Serah terima 49.930 masker kain di balairung Kemenparekraf kepada PHRI DKI Jakarta, MRT Jakarta, dan Transjakarta yang karyawannya seriap hari melayani masyarakat ditengah pandemi. ( foto: Kemenparekraf)
JAKARTA,bisniswisata.co.id:GerakanMaskerKain Kemenparekraf dengan membagikan 100.000 masker pada industri pariwisata sebagian sudah dapat direalisasikan sehingga mereka yang setiap hari harus bekerja dapat meminimalisir penyebaran COVID-19.
“Pada tahap pertama, dilakukan serah terima sebanyak total 49.930 masker kain kepada PHRI DKI Jakarta, MRT Jakarta, dan Transjakarta,” kata Josua Simanjuntak Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf pada acara penyerahan masker kain secara simbolis, hari ini.
Mewakili Menparekraf Whisnutama Kusubandio, Joshua mengatakan bahwa sebelum memulai program ini, Kemenparekraf membuka Pendaftaran Terbuka untuk memilih UKM yang tepat sebagai produsen masker kain. Pendaftaran telah dilakukan pada 1 hingga 5 April 2020 di kanal media sosial Kemenparekaf.
“Kriteria yang diharapkan termasuk di dalamnya proses kerja yang mengutamakan kebersihan dan protokol kesehatan. Pada tahap pertama ini #GerakanMaskerKain melibatkan 13 pelaku industri kreatif fesyen dengan total 122 tenaga kerja,” tambahnya.
GerakanMaskerKain memiliki tiga tujuan utama.Tujuan pertama adalah isu humanitas, dimana dalam gerakan ini berupaya mengajak dan mengedukasi masyarakat yang sehat untuk cukup menggunakan masker yang terbuat dari kain. Sehingga ketersediaan masker medis tercukupi untuk tenaga kesehatan dan pasien yang membutuhkan.
“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplets di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan work from home dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” kata Josua Simanjuntak di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta.
Selanjutnya adalah isu inovasi berkelanjutan, dimana dalam program ini industri yang dilibatkan memanfaatkan sisa bahan kain dari produksi garmen untuk mengurangi sampah industri fesyen.
“Dan ketiga yang sangat penting adalah membantu menggiatkan atau menggerakkan industri kreatif fesyen dalam menggerakkan usahanya agar dapat terus bekerja dengan membuat masker kain yang dapat mereka buat dari kain perca atau sisa bahan kain produksi mereka,” kata dia.
Kemenparekraf menggandeng sejumlah pihak salah satunya MNC Peduli untuk menggelar kampanye yang merupakan bagian dari #GerakanMaskerKain sebagai upaya untuk menekan penyebaran COVID-19, sekaligus membantu menggerakkan industri kreatif fesyen tanah air utamanya UMKM yang ikut terdampak COVID-19.
Dia memastikan #GerakanMaskerKain akan terus berjalan dengan melibatkan lebih banyak industri fesyen tanah air. “Kami akan terus membuka kerja sama dengan berbagai pihak untuk bisa bersama-sama menggerakkan ekonomi kreatif melalui gerakan ini,” kata Josua.
Sementara itu Direktur Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasution menjelaskan, dalam kerja sama ini pihaknya menghimpun dana sebesar Rp 500 juta melalui MNC Peduli untuk memproduksi masker kain yang kemudian hasilnya didistribusikan oleh Kemenparekraf.
“Harapannya melalui kegiatan ini kita semua masyarakat Indonesia dapat terus meningkatkan disiplin memakai masker dan menjaga jarak. Dengan begitu kita harapkan kondisi kembali normal dan masyarakat segera beraktivitas kembali,” kata Syafril Nasution.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wakil Pemimpin Umum portal berita wisata ini: www. bisniswisata.co.id, Rita Sri Hastuti dilantik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim secara daring sebagai anggota Lembaga Sensor Film bersama 16 anggota lainnya.
Rita dilantik bersama 8 pejabat tinggi madya di lingkungan internal Kemendikbud. “Hari Ini Jumat, 8 Mei 2020 Kita dapat melaksanakan pelantikan pejabat tinggi madya serta anggota Lembaga Sensor Film periode 2020-2024,” kata Nadiem dalam upacara pelantikan
Untuk para pejabat, Nadiem berpesan agar mereka mampu berkreasi, berinovasi dan berpartisipasi aktif dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Hal itu menjadi tantangan sendiri, terlebih pada masa pandemi virus korona (COVID-19) ini.
“Agar saudara melakukan koordinasi internal, melihat tantangan dan menjadikan itu sebagai motivasi kuat untuk mewujudkan Merdeka Belajar berjalan efektif dalam sistem pendidikan untuk Indonesia,” terang Nadiem dikutip Antara.
Rita Sri Hastuti, Wakil Pemimpin Umum bisniswisata.co.id dilantik sebagai anggota Lembaga Sensor Film ( LSF).
Sedangkan kepada anggota Lembaga Sensor Film, Nadiem berpesan, agar mereka mendukung dan mengimbangi program Merdeka Belajar yang sudah diluncurkan beberapa bulan lalu. Tak sekadar memperkuat integritas, tapi juga mengimbangi perkembangan dan kemajuan teknologi di dunia perfilman.
“Kami berharap Saudara mampu menjalankan tugas ini sebaik-baiknya untuk periode 2020-2024,” kata Nadhiem.
Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Iwan Syahril, juga dilantik pula sebagai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud.
Pejabat lainnya yang dilantik yakni Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wikan Sakarinto menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbud.
Kemudian Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof H Endang Aminudin Aziz dilantik menjadi Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud.
Selanjutnya Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Totok Suprayitno dilantik menjadi Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kemdikbud.
Nadiem juga melantik ulang sejumlah pejabat yang sebelumnya sudah dilantik yakni Sesjen Kemdikbud Prof Ainun Naim, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Irjen Kemdikbud Muchlis Rantoni Luddin. Sedangkan Chatarina Maulina Girsang sebagai Staf Ahli Mendikbud bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan.
Nadiem Makarim meminta pejabat Kemdikbud yang baru dilantik untuk menggulirkan kebijakan yang memberikan kebebasan pada insan pendidikan dan kebudayaan.
“Insan pendidikan harus dilihat sebagai subjek bukan objek, untuk itu kebijakan yang digulirkan harus memberikan kebebasan pada insan pendidikan dan kebudayaan,” ujar Nadiem.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat membuat insan pendidikan dan kebudayaan dapat berkreasi, berinovasi dan berpartisipasi aktif untuk memajukan sektor pendidikan dan kebudayaan.
Dia menambahkan pendidikan manusia seutuhnya harus bisa mengikuti perkembangan zaman, serta memperhatikan pelaku pendidikan yakni manusia.
“Agar hal tersebut menjadi tantangan dan motivasi kuat Merdeka Belajar, serta bekerja secara efektif untuk Indonesia dan memberikan peluang untuk sistem pendidikan agar dapat menghadapi tantangan zaman,” terang dia.
Dalam kesempatan itu, Nadiem juga melantik anggota Lembaga Sensor Film (LSF) dan Prof Dr Sri Mulyani sebagai Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang periode 2020-2024.
Pejabat Kemendikbud dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 74/TPA2020 dan 84/TPA2020 tentang pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan pimpinan tinggi madya di lingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sejumlah pejabat yang dilantik ini diketahui sudah dilantik sebelumnya, namun ikut dilantik ulang pada hari ini karena ada penyesuaian Perpres. Sebelumnya Perpres 72/020 menjadi Perpres 82/2020 tentang Kemendikbud.
Berikut nama-nama pejabat yang dilantik:
Ainun Naim sebagai Sekretaris Jendral Kemendikbud (dilantik ulang)
Hilmar Farid sebagai Dirjen Kebudayaan Kemendikbud (dilantik ulang)
Muchlis Rantoni Ludin sebagai Ispektor Jendral Kemendikbud (dilantik ulang)
Totok Suprayitno sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud
Iwan Syahril sebagai Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan
Wikan Sakarinto sebagai Dirjen Vokasi
Endang Amunin Aziz sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud
Chatarina Maulina Girsang sebagai Staf Ahli bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayan Kemendikbud (dilantik ulang)
Sedangkan anggota Lembaga Sensor Film dilantik dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia dengan Nomor 39/TPA2020 tentang pemberhentian dengan hormat pengangkatan Lembaga Sensor Film. Berikut anggota yang dilantik:
STOCKHOLM, Swedia, bisniswisata.co.id: Bincang Virtual kembali digelar KBRI Stockholm dengan tema “Perkembangan Covid-19 di Seluruh Negara Nordik”. Hadir sebagai narasumber adalah 4 Duta Besar RI di Negara Nordik, yaitu Dubes Todung Mulya Lubis dari KBRI Oslo, Dubes Muhammad Ibnu Said dari KBRI Kopenhagen, Dubes Wiwiek Setyawati Firman dari KBRI Helsinki, dan Dubes Bagas Hapsoro dari KBRI Stockholm.
“Kegiatan ini selain silaturahmi antar Perwakilan RI dan masyarakat Indonesia yang tinggal di negara-negara Nordik, juga untuk dapat terus memonitor WNI sekaligus melakukan update mengenai langkah-langkah penanganan Covid-19 secara terpadu,” kata Dubes Swedia, Bagas yang juga bertindak sebagai moderator,
Hal ini juga menyangkut kerja sama antar negara di Nordik dengan Indonesia terkait bantuan penanggulangan Covid-19 hingga kerja sama penelitian untuk menemukan vaksin Covid-19 agarpandemi global ini bisa segera teratasi, tambah Dubes Bagas.
Dubes Todung dari KBRI Oslo menekankan ihwal perlindungan WNI dan ikhtiar untuk membuat vaksin Covid-19. “PT Bio Farma tengah menjajaki kerja sama pengembangan dan produksi vaksin Covid-19 dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) yang bermarkas di Oslo,” jelasnya.
Selain itu, KBRI Oslo juga selalu melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan simpul-simpul WNI, seperti Persatuan Pelajar Indonesia ( PPI) dan perwakilan kelompok masyarakat Indonesia” ujar Dubes Todung.
Dubes Muhammad Ibnu Said dari KBRI Kopenhagen, menyatakan bahwa perlindungan WNI dan kerja sama Indonesia dan Denmark, yaitu salah satunya untuk menemukan vaksin Covid-19, yang kini menjadi fokus utama.
“KBRI Kopenhagen memprioritaskan Diplomasi Perlindungan WNI di wilayah akreditasi dalam menghadapi pandemi Covid-19 saat ini dengan pendekatan kepedulian dan keberpihakan. KBRI Kopenhagen secara aktif menghubungi WNI yang tercatat dalam database WNI dan aplikasi Lapor Diri Online untuk mendapat keterangan terhadap kondisi terkini WNI.
Mereka juga diminta menyampaikan informasi resmi dari masing-masing pemerintah setempat serta Pemerintah RI serta meningkatkan koordinasi dengan otoritas terkait dari pemerintah setempat, khususnya yang terkait dengan usaha pelindungan WNI di wilayah akreditasi.
“Hingga saat ini, tidak terdapat WNI yang terjangkit Covid-19 di wilayah akreditasi KBRI Kopenhagen” ujar Dubes Ibnu.
Sedangkan Dubes Wiwiek Setyawati Firman dari KBRI Helsinki, menekankan pada sisi pandemi Covid-19 yang mendorong kerja sama kemanusiaan global. “Ada 3 hal besar dalam kerja sama khususnya mengenai penanganan Covid-19, yaitu tes, pengobatan, dan vaksin,” ujarnya
Wiwiek baru saja, hari ini, 8 Mei 2020 berbicara dengan Rektor Helsinki University, Prof. Dr. Jari Niemelä, tentang peluang kerja sama riset Covid-19 di bawah MoU antara Pemerintah Indonesia dan Finlandia di bidang Science, Technology, Innovation, and Higher Education Cooperation sejak 2015. ” Rektor Jari juga mengundang untuk dapat melihat fasilitas dan berbagai riset terkait Covid-19 di Helsinki University” ujar Dubes Wiwiek.
Sebagai moderator sekaligus narasumber terakhir, Dubes Bagas menyatakan bahwa KBRI Stockholm yang menangani WNI dengan jumlah lebih dari 1.300 orang di Swedia dan 5 orang di Latvia, kini fokus pada perlindungan WNI di masa pandemi dan juga peningkatan kerja sama Indonesia-Swedia khususnya dalam bantuan penanganan Covid-19 yang hingga saat ini telah dilakukan oleh sejumlah perusahaan Swedia di Indonesia.
“Kami juga mengapresiasi masyarakat Indonesia di Swedia dan Latvia yang terus aktif menggalang donasi untuk bantuan penanganan Covid-19 di Indonesia. Selain itu, terdapat sejumlah ilmuwan asal Indonesia yang membantu Swedia untuk menanggulangi Covid-19. Mereka ada yang mengajar di universitas, laboratorium, dan RS Umum di Swedia” ujar Dubes Bagas.
Dia menyimpulkan bahwa KBRI di Nordik selalu hadir membantu dan melindungi WNI dan Badan Hukum Indonesia. Selain itu, perhatian negara-negara Nordik sangat besar kepada Indonesia khususnya dalam kerja sama penanggulangan Covid-19. Hal ini dirasa dapat melengkapi peringatan HUT ke-70 hubungan diplomatik negara Indonesia dengan Denmark, Norwegia dan Swedia pada tahun 2020 ini.
Bincang Virtual kali ini diikuti oleh sejumlah masyarakat Indonesia yang tinggal di sejumlah negara di kawasan Nordik, negara-negara Eropa lainnya, bahkan juga dari Indonesia. Kegiatan ini dipandang baik untuk terus dilakukan guna menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan WNI di Swedia dan Latvia dalam masa pandemi Covid-19.
Yunani siap buka diri untuk turis per 1 Juli (foto: epoch time)
ATHENA, bisniswisata.co.id: Yunani akan kembali membuka diri bagi turis pada Juli mendatang. Harapan orang untuk liburan musim panas di negara Mediterania itu bukan lagi hanya mimpi. Yunani sendiri mewakili kisah sukes bagaimana mereka menghadapi virus Corona. Penerapan kebijakan lockdown yang ketat dan sedini mungkin terbukti mampu menekan angka kematian. Sejauh ini jumlah korban meninggal akibat virus corona hanya sekitar 150 orang.
Minggu ini, sejumlah aktivitas bisnis seperti salon dan toko buku mulai diizinkan kembali buka. Menurut Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis, itu akan menjadi model bagi industri pariwisata saat pelancong musim panas mulai berdatangan.
“Pengalaman wisata musim panas tahun ini mungkin sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata Mitsotakis kepada CNN.
Untuk memastikan social distancing (jaga jarak sosial) tetap dijalankan, kata Mitsotakis, kemungkinan bar-bar belum boleh buka dan kerumunan orang dibatasi. “Tetapi Anda tetap dapat menikmati pengalaman yang fantastis di Yunani.”
Sekadar info, sektor pariwisata memainkan peran penting di Yunani, negeri para dewa. Setidaknya 20% PDB negara itu bergantung pada industri pariwisata, dua kali lipat dibanding rata-rata negara di dunia. Pada 2019 jumlah turis yang datang ke Yunani mencapai lebih dari 31 juta orang, setara dengan 3 kali lipat jumlah penduduknya.
Dalam 10 tahun terakhir wisatawan yang datang selalu naik dua kali lipat per tahunnya. Tak sia-sia pemerintah investasi miliaran dollar di bidang layanan dan infrastruktur. Saat ini, satu dari empat warga Yunani bekerja di bidang pariwisata atau industri terkait lainnya.
Meski mengakui keputusan ini berisiko karena virus corona bisa saja dibawa para pelancong, Mitsotakis tetap optimis hal itu bisa ditekan. Caranya, dengan memberlakukan tes corona yang ketat. Saat ini, setiap pelancong internasional yang tiba di Athena akan langsung dicek.
Pengecekan virus Corona bagi pendatang bahkan sudah dimulai sejak dari bandara tempat orang tersebut bertolak. Mereka sudah dimintai mengisi formulir di dalam pesawat. Formulir itu berisi pertanyaan menyangkut data pribadi dan nomor tempat duduk.
Info tempat duduk penting agar otoritas Yunani dapat melacak kontak jika kedapatan ada penumpang di pesawat tersebut yang dites positif Corona. Setelah mendarat pun para penumpang langsung digiring ke sebuah ruangan untuk dites swab. Hasilnya baru diketahui 12 jam kemudian. PM Mitsotakis berharap ada protokol berstandar internasional jika negara-negara lain ingin melakukan hal serupa.
“Asumsi saya, orang akan dites terlebih dahulu sebelum naik pesawat, bukan setelah mereka tiba di sini.” Mereka yang diizinkan melanjutkan perjalanan adalah yang hasil tesnya negatif. Nah, jika semua berjalan sesuai rencana, ia berharap Yunani dapat betul-betul mulai menyambut wisatawan pada 1 Juli 2020.
Untuk sementara waktu, Yunani mengharapkan kembalinya para turis kelas atas karena sejumlah maskapai yang menjual tiket murah pun masih berhenti beroperasi.
Wisata kapal pesiar dan agrowisata nampaknya akan banyak diminati. Melancong dengan kapal pesiar memungkinkan Anda untuk berkumpul dengan sedikit orang. “Jumlah orang yang ada di atas kapal lebih sedikit; mereka pun akan pergi berlayar dengan membawa perbelakan; dan makan di kapal,” ujar Mitsotakis.
Pandemi Covid-19 telah mengubah gaya hidup orang, termasuk untuk plesiran. Orang kini cenderung melancong ke tempat-tempat wisata yang tidak ramai. Agrowisata dengan hotel-hotel yang lebih kecil cocok dengan kebutuhan wisata pasca Covid-19.
PURBALINGGA, Jateng, bisniswisata.co.id: Walau sekadar numpang lahir, ari-ariku berkubur di Purbalingga, Jawa Tengah. Barangkali pertalian fisiologi dan sejarah itulah yang membuat aku—anak kolong yang menghabiskan masa kecil dan remaja di kitaran markas besar Kopassus Cijantung dan di Perumnas Klender, Jakarta—selalu merindukan kota di Keresidenan Banyumas tersebut. Setelah berkeluarga pun aku masih menjambanginya walau sesekali.
Liburan sekolah tiba. Kami putuskan untuk mengunjungi siMbah yang sudah sepuh di Purbalingga. Beliau katanya kangen buyut dan cucunya. Wajar, memang. Mbah Kakung baru saja meninggal dan kami tak sempat melayat kala itu karena padat kegiatan.
Tiket kereta api eksekutif pulang-pergi kami pesan. Tak sulit mendapatkan karcis ke Purwokerto. Pilihan banyak sebab seluruh kereta ke timur yang lewat jalur selatan akan transit di sana. Pilihan kami jatuh pada KA Bima. Selain nyaman, waktu keberangkatan cocok yakni bertolak dari stasiun Gambir pukul 17.00. Artinya, kami yang tinggal di Bogor tak perlu rush berangkat ke Gambir untuk mengejar kereta. Ini yang paling penting.
Setelah menitip kendaraan di rumah Eyang Uti anak-anak di Klender, Jakarta Timur, kami ke Gambir naik taksi. Seperti biasa, kedua anak kami selalu tertarik berkenalan dengan orang baru termasuk dengan pak sopir taksi yang berbadan gempal.
“Memang Bapak orang bule ya,” celetuk Che, anak nomor dua kami sesaat setelah mobil mulai melaju meninggalkan rumah Uti.
“Memang kenapa,” ucap saya menimpali.
“Kok rambutnya putih semua….”
Kami tertawa; pun pak supir yang asli Banjar, Kalimantan.
Perjalanan ke Gambir kurang dari 30 menit saja. Celoteh anak-anak sepanjang perjalanan membuat waktu yang berjalan terasa lebih singkat.
Tiba di Gambir ‘kepagian’, kami putuskan untuk ngopi di kedai favorit anak-anak: Dunkin Donut di lantai dasar. Tempatnya nyaman. Sayang, kedai ini juga menyediakan smoking area yang bersekat dinding kaca belaka. Pintu senantiasa terbuka sehingga asap rokok bebas bermigrasi ke seluruh ruangan. Tampaknya hexos tidak bekerja di sana. Ruangan terasa pengap oleh asap rokok terutama buat kami yang tak terbiasa menghirupnya.
Kira-kira setengah jam menjelang keberangkatan, kami naik ke lantai atas menuju peron tempat pemberhentian sekaligus pemberangkatan kereta.
Anak-anak selalu exciting jika ke Jawa [baca: Jawa Tengah] naik kereta. Trip ke Purbalingga ini bukanlah pengalaman pertama mereka. Beberapa kali sudah kami memilih kereta sebagai moda transportasi; termasuk saat liburan ke Yogyakarta dan Solo.
Perjalanan dari Gambir ke Purwokerto hanya lima jam. Jadi OK-lah buat anak kami yang masih bocah. Kalau berangkat tepat pulul 17.00 dari Jakarta maka sampai di kota itu masih sekitar pukul 22.00; belum terlalu malam.
Dari stasiun Purwokerto kami masih harus naik mobil selama kurang lebih 30 menit ke Purbalingga. Bulik (adik ibuku) pasti sudah menunggu kami di sana sejak sore. Biasanya kami akan menghubungi taksi langganan keluarga untuk menjemput di Purwokerto.
Sebenarnya taksi lokal banyak yang nongkrong di halaman stasiun. Jadi tak sulit mencari kendaraan di sana. Hanya saja kalau dengan taksi langganan, kita tak perlu lagi menjelaskan tujuan atau arah jalan menuju rumah Bulik.
Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Gambir, ada satu ritual yang dilakukan anak sulung kami. Kei akan menyusuri gerbong demi gerbong mulai dari yang di depan (belakang lokomotif) hingga ke gerbong paling belakang. Ia akan melaporkan apa yang dilihatnya termasuk yang tetap ada dan yang berubah.
Ulah penumpang yang sempat ia rekam selama menyusuri gerbong juga akan ia wartakan. Seusai melapor dia akan duduk manis menunggu pramugari kereta api menawarkan makan malam. Ia suka bersantap sajian on board; akan serius bertanya dan menimbang apa kira-kira makanan yang cocok dipesan. Acara ini seolah menjadi bagian dari ritual yang musti ia jalani.
Yap! Makanan pun siap. Kei akan makan sampai tuntas. Ini ada bagusnya karena akan menggugah selera sang adik. Che tak doyan bersantap. Setelah kenyang tentu mudah ditebak, ia dan Che akan mengantuk dan kemudian tidur. Biasanya kami memesan empat kursi misalnya 9 A, B dan 10 A, B sehingga satu deret kursi (dua tempat duduk) bisa diputar agar berhadapan. Posisi duduk seperti ini memberi ruang yang nyaman buat anak-anak untuk bermain dan bercengkerama selama perjalanan.
Setiba di Purwokerto hujan deras. Che masih tidur; artinya Daddy musti menggendong sehingga kami kehilangan satu tenaga pembawa koper. Di luar stasiun Pak Yuli, sopir taksi langganan keluarga, sudah menunggu. Setelah memasukkan bawaan ke bagasi yang cukup luas kami pun duduk manis untuk diantar. Bulik tinggal sendiri karena dua anaknya sudah berkeluarga dan menetap di Jakarta.
Di Purbalingga seorang Paklik (adik laki-laki ibu) bercerita bahwa di sana ada taman reptil yang koleksi ularya aneka. Che, sangat ngefans pada ular. Dia pun kontan berteriak kegirangan. “Mau dong ke sana…ya Mom. Aku mau lihat ular yang banyak. Janji ya Mom.” Aku iyakan. Kebetulan lokasi Taman Reptil searah jalan menuju kolam renang Owabong. Jadi kedua tempat itu bisa kami kunjungi sekaligus dalam sehari perjalanan.
Selain berenang anak-anak juga ingin sekali masuk gua. Sudah sering mereka melihat gua dalam bentuk visual, terutama di saluran Discovery atau National Geographic; begitupun menyusurinya mereka belum pernah. Maka ketika aku mengatakan kita akan ke Gua Lawa (kelelawar) juga bukan kepalang girang mereka. Rencana tur segera kami buat. Pertama kami akan ke Owabong sekalian melihat koleksi ular Taman Reptil. Esoknya baru ke ke Gua Lawa.
Meski Taman Reptil kecil dan koleksinya tak banyak, anak-anak cukup senang di sana sebab bisa bercengkerama dengan ular python berbagai ukuran. Namun hari itu Owabong-lah yang mencuri perhatian mereka. Kolam renang yang memanfaatkan air gunung ini dilengkapi dengan fasilitas bermain. Kolam air panas juga tersedia di sana.
Gua Lawa dan Pancuran Tujuh
Petualangan hari kedua ternyata lebih menarik. Jalan menuju Gua Lawa cukup menantang: kadang berbelok-belok, menanjak, menurun tajam, serta menyempit. Untunglah sopir kami, Pak Slamet, handal dan berpengalaman. Kami tenang saja walau ia ngebut.
Perjalanan menelusuri lorong gua sungguh memicu adrenalin sekaligus menyenangkan. Bahkan Kei perlu dua kali kembali menyusur jalan setapak di dalamnya. Lintasan itu memang dirancang sedemikian menarik sehingga pengunjung merasa nyaman.
Kelelawar yang bergelantungan di langit-langit mempertebal eksotisme alam. Seorang guide menerangkan ke kami spot yang menarik di sepanjang jalur. Tempat yang sering dipakai orang bersemedi saat malam Jumat Kliwon, misalnya. Memang ada saja orang yang datang ngelmu dengan bertapa di sana. Sisa sesajen berupa bunga segar tampak di beberapa titik.
Baturaden menjadi tujuan kami berikutnya. Berada di ketinggian sekitar 1.300 meter dari permukaan laut, obyek wisata kebanggaan Puwokerto ini tempat yang cocok untuk melepas kepenatan. Udara sejuk yang cenderung dingin membuat kami betah berlama-lama di sini; rasanya waktu tak bergerak. Sebenarnya kami sudah beberapa kali ke tempat ini. Saat jembatan gantungnya putus pas Lebaran Oktober 2006, misalnya, keluarga besar kami sedang bersantap di restoran di dekatnya.
Rupanya ada tempat yang tak kalah eksotik dari lokasi wisata Baturaden. Pancuran Tujuh namanya. Sudah lama aku mendengar nama ini tapi sekali pun belum pernah ke sana. Sebelumnya aku pernah mendengar cerita bahwa kalau mau ke sana kita harus menapak berjam-jam dari Baturraden. Siapa sudi kalau harus membawa bocah-bocah?
Zaman sudah sangat berubah, ternyata. Sekarang kita sudah bisa naik mobil ke Pancuran Tujuh, lewat jalan lingkar lereng Gunung Slamet. Mobil kami pun bergerak ke sana. Lintasan itu hanya cukup untuk dua mobil yang berpapasan. Kendaran berukuran kecil dan sedang, tentunya.
Medannya agak berat. Namanya juga mendaki punggung gunung: serba terjal dan meliuk. Hutan alami di kiri-kanan. Kendaran yang melintas jarang. Kalau mobil sampai mogok kita akan kelimpungan. Jangan harapkan akan bisa menelepon truk derek.
Che dan Kei berlatar air belerang yang sehat di Pancuran Tujuh (foto-foto: P. Hasudungan Sirait)
Main air dipancuran cukup mengasyikan
Kelak, saat hendak pulang kami melihat sebuah sedan agak melintang sehingga cukup merintangi jalan. Pengemudinya bilang kendaraannya sulit menanjak karena kanvas koplingnya aus. Waktu itu sudah lengang dan gelap sebab lewat pukul 18.00. Entah bagaimana mereka akan keluar dari hutan.
Sesampai di pelataran parkir Pancuran Tujuh kami tak melihat fasilitas rekreasi macam restoran atau kedai kopi-teh. Yang ada cuma toilet umum. Jadi, kalau tidak buang air atau cuci muka pengunjung akan menapaki anak tangga menurun yang jumlahnya hampir 300 menuju pancuran.
Kami tak langsung turun melainkan mengisi perut dulu di pelataran. Bekal yang sudah disiapkan Bulik kami ganyang dengan penuh gairah. Ayam kampung goreng, tempe mendoan, mi goreng, serta sambal terasi itu begitu sedap rasanya walau tidak berpadu dengan nasi ngebul. Udara yang dingin serta atmosfir hutan yang menyejukkan batin membuat semangat kami membuncah untuk meludeskan bekal.
Seusai isi perut kami menyortir bawaan. Prinsipnya: seperlunya saja agar tak keberatan saat menaiki tangga waktu pulang. Anak-anak bersemangat melangkah di tangga semen. Saking senangnya terkadang mereka berlari adu cepat. Saat hendak mencapai ujung tangga kami berpapasan dengan seorang nenek. Bersama rombongan keluarga, ia hendak naik.
Tapi baru di anak tangga kedua ia sudah terengah-engah sehingga perlu mengasoh. Seorang anak muda yang merupakan kerabatnya menawarkan diri untuk menggendong. Tapi sang nenek menampik. Ia bilang dirinya masih kuat; cuma perlu rehat saja.
Saat melihat si nenek aku langsung ingat iklan zaman baheula yang berbunyi: nafsu besar tenaga kurang. Panggilan Pancuran Tujuh rupanya begitu kuat sehingga ia tak memperdulikan lagi kerentaan dirinya. Melihat adegan itu aku sempat ciut. Dalam hati aku pun berujar: wah perlu juga menyimpan energi biar kuat menapak sampai ke pelataran atas.
Selepas anak tangga terakhir deretan warung kopi-mi instan serta kios celana pendek, cinderamata langsung menyambut kami. Lupa membawa celana pendek pengganti aku pun mampir di kios batik. Si mbak pedagang langsung nyerocos: “Celana pendek batik 10.000 rupiah, harga pas. Dijamin tidak luntur deh…itu batik Pekalongan.” Aku membeli empat celana pendek sekaligus.
Ketika masih di pelataran atas aku sempat membayangkan seperti apa Pancuran Tujuh. Tentu tujuh mata air serba besar yang membuncah deras. Air dingin mengalir deras menyungai dengan menciptakan gemuruh laksana deru air terjun.
Mataku mencari-cari dimana gerangan pancuran tersebut. Aku tak melihat pemandangan sedahsyat yang kubayangkan. Lantas ke seorang pengunjung aku bertanya. Dia menunjuk ke arah sebuah dinding tebing. Tampak memang sejumlah pancuran kecil yang mengeluarkan air berasap.
“Oh…bukan air terjun ya?”
“Namanya juga pancuran, ya itu pancurannya,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengamati sumber air panas. Jalan setapak yang cukup terjal di sisi parit kecil menarik hatiku. Itu jalur menuju lokasi jatuhnya air pancuran. Kami menyusurinya. Hanya pasangan muda dan sekolompok remaja saja yang kami temui di lintasan. Medannya cukup menantang.
Setelah berhasil menuruni jalan terjal sekitar 500 meter kami melihat mulut gua yang dari atasnya air jatuh. Sungguh eksotik! Bergegas kami ke sana. Kita bisa duduk sambil bermain di mulut gua berbatu ini sembari menikmati kucuran air hangat. Tubuh kita seperti dipijati saja. Kemewahan ini tak ada duanya. Kalau tak ingat waktu mau rasanya tak beranjak dari sana.
Pijat refleksi dan lulur lempung
Di bawah, di depan mulut gua, ada pula layanan pijat refleksi. Penduduk setempat menawarkan pijat refleksi kaki. Tarifnya bersahabat: anak-anak Rp. 10 ribu dan dewasa Rp. 15 ribu. Para pemijat ini masih berkerabat. Yang memijat aku pernah berguru ke seorang dokter Tionghoa yang baik hati. “Penyakit ibu di perut. Ada asam urat juga,” kata lelaki Sunda separuh baya itu sambil terus memijat.
Di tempat ini tersedia juga jasa lulur. Kalau mau, wajah dan sekujur tubuh kita akan dibalur dengan semacam tanah lempung berbelerang. Selain mengenyahkan gatal di badan, kata si penyedia jasa lumuran ini akan menghaluskan dan mengencang kulit. Anggota rombongan kami ada yang mencobanya. Kian halus dan kencangkah kulitnya setelah itu? Tentu saja tidak karena sekali itu saja ia menjajal.
Tak terasa senja pun menjelang. Penampakan langit berubah sudah. Orang-orang mulai beringsut dari kitaran gua. Gerimis kecil menemani saat kami, kelompok terakhir, meninggalkan lokasi yang sangat bersahabat dan alami ini.
Setelah segar berendam air hangat berbelerang perut pun menuntut haknya. Sebelum berjuang menapaki tangga kami sempatkan menyantap bakso dan ngopi di salah satu dari segelintir warung yang masih buka. Dengan perut yang berisi kami memiliki energi yang cukup untuk menggapai pelataran atas tempat kendaraan kami menunggu.
Sungguh memuaskan percengkeramaan kami dengan alam Pancuran Tujuh nan asri. Saat mobil kami bergerak membelah malam yang sudah gelap aku berjanji di hati: kelak akan kembali lagi untuk dibelai hangat air Pancuran Tujuh. Semoga semesta mendukung.
“STAY at home economy akan menjadi tren di masa yang akan datang,” demikian pernyataan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (28/4).
Kita semua telah tahu, bahwa kuartal pertama tahun 2020 ini dimulai dengan masa suram perekonomian rakyat. Untuk Bali, sudah terasa seretnya pendapatan bagi pekerja pariwisata, perhotelan dan lingkaran ekosistemnya pada bulan Maret. Bisa diperhitungkan mulai dari di tetapkannya status siaga Corona oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster. Status siaga yang berlaku dari 16 sampai 30 Maret 2020. Kemudian diperpanjang sampai 29 May 2020. Selanjutnya, provinsi lain di Indonesia juga terdampak.
Dalam perjalanan status siaga ini, kita sekarang mematuhi tambahan ketetapan pemerintah pusat, yaitu “larangan mudik”. Tindakan yang diambil demi mencegah semakin meluasnya penyebaran virus Corona penyebab COVID-19. Peraturan ini disampaikan oleh Presiden NKRI Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas, Selasa 21 April 2020. Tindakan larangan mudik diberlakukan pemerintah mulai Jumat, 14 April.
Keputusan ini mengakibatkan seluruh moda transportasi dihentikan sementara. Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan, moda transportasi baik darat, laut, udara dan kereta api, dihentikan sementara hingga batas waktu yang ditentukan. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi hingga 31 Mei, transportasi laut hingga 8 Juni, dan kereta api hingga 15 Juni 2020.
Bisnis rumahan dadakan
Dari mengamati dan menyadari cara hidup keseharian di kuartal pertama 2020 ini, kita pasti merasa dipaksa untuk mendigitalisasi banyak hal dalam menjalani aktifitas keseharian. Kondisi #DiRumahAja ini telah membangkitkan bisnis kuliner rumahan dadakan sektor bisnis informal. Para pekerja terutama dari sektor pariwisata dan perhotelan —penghasilan tetap bulanannya harus rela “dicacah”—, mulai mengeluarkan jurus-jurus mempertahankan ekonomi rumah tangga dari keahlian memasak.
Berbekal pengetahuan social media, mereka mulai beraktifitas memulai e-commerce industri rumahan. Membuka pesanan dan sesuai kesepakatan ditentukan juga hari dan jam pengantarannya. Bahkan yang sebelumnya gaptek – gagap teknologi dipaksa untuk go digital untuk memulai bisnisnya. Tiada ampun covid-19 ternyata juga memberi nilai positif untuk memaksa semua orang beradaptasi dengan lingkungannya.
Opsi pesan-antar membuka peluang bisnis rumahan yang sangat luas. Komunikasi untuk menerima pesanan pun sangat mudah dengan menggunakan platform gratis digital berbasis sosial media, termasuk instagram message, facebook messenger, whatsapp, line dan beberapa lagi. Juga yang sudah eksis bekerjasama dengan provider ojol Go-Jek dan Grab.
Apakah bisnis pesan-antar yang sekarang menjadi tren perjuangan mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga hanya untuk sementara?
Kalau saja, bisnis pesan-antar dadakan ini menyehatkan ekonomi rumah tangga saat ini dan beberapa bulan ke depan, tentunya stay at home economy tren bisnis kekinian akan menjadi tonggak main income pelakunya. Kelangsungan bisnis masa depan yang bisa diperhitungkan sebagai membuka lapangan kerja di sektor UKM / UMKM dengan didukung digital platform yang tepat sasaran untuk memudahkan cara kerja dengan jangkauan pasar yang lebih luas.
Industri Kuliner
Bagaimana dengan restoran-restoran dan usaha lainnya dari kategori PT, CV, UD dan UKM?
Stay at home economy ini bisa diterjemahkan lebih luas lagi. Karena pergeseran seismik ini, platform digital dan solusi pesan-antar berkembang pesat. Semua sektor industri menjadi semakin tergantung pada digitalisasi ini. Solusi menggunakan platform pesan-antar digital pasti diperlukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas dan mempermudah sistem kerja. Investasi dengan biaya murah dan menjadi solusi jangka panjang dalam berbisnis. Bisa dipastikan sistem e-commerce ini akan terus dikembangan untuk kepentingan masa depan.
Pebisnis makanan dan minuman pun dipaksa untuk bertransformasi untuk mendatangi customer. Sesuai keputusan pemerintah, restoran harus tutup. Tetapi para pengusaha restoran termasuk restoran di hotel dituntut untuk mampu mempertahankan karyawannya dan menggaji sesuai kesepakatan kerja antara kedua belah pihak.
Thanks to Technology.
Dengan makin canggihnya alat komunikasi dan bisa saling diintegrasikan, maka Platform Digital Pesan-Antar sangat membantu para pebisnis dan konsumennya untuk tetap berinteraksi, dan walaupun pendapatan turun tetapi bisnis hidup. Untuk pebisnis sektor formal, ada beberapa solusi perangkat lunak (SaaS) di pasar yang memberi kita alat untuk menjalankan dan maintain operasional pengiriman kita sendiri.
Beberapa nama yang dikenal dari luar Indonesia adalah Oddle, Tabsquare, Kaddra, Weeloy, dan Butleric. Sedangkan Digital Ordering Platform yang sudah banyak dipakai di indonesia adalah deeats dan linktr.ee instagram tool,selain google, dan facebook yang juga merespon situasi stay at home /#DiRumahAja dengan menyediakan fasilitas bisnis untuk publik.
Lantas! Solusi atau platform pesan-antar mana yang lebih baik?
Kita dapat menyimpulkan bahwa solusi pesan-antar masuk akal untuk perusahaan mapan juga UKM / UMKM yang memiliki sumber daya untuk mengelola operasi pengiriman mereka sendiri. Kita harus berpikir secara logis dan menganalisa apa sebenarnya yang akan menjadi biaya. Terutama saat kita menganggap platform digital ini tiba-tiba sebagai bagian penting dari rantai pasokan.
Kita seharusnya menganggapnya sebagai kebutuhan wajar dalam menjalani new normal berkelanjutan dalam etika bisnis era COVID-19. Solusi pemesanan online yang dapat kita tawarkan kepada customer untuk melihat menu, memesan, dan melakukan pembayaran online. Biasanya solusi ini diberi istilah white label merek restoran.
Nilai tambah platform digitalpesan-antar
Bisa di evaluasi dari kebiasan kita yang menjadi konsumen, yaitu akan melihat peningkatan jumlah opsi menu dan beragam penawaran untuk dipilih. Pebisnis kuliner dadakan dan restoran memiliki aliran pendapatan dari bisnis pesan-antar untuk membiayai dapur masing-masing.
Pebisnis kuliner pesan-antar menciptakan lebih banyak pekerjaan untuk karyawan dan driver ojol sebagai partner kerjasama pihak ketiga. Platform digital pesan-antar mendorong inovasi dan mengimplementasikan smart kitchen berbasis cloud yang biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan conventional kitchen.
Akhirnya kembali kepada topik awal, apakah stay at home economy, bisnis berbasis ekonomi kerakyatan akan menjadi sumber pendapatan masa depan kita?
DENPASAR, bisniswisata.co.id: PANDEMIK COVID-19 cukup mempengaruhi kebutuhan masyarakat akan uang tunai untuk kepentingan hari raya Lebaran. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Perbankan, Bank Indonesia memproyeksikan kebutuhan uang tunai di wilayah Bali adalah sebesar Rp. 3.441 milyar. Bila dibandingkan dengan realisasi kebutuhan uang tunai di periode Lebaran tahun lalu tercatat sebesar Rp. 5.727 milyar.
“Diprediksi menurun 40% atau sebesar Rp. 2.296 milyar,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, pagi ini.
KPwBI Provinsi Bali telah menyiapkan uang tunai sebanyak Rp. 7.882 milyar untuk periode Lebaran 2020, sebanyak Rp.1.600 milyar disiapkan untuk kebutuhan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan sebanyak Rp. 6.282 milyar untuk kebutuhan di Provinsi Bali.
Penyediaan uang tunai dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan layak edar merupakan salah satu tugas Bank Indonesia. Dalam menjalankan tugas tersebut di tengah pandemi COVID-19, Bank Indonesia melakukan beberapa kebijakan untuk pencegahan penyebaran COVID-19, yaitu : Melakukan karantina selama 14 hari terhadap uang yang diterima dari perbankan sebelum diedarkan kembali ke masyarakat. Melakukan pembatasan kegiatan penukaran uang yaitu tidak memberikan layanan penukaran uang melalui kas keliling tetapi mengoptimalkan jaringan kantor perbankan. Melakukan pembatasan permintaan klarifikasi uang palsu. Melakukan pengamanan terhadap uang yang disetorkan, bank, yaitu wajib packing sebelum disetorkan ke Bank Indonesia.
Juga, melakukan pengamanan petugas operasional dengan wajib menggunakanalat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan dan hand sanitizer. Melakukan pembatasan jadwal penyetoran dan penarikan perbankan di Bank Indonesia yang sebelumnya dilaksanakan setiap hari menjadi 3 (tiga) hari dalam sepekan yaitu pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Membatasi pelaksanakan kegiatan penyetoran dan penarikan perbankan di kantor Bank Indonesia dengan menyiapkan lokasi kerja aternatif (LKA).
” Posisi 30 April 2020, Jumlah uang yang dikarantina di KPwBI Provinsi Bali mencapai Rp. 1.915 miliar. Uang tersebut mendapat serangkaian perlakuan khusus sebelum diedarkan kembali ke masyarakat,” papar Trisno Nugroho lebih lanjut..
Di Bali pada bulan Januari s.d. April 2020 jumlah penarikan perbankan tercatat sebesar Rp. 4.796 milyar atau 88% dari yang telah diproyeksikan. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019, tercatat penarikan perbankan mencapai Rp. 5.277 milyar menurun 9%. Selama masa pandemi COVID-19, permintaan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai memperlihatkan kecenderungan yang semakin menurun, yaitu pada bulan Maret tercatat sebesar Rp. 1.466 milyar dan pada bulan April tercatat turun menjadi sebesar Rp. 771,8 milyar atau turun sebesar 47,4%.
Sementara itu, jumlah uang yang disetorkan bank ke Bank Indonesia pada Januari s.d. April 2020 tercatat sebanyak Rp. 7.236 milyar. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019, tercatat penyetoran perbankan mencapai Rp. 8.249 milyar atau turun 12%. Selama masa pandemi COVID-19, jumlah uang yang disetorkan masyarakat Bali menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu tercatat di bulan Maret 2020 sebesar Rp. 1.229 milyar dan pada bulan April meningkat menjadi Rp. 1.473 milyar atau meningkat sebesar 19,85%.
“Terjadi net-inflow — uang yang masuk ke BI lebih besar dibanding yang dikeluarkan– sebesar Rp 2.440 milyar. Pembatasan pergerakan berdampak pada kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai,” jelasnya menutup pembicaraan.
LONDON, bisniswisata.co.id: World Travel & Tourism Council (WTTC) sudah punya gambaran seperti apa itu NewNormal yang akan berlaku ketika negara-negara mulai mengakhiri pembatasan-pembatasan travel (perjalanan) untuk mengunci penyebaran virus COVID-19.
WTTC memang sudah merencanakan prosedur traveling di era New Normal lengkap dengan langkah-langkah kritis dan tindakan terkoordinasi, termasuk standar dan protokol baru, yang menawarkan cara aman dan bertanggung jawab untuk pemulihan sektor travel & tourism ketika konsumen global mulai melakukan perjalanannya lagi.
Selama beberapa minggu terakhir, WTTC, yang mewakili sektor travel & tourism global, telah mengerahkan upaya untuk berbagi praktik terbaik dari berbagai penjuru dunia guna menyusun strategi bersama untuk diterapkan.
Kolaborasi pemerintah -swasta sangat penting untuk mengembangkan protokol kesehatan baru yang akan membentuk pengalaman perjalanan dan juga memberi jaminan yang kuat saat orang mulai bepergian lagi
WTTC dalam rilisnya mengatakan sektor ini akan menghadapi pemulihan bertahap untuk melakukan perjalanan selama beberapa bulan mendatang dan ketika New Normal berlaku sebelum vaksin tersedia dalam skala massal dan cukup besar untuk menginokulasi miliaran orang.
Kegiatan travel akan kembali lebih dulu menyasar tujuan-tujuan domestik antar kota dengan akomodasi untuk menginap. Kemudian dilanjutkan bangkitnya perjalanan ke negara tetangga terdekat sebelum berekspansi ke berbagai daerah hingga akhirnya melintasi benua untuk menyambut kembalinya perjalanan internasional jangka panjang.
WTTC percaya bahwa pelancong milenial yang usianya lebih muda dalam kelompok umur antara 18-35 tahun adalah yang tidak rentan terhadap COVID-19. Mungkin mereka inilah termasuk yang pertama mulai bepergian lagi.
Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, mengatakan sangat penting bagi kelangsungan hidup sektor travel & tourism untuk bekerja bersama dan memetakan upaya pemulihan, melalui terkoordinasi dan menawarkan jaminan yang diperlukan orang untuk mulai bepergian lagi .
“Kami telah belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa ketika protokol dari sektor swasta diperhitungkan dan kami memiliki pendekatan yang terkoordinasi, jangka waktu pemulihan berkurang secara signifikan, sehingga kolaborasi sektor swasta-publik sangat penting,” kata Gloria Guevera.
Menurut dia harus dihindari kebijakan yang malah menbuat bottol neck atau menghambat dan malah memperlambat pemulihan. Namun, kembalinya aktivitas perjalanan yang cepat dan efektif hanya akan terjadi jika pemerintah di seluruh dunia menyetujui protokol kesehatan umum yang dikembangkan sektor swasta.
“Ini harus memberikan jaminan yang dibutuhkan pelancong dan pihak berwenang dengan menggunakan teknologi baru menawarkan perjalanan New Normal yang tidak merepotkan dan ada pra-vaksin dalam jangka pendek.”
Protokol dan standar baru didefinisikan setelah adanya umpan balik dan kordinasi dengan para anggota WTTC maupun kolaborasi dari asosiasi -asosiasi yang mewakili sektor perjalanan yang berbeda.
Hal Ini termasuk Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Dewan Bandara Internasional (ACI), Asosiasi Kapal Pesiar Internasional (CLIA), Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat (USTA), Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) , Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Komisi Perjalanan Eropa (ETC) dan Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).
Asosiasi seperti IATA, ACI dan ICAO mengumpulkan keahlian penting mereka dan bekerja erat untuk mendefinisikan protokol terbaik agar pelancong dan karyawan tetap aman saat sektor penerbangan pulih. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pakar kesehatan lainnya juga berkontribusi dengan memberikan pengalaman mereka dari berbagai krisis medis global.
Untuk menawarkan kebersihan kelas dunia, perlu peningkatan standar kebersihan dan memastikan keamanan tamu. Hotel bisa mengembangkan protokol berdasarkan pembelajaran dari menawarkan kamar gratis kepada petugas kesehatan garis depan selama krisis COVID-19.
“Akan ada protokol baru untuk check-in yang melibatkan teknologi digital; handsanitiser station di tempat-tempat yang sering dikunjungi termasuk tempat penyimpanan barang, sistem pembayaran non tunai; menggunakan tangga lebih sering daripada lift karena aturan jaga jarak 2 meter lebih sulit dipertahankan bahkan peralatan Gym (kebugaran) juga dipindahkan untuk jaga jarak pemisahan yang lebih besar
Operator pelayaran akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk memastikan kapal pesiar bebas dari COVID-19 termasuk staf yang mengenakan sarung tangan setiap saat yang kemudian sering ditata ulang agar lebih sering membersihkan kamar.
Wisatawan di bandara akan mengikuti serangkaian prosedur diri bahwa kondisi mereka sehat sebelum terbang dan begitu juga setibanya di bandara tujuan mereka. Mereka dapat melihat langkah-langkah jarak sosial di bandara dan selama naik pesawat tetap mengenakan masker saat berada dalam pesawat.
Pesawat juga akan diwajibkan melakukan pembersihan yang intensif. Langkah-langkah ini akan digabungkan dengan pelacakan kontak, melalui aplikasi seluler, yang akan memungkinkan penerbangan meninggalkan bandara dan diny bebas COVID-19.
Protokol, yang telah dikembangkan menggunakan pengalaman dari pemulihan awal di China dimana aturan New Normal diterapkan. Pihaknya akan mengumunkan standar baru dalam dua minggu ke depan yang akan dibagikan kepada pemerintah secara global, sehingga ada pendekatan terkoordinasi untuk bepergian dalam COVID-19 dunia.
Ada tanda-tanda positif dari pemulihan pertama. Penelitian oleh pakar data perjalanan dan analisis Cirium menunjukkan bahwa lebih dari 30% kapasitas domestik telah kembali ke pasar penerbangan China dalam dua bulan terakhir.
Penerbangan domestik juga telah dilanjutkan di beberapa negara, seperti di Vietnam antara Kota Ho Chi Minh dan Hanoi dan Vietnam mencatat relatif sedikit kematian akibat virus korona.
Untuk mempercepat pemulihan global, WTTC akan terus bekerja sama dengan G20, UE, organisasi internasional dan pemerintah di seluruh dunia untuk membantu menerjemahkan protokol baru ke dalam kebijakan publik yang diadopsi oleh masing-masing negara dengan tetap berpegang pada standar global bersama.
WTTC mengatakan sektor travel & tourism sekarang menghadapi lebih dari 100 juta kehilangan pekerjaan di seluruh dunia karena pandemi coronavirus, dengan biaya hingga US $ 2,7 triliun dari PDB. Pada tahun 2019, travel & tourism menyumbang 10,3% dari PDB Global.
Sektor ini menghasilkan satu dari empat pekerjaan baru dunia dan selama sembilan tahun berturut-turut, telah melampaui pertumbuhan ekonomi global.
Seorang Profesor asal Perancis sedang melakukan penelitian arkeologi tentang Piramida tua di Mesir. Dalam perjalanan dirinya dari lokasi Piramida menuju Kairo, Profesor ini sengaja naik kereta api agar bisa relaks dan menikmati alam Mesir yang begitu eksotil dan sakral akan peninggalan peradaban tertua di dunia ini.
Anton Permana
Diatas kereta api, Profesor kebetulan satu tempat duduk bersama seorang pria tua yang kebetulan membawa satu buntal karung. Awalnya Profesor tak begitu peduli dengan pria tersebut. Namun, ada yang ganjal dilihat ilmuwan ini dari tingkah laku pria ini selama dalam perjalanan. Yaitu setiap lima atau sepuluh menit, pria ini menendang-nendang buntalan karungnya itu sambil menggoyang-goyang karung tersebut berulang kali.
Namanya ilmuwan yang haus akan ilmu pengetahuan. Akhirnya Profesor yang penasaran ini bertanya kepada pria tersebut.
Profesor : “Kalau saya boleh bertanya, benda apa yang anda bawa didalam karung itu ?”
Pria tua : “Ohh itu adalah kumpulan tikus yang ada di ladang gandum saya”.
Profesor : (Dengan mimik semakin heran dan penasaran). “Untuk kegunaan apa tikus itu jauh-jauh anda bawa dan untuk siapa?”
Pria tua : “Tikus ini ada yang order buat laboratorium pemerintah untuk sebuah penelitian. Saya mau mengantarkannya langsung. Dan ini sudah biasa saya lakukan dalam beberapa tahun ini “.
Profesor : (Sambil manggut-manggut). “Lalu kenapa anda selalu menendang tikus itu dan menggoyang-goyang karungnya setiap saat ?”.
Pria tua : “Kalau itu adalah tradisi kami sejak dulu di ladang. Saya menendang dan menggoyang-goyang tikus itu agar tikus itu selalu sibuk dan ribut antar sesama dia di dalam karung. Karena, kalau mereka tenang-tenang saja tanpa diganggu, maka tikus itu bisa menggigit dan mengoyak karung ini dengan gigi dan kukunya yang tajam.
Makanya saya goyang dan tendang terus karung ini supaya tikus-tikus ini lupa kalau mereka sebenarnya punya senjata, punya kekuatan untuk melepaskan diri dari karung ini”. (Jawab pria tua itu santai).
Profesor : “Ohh begitu ternyata. (Jawab Profesor ini baru paham dan mengerti).
Apa yang bisa kita ambil pesan dan informasi dari cerita di atas ? Begitulah kira-kira yang terjadi terhadap ummat Islam hari ini khususnya di Indonesia.
Hampir setiap saat kita disibukkan oleh prilaku dan berita-berita yang memancing emosi kita sebagai muslim. Belum lama, kita dihebohkan dengan wanita yang bawa anjing kedalam masjid. Ributlah semuanya sampai lapor ke kantor polisi. Tapi akhirnya wanita itu dilepas karena stress sesuai keterangan polisi.
Sesudahnya statemen statemen para menteri yang nyeleneh seakan melecehkan ummat Islam. Yang mengkaitkan cadar, celana cingkrang dengan radikalisme. Adalagi tuduhan provinsi radikal, belum usai muncul ungkapan ajaran Nabi haram diterapkan.
Baru-baru ini adalagi insiden nasi anjing yang dibagikan kelompok minoritas kepada komunitas muslim di Jakarta. Belum usai, datang lagi pembagian sembako berisikan sampah. Habis ini entah apalagi yang terjadi dimana ujung semua itu adalah penghinaan, pelecehan, kesewenang-wenangan terhadap Islam di negeri ini.
Berkaca dari cerita pembuka yang sudah disampaikan di awal tulisan. Barulah kita paham dan mengerti, ternyata apa yang terjadi terhadap ummat Islam Indonesia hari ini bukanlah natural atau kejadian bisa-biasa saja.
Ada semacam upaya sistematis agar kita ummat Islam ini dibuat sibuk, marah, ribut, dan tidak tenang antara satu sama yang lainnya. Emosi kita diaduk-aduk, antara geram dan sakit hati. Jumlah kita yang mayoritas di negeri ini seolah tak dianggap apa-apa bak buih di lautan.
Dengan membaca kisah di awal tulisan itulah, baru kita paham bahwa semua itu adalah “by design”. Segala bentuk tindakan provokasi yang sengaja mengobok-ngobok peribadatan dan simbol Islam semuanya itu ada yang menciptakan, ada yang menggerakkan, dan ada yang mengkoordinir.
Tujuannya apa ? Agar kita semua ummat Islam lengah, sibuk, dan ribut antar sesama. Energi kita habis hanya untuk masalah yang memang sengaja mereka ciptakan. Hingga kita lupa, bahwa ada agenda lebih besar yang seharusnya bisa kita lakukan.
Seharusnya banyak hal yang bisa ummat Islam lakukan untuk negeri ini. Skenario provokasi itulah yang membuat kita semua lupa, bahwa ummat Islam Indonesia sebenarnya punya segalanya. Punya kekuatan, punya peluang, potensi, dan kendali yang luar biasa terhadap negeri ini.
Indonesia ini lahir karena ummat Islam. Suka atau tidak suka. Indonesia ini masih damai dan tentram hari ini karena penduduknya mayoritas Islam. Ada Islam yang menyatukan hati rakyatnya. Indonesia ini bisa bersatu sampai hari ini karena mayoritas penduduknya Islam.
Jika saja secara serempak ummat Islam ini berhenti berbelanja, maka langsung lumpuhlah ekonomi nasional. Kwik Kian Gie juga pernah memberi ide, 5.000 trilyun tabungan seluruh rakyat Indonesia di semua Bank yang ada di Indonesia, seandainya ditarik saja 10 persen (rush money), bisa membuat kolaps bank-bank Indonesia. Mogok saja seluruh Ummat Islam tidak bayar pajak, tidak bayar PLN dan tagihan air, bisa lumpuh BUMN negara. Kompak bersatu ummat Islam dalam setiap pemilu dan Pilkada, ummat Islamlah penentu politik hari ini. Buktinya dana haji pun akhirnya penyelamat bagi keuangan negara, walau entah kemana distribusinya saat ini.
Namun sayang, ummat Islam Indonesia sangat mudah dipancing, diprovokasi, diadu-domba, dipecah belah, bahkan dibuat untuk saling cakar dan menjatuhkan antar sesama.
Padahal segala kekuatan, ada pada ummat Islam. Namun pikiran dan fokus agenda kita dijauhkan dari itu semua. Bayangan akan sebuah kebangkitan pun mereka kubur melalui tayangan-tayangan, informasi, sejarah-sejarang telah mereka manipulasi. Kalau adapun kelompok yang bergerak dan berjuang, itupun hanya dari kelompok yang sedikit dan marginal.
Ormas besar Islam banyak telah mereka susupi dan pecah belah. Hingga yang terjadi saling gontok-gontokkan satu sama lain. Tokoh ulama yang berpengaruh sudah mereka jinakkan, yang melawan dikriminalisasi dan diisolasi. Aktifis, ilmuwan yang kritis mereka sumpal mulutnya dengan uang dan diam. Kalau ada yang keras, dibunuh karakternya atau di intimidasi.
Lembaga, simbol, dan aktifitas ibadah Islam di stigmakan secara negatif dan menakutkan. Melalui propaganda media, fitnah, dan operasi-operasi inteligent khusus agar tercipta kondisi ummat Islam sendiri takut dan gerah dengan ajaran agamanya sendiri. Ada rasa was-was tak jelas. Alias berhalusinasi paranoid.
Kondisi inilah yang dinikmati mereka berpuluh puluh tahun di Indonesia. Mental ummat yang kuat dan perkasa ini, dibuatnya seolah inferior. Seolah kecil tak berdaya. Padahal ketika kejadian 212 bergema, mereka semua terkencing-kencing ketakutan. Itu ummat Islam baru turun berapa persennya. Coba bayangkan kalau turun seperti itu serentak seluruh Indonesia ?? Tak akan berkutik semuanya. Artinya, yang berhasil mereka jajah itu adalah mental dan pikiran unmat Islam Indonesia.
Kelemahan ummat Islam selanjutnya adalah mudah dipancing dan disibukkan dengan hal-hal yang sepele. Para tokoh dan pejabatnya punya penyakit ‘wahn’. Yaitu cinta dunia dan takut mati. Sehingga mudah disusupi dan tak sedikit yang mau berkhianat hanya karena godaan harta dan jabatan, atau tersangkut ancaman ketakutan aib personal.
Sampai kapan ini akan terjadi ? Semua tergantung ummat Islam. Mau bangkit berdiri ? Atau menikmati kondisi hari ini yang semakin parah. Menari di atas rentak gendang orang lain.
Saatnya ummat Islam Indonesia menyatukan persepsinya, menyamakan pikirannya, dan baru bergerak satu komando tanpa ada pengaruh dari segala bentuk intervensi dan kepentingan pribadi.
Bentuknya nyatanya adalah ; sesuai dengan pesan Imam Syafii. Islam akan bangkit dan berjaya kalau sudah tercipta 4 hal yaitu : Orang kaya beramal dengan hartanya. Orang berilmu (ulama) berjuang dengan fatwa dan pengetahuannya. Orang pemberani dengan jihadnya. Serta kaum dhu’afa dengan doanya. Kalau empat hal ini bisa terlaksana, insyaAllah Islam akan bangkit dan bisa kembali menjadi pemimpin dunia. Wallahu’alam.
Almarhum Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe diapit dua putri tercinta Santri dan Cietta. ( foto dok Pribadi)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe wafat, Senin 4 Mei 2020. Sontak para mantan karyawan angkatan awal koran ekonomi pertama di negri ini yang diluncurkan pada 14 Desember 1985 terkejut dan merasa kehilangan.
Empat WAG Grup yang ada langsung penuh dengan ucapan bela sungkawa dan cerita kenangan semasa almarhum hidup mulai dari awal kami berkantor di Jl Kramat V, Jakarta, sebuah rumah yang menjadi kantor pertama harian Bisnis Indonesia.
Selain almarhum memang sosok yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang, media pertama di luar koran umum ini juga sejak kelahirannya memiliki rasa persaudaraan yang kental di bawah bimbingan guru sekaligus Pemimpin Redaksi kami alm.Amir Daud.
Kenangan saya sendiri sebagai alumni dan karyawan dengan kartu pegawai bernomor urut lima terhadap almarhum juga manis. Saat itu wartawan wanita yang berstatus menikah dan punya keluarga baru saya sendiri, selebihnya selain Pemimpin Redaksi dan para Redaktur umumnya semua masih single alias belum ada yang berumah tangga.
Suatu malam saat tugas piket setelah kami memiliki gedung kantor sendiri yaitu Wisma Bisnis Indonesia di Slipi yang kini namanya menjadi Wisma Slipi, saya mencari Dayun, sapaan akrab alm Wahjoe Hendrodjanoe di ruangannya. Saya merengek minta diantar sebentar ke rumah guru ‘ spiritual ‘ namanya pak Kustoro di kawasan Manggarai, Jakarta.
“Sst temen kita sekantor yang lagi sakit di Bogor katanya sudah parah banget, yuk minta didoain sekalian cari tahu soalnya katanya sudah nggak mempan pengobatan secara medis” kata saya.
Dayun tertawa dan menuruti permintaan saya karena tahu saya benar-benar peduli dan ingin teman yang sakit itu cepet sembuh. Mengenai orang yang ingin saya kunjungi dia cuma mengingatkan dalam agama Islam ke ‘dukun’ kategori musrik.
Ucapannya singkat, padat dan jelas tidak menggurui. Tapi setelah bertemu pak Kustoro yang kini juga sudah almarhum, saya jadi tahu kalau teman sekantor itu lebih ke sakit psikis karena mencintai suami orang yang tak mungkin menceraikan istri untuk menikahinya.
Dayun minta saya hanya khusuk berdoa pada Allah dan doakan yang terbaik untuk teman kami itu. “Eloe da, sampai segitunya malem-malem dijabaninngebelain temen padahal yang lagi sakit di rumah sakit di Bogor itu juga nggak minta bahkan nggak tahu eloe begitu peduli pada dia,”
Begitulah Dayun dalam kesehariannya, lebih banyak diam tapi banyak tersenyum dan mahfum dengan sepak terjang teman-temannya sendiri. Dia senang melayani dan tidak pernah hitung-hitungan mobil pribadinya sudah seperti mobil operasional kantor saja. Selamat jalan Dayun, kami semua juga pasti menyusul…..
Dibawah ini dua tulisan lainnya dari rekan-rekan Redaksi, teman seperjuangan dalam membangun perusahaan induk yang kini memiliki banyak usaha itu dan kini dikelola anak-anak milenial.
Dayun Bersama putri pertamanya Santri
Saya mengenalnya pada 1 Agustus 1985
oleh Lahyanto Nadie
Wahyoe Hendrodjanoe bin Molejono Hendrodjanoe. Dia adalah karyawan paling kaya saat itu. Paling tidak dilihat dari mobilnya. Di antara 40 karyawan baru, hanya dia yang bawa mobil ke kantor yang sederhana .
Mungkin ada yang lebih kaya dari dia, tapi nggak bawa mobil ke kantor. Nyang naik motor saja jarang. Kami—wartawan, fotografer, dan karyawan di bagian perusahaan—kebanyakan naik kendaraan umum ke Kramat V No.8, kantor Bisnis Indonesia.
Hari pertama masuk kantor itu, Wahyoe tampak paling rapi. Penampilannya keren banget. Kemejanya bagus, sepatu branded, dan jeans merek Levis. Oh, satu lagi. Wangi. Saya kemudian memanggilnya Dayun, entah siapa yang memulai.
Ketika para 20 wartawan mengikuti training dasar-dasar jurnalistik yang diampu oleh Pak AD–kita semua tahu itu panggilan Pak Amir Daud—Dayun, di bawah bimbingan redaktur foto Pak Syahrir Wahab cermat berdiskusi bersama dua fotografer lain: Bambang Hasri Irawan dan Mukhtar Zakaria.
Pak AD memperkenalkan kami satu demi satu. Giliran Dayun, intonasi Pak AD berbeda. Lebih tinggi. Naik dari tone 6 ke 7. “Kita punya fotografer hebat. Dia sekolah di Jerman,” kata Pak Amir Daud (AD) sambil mengangkat tangan, gerakan yang khas buat wartawan legendaris itu, seraya menunjuk Dayun.
Saya langsung akrab dengan orang kaya itu. Diantarkannya saya dengan mobilnya ke rumah sepulang dari kantor. Dayun memarkir VW Combi parkir di bawah pohon bambu. Kini telah menjadi jalan Lenteng Agung Barat. Selera makan kami sama. Namun minumnya beda. Jika selepas makan saya minum teh hangat, Dayun memilih dingin. Bahkan esnya ditambah.
Pada bulan September 1985, setelah selesai training tentang jurnalistik modern yang diampu oleh Pak Amir Daud, kami keliling kota Jakarta. Wahyoe Hendrodjanoe menyetir VW Combi kebanggannya. Belasan wartawan disesakkan dalam mobil itu. Rame sekali. Beberapa wartawan dari daerah tampak masih bego, bengong melihat Bundaran HI, gedung Bank Indonesia dan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng.
Pemimpin rombongan, Ery Soedewo yang masuk langsung jadi redaktur, memperkenalkan para wartawan baru kepada pejabat BI dan Depkeu. Dayun memotret. Cekrek! Sayang, saya tak punya dokumentasinya.
Ketika saya naik kelas dari korektor menjadi reporter, kami suka liputan bareng. “Yang buat captionloe aje ye,” kerap dia berkata begitu. Apa lagi jika kami membuat foto esai, niscaya ia memilihkan foto terbaik dan saya yang membuat captionnya, tentu agak lebih panjang.
Di luar kantor, kami akrab. Bahkan liburan keluarga saya ke Bali difasilitasinya. Kami tinggal di rumahnya di kawasan Doble Six, Kuta. Dia hafal nama istri dan anak-anak saya.
Pada Januari 1992, kami pindah kantor dari Kramat V ke Wisma Bisnis Indonesia di Slipi, Jakarta Barat. Sepuluh tahun bareng di lantai 6. Banyak suka dan suka di sini.
Pada 6 April 2002, saya dipromosikan menjadi direktur PT Aksara Grafika Pratama, percetakan Bisnis Indonesia dengan investasi Rp40 miliar sehingga harus berkantor di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Dayun sering datang ke percetakan. “Enakan di sini, gue nggak betah di sono [Slipi],” katanya.
Maklum. Meskipun hidup lebih sejahtera ketimbang saat berkantor di Kramat, karyawan dan manajemen sering ribut. Dayun kemudian memang dipindahkan ke Pulogadung, selanjutnya dipromosikan sebagai direktur di PT Solo Grafika Utama sehingga ia harus hijrah ke Solo.
Ke Jakarta aku kan kembali…. Begitu syair lagu Koes Plus. Begitu pun perjalanan Dayun. Kembali ke Jakarta, Wahjoe Hendrodjanoe kemudian jadi Direktur AGP hingga pensiun pada 5 Februari 2013. Saya jarang bertemu setelah ia pensiun. Kecuali saat reunian dan memenuhi undangan pernikahan anak-anaknya. Oh ya, buah cinta Dayun dan Latifah Sanad, tiga orang anak: Santri, Cietta, dan Gentha.
Saat si sulung Santri menikah, kami angkatan Kramat reunian di Taman Mini Indonesia Indah. Anak keduanya, Cietta menikah pada 18 Oktober 2017. Melalui WAG kita menjalin silaturahmi. “Ada gue keles,” itulah komentar terakhir almarhum tentang tulisan saya berjudul “Kisah 20 Wartawan Baru.”
“Pasti Yun. Loe ada terus dalam jiwa kita semua di sini. “. Tak terasa ketika menuliskan ini saya meneteskan air mata. Alfaatihah
Keguyuban yang kental dan kekhasan foto Bisnis Indonesia.
Oleh: P. Hasudungan Sirait
Suasana kekeluargaan kental sebab para seniornya sebagian besar tak feodal. Kesibukan yang membayang saban petang-menjelang di hari kerja, tak sampai melunturkan silaturahmi. Di bawah bayang-bayang ‘deadline’ pun awak suratkabar bernama ‘Bisnis Indonesia’ ini masih menyempatkan diri setidaknya baku sapa. Tak soal apakah itu orang redaksi atau bukan.
Bila saat untuk mengakhiri jam kerja sudah mendekat, keguyubannya bakal lebih terasa. Mereka yang rumahnya di penjuru yang sama di peta kitaran DKI, umpamanya, akan saling berkoordinasi. Rombongan Pak Asmat—dia orang Betawi yang bekerja di bagian pra-cetak dan lagak-lakunya bisa mengingatkan kita pada kejenakaan Haji Bokir—salah satunya.
Tujuannya? Pulang ‘bareng’ dengan ‘nebeng’ pada sejawat yang punya mobil. Kala itu, di paruh pertama 1990-an, masih sangat sedikit karyawan PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG) ini yang memiliki kendaraan pribadi roda 4.
Jika bulan Ramadhan tiba seperti saat ini, acara berbuka bersama di kantor pasti berlangsung tiap hari. Tak soal agamanya apa, tiap karyawan beroleh jatah serupa. Wujudnya? Masakan dari tukang katering. Agar tak monoton, terkadang nasi padang dibeli dari warung kecil di sebelah, milik Uni (begitu panggilan kami untuk perempuan separuh baya yang ramah dan murah senyum).
Karyawan suratkabar yang terbit sejak 14 Desember 1985 dan sahamnya dimilik trio konglomerat terkemuka— Anthony Salim, Ciputra, dan Sukamdani Sahid Gitosardjono—belum banyak di masa itu. Orang redaksi di Jakarta ditambah bagian pra-cetak paling 60-an orang.
Kantornya berupa rumah tua memanjang satu lantai. Paviliun yang di depan dipakai oleh bagian bisnis sedangkan bangunan utama di sebelahnya oleh orang redaksi. Kru yang sedikit dan tempat kerjanya yang berupa rumah saja tentulah menjadi unsur perekat yang menghasilkan keguyuban.
Tentu peluang satu sama lain untuk berpapasan besar, terutama di lorong yang memisahkan bangunan utama dengan perpustakaan kecil di sisi kiri. Di sanalah kami para reporter bekerja bergantian dengan menggunakan mesin ketik besar (Olivetti dan Olympia) manual.
Adapun para petinggi, redaktur ke atas, mereka berkapling di ruang dalam yang tak berpenyekat. Mesin ketik serupa tersedia di meja mereka masing-masing. Tapi, siapa pun di antara mereka yang ingin menyiapkan sendiri kopi-teh atau mi instan di dapur belakang mesti melewati lorong tak beratap yang menjadi ruang kerja kami para reporter dan ‘stringer’ [wartawan yang tak berstatus karyawan tetap alias organik].
Faktor perekat yang tak kalah penting adalah pembawaan karyawan (redaksi dan non-redaksi) yang umumnya tak macam-macam. Mas Wahjoe Hendrodjanoe, termasuk. Alhasil, kami ber-12 yang merupakan angkatan reporter terbaru di sana kala itu, tak sulit menyesuaikan diri di hari pertama bergabungpun.
‘Bisnis Indonesia’ di paruh pertama 1990-an seperti miniatur Indonesia kalau dilihat dari segi etnisitas. Selain Jawa, suku yang cukup dominan di sana adalah Minang. Seperti kata Bang Haji Rhoma Irama dalam satu lagunya, di sana ada Sunda, Betawi, Ambon, Flores, Batak, Dayak, Manado, Arab, Tionghoa, Toraja, Bugis,….
Saat aku bergabung di awal 1990-an, di daftar susunan redaksinya sudah tidak ada lagi nama Amir Daud, Syahrir Wahab, dan Abdullah Alamudi yang merupakan angkatan pendiri. Pun Utari, Andy Noya dan Adrianus Pao. Dua yang terakhir ini sudah pindah ke koran milik Surya Paloh: ‘Prioritas’ yang kemudian menjadi ‘Media Indonesia’.
Di masa kami, Pemimpin Redaksi (Pemred) ‘Bisnis Indonesia’ bukan lagi Pak Amir Daud, wartawan senior yang pernah bekerja di majalah ‘Time’ dan yang berperan besar dalam merancang kebijakan redaksi majalah ‘Tempo’ [selain perwajahannya mirip betul, tempo tidak lain dari ‘time’, kalau diinggriskan].
Kedudukan orang Minang yang saklak menjalankan standar jurnalisme, secara ‘de jure’ telah digantikan oleh Pak Sukamdani. Tapi ’de facto’, di ‘Bisnis Indonesia’ wakil Pemred-lah yang menjalankan tugas sehari-hari bos grup Sahid yang memang tak pernah menjadi wartawan. Mereka dibantu oleh redaktur pelaksana dan redaktur yang umumnya tangguh.
Kantor kami waktu itu—sebelum pindah ke Wisma Slipi sekarang—di Jl. Kramat V. Letaknya dekat saja dari tempat penyiksaan seram bersebutan Kremlin. Sejak tahun 1965 musuh penguasa Orde Baru dipermak Pelaksana Khusus Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Laksus Kopkammtib) di sana. Salah satunya adalah aktifis Islam Tony Ardie yang tersangkut kasus Tanjung Priok (4 Oktober 1984). Tanpa sempat bertegur sapa, beberapa kali aku bertemu dengan dia saat kami sama-sama makan di warung Uni. Ia selalu tampak bersantap bersama orang Kremlin.
Reuni awak Redaksi dan Perusahaan beberapa tahun lalu di Pulau Dua Restoran, Senayan.
Fotografer lulusan Jerman
Saat aku masih menjadi wartawannya, ‘Bisnis Indonesia’ memiliki skuad fotografer yang terbilang tangguh. Kelik Taryono, Tavip Mahone, Bambang Hasri Irawan, dan Elly Sundari, unsurnya. Belakangan hari setelah kantor kami pindah ke Wisma Bisnis Indonesia, Slipi (kini namanya menjadi Wisma Slipi), Endang Muchtar merapat. Komandan mereka (redaktur) sampai jauh hari kemudian , tetap Mas Wahjoe Hendrodjanoe. Mereka memiliki ruang gelap dan tenaga periset sendiri.
Para juru foto ini terlatih, sigap, dan rajin. Jadi, tak kalah dibanding wartawan tulis yang sehari-hari bermitra dengan mereka di lapangan. Elly Sundari, termasuk. Ia banyak mengabadikan dunia hiburan dan fesyen karena fokusnya lebih ke ‘Bisnis Indonesia Minggu’ (‘BIM’). Lulusan IKIP Bandung yang modis ini kemudian tewas saat pesawat Silk Air jatuh dan raib di Sungai Musi, Palembang, pada Jumat, 19 Desember 1997. Senior yang akrab denganku, sedang bertolak dari Bandara Soekarno Hatta ke Singapura di hari naas itu.
Sebagai pecinta fotografi, sejak awal aku jarang menyukai foto yang disuguhkan ‘Bisnis Indonesia’. Pasalnya, menurutku, serba formal sehingga mengorbankan estetika. Orang yang sedang bersalaman, terutama saat penandatangan nota kesepakatan (MoU), yang ditampilkan sebagai foto utama halaman 1. Di halaman lain ya, foto peresmian, peluncuran produk ini-itu, atau seminar.
Tak habis pikir aku melihatnya sebab aku tahu persis bahwa para juru potret kami itu piawai secara teknik dan paham estetika. Lagi pula redaktur mereka, Mas Wahjoe Hendrodjanoe, fotografer piawai yang dulu bersekolah di Jerman. Pria jangkung yang selintas terkesan ‘dingin’ padahal pembawaannya sesungguhnya sebaliknya, sangat dihormati anak buahnya.
Di luar pun ia diperhitungkan para koleganya. Soal yang satu ini kuketahui kemudian setelah tak sekantor lagi dengan dia. Berkali-kali Kelik dan Tavip kugugat dan kugoda karena jepretannya melulu orang yang lagi salam-salaman. Jawaban kedua kawan baikku tersebut?
“Kan ‘style’ koran kita begitu… Untuk HL [headline] halaman satu harus bos-bos yang lagi salaman,” ucap Kelik, di suatu waktu.“Kalau lain, nggak akan dimuat.” Foto untuk halaman lain pun, lanjut dia, khusus untuk karya ‘Bisnis Indonesia’ sudah ada pakemnya. “Aku bukannya nggak bisa bikin foto yang artistik,” kata Tavip yang pembawaannya selalu lucu, ke aku di satu kesempatan.
‘Anak nakal’ kami yang pernah menjadi kelasi (anak kapal) dan kala itu dekat dengan cucu Pak Harto, Ari Sigit, lantas memerlihatkan foto-foto para model hasil jepretannya. Kuat memang, dari segi apa pun. Pula sangat berani! Tak heran kalau kami para lelaki rajin bertanya begitu melihat dia pulang dari lapangan: “Punya foto yang ‘asyik’ lagi, nggak?”
Kelak, di suatu pagi menjelang siang aku pernah melihat Tavip mengarahkan seorang model dalam pemotretan dadakan. Ia begitu berwibawa dan trampil menyuruh perempuan muda yang nantinya akan menjadi bintang sinetron termashyur, berpose ini-itu. Ajaibnya, sang model manut saja laksana kerbau dicucuk hidung. Pemotretan berlangsung di tempat terbuka di tepi pantai Pulau Peucang yang berbatasan dengan cagar alam Ujung Kulon, Jawa Barat.
Saat itu Tavip, Arief Rahman, dan aku sedang meliput acara memancing dengan gaya ‘trolling’ [menggunakan umpan artifisial yang diseret kapal]. Pesertanya anak-anak penggede negeri kita. Sebelum akhirnya tiba di Pulau Peucang, rombongan kami yang berangkat sore dari Pantai Marina, Ancol, dinyatakan hilang dan dicari berjam-jam oleh tim SAR.
Sempat terombang-ambing di lautan ganas semalaman, kapal kami kemudian terdampar di Lampung, esok subuhnya. Aku sendiri baru siuman setelah di Lampung. Mabuk-laut parah membuatku tak sadarkan diri cukup lama. Dari Lampung, pagi itu juga kami bertiga sesama awak ‘Bisnis Indonesia’ melanjutkan perjalanan dengan kapal ‘Matahari’ (milik pengusaha Tomy Winata) lainnya.
Dengan Kelik pun aku pernah berduet berhari-hari yakni saat meliput Pesta Danau Toba, di Parapat. Selama di lapangan, termasuk di Brastagi, Tanah Karo, kuamati ia bekerja. Kepekaan artistiknya tinggi. Hasil jepretan dia kala itu yang memang mencuat ‘human interest’-nya kemudian muncul di kalender ‘Bisnis Indonesia’ 1995 bersama karya Wahjoe Hendrodjanoe , Bambang Harsri Iriawan, dan SS Lystiowati (yang terakhir ini juru foto majalan ‘Indonesia Business Weekly’).
Lantas, mengapa foto-foto di koran kami serba verbal padahal kemampuan estetik penjepetnya tak kurang? Setelah lama tak habis pikir, aku kemudian menemukan jawabannya.
Wejangan Pak Ci
Di satu Sabtu—tim ‘Bisnis Minggu Minggu’ saja yang masuk di hari itu—foto utama koran kami sangat lain dari sebelumnya. Sisi manusiawinya kuat betul sehingga sanggup membuktikan kebenaran pameo lama: satu foto bisa lebih dari 1.000 kata.
Obyeknya? Bangunan jangkung-besar yang menyembul di belakang perkampungan miskin di pinggir laut. Lupa aku siapa pengabadinya. Yang pasti, kalau bukan Wahjoe Hendrodjanoe ya, Bambang Harsri Iriawan yang juga berpembawaan kalam.
Sangat girang aku melihatnya. Besoknya kuberi pujian ke kawan-kawan dari bagian foto, termasuk ke redaktur mereka: Wahjoe Hendrodjanoe. ”Begitu ‘dong’…kan siip! Koran kita jauh lebih keren,” ucapku dengan tulus. Saat itu kami sudah berkantor di Slipi.
Besok sorenya terjadi kegegeran kecil di kantor. Pasalnya? Terbetik kabar dari sekretariat redaksi bahwa Pak Ciputra (Pak Ci) galau akibat potret yang lain dari yang lain itu dan besok dia akan datang ke kantor untuk bicara di depan orang redaksi tentang fotografi yang baik.
Setahuku, sebelumnya sama sekali tidak ada cerita bahwa pesaham kami—apakah Pak Anthony Salim atau Pak Ci atau Pak Kamdani—sewot karena suguhan awak redaksi; apalagi sampai intervensi langsung. Apa gerangan yang akan dikatakan Pak Ci?
Pengusana properti yang merupakan salah satu pendiri PT Pembangunan Jaya itu memang muncul pada Senin siang; hal yang sangat jarang terjadi. Tapi tak tampak kekeruhan di wajah dia saat bermuka-muka dengan hadirin. Senyumnya tetap mengembang dan tangannya sigap membalas jabat tangan.
Segenap orang redaksi menyimak dengan saksama selama Pak Ci bicara. Sang arsitek lulusan ITB mengatakan dengan tuturan yang santun bahwa kontradiksi seperti yang mencuat dari foto ‘headline’ edisi Sabtu itu sebaiknya tidak dimunculkan lagi sebab tak sesuai dengan misi yang diemban ‘Bisnis Indonesia’. Motto harian ini adalah “Dari swasta untuk swasta, demi pembangunan.” Gaya foto selama ini, ia menegaskan, sudah pas sehingga tak perlu diubah lagi.
Tak lupa ia mengingatkan bahwa proyek yang tampak dalam potret tersebut —pembangunan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) yang sedang ditangani Ciputra Group—bertujuan mensejahterakan orang banyak termasuk rakyat yang bermukim di kitaran sana; toh, ‘trickle-down effect’ [efek menetes ke bawah] pasti terjadi.
Kendati disampaikan dengan lembut dan santun, wejangan Pak Ci itu sangat efektif. Meminjam istilah pelawak Tukul Arwana, yang terjadi setelah itu adalah: Mas Wahjoe dan anak buahnya dari bagian foto “kembali ke laptop”. Artinya, foto-foto ‘Bisnis Indonesia’ menjadi severbal semula. Gambar ketimpangan kelas, nihil. Begitu seterusnya hingga puluhan tahun kemudian.
Berduka
Kemarin (Senin, 4 Mei 2020) Mas Wahjoe Hendrodjanoe—sosok yang sejak ‘Bisnis Indonesia’ berdiri tahun 1985 hingga puluhan tahun kemudian menjadi orang foto terpenting di sana—berpulang. Hari itu juga ia dimakamkan di Bogor. Aku merasa sangat kehilangan. Begitupun, atas nama jarak sosial di masa Corona, tak ikut aku melayat meski berada di kota yang sama. Jam sejarah seperti diputar mundur.
Sejak mendengar berita keberpulangannya kemarin pagi hingga tadi anganku terbang ke alam kebersamaan kami sejak dari zaman Kramat V hingga Slipi. ‘Bisnis Indonesia’ yang asyik karena orang-orangnya hangat dan bersahabat, terpaksa kutinggalkan di awal 1996. Penguasa Orde Baru melarang kami bekerja di redaksi begitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kami deklarasikan pada 8 Agustus 1994.
Aku dibuang ke Litbang tanpa pekerjaan yang jelas. Di sana aku harus berpotongan dan berperilaku sebagaiman lazimnya pegawai. Sungguh siksaan yang maha berat bagi diriku yang terbiasa bebas. Setelah beberapa bulan berselang aku akhirnya mengundurkan diri karena sadar diri ini hanya akan menjadi duri dalam daging saja kalau masih di sana.
Sejak itu bertahun-tahun aku putus kontak total dengan kawan-kawan di sana. Beberapa tahun setelah Pak Harto tumbang barulah aku menginjakkan kaki kembali di Wisma Bisnis Indonesia, Slipi. Tepatnya: di saat kawan seangkatanku yang insinyur dari UGM, Ahmad Djauhar [Ljh] sudah menjadi Pemred mereka.
Bukan sebagai wartawan mereka lagi aku saat kembali ke sana melainkan evaluator kinerja awak redaksi (selama 1 bulan) serta pengajar yang melatih-membimbing jurnalis mereka selama beberapa gelombang.
Setelah mereka pindah ke kantor sekarang (di sebelah perkuburan Karet), itu masih berlanjut hingga beberapa angkatan lagi. Tapi, tatkala aku kembali ke sana untuk kali pertama, sebagian besar orang-orang dari zaman Kramat V sudah keluar lewat program pensiun dini.
Dengan Mas Wahjoe Hendrodjanoe sendiri lama sekali aku tak bersua. Setelah pengunduran diriku di tahun 1996, baru pada 8 Agustus 2015-lah aku melihatnya kembali yakni di reuni ‘Bisnis Indonesia’ di Restoran Pulau Dua, Senayan.
Ternyata itu pula pertemuan terakhirku dengan dia. Sedih, ya…Tapi begitulah hidup. Selamat jalan Mas Wahjoe yang baik. Beristirahatlah dalam damai.