EVENT HALAL HILDA'S NOTE INTERNATIONAL REVIEW

Memaknai Kegiatan Buka Puasa Bersama ( Bukber)

Rumah pribadi, tempat Bukber penuh rasa syukur ( Foto: dok. Wiwiek)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Memaknai buka puasa bersama (bukber) dalam Islam bukan sekadar makan rame-rame setelah azan Maghrib. Ia memiliki nilai ibadah, ukhuwah, dan sosial yang dalam jika dijalankan dengan niat yang benar.

Dimensi Ibadahnya adalah rasa syukur & taat menjalani puasa dan dalam Islam, momen berbuka adalah waktu mustajab untuk berdoa, wujud syukur atas nikmat Allah dan tanda ketaatan.

Buka bersama bisa menjadi amal sedekah, sarana berbagi rejeki dan ladang pahala berlipat jika niatnya karena Allah. Maka buka puasa bersama bukan acara sosial biasa, tetapi ibadah kolektif.

Trend bukber di restoran di dalam Mall – mall maupun di berbagai restoran yang tersebar di segala penjuru kota tentunya bukan sekadar pertemuan tahunan yang penuh tawa dan hidangan, tapi juga untuk mensyukuri nilai pertemuan itu sendiri.

Memaknai setiap sosok yang hadir dimana semua anggota keluarga atau alumni teman semasa sekolah dan kuliah masih di kasih kesempatan hidup dan sehat oleh sang khalik. Namun dibalik pertemuan untuk bukber itu, sadarkah kita sebagai manusia adalah makhluk terpenting dari ciptaan Allah SWT ?.

Untuk itu perencana acara bukber memegang peranan penting dalam memilih tempat pertemuan dan memastikan logo halal di depan restoran bukan sekedar simbol sertifikasi halal sebagai peraturan baru yang ditetapkan pemerintah.

Menu yang bercampur antara halal dan haram boleh dilakukan asal pemilik usaha restoran memiliki komitmen jaminan halal dengan memiliki dua dapur berbeda. Hal ini mencegah kontaminasi mulai dari penggunaan alat hingga proses bahan baku hingga hasil berupa hidangan yang baik ( thoyib).

Pertanyaan berikutnya adalah apakah di tengah keramaian maka mereka yang hadir masih mampu memaknai momen sakral di antara langit dan bumi terutama detik-detik menjelang azan Maghrib, ketika rasa haus dan lapar mencapai puncaknya dan jiwa sedang berada pada titik paling jujur dan tidak ada kepura-puraan di sana.

Buka puasa di mall-mall atau restoran memang bukan tanpa resiko terutama dalam menunaikan ibadah seperti shalat magrib, shalat isya, taraweh. Penundaan-penundaan ibadah kerap dilakukan sampai ada keputusan “ibadahnya nantinya di rumah,”

Makna bukber itu bisa hilang jika buka bersama hanya menjadi ajang formalitas, sekadar agenda tahunan atau panggung pencitraan. Ia menjadi hampa ketika tawa lebih banyak daripada syukur, ketika foto lebih penting daripada doa, ketika ibadah wajib menanti tetapi hati kosong dari rasa bersyukur.

Tak heran banyak Muslim yang menyelenggarakan buka puasa di rumah-rumah dinas, hotel-hotel maupun rumah pribadi. Tempat-tempat seperti rumah pribadi masih memungkinkan untuk memaknai acara bukber itu dengan rasa syukur yang kental dan saat tegukan pertama berbuka yang ada hanyalah pengakuan akan kelemahan diri dan kebutuhan mutlak kepada Allah.

Di atas meja ketika telapak tangan menengadah ke atas itulah deep talk sejati kepada Allah. Sebuah percakapan sunyi yang tidak selalu terdengar oleh manusia lain. Kita mungkin duduk berdampingan dengan banyak orang, tetapi sesungguhnya hati sedang berbicara intim kepada Sang Pencipta. “Ya Allah, Engkau tahu lelahku. Engkau tahu harapanku.”

Buka puasa bersama mengajarkan bahwa Islam tidak pernah memisahkan ibadah dari kebersamaan. Lapar yang kita rasakan sepanjang hari bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk melahirkan empati.

Saat kurma dibagi, saat air diteguk bersama, ada pesan yang lebih dalam daripada sekadar mengisi perut, kita ini sama-sama hamba, sama-sama membutuhkan rahmat-Nya.

Saat ketika menunggu bunyi beduk bertalu di meja makan sekat status sosial melebur. Tidak ada jabatan, tidak ada gelar, tidak ada perbedaan latar belakang tapi yang ada hanyalah manusia yang menunggu azan, dengan doa yang mungkin berbeda-beda, tetapi dengan Tuhan yang sama.

Buka puasa bersama yang paling bermakna sering kali justru yang paling sederhana. Kurma dan air putih pun cukup, jika hati hadir sepenuhnya. Karena inti dari berbuka bukan pada hidangan, melainkan pada kesadaran: bahwa kita baru saja menyelesaikan satu hari perjuangan melawan diri sendiri.

Di situlah buka puasa bersama menjadi simbol perjalanan hidup. Kita menahan diri, lalu kita berbagi. Kita menahan ego, lalu kita membuka hati. Kita menahan lapar, lalu kita belajar bersyukur.

Maka setiap buka puasa bersama sesungguhnya adalah undangan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Undangan untuk melunakkan hati kepada sesama. Undangan untuk kembali menjadi manusia yang lebih lembut, lebih peduli, dan lebih sadar bahwa hidup ini bukan tentang memiliki, tetapi tentang berbagi.

Mungkin, di antara tegukan pertama dan senyum yang saling bertukar, Allah sedang menuliskan pahala yang tak terlihat, tetapi terasa hangat di dalam dada kita. Aamiin, terimasih Ya Rabb..

 

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)