Dewi dan restoran mini untuk dua orang di tokonya yang buka tiap Selasa. ( Foto Greatbigstory)
QUEENS, bisniswisata.co.id: Namanya Dewi Tjahjadi. Dia asli orang Indonesia, tinggal di kota termahal di dunia, New York, Amerika Serikat. Sudah 10 tahun ini dia membuka toko kelontong yang khusus menjual produk made-in Indonesia.
Di warungnya yang sempit itu sejumlah produk kemasan dijual, termasuk Indomie, Mie Sedap, santan kemasan Kara, kerupuk udang dari Cirebon, saus sambal dan tomat merek perusahaan terkenal dari Indonesia, kecap, hingga camilan Taro.
Lokasi toko Dewi cukup strategis, yakni di kawasan Queens yang mashyur sebagai ‘home sweet home’-nya para pendatang. Makanan dari berbagai belahan dunia manapun dapat ditemukan di sana.
Ada masakan dari Meksiko, Tibet, Korea, Kolombia, Bangladesh, bahkan Yunani. Pilihan sajiannya pun beragam, mulai dari restoran, food trucks, atau seperti tempat Dewi yang hanya buka di Hari Selasa.
Dia menyebutnya “Warung Selasa.” Khusus di hari itu, Dewi akan memanjakan pelanggan dengan memasak masakan tanah air, seperti rendang atau gudeg seperti dikutip dari greatbigstory
Di dapurnya yang sempit yang hanya muat untuk dua orang, Dewi menyiapkan segala sesuatunya sendiri, mulai dari meracik bumbu, mengolahnya, hingga menyajikan ke para pelanggan yang antusias ingin mencicipi masakannya.
“Saya bukan profesional chef. Bisa memasak hanya belajar dari ibu saya,” kata Dewi kepada Great Big Story. Ide membuka ‘Warung Selasa’ bermula dari kerinduannya bertemu sesama orang Indonesia di Amerika.
Jadi, jangan Anda bayangkan warung milik Dewi bak restoran atau setidaknya rumah makan sederhana dengan sejumlah kursi bagi para pelanggan.
Tidak demikian. Faktanya, Dewi hanya menyisihkan sedikit saja ruang di dalam tokonya yang sempit untuk sebuah meja dan dua kursi. Di sanalah para pelanggan dapat memesan sekaligus menyantap masakan Dewi.
Saat pelanggan datang, chef sekaligus pemilik restoran akan ‘bersembuny’ di dapur yang ia sebut Love Kitchen (karena sempit dan hanya muat untuk berdua). Sambil menyiapkan kudapan, Dewi akan terus bercakap dengan pelanggan yang menunggu masakan tersaji. Itulah saat menyenangkan bagi Dewi karena dia bisa berbagi cerita dengan tamunya.
Kebanyakan pelanggan yang pernah makan ke Warung Selasa akan berujar, ‘minggu depan, saya harus kembali lagi,’ ucap Dewi sumringah menirukan kata-kata para pelanggannya.
Menurut Dewi, sebelum dia membuka toko ini, tidak ada satu tempat yang menjual produk atau makanan Indonesia. “Jadi saya membayangkan kalau ada warung yang menjual masakan Indonesia, maka orang-orang Indonesia yang ada di sini akan datang, dan kami bisa bercakap dalam bahasa Indonesia.”
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hutan menutupi 31% dari permukaan tanah di muka bumi ini dan wisata hutan telah mengisi ceruk sebagai salah satu segmen pariwisata yang tumbuh paling cepat di seluruh dunia.
Setelah pandemi global menjangkit 216 negara, berwisata ke hutan agaknya bisa menjadi pilihan untuk tetap bisa berwisata dan menerapkan protokol kesehatan yang ada, disamping wisata hutan melalui aktivitas Taman Nasional di banyak negara telah menjadi sarana untuk mempromosikan manajemen kehutanan dan mendukung masyarakat lokal.
Bepergian di sekitar area hutan membantu wisatawan mengamati dan berinteraksi dengan kehidupan tanaman dan hewan setempat di habitat alami mereka. Manfaat lain jika berwisata di hutan yaitu bisa memahami bagaimana memperlakukan alam dengan semestinya, Pengalaman berinteraksi dengan alam ini biasa dilakukan para pendaki gunung yang ingin mengeksplor kawasan hutan hingga ke puncak gunung.
Pengalaman yang dinikmati setiap orang mungkin berbeda tapi kerap sulit dilukiskan dengan kata-kata hingga akhirnya menjadi kunjungan rutin di berbagai tempat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan mereka yang acuh tak acuh terhadap kehidupan hutan dan alam akan mendapatkan esensi dari berwisata ke hutan sambil mendaki gunung.
Di era New Normal , para pendaki sejati yang mencintai alam dan keluar masuk hutan lebih dulu menggalakkan wisata hutan yang memberikan nilai lebih berupa kesehatan dan peningkatan spiritual kepada Allah sang khalik.
Ada atau tidak ada pandemi global bagi Rahmi Hidayati, Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang juga pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya sudah lama mengenalkan wisata alam pada masyarakat.
Sudah hampir lima tahun terakhir Rahmi mendaki gunung dengan kebaya dan kain lilit. Keluar masuk hutan, mendaki Gunung Rinjani, Gn Semeru, Gn Gede, Gn.Ceremai, Gn Prau, Gn Merbabu. Semua itu merupakan deretan gunung yang pernah didakinya dengan memakai kebaya.
Saat mendaki gunung, Rahmi bakal membawa peralatan lengkap di dalam tas ransel serta memakai sepatu gunung demi keselamatan. Tatapan bingung sering dijumpainya dari pendaki lain
Mereka seolah tak percaya ketika melihat sosok ibu dua anak–, yang tertua sudah menjadi dokter—berkebaya dengan kain lilit, mendaki hingga puncak gunung dengan ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.
Bersama PBI sejak 2014 gebrakannya telah membuat wanita Indonesia setiap hari Selasa kini mengenakan kebaya sebagai baju nasional dan sejak 2019 lalu dia juga sudah memulai program “Kebaya Goes To The World”.
Kiprahnya ini di dukung Departemen Luar Negri sehingga bisa memperkenalkan kebaya sebagai busana asli perempuan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Rahmi dengan komunitasnya melakukan serangkaian perjalanan, misalnya Desember 2019 lalu ke Bangkok, Thailand.
Pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tahun lalu, Rahmi juga mendaki Puncak Tugu, salah satu puncak dari Pegunungan Kendeng, di Pekalongan dengan ketinggian 2.117 Mdpl.
” Saya mendaki gunung pertama kali tahun 1987, waktu itu naik Gunung Gede lewat jalur Cibodas. Umur 19 tahun. Waktu mendaki pertama kali rasanya berat karena memang lagi nggak enak badan. Terpaksa tidur di antara pos 3-4 karena muntah2 akibat masuk angin. Besoknya pendakian dilanjut dan sampai ke puncak,” kenangnya.
Perasaannya pertama kali naik gunung tentunya senang sekali dan langsung mendapat pelajaran berharga, meski dalam kondisi kurang fit jika memiliki keyakinan dan semangat yang kuat maka rasa teler juga hilang dengan sendirinya.
“Intinya sih jangan mudah patah semangat apalagi belum mencoba. Pendakian selanjutnya dilakukan ketika bergabung dengan Mapala UI tahun 1988,”
Setiap mendaki gunung dan melewati kawasan hutan dari sisi spiritual, sungguh terasa banget betapa Allah maha besar. Gunung bahkan langit yang luar biasa luasnya, bumi dengan matahari serta planet di sekitarnya, cuma seperti butiran pasir di antara semesta ciptaanNya. Jadi sesungguhnya umat manusia itu kecil sekali, tidak ada apa-apanya, ungkapnya.
“Sebagai manusia ciptaanNya, tak usahlah kita merasa “besar” dan sombong. Langit yang rasanya seperti bisa disentuh jari ketika berada di puncak gunung, ternyata jaraknya sampai jutaan tahun cahaya,”
Pengalaman naik gunung dari sisi kesehatan banyak manfaatnya karena membuat badan luar biasa sehat. Sebagai penderita asma parah karena sering banget sesak napas sampai berbunyi ngikngik, Rahmi bisa merasakan perubahan setelah rajin mendaki gunung.
“Ketika rajin naik gunung, nggak berasa asma nya hilang sama sekali, bahkan sampai sekarang pun nggak pernah kambuh lagi. Tentu aku tetap jaga kesehatan dengan cara menjauh dari asap rokok dan debu rumah,” kata Rahmi Hidayati.
Di usia yang sudah lolita ( lolos lima puluh tahunan) naik gunung juga melatih otot-otot tubuh untuk tetap bekerja dengan baik. Alhamdulillah sampai saat ini berat badannya juga tidak pernah berlebihan. Mungkin karena lemak-lemak tubuh habis terbakar saat mendaki, menapaki tanah sebagai undangan dari gunung.
Para pendaki sebenarnya menaklukkan diri sendiri dan saat melewati hutan dengan segala makhluk yang bersarang di dahan pohon akan jadi penyemangat dengan oksigen tak terbatas yang mereka keluarkan dari tiap helai daun.
“Dalam perjalanan menuju puncak pula akan kita temui bahwa Allah memang ada dimana-mana, …. Ah, susah deh cerita soal ini kalau tidak mengalami sendiri hehehe,” ujarnya dilanjutkan tawa berderai.
Hutan di Indonesia ini ada yang berstatus Taman Nasional, ada juga Hutan Sosial. Kalau Taman Nasional, contohnya gunung-gunung yang sering didaki atau danau-danau indah yang banyak diantaranya dijadikan obyek wisata.
Perhutanan Sosial bisa digarap oleh masyarakat atas ijin Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ini artinya hutan tidak hanya dijaga oleh pemerintah, tapi juga oleh masyarakat termasuk para pengunjung yang datang untuk menikmati keindahannya maupun masyarakat sekitar yang memanfaatkan keberadaan lahan hutan tersebut.
Membuang sampah pada tempatnya menjadi kunci utama menjaga dan merawat hutan selama mendaki gunung atau mengunjungi obyek wisata alam tersebut.
” Jadi harus ada kesadaran soal menjaga kelestarian alam melalui pengelolaan sampah yang baik. Akan lebih baik kalau sampahnya dibawa turun kembali, apalagi sampah plastik ” kata Rahmi Hidayati mengakhiri obrolannya.
Dekat AlamLekat Tuhan
Adji Kurniawan ( foto: dok. pribadi)
Menjelajah hutan dan naik gunung juga aktivitas yang disukai wartawan senior Adji Kurniawan dari Travelplusindonesia. Mulai kenal hutan dari SD sejak masuk Pramuka, sekitar umur 9 tahun saat mulai camping.
“Lebih intens lagi saat duduk dibangku SMA karena masuk organisasi pecinta alam di sekolah dan di kampung juga bikin kelompok pecinta alam ‘Tropis’. Jadi sering jelajah hutan & naik turun gunung,” ungkap Adji.
Saat di bangku kuliah, Adji menjadi lebih sering masuk kawasan hutan sejumlah taman nasional bahkan bikin kelompok jurnalis pecinta alam ‘Phinisi’ dilanjutkan setelah masuk dunia kerja, bikin komunitas pecinta alam & traveler ‘Kembara Tropis’ sampai sekarang walau sejumlah anggota kini sudah di usia sebagai warga senior alias sudah tua.
“Berwisata ke hutan dan melakukan pendakian rasanya bikin damai, sejenak bebas dari rutinitas dan menambah wawasan dari masalah sosiologi, geografi dan budaya,” jelasnya.
Selain itu hobby ini juga menambah pertemanan, dan paling asyik bisa tahu langsung keindahan alam dan karekater bermacam gunung di Indonesia karena ada gunung yang super aktif, sedang, relatif tenang & dan ada gunung mati seperti gunung api purba Nglanggeran di Yogyakarta.
Ketinggian gunung juga bervariasi karena ada gunung berketinggian dibawah 1000 meter di atas permukaan laut atau MDPL, 2000 dan 3000- an. Ada gunung populer dan tidak populer, ada gunung berstatus Taman Nasional bahkan ada gunung yang dianggap keramat dan ada gunung yang instagramable karena punya pemandangan menawan.
Dua manfaat secara spiritual dan kesehatan sangat terasa. Secara spritual Adji merasa lebih dekat dengan sang Maha Pencipta alam . Itu sebabnya sejak dulu ada motto pecinta alam : Dekat AlamLekat Tuhan artinya kedekatan dengan alam harus lebih melekatkan diri dengan penciptanya dalam artian harus menjadi hambaNya yang taat.
“Rutinitas ibadah sholat kalau dilakukan saat pendakian, di hutan, lereng dan puncak gunung terasa lebih nikmat, sekalipun kondisi fisik lelah, ngantuk dan dingin. Paling asyik lagi kalau sholat wajibnya di gunung dilakukan berjamaah bisa berdua atau bertiga dengan teman sependakian karena terasa lebih berkesan.
“Karena itu sejak kuliah saya tanamkan pendaki gunung bernilai plus artinya bisa pendakian gunung yang bernilai sosial, pendidikan, ramah lingkungan, dan lainnya, jadi bukan pendakian gunung biasa sekadar naik sampai puncak, foto-foto lalu turun. Ada aktivitas sosial juga yang kita lakujan,” ungkapnya.
Secara kesehatan, jelas sangat mendukung. Dulu sebelum pendakian terlebih gunung yang terbilang tinggi dan sulit seperti Ceremai, Semeru, Rinjani, sebelum mendaki saya biasakan latihan fisik suku minimal seminggu 2 kali dengan jogging di Senayan (terutama di trek bukit hutan kotanya).
Secara kesehatan dengan sering mendaki gunung berarti sering menghirup udara segar, bersih, bebas polusi, kaya oksigen karena melewati hutan, sungai, air terjun, telaga. Fisik dan mental pun lebih terlatih dan teruji.
“Saat berada di hutan, mencium aroma pepohonan dan tanah itu enak banget. Kadang kalau kelamaan di hutan jadi terhipnotis, malah jadi malas untuk mendaki ke puncak gunung ” ungkap Adji.
Tapi untungnya, sejak dulu saat mendaki gunung Adhi targetnya harus sampai puncak dan itu sebelum matahari terbit supaya bisa lihat pesona sunrise lalu sholat subuh di puncak. Entah kenapa jika tidak sampai melihat sunrise, dia merasa gagal mendaki gunung itu. Meski dalam dunia pendakian, sejatinya tidak ada istilah ‘menaklukan’ gunung, yang ada menaklukan diri sendiri (ego, fisik/mental).
Menurut Adji, penetapan hutan dan gunung sebagai kawasan konservasi entah itu Cagar Alam, Taman Wisata adalah cara terbaik menjaga hutan ya ng dilakukan pemerintah. Tinggal bagaimana menerapkannya di lapangan.
“Masalahnya hutan kita amat luas, jumlah Taman Nasional (TN) hingga 2019 ada 54 TN, sementara SDM/penjaga hutannya terbatas. Belum lagi banyak faktor penyebab kerusakan hutan oleh perambah hutan, faktor alam seperti kebakaran,”
Pemerintah harus lebih siap dan tegas lagi dalam menjaga keberadaan hutan dari pihak-pihak yang rakus & tak bertanggung jawab. Sedangkan komunitas, LSM, kelompok pecinta alam harus bahu membahu mengatasi kerusakan hutan.
“Kita harus rajin menyuarakan informasi untuk ramah lingkungan dan wisata sambil merawat hutan saat melakukan berbagai aktivitas wisata alam, petualangan, pendakian gunung,” kata Adji.
Ke depan banyak pihak optimistis wisata hutan makin digemari masyarakat. Namun hutan wisata terutama hutan pinus yang kini banyak dikunjungi wisatawan juga harus dijaga daya dukung dan peruntukan fasilitas umumnya sehingga tidak menjadi merusak lingkungan, tutupnya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kabupaten Banyuwangi telah siap menerapkan NewNormal atau kenormalan baru dalam dunia pariwisata yang patut diikuti jejaknya oleh pimpinan daerah lainnya,” kata Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center, hari ini.
” Saya baru saja menerima video New Normal Majestic Banyuwangi Tourism dari pak Bupatinya Abdullah Azwar Anas. Kalau 10% dari 514 pimpinan kabupaten di Indonesia memahami pariwisata dan selalu selangkah lebih maju seperti beliau, pariwisata Indonesia mudah bangkit dan melesat,” ujar Sapta.
Menurut dia di video tersebut jelas sekali menunjukkan tahapan-tahapan protokol kesehatan yang telah diterapkan kabuputen di Jawa Timur itu. Mulai dari kondisi perawatan kebersihan di bandara Banyuwangi, proses kedatangan, cek suhu, wajib mengenakan masker, pelayanan mobil jemputan dilengkapi dengan hand sanitizer, touchless dan jaga jarak saat check in di hotel.
” Juga ditunjukkan kegiatan staycation menikmati fasilitas hotel tetap dengan jaga jarak, pelayanan di restoran-restoran, nonton pertunjukkan hingga ke obyek-obyek wisatanya,” tambah Sapta.
Video singkat yang informatif dengan obyek wisata andalan Banyuwangi mulai dari Kawah Ijen, Banyuwangi Geopark, Teluk Hijau, Alas Purwo, Pulau Merah, Hutan Djawatan, beragam kuliner halal yang lezat hingga pertunjukkan di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi.
Ikon baru pariwisata yang cukup instagenik di Banyuwangi ini dipenuhi dengan ratusan patung penari Gandrung yang siap menyambut tamu ketika berkunjung ke sini dengan pemandangan indah lahan persawahan terasering di lereng Gunung Ijen.
Menurut Sapta, leadership dan kreativitas telah membawa Banyuwangi sebagai destinasi wisata utama yang siap di era New Normal bahkan mengungguli destinasi super prioritas yang ada.
” Bupatinya mengutamakan 3 A, akses, amenities dan atraksi sehingga sejak diangkat beliau mampu membuat perubahan besar bagi daerahnya memanfaatkan tekhnologi dan semua terintegrasi ” kata Sapta.
Wakil Menteri Pariwisata di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini masih ingat betul bagaimana Azwat Anas datang ke event-event yang digelarnya seperti Tour de Singkarak, Sumbar yntyk belajar dan menerapkan di daerahnya menjadi Tour de Ijen.
” Beliau juga rajin membenahi atraksi yaitu destinasi wisatanya seperti Kawah Ijen, Geopark, G-land untuk para Surfer hingga kreativitas membuat event sepanjang tahun,” kata Sapta.
Alhasil Banyuwangi yang jaman dulu punya citra jadi daerah santet kini jadi kota internet karena masyarakatnya melek pelayanan IT dan kini menjadi kota kabupaten yang diminati investor hotel-hotel bintang lima karena perkembangan pariwisatanya.
Banyuwangi sangat terbuka untuk wisatawan dari mana saja baik lokal maupun internasional bahkan ketika wisman Timur Tengah berdatangan langsung dibuat paket wisata khusus kuliner spesial dengan menu kambing, nasi kebuli dan menu khas dari negara-negara di kawasan itu.
” Bagi mereka yang mau studi banding juga dilayani dengan sangat baik karena pengeluaran dan kebutuhan wisatawan yang datang studi banding seperti halnya yang datang untuk leisure bahkan spending bisa lebih besar,”
Sapta Nirwandar berharap bupati yang banjir penghargaan internasional termasuk dari Badan Pariwisata Dunia ( UNWT0) ini segera menyebarkan video versi bahasa Inggris dan membimbing daerah lainnya untuk menerapkan program program Cleanliness, Health and Safety ( CHS) sesuai protokol kesehatan dan standar WHO.
Senada dengan Sapta Nirwandar, Anton Thedy, founder TX Travel dengan 255 cabang mengatakan leadership dan kreativitas Bupati Banyuwangi memang membuat wisatawan dan mereka yang suka jalan-jalan merasa aman apalagi dengan kebersihan yang menjadi prioritas.
” Banyuwangi memang kreatif dan siap menyambut wisnus, jelas NewNormal harus membuat kita yang suka jalan jalan merasa aman dan kebersihan jadi prioritas. Hanya destinasi yang siap yang akan jadi pilihan untuk dikunjungi,” kata Anton.
Menurut dia, program Wisata Domestik ( WisDom) akan menjadi andalan Travel TX di sisa tahun 2020 ini karena sekaligus misinya adalah mendukung roda ekonomi domestik yang memiliki multipliereffect yang luas.
” Dukungan juga di harapkan dari pemerintah pusat maupun daerah. Mungkin inilah waktunya membuat tahun kunjungan WisDom ( Wisata Domestik). Intinya dari kita buat kita untuk menjadikan Indonesia kuat dan berjaya setelah pandemi COVID-19 berakhir,” kata Anton.
Stakesholder wisata di Lombok, NTB. siapkan Kenormalan baru ( foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bersama stakeholder pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) mempersiapkan protokol kesehatan dan SOP menyambut kenormalan baru di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf).
Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani saat webinar dengan tema “New Normal For The Hospitality Industry” menjelaskan, pandemi COVID-19 telah membuat perilaku manusia yang baru dimana masyarakat jauh lebih peduli terhadap faktor-faktor kebersihan, kesehatan, dan keamanan termasuk untuk destinasi pariwisata.
“Nantinya, semua industri akan lebih mengedepankan protokol kesehatan, akan diletakan menjadi protokol paling pertama baru diikuti protokol lainnya karena kita menghadapi krisis yang berbasis virus, yang tidak bisa dilihat kasat mata. Namun kita tidak boleh terus menerus terpuruk dan harus bangkit meneruskan pembangunan dengan menyusun strategi, dan menerapkan SOP protokol kesehatan dalam keseharian di institusi masing-masing,” katanya.
Webinar turut dihadiri Dirut Poltekpar Lombok Hamsu Hanafi, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal, CEO Azana Hotel dan Resort Dicky Sumarsono, Chairman IHGMA NTB Ernada Agung Dewobroto, dan Head of Business Hotel Management at Bina Nusantara University Arif Zulkarnain berlangsung kemarin.
Giri menjelaskan, Kemenparekraf terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait dalam menyiapkan protokol kesehatan dan verifikasi implementasi Standar Operasional Prosedur Clean, Health, and Safety (SOP CHS) dengan baik dan benar sesuai standarisasi yang ditetapkan.
“Gerakan CHS ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi dan industri pariwisata Indonesia usai COVID-19 sehingga destinasi akan siap menerima kunjungan wisatawan, yang pada tahap awal pasti akan didominasi oleh wisatawan domestik,” kata Ni Wayan Giri Adnyani.
Dirut Poltekpar Lombok Hamsu Hanafi menjelaskan, tren tatanan baru kenormalan baru dianggap sangat penting dalam menghadapi sektor pariwisata ke depan. Poltekpar sebagai lembaga pendidikan vokasi bidang pariwisata ingin berkontribusi secara luas bagi masyarakat dan khususnya industri hospitality.
“Dalam webinar kali ini, kami hadirkan birokrasi, praktisi, dan akademisi, ketiga komponen ini akan memberikan solusi dan menyikapi dampak dari pandemi COVID-19 sebagai langkah dan upaya menyambut normal baru khususnya di Lombok,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal mengatakan pihaknya ingin segera kembali menghidupkan “mesin” pariwisata yang vakum akibat pandemi COVID-19.
Ia mengatakan ketika sektor pariwisata NTB dibuka kembali akan ada lima destinasi pilotproject yang dibuka secara bertahap, mulai dari kawasan Gili (Air, Meno, Trawangan), Taman Nasional Gunung Rinjani, Islamic Center, Kawasan Mandalika, dan destinasi di Pulau Sumbawa yaitu Pulau Moyo.
“Kawasan tiga Gili menjadi pilot project saat sektor pariwisata di buka lantaran di sana lebih bisa di organize bagaimana implementasi protokol kesehatan dan penerapan physical distancing Lalu pintu masuk ke kawasan tersebut sudah ditetapkan dari pelabuhan Bangsal,” katanya.
Faozal juga menjelaskan Taman Nasional Gunung Rinjani bisa dibuka kembali setelah kawasan Gili, namun perlu koordinasi dengan pihak pengelola terkait daya tampung dan penerapan physicaldistancing di salah satu dari tujuh gunung tertinggi di Indonesia itu.
Kemudian terdapat kawasan Islamic Center yang pengelolaannya di bawah koordinasi Dispar NTB. Selanjutnya secara bertahap Kawasan Mandalika dengan terus berkoordinasi bersama ITDC sebagai pengelola kawasan ekonomi khusus seluas 1.200 hektar itu. Di sisi lain destinasi di Pulau Sumbawa yaitu Pulau Moyo.
“Yang paling penting, ketika membuka normal baru, maka pemerintah harus menyiapkan perangkatnya, baik itu kesiapan destinasi ataupun industri lainnya,” ujarnya.
Teknologi contacless menjadi penting di era pandemi (foto: skift)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi Covid-19 melahirkan kebiasaan baru. Saat kelak orang kembali bepergian, mereka dipastikan akan mempertahankan perilaku hidup bersih, termasuk mengurangi sentuhan baik ke sesama maupun benda-benda di sekitar. Adaptasi perilaku baru ini mulai direspons sejumlah perusahaan penyedia jasa teknologi.
Mereka bahkan berharap para pelaku bisnis di industri perjalanan dan pariwisata segera membeli perangkat digital yang memungkinkan terjadinya sentuhan seminimal mungkin. Industri perjalanan, misalnya, sangat berkepentingan karena mereka ingin para pelancong yang kini cenderung rewel soal kebersihan dan kesehatan ini perlu diyakinkan. Sayangnya, saat ini banyak perusahaan yang terpukul akibat pandemi Covid-19 sehingga sulit untuk berinvestasi dalam proyek teknologi.
Skift.com melakukan studi lebih jauh tentang bagaimana hotel, bandara, perusahaan penerbangan, dan para manajer perjalanan perusahaan mengadopsi keadaan dengan memanfaatkan teknologi yang memungkinkan contactless terjadi.
“Jangka pendek, teknologi contactless memberi jaminan pada pelanggan. Selain itu, ia juga memberi solusi bagaimana mengurangi biaya,” kata Katherine Grass, CEO perusahaan teknologi perjalanan Optii dan mitra usaha di Thayer Ventures.
Dia menambahkan jika sebuah hotel kembali buka dengan tingkat hunian rendah, maka upaya membangun pengalaman contactless dapat mengurangi biaya.Teknologi dapat menggantikan upah tenaga kerja.
Data dari perusahaan konsultan McKinsey menunjukkan konsumen akan dengan sendirinya merangkul inovasi teknologi tanpa kontak. Sebagian bahkan sudah memiliki preferensi untuk memilih merek yang menunjukkan upaya disinfeksi paling jelas.
“Ini merupakan tipe baru pelancong yang sangat sadar kesehatan,” kata Menteri Pariwisata Jamaika Edmund Bartlett.
Sejumlah pekerja hotel juga menginginkan perlu upaya mengurangi seringnya mereka menyentuh permukaan yang sama yang kerap disentuh baik oleh rekan sekerja maupun para tamu.
Beberapa perusahaan bisa mencoba teknologi biometrik, seperti pengenalan wajah, atau mengganti sistem lama dengan mengenalkan teknologi sensor pada barang-barang yang sering disentuh. Atau menghapus prosedur dimana seorang pekerja harus menyentuh puluhan kartu kredit sepanjang hari yang sibuk.
Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat di situsnya menyebut bahwa penularan virus kemungkinan besar dapat terjadi jika seseorang menghirup langsung virus dari orang yang terinfeksi saat mereka bersin, batuk, berbicara, atau bernyanyi.
Teori yang menyebut bahwa permukaan dapat menjadi media penularan, tidak terlalu populer. Itu sebabnya penerapan teknologi contactless lebih dirancang untuk mengurangi interaksi langsung orang per orang, seperti antara resepsionis hotel dengan para tamu. Sistem ini sekaligus dapat meningkatkan efisiensi.
Hotel L’hotel Island South di Hong Kong telah mengganti staf dengan robot untuk menyajikan makanan dan minuman bagi para tamu yang menjalani karantina. Para tamu hanya perlu menyentuh keypad robot untuk dapat menerima makanan.
Airlines dan Bandara
Bandara dan maskapai penerbangan terus berupaya menciptakan keadaan aman bagi para traveller. Pekerja call center yang dirumahkan belum akan kembali bekerja hingga pandemi mereda.
Pembuat perangkat lunak Automation Anywhere berhasil menciptakan software berbasis robot yang memungkikan informasi tiket para pelanggan diekstrak, membuka sistem perusahaan penerbangan, dan menerbitkan voucher untuk rencana perjalanan berikut. Proses tanpa kontak ini memotong waktu dan dana.
Banyak penyedia teknologi menawarkan solusi yang relevan. Salah satunya, Amadeus. Mereka membuat teknologi yang memungkinan wisatawan melakukan pembayaran di bandara tanpa kontak seperti biaya bagasi check-in menit terakhir. Lufthansa merupakan salah satu maskapai yang telah meluncurkan Amadeus Airport Pay.
Sementra itu OTG, pengelola 300 restoran dan toko di 10 bandara telah memasang perangkat otomatisasi Just Walk Out untuk mengurangi interaksi langsung.
Seluruh proses menjalani kehidupan norma baru, termasuk meminimalisir kontak, harus kita lakoni. Pasti tidak mudah. Tetapi penting bagi masyarakat untuk beradaptasi demi menjaga kesehatan.
Rencana pemerintah untuk mengizinkan kembali beroperasinya mal dan tempat pariwisata di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang belum menurun saat ini dinilai sangat riskan.
Namun di satu sisi tuntutan agar tidak ada lagi perpanjangan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta yang akan berakhir hari ini 4 Juni 2020 juga menimbulkan pro-kontra.
Hilda Ansariah Sabri
Pembukaan mal dan tempat pariwisata akan memicu kerumunan orang dan bertentangan dengan prinsip aturan PSBB. Selain itu, kerumunan juga berisiko mengabaikan unsur physicaldistancing yang tertuang dalam protokol kesehatan.
Apalagi, masyarakat sampai saat ini belum kooperatif dalam mengikuti aturan pemerintah untuk melaksanakan protokol kesehatan dalam berbagai aktivitas selama pandemi berlangsung.
Hal ini berkaca pada insiden di Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor, Jawa Barat, hari Minggu, 31 Mei lalu yang dipenuhi pengunjung mendirikan tenda dan menjadi viral karena di tengah pemberlakuan PSBB.
Berkumpul di alam terbuka bak negri di atas awan membuat para pengunjung bukit itu melupakan segala bentuk aturan untuk melindungi diri mereka sendiri akibat penyebaran masif virus COVID-19 yang sudah menjangkit 216 negara di dunia.
Gagalnya aturan larangan mudik yang tidak dipatuhi sehingga ditengarai 1,6 juta orang berhasil mudik pada Lebaran lalu juga berdampak pada daerah yang menjadi tujuan mudik. Insiden lainnya, masyarakat juga belum lupa pada penumpukan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang terjadi pada 14 Mei 2020 lalu.
Saat itu beredar viral foto antrian calon penumpang pesawat yang sama sekali tidak menerapkan physical distancing. Padahal bandara bagian dari tempat keramaian orang. kerumunan selain mengabaikan protokol kesehatan bisa memperparah pandemi ini.
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta akan berakhir hari ini 4 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum memutuskan apa PSBB akan diperpanjang atau ini menjadi yang terakhir.
Hingga saat ini pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menetapkan kebijakan terbaru terkait PSBB. Dijadwalkan hari ini pengumuman akan dilakukan langsung oleh Anies.
PSBB pertama kali dijalankan pada 10 April sampai 24 April 2020 lalu. Anies kemudian memperpanjang PSBB dari 24 April sampai 7 Mei dan diperpanjang lagi hingga 22 Mei. Terakhir, Anies memperpanjang PSBB hingga 4 Juni.
Kebijakan Anies memperpanjang PSBB tersebut tak terlepas dari angka reproduksi Corona yang masih tinggi. Oleh karena itu jika belakangan ini gaung kenormalan baru ( New Normal ) sudah semakin gencar, maka harus hati-hati karena faktanya kasus COVID-19 belum menurun.,
Masalah pro-kontra PSBB menjadi topik yang hangat dikalangan masyarakat maupun dalam seminar/ diskusi daring ( webinar) selama kebijakan bekerja, belajar dan beribadah di rumah diterapkan oleh banyak negara termasuk di Indonesia.
PSBB membuat perekonomian anjlok, , larangan dan penutupan perbatasan di banyak negara membuat industri travel & tourism secara global mati suri. Boleh dibilang banyak yang berharap bulan Juni ini bisa terjadi pelonggaran di berbagai bidang.
Berandai-andai memang sah-sah saja, itulah yang dilakukan Anton Thedy, Founder TX Travel dan wholeseller travel pertama di Indonesia ketika pekan lalu menjadikan Sjachrul Firdaus, Direktur Eksekutif ASTINDO sebagai nara sumbernya dalam bincang ke 224 Live Insta Story di instagram @resellertravel.
Tanpa perlu menunggu keputusan Gubernur DKI Anies Bawesdan soal PSBB akan diperpanjang hari ini, penilaian pribadi kedua tokoh pariwisata ini mengacu pada perilaku masyarakat yang sampai saat ini belum kooperatif dalam mengikuti aturan pemerintah.
” PSBB kalau menurut saya pribadi tidak perlu di perpanjang soalnya masyarakatnya unik. Pengawasan ketat di lapangan mungkin lebih ampuh,” kata Sjachrul Firdaus.
Sedangkan Anton menilai tingkat resiko kematian manusia dan ekonomi kini lebih rentan di bidang ekonomi karena dunia usaha sudah tidak tahu lagi cara bertahan hingga 6 bulan ke depan.
” Banyak teman meyakini bulan Juni ini usahanya sudah bisa mulai beroperasi lagi. Tapi pertanyaannya apakah konsumennya ada ? ,”
Sjachrul mengatakan masyarakat Indonesia itu unik dan keluar dari segala macam teori. Bahkan dengan bangsa serumpun yaitu negara tetangga seperti Brunei, Singapura, Malaysia tetap saja ada keunikannya sendiri terutama dalam hal nekad.
“Biar pendidikannya tinggi yang diikuti adalah maunya sendiri saja. Kasus 14 Mei 2020 di bandara saya tidak kaget karena hasil survei yang kami buat memang menunjukkan karakter itu,” kata Sjachrul.
Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia ( ASTINDO) belum lama ini membuat survei dengan melibatkan para pelanggan dari perusahaan travel anggotanya di 21 provinsi melibatkan 264 responden.
Pertanyaan: Apabila pandemik dinyatakan selesai, apakah Anda langsung melakukan perjalanan ? jawabannya : 14,6 % langsung pergi, 48% menunggu 1-2 bulan, 26 persen baru memutuskan setelah 6 bln dan 12% berani melakukan perjalan setelah setahun.
” Nah kasus 14 Mei 2020 dan perkiraan ada 1,6 juta orang yang lolos mudik Lebaran 24 Mei lalu itu golongan yang langsung pergi ( 14,6%),” ungkap Sjachrul Firdaus.
Pertanyaan lain seperti jika pergi berwisata tujuannya kemana ? maka jawabannya 58 % domestik dan 42% Asean. Sedangkan soal tujuan perjalanan setelah pandemi berakhir maka jawabannya 76% untuk berlibur, 11% perjalanan dinas sisanya lain-lain.
Setelah aktivitas dilakukan di rumah saja sedikitnya selama tiga bulan terakhir, berwisata yang telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia memang jadi keinginan teratas. Uniknya, tambah Sjachrul, golongan kelasnya baik miskin, menengah maupun atas dari masyarakat sudah punya rutinitas berwisata.
” Jadi meski taraf hidupnya heterogen tapi ada segmen-segmen untuk berbagai tipe jenis dan paket wisata yang menjadi pilihan masyarakat sehingga jangan khawatir di Indonesia peluang mengembangkan industri wisata selalu ada,”.
Selain ada sifat nekad, masyarakat Indonesia juga latah. Ibarat fashion jika ada mode yang trend langsung mengikuti dan boom. Itu sebabnya begitu PSBB berakhir dan ada kelonggaran Sjachrul yakin wisata jadi trend lagi.
Apalagi jika penerbangan kembali normal dan aktivitas bekerja, belajar dan beribadah jadi longgar maka bisa-bisa 48% responden yang baru mau melakukan perjalanan 1- 2 bulan setelah pandemi berakhir justru langsung pergi staycation atau sudah jadi turis domestik mengikuti kelompok 14,6% di dorong sikap latah,” tambahnya.
Anton juga berandai-andai jika sebelum kenaikan harga tiket ada lebih dari 80 jutaan pengguna pesawat terbang di Indonesia maka untuk menggerakkan wisata domestik ( Wisdom) pemerintah RI patut mencontoh kebijakan Jepang.
Pemerintah Jepang alokasikan dana triliunan untuk mensubsidi 50% biaya perjalanan turis ke Jepang setelah Juli ini. Namun belakangan diralat bahwa subsidi ditujukan untuk warga Jepang agar melakukan wisata domestik bukan pelancong asing.
” Kalau industri travel & tourism di Indonesia kompak bikin satu juta paket wisata domestik di dukung pemerintah maka roda perekonomian akan bergerak,” kata Anton.
Memang riset menunjukkan wisata domestik akan menjadi andalan dengan melihat daerah tujuan wisata yang siap menerapkan kenormalan baru ( New Normal). Namun pemicu untuk menggerakan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara atau wisatawan domestik seperti tahun lalu memang harus dipelopori pemerintah.
Pemerintah dan swasta harus kompak dan yakin bahwa sektor pariwisata bisa jadi andalan membangkitkan perekonomian bangsa dengan multiplier effect yang luas.
Kalau selama ini di lingkungan dunia usaha urusan kompak masih jauh panggang dari api alias sulit untuk kompak, apa setelah menghadapi musuh bersama bernama COVID-19 masih sulit ?. Wallahu A’lam Bishawab, Allah lebih tahu atau Allah Yang Maha Mengetahui.
DENPASAR, bisniswisata.co.id: Digitalisasi transaksi yang bersifat contactless menjadi keharusan dan salah satu unsur penting dalam mendukung industri pariwisata di tatanan kehidupan baru. Implementasi digitalisasi transaksi tidak hanya terbatas pada industri pariwisata — obyek wisata, hotel dan restaurant– juga industri pendukungnya, seperti transportasi, pusat perbelanjaan hingga rumah sakit.
Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran, merespon pergeseran kebutuhan industri niaga sebagai salah satu dampak pandemi COVID-19. Bank Indonesia senantiasa berupaya, menjadikan sistem pembayaran yang efisien, efektif, mengacu pada prinsip utama kebijakan sistem pembayaran yaitu cepat, mudah, murah, aman dan handal serta bertitik tolak pada aspek higienitas dalam bertransaksi.
Untuk itu, Bank Indonesia menawarkan system QRIS dalam transaksi non tunai berbasis digital, selain cepat, mudah, murah, aman dan handal (cemumuah). Diharapkan mampu mendukung kesiapan pariwisata di era tatanan kehidupan baru (new normal) yang mengacu pada protokol cleanliness, healthy, dan safety. Demikian dipaparkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali, Trisno Nugroho pagi ini dalam webinar bertajuk What Can Bali’s Tourism Do with Digital Payment in the New Normal Era?
“Sejak tahun 2019, BI mengeluarkan standarisasi QR Code atau QR Code Indonesian Standard (QRIS), standar instrument pembayaran berbasis digital dan bersifat contactless,” tegas Trisno.
Tercatat, sampai akhir Mei 2020, telah disetujui sebanyak 36 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang dapat melaksanakan transaksi QRIS. Pengguna QRIS per Mei 2020 telah mencapai 89,950 merchant atau meningkat sebesar 253% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2019 yang tercatat sebanyak 25.483 merchant. Peningkatan ini diatas rata-rata peningkatan nasional sebesar 99%.
Selama pendemi COVID-19, — 6 Maret hingga 29 Mei –, penambahan merchant QRIS di Bali sebanyak 24.002 merchant atau 26,7% dari total merchant yang ada. Peluang penggunaan QRIS makin terbuka dengan bertumbuhnya industri kecil sebagai jawaban atas kondisi ekonomi dalam masa darurat pandemi COVID-19.
Direkomendasi IINTOA
Penggunaa QRIS dalam transaksi jasa kepariwisataan mendapat tanggapan positif anggota Indonesia Inbound Tour Operator Association (IINTOA). Menurut anggota IINTOA, Ng Bastian mau pun Barbara Purwa QRIS layak direkomendasikan digunakan disetiap DTW, objek kunjungan, selain memudahkan bagi BPW, sekaligus mendukung pelaksanaan protokol kesehatan pengendali COVID-19.
“Saat daya tarik wisata sudah dibuka, seharusnya sudah tidak ada lagi karcis. Semuanya sudah cashless dan paperless. Siapkah semua DTW dengan itu? Sudah saatnya ASITA mau pun IINTOA, mendorong pemerintah daerah untuk segera merealisasi penggunaan QRIS disemua lini jasa pariwisata, ” ungkap Ng Bastian
Dengan system QRIS ini, BPW cukup membekali guide dengan kartu (pilihan masing- masing perusahaan), untuk reporting, pihak perusahaan hanya perlu melihat history payment yang dilakukan. Tinggal disesuaikan saja dengan pasar, seperti RRT kan pakainya Alipay, pasar Asia lebih mengenal Jenius, imbuh Barbara Purwa.
Sektor pariwisata, memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Bali. Pada tahun 2019, total devisa dari pariwisata Bali mencapai USD 9,346 juta atau setara dengan 53,65% PDRB Bali dan 55,26% devisa kepariwisataan nasional. Di tahun 2020, dengan diberlakukannya pembatasan aktivitas sosial melalui penutupan bandara dan pelabuhan, berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor pariwisata. Pariwisata Bali menurun 42,26% (yoy) pada periode Januari – April 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.
Selama pandemi COVID-19 realisasi penarikan tunai masyarakat di wilayah Provinsi Bali mengalami penurunan sebesar Rp 1,392 miyar atau hanya 46,7% dari jumlah yang diproyeksikan sebesar Rp2,981 milyar. Sebaliknya, pada bulan Maret 2020 transaksi non tunai yang bersifat contactless (mobile banking, internet banking, e-money server based & QRIS) meningkat hingga 2,2 juta transaksi (20,83%/ mtm) dibandingkan bulan Februari 2020. Dari sisi nominal meningkat dari Rp17,84 triliun menjadi Rp18,92 triliun atau meningkat sebesar 6,03% (mtm). Data ini menjadi bukti, terjadi pergeseran pola bertransaksi di masyarakat dari tunai menjadi secara non tunai.
Webinar ini menampilkan nara sumber Prof. Dr. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Wakil Gubernur Provinsi Bali sekaligus Ketua PHRI Bali, Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur Bank Indonesia-Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, I Ketut Alam Wangsawijaya (Executive Vice President of BCA), dan Vincent Iswara, CEO Dana. ***
BALI, bisniswisata.co.id: Lebih dari 170 orang warga Ukrania masih berada di Bali dan menunggu kemungkinan mendatangkan pesawat repatriasi. Bulan Mei, pemerintah Ukrania sudah menyelenggarakan penerbangan khusus dengan mengangkut sebanyak 174 warga Ukraina, 3 warga Rusia, 2 warga Moldova dan 1 warga Kazakhtan. Pesawat repatriasi Ukraine International Airlines, pada 19 Mei meninggalkan bandara Ngurah Rai dengan 180 orang penumpang 18 orang crew, jelas kandidat Konsul Kehormatan Ukrania di Bali, Nyoman Astama.
Sampai saat ini otorita jasa angkutan udara di Indonesia belum membuka layanan penerbangan regular internasional. Keputusan pembatasan jasa angkutan udara diberlakukan sejak ditetapkannya Indonesia sebagai kawasan pandemik COVID-19.
@BPS Bali
Sementara BPS Bali mencatat jumlah penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada bulan April 2020 turun sedalam 93,33 persen, dari 1.769 penerbangan pada bulan Maret 2020 menjadi 118 penerbangan pada bulan April 2020. Dari sepuluh negara tujuan utama penerbangan internasional, hampir seluruhnya tercatat menurun, penurunan terdalam Australia (96,21 persen).
Turunnya jumlah penerbangan internasional diikuti oleh turunnya jumlah penumpang penerbangan internasional sedalam 97,48 persen (m-t-m), yaitu dari 275.427 orang di bulan Maret 2020, menjadi 6.939 orang di bulan April 2020. Dari 10 tujuan utama penumpang penerbangan internasional, seluruhnya mengalami penurunan, dengan penurunan terdalam tercatat pada arus kunjungan Australia (99,56 persen). Begitu juga dengan jumlah bagasi dan barang penerbangan internasional yang juga menurun sedalam -91,05 persen (m-t-m), yaitu dari 7,52 juta ton di bulan Maret 2020 menjadi 673 ribu ton di bulan April 2020.
Jika dibandingkan dengan bulan April 2019 (y-o-y), jumlah penerbangan internasional di bulan April 2020 juga tercatat turun 96,00 persen, dengan penurunan terdalam tercatat pada tujuan Tiongkok (99,11 persen).
Sementara jumlah penerbangan domestik di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 830 penerbangan, turun 70,86 persen dibandingkan bulan Maret 2020 (m-t-m) sebanyak 2.848 penerbangan. Dari sepuluh daerah tujuan utama penerbangan domestik, sembilan daerah tujuan menurun dengan penurunan terdalam tercatat pada tujuan Jkt/Soekarno-Hatta sedalam 77,40 persen.
TPK Hanya 3,22 Persen
Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) langsung ke Bali pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 327 kunjungan. Jumlah tersebut turun 99,79 persen dibandingkan dengan catatan bulan Maret 2020 (m to m) sebesar 156.877 kunjungan. Bila dibandingkan dengan bulan April 2019 (y on y) jumlah kedatangan turun 99,93 persen, pada April 2019, sebanyak 477.069 penumpang.
Wisatawan yang berkunjung ke Bali dominan datang melalui bandara, sebanyak 273 penumpang (83,49 persen). Melalui pelabuhan laut pada bulan April 2020 tercatat sebanyak 54 penumpang (16,51 persen).
Kedatangan bulan April 2020 (273 penumpang) sebanyak 16,21 persen berkebangsaan Indonesia, Filipina (16,21 persen), Tiongkok (12,23 persen), India (10,40 persen), dan Rusia (8,56 persen).
@BPS Bali
Penurunan kedatangan wisatawan ke Bali mempengaruhi tingkat hunian hotel (TPK), pada bulan April 2020 TPK hotel berbintang di Bali secara umum menunjukkan penurunan dibandingkan bulan Maret 2020. Angka TPK hotel berbintang tercatat sebesar 3,22 persen, turun sedalam 22,19 poin dibandingkan TPK pada bulan Maret 2020 (m to m) yang mencapai 25,41 persen. Jika dibandingkan bulan April 2019 (y on y) yang mencapai 60,33 persen, tingkat penghunian kamar di bulan April 2020, tercatat turun sedalam 57,11 poin.
@BPS Bali
Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Bali bulan April 2020 selama 2,49 hari, turun 0,31 poin dibandingkan Maret 2020 (m to m) selama 2,80 hari. Jika dibandingkan dengan bulan April 2019 (y on y) yang tercatat selama 2,77 hari, rata-rata lama menginap April 2020 turun sedalam 0,28 poin. ***
Kondisi Bukit Alas Bandawasa di saat normal untuk menikmati munculnya matahari pagi ( atas) dan kondisi saat viral ( Foto: Google)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Beredar foto di Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor, Jawa Barat, yang dipenuhi pengunjung ramai-ramai mendirikan tenda dan menjadi viral karena di tengah pemberlakuan PSBB.
PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dibuat untuk mencegah penyebaran virus ke berbagai daerah dan jaga jarak ( social distancing) adalah salah satu aturannya.
Seluruh dunia tengah terjangkit dengan pandemi global virus Corona yang mematikan sehingga kegiatan kemah massal yang terjadi di kawasan Bukit Alas Bandawasa pada akhir Mei 2020 itu memang ” melukai” sebagian masyarakat lainnya yang patuh pada aturan pemerintah.
Chalimatus, misalnya, paramedis sebuah RS di Bekasi mengatakan sudah melihat berita viral Minggu 31 Mei itu dan sangat menyayangkan generasi milenial malah kurang memahami peraturan PSBB.
” Paramedis di garis depan mirislah lihatnya karena kami ini yang menghadapi pasien langsung. Tiga bulan lalu saat kita mulai bekerja, belajar dan beribadah dari rumah harapannya semua bisa cepat berakhir. Tapi karena banyak yang tidak patuh akhirnya jumlah korban tiap hari terus meningkat,” ujar wanita yang disapa Atus ini.
Cerita tenaga perawat yang diusir seketika dari tempat kost sepulang bertugas karena pemilik rumah takut tertular COVID-19 hanya satu dari sekian perlakuan masyarakat pada paramedis yang tidak pernah dilupakannya.
Beruntung saat ini paramedis tidak perlu pulang kerumah karena bisa ditampung oleh Kemenparekraf di hotel-hotel sehingga juga bisa mengamankan keluarganya sendiri. Jangan ditanya rasa rindu dan kebutuhan lainnya untuk berkumpul dengan keluarga.
“Tidak patuh aturan malah berpotensi menjadi pembawa virus sungguh resiko besar, semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang ketika itu berada di area ” tambah Atus.
Hasan Prayogo, pengusaha pariwisata di Yogyakarta termasuk yang sangat sedih melihat warga masyarakat yang tidak mau taat dengan aturan yang justru untuk melindungi diri mereka sendiri.
Pemilik Omah Kecebong ini menyatakan sikap masyarakat yang terus berkeliaran akan membuat kondisi pandemi menjadi lebih lama dan sulit untuk bangkit segera. ” Kita semua tahu, semakin lama pandemi berlangsung, kehidupan ekonomi, sosial dan lainnya akan semakin terpuruk,” ungkapnya.
Menurut dia, tindakan tegas untuk kebaikan dan masa depan lebih baik memang harus diterapkan karena tidak semua anak bangsa memiliki pendidikan dan pandangan yang sama.
” Pandemi global ini semua adalah dari Allah. Corona juga diciptakan oleh Allah SWT untuk kita hidup lebih baik dan menjadi bijak sehingga menjadi ladang amal kita. Mau berkorban membantu sesama untuk segera selesai wabah ini adalah yang utama,” ujarnya.
Heryus Saputro Samhudi, pemerhati masalah-masalah sosial-budaya, pariwisata dan lingkungan hidup mengungkapkan kekecewaannya atas peristiwa Bukit Alas Bandawasa, di Cigombong, Bogor,
“Saat ini ramai dibahas New Normal atau kenormalan baru tapi bukan berarti bebas berkeliaran. Bukan bebas keluar rumah tanpa jaga jarak, jaga kesehatan dan tanpa perduli kebersihan ” ujarnya.
Menurut Heryus, negara-negara Eropa dengan adanya New Normal maka warganya taat dan menjaga nyawa mereka sendiri. Kita bisa menyaksikan bagaimana Thailand, negara tetangga yang selalu dipenuhi wisatawan mancanegara tidak mau buru-buru buka pintu untuk turis asing, kata Heryus.
” Kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat Thailand membuat video pembelajaran hidup di era New Normal. Ini upaya sesama warga untuk mencegah penyebaran virus bersama tanpa harus menunggu inisiatip pemerintah,”
Seharusnya warga Indonesia bisa belajar dari pemberitaan dan tayangan di seluruh dunia yang terjadi dan bagaimana Korea Selatan yang sudah melakukan pelonggaran akhirnya kembali lockdown, karena adanya kasus-kasus baru.
Dia memahami setelah tiga bulan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, tidak bisa pulang kampung berlebaran dan silaturahmi dengan keluarga membuat kerinduan banyak orang untuk keluar rumah guna berwisata.
Namun disaat pandemi masih mengganas seharusnya mampu menahan diri dengan cukup memposting pengalaman wisata tanpa harus melakukan secara langsung. Data COVID per 3 Juni 2020 untuk Global sudah 216 negara, terkonfirmasi sebanyak 6.242.974 orang, meninggal dunia 378.485. Di Indonesia, positif 28.233 orang, sembuh 8.406, meninggal 1.698.
Heryus yang gemar menjelajah ini mengatakan bahwa Bukit Alas Bandawasa selain obyek yang belum berizin juga lokasinya andtidak jauh dari Ibukota Jakarta. Tidak lebih dari 3 jam sudah bisa sampai lokasi yang sejak Januari 2020 menjadi perbincangan karena mirip negri diatas awan, Banten yang juga sempat viral.
Umummya wisatawan yang datang kebanyakan untuk menikmati pesona hamparan awan dari atas gunung. Seakan sedang berada di atas awan sehingga menjadi magnet untuk datang langsung ke lokasi.
Dari atas bukit ini pengunjung dapat menyaksikan indahnya kota Bogor dalam sekali pandang. Kawasan bukit yang dikelola langsung oleh para pemuda setempat ini fasilitas yang tersedia sudah lumayan seperti toilet, kantin, parkir, area camping, mushola hingga berbagai spot foto lainnya.
Nah area camping salah satu fasilitas yang viral hingga akhirnya ditutup aparat setempat memang terbuka dan menjadi tempat yang perfecto alias sempurna untuk menyaksikan keindahan matahari terbit di pagi hari.
Selain menikmati matahari terbit, saat malam hari melihat gemerlapnya kota Bogor memang membuat malam menjadi romantis, apalagi sambil ditemani secangkir kopi hangat. Tempat yang cocok bagi mereka yang butuh inspirasi untuk berbagai proyek di kepala.
” Memang tempat ideal dan betah berlama-lama, namun kita atasi dulu bersama pandemi global ini. Ingat slogan dunia juga dirumah saja, #Travel Tomorrow,” tegasnya.
Jadi tak usah malu untuk halu, bahasa gaul terkini yang sering disebut anak muda dan berasal dari kata halusinasi. Artinya menghayal atau berhayal. Halu berwisata kemana saja sah-sah saja kok, tapi tunggu pandemi global hilang dulu ya dan jangan jadi pembawa virus ya..
Food truck pizza Bakka di Jepang (foto: Nikkei Asian Review)
TOKYO, bisniswisata.co.id: Ide kreatif kerap muncul saat kita menghadapai kesulitan. Demikianlah yang terjadi di Jepang. Sejak pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown nasional, banyak kafe dan restoran tutup.
Para pengelolanya kemudian mencari peruntungan dengan berpaling ke bisnis food truck. Hasilnya, cukup menjanjikan. Sebagian bahkan bertekad untuk melanjutkan usaha ini meski pandemi Covid-19 telah berakhir.
Di sebuah jalan perumahan yang sepi di Tokyo, aroma lezat menyeruak dari sebuah food truck khusus pizza, Bakka. Kudapan khas Italia ini diolah mendadak, dimasak dalam oven batu bata yang diletakkan persis di belakang truck.
Menu utamanya : margherita pizza dan four-cheese pizza yang dibandrol masing-masing 1,050 yen (sekita Rp 140.000) dan 1,000 yen (Rp 130.000). Food Truck Bakka dikelola Restoran Bakka M’unica yang sejak April lalu tutup. Penjualan turun hingga 50%. Ini dampak dari kebijakan Pemerintah Jepang yang memberlakukan lockdown nasional.
Namun, justru di tengah kesulitan itulah, Bakka Food Truck mewujud. Di tengah wabah pandemi, pemiliknya, Yutaka Hazama, 35, menawarkan layanan baru berupa reservasi bagi pelanggan yang berminat mengundang Bakka membuka restoran food truck di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Mendengar (permintaan) pelanggan, sungguh menggembirakan,” kata Yutaka. Saya ingin terus melanjutkan ini, meski (wabah) virus corona berakhir.”
Seorang perempuan beserta tiga anaknya datang memesan.”Sejak kita semua terkurung, aku ingin kita semua dapat menikmati makan bersama di rumah,” katanya sambil tersenyum, seperti dilansir Nikkei Asian Review.
Sementara itu di dekat Yokohama, 18 pengusaha restoran yang ada di distrik Chinatown, mulai membuka layanan drive-thru bersama. Pelanggan dapat memesan makanan terlebih dahulu lalu mengambilnya di lahan parkir terdekat tanpa harus keluar dari mobil.
Di antara pengusaha itu ada Takeshi Tsuruako, pemilik Restoran Kitcho Kanton. Dia mengeluh penjualan turun 90% sejak wabah corona.
“Saya sudah bekerja di jalan ini selama lebih dari 40 tahun, dan kini segalanya nampak lebih buruk, bahkan dibandingan saat Lehman shock,” keluh pria berusia 74 tahun, yang merujuk pada kebangrkutan Lehman Brothers yang memicu krisis ekonomi global pada 2008.
Layanan drive-thru ini menguntungkan Tsuruako karena Kitcho Kanton berlokasi dekat dengan parkiran. Hal itu memungkinan pihaknya mengantar makanan sesegera mungkin setelah selesai dimasak, imbuhnya.
“Saya datang untuk mendukung bisnis lokal,” kata seorang pelanggan yang mampir ke kedai drive-thru itu. “Saya pasti akan datang lagi.”