Alasan Operasional, AirAsia Tunda Layanan ke Surabaya

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: PERPANJANGAN masa pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah dan alasan operasional,  AirAsia Indonesia menyesuaikan pengoperasian penerbangan berjadwal rute internasional dan domestik secara bertahap, dan akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020 pada rute tertentu. 

Sementara penerbangan Kuala Lumpur-Surabaya dan Johor Bahru-Surabaya yang semula dijadwalkan beroperasi secara terbatas mulai 18 Mei 2020, ditunda. Pihak AirAsia, tidak merespon ketika dikonfirmasi bisniswisata.co.id dan tidak dijelaskan kendala operasional tersebut terkait dengan kasus enam penumpang dalam dua penerbangan AirAsia Kualalumpur- Tawau positip terpapar COVID-19.

Dikutip dari media online CNNT, petugas kesehatan daerah Tawau Dr Suzalinna Sulaiman memperingatkan penumpang yang menggunakan penerbangan AK5742 AirAsia pada 1 Mei dan AK5740 pada 4 Mei untuk segera menjalani pengujian COVID-19. Sekitar 400 penumpang AirAsia disarankan untuk menjalani tes Covid-19 setelah enam penumpang pada dua penerbangan dinyatakan positif. Dr Suzalinna mengatakan semua penumpang discreening pada saat kedatangan dan ditempatkan di karantina sesuai protokol saat ini.
“Namun, setelah enam dari mereka ditemukan positif, kami ingin semua penumpang menjalani tes kedua,” katanya.
Empat kasus positif ditemukan pada penerbangan pertama dan dua pada yang kedua.
“Orang-orang yang naik dua penerbangan yang dites positif tidak menunjukkan gejala,” kata dokter itu kepada wartawan.
Diperkirakan sumber infeksi berasal dari seorang warga yang tiba dalam penerbangan dari Kuala Lumpur. Dia mendesak semua penumpang untuk mematuhi jarak sosial yang ketat untuk melindungi anggota keluarga.
Calon penumpang terdampak penundan pembukaan rute penerbangan ke wilayah Jawa timur dan daerah lain di Indonesia, dihimbau untuk selalu memperhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan oleh otoritas wilayah atau pemerintah di wilayah/ negara asal maupun tujuan.

AirAsia telah menerapkan langkah-langkah kewaspadaan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan para tamu dan awak pesawat. Seluruh tamu diwajibkan menggunakan masker dari mulai proses check-in, masuk ke pesawat, selama penerbangan hingga pengambilan bagasi saat tiba di bandara tujuan. Tamu diharapkan membawa masker cadangan, cairan pembersih tangan, dan mengikuti ketentuan bagasi kabin AirAsia terbaru. Tamu diharapkan tiba 3 jam sebelum jadwal keberangkatan untuk menghindari kepadatan antrian sehubungan dengan pemeriksaan kesehatan di beberapa titik sebelum keberangkatan.

WTTC Dukung Kebijakan IATA Tolak Kebijakan 14 Hari Karantina

this formate

 MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menilai kebijakan wajib karantina selama 14 hari bagi orang-orang yang baru mendarat dapat memukul industri penerbangan.  

“Perjalanan internasional tidak mungkin dapat dimulai dalam kondisi seperti itu,” kata Alexandre de Juniac di IATA Media Briefing pada COVID-19, seperti dilansir dari website mereka. hari ini, dan dia pun menegaskan IATA menolak kebijakan itu.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Inggris minggu ini mengumumkan kebijakan wajib karantina selama 14 hari bagi orang-orang yang baru mendarat. Kebijakan ini merupakan bagian dari rencana negara tersebut melonggarkan aturan lockdown. 

Sayangnya, tidak ada keterangan detil soal berapa lama kebijakan ini akan berlangsung dan dalam kondisi bagaimana. Hal serupa juga dilakukan Pemerintah Spanyol. Mereka memberlakukan wajib 14 hari karantina bagi siapapun yang baru mendarat. Kebijakan ini akan berlaku hingga setidaknya 24 Mei atau mungkin lebih lama. 

Menurut Juniac perjalanan internasional tidak mungkin dapat dimulai dalam kondisi seperti itu. Survei terbaru IATA terhadap 11 maskapai penerbangan besar menunjukkan 84% penumpang mengatakan kebijakan karantina merupakan salah satu masalah utama dan 69% di antaranya mengatakan mereka tidak akan kembali melakukan perjalanan dalam kondisi seperti itu.

Juniac menambahkan, “Prioritas utama kami adalah memulai kembali industri ini dengan aman.” Solusinya, menurut dia bukan pada penerapan wajib 14 hari karantina, tetapi dengan pendekatan risiko yang berlapis serta perlunya koordinasi secara global. Negara asal orang-orang ini harus betul-betul menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan. 

“Sistem berbasis risiko yang kami tawarkan termasuk pemeriksaan suhu dan tindakan lain saat keberangkatan. Ini penting untuk memastikan mereka yang memiliki gejala COVID-19 tidak dapat terbang,” imbuh Juniac.

Sistem yang kuat di masing-masing negara, termasuk mencatat dengan baik jumlah orang terinfeksi serta penelusuran kontak yang ketat, dapat membantu mengelola risiko terutama mengidentifkasi mereka yang tidak menunjukkan gejala.

“Kami menentang kebijakan karantina karena masih ada cara lain. Kombinasi tindakan di atas, jika diterapkan dengan baik secara global, dapat mengelola risiko,” tegasnya.

IATA juga bekerjasama dengan organisasi penerbangan sipil internasional ICAO – salah satu badan PBB – dan pemangku kepentingan lain dalam menerapkan sistem berlapis berbasis risiko ini. Tujuannya untuk mengembalikan konektivitas global dengan aman dan efisien.

Sikap WTTC

Sementara itu World Travel & Tourism Council (WTTC) menyoroti sektor pariwisata yang akan menghadapi pemulihan bertahap selama beberapa bulan mendatang serta bagaimana penanganan industri ini terhadap proses perbaikannya.

WTTC juga mengingatkan negara-negara anggota Uni Eropa untuk ‘hati-hati’ bertindak sebelum memutuskan apakah turis yang datang perlu melewati karantina 14 hari karena tindakan karantina saat kedatangan turis akan menjadi ketidaknyamanan bagi turis itu dan menempatkan negara-negara yang memberlakukan aturan itu pada posisi yang tidak menguntungkan.

“Kami menyerukan kepada pemerintah untuk menemukan solusi alternatif daripada mempertahankan atau memperkenalkan tindakan karantina kedatangan. Setelah seorang pelancong diuji dan dinyatakan aman untuk bepergian, maka selanjutnya tidak perlu lagi ada karantina,” ujar Presiden & CEO WTTC, Gloria Guevara dari situs resminya.

WTTC mendukung sikap Komisi Eropa bahwa karantina tidak perlu dilakukan jika tindakan pengamanan yang tepat dan efektif dilakukan di titik keberangkatan dan kedatangan, baik itu untuk penerbangan, feri, kapal pesiar, bus, dan kereta api 

Survey dari lembaga penerbangan internasional IATA, sebanyak 69 persen pelancong mengklaim mereka tidak akan pergi ke tempat di mana ada pemberlakuan karantina 14 hari untuk turis yang datang.

Guevara mendukung penuh Komisi Eropa yang mengumumkan akan mulai kembali membuka Travel & Tourism 2020. Paket pedoman dan rekomendasi Komisi Eropa telah dirancang untuk memastikan pendekatan terkoordinasi untuk pariwisata dan transportasi di tingkat Eropa berdasarkan tindakan pembatasan.

“Langkah oleh Komisi Eropa ini diharapkan akan memulai kembali perjalanan secara bertahap di Eropa pada musim panas ini, sambil memastikan keselamatan dan kesehatan para pelancong dan mereka yang bekerja di sektor travel & tourism,” tambahnya.

Milenial Diburu Pulihkan Wisata Domestik, Bagaimana Kenyamanan Destinasinya ?

this formate

Wisata pantai di Bali, menyedot banyak kunjungan wisatawan domestik dan mancanegaea. ( foto: Hotel Discount)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial dua tahun terakhir  sudah menjadikan traveling sebagai bagian dari gaya hidupnya bahkan 80% pesanan tiket penerbangan dan hotel mereka adalah untuk tujuan domestik karena itu pemerintah harus fokus ke segment pasar ini.

” Milenial diburu dan diharapkan bisa berperan memulihkan wisata domestik. Tapi apakah destinasi wisata sudah disiapkan untuk kenyamanan berwisata mereka ?.  Pertanyaan saya satu saja dulu, bisakah pemerintah dan swasta pelaku industri wisata menyediakan WC umum yang bersih ?,” kata Gaery Undarsa.

Gaery Undarsa selaku Chief Marketing Officer & Co-Founder tiket.com langsung mengungkapkan pengalamannya sebagai wisatawan domestik atau wisatawan nusantara ( Wisnus) di negri sendiri.

Berbicara ketika menjadi nara sumber Anton Thedy dalam Live Insta Story membahas potensi wisatawan domestik memulihkan sektor pariwisata pasca COVID-19, Gaery mengatakan di tiket.com pihaknya fokus pada pasar domestik karena daya belinya kuat dan lebih memberikan masa depan.

Kondisi masyarakat di tengah pandemi global dengan aturan Stay at home, Work from Home termasuk belajar dan beribadah juga semua dari rumah diyakininya akan menjadi boom waktu untuk mendorong masyarakat Indonesia bahkan dunia kembali melakukan kegiatan wisata begitu pandemi global COVID-19 mampu ditaklukan.

” Berwisata sudah jadi bagian gaya hidup berbagai kalangan , kaki gatel untuk jalan-jalan apalagi bagi saya yang tidak pernah berdiam diri lama-lama di kantor maupun di rumah,” kata Anton Thedy tergelak 

Anton menjelaskan akibat kakinya ‘terpasung’ maka sehari dia membuat Live Insta Story di akun Instagramnya hingga 8 x sehari bahkan pernah juga 10 kali dalam sehari demi menyemati diri maupun para mitra franchise serta masyarakat luas. Anton juga terus belajar dari para nara sumbernya yang mau berbagi ilmu.

Seperti halnya Gaery, dia juga sepakat domestik traveler akan memulai perjalanan setelah ‘aturan’ kembali dilonggarkan sehingga masyarakat terutama kalangan milenial  dapat kembali berwisata.

Gaery mengatakan info yang diperoleh dari mitranya di China, destinasi wisata domestik di negri itu sudah mulai bangkit lagi meskipun aturan ketat masih terus berlaku, mereka tidak takut apalagi perang harga tiket penerbangan menguntungkan konsumen.

” Ibarat boom waktu, negara yang mengawali pandemi global ini dari kota Wuhan sudah ramai berwisata karena sekian lama terkukung di rumah sehingga ramai-ramai berwisata lagi tidak menunggu 6 bulan atau setahun kemudian,”.

Hal yang sama akan terjadi di Indonesia. Tengok saja kondisi bandara Soekarno-Hatta kemarin, begitu ada kelonggaran dan ada penerbangan langsung ramai dengan penumpang dengan berbagai alasan dan tujuan meski pemerintah melarang mudik Lebaran.

Co.founder dari Startup lokal murni milik anak bangsa ini menilai kalangan milenial ini punya nasionalisme yang tinggi, jumlahnya besar dan memang kemampuan dan keinginannya menjelajah negri karena tidak ribet untuk berwisata di dalam negri.

” Ada yang sudah mampu berwisata ke luar negri tapi mungkin hanya sekali dalam setahun, selebihnya mereka berwisata di dalam negri bisa sampai 6 x setahun karena memang lebih mampu juga menjadi wisatawan nusantara,” kata Gaery apalagi slogan tiket.com adalah “Mau kemana? Semua ada tiketnya”.

Peluang outbound travel atau berwisata ke luar negri paska COVID makin kecil karena untuk naik ke pesawat saja jauh lebih lama karena adanya standar internasional protokol kesehatan yang harus dilewati. Lama menunggu bisa 4 jam untuk mengikuti prosedur sebelum boarding  di bandara internasional.

” Akan banyak prosedur yang harus dilewati, meski nanti akhirnya orang akan terbiasa. Dulu kita bawa minuman dalam tas boleh begitu ada kasus teroris akhirnya tidak ada lagi likuid yang bisa masuk kabin. Itu kan juga New Normal yang akhirnya kita terima saja,”

Anton Thedy, owner TX Travel bersama Gary Undara, Co-Founder tiket.com ( kanan)

Menurut Gaery, yang harus didukung pertama untuk memulihkan bisnis travel & tourism memang operator penerbangannya. Kalau harganya tidak terjangkau tidak ada pergerakan manusia maupun kegiatan bisnis dan lainnya. Jadi industri penerbangan harus di dukung dengan aturan kesehatan yang aman dan harganya kembali terjangkau.

Tiket.com yang akan memperingati ulangtahun ke 9 tahun perjalanannya sebagai pionir online travel agent (OTA) di Indonesia yang diluncurkan 11 Agustus 2011 sudah menyentuh pencapaian terbaiknya dari berbagai indikator mulai dari pendapatan, kenaikan jumlah pelanggan, awareness masyarakat terhadap tiket.com, dan kualitas setiap produk dan pelayanan.

” Kami punya 1000 karyawan dan 500 orang customer care sistem kontrak. Begitu COVID-19 datang dan semua aktivitas pindah ke rumah masing-masing, saya jadi senang manasin mobil di luar,” kata Gaery tergelak.

Dia beruntung, tekhnologi yang dimilikinya memungkinkan untuk bekerja dari rumah. Meskipun  operasional tiket.com masih menerima pesanan tiket dan akomodasi dari masyarakat semuanya dilakukan dengan digitalisasi.

” Saat begini konsumen tidak bisa diiming-imingi dengan strategi marketing, promo ataupun diskon-diskon jadi justru jadi berkah buat kami karena biaya tidak ada yang dikeluarkan alias dibikin NOL sehingga gaji karyawan aman dan kami punya amunisi bahkan Tunjangan Hari Raya ( THR) bisa diberikan meskipun level yang tinggi terpaksa dicicil dua kali pembayaran,” ujarnya tanpa beban.

Gaery  lalu mengingatkan agar pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pelaku wisata selama masa tiarap akibat pandemi global COVID-19 benar-benar memperhatikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan nusantara.

” Kedua orangtua saya terakhir baru dari Derawan yang menjadi destinasi wisata selam. Sudah lama dipromosikan dan dikunjungi wisatawan mancanegara juga tapi untuk mencapai kesana infrastruktur dan prasarana tidak menunjang. Padahal swastanya sudah buat resort yang indah tidak kalah dengan Maldive,” ungkapnya.

Pengalamannya sendiri  bila berwisata ke Bali terutama liburan sekolah dan hari besar lainnya seperti Lebaran akan selalu terulang menghadapi kemacetan, pantai Kuta yang tidak nyaman dan sulit mencari WC umum apalagi yang bersih.

Maintenance alias masalah perawatan masih jadi tantangan terbesar negri ini. Ada obyek wisata baru saja setahun kemudian kita datangin lagi perawatannya sudah tidak terlihat padahal masih baru. Apakah wisnus dan wisman harus menghadapi WC bau di tengah aturan New Normal yang mendunia dengan standard higienitas tinggi,”

Dia berharap wisnus terutama milenial jangan hanya diharapkan berwisata ke dalam negri, tetapi kebutuhan utamanya di destinasi wisata juga menjadi perhatian pemerintah daerah dan pusat sebagai penerima devisa pariwisata. 

” Percayalah daya beli mereka ( local buying power ) masih kuat, jangan hanya berorientasi pada wisatawan mancanegara,” katanya mengingatkan.

 

Strategi BPR Lestari Berjalan Dalam Badai di Era  COVID-19  

this formate

Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pimpinan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) Lestari ( Foto: @alex-pchandra)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Apa yang dilakukan seorang traveler yang juga bos BPR Lestari di Bali ketika pulau dewata yang dicintainya mendadak sepi wisatawan domestik maupun mancanegara ?

Adalah Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pimpinan Bank Perkreditan Rakyat ( BPR ) Lestari asal Bogor yang tetap optimistis bisa berjalan terus menembus badai di era COVID-19 meski setiap orang mengeluh kapan berakhirnya badai.

” Setelah badai pasti ada jalan yang terang. Memang kita sekarang tidak tahu dan belum melihat dimana ujungnya, tetapi terus saja jalan dan jangan berhenti,” ujarnya pada Anton Thedy, pemilik TX travel dan pelopor franchaise travel pertama di Indonesia dalam Live Insta Story Reseller Travel Agency ( RTA) awal pekan ini.

Pria kelahiran Rangkasbitung jelang usia 51 tahun ini sudah  20 tahun membangun jaringan bisnisnya di Bali baik di sektor keuangan yang dijuluki Rural Bank alias perbankan kelas dua, bisnis hotel dan villa serta usaha lainnya.

Dia juga penggemar traveling dan kerap ikut Anton Thedy berwisata dengan TX Travel sehingga hubungan keduanya tidak terputus dengan kesibukan masing-masing. Pemilik jaringan BPR Lestari di Bali, Malang, Solo, Bekasi, Jakarta dan Serpong ini dari awal sudah berpesan nikmati saja berjalan di tengah badai.

Seperti keyakinan umat Muslim bahwa Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya, maka baru selintas bicara saja Alex sudah menunjukkan sosok pria yang selalu optimistis menghadapi berbagai tantangan dihadapannya.

Berbagi pengalaman menghadapi krisis saat terjadi Bom Bali pertama tahun 2002 dan Bom Bali ke dua tahun 2005 serta menghadapi bencana seperti erupsinya Gunung Agung, Bali, ketika wisatawan domestik dan mancanegara harus dievakuasi, Alex mengaku cukup ketar ketir juga apalagi tahun lalu bisnis yang dikelolanya di BPR capai Rp 6 triliun.

” Erupsi Gunung Agung tahun 2018 sampai tahun berikutnya tidak fatal dan semua aktivitas pariwisata kembali normal bahkan menjadi lebih kuat,” ungkapnya. 

Hal yang sama juga terjadi ketika Bom Bali pertama meledak di Legian. Alex yang rumahnya di Denpasar mendengar jelas dentuman bom di tengah malam. Besok paginya ketika mengecek sebuah tokonya di kawasan Legian barulah paham tempat kejadian sudah seperti lubang kawah, mengerikan.

Toko miliknya kaca-kacanya pecah tapi isi toko yaitu garment tidak ada yang hilang.Setelah itu Bali sepi sekali tidak ada turis yang datang. Kondisi Bali saat ini persis kondisi 2002. Bedanya wisatawan domestik dulu masih bisa jadi juru selamat. Kalau sekarang tidak ada yang  datang. Tiga tahun kemudian pariwisata Bali  bangkit bahkan lebih kuat meski dihantam lagi dengan Bom Bali II.

“Saya mau bilang tidak ada badai yang tidak berlalu. Lewati saja semua,  kan Corona juga datang tidak bilang-bilang dulu sama kita semua jadi lewati periode tanggap darurat ini dengan sabar, introspeksi ke dalam, siapkan karyawan dan perusahaan untuk bangkit lagi,” ujarnya santai.

Alex mengatakan strategi menembus badai di era COVID ini sangat tergantung pada kondisi perusahaan di saat normal dan melakukan ekspansi yang tepat, maupun di saat  kondisi booming alias menguntungkan tentunya sehingga memiliki tabungan untuk hidup survive ditengah badai.

” Kondisi dan posisi kita hari ini tergantung hidup kita sebelumnya karena krisis itu suka atau tidak suka akan berulang datang dan yang kita pelajari hari ini jadi bekal di kemudian hari untuk mampu betjalan di tengah badai apapun,”

Dia ingat sekitar 10 tahun lalu, tokoh-tokoh panutannya seperti Hermawan Kertajaya mengingatkan pentingnya memanfaatkan media social seperti Twitter untuk promosi. Lima tahun kemudian Alex mulai membuat gerakan intern untuk go online karena jika tidak dilakukan akhirnya tamat riwayat alias go home, ujarnya kocak

Itu sebabnya di saat memasuki pandemi global ini, pihaknya yang punya tokoh panutan lain seperti Tum Desem Waringin dan James Gwee langsung action saja dan malah ada produk baru yang disebut Deposito Go, salah satu layanan home banking yang diperkenalkannya.

” Memang kita harus gerak cepat, Hotel dan Villa saya tutup, bekukan dulu biar nggak ada fix cost, lalu lihat celengan ( tabungan) ternyata setelah dihitung bersama untuk bayar gaji pegawai BPR sebulan capai Rp 200 juta dan kami masih bisa bertahan untuk dua tahun ke depan,” kara Alex P. Chandra.

Di bulan Mei 2020 ini, masyarakat maupun dunia usaha sudah menjalani hidup di era New Normal tanpa harus menunggu berakhirnya badai dan datangnya vaksin untuk mengatasi  pandemi global.

” Itu artinya kini kita menjalani akselarasi digital online sehingga harus mempersiapkan diri. Ketika normalisasi datang karyawan dan perusahaan sudah tancap gas lagi dengan produk baru sesuai kebutuhan jaman,”

Out of the box

Usahanya berawal ketika 20 tahun lalu bersama dua rekannya membeli BPR Lestari yang nyaris bangkrut seharga Rp 300 juta. Posisi tinggi di PT Bank Central Asia Tbk cabang Bali tidak menggoyahkan niatnya untuk membangun BPR alias Rural Bank menjadi bank yang dipercaya masyarakat.

Tapi selama 4 tahun pertama, ia tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti irama kerja yang ada. Padahal strategi meyakinkan keluarga dan teman dekat sudah dijalankannya agar mau menaruh dananya di BPR Lestari. Memang nasabah sudah 6.000 orang, namun, transaksi nyaris tidak ada karena saldo yang tak bertambah.

”Jangankan orang lain, teman sendiri saja tidak ada yang percaya menaruh uangnya di BPR Lestari. Minimnya kepercayaan juga terjadi saat rekrutmen pegawai karena iklan lowongan kerja tak direspons masyarakat,” ungkapnya.

Tak mau gampang menyerah, kondisi ini dijalaninya dengan tetap optimistis meski tidak satupun yang melamar sehingga jumlah karyawan tak bertambah hanya 15 orang. Dia fokus untuk membenahi karyawan yang sudah ada. 

Satu demi satu tahap pelatihan berhasil dilewati. Selanjutnya, perbaikan terus-menerus dilakukan. Momentum kebangkitan baru dirasakan Alex di tahun 2003, saat ada orang yang percaya dengan mendepositokan uangnya sebesar Rp 25 juta di BPR Lestari.

” BPR selalu diasumsikan bank butut jadi saya ingin buktikan bahwa BPR Lestari itu bagus, sehat dan bukan industri keuangan kelas dua. di Bali kami rangking 6, nomor dua terbaik setelah rangking bank plat merah,” kata Alex tergelak.

Harapannya terbukti jika diawal fokus pada  sumber daya manusia yang berkualitas dan memperbaiki proses maka ujung-ujungnya meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan. Kunci sukses ada di layanan yang berkelas sembari melakukan pendekatan personal.

Perseroannya juga tidak pernah mengenakan pinalti jika ada nasabah yang mendadak ingin mencairkan depositonya. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat akan terus mekar. Di samping  juga menjanjikan kecepatan kepada pemohon kredit.

Maret tahun lalu pihaknya meluncurkan  Lestari 2.0 karena BPR itu tidak bisa melakukan transaksional. BPR hanya melayani deposito dan produknya memang tidak bisa melayani transaksi yang berakibat biaya dan kreditannya menjadi mahal. Nah ini berlangsung selama 20 tahun.

Itu sebabnya dia melakukan transformasi besar melalui digitalisasi. Bertepatan dengan event 4thn Bali Business Round Table dengan tema ‘Politik dan Ekonomi Indonesia  Maret 2019’, BPR Lestari memperkenalkan transformasi produk baru dengan memperkenalkan aplikasi Mobile Lestari 2.0 di BNDCC, Nusa Dua, Bali

Acara yang diselenggarakan tiap tahunnya oleh direksi tujuannya mengadakan rapat umum pemegang saham dan  memberikan laporan pertanggungjawaban kepada pihak pemegang saham. “Saya memberikan laporan pertanggungjawaban kita kepada para nasabah yang sebenernya merupakan pemegang saham terbesar. Jadi kita infokan apa yang kita sudah kerjakan, apa yang berhasil dan mana yang belum dan kurang,”

Intinya setiap nasabah memiliki informasi yang akurat dan merasakan pelayanan yang terbuka dan personal. Kembali ke soal pariwisata Bali, Alex optimistis, Bali aman-aman saja dan tetap akan menjadi primadona pariwisata Indonesia, katanya meyakinkan dan pastinya badai pasti berlalu….

 

IATA: Aturan Jaga Jarak Dalam Kabin Pesawat Kurang Efektif 

this formate

Data IATA: 4,5 juta penerbangan di seluruh dunia batal dan estimasi kerugian perusahaan penerbangan hingga Juni 2020 capai US$ 318 triliun. ( sumber : IATA)

HONGKONG, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional ( IATA) menolak aturan  jaga jarak (phsyical distancing) di kursi pesawat karena dinilai kurang efektif dibandingkan kebijakan lain untuk pencegahan penularan virus corona di pesawat.

” Soal jaga jarak di kursi pesawat kurang efektif. Sebab, sebagian besar otoritas merekomendasikan jarak 1–2 meter, sementara jarak rata-rata kursi pesawat kurang dari 50 cm,” ujar Alexandre de Juniac, CEO IATA, dalam rilisnya hari ini.

Jaga jarak di kursi pesawat juga dianggap akan membuat maskapai penerbangan merugi. Muatan maksimum pesawat akan terpotong menjadi 62% Hal tersebut berada jauh di bawah rata-rata yaitu 77 %

Aturan yang dianjurkan IATA yakni penggunaan masker, pemeriksaan suhu penumpang, pekerja bandara dan pelancong, pengurangan kontak dengan penumpang atau kru pesawat dalam proses naik dan turun penumpang. Membatasi pergerakan dalam kabin sepanjang penerbangan. Selain itu pembersihan kabin yang lebih sering dan mendalam. Prosedur katering yang lebih sederhana. Terakhir, pergerakan kru pesawat dan interaksi dengan penumpang dikurangi.

Kalau jaga jarak diberlajukan maka  biaya akan meningkat, karena kursi hanya sedikit terjual. Dibandingkan tahun 2019, tarif pesawat harus naik secara dramatis hanya untuk menutup biaya. Tarif diprediksi naik antara 43%–54% tergantung wilayah.

“Maskapai penerbangan berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Menghilangkan kursi tengah akan meningkatkan biaya. Jika itu bisa diimbangi dengan tarif yang lebih tinggi, maka era perjalanan dengan biaya terjangkau akan selesai,” kata Juniac.

Di sisi lain, apabila maskapai tidak bisa menutup biaya dengan tarif yang lebih tinggi, maka maskapai akan bangkrut,” lanjutnya. Alasan lain IATA tidak mendukung jaga jarak di kursi pesawat karena tidak ditemukan dugaan transmisi antara penumpang.

Survei Informal 

IATA hanya menemukan tiga cara dugaan transmisi virus corona di pesawat, di mana semuanya berasal dari penumpang ke kru. Temuan ini didapat dari Survei informal IATA terhadap 18 maskapai penerbangan besar pada Januari–Maret 2020.

Survei ini hanya mengidentifikasi tiga cara dugaan transmisi virus corona saja. Semuanya berasal dari penumpang ke kru. Sementara empat cara lain merupakan laporan transmisi jelas dari pilot ke pilot yang bisa saja terjadi saat sebelum, dalam, atau sesudah penerbangan termasuk saat pemberhentian en route (layover).

Tidak ada perumpamaan dugaan transmisi virus corona dari penumpang ke penumpang. Pemeriksaan yang lebih terperinci oleh IATA dalam pelacakan kontak 1.100 penumpang dalam periode yang sama. Para penumpang tersebut terkonfirmasi virus corona setelah melakukan perjalanan udara.

Namun, pemeriksaan tersebut juga tidak menemukan transmisi sekunder di antara lebih dari 100.000 penumpang dalam penerbangan yang sama. Hanya dua kemungkinan kasus yang ditemukan di antara anggota kru.

Terdapat beberapa alasan yang masuk akal mengapa virus corona yang terutama disebarkan melalui tetesan pernapasan (droplet respitory) tidak menghasilkan transmisi dalam pesawat yang lebih banyak. Penumpang menghadap ke depan dengan interaksi tatap muka yang terbatas. Kursi menyediakan penghalang untuk transmisi ke depan atau ke belakang (aft) bagian pesawat.

Aliran udara dari atap ke lantai semakin mengurangi potensi transmisi ke depan dan ke belakang bagian pesawat. Terlebih lagi, laju udara tinggi dan tidak kondusif bagi tetesan untuk menyebar dengan cara yang sama dalam ruang lingkup lainnya. Filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) dalam pesawat modern membersihkan udara kabin menjadi seperti kualitas dalam ruang operasi di rumah sakit. Filter tersebut juga selanjutnya dibantu dengan sirkulasi udara segar yang tinggi.

Juniac juga menuturkan, mereka harus mendapatkan solusi yang memberi penumpang rasa percaya untuk terbang kembali, dan menjaga agar biaya penerbangan tetap terjangkau.

“Lingkungan kabin secara alami membuat penularan virus sulit karena berbagai macam alasan. Ini membantu menjelaskan mengapa kami melihat sedikit sekali adanya transmisi dalam penerbangan,” kata Juniac.

Dia juga menuturkan, dalam jangka waktu dekat, tujuan mereka adalah membuat lingkungan kabin lebih aman dengan langkah-langkah yang efektif agar penumpang dan kru bisa kembali melakukan perjalanan dengan percaya diri.

Screening (suhu tubuh), penutup wajah, dan masker merupakan beberapa dari banyak tindakan yang direkomendasikan IATA. Namun mereka tidak merekomendasikan pengosongan kursi tengah.

“Kami membutuhkan vaksin, paspor imunitas, atau tes Covid-19 efektif yang bisa diberikan dalam skala yang besar. Semua hal itu sangat menjanjikan. Namun, tidak ada yang akan direalisasikan sebelum kami harus memulai kembali industri penerbangan,” kata Juniac.

Maka dari itu, pihaknya  harus siap dengan beberapa langkah. Kombinasi yang akan mengurangi risiko penularan dalam pesawat yang sudah rendah, ujarnya. 

 

Penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival 2020 Mundur ke Akhir Oktober

this formate
  • YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Memasuki tahun ke-enam penyelenggaraannya, Prambanan Jazz Festival #6 2020 tak luput dari pandemi global COVID-19 sehingga penyelenggaraannya dijadwalkan ulang.

Semula Prambanan Jazz Festival #6 direncanakan akan digelar pada 3, 4, dan 5 Juli 2020 di Kompleks Candi Prambanan, namun Promotor harus menjadwalkan ulang pada 30, 31 Oktober dan 1 November 2020. 

Pertimbangan kesehatan dan keselamatan penonton, artis serta pengisi acara, kru, dan semua yang terlibat di dalam pelaksanaan festival menjadi proritas Rajawali  Indonesia selaku promotor. Tentunya Prambanan Jazz Festival 2020 akan diselenggarakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pemerintah.

“Kami meminta maaf dengan penjadwalan ulang ini, turut prihatin dengan adanya pandemi COVID-19, tetapi kami tetap berupaya menghadirkan festival tahunan ini walaupun harus mengubah jadwal dan semoga pandemi ini segera berakhir,” ujar Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia sekaligus Founder Prambanan Jazz Festival.

Sederet artis dari mancanegara dan juga musisi tanah air akan kembali dihadirkan di Prambanan Jazz Festival #6 | 2020 mendatang. Panggung Festival Show pada hari pertama, akan menampilkan Fourtwnty, Hindia, Pamungkas, Andmesh, Nadine Amizah, Reality Club, Once Mekel, Joey Alexander, Kunto Aji, dan akan di update artis lainnya.

Pada hari kedua, panggung Festival Show akan diisi oleh Eva Celia, Isyana Sarasvati, Joko in Berlin, Egha De Latoya, dan akan diupdate artis lainnya. Sementara, pada hari terakhir, pengunjung akan dihibur dengan penampilan dari Reza Artamevia, Sinten Remen (Tribute To Djaduk F), Ardhito Pramono, Janapati (Dewa Budjana dan Tohpati), Yura Yunita, dan akan di update artis lainnya.

Ada sedikit perubahan jadwal dari line up artis yang sudah dijadwalkan sebelumnya karena pergantian tanggal membutuhkan penyesuaian ulang. Menariknya masih akan ada banyak artis yang akan ditambahkan dalam deretan line up artis Prambanan Jazz Festival 2020, ujar Anas Syahrul Alimi.

Sementara, untuk panggung Special Show akan diisi musisi manca negara. Salah satunya, Postmodern Jukebox yang akan tampil pada hari ketiga. Postmodern Jukebox adalah sebuah grup musisi bergenre jazz / swing yang ditemukan oleh Scott Bradlee yang mengusung konsep unik berupa rotating musical collective.

Group asal Amerika Serikat yang eksis dalam jagat maya YouTube ini mengandalkan coveran lagu-lagu modern dengan balutan aura vintage dalam beraksi. Tak diragukan lagi, kanal PMJ sudah meraih 4 juta subscriber dan sudah tayang sebanyak 1,3 milyar kali di YouTubePrambanan Jazz menjadi satu festival yang beruntung akan menghadirkan mereka pertama kali ke Indonesia.

Beberapa line up artis Special Show akan menjadi surprise tersendiri, seperti di hari kedua akan ada grammy’s award winner, juga hari pertama grup musik dreampop yang mengawali debut musiknya melalui soundcloud dan memiliki banyak fans di Indonesia sangat sayang untuk dilewatkan.

Prambanan Jazz sudah menjadi event yang dinantikan penggemar setiap tahun. Oleh karena itu, untuk mengobati kerinduan masyarakat terhadap Prambanan Jazz Festival maka pada Sabtu, 4 Juli 2020 akan tetap diadakan Prambanan Jazz Festival dengan konsep online. 

Prambanan Jazz Festival Online ini akan  dihadirkan di depan Candi Prambanan secara istimewa dengan pengisi acara yang akan dikabarkan selanjutnya. Acara ini gratis, penonton bisa menyaksikan dari rumah masing-masing.

Co Founder Prambanan Jazz Bakkar Wibowo mengatakan penjadwalan ulang Prambanan Jazz Festival #6 |2020 akan membuatnyamenghadirkan konsep tata panggung dan venue yang semakin matang. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dia akan bekerja sama dengan commission artist dan senantiasa menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Sementara, bagi para pemegang tiket, Prambanan Jazz menginformasikan bahwa tiket berlaku untuk konser mendatang, tentunya dengan line up artis yang lebih banyak lagi akan dihadirkan dari yang sudah di release.

Tovic Raharja selaku Direktur Utama Rajawali Indonesia menambahkan, bagi yang belum memiliki tiket Prambanan Jazz Festival 2020, tiket PRESALE II akan dibuka kembali penjualannya 

melalui www.tiketapasaja.com dengan harga daily pass Rp. 250.000, Special Show dengan harga PRESALE II kategori Rp. 750.000 dan Standing dengan harga Rp. 500.000.

“Akan ada kategori tiket baru yaitu 3 Days Pass Special Show Standing dengan harga PRESALE II Rp. 1.200.000 (sudah termasuk tiket Festival Show),”  kata Tovic

 

7 Alasan Mengapa Bepergian Membuat Anda Bahagia Secara Pribadi Dan Profesional  

this formate

 Miliki rasa bahagia dalam kehidupan ( Foto:  Josh Felise/ unsplash.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah Tagar #WhenWeTravelAgain ramai dan menjadi populer di media sosial karena banyak negara menerapkan kebijakan agar masyarakatnya tidak bepergian atau traveling dan hanya melakukan aktivitas di rumah, keinginan untuk berwisata di kalangan masyarakat tetap besar.

Sejak virus Corona ( COVID-19) hadir di muka bumi ini, aktivitas berwisata sementara waktu memang mati suri. Padahal sedikitnya ada 7 Alasan mengapa berwisata membuat seseorang menjadi bahagia secara pribadi dan profesional. Hormon bahagia itulah yang saat ini sangat dibutuhkan dalam tubuh kita.

Agaknya memahami situasi ini, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf ) menyebarkan sejumlah link pada masyarakat untuk menjelajah keindahan negri kita dari rumah. Bagi yang rajin browsing, boleh juga kunjungi situsnya dan menikmati

Indonesia.Travel 360º Images. Coba liat yuk disini; 

1.Indonesia.Travel 360º Images https://www.indonesia.travel/id/en/image-360

2.Indonesia.Travel 360º Videos https://www.indonesia.travel/id/en/video-360

3.Google Art and Culture Indonesia https://artsandculture.google.com/project/wonders-of-indonesia

4.Indonesia.Travel YouTube Channel https://www.youtube.com/user/TheIndonesiaTravel

5.360indonesia Photo https://360indonesia.id/category/photo-360/

6.360indonesia Video https://360indonesia.id/category/video-360/ 

Online Museum:

1.Museum Nasional https://www.museumnasional.or.id/en/virtual-tour

2.Museum Bank Indonesia http://idvr360.com/vr360/museum/mbi/mbi.html

3.Museum Tsunami Aceh https://360indonesia.id/museum-tsunami-aceh-2/

4.Museum Kepresidenan Balai Kirti https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/

5.Museum Sumpah Pemuda http://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/

6.Museum Perumusan Naskah Proklamasi https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mpnp/

7.Galeri Nasional https://galeri-nasional.or.id/

Bahagia menjadi syarat utama yang harus dimiliki  mereka yang positif terpapar virus Corona Covid-19, begitu juga yang  baru tahap suspect ( diduga kuat) , Orang Dalam Pemantauan ( ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus ini. Begitu pula bagi masyarakat yang hingga kini masih sehat walafiat.

Nah, Penelitian terbaru telah membuktikan bahwa satu jalan menuju kebahagiaan adalah berwisata. Pada 2016, Konferensi Happiness 360 bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Dunia PBB ( UNWTO) menetapkan bahwa orang-orang yang paling bahagia di dunia lebih banyak bepergian.  

Kebahagiaan, yang didefinisikan sebagai kesejahteraan subjektif, adalah masalah yang sangat besar di sebagian besar lingkaran masyarakat. Jawabannya sederhana karena semakin bahagia,  semakin sehat Anda. Begitu juga semakin sehat maka semakin kreatif dan produktif Anda jadinya.

Filsuf dan profesor A.C. Grayling merasa bahwa berwisata adalah kunci untuk memperluas pikiran dan jiwa. Dikutip dari traveltriangle.com, dia percaya kita mendidik diri kita sendiri dengan bepergian dan mengekspos diri kita pada ide-ide dan orang-orang baru.  

Berikut 7 alasan lain mengapa bepergian membuat Anda bahagia:

  1. Traveling merangsang otak karena ketika kita bepergian, kita mengubah otak kita.  Ini karena pengalaman baru adalah kunci untuk membangun jalur saraf baru di otak. Hasilnya menjadi lebih kreatif dan menerima ide-ide baru.  Inilah sebabnya mengapa perjalanan wisata membuat Anda bahagia.
  1. Ini Meningkatkan Hubungan:  Orang yang paling bahagia adalah orang yang memiliki koneksi terkuat dengan orang lain, baik itu keluarga, teman atau masyarakat umum.  Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan hubungan ini adalah dengan bepergian bersama dan mengalami hal-hal baru bersama. Stefan Klein, penulis The Science of Happiness, percaya bahwa kesenangan menemukan hal-hal  baru dan kegembiraan yang datang dengan bertemu orang-orang baru atau sensasi dari wisara kuliner, makan makanan baru semua datang bersama-sama untuk menciptakan perasaan bahagia di setiap pelancong.
  1. Membangun Koneksi : Perjalanan membuat kita bahagia, inilah alasannya.  Melalui perjalanan, Anda bisa bertemu orang-orang baru, orang-orang yang sebelumnya tidak akan pernah Anda temui.  Anda bisa menjalin hubungan baru dan mulai menjalin hubungan dengan orang-orang baru, yang berkontribusi terhadap kebahagiaan Anda secara keseluruhan dalam hidup.
  1. Pengalaman Lebih Berharga Daripada Benda. Penelitian telah menunjukkan bahwa kita lebih menghargai pengalaman kita daripada harta benda apa pun yang kita miliki.  Menghabiskan uang untuk pengalaman baru lebih penting daripada membeli sesuatu yang baru karena pengalaman itu tetap bersama Anda selamanya dan Anda selalu dapat membawanya ke mana pun Anda pergi.  
  1. Memori yang baik-baik : Bukan hal yang aneh untuk mendengar kisah perjalanan orang dan membayangkan mereka memiliki pengalaman yang luar biasa. Suka dan duka berwisata mungkin ada, tapi saat berbagi cerita dengan orang lain kita cenderung meminimalkan bagian duka. Anda mungkin jatuh sakit di perjalanan, tetapi bagian itu tidak diingat dalam beberapa tahun.  Sebaliknya, kenangan itu akan digantikan oleh bagian terbaik dari perjalanan. Inilah sebabnya bepergian membuat seseorang lebih bahagia.
  1. Pengalaman perjalanan membuat cerita yang baik untuk dikenang. Semua kisah perjalanan adalah peluang besar untuk berbagi pengalaman kami dengan orang lain dan hanya membangun koneksi yang lebih kuat.
  2.  Sulit membandingkan pengalaman perjalanan. Suka membandingkan diri dengan orang lain adalah penyebab utama ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan di zaman sekarang ini. Oleh karena itu sulit untuk membandingkan pengalaman perjalanan ke Karibia dan perjalanan ke Asia. Keduanya adalah pengalaman yang penting dan membuat Anda bahagia.

 

Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata UNWTO dirancang untuk dukung pemerintah & swasta 

this formate

Wisman menikmati pemandangan indah di Indonesia. UNWTO siapkan bantuan teknis untuk pemerintah dan swasta pulihkan sektor pariwisata. ( foto: Kemenparejraf) 

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id : Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) telah merilis Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata dan  menawarkan panduan kepada negara-negara anggota dalam menanggapi COVID-19. Paket ini disusun di sekitar tiga pilar utama: pemulihan ekonomi, pemasaran dan promosi dan penguatan kelembagaan dan pembangunan ketahanan.

Pariwisata adalah sektor yang paling terpukul karena pandemi global ini dan, UNWTO telah mengidentifikasi tiga skenario untuk beberapa bulan ke depan.  Tergantung kapan pembatasan perjalanan dicabut karena kedatangan wisatawan internasional dapat menurun 60-80% pada tahun 2020 ini.

 Ini bisa berarti penurunan pendapatan ekspor dari pariwisata hingga US$ 910 miliar menjadi US $ 1,2 triliun dan menempatkan 100-120 juta pekerjaan secara langsung dalam risiko.  Efek riak sosial juga dikhawatirkan setidaknya sama-sama mengancam banyak masyarakat di seluruh dunia.

Dengan latar belakang ini, Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata COVID-19 dirancang untuk mendukung pemerintah, sektor swasta dan lembaga donor menghadapi keadaan darurat sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili mengatakan: “Kita harus mendukung sektor pariwisata sekarang dengan tindakan nyata sementara disaat bersamaan kita mempersiapkan diri untuk bangkit kembali dan menjadi lebih kuat serta lebih berkelanjutan,”

Rencana dan program pemulihan untuk pariwisata akan diterjemahkan ke dalam pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di dalam pariwisata itu sendiri tetapi di seluruh masyarakat.  Paket dukungan ini akan membantu pemerintah dan bisnis mengimplementasikan rekomendasi untuk pemulihan, tambah Pololikashvili.

Seruan untuk bertindak itu guna mempercepat pemulihan pariwisata di bidang ekonomi, promosi  dan kelembagaa bersamaan dengan serangkaian rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh UNWTO untuk mengurangi dampak sosial-ekonomi dari COVID dan didukung oleh Komite Krisis Pariwisata Global UNWTO. 

Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata COVID-19 menjelaskan kebijakan dan tindakan yang akan diperkenalkan untuk merangsang pemulihan ekonomi sektor pariwisata.  Ini harus diperkenalkan bersamaan dengan pengembangan penilaian kebutuhan dampak dan rencana spesifik negara untuk pemulihan pariwisata serta langkah-langkah lainnya.

Dalam hal pemasaran dan promosi, UNWTO siap memberikan bantuan teknis untuk mengidentifikasi pasar yang dapat membantu mempercepat pemulihan, menangani diversifikasi produk, dan (kembali) merumuskan strategi pemasaran dan kegiatan promosi.

Pilar ketiga, penguatan kelembagaan dan pembangunan ketahanan, terutama ditujukan untuk meningkatkan kemitraan publik-swasta dan mempromosikan upaya kolaboratif untuk pemulihan pariwisata, dan, meningkatkan keterampilan dalam manajemen dan pemulihan krisis.

Dukungan teknis yang ditawarkan oleh UNWTO dirancang untuk membantu anggota bekerja menuju Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).  Beberapa Tujuan ini secara langsung berkaitan dengan pariwisata, terutama SDGs 8, 12 dan 17, pada ‘Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi’, ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’, dan ‘Tujuan Kemitraan’

UNWTO juga bekerja sebagai bagian dari respons PBB yang lebih luas terhadap COVID-19, menekankan peran yang dapat dimainkan pariwisata dalam melindungi negara-negara berkembang dan anggota masyarakat yang paling rentan dari dampak terburuk dari krisis saat ini.

 

80%  Sponsor Perusahaan Tertarik Berinvestasi di Acara Virtual yang Berinteraksi  

this formate

Pertemuan virtual kini menggantikan conference secara langsung. (Foto: Michael Browning/ unsplash.com)

MILAN, Italia, bisniswisata.co.id:  – AIM Group International, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kongres, acara, dan komunikasi, menerbitkan hasil survei “Acara mensponsori selama Covid Crisis”.  Survei ini dilakukan di antara 350 perwakilan perusahaan farmasi dan biomedis yang mencakup semua bidang pengobatan utama.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mempelajari bagaimana sponsor terbuka mendukung acara selama keadaan darurat kesehatan COVID-19 ini, dan khususnya untuk peluang baru yang ditawarkan oleh acara digital dan hybrid seperti dikutip laporan oleh Tatiana Rokou dari Traveldailynews.com

Hasilnya mengungkapkan bahwa minat terhadap platform virtual baru tinggi, tetapi perusahaan masih yakin bahwa acara tatap muka menawarkan nilai yang lebih besar.

Berikut ini adalah snapshot dari temuan survei:

 *58% responden akan mensponsori multi-sponsor tradisional atau sponsor eksklusif untuk acara yang akan diadakan antara September dan Desember 2020.

 *72% akan tertarik pada solusi hybrid yang menggabungkan kehadiran dengan acara digital.

 *78% akan tertarik untuk mensponsori acara yang sepenuhnya virtual.

*Bagaimana acara virtual seharusnya, menurut responden?  Interaktif, fleksibel, 3D dan dalam augmented reality ( panggilan video atau webinar biasa) dan dapat melacak data.

 *99,5% menganggap berguna bahwa konten tersedia sesuai permintaan setelah kongres, memastikan ketersediaan yang lebih besar baik untuk peserta dan visibilitas yang lebih besar untuk sponsor.

* 72% ingin melihat pembelajaran jarak jauh (DL) dimasukkan ke dalam acara digital, yang akan tersedia setelah kongres.

*56% sponsor ingin berinvestasi lebih sedikit dalam acara virtual, 34% akan berinvestasi sama dan 10% bersedia untuk meningkatkan anggaran jika visibilitas yang lebih besar dijamin.

Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan perubahan dalam sektor MICE memotivasi kami untuk melakukan survei khusus untuk lebih memahami jika sponsor tradisional konferensi seperti perusahaan farmasi dan biomedis tertarik pada acara digital dan bagaimana mereka akan berinvestasi, ungkap Gaia Santoro, kepala Sponsorship  Unit di AIM Group International. 

 “Pertama-tama, tingginya jumlah jawaban yang kami terima dalam waktu singkat sangat penting. Ini menyoroti  topik yang hangat untuk perusahaan yang ingin berkomunikasi dengan audiens target mereka, meskipun ada krisis kesehatan. Ini juga luar biasa, mungkin bahkan mengejutkan  bahwa sebagian besar sponsor perusahaan ingin melihat kembalinya acara tatap muka di Musim Gugur.

Hal ini menggarisbawahi bahwa Sponsor menganggap acara berhadapan langsung berada pada titik kritis dan mereka tidak ingin melihat mereka ditinggalkan atau dianggap usang tergantikan oleh peluang dari tekhnologi digital. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa sponsor siap memberikan dukungan untuk mewujudkan pengalaman virtual baru, asalkan konten ilmiah relevan, peserta dilibatkan dan interaksi dengan sponsor dijamin.

“Pada saat kritis ini, kami fokus untuk bekerja sama secara erat dengan komunitas medis dan sponsor untuk menemukan solusi terbaik untuk kebutuhan baru mereka,” jelas Rosangela Quieti, Direktur Pelaksana Kongres Departemen dari AIM Group International. 

Pihaknya telah mempertimbangkan temuan-temuan survei ini untuk membentuk kembali dan mengadaptasi proposal sponsor dan solusi digital. 

” Kami memahami bahwa pertemuan virtual adalah salah satu format paling populer yang siap untuk diuji coba oleh para pemangku kepentingan,” katanya

Rosangela Quieti mengatakan pihaknya  baru saja menyelenggarakan kongres digital yang pertama untuk masyarakat ilmiah, AIOP. ” Kami sangat senang melaporkan bahwa dewan asosiasi dan peserta melaporkan tingkat kepuasan yang tinggi dengan acara ini,” 

Terinspirasi oleh pengalaman positif ini, pihaknya lebih bertekad untuk membayangkan format kreatif baru di masa depan seperti hybrid atau multi-hub, ketika akan memungkinkan untuk membuat pertemuan daring lagi.

WTTC Keluarkan Panduan Global Cara Aman Bepergian

this formate

Travelers  di Paris bersiap berangkat di stasiun besar kereta api. Sekarang bepergian ada panduannya agar terhindar dari penyakit ( Foto: HAS)

LONDON, bisniswisata.co.id: World Travel and Tourism Council (WTTC) mengeluarkan panduan global berisi langkah-langkah bagaimana memulai kembali bisnis perjalanan dan pariwisata di tengah pandemi Covid-19. Panduan ini dirancang untuk membangkitkan kepercayaan para konsumen, menciptakan rasa aman bepergian jika kelak pembatasan dicabut.

Protokol baru bepergian secara aman ini berlaku bagi semua daerah tujuan wisata dan negara. Penekanan pada aspek kesehatan dan kebersihan menjadi pendekatan baru panduan perjalanan bagi penyedia jasa perjalanan wisata, operator, dan pelancong, di era pandemi Covid-19.

Kesehatan dan keselamatan para pelancong serta pekerja di sektor perjalanan dan pariwisata menjadi prioritas utama protokol global baru yang disusun para anggota WTTC ini. Terbitnya panduang global ini sekaligus dimaksudkan untuk menghindari munculnya berbagai standar yang hanya akan menunda pemulihan sektor ini.

 “Kami belajar dari masa lalu, khususnya setelah tragedi 9/11. Saat itu koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta tidak terbangun dengan baik. Akibatnya gangguan perjalanan berlangsung lebih lama. Biaya yang dikeluarkan makin besar dan masa pemulihan lebih panjang,” kata Gloria Guevara, presiden dan CEO WTTC seperti dikutip dalam rilis, Selasa (13/5). 

Dia menambahkan koordinasi dan keselarasan di sektor perjalanan dan pariwisata penting agar langkah-langkah global yang kuat dapat betul-betul diterapkan dengan baik oleh swasta maupun pemerintah. “Ini dapat membantu mengembalikan kepercayaan konsumen.”

 “Kami senang bahwa untuk pertama kalinya, secara global seluruh sektor swasta telah bersama-sama menyelaraskan diri pada protokol ‘aman bepergian’ yang kami keluarkan, sehingga tercipta konsistensi menyeluruh. Kini, kami meminta agar pemerintah di seluruh dunia juga mengadoposinya. Ini penting untuk mengembalikan kepercayan yang penting bagi pemulihan sektor perjalanan dan pariwisata,”imbuhnya.   

Laporan Kesiapan Krisis yang disusun WTTC berdasarkan studi 90 jenis krisis menunjukkan pentingnya kerjasama publik dan swasta untuk memastikan terciptanya kebijakan yang cerdas dan masyarakat yang efektif. Dengan demikian sektor perjalanan dan pariwisata menjadi lebih tangguh.

WTTC merancang protokol terbaru cara bepergian dengan aman. Ini merupakan hasil konsultasi yang intensif dengan para anggota dan asosiasi indusri, seperti: Airports Council International (ACI), Asosiasi Internasional Kapal Pesiar (CLIA), dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan pada industri ini. Panduan yang jelas diperlukan para pelancong jika kelak mereka diizinkan kembali melakukan perjalanan.

Protokol ini akan berlaku di seluruh industri perjalanan dan pariwisata, termasuk: perhotelan, penerbangan, bandara, operator kapal pesiar, ritel, transportasi, MICE, dan operator wisata lainnya.

Diskusi secara terperinci yang melibatkan para pemangku kepentingan dan organisasi utama di sektor ini telah dilaksanakan. Harapannya agar tercapai panduan praktis yang efektif. Inisiatif WTTC ini didukung pula oleh para CEO top dan pemilik bisnis perjalanan dan pariwisata terkemuka. 

 “Kami melihat ada harapan besar saat komunitas global mengarahkan seluruh perhatian pada upaya pemulihan pandemi Covid-19. Kita tahu para pelancong hanya akan kembali menjelajah dunia jika mereka merasa aman untuk melakukannya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memberi mereka rasa percaya diri dan ketenangan pikiran terhadap apa yang mereka butuhkan,” kata Chris Nassetta, CEO Hilton yang juga ketua WTTC.

Menurut Chris protokol global yang disusun WTTC ini sekaligus dirancang untuk menyelaraskan pedoman kesehatan dan keselamatan yang konsisten bagi industri perjalanan dan pariwisata di seluruh dunia. Dengan demikian, panduan ini akan membantu melindungi wisatawan yang hendak bepergian kemanapun mereka pergi.  

Sementara itu Federico J. González, Presiden dan CEO Radisson Hospitality, menekankan pentingnya bahasa yang sama soal prosedur keselamatan. Menurutnya industri agen perjalanan harus memiliki bahasa yang sama saat berbicara dengan konsumen, terkait jaminan keselamatan di hotel, dimanapun mereka berada. Dengan adanya protokol umum yang berlaku di seluruh dunia, konsumen dapat mendapatkan standar keselamtan yang sama dimanapun mereka berada. 

Itu sebabnya Radisson Hotel Group mendukung sepenuhnya inisiatif ini dengan cara membantu menyebarluaskan protokol WTTC tentang cara aman bepergian ke seluruh dunia. 

Keith Barr, Kepala Eksekutif Grup InterContinental Hotels, mengatakan: “Sebagai sebuah industri, kami selalu memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan para tamu dan kolega. IHG dengan bangga mendukung WTTC dalam menyusun pedoman praktik terbaik, terutama soal higienitas dan kebersihan.”

Pedoman penting ini sekaligus menunjukkan bagaimana industri kita mampu bersatu memberikan jaminan serta keyakinan bagi pelanggan. “Ini penting sehingga orang dapat kembali melakukan perjalanan.”

Berikut ini sejumlah langkah utama yang perlu diambil sesuai dengan protokol baru WTTC:

Perhotelan:

  • Tinjau kembali panduan tim kebersihan untuk semua area hotel dengan fokus khusus pada titik-titik yang paling panyak disentuh, seperti kartu kunci kamar.
  • Pastikan jarak sosial tetap terjaga dengan membuat rambu dan petunjuk termasuk dalam lift
  • Latih kembali para staf mengendalikan infeksi, jarak sosial, dan meningkatkan langkah hidup higienes lainnya termasuk mencuci tangan dan menggunakan masker serta sarung tangan
  • Seluruh item asing harus disingkirkan dari hotel
  • Terapkan teknologi untuk mengaktifkan otomatisasi seperti pembayaran tanpa kontak
  • Sediakan layanan room service dengan metode tanpa kontak
  • Komunikasikan dengan jelas dan konsisten kepada pelanggan tentang protokol kesehatan dan kebersihan yang baru, baik secara digital maupun fisik di hotel
  • Buka kembali counter makanan dan minuman serta ruang-ruang untuk acara dengan tetap memperhatikan prosedur jarak sosial, disinfeksi, dan keamanan makanan

Ritel:

  • Menerapkan rejim kebershihan yang lebih tinggi
  • Pastikan para staf sudah sepenuhnya akrab dan terlatih dengan kebijakan baru, termasuk menjaga jarak sosial, menggunaan pemindai suhu dan masker wajah 
  • Jarak sosial harus dipantau dengan stiker penanda aturan jaga jarak
  • Kurangi sentuhan obyek dengan memperkenalkan peta digital, membuat antrian digital, elektronik menu, belanja virtual, dan roving concierges
  • Promosikan layanan pembayaran tanpa kontak dan tanda terima lewat email dengan menyedakan WIFI gratis 
  • Sediakan hand sanitisers di pintu masuk dan keluar, serta di dalam ruangan dan kamar mandi
  • Seluruh menu di kafe, restoran, dan tempat makan harus tersedia dalam bentuk digital
  • Perlu perhatian khusus soal pengelolaa tempat duduk dan antrian yang harus diatur sesuai protokol jarak sosial
  • Kapasitas tempat parkir harus dibatasi untuk menghindari kepadatan berlebihan

Sementara itu WTTC masih membahas langkah tambahan untuk sektor penerbangan dan pelayaran; protokol baru akan segera diumumkan. Kedua sektor ini sudah memiliki standar kesehatan dan keselamatan yang tinggi. Namun saat ini WTTC sedang menilai ulang standar protokol mereka terkait higienitas, aspek kebersihan, dan jarak sosial. 

Laporan WTTC 2020 soal Dampak Ekonomi menunjukkan sektor perjalanan dan periwisata memiliki peran penting bagi ekonomi secara global. Industri ini bertanggung jawab atas 1 dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberi kontribusi 10,3% terhadap PDB, dan menciptakan satu dari empat lapanangan kerja baru.