Inggris Cabut Aturan Karantina Bagi Pelancong Asing

this formate

Inggris cabut aturan karantina bagi orang asing (foto: Financial Times)

LONDON, bisniswisata.co.id: Pemerintah Inggris melonggarkan aturan karantina bagi pelancong yang datang dari sejumlah negara tertentu, termasuk Perancis, Italia, Belgia, Jerman, dan Spanyol.

Mulai 10 Juli, kedatangan wisatawan dari 58 negara terpilih tak perlu lagi menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pelonggaran ini berlaku bagi negara-negara yang dianggap memiliki resiko penularan virus corona yang rendah. Aturan ini tidak berlaku bagi pendatang dari Amerika Serikat (AS), China, dan Portugal.

Sementara itu Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara mengeluarkan sendiri daftar negara asal turis yang bebas aturan karantina. Tercatat ada 39 negara, lebih sedikit dibanding Inggris, tapi tidak termasuk Spanyol. Bagi mereka yang melanggar aturan akan didenda.

“Apakah Anda seorang wisatawan yang bepergian ke luar negeri atau untuk urusan bisnis, ini menjadi kabar baik bagi orang Inggris dan pebisnis,” kata Menteri Transportasi Grant Shapps dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir CNN International.

Kendati demikian, Pemerintah Inggris menambahkan akan meninjau ulang pelonggaran bagi kedatangan orang asing jika di negara asal mereka terjadi peningkatan kasus corona.

“Seluruh bangsa ini telah bekerja tanpa lelah untuk mencapai tahapan ini, oleh karena itu keselamatan harus tetap menjadi perhatian utama kami. Jika tingkat infeksi kembali meningkat di negara-negara yang telah terhubung kembali, kami tak akan ragu untuk bergerak cepat demi melindungi diri.”

Aturan wajib karantina selama dua minggu, yang mulai diberlakukan pada 8 Juni, mendapat banyak kritikan terutama dari para pelaku bisnis di sektor perjalanan. Menurut mereka aturan tersebut memperlambat proses pemulihan industri yang terpuruk akibat wabah virus Corona

Paul Charles, anggota Quash Quarantine, sebuah kelompok kampanye yang melobi pemerintah untuk membatalkan tindakan itu, sebelumnya menggambarkan pedoman itu sebagai sesuatu yang bukan hanya unworkable (tidak bisa dijalankan), tetapi juga unenforceable (tidak bisa diterapkan).

“Banyak pekerjaan hilang dalam beberapa minggu terakhir karena orang belum mau liburan. Mereka takut aturan karantina. Jadi, aturan itu telah menghambat orang untuk mem-booking rencana liburan mereka di masa mendatang,” katanya kepada CNN Travel.

Meski para pelancong dari negara-negara yang disebutkan tadi tak perlu melakukan karantina mandiri, mereka tetap diwajibkan memberitahu alamat tempat tinggal selama di Inggris dan untuk berapa lama. Menurut Departemen Transportasi Inggris, itu dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan bagi warga Inggris.

Data resmi Pemerintah Inggris mencatat ada 44.600 kasus kematian di sana, termasuk salah satu angka kematian tertinggi di dunia.

 

 

Pekerja Seni Agar Aktif Bangun Kesadaran Masyarakat Jalani Protokol Kesehatan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Para selebritas atau pekerja seni di Tanah Air agar aktuf membantu menyebarluaskan dan membangun kesadaran masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi global COVID-19 yang masih berlangsung, kata Menparekraf/Ketua  ekraf Whisnutama, hari ini.

Berbicara usai mendampingi Presiden Joko Widodo bertemu sekitar 30 orang pekerja seni yang terbagi dalam dua sesi di Istana Merdeka, Jakarta, Whisnutama mengatakan masyarakat di sejumlah daerah masih kurang sadar akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara ketat di tengah pandemi COVID-19.

“Presiden berharap seniman dapat membantu menyuarakan protokol kesehatan agar lebih dapat didengar, disosialisasikan, dan dilaksanakan oleh masyarakat luas,” kata Wishnutama dalam  siaran persnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut para pekerja seni diantaranya Soleh Solihun, Raffi Ahmad, Butet Kertaradjasa, Ari Lasso, Andre Taulany, Cak Lontong, Yuni Shara, Tompi, Atta Halilintar, Desta, dan lainnya.

Menparekraf mengatakan seniman memiliki komunitas dan penggemar sehingga diharapkan sosialisasi dapat lebih masif tersampaikan dengan cara mereka masing-masing. Dalam kesempatan itu para pekerja seni juga memberi masukan tentang apa yang mereka hadapi selama pandemi.

“Dengan caranya mereka akan lebih kreatif, unik, dan fun sehingga dapat membantu menyosialisasikan protokol kesehatan dengan baik agar dapat didengar atau diperhatikan oleh masyarakat,” kata Wishnutama.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani mengatakan, bersama dengan sejumlah asosiasi penyelenggara kegiatan pihaknya tengah merumuskan Standard Operational Procedure (SOP) penyelenggaraan kegiatan.

Pembahasan tersebut membahas mulai dari apa yang harus dilakukan penyelenggara, penonton, vendors, artis sebagai subjek penyelenggara kegiatan. Pembahasan juga menyorot objek dalam penyelenggaraan kegiatan mulai dari peralatan, flow pengunjung, sistem penjualan tiket, penjualan makanan dan lainnya. Semuanya disusun berdasarkan faktor kebersihan, kesehatan, kesehatan, dan keberlangsungan lingkungan.

Diharapkan penyelenggaraan kegiatan dapat kembali berjalan, dan pekerja seni dapat kembali produktif namun tetap aman COVID-19 di era adaptasi kebiasaan baru.

“Saat ini sudah memasuki pertemuan ketiga dan kita harapkan dengan pertemuan selanjutnya akan bisa segera disepakati sehingga dapat disampaikan ke Menteri untuk menjadi protokol kesehatan di bidang penyelenggaraan event,” kata Rizki Handayani.

Namun ia menegaskan, pihaknya hanya menyusun panduan penerapan protokol, sementara untuk perizinan tetap menjadi wewenang pemerintah daerah. “Perizinan dilaksanakannya kembali berbagai kegiatan atau acara menjadi wewenang pemerintah daerah dan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 dari daerah tersebut,” kata Rizki Handayani.

 

Mau Berwisata ke Jepang ? Ikuti Perkembangan Terbarunya

this formate

Tokyo Disneyland  yang sudah beroperasi lagi awal Juli 2020 ini ( foro: Unsplash/Romeo A)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Jepang tergolong negara tujuan wisata favorit bagi wisatawan Indonesia. Selain keterikatan sejarah penjajahan, negri Sakura ini dikenal sebagai negara yang Friendly Muslim.

Bagi yang sejak awal tahun 2020 sudah merencanakan liburan ke Jepang tetap harus sabar menanti karena negara ini belum membuka diri bagi wisatawan asing.

Wabah virus Corona memiliki dampak besar pada pariwisata di Jepang. Meski pembatasan pada pariwisata domestik telah dicabut, Jepang tetap tertutup bagi wisatawan internasional, dan belum ada tanda-tanda bahwa perbatasan akan dibuka untuk sejumlah besar wisatawan dalam waktu dekat.

Meskipun virus belum menyebar di Jepang seperti tingkat ledakan yang terlihat di Eropa dan Amerika Utara, pemerintah Jepang  sudah menyatakan keadaan darurat dari 7 April hingga 25 Mei dan meminta warga untuk tinggal di rumah dan bisnis tertentu ditutup.  

Setelah berakhirnya keadaan darurat, orang-orang di seluruh negeri diminta untuk melakukan jarak sosial dan menahan diri untuk tidak mengunjungi tempat-tempat ramai dan berventilasi buruk.  Pembatasan bisnis sebagian besar telah dicabut.  Dan semua pembatasan perjalanan antar-prefektur dicabut pada 19 Juni lalu.

Mengutip japan-guide, diinformasikan bahwa di dalam kota, transportasi umum tidak terlalu terpengaruh;  namun maskapai penerbangan dan perusahaan bus jarak jauh telah banyak mengurangi layanan mereka, dan kereta wisata telah ditangguhkan. Namun kini layanan  sedang ditingkatkan lagi.  

Kereta antar kota sebagian besar telah kembali beroperasi sesuai dengan jadwal reguler mereka setelah pengurangan layanan pada bulan Mei dan awal Juni.

Jepang saat ini menolak masuk warga non-Jepang termasuk dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam  , Filipina, Korea Selatan, China, dan sebagian besar negara Eropa (termasuk Inggris), kecuali dalam keadaan khusus.

Jepang juga menangguhkan sementara pembebasan visa untuk sementara waktu, sehingga perlu bagi semua pengunjung untuk mengajukan permohonan visa sebelum melakukan perjalanan ke Jepang.

Selain itu, semua orang yang memasuki Jepang, termasuk warga negaranya sendiri harus menjalani karantina di lokasi yang ditentukan dan tidak boleh menggunakan transportasi umum selama 14 hari setelah kedatangan.

Sebaliknya ada banyak negara yang menolak masuk  orang-orang yang datang dari Jepang atau mengharuskan pelancong yang datang dari Jepang untuk menjalani karantina.

Pembukaan kembali perbatasan Jepang secara bertahap saat ini sedang dipersiapkan, mulai dari negara-negara terpapar virus Corona yang memiliki ikatan penting dengan Jepang.  

Sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, Australia, Selandia Baru, Taiwan, Korea Selatan, China, Singapura, Malaysia, Brunei, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Mongolia adalah negara-negara  yang kandidat awal akan diperbolehkan masuk.

Tapi  Entri awalnya akan terbatas pada pelancong bisnis, pakar, dan peserta pelatihan.  Pelajar dan akhirnya turis akan mengikuti di poin selanjutnya.

Sebagian besar tempat wisata di Jepang ditutup pada bulan April dan Mei;  Namun sejak akhir Mei, sebagian besar telah dibuka kembali dan hanya beberapa yang tetap ditutup. 

Sejumlah  acara dan festival telah dibatalkan atau ditunda, namun tempat-tempat wisata utama dan keadaan bisnis mereka saat ini di beberapa tujuan wisata  populer sudah dibuka kembali.

Menara Tokyo sudah dibuka kembali pada 28 Mei, Dek observasi Gedung Pemerintah Tokyo dibuka kembali 1 Juli, Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea buka lagi awal Juli lalu.

Tur berpemandu ke Istana Kekaisaran buka 2 juni lalu begitu juga Imperial East Garden, Hama Rikyu, Rikugien, Museum Terbuka Edo, Shinjuku Gyoen, Koishikawa Korakuen.

Museum Sumida Hokusai, Tokyo Skytree, Museum Nasional Tokyo, Akuarium Sumida,Museum Edo-Tokyo juga termasuk obyek wisata yang sudah buka sejak Juni.

Obyek wisata Zoorasia, Great Buddha. pelayaran wisata di Danau Ashinoko, Outlet Premium Gotemba, kereta Gantung Komagatake, Istana Kekaisaran Kyoto, World Heritage Center Dataran Tinggi Fuji Q, Istana Osaka dan Universal Studios Jepang juga sudah buka sebulan lalu.

Begitu pula Legoland, Universal Studios Jepang, Desa Bersejarah Hokkaido, Midland Square, Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, Museum Bom Atom Nagasaki, Okinawa World semua sudah dibuka kembali.

.

Kehidupan Setelah Zoom: Travel Agent Rancang Prosedur Perjalanan Bisnis yang Aman

this formate

Perjalanan bisnis segera dimulai, akhiri pertemuan via zoom (foto: hospitality net)

SYDNEY, bisniswisata.co.id: Bisnis agen perjalanan termasuk yang paling parah terdampak pandemi Covid-19. Saat sepi order seperti sekarang, perusahaan biro perjalanan bekerja sama dengan sejumlah korporasi mencari celah bagaimana kelak mengeluarkan para staf dari konferensi via Zoom untuk kembali melakukan perjalanan udara dengan aman.

Mereka meluncurkan tools baru yang memuat informasi terkini tentang keadaan di lapangan, termasuk ketentuan penggunaan masker, aturan jarak sosial dan karantina, serta informasi detil lain terkait prosedur kesehatan dan kebersihan di hotel, pesawat, serta transportasi darat. 

Kebanyakan para pelancong korporat kini mulai beralih dari langsung memesan online ke mencari advice pada para konsultan berpengalaman. Meski lambat, namun pertumbuhannya terus merangkak naik. Dalam kondisi normal, industri travel & tourism (perjalanan dan pariwisata) korporasi menyumbang US$ 1,4 triliun dari pengeluaran tahunan. 

“Saya melihat trend-nya sekarang mulai meningkat. Kita dapat melakukan pertemuan virtual lewat Zoom atau Microsoft tetapi tetap saja tak ada yang dapat mengalahkan tatap muka,” kata Jo Sully, General Manager Regional Asia-Pasifik di American Express Global Business Travel, seperti dilansir Reuters.

“Saya pikir itu menunjukkan ada pemulihan meski berlangsung secara bertahap. Orang mungkin akan berpikir ‘Haruskah saya melakukan ini via Zoom?’ tetapi yang pasti orang akan kembali melakukan perjalanan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan,” kata eksekutif yang berbasis di Sydney itu.

Perusahaannya memperkirakan keadaan akan kembali membaik setidaknya 60-70 persen pada 2021 dan mencapai ke keadaan sebelum pandemi di tahun 2022 atau 2023.

Selandia Baru yang baru saja mengakhiri aturan lockdown pada Mei, mencatat jumlah pemesanan domestik sudah kembali 50% dari tahun lalu, kata Jamie Pherous, direktur pelaksana Corporate Travel Management yang berbasis di Brisbane.

“Ada permintaan terpendam dan saya mengunjungi beberapa pelanggan (di Australia) dan mendapat umpan balik yang penting. Kata mereka: kita telah membangun keputusan penting yang tidak akan pernah bisa diselesaikan levat konferensi video.” ujar Jamie Pherous.

Sementara itu tingkat pemesanan domestik di China telah mencapai 60% dari keadaan sebelum pandemi. Permintaan di sejumlah negara di Eropa juga mulai naik seiring pelonggaran restriksi di perbatasan, kata Chris Galanty, kepala Eksekutif Global dari divisi korporat Flight Centre Travel Group Ltd yang berbasis di London.

 “Saat negara-negara mulai dapat mengendalikan krisis kesehatan dan menekan jumlah kasus COVID-19 serta penerapan kebijakan lokal yang memungkinkan dimulainya perjalanan – yaitu pencabutan aturan lockdown dan orang bisa secara fisik melakukan perjalanan – maka bisnis travel pun akan meningkat,” katanya.  

Faktor lain yang turut memperlambat pulihnya bisnis perjalanan adalah pembatalan sejumlah acara perusahaan dan pengetatan anggaran perjalanan, kata Akshay Kapoor, Direktur Senior CWT,  yang menangani pelanggan multinasional grup, Asia Pasifik.

“Jika saya ingin bepergian, perusahaan akan meminta saya melewati sejumlah tingkatan prosedur untuk mendapatkan persetujuan,” kata eksekutif yang berbasis di Singapura itu.

“Prosedur untuk mendapatkan persetujuan menjadi lebih panjang. Perusahaan-perusahaan juga mengawasi dengan ketat tujuan perjalanan. Dan jika seseorang akhirnya bisa bepergian, perusahaan pun akan terus mengawasi dengan ketat keberadaan dan keadaan mereka.”

 

Kemenparekraf Terbitkan Buku Panduan Protokol Kesehatan di Bidang Hotel dan Restoran

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menerbitkan buku panduan protokol kesehatan di bidang hotel dan restoran agar para pelaku bisa tetap produktif dan merasa aman di tengah pandemi COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, mengimbau pelaku parekraf untuk aktif dalam mencari, memahami, serta mengimplementasikan protokol kesehatan dengan taat dan disiplin.

“Perlu adanya buku panduan praktis bagi industri pariwisata dalam menyiapkan produk dan pelayanan yang bersih, sehat, aman, dan ramah lingkungan khususnya hotel dan restoran,” ujar Wishnutama, hari ini

Buku panduan protokol kesehatan ini merupakan turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Penyusunan buku panduan protokol kesehatan juga melibatkan berbagai pihak, yaitu asosiasi usaha hotel dan restoran, asosiasi profesi terkait bidang perhotelan dan restoran, serta akademisi dengan tetap mengacu pada protocol kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan arahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Buku panduan ini terdiri dari dua pokok materi, yaitu panduan umum dan panduan khusus.

Panduan umum meliputi manajemen atau tata kelola hotel dan restoran seperti memperhatikan informasi terkini serta imbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), menyediakan dan memasang imbauan tertulis, serta menerapkan protokol kesehatan dasar bagi karyawan, tamu, dan pihak lain yang beraktivitas di hotel maupun restoran seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Sedangkan, panduan khusus meliputi tiga alur pelayanan hotel dan restoran mulai dari pintu masuk hingga ruang karyawan, yaitu panduan bagi pengusaha dan pengelola terhadap fasilitas yang harus disediakan, panduan bagi tamu, serta panduan bagi karyawan.

Pelaksanaan protokol kesehatan disebutnya sangat penting untuk dilakukan dengan baik. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk mendorong pergerakan sektor parekraf, serta meningkatkan kepercayaan dan produktivitas masyarakat agar merasa aman dari COVID-19.

Buku panduan ini juga dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, serta asosiasi usaha dan profesi terkait hotel dan restoran untuk melakukan sosialisasi, edukasi, simulasi, uji coba, pendampingan, pembinaan, pemantauan dan evaluasi dalam penerapan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) demi meningkatkan keyakinan para pihak, reputasi usaha, dan destinasi pariwisata.

Dengan adanya buku panduan ini, Menparekraf Wishnutama Kusubandio berharap dapat meningkatkan pemahaman para pihak terkait usaha hotel dan restoran dalam mengimplementasikan protokol kesehatan serta dapat berkontribusi dalam membangkitkan kembali industri pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas.

Bagi para pelaku parekraf yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai buku panduan protokol kesehatan di bidang hotel dan restoran dapat mengakses link https://www.kemenparekraf.go.id/post/panduan-pelaksanaan-kebersihan-kesehatan-keselamatan-dan-kelestarian-lingkungan-untuk-sektor-parekraf.

 

Pengusaha Hotel dan Restoran Agar Bangkitkan Usaha dengan Menerapkan CHSE

this formate

 

Noviendi Makalam ( duduk tengah),  Analis Kebijakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf/ Barekraf) dorong pengusaha hotel & restoran terapkan CHSE. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kemenparekraf/Baparekraf mendorong para pengusaha hotel dan restoran bangkitkan usaha dengan  menerapkan protokol kesehatan sesuai standar Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Berbicara  dalam webinar dengan Alodokter bertajuk “Adaptasi Kebiasaan Baru yang Sehat, Aman, dan Produktif bagi para Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif”, Senin (13/7/2020) , Noviendi Makalam, Analis Kebijakan Kemenparekraf/ Baparekraf,  mengatakan penerapan protokol kesehatan punya peran penting untuk bangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Protokol ini disusun untuk mendorong upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, kesiapan destinasi dalam adaptasi kebiasaan baru dan merupakan salah satu tindakan untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata Indonesia,” ungkapnya.

Saat ini ada kecenderungan wisatawan akan mencari destinasi wisata yang aman dan bersih untuk menghindari penyebaran COVID-19. “Kita melihat profil pengunjung hotel sekarang berubah. Sehingga kalau ada hotel yang tidak mau menerapkan CHSE dia sendiri yang akan rugi karena ini adalah permintaan konsumen,” katanya.

Hal ini diamini oleh Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Rusiawan. Menurutnya, protokol kesehatan perlu diterapkan dan dipatuhi untuk meningkatkan kepercayaan dan daya tarik wisatawan untuk datang ke destinasi wisata.

“Yang penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan agar COVID-19 segera berakhir dan sektor parekraf kembali bangkit,” ungkap Wawan.

Pada Kesempatan yang sama, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, juga mengapresiasi penyusunan protokol kesehatan bagi pengelola dan pengunjung hotel dan restoran memasuki fase kebiasaan baru. Menurut Syaiful, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan sektor yang harus segera dibangkitkan kembali untuk memperbaiki perekonomian negara.

Tak hanya itu, Syaiful juga berharap Kemenparekraf/Baparekraf dapat membantu para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terkena dampak pandemi COVID-19.

“Harus ada relaksasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif selain keringanan juga perlu ada tambahan dana agar mereka bisa bangkit kembali ketika masuk era pemulihan ini,” tutur Syaiful.

Selain itu, turut hadir pula Medical Application Development Specialist Alodokter, dr. Gloria Kemala. Ia berpesan agar para pengunjung serta pekerja hotel dan restoran untuk selalu menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan seperti selalu mencuci tangan, menerapkan physical distancing dan selalu mengenakan masker.

“Jika akan keluar rumah disarankan untuk membawa masker kain lebih dari satu. Karena optimalnya 4 jam sekali masker itu harus diganti,” ucap Gloria.

 

ASTINDO Selenggarakan Virtual Travel Mart Nusantara   

this formate

Elly Hutabarat ( kiri), Ketua ASTINDO saat kegiatan  travel fair tahun 2019 lalu ( Foto: Astindo)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Untuk pertama kalinya ASTINDO menggelar ajang bisnis (B to B) secara virtual yaitu ASTINDO Virtual Travel Mart Nusantara 2020 yang dibuka oleh Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf).

Elly Hutabarat, Ketua Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia ini mengatakan, dampak COVID-19 memang sangat berat dan  para  pelaku industri pariwisata selama beberapa bulan terakhir ini bisnusbta terpuruk.

” Itu sebabnya kami menginisiasi penyelenggaraan ASTINDO Virtual Travel Mart Nusantara yang mempertemukan Seller dan Buyer dari  anggota untuk mendinamiskan bisnis para pelaku industri pariwisata dan industri pendukungnya serta mendorong para pelaku industri pariwisata agar segera menyiapkan produk wisatanya agar dapat segera dipasarkan paska pandemi Covid-19. 

Dia sangat optimis sektor pariwisata domestik akan cepat bangkit melihat sinergi antara para pelaku industri pariwisata dan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder lainnya untuk membangkitkan pariwisata domestik. 

“Kami mendukung penuh upaya dan langkah-langkah pemulihan yang dibuat oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dalam menyambut kondisi kenormalan baru di sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, utamanya terkait dengan penerapan Cleanliness, Health, and Safety (CHS) untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan,” lanjut Elly.

Sejalan dengan hal ini, pihaknya telah mensosialisasikan program CHS tersebut kepada para tour operator dan travel agent, khususnya anggota ASTINDO agar dapat diterapkan dengan baik. Dia juga optimistis gaining trust atau confidence merupakan kunci dalam percepatan pemulihan pariwisata, tambahnya.

Produk paket wisata yang ditawarkan pada Virtual Travel Mart Nusantara ini merupakan produk wisata yang sudah sesuai dengan standar protokol CHS. 

Kegiatan ini dapat mendorong pemulihan bisnis pariwisata Indonesia serta membangkitkan semangat para pelaku industri pariwisata agar tetap mendapat kesempatan membangun networking sekaligus menciptakan peluang bisnis baru. “Ke depan, kami bermaksud untuk melanjutkan kegiatan ini  dalam beberapa series selama masa pandemi ini,” tutup Elly. 

Ketua Pelaksana Anton Sumarli, menyampaikan, kegiatan diikuti oleh 14 Seller yang terdiri dari tour operator, hotel, asuransi dan 120 Buyer yang merupakan travel agent anggota ASTINDO yang tersebar dari 11 provinsi di Indonesia. 

Pada ajang perdana ini, jumlah peserta dibatasi agar dapat fokus dan untuk efisiensi waktu. Kegiatan ini merupakan satu wujud kepedulian terhadap eksistensi seluruh anggota ASTINDO ditengah situasi pandemi COVID-19  dan sekaligus memberikan dukungan kepada pemerintah pada salah satu programnya yaitu membangkitkan industri pariwisata nasional,” tutup Anton.

 

WTTC Kampanyekan Wajib Masker & Luncurkan Program #wear2care

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  World Travel & Tourism Council (WTTC) kampanyekan hashtag #wear2care dan meminta semua wisatawan untuk menggunakan masker pelindung dalam perjalanan di era normal yang baru.

” Ketika negara-negara bertransisi dari lockdown  ke pembukaan kembali perbatasan mereka, pemakaian masker wajah menandakan kembalinya perjalanan yang lebih aman,”  kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC dalam siaran persnya, hari ini.

Wisatawan di seluruh dunia didorong untuk bergabung di media sosial untuk kampanyekan tagar #wear2care yang telah diluncurkan WTTC membiasakan  penggunaan masker wajah akan mengurangi risiko penularan, melindungi sipengguna dan orang-orang di sekitar mereka.

Selain itu juga memperkenalkan kembali rasa normal karena kita harus membiasakan dirii untuk hidup bersama virus sampai vaksin ditemukan.

“Saran dari WTTC pemakaian masker sifatnya wajib karena terbukti bahwa negara-negara yang pulih lebih cepat dan menghindari lonjakan COVID-gelombang kedua adalah negara-negara di mana penggunaan masker wajah telah ditegakkan dan didorong secara luas,” tegas Gloria Guevara.

Peneliti Utama dan Rekan Penelitian di Universitas Harvard, T.H.Chan School of Public Health, mengatakan: “Mengenakan masker wajah telah terbukti memberikan tingkat perlindungan tertinggi terhadap transmisi pada 82%.  Kebersihan dan permukaan tangan yang konstan pembersihan bisa membunuh lebih dari 90% virus yang ditemukan di permukaan, juga mencegah virus mencapai wajah dari tangan.

WTTC telah meminta pemerintah di seluruh dunia untuk mewajibkan  pemakaian masker wajah dan  meminta dukungan sektor swasta untuk mengingatkan pelanggan akan kewajiban mereka melindungi kesehatan mereka dan sesama pelancong.

Rekomendasi baru WTTC adalah mengikuti pedoman baru untuk perjalanan aman & mulus termasuk pengujian dan penelusuran untuk memastikan orang dapat menikmati rasa aman bepergian dalam  era Normal Baru.

Sering mencuci tangan dan menggunakan sanitiser tangan melengkapi selalu penggunaan masker wajah  secara signifikan dapat mengurangi risiko penularan COVID-19.

“Keselamatan dan kebersihan pelancong dan mereka yang bekerja di industri travel & tourism sangat penting, itulah sebabnya kami sekarang sangat kuat merekomendasikan pemakaian masker adalah wajib ” kara Gloria Guevara

Pemakaian masker  tidak harus dipolitisasi tapi disosialisasikan agar  menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk memastikan semua orang menikmati perjalanan yang aman sampai vaksin untuk COVID-19 ditemukan.  

“Publik harus menjaga jarak dua meter kapan saja mereka bisa, namun jika itu tidak mungkin, orang harus meningkatkan ventilasi di sekitar mereka.  Di dalam gedung ini bisa dilakukan dengan membuka pintu dan jendela yang mengurangi konsentrasi virus lebih banyak dari 70%.

 “Ventilasi mekanis, seperti pendingin ruangan mengurangi 80%, saat keluar rumah terbukti lebih efektif dengan mengurangi konsentrasi virus antara 90% dan 95%. “

WTTC telah memimpin serangkaian inisiatif yang dirancang untuk membangun kembali kepercayaan dan konsumen global mendorong kembalinya Safe Travels.

Protokol Perjalanan Aman dikembangkan untuk sektor travel & tourism global yang terfokus pada langkah-langkah yang mengarahkan bisnis ke perusahaan penyewaan mobil, bandara, operator tur, objek wisata dan produk sewaan jangka pendek di antara banyak sektor perjalanan lainnya, untuk memungkinkan mereka mengikuti protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat ketika membuka kembali bisnis mereka.

Kesejahteraan pelancong dan jutaan orang yang bekerja di industri travel & tourism selain didukung oleh organisasi Pariwisata Dunia di bawah  PBB (UNWTO) juga banyak fiterapkan oleh ribuan bisnis di dunia.

Wisatawan di seluruh dunia dapat terlibat dengan kampanye WTTC dengan berbagi foto mereka dengan bangga bepergian dengan masker wajah mereka dan berbagi hashtag #wear2care.

 

 

Campervan, Pilihan Wisata di Era Pandemi COVID-19

this formate

Plesiran dengan Campervan lebih aman (foto: ABC) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Seorang kerabat yang tinggal di Perth, Australia, baru-baru ini mem-posting gambar saat mereka sekeluarga sedang plesiraran selama seminggu dengan membawa campervan atau mobil kemping.

Nampaknya piknik dengan cara seperti ini sedang menjadi tren, terutama di negara-negara yang menawarkan pemandangan outdoor menawan ditengah himbauan untuk berwisata ke alam yang jauh lebih aman.

Yang pasti, wisata alam seperti ini menurut beberapa kalangan dianggap sebagai alternatif berwisata yang lebih aman dilakukan di era pandem Covid-19. Pelancong tak perlu naik transportasi massal di darat atau pesawat.

Merekapun tak perlu mengkhawatirkan kondisi higienitas akomodasi, meski banyak hotel telah menerapkan protokol kesehatan karena semua dapat dilakukan di dalam campervan

Di Indonesia melancong dengan van masih belum menjadi pilihan, tapi di negara-negara seperti Selandia Baru, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Eropa, orang mulai melihatnya sebagai solusi untuk liburan terutama bagi tenaga medis yang berbulan-bulan bekerja dalam tekanan tinggi.

Perawat sebuah rumah sakit di Spanyol, Yone Alberich dan suaminya menyewa campervan untuk berlibur. Alasan memilih campervan, untuk menghindari kerumunan dan tidak yakin jika harus menginap di hotel.

“Idenya adalah menjauhkan diri dari orang-orang agar terhindar dari infeksi,” kata perawat 32 tahun yang memiliki balita dan tinggal di Valencia, Spanyol seperti dilansir AFP. Alberich menyebut campervan adalah pilihan terbaik untuk berlibur pada masa pandemi.

Menurut warta AFP, 90 persen warga Spanyol enggan berpergian ke luar negeri. Sementara sebesar 83 persen di antaranya memilih kendaraan pribadi jika terpaksa keluar rumah.

Fabrizio Muzzati, pemilik usaha campervan Aquiestoy Caravaning mengatakan banyak orang yang memilih campervan sebagai alternatif wisata domestik.

“Pada saat seluruh dunia sangat mencari rasa aman, ada banyak orang yang mencoba (campervan) karena kondisi  keadaan hidup fi tengah pandemi global,” kata Fabrizio.

Bisnis penyewaan campervan pun menjadi lebih ramai, kata asosiasi campervan ASEICAR. Asosiasi nirlaba itu memprediksi bahwa bisnis penyewaan mobil kemping dapat menghidupkan kembali pariwisata pada musim panas.

Banyak pilihan destinasi untuk berpetualang dengan van. Namun menurut catatan Andrew Ditton  yang telah berpengalaman tour dengan van selama 20 tahun, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat (AS) masih yang terbaik, demikian seperti dilansir Lonely Planet

Di sana jalan-jalan sudah lebar dan mulus sehingga Anda lebih percaya diri untuk mengendarai mobil van yang lumayan besar. Selain itu, di sana juga banyak pilihan lokasi berkemah. Negara-negara itu juga memiliki pemandangan outdoor yang menakjubkan.

Jika Anda cukup piawai mengendarai kendaraan besar di jalan sempit, maka Skotlandia dan Islandia yang memiliki landskap luar biasa bisa menjadi alternatif tujuan. Saat menjelajah negara ini, ingatlah selalu membawa pakain tebal karena udara dingin di sana bisa sangat brutal.

 

ASTINDO: Kemana Harus Meminta Uang Refund Tiket ?, Ikuti Alurnya.  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kegiatan bisnis mulai menggeliat, sebagian kantor sudah beroperasi termasuk Biro Perjalanan Wisata             ( BPW). Selain minat masyarakat untuk berwisata masih sepi, justru travel agent kini direpoti permintaan Refund Tiket.

” Masyarakat yang membeli tiket penerbangan dan batal berangkat minta refund tiket jangan ke travel agent atau BPW tapi minta ke airlines waktu dulu pesannya kemana ?,” ungkap Sjachrul Firdaus, Direktur Eksekutif ASTINDO, hari ini.

Menurut Firdaus, uang konsumen untuk pembelian tiket penerbangan sepenuhnya ada di perusahaan penerbangan ( airlines). Bahkan uang travel agent berupa top up juga tertahan di pihak airlines sehingga konsumen dan travel agent nasibnya sama, uang miliknya belum dikembalikan atas nama pandemi global COVID-19 ditahan oleh perusahaan penerbangan.

Sjachrul Firdaus mengatakan waktu bulan Januari-Febuari 2020 masyarakat banyak yang membeli tiket penerbangan dan paket-paket wisata di pameran-pameran maupun promo-promo menarik airlines untuk Lebaran, momen liburan sekolah dan kebutuhan wisata lainnya.

” Masyarakat banyak yang beli paket wisata dalam dan luar negri, paket umroh, voucher-voucher hotel  dan mendadak ada pandemi semua yang sudah dibeli tidak bisa dipakai,”  kata Sjachrul Firdaus.

Semua fasilitas penerbangan kemudian lumpuh, konsumen tidak dapat memanfaatkan apa yang sudah dibelinya. Ada yang bisa dijadwalkan ulang tapi uang tidak bisa kembali terutama semua tiket penerbangan itu. Dalam suatu paket wisata, biaya penerbangan sudah menguras 60% dari harga paket.

Dia lalu menjelaskan alur pembelian tiket domestik pada konsumen yang datang pada travel agent ( TA). Untuk memenuhi permintaan konsumen mendapatkan tiket maka pihak TA melakukan deposit dulu ke rekening airlines istilahnya Top Up.

Setelah dana Top Up cukup baru tiket dikeluarkan dan TA kemudian menagih pada konsumen yang memesan. Untuk tiket international, TA harus bayar maksimal seminggu setelah tiket pesanan dikeluarkan.

” Jadi semua dana tidak mengendap di TA karena kalau dalam seminggu tidak setor ke pihak penerbangan makan TA tidak akan dilayani pembelian tiket internasional yang baru,” ungkap Firdaus.

Selama ada pandemi global COVID-19 dan industri pariwisata termasuk industri penerbangan terhenti dan muncul persoalan yang diciptakan oleh penerbangan.

” Mengapa ? karena dalam zoom meeting dengan International Air Transport Association ( IATA) dimana untuk wilayah Indonesia basisnya ada di Singapura, ditetapkan bahwa tidak ada pengembalian uang konsumen dan secara sepihak diputuskan dalam bentuk voucher yang pemakaiannya bisa diurus dan dijadwal ulang”

Telah terjadi pelanggaran karena tidak ada satupun dalam klausul IATA yang mengatur refund menjadi voucher. Padahal dana beli tiket sebagian dana penuh penumpang tapi juga ada dana talangan dari TA atas nama konsumen ( pembeli).

” Jadi kalau konsumen belinya lewat Travel Agent ( TA) maka perusahaan penerbangan baik domestik maupun asing harus kembalikan dana itu ke TA untuk diteruskan pada sipembeli. Saat ini selain refund tiket domestik tidak dibayar tunai, malah dibayar dengan  sistem Top Up sehingga TA tetap tidak bisa mencairkan hak penumpang,” ungkap Firdaus.

Dia berharap pemerintah dapat memberikan solusi sebagai regulator. Tapi ternyata  Dirjen Perhubungan Darat, Kemehub  melihat hal ini ranahnya Business to Business ( B to B) sehingga akhirnya berlarut-larut dan melemahkan posisi konsumen Indonesia.

” Sekarang para pekerja outsourcing Lion Air sedang berunjuk rasa karena PHK yang tidak dibayarkan hak-hak pesangonnya. Jika perusahaan gulung tikar dan menyatakan pailit seperti kasus Adam Air maka hilanglah semua uang milik konsumen dan travel agent. Keberpihakan negara tidak ada, semua lepas tangan,” tegasnya.