Sapta Nirwandar: Halal Tourism Itu Bukan Persoalan Agama an sich 

this formate

Sapta Nirwandar saat berangkat mengikuti pertemuan Rusia-Islamic World tahun lalu. ( Foto: Dok. Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa menjadi pusat ekonomi syariah. Nyatanya, ekonomi berbasis syariah masih belum banyak kiprahnya sebagai pendorong ekonomi nasional. 

Sebut saja di sektor pariwisata: sejauh ini kita masih tertinggal dibandingkan misalnya Thailand dan negara-negara di Asia atau Eropa dimana Islam bukanlah agama mayoritas mereka.

Padahal menurut kajian Bank Indonesia (BI), pada 2018 ada 140 juta wisatawan muslim di dunia dengan belanja online sebesar US$ 35 miliar. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi 158 juta orang tahun ini. Prediksi ini dibuat sebelum pandemi COVID-19. Angkanya pasti akan menurun karena banyak negara memberlakukan aturan lockdown dan penerbangan pun dibatasi.

Hingga 2017, Indonesia belum tercatat sebagai salah satu negara tujuan wisata halal. Menurut laporan Global Islamic Economy Report 2018/19 (Laporan kerja sama antara Thomson Reuters dan Dinar Standard), negara Islam yang menjadi tujuan wisata halal di 2017 adalah Arab Saudi, Turki, Malaysia, Uni Emirat Arab dan Bahrain. Sementara di kategori negara non Islam, tujuan wisata halal adalah Rusia, Spanyol, Prancis, Thailand dan Singapura.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia belum mampu menggenjot potensi sektor pariwisata  halal, berikut wawancara Rin Hindryati dengan Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre.

Sejak kapan Anda mulai bersentuhan dengan halal tourism? 

Pada 2009-2011 saya diundang ke Dubai sebagai pembicara untuk subjek yang baru, yakni wisata syariah atau halal tourism. Berikutnya, saya diundang lagi ke Dubai pada 2012 di sebuah plenary session yang pertama. Topiknya masih mengenai halal. Sejak itulah saya mulai mendalami. Ternyata, menurut saya subyek ini sangat promising. Kan kita mayoritas. 

Saat itu, bagaimana animo di Indonesia untuk mengembangkan wisata halal?

Belum tinggi. Seingat saya yang termasuk awal mengusung kata syariah itu Hotel Sofyan. Dia itu hotel syariah yang masih kecil. Jadi belum ada istilahnya pariwisata atau kepariwisataan yang berbasis kepada dunia Islam. Belum. Setelah acara di Dubai itulah baru kita mulai promosikan halal industri.

Awalnya, masih ada skeptisisme yang tinggi. Oleh sebab itu, pada 2012, saat itu saya masih di sektor pariwisata Sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011-2014) menyelenggarakan Focus Groupd Discussion (FGD) tentang apa sih yang paling tepat judulnya mengenai tourism yang berkaitan dengan dunia Islam.

Kala itu saya mengundang hampir semua stakeholders termasuk dari kalangan muslim: Muhammadiyah dan NU, akademisi dan praktisi. Itu berapa kali FGD. Tetap gak ada yang berani menyebutkan. Akhirnya ada yang menyebut friendly tourism, halal traveling, wisata halal dst. 

Ada juga yang mengusulkan, paling gampang mengikuti gayanya bank. Makanya ada kita sebut dengan wisata syariah. Wisata syariah itu yang awalnya. Kyai H. Ma’ruf Amin (sekarang wakil presiden) saat itu juga ikut memberikan saran tersebut.

Jadi pada waktu itu masih ragu ya? 

Masih. Pada 2014, kita bikin FGD sekali lagi. Menterinya sudah baru, Pak Arief Yahya. Saya yang buatkan FGD-nya. Akhirnya teman-teman sepakat yang lebih cocok kita pakai istilah halal tourism industry. Mengapa? Karena kata halal itu (konotasinya. Red) lebih gampang, dibandingin dengan Syari’i. 

Jadi kita start dari situ. Di kantor juga kami membuat edukasi. Itu sebabnya dulu ada Keputusan Menteri yang membuat kategori, apa yang disebut dengan Hotel halal atau hotel yang berdimensi muslim. Kategori satu, misalnya: ada disediakan sajadah dan kiblat direction di setiap kamar. Sebenarnya sih itu sudah hampir semua hotel ada. Sudah lama termasuk Hotel Marriot. 

Kategori kedua, soal ketersediaan makanan. Di hotel itu, tidak ada makanan haram, babi. Sedangkan level lebih tinggi di kategori ketiga, di sana tidak ada minuman beralkohol, juga tidak ada hiburan yang seronok. 

Sebenarnya untuk kriteria satu dan dua, sudah banyak hotel yang memenuhi. Nah sekarang ini trend-nya termasuk juga pengalaman saya beberapa kali sering ke Kuala Lumpur, seperti Hotel Mandarin pun, di restorannya, mereka tidak lagi menyediakan babi. 

Mengapa? Karena lebih memudahkan dapat klien, daripada hanya dapat klien satu. Kalau tidak ada makanan haram, merekakan dapat dua-duanya. Umumnya, bagi non muslim, hal itu kan gak masalah. Sedangkan kalau buat muslim, mereka tidak akan makan kalau haram. 

Nah ini yang saya perhatikan, terus berkembang dari sisi makanan. Makanya di Bangkok tumbuh restoran-restoran halal.

Ketika Keputusan Menteri ini diperkenalkan, ada impact-nya?

Impact-nya banyak. Diam-diam pelaku industri perhotelah mulai ngikut yah. Level 1-2 kan hampir semua sudah mengikuti. You kalau masuk ke Marriot, masuk ke Sheraton Hotel , itu semua tersedia. Bahkan sekarang mallmall pun mulai menyediakan musholla. Di mall Casablanca, itu luxurios tempat sholatnya. Itu fasilitas. 

Makanya itu saya bilang halal tourism itu bukan persoalan agama an sich (bukan agama saja). Tapi juga masalah extended services, yakni pelayanan bagi yang mau melakukan. Contohnya aja kalau Budha. Itu biasanya dia vegetarian. Nah sekarang kalau kita naik pesawat, ada yang menawarkan spesial food, khusus untuk yang vegetarian. Kan itu service. Kita gak bisa paksa mereka makan sapi. Orang dia maunya sayur. 

Nah, sama aja itu di industri pariwisata halal. Nah makanya sekarang sudah mulai berkembang di Bali ada Rhadana Kuta Balu. Hotel ini menyabet gelar juara sebagai Best Halal Boutique Hotel in Asia atau Hotel Butik Halal Terbaik di Asia dalam ajang Asia Halal Brand Awards (AHBA) 2017), di  Bandung banyak hotel syariah. Di Solo ada 4 hotel besar kalau gak salah. di Jakarta, ada tadi hotel Sofyan, di Bandung, bahkan di Banyuwangi ada banyak.

Jadi kala itu label syariah masih diangap sensitif untuk disematkan pada sektor pariwisata?

Di sektor pariwisata, memang awalnya agak-agak sensitif. Sensitifnya apa? Karena orang akan berpikir, ini jangan-jangan menyangkut aturan kehidupan, misalnya, hotel. Jika hendak check-in akan ditanyain KTP, dsbnya. 

Kekhawatiran itu memang betul. Tetapi, kita bisa memulainya dengan yang lebih edukatif. Islam adalah agama yang damai, yang tidak mempersulit. Singkatnya, kemudian saya terpikir: mengapa tidak diterapkan juga untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, terutama yang paling sensitif makanan (food). Lalu, pakaian. Jadi, sandang dan pangan. Selanjutnya yang berkaitan dengan lifestyle, seperti kosmetik, perbankan, dan tentunya sektor pariwisata. 

Menurut Pak Sapta, mengapa kala itu masih ada keraguan untuk menawarkan produk-produk berlabel halal atau syariah, padahal kita kan negara muslim terbesar di dunia? 

Ada 2 aspek. Pertama, mungkin karena halal atau syariah itu dianggap lumrah aja. Jadi, nggak perlu terlalu secara eksesif diurus. Ya, udah biasa aja. Misalnya, ada restoran orang Jawa bersih dan rapi, maka kita anggap udah pastilah itu halal. Kedua, masih ada fenomena seperti ketakutan atau fobi. Di awal-awal itu ada pertanyaan, apakah dari segi bisnis dengan model seperti itu, bakal laku. 

Hal itu memang wajar-wajar aja. Bayangin aja ada hotel halal, syariah. Nanti siapa yang mau masuk? Takut? Nanti gak bisa ini, itu. Tapi sebetulnya ketakutan itu tidak terbukti karena di dunia internasional termasuk tempat yang paling gawat aja, seperti Phuket, mereka ada hotel halal. Di Phuket itu ibarat kata orang antara sajadah sama haram jadah, beda tipis. Bahkan di Phuket Pat Ada hotel syariah yang lokasinya bahkan sebelahan. Konsumen tinggal memilih. 

Bahkan di Pattaya, itu udah ada hotel syariah. Kalau di Turki, pasti banyak. Di Bangkok, saya pernah menginap di Al Meroz, leading hotel halal di Bangkok. Itu laku sekali. Hotel syariah pertama di Bangkok ini dibangun oleh TS Family Group. 

Taktanggung-tanggung,mereka menginvestasikan dana senilai 1 miliar Baht untuk membangun hotel berklasifikasi bintang empat ini. Kalau masih ragu, ternyata di sejumlah negara hotel syariah bisa laku. Ternyata banyak juga tamunya.

Nah, Keputusan Menteri itu kan regulasi untuk pengelola hotel, bagaimana dengan calon tamu yang mau menginap? 

Nah itu yang dulu kontroversi. Menurut saya sih, aturan itu bisa perlu bisa tidak. Kenapa? Karena itu kesadaran dari masyarakat sendiri. Artinya, kalau sudah masuk ke hotel syariah yang seperti itu, mestinya dia gak bisa seleluasa kalau menginap di hotel umum. Jadi tahu dirilah, itu satu. 

Yang kedua, tentunya hotel-hotel itu tidak menyediakan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah. Itu yang paling utama. Nah sekarang hotel yang di Bangkok yang saya pernah nginap, ternyata banyak juga yang non muslim tinggaldisitu. Terutama keluarga-keluarga yang juga butuh calm atmosphere, yang gak mau hingar-bingar, yang gak mau alkohol atau minuman keras. 

Belakangan ini negara seperti Korea Selatan dan Jepang juga mulai menggarap pasar wisata halal dan Sukses.

Nah gini. Muslim travelling itu kini dilihat sebagai satu pasar besar, bisa mencapai billion dollar. Bukan kecil. Sayangnya, kita baru menerima porsi relatif sangat relatif, dibandingin pihak lain. Nah itu tentunya punya dampak kepada para penyedia jasa layanan pariwisata. 

Negara mana saja yang besar meraup halal tourism. Pertama, Thailand. Thailand itu visitornya lebih banyak daripada kita. Dia ada 5 jutaan yang disebut muslim travelling atau traveler. Mengapa? Karena mereka akomodatif. Apalagi soal makanan yang sangat sensitif, mereka menyediakan banyak restoran halal, dan secara online kita bisa tahu dimana saja. 

Nah Korea juga gak mau kalah. Visitor muslim juga cukup besar dari Indonesia, Brunei, dari Asia, dan tentunya dari Timur-Tengah. Makanya mereka me-launch pada 2016-2017 150 restoran di Seoul yang bisa diklik online yang menyediakan makanan halal. 

Di Malaysia, hampir semua hotel besar franchising sudah menerapkan standar halal. Mengapa? Karena masyarakatnya sudah semakin peduli. Mereka kalau tidak ada jaminan halal, gak mau masuk, gak mau makan. Rugi, jadinya. 

Di Singapura, termasuk kuat literasinya. Jumlah warga muslimnya hanya 800 ribu orang, tapi 700-750 ribu orang itu sadar bahwa dia harus makan sesuai dengan ajaran-Nya. 

Umpamanya Deli Franc’s Bakery, itu kan franchise dari Perancis, atau Restoran Mcd. Nah si McD dengan sadar, harus bikin jadi halal. Kenapa? Kalau gak maka yang 750 ribu pelanggan ini gak mau makan. Mereka akan makan di tempat lain. 

Oleh karena itu menurut saya, halal bukan hanya sekadar aturan agama bagi pemeluknya, tapi juga buat juga si pebisnis, karena ini pasar yang gede. 

Kembali ke Indonesia, captive market-nya besar tapi kompetisi globalnya juga tinggi ?

Dari report kita, Indonesia itu tidak hanya market sasaran, target market, tetapi juga produsen terbesar. Cuma masalahnya tadi itu perlu ada sertifikasi, perlu ada pembenaran bahwa itu memang totally halal. Nah ini yang jadi masalah. 

Sejauh ini bagaimana?

Ya, itu masalahnya, karena masih ada yang berpendapat ini high cost.  

Itu ibaratnya kalau kita bicara soal lingkungan. Lingkungan itu bisa menjadi mahal, kalau kita tidak menciptakan rantai produksi yang kondusif dari awal sampai ujung. Jadi, apakah perlu keberpihakkan? Yes. Kebijakan itu untuk memberikan juga dorongan paling tidak, aturannya apa sih? Perlu ada aturan yang menjamin bahwa produk itu halal, apakah lewat sertifikat? Kalau iya, itu harus betul-betul diterapkan, bukan hanya tempelan ‘halal’.

Kedua, produknya harus berkualitas sehingga masyarakat akan cari yang berkualitas di samping halal. 

Dalam beberapa tahun terakhir, ada trend banyak orang mulai hijrah. Mereka cenderung mengonsumsi produk yang halal.

Tapi saya yakin nanti, diantara produk yang halal itu juga akan terjadi kompetisi. Jadi orang akan mencari, pertama produknya halal, kedua, juga berkualitas. 

Nah itu satu. Tantangan kedua, kita juga berkompetisi dengan produk halal dari luar negeri. Kalau you halal, produk dari luar juga oke. Nah kan bisa bersaing juga nnati. 

Jadi harus ada kedua-duanya. Contoh hijab. Hijab itu halal, tapi harga yang bahan bakunya dari Turki ternyata lebih murah dibanding bahan bakunya dari Indonesia sendiri. Atau dari China. Buktinya sekarang sajadah aja udah bikinan dari China.  Jadi tetap ada unsur ini rasionalitas. 

 

“Site Inspection”, Rancang Wisata Aman dari COVID-19

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Mengikapisurat edaran Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru. Dan pembukaan Bali dari sejumlah keterbatasan gerak tahap pertama per 9 Juli, sebanyak  35 pengurus DPD ASITA Bali dan anggota site inspection ke lapangan.

Selain melihat praktik dan kesiapan pengelola objek wisata dalam tatanan kehidupan dan berwisata pola baru. Juga mempersiapkan anggota merancang paket- paket berlibur sesuai minat pasar nusantara yang hendak digarap.

“Tatacara menghandel pasar lokal ini sebagai ujicoba, sekaligus dasar untuk menggarap pasar wisatawan nusantara yang hendak dibuka pada tahap ke dua 31 Juli,” jelas Ketua DPD ASITA Bali, Ketut Ardana.

Tahap awal dengan 35 orang pengurus dan anggota ASITA melakukan site inspection ke objek wisata di wilayah Kabupaten Badung, Taman Ayun, DTW Sangeh dan DTW di wilayah Kabupaten Tabanan, Jatiluwih, Tanah Lot. Objek- objek popular pilihan wisatawan baik wisatawan lokal, nusantara mau pun asing.

Secara umum protokol kesehatan telah dilaksanakan pengelola objek, ketersediaan fasilitas yang diperlukan di lapangan, termasuk tanda- tanda (sinage) meski pun dalam bentuk sangat sederhana sesuai kemampuan pengelola. Menurut sejumlah anggota ASITA, penyempurnaan praktik lapangan dan ketersediaan fasilitas dilakukan dalam ujicoba melayani pengunjung yang sudah mulai melakukan kunjungan.

Misal membiasakan petugas dengan kelengkapan APD nya saat melayani tamu, tidak canggung. Hal keharusan melakukan disinfektasi kawasan, sebaiknya kapan dan dalam periode berapa waktu dilakukan? Pasalnya, jika penyemprotan dilakukan saat ada pengunjung, tentu sangat menganggu pernapasan pengunjung. Bagaimana dengan pengunjung yang alergi dengan bahan desinfektan tersebut? Jumlah dan penempatan fasilitas cuci tangan, aliran limbah dan pengolahannya.

Tanda antrian yang sering kurang diperhatikan, petugas harus lebih tegas.

Konsistensi petugas pendamping, guide di objek kunjungan melakukan pengawasan physical distancing antar pengunjung baik saat antri masuk dan diukur suhu tubuh, saat cuci tangan atau pun saat menyimak penjelasan guide tentang objek.

Bagaimana dengan fasilitas digitalisasi reservasi, terkait jumlah pengunjung yang selayaknya berada di areal dalam satu waktu. Termasuk penggunaan fasilitas tempat duduk di restoran, digitalisasi order makanan, sehingga waktu lebih efektif dan efisien baik bagi pengelola mau pun pengunjung.

“Penyempurnaan praktik di lapangan perlu didampingi pihak- pihak terkait. Pelatihannya ditambah dan intens melakukan ujicoba serta evaluasi,” papar Ketut Ardana.

Up- Date Informasi

Diberlakukannya tahap pertama pembukaan terbatas sektor kehidupan sosial di Bali dan mempersiapkan pelaksanaan tahap ke dua, anggota ASITA Bali perlu melakukan penyesuaian paket- paket wisata bagi wisatawan nusantara.

Pengelola objek, ungkap Ketua ASITA Bali perlu memperbarui informasi objeknya kepada anggota ASITA. “Duduk bareng merancang paket- paket sesuai pergeseran minat pasar dan protokol kesehatan wisata yang baru. Wisata aman COVID,” jelasnya lebih lanjut.

Pembaruan info untuk pasar diperlukan anggota ASITA

Dari hasil kunjungan lapangan ke objek- objek tersebut ASITA berkeyakinan objek sudah layak dibuka bagi wisatawan nusantara tidak hanya untuk masyarakat lokal di Bali. Dengan catatan ada komitmen dari pengelola untuk menyempurnakan layanannya, membiasakan staff melaksanakan protokol yang telah ditetapkan. Didukung pengawasan ketat dari Tim Satgas Gotong Royong yang telah dibentuk dan ditugaskan di objek- objek kunjungan wisata.

Selain mengunjungi objek wisata di Badung dan Tabanan, ASITA juga merencanakan site inspection ke objek wisata dan UMKM di wilayah Gianyar, Klungkung,Karangasem dan Bangli.

Tiga Tahapan

Pandemi COVID-19 memang selayaknya dimaknai secara positif sebagai proses alam. Dari situasi negatif-berbahaya untuk mencapai kondisi di titik nadir sebagai fondasi menuju suatu keseimbangan baru dan menjadi tatanan kehidupan baru secara holistik.

Bagi masyarakat Bali yang Hindu, munculnya wabah penyakit merupakan penanda adanya ketidakharmonisan, ketidak-seimbangan alam beserta isinya pada tingkatan berbahaya akibat ulah manusia. Berkehidupan yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasar nilai-nilai kearifan lokal: bahwa hidup harus menyatu dengan alam, yaitu: manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi.

“ Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam,” ungkap Gubernur Bali Wayan Koster dalam satu upacara di Pura Besakih.

Upaya agar tidak terpuruk dititik nadir, telah dilakukan pemerintah yang perlu dukungan masyarakat di Bali. Pasalnya, pandemi adalah tanggungjawab semua pihak dan kuncinya ada pada tingkat kedisiplinan masyarakat.

 Menurut Gubernur, pandemi COVID-19 di Bali telah menimbulkan dampak luas baik disektor kesehatan, sosial, dan ekonomi termasuk pariwisata. Masyarakat tidak dapat melaksanakan aktivitas secara normal; bekerja dari rumah, belajar dari rumah, berdoa di rumah, tidak boleh berkerumun, dan berbagai pembatasan aktivitas lainnya di luar rumah.

“Dilakukan upaya terbaik untuk menangani COVID-19, seraya mulai melakukan aktivitas kehidupan, secara bertahap, selektif, dan terbatas. Dengan melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru untuk Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19, sesuai perhitungan hari baik dalam kalender tradisi Bali, ” tegas Wayan Koster.

Tahapannya meliputi: pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari Kamis Umanis Sinta. Sesuai arahan Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19, pelaksanaan tatanan kehidupan era baru, yang diijinkan terbatas hanya pada sektor: a) kesehatan; b) kantor Pemerintahan; c) adat dan agama; d) keuangan, perindustrian, perdagangan, logistik, transportasi, koperasi, UMKM, pasar tradisional, pasar modern, restoran, dan warung; e) pertanian, perkebunan, kelautan/perikanan, dan peternakan; dan f) jasa dan konstruksi. Sedangkan untuk Sektor Pendidikan dan Sektor Pariwisata belum diberlakukan.

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas secara lebih luas, termasuk sektor pariwisata, namun hanya terbatas untuk wisatawan nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari Jumat, Pon, Kulantir.

Tahap ketiga, melaksanakan aktivitas secara lebih luas sektor pariwisata termasuk untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020 yang bertepatan hari Jumat,  Kliwon, Sungsang, Sugihan Bali; kurun waktu 42 hari (abulan pitung dina) dari tahap kedua tanggal 31 Juli 2020. ***

Perlu Pendampingan, 479 Desa Wisata Segera Dibuka

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id; Anggota Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi), menunggu rekomendasi pemerintah daerah untuk membuka layanan berwisata ke desa. Selain legalitas, anggota juga memerlukan pendampingan dalam penerapatan tatanan kenormalan baru pandemic COVID-19. Pasalnya, desa wisata (dewi) anggota Asidewi menggunakan standar protokol kesehatan sesuai pemahaman dan kebutuhan lapangan di desa masing- masing.

Demikian ditegaskan Ketua Asidewi Andi Yuwono dalam webinar Kadin Jatim bertajuk “Industri Pariwisata Jatim Menuju Tatanan Baru Ekonomi”. Dijelaskan bahwa pandemic COVID-19 memberi hikmah bagi pengembangan wisata ke desa- desa, kembali ke gaya hidup di tanah kelahiran masing2 masing orang. Wisata ke desa adalah upaya merayakan kehidupan desa.

Pandemi mengubah mindset berwisata masyarakat yang sebelumnya mewah, mahal, gemerlap. Menjadi wisata mengenali lingkungan sekitar lebih dalam, respek kelokalan akibat upaya melindungi kawasan dengan memberlakukan pembatasan- pembatasan sosial. Jika sebelumnya masyarakat desa hanya berprofesi sebagai produsen produk pertanian, peternakan di desa, masuknya usaha wisata menjadikan mereka ambil bagian pada dunia jasa tanpa meninggalkan keseharian mereka.

Keputusan pemerintah provinsi Jawa Timur membuka desa wisata  mendapat tanggapan positip anggota Asidewi. “Dan sangat siap untuk menerima wisatawan, seperti pengelola dewi  Tamansari di Banyuwangi, ” paparnya. Diakuinya Pemkab Banyuwangi relatif lebih aktif mendampingi anggota Asidewi di wilayahnya dengan melakukan simulasi dan ujicoba lapangan.

Selain Dewi Tamansari ada Dewi Tulungrejo, Situbondo, Kampung Wanasalam di Blitar, yang jelas lebih dari 1000 desa wisata anggota Asidewi baik yang di wilayah Jawa Timur mau pun di luar P Jawa, siap membuka pintu bagi wisatawan nusantara. Siap menjawab kebutuhan wisatawan akan keamanan, kenyamanan dan keselamatan dari penularan COVID-19.

Tidak hanya layanan yang berkualitas, produk atraksi serta kelengkapannya pun lebih baik jika dibandingkan sebelum pandemi. Atraksi, aktivitas lebih banyak di area terbuka, dominan ke edukasi lingkungan, sosial budaya, kuliner nya pun yang sehat, organik dan segar dari kebun setempat, jelas Andi Yuwono.

479 Desa Wisata

Dikutip dari website Pemprov. Jatim, bahwa sebanyak 479 desa wisata di Jawa Timur dipersiapkan untuk dibuka kembali di tengah pandemi COVID-19, dengan mempersiapkan penerapan tatanan kenormalan baru. Desa wisata diharapkan menjadi pengungkit ekonomi berbasis masyarakat dengan kearifan lokal.

 “Kita akan memberikan support khususnya dalam hal penegakan protokol kesehatannya. Kita kirimkan thermal gun, face shield dan masker untuk petugas yang berjaga, dan juga fasilitas seperti sarana untuk mencuci tangan,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya

Pengiriman bantuan tersebut dikoordinasikan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jatim dan juga Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim.

Bukit Nirwana

Gubernur Jawa Timur telah mengeluarkan SE Gubernur Nomor : 650/28404/118.1/2020, perihal tatanan kenormalan baru sektor pariwisata Jatim dan ditindaklanjuti dengan SK Kadisbudpar Jatim Nomor 556/199/1185/2020, Tentang Petunjuk Teknis SOP Protokol Kesehatan di Lingkungan Usaha Pariwisata.

Dua surat tersebut diharapkan turut diterapkan di desa wisata, seperti penegakan protokol kesehatan wajib mengenakan masker baik pengelola dan pengunjung, adanya batasan pengunjung 50 persen dari kapasitas total destinasi wisata, penerapn physical distancing, hingga pengaturan arus keluar masuk pengunjung di destinasi wisata.

“Ada tim verifikasi kelayakan pembukaan destinasi yang terdiri dari gugus tugas, Pemkab/Pemkot dan juga Pemprov. Pemkab/Pemkot yang memberikan izin boleh tidaknya destinasi wisata itu dibuka, dengan tetap ada supervisi dari Pemprov.  Parameternya adalah kesiapan penerapan protokol kesehatan,” tegas Khofifah.***

Segera Dibuka! Hotel Mewah di Atas Jembatan Kereta Api

this formate

Hotel Mewah di atas jembatan kereta api (foto: the manual)

TAMAN NASIONAL KRUGER, bisniswisata.co.id: Pandemi CIVID-19 telah mendorong banyak hotel mewah di Afrika Selatan menunda untuk kembali buka. Meski demikan ada beberapa hotel baru yang justru berencana beroperasi mulai tahun ini. Salah satunya adalah Hotel Kruger Shalati: The Train to The Bridge.   

Sesuai namanya, hotel mewah ini terbuat dari bekas gerbong kereta yang berjumlah 13. Uniknya, gerbong-gerbong yang telah disulap menjadi 24 kamar hotel berkelas ini kelak akan ditempatkan di atas Jembatan Selati yang terbentang di atas Sungai Sabie di dalam Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan. Hotel ini akan secara permanen bertengger di atas jembatan kereta api tersebut. 

Menuru sejarahnya, jembatan tua itu sudah ada sejak 1920-an, dan kini sudah tak terpakai lagi. Jalur kereta Selati merupakan satu-satunya jalan untuk berkunjung ke taman tersebut pada masa itu. 

Sedangkan nama Shalati yang disematkan pada Hotel Kruger Shalati terinspirasi dari nama ratu Afrika, Shalati, yang menurut legenda adalah salah satu kepala prajurit wanita pertama dari klan Tebula. Klan kecil ini merupakan bagian dari suku Tsonga yang tinggal di semak-semak sekitar Murchison Range, atau sekarang dikenal sebagai Provinsi Limpopo.

Resor ini bersebelahan dengan Kamp Skukuza di dalam Taman Nasional Kruger, tempat yang dikenal sangat eksotik karena binatang-binatang the big five – singa, macan tutul, badak, gajah, dan kerbau Afrika – berkeliaran dengan bebas.

Selan kamar-kamar, hotel berbintang ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas mewah, seperti dapur dan bathtub. Rencananya Hotel Kruger Shalati ini akan dibuka pada Desember mendatang. Tarifnya dipatok mulai 520 dollar AS per malam per orang, sudah termasuk makan, minum, dan dua kali kunjungan ke taman nasional. Pembangunannya sempat tertunda akibat pandemi COVID-19.

Gerbong kereta didesain sedemikian rupa agar pelancong bisa melihat jauh pemandangan taman nasional. Jendela gerbong diubah menjadi seluruhnya berdinding kaca yang besar dan menghadap ke sungai. Ada juga ruang makan dan kolam renang di lokasi terpisah namun masih berada di atas jembatan. Seluruh desain interior dikerjakan lewat kolaborasi dengan para artis lokal. 

Kabar buruknya, hotel ini tidak mengizinkan keluarga yang membawa anak-anak. Pihak hotel hanya menerima pelancong berusia 12 tahun ke atas. Meski demikian mereka mengatakan ada rencana penambahan kamar yang ramah keluarga, namun itu baru akan terlaksana pada awal 2022.

 

50 Destinasi Internasional yang Paling Ingin di Kunjungi, Bali urutan 30.

this formate

Santorini, Yunani menjadi destinasi pertama yang paling ingin dikunjungi wisman setelah lockdown Bali di urutan ke 30.( Foto: Unsplash/Jaime Arrieta)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Melakukan perjalanan internasional bagi sementara orang masih jauh dari harapan untuk mewujudkannya. Tapi , itu tidak menghentikan orang melamun tentang ke mana mereka paling ingin bepergian setelah lockdown akibat pandemi global CoVIS-19.

Mengutip dari bigseventravel.com ada lonjakan permintaan untuk villa tempat tinggal peristirahatan karena para pelancong terus waspada dan pembatasan masih diberlakukan.

Melihat tujuan yang paling dicari oleh pembaca di situs, survei terhadap pembaca di media sosial, dengan mempertimbangkan lokasi liburan yang sedang tren di Google Search dalam 30 hari terakhir, dapat melihat bahwa ada tren yang jelas untuk  liburan pasca lockdown yaitu pulau-pulau terpencil, istirahat pedesaan yang damai dan pantai surga tropis.  

Daftar harapan Traveller bervariasi berdasarkan wilayah, tetapi bigseventravel.com telah memeringkatnya berdasarkan popularitas keseluruhan. Orang-orang Inggris ingin mengunjungi Thailand, Portugal, dan Pulau Langit.

Orang Amerika memiliki Puerto Rico, Florida, dan Bora Bora di benak mereka, sementara orang Australia paling suka bepergian ke Los Angeles, Italia dan kota Esperance yang indah di Aussie.

Walaupun ada beberapa kota besar dalam daftar, mayoritas orang lebih menyukai daerah yang lebih tenang dengan banyak ruang untuk jarak sosial, dengan negara-negara yang dengan cepat mengusir virus yang terbukti populer. 

Italia adalah satu-satunya pengecualian yang menonjol di sini – terlepas dari perjuangannya yang menghancurkan dengan COVID-19, negara ini tetap menjadi salah satu tempat paling populer untuk dikunjungi setelah dikurung dari wisatawan dari semua negara.

Daftar 50 destinasi di bawah  ini adalah tujuan yang akan melihat permintaan paling banyak dari wisatawan internasional pada tahun 2020-21  Mungkin perlu waktu sebelum mimpi perjalanan ini menjadi kenyataan, tetapi semua tempat ini patut ditunggu.  Bersabarlah, dan tetap aman.

Dari urutan Bali, Indonesia jadi urutan ke 30 destinasi yang ingin cepat dikunjungi lagi. Sementara untuk negara-negara di Asia Tenggara maka Palawan, Philipina masuk urutan ke 5, Koh Tao di Thailand di urutan ke 6, Hoi An , Vietnam masuk urutan ke 21 dan Chiang Mai Thailand di urutan ke 22.

Untuk Bali disebutkan Indonesia adalah negara Asia Tenggara yang terdiri dari ribuan pulau vulkanik, seperti pulau Bali yang indah.  Anda akan menemukan pantai, gunung berapi, komodo, dan hutan lindung, gajah, orangutan, dan harimau. Pada dasarnya, ini adalah surga.  Kemungkinan Anda telah melihat gambar Bali di media sosial setidaknya sekali dalam tujuh hari terakhir.

Daftar destinasi yang diinginkan wisman di urutan 50. Cinque Terre, Italy. 49. Buenos Aires, Argentina, 48 Maldives. 47. Barbados, Caribbean, 46. Los Angeles, California, USA, 45. Machu Picchu, Peru, 44. Nice, France, 43.Bridgetown, Barbados, 42 Petra, Jordan, 41. Berlin, Jerman, 40 Bergen, Norwegia, 39. Waikato, New Zealand, 38 Prince of Wales Island, Alaska, USA, 37 Culebra, Puerto Rico.

Selanjutnya di posisi 36. Cape Town, South Africa,  35. Key West, Florida, USA. 34 Dubai, UAE, 33. Gozo, Malta, 32. St. Barts, Caribbean, 31. Laucala Island, Fiji, 30. Bali, Indonesia, 29 Yosemite National Park, California, USA, 28. Ibiza, Spain, 27. Dubrovnik, Croatia, 26.. Glacier National Park, Montana, USA. 25.San Jose, Costa Rica.

Sementara itu di urutan 24. Melbourne, Australia, 23. New York, USA, 22. Chiang Mai, Thailand. 21.Hoi An, Vietnam, 20.Kruger National Park, South Africa, 19. Istanbul, Turkey, 18. Tuscany, Italy. 17, Bora Bora, French Polynesia.  Di urutan 16 Guadeloupe, Caribbean, 15 Esperance, Australia, 14.The Aran Islands, Ireland, 13 Menorca, Spanyol, 12.Isle of Skye, UK, 11. Banff National Park Alberta Canada dan posisi 10. Iceland.

Daftar ke 9 adalah  Hawaii, USA, 7 Yellowstone National Park, Wyoming, USA, 6.Koh Tao, Thailand, 5.Palawan, Philippines, 4. The Algarve, Portugal, 3. Positano, Amalfi Coast, Italy, 2. South Island, New Zealand.

Adapun tempat yang paling ingin dikunjungi untuk bepergian setelah dikunci?  Santorini!  Perjalanan ke Yunani tidak lengkap tanpa Santorini – pulau paling terkenal dan sering dibicarakan (untuk alasan yang baik) dari mereka semua. 

Sebuah ledakan vulkanik menciptakan tebing yang menakjubkan di Santorini, yang sekarang menampilkan dua kota berbatu yang indah – Oia dan Fira.

 

Baparekraf Gelar Developer Day 2020 (BDD) Secara Daring 18-19 Juli 2020

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak talenta digital kreatif di Indonesia untuk bergabung dalam event Baparekraf Developer Day (BDD) yang digelar secara daring pada 18-19 Juli 2020.

Plt Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk kreatif, Josua Simanjuntak menjelaskan, BDD merupakan event yang mempertemukan para expert di industri digital kreatif dengan para developer dalam sebuah sesi inspirasi dan transfer knowledge dari para praktisi andal yang telah sukses di bidangnya.

“BDD kali ini digelar dalam format online tapi experience akan tetap sama. Inspirasi dan transfer knowledge dari developer andal yang telah sukses sangat dibutuhkan oleh para peserta untuk mengembangkan karyanya, kata Joshua Simanjuntak.

Tujuannya sebagai upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas para talenta digital kreatif khususnya di bidang pengembang aplikasi, game, web, dan teknologi digital yang ada di Tanah Air.

BDD merupakan bagian dari dua strategi besar pengembangan ekonomi kreatif Indonesia yaitu transformasi digital dan kewirausahaan (enterpreneurship). Josua juga menjelaskan, BDD hadir dalam tiga program, yakni event online, fasilitasi belajar, dan kompetisi.

Untuk Event online akan diberikan gratis pada 18 dan 19 Juli 2020. Nantinya peserta akan mendapat paparan dan dapat bertanya langsung terkait 4 topik yang sangat dibutuhkan industri saat ini seperti Technology Track, Android Track, Game Track; dan Web Track. Keempatnya berlangsung dari pukul 08.00-17.00 WIB selama dua hari.

“Dari rangkaian BDD sebelumnya banyak lahir local heroes yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di daerahnya.Harapannya BDD kali ini akan muncul bibit-bibit baru yang berpotensi serta memberikan solusi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Muhammad Neil El Himam menjelaskan terdapat dua pilihan track yang tersedia yakni Pengembangan Front End Web atau Pengembangan Aplikasi Android. Baparekraf akan memberikan fasilitasi sertifikasi google expert sebanyak 1.250 kepada para peserta yang berhasil lulus dalam kelas prasyarat

“Terakhir kompetisi atau Challenge di mana para peserta ditantang untuk berlomba menghasilkan solusi digital terbaik guna memecahkan persoalan sehari-hari. Challange merupakan rangkaian terakhir program BDD yang akan terbuka dari tanggal 1 September hingga 1 Desember 2020,” katanya.

Bagi para talenta digital kreatif yang ingin mengikuti event Baparekraf Developer Online bisa mengunjungihttps://www.dicoding.com/events/3221 Untuk mengikuti fasilitasi (Pengembang Aplikasi mobile dan Pengembang Aplikasi Web) para talenta digital kreatif bisa langsung mendaftar di https://bdd.kemenparekraf.go.id/registration.

 

Sapta Pesona Versus CHSE

this formate

Penulis ( kedua kiri) bersama anggota Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Ki Amuk, Banten, dalam Program pemberdayaan masyarakat untuk menguatkan Program Sapta Pesona Kemenparekraf. ( Foto: HAS) 

JAKARTA: ” Pakkkkk….di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah tidak ada divisi Pemberdayaan Masyarakat lagikah?. Ganti Menteri ganti kebijakan ya ? Sapta Pesona kok hilang sekarang hafalan pejabatnya cuma Cleanliness, Health, Safety ( CHS) melulu, ” kata saya ‘nyerocos‘ diujung telpon dengan seorang pejabat Kementrian Pariwisata dan Ekonomi  Kreatif.

Kalau rakyat desa wisata  tahunya CHS sekarang adalah Sapta Pesona. Sekarang ditambah embel-embel Environmental Sustainability menjadi CHSE yang tertuang dalam buku panduan protokol kesehatan, turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020.

Jadi CHSE itu bagi mereka adalah pilar-pilar Sapta Pesona. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia nomor 14 tahun 2016, tentang Kriteria Destinasi Pariwisata Berkelanjutan adalah menerapkan Sapta Pesona,  bersedia untuk mewujudkan unsur-unsur : Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.

Maklum sepuluh tahun terakhir sejak 2009 hingga 2019 saya banyak berinteraksi dengan warga desa wisata di Tanah Air dan menjadi juri Lomba Foto Sadar Wisata, Lomba Toilet Bersih Bandara Internasional, Lomba Kelompok Sadar Wisata, Lomba Hometay dan terakhir jadi juri Lomba Desa Wisata 2019 yang diselenggarakan secara nasional oleh Kementrian Pariwisata yang sekarang menjadi Kemenparekraf.

Sekarang dengan status sebagai Ketua Departemen Pariwisata Persatuan wartawan Indonesia ( PWI ) Pusat, program kerja saya juga membentuk, membina desa wisata yang jaraknya hanya satu jam dari bandara ataupun pusat kota Kabupaten/ Provinsi.

Kalau desa wisata jarak tempuhnya dekat ke bandara atau ke ibukota kabupaten maupun provinsi, mudah bagi wisatawan untuk datang menikmati kuliner, suvenir, keseharian warga desa termasuk berfoto dengan baju daerah layaknya ke Volendam,  Belanda untuk berfoto dengan kostum tradisional negri kincir angin itu.

Membaca pemberitaan di media massa ketika Kemenparekraf  mensosialisasikan CHSE, wajar warga desa terutama teman-teman pengurus desa wisata di berbagai daerah di tanah air menjadi bertanya-tanya mengapa tidak melanjutkan program pemberdayaan masyarakat lewat Sapta Pesona ?

Pariwisata yang “ramah” dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya disepakati sebagai pariwisata berbasis komunitas atau yang tidak merugikan masyarakat sekitar, lingkungan, dan budaya lokal masyarakat, penyebutan ini lebih dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT).

CBT  mengutamakan masyarakat lokal sekitar destinasi wisata menjadi subjek sekaligus objek dalam managemen pariwisata. Peran masyarakat dalam konsep CBT ini sangat penting bagi keberlangsungan pariwisata.

Peran masyarakat adalah sebagai pelaku, penerima manfaat, serta sebagai pembuat kebijakan. Selain itu, dalam Community Based Tourism (CBT) mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada bidang ekonomi, dengan cara tenaga menciptakan lapangan pekerjaan di destinasi wisata yang berbasis CBT.

“Menurut saya pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata (CBT) dengan Sapta Pesona itu adalah hasil nyata sebagai usaha menyadarkan masyarakat dan mengembalikan jati diri bangsa,” ujar Arfah, Sekretaris Pokdarwis Ki Amuk, Banten.

Penerapan Sapta Pesona dan mandirinya masyarakat secara tidak langsung melestarikan budaya mereka. Hal ini tidak semudah membalik telapak tangan, ada proses panjang dalam pembinaan.

” Pilar-pilar Sapta Pesona itu adalah membangun kepercayaan, kemampuan dan kebanggaan sehingga dapat mengembalikan jati diri bangsa dalam kehidupan masyarakat,” tambahnya..

Di lapangan, kata Arfah, peran Pokdarwis adalah merubah mindset masyarakat dari kebiasaan buruk misalnya membuang sampah sembarangan, menjadikan lingkungan yang bersih dan malah sampahnya diolah hingga memiliki nilai ekonomi tinggi seperti yang dilakukannya dalam mengolah sampah plastik menjadi tas unik dan cantik.

“Kebersihan itu pilar Sapta Pesona dan sekarang jadi CHSE. Harus ada sosialisasi ditingkat desa-desa lagi karena tujuannya juga untuk pariwisata yang berkelanjutan,” kata Arfah.

Dia mengaku sangat kecewa jika program pembinaan masyarakat terutama program-program CBT yang telah dilakukan oleh para Menteri Pariwisata pendahulu kemudian hilang tak terdengar lagi program bahkan pembinaannya atas nama pandemi global COVID-19.

Jika masing-masing kementrian dan menterinya yang menjabat per periode punya program sendiri,  maka sebaik apa pun programnya jika program selalu berganti, seterusnya tidak akan terwujud keberhasilan. Malah membuat bingung masyarakat. Andai program dari masing-masing  kementrian dapat bersinergi, dikerjakan bersama., kesepakatan bersama insyaAllah apa pun programnya akan berhasil, kata Arfah.

Nun dari Bontang, Kalimantan Timur, seorang ibu rumah tangga, Halima Jannah yang juga ketua Pokdarwis Kuala Abadi, mengaku bingung dengan istilah CHSE dan belum ada penjelasan yang sampai ke tingkat desa

” Kami di Pokdarwis Bontang Kuala ini  berharap pemberdayaan masyarakat jangan berhenti. Nama program berganti silahkan yang penting adalah penerapannya dilapangan,” tegasnya.

Di kelompoknya dengan 30 kader anghota yang aktif terjun dimasyarakat, gaung Sapta Pesona tidak pernah padam karena sangat dibutuhkan dalam pengelolaan pariwisata.

“Sapta Pesona itu hasil yang nyata, tolong kembalikan dan aktifkan kembali program pemberdayaan masyakarat untuk lebih memahami CHSE. Jangan diabaikan oleh Pemerintah Pusat,” tandas Halima Jannah singkat.

Seorang teman yang sudah menikmati masa pensiun di Menado, Yabes Tosia juga masih ingat perjuangan para pimpinan dan rekan kerjanya di Kementrian Pariwisata dalam sosialisasi Sapta Pesona dan membina CBT di lingkungan kelompok Sadar Wisata di desa-desa wisata hingga ke pelosok tanah air.

“Pada prinsipnya Program Kampanye Sadar Wisata dan Sapta Pesona adalah upaya mengkondisikan masyarakat untuk berperan serta dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat diajak untuk menciptakan suasana  yang kondusif bagi bertumbuh kembangnya kegiatan kepariwisataan di destinasi pariwisata,” ujar Yabes Tosia.

Di era New Normal seperti ini Sapta Pesona yang bertransformasi menjadi CHSE harus segera disosialikasikan karena yang  perlu  ditumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan destinasi pariwisata yg AMAN bagi wistawan.

Masyarakat kini juga dituntut untuk  menjaga  ke TERTIB an sehingga nampak lingkungan yg tertata rapi; menjaga kebesihan supaya terhindar dari berbagai penyakit. Banyak destinasi wisata sudah dibuka, penerapan jaga jarak, tetap pakai masker harus tertib dilaksanakan.

Pasca COVID-19, wisatawan domestik di dorong berwisata. Pokdarwis dan pengelola destinasi harus menciptakan lingkungan yang sehat; menciptakan ke SEJUK an, menata tanaman penghijauan; menciptakan suasana lingkungan yg nampak INDAH di destinasi sehingga wisatawan merasa betah.

Yabes juga mengingatkan untuk bersikap RAMAH kepada wisatawan sangat penting dan akhirnya suasana yang kondusif dengan pengalaman unik dan mengesankan akan menimbulkan KENANGAN bagi wisatawan.

” Tujuh pilar Sapta Pesona bila di analogikan adalah “roh/ruh” pariwisata  yang memberi kehidupan bagi pertumbuhan dan pengembangan pariwisata. Dapat dibayangkan bagimana pariwisata di suatu daerah bisa maju walaupun daya tariknya sangat unik dan mempesona kalau tidak menerapkan ke 7 unsur Sapta Pesona itu. Tentunya “jauh panggang dari api”, ungkap Yabes.

Sesungguhnya, kata Yabes,  secara substansi  pembinaan tekhnis masyarakat sadar wisata berada pada domain Parekraf. Wilayahnya berada pada Kemendes. Kedua lnstansi dapat bersinergi dengan baik dalam hal memajukan desa-desa yang sangat potensial untuk pengembangan desa wisata dimana di dalamnya diterapkan unsur Sapta Pesona itu.

Mantan pejabat yang terlibat dalam bidang pemberdayaan masyarakat selama 10 tahun ini mengingatkan agar divisi pemberdayaan masyarakat di Kemenparekraf segera action dan bersinergi dengan kementrian lainnya. 

“Sesuai arahan Presiden Jokowi, pengembangan pariwisata prioritas digenjot 3 A, akses, atraksi, Amenitas jadi Kementrian terkait harus mampu mewujudkan dan semua paham intinya Sapta Pesona,” kata Yabes Tosia yang kini menjadi pengamat pariwisata dan aktif di organisasi keagamaan.

Dari Kemenparekraf, rekan saya pejabat eselon dua yang berada diujung telpon dengan sabar mengatakan bahwa memang atas nama pandemi global COVID-19 yang melanda 216 negara maka nama CHSE yang dipakai.

“Agar organisasi dan masyarakat dunia paham dengan apa yang dikerjakan kementrian ini makanya nama Sapta Pesona bertransformasi jadi bahasa Inggris yang mendunia (CHSE). Sabar ya Hilda, nanti saya ingatkan teman-teman jangan melupakan pilar-pilar Sapta Pesona dan pentingnya divisi pemberdayaan masyarakat dalam membangun pariwisata Indonesia,” tutupnya.

60% Frequent Flyers Akan Terbang 6  Bulan ke Depan Meskipun Ada Ancaman COVID

this formate

Survei Frequent Flyer Xenophon Analytics 2020  libatkan 3.000 anggota program loyalitas dari maskapai penerbangan utama AS. ( Foto: mba Aviation)

WASHINGTON, bisniswisata.co.id:   Enam puluh persen dari frequent flyers berencana untuk kembali mengudara dalam enam bulan ke depan. Demikian survei baru oleh Xenophon Analytics di Washington, DC.

Mengutip laporan  dari TravelDailyNews, Survei ini dilakukan dengan menggunakan Frequent Flyer Database perusahaan, yang terdiri dari lebih dari 200.000 keikutsertaan  frequent flyer dari seluruh Amerika Serikat. 

Sebelum pandemi, 73% responden melakukan lebih dari tiga perjalanan setahun dan 38% terbang enam kali atau lebih dan  84% dari frequent flyer belum terbang sejak krisis COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi dan darurat kesehatan pada pertengahan Maret.

“Sejumlah besar penumpang udara siap untuk mulai terbang lagi, yang merupakan kabar baik bagi industri penerbangan,” kata David Fuscus,Presiden Strategi Xenophon.  

Menurut dia, selama empat bulan terakhir, penerbangan global telah dihancurkan oleh pandemi COVID-19 dengan lebih pengurangan pekerjaan, pesawat terbang terpaksa didaratkan, pesanan pesawat yang tangguhkan  atau dibatalkan.

 Dari sekian banyak orang yang merencanakan perjalanan dalam enam bulan ke depan, 63% merencanakan perjalanan pribadi sedangkan 10% bepergian untuk bisnis dan 27% akan bepergian untuk keduanya.

Dari mereka yang bepergian untuk leisure bersenang-senang, dua pertiga akan mengambil liburan dan sepertiga akan menghadiri acara seperti wisuda, pernikahan atau peringatan.

 “Jelas dari data, bahwa setelah berbulan-bulan karantina dan gerakan terbatas, orang mengalami demam kabin dan ingin berlibur. Tapi perjalanan bisnis akan menjadi anemia, mungkin karena pembatasan perjalanan,  kerja yang berkelanjutan dan meluasnya penggunaan konferensi video dan teknologi kerja jarak jauh lainnya.” lanjut Fuscus.  

Namun, lonjakan yang diantisipasi dalam penerbangan mendatang dengan harapan tinggi dari penumpang dan hampir semua responden peduli peringkat jarak sosial, masker wajah untuk kru dan penumpang.

Ketersediaan pembersih tangan, prosedur disinfeksi pesawat yang baik, dan peningkatan penggunaan teknologi tanpa sentuhan, seperti  pengenalan wajah adalah  sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan diri mereka.

“Tetapi mereka juga menginginkan peningkatan teknologi tanpa kontak di check-in dan jalur keamanan bandara untuk membantu mencegah penyebaran virus.” kata Fuscus

 Delapan puluh enam persen frequent flyer menilai teknologi tanpa kontak sebagai hal penting dalam membantu mencegah penyebaran COVID-19 dan sebagian besar ingin melihatnya pada saat check-in dan penurunan bagasi, pemeriksaan keamanan, dan naik pesawat. 

Enam puluh delapan persen berpikir bahwa pandemi akan mengurangi kekhawatiran privasi tentang teknologi biometrik, seperti pengenalan wajah, dan membuat integrasi teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari lebih dapat diterima.

Survei Frequent Flyer Xenophon Analytics 2020 yang disurvei lebih dari 3.000 frequent flyer yang merupakan anggota program loyalitas dari maskapai penerbangan utama AS termasuk Delta, United, Southwest, American, JetBlue, Alaska, dan lainnya.  Survei dilakukan dari 28 Mei hingga 18 Juni 2020, dan memiliki margin kesalahan +/- 2%.

 

  

Kemitraan Booking.com dan HERE Mobility Permudah Transportasi Bandara di AS & Eropa

this formate

Aplikasi Booking.com bisa akses transportasi untyk dari dan ke bandara di 70 kota di seluruh AS dan  Eropa.( Foto: Unsplash.com/Mika Brandt)

AMSTERDAM, bisniswisata.co.id:  Booking.com dan HERE Mobility, pasar mobilitas global yang netral dan terbuka, mengumumkan kemitraan strategis baru, yang memberikan para pelancong menggunakan aplikasi Booking.com dan akses platform ke 1,3 juta kendaraan tambahan di 70 kota di 70 kota di seluruh AS dan  Eropa.

Hal ini merupakan bagian dari komitmen Booking.com untuk memanfaatkan teknologi terbaru agar wisatawan dapat memesan berbagai solusi transportasi selama perjalanan mereka. Mulai bulan Juli 2020 ini kemitraan dengan HERE Mobility akan secara signifikan meningkatkan luasnya pilihan dalam taksi bandara Booking.com saat ini. 

Di kutip dari TravelDailyNews, pelayanan yang terus berkembang selama tiga tahun terakhir dan kini saatnya para pelanggan dapat mengatur tumpangan ke dan / atau dari bandara melalui aplikasi di lebih dari 800 kota di seluruh dunia.

HERE Marketplace mobilitas pintar yang netral dan terbuka untuk mengumpulkan semua opsi transportasi, termasuk taksi dan  mobil sewaan privat. Perusahaan menghubungkan pasokan transportasi real-time dengan permintaan pengendara, mendorong efisiensi dan demokratisasi dalam ekosistem industri. 

Memanfaatkan tekhnologi dan inovasi terbaru, pasar HERE Mobility mendukung pemasok mobilitas dan membantu mereka bersaing di era perebutan kendaraan yang cepat.  Ketika preferensi konsumen berubah, HERE Mobility juga memungkinkan mitra pemasok untuk menawarkan opsi transportasi yang lebih berkelanjutan.

Berkomitmen untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, HERE Mobility adalah pemimpin industri dalam memeriksa dan menyetujui armada dan pengemudi, memastikan layanan yang aman dan berkualitas tinggi.  Pelacakan driver langsung menambahkan lapisan keamanan tambahan ke sistem registrasi yang sudah kuat dan menyeluruh.

David Adamczyk, Managing Director Rides dalam Divisi Transport Booking.com, mengatakan, “Tujuan utama kami adalah membuat pelanggan menggunakan transportasi semudah mungkin dan tanpa gesekan. Apakah mengiinginkan kemajuan bepergian dalam perjalanan di mana pun Anda berada di dunia ini ?

Ketika para pelancong mulai bermimpi tentang melakukan perjalanan lagi, dan mengingat lingkungan pandemi global saat ini, kita tahu bahwa banyak orang akan memilih untuk naik taksi atau layanan mobil daripada naik angkutan umum. 

” Dengan terus membangun penawaran kami, tujuanya adalah untuk memberikan layanan yang berguna dan tepat waktu bagi para pelancong yang akan terus relevan dalam jangka panjang karena jangkauan layanan transportasi kami terus berkembang, sangat menyenangkan bekerja dengan HERE Mobility,”  kata David Adamczyk.

Menurut dia, HERE  memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menghubungkan platform yang dimilikinya ke armada di seluruh dunia dengan cepat dan efisien, memungkinkan pihaknya untuk meningkatkan wahana secara signifikan dengan menawarkan dan melayani lebih banyak pelanggan Booking.com di seluruh dunia. 

 “Kami sangat senang dapat bermitra dengan pemain terkenal di ruang perjalanan untuk memberikan solusi ujung ke ujung yang halus bagi semua pengguna di seluruh dunia melalui Marketplace kami,” kata Liad Itzhak, Kepala HERE Mobility.  

Mobilitas sebagai Layanan kini lebih penting daripada sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat bepergian ke luar negeri, karena orang berusaha untuk berpindah dari rumah ke rumah dengan aman dan efisien. ” Bersama-sama, kami memastikan para pelancong menerima pengalaman yang mulus dan aman.” kata Liad Itzhak

Dengan memanfaatkan skala dan pengalamannya yang unik, Booking.com bermitra dengan pemasok transportasi global, baik secara langsung maupun melalui penyedia platform, untuk memberikan para pelancong akses intuitif ke opsi transportasi relevan yang dipersonalisasikan sesuai yang mereka cari.  

Kini para pelancong dapat mengambil mobil sewaan di lebih dari 160 negara, menikmati perjalanan di 8 pasar Asia Tenggara  dan, melalui uji coba yang berkelanjutan, membeli dan menggunakan tiket angkutan umum di 26 kota di seluruh Eropa, Asia, Oseania, dan Utara serta  Amerika Selatan semua melalui aplikasi Booking.com mereka.

Ambisi menyeluruh Booking.com adalah untuk menghubungkan perjalanan: memberi wisatawan satu platform yang dapat mereka gunakan untuk memesan, membayar dan mengelola setiap elemen dari setiap perjalanan, dari akomodasi dan transportasi hingga pengalaman dan atraksi.

 

 

 

Destinasi Internasional Mana yang Dibuka Kembali Untuk Wisatawan ?

this formate

Turki sudah menerima wisman sejak Juni lalu ( Foto: Burak Kara/GettyImages) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meskipun banyak pemerintah masih menyarankan agar perjalanan internasional “tidak penting”, sejumlah tujuan populer mulai mengurangi langkah-langkah kuncian COVID-19 dan mencabut  pembatasan perbatasan mereka untuk menyambut wisatawan kembali.

 Pada 1 Juli lalu, Uni Eropa mengumumkan membuka kembali perbatasan luarnya ke 15 negara di luar blok dalam upaya untuk meningkatkan industri perjalanannya. Aljazair, Australia, Kanada, Georgia, Jepang, Montenegro, Maroko, Selandia Baru, Rwanda, Serbia, Korea Selatan, Thailand, Tunisia dan Uruguay semuanya termasuk dalam daftar negara – negara yang warganya  bisa saling berkunjung bersama dengan China, asalkan setuju untuk mencabut pembatasan pada warga negara Uni Eropa.

Namun, Amerika Serikat, yang sekarang memiliki jumlah tertinggi infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi di dunia, menurut Pusat Sumber Daya Coronavirus Universitas Johns Hopkins, tidak dimasukkan.

Gelembung perjalanan atau travel bubble juga menjadi lebih populer, dengan orang-orang seperti Fiji, Australia dan Selandia Baru, mempertimbangkan untuk mengikuti jejak negara-negara Baltik Estonia, Latvia dan Lithuania, yang telah mencabut pembatasan untuk warga negara masing-masing.

Sementara itu Inggris telah membentuk “koridor perjalanan” itu dengan 59 negara yang berbeda, sementara tujuan populer seperti Dubai dan Jamaika telah membuka pintu mereka untuk pengunjung asing lagi.

Jika Anda salah satu dari banyak wisatawan yang menunggu berita tentang di mana Anda dapat melakukan perjalanan ke tahun ini, berikut adalah panduan ke tujuan utama yang membuat rencana untuk dibuka kembali, kami pilihkan destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan Indonesia  seperti Thailand, Bali, Mesir, Turki, Paris.

Daftar di atas di luar negara-negara lain yang diuraikan CNN Travel. seperti Aruba, Barbados, Bermuda, Kroasia, Siprus, Georgia, Jerman, Yunani, Hungaria, Iceland, Itali, Janaica, Inggris, Maladewa, Malta, Mexico, Portugal, Spanyol, St Lucia dan UAE. Uraiannya berikut ini; 

Thailand berencana untuk membuka kembali berbagai kawasan secara bertahap hingga akhir 2020. Yuthasak Supasorn, gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengatakan kepada CNN Travel.

Thailand telah lama menjadi tujuan utama bagi para pelancong, menerima hampir 40 juta wisatawan asing tahun lalu. Namun, pengunjung telah dilarang masuk sejak Maret karena pandemi.

Sementara jumlah kasus di sini relatif rendah dibandingkan dengan tujuan-tujuan lain – Thailand telah melaporkan lebih dari 3.000 kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 50 kematian – para pejabat tidak mengambil risiko ketika datang untuk membuka kembali negara itu.

 “Ini masih tergantung pada situasi wabah, tapi saya pikir paling awal kita mungkin melihat kembalinya wisatawan dapat menjadi kuartal keempat tahun ini,”  kata Yuthasak Supasorn. Dia menekankan ada batasan pada siapa yang dapat mengunjungi negara gajah purih itu dan daerah mana mereka dapat pergi setelah pembatasan dilonggarkan.

 “Kami tidak akan membuka sekaligus dan masih dalam siaga tinggi,harus melihat negara asal para pelancong untuk melihat apakah situasi mereka benar-benar membaik.”

Ini secara efektif berarti Thailand tidak mungkin membuka perbatasannya untuk pelancong dari tujuan yang tampaknya tidak mengendalikan situasi coronavirus. Mereka yang diberi izin untuk masuk dapat ditawarkan “paket jangka panjang” di daerah-daerah terpencil “di mana pemantauan kesehatan dapat dengan mudah dikendalikan,” seperti pulau-pulau terpencil Koh Pha Ngan dan Koh Samui.

 Pada 1 Juli, larangan penerbangan internasional dicabut oleh Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) asalkan persyaratan tertentu dipenuhi. Pelancong bisnis dan mereka yang mencari perawatan medis di Thailand adalah di antara mereka yang sekarang diizinkan untuk memasuki negara itu.

Kurangnya wisatawan asing berarti bahwa jumlah pengunjung akan turun menjadi 14 hingga 16 juta tahun ini, menurut TAT. Tetapi seperti banyak tujuan global lainnya, Thailand telah berfokus pada pariwisata domestik.Bahkan, beberapa resor dan hotel telah diberikan izin untuk membuka kembali – Hua Hin, yang terletak sekitar 200 kilometer (124 mil) selatan Bangkok, menjadi salah satunya.

Thailand akan buka bertahap untuk wisman pada akhir tahun 2020 ini. ( Foto: Jack Taylor/ AFP via Getty Images).

Bali,  Setidaknya 6,3 juta orang wisman mengunjungi Bali pada tahun 2019. Destinasi wisara utama RI ini  relatif berhasil menahan wabah coronavirus, dengan kurang dari 1.500 kasus yang dikonfirmasi dan, pada saat penulisan, total 11 kematian.

 Pulau Dewata sekarang berharap untuk menyambut wisatawan kembali pada bulan Oktober, asalkan tingkat infeksi tetap rendah. Menurut pernyataan Ni Wayan Giri Adnyani, sekretaris kementerian, Yogyakarta, yang terletak di pulau Jawa, kemungkinan akan dibuka kembali terlebih dahulu, bersama dengan provinsi Kepulauan Riau.

 Ekonomi Bali sangat tergantung pada pariwisata dan jumlah pengunjung telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan sekitar 6,3 juta orang berkunjung pada 2019.

“Coronavirus telah meruntuhkan ekonomi Bali … itu merupakan penurunan tajam sejak [pertengahan Maret] ketika langkah-langkah sosial menjauhkan,” Mangku Nyoman Kandia, seorang pemandu wisata Bali, mengatakan kepada ABC News pada bulan April.  “Tidak ada turis, tidak ada uang.” tambahnya.

Semua warga negara asing, kecuali diplomat, penduduk tetap dan pekerja kemanusiaan, saat ini dilarang masuk ke Indonesia, dan siapa pun yang memasuki pulau itu harus menjalani tes Swab dan memberikan surat yang menyatakan bahwa mereka bebas dari COVID-19.

Tidak jelas apa persyaratan masuk jika pembatasan dicabut akhir tahun ini, atau apakah Bali akan menerima wisatawan dari daerah yang terkena dampak pandemi.Namun, pejabat pariwisata telah menyerukan “gelembung perjalanan” untuk diterapkan antara Bali dan Australia.

Mesir, Penerbangan internasional sudah dimulai ke Mesir awal Juli lalu.  Sektor turisme menghasilkan sekitar US$ 1 miliar pendapatan untuk Mesir setiap bulan, sehingga dampak dari pembatasan perjalanan yang disebabkan oleh pandemi ini sangat signifikan.

Pemerintah menghentikan sementara penerbangan penumpang pada bulan Maret, sementara semua hotel, restoran dan kafe ditutup dan jam malam diberlakukan. Langkah-langkah ini saat ini hotel-hotel sedsng memenuhi persyaratan tertentu, seperti memiliki klinik dengan dokter residen di lokasi, diberikan izin untuk dibuka kembali untuk pengunjung domestik dengan kapasitas yang dikurangi.

Jam malam sempat berlaku antara jam 8 malam hingga jam 5 pagi dan dicabut pada tanggal 27 Juni 2020. Pemerintah telah mengenakan masker wajib di tempat-tempat umum dan transportasi umum.

 Wisatawan asing diizinkan di resor yang paling tidak terpengaruh oleh COVID -19. “Kita harus bersiap,” kata juru bicara kabinet Nader Saad saat wawancara televisi bulan lalu.

Turki menerima pengunjung internasional mulai pertengahan Juni lalu.Negara ini menghasilkan lebih dari US$ 34,5 miliar dari pariwisata pada tahun 2019, dan negara lintas benua itu ingin sekali berbisnis. Wisatawan Indonesia sebelum COVID-19 banyak yang mampir Turki sebelum atau setelah melaksanakan ibadah Umroh.

Seperti banyak negara lain, tujuan populer memilih untuk memulai kembali pariwisata domestik sebelum mulai menyambut pengunjung asing. Rute penerbangan internasional ke dan dari Turki secara bertahap mulai lagi sepanjang Juni, dengan Inggris, Jerman, Austria, Kroasia, Hong Kong, dan Swiss di antara 40 negara yang kini menerima wisatawan dari Turki.

Sementara wisatawan tidak diharuskan untuk menjalani tes COVID-19 sebelum perjalanan mereka, semua pengunjung akan menerima evaluasi medis, termasuk pemeriksaan suhu, pada saat kedatangan.

 “Ketika pengunjung asing datang, mereka akan diperiksa kesehatannya, dan suhu tubuh akan diukur. Jika ada kecurigaan, wisatawan akan dibawa untuk tes PCR. Pengukuran ini akan dimulai di bandara Antalya, Bodrum, Dalaman, Izmir, Istanbul, provinsi negara itu dengan daya tarik wisata paling banyak,” kata Mehmet Nuri Ersoy, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Negara ini juga telah menetapkan pedoman baru untuk fasilitas hotel dan resornya, seperti pemeriksaan suhu di pintu masuk dan setidaknya 12 jam ventilasi kamar setelah checkout.  Para tamu akan diminta untuk memakai masker wajah dan menjaga jarak sosial.

“Semakin transparan dan terperinci informasi yang kami berikan, semakin kami akan mendapatkan kepercayaan dari para wisatawan,” kata Ersoy ketika mengungkapkan rencana untuk membuka sekitar setengah dari hotel-hotel Turki tahun ini.

Sementara itu, pembatasan perjalanan antarkota telah dicabut, sementara restoran, kafe, taman, dan fasilitas olahraga sydah  diizinkan buka kembali sejak 1 Juni, bersama dengan pantai dan museum.

Grand Bazaar Istanbul, salah satu pasar terbesar di dunia, dibuka kembali untuk pertama kalinya dalam dua bulan pada 1 Juni

Perancis mendorong warganya mengambil liburan musim panas  Juli dan Agustus. Negara di Eropa inl adalah yang paling banyak dikunjungi pelancong di dunia sebelum pandemi Coronavirus. 

Hotel-hotel di negara itu akan bergantung pada pariwisata domestik setelah dibuka kembali, karena semua tanda menunjukkan bahwa wisatawan internasional tidak akan dapat masuk untuk masa mendatang.

 “Ketika tindakan penguncian melunak, wisatawan Perancis kemungkinan ingin tinggal dekat dengan rumah dalam jangka pendek. Hal Ini akan menjadi saat bagi mereka untuk menemukan kembali negara mereka sendiri dan kami akan berada di sana untuk menyambut mereka.” kata juru bicara jaringan hotel Prancis Accor kepada CNN Travel awal bulan ini

Perdana Menteri Edouard Philippe baru-baru ini mengumumkan paket stimulus $ 19,4 miliar untuk mendorong sektor pariwisata Prancis yang sedang sakit. Hotel, bar, restoran, dan kafe di negara itu diberikan izin untuk dibuka kembali  sejak 2 Juni lalu.

Sementara itu Paris diturunkan dari “zona merah” ke “zona hijau” pada pertengahan Juni dan kota itu sekarang telah dibuka kembali. Museum yang paling banyak dikunjungi di Perancis, Louvre, akan dibuka kembali pada 6 Juli.

 “Pariwisata menghadapi apa yang mungkin merupakan tantangan terburuk dalam sejarah modern,” tambah Philippe.  “Karena ini adalah salah satu permata mahkota ekonomi Perancis dan menyelamatkannya adalah prioritas nasional.”