Pemilik Cafe di Jerman Wajibkan Pengunjung Kenakan Pool Noodles

this formate

Cafe Rothe kembali buka setelah kebijakan lockdown dilonggarkan (foto: CNN)

SCHWERIN, Jerman, bisniswisata.co.id: Jerman telah melonggarkan kebijakan lockdown setelah tutup selama kurang lebih dua bulan. Meski demikian penguasa setempat tetap mengingatkan warganya agar tetap waspada. Mereka minta agara aturan social distancing atau saling menjaga jarak tetap diterapkan guna mencegah penyebaran virus corona.

Sebuah kafe di kota Schwerin, ibukota Mecklenburg Vorpommem,  sebuah negara bagian atau bundesland di Jerman menyambut keputusan itu dengan gembira. Pemiliknya memutusan untuk menerapkan social distancing dengan unik. Caranya dengan membagikan pool noodles kepada para pelanggan yang datang. 

Jika biasanya pool noodles dipakai saat berenang, kini benda yang terbuat dari busa  polietilen apung itu ditempelkan pada topi jerami yang dibagikan kepada para pelanggan untuk dikenakan saat mereka makan dan minum di sana.

Pemilik Cafe Rothe mewajibkan pengunjungnya mengenakan topi jerami tersebut. Pemandangan unik para pelanggan cafe yang tengah duduk-duduk di teras mengekanan topi jerami dengan dua pool noodles warna-warni diunggah sang pemilik di laman Facebook mereka.

“Ini adalah metode yang sempurna untuk memisahkan pelanggan – sekaligus menyenangkan,” kata Jaqueline Rothe, sang pemilik, saat diwawancarai TV lokal RTL yang meliput pembukaan kembali kafe dan restoran itu, seperti dilansir CNN.

Meski nampak lucu dan menyenangkan Rothe mengaku betapa sulitnya menjaga jarak 1,5 meter. Kafe ini normalnya memiliki 36 meja di dalam dan 20 kursi di luar.

Sebagaimana diketahui, Jerman telah melonggarkan sejumlah pembatasan setelah Kanselir Angela Merkel mengatakan negara itu berhasil melewati fase pertama pandemi. Namun dia tetap mengingatkan warganya agar tetap waspada karena jika lengah dan berhenti menerapkan social distancing.

Soalnya jika lengah maka lonjakan jumlah kasus baru yang terinfeksi akan terjadi.Jerman mencatat ada 174,400 orang terinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan ini; 7.884 di antaranya meninggal dunia.

Kota Schwerin memiliki penduduk sekitar 100.000 dan mempunyai sebuah kastil unik terletak di sebuah pulau di danau utama Schwerin, Schwerin See. Kastil Schwerin ini bertumpu pada 8,900 tiang kayu Oak, dan memiliki bangunan lebih dari 600 kamar serta 15 menara.

Selama berabad-abad, istana ini merupakan kediaman bangsawan dan saat ini kastil Schwerin berfungsi sebagai museum dan rumah bagi parlemen negara bagian Mecklenburg-Vorpommern. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kota Schwerin sehingga tindakan pemilik cafe memang beralasan.

 

 

 

Raty Ning: Selalu Ada Peluang Untuk Bisnis MICE Daring

this formate

Ruang konferensi yang senyap ( Foto: unsplash.com)

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Pertemuan daring menjadi aktivitas yang kini dilakukan banyak orang baik secara individual, komunitas,  perusahaan, organisasi profesi maupun asosiasi di tengah pandemi global COVID-19 yang secara serentak menyebar ke seluruh benua.

            Raty Ning, Presdir Pacto Ltd

Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membawa perubahan dalam sektor Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition ( MICE)  memotivasi AIM Group International, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kongres, acara, dan komunikasi, menerbitkan hasil survei “Acara mensponsori selama  Crisis COVID-19″.

Survei ini dilakukan di antara 350 perwakilan perusahaan farmasi dan biomedis yang mencakup semua bidang pengobatan utama untuk lebih memahami jika sponsor tradisional konferensi seperti perusahaan farmasi dan biomedis tertarik pada acara digital dan bagaimana mereka akan berinvestasi.

Hasilnya 78% akan tertarik untuk mensponsori acara yang sepenuhnya virtual. Tapi sebagian besar sponsor perusahaan juga ingin melihat kembalinya acara tatap muka langsung di Musim Gugur.

Musim gugur di Eropa terjadi di bulan September, sampai ke akhir bulan November. Musim gugur di Benua Eropa adalah jenis musim peralihan dari musim panas ke musim dingin. Optimisme bahwa pandemi bisa berakhir sebelum akhir tahun rupanya cukup tinggi.

Bagaimana nasib bisnis MICE di Indonesia menghadapi pandemi yang belum terlihat  ujungnya ? Raty Ning, President Director PT Pacto Ltd mengatakan meskipun belum ada riset yang dilakukan terhadap klien perusahaannya, peluangnya pasti ada bahwa acara daring juga bisa menjaring sponsor.

“Peluang pasti ada, diharapkan meeting virtual dan traditional malah bisa melengkapi satu sama lain sehingga bisnis MICE tetap dapat terus berjalan,” ungkapnya, hari ini.

Pacto adalah perusahaan Profesional Conference Organizer ( PCO) dibalik kesuksesan Indonesia menggelar pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) 2018 dengan peserta tembus angka 36 ribu orang.

Dampak pandemi COVID-19 terhadap industri MICE, salah satunya PCO sangat signifikan/besar.  Dampak langsungnya adalah terjadinya penundaan dan pembatalan event, baik skala nasional maupun internasional.  

“Prediksinya, event nasional baru akan kembali digelar pada September tahun ini. Seperti halnya keyakinan rekan PCO di Eropa, kami juga optimistis jika telah memperoleh izin penyelenggaraan event oleh Pemerintah start September,” kata Raty Ning.

Kegiatan konfrensi oleh grup perusahan nasional diharapkan sudah mulai bergerak lagi. Sementara event internasional, khususnya asosiasi internasional diprediksi akan kembali  digelar pada kwartal kedua tahun 2021, tambahnya. 

Melihat fakta ini, maka PCO melakukan penghematan di berbagai sektor agar dapat survive. Dia mengakui perusahaan MICE yang termasuk pelopor bidang PCO di Indonesia adalah Pacto Convex dan Royalindo dan yang terbanyak  adalah perusahaan level  Event Organizer ( EO) yang menjadi bagian dari bisnis PCO.

Berbicara tentang jumlah event kedokteran yang diselenggarakan di Indonesia, rata-rata  jumlahnya lebih dari 200 event per tahunnya. Berdasarkan data dari IDI pada tahun 2017 tercatat 267 event, di 2018 ada 234 event dan pada tahun 2019 jumlahnya malah meningkat di angka 279 event.

“Rata-rata event kedokteran ini disupport oleh para mitra masing-masing asosiasi kedokteran, rumah sakit dan instansi terkait lainnya,” jelasnya.

Mitra yang dimaksud di sini bisa dari perusahaan farmasi, laboratorium, alat kesehatan. Namun untuk data event yang sifatnya di-organized sendiri oleh Mitra (perusahaan di bidang kesehatan), maka pihaknya tidak memiliki datanya. Karena data tersebut bersifat confidential dari setiap perusahaan

Klien korporat Pacto Convex cukup beragam dari berbagai sektor industri, diantaranya pertambangan, farmasi/health-care related product, product, asuransi, perbankan, telekomunikasi, konstruksi, airport management, port operator, dan lain-lain. 

Bisnis MICE termasuk industri padat karya karena setiap kali konferensi nasional maupun internasional berlangsung di Indonesia maka akan menyerap banyak tenaga kerja dan melibatkan banyak sektor.

Tamu peserta butuh hotel, makan, minum, kendaraan, penterjemah, pra dan post tour, hiburan, ruangan pertemuan membutuhkan dekorasi, pasokan food & beverage, tekhnisi, MC, atraksi seni dan  budaya dan beragam kebutuhan lainnya dimana kegiatannya bukan hanya sehari tapi bisa 7-8 hari.

Oleh karena itu saat bisnis ini menjadi tiarap akibat COVID-19, Raty bersikap realistis saja dan meminta para pelaku MICE untuk mempersiapkan New Normal dalam bisnis MICE mendatang.

” Saatnya kini untuk belajar bagaimana mengoptimalkan kemampuan kita dibidang tekhnologi digital untuk penyelenggaraan konferensi internasional, misalnya,” kata Raty.

Sebagai Ketua International Congress and Convention Association (ICCA) Indonesia, sejak awal pandemi bahkan negara belum mengumumkan warganya terpapar Corona, pihaknya memilih untuk mendorong pemerintah dalam meningkatkan kegiatan MICE.

” Pada 25 Februari 2020 di JIExpo Convention Centre & Theatre, kami menyelenggarakan ICCA Indonesia Forum 2020 untuk menginformasikan pada dunia sebagai negara yang aman untuk dikunjungi berlibur, bisnis maupun untuk melakukan MICE, tambah Raty.

Apalagi secara infrastruktur dan akses, Indonesia banyak memiliki beragam fasilitas untuk MICE di berbagai kota di Indonesia. Begitu pula ini merupakan industri yang paling cepat mendatangkan devisa, dikarenakan karakter turis MICE memiliki jumlah spending atau belanja yang jauh lebih besar ketimbang wisatawan leisure

” Kini setelah ada 17.025 kasus terpapar COVID -19 dan pemerintah disibukkan dengan penanganan pandemi dan mengatur negara, mari kita jangan banyak menuntut tapi sebaliknya bantu sebatas yang kita bisa,” ujarnya.

Data ICCA menunjukkan pada tahun 2018 Indonesia menduduki posisi ke-36 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 122 pertemuan tingkat regional dan dunia.

Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-11. Namun Indonesia masih berada di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. 

“Melihat data ICCA tahun 2018, kami melihat masih banyak peluang bagi Indonesia untuk mendatangkan pertemuan asosiasi internasional (association meeting) melalui bidding internasional. Kelar COVID-19, Insya Allah ICCA Indonesia tancap gas lagi,” kata Raty Ning optimistis.

 

Menikmati Keindahan Kota Mekkah di Waktu Malam dari Gua Hira

this formate

MEKKAH,Arab Saudi,bisniswisata.co.id: Selalu menjadi mimpi bagi banyak jutaan umat Muslim lainnya di dunia untuk merasakan bulan Ramadan langsung di dua kota suci, Makkah dan Madinah dilanjutkan dengan merayakan hari kemenangan Idul Fitri.

Rindu beribadah di depan Kabah saat tempat suci umat Islam dari seluruh dunia ini masih tertutup akibat pandemi global COVID-19 tentunya membuat semua ingatan melakukan ibadah haji maupun umroh yang pernah kita lakukan akan muncul kembali dalam ingatan seperti yang kini saya rasakan.

Saat itu matahari telah rebah di ufuk bukit yang melatari Kota Mekkah, Arab Saudi. Berbarengan dengan itu terdengar azan berkumandang diiringi nyala lampu dari pucuk-pucuk menara Masjidil Haram. 

Yang menarik, kumandang azan dan nyala lampu listrik berawal dari Masjidil Haram itu melingkari Ka’bah itu. Lalu seperti pemicu terar kumandang azan dari masjid-masjid lain yang ada di Kota Mekkah. 

Bersamaan dengan itu menyala juga lampu yang dimulai dari lingkungan Masjidil Haram diikuti nyala lampu bangunan-bangunan lain di sekitarnya, menjadikan Kota Mekah terang benderang di waktu Magrib. 

Pemandangan spektakuler itu saya saksikan dari sisi ‘pintu’ bagian belakang Gua Hira di pucuk Jabal Nur (Bukit Cahaya), sekitar 7 Km di sebelah timur Kota Mekah. Saat Magrib itu, tahun 1997, saya tak sendiri, melainkan bersama 4 (empat) teman wartawan/sastrawan.

Kami bersama-sama melaksanakan ibadah Umroh, yakni: Ahmadun Yosi Herfanda (dari Harian Republika), Badri (kameraman TPI/Televisi Pendidikan Indonesia), Isson Khairul dari Majalah Gadis, Mas Danarto (almarhum) – budayawan dan penulis buku Orang Jawa Naik Haji. 

Gua Hira di pucuk Jabal Nur merupakan catatan tersendiri dalam dunia Islam, karena di gua itu suatu hari di Bulan Ramadhan pada kitaran 14 abad silam, Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, yakni QS.96 (Al-Iqra’ atau “Segumpal Darah”) ayat 1 – 5.

Namun begitu Gua Hira dan Jabal Nur tidak masuk dalam peta wisata (religi) Kota Mekkah. Bahkan pemerintah Arab Saudi melalui otoritas Kota Mekkah tegas menyebut bahwa Gua Hira di pucuk Jabal Nur sebagai bukan tempat ziarah. 

Penegasan ini tercatat di banyak buku dan brosur wisata, bahkan tertera sebagai pengumuman resmi dalam 6 bahasa (Arab, Turki, Inggris, Itali. Urdu, dan Bahasa Indonesia), yang menyatakan “Semenjak Muhammad SAW diutus menjadi Nabi, tidak ada dalil kuat yang menunjukkan Nabi Muhammad SAW menziarahi Gua Hira untuk melakukan shalat atau berdoa, dan para sahabat Nabi pun tidak melakukan hal itu”.

Uniknya, dari masa ke masa, ada saja jamaah yang datang ke Kota Mekkah, baik untuk umrah ataupun yang mendapat panggilanNya menunaikan ibadah haji, yang ingin bisa menjejakkan kaki ke Gua Hira di pucuk Jabal Nur itu.  

Rasa ingin tahu untuk kemudian menjejakkan diri di gua tempat Muhammad SAW (sebelum masa kerasulan) melakukan kontemplasi untuk membersihkan diri dan memikirkan kondisi masyarakat Kota Mekkah yang masih jahiliyah. 

Dari ‘pintu, atau rongga sebelah belakang Gua Hira ini pula kami bisa melihat ke bawah, ke arah Kota Mekkah yang bergelimang cahaya di waktu Magrib. Waktu pergantian hari dalam kalender Islam, yang mengharuskan kami segera berwudlu secara tayamum, karena tak ada air sama sekali di bukit  Jabal Nur. 

Di imami almarhum Mas Danarto, kami pun menunaikan shalat Magrib di atas batu pipih dan tempat bersih yang ada di dalam rongga Gua Hira. Subhanallah.

Bukit batu

Tahun 2017, saya kembali mendapat kesempatan datang ke Mekkah, Kali ini bersama Resti, istri saya, untuk memenuhi panggilanNya menunaikan ibadah haji tahun 1438 Hijriyah. Alhamdulillah, rangkaian ibadah haji yang terpusat di Arafah (serta Musdalifah dan Mina) usai kami laksanakan.

Pada tanggal 5 September 2017, kami kafilah Haji Mandiri Indonesia asal Pamulang, Tangerang Selatan – Banten, telah kembali ke tempat kami menginap selama di Mekkah, yakni di kawasan Syisha yang terletak sekitar 5 Km di sebelah Tenggara Masjidil Haram. 

Saya sudah ngepak koper, rapi. Tapi masih ada waktu tinggal sehari di Mekkah, sebelum esok kami diangkut bus ke Jeddah dan terbang pulang ke tanah air dengan Garuda Indonesia. Apa yang bisa dilakukan di sisa waktu? Balik ke ‘pasar tumpah’ di depan hotel buat beli oleh-oleh? Atau berkunjung ke peternakan unta, atau…?.

Alhamdulillah, rasanya…tak ada lagi situs wisata religi (dan non-religi) di seputar Mekah yang belum saya kunjungi. Saat itu tiba-tiba saja mata saya tertumbuk pada kontur sebuah bukit gersang kecokelat-cokelatan. Kontur gunung berbentuk punuk unta yang sudah amat saya kenal, dan tak lain adalah Jabal Nur.

Saya taksir, jaraknya hanya sekitar 5 Km saja dari hotel tempat kami menginap di kawasan Syisha. Mendadak saya ingat Resti yang berulangtahun ke-60 pada tanggal 1 September 2017, tepat saat kami wukuf di Arafah, tanggal 9 Dzulhijah yang sekaligus merupakan puncak tahun haji 1438 hijriyah.

Apa salahnya saya ajak Resti mendaki Jabar Nur dan instropeksi diri sejenak di Gua Hira di bagian pucuknya. Ibarat pepatah Gayung beesambut, ternyata rekan sekamar Resti yaitu  Sundari dan Mimi juga ingin ikut mendaki. Eko, teman sekamar saya, juga ingin ikut bersama istrinya.

Ada Ika,  Kang Nana dan seorang adik laki-lakinya juga bergabung sehingga alhasil, ditambah saya dan Resti, kami berdelapan siap mendaki Jabal Nur dan Gua Hira. Selain Resti dan Sundari yang memang hobi outdoor activity, keenam teman lainnya awam dengan urusan mendaki gunung.

Bahkan bila sampai di Jabal Nur maka hal ini akan jadi pengalaman pertama mendaki gunung bagi mereka. Tapi tidak soal karena yang penting mereka punya niat dan motivasi kuat untuk ‘wisata jalan kaki’ sambil mendaki gunung. Fisik mereka pun, dalam pandangan saya cukup sehat. Inshaa Allah, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun apapun alasannya, teknik dasar umum mendaki gunung perlu juga disosialisasikan. Antara lain: pendaki harus sehat dan mampu melangkah dengan baik dan benar. Ikuti prosedur. Gunakan alas kaki yang tepat, enak dan nyaman. 

Idealnya sepatu gunung dengan tumit tertutup. Tapi berdasarkan pengalaman 20 tahun lalu, Jabal Nur relatif mudah untuk didaki. Untuk itu saya dan Resti cukup menggunakan alas kaki berupa sandal Spartan, yang kini populer disebut sebagai sandal gunung. Itu pula yang dikenakan teman-teman lain.

Berdasarkan pengalaman, track to top of Jabal Nur bisa didaki dalam tempo sekitar 2 jam. Sama sekali tak ada pohonan di atas sana. Sepanjang pendakian, yang ada Cuma tebing-tebing padas, tonjolan batu andesit. Pokoknya, batu-batu melulu. 

Oleh karena itu selain membawa makanan siap kunyah, jangan pernah lupa berbekal cukup air minum, yang tiap seperempat jam sekali minimal harus kita teguk seperlunya agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Jangan lupa jas hujan, lampu senter dan tongkat.

Tongkat amat disarankan untuk dibawa dalam setiap aktivitas mendaki gunung, tak cuma bagi kalangan tua tapi juga kaum muda. Karena tongkat berguna sebagai alat pegangan tangan saat kita melangkah, terlebih mendaki di lokasi yang tak ada akar atau pepohonan untuk dipegang. 

Tongkat yang kita gemgam dan ‘menghujam’ di tanah, juga sangat berarti untuk menstabilkan posisi tegak tubuh saat melangkah turun ataupun naik. Alhamdulillah, di tas saya selalu tersedia tongkat lipat dari bahan metal geranium. Dan di bagian bawah Jabbal Nur ada banyak kios penjual tongkat dari batang kayu siwak, bagi siapa yang perlu.

Keindaha kota Mekkah dari atas gua Hira, foto bersama dan jumpa kambing gunung hingga sholat bergantian di Gua Hira

Berangkat tengah malam

Pada 20 tahun silam, saya mendaki Jabal Nur selepas sholat Asyar saat matahari sudah amat condong ke Barat. Tapi tetap saja, panasnya minta ampun! Karena itu, dalam pendakian kali ini saya menyarankan berangkat tengah malam dari hotel di Syisha, saat udara teduh. Maklum di Mekah saat itu, udara malam pun masih dalam kitaran angka 35* Celsius.

Teman-teman setuju. Keperluan dasar perjalanan yang perlu dibawa, kembali di-check.  Khususnya air minum yang cukup plus makanan kering buat bekal di jalan, wind-jacket, jas-hujan, juga kamera. Seorang teman yang hanya mengenakan sandal jepit, saya sarankan menggantinya dengan sandal Spartan, pinjam punya temannya. 

Untuk menghemat waktu dan tenaga, dari depan penginapan di Syisha kami menuju lokasi star di kaki Jabal Nur dengan menggunakan taksi. Ada dua jenis taksi yang resmi beroperasi di Mekkah saat itu, yakni taksi argometer berupa sedan sebagaimana umumnya, dan taksi berupa mobil minitruk bak terbuka berkapasitas 10-12 orang penumpang, yang bisa disewa dengan sistem sekali jalan dan antar ke tujuan, dengan tarif antara 6 – 12 RSA (Real Arab Saudi) per penumpang.

Kami berdelapan memilih taksi ‘bak terbuka’, dan dikenakan tarif 10 Real tiap orang, dengan catatan taksi (pengemudinya seorang laki-laki asal Pakistan) langsung berangkat ke tujuan tanpa harus ngetem, nunggu penumpang hingga hingga klop berisi 12 penumpang. 

Sekadar info, saat itu 1 Real setara Rp 3.400. Jadi masing-masing kami harus keluar ongkos Rp34.000, yang bila masuk ke Toko Indonesia yang banyak bertebaran di Kota Mekah (dan Madinah) bisa ditukar dengan 1kg terur ayam buat teman masak mi instan produk Indonesia yang harganya sekitar Rp6.500/pc. Sebungkus mi instan produksi Indonesia, dijual dengan harga 2 Real atau sekitar Rp 6.800.

 

Padat merayap

Tahun 1997, lokasi yang jadi tempat awal pendakian Jabal Nur dan Gua Hira masih amat sangat sepi. Jalan masuknya belum punya tanda apapun, sampai-sampai sopir taksi argometer yang mengantar kami tempo itu harus putar-putar dulu.

Saat pertama itu akhirnya tiba di satu jalan dimana di sisinya terdapat sebuah rumah yang (selain daun pintunya) seutuhnya terbuat dari gundukan batu. Atau sesungguhnya itu adalah bukit rongga batu yang diberi daun pintu. Selebihnya? Sepi. Dua jam mendaki, kami tak berpapasan dengan pendaki-pendaki lain. 

Situasi sungguh berbeda dengan kedatangan saya yang kedua kali ini bersama teman-teman satu kloter.  Tempat awal pendakian sudah berobah ramai. Rumah-rumah tembok berderet-deret, sebagian diubah menjadi toko atau warung penjual kebab, bahkan ayam goreng kriyuk-kriyuk. 

Minuman berkarbonasi produk USA juga mudah didapat di lapak-lapak warung yang menempatkan kaleng dan botol-botol minuman ringan itu dalam coolbox ataupun kulkas. Yang kangen makan mie soto ayam berbagai mie instan produk Indonesia juga ada penjualnya. 

Tak cuma kami berdelapan, tempat pendakian ini dipadati ratusan orang dari berbagai bangsa. Mereka bergerak naik (ataupun turun) secara rombongan, dengan pemimpin kelompok memegang atribut atau bendera negara masing-masing.

 Ada rombongan dari India, Pakistan, Inggris, Perancis, Ghana, Mesir, Turki, Amerika, Tiongkok bahkan rombongan-rombongan jamaah asal Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura. Semuanya satu tujuan: mendaki Jabal Nur dan berkunjung ke Gua Hira.

Meski bukan tujuan wisata yang resmi tetap saja menjadi magnet untuk melihat langsung tempat Nabi besar beribadah. Sekali lagi, Jabal Nur dan Gua Hira khususnya memang bukan tempat ziarah, sebagaimana Jabal Uhud di Madinah ataupun lokasi ziarah lainnya di Mekah yang masuk dalam peta wisata.

Tapi siapa bisa melarang minat orang untuk melihat Gua Hira, tempat di mana ayat suci Al-Quran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SWA melalui perantara Malaikat Jibril? 

Berapa ribu pendaki memenuhi Jabal Nur saat itu? Apakah ini ada kaitannya dengan musim haji tahun 1438H yang dihadiri 2,2 juta jamaah dari luar Arab Saudi? Entahlah, Yang pasti padatnya pengunjung, rombongan yang hendak naik ataupun hendak turun, menjadikan situasi jadi padat-merayap. 

Siapapun tak bisa melangkah dengan leluasa tanpa kemungkinan ‘bersenggolan’ dengan tubuh orang lain. Sementara saya tahu persis, jalur menuju puncak, yang paling lebar hanya kitaran 2 meter. 

selebihnya jalur-jalur sempit yang bersebelahan dengan jurang di sisinya yang terbuka. Alhasil, berangkat dari bawah sekitar pukul 01 malam WAS, baru sekitar pukul 04 pagi kami tiba di pilar batu alam yang merupakan titik triangulasi, Jabal Nur

Jalan kaki ke penginapan

Di bagian tertinggi dari Jabal Nur ini situasi tak lagi padat-merayap, melainkan berjubel. Semua orang menyasar Gua Hira yang terletak di jalan agak menurun, di pinggir sebuah tebing, beberapa belas meter dari titik triangulasi. Jalan masuk ke rongga bagian dalam harus melalui celah sempit, yang memaksa tubuh seseorang harus dalam posisi miring dan agak membungkuk untuk bisa ‘nyeplos’ ke dalam ataupun balik ke luar.  

Ada semacam jendela lebar di belakang rongga, dimana di bagian bawahnya terhampar keindahan  pemandangan Kota Mekah. “Jendela” ini bisa juga dijadikan jalan masuk ataupun keluar. Tapi perlu kehati-hatian, karena harus meliwati bagian amat sempit berbatas jurang menganga.

Rongga bagian dalam Gua Hira juga tidak terlalu luas, paling hanya bisa memuat belasan orang saja. Sementara tiap orang yang berhasil masuk ke Gua Hira, umumnya cenderung untuk tinggal berlama-lama, mumpung bisa berkunjung.

Maka bisa dibayangkan padatnya kitaran seputar Gua Hira saat itu. Melihat situasi dan kondisi saat itu, saya memutuskan diri untuk tidak lanjut masuk ke Gua Hira. Resti juga setuju mendaki hanya sampai titik triangulasi itu saja, dan tidak menjejakkan kaki ke Gua Hira. Tapi teman-teman lain berfikir lain. “Gua Hira sudah di depan mata… sayang betul kalo nggak sampai dijajaki,” kata seorang teman.

Silakan saja. Saya tak bisa melarang, asal tetap berhati-hati. Keenam teman pun bergerak ke bagian celah yang agak menurun, menuju Gua Hira yang penuh sesak. Sementara saya dan Resti menunggu di titik triangulasi Jabbal Nur. Ada bagian yang agak datar di titik itu yang juga sudah penuh diduduki orang. 

Alhamdulillah, seorang laki-laki tinggi besar (sepertinya orang Turki) berdiri, dan (dalam Bahasa Inggris) menyilakan Resti untuk duduk di tempat yang tadinya ia duduki. Tempat kosong yang nyatanya tak cuma bisa diduduki Resti, tapi juga muat untuk saya ikut mendudukinya. 

Di situ saya dan Resti menunggu teman-teman yang sedang berjuang menerobos masuk ke Gua Hira, sembari menikmati wajah Kota Mekah bergelimang cahaya listrik yang bergelimang di bagian bawah. Subhanallah.

Kejutan terjadi. Semua teman ternyata…berhasil masuk ke Gua Hira dengan berbagai cara. Bahkan ada yang mengaku masuk hingga dua kali. Mereka datang satu persatu dengan wajah berseri. Sempat saya tawarkan ke Resti kalau-kalau ia ingin juga mencoba masuk Gua Hira. Tapi Resti menggeleng pasti.

Ia bilang, cukup sampai di titik ketinggian ini saja. Alhamdulillah. Dan lagi, sudah waktunya shalat Subuh. Orang-orang sudah tampak tayamum, dan shalat sendiri-sendiri karena situasi di lokasi tak memungkinkan menggelar shalat berjamaah. Ada yang menggelar selendang sebagai pengganti sajadah, ada yang shalat sembari duduk atau berdiri. 

Di bagian yang agak terbuka di ‘pilar’ triangulasi, saya dan Resti shalat bergantian. Khusyu, dan jelas menghadap Kiblat yang ditandai oleh keberadaan puncak Menara ZamZam yang terang-benderang di bagian bawah.

Lepas Subuh, perlahan kami bergerak rutun tapak demi tapak. Gelombang orang yang hendak naik rasanya semakin banyak. Tapi karena matahari sudah terbit dan tanah menjadi terang, jalan ke bawah terasa lebih gampang. 

Satu hal yang juga kini tampak, ternyata ada banyak kambing di Jabal Nur. Khabarnya merupakan peliharaan warga yang sengaja digembalakan di kawasan itu. Anehnya, itu kambing makan apa? Tak tampak kehijauan di sekujur Jabal Nur. Tapi begitulah Allah SWT punya kuasa. Siapapun makhluk, ada bagian resekinya masing-masing,

Sekitar pukul 07 pagi kami tiba di bagian bawah. Banyak taksi menawarkan diri untuk mengantar kami pulang ke penginapan di Syisha. Tapi kami semua sepakat untuk jalan kaki saja. Alasannya? “Sayang 10 Real. Daripada buat patungan naik taksi bak terbuka, mending dibeliin telor ayam sekilo,” kata satu teman.

Jalan pulang memang terasa lebih dekat, apalagi bila dilakukan dengan rilaks sambil melihat-lihat suasana Kota Mekah yang kian wah. Satu lokasi yang paling ingin disasar teman-teman pagi itu adalah: mampir ke restoran ayam goreng plus minum-minuman ringan berkarbonasi ala waralaba asal Amerika Serikat, yang mulai ramai didirikan di Kota Mekah dan kota-kota besar lain di Arab Saudi. 

Banyak gunung sudah saya daki. Tapi pengalaman mendaki Gua Hira di pucuk Jabal Nur sungguh membekas di hati. Apalagi bila ingat kalimat bijak bahwa cuma orang-orang yang mendapat hidayahNYa saja yang bisa datang (untuk umroh atau haji) ke Mekah. Dan kami memenuhi pangggilannya datang ke Mekkah, yang usai ibadah kami sempatkan diri untuk berkunjung ke Jabal Nur dan Gua Hira. Alhamdulilah terima kasih Ya Rabb…

 

Wisata Islandia dibuka Juni, Standar Tes COVID-19, Bali Oktober?

this formate

REYKJAVIK, bisniswisata.co.id: Perdana Menteri Islandia Katrin Jakobsdottir berencana mengurangi pembatasan kedatangan internasional paling lambat 15 Juni 2020. Sementara mulai 15 Mei beberapa profesional, ilmuwan, pembuat film dan atlit telah tiba di Islandia untuk melakukan uji coba system tes COVID-19 dan karantina yang telah dimodifikasi.

Pemerintah Islandia, kutip Lonely Planet  meminta pelancong mengunduh dan menggunakan aplikasi resmi yang juga telah digunakan warga setempat. Aplikasi penelusuran ini telah disempurnakan dan dipastikan mampu menjaga privasi pengguna. Data pribadi akan dirilis hanya untuk tujuan pelacakan, jika ditemukan infeksi/penularan.

“Ketika para pelancong kembali ke Islandia, kami ingin memiliki semua mekanisme untuk melindungi mereka dan kemajuan dalam mengendalikan pandemi. Strategi pengujian, pelacakan, dan isolasi skala besar di Islandia telah terbukti efektif sejauh ini. Kami ingin membangun pengalaman itu. Menciptakan tempat yang aman bagi mereka yang menginginkan perubahan pemandangan setelah musim semi yang sulit bagi kita semua,”kata Thordis Kolbrun Reykfjord Gylfadottir, Menteri Pariwisata, Industri, dan Inovasi, Islandia. Hingga saat ini, di Islandia tercatat ada 1801 kasus COVID-19 dan sepuluh kematian.

Selain Islandia, negara- negara destinasi wisata dunia lainnya juga mulai bersiap “melonggarkan” pembatasan pergerakan pasar wisata, dengan sejumlah persyaratan. Sikap berhati- hati dan mengendalikan euporia kebebasan bergerak sangat dihindari.

Bali Tumpuan Indonesia

Bagaimana dengan kepariwisataan Indonesia? Yang pariwisatanya memiliki kaidah Sapta Pesona  yaitu 7 (tujuh) unsur dalam setiap produk pariwisata serta dipergunakan sebagai tolak ukur peningkatan kualitas produk pariwisata. Ada dimensi keamanan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan.

Tujuan Sapta Pesona Wisata menurut alm Joop Ave (ketika itu) tidak semata-mata untuk kepentingan pariwisata. Dalam tataran lebih luas adalah strategi  meningkatkan disiplin nasional,  jati diri bangsa, berfokus pada citra baik bangsa dan negara.Secara komunal, kepariwisataan Indonesia memiliki standar kelokalan yang khas.

Ir. I Gst N Wisnu Wardana

Bali misalnya memadankan kearifan lokal Tri Hta Karana (THK) dalam dinamika perkembangan kepariwisataannya. Nilai tradisi yang diakui pihak badan pariwisata dunia UNWTO, bahkan lembaga ini membantu Yayasan Tri Hita Karana dan Paguyuban Pelaku, Pemerhati THK pelaksana THK Assesment dan Accreditation Awards me link dan match kan intisari nilai THK ke dalam kode etik pariwisata global. Dan pada akhirnya tumbuh konsep kepariwisataan berkelanjutan di level internasional.

Terkait pandemic COVID-19, apakah THK Assesment and Accreditaion Awards tetap dilaksanakan?

 “Assesment dan akreditasi THK Awards 2020, tetap dilaksanakn dengan peserta terbatas. Akibat penutupan sementara property mau pun objek wisata peserta, “ungkap Ketua Yayasan Tri Hita Karana, Ir. I Gst N Wisnu Wardana, menjawab bisniswisata.co.id.

Pilot Proyek

Menurut Wakil Gubernur Bali, Tjokorde Oka Artha Ardana Sukawati saat melakukan rapat dengan  Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani di Bali,  mulai Juni-Oktober 2020 akan melakukan gaining confidence .

Hal ini  mencakup persiapan dan revitalisasi destinasi, perencanaan program promosi serta bantuan terhadap para pelaku pariwisata. Dan destinasi pariwisata di Bali mulai dibuka secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan, promosi, penyelenggaraan event MICE Roadshow dan Media Campaign pada Oktober 2020.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menerapkan program CHS (Cleanliness, Health, and Safety) di setiap destinasi maupun lokasi lain terkait pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai strategi mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi COVID-19.

Menurut Sek. Kemenparekraft  saat ini Kemenparekraf sedang menyiapkan langkah-langkah pemulihan antara lain menyusun SOP yang mengacu pada standar kesehatan, kebersihan dan keselamatan. Rincian program pemulihan akan dibahas dan dikomunikasikan ke seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, Bali ditetapkan menjadi pilot project dalam penerapan program CHS untuk nantinya diimplementasikan ke daerah lainnya di Indonesia.

Secara umum, Giri menjelaskan, konsep CHS mengacu pada protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan serta secara spesifik mengimplementasikan Sapta Pesona yang merupakan jiwa pariwisata Indonesia.

Catatan 60 Hari dari Markas Gugus Tugas COVID-19

this formate
Jika tulisan ini berisi evaluasi kinerja Doni Monardo, jatuhnya akan menjadi  subjektif dan serius. Subjektif, karena saya menjadi bagian dari komando yang dia pimpin. Serius karena tulisan evaluatif harus melalui kegiatan setengah riset. Di samping, tidak pada tempatnya sebuah evaluasi diluncurkan di saat “pertempuran” tengah berlangsung.Jika tulisan ini berisi agenda selama dua bulan menjabat Ketua Gugus Tugas Covid-19, lantas apa bedanya dengan jadwal kegiatan rutin? Tinggal minta catatannya kepada Kolonel Budi Irawan, Koorspri Ka BNPB maka lengkaplah point-point kegiatan Doni Monardo dua bulan terakhir. Ada ratusan aktivitas yang tercatat secara detail.Menarik justru kalau kita melihat dari sisi terdekat. Dekat secara emosional, maupun dekat secara jarak.  Bukankah, itu yang ada dalam benak setiap orang jika melihat kiprah Doni Monardo? Kebetulan dalam banyak kegiatan, saya bagian sebagai pelaku sekaligus saksi mata.

“Tolong, pak Doni di-make-up dulu sebelum tampil di TV. Saya kasihan melihatnya. Wajahnya lelah, kecapean”. Itu salah satu pesan WhatsApp yang pernah saya terima.

Artinya, berada pada sentral perhatian bangsa sebagai Komandan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, memang setiap gerak, setiap penampilan, selalu menjadi sorotan.

Untuk kesehatan, tanpa bermaksud mengesampingkan perhatian masyarakat, tetapi Doni Monardo adalah seorang jenderal bintang tiga aktif. Pola hidupnya adalah pola hidup prajurit. Begitu teratur, sesibuk apa pun aktivitasnya.

Enam-puluh hari, telah ia lalui dengan tidur di kantor. Selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu ia dedikasikan segenap waktu, tenaga, dan pikiran untuk memerangi Covid-19. Setiap hari pula, tak kurang dari lima sampai delapan kegiatan dikerjakan. Mulai dari rapat terbatas secara virtual dengan Presiden Joko Widodo dan pejabat terkait lain, rapat internal, menerima para tamu, mengkoordinasikan program Gugus Tugas, tanda tangan surat dan, wow … membalas satu persatu pesan masuk di hapenya.

Itu artinya, praktis selama 60 hari, sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor. Ia bekerja mulai jam berapa saja, dan selesai jam berapa saja. Dan jangan sekali-kali bertanya, “Sekarang hari apa ya?” Jangan. Sebab, itu pertanyaan khas milik Doni Monardo kepada orang-orang terdekatnya.

Lupa hari, bukan berarti lupa persoalan penting lain. Jika Anda kenal Doni Monardo, atau setidaknya kenal dengan orang yang dekat dengan Doni Monardo, tentu mahfum, bahwa ia termasuk pemilik daya ingat di atas rata-rata. Ia dianugerahi daya ingat yang luar biasa (tapi bukan untuk mengingat-ingat sekarang hari apa).

Contoh, tentang jumlah atau angka. Kebanyakan staf akan lupa atau hanya menduga-duga dan mengira-ira. Tapi Doni bisa menyebut dengan pasti, berapa jumlah (misal) APD yang dikirim ke Jawa Barat. Berapa luas lahan gambut yang terbakar tahun 2109. Berapa kg rendang yang dikirim dari Padang ke Palu untuk korban banjir bandang dan lainnya. Selain itu, ia ingat betul peristiwa-peristiwa penting, seperti misalnya tanggal berapa, bulan apa, dan di mana ia bertemu siapa dan membahas apa.

Begitulah, Doni Monardo selalu bekerja dan bekerja, dan hanya berhenti ketika rebah terlelap di tempat tidur. Jam istirahat Doni selama 60 hari terakhir, antara tiga sampai empat jam sehari. Betapa tidak. Pukul 00.00 tengah malam, terkadang ia masih bekerja. Bahkan, pukul 01.00 ia masih bergumam, “Waduh… masih ada ratusan WA yang belum terbaca  nih .”

Memasuki dan selama Ramadhan, kurang dari 4 jam kemudian dia sudah bangun untuk makan sahur. Nanti, selesai sholat shubuh  ia lanjutkan memejamkan mata barang satu-dua jam lagi.

Fokus di Kantor

Satu per satu agenda yang sudah tersusun pun ia jalani dengan semangat. Sebagian pekerjaan dilakukan di ruang lantai 10 Graha BNPB.

Nah ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Doni Monardo hampir tidak pernah duduk di kursi dan meja kerjanya. Hampir tidak pernah. Jadi, jangan pernah membayangkan Doni Monardo seperti seorang eksekutif yang duduk di kursi pimpinan, dengan meja kerja besar penuh dokumen di atasnya.

Termasuk jika harus menandatangai berkas atau dokumen penting. Tak jarang ia lakukan di atas meja di ruang staf. Bahkan, sering terlihat, ia menandatangani berkas di meja ruang tamu, bahkan di punggung ajudannya.

Dalam enam puluh hari kerja sebagai Kepala Gugus Tugas, hampir semua waktu ia habiskan di dalam kantor. Dari kantor pula ia mengendalikan semua pekerjaan. Dari kantor pula ia menerima semua laporan perkembangan yang terjadi di lapangan.

Sebagai perbandingan, selama 60 hari kerja, kurang dari 10 kali Doni meninggalkan Graha BNPB. Dua kali ke Istana Negara. Sekali ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dua kali ke RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekali ke Terminal Pulogebang, Jakarta Timur. Dan beberapa acara lain.

Nah, selama beraktivitas di lingkungan Graha BNPB, juga banyak catatan yang menarik. Jika dirunut tentu sangat panjang. Sekadar menyebut satu contoh, adalah saat suatu hari ia mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI-AD, lengkap dengan tiga bintang di pundak, serta berbagai brevet d dada kiri.

Hari itu, dan beberapa hari setelahnya, foto-foto dan berita-berita Doni Monardo mengenakan seragam militer (PDH) viral. Tidak sekadar viral, tapi juga disergai berbagai komen dari masyarakat luas sampai ke teman-teman terdekat.

Bahkan saat konferensi pers, para wartawan kelihatan sekali surprise melihat penampilan Doni yang biasanya mengenakan ham dan rompi BNPB, hari itu tampil dengan PDH perwira tinggi TNI-AD. Sejumlah wartawan (umumnya berusia muda), menampakkan ekspresi “melongo”, seolah baru sadar, bahwa Doni Monardo adalah militer aktif. Jenderal bintang tiga.

Suasana itu terbawa sampai ke akhir jumpa pers. Usai Doni Monardo mengakhiri keterangan, biasanya disusul dengan sesi tanya jawab. Nah, di sesi tanya jawab, terjadilah kejadian yang tidak biasa. Jika hari-hari biasa para wartawan beradu tunjuk jari, hari itu sepi. Nyaris tidak ada satu pun yang mengajukan pertanyaan.

Antara masih surprise dengan PDH yang dikenakan, atau segan bertanya, demi memandang tiga bintang di pundak Doni Monardo. Entahlah, yang jelas baju PDH Donj yang dikeluarkan dari lemari menjadi saksinya.

Berita “Miring”

Catatan lain, adalah hari-hari saat Doni Monardo cukup dibuat galau akibat berita media yang “miring”. Dalam 60 hari, setidaknya ada dua berita miring yang –diakui atau tidak—membuat Doni Monardo hari-hari itu agak “pelit senyum”.

Yang pertama, saat ia seperti “dibenturkan” dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Topiknya tentang pelonggaran izin operasional bagi transportasi umum. Atas kebijakan tersebut, statemen Doni yang kemudian viral dan dipotong lalu disebar-luarkan adalah pernyataan yang berbunyi, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tapi kebijakan pemerintahnya yang bisa membingungkan masyarakat.”

Doni gerah karena merasa bukan begitu kalimat yang ia maksud. Doni, atas berkembangnya berita yang menyorot kebijakan Menhub tadi mengatakan, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tetapi pemberitaannya yang membingungkan masyarakat.”

Bergantinya kata “pemberitaan” dengan “pemerintahan” tentu saja sebuah perbedaan yang sangat jauh. Oleh sebagian kalangan, pernyataan yang keliru tadi bahkan di-croping lalu di-share di berbagai platform medsos. Tak pelak, Doni pun seperti sedang dibenturkan dengan Menhub (pemerintah).

Memang, ada beberapa media yang tidak keliru dalam menulis pernyataannya. Persoalannya adalah, yang di-share dan diviralkan adalah pernyataan yang salah tulis. Jadi, meski sudah ada upaya untuk mengklarifikasi kepada media-media yang salah kutip, tetapi nyaris menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Selain karena jumlah media (online) yang sangat banyak, banyak pula di antara media tadi yang semata-mata mengejar klik bite. Caranya, dengan menampilkan berita-berita yang insinuatif, berita-berita dengan paradigma “bad news is a good news”. Dalam bahasa yang lain : New virus (covid 19) is no problem, News virus is big problem.

Masih ada satu berita lagi yang membuat perhatian Doni tersita untuk mengklarifikasi. Pernyataan yang ia ucapkan usai melakukan Rapat Terbatas dengan Presiden. Bahwa orang kelompok usia 45 tahun ke bawah dipersilakan bekerja.

Dikutip begitu saja, sehingga memicu kontroversi, terkhusus bagi pembaca berita online yang terbiasa hanya membaca judul saja dan langsung bikin kesimpulan. Mulai dari yang komentar nyinyir hingga yang bernada hujatan.

Tidak ada yang salah dengan statemen itu. Tidak ada media yang salah kutip. Yang menjadi masalah, karena media tidak menuliskannya secara lengkap. Bahwa, kelonggaran tadi diberikan tetap dalam konteks PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Sebab, kelonggaran bekerja kepada kelompok usia di bawah 45 tahun, memang dengan stressing atau penekanan pada kalimat “tetap mengacu pada ketentuan PSBB dan protokol kesehatan”.

Dengan dukungan data yang dihimpun Ketua Pakar Gugus Tugas, Prof Wiku Adisasmito, Doni Monardo mengimbau para pimpinan perusahaan atau instansi untuk memprioritaskan karyawan yang bekerja pada kelompok usia di bawah 45 tahun. Itu pun, harus karyawan yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.

Adapun bidang yang diperbolehkan, sesuai Pasal 13 Permenkes No. 9/2020 tentang PSBB, adalah 11 bidang. Kesebelas bidang itu adalah tempat kerja yang memberikan pelayanan: 1). Hankam; 2). ketertiban umum; 3). Pangan; 4). BBM & Gas; 5). Pelayanan kesehatan; 6). Perekonomian; 7). Keuangan, 8). Komunikasi; 9). Industri; 10). Ekspor dan impor; 11). Distribusi logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Ihwal mengapa usia 45 tahun ke bawah yang diberi kelonggaran? Juga bukan tanpa alasan. Berdasar catatan Tim Prof Wiku, kelompok usia itu yang risiko kematiannya paling kecil (15%), meski risiko terpaparnya besar. Sedangkan, risiko kematian kelompok usia di atas 46 tahun, sebesar 85%. Semua data itu dihimpun sejak pemerintah memberlakukan Masa Darurat Kesehatan Maret lalu.

Lebih rinci data Tim Pakar Gugas menyebutkan, sebagian besar korban Covid-19 meninggal adalah pemilik penyakit bawaan ginjal, yakni mencapai 7 dari 10 pasien. Urutan kedua, yang berpenyakit jantung, 5 dari 10 pasien.

Hidup Sehat ala Doni

Bersyukur, melewati 60 hari bertugas sebagai Kepala Gugus Tugas, tidak ada tanda-tanda kendor sedikit pun dari sosok Doni Monardo. Dalam banyak kesempatan, ia mengatakan, sedikit saja pasukan melihat panglimanya kendor, maka mental prajurit di lapangan bisa terganggu.

Konsisten dengan jargon Pentahelix, ia menyelaraskan semua program tadi menjadi program kerja kolektif. Bencana, baik alam maupun non alam, adalah tanggung jawab bersama. Karenanya, penanganannya pun harus bersatu dan bersama-sama.

Pentahelix adalah model gotong royong yang sangat sesuai diterapkan di Indonesia. Termasuk ketika bangsa ini dilanda wabah seperti yang sedang kita alami. Keterlibatan pemerintah bersama unsur masyarakat/komunitas, pengusaha, akademisi, dan media menjadi modal utama melawan bencana.

Dalam bingkai itu pula Doni tidak pernah mengendorkan semangat melindungi masyarakat dari paparan corona. Prinsip Doni Monardo, yang sakit harus sembuh, yang sehat tetap sehat. Yang tak kalah pentingnya, warga tidak boleh terpapar virus dan juga terkapar akibat dampak PHK.

Ingin tahu bagaimana Doni Monardo menjalani resep hidup sehat? Ia punya semboyan “empat sehat lima sempurna”. Berbeda dengan pengertian umum, empat sehat lima sempurna jaman dulu.

Nah  Doni merumuskan empat sehat lima sempurna ini kaitannya dalam menghadapi wabah Covid-19.

Yang pertama, mengenakan masker. Kedua, menjaga jarak (social & physical distancing). Ketiga, rajin mencuci tangan dengan sabun. Keempat, olahraga dan tidur teratur dan tidak panik. Lima penyempurnanya adalah makanan yang bergizi.

 

Presiden Jokowi Apresiasi Digelarnya ‘Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia’

this formate

Kemenparekraf Whisnutama ( kanan) saat membuka konser bersama di  6 TV ( Foto: Kemenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia yang diinisiasi Komunitas Bersama Jaga Indonesia dan didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berjalan sukses Sabtu malam dan menghasilkan penggalangan dana Rp 4 milyar lebih.

Disiarkan secara langsung di enam stasiun televisi swasta yakni RCTI, SCTV, Net TV, Trans 7, ANTV, dan Kompas TV, konser yang menghadirkan puluhan artis ibu kota ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 4.017.217.884 yang nantinya akan disalurkan untuk membantu tenaga kesehatan yang berjuang menghadapi pandemi COVID-19, serta para pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19.

Presiden Joko Widodo juga turut menyambut baik digelarnya acara ini dan mengapresiasi semua pihak yang telah berinisiatif untuk bahu membahu, saling membantu dan menunjukkan rasa solidaritas seperti yang ditampilkan dalam konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia. “Semoga acara ini bisa menginspirasi banyak orang dan mempererat rasa persatuan kita,” kata Joko Widodo.

Presiden mengajak masyarakat untuk terus berinovasi dan berkreasi di tengah keterbatasan pandemi ini dan saling mendukung dengan mencintai karya anak bangsa, bangga dengan buatan Indonesia dan beli buatan Indonesia.

“Saya yakin setelah masa pandemi COVID-19 ini berakhir akan semakin banyak inovasi dan karya-karya yang akan bersinar. Mari bersama jaga Indonesia,” kata Joko Widodo.

Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia berlangsung selama dua jam mulai pukul 20.00 WIB. Konser dibuka dengan pemutaran video “Bersama Jaga Indonesia” yang mengajak masyarakat untuk menjaga Indonesia dengan disiplin membantu memutus penyebaran Covid19 dan tidak patah semangat bagi yang terdampak.

Acara kemudian berlanjut dengan dipandu Andhika Pratama dan Gading Marten sebagai pembawa acara. Selama acara, keduanya tidak henti mengajak masyarakat untuk terus berdonasi membantu pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif juga tenaga medis.

Adapun artis yang tampil diantaranya Erwin Gutawa Orchestra, Yovie Widianto, GIGI, Radja, Rossa, Andien, Via Vallen, Inul Daratista, Dira Sugandi, Yura Yunita, Tompi, Sandhy Sondoro, Iwa K, Afgan, Rizky Febian, Arsy Widianto, Rizki & Ridho, Andre Taulany, Sule, Andhika Pratama, Gading Marten, Baim Wong, Maia Estianty, dan lainnya. Penggalangan donasi sendiri masih akan terus dibuka melalui kitabisa.com/konserjagaindonesia dan benihbaik.com/campaign/bersamajagaindonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan Kemenparekraf/Baparekraf akan terus berupaya menjalankan mitigasi atas dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif seperti arahan Presiden Joko Widodo.

“Pariwisata dan ekonomi kreatif adalah sektor yang paling terdampak dari pandemi COVID-19. Dengan semangat bersama dan solidaritas, kita bisa bersama-sama menghadapi pandemi ini dan menjadi lebih baik lagi kedepannya,” kata Wishnutama.

KBRI Stockholm Gelar Sosialiasi Tata Laksana Pasien COVID -19 di Swedia

this formate

Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia tengah menjelaskan tara laksana pasien di Swedia

STOCKHOLM, Swedia, bisniswisata.co.id: Akhir pekan dimanfaatkan  KBRI Stockholm untuk kembali mengadakan bincang virtual bersama WNI yang dilakukan secara online. Bertindak selaku narasumber adalah Ihdina Sukma Dewi, MD, PhD, dokter dan peneliti di Lund University Hospital, Swedia.

Ihdina mengangkat tema “Covid-19: Gejala Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana Pasien di Swedia” dan pada sambutan pembukaannya, Dubes Bagas menyatakan pohaknya memfasilitasi WNI  untuk menanyakan langsung khususnya hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan di masa pandemi ini.

“Pemerintah Swedia menyebutkan bahwa setiap warga harus tetap berhati-hati dan aturan social distancing juga tetap akan terus berlaku sebagaimana telah diputuskan sebelumnya. Hal ini penting kita ingat, karena di Stockholm sendiri telah terdapat lebih dari 10.000 orang terinfeksi Covid-19″ ujar Bagas.

Sama halnya dengan di Latvia, walau sekarang aturannya lebih dilonggarkan, tapi warga diminta tetap berhati-hati dan penggunaan masker atau penutup wajah dalam transportasi publik sudah wajib. Mohon agar aturan-aturan ini selalu dipatuhi  semua,  tambah Bagas.

Dalam paparannya, Ihdina menyatakan bahwa virus Covid-19  memiliki masa inkubasi 2-14 hari dengan gejala klinis utama adalah demam, dan diikuti dengan gejala saluran pernapasan seperti batuk, hidung tersumbat, sesak napas, dan mungkin juga muncul gejala non-saluran pernapasan seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, mual, muntah, dan diare.

“Yang harus dipahami bahwa virus Covid-19, SARS-CoV-2 memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan berikatan dengan Angiotensin Converting Ezyme 2 (ACE 2) Receptors di tubuh. ACE 2 ini ada di berbagai organ tidak hanya paru-paru, tapi juga hati, ginjal, usus, bahkan otak. Oleh karena itu, Covid-19 bisa mengakibatkan multiple organ failure” ujar Ihdina.

Dalam tata laksana pasien di Swedia, Ihdina menyatakan bahwa pasien yang tiba di rumah sakit dengan gejala klinis tersebut akan mendapatkan perawatan sesuai dengan medical assesment pasien tersebut.

Tidak semua pasien serta merta akan dimasukkan ke unit perawatan intensif, karena sebagai negara dengan rasio unit perawatan intensif per 100 ribu penduduk yang termasuk rendah dibandingkan negara Uni Eropa lainnya, membuat Swedia harus memperhitungkan dengan baik kapasitas unit perawatan intensif yang digunakan.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi lonjakan yang dapat melumpuhkan fasilitas kesehatan yang terjadi di beberapa negara Eropa lainnya, seperti Italia. Keputusan seorang pasien masuk ke perawatan intensif dilakukan oleh tim dokter emergency rumah sakit.

“Per 16 Mei 2020, terdapat 29.207 kasus Covid-19 di Swedia dan 997 kasus Covid-19 di Latvia, dengan angka kematian sebanyak 3.646 jiwa di Swedia dan 19 jiwa di Latvia,” kata Ihdina

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah WNI yang tinggal di Swedia, Latvia, negara-negara Eropa lainnya, bahkan yang tinggal di Indonesia. Kegiatan semacam ini dipandang baik untuk terus dilakukan guna menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19.

 

Mallorca Jadi Pilot Project Dibukanya Kembali Pariwisata di Spanyol

this formate

Mallorca menyimpan sejarah Islam (foto: travel passionate)

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Pulau Mallorca yang merupakan tujuan wisata favorit bagi warga Jerman, Inggris, dan tentu saja Spanyol ini bersiap membuka diri bagi para pelancong. Pulau cantik yang beriklim khas mediterania akan mulai menyambut tamu dalam jumlah terbatas pada akhir Juni. 

Keputusan ini akan menjadi semacam ‘pilot project’ dimulainya kembali sektor pariwisata yang telah terhenti karena pandemi Covid-19, kata Francina Armengol, Presiden Regional Kepulauan Balearic, Kamis (15/5) seperti dilansir CNN. 

Rencananya, para pelancong dari Jerman dan negara-negara Eropa lain dengan tingkat infeksi virus Corona rendah, akan didatangkan oleh biro perjalanan besar TUI.

“Kami siap melakukan pilot project ini pada akhir Juni. Perlu persiapan agar kelompok wisatawan ini dapat merasa aman karena kesehatan mereka terjamin,” kata Armengol. 

Mallorca adalah pulau terbesar di Spanyol yang berada di Kepulauan Balears. Jaraknya sekitar 200 kilometer dari Barcelona. Pesonanya telah mendunia, terutama karena iklimnya yang khas. Di sana, matahari bersinar hampir sepanjang tahun (300 hari dalam setahun), bahkan di saat musim dingin sekalipun. Pada musim panas, matahari bersinar 10 jam sehari. Sedangkan di musim dingin, warga Mallorca tetap dapat menikmati matahari selama lima jam setiap harinya.

Tak banyak yang tahu bahwa ada jejak sejarah Islam di Mallorca. Indikasinya adalah bahasa. Penduduk Mallorca akrab dengan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Bahkan, mayoritas penduduk Mallorca merasa bangga dengan bahasa, budaya, dan arsitektur bangunan mereka yang merupakan warisan dari kebudayaan Islam. Sejarah mencatat, Mallorca memiliki warisan peradaban Islam yang sudah tersimpan selama berabad-abad.

Banyak orang Jerman memiliki holiday homes di sana. Minggu lalu, sekitar 200 pemilik rumah mendesak otoritas setempat agar diizinkan kembali berkunjung segera setelah kebijakan lockdown dicabut. Untuk mengantisipasi datangnya para pelancong, penguasa setempat telah menyiapkan sejumlah tindakan guna meminimalisir penyebaran virus mematikan ini.

Pada musim panas mendatang, petugas medis akan memberlakukan kebijakan wajib test kesehatan bagi para wisatawan, baik yang jelas menunjukkan gejala Corona maupun yang nampak sangat kecil. Mereka akan mengisolasi pelancong jika kedapatan hasil tesnya positif.

Selain itu Pemerintah Balearic juga sedang membuat applikasi ponsel yang dapat digunakan pelancong untuk menginfokan kepada otoritas setempat, jika mereka telah melakukan kontak fisik dengan seseorang yang baru-baru ini dinyatakan positif Covid-19.

Jika suatu saat Anda berkesempatan melancong ke Mallorca, sempatkanlah untuk menyambangi istana milik Raja Alfabia, penguasa Muslim terakhir pulau ini.

 

 

 

CEO IATA: Refund Tiket Dengan Voucher Lebih Fleksibel

this formate

Refund Tiket penerbangan jadi isu dunia ( Foto: unsplash.com/ Raychan)

MONTREAL, Kanada, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memberikan perhatian utama masalah refund tiket dengan voucher oleh perusahaan penerbangan akibat pembatasan perjalanan dan kebijakan Lockdown ditengah pandemi global COVID-19 , kata Alexandre de Juniac, CEO IATA.

Dia meminta masyarakat memahami regulasi EU 261, peraturan yang menetapkan aturan umum tentang kompensasi dan bantuan kepada penumpang jika terjadi penolakan naik pesawat dan pembatalan atau penundaan lama penerbangan

Menurut regulasi EU 261, maskapai penerbangan Eropa harus mengembalikan sekitar 9,2 miliar Euro sebagai kompensasi terhadap penerbangan yang dibatalkan hingga akhir Mei,” kata Alexandre de Juniac, CEO IATA.

Padahal EU 261 bukan dirancang untuk menghadapi pembatalan massal akibat sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown untuk memerangi pandemi COVID-19.

Sekadar informasi, flight compensation regulation 261/2004, atau biasa disebut EU 261 merupakan regulasi yang dibuat untuk kenyamanan penumpang pesawat ketika penerbangannya mengalami penundaan (delay), tidak bisa boarding (denied boarding) misal karena overbooked, atau bahkan ada pembatalan (cancel) dari pihak maskapai.

“Oleh sebab itu, kami meminta fleksibelitas penerapan aturan ini agar bisa menggantinya dengan sistem refundable vouchers – atau penundaan reimbursements – sehingga perusahaan penerbangan dapat menyimpan uang tunai demi bertahan hidup terutama di masa krisis seperti saat ini. Kami pastikan, konsumen tetap akan mendapatkan pengembalian, tetapi butuh waktu,” kata Juniac.

Sejauh ini sudah 16 negara anggota Uni Eropa yang mewakili 70% populasi Eropa mendukung permintaan tersebut. Alih-alih mengamandemen regulasi EU 261 yang bertujuan untuk memperjelas panduan, Komisi Eropa justu mengeluarkan rekomendasi yang tidak jelas. 

Sejujurnya, menurut Juniac tindakan ini tidak membantu sama sekali maskapai penerba gan dan konsumen. Keduanya butuh kejelasan. Permintaan ini bukanlah mudah bagi IATA. Setiap orang yang bepergian harus diperlakukan adil dan bayarlah apa yang menjadi hutang mereka. 

“Tetapi dengan menerapkan regulasi EU261 yang fleksibel, kami yakin dapat memfasilitasi dan menjaga agar sektor ini tetap hidup selama krisis,” tambah Juniac.

Jika perusahaan penerbangan kehabisan uang, keadaan akan makin buruk. Banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Situasi ini akan memberi dampak negatif pada seluruh mata rantai industri perjalanan dan wisata. Selama ini industri penerbangan mampu mendorong bisnis di sektor terkait lainnya, dan menghubungkan ekonomi. 

Menurut Juniac, memulai kembali aktivitas ekonomi dengan sektor transportasi udara yang terseok-seok ibarat sedang bertinju seumur hidup tapi dengan satu tangan terikat di belakang.

“Kami minta negara-negara anggota Uni Eropa (UE) untuk meyakini bahwa pendekatan yang harmonis lewat sistem reimbursements dan vouchers dapat dilaksanakan dengan baik. Hak penumpang tidak akan hilang, hanya perlu sejumlah penyesuaian,”kata Juniac.

Di Indonesia

Refund tiket menjadi isu hangat juga ditanah air begitu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi melarang mudik 2020 berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020.

Imbasnya, permintaan refund tinggi, tak terkecuali untuk tiket pesawat. Namun, bentuk refund tiket pesawat yang diberikan justru dikeluhkan calon penumpang. Mereka mengeluhkan, adanya kebijakan refund khusus tiket pesawat yang dikembalikan tidak dengan uang tunai, melainkan voucer.

Kebijakan refund berupa voucer ini juga ditanggapi oleh Asosiasi Travel Agent Indonesia ( Astindo) melalui Sekretaris Jenderal DPP, Pauline Suharno.

Ia meminta perhatian kepada seluruh maskapai agar refund tiket berbentuk dana yang ditransfer ke rekening customer atau travel agent.

“Bukan mengembalikannya dalam bentuk voucer ataupun deposit, karena dalam kondisi saat ini seluruh industri, khususnya dalam hal ini adalah travel agent pun sangat membutuhkan dana tunai,” kata Pauline melalui rilisnya bulan lalu.

Ia mengkhawatirkan, apabila dana refund konsumen dan top up deposit tidak dikembalikan kepada yang berhak yaitu konsumen dan travel agent, maka puluhan miliar rupiah uang milik konsumen dan travel agent dianggap bagian dari aset mereka.”Karena mengendap di rekening bank mereka,” tambahnya.

Pauline juga bertanya, apakah ada jaminan bagi pemegang voucher refund, maupun pengusaha travel agent, perihal uang tiket dikembalikan utuh..”Sangat disayangkan baik konsumen maupun travel agent menjadi yang paling dirugikan dalam hal ini, maskapai penerbangan beroperasi bermodalkan uang milik konsumen dan travel agent,” jelasnya.

Sebelumnya, Kemenhub RI mengatakan, masyarakat bisa melakukan refund tiket maskapai. Namun, pengembalian pembelian tiket tersebut tak bisa berbentuk uang tunai.

“Airlines tidak ada kewajiban kembalikan uang cash, tapi dalam voucer yang 100 persen sama nilainya dengan yang sudah dikeluarkan,” kata Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto saat teleconference dengan wartawan

Novie menjelaskan, aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 185 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Melalui aturan tersebut, lanjut Novie, maskapai wajib melayani penumpang yang akan refund tiket. Misalnya dengan penjadwalan ulang, atau mengganti rutenya pada kemudian harinya.

Pernyataan Novie pun lantas segera diterapkan sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia seperti Garuda Indonesia, AirAsia, Citilink, Lion Air, dan sejumlah maskapai lain yang akhirnya melakukan refund berupa voucher.

Contohnya, jika melihat situs resmi Garuda Indonesia, tertulis jelas kebijakan refund dilakukan dengan menggunakan Travel Voucher.

“Refund hanya dapat ditukarkan dengan travel voucher yang dapat digunakan untuk pembelian tiket Garuda Indonesia selanjutnya,” tulis laman resmi Garuda Indonesia.

 

Alasan Operasional, AirAsia Tunda Layanan ke Surabaya

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id: PERPANJANGAN masa pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah dan alasan operasional,  AirAsia Indonesia menyesuaikan pengoperasian penerbangan berjadwal rute internasional dan domestik secara bertahap, dan akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020 pada rute tertentu. 

Sementara penerbangan Kuala Lumpur-Surabaya dan Johor Bahru-Surabaya yang semula dijadwalkan beroperasi secara terbatas mulai 18 Mei 2020, ditunda. Pihak AirAsia, tidak merespon ketika dikonfirmasi bisniswisata.co.id dan tidak dijelaskan kendala operasional tersebut terkait dengan kasus enam penumpang dalam dua penerbangan AirAsia Kualalumpur- Tawau positip terpapar COVID-19.

Dikutip dari media online CNNT, petugas kesehatan daerah Tawau Dr Suzalinna Sulaiman memperingatkan penumpang yang menggunakan penerbangan AK5742 AirAsia pada 1 Mei dan AK5740 pada 4 Mei untuk segera menjalani pengujian COVID-19. Sekitar 400 penumpang AirAsia disarankan untuk menjalani tes Covid-19 setelah enam penumpang pada dua penerbangan dinyatakan positif. Dr Suzalinna mengatakan semua penumpang discreening pada saat kedatangan dan ditempatkan di karantina sesuai protokol saat ini.
“Namun, setelah enam dari mereka ditemukan positif, kami ingin semua penumpang menjalani tes kedua,” katanya.
Empat kasus positif ditemukan pada penerbangan pertama dan dua pada yang kedua.
“Orang-orang yang naik dua penerbangan yang dites positif tidak menunjukkan gejala,” kata dokter itu kepada wartawan.
Diperkirakan sumber infeksi berasal dari seorang warga yang tiba dalam penerbangan dari Kuala Lumpur. Dia mendesak semua penumpang untuk mematuhi jarak sosial yang ketat untuk melindungi anggota keluarga.
Calon penumpang terdampak penundan pembukaan rute penerbangan ke wilayah Jawa timur dan daerah lain di Indonesia, dihimbau untuk selalu memperhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan oleh otoritas wilayah atau pemerintah di wilayah/ negara asal maupun tujuan.

AirAsia telah menerapkan langkah-langkah kewaspadaan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan para tamu dan awak pesawat. Seluruh tamu diwajibkan menggunakan masker dari mulai proses check-in, masuk ke pesawat, selama penerbangan hingga pengambilan bagasi saat tiba di bandara tujuan. Tamu diharapkan membawa masker cadangan, cairan pembersih tangan, dan mengikuti ketentuan bagasi kabin AirAsia terbaru. Tamu diharapkan tiba 3 jam sebelum jadwal keberangkatan untuk menghindari kepadatan antrian sehubungan dengan pemeriksaan kesehatan di beberapa titik sebelum keberangkatan.