2020, sementara di Eropa dan Asia  prospek beragam, dengan setengah dari para ahli berharap untuk melihat pemulihan dalam tahun ini juga.

Kapan Anda mengharapkan permintaan pariwisata di tujuan Anda akan mulai pulih?

 

Kapan Anda mengharapkan permintaan internasional untuk tujuan Anda akan mulai pulih?

 

Generasi Z dan Milenial Harus Tetap optimistis Hadapi Perubahan Perilaku New Normal

this formate

Bersepeda di tepi pantai, salah satu aktivitas Gen Z dalam berwisata. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Generasi Z dan milenial harus tetap optimistis menghadapi perubahan perilaku manusia (New Normal) termasuk perubahan perilaku berwisata. Akibat situasi pandemi COVID-19 memang tidak mudah bagi pariwisata untuk bertahan atau berkembang, apalagi seluruh dunia merasakannya.

Menparekraf Wishnutama mengatakan hal itu saat konferensi virtual I’M Milenial dan Genersi Z dengan tema “Tantangan, Harapan dan Masa Depan New Normal” , kemarin yang dihadiri lebih dari 100 peserta dipandu Stella Nau dan menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VII Maman Abdurrahman dan Chief Executive I’M Gen Z, Budi Setiawan.

“Yang terpenting, adalah kita harus optimistis pada masa depan kita. Kita meyakini pascapandemi masa depan pariwisata kita akan luar biasa. Untuk jadi pemenang jangan ada sifat pesimistis. Pemenang mencari kesempatan, bukan kekurangan. Buat generasi muda, ayo cari apa kesempatan yang ada. Hal ini tidak bisa dipelajari, tapi harus dicari sendiri,” kata Whisnutama.

Sebetulnya sebelum pandemi COVID-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menyusun berbagai skenario strategis yang sifatnya sangat dasar dalam rencana kerja tahun 2020 seperti fasilitas wisata yang sesuai standard higienitas, kebersihan toilet, keselamatan, keamanan.

Dalam masa pandemi ini, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait sekuat tenaga mencari cara untuk mempercepat langkah pemulihan sektor parekraf. Karena negara lain juga akan berusaha keras untuk mendatangkan wisatawan. “Untuk tahap awal kita akan coba mendorong wisatawan nusantara dulu, baru kita datangkan wisatawan mancanegara,” katanya.

Seperti diketahui, pandemi COVID-19 telah membuat perilaku manusia yang baru (New  Normal) yang berbeda dan berubah dari perilaku sebelumnya. Perilaku yang jauh lebih peduli terhadap kesehatan hingga selalu menjaga jarak aman. Perubahan perilaku tersebut juga kemungkinan besar akan terjadi pada wisatawan saat berkunjung ke destinasi.

New normal tersebut ternyata inline dengan apa yang sudah dipersiapkan Kemenparekraf. Sangat dasar, ditambah dengan protokol-protokol kesehatan yang sedang kita persiapkan. Seperti protokol kesehatan di bandara, restoran, hotel, tempat hiburan, bioskop, juga terus dipersiapkan, “kata Wishnutama.

Oleh Karena itu  kita juga ingin perekonomian harus tetap berjalan, harus tetap sustainable. Untuk itu antisipasi kebutuhan menghadapi new normal, yang harus dipersiapkan salah satunya adalah kebutuhan dasar, tegasnya.

New normal berikutnya, lanjut Wishnutama, adalah era digital. Dimana era digital saat ini sangat terakselerasi dengan cepat. Dia menjelaskan, dalam kondisi seperti ini semua orang dipaksa melakukan aktivitas secara digital. Yang artinya, ada potensi digitalisasi yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

“Di sektor parekraf banyak potensi itu. Dan kita akan membuka ruang-ruang diskusi untuk itu. Yang penting di era digital, adalah bagaimana bangsa Indonesia menguasai ekosistem digital, itu yang bisa membuat kita menang. Yang juga penting adalah data. Bahkan menurut saya, saat ini data sangat berharga dibandingkan minyak. Minyak bisa habis digunakan, sedangkan data terus berkembang dan bisa dipakai sampai kapanpun,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Maman Abdurrahman juga mengakui menghadapi pandemi COVID-19 tidaklah mudah. Dia menjelaskan negara maju seperti Amerika saja kewalahan. Untuk itu langkah yang diambil pemerintah harus diapresiasi. Banyak sektor yang terdampak. Tapi memang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang paling terimbas.

“Kita semua harus memikirkannya. Semua harus bisa mendukung Kemenparekraf, minimal dengan menyampaikan hal-hal positif. Tidak hanya itu, anak-anak muda juga harus mampu menciptakan platform media sosial lokal Indonesia untuk bersaing dengan dunia. Karena, sudah saatnya Indonesia mendorong industri digital dalam negeri untuk mampu bersaing,” kata Maman.