Tatanan Kehidupan Baru ala Jogya

0
19

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kondisi penularan COVID– 19 di DIY cenderung landai, namun Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak ingin menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal) dengan tergesa-gesa. Seluruh komponen terutama pelaku bisnis dan pariwisata harus memiliki persiapan yang matang untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan terburuk pada penerapan sistem new normal.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, S.H., M.Ed. mengungkapkan, untuk memasuki tatanan new normal, seluruh asosiasi serius menyusun draft protokol, SOP dan CHS (Cleans, Health and Security). Saat ini tidak hanya masalah kesehatan saja yang di persiapkan, namun juga kebersihan dan keamanan. Dalam minggu ini, target susunan SOP terhadap pengelolaan bisnis dan wisata akan selesai digarap untuk kemudian disimulasikan. Setelah itu akan dilakukan evaluasi, baik oleh wisatawan, pengelola mau pun masyarakat luas agar sistem bisa dilakukan dengan baik.

“Sekarang kita serius mempersiapkan segala sesuatunya, dan nanti kalau memang sudah matang semuanya dan sudah ada rekomendasi dari Gugus Tugas COVID – 19, maka kita akan memulai new normal aktivitas pariwisata dan bisnis dengan sangat siap,” tutup Singgih.

SOP Omah Kecebong

Protokol Omah Kecebong, dimasa transisi, pengunjung mendapat sovenir masker OmKeCe

Merespon keputusan pemerintah, stake holder pariwisata Jogyakarta pun bergerak cepat di objek wisata resto dan outbound Omah Kecebong Holticultura, Mlati, Cebongan contohnya. Protokol COVID-19 diberlakukan sejak reservasi, masuk area, di restoran, di area beraktivitas dikawasan Omah Kecebong dan protokol khusus dalam atraksi berkeliling kampung naik limousine gerobak sapi, begitu juga untuk atraksi Jemparingan (memanah).

“Bajingan (kusir gerobak) kita pakai faceshield, penumpang hanya empat orang,” ungkap penggagas rumah budaya  Omah Kecebong, Hasan Setyo Prayogo.

Omah Kecebong menyesuaikan protap COVID-19 baik dari UNWTO, WHO mau pun Satgas COVID- 19 Indonesia dengan nilai- nilai tradisi masyarakat Jawa.

“Pariwisata itu kan respek kearifan local,” ungkap Hasan sembari menjelaskan uji coba protap ala Omah Kecebong dilaksanakan selama masa transisi. Ketika memasuki tatanan kehidupan baru, Omah Kecebong sudah siap menjalaninya.

Pesonna Jogya

Jejaring hotel Pesonna Hotel Yogyakarta,– Pesonna Hotel Tugu dan Pesonna Hotel Malioboro– juga sudah mulai menerapkan standard operational procedure (SOP) dan protokol kesehatan yang baru.

“Kami mengantisipasi dengan beberapa langkah pencegahan penyebaran virus, serta regulasi untuk menyambut kembali tamu agar dapat menginap di hotel kami dengan nyaman dan aman. Apalagi Yogyakarta menjadi salah satu kota percontohan new normal dengan mulai dibukanya beberapa tempat wisata pada awal Juni,” ujar Cluster General Manager Pesonna Hotel Yogyakarta Tommy Agung Kartika.

Menyiapkan kamar di Pesonna Hotel Tugu

Beberapa regulasi yang diterapkan oleh kedua hotel adalah dengan penggunakan masker wajah, face shield dan sarung tangan oleh karyawan, penyemprotan cairan disenfektan serta pembersihan sudut hotel dan permukaan secara regular dan adanya kewajiban tamu untuk selalu mencuci tangan dan menjaga jarak aman.

Penyemprotan disenfektan juga dilakukan pada saat tamu check-out dari kamar, sehingga ketika tamu lain datang, kamar dalam keadaan steril. Pengecekan suhu dengan menggunakan thermometer gun juga dilakukan pada saat tamu memasuki area hotel.

Regulasi juga diperuntukan untuk menjaga kesehatan dan higienitas karyawan, dengan selalu mencek suhu karyawan pada saat memasuki area hotel, mencuci bersih baju karyawan, penetapan standar kebersihan untuk perlengkapan karyawan, serta pengukuran kadar oksigen dalam darah untuk para karyawan menggunakan alat oximeter. Selain itu diterapkan juga strategi sales dan marketing yang lebih mengutamakan teknologi digital dan telemarketing sehingga mengurangi kontak dengan orang lain.

Penerapan new normal diharapkan akan mampu memberikan perubahan pada pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik dari sebelum pandemi. Namun, para pelaku bisnis juga harus bisa memperhitungkan dengan matang untuk membuka kembali usahanya.

 “Kita harus hati-hati sekali. Harus cermat. Perlu pemahaman yang serius, agar ketika new normal diberlakukan, jangan sampai ada periode kedua COVID– 19,” tegas Sri Sultan, dalam pertemuan dengan Asosiasi Bisnis DIY untuk mempersiapkan new normal, di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.