Wouw Keren, Gunung Lawu Bertopi Awan

this formate

MAGETAN, bisniswisata.co.id: Ada pemandangan cantik, menarik bahkan indah di Gunung Lawu. Gunung yang berada di Magetan Jawa Timur kembali mengenakan topi awan. Pemandangan langka ini menjadi perhatian bagi warga Kabupaten Magetan dan sekitarnya. Memang, gunung bertopi awan bukanlah fenomena baru. Hal seperti ini cukup sering terjadi dan pernah terlihat di gunung Semeru, Merapu, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan pada Juli lalu di Rinjani.

Lasmoro warga KPR Terung Permai Magetan mengatakan, menyaksikan fenomena alam tersebut sejak pukul 05.00 WIB saat berolah raga. “Sejak pukul setengah enam saya lihat tadi Gunung Lawu bertopi. Bagus sekali, enggak biasanya,” papar Lasmoro seperti dilansir laman Kompas, Kamis (3/10/2019).

Dilanjutkan, bentuk sempurna kumpulan awan putih di atas Gunung Lawu yang membentuk topi tersebut terjadi pukul 05.30 WIB di mana matahari mulai muncul. Embusan angin membuat awan yang membentuk topi memudar sekitar pukul 06.00 WIB. “Paling bagus tadi sekitar pukul 05.30 WIB. Awannya putih bentuknya sempurna seperti topi, Pukul 06.00 WIB ini sudah mulai memudar diterpa angin awannya,” tambahnya.

Menyaksikan pemandangan indah ini, paling tepat di lokasi persawahan di Desa Widorokandang. Di lokasi ini, gunung Lawu terlihat tampak penuh dari kaki gunung hingga puncak Lawu. Pemandangan menakjubkan yang terekam adalah pada pukul 05.20 WIB di mana saat matahari muncul membuat topi awan di puncak Gunugn Lawu menjadi gradasi merah.

Apalagi, saat fenomena alam topi awan tersebut tidak ada mendung sedikit pun yang menghalangi pemandangan. Fenomena Gunung Lawu bertopi awan juga pernah terjadi pada 8 Maret 2019 lalu. Sebelumnya, pada 10 Desember 2019, puncak Gunung Semeru atau yang dikenal dengan sebutan Mahameru, Jawa Timur, mengalami fenomena yang tidak biasa.

Puncak “para dewa” itu tertutup awan yang melingkar sehingga membuatnya seperti bertopi. Saat itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, fenomena itu terjadi lantaran tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis. Awan tersebut terbentuk karena pusaran angin di puncak.

Dalam dunia astronomi, topi awan disebut sebagai awan lentikular. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin pernah menjelaskan kepada Kompas.com, awan lentikular memiliki bentuk menyerupai lensa. Awan lentikular yang menutupi puncak gunung muncul sebagai akibat dari aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran. “Itu sering terjadi di puncak gunung,” ujar Thomas saat itu.

Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia mengatakan, awan lentikular memiliki sifat statis alias tidak bergerak, atau selalu menetap di satu tempat. “Awan ini terbentuk saat aliran udara lembab menubruk suatu penghalang besar, sehingga membentuk putaran stasioner,” kata Marufin.

Saat putaran stasioner terjadi, awan lentikular dapat bertahan di atas puncak gunung selama beberapa jam hingga berhari-hari. “Meski indah, topi awan berbahaya. Jadi Awan lentikular seperti yang nampak dalam foto memang indah dan memukai, tapi jangan salah, awan jenis ini justru berbahaya. Awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin laksana badai di sana,” ungkap Marufin.

Hal ini pun memiliki dampak bagi pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya. Bagi wisatawan pendaki gunung, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan momok hipotermia. Sedang untuk pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga bisa kehilangan altitudenya dengan cepat. (ndy)

Tingkat Hunian Hotel di Jakarta Menyedihkan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tingkat hunian hotel di Ibukota Jakarta sepanjang Agustus 2019, kondisinya sangat menyedihkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jakarta selama Agustus 2019 menunjukkan penurunan. TPK adalah persentase banyaknya malam kamar yang terjual terhadap banyaknya malam kamar yang tersedia pada hotel berbintang.

“TPK hotel berbintang di DKI Jakarta Agustus 2019 mencapai 58,11% mengalami penurunan sebesar 6,04 poin dari TPK Juli 2019 yang mencapai 64,15% . Demikian pula jika dibandingkan dengan TPK Agustus 2018 sebesar 74,12%, TPK Agustus 2019 juga mengalami penurunan sebesar 16,01 poin,” demikian laman BPS DKI melaporkan secara resmi, Kamis (3/10/2019).

Agustus 2019, jika diamati menurut klasifikasi hotel berbintang, TPK hotel bintang dua merupakan yang tertinggi, yaitu mencapai 66,42%, sedangkan yang terendah adalah TPK hotel bintang lima yang hanya mencapai 51,35%.

Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu yaitu tamu asing dan tamu Indonesia pada hotel berbintang di Agustus 2019 adalah selama 1,98 hari. Terjadi penurunan sebesar 0,02 hari jika dibandingkan dengan rata-rata lama menginap bulan Juli 2019 yang sebesar 2 hari.

Di sisi lain, rasio tamu asing terhadap tamu Indonesia untuk hotel berbintang pada Agustus 2019 sebesar 0,17 atau mengalami peningkatan 0,02% dibandingkan dengan rasio bulan Juli 2019 sebesar 0,15. Namun, jika dibandingkan dengan rasio Agustus 2018, rasio tamu Asing terhadap tamu Indonesia Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 0,02%.

Sementara catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat menyebutkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai rata rata 54,14% atau turun 5,87 poin dibandingkan TPK Agustus 2018. Begitu pula jika dibanding dengan TPK Juli 2019 yang tercatat 56,73%, TPK Agustus 2019 turun sebesar 2,59 poin.

TPK tertinggi tercatat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 67,98%, diikuti Provinsi Bali sebesar 67,1%, dan Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 62,69%. Sedangkan TPK terendah tercatat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sebesar 34,13%.

Penurunan TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2019 dibanding Agustus 2018 tercatat di sebagian besar provinsi. Provinsi dengan penurunan tertinggi terjadi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 16,01 poin, diikuti Provinsi Kalimantan Selatan 14,08 poin, dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 11,14 poin. Sedangkan penurunan terendah tercatat di Provinsi Papua, yaitu sebesar 0,10 poin.

Kenaikan TPK hotel klasifikasi bintang terjadi di sembilan provinsi, dengan kenaikan paling besar terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 23,94 poin, dan kenaikan paling kecil terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,22 poin.

Jika dibandingkan dengan TPK Juli 2019, terjadi penurunan di sebagian besar provinsi, dengan penurunan tertinggi tercatat di Provinsi DI Yogyakarta, yaitu sebesar 8,86 poin, diikuti Provinsi Aceh 6,78 poin, dan Provinsi Kalimantan Selatan 6,32 poin. Sedangkan penurunan terendah tercatat di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu sebesar 0,10 poin.

Bila dilihat menurut klasifikasi hotel, TPK tertinggi pada Agustus 2019 tercatat pada hotel bintang 4 yang mencapai 58,88%. Sedangkan TPK terendah tercatat pada hotel bintang 1 yang hanya mencapai 37,03%. Penurunan TPK hotel berbanding lurus dengan rata rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang di Indonesia. Rata-rata lama menginap tamu asing pada Agustus 2019 mencapai 1,84 hari atau turun 0,1 poin jika dibanding rata-rata lama menginap pada Agustus 2018.

Sementara, jika dibandingkan dengan Juli 2019, rata-rata lama menginap pada Agustus 2019 naik sebesar 0,04 poin. Secara umum, rata rata lama menginap tamu asing Agustus 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan rata rata lama menginap tamu Indonesia, yaitu masing-masing 2,71 hari dan 1,68 hari.

Jika dirinci menurut provinsi, rata-rata lama menginap tamu yang terlama pada Agustus 2019 tercatat di Provinsi Aceh, yaitu 2,89 hari, diikuti Provinsi Bali 2,83 hari, dan Provinsi Papua Barat sebesar 2,61 hari, sedangkan rata-rata lama menginap tamu yang terpendek terjadi di Provinsi Banten sebesar 1,15 hari.

Untuk tamu asing, rata-rata lama menginap paling lama tercatat di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu sebesar 6,88 hari, sedangkan terpendek terjadi di Provinsi Banten, yaitu 1,13 hari. Sementara rata rata lama menginap terlama untuk tamu Indonesia tercatat di Provinsi Aceh sebesar 2,92 hari, sedangkan terpendek terjadi di Provinsi Banten dan Kalimantan Utara sebesar 1,16 hari. (ndy)

Indesso, Integrasikan 3 Pilar Jaga Sustainability Industri Atsiri

this formate

BALI, bisniswisata.co.id,-  BERBEKAL pengalaman lebih dari 50 tahun di industri minyak atsiri, Indesso berkomitmen dalam penyediaan bahan baku berbasis alam yang berkualitas untuk industri fragrans, perisa, dan makanan. Oleh karena itu, Indesso mendedikasikan 15% dari 600 karyawannya untuk mengembangkan riset, inovasi, aplikasi produk, dan kualitas produk yang difasilitasi R & D Center. Melalui riset, Indesso menghadirkan inovasi produk, menjaga aspek keberlanjutan (sustainability) budidaya bahan baku dan produksi atsiri beserta produk turunannya.

“Di samping aspek keberlanjutan, riset dan inovasi merupakan landasan utama Indesso dalam menjalankan bisnis. Kami tidak berbisnis hanya untuk keuntungan semata. Tapi lingkungan pun harus dipelihara. Karena itu, kami integrasikan 3P pilar; people, partnership, dan planet sebagai pijakan aspek keberlanjutan bisnis,” ujar Robby Gunawan, Presiden Direktur Indesso di sela acara IFEAT 2019.

Indesso, produsen bahan baku aromatik terkemuka Indonesia sebagai sponsor Platinum dalam Konferensi International Federation of Essential Oils and Aroma Trades (IFEAT) 2019 di Nusa Dua Bali pada 29 September – 3 Oktober 2019. Dalam IFEAT 2019 ini, Indesso menawarkan beragam produk yang bisa dicoba masyarakat dalam ajang konferensi global terbesar industri bahan baku perisa dan fragrans di dunia.

Selain itu, Indesso memberi perhatian pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitar area pabrik dan area sumber bahan baku (di perkebunan atau penyulingan). Tahun 2018 lalu, Indesso pun mendonasikan puluhan mesin jahit dan pelatihan menjahit tas untuk kaum ibu di area sekitar pabrik, di samping mendirikan “Museum Atsiri” sebagai sarana informasi dan pengetahuan dalam memproduksi bahan baku aromatik, minyak atsiri, dan ekstrak kepada masyarakat. Fasilitas ini, termasuk kebun aromatik, dan prototipe penyulingan tradisional sebagai pusat pembelajaran.

 Seperti diketahui, Indesso saat ini memiliki tiga jenis produk utama, yaitu aromatic chemical dan essential oils, natural extracts, dan savoury products. Bahan-bahan baku seperti minyak nilam yang dapat diaplikasikan ke dalam pembuatan parfum. Karena itu, pengadaan sumber bahan baku Indesso dapat ditelusuri melalui model kemitraan yang transparan, dari hulu hingga hilir.

Green dan Memberdayakan

 “Kami pun menjalankan bisnis dengan prinsip kemitraan yang sinergis. Selain untuk memberdayakan, masyarakat dapat ikut bekerjasama dalam pengembangan produk. Indesso membuka peluang kepada para klien untuk ikut berpartisipasi dalam program keberlanjutan sumber daya,” kata Paul S. Gunawan, Direktur Sales dan Marketing untuk Aroma Ingredients.

Indesso tercatat sebagai perusahaan pertama dalam industri bahan baku aromatik dan makanan yang memasang panel surya dalam skala besar dan mengintegrasikannya dengan aliran listrik yang disuplai PLN. Panel surya ini telah menghasilkan energi bersih sebesar 882.123 kWh (per 24 September 2019) sejak pertama kali dipasang pada Maret 2018. Karena itu, Indesso secara aktif bertekad mengurangi carbon footprint pada aktivitas produksinya.

Dalam hal pengelolaan limbah, Indesso berkomitmen meminimalisasi dampak limbah, bila perlu didaur ulang. Seperti pengolahan limbah dalam produksi eugenol dari minyak cengkeh yang kini menghasilkan zero waste karena seluruh bahan yang digunakan dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Lebih lagi, Indesso pun mendaur ulang ampas dalam produksi ekstrak teh menjadi kompos alami yang kemudian didonasikan kepada para petani. (Dwi/redaksi@bisniswisata.co.id)

Menpar: Media Value Efektif Promosikan Pariwisata Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya prihatin dengan kondisi Travel Information Centre (TIC) di sejumlah bandara di Indonesia. Keprihatinan itu bersumber dari minimnya wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman) yang datang ke pusat informasi pariwisata. Lebih memprihatinkan lagi hampir tidak ada orang yang datang.

“Saya kerap bertanya kepada setiap pejabat di lingkungan Kementrian Pariwisata TIC itu dibutuhkan atau tidak?. Dan tidak ada yang mau menjawab. Memang dulu sangat dibutuhkan dan diharapkan, namun sekarang ternyata tidak ada wisatawan yang datang. Berarti tidak dibutuhkan,” papar Menpar Arief Yahya acara Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta, Rabu (2/10).

Namun demikian, lanjut dia, ke depannya TIC harus ada perubahan total dengan memasang Videotron, TV billboard, TV Screen atau Liquid Crystal Display (LCD) di setiap bandara sehingga memudahkan wisatawan untuk melihat video tentang pariwisata Indonesia. “Sekarang kan eranya serba praktis. Apalagi turis milenial, yang jarang bertanya namun apa yang dilihat langsung dipahami. Nah kita harus mengikuti perubahan itu,” tambahnya.

Disisi lain, keberadaan Videotron maupun LCD itu media value yang sangat efektif mempromosikan pariwisata Indonesia. Juga melalui Videotron maupun LCD para pemasang iklan juga tertarik untuk memasang iklannya. “Nah kalau cuma TIC mana ada yang mau pasang iklan,” lontarnya.

Dilanjutkan, tahun 2021, Indonesia menyelenggaran event sport tourism yang sangat akbar, balap motor MotoGP 2021 yang berlangsung di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemenpar sangat mendukung sekelai event balap motor MotoGP 2021 ini, karena memiliki media value yang sangat besar. Ditargetkan akan dihadiri 100.000 wisatawan asing yang gemar MotoGP.

Jika dihitung secara matematika kehadiran 100.000 orang akan ada pemasukan 100 Juta dolar AS atau sekitar Rp 1 triliun, dengan asumsi pengeluaran wisaman 1,000 dollar AS. ” Pemasukkan itu cuma dari wisatawan yang datang. Belum termasuk pemasukan dari siaran TV oleh 26 broadcaster ke 200 negara. Jadi media valeunya bisa dua kali lipat. Kemenpar tahu media valuenya tinggi. Dari anggaran yang dikeluarkan untuk penyelenggaran Mot GP sebesar 1 juta Euro, media value yang dihasilkan sebesar Rp2 triliun,” ungkap Manpar.

Terkait dengan Media Value, Menpar menilai penyelenggaraan Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) memiliki media value yang tinggi sehingga dinilai efektif untuk mempromosikan kebijakan strategis Kementerian Pariwsata (Kemenpar) dan destinasi wisata di Tanah Air. Karenanya, pihaknya tak segan meningkatkan anggaran untuk hadiah yang diberikan.

Tahun 2017 hadiah yang diberikan Rp200 juta, tahun 2018 naik menjadi Rp300 juta, dan 2019 meningkat signifikan menjadi Rp500 juta. “Hadiahnya relatif besar. Tapi Media Value APWI 2019 bisa mencapai Rp15 miliar. Jauh lebih tinggi dari anggaran yang kami berikan. Ilmunya media valuenya tinggi, dan eskposurenya besar sehingga sangat membantu promosi sesuai tema yang ditetapkan, dan tahun depan kami akan naikkan menjadi Rp1 miliar dengan tema Tourism 4.0,” kata Menpar.

Sekretaris Kementerian Pariwisata, Kurleni Ukar menambahkan, pemberian penghargaan APWI 2019 merupakan bentuk apresiasi Kemenpar kepada para pewarta pariwisata atas karya tulisan dan tayangan televisi terbaik mereka seputar Millennial Tourism sebagaimana tema utama dan Destinasi Super Prioritas yang mendapat perhatian khusus pemerintah.

Dengan tema wisata milenial, pihaknya berharap kinerja sektor pariwisata Indonesia semakin baik termasuk dalam upaya memenuhi target kunjungan 18,5 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini, di mana lebih dari 50 persen datang dari kalangan kaum milenial.

Lomba APWI 2019 diadakan dengan dua tema besar, yaitu Millennial Tourism dan 5 Destinasi Super Prioritas. Kompetisi diikuti peserta masing-masing kategori yaitu Majalah 28 karya, Surat Kabar 40 karya, Televisi 73 karya, Blog 92 karya, Media Online 117 karya, dan Kategori Khusus 79 karya dan satu kategori Best of The Best. Lomba tahunan yang sudah digelar sejak 2003 ini juga memberikan voucher liburan dengan total nilai sebesar Rp31 juta dari tiket.com. (end)

2019, Tren Bisnis Asuransi Perjalanan masih Cerah

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tren bisnis asuransi perjalanan sepanjang tahun 2019 masih cerah dan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Apalagi, target kunjungan wisatawan domestik yang dipatok Kementerian Pariwisata mencapai 275 juta wisatawan domestik sehingga memberikan peluang yang cukup baik bagi perusahaan perasuransian, khususnya untuk produk asuransi perjalanan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengklaim bahwa total premi yang berasal dari asuransi perjalanan mengalami peningkatan dari hingga kuartal II 2019. Sayangnya saat ini, AAJI belum memiliki data spesifik terkait produk asuransi perjalanan, namun pertumbuhan total premi asuransi jiwa sampai dengan akhir tahun 2019 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 10,5%.

Diharapkan produk asuransi perjalanan juga turut menunjukkan pertumbuhan yang positif sampai dengan akhir tahun 2019 ini. “Cara para pemain melakukan penetrasi pasar ke pasar yaitu bekerjasama dengan pihak ketiga dan memanfaatkan teknologi digital sebagai saluran penjualan,” papar Togar Pasaribu seperti dilansir laman Kontan, Rabu (02/10/2019).

Potensi dan prospek bisnis asuransi perjalanan ke depannya diperkirakan akan semakin baik. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaraan, baik pribadi maupun umum untuk mengunjungi tempat wisata tertentu. “Banyak hal yang tidak terduga yang akan terjadi selama perjalanan, misalnya kecelakaan sehingga setiap orang perlu memiliki asuransi agar dapat memberikan perlindungan diri,” jelas Togar.

Selain itu, semakin banyaknya masyarakat yang melakukan perjalanan wisata sehingga diperlukan asuransi perjalanan yang dapat memberikan manfaat asuransi terkait kesehatan, kecelakaan, ataupun kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan selama mereka melakukan perjalanan wisata.

Saat ini, lanjut dia, sektor pariwisata memang menjadi salah satu tonggak perekonomian Indonesia dan hal ini disambut sangat baik oleh perusahaan asuransi jiwa. Hal tersebut dibuktikan dengan keterlibatan beberapa perusahaan asuransi jiwa dalam konsorsium asuransi perjalanan yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata.

Untuk meningkatkan jumlah premi di bisnis ini, Togar menekankan kepada pelaku asuransi jiwa harus bisa menciptakan produk yang baik dan terjangkau baik dari sisi harga, cara pembelian, pembayaran maupun pada saat klaim. Selain itu, edukasi pasar juga harus dilakukan agar asuransi perjalanan tidak hanya melindungi kesehatan dan kecelakaan tetapi juga segala sesuatu yang tidak menyenangkan selama melakukan perjalanan wisata.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe juga menilai lini bisnis asuransi perjalanan akan cerah setidaknya sampai akhir tahun ini. “Kami memandang produk asuransi individu akan terus tumbuh. Salah satunya adalah asuransi perjalanan,” kata dia.

Dody menilai, saat ini perusahaan asuransi membuat produk asuransi perjalanan yang inovatif dan mengikuti keinginan dari pasar. berikutnya adalah melakukan kerjasama dengan perusahaan angkutan umum, biro perjalanan wisata, dan komunitas. Untuk itu, Dody mengharapkan Kementerian pariwisata dapat memfasilitasi kerjasama dengan dinas pariwisata di daerah agar dapat memberikan nilai tambah bagi industri pariwisata daerah. (ndy)

BCA Tingkatkan Kualitas SDM Warga Desa Wisata Binaan

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) turut aktif mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui program Solusi Bisnis Unggul. BCA mewujudkannya dengan menggelar wokrshop digital marketing bagi sekitar 15 orang perwakilan desa wisata binaan BCA yang melengkapi para pemuda/i mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari mulai 1 hingga 3 Oktober 2019.

“Melalui workshop ini, kami berharap dapat mengembangkan wawasan dan keterampilan teknologi digital khususnya dalam penggunaan website dan media sosial di desa wisata, sehingga mampu memanfaatkan kedua platform tersebut untuk mempromosikan desa wisata ke depannya,” papar Vice President CSR BCA Ira Bachtar, Selasa (1/10/2019).

Berdasarkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi pengguna internet di Indonesia per 2018 ialah 64,8% dengan presentase terbesar ada di Pulau Jawa sebesar 55,7%. Perkembangan digital yang sangat pesat ini memberikan peluang yang berpotensi untuk mempermudah kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali dalam bidang ekonomi.

Hal ini menjadi dasar bagi BCA untuk berkontribusi melalui kegiatan pelatihan digital marketing yang akan melibatkan empat daerah desa binaan, yakni Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, dan Banyuwangi untuk dapat menggunakan teknologi digital dalam mencapai profitabilitas dari sektor wisata yang dimiliki daerahnya masing-masing, jelasnya.

Workshop digital merketing bagi warga desa wisata binaan BCA ini diselenggarakan sebagai bentuk partisipasi BCA dalam fungsi tanggung jawab sosialnya untuk turut serta mengembangkan bisnis di lingkungan komunitas maupun desa wisata yang berkontribusi memakmurkan masyarakat daerah.

Pelatihan ini membantu para peserta untuk bisa menghasilkan output berupa kemampuan dalam pengelolaan dan pengoperasian website dan media sosial dengan memperhatikan dari segi isi, tata letak, dan pemilihan informasi dengan cara strategis yang menarik sehingga bisa mendorong keberhasilan industri pariwisata yang ada melalui kemudahan teknologi saat ini.

“Pelatihan ini diadakan atas dasar pentingnya mengembangkan kualitas SDM dalam penggunaan teknologi digital untuk mempromosikan daerah wisatanya. Karenanya, BCA menginisiasi program pelatihan sebagai salah satu wadah untuk semakin memperkaya pengetahuan maupun kompetensi setiap individu khususnya pemuda/i di desa wisata agar mendorong perekonomian mereka dengan cara yang cepat, efektif, dan efisien,” sambungnya. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Destinasi Wisata Nusa Penida Menjanjikan Sayang Minim Kamar

this formate

NUSA PENIDA, bisniswisata.co.id: Bisnis hotel di kawasan wisata Nusa Penida, Bali dinilai sangat potensial. Mengingat minat kunjungan wisatawan ke pulau cantik yang terletak di sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung, sangat ramai. Destinasi wisata andalan Kabupaten Klungkung, Bali ini memiliki tiga pulau dengan jumlah total penginapan 197 unit.

“Prospek pariwisata Nusa Penida, sangat bagus. Mengingat di Bali daratan sudah ramai dan macet. Waktu tempuh ke Nusa Penida juga tidak terlalu lama, yakni sekitar 30 menit dari Bali daratan,” ujar Managing Director Nara Hotels International, Francis Dehnhardt dalam keterangannya, Rabu (2/10/2019).

Data BPS Kabupaten Klungkung menyebutkan, pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Nusa Penida mencapai 133.848 wisatawan. Karena itu, Nusa Penida membutuhkan penginapan berupa hotel yang memadai dengan fasilitas berstandar internasional dengan pelayanan maksimal.

Kini, di tiga pulau kawasan Nusa Penida hanya terdapat 197 penginapan. Dari jumlah tersebut hanya tersedia empat ruang pertemuan dan 94 restoran. Hanya 27 atau 14 persen dari total penginapan yang memiliki kamar lebih dari 15. Bahkan, mayoritas yakni 78 atau setara 40 persen dari penginapan yang ada hanya memiliki berkisar 5-9 kamar, selebihnya memiliki 5-14 kamar.

Francis menyebut, pihaknya akan hadir di Nusa Penida dengan mendirikan hotel berstandar internasional berkapasitas 120 kamar setara dengan bintang tiga premium. “Tujuannya adalah untuk menampung wisatawan mancanegara yang kekurangan kamar untuk menginap. Biasanya mereka datang untuk berwisata, lalu pulang di hari yang sama karena tidak ada hotel yang memadai. Ceruk pasar ini yang kami sasar,” paparnya seperti dilansir laman Kompas.

Pulau Nusa Penida memiliki 17 destinasi wisata yang menarik. Bahkan, Nusa Penida disebut masih “perawan” ini, menyimpan begitu banyak keindahan alam unik yang tak boleh dibiarkan begitu saja. Kamu harus berkunjung dan menikmati pemandangan yang begitu menakjubkan.

Pulau dengan julukan The Golden Egg of Bali itu, memiliki destinasi dibagi ke dalam 3 kategori wilayah yakni di Barat, Selatan, dan Timur. Semua destinasi sangat instagramable, antara lain:

Wisata Pantai
Di Nusa Penida memang dikeliling pantai yang cantik. Tercatat ada enam pantai yang kerap disambangi wisatawan yakni Pantai Pasih Uug, Pantai Banah, Pantai Crystal Bay, Pantai Atuh, Pantai Suwehan. Semua pantai ini memiliki ciri khas tersendiri. Pantai Pasih Uug misalnya memiliki jembatan yang berlubang di tengah ini begitu indah dengan hamparan pemandangan laut turquoise di sekitarnya.

Pantai Banah ada tebing-tebing yang berada di tengah lautan lepas. Namun masyarakat lokal lebih sering menyebut istilah tebing-tebing ini dengan nama Pantai Banah. Tebing paling terkenal adalah yang memiliki lubang besar di tengah yang diakibatkan oleh hantaman ombak keras. Walaupun tebing tersebut terbentuk dari batuan kapur namun terdapat tanaman-tanaman yang tumbuh subur di atasnya sehingga memberikan pemandangan indah nan kontras dengan birunya laut bila dilihat dari kejauhan.

Pantai Atuh untuk menginjak pasirnya harus berjuang menuruni ratusan anak tangga yang curam. Walaupun pantai ini berada di area yang sulit dijangkau namun dipuaskan dengan keindahan Air lautnya berwarna turquoise dan pasirnya juga begitu bersih dan halus. Juga bisa untuk snorkling namun harus tetap hati-hati karena ombak di pantai ini cukup besar.

Pantai Suwehan memiliki ciri khas yang unik pada batu berbentuk segitiga lancip menyerupai merek volcom, tak heran nama lain dari pantai ini adalah Pantai Volcom. Namun warga sekitar memberi nama batu tersebut Batu Jineng. Pantai ini memiliki pasir yang sangat putih dan bersih, selain itu pantai ini merupakan pantai yang paling susah dijangkau karena akses yang masih sangat sulit dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya di Nusa Penida.

Angel’s Billabong

Berlokasi tidak jauh dari Pasih Uug, Angel’s Billabong juga memiliki keindahannya sendiri. Angel’s Billabong merupakan natural infinity pool di mana kolam ini merupakan kolam alami tempat air sungai yang bermuara sebelum berakhir di lautan. Kolam ini dikelilingi oleh batu karang yang berwarna berbeda di setiap tempat berbeda pula. Air di kolam alami ini juga sangat jernih dan kamu bisa berenang di bawah sana. Hanya saja, jangan datang di Juni bila ingin menikmati jernihnya air kolam ini karena angin timur dari Australia sedang menerpa Pulau Bali. Ombaknya sangat tinggi dan kita pun tidak diperbolehkan turun dan berenang ke bawah, khawatir bisa ketarik ke laut sehingga dapat mengancam keselamatan.

#. Kelingking Secret Point,

Kelingking Beach yang lebih terlihat mirip seperti Tyrannosaurus Rex dibandingkan jari kelingking ini juga menawarkan pemandangan yang tak kalah indah. Disebut secret point karena dulunya, keindahan Kelingking Beach hanya bisa dinikmati dari kejauhan saja atau dari secret point/spot yang dibuat oleh orang lokal. Namun, seiring berjalannya waktu tepatnya semenjak tahun lalu, sudah dibuka jalan untuk bisa turun ke bawah dan bisa langsung menikmati pantai dan bermain-main di atas pasirnya. Pemandangan tebing nan unik, halusnya pasir yang berwarna putih, dan birunya laut menghasilkan pemandangan yang spektakuler.

Paluang Cliff

Paluang Cliff juga cukup dekat dari area Kelingking Secret Point. Dengan menggunakan sepeda motor sekitar 7 menit, kamu bisa tiba di lokasi ini. Paluang Cliff itu sendiri merupakan sebuah spot yang memungkinkan pengunjung untuk bisa melihat tebing/batu yang terdapat di Kelingking Beach. Bisa dikatakan bahwa Paluang Cliff ini merupakan hidden spot untuk bisa melihat keindahan batu yang ada di Kelingking Beach dari sudut pandang yang berbeda alias dari belakangnya. Paluang Cliff menjadi salah satu spot terbaik untuk menyaksikan sunset.

Mata Air Tembeling

Nusa Penida tidak hanya kaya akan pantai namun juga mata air, salah satunya Mata Air Tembeling. Berlokasi di tengah hutan yang tidak terlalu jauh dari area pantai, kamu perlu berjalan kaki sekitar 60 menit dari lokasi parkiran umum karena jalanan yang masih jelek. Awalnya, mata air ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ibu yang sedang hamil (hamil dalam bahasa Bali, beling). Dia mencari sapi-nya yang tidak kelihatan hingga akhirnya nyasar ke hutan ini, karena hal tersebut maka nama mata air ini disebut Tembeling. Sebelum mata air ini terkenal seperti sekarang dan menjadi tempat wisata, tempat ini dulu difungsikan sebagai sumber air minuman warga sekitar karena airnya yang jernih. Selain itu, mata air ini juga masih difungsikan sebagai tempat untuk ritual keagamaan. Hal terpenting adalah mata air ini hanya bisa dipakai oleh pria saja baik untuk berendam atau berenang. Wanita hanya bisa berendam atau sekedar bermain air di kolam kecil yang tidak terlalu jauh dari mata air tersebut.

Air Terjun Seganing

Air Terjun Seganing memiliki pemandangan yang tak kalah indah dengan air yang super jernih. Bagi wisatawan yang hobi memancing bisa melakukannya di sini.
Namun untuk bisa sampai ke tempat ini kamu terlebih dahulu harus melewati jalanan sempit di pinggir tebing yang sangat curam dan ada bagian jalan yang hanya bisa dilalui dengan merangkak melewati semak-semak belukar. Tidak hanya sampai di situ, hempasan gelombang ombak ke tebing-tebing membuat area jalan bergetar. Tak heran begitu mengetahui fakta ini banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk bisa mampir karena begitu besar risiko yang harus diemban. Wisatawan yang takut akan ketinggian sangat tidak disarankan untuk mampir ke tempat ini.

Air Terjun dan Mata Air Peguyangan

Bila kamu memiliki waktu yang banyak di Nusa Pendia, kamu perlu berkunjung ke Air Terjun Peguyangan. Air terjun ini tidak biasa karena memiliki kolam alami di pinggir tebing yang bisa dipakai untuk berenang atau berendam. Pemandangan yang diberikan juga tak main-main karena di hadapanmu langsung terlihat dengan jelas lautan lepas. Tidak hanya kolam alami, di sini juga terdapat mata air suci yang bisa dipakai untuk minum, gapura yang bisa dijadikan sebagai spot foto, dan juga pura warga yang bisa dipakai untuk berdoa bagi kamu yang beragama Hindu.

Selain itu, air terjun yang jatuh juga langsung ke lautan lepas sehingga memberikan pertunjukan alam yang menakjubkan. Agar bisa tiba di tempat ini kamu harus dalam kondisi yang fit karena jalanan yang begitu curam dan berbahaya. Trekking juga jauh karena kamu perlu melalui sekitar 870 anak tangga, dan bagi yang takut ketinggian tidak disarankan berkunjung ke tempat ini. Hal penting yang perlu diingat adalah bagi wisatawan wanita yang sedang menstruasi dilarang keras untuk dekat dengan mata air yang ada, dilarang untuk mencuci muka atau melakukan apapun di area mata air tersebut karena mata air tersebut adalah sumber air utama bagi penduduk sekitar.

Bukit Teletubbies

Pemandangan yang hijau dengan bukit-bukit rumput berderetan membuat tempat ini layak disebut sebagai Bukit Teletubbies. Angin di sini sangat sejuk karena memang Nusa Penida merupakan pulau yang berada di dataran tinggi. Untuk tiba di destinasi ini kamu tidak perlu melakukan trekking karena mobil bisa langsung mengakses spot ini walaupun jalanan berbatu-batu dan sempit. Kamu hanya perlu jalan beberapa langkah ke spot terbaik untuk foto.

Pulau Seribu

Sejatinya, Pulau Seribu dan Pantai Atuh berada di area yang berdekatan. Sedangkan Pulau Seribu dan Raja Lima adalah lokasi yang sama namun penyebutan spotnya saja yang dibedakan. Bedanya, di spot Raja Lima kita bisa berfoto bersama patung yang ada di sebelah kita. Pulau Seribu Nusa Penida ini sering disebut sebagai Raja Ampat ala Bali karena keindahan dan bentuknya yang mirip. Tak heran bila pengunjung berusaha untuk bisa sampai ke spot ini mumpung sudah berada di Nusa Penida. Hati-hati dengan setiap gerakan di sini karena terbatasnya ruang gerak.

Raja Lima

Seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya bahwa objek yang akan kamu foto adalah sama seperti di Pulau Seribu, yakni bebatuan yang membentuk seperti pulau-pulau kecil layaknya Raja Ampat, namun bedanya kamu bisa mengambil foto dengan angle yang berbeda. Keindahan pulau-pulau itu sangat jelas terlihat karena spot ini berada di bukit yang tinggi. Karena itulah butuh perjuangan untuk bisa sampai ke tempat ini dan tentu saja jangan sia-siakan kesempatan ya!

Rumah Pohon Batu Molenteng

Rumah Pohon ini berlokasi di area Pulau Seribu, Raja Lima, dan Pantai Atuh. Berada di atas bukit kamu akan menyaksikan keindahan laut dan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya. Kamu hanya perlu menyiapkan stamina yang prima agar bisa trekking ke sini. Tidak hanya bisa berfoto, kamu juga bisa menginap dengan daya tampung hingga 5 orang. Bila kamu hanya ingin berfoto maka biaya yang dikenakan sebesar Rp 10.000 per orang.

Manta Point

Bagi yang gemar dengan olahraga menyelam, kamu bisa melakukan olahraga ini di Tanjung Pandan, Nusa Penida. Di sana terdapat tebing yang terbentuk dari batuan kapur yang lebih dikenal dengan istilah Manta Point. Lokasi ini menarik begitu banyak minat para wisatawan yang hobi menyelam karena mereka bisa menemukan Ikan Pari Manta yang ramah sepanjang tahun. Selain itu terdapat begitu banyak plankton yang menjadi makanan burung-burung. Kamu hanya perlu diam dan tenang maka tak berapa lama Manta tersebut akan mendekati dan mengelilingimu seakan mengajak bermain. (ndy)

Horeee, Pulau Komodo Tak Jadi Ditutup

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Pulau Komodo, di Labuhan Bako Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya tidak jadi ditutup. Namun demikian, jumlah wisatawan yang datang menyaksikan hewan langka ini, dibatasi. Pembatasan wisatawan datang memiliki nilai strategis serta sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetap menjaga Pulau Komodo sebagai cagar biosfer dan warisan dunia tanpa mematikan potensi ekonomi daerah.

Demikian hasil Rapat Kordinasi (Rakor) Pengelolaan Taman Nasional Komodo bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat, yang dipimpin Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan di Kantor Menko Maritim Jakarta, Senin (30/09/2019).

“Selain kelestarian alam, pemerintah juga melakukan penataan bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pihak terkait, dibuat aturan adanya pembatasan jumlah wisatawan ke Pulau Komodo dengan diadakannya tiket kapasitas kunjungan atau wisatawan,” papar Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan dalam keterangan rilisnya, Rabu (02/10/2019).

Pengaturan tiket itu, lanjut dia, dilakukan dengan sistem kartu keanggotaan tahunan yang bersifat premium. Untuk membership premium, diarahkan ke Pulau Komodo di mana komodo besar ada di sana. Wisatawan yang tidak memiliki kartu premium akan diarahkan ke lokasi komodo yang lain. “Nanti mereka [wisatawan nonpremium] akan diarahkan ke komodo yang kecil, seperti di Pulau Rinca. Jadi mereka hanya bisa di sana, tidak bisa ke mana-mana lagi,”.

Nantinya, sambungnya, pengelola juga akan membangun sarana dan prasarana wisata alam berstandar internasional seperti Pusat Riset Komodo di Pulau Komodo, serta penataan kapal wisata ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo.

Rakor juga membahas berbagai kekurangan dalam hal sarana dan prasarana yang menjadi perhatian untuk pengembangan seperti kapasitas ranger, sarana patroli, guide tour terlatih, sarana toilet, dermaga dan lain-lain.

Menurut Menteri LHK, Siti Nurbaya, kawasan wisata Pulau Komodo lebih baik ditata bersama dalam kewenangan bersama konkuren; dan dipastikan tidak akan ada relokasi penduduk.

Dilanjutkan, dalam Rakor tersebut juga dibahas berbagai kekurangan dalam hal sarana dan prasarana yang menjadi perhatian untuk pengembangan seperti kapasitas ranger, sarana patroli, guide tour terlatih, amenities toilet, dermaga dan lain-lain. Hal-hal itu membutuhkan peningkatan dan penyempurnaan untuk standar wisata internasional.

Bahkan kewenangan bersama tersebut akan mencakup pada pembenahan spot-spot wisata, dukungan manajemen, promosi, guide, ranger, patroli dan floating ranger station serta pusat riset komodo. “Paralel dengan itu, investasi juga dapat dilakukan pada kawasan ini sesuai aturan dalam kerja sama pengelola dengan BUMD dan swasta atau melalui perizinan swasta dan pengembangan wisata khusus konservasi dan wild adventures,” terang Siti Nurbaya.

Diakui, KLHK memutus Tim Terpadu untuk mengidentifikasi permasalahan di wilayah Taman Nasional Komodo, termasuk Pulau Komodo di dalamnya. Taman nasional ini pun sejatinya sudah menyandang Wolrd Heritage Site tahun 1991 dan sebelumnya tahun 1977 ditetapkan sebagai cagar biosfir dunia.

Beberapa masalah yang dilaporkan Tim Terpadu yakni persoalan distribusi pengembangan paket wisata special interests, mass tourism dan atraksi wisata yang bisa dieksplorasi seperti nite-safari, satwa kakak tua jambul kuning dan lainnya seperti diving, snorkeling serta trekking.

“Dibahas juga untuk pengaturan regulasi ticketting dan pajak serta retribusi dan integrasi pembiayaan atau biaya-biaya yang dipungut dari wisatawan agar menjadi terpadu dan jelas, baik di Labuan Bajo maupun di Kawasan Taman Nasional Komodo,” papar Siti Nurbaya.

“Pulau Komodo lebih baik ditata bersama dalam kewenangan bersama konkuren dan tidak akan ada relokasi penduduk. Terkait kerangka waktu, akan segera ditetapkan keputusan untuk kokurensi dan beberapa hal sudah ada yang bisa dilaksanakan hingga akhir tahun ini dan tahun depan,” tambahnya.

Dalam catatan KLHK melalui Tim Terpadu, jumlah populasi komodo di kawasan Taman Nasional Komodo sebanyak 2.897 ekor. Paling banyak di Pulau Komodo sekitar 1.727 ekor, lalu di Pulau Rinca 1.049 ekor dan terakhir ada di Pulau Gili Motang dan Nusa Kode sekitar 50-60 ekor.

Wilayah pengembangan di Pulau Komodo untuk kegiatan tercatat seluas 400 hektar dari keseluruhan wilayah satu Pulau Komodo yaitu 31.000 hektar. Terdapat pula di kawasan ini adanya desa pemukiman sejak tahun 1926 seluas 17 hektar yang dihuni oleh 507 KK. Terhadap kawasan pemukiman akan dilakukan penataan, tapi bukan relokasi atau re-settlement.

Mengenai pengelolaan Pulau Komodo, Deputi Bidang Infrastruktur Ridwan Djamaluddin mengatakan Pusat Riset Komodo akan dibangun di Pulau Komodo. Kapal pesiar menuju Pulau Komodo dan Labuan Bajo juga akan ditata. “Kami juga harus membangun sarana dan prasarana wisata alam berstandar internasional dan membangun sarana prasarana pendukung yang memadai di luar kawasan Pulau Komodo ini,” ujar Ridwan.

Sebelumnya, ada dua pendapat tentang langkah untuk melindungi habitat komodo. Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat ingin Pulau Komodo ditutup sementara untuk meningkatkan konservasi sehingga pasokan makanan dan habitat komodo pulih. Di sisi lain, Kementerian Pariwisata ingin Pulau Komodo jangan ditutup, tetapi jumlah pengunjung dibatasi saja.

Wacana penutupan Pulau Komodo pertama kali dilontarkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, pada sebuah forum diskusi di Kupang pada 21 November 2018. Ia menegaskannya kembali pada awal tahun 2019. Alasan utama sang gubernur adalah meningkatkan populasi komodo, juga rusa yang menjadi mangsa mereka. Hingga Desember 2018, menurut Pemprov NTT, jumlah populasi komodo mencapai sekitar 2.800 ekor yang berdiam di Pulau Komodo dan Rinca.

Selain untuk meningkatkan populasi komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, penutupan TNK juga untuk meningkatkan ukuran tubuh Komodo yang dinilai semakin kecil. Viktor menduga tubuh komodo yang mengecil adalah dampak dari populasi rusa yang berkurang karena perburuan ilegal.

Rencana tersebut kemudian memancing debat publik dan pro-kontra. Terutama karena turisme di Pulau Komodo telah menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga setempat. Bahkan mendapat perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk datang langsung ke Pulau Komodo. (redaksi@bisniswisata.co.id)

Hari Batik, Ribuan Pelajar Cirebon Pecahkan Rekor Dunia

this formate

CIREBON, bisniswisata.co.id: Hari Batik Nasional bagi pelajar Cirebon tidak dilampiaskan dengan melakukan aksi demo, seperti pelajar Ibukota yang kurang kerjaan meski dapat bayaran. Namun berbondong-bondong mendatangi halaman belakang pendopo Batik Trusmi di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon.

Aksi membatik ramai-ramai ini, diawali membuat langsung proses membatik di atas secarik kain putih secara bersama-sama. Para pelajar dengan antusias duduk secara berkelompok. Tiap kelompok dilengkapi satu buah malam atau lilin yang berfungsi untuk menutupi garis motif batik.

Sejumlah panitia kemudian membagikan secarik kain putih yang sudah bermotif kepada para peserta. Mereka juga membagikan canting kepada satu per satu pelajar sebagai alat utama untuk membatik. Aktivitas membatik yang dilakukan para pelajar Kota Udang – sebutan bagi kota Cirebon, sebagai upaya memecahkan rekor dunia pembatikan massal.

Para pelajar sebanyak 2.832 pelajar membatik dengan motif Mega Mendung khas Cirebon, pada Senin (1/10/2019). “Kami ingin mengangkat kembali dan membawa batik Cirebon dengan motif Mega Mendung mendunia,” ujar Owner BT Batik Trusmi Cirebon Ibnu Riyanto.

Selain memecahkan rekor MURI, lanjut Ibnu, tujuan lain kegiatan membatik massal untuk memotivasi generasi penerus. Bagi pelajar minimal ini, ada perasaan bangga dari generasi muda menggunakan batik Cirebon atau daerah lain. “Batik dari Cirebon saja minimal entah jadi pengusaha entah perajin atau pengguna batik itu sendiri,” ujar dia.

Dia optimis, seperti dilansir laman Liputan6, Rabu (02/10/2019) kegiatan membatik massal ini memotivasi generasi penerus. Minimal 10 persen dari 2.800 pelajar memiliki keinginan jadi pengusaha batik. Memang Batik merupakan usaha sektor UKM yang menggunakan sistem padat karya. Oleh karena itu, dia berharap ada penerus pengusaha batik.

“Bayangkan 10 persen dari 2.832 pelajar dari 17 Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon. Jadi ada 280 pengusaha baru muncul. Satu kain batik mempekerjakan 15 orang kalau ada 280 pengusaha baru batik Cirebon maka banyak tenaga kerja yang terserap,” ujar dia.

Hingga saat ini kondisi pembatik Cirebon masih didominasi oleh orangtua. Karenanya dengan kegiatan membatik bersama ini dapat mencetak generasi baru yang berminat menjadi perajin batik.

General Manager Batik Trusmi Arief Purwanto menyebut, kegiatan ini merupakan upaya Batik Trusmi untuk memperingati Hari Batik Nasional. Tahun ini, Batik Trusmi Cirebon menggandeng para pelajar sebagai upaya untuk mengedukasi generasi muda yang bertugas melestarikan batik di masa mendatang. Kegiatan ini mengkhususkan pada motif batik mega mendung, sesuai tema ‘Mega Mendung untuk Negeri’.

Para pelajar ini membatik secara bersama-sama dengan motif mega mendung yang sudah menjadi ciri khas dan identitas batik Cirebon. “Kegiatannya, para siswa membatik dengan pola mega mendung, karena tema tahun ini “mega mendung untuk negeri”. Mega mendung adalah identitas dan motif dari Cirebon, kita ingin me-nasional-kan mega mendung,” tambah Arief.

Musium Rekor Indonesia (MURI) menyatakan kegiatan Pelajar Membatik Massal memecahkan rekor baru di Indonesia. Bahkan, kegiatan tersebut masuk dalam rekor dunia. “Karena membatik tidak ada di luar hanya ada di Indonesia,” kata Senior Manager Muri Ariani Siregar.

Rekor baru membatik di Cirebon, sambung dia, mampu mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh sekolah Santo Alusius Bandung. Sekolah tersebut mencatat sebanyak 2.500 siswa mengikuti kegiatan membatik. “Kami sudah melakukan verifikasi langsung di lokasi dan tercatat ada 2832 pelajar dari 17 sekolah ikut dalam pemecahan rekor MURI. Rekor dunia tercatat yang ke 9.206 ya dan bukti tercatatnya prestasi tadi kami serahkan kepada BT Batik Trusmi,” ucapnya.

Sebelum ini, BT Batik Trusmi pernah menorehkan rekor MURI dua kali, masing-masing kategori pemilik toko batik terluas 4.840 meter persegi pada usia termuda (22 tahun) pada 24 Maret 2013 dan kategori pembuatan cap batik terbesar ukuran 2×3 meter pada 1 Oktober 2014. “Prestasi ini kami catat di MURI sebagai rekor dunia dengan urutan ke-9206,” ujarnya. (ndy)

September – 27 Oktober 2019, Wonderful Indonesia Culiary & Shopping Festival 2019

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PERKEMBANGAN industri kuliner dan belanja di Indonesia mengalami grafik peningkatan yang menggembirakab. Hal ini tak lepas dari peranan sosial media yang terus menerus menyajikan berbagai konten seputar kuliner dan belanja. Karena itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) berinisiatif mengambil peranan dalam memfasilitasi kebutuhan wsisata kuliner dan belanja dengan kembali menggelar Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival (WICSF).

WICSF 2019 menyiapkan berbagai program kuliner dan belanja menarik, seperti Lesehan Malam, Kuliner Kampung Halaman, Kelas Membatik, Gebyar Batik Muda Nusantara hingga music performance yang pastinya dikemas secara apik dan modern sehingga cocok untuk dinikmati oleh segala rentang usia.

Menginjak tahun ke-4, WICSF yang menjadi Calendar of Event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya mulai dari tanggal 27 September yang sekaligus merayakan Hari Pariwisata Dunia. Tahun ini, WICSF 2019 kembali diselenggarakan selama sebulan penuh mulai dari 27 September hingga 27 Oktober 2019 dan digelar serentak di seluruh pusat perbelanjaan di Indonesia.

Dikenal sebagai surganya wisata kuliner, WICSF 2019 mengangkat berbagai jajanan pasar hingga jajanan kekinian yang tak diragukan lagi kelezatannya, seperti Nasi Gudeg, Nasi Pedas Bali hingga Roti Srikaya khas Pontianak. Kehadiran ragam kuliner Indonesia tak lepas dari tujuan untuk meningkatkan dan mengangkat jajanan tradisional Indonesia khususnya yang dikelola oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sehingga kedepannya sajian kuliner nusantara dapat semakin dikenal di kancah internasional dan mampu meningkatkan omzet dan transaksi UMKM.

Selain itu, kehadiran berbagai sajian nusantara di berbagai pusat perbelanjaan juga tentunya memudahkan pengunjung lokal maupun mancanegara yang ingin mencicipi ragam sajian khas dari berbagai daerah di Indonesia. Juga memanjakan pengunjung dengan berbagai sajian kuliner nusantara, tentunya WICSF 2019 juga akan dilengkapi dengan ragam program belanja dan diskon menarik yang dapat dijumpai di berbagai store di pusat perbelanjaan Indonesia.

Menariknya, WICSF 2019 akan diselenggarakan bersamaan dengan perayaan 10 tahun penetapan Batik Indonesia secara resmi oleh UNESCO dan masuk ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) pada tahun 2009 lalu. UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Daftar

Representatif karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia, serta memberi kontribusi bagi terpeliharanya warisan budaya tak-benda pada saat ini dan di masa mendatang. Ditambah lagi, sebagai salah satu warisan budaya bangsa, batik telah bertransformasi ke dalam berbagai kreasi modern.

Keindahan batik yang tak lekang oleh waktu dan dapat dikenakan di berbagai kesempatan baik formal maupun casual tentunya membuat Batik diminati oleh berbagai kalangan. Selain itu, hampir seluruh kota di Indonesia memiliki motif batik khas daerahnya sendiri, seperti Batik Pekalongan, Batik Jepara, Batik Solo, Batik Tasik dan lain sebagainya.

Selain motifnya yang berbeda, cara pembuatannya juga beraneka ragam mulai dari Batik Tulis, Batik Cap hingga Batik print. Ketiganya tentunya memiliki keindahan dan keunikan masing-masing.

Dan untuk memeriahkan perayaan 10 tahun penetapan Batik Indonesia oleh UNESCO, WICSF 2019 menyiapkan berbagai pameran Batik yang tersebar di seluruh pusat perbelanjaan di Indonesia, seperti Gebyar Batik Muda Nusantara, Pesona Batik Wastra Nusantara, Indonesia Culture Exhibition dengan diskon menarik. Sebagai tambahannya, terdapat juga kelas membatik oleh Rumah Batik Palbatu guna meningkatkan antusiasme masyarakat dan mendorong pertumbuhan Batik di pasar global.

Kehadiran berbagai pengrajin batik dan keterlibatan UMKM di WICSF 2019 ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kehidupan pengrajin Batik daerah serta membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia. Tentunya hal ini juga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanagara untuk datang dan merasakan pengalaman terbaiknya berbelanja berbagai produk lokal Indonesia di WICSF 2019.

Inovasi dan ragam konten yang terus berkembang inilah yang menjadikan WICSF sebagai acara yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat. Setiap tahunnya, terdapat berbagai konten menarik yang terus berusaha disajikan oleh pusat perbelanjaan. Sehingga kedepannya, selain dikenal dengan pemandangan wisata yang indah, Indonesia juga dapat dikenal sebagai surga belanja dan wisata kuliner. (redaksibisniswisata@gmail.com)