INTERNATIONAL LAPORAN PERJALANAN

Pulau Con Dao, Hidden Gem Vietnam Sekaligus Makam para Martir

CON DAO, bisniswisata.co.id: Perjalanan di hari ke tiga program Vietnam is Calling setiap peserta harus pasang alarm pukul 3.00 pagi untuk berkumpul di lobby hotel dan berangkat ke pelabuhan Tran De Port, sekitar 2,5 jam perjalanan dari Can Tho.

Tujuannya adalah naik kapal cepat ke Con Dao untuk mengunjungi ke Makam Hang Duong dan memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang pernah dipenjarakan oleh para penjajah Perancis dan Amerika.

Selama perjalan tak terelakkan terjadi mabuk masal diantara peserta sehingga ketika tiba langsung merasa lega karena kapal ferry yang ditumpangi padat penumpang dan padat kursi. Jangan membayangkan kapal ferry besar yang melayani rute pelabuhan Merak – Lampung. Kapal ke Con Dao jauh lebih kecil.

Peserta menginap di SaiGon Con Dao Resort dan setelah makan siang ada kunjungan ke Penjara Con Dao. Sebagian peserta yang mau melongok fasilitas hotel resort lainnya diantar untuk inspeksi fasilitas yang ada

Acara pertama setelah tiba opsinya adalah inspeksi Six Senses resort hotel, Tan Son Nhat Con Dao Resort dan hotel lainnya bagi yang berminat. Seperti pulau Bali yang menjadi destinasi wisata dengan hotel-hotel internasional namun saya membayangkan Con Dao justru lebih mirip Pulau Nusa Kambangan karena pulau ini banyak memiliki penjara.

                Six Sense Resort Hotel

Rupanya mengunjungi pemakaman untuk memberi penghormatan kepada para martir yang heroik menjadi tradisi bagi warga Vietnam dari semua kalangan terutama pada hari TET atau Imlek.

Penjara Con Dao sebuah epos semangat bangsa Vietnam. Terletak di tengah lautan. Penjara ini bukan hanya sekadar sebuah situs peninggalan sejarah saja, tetapi cagar sejarah. setiap batu bata dan setiap batang besi disini seakan menyerap keringat, darah, dan air mata para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan bangsa Vietnam

Penjara ini dibangun pada tahun 1862, dan
menjadi kompleks penahanan para
pejuang revolusi, terdiri dari sejumlah blok tahanan seperti Blok Phu Hai, Blok Phu Son, Blok Phu Tho, Blok Phu Tuong, dan lain-lain.

Di antara semuanya, area yang dikenal sebagai “kandang harimau”, tempat dengan tingkat kekejaman yang paling tinggi tempat tahanan politik ditahan dan disiksa. Para tahanan dipaksa telanjang, ditaburi kapur, disiram air dingin, dibiarkan kelaparan, dan dipukuli tanpa ampun.

Namun justru dalam kondisi yang paling kejam itulah, semangat revolusi tetap menyala dan menyebar di antara para pejuang. Tempat ini menjadi tempat menempa semangat juang yang gagah berani, dan memupuk cita-cita revolusioner. Le Anh Tuyet, pemandu di situs Penjara Con Dao yang dengan penuh emosi berbagi kisah kepada para pengunjung:

“Di sini kami harus menjelaskan mengapa tempat ini disebut kandang harimau, karena sel-sal tahanan ini tidak berbeda dengan kandang untuk hewan buas. Bentuk penyiksaan terhadap para tahanan di sini adalah agar para tahanan merasakan batas tipis antara hidup dan mati,” kata Le Anh Tuyet.

Para penjaga akan berusaha menghidupkan kembali, lalu memaksa mereka untuk memilih: jika ingin hidup, mereka harus meninggalkan cita-cita mereka. Namun jika tetap mempertahankan cita-cita revolusi, maka mereka harus siap untuk mati di dalam kandang.Pada masa itu memang ada tahanan yang rela mati demi cita-cita revolusi.

Pemerintah kolonial Prancis memilih Con Dao sebagai lokasi pembangunan penjara karena letaknya yang jauh dari daratan dan para tahanan tidak memiliki cara untuk
melarikan diri.

Saat mengunjungi area kandang harimau, tidak ada seorang pun yang tertawa atau bercanda. Semua terdiam dan merasakan langsung penderitaan penghuni penjara. Seorang turis lokal tak mampu menahan kesedihan dan memahami betapa mahalnya kemerdekaan dan kebebasan warga Vietnam.

“Perlakuan kejam membuat generasi muda saat ini merasa sangat berterimakasih kepada para pahlawan dan martir yang telah berkorban di tempat ini,” kata Phan Thi Vinh, seorang wisatawan dari Provinsi Nghe seperti dikutip dari VOVWORLD.

 

Tahanan ‘kandang macan’ tempat menyiksa dan membunuh para martir dan eksterior penjara. 

 

VuTham, seorang veteran perang
menyampaikan: “Saya sangat semangat atas keteguhan dan keberanian para pejuang di
Penjara Con Dao. Pada masa yang penuh
penderitaan seperti itu, mereka tetap mampu
mempertahankan pendirian politiknya, menjaga keteguhan hati, dan bertekad untuk merbut kemerdekaan”.

Penjara Con Dao tidak hanya meninggalkan jejak kėkejaman kolonialis dan imperialis di masa lalu tetapi juga menunjukkan semangat pantang menyerah dari para anggota Partai Komunis. Setiap batang besi adalah saksi mata. Setiap dinding yang terkikis menyimpan sebuah kisah.

Sejarah dapat dibaca di atas kertas, tetapi jika ngin benar-benar “merasakan” sejarah. kita harus berdiri di sini, di tempat yang dijuluki sebagai neraka dunia, kata Pemandu wisata Le Anh Tuyet.

“Di area kandang harimau terdapat sekitar 500 tahanan. Para tahanan ini ditaburi kapur, disiram air, diborgol, disiksa dan dipukuli, mulai dari orang tua, pelajar, mahasiswa, biksu, perempuan dan banyak -banyaknya lagi”.

Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan
wisatawan mancanegara mengunjungi penjara Con Dao. Bagi banyak orang muda, kunjungan ke Penjara yang sulit menimbulkan perasaan campur aduk.

Anh Vu, seorang wisatawan dari Kota Hanoi, berbicara dengan terbata “Ketika datang ke sini barulah saya benar-benar merasakan betapa besar pengorbanan nenek moyang kita. Dalam kondisi yang keras, penuh semangat juang mereka tetap tinggi, semangat revolusi tetap menyala, dan mereka tidak pernah menyerah. Saya sungguh mengagumi itu”.

Kini, Penjara Con Dao merupakan peninggalan sejarah nasional istimewa. Namun, keistime-waan itu bukan terletak pada arsitekturnya, tetapi pada nilai kenangannya. Setiap batu bata, setiap batang besi terkandung darah dan keringat para tahanan komunis yang teguh dan setia.

Setelah meninggalkan tempat setiap pengunjung merenungkan bagaimana menjalani kehidupan yang pantas dengan pengorbanan demi kemerdekaan dan kebebasan dari generasi- generasi pendahulu.

Karena destinasi berupa pulau kecil dan hutan- hutan di kelilingi lautan, besoknya pagi-pagi saya memilih naik pesawat kecil kembali ke Ho Chi Minh City untuk mengikuyi travel trade bersama industri pariwisata Vietnam.

Saat pesawat berisi 60 orang tinggal landas mata saya terus melihat kaca jendela kirimkan doa untuk dan melihat langsung perjuangan para martir secara Islam. Saya baru saja belajar tentang keteguhan hati dan rasa terima kasih pada para pahlawan yang membuat Vietnam terbebas dari penjajahan.

Kemarin setelah mengunjungi dua penjara, saya sempat menikmati warung-warung tepi pantai menyeruput kelapa muda. Goodbye Con Dao, Alfatihah untuk para martir yang bersedia mati daripada menyerah pada penjajah.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)