Industri Pariwisata Didorong Tingkatkan Daya Saing Hadapi Normal Baru

this formate

Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi , Kemenparekraf/Bekraf saat diskusi dengan PR Newswire (Foto: Kemanparekraf).

AKARTA, bisniswisata.co.id:  Pandemi COVID-19 dipastikan akan membawa perubahan besar terhadap minat wisatawan dalam berwisata yang nantinya akan lebih mengedepankan aspek keamanan dan kesehatan, kata Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi , Kemenparekraf/Bekraf, hari ini.

Berbicara dalam diskusi “New Normal di Industri Travel/Tourism” yang digelar PR Newswire, dia mengatakan, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya harus mampu beradaptasi, menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing sebagai respons terhadap perubahan.

“Akan terjadi perubahan perilaku yang mendasar dari wisatawan. Nantinya wisatawan akan lebih mengedepankan faktor kebersihan, kesehatan dan keselamatan serta keamanan sehingga industri harus dapat beradaptasi untuk dapat meyakinkan konsumennya bahwa fasilitas mereka dapat memenuhi factor dimaksud,” kata Agustini Rahayu.

UNWTO bahkan menyatakan kini saatnya untuk melakukan peninjauan ulang terhadap standarisasi pariwisata untuk menghadapi tuntutan kebutuhan itu melalui pedoman global pembukaan kembali fasilitas pariwisata yang mereka sebut Global Guidelines to restart tourism. Organisasi itupun telah merilis pedoman yang dijadikan acuan industri pariwisata terkait perubahan perilaku wisatawan secara umum.

Dari sisi akomodasi misalnya, preferensi wisatawan akan berubah dari yang semula mencari akomodasi yang menawarkan harga promo/budget hotel ke hotel-hotel yang mengutamakan aspek higienitas. Kemudian dalam transportasi, penerbangan langsung atau maksimum 1 kali transit akan menjadi preferensi utama wisatawan.

Aktivitas wisatawan juga akan lebih kepada aktivitas outdoor dengan pilihan udara sejuk, self-driving, dan private tour. Serta yang tidak kalah penting adalah penguatan sumber daya manusia yang berdasar kepada protokol keamanan dan higienitas.

“Industri mungkin diawal akan melakukan penyesuaian harga karena harus memenuhi standar yang dibutuhkan dan wisatawan akan membayar. Meski nantinya seiring berjalan waktu juga akan ada penyesuaian dari sisi bisnis,” kata Agustini Rahayu.

Mengantisipasi hal tersebut, Kemenparekraf/Baparekraf dikatakan Agustini Rahayu, telah menyiapkan program Cleanliness, Health and Safety (CHS) yang akan jadi pedoman bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Namun protokol tersebut nantinya akan dikeluarkan melalui Peraturan/Keputusan Menteri Kesehatan dalam waktu dekat. Protokol kesehatan ditegaskannya memang harus diharmonisasikan dengan Kementerian/Lembaga lain agar tersinergi baik.

Setelah itu pihaknya baru akan melakukan pendampingan kepada industri termasuk training pekerja pariwisata di setiap destinasi dan diaplikasikan. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat final agar kita bisa segera disosialisasikan,” kata Agustini Rahayu.

Director of Marketing Communications The Westin Resort Nusa Dua Bali, Dewi Anggraini mengatakan, pihaknya telah bersiap untuk memasuki tatanan kenormalan baru pariwisata.

Selama ini pihaknya benar-benar mempersiapkan dan menjadikan situasi yang lesu akibat COVID-19 ini sebagai tantangan. The Westin Resort Nusa Dua Bali telah menyiapkan protokol yang akan diterapkan di setiap aspek. Mulai dari lobby, kamar, restoran, hingga tempat pertemuan (MICE).

“Kami sudah melakukan set up untuk new normal dan beberapa hal yang harus diperhatikan. Semua itu secara intens kami komunikasikan ke publik sehingga kami harapkan bisa menjaga kepercayaan di mata masyarakat,” kata Dewi.

Untuk itu pihaknya berharap implementasi normal baru dapat segera berjalan dan industri kembali bergeliat.

 

Menparekraf Siapkan Turunan Protokol Kesehatan Bentuk Video & Buku Panduan.  

this formate

Menparekraf Whisnutama Kusubandio ( Foto: Kemenparekraf/Bekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio memastikan, destinasi wisata yang akan rebound atau melesat lebih cepat adalah yang telah dipercaya publik siap menjalankan protokol kesehatan.

Pihaknya  juga telah menyiapkan turunan dari protokol tersebut. Disiapkan baik dalam bentuk video ataupun buku panduan, sehingga akan mudah bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk melaksanakan kegiatannya,” kata Wishnutama.

Protokol ini nantinya dapat diterapkan di semua lini pariwisata dan ekonomi kreatif. Pihaknya tengah menyiapkan protokol dan saat ini sedang dilakukan harmonisasi dari semua kementerian yang tangani bidang-bidang tertentu untuk nantinya diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jelas Wishnutama

Berbicara  dalam web seminar (webinar) bertajuk Kebangkitan Parekraf di Era Normal Baru, yang diselenggarakan oleh DPP Prajaniti Hindu Indonesia, Kemarin, hadir pula  Ketua Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha dan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad.

Menparekraf menjelaskan pembuatan protokol di industri pariwisata dilakukan tidak terburu-buru dan tergesa-gesa. Hal ini sesuai dengan arahan presiden yang meminta pembuatan protokol memperhatikan semua aspek. 

“Jadi nanti pada saatnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dibuka bisa produktif dan tetap aman dari Covid-19. Itu hal yang mendasar dalam arahan presiden,” kata Wishnutama.

Protokol kenormalan baru ini terfokus pada aspek kebersihan, kesehatan, dan keamanan yang nantinya sebagai panduan bagi seluruh pemangku kepentingan industri pariwisata dalam melakukan remodelling atau penyesuaian.

Sementara itu, Anak Agung Suryawan Wiranatha, mengatakan  saat ini sudah saatnya untuk kembali ke tatanan hidup normal, namun ditambah dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang baik.

“Dan yang penting adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) termasuk pengawasan yang baik di lapangan dalam implementasinya,” katanya.

Ia pun mengatakan, banyak industri, terutama di Bali menantikan pengesahan protokol di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif oleh Kemenkes karena  pariwisata menjadi penunjang utama dalam perekonomian Bali, jelasnya.

” Jadi setelah disahkan bisa segera dilakukan sosialisasi, simulasi, diterapkan hingga nanti dilakukan penilaian dan evaluasi, apakah benar teman-teman teman pengusaha di Bali bisa melaksanakan dengan benar,” kata Anak Agung Suryawan Wiranatha, 

 

Inilah Pulau Imut dengan Populasi Terpadat di Dunia

this formate

Pulau imut padat yang penuh kedaiamain (foto: Escape)

KOLOMBIA, bisniswisata.co.id: Ada sebuah pulau imut di tengah perairan Karibia dihuni hanya sekitar 1.200 orang. Luas pulau yang berada sekitar dua jam dari negara Kolombia ini persisnya hanya 0,012 kilometer persegi, atau sekitar dua kali lapangan sepakbola. 

Pulau Santa Cruz del Islote menjadi pulau terpadat di dunia, dan populer di kalangan para turis. Keterbatasan lahan memaksa penduduknya untuk betul-betul memanfaatkan ruang yang ada. Meski padat, hampir tidak ada laporan kejahatan di pulau ini. Tidak ada konflik dengan tentara. Penduduk di sini tidak pernah cemas terkait tindak kriminal.

Pulau di teluk Morrosquillo ini baru ditemukan 150 tahun lalu. Legenda menyebut, penduduk pertama yang tinggal di sini adalah para nelayan yang kemalaman setelah berlayar menangkap ikan. Awalnya mereka hanya singgah dan bermalam. Namun kemudian mereka menyadari bahwa pulau tersebut tidak ada nyamuk. Akhirnya mereka putuskan untuk tinggal permanen di pulau tersebut. 

Kini, penduduknya bangga menyebut pulau tersebut sebagai rumah mereka. 

https://www.youtube.com/watch?v=G63TF6OMa_8

Sumber: thegreatbigstory

Di pulau ini memang tidak ditemukan nyamuk. Warga setempat percaya lingkungan yang bebas nyamuk itu karena di pulau itu tidak ada hutan bakau dan pantai.

Meski populer di kalangan para turis, pulau ini bukanlah tempat yang pas untuk tinggal berlama-lama menghindari hiruk pikuk kota. Hampir tidak ada ruang bagi wisatawan untuk menetap. 

Kebanyakan turis akan bermalam di Hotel Punta Faro di Pulau Mucura, yang berdekatan dengan Pulau Santa Cruz del Islote. Mereka biasanya datang ke Santa Cruz dengan menyewa speed boat dan menjelajah pulau ini beberaja jam saja.

Santa Cruz del Islote dihuni oleh 18 keluarga dengan 97 bangunan yang terdiri dari sekolah, restoran, dan pelabuhan. Sebagian besar penduduk di pulau yang 65% penduduknya adalah para anak muda itu bekerja sebagai nelayan, membuka restoran dan sebagian lagi menjadi tour guide untuk wisatawan.

Selintas, jika dilihat dari kejauhan, orang akan sulit memastikan apa sesungguhnya Santa Cruz del Islote. Pulau ini seolah menyembul dari dasar laut dan mengapug-apung. 

 

New Normal Raja Ampat Mampukah Wujudkan Wisata Ekologis dan Eksklusif ?

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Rencana Induk Pariwisata Raja Ampat adalah  wujudkan wisata ekologis dan di desain sebagai tujuan wisata eksklusif ”  kata Yusdi Lamatenggo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat Papua Barat, hari ini.

Untuk itu , Raja Ampat tengah bersiap memasuki era New Normal pariwisata. Pemda Raja Ampat menggelar webinar untuk mendapatkan masukan dari para stakeholder pariwisata sehingga saat wisatawan kembali datang ke Raja Ampat sudah ada kesepakatan bagaimana seharusnya mengelola kawasan.

” Masukan kami butuhkan agar pengelolaan pariwisata Raja Ampat lebih berkualitas karena hutannya merupakan hutan lindung dan lautnya adalah kawasan konservasi sehingga saatnya bersama para mitra kita pikirkan daya dukungnya,” kata Yusdi

Acara yang dipandu Riyanni Djangkaru ini juga menghadirkan Ikram M Sangaji, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasionsl Kupang, Kementrian Kelautan dan Perikanan ( KPP)

Hadir pula sebagai nara sumber Mark Endman Phd, VP Marine Asia-Pacific Field Division Conservation International serta Ary Suhandi, Direktur Indonesia Ecotourism Network ( INDECON)

Yusdi menyampaikan setidaknya 3 poin utama perubahan pariwisata di Raja Ampat yaitu akan ada pengecekan wisatawan dengan protokol kesehatan di pintu masuk utama Raja Ampat baik di pelabuhan maupun bandara Waisai.

Kedua adalah setiap wisatawan juga wajib menunjukkan surat bebas COVID-19. Lalu yang ketiga, Raja Ampat akan melakukan digitalisasi pada sistem reservasi baik di hotel, restoran, maupun kawasan daya tarik wisata.

Berbagai hal akan disiapkan guna menyambut kembali datangnya wisatawan, baik lokal maupun mancanegara di tatanan baru yang disebut New Normal tapi bukan berarti Raja Ampat segera dibuka untuk wisatawan kembali, ujarnya.

Webinar yang diikuti 215 peserta a.l mantan menteri Fadel Muhammad yang terakhir jadi anggota DPR RI periode 2014-2019, Emmy Hafild, aktivis lingkungan, komunitas, para tour operator dan HPI ini sepakat pandemi global justru memberi hikmah pada kondisi alam yang setempat yang jauh lebih baik.

Acara webinar dipandu Riyanni Djangkaru, mantan host acara TV Jejak Petualang

Ikram M Sangaji mengatakan tanpa ada COVID-19, perlakuan terhadap destinasi wisata memqng seharusnya menerapkan tatanan baru yang sekarang di sebut New Normal yang mengutamakan CHS.

” Karena obyek wisatanya, tuan rumahnya dan wisatawannya harus menerapkan higienutas dan keamanan maka tatanan baru ini harus disertai juknis ( petunjuk teknis) dan detil lainnya supaya penedapan di lapangan sesuai dengan protokol kesehatannya,”

Tak cukup sampai disitu karena dukungan politis, birokrat dan legislatif diperlukan jika mau New Normal berhasil diterapkan termasuk membangun wisata ekologis yang eksklusif dan lestari alam lingkungannya.

“Entry point ke Raja Ampat nantinya otoritas pelabuhan yang pegang peran penting apakah jaga jarak bisa diterapkan, apakah sistem satu pintu bisa diterapkan karena tim terpadunya dulu yang harus kompak,” kara Ikram.

Ary Suhandi mengungkapkan bahwa mengelola pariwisata di pulau kecil seperti Raja Ampat memang jauh lebih mahal karena akses dan terbuka dengan banyak kawasan sehingga kuncinya memang di lembaga pengelolanya.

” Rencana sistem satu pintu dan digitalisasi sudah baik tinggal bagaimana menata kalangan pebisnisnya karena dalam 20 tahun terakhir bagaimana daya dukung Raja Ampat dieksploitasi,” kata Ary.

Dia mengingatkan bagaimana manajemen pengunjung dalam 5-6 tahun terakhir ini. Pola perjalanan di kawasan ini harus ditata dsn ada rutenya yang jelas sehingga tidak ada lagi kasus-kasus kapsl menabrak terumbu karang dan lainnya.

Mark Endman juga mengingatkan pengelolaan Raja Ampat harys menghindari mass tourism dan fokus pada pengembangan pariwusara terbatas yang mengutamakan benefit pada masyarakat lokal.

” Pendatang tidak boleh merusak budaya lokal dan merusak alam yang merupakan warisan masyarakat Papua,” ungkap Mark yang tengah berada di New Zealand.

Dia mengkritisi izin liveaboard Raja Ampat, resort, homestay. Apakah tidak dibatasi banyaknya tamu di resort maupun di kapal, apa perlu diterapkan musim wisata alias menerima wisatawan hanya dalam 8 bulan saja. 

” Apa sebaiknya dive spot selam yang popular ditutup sekian bulan dalam setahun untuk pemulihan terumbu karang dan keindahan spot itu ?,” kata Mark Endman dengan bahasa Indonesia yang cepat dsn sangat fasih.

Situasi laut Raja Ampat dengan adanya pandemi global justru semakin indah, masyarakat lokal kembali pada kesehariannya sebagai nelayan maupun sebagai ketahanan pangan, tambahnya mengingatkan.

 

Pengalaman Lintas Benua Saat Pandemi Global Berlangsung

this formate

Suasana bandara Schiphol yang sepi padahal dalam kondisi normal 70 juta penumpang/ per tahun berangkat dari Amsterdam ( Foto: dok.pribadi)

Oleh Wiwiek Srikandi Shabrie

ROTTERDAM, bisniswisata.co.id: Perjalanan menuju Bandara Schiphol dari apartemen ananda  di Rotterdam kali ini memang berbeda karena mau pulang ke tanah air di tengah pandemi global COVID-19. 

Meski sudah bolak-balik menengok cucu dan hafal sudut-sudut bandara, namun sejak datang hingga pulang menghabiskan waktu di rumah saja membuat perjalanan jadi lebih excited. Maklum Belanda juga baru mulai buka aktivitas publik awal 1 Juni 2020 lalu.

Selain menjadi kota terbesar kedua di Belanda, Rotterdam adalah surga bagi seniman dan pemusik, pematung dan arsitek, surga cinta dan kehidupan malam yang semarak. 

Buat saya yang suka dengan seni pertunjukkan dengan kegiatan drama di masa muda, kunjungan ke Rotterdam yang  dinobatkan sebagai Ibukota Kebudayaan Eropa selama tiga bulan benar-benar hanya menjadi MC alias momong cucu dan diisi webinar aktivitas kampus tempat mengajar  di Surabaya.

Schiphol  adalah bandara yang terletak 4,5 m di bawah permukaan laut (DPL) selatan Amsterdam, tepatnya di Gemeente Haarlemmermeer, Belanda dan disebut juga Luchthaven Schiphol.

Bandara yang memiliki kode bandara AMS dan menjadi rumah bagi banyak maskapai penerbangan dunia seperti :  KLM dan menjadi salah satu bandara tersibuk di Eropa dengan lebih dari 70 juta penumpang per tahun.

Bandara ini dibuka pada 1916 sebagai lapangan terbang militer, dan sekarang telah berubah menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia, dan bandara ini juga memiliki banyak fasilitas seperti pijat dan bermain poker di tempat kasino dan ada perpustakaannya juga.

Jika mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam para penumpang sebenarnya bisa bersantai sambil membaca beragam buku yang disediakan. Bandara menyediakan sebuah perpustakaan besar yang menyediakan ribuan buku, katalog, dan majalah. Asyiknya lagi, perpustakaan itu juga memiliki fasilitas semacam ruang baca yang nyaman.

Akhirnya tiba juga di bandara Schiphol yang nampak sepi, tenang. Padahal sebelum pulang dan baca berita semakin membuat bingung tentang penanganan penumpang pesawat dari dan ke luar negri  berkaitan dengan COVID- 19.

Apalagi membayangkan setibanya nanti di Bandara Soekarno-Hatta. Baca berita juga sulit dibedakan mana yang hoax mana yang berita resmi. 

Diawali dengan rencana kepulangan yang penuh pertentangan di kalangan anak-anak dan suami karena takut istri atau ibunya dikarantina akibat terkena penularan wabah penyakit Corona.

Akhirnya saya menggunakan hak veto  diri untuk memutuskan pulang ke indonesia pasa 6 juni 2020 lalu dengan pesawat kebanggaan nasional milik BUMN. Begitu ada kepastian dapat tiket pulang, mulailah tanya sana sini dan banyak dapat  informasi.

Tapi akhirnya saya jadi bingung sendiri meski yang ditanya adalah teman-teman yang berkecimpung atau yang memang mempunyai akses dapat memberikan info yang dipertanggung jawabkan dari kementrian luar negri, tràvel agen  dan imigrasi.

Dari beragam informasi yang masuk dikepala, satu hal yang saya pegang teguh adalah mengikuti aturan main yang jelas dan akurat, misalnya berpegang pada SE atau SK instansi terkait. Kalau ada berita dari sumber yang tidak jelas kata arek Suroboyo, no reken.

Sadar sih jika  buka berita yang tidak jelas akan membuat kita tambah panik yang akan membuat imun tubuh menurun. Dalam Nota Dinas kementrian kesehatan  tebaru saat itu ( SR.03.04/1/2431/2020), 27mei 2020,  disebutkan persyaratan bagi orang yang akan melakukan perjalanan  a.l harus memiliki hasil PCR yang menyatakan negatif.

Di negara tertentu tidak mudah untuk mendapatkan surat keterangan kesehatan dari RS atau Pusat kesehatan setempat. Begitupun di Belanda, pusat pelayanan kesehatan setempat tidak mengenal istilah surat kesehatan tapi mereka menyarankan untuk menghubungi pihak yang terkait dengan keperluan khusus. 

Misalnya untuk perjalanan penerbangan kita harus mencari info ke bandara setempat. Oleh karena itulah saya menghubungi  pihak airport Schiphol di Amsterdam untuk menanyakan tentang test kesehatan yang berkaitan dengan covid 19. 

Di bandara Soekarno- Hatta proses pemeriksaan jauh lebih tertib daripada bandara Schiphol.

Akhirnya dapat  keterangan bahwa KLM Health Service menyediakan PCR test dan setelah berkirim email di sepakati tanggal yang tersedia dengan memperhitungkan tanggal kepulangan karenanyawa sertifikat itu hanya 7 hari.

Selain menjalani test COVID-19 sebagai persyaratan penerbangan dan masuk wilayah sebuah negara maka untuk masuk ke indonesia dibutuhkan juga surat keterangan dari KBRI yang menyatakan bahwa saya adalah warga negara Indonesia  yang bermukim di negara tersebut atau turis yang akan kembali ke tanah airnya.

Tidak lupa juga harus download surat keterangan perjalanan dari pihak Garuda Indonesia yang menerangkan status penumpang dan kita isi kolom-kolom keterangannya. Setelah tiga persyaratan ini terpenuhi maka perjalanan insyaa allah lancar.

Suasana bandara relatif sepi namun di depan counter tiket barulah terlihat disiplin diri akan teruji. Dalam hal menerapkan social distancing selama perjalanan misalnya, baik mau naik pesawat di Airport Schiphol ataupun sewaktu turun di bandara Soeta.

Akan terlihat siapa yang bisa disiplin dan memang semua tergantung kepada pribadi masing-masing, mau menjaga jarak atau pilih berdesak-desakan. Ternyata tidak ada social distancing ( jaga jarak) saat mengantri di Schiphol.

Di bandara besar ini calon penumpang dan pengawasannya longgar sehingga sedikit yang patuh untuk jaga jarak saat pemeriksaan imigrasi di Schiphol. Calon penumpang terlihat tidak sabaran baik bule maupun wajah Asia karena penjagaan hanya seutas tali dan petugas hanya sedikit mungkin masih berlaku work from home ( WfH).

Sulit diceritakan perasaan ini sewaktu sudah masuk ke dalam pesawat. Yang jelas keinginan yang menggebu-gebu untuk pulang kampung membuat hanya melihat nomor kursi sudah tepat saja saya merasa lega dan bahagia sekali…

Apalagi saat sudah mulai take off tidak ada penumpang lain di kiri dan kanan, artinya saya bisa tiduran sepanjang perjalanan. Wah tapi gangguan ada saja karena rasa kepo sesama penumpang.

Tetangga sebrang kursi mengatakan dapat informasi setiba di Cengkareng akan ada Rapid Test lagi dan siap-siap menunggu 6 jam. Soalnya kalau hasil positif akan dibawa ke Wisma Atlit dan jika tidak mau ikut bisa pilih hotel tapi bayar sendiri dan hotelnya bintang 5. 

Terbayang karantina 14 hari x Rp 1 juta maka biayanya jauh lebih mahal dari harga tiket pesawat. Astagfirullah, pilih tidur saja deh daripada memikirkan hal yang tidak pasti. Alhamdulilah tidur nyenyak padahal cerita penumpang lain ada guncangan-guncangan keras saat mengudara melintas entah diatas negara mana.

Turun dari pesawat di bandara Soetta dan menyusuri belalai pesawat serta koridor panjang, penumpang  disambut petugas yang banyak dan dipersilahkan duduk dengan deretan kursi sesuai SOP,  social distancing.

Petugasnya juga ramah-ramah sehingga saya bisa menanyakan prosedur yang akan dilewati, benarkah kami harus antri sampai 6 jam seperti yang ditulis berita-berita yang ada.

Ternyata antrian yang berlangsung hanya satu jam prosesnya kemudian isi formulir tentang data diri dan ukur suhu badan. Tiba di loket inteview dengan dokter bandara dan dokter memeriksa hsl test PCR serta  surat keterangaan lainnya.

Proses selesai tinggal ambil bagasi dan keluar terminal. Saya langsung tanya petugas apakah ada penerbangan langsung ke Surabaya. Dari Belanda tidak ada informasi akurat untuk penerbangan ke Surabaya pada hari yang sama sehingga saya belum membeli tiket Jakarta-Surabaya.

Alhamdulilah rejeki anak soleha, ternyata saya tidak perlu keluar dari terminal tiga karena ada pesawat Garuda menuju Surabaya siang itu. Bereslah rangkaian “ritual” pulang ke tanah air ditengah pandemi. 

Surabaya I am coming…. jangan mau ditakuti berita hoax, no way.. yuukk kita traveling lagi kalau miss Corona sudah hilang di muka bumi ini….Good bye….

Penulis adalah Dosen Tetap STIESIA SURABAYA.

 

Mencecap Kopi Sedap di Kedai Legendaris di Pematangsiantar

this formate

Kopi Sedap disuguhkan bersama roti bakar (foto: P. Hasudungan Sirait)

PARAPAT, Sumut, bisniswisata.co.id: Setiap kali mengunjungi kota kelahiran suami saya, Parapat, di pinggir Danau Toba, Sumatera Utara, kami selalu singgah di Pematang Siantar. Melongok kotamadya ini masuk daftar must-to-do kami. Tujuan utamanya sebenarnya adalah menikmati Chinese food di bilangan Jl. Bandung (orang lama menyebutnya Jl. Nanking). 

Seorang sahabat di Jakarta yang merupakan Siantarman—dia pecinta kuliner yang sudah acap menjajal makanan di Eropa dan Amerika—menyatakan hidangan salah satu restoran lawas di sana tak ada bandingannya.

Sebutan dia: terenak sejagat. Sebuah penilaian yang subyektif tentunya. Olah rasa oleh lidah tak bisa diperdebatkan, bukan? Begitupun sobat yang terkenal kritis dan hemat bicara itu tentu tak asal ngomong; seperti biasa, ia pasti punya dasar penilaan.

Selain mengisi perut, yang selalu kami lakukan di Siantar adalah ngopi di kedai legendaris. Kopi Sedap, namanya. Dahulu (d/h) sebutannya kedai Go Muk. Letaknya di Jl. Sutomo, sedinding dengan toko roti termashyur yang praktis tak pernah sepi sepanjang tahun: Ganda. Meski telah kenyang oleh mie, kami selalu merasa ada yang kurang kalau belum mereguk Kopi Sedap.

Bersantap makanan Cina di Jl. Bandung dan sesudahnya ngopi di Kopi Sedap. Itu agenda utama kami setiap kali ke Siantar. Selebihnya adalah bonus, termasuk tur keliling pusat kota dengan menumpang becak mesin bergaya motor gede dari zaman Perang Dunia. 

Atau sekadar menikmati udara petang di kota yang bersih, nyaman dan tertata rapi. Seperti kota-kota di Eropa, salah satu pusat pemerintahan Hindia Belanda di Sumatera Timur ini ajeg saja dari tahun ke tahun; praktis tak banyak yang berubah di sana sampai hari ini. Keklasikannya aku suka.

Ikon

Aku dan suamiku, P Hasudungan Sirait, pengopi serius. Kami menyukai kopi dalam negeri macam Ulee Kareng, Sidikkalang, Lintong, Gayo, atau Toraja. Menikmatinya di kedai kota asal merupakan sensasi yang tak terpermanai, menurut kami. Kesempatan seperti itu selalu kami damba.

Lain lubuk lain ikannya. Kedai kopi ‘sungguhan’ pun begitu. Racikan dan atmosfir yang satu tak sama dengan yang lain. Yang terakhir ini mencakup karakter pengunjung tetapnya serta lagak laku mereka saat menikmati minuman-cemilan, serta waktu bercengkerama di sana. Kopi Sedap pun tak terkecuali. Kami menilai yang satu ini sungguh istimewa. Atmosfir klasik mencuat di Kopi Sedap. Waktu laksana bergeming di sana. 

Menurut literatur yang aku baca, kedai Go Muk yang menyajikan kopi jenis robusta ini sudah ada sejak 1939. Cabangnya tak pernah ada sampai sekarang pun. Berada di deretan rumah-toko lama di jantung kota Siantar, bangunannya berikut interiornya hingga hari ini masih seperti yang doeloe

Perabotnya pun setali tiga uang. Kesan serba antik kian dicuatkan oleh gelas kopi berikut tatakannya. Agak kecil tapi tebal, perangkat minum ini berbahankan keramik Tiongkok. Hijau motifnya. Gompal yang ada sana-sini menjadi penegas keuzurannya.

Bila baru disajikan, cairan panas yang ngebul tersebut meluber dan agak menggenang di tatakan. Aku suka kopi hitamnya. Tapi kopi susunya pun sedap betul sehingga menjadi favoritku. Ada yang mengatakan kenikmatan rasa kopi di sini dipengaruhi juga oleh kesepuhan wadah porselin Cina itu. Kupikir bisa jadi….

Kopi Sedap memiliki aroma yang khas dan cita rasa spesifik; sesuatu yang belum pernah kudapatkan di kopi lain. Jadi memang unik. Kalau dihadapkan pada aneka jenis kopi sekaligus, pada sruputan pertama aku akan langsung bisa tahu apakah ini Kopi Sedap atau bukan.

Minum di kedai Kopi Sedap tak afdol jika tidak ditemani camilan satu-satunya di sana: roti bakar. Isinya ragam, termasuk srikaya, strawberi, coklat, keju, atau favoritku selai kacang (selainya pakai Skippi lho).

Selai srikaya bisa juga kita beli di tempat ini. Ukurannya per ¼, ½, atau 1 kilogram, ditaruh di plastik putih polos tak transparan berbentuk silinder. Rasa selai juga membuat kami ketagihan. Srikaya ini senantiasa kami beli sebagai oleh-oleh untuk kerabat atau teman di Jakarta dan Bogor. 

Mereka umumnya menyukainya. Si Kokoh pemilik kedai selalu memastikan bahwa selai tersebut fresh. Tapi stok mereka terkadang terbatas. Masalahnya produksinya tak banyak; diprioritaskan untuk mereka yang menyantap roti bakar di sana saja. Katanya sih demi menjaga kualitas.

Bila akan meninggalkan Sumatra, seusai menyegarkan tenggorokan dan pikiran di Kopi Sedap pasti kami akan membawa pulang dua kilo kopi bubuk mereka. Di rumah bawaan itu akan kami seduh sendiri. Ternyata tetamu kami pun menyukainya.  Ada sebuah pengalaman yang boleh dibilang mengamini pendapat kami soal cira rasa Kopi Sedap.

Suatu siang seorang teman yang tak biasa ngopi main ke rumah. Saat kutawari secangkir kopi, ia kontan menggeleng. “Ah, aku gak ngopi,” ucap dia dengan santun.

“Coba dulu deh…kalau gak suka biar aku yang ngabisin,” sedikit insist aku menjawab.

Tak mau mengecewakan tuan rumah, temanku lantas membaui. Mata kami beradu saat aku memperhatikan dia menghirup aroma. “Eh, kopi susunya enak juga lho..,” kata dia begitu menyeruput untuk kali pertama. Ia pun mereguk minuman itu sampai tetes terakhir. Tandas!

Ketika kutawarkan segelas kecil lagi, ia tampak girang. ”Emang masih ada lagi?”

“Tentu masih ada. Sebentar aku panasin ya…..”

Temanku sungguh menikmati kopi susu ekstra tersebut. Hhmmm… Karena aku pandai meracik kopi susukah? Bukan. Rahasianya terletak pada materi yang istimewa: bubuk Kopi Sedap dari Siantar. Kok jadi berpromosi? Tidak juga. Aku sekadar menceritakan sebuah kejadian kecil yang aku alami saja.

Ingin menyenangkan tetamu dan diri sendiri, selama ini kami selalu mengusahakan agar stok Kopi Sedap tetap terjaga di rumah. Biasanya kalau keluarga yang hendak pulang kampung menawari, kami hanya menginginkan oleh-oleh Kopi Sedap.

Tentu pemudik tak selalu ada sementara kebutuhan kami akan kopi tak pernah sirna. Maka, kalau stok yang kami tempatkan di freezer sudah mulai tipis kami akan meng-order langsung ke Siantar. 

Pesanan akan dikirim Si Kokoh lewat perusahaan ekspedisi, alias delivery. Ongkos kirimnya sih lumayan tapi demi memenuhi hasrat ngopi, kami rela membayar ekstra untuk dua atau tiga kilo. Hitung-hitung ongkos pengiriman ini biaya ngopi di luar rumah.

Lagi pula suamiku hanya merasa sudah ngopi kalau telah mengkonsumsi Kopi Sedap. Saat deadline mengerjakan naskah ia bisa menghabiskannya bergelas-gelas. Begitupun perutnya tak akan kembung. Dasar pecandu kopi ya….

Orang Siantar biasanya tidak asing dengan Kopi Sedap. Kalaupun tak pernah minum di sana ya paling tidak mereka acap melintas di depan kedainya. Mungkin ada dari mereka yang tak pernah memperhatikan dalamannya sebab matanya lebih tertarik pada etalase dinding toko roti Ganda di sebelahnya.

Tak seperti Ganda, kaum lelaki yang menjadi pengunjung tetap Kopi Sedap sehingga wajar saja kalau ada orang—perempuan terutama—yang segan menatap ruang dalamnya yang tak lapang namun hampir tak pernah lengang.

Sejak dulu di sinilah kaum pria elit kota kongkow. Pejabat pemerintah, pebisnis, pembesar partai, akademisi, makelar proyek, dan sosialita lain hang out di sini, terutama sebelum coffee shop modern hadir di hotel-hotel dan pusat perbelanjaan. Tak syak lagi kedai Kopi Sedap merupakan salah satu ikon Siantar. Maka, menurutku, pantaslah ia dijadikan cagar budaya; dengan begitu keaslian bangunan serta sajiannya perlu dipertahankan.

Kedai kopi alternatif kini sudah banyak di Siantar. Kok Tong yang berada di jalan seberang, salah satunya. Bersentuhan modern, kedai yang lebih besar ini merupakan tempat mangkal pilihan kaum muda kota. Kami sendiri terlanjur jatuh cinta pada Kopi Sedap sehingga belum berpikir untuk pindah ke lain hati. Sekali lagi, ini soal selera dan sejarah pertautan diri….

Rin Hindryati

Foto 1: Gelas porselin menambah nikmat rasa kopi (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Foto 2: Kopi Sedap disuguhkan bersama roti bakar (foto: P. Hasudungan Sirai)

Foto 3: Di Siantar, kendaraan becak menggunakan moge BSA (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Bintan siap Terapkan Protokol Kesehatan Sambut Kenormalan Baru

this formate

Rizki Handayani,  Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf ( kiri) bersama peserta webinar.

JAKARTA, bisniswisata.co.idBintan termasuk destinasi yang siap di buka  untuk kunjungan wisman jika Singapura sudah membuka wilayah perbatasannya. Namun untuk menghadapi hal itu, seluruh stakeholder pariwisata di Bintan harus benar-benar menyiapkan SOP dan pedoman kesehatan, kata Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, dalam rilisnya hari ini.

“Kami menilai sektor pariwisata di Bintan, Kepulauan Riau, salah satu destinasi yang siap menerapkan protokol kesehatan menyambut tatanan kenormalan baru,” ujarnya saat Webinar dengan tema usaha pariwisata berbasis masyarakat di Bintan dalam menghadapi kondisi New Normal.

Standard Operation Procedure ( SOP)  di kawasan wisata Lagoi dan sekitarnya sudah diterapkan. Kesiapan menerapkan standar kesehatan untuk menyambut wisatawan agar saat mereka datang merasa aman saat berwisata di Bintan, katanya.

Dalam Webinar tersebut, hadir pula sebagai narasumber, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan Wan Ruddy Iskandar, Founder dan Direktur INDECON Ary S. Suhandi, dan Ketua ASITA Bintan Sapril Sembiring.  

Rizki Handayani mengatakan, pandemi COVID-19 memberikan dampak perubahan dari sektor pariwisata. Pertama marketnya, lalu kedua adalah destinasi itu sendiri, dimana perubahan destinasi tersebut terlihat dari sektor atraksi, akses, dan amenitas.  

Dari segi market, lanjut Rizki, juga akan mengalami perubahan baik dari segi kuantitas maupun dari segmen atau kualitasnya. Sebelum pandemi COVID-19, Menteri pariwisata sudah mencanangkan sektor pariwisata ke depan bertransformasi dan menekankan pada quality tourism  

Ke depan akan ada tiga skenario berwisata, yang pertama travel defense atau mereka yang berwisata tanpa memikirkan kondisi yang saat ini terjadi, yang penting mereka berwisata. Ini sangat mengkhawatirkan karena pandemi ini belum selesai. 

Kemudian tipe travel phobia adalah yang tidak mau kemana-mana. Kemudian travel wise yakni traveler yang sangat memperhatikan banyak aspek dan terutama protokol kesehatan.

“Untuk itu perlu SOP sebagai pedoman dalam pengelolaan destinasi wisata. Ada untuk subjeknya, yaitu protokol bagi pekerja, wisatawan, pengelola, hingga pihak ketiga dalam hal ini tour operator atau travel agent. Kemudian objeknya dimana dan tidak hanya kebersihanbtapi juga memenuhi standar keselamatan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan Wan Ruddy Iskandar menjelaskan, Bintan saat ini sudah masuk dalam zona hijau yang  kemudian menjadi peluang untuk mengembangkan pariwisata di Bintan. 

Kemenparekraf juga telah mendorong sektor parwisata di Bintan terutama yang berbasis masyarakat Community Base Tourism (CBT) untuk segera bergerak. “Kesiapan masyarakat menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Ketika dibuka namun masyarakatnya belum siap itu menjadi perhatian. Termasuk masyarakat di sekitar daya tarik wisata,” katanya. 

 

 

Industri Pariwisata Kini Terapkan New Normal dan Model Bisnis Baru  

this formate

Sumaira Issacs, CEO World Tourism Forum Institute.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kalangan milenial diyakini memiliki kontribusi unik untuk membangkitkan pariwisata dunia setelah terpuruk akibat pandemi global COVID-19 meskipun hingga saat ini belum nampak tanda akan berakhirnya penyebaran virus mematikan itu.

“Anak muda suka tempat-tempat wisata yang masih natural. Untuk memenuhi keinginan mereka maka yang berkembang pariwisata berkelanjutan atau yang akrab disebut sustainable tourism. Lagi pula hanya 20% negara didunia yang minta persyaratan visa jadi ke depan mereka lebih leluasa bergerak,” kata Sumaira Issacs, CEO Global Tourism Forum, brand dari World Tourism Forum Institute.

Pasca COVID-19, wisata domestik yang menjadi tujuan mereka tapi setelah itu dengan New Normal orang akan bepergian lagi. Apalagi kini banyak negara dengan alasan ekonomi mulai melakukan pelonggaran, pencabutan pembatasan perjalanan dan buka  fasilitas publik. Indonesia  nampaknya siap menerapkan New Normal, kata Sumaira yang juga Task-Force PM Pakistan.

Sumaira  menjadi nara sumber kunci Webinar Internasional ke tiga yang diselenggarakan Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) yang membidani Indonesia Tourism Forum.

Hadir sebagai nara sumber lainnya adalah Dr Sanithara Pichai, Rektor College of Tourism & Hospitality Rangsit of University, Thailand dan Ken Wong, VP Sales & Distribution Accor Hotels, China.

Dari dalam negri hadir pula Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Produk Wisata & Penyelenggaraan Kegiatan ( Events), Adi Satria, VP Sales, marketing & Distribution Accor Hotels di Indonesia, Malaysia serta Singapura serta Safri Haliding mewakili Jakarta Tourism Forum serta Robin Engel, Adviser of Songline Yacht of Indonesia.

Webinar bertajuk COVID-19 Silver Lining and New Tourism Business Model yang dipandu Sapta Nirwandar ini didahului oleh sambutan dari Rizki Handayani Mustafa dimana intinya pihaknya telah siap menerapkan New Normal di bidang binaannya.

Rizki juga siapkan  buku panduan, kampanye video dan pelatihan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan industri setempat  untuk menerapkan program Cleanliness, Healthy and Safety ( CHS) di destinasi wisata.

” Untuk mendorong bangkitnya event Meeting, Incentive, Conference & Exhibition ( MICE) kami akan memberikan insentif tunai pada airlines dan travel agent yang membawa wisatawannya untuk meeting di Indonesia di samping menggerakan pertemuan di lingkungan domestik,” kata Rizki.

Dr Sanithara Pichai mengatakan Thailand tidak terburu-buru membuka diri untuk wisatawan asing, namun sekarang justru wisatawan domestik yang sedsng didorong untuk berwisata dengan harga voucher yang terjangkau.

” Sebagai warga Bangkok, kalau saya mau beli voucher paket wisata harus keluar daerah karena tujuannya untuk menggerakkan perekonomian daerah. Jadi kami di sini aktivitas sudah mulai normal dan bisa ke salon lagi atau ke spa,” kata Sanithara 

Di negrinya, justru yang tidak ada turis asing karena hingga 30 Juni masih tertutup padahal tahun lalu wisman yang berkunjung ke Thailand capai 39 juta orang. Tentu saja sesuai protokol New Normal.

Menurut dia, pemerintah Thailand sedang menggerakkan wisata domestik dan tahun lalu pergerakan wisatawan nusantara ( winus) capai 77 juta orang. Selama pandemi banyak relaksasi kebijakan menyangkut hajat hidup orang banyak serta potongan-potongan tarif listrik misalnya.

” Selama tiga bulan ini juga rakyat diberi stimulus biaya hidup hingga tidak ada kasus baru COVID-19. Bulan Juni masa transisi apakah Juli nanti kami mau terima wisman. Tidak heran begitu masyarakat boleh keluar langsung 1,2 juta orang ketempat ibadah Grand Pagoda,” kata Sanithara.

Sementara Ken Wong dari China  bercerita bahwa dia sudah melakukan pertemuan bisnis seperti biasa dan perjalanan dinas Beijing-Shanghai. Tentunya semua mengikuti prosedur kesehatan yang ketat.

” Di pesawat tidak ada pelayanan  makanan/ minuman. Semua serba digital dan touchless. Sejak pertengahan Maret aktivitas publik dan bisnis mulai dibuka dan awal Juli penerbangan internasional mulai dibuka karena banyaknya permintaan dari negara-negara lain juga,” kata Jen Wong dari jaringan hotel Accors China.

Searah jarum jam : Sanithara, Robin Engel, Safri Haliding, Adi Satria, Sapta Nirwandar, Ken Wong dan Rizki Amalia Mustafa

Robin Engel, pemain lama yang berkontribusi pada perkembangan industri yacht di tanah air mengingatkan di era New Normal bisnis marina, kapal pesiar kecil kapasitas 20 orang, kapal cepat yang menghubungkan antar pulau juga berpeluang untuk mengakomodasi keinginan wisatawan di segmen ini.

” Kapal cepat dari Lombok-Bali ada, tapi dari Anambas-Riau misalnya tidak ada, padahal Indonesia negara kepulauan. Infrastruktur yang dibangun Presiden Jokowi jangan hanya jalan darat tapi investasi marina segera dan diikuti kebijakan lainnya seperti kemudahan barang import untuk marine industry,” kata Robin.

Adi Satria, VP Sales & Marketing Accors Indonesia, Singapura dan Malaysia mengatakan pihaknya beradaptasi dengan situasi pandemi dengan membuat bisnis model yang baru.

” Bersama Gugus tugas COVID-19 misalnya, kami menjadikan Hotel Pullman Jakarta Central Park tempat karantina bagi mereka yang baru datang dari luar negri dan perlu pemeriksaan lebih lanjut,” ungkapnya.

Pemilik jaringan hotel Accor Hotel di Bali yaitu Sofitel Bali investasikan alat pendeteksi tamu yang canggih untuk keamanan dan kenyamanan para staf dan tamu hotel di tengah pandemi. Digitalisasi dan investasi menuju era touchless telah dilakukan untuk menyambut tamu di era New Normal.

“Jadi model bisnisnya kita sesuaikan agar bisnis terus dijalankan guna menyelamatkan karyawan maupun para pemilik hotel,” kata Satria.

Safri Haliding dari Jakarta Tourism Forum mengatakan terkait bisnis model, pihaknya juga tengah merintis Kepulauan Seribu yang selama ini sudah menjadi tempat wisata benar-besar menjadi New Maldive untuk Indonesia mengekor Kepulauan di Maladewa yang mendunia.

Pulau Seribu juga cocok untuk sustainable tourism bahkan bagi yang ingin karantina diri. Namun bisnis MICE yang tetap jadi concern utama karena faktanya 60% wisman yang datang ke Jakarta adalah untuk pertemuan bisnis terutama MICE.

” Pemain industri MICE banyak tapi setahun hanya ada 300 event jadi harus ditingkatkan,” kata Safri Haliding.

Menanggapi hal ini, Rizki Amalia yang akrab disapa Kiki mengatakan Juli mendatang Aparat Sipil Negara ( ASN) akan di dorong untuk membangkitkan lagi aktivitas Travel & tourism dengan melakukan pertemuan di luar kantor dan ke daerah.

Sapta Nirwandar yang juga Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pariwisata akan terus menjadi motor penggerak ekonomi dunia. 

” VITO (Visit Indonesia Tourism Officer) di Belanda dan Perancis tanya sudah ada paket musim panas yang dipasarkan belum karena ada saja turis dari sana yang ingin ke Indonesia,” kata Sapta.

Ucapannya itu sekaligus menjadi informasi positif meski pandemi belum jelas ujungnya dan kapan bisa berakhir, namun kegiatan pariwisata dengan New Normal sudah harus dijalankan seluruh dunia. 

Menyesuaikan model bisnis juga menjadi penentu apakah suatu usaha industri wisata tamat riwayatnya atau terus hidup mengikuti perkembangan jaman.

 

Belum Buka Destinasi Wisata, Bandara Didominasi Penumpang Repatriasi

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Sampai saat ini Pemrov Bali belum berniat membuka destinasi wisatanya. Selain alasan pengamanan wilayah dari paparan COVID- 19, negara- negara asal wisatawan masih belum melonggarkan pembatasan warganya bepergian ke luar negeri. Meski pun pemerintah telah membuka sektor ekonomi di beberapa wilayah yang berimplikasi terhadap peningkatan aktivitas perjalanan orang dalam masa pandemi.

Stake holder pembangunan di Bali harus mempersiapkan diri lebih baik, untuk membuka sector pariwisata.Tahap transisi dan uji coba dulu di satu kluster, Nusa Dua,” ungkap Wagub Bali, Tjokorda Oka Ardhana Sukawati di beberapa webinar.

Sementara, menyikapi yang dilaksanakan pemerintah tersebut, Gugus Tugas Nasional mengeluarkan Surat Edaran nomor 7 Tahun 2020 tersebut tentang kriteria dan persyarakatan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19.

Gugus Tugas menyusun kriteria dan syarat ini sebagai panduan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru menuju kehidupan aman dan produktif.

Tujuan utama dari kriteria dan syarat tersebut yakni meningkatkan penerapan protokol kesehatan dalam kebiasaan baru sehingga tercipta kehidupan aman dan produktif dan meningkatkan pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2.

Dalam surat edaran tersebut, perjalanan memiliki definisi pergerakan orang dari satu daerah ke daerah lain berdasarkan batas wilayah administrasi provinsi, kabupaten dan kota, dan kedatangan orang dari luar negeri memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum darat, perkeretaapian, laut dan udara.

Surat edaran ini menetapkan empat kriteria dan syarat dalam melakukan perjalanan. Kriteria paling utama yaitu menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan. Langkah yang harus dilakukan yaitu pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan.

Sementara itu, salah satu syarat yang perlu diperhatikan pada perjalanan orang dalam negeri yaitu surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif. Surat keterangan uji tes PCR tersebut berlaku 7 hari terhitung pada saat keberangkatan. Sedangkan mereka dengan surat keterangan uji rapid test dengan hasil nonreaktif berlaku 3 hari pada saat keberangkatan.

Namun, persyaratan perjalanan orang dalam negeri ini dikecualikan untuk perjalanan orang komuter dan perjalanan orang di dalam wilayah atau kawasan aglomerasi.

Dalam pengendalian perjalanan orang dan transportasi umum aman COVID-19, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, otoritas penyelenggara transportasi umum yang dibantu TNI dan Polri menyelenggarakan secara bersama. Di sisi lain, pemerintah dan pemerintah daerah berhak untuk menghentikan atau melakukan pelarangan perjalanan orang atas dasar surat edaran ini dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan berlakunya surat edaran nomor 7 tersebut, Surat Edaran sebelumnya yang bernomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dan bernomor 5 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dicabut dan tidak berlaku.

63,8% Repatriasi

Tercatatselama periode implementasi Surat Edaran Gugus Tugas Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nomor 4 Tahun 2020 (mulai berlaku 6 Mei), periode 7 hingga 31 Mei 2020, sebanyak 7.823 penumpang yang memanfaatkan fasilitas bandara Ngurah Rai. Kategori penumpang repatriasi mendominasi dengan jumlah penumpang sebanyak 4.990 jiwa, atau 63,8% dari total jumlah penumpang dikecualikan. Menyusul kategori penumpang perjalanan dinas lembaga pemerintah/swasta dengan jumlah 2.591 penumpang (33,1%), penumpang yang anggota keluarga intinya sakit keras atau meninggal dunia sebanyak 174 penumpang (2,2%), dan penumpang yang membutuhkan pelayanan kesehatan darurat dengan jumlah sebanyak 68 penumpang (0,9%).

Selama implementasi PM No. 25 Tahun 2020, PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali menjalankan prosedur protokol kesehatan secara ketat. Hal tersebut sejalan dengan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nomor 4 dan Nomor 5 Tahun 2020, serta Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 10925 Tahun 2020 tentang Pengendalian Perjalanan Orang pada Pintu Masuk Wilayah Bali dan Percepatan Penanganan COVID-19.

Implementasi protokol kesehatan ini dilakukan untuk menyambut era new normal. Berbagai upaya telah dan tengah dilaksanakan, termasuk di dalamnya adalah pengaturan slot penerbangan, kebijakan pengaturan space melalui physical distancing, disinfeksi fasilitas dan terminal, pemeriksaan suhu tubuh penumpang yang datang dan berangkat, penyediaan hand sanitizer di berbagai titik di terminal, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi personel frontliner yang berinteraksi dengan penumpang, jelas General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, Herry A.Y. Sikado.

Selama periode lima bulan pertama tahun 2020, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali mencatat telah melayani sebanyak 4,77 juta penumpang yang terangkut melalui 36 ribu pergerakan pesawat udara.

Jika dibandingkan dengan catatan pada periode yang sama di tahun 2019 lalu, tercatat terdapat penurunan yang cukup tajam terkait jumlah penumpang dan pergerakan pesawat yang keluar masuk Bali melalui bandar udara.

Dengan catatan 4.770.615 penumpang dan 36.812 pergerakan pesawat udara pada periode Januari-Mei 2020 ini, maka terdapat penurunan masing-masing sebesar 47% dan 39% jika dibandingkan dengan catatan periode Januari-Mei 2019, di mana tercatat terdapat 9.018.541 penumpang serta 61.180 pesawat udara terlayani.

“Pada bulan Mei 2020, kami mencatat total 8.829 penumpang yang kami layani. Angka tersebut jika dirinci lagi, mengerucut pada jumlah 5.099 penumpang dari rute domestik, dan 3.730 penumpang dari rute internasional. Statistik di bulan Mei 2020 pun mengalami penurunan tajam jika dibanding dengan catatan di bulan April 2020, dengan total 94.480 penumpang,” papar Hery.

Khusus untuk data di bulan Mei 2020, pergerakan pesawat udara yang terlayani adalah sebanyak 322 pergerakan, dengan rincian 149 rute internasional dan 173 rute domestik. Jika dibandingkan dengan catatan di bulan Mei 2019, dengan catatan sebanyak total 11.994 pergerakan, maka terdapat penurunan sebesar 97%, atau terdapat selesih sebanyak 11.672 pergerakan.

Untuk catatan pergerakan penumpang di bulan Mei 2020, dengan jumlah total penumpang sebanyak 8.829 penumpang dengan pembagian 3.730 penumpang rute internasional dan 5.099 penumpang rute domestik, jika dilakukan perbandingan dengan statistik penumpang pada bulan Mei 2019, di mana terdapat sebanyak 1.736.396 penumpang, terdapat penurunan sebesar 99,5%, atau terdapat selisih sebanyak 1.727.567 penumpang.

Seperti diketahui, pada tanggal 23 April lalu, diberlakukan Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019. Aturan ini mengatur tentang penghentian sementara operasional penerbangan komersial rute domestik untuk mengendalikan potensi pergerakan orang secara besar-besaran selama masa libur Idul Fitri. Melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 116 Tahun 2020, aturan ini diperpanjang, dari 31 Mei 2020, menjadi tanggal 7 Juni 2020.

“Praktis, selama implementasi peraturan ini, penumpang rute domestik adalah penumpang yang termasuk ke dalam kategori penumpang yang dikecualikan, yaitu penumpang dalam perjalanan dinas, alasan kesehatan, alasan keluarga, serta penerbangan repatriasi,” kata Herry menutup pembicaraan. ***

Kriteria dan Syarat Perjalanan Orang Saat Adaptasi Kebiasaan Baru yang Aman dan Produktif

this formate

Commuterline di stasiun Jatinegara, Jakarta

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pembukaan sektor ekonomi di beberapa wilayah berimplikasi terhadap peningkatan aktivitas perjalanan orang dalam masa pandemi. Menyikapi tahapan tersebut, Gugus Tugas Nasional mengeluarkan surat edaran baru.

Surat Edaran nomor 7 Tahun 2020 tersebut tentang kriteria dan persyaratan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19.

Gugus Tugas menyusun kriteria dan syarat ini sebagai panduan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru menuju kehidupan aman dan produktif seperti fikutip dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional.

Tujuan utama dari kriteria dan syarat tersebut yakni (1) meningkatkan penerapan protokol kesehatan dalam kebiasaan baru sehingga tercipta kehidupan aman dan produktif dan (2) meningkatkan pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2.

Dalam surat edaran tersebut, perjalanan memiliki definisi pergerakan orang dari satu daerah ke daerah lain berdasarkan batas wilayah administrasi provinsi, kabupaten dan kota.

Begitu pula kedatangan orang dari luar negeri memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum darat, perkeretaapian, laut dan udara. 

Surat edaran ini menetapkan empat kriteria dan syarat dalam melakukan perjalanan. Kriteria paling utama yaitu menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan. Langkah yang harus dilakukan yaitu pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan.

Sementara itu, salah satu syarat yang perlu diperhatikan pada perjalanan orang dalam negeri yaitu surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif. Surat keterangan uji tes PCR tersebut berlaku 7 hari terhitung pada saat keberangkatan. Sedangkan mereka dengan surat keterangan uji rapid test dengan hasil nonreaktif berlaku 3 hari pada saat keberangkatan. 

Namun, persyaratan perjalanan orang dalam negeri ini dikecualikan untuk perjalanan orang komuter dan perjalanan orang di dalam wilayah atau kawasan aglomerasi. 

Dalam pengendalian perjalanan orang dan transportasi umum aman COVID-19, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, otoritas penyelenggara transportasi umum yang dibantu TNI dan Polri menyelenggarakan secara bersama. 

Di sisi lain, pemerintah dan pemerintah daerah berhak untuk menghentikan atau melakukan pelarangan perjalanan orang atas dasar surat edaran ini dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Dengan berlakunya surat edaran nomor 7 tersebut, Surat Edaran sebelumnya yang bernomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dan bernomor 5 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dicabut dan tidak berlaku. 

Surat edaran baru bernomor 7 tahun 2020 ditetapkan oleh Ketua Pelaksanan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada 6 Juni 2020.