Kapal pesiar raksasa ini sukses lewati kanal sempit Corinth Canal (foto: CNN)
YUNANI, bisniswisata.co.id: Kapal pesiar Braemar menjadi kapal modern terbesar pertama yang berhasil melintasi terusan Corinth Canal yang amat sempit. Itu berarti, kapal berpenumpang 929 orang itu memecahkan rekor dunia.
Sekadar informasi, Corinth Canal yang berlokasi di Yunani ini merupakan sebuah terusan sempit yang menghubungkan Teluk Saronic dan Teluk Corinth di Laut Aegea. Terusan selebar 25 meter ini dibangun antara tahun 1881 hingga 1893 dengan cara memecah bukit batu.
Seperti dilansir dari CNN, kapal pesiar Braemar yang memiliki lebar 22,5 meter ini berhasil melintas masuk melewati terusan sempit yang diapit dua tebing tinggi. Kesalahan sedikit saja, kapal bisa karam menabrak dinding tebing. Di terusan ini memang sering terjadi kecelakaan lantaran kapal-kapal yang melintas menabrak tebing.
Sejak 1893, sudah banyak kapal melintasi kanal sempit ini, tetapi menurut perusahaan kapal pesiar Fred Olsen, pemilik Braemar, kapal terpanjang yang melintasi Corinth Canal, ya baru Braemar.
“Hari ini Braemar mencatat sejarah penting sebagai kapal terpanjang yang berlayar melintasi Corinth Canal,” kata manajemen Fred Olsen yang diunggah di media sosial.
Hal Ini sebuah pengalaman berlayar yang menakjubkan dan menjadi tonggak bagi sejarah Fred Olsen dalam 171 tahun. Kami sangat senang bisa membagi pengalaman ini dengan para tamu,” kata Clare Ward, direktur produk dan layanan pelanggan Fred Olsen seperti yang disampaikannya lewat pernyataan tertulis.
Hawa Mahal Road, Jaipur, India ( Foto: unsplash.com/Aditya Siva/@msaditya9)
NEW DELHI, bisniswisata.co.id: India membuka kembali pusat perbelanjaan, restoran dan tempat ibadah mulai hari ini 8 Juni 2020, meskipun infeksi coronavirus meningkat pada laju harian tercepat daripada kapan pun dalam tiga bulan terakhir.
Karena ingin memulai ekonomi yang lumpuh oleh COVID-19 dan mengembalikan jutaan orang untuk bekerja, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi membuka penguncian besar-besaran dari 1,3 miliar populasi yang diberlakukan sejak bulan Maret.
Namun, pedoman menyertai pelonggaran pembatasan pada hari Senin ini. Tamu hotel hatus cek suhu badan, pakai masker akan diwajibkan setiap saat. Restoran harus mengatur meja terpisah untuk menjaga jarak sosial ketika dibuka kembali menurut aturan yang dikeluarkan oleh kementerian Dalam Negeri
Anurag Katriar, Presiden National Restaurant Association of India, Jumat lalu mengatakan makan perlu dibuat aman tetapi pembatasan seperti mengurangi kapasitas tempat duduk untuk menjaga jarak antar orang akan sulit dipertahankan.
“Sangat sedikit restoran yang berencana untuk buka pada 8 Juni 2020 ini karena secara finansial, kapasitas tempat duduk yang 50% tidak berfungsi sama sekali.”
Di tempat-tempat ibadah, orang akan diminta untuk mencuci tangan dan kaki mereka sebelum masuk, dan tidak akan ada distribusi persembahan makanan atau percikan air suci
“Mengingat potensi ancaman penyebaran infeksi, sejauh memungkinkan, musik / lagu yang direkam dapat dimainkan (tetapi) paduan suara atau kelompok bernyanyi tidak boleh diizinkan,” kata kementerian dalam negeri di situs webnya seperti dikutip dari Skift. Artikel ini ditulis oleh Nidhi Verma dan Sanjeev Miglani dari Reuters dan dilisensikan secara resmi melalui jaringan penerbit NewsCred
Tempat-tempat ibadah di India terutama kuil Hindu menarik ribuan orang dan bangunannya biasanya tidak cukup besar untuk memungkinkan jarak sosial untuk mengekang penularan virus corona.
Kuil Tirupati yang besar dan kaya di India selatan bertujuan untuk menjaga jarak para peziarah dengan mengakomodasi maksimum 6.000 per hari daripada 80.000-100.000 yang biasanya diizinkan.
Staf Tirupati akan mengenakan pakaian pelindung dan mengambil usap tenggorokan secara acak dari para peziarah, kata Anil Singhal, direktur eksekutif organisasi kuil.
Total infeksi coronavirus di India telah mencapai 226.770, bersama dengan 6.348 kematian, kata kementerian kesehatan pada hari Jumat. Pada tingkat pertumbuhan saat ini, beban kasus akan melampaui Italia dalam dua hari ke depan untuk menjadi yang terbesar keenam di dunia.
Dengan pemikiran ini, beberapa ahli kesehatan memperingatkan terhadap pembukaan kembali yang tergesa-gesa.
“Mencegah formasi klaster (infeksi COVID-19) adalah kebutuhan saat ini. Kami terlalu cepat membuka tempat-tempat keagamaan, terlalu cepat. Dewa dapat menunggu, ”tulis Giridhar R Babu, ahli epidemiologi di Yayasan Kesehatan Masyarakat India, menulis di Twitter. India nsmpaknya bisa menyalip jumlah virus corona di Italia dengan pelonggaran lockdown
Wisatawan India setiap tahun banyak yang berkunjung ke Indonesia. Data dari ceic.com mengungkapkan mencapai angka tertinggi sebesar 1,225,672 orang pada akhir tahun lalu ( 2019) dari target 800 ribu irang yang ditetapkan Kemenparekraf.
Data Kunjungan Wisatawan India diperbarui bulanan,, dengan rata-rata 262,306 Orang dari Maret 1987 sampai Maret 2020. Selain datang bersama keluarga, turis India yang datang ke Indonesia bertipe pasangan muda untuk bulan madu. Biasanya mereka suka ke Bali mentusul Batam dan Bintan untuk honeymoon.
Wisatawan India yang datang juga memang banyak insetif untuk karyawan perusahaan dan hanya mengonsumsi makanan non daging alias vegetarian.
KUALALUMPUR, bisniswisata.co.id: Sejak akhir Maret, sebagian besar armada AirAsia Group yang berjumlah 282 pesawat telah terparkir di beberapa bandara di Asia. Di antara jumlah tersebut terdapat 28 unit pesawat yang terparkir di 4 lokasi di Indonesia mulai 1 April 2020 yaitu Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya.
Apa yang terjadi dengan semua pesawat- pesawat ini?
“Sedang berhibernasi, dan banyak yang harus dilakukan untuk merawat adhi karya berteknologi canggih ini. Teknisi kami harus memastikan semua pesawat selalu dalam kondisi prima saat nantinya kami bersiap untuk mengudara lagi,” papar Banyat Hansakul, Head of Engineering AirAsia Group, menjawab bisniswisata.co.id
Pandemik COVID-19, mengharuskan manajemen AirAsia mengaktifkan prosedur parkir jangka panjang (long term parking procedures) bagian pedoman perawatan pesawat (aircraft maintenance manual /AMM) yang dipersyaratkan oleh pabrikan pesawat Airbus. Pedoman yang ketat tersebut menjelaskan tentang prosedur dan perawatan rutin yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kelaikudaraan pesawat selama periode parkir jangka panjang.
Menjaga Armada di Darat
Tidak mudah mengawasi teknis dan perawatan pesawat untuk sebuah grup maskapai dalam situasi yang menantang ini.
“Pertanyaan pertama yang kami tanyakan kepada diri kami adalah, dimana kami akan menyimpan ke-282 pesawat ini? Bandara basis operasi atau hub terbesar kami berada di Kuala Lumpur dan Bangkok, tapi bandara KLIA2 dan Don Mueang tidak mempunyai tempat parkir yang cukup untuk menampung semua pesawat kami.”
Di Kuala Lumpur, AirAsia berhasil memecahkan masalah ini dengan memarkirkan sebagian pesawat di terminal kargo. Di Bangkok jumlah tempat parkir benar-benar terbatas dan tidak mencukupi, itu pun setelah beberapa pesawat akhirnya diparkirkan di taxiway yang telah disulap menjadi area parkir sementara oleh otoritas bandara.
“Namun, mempertimbangkan banyak hal kami memutuskan untuk memindahkan beberapa pesawat kehubterdekat seperti Phuket International Airport dan Utapao Rayong-Pattaya International Airport,” jelas Banyat.
Jumlah armada yang banyak, sementara kapasitas parkir bandara terbatas. Persoalan lain adalah manajemen juga harus mengidentifikasi masa parkir yang diperlukan untuk setiap pesawat.
“Prosedur perawatan yang harus dilakukan terhadap pesawat ini berbeda-beda tergantung kategori masa parkir; kurang dari sebulan, 1 hingga 6 bulan, atau 6 bulan hingga setahun.
Dominan armada AirAsia kategori pertama dan kedua. Sebagian kecil tetap dibiarkan aktif untuk sewaktu-waktu dapat digunakan membantu misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana, atau untuk operasi kargo dan sewa,” ucap Banyat.
Menjaga dari Bahaya Lingkungan
Setelah menentukan lokasi dan masa parkir setiap pesawat, dilakukan tugas yang paling menyita tenaga yaitu menutup bagian-bagian pesawat yang terbuka dan terpapar lingkungan.
Setiap celah atau bagian penting pesawat yang terpapar lingkungan harus dilindungi menggunakan penutup yang direkomendasikan oleh pabrikan pesawat untuk melindungi dari debu, serangga, burung, atau benda asing lainnya yang berpotensi merusak sistem pesawat.
Bagian-bagian tersebut antara lain mesin, inlet dan outlet Auxiliary Power Unit (APU), alat pendeteksi data udara (air data probes) seperti pitot probes, static ports atau antena berbentuk tabung lainnya yang menempel pada badan pesawat. Jika akan berada di darat dalam waktu yang sangat lama, roda pendaratan juga termasuk yang akan ditutupi untuk mencegah karat.
Para teknisi akan menjalankan inspeksi harian untuk memeriksa adanya kelainan teknis pada pesawat seperti kebocoran oli mesin atau cairan hidrolik, dan memastikan semua penutup bagian pesawat terpasang dengan benar.
Selain inspeksi harian, teknisi juga akan membersihkan air data probes atau alat pendeteksi data udara dan bagian lainnya untuk memastikan tidak terjadi pembentukan residu akibat pesawat terparkir di darat.
Inspeksi harian sangat penting untuk dilakukan karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di alam selain dari perubahan cuaca. Sebagai contoh, tidak lama setelah hibernasi, teknisi kami menemukan sarang burung di salah satu sayap pesawat A330 yang terparkir di Bandara Don Mueang, papar Banyat.
“Lumrah ya, burung, lebah, atau serangga lainnya bersarang di pesawat yang terparkir lama. Bukan hal aneh, kami tinggal menghubungi otoritas terkait untuk membantu membawa ‘tamu tak diundang’ tersebut ke tempat lebih aman jauh dari pesawat; tidak ada hewan yang tersakiti selama proses ini berlangsung,” terang Banyat.
Menjaga Kesiapan Pesawat
Untuk memastikan bentuk roda tetap terjaga akibat berada dalam posisi sama terlalu lama, pesawat perlu ditarik maju mundur, atau disanggah lalu rodanya diputar untuk mengurangi tekanan pada bagian yang menempel pada aspal.
Teknisi juga akan menyalakan mesin pesawat dan APU secara berkala sesuai jadwal yang tertera pada AMM untuk memastikan kondisi mesin tetap prima.
Untuk persiapan masa parkir yang lebih lama, beberapa pengaturan pesawat harus dikonfigurasi ulang, seperti mencabut baterai, mengaktifkan ditching mode untuk menutup katup dan jalan masuk udara lainnya ke dalam pesawat, tidak masuk ke kabin. Serta melepas alat pendeteksi data udara dan sistem penghangat jendela untuk mencegah melelehnya penutup alat pendeteksi data udara.
Bagi grup maskapai yang mengoperasikan ratusan penerbangan per hari, masa hibernasi ini menjadi kesempatan langka untuk dapat melakukan program pembersihan menyeluruh serta perbaikan interior kabin pesawat. Semua bagian atau panel yang dapat dilepas akan dibuka dan dibersihkan secara menyeluruh termasuk panel dinding kabin, area awak kabin atau biasa disebut galley, toilet, dan bahkan panel atas di ruang kemudi pesawat. Karpet, tirai dicuci dan seluruh permukaan di dalam kabin seperti sandaran , meja dilap menggunakan cairan desinfeksi berkualitas tinggi.
“Merawat armada pesawat dalam jumlah yang besar bukan pekerjaan yang mudah. Mengistirahatkan pesawat-pesawat ini butuh perencanaan kerja, memakan waktu panjang dan koordinasi yang penuh kehati-hatian antara tim teknisi dan petugas darat. Tetapi, ini satu langkah untuk maju ke depan, ketika pandemi berakhir. Kami siap membawa tamu-tamu, terbang kembali. Sekarang kami sedang melakukan pekerjaan penting yaitu memastikan pesawat aman dan terawat dengan baik untuk tamu kami,” jelas Banyat. ***
Lahan peternakan sapi milik Ustad Dr Reza Abdul Jabbar di New Zealand ( Foto: dok.pribadi)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pada Masa Pandemi Covid-19 ini, Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS-MRPI) kembali menggelar kajian online ba’da subuh. Selain menghadirkan nasumber, juga ada ada obrolan hangat dengan saudara-saudara WNI dari mancanegara.
Kajian subuh Minggu pagi ini selain membahas kajian tadabaur Qur’an yang disampaikan oleh Dr. KH. Fahmi Salim, PS-MRPI juga menggelar business series dengan ‘New Zealand Tour’ bersama Dubes New Zealand (NZ) Tantowi Yahya dan Dr. Reza Abdul Jabbar, seorang pengusaha yang sukses di NZ.
Acara yang berlangsung secara daring ini juga dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat ( NTB), Zulkieflimansyah. Dalam pembukaannya, Dubes Tantowi Yahya sangat mengapresiasi dan bangga memiliki seorang Ust. Reza Abdul Jabbar.
“Beliau tidak hanya sebagai pemuka agama yang membawa Islam yang ramah, tapi juga seorang pebisnis, peternak yang berhasil di New Zealand. Jika Ustad Reza ingin menjadi warga negara NZ, pasti akan digelar karpet merah” ungkap Tantowi.
Menurut Tantowi, selain sektor pertanian dan peternakan, pariwisata juga menjadi industri yang berkembang tapi karena COVID-19 dampaknya pariwisata menjadi sepi.
Saat ini dunia memang sedang tidak bergerak, namun di seluruh New Zealand, wisatawan dapat menemukan segalanya, dari hutan belantara yang belum terjamah hingga budaya yang kaya.
Di sini wisman bisa menemukan inspirasi dari gunung yang menjulang dan fjord yang diselimuti kabut. Ketenangan di pantai berpasir keemasan di sekitar teluk-teluk yang tenang serta mendapatkan teman-teman baru di kota kecil penuh pesona yang sangat santai.
Dubes RI di NZ, Tantowi Yahya, Ladang peternakan dan Ustad Dr Reza Abdul Jabbar. ( Foto: dok. pribadi)
Menurut Tantowi, sektor pertanian, peternakan tidak terkena dampak COVID meski pertanian dan peternakan juga menjadi magnet kunjungan wisatawan ke NZ. Banyak wisatawan mancanegara datang ke peternakan untuk melihat proses produksi bulu domba, produk dari susu sapi dan lainnya.
Sektor pertanian menjadi primadona disini. Apalagi NZ mempunyai koperasi pontera yang memasarkan produk-produk anggota, semua di handel koperasi.
Jadi para petani dan peternak tidak pusing sebab hadirnya koperasi menambah keuntungan untuk anggota dan meluaskan distribusi produk, tambahnya.
Reza Abdul Jabbar kemudian mengajak para jamaah Pejuang Subuh melalui virtual ke ladang peternakannya. Dengan mengendarai mobil, Reza mengajak keliling jamaah.
“Semua faktor linkungan sangat diperhatikan di NZ, termasuk sungai ini. Untuk menjaga ekosistem, kami menanam pohon. Jadi bagi pemuda, pelajar dan siapa saja bisa belajar beternak disini. Yang penting harus punya mental pejuang” terangnya di saat suhu 4 derajat.
Lahan yang kecil akan membuat ongkos industri lebih mahal. Oleh karena itu lahan peternakan kami luas dan ada 10 karyawan ya g bekerja diladang, tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Gubernur NTB. “Kami ingin mengundang Ust. Reza agar bisa ke NTB. Sebab mempunyai daerah yang sesuai dan cocok dengan NZ. Ust. Reza bisa memilih daerah mana yang bagus di NTB, semua kami fasilitasi dan gratis. Bahkan NTB sudah menjadi destinasi halal tourisme,” ungkap Zulkieflimansyah penuh harap.
Kajian Online yang digelar PS-MRPI ini diikuti sekitar 500 lebih peserta sehingga uraian Dubes Tantowi, Ust Reza maupun Gubernur Zulkieflimansyah menambah wawasan dari berbagai kalangan.
Pesertanya memang bervariasi mulai pejabat, pengusaha, aktivitis masjid yang istiqomah hatinya selalu terkoneksi dengan masjid Pondok Indah. Insya Allah ketika dunia mulai bergerak lagi, NZ bisa menjadi tujuan wisata untuk belajar langsung pada Ustad Reza dan mengunjungi destinasi yang dikenal sangat Islami meskjpun bukan dihuni mayoritas Muslim.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Good Vibrations”, festival yang menggabungkan unsur pertunjukan musik dan gerakan penggalangan dana kembali digelar 12 – 14 Juni 2020 (Jumat – Minggu) melalui kanal Youtube Hype Festival dan Twitch Official Channel (twitch.tv).
” Setelah sukses di gelar pada Jumat-Minggu pada 5 – 7 Juni 2020 akhir pekan lalu, acara yang didukung oleh Kemenkraf/ Bekraf ini akan hadir dikanal Youtube dan media sosial yang sama,” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaran Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani dalam siaran persnya hari ini.
Deretan penampil yang hadir diantaranya DJ internasional seperti Andrew Rayel, Avao, Blinders, Christina Novelli, Firebeatz, Futuristic Polar Bears, Jerome Isma-Ae, Khomha, Myom, dan Sam Feldt.
Sementara deretan DJ Lokal Heroes adalah Apsara, Dipha Barus, Hogi (Future10), House Cartel, Indra7, Irene Agustine, Kana & Mayo (Tripo 3000), LTN, Patricia Schuldtz, Pixiee, P.Joana, Redy, Six Pratama, Stan, W.W dan Yasmin.
Menurut Rizki Handayani, melalui festival musik dan amal ini, penonton akan disuguhkan penampilan yang seru dari para DJ ternama yang terlibat. Selain itu para penonton juga diajak untuk berdonasi bersama untuk penggalangan dana melalui akun resmi kitabisa.com/bcmbergerak.
Seluruh donasi yang terkumpul akan dipergunakan untuk membantu para pekerja yang terdampak COVID-19 seperti para pekerja industri kreatif, pekerja seni, pekerja industri pariwisata, pekerja perhotelan, pekerja restoran, pekerja paruh waktu dan pekerja informal lainnya yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari maupun kebutuhan kesehatan yang krusial.
“Pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada hampir semua profesi/pekerja. Acara ini menjadi salah satu gerakan positif dari masyarakat di tengah situasi sulit pandemi yang membuat aktivitas masyarakat terbatas,” tambahnya.
“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi suguhan hiburan, tapi juga upaya bersama membantu penanganan dampak dari COVID-19 yang begitu besar,” kata Rizki Handayani.
Informasi mengenai jadwal acara atau _set times_ dapat dilihat melalui laman resmi akun Instagram @hypefestivalid dan situs resmi www.letsgethype.asia
Luwak sejenis musang pemakan biji kopi (foto: time)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Suatu hari seorang teman di Amerika tiba-tiba mengirim email. Dengan sangat antusias ia bertanya,’benarkah ada kopi di Indonesia yang dibuat dari biji kotoran musang?’
Adik laki-lakinya saat itu sedang merintis bisnis warung kopi dan es krim di Kanada. Sudah lama katanya ia mendengar mitos kopi jenis ini. Ya, Kopi Luwak itu namanya.
Ketika mendapat email itu saya belum bertemu Pak Lastowo, seorang ADM di perkebunan kopi milik pemerintah yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kepada teman tersebut saya katakan, itu hanya mitos walaupun label ‘Kopi Luwak’ sudah dipakai oleh produsen kopi lokal di Semarang, Jawa Tengah.
Kemudian saya berkesempatan mengunjungi perkebunan kopi di Banyuwangi pada pertengahan 2002 silam saat masih bekerja di koran The Asian Wall Street Journal. Dari Pak Lastowo saya ketahui bahwa kopi luwak bukan mitos tapi nyata adanya.
‘Kopi yang berasal dari kotoran luwak adalah kualitas yang terbaik karena luwak hanya makan biji kopi yang betul-betul matang. Ketika biji-biji ini keluar sebagai kotoran luwak ia masih dalam keadaan tertutup dan kering. Jadi tetap aman untuk dikonsumsi,’ katanya meyakinkan.
Ia pun menambahkan kopi Luwak ini hanya dihidangkan kepada tamu tertentu misalnya bos perkebunan di sini. Alasannya sederhana saja: jumlahnya amat terbatas dan rasanya sungguh nikmat.
Terbatas karena jumlah luwak mulai berkurang. Ketika itu kami sampaikan kalau kopi luwak di Amerika dijual dengan harga yang sangat tinggi. Kompas baru-baru ini menyebut harga kopi luwak per 500 gram bisa mencapai Rp 9,5 juta rupiah.
Agustus 2008 saya agak kaget ketika seorang narasumber lama (pernah kami wawancarai saat masih reporter di koran The Asian Wall Street Journal) menelepon untuk memberitahu bahwa mereka sedang panen kopi luwak.
Bapak yang wajahnya pun saya sudah tak ingat lagi ini pejabat perkebunan kopi milik negara (PTPN) di Banyuwangi di Jawa Timur, tetapi bukan Pak Lastowo tadi.
“Apakah Ibu masih tertarik meliput panen kopi luwak?” katanya. Saya jelaskan bahwa saat ini saya tak lagi bekerja. Dia mafhum, buktinya masih terus saja bercerita.
Setelah telepon itu ingatan saya seketika kembali ke tahun 2002 silam waktu kami berkunjung ke perkebunan itu. Kala itu mereka sedang tidak panen sehingga kami pun gagal mencicipi kopi langka tersebut. Sayang sekali…Kalau tidak sedang panen sulit sekali melihat seperti apa dan bagaimana proses pembuatan kopi luwak.
Untuk sekadar membayar rasa penasaran, kami bahkan gagal menemukan seekor luwak pun di sana. Walaupun memang melihat juga ceceran kotoran luwak berbiji kopi di tanah. Kata pekerja di sana, luwak atau musang senang meninggalkan ‘kotorannya’ di tempat yang relatif bersih dan terbuka.
Karena tak bisa menyaksikan sendiri proses terciptanya kopi luwak saat itu kami pun bergumam, ’Ah…berarti kopi luwak hanya mitos.’ Kami kembali ke Jakarta tanpa bukti. Alhasil artikel yang kami buat dianggap tak layak muat oleh editor.
Kopi luwak langka betul sehingga harganya mahal. Seorang teman di Amerika bilang harga per kilonya di sana jauh lebih mahal dibanding harga emas. Jadi mungkin kopi termahal di dunia.
Di Amerika Serikat pembeli utamanya, menurut dia, kebanyakan orang Jepang dan Amerika. Di toko khusus yang menjual ‘kopi langka’ saja mereka bisa memperolehnya.
Sudah begitu lama saya tak mendengar ada kopi luwak yang dipanen. Tak heran kalau telepon pejabat perkebunan tadi kontan mengagetkan saya. Pertanyaan bagaimana mereka bisa panen kopi luwak saya lontarkan ke dia.
Jawabnya? Ternyata mereka telah menternakkan luwak sampai ratusan ekor. Aha…! Mengapa baru sekarang itu dilakukan? Toh dulu kami sudah pertanyakan mengapa perkebunan itu tidak menernakkan saja luwak agar bisa menghasilkan kopi luwak kualitas terbaik dalam jumlah besar.
Waktu itu jawaban mereka: itu tak dilakukan karena khawatir kawanan luwak akan berkembang biak tak terkendali sehingga sulit mengurusnya jika tidak sedang panen kopi. Biaya pemeliharaan luwak tak akan sebanding dengan hasil panenannya, tambahnya.
Biji kopi luwak
Karena luwak tak ditangkarkan, waktu itu mereka sulit memprediksi jumlah kopi luwak yang dapat diproduksi setiap musim panen kopi tiba.
“Kopi ini menjadi langka karena produksinya benar-benar bergantung pada jumlah luwak yang memakan kopi saat panen. Luwak ini hidup liar. Datang hanya saat panen.
Jadi sulit memperkirakan produksi per tahun. Tapi rata-rata kami dapat memproduksi 200 kilogram kopi luwak dari total area perkebunan sekitar 764 hektar,’ kata pejabat tersebut ketika kami wawancarai pada 2002 silam.
Ketakpastian itu yang membuat mereka tak berpikir menjual kopi luwak secara komersil. “Kami suguhkan hanya untuk tamu-tamu khusus, terutama para pejabat perkebunan. Sisanya, sedikit, kami jual ke produsen kopi swasta di Jawa untuk digunakan sebagai essense kopi yang akan mereka produksi.”
Tapi kini karena nilai jual kopi luwak yang tinggi, banyak produsen kopi yang mulai menangkarkan luwak untuk ‘dikerahkan’ saat panen kopi. Sebagian orang percaya kopi luwak yang berasal dari luwak yang ditangkarkan memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi luwak dari luwak liar.
‘Rasanya berbeda dan itu sebabnya harga kopi luwak dari luwak liar lebih mahal,’ kata seorang petani kopi di Lampung.
Kopi luwak ini sempat membuat penasaran kawan Amerika saya tadi. Ia ingin tahu seluruh proses sampai kopi luwak terwujud. Ini mencakup bagaimana kopi mulai ditanam sampai buahnya dipetik,.
Lalu bagaimana luwak mengkonsumsinya, seperti apa habitat hewan ini di sana, cara perkebunan dan penduduk lokal mendapatkan biji-biji kopi dari luwak, proses produksi biji kopi ‘spesial’ itu, hingga proses akhir yaitu packaging dan delivery.
Semakin banyak informasi yang ia dapat di internet tentang kopi yang satu ini kian penasaran dia. Sayang harga jual yang tinggi membuat ia sulit menjual kopi luwak di Amerika.
Kata kawan saya yang keturunan Taiwan ini, masyarakat di sana ternyata belum merasa perlu membayar kopi yang berasal dari kotoran hewan dengan harga tinggi, maka ia pun urung melanjutkan rencana bisnisnya.
Luwak-luwak hanya memakan kopi yang matangnya betul-betul pas, kata seorang kepala kebun saat menemani kami mencari-cari kotoran luwak berbiji kopi, waktu itu. Memang yang saya saksikan di kotoran luwak saat itu adalah biji kopi yang sudah matang betul (berwarna amat merah).
Kopi luwak, menurut mitos yang berkembang di Indonesia, dapat meningkatkan vitalitas. Rasanya sendiri, kata orang yang pernah menyeruput, unik. Artinya, tak dapat ditemukan pada kopi jenis mana pun. Tak mengherankan tentunya. Toh ia dari biji kopi yang telah dicerna di perut luwak.
Anda ingin mencoba rasanya? Silakan saja. Agar tak menunda-nunda, sebaiknya tak perlu dengan banyak pertimbangan seperti para penikmat kopi di Amerika. Mereka sampai sekarang, misalnya, masih saja memperdebatkan apakah cukup higenis mengkonsumsi kopi yang notabene berasal dari (biji kopi) kotoran binatang.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program pameran dari rumah yang diikuti seniman dan perupa dari berbagai daerah diharapkan membawa snow ball effect dan memberikan dampak positif lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif subsektor seni rupa.
Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Josua Simanjuntak dalam webinar dengan tema Bincang Kreatif Seni Rupa Indonesia Pameran Dari Rumah, Jumat (6/6/2020) mengatakan, program ini diharapkan tidak berhenti pada stimulus pembuatan karya saja.
” Kami harapkan jadi stimulus dan bisa dikelola lagi lebih jauh, sehingga menciptakan snow ball effect yang bisa dirasakan lebih banyak lagi bagi pelaku kreatif khususnya subsektor seni rupa,” ujar Josua.
Menurut dia, dari karya tersebut nantinya bisa dimonetisasi, sehingga bisa membantu ekosistem seni rupa lainnya. Pihaknya terus memikirkan bagaimana karya ini bisa membantu ekosistem para pekerja di subsektor seni rupa. Hal inilah sebenarnya yang menjadi tujuan utama dari kegiatan pameran dari rumah.
Pameran dari rumah merupakan stimulus yang diberikan Kemenparekraf/Baparekraf kepada perupa atau pelaku ekonomi kreatif di subsektor seni rupa agar tetap aktif membuat karya dari rumah di masa pandemi COVID-19.
“Stimulus ini berupa tantangan bagi para perupa untuk tetap menghasilkan karya dari rumah. Sebanyak 150 karya dari seniman yang telah terpilih dan dikurasi nantinya akan diberikan uang tunai. Hasil karya mereka juga akan ditampilkan melalu media sosial dan dicantumkan harga dan perupa yang membuatnya, sehingga nantinya dapat diapresiasi oleh masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pegiat Ekonomi yang juga salah satu kurator Pameran Dari Rumah, Irawan Karseno menjelaskan antusias para perupa untuk ikut program pameran dari rumah sangat besar.
Tercatat ada 500 karya lebih dari perupa yang masuk. Karya-karya tersebut nantinya terpilih 150 yang akan mendapatkan stimulus dari pemerintah. Hasil karya dari para perupa tersebut diharapkan bisa menyajikan semacam galeri secara daring.
Galeri ini bisa memberikan informasi, sejarah, hingga harga dari karya-karya perupa. Sehingga nantinya bisa dilihat secara lebih luas lagi oleh masyarakat. Bahkan mungkin bisa diapresiasi dan menjadi koleksi bagi para kolektor seni rupa.
“Kami berharap ke depan pemerintah bisa membuat platfom Galeri Indonesia berbasis online. Seni rupa tidak hanya produk, seni rupa memiliki saudara kembar yang namanya ilmu pengetahuan seperti sejarah-sejarah dan informasi lainnya. Sehingga menjadi pengantar bagi pengunjung yang ingin melihat karya-karya perupa, ujarnya.
Dalam meresponse konsep galeri daring, Josua juga menambahkan “Salah satu yang menjadi tantangan adalah menciptakan experience yang serupa bagi para potensial kolektor saat datang ke galeri daring ini. Ujungnya upaya ini harus dapat menghasilkan transaksi yang berkontribusi kepada ekonomi nasional.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Startup jaringan hotel budget India, OYO yang bernilai Rp 137 triliun, menjadi salah satu yang terdampak virus COVID-19. Untuk keluar dari krisis, hotel ini membuat berbagai model bisnis dan perubahan strategi di pasar seperti India, Amerika Serikat, dan China.
Pendiri dan CEO OYO Ritesh Agarwal membahas perubahan ini dengan restrukturisasi yang menyakitkan dan pandangannya terhadap bisnis perusahaan di tiga pasar penting ini selama diskusi Jumat dengan pendiri dan CEO Skift, Rafat Ali.
Agarwal mengatakan di beberapa pasar ini jaringan budget hotelnya ada yang sudah bisa bermitra baik dengan para pemilik hotel, namun tidak dalam hal pengalaman pelanggan. Di lain pasar, pelanggan mendapat pengalaman yang baik tetapi di sisi lain kerjasama dengan mitra malah gagal.
Sementara di lokasi lain, pihaknya bisa memuaskan mitra OYO maupun pelanggan sehingga perusahaan bisa melakukan pelayanan lebih baik untuk kedua belah pihak .
Di India, beberapa mitra marah karena perbedaan hasil akunting sehingga OYO telah memperpanjang periode konsultasi dan melatih para manajer pengembangan bisnis untuk berbicara langsung dengan pemilik, bukan dengan akuntan OYO.
Di Amerika Serikat dan China, OYO telah membuat penyesuaian terhadap kebijakan sebelumnya yang secara agresif menawarkan jaminan pendapatan minimum karena kepentingan pemilik aset dan penyesuain OYO kadang-kadang “tidak sepenuhnya selaras,” kata Agarwal.
Di China, di mana hunian sekarang mendekati 45 persen kecuali dimasa pandemi CIVID-19 yang hancur di bagian tenggara, pihaknya memfokuskan kembali pada 400-450 kota dari strateginya semula sebelum wabah.
Perusahaan telah melalui beberapa restrukturisasi, termasuk merumahkan sekitar sepertiga dari staf di AS pada Januari dan ribuan karyawan secara global pada awal April. Agarwal mengatakan bahwa perusahaan harus mengakui bahwa pada tahun 2019 telah menambah terlalu banyak karyawan, dan menyadari bahwa untuk mendidik mereka tentang budaya dan nilai-nilai OYO membutuhkan waktu.
Tentang cuti massal bulan April lalu, dia berkata: “Tidak ada pilihan yang baik. Itu adalah salah satu pilihan yang salah. ” tegasnya
Jaringan hotel OYO di Indonesia akhir tahun lalu menyatakan akan ekspansi ke 100 kota di Indonesia. Resmi masuk tahun 2018, Country Head OYO Indonesia, Rishabh Gupta dalam jumpa pers Juli 2019 menyebut dalam setahun OYO sudah berada di 80 titik kota dengan lebih dari 720 jaringan hotel dan 20.000 kamar.
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:Kondisi penularan COVID– 19 di DIY cenderung landai, namun Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak ingin menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal) dengan tergesa-gesa. Seluruh komponen terutama pelaku bisnis dan pariwisata harus memiliki persiapan yang matang untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan terburuk pada penerapan sistem new normal.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, S.H., M.Ed. mengungkapkan, untuk memasuki tatanan new normal, seluruh asosiasi serius menyusun draft protokol, SOP dan CHS (Cleans, Health and Security). Saat ini tidak hanya masalah kesehatan saja yang di persiapkan, namun juga kebersihan dan keamanan. Dalam minggu ini, target susunan SOP terhadap pengelolaan bisnis dan wisata akan selesai digarap untuk kemudian disimulasikan. Setelah itu akan dilakukan evaluasi, baik oleh wisatawan, pengelola mau pun masyarakat luas agar sistem bisa dilakukan dengan baik.
“Sekarang kita serius mempersiapkan segala sesuatunya, dan nanti kalau memang sudah matang semuanya dan sudah ada rekomendasi dari Gugus Tugas COVID – 19, maka kita akan memulai new normal aktivitas pariwisata dan bisnis dengan sangat siap,” tutup Singgih.
SOP Omah Kecebong
Protokol Omah Kecebong, dimasa transisi, pengunjung mendapat sovenir masker OmKeCe
Merespon keputusan pemerintah, stake holder pariwisata Jogyakarta pun bergerak cepat di objek wisata resto dan outbound Omah Kecebong Holticultura, Mlati, Cebongan contohnya. Protokol COVID-19 diberlakukan sejak reservasi, masuk area, di restoran, di area beraktivitas dikawasan Omah Kecebong dan protokol khusus dalam atraksi berkeliling kampung naik limousine gerobak sapi, begitu juga untuk atraksi Jemparingan (memanah).
“Bajingan (kusir gerobak) kita pakai faceshield, penumpang hanya empat orang,” ungkap penggagas rumah budaya Omah Kecebong, Hasan Setyo Prayogo.
Omah Kecebong menyesuaikan protap COVID-19 baik dari UNWTO, WHO mau pun Satgas COVID- 19 Indonesia dengan nilai- nilai tradisi masyarakat Jawa.
“Pariwisata itu kan respek kearifan local,” ungkap Hasan sembari menjelaskan uji coba protap ala Omah Kecebong dilaksanakan selama masa transisi. Ketika memasuki tatanan kehidupan baru, Omah Kecebong sudah siap menjalaninya.
Pesonna Jogya
Jejaring hotel Pesonna Hotel Yogyakarta,– Pesonna Hotel Tugu dan Pesonna Hotel Malioboro– juga sudah mulai menerapkan standard operational procedure (SOP) dan protokol kesehatan yang baru.
“Kami mengantisipasi dengan beberapa langkah pencegahan penyebaran virus, serta regulasi untuk menyambut kembali tamu agar dapat menginap di hotel kami dengan nyaman dan aman. Apalagi Yogyakarta menjadi salah satu kota percontohan new normal dengan mulai dibukanya beberapa tempat wisata pada awal Juni,” ujar Cluster General Manager Pesonna Hotel Yogyakarta Tommy Agung Kartika.
Menyiapkan kamar di Pesonna Hotel Tugu
Beberapa regulasi yang diterapkan oleh kedua hotel adalah dengan penggunakan masker wajah, face shield dan sarung tangan oleh karyawan, penyemprotan cairan disenfektan serta pembersihan sudut hotel dan permukaan secara regular dan adanya kewajiban tamu untuk selalu mencuci tangan dan menjaga jarak aman.
Penyemprotan disenfektan juga dilakukan pada saat tamu check-out dari kamar, sehingga ketika tamu lain datang, kamar dalam keadaan steril. Pengecekan suhu dengan menggunakan thermometer gun juga dilakukan pada saat tamu memasuki area hotel.
Regulasi juga diperuntukan untuk menjaga kesehatan dan higienitas karyawan, dengan selalu mencek suhu karyawan pada saat memasuki area hotel, mencuci bersih baju karyawan, penetapan standar kebersihan untuk perlengkapan karyawan, serta pengukuran kadar oksigen dalam darah untuk para karyawan menggunakan alat oximeter. Selain itu diterapkan juga strategi sales dan marketing yang lebih mengutamakan teknologi digital dan telemarketing sehingga mengurangi kontak dengan orang lain.
Penerapan new normal diharapkan akan mampu memberikan perubahan pada pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik dari sebelum pandemi. Namun, para pelaku bisnis juga harus bisa memperhitungkan dengan matang untuk membuka kembali usahanya.
“Kita harus hati-hati sekali. Harus cermat. Perlu pemahaman yang serius, agar ketika new normal diberlakukan, jangan sampai ada periode kedua COVID– 19,” tegas Sri Sultan, dalam pertemuan dengan Asosiasi Bisnis DIY untuk mempersiapkan new normal, di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. ***
NEGARA Kesatuan Republik Indonesia, dengan 17.504 pulau, secara de facto terdiri dari 34 provinsi. Di dalamnya ada 416 kabupaten dan 98 kota atau 7.024 daerah setingkat kecamatan dengan 81.626 daerah setingkat desa. Populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018. Mari kita tunggu pengumumam hasil sensus penduduk 2020 yang dilakukan secara online — hasilnya akan diumumkan sebelum tahun 2020 berakhir—.
Berita hari ini (terbitan 6 Juni) yang saya baca, dari 34 provinsi, terekam 15 provinsi di Indonesia tidak terjadi penambahan kasus positif COVID-19 (data per 5 Juni 2020). Berarti, hampir 50% provinsi di Indonesia sudah tidak ada penambahan kasus positif baru. Kabar baik.
Bagaimana dengan kepariwisataan setelah era pandemi? Kalau di kumpulkan sudah ada ratusan prediksi perilaku dan bisnis yang akan berkembang berkenormalan baru dengan pemikiran life after COVID-19
Di dalam bukunya berjudul “Kepariwisataan Berkelanjutan Rintis Jalan Lewat Komunitas”, tertuang pemikiran pak I Gede Ardika, Menteri Pariwisata 2000 – 2004.
Pak Ardika mengulas bagaimana pembangunan pariwisata di Indonesia yang bertumpu pada konsep, prinsip-prinsip, serta cita-cita dan tujuan sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional.
Mulai ulasan makna dan hakikat kepariwisataan, falsafah kepariwisataan yang berakar pada kearifan lokal. Serta contoh konkrit dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Yogyakarta dan Bali. Sebagai ilustrasi, Pak Ardika mencontohkan sejumlah desa wisata yang berhasil menerapkan nilai-nilai dasar dalam upaya mensejahterakan kehidupan mereka di antaranya; Desa Wisata Pentingsari di kaki Gunung Merapi Daerah lstimewa Yogyakarta dan Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali.
Pak Ardika melalui buku ini juga menyampaikan bahwa nilai-nilai dasar yang dijadikan sebagai acuan (di antaranya dalam UU Kepariwisataan No.10 Tahun 2009 yang telah memasukan Kode Etik Kepariwisataan Dunia) dalam kepariwisataan nasional itu bukan ilusi kosong semata. Prinsip-prinsip ini telah diterapkan dalam mengembangkan kepariwisataan pedesaan berbasis masyarakat di Indonesia.
Alternatif jawaban dalam mewujudkan cita-cita itu adalah kepariwisataan berbasis komunitas, yaitu masyarakat sebagai pelaku.
Insight kepariwisataan adalah alat pembangunan yang strategis dan inklusif. Kepariwisataan menyentuh beragam aspek sekaligus menciptakan ekosistem yang membutuhkan keterlibatan seluruh kelompok masyarakat. Cita-cita dan tantangan kepariwisataan di Indonesia adalah mewujudkan kepariwisataan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan dari sisi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
Lalu apa panduan dan peran UNWTO dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia yang erat kaitannya dengan Prosedur Tetap (Protap) COVID-19 standar WHO untuk pelayanan kesehatan?
Sampai disini, pembahasan akan menjadi sangat serius dan saya serahkan ke tenaga ahlinya saja. Saya hendak alih fokus, membawa sidang pembaca ke prediksi masa depan yang membawa kita ke tatanan baru dalam bersosialisasi.
Berdasarkan dari begitu banyaknya informasi tertulis yang saya baca, melihat gambar juga menonton video, banyak tata cara ditawarkan, kemudian membawa saya kilasbalik ke masa lalu. Saya generasi yang mengalami jamannya Indonesia susah tahun 70 – 80an. Tahun 2020 ini kok saya rasakan ada kemiripan. Mungkin ada diantara sidang pembaca yang satu generasi dengan saya dan bisa menambahkan informasi.
Di Sekolah Dasar waktu itu, saya mendapatkan pembagian sumbangan jatah susu bubuk dalam kantong plastik bening yang tidak ada mereknya. Katanya –waktu itu– yang dibagikan adalah susu kedelai. Juga pengganti nasi di rumah namanya bulgur. Saya sudah lupa seperti apa rasa bulgur itu.
Maka dengan banyaknya wacana aturan baru dalam bersosialisi yang sedang dibuatkan payung hukum, maka saya mikirnya, ini circle of life. Pengulangan masa lalu sesuai jamannya.
The time is always right to do what is right. Masanya senantiasa tepat untuk melakukan hal-hal yang benar. Di masa tahun 70 – 80 an itu, mobil dan kendaraan umum tidak ber-AC. Kita menikmati sirkulasi udara natural. Apa bedanya dengan rekomendasi saat ini yang mengajari kita untuk mendapatkan sirkulasi udara sehat dengan membuka pintu dan jendela di waktu-waktu yang memungkinkan. Juga mengepel lantai dengan desinfektan.
Tentang Kuliner
Di jaman saya, restoran juga jarak antar meja nya cukup jauh. Di celah tempat duduknya bisa papasan dua orang dengan berjalan tegak, tidak pakai memiringkan atau mencondongkan tubuh. Bahkan ada restoran yang mememasang sekat antar meja, menjaga privasi.
Dan apa rekomendasi dari protap COVID-19 sekarang?
Ya, mengatur meja restoran berjarak 1.5 – 2 meter. Sehingga kapasitas tempat duduk berkurang sekitar 50% dibandingkan pengaturan sebelum pandemi COVID-19 mewabah.
Kemudian dari edaran Tas Siaga COVID-nya BNBP, saya jadi ingat, kalau beli makanan dari gerobak pinggir jalan di sepanjang jalan Senopati Jakarta. Makannya di dalam mobil masing-masing dan bisa dipastikan setiap pembeli menyiapkan alat makan sendiri.
Di masa kini, kita yang sudah kena globalisasi, gerobak makanan kita sebut Food Truck. Karena yang pedagang di trotoar kaki lima sekarang menggunakan bagasi mobilnya untuk menata makanan jualannya.
Satu lagi, bahan makanan yang dianjurkan adalah organik dan sebisanya menghindari makanan cepat saji.
Ya, di masa lalu, — belum jamannya berbagai macam obat-obat kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan. Pertumbuhan dan kesuburan alami dengan menggunakan pupuk kandang.
Bioskop
Yang menarik adalah bioskop. Yang punya mobil akan ke Drive-In Cinema dan yang lainnya akan ke gedung bioskop luar-ruang misbar singkatan dari gerimis bubar di masa kecil saya. Sekarang disebut nobar kependekan dari nonton bareng. Ini dunia hiburan yang akan trendi di banyak kota besar.
Pelesir
Yang saya bayangkan, pangsa pasar pertama melakukan perjalanan pasca COVID adalah keluarga-keluarga kecil. Dengan mobil-mobil yang cukup untuk ber-enam. Mobil pariwisata adalah mobil terbuka dan jenis-jenis mobil ber-AC yang muat untuk enam penumpang dengan sekat antara sopir dan penumpang. Seperti limousine service dan taxi di beberapa negara Eropa.
Di jaman saya tahun 70 – 80an, bahagianya naik colt diesel itu tanpa AC pulang-pergi Malang – Surabaya atau piknik bersama keluarga ke tempat-tempat lain berjarak tempuh sekitar empat jam.
Kemudian traveling menjadi hal yang mewah dan mahal. Ngurus surat ini itu dan ngisi form ini itu termasuk harus suntik vaksin sesuai aturan destinasi yang dituju. Apa bedanya dengan wacana dan peraturan yang sedang disusun saat ini?
Lebih jauh lagi, bagaimana dengan cara kerja dan pemikiran marketing industri perhotelan dan pariwisata saat ini dan beberapa bulan ke depan menghadapi COVID-19 under control dan program recovery-nya?
Faktanya pangsa pasar tidak mendukung secara global. Penawaran yang sedang beredar adalah Cost Price Long Staying, dan gencar dengan Pay Now Stay Later.
Semua strategi ini tentunya telah diperhitungkan dengan matang oleh menejemen perusahaan masing-masing. Mode bertahan hidup. Ini semacam aksi yang sama dimana-mana, see of similarity.
Akhirnya, bagaimana rencana masa depan kepariwisataan termasuk aksi jangka pendek dan panjangnya?
Bukan lagi inovasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam persiapan meluncurkan kembali perjalanan dan pariwisata berkelanjutan dunia. Melainkan membuka akses lintas batas seperti sebelumnya dan melonggarkan segala peraturan rumit yang disiapkan oleh masing-masing pemerintahan di seluruh dunia. Dengan prioritas jaminan kesehatan untuk semua tingkat kemampuan ekonomi wisatawan di semua destinasi tetap di urutan nomer satu dan terjangkau.