Whisnutama: Mari Bersama Jaga Ketahanan Industri Pariwisata

this formate

Mobil listrik Grab diparkir untuk fasilitasi transportasi tenaga medis. Kemenparekraf Gandeng Grab Siapkan Transportasi untuk Tenaga Medis RS Rujukan COVID-19. ( Foto: Memenparekraf) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjaga ketahanan industri pariwisata dengan menggandeng Grab Indonesia dalam menyediakan sarana transportasi bagi tenaga kesehatan Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Mintohardjo.

Menparekraf Wishnutama menekankan kerja sama ini adalah salah satu upaya menjaga ketahanan industri pariwisata termasuk para pengemudi, dimana Grab Indonesia selama ini memiliki peran dalam menyediakan alternatif transportasi bagi wisatawan.

Pihak Grab Indonesia akan menyediakan layanan armada roda 4 khusus untuk tenaga medis yang bepergian antara RSAL Mintohardjo dan Hotel Le Meridien.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari berbagai stakeholder pariwisata yang semakin hari semakin besar, tidak hanya bersama-sama berupaya mencegah penyebaran COVID-19 tapi juga ketahanan industri,” kata Wishnutama Kusubandio saat meninjau kesiapan armada yang disiapkan Grab Indonesia di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dalam kerja sama ini Wishnutama mengatakan penerapan Standard Operational Procedure (SOP) yang dapat menjamin kebersihan dan keselamatan penumpang juga mitra pengemudi harus dijalani. Wishnutama pun menilai pihak Grab Indonesia telah menyiapkan SOP itu dengan baik.

“Kami yakin kolaborasi ini dapat memberikan rasa aman bagi mobilitas petugas medis maupun masyarakat yang membutuhkan di masa pandemi ini serta ke depannya mendukung industri pariwisata Indonesia untuk bangkit kembali,” katanya.

President of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata mengatakan, dalam menyediakan layanan transportasi yang aman dan nyaman, khususnya dalam masa pandemi dan perluasan PSBB di berbagai daerah di Indonesia, Grab mendedikasikan armada roda 4 khusus yang akan melayani para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia.

Armada khusus ini dilengkapi partisi plastik di dalam mobil yang melindungi pengemudi dan penumpang dan dilakukan disinfeksi secara berkala.

Selain itu mitra pengemudi juga telah diberi pelatihan SOP khusus terkait pencegahan penyebaran COVID-19 serta dilengkapi dengan APD seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizers.

“Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia untuk membantu mobilitas para tenaga medis dalam beristirahat setelah bertugas menangani pasien COVID-19. Kami juga siap untuk bisa mendukung industri pariwisata bangkit,” kata Ridzki Kramadibrata.

Kemenparekraf Tambah Akomodasi Hotel Untuk Tenaga Kesehatan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Seiring semakin bertambahnya permintaan fasilitas akomodasi bagi tenaga kesehatan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan akomodasi tambahan bagi 154 tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr. Mintoharjo, Jakarta dengan menempati 77 kamar di Hotel Le Meridien,  Jakarta.

“Kerja sama dengan pelaku industri pariwisata ini merupakan salah satu misi kemanusiaan. Di samping mendukung industri hotel tetap hidup. Sebab semua pihak harus bersatu bahu-membahu dalam menghadapi pandemi ini,” ujar Wishnutama Kusubandio saat meninjau kesiapan Hotel Le Meridien, hari ini.

Sebelumya, Kemenparekraf telah memfasilitasi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan untuk mendapatkan akses transportasi dan akomodasi bekerja sama dengan puluhan hotel. Mulai dari Accor Group, Swissbel Hotel, Reddoorz, Grand Sahid, dan terakhir dengan Hotel Le Meridien ini. Sedangkan untuk penyedia jasa transportasi, Kemenparekraf telah bekerja sama dengan Panorama Destination, White Horse, Antavaya, dan Grab.

Dalam upaya memberdayakan kalangan industri pariwisata, Wishnutama mengatakan, tidak hanya fasilitas dan kebutuhan pendukung bagi para tenaga kesehatan selama menginap seperti binatu untuk pakaian, makanan tapi juga menambah  layanan transportasi dengan Grab setiap harinya bagi para tenaga kesehatan dari RSAL Dr. Mintoharjo.

“Kami terus memfasilitasi permintaan dari RS untuk menyediakan akomodasi bagi tenaga kesehatan. Langkah ini sama artinya dengan upaya nyata bagi penerapan program-program yang sifatnya jaring pengaman untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Wishnutama.

Saat meninjau kesiapan dan standar operational procedure (SOP) kesehatan yang diterapkan pihak Hotel Le Meridien mulai dari proses check in, kebersihan kamar, pelayanan makanan dan lainnya, dia menjelaskan, melalui program ini tidak hanya tenaga kesehatan yang terfasilitasi, tapi sekaligus membantu pekerja, pengusaha hotel, dan pelaku usaha transportasi.

Para pekerja langsung seperti Divisi Front Office terdiri dari door boy, bell boy, Customer Service,  Housekeeping yaitu room boy, cleaning service, laundry,  Food and Beverage (F&B), Product (chef, assistant chef, bakery), F&B Service (waiters, room service), dan Back Office seperti accounting, administration menjadi semangat melatani dengan masuknya tamu-tamu hotel dari kalangan tenaga medis ini.

Sedangkan, pekerja yang tidak langsung seperti supplier sayuran, supplier ingredient (bumbu), daging, supplier antiseptik, supplier chemical perawatan hotel, dan sebagainya juga bisa terus bekerja seperti biasanya untuk menghidupi keluarganya.

“Kerja sama ini juga sebagai bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni bisnis hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya dengan program tersebut. Namun semua dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol dan SOP kesehatan yang ketat,” ujarnya.

General Manager Le Meridien Jakarta, Vikas Malik mengatakan, kerja sama ini jadi kesempatan baik bagi pihaknya tidak hanya dalam kelangsungan bisnis tapi juga membantu dalam penanganan COVID-19 dengan menyiapkan akomodasi bagi tenaga kesehatan.

“Kita mendapat kesempatan untuk mensupport dengan menjadi lokasi menginap tenaga kesehatan di hotel kami. Dalam praktiknya kami tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan dan kami memastikan semua akan berjalan baik,” kata Vikas Malik.

 

 

Hindari Perceraian Selama Lockdown, Orang Jepang Pilih Menyepi ke Hotel

this formate

 

Orang Jepang memilih hotel untuk menyelamatkan perkawinan (foto: CNN)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Cerita bermula saat Keisuke Arai, pegawai operator pariwisata yang berbasis di Tokyo, Jepang, mulai sering bertengkar dengan pasangannya selama masa lockdown. Seperti nasib penduduk di belahan  dunia lain, pandemi Covid-19 memaksa Arai untuk bekerja dari rumah.

Itu artinya dia menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasangan hidupnya  di rumah. Ini pengalaman baru buatnya dan ternyata tidak mudah untuk menyesuaikan diri hidup bersama pasangan selama 24 jam 7 hari, di bawah satu atap.

Dia pun bertanya-tanya apakah pengalaman serupa juga dialami pasangan lain. Tak menunggu waktu lama, jawaban atas pertanyaan itu muncul. Pada 3 April lalu hashtag#coronadivorce menjadi trending topik di media sosial. Banyak orang ngomel tentang pasangan mereka dan mengeluhkan hidup bersama terus-menerus. 

Dengan tingginya ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, banyak pasangan akan semakin stres. Arai melihat peluang bisnis sekaligus kesempatan untuk menyelamatkan hubungan para pasangan yang tengah terancam.

Komentar pasangan yang berseliweran di media sosial mencetuskan ide. Perusahaan tempat Arai bekerja, Kasoku, melihat peluang bagaimana menawarkan solusi sembari menghasilkan uang. Kasoku kemudian mengiklankan ratusan kamar hotel yang selama ini kosong kepada pasangan yang sedang stres; tentu dengan harga terjangkau.

Begini cara kerjanya: perusahaan menawarkan 500 kamar yang dilengkapi dengan perabot, di hotel maupun penginapan lain di seluruh Jepang. Para tamu dapat menginap sehari saja atau hingga enam bulan. Tarif sewa per unit sekitar US$ 37 per hari; sebulan US$ 844.

Sejauh ini sudah ada 140 orang yang menanyakan penawaran tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan berusia 30 sampai 40-an yang tengah mencari tempat yang tenang untuk bekerja jarak jauh. Ada juga pelanggan yang mencari kamar untuk sekadar menjauh dari pasangan mereka. Sudah 37 orang memutuskan untuk menyewa kamar.

“Kami ingin mencegah orang untuk bercerai,” kata Arai seperti dilansir CNN. “Tujuan di balik ide penyewaan kamar ini adalah agar pasangan yang sudah menikah mempunyai banyak waktu dan ruang untuk memikirkan kembali kondisi hubungan mereka.”

Saat Jepang tengah berjuang mengatasi wabah virus Corona, ada harga yang harus dibayar yaitu banyak kegiatan bisnis terhenti. Sektor pariwisata termasuk yang paling keras terdampak, karena para pelancong memilih menjauhi tempat-tempat wisata. Per 4 Mei, jumlah kasus Corona di Jepang tercatat 14.877 orang dan 487 orang  di antaranya meninggal dunia.

Selama 10 tahun terakhir, Jepang terus berupaya menciptakan iklim kerja yang lebih sehat bagi para karyawan. Di era 70 dan 80-an banyak pekerja kantoran lebih lama menghabiskan waktu di tempat kerja ketimbang di rumah. Saat itu mereka dituntut bekerja keras demi menyokong ledakan ekonomi Jepang. Kini, para karyawan pria lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.

Meski demikian masih ditemukan beberapa suami menghabiskan waktu berjam-jam di kantor. Tapi itu bukan karena bos mereka memaksa melakukannya; mereka begitu karena ingin menghindari berlama-lama di rumah. Demikian menurut Jeff Kingston, seorang ahli Jepang di Universitas Temple, Tokyo.

“Saya pikir (beberapa pria Jepang) kadang-kadang ingin lari dari kenyataan – mereka ingin terbebas dari pekerjaan rumah tangga, atau mereka tak ingin anak remajanya melihat mereka sebagai alien,” kata Kingston.

 

 

Desa Wisata Familiar Dengan New Normal Berkat Sapta Pesona

this formate

Gunung Api Purba di Desa Wisata Nglanggeran, Patuk, Yogya memiliki spot foto yang indah. ( Foto: FB Sugeng Handoko Purba)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pembangunan pariwisata ke depan, akan fokus ke hal-hal yang sangat prinsip guna mengantisipasi tren dan paradigma baru pariwisata atau dikenal dengan istilah New Normal yang lebih peduli pada masalah sanitasi dan higienitas.

“Paradigma New Normal yang disampailan Menparekraf Whisnutama menjadi gagasan yang positif, untuk peningkatan destinasi maupun SDM pelaku pariwisata di Indonesia. Bagi desa wisata paradigma itu sudah lama kami terapkan yaitu 7 unsur Sapta Pesona, kata Sugeng Handoko, Pelopor Ekowisata Gunung Api Purba dan Desa Wisata  Nglanggaran di Gunung Kidul, Yogyakarta, hari ini.

Menurut dia, hal yang perlu dipertajam adalah indikator dan panduan detailnya. Akan lebih mantab lagi jika ada semacam standard operation procedure  (SOP) yang disiapkan. Contohnya saat wisatawan datang prosedurnya seperti apa? Perlukah cek kesehatan/suhu tubuh, penggunaan masker? jaga jarak?.

Berwisata pasca COVID-19 akan membawa kebiasaan saat pandemi berlangsung seperti sering cuci tangan, tetap jaga jarak atau pembatasan jumlah orang menghindari adanya kerumunan. Oleh karena itu tentu akan ada perubahan perilaku wisatawan maupun pengelola destinasi wisata.

Bagi pengelola desa wisata di tanah air, umumnya sudah mengenal  logo Sapta Pesona yang dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur Kemanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan.

Sejak tahun 1990 an tujuan diselenggarakan program Sapta Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari 7 unsur tersebut.

Sugeng Handoko, pengelola desa wisata Nglanggeran, Yogyakarta.

Untuk mensosialisasikan New Normal yang peduli higienitas bahkan desa wisata yang telah menerapkan Sapta Pesona juga  harus ditingkatkan lagi dan selalu dikampanyekan agar semakin banyak masyarakat yang mengamalkan budaya aman, tertib, bersih, sejuk, indah,  ramah dan kenangan,” kata Sugeng.

Pro-aktif reresik desa

Ketika wabah virus COVID-19 membuat masyarakat harus tinggal di rumah, berkantor, belajar dan beribadah di rumah serta adanya pembatasan lain hingga obyek wisata yang dikelolanya harus ditutup, Sugeng mengatakan masyarakat menjadi prihatin dan menjadi pukulan berat.

Namun para pengelola dan pengurus desa wisata langsung pro-aktif reresik (bersihkan) desa, melakukan  perbaikan fasilitas, bergotong royong membersihkan obyek wisata unggulan Nglanggeran dan memasang banyak wastafel agar masyarakat desa sering cuci tangan.

“Kami harus tetap berfikir positif dan berupaya mengambil hikmah dari wabah  ini. Diantaranya lebih memperhatikan pola hidup sehat dan menyadari perlu ada jeda (istirahat) bagi alam semesta”

Ekowisata Gunung Api Purba dan aktivitas Desa Wisata Nglanggeran yang menjadi satu kesatuan selama ini sibuk melayani kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negri. Desa wisata ini terkenal dengan wisata gunung, embung, dan air terjun.

Gunung api purba adalah sebutan yang biasa diberikan pada fosil gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi atau telah mati. Sedangkan embung (tampungan air) Kebun Buah Nglanggeran di Desa Wisata Nglanggeran memiliki luas 0,34 Ha yang digunakan sebagai pengairan kebun buah durian dan kelengkeng. Jenis durian yang ditanam adalah jenis durian Montong. Di embung inilah.

Waduk mini yang berada di ketinggian 495 mdpl ini juga menjadi primadona para pemburu senja  untuk menikmati keindahan matahari terbenam (Sunset ) yang ditawarkan. Penduduk setempat juga membuka pintu rumah bagi wisatawan yang ingin menginap dan merasakan hidup layaknya penduduk desa lewat program Live In.

” Tahun 2019 kami melayani 103.107 orang wisatawan dengan omzet Rp 3,2 Milyar dari dominasi paket-paket Live In,  kunjungan study banding, outbond dan menginap di homestay. Sedikitnya ada 80 homestay di Desa Wisata Nglanggeran,” kata Sugeng.

Pengelola dan masyarakat Nglanggeran tidak putus dengan doa agar semuanya bisa pulih kembali dan bersiap untuk melayani kunjungan wisatawan yang pastinya akan membludak setelah kondisi normal karena jenuh terus berada di rumah, ujarnya.

Biasa menerima tamu bahkan rombongan harus antri untuk Live In tetapi sekarang situasinya berubah total tidak ada pengunjung. Namun semua itu disyukuri saja.

“Masyarakat kami tetap beraktivitas menekuni pertanian dan berkebun karena saat ini musim panen padi dan garap sawah,” kata Sugeng Handoko.

Fokus soal kebersihan

Menyinggung masalah kebersihan, salah satu unsur utama dalam Sapta Pesona, Sugeng mengatakan bahwa awal-awal pendirian Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) sebagai pengelola Desa Wisata Nglanggeran dan Ekowisata Gunung Api Purba  memang menjadi tantangan terberat untuk mendisiplinkannya di tengah masyarakat.

” Awal-awal pendirian Pokdarwis pada 2007 kami sadar terkait kebersihan butuh proses panjang. Setelah itu kami melakukan edukasi kepada wisatawan dan semua orang yang datang bahkan pihak terkaut termasuk instansi pemerintah yang juga kadang ada yang masih belum semuanya sadar untuk  turut menjaga kebersihan,” jelasnya.

Repotnya lagi masih ada yang beranggapan karena sudah membayar uang kebersihan kemudian bebas boleh sembarangan membuang sampah.” Nah Alhamdulillah saat ini unsur “Bersih” di Sapta Pesona Nglanggeran tidak terlalu menjadi tantangan terberat. karena sudah ada sistem yang kami siapkan,”.

Pihaknya memiliki sistem sapu gunung oleh team setiap dua kali dalam seminggu yang juga bisa menjadi kebiasaan baru. Piket menjaga kebersihan toilet setiap hari, mengedukasi wisatawan dan mensosialisasikan membawa sampah turun dari gunung.

Bahkan pada rombongan yang datang Live In sebelum tiba di Nglanggeran sudah diedukasi dan disampaikan aturan main di kawasan ekowisata Gunung Purba yang  masuk jadi salah satu Geosite Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, sehingga harus turut dijaga semua pihak.

Sugeng mengatakan dalam mengedukasi masyarakat untuk menerapkan Sapta Pesona maka harus dimulai dari diri sendiri dan mencontohkan keteladanan pada masyarakat. Jadi sebagai pimpinan, ujarnya, memberikan contoh pribadi dalam menerapkan Sapta Pesona jauh lebih efektif dari pada hanya memasang papan berisi unsur  sapta pesona di berbagai sudut obyek wisata.

Ke depan, pengelola harus membuat program kegiatan yang  disusun dan dilakukan secara bersama sama. Begitu juga membuat papan-papan himbauan yang menggerakkan masyarakat dan wisatawan mengimplementasikan Sapta Pesona maupun dengan pelatihan pelatihan dan seminar.

“Saya sangat yakin Allah SWT sutradara paling hebat, jadi pasti akan ada hikmah dibalik bencana global ini. Kita harus selalu tawakal, sabar dan berusaha,”

Sugeng yang biasanya punya jam terbang cukup tinggi untuk berbagi ilmu pengelolaan desa wisata di Indonesia mengaku awalnya cukup berat harus berdiam diri di rumah guna mencegah penyebaran virus.

” Awalnya juga sangat berat, tapi saya mencoba “noto ati” dan segera beradaptasi. Alhamdulillah sampai sekarang bisa menjalankan aktivitas dirumah dengan nyaman,” ungkapnya.

Hikmahnya ada banyak waktu di rumah, Sugeng bisa bikin komposter skala rumah tangga krn Tempat Pengelolaan Sampah ( TPS) desa tutup sementara juga. Ada banyak waktu dengan, membuat dia bikin konten promosi desa lebih leluasa dan belajar aneka aplikasi online untuk meeting bahkan promosi Desa Wisata.

Meski Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, banyak  memperoleh penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik di Indonesia dan menerima penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017 dan penghargaan lainnya, rupanya tidak membuat Sugeng dan tim pengelola  yang melibatkan 154 orang cepat berpuas diri.

Omzet tahun lalu yang mencapai Rp 3,2 milyar telah meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain pekerjaan tetapnya sebagai petani, wirausaha dan pegawai pemerintah. Bonus penghasilan dari sektor pariwisata mencapai UMR 2020 di Kabupaten Gunungkidul sebesar Rp 1.705.000.

“Pariwisata memang sektor yang paling berdampak atas wabah COVID-19 tetapi kami yakini juga akan menjadi yang tercepat mendorong pemulihan ekonomi bangsa sehingga kita harus siap dengan New Normal dan terus meningkatkan pelayanan. Salam dari desa,” pesannya.

 

Tips dan Manfaat Timun Suri Si Buah Ramadhan  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id :  Timun Suri, sebagaimana tradisinya dari masa ke masa, ia tetap memenuhi janji hadir di pasar-pasar khususnya di sekitaran Jakarta, begitu masyarakat muslim mengumandangkan kalimat “Marhaban yaa Ramadhan”. 

Nggak peduli musim ujan, kek! Musim panas, kek…! Pokoknya kalo bulan Sya’ban udah mau abis dan datang bulan Puasa, pasti deh itu buah nongol di pasar, digotong bergerobak-gerobak dari lahan petani di belah udik, Itu mangkanya orang menyebutnya Buah Ramadhan,” kata Emak (ibunya Ibu) saya, dulu. 

Buah yang Emak maksud, yang selalu nongol dari belah udik (kawasan Bogor) tiap kali datang bulan Puasa atau Ramadhan, tak lain dan tak bukan adalah buah timun suri yang biasa diolah menjadi hidangan dingin (dicampur es batu dan sirop) sebagai teman takjil (bersegera) berbuka puasa saat terdengar “Duuur…!” bedug Magrib. 

Lebih dekat dengan Melon

 Ketimun, mentimun atau timun suri, di beberapa tempat juga disebut sebagai Timun Betik ataupun Barteh. Ia termasuk suku labu-labuan (Cucurbitaceae) yang bentuk buahnya mirip Ketimun (Cucurmis sativus L.), dengan ukuran lebih besar (mirip labu) dan daging buahnya yang masak mengandung empelur (suri). Karenanya orang Betawi tempo doeloe lantas menyebutnya ketimun atau timun suri.

Walau bentuknya memanjang serupa ketimun, namun sesungguhnya timun suri bukanlah mentimun. Secara morfologi dan sitologi ia tidak sama dengan ketimun. Bentuk daun dan ukuran biji ketimun suri lebih mendekati Blewah atau Melon (Cucurmis melo), dan banyak lagi data ilmiah yang mengkatagorikannya lebih sebagai melon ketimbang ketimun.

Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati. Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (berkelamin ganda). 

Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga hermafrodit apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya jumlah buah biasa dibatasi agar menghasilkan ukuran buah yang baik.

Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari mesokarp (bagian kulit) berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam.

Ragam manfaat

Sebagaimana keluarga labu-labuan, buah Ketimun Suri dapat dimakan dalam keadaan segar. Karena itu, buahnya biasa dipanen sebelum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Daging buahnya yang memiliki kandungan air cukup banyak hingga berfungsi menyejukkan

Lebih dari sekadar buah segar, Ketimun Suri punya ragam manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Daging buahnya memiliki sifat diuretik, efek pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi; vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan silika; membuat Buah Ramadhan ini menjadi bagian penting dalam perawatan kulit. 

Masker wajah yang mengandung sari ketimun sejak lama digunakan untuk mengencangkan kulit. Asam askorbat dan asam caffeic yang hadir di dalamnya juga dapat menurunkan tingkat retensi air, yang pada gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata. 

Potongan buahnya juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah, dan dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Intinya, banyak manfaat ketimun suri bagi kesehatan, sebagaimana termaktub dalam berkas “tanaman bermanfaat obat” yang tersimpan di Perpustakaan Herbarium Bogoriensis di Kota Bogor.

Manfaatnya yakni  meningkatkan daya tahan tubuh. menangkal radikal bebas, menjaga kesehatan mata, menjaga tekanan darah, menjaga kesehatan sendi, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, detoksifikasi, menjaga kesehatan kuli, meningkatkan kesehatan pencernaan, sumber energi, menjaga kesehatan ginjal, dan pelapas dahaga. Ketimun Suri juga mengandung kalium cukup tinggi hingga sangat bermanfaat untuk menjaga kesegaran tubuh.

Sengaja dekat Ramadhan

Mengapa buah-buah ketimun suri hadir di seputar Jakarta di tiap menjelang bulan Ramadhan? Jawabnya sederhana, yakni: “Ada pasar ada barang”. Artinya, Jakarta dan sekitarnya di sepanjang bulan Ramadhan, merupakan sebuah pasar besar bagi buah timun suri ini.

Soalnya banyak orang (muslim) berpuasa yang antara lain butuh minuman penyegar saat bertakjil atau bersegera berbuka puasa saat terdengar beduk Magrib, dan daging buah ketimun suri cocok untuk jadi komponen minuman penyegar saat berbuka puasa.

Tapi kok, bisa-bisanya itu buah muncul di saat menjelang bukan Ramadhan? Jawabnya juga sederhana, yakni karena habitus kerimun suri merupakan tanaman semusim, tapi bukan tanaman musiman yang baru ada bila datang musimnya. Habitus ketimun suri dapat ditanam kapan saja, dan waktu panennya pun bisa diprediksi, yakni sekitar 40 hari setelah benih disemai menjadi bibit. 

Jadi, sekitaran 40 hari menjelang bulan Ramadhan, “Lahan udah kita siapin, lahan sewaan atau punya keluarga sendiri. Dipacul gembur bergalur-galur. Benih beli di toko pertanian, disemai jadi bibit, lalu ditanam dan dijaga, disiangi tiap waktu. Jelang Ramadhan buah dipanen, angkut ke kota atau bikin lapak di pinggir jalan sini, bunggu mobil pembeli mampir,” ucap Sa’alih, petani di kawasan Salabenda, Raya Parung – Bogor, Jawa Barat

Teknik memilih

Bila untuk jenis ketimun lainnya kita dianjurkan untuk memilih jangan yang terlalu tua, agar enak dilalap atau tak terlalu keras saat disayur, khusus untuk ketimun suri (sebagaimana jenis melon atau semangka) kita justru diminta untuk memilih yang tua. Teknisnya?

Jangan tertipu dengan warna kulit ketimun suri. Ada yang putih, ada yang kuning, ada pula yang berwarna hijau dengan gurat-gurat kuning seperti semangka. Ketiganya sama saja, tergantung varian jenis bibit yang ditanam sehingga warna kulit tak bisa dijadikan patokan.

Ada ketimun suri berwarna putih, tapi sudah matang. Demikian juga sebaliknya yang kuning atau yang berkulit hijau bercak kuning. Jadi warna kulit tak bisa dijadikan patokan tingkat kematangan. 

Tingkat kematangan buah Ketimun Suri ditandai dengan usia panennya. Makin tua ia akan jadi semakin matang dan bagus untuk diolah menjadi bahan campuran Es Sirop, misalnya.  Sebentuk tanda bahwa ketimun suri sudah tua, adanya retakan di bagian kulitnya. Kulit buah yang retak jadi penanda timun suri sudah matang di pohon.

Ketimun suri yang sudah matang juga akan mengeluarkan aroma manis wangi yang khas. Saat membeli, jangan segan untuk coba menghirup aromanya. Biasanya aroma yang terlalu berlebihan atau menyengat, jadi pertanda proses pematangannya tidak alami atau dikarbit. 

Ketimun suri yang matang pohon, harumnya lebih segar. Perhatikan juga bentuk dan teksturnya. Tepuk permukaannya secara perlahan, Tekstur yang lembut menandakan buah sudah matang dan siap diolah jadi jadi minuman segar saat berbuka puasa.

 

Pariwisata Indonesia Bersiap Jalani New Normal

this formate

Kawasan KEK Mandalika ( Foto: Kompas)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Keputusan pemerintah menerapkan kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ternyata efektif membendung penyebaran virus corona. DKI Jakarta, misalnya, sebagai provinsi paling parah terdampak Covid-19 melaporkan ada tren penurunan jumlah kasus posisitf dalam tiga hari terakhir.

 Jadi, kuncinya ada pada pembatasan kontak sosial yang ketat. Jangan-jangan inilah yang disebut sebagai new normal yang akan berlanjut meski pandemi berangsur mereda. Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal, termasuk pola hidup manusia di bumi. 

Selama vaksin virus Corona belum ditemukan, penduduk dunia akan cenderung beradaptasi dengan keadaan ‘normal baru’ yang berbeda dengan kondisi sebelum Covid-19.  Yang paling menonjol dari sejumlah adaptasi itu adalah interaksi tanpa kontak. 

khawatir tertular, banyak orang kini membatasi bersentuhan langsung ke sesama maupun terhadap objek. Pertemuan secara fisik yang melibatkan banyak orang kini tak zaman lagi. Warga lebih banyak ngendon di rumah.  Membayar barang dan jasa pun lebih banyak dilakukan secara online.

Dunia pariwisata termasuk salah satu sektor yang mau tak mau harus beradaptasi dengan keadaan ‘normal baru’. Industri yang banyak mengandalkan mobilitas manusia itu, kini menghadapi realitas baru. Keadaan normal baru itu mencakup standar dan protokol yang wajib diterapkan pelaku industri pariwisata jika memutuskan mulai beraktivitas, seperti social distancing di bandara, pengenaan masker di atas pesawat, check-in secara digital, pembayaran tanpa kontak, dan penerapan standar kebersihan yang ketat.

Menparekraf Wishnutama mengatakan hal -hal dasar yang perlu diperhatikan pelaku pelaku bisnis saat normal baru sektor pariwisata diterapkan adalah soal higienitas, kebersihan, dan keselamatan pelancong. 

“Jadi anggaran-anggaran ke depan akan kita fokuskan pada masalah dasar. Misalkan toilet bersih, itu suatu hal yang harus ada di semua destinasi wisata,” ujar Wishnutama.

Masalah ketersediaan toilet bersih di tempat-tempat wisata juga menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Dalam sebuah rapat terbatas, Presiden bahkan memerintahkan agar fasilitas toilet umum di objek wisata dibuat sekelas hotel bintang empat. 

Seperti apakah itu? Menurut klasifikasi yang dibuat Organisasi Pariwisata Dunia atau UNWTO, sejumlah fasilitas harus ada di toilet yang sesuai dengan standar hotel bintang empat dan lima. Berikut rinciannya: Kloset yang dilengkapi washlet atau shower, urinoir di toilet pria, wastafel, keran pada wastafel menerapkan teknologi tanpa sentuh atau free hand.

Ada cermin, karpet kamar mandi, pencahayaan yang memadai, tempat sampah umum dan tempat sampah khusus pembalut di toilet perempuan, tempat sampah dengan teknologi tanpa sentuh atau free hand

Persyaratan lainnya ada sabun, tisu/handuk, colokan listrik, luas kamar mandi yang memadai, semprotan pengharum ruangan, keterangan yang jelas untuk toilet laki-laki atau perempuan, sirkulasi udara lancar, bersih, harum, kering. Jangan lupa perlu toilet khusus anak, toilet khusus difabel, dan ada petugas penjaga toilet.

Meski berderet syarat yang harus dipenuhi, bukan berarti mustahil untuk diwujudkan. Toilet seperti ini mudah ditemukan di obyek wisata Pantai Kuta, yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika,Nusa Tenggara Barat.

Wapres KH. Ma’ruf Amin dan rombongan, saat berkunjung pada akhir Februari lalu sampai tak dapat menyembunyikan kekagumannya ketika diajak meninjau toilet tersebut. 

Wapres mengatakan bahwa toilet itu sesuai syariah dan kemanusiaan pengunjung. Sehingga, wisatawan muslimah dapat berganti pakaian dengan aman dan nyaman di kamar tersebut.

 

 

Pengelola Destinasi Agar Tata Ulang Tempat Wisata Selama Masa Darurat COVID-19

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ditutupnya destinasi wisata terkait pandemi COVID-19 harus menjadi momentum bagi para pengelola destinasi di tanah air untuk dapat mengevaluasi dan menata ulang tempat wisatanya sehingga menghadirkan kesan yang lebih baik untuk wisatawan termasuk mulai menerapkan pariwisata berkelanjutan.

Terlebih akan hadirnya kondisi “new normal” atau tren baru dalam berwisata pascapandemi, dimana wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, kenyamanan, sustainable and responsible tourism, authentic digital ecosystem dan lainnya.

“Hal-hal seperti ini akan menjadi platform kita ke depan, bagaimana pariwisata berkelanjutan jadi sebuah konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Teguh, dalam “Ngabuburit Pariwisata Nasional” dengan tema ‘Peran Sentral Sustainable Tourism pada Paradigma Baru Pariwisata Pasca COVID-19’ pada Senin (4/5/2020).

Turut hadir dalam acara tersebut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, anggota Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) M. Baiquni, Ketua Umum DPP GIPI Didien Djunaedy, serta Waketum GIPI yang juga anggota ISTC David Makes.

Frans menjelaskan, dalam penerapan pariwisata berkelanjutan sudah terdapat pedoman-pedoman yang dikeluarkan oleh Global Sustainable Tourism Council. Indonesia juga secara aktif berkoordinasi dengan UNWTO hingga terbentuknya Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC).

Bahkan pemerintah juga telah menyusun pedoman dalam penerapan pariwisata berkelanjutan yakni melalui Permenpar Nomor 14 tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.

Kemenparekraf pun telah memiliki  framework serta action plan hingga sertifikasi yang bekerja sama dengan universitas. Dimana usaha tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sustainable tourism destination di berbagai daerah tanah air.

“Hasilnya, sudah banyak sebenarnya penggiat pariwisata, pelaku desa wisata, serta komunitas yang telah berhasil menerapkan pariwisata berkelanjutan sehingga dapat memberikan nilai tambah dalam perkembangan ekonomi maupun pengembangan secara umum,” kata Frans Teguh. Hanya saja, untuk menerapkannya lebih luas lagi dibutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

“Kerja pariwisata berkelanjutan bukan hanya kerja sektoral, tapi harus menyeluruh baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan lainnya atau yang biasa kita sebut pentahelix. Berbagai disiplin ilmu harus bekerja bersama-sama dan memperbaiki pendekatan-pendekatan kita untuk tidak hanya meningkatkan daya saing tapi juga daya keberlanjutan dari kegiatan kepariwisataan,” ujarnya.

Untuk itu Frans menegaskan bahwa saat ini jadi momentum yang baik untuk menyiapkan destinasi pariwisata kita ke depan. “Saat ini momentum untuk untuk membenahi, reopening atau rebound untuk menyiapkan strategi. Yang kami tawarkan dari pemerintah adalah menerapkan dan mengaplikasikan pola kerja pariwisata berkelanjutan dengan parameter dan indikatornya secara komprehensif,” kata Frans.

Hal senada dikatakan oleh David Makes. Menurutnya pariwisata berkelanjutan akan menjadi peluang yang sangat besar ke depan, terutama pasca pandemi, karena selain menjadi kebutuhan wisatawan dari sisi investasi juga tidak terlalu besar.

Ia memberi contoh sungai-sungai di Venesia, Italia, yang biasanya dasar aliran sungai tidak pernah terlihat, namun kini menjadi sangat bening dan banyak ikan bahkan lumba-lumba yang masuk ke dalam area Venesia. Inilah yang harus dikapitalisasi ke depan.

“Tanpa harus melakukan reinvestment secara besar-besaran tapi mengkapitalisasi yang sudah ada di sekitar destinasi namun dengan sedikit sentuhan berkelanjutan maka bisa melahirkan pariwisata baru baik sebagai destinasi maupun sebagai sebuah produk pariwisata. Namun dibutuhkan pemimpin untuk dapat melahirkan yang kita sebut ‘new normal’ pariwisata,” kata dia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga sependapat bahwa arah kebijakan pembangunan berkelanjutan menjadi peluang besar dalam menyambut pariwisata pascapandemi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah siap dan memiliki program recovery pariwisata yang salah satunya dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan.

“Tinggal bagaimana konsistensi daerah membuat regulasi. Misalnya kami membuat Perdes bagaimana sawah tidak boleh dibangun, kemudian di sekitar bandara juga tidak boleh dibangun dan seterusnya,” kata Azwar Anas.

Warga Senior Nanti Pilih Wisata Domestik Ke Desa Wisata Saja

this formate

Kushariadi, 73 tahun, gemar melakukan budidaya Anggrek  ( foto: dok. pribadi)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Jika situasi sudah normal dan dunia terbebas dari wabah virus Corona, masyarakat Indonesia tetap ingin berwisata. Kemana tujuan wisatanya kala melakukan wisata domestik ?. Ternyata mereka yang berusia 55 tahun ke atas atau disebut warga senior memilih desa wisata sebagai tujuan wisatanya.

Hasi survey cepat yang diselenggarakan oleh MarkPlus sebelum menyelenggarakan Webinar MarkPlus Industry Roundtable Tourism and Hospitality Perspective, April lalu, yang diikuti 620 peserta menunjukkan 38% responden usia 55 tahun  setelah pandemi global berakhir pilih wisata ke desa dan tinggal di homestay desa wisata.

Kushariadi, 73 tahun, misalnya memilih ingin ke desa wisata dan tinggal di homestay setempat karena hobinya bercocok tanam dan melakukan budidaya tanaman anggrek dan desa wisata tempat yang cocok untuk melakukan aktivitasnya.

Oleh karena itu pihaknya berharap bisa ke Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta misalnya, yang memiliki tempat pelatihan budidaya tanaman bahan jamu untuk di budidayakan di halaman rumah. Dia juga senang melihat video-video budidaya ketahanan pangan yang cocok untuk situasi hidup di tengah pandemi Corona ( COVID-19).

“Ke desa wisata pergi sama istri atau sama komunitas juga asyik. Saya punya komunitas namanya Pemangku singkatan dari Penggemar Angkutan Umum jadi jika kami kumpul-kumpul di obyek wisata datangnya pakai kendaraan umum saja,” kata Kushariadi, kakek tiga cucu ini.

Tinggal di homestay yang ada di desa wisata, menikmati alam pedesaan bersama teman komunitas bisa tinggal  sampai 7 hari lamanya karena kegiatannya saling bertukar pikiran, minum wedang kopi, teh tubruk ditemani makanan kecil khas pedesaan yang menyehatkan  dan banyak yang serba rebus sambil latihan budidaya tanaman.

Kebetulan komunitas alumni SMAN 6 Jakarta angkatan tahun 1966 ini pernah kursus pertamanan sehingga mahir melakukan budidaya buah dan bunga. Di rumahnya di kawasan Sektor 4 Bintaro Jaya banyak ditanami pohon anggrek dan tanaman hias lainnya.

“Kalau tanaman hias agak sulit berkembang apalagi dijadikan bisnis. Tapi kalau pohon mpon-mpon seperti kunyit, jahe, temulawak untuk bahan jamu justru bisa jadi produk unggulan desa wisata. Kita bisa belajar mulai dari cara tanam serta olahannya karena saat pandemi dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Kushariadi yang kini berusia 73 tahun.

Menyinggung soal balai latihan pertamanan, di Lembang, Jawa Barat, Kushariadi mengatakan ada kursus gratis termasuk pemondokannya di Cikole. Namun untuk usia 70 tahun ke atas harus ada surat sehat dari dokter. Kushariadi menilai bagi warga senior yang suka tanaman, keberadaan balai latihan perlu diperbanyak.

“Kegiatan teori 30 % dan praktek  70%, saya sangat berminat untuk ikut namun karena ada wabah program itu ditangguhkan dulu sampai keadaan aman. Pelatihan ini akan sangat baik bahkan untuk pemasukan uang disaat usia pensiun,” ungkapnya.

Pemerintah harusnya memperbanyak tempat pelatihan budidaya tanaman ini karena dari 5000 pendaftar yang bisa difasilitasi hanya 100 orang. Konon, ujarnya, ada juga budidaya ikan, unggas ternak sapi  & kambing serta bimbingan rohani.

Bagi warga senior, jika pelatihan-pelatihan dilakukan di desa-desa wisata yang ada juga akan sangat bernuansa pemberdayaan yang kuat. Memberdayakan petani desa sebagai trainer, memberdayakan warga senior juga menggerakkan ekonomi desa.

Soal penyandang dana bisa pemerintah dari berbagai instansi, berbagai perusahaan melalui program CSR dan juga perbankan terutama bank BTPN yang mengelola dana pensiun maupun Yayasan Dana Pensiun  dari berbagai perusahaan di tanah air.

Evy Indahwaty sast berwisata ke mancanegara.

Desa dongkrak popularitas negara

Evy Indahwaty, CEO Radana Finance juga termasuk yang merindukan untuk bisa berwisata pasca pandemi global ini. Selain aktif bekerja, wanita kelahiran Jember, Jawa Timur ini menjadikan wisata salah satu cara untuk  refreshing bersama keluarga.

Saat melakukan perjalanan dinas di dalam dan luar negri, dia juga enjoy dan menikmati tempat-tempat wisata yang ada ternasuk ke desa wisata. Oleh karena itu saat di luar negri seperti ke Belanda dia sangat menikmati alam pedesaannya  seperti di Volendam. Desa nelayan inilah yang justru mendongkrak popularitas negara Belanda.

“Sekitar 30 menit dari Amsterdam di tepi danau IJsselmeer, ada desa kecil namanya Volendam. Desa nelayan ini terkenal dengan pelabuhannya yang indah, pasar ikan dan pakaian traditional Belanda. Desa ini terkenal sekali sampai-sampai ada anggapan belum sah ke Belanda kalau tidak berfoto mengenakan kostum ala nelayan itu,” kata Evy membuka percakapan.

Di Indonesia, desa wisata yang tersebar di berbagai provinsi, terutama kabupaten kota punya potensi untuk menjadi desa wisata dimana turis yang datang bisa mengenakan kostum setempat, kuliner maupun membawa souvenir khas daerah itu.

Belajar dari popularitas desa,Volendam yang sangat terkenal itu maka potensi desa wisata di tanah air juga sangat besar untuk dikembangkan ditiap daerah  sesuai karakternya masing-masing sehingga tidak melupakan jati diri sebagai desa yang lebih kuat , sebagai komunitas sosial dan budayanya.

Wanita yang setiap tahun dibanjiri berbagai macam penghargaan atas prestasi kerja maupun perusahaan yang dipimpinnya ini mengaku suka mengunjungi desa wisata di Tanah Air terutama di P. Jawa disamping Bali. Untuk di luar negri dia juga suka dengan desa-desa wisata di Eropa dan terutama Jepang yang melestarikan budayanya dengan baik.

Evy yang kerap berwisata ke negara-negara Asia, Eropa Barat, Eropa Timur hingga Amerika bukan hanya menikmati keindahan alam tapi juga banyak menyerap cara-cara desa wisata menerima tamu, menjamu tamu dengan wisata kuliner secara tradisional serta menyediakan souvenir khasnya.

” Biasanya saya pergi bersama keluarga dan jika bersama komunitas untuk reuni, kangen-kangenan sambil berwisata,” kata Evy bersemangat.

Kelar COVID-19, dia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lebih siap dengan infrastruktur ke obyek wisata dan terintegrasi dengan baik sehingga obyek wisata mudah dicapainya.

” Jangan lupa untuk fokus pada SDM setempat jadi saat turis datang ke obyek wisata termasuk kunjungan ke desa wisata maka pihak pengelola sudah ada standard operational procedure ( SOP) menerima tamunya bagaimana karena ke depan faktor kebersihan paling utama,”

B. Kusuma dan istri, berkelana ke 178 negara

Bruriadi Kusuma yang akrab disapa Broer, kelahiran Jakarta tahun 1935 yang kini sudah berusia 85 tahun setuju sekali untuk menggalakkan wisata domestik pasca pandemi virus Corona dan untuk traveler seusianya memang desa wisata menjadi tujuan menarik.

“Karena sudah sepuh saya mau ke desa wisata di Jawa Barat,  Bali dan Sumatra Barat saja. Pokoknya yang aksesnya mudah terjangkau karena faktor usia nih. Waktu masih muda blusukan ke pedalaman Kalimantan Timur, Barat dan pelosok negri lainnya juga saya datangi,” katanya tergelak.

Broer dan istri dikenal sebagai seorang pengelana karena sudah mendatangi 176 negara merdeka ditambah puluhan daerah teritori dan koloni di seluruh dunia. Selain memang hobi traveling, pria yang juga pendiri PT Pakubumi Semesta ini selama 25 tahun terakhir banyak membukukan laporan perjalanannya ini.

” Kami berpengalaman tinggal di homestay desa wisata di Islandia, sebuah negara Nordik yang terletak di sebelah barat laut Eropa dan sebelah utara Samudera Atlantik. Kami juga pernah tinggal di homestay di Afrika Selatan dan di Jepang, ” katanya

Pengalaman tinggal di homestay benar-benar pengalaman yang mengesankan karena tamu menyatu dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, belajar budaya mereka secara langsung dan mencicipi makanan tradisionalnya.

Selama berkelana di luar negri, B. Kusuma banyak ditemani istrinya, sedangkan untuk berwisata bersama komunitasnya seperti Indonesia Tourism Senior Club ( ITSC)  dan komunitas Dharma Wulan yang didirikan bersama rekan-rekannya dia selalu berpartisipasi aktif pula.

Komunitas Wulan adalah singkatan dari Warga Lanjut Usia sehingga Dharma Wulan adalah komunitas yang memperjuangkan warga usia lanjut Indonesia agar lebih mandiri, terhormat dan bermakna.

Menurut Broer Kusuma, desa wisata di Indonesia sebaiknya dikembangkan supaya bersih terutama memiliki sanitasi yang baik. Keberadaan desa wisata selain untuk mempertahankan tradisi, budaya dan gaya hidup warga setempat juga untuk menikmati pemandangan yang asri sehingga sudah sepantasnya desa wisata menjadi tujuan wisata semua umur bukan hanya warga senior.

” Desa wisata justru menjadi kekuatan daya saing pariwisata Indonesia karena kekayaan negara kepulauan dengan beragam suku bangsa menjadi keunikan tersendiri yang menarik kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara,” katanya menutup pembicaraan. 

 

BPS: Kunjungan Wisatawan Mancanegara Maret Anjlok 45,50%

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2020 turun sebesar 45,50 persen dibandingkan bulan Februari 2020. Dibandingkan pada Maret 2019, jumlah kunjungan wisman pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 64,11 persen.

Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebagai dampak pandemi COVID-19 sesuai perkiraan sebagaimana terjadi juga di negara lain. “Pariwisata merupakan sektor pertama dan paling terdampak atas pandemi COVID-19 ” kata Menparekraf Whisnutama Kusubandio, hari ini.

Itulah sebabnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif fokus melakukan mitigasi dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus mempersiapkan program dan strategi dalam menghadapinya untuk bangkit pascapandemi, tambahnya.

“Secara kumulatif pada Januari hingga Maret 2020, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 2,61 juta kunjungan atau turun 30,62 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 3,76 juta kunjungan,” kata Wishnutama.

Penurunan ini sudah dapat diperkirakan mengingat langkah-langkah pemerintah Indonesia dan juga pemerintah negara penyumbang wisman potensial ke Indonesia yang memutuskan menutup akses keluar-masuk negaranya demi pencegahan penyebaran COVID-19.

“Kemenparekraf sendiri saat ini fokus dalam upaya bersama mencegah penyebaran COVID-19 serta memastikan dan menjalankan langkah mitigasi dampak dari pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,”

Banyak langkah yang telah dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf, baik dengan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait maupun program mandiri Kemenparekraf yang semuanya memfokuskan terhadap pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Program-program yang membantu pekerja dan pengusaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan terus dilakukan, termasuk memberi usulan pada kementerian/lembaga lain dalam menjaga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama.

Untuk itu dia mengajak partisipasi aktif para pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk sama-sama berjuang dan tetap optimis guna membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi. Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga memperkirakan akan terjadi booming pariwisata usai pandemi COVID-19 teratasi.

“Pembangunan pariwisata ke depan, kita akan fokuskan ke hal-hal yang sangat prinsip guna mengantisipasi tren dan paradigma baru pariwisata atau yang dikenal ‘new normal’ yang lebih peduli pada masalah sanitasi dan higienitas, misalnya. Termasuk meningkatkan pendekatan teknologi dan digital dalam layanan wisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya

Ia mengatakan, menurunnya kinerja sektor pariwisata tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Penutupan batas kota atau negara mengakibatkan tidak beroperasinya banyak rute penerbangan sehingga aktivitas pariwisata pun mandek.

Dalam kondisi pandemi ini, Kemenparekraf dalam batas kewenangannya telah berupaya turut serta memutus rantai penyebaran virus dan mengakhiri pandemi ini, salah satunya dengan menyediakan fasilitas transportasi dan akomodasi bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan. Hal itu juga sejalan dengan upaya membantu pekerja sektor parekraf agar tetap terasa geliatnya di tengah perjuangan melawan COVID-19.

“Kami menyadari bahwa ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh satu pihak semata, tetapi kita semua sebagai satu bangsa harus bersatu untuk Bersama Jaga Indonesia,” kata wishnutama

Desa Wisata Pentingsari Kehilangan Kecerian Program Live In  

this formate

Seorang anak belajar membajak sawah di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. ( Foto- foto : desawisatapentingsari.com)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  Desa wisata Pentingsari, Yogyakarta pada hari-hari biasa menjadi tujuan wisata edukasi mulai dari murid TK hingga mahasiswa, karyawan perusahaan hingga Aparat Sipil Negara ( ASN) dari berbagai provinsi di tanah air untuk melakukan study banding. Di samping kunjungan wisatawan nusantara maupun maupun mancanegara.

Maklum Pentingsari adalah pelopor desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga sebelum pandemi global COVID-19 merajalela ke 217 negara, maka pengelola Pentingsari harus membuat daftar tunggu 3-6 bulan untuk mengikuti kegiatan Live In di desa ini.

Kini setelah nyaris dua bulan kehilangan tamu karena protokol kesehatan masyarakat harus belajar, bekerja dan beribadah di rumah serta kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) PSBB, Pentingsari kembali pada kehidupan desa yang sunyi.

” Terus terang ‘ ruh’ desa wisata ini memang program Live in, jadi begitu virus Corona melanda dunia dan tidak ada lagi rombongan yang datang kami kehilangan celoteh riang anak-anak dan gelak tawa mereka,” kata Doto Yogantoro, Penggagas Desa Wisata Pentingsari.

Doto mengatakan, pada 2008 warga mulai membangun mimpi dengan langkah kecil yaitu mengembangkan Desa Wisata Pentingsari dengan harapan dapat menambah nilai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. 

Doto Yogantoro, pendiri dan pengelola Desa Wisata Pentingsari

Tahun 2019 lalu Pentingsari melayani sedikitnya  22.000 orang wisatawan dalam dan luar negri dengan perputaran uang sekitar Rp 2,2 milyar  dari beragam program pilihan Live in , homestay, camping maupun  outbound, tambah Doto Yogantoro.

Alumnus Institut Pertanian Bogor ( IPB) ini menjelaskan dari total 140 KK atau 400 jiwa warga Desa Pentingsari, maka yang terlibat langsung sebagai pengelola desa maupun sebagai pemilik homestay ada 100 orang/60 KK. Sementara yang tidak terlibat langsung  sekitar 100 orang juga dari 30 KK. Sisanya adalah kelompok mitra yang menyiapkan atraksi dan kegiatan penunjang lainnya untuk kebutuhan tamu.

Saat terjadi wabah global ini, ungkap Doto,  karena desa wisata bukan tumpuan utama untuk pendapatan maka warga merasa lebih sebagai kehilangan bonus penghasilan dari aktivitas wisatanya saja dan kehilangan ruh keceriaan para tamu.

” Untuk ketahanan pangan di desa kami masih punya aktivitas di desa sebagai petani, pegawai dan wirausaha lainnya yang memang dari awal sudah menjadi kegiatan semula. Kami lebih menjaga ketahanan sosial budaya desa, saling membantu dan mencari alternatif ketahanan pangan,” ungkapnya.

Bahkan di desa seperti di ibukota provinsi, warga juga mengumpulkan donasi dari masyarakat yang mampu ke keluarga yang kurang mampu. Mereka dengan sendirinya mengurangi pengeluaran sekunder yang tidak perlu demi menjaga ketahanan pangan para tetangganya, kata Doto yang juga Ketua Forkom Desa Wisata Kabupaten Sleman.

Doto sendiri yang kerap diundang ke berbagai daerah sebagai nara sumber dan pembicara ahli untuk mengembangkan desa wisata di tanah air menyikapi musibah ini sebagai introspeksi ke dalam, bahwa desa wisata mandiripun tetap merupakan bagian dari ekosistem yang saling terkait dan saling membutuhkan

“Pengalaman spiritual saya bahwa hidup ini perlu adanya keseimbangan baik secara ekonomi, sosial dan budaya serta kata “cukup” untuk tidak mengeksploitasi kehidupan. Jadi dalam kondisi seperti saat ini saya tidak merasa terlalu kehilangan rejeki materi yang mungkin belum menjadi hak kita ” 

Musibah hanya bersifat sementara dan dia beruntung pernah melakukan banyak perjalanan sehingga masih bisa menghibur dengan saling menyapa kawan kawan dari berbagai daedariyang desa wisatanya juga sementara waktu kehilangan tamu.

Desa wisata harus tetap berjalan namun dengan tidak melupakan jati diri sebagai desa yang lebih kuat sebagai komunitas sosial, budaya dan tidak harus disamakan pengembangannya ditiap daerah tapi sesuai karakternya masing-masing saja.

Banjir penghargaan

Berawal dari dusun miskin di antara desa-desa di lereng Gunung Merapi dengan tingkat ekonomi dan pendapatan yang relatif rendah serta kehidupan warga desa yang masih sederhana. Doto bersyukur Pentingsari terus bergeliat maju sebagai salah satu desa wisata di Yogyakarta.

Berbagai prestasi pun sukses diraih, antara lain Juara II Festival Desa Wisata Kabupaten Sleman Tahun 2018 untuk Kategori Desa Wisata Mandiri. Kemudian Best Practise Tourism Ethics (UNWTO) 2011, ISTA 2017 (Green Bronze Benefit Economi Katagori), dan Green Destination Award Netherland Nomination 2019.

Desa Pentingsari terletak di lereng Gunung Merapi, sekitar 22,5 km dari pusat kota. Mengangkat tema Desa Ramah Lingkungan Kebudayaan dan Pertanian, Pentingsari menawarkan kegiatan wisata pengalaman dalam bentuk pembelajaran dan interaksi. 

Khususnya tentang alam, lingkungan, pertanian, perkebunan, kewirausahaan, kehidupan sosial-budaya, dan berbagai seni tradisional, serta kearifan lokal yang masih sangat mengakar di masyarakat.

Kegiatan outbond dan Live In dari segala usia di Desa Wisata Pentingsari

Banyak pelajar mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga mahasiswa juga datang dengan tujuan  mengikuti program Live In, merasakan tinggal di desa dan beraktivitas bersama pengelola dan warga setempat selama 1-3 hari atau sesuai kebutuhannya.

Kalangan perguruan tinggi dan perusahaan juga banyak yang mengikuti paket Live In di desa wisata ini mengikuti kegiatan outing atau gathering untuk perusahaan. Banyak perusahaan besar menggunakan kegiatan wisata pedesaaan ini untuk refeshing karyawannya. 

Kegiatannya menggabungkan kegiatan tour, fun game (team work, teambuilding, leadhership, comunication, motivation) untuk menumbuhkan jiwa sosial kemasyarakatan dan kental unsur pendidikan bagi karyawan tersebut.

Kondisi lingkungan di desa wisata ini masih sangat alami hembusan udara yang sejuk, rindangnya berbagai jenis tanaman, riuhnya suara ocehan burung di alam bebas, ramahnya penduduk desa bisa  dijumpai di sepanjang jalan dusun Pentingsari.

Sementara di sisi yang lain hamparan sawah, berbagai jenis tamanan sayur-sayuran yang sudah dikelola dengan sistem yang baik oleh penduduk memberi warna keindahan tersendiri Desa Wisata Pentingsari.

Tak heran kegiatan outbond di alam terbuka menjadi andalan karena outbond ini suatu bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori.

Peserta menerapkan langsung  elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Dimensi alam sebagai objek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya

Tak heran untuk melayani beragam segment wisatawan yang datang terutama untuk program Live In daftar tunggunya bisa 3-6 bulan baru bisa dilayani oleh pengelola desa wisata Pentingsari. Sementara untuk program satu haripun peminat terutama yang datang berombongan juga punya daftar tunggu.

Menuju desa wisata Pentingsari bisa di tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan dari kota Jogja. Dari Jogja ke utara melintasi di Jalan Kaliurang. kemudian setelah sampai perempatan Pakem, belok ke kanan (timur) menuju rumah makan Morolejar. jalan menajak dan terus naik lagi sekitar 2 km di sebelah kiri jalan sudah ada plang petunjuknya desa wisata Pentingsari.

Desa ini tepatnya disebut Dusun Pentingsari berbentuk seperti semenanjung dimana sebelah barat terdapat lembah yang sangat curam yaitu kali Kuning dan sebelah selatan terdapat lembah yang berupa Goa Ledok / Ponteng.

Di sebelah timur Gondoran terdapat lembah yang curam yaitu Kali Pawon dan sebelah utara merupakan dataran yang dapat berhubungan langsung dengan tanah di sekeliling kelurahan Umbulharjo sampai ke pelataran gunung Merapi. Dusun Pentingsari terdiri dari dua dusun yaitu Bonorejo dan Pentingsari.

Keunikan Pentingsari lainnya adalah obyek wisata Pancuran  Suci Sendangsari yang dipercaya oleh masyarakat dusun Pentingsari dan sekitarnya sebagai tempat bertemunya Dewi Nawang Wulan dan Joko Tarup yang melegenda.

Air pancuran dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat awet muda dengan minum atau cuci muka dengan air ini. Lokasi obyek ini sangat kental dengan nuansa mistis dan nuansa keindahan lembah sungai kuning.

Obyek lainnya adalah Luweng,  merupakan salah satu bukti betapa luasnya perjuangan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah Belanda di Yogyakarta , luweng  pada saat itu digunakan sebagai alat masak warga dusun Pentingsari dalam menyediakan konsumsi bagi tentara Pangeran Diponegoro, disamping sebagai tempat persembunyian bila dalam posisi terdesak.

Ada pula Rumah Joglo, rumah adat di DIY dan Jawa Tengah yang berada di  poros Desa Wisata Pentingsari. Disamping menampilkan karakteristik keindahan dan budaya di rumah Joglo ini dapat digunakan sebagai tempat pertemuan, diklat, pentas seni dan budaya

Daya tarik lainnya adalah Batu dakon yang konon masih ada kaitanya dengan obyek Luweng. Batu ini dipercaya sebagai tempat mengatur setrategi perang dan meramal nasib  pada waktu perjuangan mengusir penjajah Belanda.

Sedangkan Batu Persembahan dipercaya digunakan sebagai tempat persembahan kepada ular besar yang singgah di Ponteng. Dipercaya sebagai anak dari Baru Klinting yang singgah di Gunung Merapi, bentuk persembahan dipercaya seekor kera yang datang dari Gunung Merapi tiap bulan Suro ( bulan jawa)

Nah obyek lainnya adalah Ponteng, tempat pertemuan sungai Kuning dan Sungai Pawon ( tempuran ) di Ujung Selatan Dusun Pentingsari di percaya ada sebuah goa sebagai tempat singgahnya ular besar anak dari baruklinting.

Kondisi alam di Desa Wisata Pentingsari yang diapait oleh Dua Sungai (Sungai Pawon dan Sungai Kuning ) sangat cocok untuk trakking remaja, anak-anak,dewasa dan orang tua dengan melewati jalur  susur sungai, melewati hamparan sawah, naik turun tebing dengan terowongan yang sangat unik dan indah, melewati rindangnya berbagai jenis tanaman kehutanan.

Nah, terbayangkan kalau tidak ada lagi wabah Corona mengapa Pentingsari tetap dirindukan oleh berbagai kalangan ?. Yuk stay at home traveling tomorrow, tetap di rumah dulu ya, besok kelar COVID -19 kita siap berwisata lagi ke Desa Wisata Pentingsari.