Tour de Purbalingga: Catatan Perjalanan Sebelum Covid-19

0
30

Menyusuri Gua Lawa (foto: P. Hasudungan Sirait)

PURBALINGGA, Jateng, bisniswisata.co.id: Walau sekadar numpang lahir, ari-ariku berkubur di Purbalingga, Jawa Tengah. Barangkali pertalian fisiologi dan sejarah itulah yang membuat aku—anak kolong yang menghabiskan masa kecil dan remaja di kitaran markas besar Kopassus Cijantung dan di Perumnas Klender, Jakarta—selalu merindukan kota di Keresidenan Banyumas tersebut. Setelah berkeluarga pun aku masih menjambanginya walau sesekali.

Liburan sekolah tiba. Kami putuskan untuk mengunjungi siMbah yang sudah sepuh di Purbalingga. Beliau katanya kangen buyut dan cucunya. Wajar, memang. Mbah Kakung baru saja meninggal dan kami tak sempat melayat kala itu karena padat kegiatan.

Tiket kereta api eksekutif pulang-pergi kami pesan. Tak sulit mendapatkan karcis ke Purwokerto. Pilihan banyak sebab seluruh kereta ke timur yang lewat jalur selatan akan transit di sana. Pilihan kami jatuh pada KA Bima. Selain nyaman, waktu keberangkatan cocok yakni bertolak dari stasiun Gambir pukul 17.00. Artinya, kami yang tinggal di Bogor tak perlu rush berangkat ke Gambir untuk mengejar kereta. Ini yang paling penting.

Setelah menitip kendaraan di rumah Eyang Uti anak-anak di Klender, Jakarta Timur, kami ke Gambir naik taksi. Seperti biasa, kedua anak kami selalu tertarik berkenalan dengan orang baru termasuk dengan pak sopir taksi yang berbadan gempal.

“Memang Bapak orang bule ya,” celetuk Che, anak nomor dua kami sesaat setelah mobil mulai melaju meninggalkan rumah Uti.

“Memang kenapa,” ucap saya menimpali.

“Kok rambutnya putih semua….”

Kami tertawa; pun pak supir yang asli Banjar, Kalimantan.

Perjalanan ke Gambir kurang dari 30 menit saja. Celoteh anak-anak sepanjang perjalanan membuat waktu yang berjalan terasa lebih singkat.

Tiba di Gambir ‘kepagian’, kami putuskan untuk ngopi di kedai favorit anak-anak: Dunkin Donut di lantai dasar. Tempatnya nyaman. Sayang, kedai ini juga menyediakan smoking area yang bersekat dinding kaca belaka. Pintu senantiasa terbuka sehingga asap rokok bebas bermigrasi ke seluruh ruangan. Tampaknya hexos tidak bekerja di sana. Ruangan terasa pengap oleh asap rokok terutama buat kami yang tak terbiasa menghirupnya.

Kira-kira setengah jam menjelang keberangkatan, kami naik ke lantai atas menuju peron tempat pemberhentian sekaligus pemberangkatan kereta.

Anak-anak selalu exciting jika ke Jawa [baca: Jawa Tengah] naik kereta. Trip ke Purbalingga ini bukanlah pengalaman pertama mereka. Beberapa kali sudah kami memilih kereta sebagai moda transportasi; termasuk saat liburan ke Yogyakarta dan Solo. 

Perjalanan dari Gambir ke Purwokerto hanya lima jam. Jadi OK-lah buat anak kami yang masih bocah. Kalau berangkat tepat pulul 17.00 dari Jakarta maka sampai di kota itu masih sekitar pukul 22.00; belum terlalu malam. 

Dari stasiun Purwokerto kami masih harus naik mobil selama kurang lebih 30 menit ke Purbalingga. Bulik (adik ibuku) pasti sudah menunggu kami di sana sejak sore. Biasanya kami akan menghubungi taksi langganan keluarga untuk menjemput di Purwokerto. 

Sebenarnya taksi lokal banyak yang nongkrong di halaman stasiun. Jadi tak sulit mencari kendaraan di sana. Hanya saja kalau dengan taksi langganan, kita tak perlu lagi menjelaskan tujuan atau arah jalan menuju rumah Bulik.

Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Gambir, ada satu ritual yang dilakukan anak sulung kami. Kei akan menyusuri gerbong demi gerbong mulai dari yang di depan (belakang lokomotif) hingga ke gerbong paling belakang. Ia akan melaporkan apa yang dilihatnya termasuk yang tetap ada dan yang berubah. 

Ulah penumpang yang sempat ia rekam selama menyusuri gerbong juga akan ia wartakan. Seusai melapor dia akan duduk manis menunggu pramugari kereta api menawarkan makan malam. Ia suka bersantap sajian on board; akan serius bertanya dan menimbang apa kira-kira makanan yang cocok dipesan. Acara ini seolah menjadi bagian dari ritual yang musti ia jalani.

Yap! Makanan pun siap. Kei akan makan sampai tuntas. Ini ada bagusnya karena akan menggugah selera sang adik. Che tak doyan bersantap. Setelah kenyang tentu mudah ditebak, ia dan Che akan mengantuk dan kemudian tidur. Biasanya kami memesan empat kursi misalnya 9 A, B dan 10 A, B sehingga satu deret kursi (dua tempat duduk) bisa diputar agar berhadapan. Posisi duduk seperti ini memberi ruang yang nyaman buat anak-anak untuk bermain dan bercengkerama selama perjalanan.

Setiba di Purwokerto hujan deras. Che masih tidur; artinya Daddy musti menggendong sehingga kami kehilangan satu tenaga pembawa koper. Di luar stasiun Pak Yuli, sopir taksi langganan keluarga, sudah menunggu. Setelah memasukkan bawaan ke bagasi yang cukup luas kami pun duduk manis untuk diantar. Bulik tinggal sendiri karena dua anaknya sudah berkeluarga dan menetap di Jakarta.

Di Purbalingga seorang Paklik (adik laki-laki ibu) bercerita bahwa di sana ada taman reptil yang koleksi ularya aneka. Che, sangat ngefans pada ular. Dia pun kontan berteriak kegirangan. “Mau dong ke sana…ya Mom. Aku mau lihat ular yang banyak. Janji ya Mom.” Aku iyakan. Kebetulan lokasi Taman Reptil searah jalan menuju kolam renang Owabong. Jadi kedua tempat itu bisa kami kunjungi sekaligus dalam sehari perjalanan.

Selain berenang anak-anak juga ingin sekali masuk gua. Sudah sering mereka melihat gua dalam bentuk visual, terutama di saluran Discovery atau National Geographic; begitupun menyusurinya mereka belum pernah. Maka ketika aku mengatakan kita akan ke Gua Lawa (kelelawar) juga bukan kepalang girang mereka. Rencana tur segera kami buat. Pertama kami akan ke Owabong sekalian melihat koleksi ular Taman Reptil. Esoknya baru ke ke Gua Lawa.

Meski Taman Reptil kecil dan koleksinya tak banyak, anak-anak cukup senang di sana sebab bisa bercengkerama dengan ular python berbagai ukuran. Namun hari itu Owabong-lah yang mencuri perhatian mereka. Kolam renang yang memanfaatkan air gunung ini dilengkapi dengan fasilitas bermain. Kolam air panas juga tersedia di sana.

Gua Lawa dan Pancuran Tujuh

Petualangan hari kedua ternyata lebih menarik. Jalan menuju Gua Lawa cukup menantang: kadang berbelok-belok, menanjak, menurun tajam, serta menyempit. Untunglah sopir kami, Pak Slamet, handal dan berpengalaman. Kami tenang saja walau ia ngebut.

Perjalanan menelusuri lorong gua sungguh memicu adrenalin sekaligus menyenangkan. Bahkan Kei perlu dua kali kembali menyusur jalan setapak di dalamnya. Lintasan itu memang dirancang sedemikian menarik sehingga pengunjung merasa nyaman. 

Kelelawar yang bergelantungan di langit-langit mempertebal eksotisme alam. Seorang guide menerangkan ke kami spot yang menarik di sepanjang jalur. Tempat yang sering dipakai orang bersemedi saat malam Jumat Kliwon, misalnya. Memang ada saja orang yang datang ngelmu dengan bertapa di sana. Sisa sesajen berupa bunga segar tampak di beberapa titik.

Baturaden menjadi tujuan kami berikutnya. Berada di ketinggian sekitar 1.300 meter dari permukaan laut, obyek wisata kebanggaan Puwokerto ini tempat yang cocok untuk melepas kepenatan. Udara sejuk yang cenderung dingin membuat kami betah berlama-lama di sini; rasanya waktu tak bergerak. Sebenarnya kami sudah beberapa kali ke tempat ini. Saat jembatan gantungnya putus pas Lebaran Oktober 2006, misalnya, keluarga besar kami sedang bersantap di restoran di dekatnya.

Rupanya ada tempat yang tak kalah eksotik dari lokasi wisata Baturaden. Pancuran Tujuh namanya. Sudah lama aku mendengar nama ini tapi sekali pun belum pernah ke sana. Sebelumnya aku pernah mendengar cerita bahwa kalau mau ke sana kita harus menapak berjam-jam dari Baturraden.   Siapa sudi kalau harus membawa bocah-bocah?

Zaman sudah sangat berubah, ternyata. Sekarang kita sudah bisa naik mobil ke Pancuran Tujuh, lewat jalan lingkar lereng Gunung Slamet. Mobil kami pun bergerak ke sana. Lintasan itu hanya cukup untuk dua mobil yang berpapasan. Kendaran berukuran kecil dan sedang, tentunya. 

Medannya agak berat. Namanya juga mendaki punggung gunung: serba terjal dan meliuk. Hutan alami di kiri-kanan. Kendaran yang melintas jarang. Kalau mobil sampai mogok kita akan kelimpungan. Jangan harapkan akan bisa menelepon truk derek.

Che dan Kei berlatar air belerang yang sehat di Pancuran Tujuh (foto-foto:  P. Hasudungan Sirait)
                       Main air dipancuran cukup mengasyikan

 

Kelak, saat hendak pulang kami melihat sebuah sedan agak melintang sehingga cukup merintangi jalan. Pengemudinya bilang kendaraannya sulit menanjak karena kanvas koplingnya aus. Waktu itu sudah lengang dan gelap sebab lewat pukul 18.00. Entah bagaimana mereka akan keluar dari hutan.

Sesampai di pelataran parkir Pancuran Tujuh kami tak melihat fasilitas rekreasi macam restoran atau kedai kopi-teh. Yang ada cuma toilet umum. Jadi, kalau tidak buang air atau cuci muka pengunjung akan menapaki anak tangga menurun yang jumlahnya hampir 300 menuju pancuran.

Kami tak langsung turun melainkan mengisi perut dulu di pelataran. Bekal yang sudah disiapkan Bulik kami ganyang dengan penuh gairah.  Ayam kampung goreng, tempe mendoan, mi goreng, serta sambal terasi itu begitu sedap rasanya walau tidak berpadu dengan nasi ngebul. Udara yang dingin serta atmosfir hutan yang menyejukkan batin membuat semangat kami membuncah untuk meludeskan bekal.

Seusai isi perut kami menyortir bawaan. Prinsipnya: seperlunya saja agar tak keberatan saat menaiki tangga waktu pulang. Anak-anak bersemangat melangkah di tangga semen. Saking senangnya terkadang mereka berlari adu cepat. Saat hendak mencapai ujung tangga kami berpapasan dengan seorang nenek. Bersama rombongan keluarga, ia hendak naik. 

Tapi baru di anak tangga kedua ia sudah terengah-engah sehingga perlu mengasoh. Seorang anak muda yang merupakan kerabatnya menawarkan diri untuk menggendong. Tapi sang nenek menampik. Ia bilang dirinya masih kuat; cuma perlu rehat saja. 

Saat melihat si nenek aku langsung ingat iklan zaman baheula yang berbunyi: nafsu besar tenaga kurang. Panggilan Pancuran Tujuh rupanya begitu kuat sehingga ia tak memperdulikan lagi kerentaan dirinya. Melihat adegan itu aku sempat ciut. Dalam hati aku pun berujar: wah perlu juga menyimpan energi biar kuat menapak sampai ke pelataran atas.

Selepas anak tangga terakhir deretan warung kopi-mi instan serta kios celana pendek, cinderamata langsung menyambut kami. Lupa membawa celana pendek pengganti aku pun mampir di kios batik. Si mbak pedagang langsung nyerocos: “Celana pendek batik 10.000 rupiah, harga pas. Dijamin tidak luntur deh…itu batik Pekalongan.” Aku membeli empat celana pendek sekaligus.

Ketika masih di pelataran atas aku sempat membayangkan seperti apa Pancuran Tujuh. Tentu tujuh mata air serba besar yang membuncah deras. Air dingin mengalir deras menyungai dengan menciptakan gemuruh laksana deru air terjun.

Mataku mencari-cari dimana gerangan pancuran tersebut. Aku tak melihat pemandangan sedahsyat yang kubayangkan. Lantas ke seorang pengunjung aku bertanya. Dia menunjuk ke arah sebuah dinding tebing. Tampak memang sejumlah pancuran kecil yang mengeluarkan air berasap.

“Oh…bukan air terjun ya?”

“Namanya juga pancuran, ya itu pancurannya,” katanya sambil tersenyum.

Aku mengamati sumber air panas. Jalan setapak yang cukup terjal di sisi parit kecil menarik hatiku. Itu jalur menuju lokasi jatuhnya air pancuran. Kami menyusurinya. Hanya pasangan muda dan sekolompok remaja saja yang kami temui di lintasan. Medannya cukup menantang.

Setelah berhasil menuruni jalan terjal sekitar 500 meter kami melihat mulut gua yang dari atasnya air jatuh. Sungguh eksotik! Bergegas kami ke sana. Kita bisa duduk sambil bermain di mulut gua berbatu ini sembari menikmati kucuran air hangat. Tubuh kita seperti dipijati saja. Kemewahan ini tak ada duanya. Kalau tak ingat waktu mau rasanya tak beranjak dari sana.

Pijat refleksi dan lulur lempung

Di bawah, di depan mulut gua, ada pula layanan pijat refleksi. Penduduk setempat menawarkan pijat refleksi kaki. Tarifnya bersahabat: anak-anak Rp. 10 ribu dan dewasa Rp. 15 ribu. Para pemijat ini masih berkerabat. Yang memijat aku pernah berguru ke seorang dokter Tionghoa yang baik hati. “Penyakit ibu di perut. Ada asam urat juga,” kata lelaki Sunda separuh baya itu sambil terus memijat.

Di tempat ini tersedia juga jasa lulur. Kalau mau, wajah dan sekujur tubuh kita akan dibalur dengan semacam tanah lempung berbelerang. Selain mengenyahkan gatal di badan, kata si penyedia jasa lumuran ini akan menghaluskan dan mengencang kulit. Anggota rombongan kami ada yang mencobanya. Kian halus dan kencangkah kulitnya setelah itu? Tentu saja tidak karena sekali itu saja ia menjajal.

Tak terasa senja pun menjelang. Penampakan langit berubah sudah. Orang-orang mulai beringsut dari kitaran gua. Gerimis kecil menemani saat kami, kelompok terakhir, meninggalkan lokasi yang sangat bersahabat dan alami ini.

Setelah segar berendam air hangat berbelerang perut pun menuntut haknya. Sebelum berjuang menapaki tangga kami sempatkan menyantap bakso dan ngopi di salah satu dari segelintir warung yang masih buka. Dengan perut yang berisi kami memiliki energi yang cukup untuk menggapai pelataran atas tempat kendaraan kami menunggu.

Sungguh memuaskan percengkeramaan kami dengan alam Pancuran Tujuh nan asri. Saat mobil kami bergerak membelah malam yang sudah gelap aku berjanji di hati: kelak akan kembali lagi untuk dibelai hangat air Pancuran Tujuh. Semoga semesta mendukung. 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.