Catatan 60 Hari dari Markas Gugus Tugas COVID-19

0
49
Jika tulisan ini berisi evaluasi kinerja Doni Monardo, jatuhnya akan menjadi  subjektif dan serius. Subjektif, karena saya menjadi bagian dari komando yang dia pimpin. Serius karena tulisan evaluatif harus melalui kegiatan setengah riset. Di samping, tidak pada tempatnya sebuah evaluasi diluncurkan di saat “pertempuran” tengah berlangsung.Jika tulisan ini berisi agenda selama dua bulan menjabat Ketua Gugus Tugas Covid-19, lantas apa bedanya dengan jadwal kegiatan rutin? Tinggal minta catatannya kepada Kolonel Budi Irawan, Koorspri Ka BNPB maka lengkaplah point-point kegiatan Doni Monardo dua bulan terakhir. Ada ratusan aktivitas yang tercatat secara detail.Menarik justru kalau kita melihat dari sisi terdekat. Dekat secara emosional, maupun dekat secara jarak.  Bukankah, itu yang ada dalam benak setiap orang jika melihat kiprah Doni Monardo? Kebetulan dalam banyak kegiatan, saya bagian sebagai pelaku sekaligus saksi mata.

“Tolong, pak Doni di-make-up dulu sebelum tampil di TV. Saya kasihan melihatnya. Wajahnya lelah, kecapean”. Itu salah satu pesan WhatsApp yang pernah saya terima.

Artinya, berada pada sentral perhatian bangsa sebagai Komandan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, memang setiap gerak, setiap penampilan, selalu menjadi sorotan.

Untuk kesehatan, tanpa bermaksud mengesampingkan perhatian masyarakat, tetapi Doni Monardo adalah seorang jenderal bintang tiga aktif. Pola hidupnya adalah pola hidup prajurit. Begitu teratur, sesibuk apa pun aktivitasnya.

Enam-puluh hari, telah ia lalui dengan tidur di kantor. Selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu ia dedikasikan segenap waktu, tenaga, dan pikiran untuk memerangi Covid-19. Setiap hari pula, tak kurang dari lima sampai delapan kegiatan dikerjakan. Mulai dari rapat terbatas secara virtual dengan Presiden Joko Widodo dan pejabat terkait lain, rapat internal, menerima para tamu, mengkoordinasikan program Gugus Tugas, tanda tangan surat dan, wow … membalas satu persatu pesan masuk di hapenya.

Itu artinya, praktis selama 60 hari, sebagian besar waktunya dihabiskan di kantor. Ia bekerja mulai jam berapa saja, dan selesai jam berapa saja. Dan jangan sekali-kali bertanya, “Sekarang hari apa ya?” Jangan. Sebab, itu pertanyaan khas milik Doni Monardo kepada orang-orang terdekatnya.

Lupa hari, bukan berarti lupa persoalan penting lain. Jika Anda kenal Doni Monardo, atau setidaknya kenal dengan orang yang dekat dengan Doni Monardo, tentu mahfum, bahwa ia termasuk pemilik daya ingat di atas rata-rata. Ia dianugerahi daya ingat yang luar biasa (tapi bukan untuk mengingat-ingat sekarang hari apa).

Contoh, tentang jumlah atau angka. Kebanyakan staf akan lupa atau hanya menduga-duga dan mengira-ira. Tapi Doni bisa menyebut dengan pasti, berapa jumlah (misal) APD yang dikirim ke Jawa Barat. Berapa luas lahan gambut yang terbakar tahun 2109. Berapa kg rendang yang dikirim dari Padang ke Palu untuk korban banjir bandang dan lainnya. Selain itu, ia ingat betul peristiwa-peristiwa penting, seperti misalnya tanggal berapa, bulan apa, dan di mana ia bertemu siapa dan membahas apa.

Begitulah, Doni Monardo selalu bekerja dan bekerja, dan hanya berhenti ketika rebah terlelap di tempat tidur. Jam istirahat Doni selama 60 hari terakhir, antara tiga sampai empat jam sehari. Betapa tidak. Pukul 00.00 tengah malam, terkadang ia masih bekerja. Bahkan, pukul 01.00 ia masih bergumam, “Waduh… masih ada ratusan WA yang belum terbaca  nih .”

Memasuki dan selama Ramadhan, kurang dari 4 jam kemudian dia sudah bangun untuk makan sahur. Nanti, selesai sholat shubuh  ia lanjutkan memejamkan mata barang satu-dua jam lagi.

Fokus di Kantor

Satu per satu agenda yang sudah tersusun pun ia jalani dengan semangat. Sebagian pekerjaan dilakukan di ruang lantai 10 Graha BNPB.

Nah ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Doni Monardo hampir tidak pernah duduk di kursi dan meja kerjanya. Hampir tidak pernah. Jadi, jangan pernah membayangkan Doni Monardo seperti seorang eksekutif yang duduk di kursi pimpinan, dengan meja kerja besar penuh dokumen di atasnya.

Termasuk jika harus menandatangai berkas atau dokumen penting. Tak jarang ia lakukan di atas meja di ruang staf. Bahkan, sering terlihat, ia menandatangani berkas di meja ruang tamu, bahkan di punggung ajudannya.

Dalam enam puluh hari kerja sebagai Kepala Gugus Tugas, hampir semua waktu ia habiskan di dalam kantor. Dari kantor pula ia mengendalikan semua pekerjaan. Dari kantor pula ia menerima semua laporan perkembangan yang terjadi di lapangan.

Sebagai perbandingan, selama 60 hari kerja, kurang dari 10 kali Doni meninggalkan Graha BNPB. Dua kali ke Istana Negara. Sekali ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dua kali ke RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekali ke Terminal Pulogebang, Jakarta Timur. Dan beberapa acara lain.

Nah, selama beraktivitas di lingkungan Graha BNPB, juga banyak catatan yang menarik. Jika dirunut tentu sangat panjang. Sekadar menyebut satu contoh, adalah saat suatu hari ia mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI-AD, lengkap dengan tiga bintang di pundak, serta berbagai brevet d dada kiri.

Hari itu, dan beberapa hari setelahnya, foto-foto dan berita-berita Doni Monardo mengenakan seragam militer (PDH) viral. Tidak sekadar viral, tapi juga disergai berbagai komen dari masyarakat luas sampai ke teman-teman terdekat.

Bahkan saat konferensi pers, para wartawan kelihatan sekali surprise melihat penampilan Doni yang biasanya mengenakan ham dan rompi BNPB, hari itu tampil dengan PDH perwira tinggi TNI-AD. Sejumlah wartawan (umumnya berusia muda), menampakkan ekspresi “melongo”, seolah baru sadar, bahwa Doni Monardo adalah militer aktif. Jenderal bintang tiga.

Suasana itu terbawa sampai ke akhir jumpa pers. Usai Doni Monardo mengakhiri keterangan, biasanya disusul dengan sesi tanya jawab. Nah, di sesi tanya jawab, terjadilah kejadian yang tidak biasa. Jika hari-hari biasa para wartawan beradu tunjuk jari, hari itu sepi. Nyaris tidak ada satu pun yang mengajukan pertanyaan.

Antara masih surprise dengan PDH yang dikenakan, atau segan bertanya, demi memandang tiga bintang di pundak Doni Monardo. Entahlah, yang jelas baju PDH Donj yang dikeluarkan dari lemari menjadi saksinya.

Berita “Miring”

Catatan lain, adalah hari-hari saat Doni Monardo cukup dibuat galau akibat berita media yang “miring”. Dalam 60 hari, setidaknya ada dua berita miring yang –diakui atau tidak—membuat Doni Monardo hari-hari itu agak “pelit senyum”.

Yang pertama, saat ia seperti “dibenturkan” dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Topiknya tentang pelonggaran izin operasional bagi transportasi umum. Atas kebijakan tersebut, statemen Doni yang kemudian viral dan dipotong lalu disebar-luarkan adalah pernyataan yang berbunyi, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tapi kebijakan pemerintahnya yang bisa membingungkan masyarakat.”

Doni gerah karena merasa bukan begitu kalimat yang ia maksud. Doni, atas berkembangnya berita yang menyorot kebijakan Menhub tadi mengatakan, “Kebijakan Menteri Perhubungan belum tentu salah, tetapi pemberitaannya yang membingungkan masyarakat.”

Bergantinya kata “pemberitaan” dengan “pemerintahan” tentu saja sebuah perbedaan yang sangat jauh. Oleh sebagian kalangan, pernyataan yang keliru tadi bahkan di-croping lalu di-share di berbagai platform medsos. Tak pelak, Doni pun seperti sedang dibenturkan dengan Menhub (pemerintah).

Memang, ada beberapa media yang tidak keliru dalam menulis pernyataannya. Persoalannya adalah, yang di-share dan diviralkan adalah pernyataan yang salah tulis. Jadi, meski sudah ada upaya untuk mengklarifikasi kepada media-media yang salah kutip, tetapi nyaris menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Selain karena jumlah media (online) yang sangat banyak, banyak pula di antara media tadi yang semata-mata mengejar klik bite. Caranya, dengan menampilkan berita-berita yang insinuatif, berita-berita dengan paradigma “bad news is a good news”. Dalam bahasa yang lain : New virus (covid 19) is no problem, News virus is big problem.

Masih ada satu berita lagi yang membuat perhatian Doni tersita untuk mengklarifikasi. Pernyataan yang ia ucapkan usai melakukan Rapat Terbatas dengan Presiden. Bahwa orang kelompok usia 45 tahun ke bawah dipersilakan bekerja.

Dikutip begitu saja, sehingga memicu kontroversi, terkhusus bagi pembaca berita online yang terbiasa hanya membaca judul saja dan langsung bikin kesimpulan. Mulai dari yang komentar nyinyir hingga yang bernada hujatan.

Tidak ada yang salah dengan statemen itu. Tidak ada media yang salah kutip. Yang menjadi masalah, karena media tidak menuliskannya secara lengkap. Bahwa, kelonggaran tadi diberikan tetap dalam konteks PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Sebab, kelonggaran bekerja kepada kelompok usia di bawah 45 tahun, memang dengan stressing atau penekanan pada kalimat “tetap mengacu pada ketentuan PSBB dan protokol kesehatan”.

Dengan dukungan data yang dihimpun Ketua Pakar Gugus Tugas, Prof Wiku Adisasmito, Doni Monardo mengimbau para pimpinan perusahaan atau instansi untuk memprioritaskan karyawan yang bekerja pada kelompok usia di bawah 45 tahun. Itu pun, harus karyawan yang tidak memiliki riwayat penyakit bawaan.

Adapun bidang yang diperbolehkan, sesuai Pasal 13 Permenkes No. 9/2020 tentang PSBB, adalah 11 bidang. Kesebelas bidang itu adalah tempat kerja yang memberikan pelayanan: 1). Hankam; 2). ketertiban umum; 3). Pangan; 4). BBM & Gas; 5). Pelayanan kesehatan; 6). Perekonomian; 7). Keuangan, 8). Komunikasi; 9). Industri; 10). Ekspor dan impor; 11). Distribusi logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Ihwal mengapa usia 45 tahun ke bawah yang diberi kelonggaran? Juga bukan tanpa alasan. Berdasar catatan Tim Prof Wiku, kelompok usia itu yang risiko kematiannya paling kecil (15%), meski risiko terpaparnya besar. Sedangkan, risiko kematian kelompok usia di atas 46 tahun, sebesar 85%. Semua data itu dihimpun sejak pemerintah memberlakukan Masa Darurat Kesehatan Maret lalu.

Lebih rinci data Tim Pakar Gugas menyebutkan, sebagian besar korban Covid-19 meninggal adalah pemilik penyakit bawaan ginjal, yakni mencapai 7 dari 10 pasien. Urutan kedua, yang berpenyakit jantung, 5 dari 10 pasien.

Hidup Sehat ala Doni

Bersyukur, melewati 60 hari bertugas sebagai Kepala Gugus Tugas, tidak ada tanda-tanda kendor sedikit pun dari sosok Doni Monardo. Dalam banyak kesempatan, ia mengatakan, sedikit saja pasukan melihat panglimanya kendor, maka mental prajurit di lapangan bisa terganggu.

Konsisten dengan jargon Pentahelix, ia menyelaraskan semua program tadi menjadi program kerja kolektif. Bencana, baik alam maupun non alam, adalah tanggung jawab bersama. Karenanya, penanganannya pun harus bersatu dan bersama-sama.

Pentahelix adalah model gotong royong yang sangat sesuai diterapkan di Indonesia. Termasuk ketika bangsa ini dilanda wabah seperti yang sedang kita alami. Keterlibatan pemerintah bersama unsur masyarakat/komunitas, pengusaha, akademisi, dan media menjadi modal utama melawan bencana.

Dalam bingkai itu pula Doni tidak pernah mengendorkan semangat melindungi masyarakat dari paparan corona. Prinsip Doni Monardo, yang sakit harus sembuh, yang sehat tetap sehat. Yang tak kalah pentingnya, warga tidak boleh terpapar virus dan juga terkapar akibat dampak PHK.

Ingin tahu bagaimana Doni Monardo menjalani resep hidup sehat? Ia punya semboyan “empat sehat lima sempurna”. Berbeda dengan pengertian umum, empat sehat lima sempurna jaman dulu.

Nah  Doni merumuskan empat sehat lima sempurna ini kaitannya dalam menghadapi wabah Covid-19.

Yang pertama, mengenakan masker. Kedua, menjaga jarak (social & physical distancing). Ketiga, rajin mencuci tangan dengan sabun. Keempat, olahraga dan tidur teratur dan tidak panik. Lima penyempurnanya adalah makanan yang bergizi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.