Petugas terlihat mencoba mengevakuasi korban reruntuhan di Tel Aviv, Israel pascaserangan balasan Iran. (Foto: Tasnim News).
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masih ingat ucapan Presiden Prabowo Subianto di sebuah panggung internasional yang mengingatkan seluruh dunia bahwa mau agamanya apa, maka semua umat manusia di dunia itu adalah One Human Family, kita semua keluarga besar, bersaudara bro, manusia ciptaan tuhan !.
Tiba-tiba supir ojol melambatkan deru mesin motornya di tengah kemacetan saat adzan isya di jalan Fatmawati Raya, Jakarta dan dengan suara keras bertanya. “ Bunda nggak ikutan panic buying, nimbun bahan makanan di rumah. Sudah pecah perang dunia ke tiga nih di belahan dunia sono ‘,” ucapnya jelas terdengar.
Kami berdua langsung tergelak, tawanya makin keras saat saya mengatakan mau borong uangnya dari mana? wong uang pensiun juga belum diambil dan belum ada kenaikan apa-apa. Buat apa panik, Gen Z Indonesia malah menanggapi perang Iran VS Amrik dan Israel dengan mengeluarkan meme yang lucu-lucu di aplikasi digital.
Kelebihan supir ojek online ( Ojol) di Indonesia memang tidak tertandingi bahkan banyak yang sarjana sehingga baik supir dan penumpang topik bahasannya bisa nyambung layaknya ibu dan anak yang ngobrol usai buka puasa bersama.
Sepanjang perjalanan ke kawasan dekat rumahnya Sultan Andara, kami berdua juga menyoroti popularitas Indonesia di media sosial global yang sedang naik daun. Terutama fenomena seperti lagu-lagu Nasyid RI yang diputar di mesjid di China, Taiwan dan negara lainnya.
Lagu-lagu daerah seperti Tabolabale sudah lama viral dan mendunia, belum lagi gerakan Jumat Berkah, gotong royong bangun mesjid di mancanegara, gerakan dakwah digital hingga kiprah positif diaspora promosikan budaya RI di luar negeri.
Temanku di Swedia, wartawan senior Nina Mussolini Hanson yang dikenal sebagai bundanya para mahasiswa Indonesia di Swedia punya Organisasi Swedish-Indonesia Bagus, kumpulan diaspora Indonesia dan Swedia. Dia kerap mempromosikan budaya Indonesia secara mandiri dan ikut festival seperti tampilkan sepasang ondel-ondel dalam pawai Landskrona Karnevalen di Swedia maupun di negara tetangga di sana.
Puluhan kali membuat acara menonjolkan pakaian pengantin Minang, lalu mengusung tema Betawi dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, namun kiprahnya belum pernah dilirik apalagi dibantu pemerintah via Kemenpar.
Diaspora dan popularitas serta diplomasi seorang presiden Prabowo Subianto bisa membantu meningkatkan panggung global Indonesia. Tapi tak terbantahkan peran media sosial global dari YouTube, TikTok, X, Facebook, Instagramlah yang membuat Indonesia kini lebih sering dibicarakan di media internasional.
Kembali soal himbauan Presiden Prabowo agar warga dunia menjadi One Human Family maka inilah saat yang tepat karena Iran baru saja menghantam Tel Aviv, ibukota Israel dengan sekitar 700 rudal hibrida yang meluluh lantakannya hingga puing-puing berserakan.
Karma yang belum apa-apa ketimbang kota Gaza, Palestina yang bertahun-tahun di kuasai dan nyaris seluruh kotanya diratakan dengan tanah oleh kekejaman Israel. Sekarang TV internasional menayangkan nyungsepnya semua bangunan fisik dan mental warga Israel.
Ingatan saya kembali pada Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia tahun 2024, sebuah kunjungan kenegaraan dan pastoral yang dibuat oleh Paus Fransiskus, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dan kepala negara Vatikan.
Mesranya gestur tubuh ketika tangan imam mesjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang kini menjadi Menteri Agama RI dicium oleh Pastur Fransiskus yang duduk di kursi roda sangat mengharukan dan menyejukkan karena membawa pesan global mau agama apapun kita semua keluarga, Rukunlah !
Pemandangan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo di panggung internasional bahwa Indonesia contoh toleransi yang kuat dimana orang Arab, Yahudi, Muslim, Kristen, Budha-Hindu hidup berdampingan dengan damai.
Saat itu media internasional juga meliput khusus Istiqlal sebagai mesjid terbesar di Asia Tenggara bahkan lokasinya berhadapan dengan Gereja Katedral berusia ratusan tahun dan ada terowongan khusus untuk saling mengunjungi.
Kepemimpinan nasional dan soft power
Prabowo Subianto yang dikenal memiliki gaya diplomasi aktif dan percaya diri di forum internasional seharusnya bisa mencegah pecahnya perang dunia ke tiga ini.
Kehadiran Prabowo yang membawa narasi Indonesia sebagai negara Muslim moderat
mempromosikan budaya dan kemanusiaan
maka perhatian dunia terhadap Indonesia kontan meningkat. Namun yang penting diingat pemimpin membuka pintu, tetapi rakyat dan budaya yang mengisi panggungnya.
Faktor demografi dengan generasi Muslim Muda Indonesia yang memiliki karakter
religius tetapi modern, aktif di media sosial
kreatif dalam dakwah digital, terbuka terhadap dunia global juga sudah terbukti tidak bisa dipandang sebelah mata.
Terutama kasus rasisme netizen Korea (Knetz) di dunia maya dengan netizen Indonesia di dukung bangsa Asean lainnya ( Seablings) yang dalam sekejab menghancurkan industri hiburan Korea yang bukan perang senjata tapi perang kata.
Inilah sebabnya banyak konten Islam dari Indonesia sekarang viral di dunia digital.
Fenomena ini sering disebut para peneliti sebagai digital Islam Indonesia. Gerakan sedekah, dakwah damai, budaya gotong royong hingga kegiatan Jumat Berkah yang menular ke AS, Jepang, Eropa.
Dalam refleksi spiritual, saya melihatnya ini sebagai tanda bahwa ketika sebuah bangsa masih menjaga nilai rahmah (kasih sayang), Allah sering mengangkat bangsa itu menjadi contoh bagi yang lain. Bukan karena kekuatan militernya, tetapi karena akhlaknya.
Bukan tidak mungkin ke depan Indonesia berpotensi menjadi pusat peradaban Islam masa depan.
Jika kita benar-benar menyadari bahwa bumi ini hanya satu rumah, maka perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk bermusuhan, tetapi justru alasan untuk saling menjaga. Bagaimana ? setuju ?









