Jalan Suryakencana, Bogor Berbenah, Beginilah Penampakannya Kini…

this formate

Jalan Suryakencana yang legendaris di Kota Bogor ( foto-foto: P. Hasudungan Sirait)

BOGOR, bisniswisata.co.id: Baru-baru ini, tentu sebelum Covid-19 mewabah, kami sekeluarga kembali menyusuri Jalan Suryakencana yang legendaris di Kota Bogor. Kawasan pecinan yang sudah ada sejak zaman kolonial ini berlokasi sangat strategis: dekat dengan Tugu Kujang yang merupakan ikon kota Bogor.

Lokasinya juga persis berseberangan dengan gerbang utama Kebun Raya Bogor. Di ujung jalan, yang merupakan jalur satu arah ini, juga berdiri Vihara Dhanagun yang usianya sudah lebih 300 tahun. 

Pada 10 Februari 2016, Pemerintah Kota Bogor resmi menyatakan Jalan ini sebagai kawasan “heritage”. Pertimbangannya, menurut Wali Kota Bogor Bima Arya, karena kawasan itu menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, bahasa, dan budaya.

“Jalan Suryakencana merupakan salah satu jalan tertua di Kota Bogor. Ini adalah identitas Kota Bogor, menghargai satu sama lain,” ucap Bima kala itu.

Jalan Suryakencana merupakan pusat perniagaan, setidaknya untuk wilayah Bogor Kota. Di sana ada Pasar Bogor yang menurut sejarahnya merupakan pasar pertama yang ada di kota hujan ini. Pasar ini berdiri pada sekitar 1770 di masa pemerintahan Gubernur Jendral Belanda, Petrus Albertus van Der Parra yang menjabat pada kurun waktu 1761 hingga 1775.

Jalan Suryakencana pada 1900-1910 (foto: Facebook)

Selain itu ada deretan toko lama yang umumnya dikelola warga keturunan Tionghoa. Ceritanya bermula dari sebuah peristiwa pembantaian etnis Tionghoa di Batavia pada 1740. Saat itu banyak dari mereka mengungksi ke kota Bogor. Untuk memudahkan pengawasan, Belanda pun melokalisir mereka di kawasan yang kini bernaman Jalan Suryakencana.

Di sana ada toko perabot rumah tangga langganan kami, Jaya Makmur, kios jam Djakarta, toko sport yang dijagai pasangan Tionghoa tua, mini market Ngestii –  tempat kami biasa membeli kopi Liong Arabika khas Bogor – hingga toko roti de Paris yang kue pia-nya cocok di lidah kami. 

Setiap kali kami mampir ke toko-toko tersebut, suasana di sana selalu ramai. Bahkan Jaya Makmur yang beroperasi hanya hingga pukul 18.00 sore, kerap sesak. Koleksi mug atau cangkir teh/kopi yang dijajakan di sana, sayang rasanya dilewatkan untuk sekadar dilongok.

Suasana ramai pengunjung di toko-toko itu menjadi bukti masih banyak pelanggan fanatik yang tak hendak ‘pindah ke lain hati’ meski sejumlah pilihan bermunculan, termasuk fasilitas aplikasi belanja online.

Kami rutin menyambangi Jalan Suryakencana meski hanya sekadar olah kaki untuk jalan-jalan sore. Sekadar info, sejak menikah pada 2003 silam, kami memutuskan untuk menetap di kota hujan ini. Rutenya dari ujung jalan hingga ke perempatan Gang Aut – pusat jajanan yang selalu ramai pengunjung – yang berjarak kurang dari 1 kilometer.

Kalau sedang beruntung, kami akan berjumpa para pedangan buku bekas di trotoar jalan. Beberapa kali kami dikejutkan oleh koleksi buku langka yang mereka jajakan dengan harga sangat bersahabat.

Saat lapar dan ingin menyantap mie, kami biasanya mampir ke warung langganan, Mie Tasik namanya. Saking lamanya berlangganan, kami sempat menyaksikan bagaimana warung ini bertransformasi, mulai dari sebuah kedai kecil yang sempit dan panas, hinggga kini mewujud menjadi restoran permanen berlantai dua yang bersih dan nyaman. 

Ada juga warung nasi goreng Guang Tjo langganan kami yang menurut anak-anak masakannya paling pas. Selalu menjadi benchmark nasi goreng yang enak. Selain nasi goreng, mereka juga menjajakan menu bubur kacang ijo dan ketan item yang lezat. Kami kerap makan bersama, termasuk saat merayakan momen spesial, seperti ulang tahun. 

Kini, jalan Suryakencana telah banyak berubah. Satu yang paling mencolok adalah ketersediaan trotoar yang lebar, bersih, rapi dan manusiawi bagi pejalan kaki. Padahal dulu, kami harus berjuang jika hendak menyusuri jalan ini.

Saat berpapasan dengan pejalan kaki lain, mau tak mau kami harus berhenti menunggu giliran jalan, karena trotoar sempit. Selain untuk pejalan kaki, trotoar juga dipakai pedangan kaki lima yang menjual buah, rujak uleg, gorengan, buku bekas atau barang loak. Mereka mengisi separo badan trotoar. 

Selain itu, ada sejumlah gang sempit di sepanjang jalan ini yang gelap, seram dan kumuh. Kini, semua telah berubah, mewujud menjadi lorong cantik dan bersih. Beberapa kali kami melihat gerombolan anak muda menjadikan tempat itu sebagai spot untuk berswafoto. 

Jalan juga dipercantik dengan hadirnya sejumlah kursi besi di kiri kanan trotoar. Itu membuat kawasan ini tampak lebih elok dan rapi. Pejalan kaki bisa santai sejenak untuk sekadar duduk menikmati sore di Jalan Suryakenana, atau melepas lelah.

Menjaga kebersihan dan kenyamanan trotoar, terutama bagi pelancong pejalan kaki, menjadi urusan bersama warga setempat. Mereka tak segan saling menegur jika kedapatan ada yang kurang sedap dipandang.

Saat kami sedang berjalan sore itu, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang nampaknya pengurus RT setempat. Dia dengan bersahabat menegur salah satu pemilik toko. “Itu kemarin Pak Wali marah-marah, banyak sampah di sini. Tolong dibersihkan ya Ko,” ujarnya. Sang empunya toko pun menurut.

Kedai Kopi Menjamur

Beberapa tahun silam, saat kerap melakukan wisata kuliner di sepanjang jalan ini, sulit sekali mencari tempat nongkrong.Kala itu memang gak asyik juga sih berlama-maka di Jalan Suryakencana yang chaotic, kumuh dan tak ramah lingkungan karena asap kendaraan. Kebanyakan orang biasanya ke sana hanya mencari sensasi jajan di pinggir jalan atau berbelanja di toko langganan, lalu pulang.

Kedai kopi yang digemari kalangan milenial.

Kini, suasananya sudah jauh berubah.  Rumah-rumah warga Tionghoa peninggalan zaman kolonial yang dulu terkesan tertutup dan terbengkalai, kini mulai ditata menjadi kedai-kedai kopi, toko roti, atau kios yang lebih berselera milenial.

Sore itu, setelah membeli sabun, shampo dan kebutuhan lain di toko Ngesti, kami melihat ada toko roti baru berplang, Mr. Yos. Tempatnya bersih dan display rotinya menarik sehingga menggoda kami untuk mlipir mampir.

Terbukti, tidak terlalu mengecewakan karena ternyata pilihan rotinya beragam pun, yang lebih penting, harganya bersahabat. Tempatnya cocok untuk duduk-duduk menikmati sore yang cerah. Selain toko roti, kini pun bermunculan kedai kopi kecil yang dikelola kaum milenial. 

Satu kedai kopi yang kami singgahi bernama Fanaticoffee. Kami mampir karena inilah kedai yang terlihat paling ramai pengunjung. Lokasinya di sebelah kanan jalan. Kami memesan caffe latte dan mencobai affogato shoot. Rasanya standar, harganya pun masih reasonable.

Interior cafe juga ditata apik. Ruangan perokok dipisah. Bagi kami yang bukan perokok ada disediakan ruang di sebelah. Pemisahnya dinding dengan ornamen kaca berkusen bulat-bulat. Dari dalam kita masih bisa menikmati pemandangan lalu lalang orang maupun kendaraan di Jalan Suryakencana.  

Sayangnya, kehidupan di sepanjang jalan ini redup cepat karena pukul 18.00 sebagian besar toko sudah tutup, kecuali beberapa saja yang buka, seperti Ngesti yang baru tutup pada pukul 20.00. Atau warung-warung kopi dan toko roti yang rata-rata tutup pukul 22.00.

Untunglah ada Hotel 101 yang turut menggeliatkan kehidupan di sana. Berjarak sekitar 100 meter dari gerbang utama Kebun Raya Bogor, hotel ini banyak diminati pelancong. Setelah tadi rehat sejenak di toko roti Mr. Yos, perjalanan kami lanjutkan hingga ke ujung Jalan Suryakencana yang merupakan perempatan ke Gang Aut.

Di sana aktivitas masih marak. Kawasan ini ramai terus terutama karena memang sejumlah pedagang makanan menumpuk di sana. Ada soto bening, sate ayam, bakso, penjual gorengan, hingga toko roti de Paris yang legedaris. Akhirnya, perjalanan kami akhiri dengan menyantap sate ayam Madura di Gang Aut. Enak dan terjangkau, itulah kesan kami. 

 

 

Rajab Ritonga: Lembaga UKW PWI Pusat Tidak Pernah Menyelenggarakan UKW Secara Virtual

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat tidak pernah menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Jakarta pada 19-20 Oktober 2018. Karenanya tidak pernah mengajukan rekomendasi penerbitan Serfitikat Kompetensi Wartawan ke Dewan Pers sebagai hasil kegiatan.

Demikian disampaikan Direktur UKW PWI Pusat Rajab Ritonga sehubungan beredarnya Sertifikat Kompetensi UKW PWI yang seolah diterbitkan lembaga uji PWI Pusat pada 19 November 2019 dengan ditandatangani Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari dan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo.

“Sertifikat itu dipastikan palsu dan tidak terdaftar di Dewan Pers. Silakan periksa di web Dewan Pers,” katanya, Sabtu (2/5).

Rajab Ritonga memastikan bahwa tanggal penerbitan sertifikat juga janggal karena satu tahun lebih setelah penyelenggaraan UKW. Sejumlah kejanggalan lain juga ditemui pada sertifikat itu sehingga dengan mudah dipastikan kepalsuannya.

“Selain itu, logo PWI pada sertifikat juga palsu, tidak sama dengan logo PWI yang sesungguhnya. Ketua Dewan Pers sejak 21 Mei 2019 sudah dijabat Bapak Muhammad Nuh, bukan lagi Pak Adi Prasetyo,” ujarnya.

Rajab Ritonga menegaskan bahwa perbuatan memalsukan sertifikat UKW PWI merupakan tindak pidana. Dia juga memastikan bahwa Lembaga UKW PWI Pusat tidak pernah menyelenggarakan UKW secara virtual karena materi uji UKW belum memungkinkan diujikan secara online. Hal itu terkait adanya informasi di sebuah daerah telah berlangsung UKW online.

Pesan dari Madrid: Jangan Sia-siakan Waktu!

this formate

Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan makin bertambah. ( Foto: UNWTO)

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Sekjen Organisasi Pariwisata Dunia, UNWTO, Zurab Pololikashvili, berpesan agar jangan lagi kita menyia-nyiakan waktu melainkan segera bertindak. Sudah banyak jam kerja terpangkas. Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan pun makin bertambah. 

Bagi jutaan orang di seluruh dunia, pariwisata tak sekadar acara liburan maupun bersantai karena ia juga terkait dengan kegiatan konvensi, termasuk pameran dan pertemuan.

Lebih dari itu, sektor ini juga memberi banyak peluang untuk menopang kehidupan; menawarkan kesempatan bagi orang memperoleh upah, martabat sekaligus kesetaraan. Peluang kerja di sektor pariwisata dapat memberdayakan masyarakat; menawarkan kesempatan bagi penduduk untuk mengambil bagian dalam masyarakat. Seringkali, terjadi untuk pertama kalinya. 

Risiko yang dihadapi saat ini.

Sekjen UNWTO Zurab Pololikashvili menyampaikan pesannya di Hari Buruh Internasional 1 Mei 2020. ( Foto: UNWTO)

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), seperti halnya Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) yang sama-sama agen PBB, menyatakan kekhawatiran tentang dampak dari pandemi Covid-19. Menurut mereka setidaknya ada 1,6 miliar orang di seluruh dunia terdampak virus mematikan ini. Bukan hanya hilangnya jam kerja, tapi juga kehilangan pekerjaan.

Kelompok masyarakat paling rentan terkena dampaknya adalah mereka yang bekerja di ekonomi informal, termasuk di dunia pariwisata. Selama ini, banyak di antara mereka telah berkontribusi memperkuat industri ini sehingga bertahan untuk jangka waktu yang panjang: berbagi rumah dengan kami, menyediakan layanan bagi pelancong, serta menyambut hangat kedatangan para turis. 

Kami berutang kepada mereka. Itulah sebabnya kita perlu mengambil tindakan yang kuat dan tepat waktu demi melindungi industri pariwisata dan memastikan keberlangsungan mata pencaharian.

Setidaknya kini kita melihat ada harapan setelah sejumlah pemerintah bersiap melakukan tindakan. Dalam seminggu terakhir, Sekjen UNWTO mengaku telah menyampaikan pesan kepada para Menteri Pariwisata negara-negara G20, mendesak mereka untuk segera bertindak. Dia juga menyampaikan hal serupa kepada para menteri dari 27 negara Uni Eropa. Kedua blok ini memiliki kesempatan untuk segera membuat agenda.

Organisasi Pariwisat Dunia UNWTO sepakat dengan Komisaris Uni Eropa, Thierry Breton, yang menyerukan agar 25% dari total dana darurat dialokasikan untuk membantu industri pariwisata. Jumlah itu sekaligus mencerminkan dua hal, yakni dampak Covid-19 terhadap pariwisata Eropa dan kemampuan sektor ini memberi perubahan positif.

Sejarah mencatat peran penting industri pariwisata dalam pemulihan ekonomi. Oleh sebab itu Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) merasa terhormat saat diandalkan untuk melakukan hal itu, apalagi tindakannya didukung Yang Mulia Raja Felipe VI dari Spanyol. Selain sebagai rumah bagi WNWTO, Spanyol juga dianggap sebagai negara tujuan wisata terkemuka di dunia, bahkan dianggap sebagai contoh bagaimana pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan dan bertanggung jawab bagi kemaslahatan orang banyak.  

Dukungan tingkat tinggi seperti itu, baik nasional maupun internasional, penting bagi UNWTO untuk segera bergerak maju. Data ILO soal banyaknya jumlah jam kerja yang hilang menunjukkan perlunya segera diambil tindakan. Semakin lama menunda memberi reformasi keuangan dan peraturan yang diperlukan sektor pariwisata, semakin banyak risiko kehilangan mata pencaharian.

 

Ikutan Yuk Virtual Photoshoot Bareng Kawisata 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) menyelenggarakan kegiatan “Virtual photoshoot” untuk mengajak para netizen atau masyarakat umum lainnya  untuk mengikuti kegiatan berfoto dengan penampilan dan gaya terbaik serta keren ala selebgram.

Humas Kawisata M.Ilud Siregar  menyampaikan kegiatan Virtual Photoshoot bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan masyarakat selama beraktivitas #dirumahaja pada masa pandemi COVID-19. 

“Harapannya masyarakat bisa mengisi waktu luangnya dengan aktivitas yang produktif dan aman di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah,” kata Ilud.

Virtual photoshoot merupakan sesi photoshoot jarak jauh yang dilakukan secara online. Fotografer professional akan memotret peserta kegiatan ini menggunakan kamera profesional sehingga hasil fotonya akan bagus dan maksimal seperti foto-foto para selebgram.

Biaya pendaftaran untuk kegiatan ini adalah Rp 65,000 per sesi foto (harga normal). Sementara untuk 20 pendaftar pertama akan diberikan harga spesial yaitu Rp 45,000 per sesi foto. Biaya tersebut sudah termasuk 12 softcopy foto, 1 softcopy foto yang telah diedit secara profesional dan video photoshoot.

Menariknya, dengan mengikuti kegiatan ini, maka para peserta pun juga sekaligus bisa berdonasi karena dari setiap pembelian tiket akan didonasikan Rp 5,000 kepada para korban terdampak krisis pandemi Covid-19. 

Kegiatan akan diadakan pada hari Minggu  besok (3/5/2020). Tampilan gaya dan  foto terbaik akan mendapatkan gift menarik dari Kawisata serta foto akan ditampilkan di media sosial Kawisata.

Selama  masyarakat melakukan aktivitas bekerja, belajar dan ibadah di rumah mengatasi penyebaran pandemi global COVID -19,  PT Kawisata sebelumnya menyelenggarakan virtual tour, Lawang Sewu. Semarang  yang disambut positif oleh masyarakat.

 

Tren Wisata ke Depan, Traveling Bersama Hewan Peliharaan

this formate

Barry dan Yanti Corbett bersama hewan peliharaannya yang kerap hang out dan berwisata bersama. ( Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna mencegah penyebaran virus COVID-19 membuat polusi udara di Jakarta menurun. Kondisi jalanan ibukota juga menjadi lebih sepi dari sebelum Corona merebak.

Kondisi jalan yang sepi, langit biru cerah dan sangat indah kerap membuat orang tergiur untuk melakukan aktivitas di luar rumah dan merindukan momen car free day di akhir pekan yang biasa dilakukan atau sekedar  berjalan-jalan dengan hewan peliharaan.

Namun kebijakan PSBB yang harus dilakukan dan kesadaran penuh untuk mentaati protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus membuat Yanti Corbett, Direktur di DEKA Marketing Research memilih tetap di rumah dan melakukan “jalan-jalan” dengan sejumlah anjing peliharaannya di halaman rumahnydisaja di kawasan Jalan Bangka,  Jakarta Selatan.

“Entah kapan berakhirnya pandemi ini padahal bersama suami, Barry Corbett, kami bahkan kerap membawa hewan peliharaan juga berwisata,” kata Yanti tertawa.

Bersama suami dia kerap searching tempat-tempat yang ramah hewan peliharaan sehingga pernah menginap di villa di Anyer, glamping di Sukabumi, jalan-jalan ke pantai di Sukabumi,  menginap di villa Bogor, Jawa Barat dan aktivitas lainnya bersama hewan peliharaan yang sudah seperti anggota keluarga 

” Sejauh ini liburan bersama binatang peliharaan masih menggunakan kendaraan pribadi. Ada tiga anjing yang lucu nananya  Oppy, 10 tahun, jenis campur, dia sebenarnya baik tapi agak penakut. Anjing ke dua namanya Zoey, 9 tahun, jenis Shih Tzu, sangat ramah dan lucu dan yang ketiga namanya Oscar, usia 5 tahun, jenis Beagle, gendut jadi lucu. Semuanya sih manis kalau diajak pergi sebagai travelers,” jelas Yanti Corbett.

Ke tiga hewan peliharaannya ini sebelum mekuasnya wabah pandemi global juga  hampir tiap weekend jalan pagi dari rumah ke Kemang Village dan ‘ngeceng’ di area terbuka mall itu lalu ikut hang out di beberapa cafe atau pubs di Kemang juga.

” Dulu kalau kami bawa anjing peliharaan jalan-jalan ke tempat umum biasabya tanggapan masyarakat suka takut, tapi sekarang kalau kami jalan bareng justru anak -abak kecil mendekat dan berusaha akrab dengan Oppy, Zoey dan Oscar,”  tambah Yanti.

Membawa hewan peliharaan traveling memang semakin lumrah. Riset Booking.com menunjukkan mengajak  hewan peliharaan jadi prioritas lebih dari separuh (55%) pemilik hewan peliharaan global. Mereka menganggap hewan peliharaan tidak kalah penting dari anak sendiri. Jadi tidak heran kalau di tahun 2020 akan semakin banyak yang pergi berlibur dengan membawa hewan peliharaan. 

Semakin banyak traveler yang mementingkan kebutuhan hewan peliharaannya sebelum kebutuhan mereka sendiri saat memutuskan destinasi, akomodasi, dan aktivitas yang akan dilakukan. 

Sebanyak 42% pemilik hewan peliharaan global setuju bahwa tahun ini mereka akan memilih destinasi liburan berdasarkan kemungkinan mereka membawa peliharaannya, dan 49% rela membayar lebih untuk akomodasi yang ramah hewan peliharaan.

Tren ini juga terlihat dari jumlah properti ramah peliharaan yang terus meningkat di Booking.com. Akomodasi di seluruh dunia akan terus mencari cara yang inovatif untuk menawarkan layanan dan amenitas khusus hewan peliharaan, seperti tempat tidur anjing gratis, spa hewan, layanan kamar dengan menu khusus, bahkan restoran yang dirancang khusus untuk hewan peliharaan. 

Hewan-hewan peliharaan yang berlibur ini tampaknya akan mendapat pelayanan bintang lima. Yanti Nisro mengaku dalam perjalanan ke luar negri di Eropa dan Amerika saat di airport internasional dia pernah melihat traveler yang membawa anjingnya naik pesawat.

“Saya juga lihat di video-video anjing menginap di hotel-hotel mewah, tapi kani sendiri belum pernah membawa Oppy, Zoey dan Oscar menginap di hotel-hotel berbintang meski di Jakarta sudah banyak hotel yang ramah dengan binatang peliharaan,” kata Yanti.

Dari tiga hewan peliharaannya itu, anjing nomor satu yang bernama Oppy yang paling bersikap manis saat diajak pergi namun dia tetap belum berani membawanya traveling ke Bali, misalnya, karena harus naik pesawat terbang. Tentunya dia akan sangat mendukung jika  di Indonesia boleh bawa anjing ikut dalam penerbangan pesawat.

“Agak complicated sih jika bawa pets ikut liburan, selain tergantung tujuannya  kemana dan jika hanya semalam menginap di villa-vila di kawasan Jawa Barat masih bisa. Tapi kalau pergi seminggu bersama ‘ mereka ‘ mengurusnya repot juga,” kata Yanti mengakhiri obrolan sambil tergelak.

 

Wamenparekraf Optimistis Kerjasama Asean Percepat Pemulihan Pariwisata

this formate

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo patiwisata Asean akan lebih cepat pulih ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pariwisata di kawasan regional diyakini akan pulih lebih cepat dengan syarat negara-negara Asean harus perkuat kerja sama dan kolaborasi meski beberapa studi menyatakan sedikitnya butuh waktu lima tahun bagi sektor pariwisata untuk kembali normal dari COVID-19.

“Saya percaya ASEAN bisa lebih baik dari itu, hingga pemulihan tidak sampai lima tahun apalagi Indonesia berkomitmen bersama seluruh negara anggota ASEAN untuk mendorong visi bersama melakukan mitigasi dan pemulihan sektor pariwisata, baik selama maupun usai pandemi COVID-19,” kata Angela  Tanoesoedibjo, Wamenparekraf, hari ini.

Dia kembali membahas pertemuan para menteri pariwisata negara-negara ASEAN dalam “Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)” pada Rabu malam (29/4/2020). ” Pertemuan inimemang harus segera ditindaklanjuti sehingga ketika pandemi berakhir negara Asean sudah lebih siap dalam melakukan normalisasi,” tegasnya.

Apalagi Negara-negara anggota ASEAN  telah menyepakati tujuh upaya kerja sama di bidang pariwisata sebagai langkah mitigasi terhadap sektor yang dianggap paling terpukul paling dalam akibat pandemi COVID-19.

“Kerja sama yang kuat dibutuhkan dalam upaya menangani bersama dampak COVID-19 dalam sektor pariwisata di kawasan ASEAN. Saatnya kita semua para anggota ASEAN untuk bersama. Dengan bersama kita bisa kuat,” kata Angela yang hadir dipertemuan virtual itu.

Negara-negara anggota ASEAN melaporkan kinerja pariwisata yang menurun sekitar 36 persen pada kuartal pertama 2020, dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 dan 2019.

Tingkat kedatangan wisatawan internasional tercatat menurun sekitar 34 persen, dan tingkat hunian kamar hotel saat ini berada pada titik terendah dan banyak terjadi pembatalan dalam industri tur dan travel.

Negara-negara anggota ASEAN pun kini telah merevisi atau sedang melakukan mengoreksi target mereka dalam jumlah kunjungan wisatawan internasional dan penerimaan dari sektor pariwisata.

Pertemuan tersebut menghasilkan_joint statement_ yang memuat tujuh point hasil kesepakatan bersama seluruh menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama pariwisata, salah satu sektor ekonomi yang paling terpukul dalam pandemi.

Pertama, para menteri sepakat untuk membina koordinasi ASEAN dalam mempercepat pertukaran informasi tentang perjalanan, terutama terkait standar kesehatan dan langkah-langkah lain yang diperlukan negara-negara anggota ASEAN dalam mengendalikan penyebaran wabah COVID-19 melalui peningkatan operasi Tim Komunikasi Krisis Pariwisata ASEAN (ATCCT).

Kedua, mengintensifkan kolaborasi Organisasi Pariwisata Nasional (NTOs) ASEAN dengan sektor-sektor ASEAN lain yang relevan, terutama di bidang kesehatan, informasi, transportasi, dan imigrasi serta dengan mitra eksternal ASEAN, untuk bersama-sama mengimplementasikan langkah-langkah yang komprehensif, transparan dan respons yang cepat dalam mitigasi dan mengurangi dampak COVID-19 serta krisis lain di masa depan.

Ketiga, para menteri juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang lebih erat dalam berbagi informasi dan praktik terbaik di antara negara-negara anggota ASEAN serta dengan mitra dialog ASEAN dalam mendukung sektor pariwisata.

Keempat, kerja sama ini juga mencakup penerapan kebijakan dan langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan antara pengunjung domestik dan internasional ke Asia Tenggara, termasuk pengembangan standar dan pedoman dalam meningkatkan faktor keamanan dan kesehatan guna melindungi para pekerja dan masyarakat di industri perhotelan dan industri lainnya terkait pariwisata.

Kelima, para menteri pariwisata juga sepakat untuk mendukung pengembangan dan implementasi rencana pemulihan krisis pasca COVID-19 serta membangun kemampuan pariwisata ASEAN serta upaya promosi dan pemasaran pariwisata bersama dengan tujuan memajukan ASEAN sebagai _single tourism destination_.

Keenam, para menteri sepakat untuk mempercepat penerapan kebijakan mikro dan makro ekonomi, memberikan dukungan teknis dan stimulus keuangan, pengurangan pajak, peningkatan kapasitas dan kemampuan, terutama keterampilan digital bagi para stakeholder industri perjalanan dan pariwisata.

Ketujuh, mempercepat kerja sama dengan mitra dialog ASEAN, organisasi internasional dan industri yang relevan untuk membangun Asia Tenggara yang tangguh dan siap untuk secara efektif menerapkan dan mengelola pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif setelah krisis.

 

Burung Hantu, Ada 56 Jenis, 20 Endemis Indonesia & Tiga di Bali

this formate
Tyto alba

Matahari terbenam,

hari mulai malam,

terdengar suara burung,

suaranya merdu,

kuu kuk, kuu kuk, kuu kuk, kuk kuk kuk kuk

PERNAH mendengar tembang tersebut? Dan pernah melihat yang empunya suara? Saya mengingat tembang itu – walau lupa peciptanya– saat berada di Pulau Dewata. Suatu malam suara burung menyapa telinga saya, terdengar seperti suara Celepuk Reban, atau Sunda Scops Owl, salah satu jenis burung hantu yang umum di Bali. Bali sendiri merupakan salah satu kawasan yang memiliki banyak jenis burung, yang popular tentunya Jalak Bali.

Saya ingin berbagi tentang burung hantu, karena Bali memiliki Taman Nasional Bali Barat, yang merupakan kawasan konservasi terbaik untuk mengamati, memotret, dan meneliti berbagai jenis burung termasuk burung hantu. Kawasan konservasi ini sudah menjadi salah satu destinasi utama bagi kegiatan Bird Tour.

Alasan lain, di Bali sudah ada desa ramah burung hantu. Di desa ini, terdapat habitat burung hantu jenis Barn Owl (Tyto alba), dan sering disebut dengan Serak Jawa, yang memiliki wajah seperti hati. Jenis ini memang merupakan jenis paling banyak ditemukan di hampir seluruh negara kecuali di kawasan Antartika. Serak Jawa juga merupakan pemangsa utama tikus, sehingga para petani tidak memerlukan racun tikus, atau obat pembasmi tikus pada sawah dan ladangnya. Cukup dengan memfasilitasi Serak Jawa agar bisa berhabitat di sekitar persawahan petani, dengan cara membangun RuBuHa (Rumah Burung Hantu).

Selain Serak Jawa, dan Celepuk Reban, ada tiga lagi jenis burung hantu di Bali. Yaitu Barred Eagle Owl (Bubo sumatranus), yang biasa disebut dengan burung Hantu Hinggik, Buffy Fish Owl (Ketupa Ketupu), dan Oriental Bay Owl (Phodilus badius), biasa dikenal dengan sebutan Serak Bukit atau Wiwi Wowo. Mereka karnivora (pemakan daging) sejati, bahkan sanggup memangsa sesamanya. Jenis Ketupa Ketupu, selain pemakan daging dia juga makan satwa air seperti ikan, kepiting, kodok, dan lainnya.  

Barred Eagle Owl (Bubo sumatranus) @Dyahwara

Burung hantu Hinggik, Ketupa Ketupu, dan Serak Bukit juga hidup di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Burung hantu Hinggik dewasa, berbadan besar, bermata hitam, berbulu hitam keputihan, tetapi saat bayi sampai remaja burung tersebut berbulu putih seperti kapas. Sehingga sulit membedakan Serak Bukit dan Serak Jawa saat masih kecil dan remaja.

Ketika dewasa, ada perbedaan pada warna bulu, yang cenderung cokelat keemasan pada seluruh tubuhnya, dan wajah seperti hati, dan ada bulu yang sedikit mencuat seperti telinga. Ketupa Ketupu juga memiliki badan yang besar, namun tidak sebesar burung hantu Hinggik, dengan bulu berwarna cokelat, bergaris hitam, dan memiliki mata berwarna kuning yang berpendar pada waktu gelap. Celepuk Reban merupakan jenis burung hantu terkecil dari kelima jenis burung hantu di Bali. Celepuk memiliki bulu cokelat dan mengonsumsi serangga sebagai makanan utamanya. Selain fisik, yang membedakan ketiga jenis burung hantu di Bali ini, adalah suaranya. Suara menentukan jenis apa dan berhabitat dimana.

Burung hantu merupakan satwa yang dapat tinggal di suatu kawasan dalam satu jangka waktu yang lama dengan catatan apabila makanan nya masih tersedia di kawasan tersebut. Ketika sumber pangan nya sudah tidak ada, maka burung hantu akan berpindah ke kawasan lainnya.     

The Owl World of Indonesia, mencatat ada 56 jenis burung hantu di Indonesia, kurang lebih 20 jenis endemis Indonesia (data tahun 2018). Dan keberadaan burung hantu ini tersebar di seluruh pulau di kepulauan Nusantara, sampai di pulau-pulau kecil, seperti Pulau Seram, Pulau Biak, Pulau Wetar, dan lainnya.

Jumlah burung hantu semakin menurun dikarenakan deforestasi, perburuan, perubahan fungsi lahan, serta kemungkinan perubahan iklim. Hasil Monitoring burung hantu yang dilakukan The Owl World of Indonesia di pegunungan Menoreh Jawa Tengah, Juni 2019 lalu, bahwa sekitar empat atau tiga tahun lalu masih banyak terlihat burung hantu berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk, yaitu jenis Serak Jawa, dan Celepuk Reban. Namun tahun lalu, hanya terlihat satu ekor Serak Jawa dan terdengar suara satu ekor Celepuk di kejauhan.

Eksotis dan prestise

Pulau Bali sendiri tercatat sebagai salah satu daerah transit perdagangan antar pulau untuk burung hantu, dari Indonesia Timur untuk perjual belikan di Pulau Jawa (Hasil Monitoring Perdagangan Burung Hantu di Jawa 2018 – 2019).

Alasan utama masyarakat memelihara Burung Hantu karena dianggap ‘eksotis’, ‘prestise’, dan cinta hewan. Untuk alasan terakhir,— rasa cinta hewan — diekspresikan dengan memelihara hewan dengan ‘layak’ (menganggap tidak melanggar animal welfare), dijinakkan agar bisa menurut, dan sesekali diajak jalan-jalan atau di display di alam terbuka, atau gathering dengan pecinta lainnya.

Hasil monitoring terhadap komunitas pecinta burung hantu di Indonesia, menunjukkan hampir setiap kota besar di Indonesia terdapat satu komunitas pecinta burung hantu. Kelompok masyarakat yang memelihara, menjinakkan, dan melatih burung hantu (aviary), serta sesekali melakukan gathering dengan anggotanya.

Dalam pengamatan saya, gaya hidup memelihara burung hantu cenderung berkurang sejak tahun 2019, dengan adanya sosialisasi mengenai perlindungan satwa liar, dan tindakan hukum terhadap penjual, serta pemelihara burung hantu yang diambil langsung dari alam, sesuai dengan Permelhk No.106 Tahun 2018).

Burung hantu diburu selain untuk dipelihara, dijual baik di pasar burung, mau pun secara online di beberapa tempat, juga diburu untuk dibunuh karena mengganggu hewan ternak masyarakat seperti ayam, atau bebek. Seperti yang terjadi di salah satu kawasan di Jawa Barat, penduduk memburu, dan membunuh burung hantu setelah diketahui memangsa anak ayam, atau bebek di peternakan mereka (Hasil Survey Persepsi Masyarakat terhadap Burung Hantu 2018).

Kasus konflik burung hantu dengan manusia yang terjadi di Jawa Barat itu, kemungkinan besar terjadi dikarenakan makanan burung hantu sudah langka di sekitarnya. Mereka mendekat ke sekitar pemukiman yang memiliki ketersediaan makanan. Karenanya, upaya perlindungan, dan pelestarian burung hantu dilakukan, agar jumlah burung hantu tidak menurun, sehingga menyebabkan populasi tikus tidak terkendali, yang dapat merugikan tanaman pangan kita. Menjaga ekosistem alam dengan tidak memelihara burung hantu, perlu mendapat apresiasi. Paling tidak kita masih bisa bersenandung “kuukuk kuukuk, kuukuk, kukuk kukuk”.  (Diyah Wara Restiyati – Koordinator The Owl World of Indonesia).

Ratusan Turis Masih Terjebak di Pulau Resor Mewah, Maldives

this formate

Pantai biru di Maldives yang sempurna (foto: absolutely London)

MALADEWA, bisniswisata.co.id: Sekitar 500 pelancong masih terjebak di Maldives atau dalam bahasa Indonesia, Maladewa – negera kepulauan di Samudera Hindia yang terkenal dengan resor mewahnya. Menteri Pariwisata Ali Waheed kepada CNN mengatakan 100 orang di antaranya bahkan terpaksa tinggal di bandara karena sudah tak sanggup lagi membayar biaya penginapan di resor.

Mereka terjebak sejak sebulan lalu saat kasus pertama virus Corona ditemukan di Republik Maladewa, negara kecil dengan rangkaian 26 atol seluas 90 km2 itu. Dua kasus virus corona pertama dikonfirmasi pada 8 Maret. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 12 Maret, Menteri Kesehatan setempat mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat.

“Kami percaya mereka ini seperti halnya penduduk lokal, sama-sama membawa negara ke keadaan sekarang,” ujar Waheed.

Data terakhir yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan ada 468 kasus Corona di pulau yang mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 1965 itu. Dari jumlah tersebut, 17 pasien dinyatakan pulih, sementara seorang meninggal dunia.

Popularitas Maldives sebagai lokasi tujuan untuk berlibur terus menanjak belakangan ini. Meski dianggap mahal, negara kepulauan yang berada di barat daya India ini selalu masuk dalam daftar wajib kunjungan para pelancong dari berbagai belahan dunia. 

Pantai biru yang sempurna serta ketersediaan resor-resor mewahnya makin melambungkan nama negara yang berada di urutan 10 sebagai negara terkecil di dunia itu. Jumlah penduduknya (menurut sensus 2006) hanya 100.000 lebih sedikit. Tercatat ada 1.192 pulau di sana dengan rata-rata dihuni 200-an orang.

New York Times (NYT) awal April lalu melaporkan kisah sepasang pengantin baru yang terjebak dan terpaksa menghabiskan bulan madu tanpa tahu kapan berakhir.

“Tak ada lagi tempat untuk pergi. Pasangan itu bak penguasa yang baik, sekaligus merupakan tawanan di pulau itu. Hari-hari panjang mereka lewati dengan bermalas-malasan: tidur, snorkeling, bersantai di pinggir kolam, dan terus menerus berulang,” tulis NYT. 

“Semua orang mengatakan mereka ingin terjebak di pulau tropis, sampai Anda betul-betul merasakannya,” kata Olivia De Freitas, salah seorang pasangan itu seperti dilansir NYT. “Itu hanya terdengar bagus jika Anda tahu bisa meninggalkannya kapan saja.”

 

 

Amazy Cari Donor Paket Sembako Makanan Beku & Tawarkan Solusi Reseller Bagi yang Terdampak COVID-19

this formate

Yanti Melianty Isa, Pendiri dan CEO PT MagFood Amazy Internasional

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Paket sembako banyak dibagikan instansi pemerintah, organisasi maupun individual untuk membantu warga terutama pekerja harian yang terimbas oleh pandemi global COVID-19.

Ekonomi mereka yang setiap harinya hanya ditopang oleh pendapatan pada hari itu juga memang begitu merana. Pemasukan menjadi sangat rentan karena ketika mereka tidak bekerja, maka pendapatan mereka juga tidak ada.

Pekerja informal, pedagang kecil-kecilan, dan orang yang kerjanya serabutan, tentu mereka sangat rentan dengan kemiskinan. Satu hari saja mereka tidak bekerja, maka tidak ada yang dapat dimakan untuk hari itu dan esoknya.

Bukan hanya warga, nasib berbagai perusahaan kategori usaha mikro, kecil, menengah ( UMKM ) terutama di sektor pariwisata sudah banyak yang tutup dan merumahkan karyawan. Jutaan orang yang hidupnya tergantung sektor pariwisata sudah menjadi pengangguran. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi hampir diseluruh dunia. 

Tak heran paket bantuan banyak dibagikan pada masyarakat. Pemerintah, beragam organisasi maupun individual banyak melakukan pengumpulan dana untuk membantu sesama. Diawali dengan memenuhi kebutuhan APD, masker dan kebutuhan medis lainnya kini paket sembako banyak dibutuhkan masyarakat.

Paket sembako biasanya terdiri dari beras 5 kg, minyak goreng 1kg, mie instan dan kebutuhan pokok lainnya. Tidak jarang pula ada yang memasukkan  masker dan biskuit.

Setelah hampir dua bulan menjalani Work from Home ( WfH) bagi orang kantoran, belajar di rumah bagi pelajar dan mahasiswa serta beribadah di rumah yang  dilanjutkan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang berlaku diberbagai daerah hingga sekarang maka asupan nutrisi harus terjaga.

Meski harus banyak berada di rumah, kita tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi harian kita. Tujuannya agar tubuh selalu sehat, sehingga sistem imun juga tetap terjaga dan bisa melawan berbagai penyakit yang masuk ke tubuh.

Kebutuhan nutrisi

Nah, untuk itu ada tiga jenis makanan yang tidak boleh lupa untuk selalu dikonsumsi meski kita harus banyak berada di rumah yaitu karbohidrat, protein dan serat. Selain beras atau nasi karbohidrat bisa diperoleh dari kentang, pasta, singkong, mi, roti, dan lainnya. Sedangkan protein sumbernya dari telur yang paling mudah didapatkan dan juga murah dan makanan dengan bahan dasar daging. 

Untuk memenuhi kebutuhan protein lainnya daging segar, misalnya daging sapi atau ayam bisa disimpan dengan cara dibekukan. Kita juga bisa membeli beberapa pilihan daging kalengan, misalnya tuna atau kornet agar bisa disimpan lebih lama.

Untuk serat maka sayur dan buah dapat melengkapi kebutuhan serat  pelengkap menu makanan harian. Sayuran berbatang seperti brokoli atau wortel cenderung lebih awet untuk disimpan dibandingkan sayuran berdaun.

Saat semua orang membutuhkan nutrisi makanan yang baik itulah Yanti Melianty Isa, CEO PT Magfood Amazy Internasional menghimbau agar para penyumbang memikirkan nutrisi dari paket sembako yang mereka bagikan.

“Kami mencoba melayani paket dari produk beku yang selama ini diproduksi sendiri dan di sajikan di restoran Amazy. Malah di saat banyak orang menganggur kami juga tawarkan mata pencaharian baru sebagai reseller,” ujarnya, hari ini melalui chat.

Sebagai pendiri dan CEO perusahaan ini yang berlatar belakang bidang Fast Moving Consumer Goods ( FMSG)  dari berbagai perusahaan multinasional, Yanti langsung menyemangati para franchisee untuk fokus menjual produk beku mereka yang kaya karbohidrat dan protein.

Mulai mendirikan PT MagFood Inovasi Pangan pada 2001 yang bergerak di bidang Food Seasoning dan Product Development dengan sistem franchise,  perusahaannya melayani kebutuhan R&D industri makanan di Indonesia sebagai pusat pengembangan produk dan usaha bagi UKM.

“Visinya 500 outlet di Indonesia dan 100 outlet di ASEAN tahun 2025. Pada 29 Febuari 2020 lalu kami masih bisa menggelar konferensi tahunan untuk para  franchisee mengangkat tema Strategi Bisnis Untuk Menuju Amazy Yang Gemilang,” kata Yanti.

Siapa sangka kemudian virus Corona melanda dunia. Dalam hitungan dua bulan bisnis pariwisata di dunia hancur, diikuti bisnis di sektor lainnya. Restoran keluarga Amazy sebagai penunjang bisnis pariwisata termasuk yang paling cepat terkena imbasnya.

” Baik pemerintah, perusahaan maupun individu pasti terkaget-kaget menghadapi situasi seperti ini. Namun kita harus melakukan gerak cepat dan melakukan penyesuaian seoptimal mungkin dan tentunya dengan tetap mempertahankan karyawan, ” tambah

Maklum , kini outlet-outlet Amazy tersebar di seluruh Indonesia dan Malaysia. Selain di ibukota Provinsi juga tersebar di ibukota Kabupaten. Di Malaysia akan membuka 2 cabang baru antara lain Gombak dan Melaka dan akan menyusul kota-kota lainnya.

Yanti sebagai pengurus Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia ( HIPPI) pimpinan Suryani Motik sangat concern dengan ketahanan pangan nasional menghadapi pandemi global ini. Oleh karena itu dia mengamankan bisnis hulu dan hilirnya agar produksi makanan beku terus berjalan dan dapat dikonsumsi masyarakat.

Dia tidak segan-segan japri, WA untuk menawarkan produk Magfood dengan brand Amazy untuk menjadi stok makanan beku di rumah keluarga Indonesia termasuk menawarkan produknya pada para donatur untuk memberikan makanan sehat pada mereka yang terdampak COVID-19.

Hal ini bisa terlihat dari dagingnya yang putih bersih karena melalui penentuan jenis ayam yang berumur 8-9 minggu untuk ayam tumbuh normal tanpa bantuan hormon pertumbuhan yang berbahaya. Kemudian dilanjutkan dengan proses pembersihan lemak dan lendir yang menempel pada daging ayam sehingga dapat dihasilkan produk ayam dengan kualitas terbaik.

Selain itu menggunakan 20 jenis bumbu rempah diolah dari bahan alami tanpa pengawet yang diracik oleh tim R&D Magfood menjadikan Chicken Crips Amazy memiliki cita rasa khusus yang disukai banyak kalangan. 

Paket Reseller

Pandemi global, kata Yanti, bukan ‘kiamat’ tapi justru Allah SWT  memanggil umatnya untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta dan menata ulang cara hidup dan ibadah-ibadahnya.

” Buat mereka yang sementara waktu ini kehilangan pekerjaan harus tetap semangat dan optimistis karena kami menawarkan peluang sebagai reseller dengan modal terjangkau yaitu paket silver  Rp 1 juta dan paket gold Rp 6 juta,” jelas Yanti.

Paket reseller ini bisa dijual pada keluarga besar, tetangga, komunitas, WA grup dan lainnya tanpa harus meninggalkan rumah. Dia berharap himbauannya ini menjadi solusi untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.

Sebagian franchisee Resto Amazy yang outlet nya tutup ataupun masih buka tapi drop penjualannya agar bisa tetap membuka lapangan kerja bisa menjalankan bisnis ini dan masyarakat luas siapa pun mulai dari Ibu Rumah Tangga maupun para pekerja yang terkena PHK atau pelaku bisnis lain yang tidak bisa berjalan bisa jalankan usaha ini dengan memanfaatkan kenalan sekitar

Yanti optimistis harga paket Resellernya terjangkau, apalagi jutaan Aparat Sipil Negara ( ASN) yang ingin memiliki tambahan penghasilan juga bisa ikut. bagi mereka yang berprofesi sebagai ASN atau pegawai negri, meskipun kerja dari rumah, gaji mereka di awal bulan masih tetap diterima utuh

Saat bulan puasa seperti saat ini, ungkap Yanti. pihakya sering mengadakan pengajian dan tausiah lainnya di restoran, namun kebijakan sosial dan phisycal distancing membuat kegiatan ini sementara ditiadakan dulu.

Dia berharap usai pandemi global COVID-19 rencana pengembangan bisnis Amazy pun terus dilakukan untuk mencapai visi 2025. Hingga saat ini dalam berbagai kreasi menu sudah ada Chicken Crispy Sambal Geprek, Red Chili Chicken serta berbagai olahan ayam, aneka saos spesial, aneka Nasi Goreng, berbagai kreasi Spaghetti dan lain sebagainya. 

Pada tahun ini Amazy akan melaunching Amazy Coffee Corner untuk para penikmat kopi. Beberapa varian product yang akan di launcing adalah Es Kopi Susu Single, Es Kopi Susu Double, Es Kopi Coklat, Es Americano. Akan dikemas dalam paket usaha Commercial Type,  Milenial Type dan Idealist Type. 

Selain itu produk lainnya seperti minuman Espressobase, Cappucino Latte dll.  Untuk Pecinta Kopi Speciality Amazy juga akan menghadirkan berbagai macam kopi Khas Daerah Indonesia. 

Amazy Coffee Corner ini merupakan kesatuan dari Amazy Family Resto yang saat ini sedang bebenah diri dalam meningkatkan image dan kualitas produk maupun pelayanan. Produk kopi yang disajikan merupakan pendukung gaya hidup bagi keluarga muda dalam mengantar anak-anak bermain dan belajar di resto  Amazy.

 

 

 

 

 

 

Pelaku UMKM Parekraf Dapat Mengakses Lima Skema Program Bantuan

this formate

Kemenparekraf bersinergi dengan Kementrian sosial untuk penyaluran bantuan sosial paket sembako bagi para pejerja Parekraf

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif siap melakukan fasilitasi terhadap pelaku UMKM di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dapat mengakses lima skema program bantuan yang telah disiapkan pemerintah untuk perlindungan dan pemulihan ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

Hasil pendataan terhadap pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19 tercatat sekitar 213 ribu pekerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terkena imbas wabah corona di 34 provinsi. Dari jumlah tersebut diantaranya adalah para pelaku UMKM pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Menparekraf Wishnutama.

Melalui data tersebut Kemenparekraf/Baparekraf pun menindaklanjuti dengan bersinergi dan berkoordinasi bersama kementerian/lembaga terkait yang akan menyalurkan program bantuan. Dengan Kementerian Sosial misalnya untuk penyaluran bantuan sosial seperti paket sembako, bansos tunai, BLT desa, hingga kartu prakerja. Sedangkan dengan Kementerian Keuangan untuk insentif perpajakan dan restrukturisasi kredit.

“Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan semaksimal mungkin melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait yang memiliki kewenangan dalam penyaluran skema bantuan bagi UMKM terutama yang bergerak di sektor parekraf,” kata Wishnutama.

Selain itu, Wishnutama menegaskan, pihaknya juga akan terus mengembangkan program mandiri untuk pemberdayaan pelaku UMKM di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sebelumnya Kemenparekraf telah menggulirkan program untuk memberdayakan pelaku UMKM parekraf yang diantaranya melalui kampanye nasional #GerakanMaskerKain, #GerakanLaukSiapSaji, dan gerakan #SatuDalamKopi yang bertujuan menggerakkan perekonomian dalam masa penanganan dampak COVID-19.

Kemenparekraf/Baparekraf juga akan meningkatkan pelatihan online untuk upskilling dan reskilling pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk UMKM. “Lewat program-program ini diharapkan masyarakat pariwisata dan ekonomi kreatif semakin kompetitif dan siap bangkit bersama ketika pandemi ini berlalu,” kata Wishnutama.

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 29 April 2020 mengatakan pemerintah menyiapkan lima skema perlindungan dan pemulihan ekonomi bagi sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Termasuk program khusus bagi pelaku usaha ultra mikro yang diharapkan dapat membuat mereka dapat bertahan di tengah pandemi COVID-19.

“Ada lima skema besar dalam program perlindungan dan pemulihan ekonomi, utamanya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk program khusus bagi usaha ultra mikro dan usaha mikro yang selama ini tidak bersentuhan dan tidak terjangkau oleh lembaga keuangan maupun perbankan,” ujar Presiden Joko Widodo.

Skema pertama diperuntukkan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang masuk kategori miskin dan rentan terdampak COVID-19 diupayakan agar masuk sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

Skema kedua yakni insentif perpajakan yang berlaku bagi para pelaku UMKM dengan omzet di bawah Rp 4,8 miliar per tahun. Terhadap mereka, pemerintah telah menurunkan tarif PPh final dari 0,5 persen menjadi 0 persen selama enam bulan dimulai dari April sampai September 2020.

Skema ketiga adalah relaksasi dan restrukturisasi kredit UMKM. Skema ini meliputi penundaan angsuran dan subsidi bunga bagi para penerima KUR, UMi, PNM Mekaar, LPDB, hingga penerima bantuan permodalan dari beberapa kementerian.

Skema keempat, pemerintah akan memberlakukan perluasan pembiayaan bagi UMKM berupa stimulus bantuan modal kerja. Hingga saat ini sudah terdapat 41 juta pelaku UMKM yang terhubung dengan lembaga pembiayaan maupun perbankan. Namun, masih terdapat 23 juta pelaku UMKM yang belum pernah mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan maupun sistem perbankan.

Skema kelima, pemerintah melalui kementerian, lembaga BUMN, dan pemerintah daerah akan bertindak sebagai penyangga dalam ekosistem UMKM, utamanya pada tahap pemulihan dan konsolidasi usaha setelah pandemi COVID-19.