HILDA'S NOTE KOMUNITAS

2026: Ketika Pariwisata Indonesia Harus Belajar Bernapas Lagi

“Industri yang sehat, lahir dari manusia yang utuh. Ketika pelakunya kehilangan tawa, fokus, dan damai, pariwisata berhenti menjadi pengalaman—dan berubah menjadi sekadar transaksi.”

The energy for 2026 is fun, focus, and peaceMENJELANG pergantian tahun, sebuah kutipan visual sederhana beredar luas di media sosial: “The energy for 2026 is fun, focus, and peace.”

Bagi sebagian orang, kalimat ini “mungkin” seperti afirmasi ringan, kalimat yang pantas ditempel di meja kerja atau dijadikan wallpaper ponsel.

Bagi saya, —yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidup di industri pariwisata dan perhotelan, dari ruang rapat pemilik modal hingga lorong back of the house hotel—kalimat ini terasa jauh lebih dalam. Ia bukan dekorasi. Ia diagnosis.

Diagnosis atas industri yang sedang kehabisan napas.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apa relevansi “fun, focus, peace” dengan arah pariwisata Indonesia ke depan? Dan lebih jauh lagi, bagaimana tiga kata ini berkelindan dengan Sapta Pesona —Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan— yang selama puluhan tahun menjadi fondasi moral pariwisata kita?

Jawabannya tidak sesederhana jargon. Tetapi justru di situlah urgensinya.

2025: Tahun Ketahanan yang Melelahkan

Tahun 2025 adalah tahun bertahan hidup. Bukan hanya bagi pelaku usaha kecil, tetapi juga bagi hotel besar, destinasi mapan, bahkan brand yang selama ini dianggap “kebal krisis”.

Kita menyaksikan tekanan yang datang dari berbagai arah:

  • ketidakpastian regulasi, khususnya terkait STR (Short-Term Rental),
  • kompetisi platform digital yang bergerak jauh lebih cepat dari adaptasi kebijakan,
  • perubahan perilaku wisatawan yang semakin sensitif terhadap harga namun menuntut pengalaman personal,
  • burnout SDM hospitality yang tidak lagi bisa ditutup dengan narasi “ini memang industri jasa”,
  • serta kondisi kahar dan bencana alam yang memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi destinasi jika tidak dikelola secara berkelanjutan.

Industri ini bertahan. Tetapi banyak manusianya lelah. Dan industri yang bertahan tanpa merawat manusianya, sedang menabung krisis lebih dalam.

Karena itu, 2026 tidak cukup dijawab dengan target kunjungan, angka okupansi, atau grafik pertumbuhan.2026 menuntut pemulihan jiwa industri.

FUN: Ketika Industri Lupa Caranya Merasa Bahagia

Salah satu kalimat dalam visual tersebut berbunyi: Spend time with people who make you feel seen.”

Di industri hospitality, kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat subversif.

Berapa banyak karyawan hotel yang bekerja dalam sistem yang menuntut senyum, tetapi tidak pernah benar-benar “melihat“ mereka sebagai manusia? Berapa banyak frontliner yang dituntut ramah, namun tidak pernah ditanya apakah mereka baik-baik saja?

Di titik inilah “fun” kehilangan maknanya.

Fun bukan soal hiburan. Fun adalah indikator kesehatan emosional ekosistem kerja.

Ketika tawa menghilang dari ruang kerja, ketika interaksi berubah menjadi sekadar SOP, ketika keramahan diproduksi secara mekanis, di situlah hospitality kehilangan ruhnya.

Gejala ini nyata dan terukur:

  • meningkatnya kelelahan emosional frontliner,
  • turnover yang tak lagi bisa disebut “lumrah industri”,
  • absennya ruang dialog yang aman antara manajemen dan tim operasional,
  • target yang terus dinaikkan tanpa diimbangi pemulihan psikologis.

Industri yang lelah tidak mampu menciptakan pengalaman yang segar. Dan tamu —secepat apa pun promosi digital— selalu bisa merasakan perbedaan antara keramahan yang hidup dan keramahan “dipaksakan”.

Jika Sapta Pesona berbicara tentang Ramah dan Kenangan, maka fun adalah prasyaratnya.

FOCUS: Menentukan Arah di Tengah Kebisingan

Pesan berikutnya dalam visual itu berbunyi: Say no to pointless meetings. Save your energy for your highest goals.”

Ini bukan sekadar nasihat produktivitas. Ini kritik struktural.

Pariwisata Indonesia sering kali terlihat sibuk—tetapi tidak selalu bergerak.
Rapat panjang tanpa keputusan. Program besar tanpa evaluasi. Kebijakan yang berubah cepat tanpa transisi yang manusiawi.

Kita perlu keberanian untuk bertanya: apa yang benar-benar penting untuk difokuskan di 2026?

Setidaknya ada empat fokus krusial:

  1. Harmonisasi STR dan Hotel

STR bukan musuh. Mereka realitas. Yang dibutuhkan adalah level playing field: pajak setara, standar keamanan, dan perlindungan wisatawan.

Tanpa keadilan regulasi, konflik akan terus berulang dan kepercayaan pasar akan terkikis.

  1. Kualitas Pengalaman, Bukan Sekadar Jumlah

Mengejar volume tanpa kualitas adalah strategi jangka pendek. Pariwisata berkelanjutan dibangun dari pengalaman yang bermakna, bukan statistik kedatangan.

  1. SDM sebagai Aset Utama

SDM bukan biaya. Mereka core asset. Hotel masa depan tidak dibedakan oleh bangunan, tetapi oleh manusia yang menghidupinya.

  1. Digitalisasi Integratif

Digital adalah akselerator, bukan pengganti hospitality. Tanpa fokus pada kualitas layanan, digitalisasi hanya melahirkan kebisingan promosi —tanpa kedalaman pengalaman—.

PEACE: Infrastruktur Emosional yang Terlupakan

Bagian visual yang paling jujur bagi saya adalah: “Let yourself breathe deeply.”

Industri ini jarang memberi ruang bernapas.

Tekanan datang dari segala arah: tamu, pemilik modal, media sosial, regulator. Namun tekanan paling berbahaya adalah tekanan yang tidak terlihat —dipendam oleh manusia di dalam sistem—.

Ketika frontliner menangis setelah shift panjang, itu bukan drama personal. Itu kegagalan sistem.
Ketika GM hidup dalam kecemasan target, itu bukan kelemahan individu. Itu sinyal ketidakseimbangan manajemen. Ketika destinasi dieksploitasi berlebihan, masyarakat lokal yang membayar harganya.

Karena itu, peace bukan afirmasi kosong. Ia adalah infrastruktur emosional industri pariwisata masa depan.

Tanpa peace, semua SOP hanya akan terasa dingin. Tanpa kesehatan mental, keramahan kehilangan kehangatannya.

Arah Kebijakan: Stabilitas, Keadilan, Ketegasan

Jika 2026 ingin menjadi titik balik, maka kebijakan harus berhenti reaktif. Yang dibutuhkan: regulasi STR yang konsisten dan adil, insentif nyata untuk peningkatan kualitas SDM, kolaborasi pemerintah–industri–komunitas yang setara, standar kebersihan dan keamanan destinasi yang seragam, penguatan UMKM lokal dalam rantai nilai pariwisata, digitalisasi untuk transparansi, bukan sekadar promosi.

Pariwisata bukan hanya mesin ekonomi. Ia adalah moral economy —tempat angka dan manusia harus seimbang—.

2026: Tahun Menemukan Nafas

Jika harus dirangkum dalam satu kalimat:

2026 adalah tahun ketika pariwisata Indonesia harus kembali menjadi industri yang membuat manusianya hidup —bukan menguras hidupnya.

Fun untuk memberi napas. Focus untuk memberi arah. Peace untuk memberi makna.

Ketiganya bukan konsep spiritual. Ketiganya adalah strategi masa depan.

Dan bila kita berani menjalankannya, industri ini bukan hanya pulih—tetapi tumbuh menjadi lebih manusiawi, lebih bermartabat, dan lebih berkelanjutan dari sebelumnya. *

Malang, 30 Desember 2025
Jeffrey Wibisono V.
Konsultan Industri Perhotelan dan Pariwisata

Dwi Yani

Representatif Bali- Nusra Jln G Talang I, No 31B, Buana Indah Padangsambian, Denpasar, Bali Tlp. +628100426003/WA +628123948305 *Omnia tempus habent.*