Catatan untuk mengenang fotografer Wahjoe Hendrodjanoe (3 Februari 1958-4 Mei 2020)

0
68

Almarhum Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe diapit dua putri tercinta Santri dan Cietta. ( foto dok Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Fotografer senior Harian Bisnis Indonesia Wahjoe Hendrodjanoe wafat, Senin 4 Mei 2020. Sontak para mantan karyawan angkatan awal koran ekonomi pertama di negri ini yang diluncurkan pada 14 Desember 1985 terkejut dan merasa kehilangan.

Empat WAG Grup yang ada langsung penuh dengan ucapan bela sungkawa dan cerita kenangan semasa almarhum hidup mulai dari awal kami berkantor di Jl Kramat V, Jakarta, sebuah rumah yang menjadi kantor pertama harian Bisnis Indonesia. 

Selain almarhum memang sosok yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang, media pertama di luar koran umum ini juga sejak kelahirannya memiliki rasa persaudaraan yang kental di bawah bimbingan guru sekaligus Pemimpin Redaksi kami alm.Amir Daud.

Kenangan saya sendiri sebagai alumni dan karyawan dengan kartu pegawai bernomor urut lima terhadap almarhum juga manis. Saat itu wartawan wanita yang berstatus menikah dan punya keluarga baru saya sendiri, selebihnya selain Pemimpin Redaksi dan para Redaktur umumnya semua masih single alias belum ada yang berumah tangga.

Suatu malam saat tugas piket setelah kami memiliki gedung kantor sendiri yaitu Wisma Bisnis Indonesia di Slipi yang kini namanya menjadi Wisma Slipi, saya mencari Dayun, sapaan akrab alm Wahjoe Hendrodjanoe di ruangannya. Saya merengek minta diantar sebentar ke rumah guru ‘ spiritual ‘ namanya pak Kustoro di kawasan Manggarai, Jakarta.

“Sst temen kita sekantor yang lagi sakit di Bogor katanya sudah parah banget, yuk minta didoain sekalian cari tahu soalnya katanya sudah nggak mempan pengobatan secara medis” kata saya.

Dayun tertawa dan menuruti permintaan saya karena tahu saya benar-benar peduli dan ingin teman yang sakit itu cepet sembuh. Mengenai orang yang ingin saya kunjungi dia cuma mengingatkan dalam agama Islam ke ‘dukun’ kategori musrik.

Ucapannya singkat, padat dan jelas tidak menggurui. Tapi setelah bertemu pak Kustoro yang kini juga sudah almarhum, saya jadi tahu kalau teman sekantor itu lebih ke sakit psikis karena mencintai suami orang yang tak mungkin menceraikan istri untuk menikahinya.

Dayun minta saya hanya khusuk berdoa pada Allah dan doakan yang terbaik untuk teman kami itu. “Eloe da, sampai segitunya malem-malem dijabanin ngebelain temen padahal yang lagi sakit di rumah sakit di Bogor itu juga nggak minta bahkan nggak tahu eloe begitu peduli pada dia,”

Begitulah Dayun dalam kesehariannya, lebih banyak diam tapi banyak tersenyum dan mahfum dengan sepak terjang teman-temannya sendiri. Dia senang melayani dan tidak pernah hitung-hitungan mobil pribadinya sudah seperti mobil operasional kantor saja. Selamat jalan Dayun, kami semua juga pasti menyusul…..

Dibawah ini dua tulisan lainnya dari rekan-rekan Redaksi, teman seperjuangan dalam membangun perusahaan induk yang kini memiliki banyak usaha itu dan kini dikelola anak-anak milenial.

Dayun Bersama putri pertamanya Santri

Saya mengenalnya pada 1 Agustus 1985

oleh Lahyanto Nadie

Wahyoe Hendrodjanoe bin Molejono Hendrodjanoe.  Dia adalah karyawan paling kaya saat itu. Paling tidak dilihat dari mobilnya. Di antara 40  karyawan baru, hanya dia yang bawa mobil ke kantor yang sederhana .

Mungkin ada yang lebih kaya dari dia, tapi nggak bawa mobil ke kantor. Nyang naik motor saja jarang.  Kami—wartawan, fotografer, dan karyawan di bagian perusahaan—kebanyakan naik kendaraan umum ke Kramat V No.8, kantor Bisnis Indonesia. 

Hari pertama masuk kantor itu, Wahyoe tampak paling rapi. Penampilannya keren banget. Kemejanya bagus, sepatu branded, dan jeans merek Levis. Oh, satu lagi. Wangi. Saya kemudian memanggilnya Dayun, entah siapa yang memulai.

Ketika para 20 wartawan mengikuti training dasar-dasar jurnalistik yang diampu oleh Pak AD–kita semua tahu itu panggilan Pak Amir Daud—Dayun, di bawah bimbingan redaktur foto Pak Syahrir Wahab cermat berdiskusi bersama dua fotografer lain: Bambang Hasri Irawan dan Mukhtar Zakaria.

Pak AD memperkenalkan kami satu demi satu. Giliran Dayun, intonasi Pak AD berbeda. Lebih tinggi. Naik dari tone 6 ke 7. “Kita punya fotografer hebat. Dia sekolah di Jerman,” kata Pak Amir Daud (AD) sambil mengangkat tangan, gerakan yang khas buat wartawan legendaris itu, seraya menunjuk Dayun.

Saya langsung akrab dengan orang kaya itu. Diantarkannya saya dengan mobilnya ke rumah sepulang dari kantor. Dayun memarkir VW Combi parkir di bawah pohon bambu. Kini telah menjadi jalan Lenteng Agung Barat. Selera makan kami sama. Namun minumnya beda. Jika selepas makan saya minum teh hangat, Dayun memilih dingin. Bahkan esnya ditambah.

Pada bulan September 1985, setelah selesai training tentang jurnalistik modern yang diampu oleh Pak Amir Daud, kami keliling kota Jakarta. Wahyoe Hendrodjanoe menyetir VW Combi kebanggannya. Belasan wartawan disesakkan dalam mobil itu. Rame sekali. Beberapa wartawan dari daerah tampak masih bego, bengong melihat Bundaran HI, gedung Bank Indonesia dan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng.

Pemimpin rombongan, Ery Soedewo yang masuk langsung jadi redaktur, memperkenalkan para wartawan baru kepada pejabat BI dan Depkeu. Dayun memotret. Cekrek! Sayang, saya tak punya dokumentasinya.

Ketika saya  naik kelas dari korektor menjadi reporter, kami suka liputan bareng. “Yang buat caption loe aje ye,” kerap dia berkata begitu. Apa lagi jika kami membuat foto esai, niscaya ia memilihkan foto terbaik dan saya yang membuat captionnya, tentu agak lebih panjang.

Di luar kantor, kami akrab. Bahkan liburan keluarga saya ke Bali difasilitasinya. Kami tinggal di rumahnya di kawasan Doble Six, Kuta. Dia hafal nama istri dan anak-anak saya.

Pada Januari 1992, kami pindah kantor dari Kramat V ke Wisma Bisnis Indonesia di Slipi, Jakarta Barat. Sepuluh tahun bareng di lantai 6. Banyak suka dan suka di sini.

Pada 6 April 2002, saya dipromosikan menjadi direktur PT Aksara Grafika  Pratama, percetakan Bisnis Indonesia dengan investasi Rp40 miliar sehingga harus berkantor di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Dayun  sering datang ke percetakan. “Enakan di sini, gue nggak betah di sono [Slipi],” katanya.

Maklum. Meskipun hidup lebih sejahtera ketimbang saat berkantor di Kramat, karyawan dan manajemen sering ribut. Dayun kemudian memang dipindahkan ke Pulogadung, selanjutnya dipromosikan sebagai direktur di PT Solo Grafika Utama sehingga ia harus hijrah ke Solo. 

Ke Jakarta aku kan kembali…. Begitu syair lagu Koes Plus. Begitu pun perjalanan Dayun. Kembali ke Jakarta,  Wahjoe Hendrodjanoe kemudian jadi Direktur AGP hingga pensiun pada 5 Februari 2013. Saya jarang bertemu setelah ia pensiun. Kecuali saat reunian dan memenuhi undangan pernikahan anak-anaknya. Oh ya, buah cinta Dayun dan Latifah Sanad, tiga orang anak: Santri, Cietta, dan Gentha. 

Saat si sulung Santri menikah, kami angkatan Kramat reunian di Taman Mini Indonesia Indah. Anak keduanya, Cietta menikah pada 18 Oktober 2017. Melalui WAG kita menjalin silaturahmi. “Ada gue keles,” itulah komentar terakhir almarhum  tentang tulisan saya berjudul “Kisah 20 Wartawan Baru.”

“Pasti Yun. Loe ada terus dalam jiwa kita semua di sini. “. Tak terasa ketika menuliskan ini saya meneteskan air mata. Alfaatihah

Keguyuban yang kental dan kekhasan foto Bisnis Indonesia.

Oleh: P. Hasudungan Sirait

Suasana kekeluargaan kental sebab para seniornya sebagian besar tak feodal. Kesibukan yang membayang saban petang-menjelang di hari kerja, tak sampai melunturkan silaturahmi. Di bawah bayang-bayang ‘deadline’ pun awak suratkabar bernama ‘Bisnis Indonesia’ ini masih menyempatkan diri setidaknya baku sapa. Tak soal apakah itu orang redaksi atau bukan. 

Bila saat untuk mengakhiri jam kerja sudah mendekat, keguyubannya bakal lebih terasa. Mereka yang rumahnya di penjuru yang sama di peta kitaran DKI, umpamanya, akan saling berkoordinasi. Rombongan Pak Asmat—dia orang Betawi yang bekerja di bagian pra-cetak dan lagak-lakunya bisa mengingatkan kita pada kejenakaan Haji Bokir—salah satunya.

Tujuannya? Pulang ‘bareng’ dengan ‘nebeng’ pada sejawat yang punya mobil. Kala itu, di paruh pertama 1990-an, masih sangat sedikit karyawan PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG) ini yang memiliki kendaraan pribadi roda 4. 

Jika bulan Ramadhan tiba seperti saat ini, acara berbuka bersama di kantor pasti berlangsung tiap hari. Tak soal agamanya apa, tiap karyawan beroleh jatah serupa. Wujudnya? Masakan dari tukang katering. Agar tak monoton, terkadang nasi padang dibeli dari warung kecil di sebelah, milik Uni (begitu panggilan kami untuk perempuan separuh baya yang ramah dan murah senyum).

Karyawan suratkabar yang terbit sejak 14 Desember 1985 dan sahamnya dimilik trio konglomerat terkemuka— Anthony Salim, Ciputra, dan Sukamdani Sahid Gitosardjono—belum banyak di masa itu. Orang redaksi di Jakarta ditambah bagian pra-cetak paling 60-an orang.

 Kantornya berupa rumah tua memanjang satu lantai. Paviliun yang di depan dipakai oleh bagian bisnis sedangkan bangunan utama di sebelahnya oleh orang redaksi. Kru yang sedikit dan tempat kerjanya yang berupa rumah saja tentulah menjadi unsur perekat yang menghasilkan keguyuban. 

Tentu peluang satu sama lain untuk berpapasan besar, terutama di lorong yang memisahkan bangunan utama dengan perpustakaan kecil di sisi kiri. Di sanalah kami para reporter bekerja bergantian dengan menggunakan mesin ketik besar (Olivetti dan Olympia) manual. 

Adapun para petinggi, redaktur ke atas, mereka berkapling di ruang dalam yang tak berpenyekat. Mesin ketik serupa tersedia di meja mereka masing-masing. Tapi, siapa pun di antara mereka yang ingin menyiapkan sendiri kopi-teh atau mi instan di dapur belakang mesti melewati lorong tak beratap yang menjadi ruang kerja kami para reporter dan ‘stringer’ [wartawan yang tak berstatus karyawan tetap alias organik]. 

Faktor perekat yang tak kalah penting adalah pembawaan karyawan (redaksi dan non-redaksi) yang umumnya tak macam-macam. Mas Wahjoe Hendrodjanoe, termasuk. Alhasil, kami ber-12 yang merupakan angkatan reporter terbaru di sana kala itu, tak sulit menyesuaikan diri di hari pertama bergabungpun. 

‘Bisnis Indonesia’ di paruh pertama 1990-an seperti miniatur Indonesia kalau dilihat dari segi etnisitas. Selain Jawa, suku yang cukup dominan di sana adalah Minang. Seperti kata Bang Haji Rhoma Irama dalam satu lagunya, di sana ada Sunda, Betawi, Ambon, Flores, Batak, Dayak, Manado, Arab, Tionghoa, Toraja, Bugis,…. 

Saat aku bergabung di awal 1990-an, di daftar susunan redaksinya sudah tidak ada lagi nama Amir Daud, Syahrir Wahab, dan Abdullah Alamudi yang merupakan angkatan pendiri. Pun Utari, Andy Noya dan Adrianus Pao. Dua yang terakhir ini sudah pindah ke koran milik Surya Paloh: ‘Prioritas’ yang kemudian menjadi ‘Media Indonesia’. 

Di masa kami, Pemimpin Redaksi (Pemred) ‘Bisnis Indonesia’ bukan lagi Pak Amir Daud, wartawan senior yang pernah bekerja di majalah ‘Time’ dan yang berperan besar dalam merancang kebijakan redaksi majalah ‘Tempo’ [selain perwajahannya mirip betul, tempo tidak lain dari ‘time’, kalau diinggriskan]. 

Kedudukan orang Minang yang saklak menjalankan standar jurnalisme, secara ‘de jure’ telah digantikan oleh Pak Sukamdani. Tapi ’de facto’, di ‘Bisnis Indonesia’ wakil Pemred-lah yang menjalankan tugas sehari-hari bos grup Sahid yang memang tak pernah menjadi wartawan. Mereka dibantu oleh redaktur pelaksana dan redaktur yang umumnya tangguh. 

Kantor kami waktu itu—sebelum pindah ke Wisma Slipi sekarang—di Jl. Kramat V. Letaknya dekat saja dari tempat penyiksaan seram bersebutan Kremlin. Sejak tahun 1965 musuh penguasa Orde Baru dipermak Pelaksana Khusus Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Laksus Kopkammtib) di sana. Salah satunya adalah aktifis Islam Tony Ardie yang tersangkut kasus Tanjung Priok (4 Oktober 1984). Tanpa sempat bertegur sapa, beberapa kali aku bertemu dengan dia saat kami sama-sama makan di warung Uni. Ia selalu tampak bersantap bersama orang Kremlin. 

Reuni awak Redaksi dan Perusahaan beberapa tahun lalu di Pulau Dua Restoran, Senayan.

Fotografer lulusan Jerman

Saat aku masih menjadi wartawannya, ‘Bisnis Indonesia’ memiliki skuad fotografer yang terbilang tangguh. Kelik Taryono, Tavip Mahone, Bambang Hasri Irawan, dan Elly Sundari, unsurnya. Belakangan hari setelah kantor kami pindah ke Wisma Bisnis Indonesia, Slipi (kini namanya menjadi Wisma Slipi), Endang Muchtar merapat. Komandan mereka (redaktur) sampai jauh hari kemudian , tetap Mas Wahjoe Hendrodjanoe. Mereka memiliki ruang gelap dan tenaga periset sendiri. 

Para juru foto ini terlatih, sigap, dan rajin. Jadi, tak kalah dibanding wartawan tulis yang sehari-hari bermitra dengan mereka di lapangan. Elly Sundari, termasuk. Ia banyak mengabadikan dunia hiburan dan fesyen karena fokusnya lebih ke ‘Bisnis Indonesia Minggu’ (‘BIM’). Lulusan IKIP Bandung yang modis ini kemudian tewas saat pesawat Silk Air jatuh dan raib di Sungai Musi, Palembang, pada Jumat, 19 Desember 1997. Senior yang akrab denganku, sedang bertolak dari Bandara Soekarno Hatta ke Singapura di hari naas itu. 

Sebagai pecinta fotografi, sejak awal aku jarang menyukai foto yang disuguhkan ‘Bisnis Indonesia’. Pasalnya, menurutku, serba formal sehingga mengorbankan estetika. Orang yang sedang bersalaman, terutama saat penandatangan nota kesepakatan (MoU), yang ditampilkan sebagai foto utama halaman 1. Di halaman lain ya, foto peresmian, peluncuran produk ini-itu, atau seminar. 

Tak habis pikir aku melihatnya sebab aku tahu persis bahwa para juru potret kami itu piawai secara teknik dan paham estetika. Lagi pula redaktur mereka, Mas Wahjoe Hendrodjanoe, fotografer piawai yang dulu bersekolah di Jerman. Pria jangkung yang selintas terkesan ‘dingin’ padahal pembawaannya sesungguhnya sebaliknya, sangat dihormati anak buahnya. 

Di luar pun ia diperhitungkan para koleganya. Soal yang satu ini kuketahui kemudian setelah tak sekantor lagi dengan dia. Berkali-kali Kelik dan Tavip kugugat dan kugoda karena jepretannya melulu orang yang lagi salam-salaman. Jawaban kedua kawan baikku tersebut? 

“Kan ‘style’ koran kita begitu… Untuk HL [headline] halaman satu harus bos-bos yang lagi salaman,” ucap Kelik, di suatu waktu.“Kalau lain, nggak akan dimuat.” Foto untuk halaman lain pun, lanjut dia, khusus untuk karya ‘Bisnis Indonesia’ sudah ada pakemnya. “Aku bukannya nggak bisa bikin foto yang artistik,” kata Tavip yang pembawaannya selalu lucu, ke aku di satu kesempatan. 

‘Anak nakal’ kami yang pernah menjadi kelasi (anak kapal) dan kala itu dekat dengan cucu Pak Harto, Ari Sigit, lantas memerlihatkan foto-foto para model hasil jepretannya. Kuat memang, dari segi apa pun. Pula sangat berani! Tak heran kalau kami para lelaki rajin bertanya begitu melihat dia pulang dari lapangan: “Punya foto yang ‘asyik’ lagi, nggak?” 

Kelak, di suatu pagi menjelang siang aku pernah melihat Tavip mengarahkan seorang model dalam pemotretan dadakan. Ia begitu berwibawa dan trampil menyuruh perempuan muda yang nantinya akan menjadi bintang sinetron termashyur, berpose ini-itu. Ajaibnya, sang model manut saja laksana kerbau dicucuk hidung. Pemotretan berlangsung di tempat terbuka di tepi pantai Pulau Peucang yang berbatasan dengan cagar alam Ujung Kulon, Jawa Barat. 

Saat itu Tavip, Arief Rahman, dan aku sedang meliput acara memancing dengan gaya ‘trolling’ [menggunakan umpan artifisial yang diseret kapal]. Pesertanya anak-anak penggede negeri kita. Sebelum akhirnya tiba di Pulau Peucang, rombongan kami yang berangkat sore dari Pantai Marina, Ancol, dinyatakan hilang dan dicari berjam-jam oleh tim SAR. 

Sempat terombang-ambing di lautan ganas semalaman, kapal kami kemudian terdampar di Lampung, esok subuhnya. Aku sendiri baru siuman setelah di Lampung. Mabuk-laut parah membuatku tak sadarkan diri cukup lama. Dari Lampung, pagi itu juga kami bertiga sesama awak ‘Bisnis Indonesia’ melanjutkan perjalanan dengan kapal ‘Matahari’ (milik pengusaha Tomy Winata) lainnya. 

Dengan Kelik pun aku pernah berduet berhari-hari yakni saat meliput Pesta Danau Toba, di Parapat. Selama di lapangan, termasuk di Brastagi, Tanah Karo, kuamati ia bekerja. Kepekaan artistiknya tinggi. Hasil jepretan dia kala itu yang memang mencuat ‘human interest’-nya kemudian muncul di kalender ‘Bisnis Indonesia’ 1995 bersama karya Wahjoe Hendrodjanoe , Bambang Harsri Iriawan, dan SS Lystiowati (yang terakhir ini juru foto majalan ‘Indonesia Business Weekly’). 

Lantas, mengapa foto-foto di koran kami serba verbal padahal kemampuan estetik penjepetnya tak kurang? Setelah lama tak habis pikir, aku kemudian menemukan jawabannya. 

Wejangan Pak Ci

Di satu Sabtu—tim ‘Bisnis Minggu Minggu’ saja yang masuk di hari itu—foto utama koran kami sangat lain dari sebelumnya. Sisi manusiawinya kuat betul sehingga sanggup membuktikan kebenaran pameo lama: satu foto bisa lebih dari 1.000 kata. 

Obyeknya? Bangunan jangkung-besar yang menyembul di belakang perkampungan miskin di pinggir laut. Lupa aku siapa pengabadinya. Yang pasti, kalau bukan Wahjoe Hendrodjanoe ya, Bambang Harsri Iriawan yang juga berpembawaan kalam.

Sangat girang aku melihatnya. Besoknya kuberi pujian ke kawan-kawan dari bagian foto, termasuk ke redaktur mereka: Wahjoe Hendrodjanoe.  ”Begitu ‘dong’…kan siip! Koran kita jauh lebih keren,” ucapku dengan tulus. Saat itu kami sudah berkantor di Slipi. 

Besok sorenya terjadi kegegeran kecil di kantor. Pasalnya? Terbetik kabar dari sekretariat redaksi bahwa Pak Ciputra (Pak Ci) galau akibat potret yang lain dari yang lain itu dan besok dia akan datang ke kantor untuk bicara di depan orang redaksi tentang fotografi yang baik. 

Setahuku, sebelumnya sama sekali tidak ada cerita bahwa pesaham kami—apakah Pak Anthony Salim atau Pak Ci atau Pak Kamdani—sewot karena suguhan awak redaksi; apalagi sampai intervensi langsung. Apa gerangan yang akan dikatakan Pak Ci? 

Pengusana properti yang merupakan salah satu pendiri PT Pembangunan Jaya itu memang muncul pada Senin siang; hal yang sangat jarang terjadi. Tapi tak tampak kekeruhan di wajah dia saat bermuka-muka dengan hadirin. Senyumnya tetap mengembang dan tangannya sigap membalas jabat tangan. 

Segenap orang redaksi menyimak dengan saksama selama Pak Ci bicara. Sang arsitek lulusan ITB mengatakan dengan tuturan yang santun bahwa kontradiksi seperti yang mencuat dari foto ‘headline’ edisi Sabtu itu sebaiknya tidak dimunculkan lagi sebab tak sesuai dengan misi yang diemban ‘Bisnis Indonesia’. Motto harian ini adalah “Dari swasta untuk swasta, demi pembangunan.” Gaya foto selama ini, ia menegaskan, sudah pas sehingga tak perlu diubah lagi. 

Tak lupa ia mengingatkan bahwa proyek yang tampak dalam potret tersebut —pembangunan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) yang sedang ditangani Ciputra Group—bertujuan mensejahterakan orang banyak termasuk rakyat yang bermukim di kitaran sana; toh, ‘trickle-down effect’ [efek menetes ke bawah] pasti terjadi.

Kendati disampaikan dengan lembut dan santun, wejangan Pak Ci itu sangat efektif. Meminjam istilah pelawak Tukul Arwana, yang terjadi setelah itu adalah: Mas Wahjoe dan anak buahnya dari bagian foto “kembali ke laptop”. Artinya, foto-foto ‘Bisnis Indonesia’ menjadi severbal semula. Gambar ketimpangan kelas, nihil. Begitu seterusnya hingga puluhan tahun kemudian. 

Berduka

Kemarin (Senin, 4 Mei 2020) Mas Wahjoe Hendrodjanoe—sosok yang sejak ‘Bisnis Indonesia’ berdiri tahun 1985 hingga puluhan tahun kemudian menjadi orang foto terpenting di sana—berpulang. Hari itu juga ia dimakamkan di Bogor. Aku merasa sangat kehilangan. Begitupun, atas nama jarak sosial di masa Corona, tak ikut aku melayat meski berada di kota yang sama. Jam sejarah seperti diputar mundur. 

Sejak mendengar berita keberpulangannya kemarin pagi hingga tadi anganku terbang ke alam kebersamaan kami sejak dari zaman Kramat V hingga Slipi. ‘Bisnis Indonesia’ yang asyik karena orang-orangnya hangat dan bersahabat, terpaksa kutinggalkan di awal 1996. Penguasa Orde Baru melarang kami bekerja di redaksi begitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kami deklarasikan pada 8 Agustus 1994.

 Aku dibuang ke Litbang tanpa pekerjaan yang jelas. Di sana aku harus berpotongan dan berperilaku sebagaiman lazimnya pegawai. Sungguh siksaan yang maha berat bagi diriku yang terbiasa bebas. Setelah beberapa bulan berselang aku akhirnya mengundurkan diri karena sadar diri ini hanya akan menjadi duri dalam daging saja kalau masih di sana. 

Sejak itu bertahun-tahun aku putus kontak total dengan kawan-kawan di sana. Beberapa tahun setelah Pak Harto tumbang barulah aku menginjakkan kaki kembali di Wisma Bisnis Indonesia, Slipi. Tepatnya: di saat kawan seangkatanku yang insinyur dari UGM, Ahmad Djauhar [Ljh] sudah menjadi Pemred mereka. 

Bukan sebagai wartawan mereka lagi aku saat kembali ke sana melainkan evaluator kinerja awak redaksi (selama 1 bulan) serta pengajar yang melatih-membimbing jurnalis mereka selama beberapa gelombang. 

Setelah mereka pindah ke kantor sekarang (di sebelah perkuburan Karet), itu masih berlanjut hingga beberapa angkatan lagi. Tapi, tatkala aku kembali ke sana untuk kali pertama, sebagian besar orang-orang dari zaman Kramat V sudah keluar lewat program pensiun dini. 

Dengan Mas Wahjoe Hendrodjanoe sendiri lama sekali aku tak bersua. Setelah pengunduran diriku di tahun 1996, baru pada 8 Agustus 2015-lah aku melihatnya kembali yakni di reuni ‘Bisnis Indonesia’ di Restoran Pulau Dua, Senayan. 

Ternyata itu pula pertemuan terakhirku dengan dia. Sedih, ya…Tapi begitulah hidup. Selamat jalan Mas Wahjoe yang baik. Beristirahatlah dalam damai. 

Drupada, Bogor, 5 Mei 2020. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.