Sehari Menjelajah Pulau Pisang, di Ujung Pesisir Barat Lampung

this formate

KRUI, Lampung, bisniswisata.co.id: Tulisan Ija Mit Krui yang artinya’ Ayo Datang Ke Krui di topi hitam yang diletakkan Lisa di dashboard mobil Kijang Inovanya membuat saya dan rombongan bersemangat dengan tujuan kami pagi itu melewati jalan raya provinsi menuju dermaga Tebakak, Provinsi Lampung Barat.

Jalan lurus yang disisi kiri kanannya ada perbaikan pembatas masih terlihat agak sepi. Maklum kami keluar rumah dari daerah Gunung Kemala di Krui baru jam 7.00 WIB pagi. Selingan tanjakan, turunan dan lebatnya pepohonan di kiri kanan jalan serta rumah-rumah tradisional membuat mata saya tak berkedip menikmati perjalanan.

Untunglah Lisa dengan piawai mengendarai mobilnya sehingga tak sampai satu jam kami sudah menepi di pinggiran pantai Tebakak. Berbeda dengan pantai yang berada di daerah Selatan ataupun Tengah di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung,  pantai di bagian  Utara ini dihiasi batu-batu hitam.

Namun tidak seperti di Belitung, formasi bebatuan di Tebakak tidak rapat berderet dan cendrung datar namun dari kejauhan dengan paduan warna laut yang biru berlatar belakang Pulau Pisang di kejauhan, bebatuan hitam dan formasinya yang unik ini menambah keindahan pemandangan.

Ketika Lisa mencari parkir, rombongan saya yang terdiri dari lima orang langsung turun dan melihat tiga orang calon penumpang perahu duduk di bawah saung di pinggir jalan yang langsung tersambung dengan pantai.

Sebuah papan kayu bertuliskan: “Pelabuhan Tebakak, Pekon Tebakak Way Sindi. Di sinilah sarana penyebrangan menuju Kecamatan Pulau Pisang.  Dermaga yang sebelumnya saya bayangkan di parkir kapal-kapal kayu seperti di pinggiran Danau Toba, Sumatra Utara ternyata kosong melompong.

Dari jauh terlihat dua buah perahu dengan ‘sayap’ bambu di kiri-kanannya berlomba menerjang ombak ke tepi dermaga Tebakak. Agak lama kami harus memutuskan mau naik perahu yang mana karena kedua awak perahu merasa berhak mendapatkan penumpang.

Kalau penduduk sekitar cukup membayar Rp 10 ribu sekali menyebrang maka kami sebagai turis dituntut membayar Rp 200 ribu per perahu isi 5 orang , di tambah awak perahu sebanyak 6 orang penyebrangan ke Pulau Pisang total dalam satu perahu 11 orang.

Ibarat pesawat, upaya perahu untuk lepas landas membelah gelombang Samudra Hindia perlu di dorong oleh enam awak. Tinggi gelombang antara satu hingga satu setengah meter membuat baju banyak terciprat air laut terkena hempasan ombak.

Artis dan penyanyi religi  Liv Vhiena yang ikut  serta dalam rombongan melantunkan Asmaul Husna dan mendoakan para penarik perahu bisa tetap mendapat rejeki di tengah ganasnya ombak lautan. Hika beruntung kerap ada kelompok lumba-lumba menemani penyebrangan ini.

Belum lagi mencapai Pulau Pisang, rasa iba menyergap betapa susah payahnya warga yang ingin menyebrang meski hanya sekitar 15 menit karena tidak ada kapal reguler. Yang ada hanya sampan kayu dengan mesin motor yang tiap hari dan harus ber ‘damai’ dengan tingginya ombak.

Kemana kepedulian pemerintah daerah hingga puluhan tahun tidak menyediakan dermaga dan transportasi yang layak bagi warganya? . Kemana kepedulian para konglomerat yang mengakuisisi pulau-pulau cantik di Kabupaten Pesisir Barat untuk kepentingan kerajaan bisnisnya?. 

Padahal  dengan memberikan satu kapal boat sebagai bentuk kepedulian sosial mereka sudah cukup mengangkat Pulau Pisang sebagai daerah tertinggal menjadi destinasi wisata.

Turun dari perahu sejumlah motor yang sudah dipesan Lisa menunggu di bibir pantai. Laut biru, langit biru; pasir pantai yang putih bersih sungguh memukau. Jalan-jalan setapak dengan lebar sekitar dua meter menjadi infrastruktur utama di Pulau Pisang ini.

 

Sekolah SD sejak jaman Belanda dan spot yang disukai wisatawan. ( Foto Google)

Venda, staf camat Pulau Pisang bergabung bersama kami untuk  keliling pulau. Pulau Pisang merupakan nama pulau sekaligus nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat. Sebanyak 1.400 kepala keluarga yang tinggal di pulau seluas 148,82 hektare. Pulau Pisang bisa ditempuh dalam 45 menit dari Kuala Stabas dan sekitar 15 menit dari Desa Tebakak yang dilewati jalan Trans Sumatra menuju Palembang, Bengkulu hingga ke Aceh.

Tebakak adalah sebuah desa di Kecamatan Karya Penggawa yang merupakan daratan terdekat dengan pulau ini. Sebuah kecamatan baru di Kabupaten Pesisir Barat yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan.

Di bibir pantai saya sempat terpaku melihat titik berangkat Tebakak dari kejauhan, terbayang perjuangan 15 menit lalu ‘bertarung’ menaklukan ombak lautan yang menghadap Samudra Hindia hingga kapal kayu ( jukung ) ini mendarat di atas hamparan pasir pantai. 

Panggilan Dewi Nurani dan Liv Vhiena, anggota rombongan menggugah lamunan. Melompat dari jukung saat ombak lari ke laut dan berkejaran dengan ombak disertai jeritan kebasahan membuat acara turun dari jukung jadi seru-seru menegangkan.

Tapi juga bersemangat menjelajah  karena ada info Taufik Kiemas, suami mantan presiden Megawati juga lahir di pulau ini. Wikipedia menyebutkan   Dr. (HC) H. Muhammad Taufiq Kiemas lahir di Pulau Pisang, Pesisir Barat Lampung pada 31 Desember 1942 dan  meninggal di Outram,  Singapura  pada umur 70 tahun.

Di atas motor nampak desa bersahaja dengan warga yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, terutama para perempuan. Sedangkan laki-laki ada yang menjadi nelayan dan berkebun. Jalan desa berupa setapak kecil yang cukup untuk dilewati motor. Tak ada mobil di sini. 

Bangunan-bangunan rumah banyak telah tua dan tak terurus, ditinggalkan penghuninya yang telah pindah ke luar pulau. Umumnya rumah-rumah berada di pinggir pantai, sementara di sisi kiri pemandangan laut dengan gradasi warna yang cantik.

Spot yang dikunjungi a.l Batu Tiga, batu Ghuri, Batu Liang, Sekolahan, Pantai Dermaga dan melongok perajin tenun songket Pulau Pisang Salsabila yang juga menbuka homestay. Entah mana dulu yang disambangi karena saya memilih menikmati saja kemana arah rombongan karena tinggal duduk manis di motor.

Menyusuri bagian kiri Pulau Pisang, kita akan menemukan tiga batu besar yang tersebar di bibir pantai. Sebagian besar pantai ini terbentuk dari lapisan batu karang yang dihantam ombak. Disini bisa ikut memancing bersama warga sekitar.

Spot lain  yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Batu Bughi (Ghuri). Spot yang termasuk ke dalam Pekon Labuhan ini merupakan salah satu spot yang paling banyak dijadikan lokasi selfie karena ada bangkai kapal yang terdapat di pantai. Ini merupakan kapal pengeruk yang berasal dari Padang, yang terdampar akibat hantaman ombak yang sangat besar.

Lama-lama motor menapaki jalan setapak naik turun menapaki jalan kecil diantara pepohonan dan ke un-kebun warga. Ada bunga yang unik berwarna merah menyembul dengan tumpukan bulatan merah di tengah dedaunan yang menarik perhatian.

Kami sudah jauh berjalan dan tiba di satu spot ekstrim karena melewati jalur yang lebih menantang. Motor kami hentikan di pinggir sebuah jembatan kemudian berjalan kaki masuk ke hutan dan semak. Jalan masuknya memang tidak mulus selain itu kita juga melewati sebuah kuburan tua yang dipagari oleh kayu dan beratap genteng. 

Kuburan ini persis di pinggir jalan saat kita mau masuk. Lalu tidak jauh di depannya terdapat sebuah lubang berukuran 1 meter mirip seperti sumur tua. Kami pun melanjutkan perjalanan melewati tanaman berdaun panjang dan berduri dan tiba di spot Batu Liang merupakan salah satu lokasi untuk menikmati sunset dari atas bukit jurang curam melihat hempasan ombak menyentuh bebatuan.

Kami sempat melihat bangunan sekolah yang dibangun sejak Jaman Belanda. Di Pulau Pisang memang hanya ada dua sekolah salah satunya SDN Pasar Pulau Pisang sehingga dianggap bersejarah dan satu SMP. Untuk pendidikan lanjutan harus keluar pulau.

Bangunan asli berdiri di bagian depan, terdiri dari 5 ruang kelas. Sedangkan bangunan tambahannya ada di belakang. Bentuk pintu yang tinggi dan lebar, mencirikan arsitektur bangunan gaya Eropa. Tanpa jendela namun dinding bagian atas dibuat berlubang-lubang sebagai sirkulasi udara.

Alhamdulilah akhirnya mampir disebuah rumah kosong milik keluarga Venda, staf Camat dan disuguhi makan siang berupa gulai buah kelor, ikan segar goreng, sayur lodeh daun katu, kentang cabai merah, petai rebus, dan sambal pedas yang menjadi menu wajib di pulau.

Sambil makan mendengarkan sejarah Pulau Pisang yang konon kalau melihat sekeliling pulau, dari atas ketinggian maka bentuknya menyerupai buah pisang.

Suasana Pulau Pisang dengan cuaca cerah dan pemandangan indah dan banyak rumah terlantar

Namun ada versi yang mengatakan pulau ini banyak ditumbuhi pohon pisang. Versi lainnya  penemu pulau ini tiba ke pulau menggunakan batang pisang yang dibuat menjadi perahu. Oleh karena itu pulau ini diberi nama Pulau Pisang.

Selain keindahan pantainya yang mempesona, Pulau ini juga memiliki spot yang paling sering dikunjungi adalah Pantai Dermaga yaitu adanya tiang-tiang beton sisa bangunan dermaga yang rusak tergerus ombak.

Sisa-sisa bangunan dermaga yang menjorok ke laut memungkinkan pengunjung untuk loncat dan menyelami keindahan laut dan menikmati airnya yang segar dan ini menjadi area yang cukup aman untuk berenang.

Saat kami datang, Pulau Pisang belum dialiri listrik PLN, jadi untuk memenuhi kebutuhan listrik warga berswadaya membangun pembangkit listrik sendiri dengan genset.Makanya usai makan siang diajak ke perajin tapis ( songket) khas Pulau Pisang langsung terpikir mereka sepenuhnya mengerjakan produk dengan mengandalkan matahari.

Namanya Salsabila, penyulam tapis sekaligus pemilik homestay. jika pengunjung Pulau Pisang mau menginap, bisa tidur di rumahnya sambil menikmati proses pembuatan tapis di ruang tamunya. Homestay biasanya memberi makan tamu dengan makan 3 x dan bertarif Rp 150 ribu- Rp 200 ribu/ per malam/ per orang.

Ternyata penduduk Pulau mampu menghasilkan karya yang luar biasa, kain tradisional khas Lampung. Berbeda dengan songket Palembang yang dibuat dengan menggunakan alat khusus, ternyata, tapis Lampung dibuat dengan cara disulam atau dijahit satu persatu.

Sebagai pekerjaan sampingan selain mengurus rumah tangga, selembar kain tapis yang bisa diselesaikan selsma 2-3 bulan harganya termurah Rp 2-3 juta ke atas. Hasilnya terutama untuk membeli bahan baku menenun tapis lagi dan membiayai anak sekolah.

Untuk itu disiasati juga membuat tapis sesuai pesanan dan produk umumnya di jual di luar Pulau Pisang juga di toko online dengan harga yang melambung bahkan reseller yang menikmati keuntungan. orang Perancis bilang C’est La Vie, itulah hidup !.

Alhasil kami juga tidak membeli produknya karena hanya membawa ATM dan tidak ada fasilitasnya di Pulau. Perajin juga tidak membuat  produk kecil yang harganya lebih ekonomis seperti dompet, tempat kosmetik, tempat lipstik, topi atau barang lainnya yang bisa jadi souvenir.

Sambil berjalan menuju jukung di pantai untuk kembali ke Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat, Lampung saya terpikir agar staf camat menyampaikan ide-ide seperti lomba bersepeda keliling pulau mirip-mirip lomba Tour de Singkarak misalnya, cara cepat mensejahterakan warga setempat dan mendongjrak pariwisata Pulau Pisang. 

 

 

 

Masyarakat Suku Baduy Batasi Kunjungan Wisatawan Datang ke Perkampungan

this formate

Tokoh adat Baduy menerima bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer dari Kemenparekraf. ( Foto: Kemenparekraf)

LEBAK, Banten, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Keatif mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy untuk membatasi kunjungan wisatawan yang datang ke perkampungan Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes, Sabtu, mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan Suku Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.

“Kita menganut Sustainable Tourism. artinya kita menjaga agar (wisatawan) tidak berjibun-jibun datang, dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari.

Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Suku Baduy, Uday Suhada, mengungkapkan keinginan Suku Baduy untuk mengganti istilah “Wisata Budaya Baduy” menjadi “Saba Budaya Baduy”yang sebenarnya telah dicetuskan dan ditulis dalam Perdes Saba Budaya pada 2007.

”Saba ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung,” ungkap Uday.

Hal senada juga ditambahkan oleh salah seorang tetua adat Suku Baduy Dalam, Ayah Mursid. Ia meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal.

“Kami berharap (saba budaya) diperjelas aturannya. Mana saja rute yang boleh dan tidak boleh dilewati menuju Kampung Baduy, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” ujar Mursid.

Dia juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai Suku Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi Kawasan Adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.

Hal ini disambut baik oleh Hari. Ia mengatakan pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua adat Suku Baduy.

Hari juga mempertimbangkan rencana pembuatan aplikasi sebagai pusat informasi dan sarana pendaftaran bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Adat Suku Baduy.

“Ini bisa berbentuk aplikasi nantinya. Jadi siapa yang datang kapan mau datang kalau sudah melebihi (batas pengunjung) ini akan ada pemberitahuan bahwa kapasitasnya sudah berlebih. Sehingga kita tidak terulang ada ribuan orang yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya Suku Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemda Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat Suku Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.

“Saat ini kami sedang dalam proses penyedian lahan di dekat perkampungan Baduy untuk dijadikan sebagai Information Center agar wisatawan lebih mengetahui bagaimana budaya Baduy pada umumnya dan informasi kegiatan Saba Baduy pada khususnya, sebelum masuk ke Perkampungan Baduy,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian, Kapolres Lebak AKBP Firman Andreanto, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin,.

Hadir pula Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer bagi Suku Baduy.

 

Paduan Suara Universitas Pancasila Terus Menghibur di Tengah Pandemi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kepedulian anggota Paduan Suara Universitas Pancasila  atas pandemi global COVID-19 yang tinggi menunjukkan besarnya keinginan untuk berpartisipasi dan saling mengingatkan pada masyarakat agar disiplin mencegah penyebarannya makin meluas.

Untuk itulah, Arum Suci Sekarwangi, salah satu anggota paduan suara itu belakangan ini aktif mengirimkan link YouTube dari paduan suara (virtual choir ) mereka yang sudah launching sejak 30 Mei 2020 lalu ke berbagai WA grup dan media sosial untuk mengajak masyarakat disiplin diri.

Maklum, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memutuskan untuk kembali memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada masa transisi fase pertama dan diperpanjang selama dua pekan, terhitung mulai Jumat hingga 30 Juli 2020.

Anies meminta seluruh warga untuk tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan mengingat hari Minggu 12 Juli 2020 lalu, Pemda DKI Jakarta yang pro-aktif melakukan tracing dan mendatangi warga untuk melakukan PCR menemukan 404 kasus baru dalam sehari yang merupakan rekor tertinggi selama ini.

Di tingkat dunia. Infeksi global coronavirus melewati 14 juta pada hari Jumat (17 Jul 2020) yang menurut penghitungan Reuters, menandai pertama kalinya ada lonjakan 1 juta kasus dalam waktu kurang dari 100 jam.

Virtual choir Paduan Suara Universitas Pancasila (PSUP) dapat diakses https://www.youtube.com/watch?v=_mPSpN5h0Co&feature=youtu.be

Persembahan ini sebagai salah satu partisipasi Universitas Pancasila terhadap kepedulian kepada masyarakat Indonesia yang masih bergelut dengan pandemi COVID-19.

Virtual choir ini juga sebagai bentuk nyata bahwa kreativitas tidak terbatas pada ruang dan waktu. Komunitas kecil ini berharap dapat memberikan inspirasi pada mahasiswa dan juga siswa-siswa sekolah untuk terus berkarya, tidak kehilangan harapan dan menjadi generasi membangun  memasuki era ‘New Normal’.

Paduan suara yang dilatih Hari Santosa ini prestasinya juga sudah mengikuti event-event ke mancanegara. Kali ini dengan sekitar 50 orang anggota tim, paduan suara virtual ini diawali dengan penampilan sosok Cinthia Kusuma Rani, anggota PSUP yang juga menjadi Miss Earth Indonesia 2019.

Inti pesan dalam video adalah percaya bahwa pandemi global ini akan berakhir, kehidupan akan pulih dan bagian kita adalah berdoa dan berusaha untuk kebaikan bumi dan disiplin cegah penyebarannya.

Video kemudian menayangkan cuplikan perjuangan tim medis menggunakan APD berjam- jam, tidak bisa pulang ke rumah karena banyaknya pasien dan hanya berkesempatan jumpa keluarga lewat video call.

Sambil mendengarkan paduan suara, cuplikan juga mengingatkan bahwa krisis ini sungguh menyulitkan dunia dari segala sisi dan keadaan ini membuat banyak orang merasa tidak berdaya bahkan sampai sekarang. 

Apalagi kurva penderita tidak turun, kasus barupun bermunculan karena sulitnya seorang individu dalam berdisiplin diri mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan badan kesehatan dunia WHO.

Vocal mix digarap oleh Brian Agung Hari Santosa dan Octo Darma Nainggolan, sedangkan musik oleh Reksa Bonaventura dan video editor dikerjakan oleh Reindra/Kepochino.

Para penyanyi mahasiswa anggota Paduan Suara Universitas Pancasila  ( PSUP) ini dari berbagai angkatan. Di bagian Tenor ada Rachmad Jupikar Arief, Gabriel Presente, Anngit Prasojo, Winto Wahyudi, Bayu Reksa Bonaventura, Fero Akbar dan Hahiz Ardiansyah.

Di bagian penyanyi Sopran ada 15 orang terdiri dari Aprilianti Ayu Irawati, Haura Usna Rahmah, Rizki Putri Ashari. Risha Fajar Maudina, Arum Suci Sekarwangi, Rizka Ridfinanda, Souha Nadala dan Putu Diah Utari.

Masih dibagian penyanyi dengan nada tinggi ini ada Febrina Demestria, Sonya Daneria, Elvira Savitri, Hanna Saphira, Erika Ilhasya, Putri Windari Saputra dan Harmaisi.

Penyanyi Alto ada 12 orang dan mereka adalah Agnes Juwita, Plyvia Nur Azizah, Berliana Diah Anggerdini, Fatema Alisya, Nevi, Pricilla M. Immanuela, Mari Etta Katarina, Maria Permatasari Ssmosir, Yemina Shania Tama, Sartika Melina Sirsit, Asima Merry Artha Chris dan Tasys Aureilla Maddina Suseno.

Di Jajaran penyanyi Bass ada 8 orang yaitu Yusuf Rasyid Yusuf Yanin, Hansel Randy Mulia, Irvin Hadis A Sitompul, Herfian Shabdha’ u Akmal, Jason Matthew Doornik, Octo Darma Nainggolan, Danar Ferdiansyah dan Wahyu Iman Santoso.

Ingin bernyanyi bersama mereka ? simak liriknya di bawah ini:

    TO BELIEVE

   By Jackie Evancho. 

  • Before I lay me down to rest
  • I ask the Lord one small request
  • I know I have all I could need
  • But this prayer is not for me
  • Too many people on this day
  • Don’t have a peaceful place to stay
  • Let all fighting cease that your children may see peace
  • Wipe their tears of sorrow away
  • To believe in a day
  • When hunger and war will pass away
  • To have the hope amidst despair
  • That every sparrow’s counted
  • That you hear each cry and listen to each prayer
  • Let me try always to believe
  • That we can hear the hearts that grieve
  • Please help us not ignore
  • The anguished cries of the poor
  • Or their pain will never leave
  • To believe in a day
  • When hunger and war will pass away
  • To have the hope amidst despair
  • That every sparrow’s counted
  • That you hear their cries and listen to each prayer
  • Father, as you see, I’m just a child
  • And there’s so much to understand
  • But if Your Grace should surround me
  • Then I’ll do the best I can
  • I promise, I’ll do the very best I can
  • To believe in a day
  • When hunger and war will pass away
  • To have the hope amidst despair
  • That every sparrow’s counted
  • That you hear each cry and listen to each
  • Prayer {Hear each cry and listen to each prayer}
  • Help us do Your will Your Father
  • In the name of all that’s true
  • And we’ll see in one another
  • The loving image of You

Prambanan Jazz Online, Wujud Inovasi Pelaku Industri Kreatif untuk Tetap Berkarya

this formate

Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20.000 penonton dari rumah. ( Foto: Kemenpar) 

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengapresiasi penyelenggaraan konser Prambanan Jazz Online sebagai wujud inovasi dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19.

Prambanan Jazz Online yang berlangsung Sabtu menjadi konser musik virtual pertama di Indonesia yang disiarkan secara langsung dari Candi Prambanan dengan menghadirkan penampilan dari sejumlah musisi, di antaranya Rio Febrian, Frau, dan Langit Sore.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani menyambut baik pelaksanaan kegiatan Prambanan Jazz Online. Hal ini menunjukkan semangat dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya dan menciptakan kreativitas tanpa batas di masa pandemi ini. Yakni dengan memadukan kreativitas dengan teknologi sebagai solusi.

“Apresiasi kepada penyelenggara atas upaya dan kerja kerasnya untuk tetap melaksanakan kegiatan ini secara online sebagai cara membangkitkan antusiasme audiens bahwa konser tetap bisa dinikmati di situasi pandemi melalui daring,”

Telaksananya  kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bekerja kembali para pelaku event yang sebelumnya terhenti akibat pandemi COVID-19,” kata Rizki Handayani.

Menurut dia. konser musik virtual tetap diselenggarakan dengan selalu memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan kepada seluruh tim produksi dan penampil. Suguhan dari para penampil itu kemudian disiarkan secara live streaming sehingga dapat dinikmati penonton dari rumah. Tercatat, Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20.000 penonton dari rumah.

“Kami berharap agar pandemi COVID-19 ini segera berakhir. Sehingga, keadaan bisa kembali normal. Dan pada saat yang sulit seperti ini kami mengajak seluruh pihak terdampak pandemi untuk bergotong royong dan saling menguatkan agar kita semua tetap dapat menjalankan kreativitas di masa yang akan datang,” kata Rizki Handayani.

Sementara Anas Syahrul Alimi selaku Founder Prambanan Jazz Festival sekaligus CEO Rajawali Indonesia mengatakan, Prambanan Jazz Festival merupakan acara tahunan.

Kegiatan ini  berlangsung sejak 2015 namun tahun ini terdampak pandemi COVID-19 sehingga harus diundur pelaksanaannya. Event yang semula direncanakan pada 3 hingga 5 Juli 2020 terpaksa dijadwalkan ulang ke tanggal 30, 31 Oktober, dan 1 November 2020.

Pandemi merupakan tantangan baru bagi dunia khususnya di industri hiburan, sehingga semua dituntut untuk belajar dan berinovasi. “Prambanan Jazz Online ini sebagai salah satu jawaban dari tantangan itu kemudian mengemas konser secara online,” kata Anas.

Menurut Anas, berjarak bukan berarti jauh tetapi memberi ruang untuk mempersiapkan diri kembali. Ia berjanji untuk melakukan perbaikan demi bisa menyuguhkan konser yang tidak hanya menghibur tetapi juga membekas di hati penikmat musik jazz.

“Kami juga mengadakan donasi untuk pekerja event dan seni terdampak pandemi COVID-19, khususnya di wilayah Yogyakarta,” kata Anas.

 

Pelni Lifestyle Edukasi Masyarakat Lewat Virtual Tour

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wisata di atas kapal kini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi wisatawan untuk menghabiskan liburan. Untuk itu Pelni Lifestyle tetap mengedukasi masyarakat untuk mengikuti virtual tour bersama KM Kelud ditengah pandemi global COVID-19 yang belum juga usai, kemarin.

Bersama host Kartika dan Wahyu, pegawai PT Pelni Jakarta, keduanya memandu sedikitnya 60 peserta zoom virtual tour dari berbagai kalangan dari Biro Perjalanan Wisata ( BPW)  termasuk Hasiyanna S Ashadi, Ketua Asita DKI Jakarta yang menaungi asosiasi perusahaan perjalanan itu.

Perjalanan dimulai dari terminal keberangkatan penumpang Pelabuhan Tanjungpriuk, Jakarta yang sudah melengkapi fasilitas dengan protokol kesehatan di era New Normal. Mulai dari check in sistem barcode, tempat cuci tangan, X-ray, tanda social distancing disegala sudut.

Host Kartika dan Wahyu lalu membahas luasnya ruang tunggu keberangkatan dengan ruang pendingin dan suasana nyaman sehingga calon penumpang bisa menunggu keberangkatan dengan santai.

Keluar dari ruangan, peserta zoom lalu disambut oleh Yayat, yang bertugas hari itu lalu diajak naik tangga kapal. di body kapal ada tulisan besar  Let’s Go To Anambas, salah satu paket bahari yang ditawarkan.

Pelni memang punya rute ke daerah yang namanya belum se-beken Raja Ampat, tapi ternyata Anambas punya pesona keindahan alam tropis yang tidak kalah dengan surga di Papua tersebut.

Sebagai bagian dari Provinsi Kepri, kepulauan yang berada di Laut China Selatan ini terdiri atas 238 pulau yang punya banyak sekali pesona alam perawan dan belum pernah terjamah: lautnya begitu biru, dan terumbu karangnya cantik dan kaya ikan hias.

Begitu tiba diatas kapal ada pemeriksaan cek suhu tubuh lagi dilanjutkan dengan meninjau berbagai ruangan lantai per lantai. Kegiatan ini banyak diikuti peserta zoom dari anak-anak yang antusias mengikuti kedua host mengeksplor semua fasilitas mulai dari fasilitas kelas satu, kelas dua hingga kelas ekonomi yang adem nyaman dan termasuk kondisi toilet-toiletnya.

Host Wahyu sebagai orang dalam alias pegawai Pelni sendiri rupanya juga merasa nyaman dengan peninjauan ke kamar. Tubuhnya yang gempal tak segan-segan langsung mendarat di kasur empuk.

Kapal memang  dilengkapi dengan kabin atau kamar mulai dari dua hingga delapan tempat tidur. Serta kelas Ekonomi dengan tempat tidur single atau bertingkat cocok untuk keluarga maupun pergi bersama komunitas.

Pelni Lifestyle sendiri telah diluncurkan sejak Maret 2015 dan merupakan salah satu cara Pelni untuk menghadirkan konsep wisata baru yang menarik bagi wisatawan, bukan hanya menjadi angkutan penumpang saja. Melainkan, menjadi sebuah wisata baru di atas kapal.

Divisi ini menawarkan pelayanan seperti Meeting on Board, Study on Board, Venue on Board, Tour on Board, dan Wisata Bahari. Masing-masing produk menawarkan pengalaman perjalanan laut yang unik dan berbeda bagi wisatawan.

Berbagai fadikitas diatas KM Kelud ( Foto: Pelni)

Saat ini, Pelni memiliki sekitar lima kapal yang bisa digunakan untuk keperluan wisata. Seperti KM Kelud, KM Dorolonda, KM Umsini, dan KM Sinabung. Keempat kapal ini berkapasitas 2000 penumpang. Sedangkan, KM Kelimutu dapat mengangkut sekitar 1000 penumpang.

Sukendra, VP Pemasaran Angkutan Penumpang Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia itu di kesempatan lain mengatakan pihaknya kini tidak hanya sebagai operator angkutan penumpang dan barang saja, tetapi juga di sektor pariwisata mempunyai potensi besar menggarap sektor pariwisata.

Kapal penumpang KM Kelud dan kapal lainnya  juga bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaran MICE. Ia menambahkan, kapal-kapal milik Pelni dilengkapi dengan ruang meeting, salon, gym, kafe, dan sebagainya.

Study On Board dan Tour on Board adalah paket-paket perjalanan sambil belajar. Kedua produk ini ditujukan bagi murid-murid sekolah dan mahasiswa. Study on Board merupakan paket perjalanan menginap di atas kapal mengikuti rute pelayaran.

Sedangkan Tour on Board adalah sebuah paket wisata sehari untuk memperkenalkan kehidupan maritim dan transportasi laut bagi murid-murid sekolah dari taman kanak-kanak hingga tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Di dalamnya berisi materi-materi pengenalan kapal laut dan berinteraksi dengan Nakhoda.

Selain itu, produk lainnya adalah paket-paket Wisata Bahari bertajuk “Let’s Go PELNI”. Paket wisata yang mengantarkan wisatawan ke destinasi-destinasi seperti Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan Raja Ampat, Papua Barat hingga destinasi lainnya.

Kapal-kapal ini juga bisa membawa wisatawan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata seperti menyelam di Banda Naira, snorkeling di Karimunjawa atau di Pulau Seribu. Selain itu, kita juga bisa menyaksikan senja di atas kapal yang sedang berlayar. Hal ini memberikan sensasi wisata yang beda.

Paket-paket Wisata Bahari diperuntukkan untuk mereka yang ingin berwisata dengan menggunakan kapal dan mencari pengalaman unik dan berbeda. Salah satu paket wisata yang bisa dipilih wisatawan adalah Paket Wisata Bahari Karimunjawa.

Ada banyak hal yang ditawarkan untuk wisatawan, misalnya saja wisatawan bisa tinggal di kapal, atau menginap di hotel-hotel yang ada di darat, hingga berkemah di tepi pantai.

Wisatawan juga bisa mengeksplorasi Karimunjawa dengan bersepeda ataupun berjalan-jalan selama beberapa jam sebelum berlayar kembali.Dengan layanan Pelni Lifestyle ini, diharapkan dapat meningkatkan jumlah penumpang kapal dan menjadikan kapal juga sebagai tujuan wisata.

Pelni sat ini mengoperasikan sebanyak 26 kapal penumpang dan menyinggahi 83 pelabuhan serta melayani 1.100 ruas. Selain angkutan penumpang, Pelni juga melayani 46 trayek kapal perintis yang menyinggahi 275 pelabuhan dengan 3.739 ruas.

Alhasil virtual tour yang berlangsung selama dua jam itu menbuat peserta jadi paham protokol kesehatan di kapal pada era New Normal Life, tahu layanan & fasilitas eksklusif yang biasa dinikmati oleh Sobat Pelni Lifestyle. Melihat-lihat isi kapal hingga ke dapur, ruang kemudi dan bertemu Kapten.

 

 

 

Berencana Jadi Digital Nomad ? Bali Salah Satu Destinasinya

this formate

Dua wisatawan asing bekerja mengandalkan komputer dan internet di tengah alam terbuka. (Foto: digitalnomadindo.wordpress.com)

DENPASAR, BALI, bisniswisata.co.id: Wisatawan mancanegara yang masih berada di Bali tidak semata-mata karena dampak pandemi global COVID-19. Tapi memang memilih tinggal sebagai digital nomad.

Datang menggunakan visa kunjungan wisata dan melakukan perpanjangan visa hingga dua kali secara total bisa tinggal selama 7 bulan. Pulau Bali memang menjadi salah satu destinasi tujuan dari para digital nomad.

Digital nomad, atau digital nomaden sebenarnya adalah istilah bagi orang-orang yang tidak menetap disatu tempat untuk bekerja. Mereka bisa travelling dan bekerja pada saat yang sama dengan mengandalkan teknologi digital terutama internet.

Kebanyakan digital nomad adalah pekerja kreatif yang memang tidak terlalu membutuhkan kehadiran fisik di tempat kerja. Beberapa profesi digital nomads antara lain developer, designer, writer, dan online marketer. 

Dari tyohan.me/blog/digital-nomad yang menceritakan pengalaman pribadinya mengatakan bahwa kehidupan sebagai digital nomad di Bali sangat menyenangkan karena dia melakukan semua pekerjaan di depan komputer dan cukup menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan team atau client.

Apalagi pekerjaan utamanya sebagai web developer yang memimpin team kecil dalam mengerjakan project, serta sebagai developer relation sebuah project open data sebenarnya tidak membutuhkan dedicated onsite time dalam sehari-harinya.

” Cuma pekerjaan sebagai mentor di Bandung Digital Valley masih mengharuskan saya bertatap muka dengan startup yang didampingi,” ungkapnya.

Walau demikian impian bekerja sebagai digital nomad tetap akan berusaha diwujudkan. Sambil travelling dan bekerja tentu hal yang tidak akan membosankan. Berpindah-pindah tempat akan menyegarkan mood (refresh mood) yang sangat dibutuhkan oleh pekerja kreatif seperti dirinya.

Canggu , Bali, masuk dalam 7 tempat yang direkomendasikan oleh bigseventravel.com jika Anda akan menjadi digital nomad di Pulau Dewata karena merupakan tempat yang bagus untuk memulai dengan biaya terjangkau sehingga destinasi ini menarik orang-orang dari seluruh dunia karena alasan itu. 

Canggu adalah tempat yang ideal untuk menjadikan diri Anda mampu membiayai diri karena harga-harga yang terjangkau, memiliki pantai yang indah dan banyak kafe untuk bekerja. Di sini,  Anda akan merasa mudah bertemu orang-orang yang melakukan hal yang sama serta memiliki basis yang indah untuk menjelajahi pulau surga ini.  

Rencana untuk para digital nomad dengan terjadinya pandemi global COVID-19 untuk tahun 2021 bisa jadi terbalik dengan masih banyaknya tujuan yang tertutup untuk wisarawan asing dan sebagian lockdown alias Penbatasan Sosial  erskala Besar ( PSBB).

Hal ini membuat rencana hidup dan tinggal di luar negeri sulit dengan semua ketidakpastian sekarang.  Jadi sementara gerakan kerja-dari-rumah  ( Work from home) telah tumbuh secara besar-besaran pada tahun 2020, gagasan untuk menjadi digital nomad menjadi jauh lebih sulit.

Tapi jika Anda masih mempertimbangkannya, maka enam kota bisa jadi pangkalan digital nomad mulai dari sisi peningkatan biaya asuransi dan pembatasan penerbangan hingga kemungkinan karantina pada saat kedatangan.  

Hanya saja tidak sesederhana (atau semurah) untuk berkeliling dunia seperti di awal 2020. Banyak digital nomad atau si pengembara itu kini terjebak di satu lokasi ditengah semakin banyak orang yang ingin merencanakan masa depan kerja ‘baru’ mereka. 

Sepertinya  digital nomad akan lebih cenderung memilih satu lokasi dari mana dia akan menetap untuk jangka waktu yang lebih lama. Basis Kota untuk  digital nomad adalah sebagai berikut: 

 Da Nang – Vietnam

 Vietnam memiliki keberhasilan awal yang spektakuler dengan penanggulangan virus Corona, dan merupakan contoh reaksi cepat yang dianggap baik.  Karena itu, pemerintahnya berencana untuk secara bertahap membuka lebih cepat daripada negara lain.

Sementara banyak yang akan menuju ke selatan ke Kota Ho Chi Minh atau ditarik ke utara ke Hanoi, kami memilih Da Nang di tepi pantai yang jadi pusat untuk kualitas hidup yang murni.  Anda tidak pernah jauh dari air dengan pantai-pantai yang menakjubkan dan banyak kegiatan untuk mengalihkan pikiran Anda dari pekerjaan.

Biaya hidup sangat murah.  Wifi luar biasa tersedia di seluruh kota dan sebagai digital nomad memiliki campuran pilihan makanan barat dan lokal.

Berlin – Jerman

Tanggapan Jerman terhadap virus tersebut dipuji sebagai salah satu yang terbaik di dunia, dengan orang-orang yang kembali bekerja dengan cepat, olahraga dilanjutkan dan bantuan ekonomi diberikan pemerintah untuk perusahaan.

Meskipun harganya sedikit lebih tinggi karena berada di level Eropa, ini adalah basis yang ideal untuk memulai bisnis selama 3-6 bulan.  Ada beberapa saham kantor yang hebat, sejumlah besar kafe yang bisa dipilih. 

Tambahkan aktivitas start-up yang hidup dengan banyak pertemuan dan Anda akan dengan cepat membangun jaringan. Berlin juga merupakan basis yang ideal untuk tidak hanya menjelajahi seluruh Jerman, tetapi juga Eropa.

Bangalore – India

Kota ini Juga dikenal sebagai Bengaluru, ini adalah tempat yang ideal untuk datang dan bekerja dengan perusahaan yang berfokus pada teknologi.  Kota ini sering disebut-sebut sebagai ‘Lembah Silikon India’, dengan kekayaan bisnis teknologi dan bakat di daerah tersebut.

 Kota ini juga sangat terjangkau untuk ditinggali dan memiliki banyak restoran lokal dan gaya Barat.  Dengan 10 juta orang tinggal di sini, ada peluang tak terbatas untuk berjejaring dan bertemu orang-orang dengan pandangan yang sama.

Cape Town – Afrika Selatan

Beberapa tempat di dunia yang cukup menghabiskan waktu untuk digital nomaden  pada 2021 adalah Cape Town.  Ini benar-benar salah satu kota paling spektakuler di dunia.  Anda akan memiliki kehidupan malam yang luar biasa, makanan, dan kehidupan di luar, semua di depan pintu Anda.

Apa yang menjadikan ini tempat yang ideal untuk tinggal selama beberapa bulan adalah semua hal menakjubkan untuk dilihat dalam jarak dekat.  Anda dapat mengunjungi kebun anggur, menyelam, dan menjelajahi pemandangan yang menakjubkan.  

Meskipun Afrika Selatan mengatakan tidak akan mengizinkan pengunjung internasional hingga awal 2021, ini adalah tempat yang tepat untuk digital nomad pada pertengahan tahun 2021 nanti untuk menghabiskan waktu.

Lisbon – Portugal

Lisbon dengan cepat menjadi salah satu kota paling keren di Eropa selama beberapa tahun terakhir. Kota Ini memiliki variasi makanan yang hebat, kehidupan malam yang murah dan  tempat-tempat populer. 

Ditambah lagi cuaca yang baik sepanjang tahun.Dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, biaya hidup murah di sini, yang membuatnya menjadi basis yang terjangkau untuk setiap digital nomad

Chiang Mai – Thailand

Thailand mencentang banyak tempat untuk bekerja saat bepergian.  Tidak hanya ada internet dan makanan yang luar biasa, tetapi negara ini sangat terjangkau.  Tambah lagi penduduk lokal yang ramah dan Anda akan langsung merasa betah di sini.

Seluruh negara telah menarik digital nomaden tetapi Chiang Mai adalah pusat utama untuk jenis pekerjaan ini.  Ini juga merupakan tempat yang sempurna untuk menjelajahi negara yang menakjubkan dengan anggaran terbatas.  Soalnya Anda akan segera menikmati bekerja seolah dari ‘surga’.

Pulau ini Dijual Untuk Mereka yang Ingin Kabur dari Virus Corona

this formate

Pulau Pumpkin dikelilingi pantai yang indah bisa untuk menghindari  COVID-19. ( Foto: Dok. Pumpkin Island)

QUEENSLAND, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 menakutkan banyak orang karena virus yang bergerak secara eksponensial ini belum ada vaksin penangkalnya. Bintang sepakbola dunia asal Portugal, Cristiano Ronaldo, sampai harus membeli sebuah pulau pribadi untuk berlindung bersama keluarganya di sana.

Anda berminat mengikuti jejaknya? Di Queensland, Australia, ada sebuah pulau pribadi, namanya Pulau Pumpkin, yang tengah diiklankan pemiliknya untuk dijual. Berlokasi sekitar 14 kilometer atau 30 menit perjalanan dengan perahu dari Pantai Queensland.

Pulau Pumpkin dikelilingi pantai yang indah. Selain itu, pemiliknya telah melengkapi sejumlah fasilitas untuk menopang kehidupan di tempat terpencil itu, termasuk energi terbarukan, penyulingan air, heli pad, bungalow, dan cottages.    

Pulau yang saat ini dimiliki pasangan Wayne dan Laureth Rumble cocok untuk tempat menyepi selama masa lockdown. Anda dijamin dapat menjalani hidup normal di pantai yang terpencil, privat, dan seolah tak terjangkau virus yang menyerang saluran pernafasan itu, demikian kata pemiliknya seperti disampaikan kepada CNN Travel via email.

Pulau ini dipasarkan dengan harga 25 juta dollar Australia atau sekitar Rp 257 miliar. “Itu pulau terpencil, Anda akan memiliki kebebasan penuh untuk bergerak, berada di luar,…anak-anak bisa bermain tanpa rasa khawatir di taman, di pantai, dan hidup terasa sangat normal di sana…,” kata pasangan itu.  

Selama ini Pulau Pumpkins dikelola sebagai pulau wisata dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sana ada lima pondok pantai mandiri yang dapat menampung hingga 34 tamu. Selain menggunakan angin dan matahari sebagai sumber energi, pulau ini juga dilengkapi dengan fasilitas penyulingan air bersih yang mengubah air hujan menjadi air minum.

Fasilitas lainnya termasuk dua bungalow di tepi laut (yang terdiri atas ruang permainan, perpustakaan, dan lounge), bar serta dua moorings (tampat menambatkan perahu) yang sudah berlisensi. Ada juga landasan helikopter, serta perahu khusus untuk 36 penumpang.

Sekadar flashback: sebelum 1961 Pulau Pumpkin dikenal sebagai tampat peternakan tiram milik Snigger Findlay. Lalu ada pasangan Roger dan Merle Mason yang jatuh cinta pada pulau tersebut dan berminat membelinya.

Sayang Snigger kala itu menolak menjual pulaunya. Konon, Roger kemudian menantang Sniggerr bermain poker sambil berujar jika dia menang maka Snigger harus mau menjual pulau tersebut kepadanya. Ternyata, Roger menang poker dan pulau itu dibelinya dengan harga 60 poundsterling, kata Rumbles, pemiliknya sekarang

Rumbles sendiri membeli pulau itu pada 2003 seharga 1,5 juta dollar Australia atau setara Rp 15 miliar, setelah ia membaca artikel di surat kabar. Pulau itu kemudian ia sewakan kepada perusahaan bir yang berbasis di Queensland antara 2012 hingga 2015. Selanjutnya Pulau Pumpkins digunakan perusahaan untuk mempromosikan bir mereka Castlemaine XXXX yang kemudian berubah nama menjadi XXXX Island.

Selama promosi berlangsung, mereka menyelenggarakan sayembara. Bagi pelanggan yang berhasil menemukan kaleng bir emas dalam wadah bir, mereka akan mendapat tiket liburan di pulau tersebut. Sang pemenang boleh membawa tiga teman lain untuk menikmati liburan ekslusif itu.

Pasangan Wayne dan Laureth Rumble mengatakan alasan menjual pulau tersebut karena mereka berencana pindah ke Selandia Baru untuk lebih dekat dengan keluarga.

“Kami ingin menyerahkan pulau itu kepada seseorang yang punya perhatian sama besar dengan kami untuk merawatnya. Pulau ini adalah tempat istimewa dan ideal. Pemilik baru akan menemukan banyak kegembiraan seperti halnya kami selama ini, karena pulau ini menawarkan keindahan alam menakjubkan.”

Manaree and Bakery Hadirkan Donza, Donat Pizza Ukuran Besar  

this formate

Ayang dengan Donza ukuran 40 cm ( foto: Manaree)

JAKARTA, bisniswisata.co.id- Siapa yang tak kenal dengan Donat dan Pizza. Makanan ini kian digemari masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta. Namun kali ini dalam rangkaian ulang tahun Manaree Bakery and Cake, Rawamangun, Jakarta Timur menghadirkan dua makanan tersebut menjadi satu, yakni Donza (Donat Pizza).

Uniknya jika donat selalu dihadirkan dalam ukuran kecil, Donza Handmade Manaree memiliki dua ukuran besar, yakni 30  cm (Rp280.000) dan 40 cm (Rp330.000). Terdiri dari dua lapisan, yakni topping dan filling.

Donza yang dibuat dengan bahan-bahan halal dan kualitas terbaik ini dipadu dengan teknik pembuatan dari Baker bintang lima. Ada 10 pilihan rasa toping, antara lain tropical fruit, flossy, straberry cheese, classic chocolate, chocolate crunchy, chocolate marshmallow, double cheese mozarella, tuna mayo, beef peperoni, dan daging cincang.

Untuk pemesanan satu Donza ukuran 40 cm, pengunjung akan mendapatkan lima pilihan rasa dari 10 rasa yang ditawarkan. Donza ini cocok sekali buat yang ingin merayakan ulang tahun atau lagi ada acara lainnya, bisa dimakan untuk 20 hingga 25 orang.

“Pada peluncuran Donza, kami memberikan diskon hingga 50%. Dan untuk mendapatkan diskon tersebut sebelumnya follow IG @manaree_bakery dan nyalakan loncengnya biar tahu kapan kita bakal diskon up to 50%,” ujar pemilik Manaree and Cake Bakery, Sari Fatimah Agus atau biasa disapa Ayang.

Voucher diskon pembelian Donza berlaku hingga 31 Juli dan bisa dilihat dengan follow @donzamanaree.  Melihat  pembuatan Donza dengan lima rasa filling dan topping pilihan jatuh pada potongan dengan rasa chocholate marshmallow dan tropical fruit. Hasilnya tidak mengecewakan dan unik tentunya. Mau coba ?

Eksplorasi Eksotisme Alam Gambut di Taman Nasional Zamrud

this formate

Kegiatan ekowisata yang diselenggarakan 
Balai Besar KSDA Riau bersama Bupati dan stakesholder lainnya ( Foto: KSDA Riau) 

PEKANBARU, bisniswisata.co.id: Ekspedisi susur Sungai Rawa di Taman Nasional (TN) Zamrud diselenggarakan secara kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Siak, Balai Besar KSDA Riau, Instansi Vertikal, swasta maupun media

Kegiatan yang berlangsung Sabtu pekan lalu ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Siak terhadap tindak lanjut Nota Kesepahaman Pengembangan Ekowisata di TN Zamrud, yang telah ditandatangani antara Bupati Siak dan Kepala Balai Besar KSDA Riau beberapa waktu yang lalu.

 Kegiatan ekspedisi dilakukan dengan merintis jalan ekowisata yang dimulai dari Kecamatan Sungai Apit menyusuri Sungai Rawa menuju Taman Nasional Zamrud, dengan perjalanan tempuh sekitar 5 jam.  Dalam perjalanannya, disuguhkan eksotisme dan tantangan dalam menuju ke Taman Nasional Zamrud.

Rombongan Bupati Siak bersama Kepala Balai Besar KSDA Riau, memimpin iring iringan susur sungai tersebut dengan sajian pemandangan awal berupa ekosistem mangrove. 

Mengutip laporan Balai Besar KSDA Riau, diungkapkan bahwa tempat ini telah berkembang menjadi ekowisata mangrove yang dikelola kelompok masyarakat setempat. Perjalanan menuju hulu disuguhi dengan pemandangan hutan rawa gambut dengan kekhasan airnya yang berwarna coklat kehitaman.

Taman Nasional Zamrud ebih dikenal dengan nama Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar Danau Bawah. ( Foto: KSDARiau)

Saat memasuki kawasan TN Zamrud, kita akan melihat beberapa tegakan Meranti yang berdiri kokoh menjulang dengan aktivitas berbagai jenis primata dan aves. Tantangan yang cukup menarik, yaitu menembus vegetasi bakung yang rapat dan tinggi.

Pada saat istirahat siang, rombongan berkesempatan untuk mengunjungi plot keramba ikan kelompok tani nelayan hutan Danau Zamrud yang merupakan wujud kerjasama kemitraan konservasi di TN Zamrud.

Di Akhir perjalanan, rombongan menuju Danau Bawah dan Danau Pulau Besar yang menjadi ikon TN Zamrud. Bupati Siak sangat terkesan dengan potensi taman nasional, dan secara kolaboratif bersama Balai Besar KSDA Riau akan intensif dalam pengembangan ekowisata yang menjadi destinasi baru di Kabupaten Siak.

Taman Nasional (TN) Zamrud secara administratif berada di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kawasan ini sebelum ditetapkan menjadi taman nasional merupakan kawasan suaka margasatwa.

Lebih dikenal dengan nama Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar Danau Bawah yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan luas 28.237,95 ha.  

Perubahan fungsi dan perluasan dari SM Danau Pulau Besar Bawah menjadi TN Zamrud diusulkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Siak pada tahun 2005 dengan surat Bupati Kabupaten Siak No. 364/Dishut/205/2005 tanggal 9 Juni 2005. 

Menurut pemda Kabupaten Siak hal ini dilakukan dengan pertimbangan nantinya ada pembagian zonasi yang diantaranya zona pemanfaatan, zona ini diperuntukkan sebagai tempat penelitian, pendidikan, pariwisata dan pemanfaatan lainnya.

Pada tanggal 4 Mei 2016 melalui surat keputusan Menteri LHKNo.350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016, menetapkan perubahan fungsi SM Danau Pulau Besar Danau Bawah serta kawasan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap menjadi TN Zamrud di Kabupaten Siak Provinsi Riau seluas 31.480 ha.

Luas kawasan tersebut berasal dari SM Danau Pulau Besar Danau Bawah dengan luas 28.238 ha dan kawasan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap dengan luas   3.242 ha.

Potensi flora dan faunanya beragam dan untuk flora ada bengku (Ganua motleyana), durian burung (Durio carinatus), punak (Tetramerista glabra), jangkang (Xylopia malayana), kolakok (Melanorrhoea sp.), pisang-pisang (Gonithalamus sp.), ramin (Gonystylus bancanus), dan jenis lainnya dari Suku Dipterocarpaceae atau disebut meranti-merantian.

Sementara untuk faunanya ada bubut, burung hantu, elang, enggang, kutilang, layang – layang, mura, punai, rangkong gading, rangkong papan, serindit, srigunting, tekukur dan kucica kampung.

Binatang lainnya di Taman Nasuinal Zamryd adalah beruang Madu, mamalis, beruk,harimau Sumatera, kancil, tapir, kucing hutan,kijang,landak, monyet ekor panjang, siamang, biawak, ungko (Presbytis thomasi), trenggiling, simpak dan babi. Nah tertantang untuk menjumpai mereka di hutan ?

 

Identix Batik, Cara Irma Susanti Berbisnis Dengan Nilai Ibadah

this formate

Irma Susanti ( tengah) , pendiri Identix Batik Tulis Indonesia tengah mengajarkan murid SMK di Jakarta proses pewarnaan batik.( Foto: Dok.Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Batik punya kekuatan budaya. Hal inilah yang bisa dijual sekaligus melestarikan. Peluang bisnis yang besar ini, oleh Irma Susanti dipadukan dengan tekhnologi dan dibuat secara custom hingga sukses membawa batik tulis karya budaya Indonesia makin terkenal dimata dunia.

Memakai batik custom yang dibuat khusus satu desain hanya untuk satu produk bukan hal yang mudah karena dipasaran justru pengusaha lokal bahkan dari China memproduksi satu desain menjadi ribuan pieces. Tentu saja orientasi bisnis adalah mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.

Di tengah maraknya fashion ready to wear, langkah yang dilakukan oleh Irma Susanti membutuhkan kekuatan spiritual dan keyakinan bahwa niat memuliakan batik sebagai warisan Dunia budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO harus terus dilestarikan.

UNESCO, organisasi di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa  dan bermarkas di pusat mode dunia di Paris pada tanggal 2 Oktober 2009 menetapkan hari penting bagi kebudayaan Indonesia, terutama batik. Sebab, pada hari itulah batik diakui sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Batik  diakui sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity). Bagi seorang Irma Susanti  merupakan pengakuan yang sangat dasyat dan bermakna. 

Sejak itulah kegelisahannya menjadi pegawai terusik. Padahal pekerjaan terakhirnya di perusahaan otomotif tergolong cemerlang. Keinginannya membuka usaha sendiri dan menjadi pengusaha mulai diasah meskipun tetap belum mampu diwujudkan.

Wanita saleha ini dari awal pilihannya sudah jelas bahwa melestarikan batik jauh lebih penting dari pada hanya mengejar kesenangan dunia berupa uang dan keuntungan. Agaknya dia meyakini bisnis yang akan dijalaninya ini adalah bentuk ibadah.

Di temui saat mengikuti pelatihan  Emosional Spiritual Quotion ( ESQ) pimpinan Ary Ginanjar Agustian, di Menara 165 bersama ratusan peserta lainnya tahun 2018, Irma Susanti mengikuti pelatihan selama tiga hari itu dengan penuh senyum.

Penampilan wanita yang saat itu belum lama berhijab dan  memadukan celana jeans plus batik sudah memikat sehingga banyak sesama peserta yang ingin berfoto bersamanya. Mungkin inner beauty dan aura positifnya yang menjadi penyebab.

Setelah pelatihan spiritual itu, disadari atau tidak, terutama dari jejak digitalnya di media online Irma Susanti makin mantap melakukan modifikasi dan membuat batik menjadi busana yang nyaman, tidak terlalu kaku dan formal. Batik diharapkannya bisa dipakai di berbagai acara. 

“Tujuannya membuat semua orang bangga mengenakan batik yang merupakan warisan dunia asli Indonesia,” tambahnya. Bahkan batik modern yang ia buat, dimodifikasi dengan kain lainnya. Misalnya songket, lurik hingga torso selain juga dipadukan dengan bahan katun khusus untuk acara santai,” kata perempuan kelahiran Pati, 17 Februari 1989 ini.

Mengusung brand IDENTIX Batik Tulis Indonesia dan membuka butik di Jalan Raya Muntal Kota Semarang, Jawa Tengah 50232, Produk yang dibuat dan memiliki ciri khas tersendiri ini sudah tersebar ke mancanegara.

Hijrah dari seorang pegawai menjadi entrepreneur, hijrah untuk berhijab dan mengikuti gaya hidup sesuai ajaran Islam membuat usahanya yang berdiri sejak April 2018 di Semarang kini  telah berhasil menembus berbagai negara di dunia.

Dalam usia dua tahun tiga bulan usaha yang dirintisnya sudah mendunia. Keyakinan bahwa melestarikan memiliki nilai ibadah yang tinggi terbukti. Begitu pula konsep custom agar motifnya tidak sama dengan motif di butik-butik batik lain. Pilihan nama brand juga secara tegas Irma menempatkan batik sebagai identitas karakter pemakainya.

“Saya pilih batik tulis karena dalam satu kali pembuatannya tak akan bisa diulang kembali, itulah kuatnya karakter batik tulis dibanding batik cap,” terang ibu muda yang juga jebolan Nanyang University Singapura Jurusan Arts and Design ini.

Sebagai generasi milenial yang mau terjun ke bisnis batik tulis, Irma awalnya sudah menjual via e-commerce dan online agar dilihat seluruh dunia.  “Alhamdulilah, banyak customer dari Singapura, Spanyol, China, Turki, Jepang, berminat karena desainnya berkarakter dan jenis batik tulis custom,” katanya.

Koleksi batik Identix Batik Rukis Indonesia dipamerkan ke mancanegara.
Irma ( kiri) bersama tim yang didominasi kaum hawa

Mendunianya batik tulis custom rupanya didengar pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Inggris di London. Gayung bersambut, Identik Batix diajak pentas bareng fashion show di Potters Fields Park London Inggris dalam gelaran Indonesian Weekend, pada 8 – 9 September 2018.

Dia  menampilkan 12 koleksi batik tulis custom dan selama di London, lewat KBRI juga, Irma Susanti diberi kesempatan untuk menularkan dan mengenalkan ilmu batik tulis di Universitas Oxford London, termasuk promosi beberapa merchandise batik Indonesia.

Irma mengaku, karya desain motif batiknya sudah ribuan dan sudah dipatenkan agar tidak ditiru, motif ada dari seluruh kekayaan lokal di Indonesia ditambah koleksi motif dari beberapa negara.

Tak puas batik sebagai fashion cuma jadi raja kandang, berbekal ilmu bangku perkuliahan, sosiologi dan antropologi, Irma Susanti mempelajari budaya dan karakter kuat negara yang akan menjadi tujuan pasar internasionalnya.

“Kebetulan saya suka travelling, tiap nemu ide saya tuangkan dalam desain. Di Jepang dan Turki sudah terkumpul beberapa motif lokal kegemaran masyarakatnya,” paparnya.

Sebagai test market, Irma Susanti membuat motif lokal beberapa negara tersebut. Dia produksi batik tulis customnya lalu di jual di dunia maya dan sambutannya ternyata luar biasa.

“Konsumen di Jepang suka dengan motif Jepang yang saya ambil dari filosofi kimono. Hal yang sana dilakukannya untuk pasar Turki sehingga line product bervariasi ada kombinasi batik, hijab, art, dan mereka ternyata tak suka warna ramai, ungkapnya 

Tak heran di WA statusnya kini Irma kerap mengunggah saat timnya di workshopnya  tengah bekerja di depan komputer, asyik membuat desain sesuai arahannya. Lain waktu dia mengunggah puluhan kotak masuk ke atas mobil box untuk di kirim ekspedisi memenuhi pernintaan ke berbagai wilayah di Indonesia maupun mancanegara.

Bidikan lensanya juga membuat para staff butik dan tamu-tamu termasuk diaspora Indonesia di mancanegara yang tengah pulang kampung mencari batik-batik tulis jadi tersipu-sipu saat memilih kemeja-kemeja batik.

Saat ini pangsa ekspornya menembus 40 persen market share-nya, seperti ke Turki, Jepang, Singapura, London dan beberapa negara Eropa. “Sehari bisa kirim 70 pax ke luar negeri, kalau corporate dan lokal bisa ribuan pax,” ujar Alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Soal harga, Irma menyasar kelas premium seharga untuk kain-kain batik tulisnya berkisar Rp 500.000 – Rp 15 juta per lembar. Dia memang spesialis produsen dengan kualitas terbaik dan ke depan bukan hanya batik.

Jika dimasa pandemi global COVID-19 banyak ajakan untuk membeli produk teman sendiri, bagi Irma sejak mulai berbisnis juga konsep ini sudah diterapkannya. Membeli dan memberdayakan sesama perajin dan pengusaha batik.

“Bagi saya, yang terpenting bisa menjadi jembatan para seniman batik di daerah-daerah untuk menyuguhkan kesenian tangan mereka agar diakui dunia. Dengan demikian mereka akan semakin menghargai karya mereka sendiri dan terpantik untuk semakin membawa batik mendunia ke negara-negara lain yang belum kami kunjungi. ” 

Jangan khawatir, alumni training ESQ sudah mencapai 1,7 juta orang dan tersebar di berbagai dunia. Kalau alumni punya komitmen beli produk teman sendiri, Insyaa Allah jadi rejeki yang mengalir. Bukan begitu Irma ?

Baru menuangkan niat luhur dan kiprah Irma sebagai seorang entrepreneur saja ternyata butuh sejumlah halaman,  belum lagi menyentuh soal leadership ESQ yang sudah dipelajari serta perannya  sebagai istri dan ibu seorang anak. 

Menulis sosok wanita cantik ini memang tidak ada habisnya, yuk kita doakan keinginannya selalu membantu orang lain dan berbuat kebaikan yang mendatangkan berkah bagi Identix Batik. Aamiin