Raty Ning: Selalu Ada Peluang Untuk Bisnis MICE Daring

0
28

Ruang konferensi yang senyap ( Foto: unsplash.com)

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Pertemuan daring menjadi aktivitas yang kini dilakukan banyak orang baik secara individual, komunitas,  perusahaan, organisasi profesi maupun asosiasi di tengah pandemi global COVID-19 yang secara serentak menyebar ke seluruh benua.

            Raty Ning, Presdir Pacto Ltd

Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membawa perubahan dalam sektor Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition ( MICE)  memotivasi AIM Group International, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kongres, acara, dan komunikasi, menerbitkan hasil survei “Acara mensponsori selama  Crisis COVID-19″.

Survei ini dilakukan di antara 350 perwakilan perusahaan farmasi dan biomedis yang mencakup semua bidang pengobatan utama untuk lebih memahami jika sponsor tradisional konferensi seperti perusahaan farmasi dan biomedis tertarik pada acara digital dan bagaimana mereka akan berinvestasi.

Hasilnya 78% akan tertarik untuk mensponsori acara yang sepenuhnya virtual. Tapi sebagian besar sponsor perusahaan juga ingin melihat kembalinya acara tatap muka langsung di Musim Gugur.

Musim gugur di Eropa terjadi di bulan September, sampai ke akhir bulan November. Musim gugur di Benua Eropa adalah jenis musim peralihan dari musim panas ke musim dingin. Optimisme bahwa pandemi bisa berakhir sebelum akhir tahun rupanya cukup tinggi.

Bagaimana nasib bisnis MICE di Indonesia menghadapi pandemi yang belum terlihat  ujungnya ? Raty Ning, President Director PT Pacto Ltd mengatakan meskipun belum ada riset yang dilakukan terhadap klien perusahaannya, peluangnya pasti ada bahwa acara daring juga bisa menjaring sponsor.

“Peluang pasti ada, diharapkan meeting virtual dan traditional malah bisa melengkapi satu sama lain sehingga bisnis MICE tetap dapat terus berjalan,” ungkapnya, hari ini.

Pacto adalah perusahaan Profesional Conference Organizer ( PCO) dibalik kesuksesan Indonesia menggelar pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) 2018 dengan peserta tembus angka 36 ribu orang.

Dampak pandemi COVID-19 terhadap industri MICE, salah satunya PCO sangat signifikan/besar.  Dampak langsungnya adalah terjadinya penundaan dan pembatalan event, baik skala nasional maupun internasional.  

“Prediksinya, event nasional baru akan kembali digelar pada September tahun ini. Seperti halnya keyakinan rekan PCO di Eropa, kami juga optimistis jika telah memperoleh izin penyelenggaraan event oleh Pemerintah start September,” kata Raty Ning.

Kegiatan konfrensi oleh grup perusahan nasional diharapkan sudah mulai bergerak lagi. Sementara event internasional, khususnya asosiasi internasional diprediksi akan kembali  digelar pada kwartal kedua tahun 2021, tambahnya. 

Melihat fakta ini, maka PCO melakukan penghematan di berbagai sektor agar dapat survive. Dia mengakui perusahaan MICE yang termasuk pelopor bidang PCO di Indonesia adalah Pacto Convex dan Royalindo dan yang terbanyak  adalah perusahaan level  Event Organizer ( EO) yang menjadi bagian dari bisnis PCO.

Berbicara tentang jumlah event kedokteran yang diselenggarakan di Indonesia, rata-rata  jumlahnya lebih dari 200 event per tahunnya. Berdasarkan data dari IDI pada tahun 2017 tercatat 267 event, di 2018 ada 234 event dan pada tahun 2019 jumlahnya malah meningkat di angka 279 event.

“Rata-rata event kedokteran ini disupport oleh para mitra masing-masing asosiasi kedokteran, rumah sakit dan instansi terkait lainnya,” jelasnya.

Mitra yang dimaksud di sini bisa dari perusahaan farmasi, laboratorium, alat kesehatan. Namun untuk data event yang sifatnya di-organized sendiri oleh Mitra (perusahaan di bidang kesehatan), maka pihaknya tidak memiliki datanya. Karena data tersebut bersifat confidential dari setiap perusahaan

Klien korporat Pacto Convex cukup beragam dari berbagai sektor industri, diantaranya pertambangan, farmasi/health-care related product, product, asuransi, perbankan, telekomunikasi, konstruksi, airport management, port operator, dan lain-lain. 

Bisnis MICE termasuk industri padat karya karena setiap kali konferensi nasional maupun internasional berlangsung di Indonesia maka akan menyerap banyak tenaga kerja dan melibatkan banyak sektor.

Tamu peserta butuh hotel, makan, minum, kendaraan, penterjemah, pra dan post tour, hiburan, ruangan pertemuan membutuhkan dekorasi, pasokan food & beverage, tekhnisi, MC, atraksi seni dan  budaya dan beragam kebutuhan lainnya dimana kegiatannya bukan hanya sehari tapi bisa 7-8 hari.

Oleh karena itu saat bisnis ini menjadi tiarap akibat COVID-19, Raty bersikap realistis saja dan meminta para pelaku MICE untuk mempersiapkan New Normal dalam bisnis MICE mendatang.

” Saatnya kini untuk belajar bagaimana mengoptimalkan kemampuan kita dibidang tekhnologi digital untuk penyelenggaraan konferensi internasional, misalnya,” kata Raty.

Sebagai Ketua International Congress and Convention Association (ICCA) Indonesia, sejak awal pandemi bahkan negara belum mengumumkan warganya terpapar Corona, pihaknya memilih untuk mendorong pemerintah dalam meningkatkan kegiatan MICE.

” Pada 25 Februari 2020 di JIExpo Convention Centre & Theatre, kami menyelenggarakan ICCA Indonesia Forum 2020 untuk menginformasikan pada dunia sebagai negara yang aman untuk dikunjungi berlibur, bisnis maupun untuk melakukan MICE, tambah Raty.

Apalagi secara infrastruktur dan akses, Indonesia banyak memiliki beragam fasilitas untuk MICE di berbagai kota di Indonesia. Begitu pula ini merupakan industri yang paling cepat mendatangkan devisa, dikarenakan karakter turis MICE memiliki jumlah spending atau belanja yang jauh lebih besar ketimbang wisatawan leisure

” Kini setelah ada 17.025 kasus terpapar COVID -19 dan pemerintah disibukkan dengan penanganan pandemi dan mengatur negara, mari kita jangan banyak menuntut tapi sebaliknya bantu sebatas yang kita bisa,” ujarnya.

Data ICCA menunjukkan pada tahun 2018 Indonesia menduduki posisi ke-36 untuk Ranking Dunia Destinasi Pertemuan Asosiasi Internasional dengan total 122 pertemuan tingkat regional dan dunia.

Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan ke-11. Namun Indonesia masih berada di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. 

“Melihat data ICCA tahun 2018, kami melihat masih banyak peluang bagi Indonesia untuk mendatangkan pertemuan asosiasi internasional (association meeting) melalui bidding internasional. Kelar COVID-19, Insya Allah ICCA Indonesia tancap gas lagi,” kata Raty Ning optimistis.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.