Tazbir: Sambut Pembukaan Obyek Wisata, Kordinasi Pusat-Daerah Harus Kuat  

this formate

Wisatawan domestik menyewa Jeep untuk wisata di kawasan Merapi, Yogyakarta. Kordinasi pemerintah pusat dan daerah dibutuhkan untuk mengajak masyarakat kembaki berwisata.  ( Foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Siapa melakukan apa dan kordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangatlah penting untuk mempersiapkan masyarakat kembali berwisata di era kenormalan baru, ” kata Tazbir Abdullah, pengamat pariwisata, hari ini.

Mantan Asisten Deputi Bisnis di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang belakangan aktif webinar ini mengatakan sejumlah obyek wisata di Jakarta dan berbagai daerah mulai dibuka secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kemenparekraf bahkan akhir pekan lalu sudah meluncurkan kampanye Indonesia Care atau disingkat I Do Care menunjukkan komitmen bangsa Indonesia, khususnya seluruh pemangku kepentingan di sektor Parekraf kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia sangat peduli atas kebaikan bersama untuk menjaga kebersihan, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung untuk keamanan sesama.

Menurut Tazbir langkah itu sangat baik agar pengelola obyek dan destinasi wisata sudah mempersiapkan standar normal barunya dan wisatawan juga mempunyai kepercayaan yang tinggi untuk berwisata.

Sekarang ini, fokus Pemerintah Pusat harus pada kesiapan destinasi dengan standar normal baru. Oleh karena itu koordinasi bersama dengan Pemda, mana yang sudah siap dengan protokol standar normal baru harus intensif.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istinewa Yogyakarta ini mengharapkan Pemda harus punya data fasilitas apa yang perlu didukung Pusat. “Minimal satu atau dua spot wisata ditiap provinsi sudah harus teridentifikasi saat ini,” imbaunya.

Saat ini Tazbir mengaku sedang  melakukan survey kecil-kecilan kepada ratusan temannya memanfaatkan jaringan komunitas grup yang dimilikinya juga.

“Hasil sementara sebanyak 95 % menjawab akan kembali berwisata jika Covid-19 berakhir dalam tahun 2020 ini,” tambah Tazbir.

Tazbir sangat optimis pariwisata akan normal kembali karena berdasarkan survey itu dan diperkuat data akurat lainnya minat berwisata tidak pernah padam. 

Oleh karena pandemi global berlangsung di seluruh dunia dan orang kesulitan finansial maka untuk membangkitkan minat wisatawan domestik pemerintah banyak membantu dengan sistem voucher dan subsidi.

Saat ini pihaknya juga mengharapkan agar pemerintah yang sudah mengalokasikan anggaran menginformasikan pula up date dilapangan apa saja kegiatan yang sudah dilaksanakan, bagaimana respon dari masyarakat, stakeholder dan industri terkait ” paparnya. 

Dia juga berharap para pejabat Kemenparekraf membuat tim “task force”, dengan tugas yang jelas dan target capaian yang bisa diakses 24 jam oleh pelaku industri untuk koordinasi hal teknis, tambahnya.

Siapa melakukan apa dan kordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangatlah penting sehingga bila ada destinasi wisata yang menyatakan akan membuka destinasi wisatanya pasti disambut gembira oleh industri wisata

“Bagaimanapun destinasi itu penanggung jawabnya Pemda, Maka Pemda dengan industri harus dalam kolaborasi yang bagus,” pesannya.

 

Turki Ubah Museum Ikonik Hagia Sophia Kembali Menjadi Masjid

this formate

Museum Hagia Sophia di Istanbul kembali menjadi masjid (foto:unsplash.com/Nurullah ABALI)

ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Musem ikonik Hagia Sophia di Istanbul, Turki, akan kembali beralih fungsi menjadi masjid setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada Jumat (10/7) menandatangani dekrit yang manjadi dasar hukum perubahan status bangunan berusia 1.500 tahun itu. Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih di kota Istanbul, di sisi barat Selat Bosporus.

Dekrit Presiden Erdogan dikeluarkan setelah sebelumnya pengadilan membatalkan status museum bagi situs budaya dunia yang semula adalah katedral. Seruan agar bangunan itu kembali dikonversi menjadi masjid telah lama diserukan Kelompok Islam di Turki, namun selalu ditentang kelompok oposisi yang berhaluan sekuler.

Tak lama setelah pengumuman dekrit tersebut, adzan pertama segera dikumandangkan di Hagia Sophia dan disiarkan langsung ke seluruh saluran berita utama di Turki, demikian seperti dilansir BBC International.

Hagia Sophia sendiri dibangun pada abad keenam atas perintah Kaisar Bizantium, Justinian I. Selama hampir 1.000 tahun, ia menjadi katedral terbesar di dunia. Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut. 

Pada 1453, saat kekhalifahan Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) merebut kota Istanbul, bangunan itu lalu diubah menjadi masjid. Namun pada 1934, bangunan besejarah yang merupakan destinasi favorit di Turki ini dikonversi menjadi museum oleh  Presiden Turki yang pertama, Mustafa Kemal Ataturk.

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyayangkan keputusan tersebut. Melansir unesco.org, pemerintah Turki membuat keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan pihak UNESCO. 

Pasalnya, situs warisan dunia yang ditetapkan di negara mana pun harus memberi tahu UNESCO jika ada perubahan status. UNESCO menilai, perubahan status dan fungsi Hagia Sophia bisa memengaruhi nilai universal situs bersejarah

Pemerintah Siem Reap Resmi Larang Perdagangan Asu Untuk Konsumsi Turis

this formate

Anjing ( Asu) dilarang dikonsumsi di Angkor Wat Kamboja (foto: tourism observer)

PNOM PENH, bisniswisata.co.id: Berwisata ke Siem Reap, Kamboja tentunya adalah mengunjungi Angkor Wat, Candi yang namanya semakin mendunia setelah dijejaki Angelina Jolie di film “Tomb Rider”. 

Dibangun selama kurang lebih 30 tahun lamanya di era Raja Suryavarman II di pertengahan abad ke-12, Angkor Wat juga termasuk dalam daftar situs UNESCO World Heritage.

Siem Reap, sebuah provinsi di utara Kamboja yang terkenal dengan kompleks arkeologi Angkor Wat ini setiap tahun sedikitnya dikunjungi lebih dari dua juta wisatawan per tahun.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke obyek wisata utama negri itu ternyata, berdampak pada naiknya permintaan daging anjing  ( Asu) di sana. Menurut catatan kelompok kesejahteraan hewan FOUR PAW, yang berbasis di Austria, Siem Reap telah diidentifikasi sebagai pusat perdagangan anjing di Kamboja. 

 Direktur Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Provinsi Siem Reap, Tea Kimsoth, permintaan terutama didorong oleh wisatawan mancanegara terutama asal Korea Selatan, yang paling gemar mengonsumsi daging anjung itu.

Akibat banyaknya  permintaan yang meningkat, banyak restoran di sana menyajikan masakan tersebut. Setiap bulan ada 2,900 anjing dikonsumsi yang tersaji di 21 restoran di Provinsi Siem Reap saja.

“Selama beberapa tahun terakhir, naiknya penjualan, pembelian dan pemotongan anjing untuk dikonsumsi telah berlangsung secara anarkis, dan itu telah menimbulkan keprihatinan besar,” tulis pengumuman dari pemerintah itu, seperti dilansir Kyodo.

Itulah sebabnya pemerintah setempat kini  mengeluarkan larangan memperdagangkan  dan menyembelih anjing untuk dimakan. Alasannya, karena hewan tersebut dianggap setia dan mampu menjaga properti, bahkan melayani militer. 

Selain itu, ada potensi risiko kesehatan jika praktek menu daging anjing itu terus dilanjutkan, apalagi ditengah situasi pandemi global COVID-19 seperti yang terjadi saat ini.

Situasi ini menurut mereka dapat menimbulkan penyebaran rabies dan penyakit lainnya, dari satu daerah ke daerah lain, sehingga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

“Daging anjing telah jauh lebih populer setelah kedatangan orang asing, terutama di antara orang Korea Selatan,” kata Tea Kimsoth kepada Reuters, dan menyebut bahwa perdagangan semacam itu semakin “mengkhawatirkan”.

Lebih jauh, otoritas setempat juga meminta agar pelarangan ini dimasukkan dalam UU Kesehatan dan Produksi Hewan sehingga ada sanksi bagi pelanggarnya. Menurut UU tersebut, mereka yang melanggar dapat dikenai hukuman penjara hingga 5 tahun, dan denda maksimal 50 juta riel atau setara 12.500 dollar AS.

Katherine Polak, kepala FOUR PAWS Stray Animal Care di Asia Tenggara, menyebut larangan yang dikeluarkan Provinsi Siem Reap sebagai bersejarah dan mencerminkan sentimen publik.

“Kami berharap bahwa Siem Reap dapat menjadi model bagi seluruh provinsi lain di negara itu,” katanya kepada Reuters.

 

Tahap Pertama, Pariwisata Dibuka Untuk Warga di Bali

this formate

TEGALALANG, Gianyar, bisniswisata.co.id: Sudah weekend ya, hampir lupa akibat terlalu lama kerja dari rumah, ibadah di rumah yang sekolah pun di rumah. Dan per 9 Juli objek wisata di Bali mulai dibuka bagi warga di Bali.

Gubernur Bali mengumumkan pembukaan “terbatas hanya untuk warga di Bali” sektor pariwisata dengan menggelar pawai armada mobil VW Kodok dan meninjau ojek- objek wisata.

Saya, akhir pekan ini memilih berkunjung ke tempat santai Kumulilir. Tempat melepas kepenatan, kebosanan dan kesesakan udara perkotaan yang penuh polutan. Tempat belajar perlengkapan upacara jika bertepatan dengan hari raya bagi umat Hindu. Tempat saya menimba ilmu dari “pak tani” yang mengerjakan sawah di areal Kumulilir. Belajar merontokkan padi jika bertepatan dengan masa panen, atau turun ke sawah ikut menanam benih padi bahkan sekadar bermain dengan burung “kokokan”. Burung yang habitatnya berada di Desa Petulu, dan sedang mencari kudapan ke persawahan di desa- desa sekitar Ubud. Kumulilir posisinya setelah melewati kawasan desa Petulu,  berada di ruas kiri rute perjalanan saya dari kota Kecamatan Ubud menuju Kintamani.

Check suhu tubuh

Sepanjang perjalanan, toko- toko kerajinan masih belum membuka lapaknya. Arus lalu lintas tidak sepadat biasanya, jika pada masa sebelum COVID-19 merebak jalur Denpasar – Ubud- Tegalalang perlu waktu satu jam 30 menit dan tersedat macet di pusat Ubud. Hari ini perjalanan saya lancar, hanya 55 menit saya sudah memasuki gerbang Kumulilir.

Staf penyambut tamu – tentu dengan standar kesehatan yang ditetapkan–  melakukan tugasnya, meminta saya memilih menggunakan  handsanitaizer atau mencuci tangan pakai sabun. Kemudian, staf Kumulilir meminta ijin untuk mengukur suhu tubuh dengan mendekatkan alat ukur ke telinga saya.

“35 derajat. Silahkan pilih paket,” lanjutnya sembari menunjukkan paket kunjungan yang disiapkan pada masa uji coba ini.

Menu kudapannya sederhana, olahan paon (dapur) Bali khas Tegalalang yang bahan bakunya ada di areal Kumulilir. Sayur dan aneka buah, tumbuh alamiah di pematang sawah, dilereng tebing yang memisahkan areal sawah dengan kebun kelapa, palawija dan areal atraksi wisata. Kebutuhan daging unggas – ayam, bebek–, ikan air tawar dan nasi dari padi hasil sawah di areal tersebut.

Niat saya memang refreshing, mengamati uji coba standar kehidupan baru di objek wisata dan makan siang di luar rumah, saya memilih menu Nasi Sela Kumulilir. Masa uji coba, mereka hanya menawarkan dua menu makan siang khas Kumulilir yaitu Nasi Sela dan Nasi Kuning Goreng Kelor. Olahan ini semua menggunakan bumbu Bali dengan base genep nya, paket sudah dilengkapi infuse water, ada beberapa pilihan minuman hangat yang ditawarkan dengan kudapan kecil.

Makan siang di alam terbuka berudara segar dingin, bertambah nikmat dengan memandang, meresapi saujana sekitar yang khas. Bagi saya, mahal itu relatif untuk menikmati saujana Kumulilir setelah hampir lima bulan hanya beraktifitas seputar halaman rumah.

Dari ketinggian menikmati saujana Tegalalang

Bagi anda yang berniat mencoba piknik namun berdamai dengan COVID-19, bisa mencoba fasilitas di Kumulilir. Kumulilir menyediakan sejumlah permainan anak- anak, untuk memacu andrenalin boleh mencoba trampoline atau makan siang bersama di ketinggian  melalui jembatan gantung? Mencoba berayun dari satu pohon ke pohon? Swing?

Untuk tahap ujicoba ini Kumulilir mengenakan tarif 50 ribu ruliah saja untuk masing- masing menu makan siang, jika menambah air mineral dan secangkir kopi hitam harganya 20 ribu rupiah.

Catatannya pengunjung diminta disiplin mengikuti protokol kesehatan, fasilitas tersedia di setiap sudut areal Kumulilir. Hirup udara segarnya, nikmati saujana desanya, nikmati kudapannya. Boleh mencoba trekking ringan seputar areal.

Tiga Tahapan

Hal penerapan protokol tata kehidupan baru dalam kepariwisataan,  Pemprov Bali menetapkan tiga tahapan pembukaan usaha. Tahap pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020.

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas sektor pariwisata lebih luas, dengan melibatkan wisatawan Nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020. Tahap ketiga, diperluas untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020 yang bertepatan hari Jumat, Kliwon, Sungsang, Sugihan Bali.

Pembukaan secara bertahap juga berlaku dimasing- masing objek kunjungan. Di Kumulilir jumlah pengunjung dibatasi, meski areal piknik dialam terbuka lebih kurang seluas lima hektar.

“Kami hanya menetapkan 30 persen dari kapasitas, jika kunjungan sudah pada posisi, petugas menutup gerbang,” ungkap Nyoman Deyana, pemilik Kumulilir.

Provinsi Bali memulai tahapan pertama ditandai dengan pelepasan rombongan mobil kuno “Road to Penerapan Tata Kehidupan Era Baru Provinsi Bali” dari halaman Kantor Gubernur Bali, Denpasar. Rombongan mobil kuno ini dipimpin  langsung Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dengan melakukan sosialisasi di sejumlah obyek wisata di Karangasem, Buleleng dan Tabanan. ***

Pelancong Wanita Muslim Bertambah & Jadi Segment yang Tidak Bisa Diabaikan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Para pelancong wanita Muslim umumnya mencari hal-hal yang sama yang diinginkan oleh semua pelancong wanita di seluruh dunia yaitu  keselamatan dan keamanan terutama, juga pilihan makanan sehat dan pengalaman ritel yang baik.

Sebagian besar dari mereka saat bepergian juga tidak lupa untuk menjaga waktu sholat, makanan halal dan hal-hal yang berkaitan dengan keimanannya termasuk fasilitas keagamaan yang mudah diakses dan menawarkan ruang sholat khusus wanita termasuk layanan spa atau salon kecantikan khusus wanita.

Mengutip survey Mastercard-CrescentRating, tahun 2018, ada 140 juta pelancong Muslim internasional dan jumlahnya diproyeksikan akan hampir dua kali lipat pada tahun 2026. Sejauh ini belum ada survey terbaru yang diumumkan setelah dunia dilanda pandemi global COVID-19.

Hampir setengah dari pelancong Muslim ini atau  63 juta orang adalah kaum wanita yang menghabiskan sekitar US$ 80 miliar untuk perjalanan mereka. Dua pertiga dari populasi ini berusia 40 tahun atau lebih muda, menunjukkan kekuatan yang meningkat yang dimiliki Muslimah di pasar perjalanan global. 

Pelancong wanita Muslim biasanya bepergian dengan keluarga mereka (71%) termasuk anggota keluarga pria dan wanita.  28% responden telah melakukan perjalanan solo travelling dan beberapa telah bepergian dalam kelompok yang semuanya perempuan (29%). 

Tidak mengherankan, mayoritas mengidentifikasi mereka dengan lebih dari satu profil. Pelancong wanita Muslim paling berpengaruh dalam membuat keputusan perjalanan ketika  mereka melibatkan keluarga mereka dan pasangan. 

Baik dia sebagai anak perempuan, ibu atau pasangan dalam keluarga maka keputusan dalam membuat jadwal kegiatan dan tujuan ( itenerary ) adalah ditangan mereka dibandingkan dengan ketika mereka bepergian dengan orang lain.

Di Indonesia, pelancong wanita Muslim jika berwisata dengan keluarga akan memperhatikan detil program dan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi destinasi favorit namun tentu saja prioritasnya adalah makanan halal dan dekat tempat sholat.

” Biasanya kita tinggal menghubungi travel agent dengan itenerary yang sudah disusun sesuai keinginan keluarga sehingga mereka yang tinggal urus mulai dari pilihan hotel hingga restoran, obyek wisata  hingga guide yang friendly Muslim,” ungkap Lyra Puspa, pendiri Vanaya Coaching International.

Untuk shalat, Lyra mengaku yang penting justru bisa berwudhu karena saat di perjalanan dia tinggal cari pojokan yang tenang di airport negara-negara non Muslim yang tidak menyediakan tempat ibadah.

” Tapi pernah juga di Great Wall, China kami shalat berjamaah di lokasi piknik  Rest Area dan jadi tontonan orang,” katanya mengenang.

Coach dari para CEO berbagai perusahaan di Indonesia ini kerap menjadi pembicara di mancanegara sehingga jika diminta mengisi conference atau pergi dengan tujuan bisnis maka hotel biasanya sudah dipesan oleh pihak panitia penyelenggara atau mitra bisnisnya di lokasi event.

“Makanan saya selalu request halal food dan fasilitas yang Friendly Muslim dan panitia yang tinggal urus,” ujar wanita bergelar PhD bidang Neuroscience in Psychology.

Jika sebagai peserta conference, permintaannya juga sama dan biasanya minta hotel di tempat event berlangsung atau hotel yang berdekatan karena Lyra mengaku untuk urusan konferensi dan bisnis fokus pada kegiatannya saja tidak mencampurkan agendanya dengan mengunjungi tempat wisata.

“Alhamdulillah sering bepergian ke luar negeri sebelum COVID-19 dan juga untuk urusan kuliah,” kata Lyra yang rajin kuliah formal di empat negara dan sampai tahun 2020 ini masih rajin kuliah a.l di Massachusetts Institute of Technology.

“Kalau kepentingan kuliah sudah ada langganan apartment dekat kampus. Makanan beli stok froozen atau setengah jadi dan tidak mengandung babi maupun non-lard. Kalau pas kuliah di AS atau di Inggris saat malas masak cari halal resto, atau kalo susah cari vegetarian resto,” ungkapnya. 

Lyra Puspa ( kiri) dan Rifda Agrinex, pengusaha wanita yang kerap solo travelling ke mancanegara ( foto. Dok. pribadi)

Pengusaha wanita lainnya yang kerap travelling adalah Rifda Ammarina yang suka disapa dengan nama Rifda Agrinex karena menjadi penggagas dan penyelenggara tahunan Agrinex, sebuah expo agribisbis yang setiap tahun diselenggarakan di Jakarta Convention Center ( JCC).

Wanita Muslimah yang kerap travelling ke mancanegara ini mengatakan hal yang menjadi perhatiannya saat bepergian adalah mulai dari penjemputan di bandara.

Pendiri Performax, event organizer ( EO) yang setiap tahun menggelar pameran pertanian bergengsi di Tanah Air dan sudah berlangsung selama 12 tahun ini mengatakan keamanan dan kenyamanan menjadi perhatiannya baik yang sifatnya aktivitas maupun dalam hal beribadah.

Oleh karena itu setiap kali bepergian ke mancanegara maka dia akan menyusun programnya dengan detil apalagi dinegara non Muslim sehingga fokusnya adalah fasilitas Friendly Muslim disemua lini hotel, restaurant, tempat shalat dan termasuk destinasi wisata.

“Pilihan restoran selain makanannya  harus halal dan mudah diakses juga lingkungannya bersih,” kata wanita yang tengah mempersiapkan Kampung Agrinex, di Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten sebagai obyek wisata.

“Kalau pilihan hotel tergantung lama tinggalnya. Tapi lebih sering kalau business trip pilih hotel di pusat kota ( city centre) karena kemudahan transportasi. Buat saya  view yang indah dari kamar bisa menikmati taman, misalnya, juga menjadi prioritas,” kata Rifda.

Ketika melakukan  solo travelling, kata Rifda, bisa diagendakan untuk leisure juga apalagi ada obyek-obyek wisatanya yang populer didunia maka Rifda akan memprioritaskan pula kunjungan ke kebun raya, taman kota dan factory outlet.

“Masjid terkenal seperti Masjid Camii di Tokyo atau disebut Tokyo Mosque, sebagai salah satu masjid tertua di Jepang yang dibangun pada dekade 1930-an pasti saya kunjungi saat berada di sana,” kata Rifda.

Mengaku tidak suka ke tempat-tempat hiburan malam atau tempat dugem, Rifda  juga sangat selektif dengan pilihan restoran termasuk yang sudah berlabel halal karena bukan soal tidak menyajikan alkohol dan daging babi saja.

Alumni Institut Pertanian Bogor ( IPB) yang berpengalaman bekerja di industri pangan dan menjadi public relations manager hingga akhirnya menjadi pengusaha EO ini bahkan tengah mengembangkan obyek wisata halal yaitu Kampung Agrinex, Pandeglang.

Wisata kebun adalah sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan yang bahkan setelah pandemi global COVID-19 melanda dunia akan menjadi pilihan berwisata banyak orang.

“Indonesia sudah menjadi tujuan wisata halal jadi untuk mempromosikannya dan agar tidak kontraproduktif, harus benar-benar dipersiapkan dengan baik mulai dari promosi sehingga persiapan destinasinya,” 

Dia berharap lima tahun ke depan cetak biru kampung Agrinex Pandeglang yang sedang dibangunnya bisa terwujud termasuk penjualan villa di dalamnya  karena bisa dikomersialkan untuk pengunjung agrowisata, peserta pelatihan dan Keluarga Santri.

Rifda optimistis tekadnya membangun fasilitas agrowisata Kampung Agrinex terwujud meski kini menghadapi tantangan akibat pandemi global. Keyakinan sebagai negara tujuan halal tourism, di dukung sebagian masyakat yang telah menerapkan halal lifestyle serta riset pelancong wanita Muslim menjadi penentu destinasi yang akan dikunjungi maka semua bisa terwujud atas ridho Allah SWT, tegasnya.

 

Danau Toba Resmi Jadi UNESCO Global Geopark (UGG)

this formate

Keindahan Danau Toba dengan panorama desa di sekelilingnya. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Danau Toba di Sumatera Utara telah ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG) pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis, Selasa, 2 Juli 2020.

Kabar gembira ini disampaikan oleh Menparekraf/ Ketua Bekraf Whisnutama Kusubandio  dalam pernyataannya di Jakarta, hari ini, Jumat (10/07/2020) dan menyambut baik penetapan ini yang akan membawa destinasi super prioritas ini lebih mendunia.

“Danau Toba yang menjadi salah satu destinasi pariwisata super prioritas kini telah tersertifikasi tingkat dunia oleh UNESCO Global Geopark (UGG) sehingga Danau Toba akan semakin terkenal di level dunia dan yang terpenting memberi manfaat bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Danau Toba bisa menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan jadi destinasi. Memadukan 3 potensi utama yaitu geodiversity, biodiversity, culture diversity, Danau Toba memiliki peranan penting menopang sektor pariwisata, tambah Whisnutama.

Menparerkaf menjelaskan, melalui pengembangan geopariwisata yang berkelanjutan, diharapkan akan membuat masyarakat setempat memiliki peluang untuk meningkatkan budaya, produk lokal, dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

“Penetapan ini memberi kesempatan plus tanggung jawab bagi Indonesia, untuk mendorong pengembangan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan di kawasan sekitar,” katanya.

Kaldera Toba berhasil masuk daftar UNESCO setelah dinilai dan diputuskan oleh UNESCO Global Geoparks Council pada Konferensi Internasional UNESCO Global Geoparks ke-IV di Lombok, Indonesia, pada 31 Agustus-2 September 2019.

 

 

AVMS Fashion Movement Upaya Gairahkan Kembali Bisnis Fashion 

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  Desainer Arby Vembria luncurkan program AVMS Fashion Movement di Arby Vembria Modeling School Yogyakarta dengan bintang tamu Anne Avantie dengan karya bertema Jaler. Jumat malam ini 

AVMS Fashion Movement merupakan sebuah pergerakan yang dilakukan oleh sekolah mode itu bersama  VA Production dalam menghadapi dampak melemahnya perekonomian pada industri fashion dan event akibat pandemik COVID-19. 

“Melalui AVMS Fashion Movement ini kami mengundang para pelaku fashion yakni perancang busana (desainer), pengrajin, UMKM maupun pengusaha produk non-fashion lainnya seperti makeup, elektronik, skincare serta media untuk bangkit bersama,” kata Arby.

Pihaknya berharap gerakan yang dilakukannya bisa menghidupkan kembali industri fashion yang saat ini sedang mengalami keterpurukan dan membantu para desainer, pengrajin, UMKM untuk meningkatkan daya beli masyarakat dengan digital fashion show dan sales melalui media sosial.

“Rencananya rutin diselenggarakan setiap dua minggu sekali dan menghadirkan bintang tamu yang berbeda. Mengingat adanya peraturan pemerintah dalam menghadapi New Normal bahwa tidak boleh melebihi 20 orang dalam sebuah kegiatan yang mengakibatkan kerumunan masa, maka acara ini diselenggarakan secara privat tanpa ada penonton ” jelas Arby.

Fashion show hanya dapat dilihat melalui live streaming Instagram @avms.fashionmovement, @arbyvembria.modelingSchool@just.vembria,@vaproduction dan Youtube channel Arby Vembria Modeling School. 

“Kami juga akan mempersilahkan para penampil untuk memamerkan karyanya di media sosial milik pribadi,” ungkapnya.

Mengenai Arby Vembria Modeling School ( AVMS) pertama kali didirikan  Arby Vembria pada tanggal 1 November 2018. Melihat pertumbuhan industri fashion tanah air dan internasional membuat Arby berniat untuk membagikan ilmu yang dimilikinya selama 13 Tahun di industri fashion tanah air hingga internasional.

Sekolah pertama ia dirikan di kota Yogyakarta pada tanggal 24 Januari 2019 dan sekolah kedua diresmikan berikutnya di kota Semarang pada tanggal 30 Juni 2019. Untuk kota Jakarta, AVMS buka sister company dengan label BESTCAMP di Jakarta dan akan dibuka juga di Bali.

 

Penerapan Protokol Kesehatan di Bioskop Sudah Berjalan Baik

this formate

Menparekraf Whisnutama didampingi Kabaharkam Polri Komjen Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., di bioskop  XXI Plaza Senayan ( Foto Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menparekraf Whisnutama Kusubandio melihat langsung standar baru yang telah dipersiapkan pengelola bioskop. Mulai dari pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk, proses antre tiket, pembelian makanan yang bisa dilakukan dengan memesan dengan aplikasi, studio sebagai lokasi eksibisi film, serta papan informasi.

Peninjauan kesiapan penerapan protokol normal baru ke salah satu eksibitor, Cinema XXI, di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (10/7/2020), bersamaan dengan peluncuran kampanye nasional “Indonesia Care” yaitu  panduan pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) untuk sektor hotel, restoran, dan bioskop.

“Hari ini kita melihat bagaimana protokol kesehatan di bioskop dilaksanakan. Saya memastikan simulasinya berjalan dengan baik. Tidak hanya di bioskop, sebelumnya kami juga sudah melihat langsung simulasi penerapan protokol di berbagai sub sektor lainnya seperti hotel, restoran, dan juga destinasi wisata,” kata Wishnutama.

Menurut dia, semua proses tersebut telah dipersiapkan dengan pelaksanaan  physical distancing yang baik. Termasuk ketersediaan hand sanitizer di setiap sudut serta kesiapan para staf lengkap dengan alat pelindung diri yang dibutuhkan. Mulai dari sarung tangan, masker, serta face shield.

Dalam kesempatan itu Menparekraf didampingi Kabaharkam Polri Komjen. Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez Servia, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf R. Kurleni Ukar

Hadir pula Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya dan Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin, dan Head of Corporate Communications & Brand Management Cinema XXI, Dewinta Hutagaol.

Menurut Whisnutama simulasi ini penting untuk dilakukan agar semua pihak, baik pelaku usaha maupun masyarakat paham akan prosedur-prosedur yang harus dijalankan. Sehingga saat nantinya sudah ada keputusan untuk kembali dibukanya bioskop, kegiatan dapat berlangsung dengan baik namun tetap aman dari COVID-19.

“Jangan tiba-tiba dibuka tapi sosialisasi belum terlaksana dengan baik. Karena apapun juga, risiko dari COVID-19 ini harus dihindari dan saya tak lelah menyampaikan agar sektor-sektor yang berada di bawah pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dapat menjalankan protokol dengan baik, benar dan penuh kedisiplinan,” ujar Wishnutama.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah mengeluarkan izin agar pengelola bioskop membuka kembali operasionalnya mulai tanggal 29 Juli 2020 dengan penerapan protokol yang ketat.

Menanggapi hal ini, Wishnutama mengatakan keputusan untuk membuka destinasi ataupun sektor ekonomi kreatif menjadi wewenang pemerintah daerah dengan memperhatikan tiga hal. Yakni status COVID-19, kesiapan daerah serta penerapan dari protokol kesehatan itu sendiri.

“Itu yang kita lakukan saat ini, sehingga kapanpun bioskop dibuka kita sudah siap. Dengan adanya panduan protokol kesehatan salah satunya di sektor perfilman ini, saya harap industri ini bisa produktif kembali, dari produksinya, bioskopnya dan berbagai macam aktivitas lainnya yang beberapa bulan terhenti,” kata Wishnutama.

 

Pelancong Wanita Muslim Masih Hadapi Islamphobia  Secara Verbal  

this formate

Asha dan peserta pelatihan rohani di Vietnam ( Foto: Mastercard-CrescentRating)

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Namanya Asha, wanita Muslim yang menjadi pendiri Asha & Co, sebuah komunitas bagi wanita sebaya. Uniknya Asha & Co mempromosikan kesehatan mental melalui memasak, seni, dan pertemuan regular komunitasnya.

Didirikan pada tahun 2015 dan berbasis di Singapura, komunitas ini menciptakan ruang yang aman bagi orang-orang yang berpikiran sama dengan berbagai keterampilan, minat, dan pengalaman untuk mengumpulkan dan bertukar gagasan, menciptakan ide-ide baru, membangun sistem dukungan yang sehat sambil menjelajahi potensi yang lebih besar.

“Wanita abad ke-21 sekarang memiliki lebih banyak ‘topi’ daripada sebelumnya, dan kita tahu itu bisa menjadi luar biasa. Kehidupan yang serba cepat telah menggerakkan kita untuk menggali lebih dalam untuk memahami tujuan kita dan untuk terhubung dengan apa yang membawa kita terpenuhi dalam hidup   dan kami mencapai ini melalui praktik yang penuh perhatian,” kata dikutip dari Muslim Women in Travel 2019 dari
Mastercard-CrescentRating

Pihaknya berdedikasi dalam melayani komunitas perempuan dengan penuh kasih sebagai #growthwarriors dan melengkapi, mengilhami dengan pengetahuan dan cara menjalani kehidupan yang merangkul pertumbuhan dalam hidup sehari-hari dan selangkah demi selangkah secara sadar dan terarah terus mengembangkan diri.

Nah bagaimana pengalanan dan tantangan yang dihadapinya sebagai  pelancong wanita Muslim?. ” Dalam perjalanan saya belum pernah diperlakukan secara berbeda oleh warga setempat tetapi saya pernah dilecehkan secara verbal dari turis  lain, terkait pernyataan Islamofobia, ungkap Asha..

Tantangan lain adalah harus berurusan dengan penilaian orang karena terlihat berbeda sebagai seorang Muslimah yang penampilan bukan seperti non-Muslim. Asha mengaku hobby berat dengan kegiatan menyelam tapi saat mau menyelam malah mendapat penolakan dari Muslim lain karena baju yang dikenakannya berbeda.

” Menyelam pakaiannya seperti itu, semua tertutup dan melekat karena   akan menyelam jauh ke dalam laut,” tambahnya.

Perusahaan Anda mulai menawarkan pelatihan spiritual (rohani) bersama untuk semua wanita di komunitas . Apa yang membuat Anda memulai kegiatan ini ?

“Perjalanan adalah salah satu media terbaru kami untuk berlatih kesehatan mental dan pelatihan rohani pertama kami adalah pergi ke Vietnam. Saya ingin itu bermakna dan tidak semata-mata pada tamasya, jadi kami bermitra dengan organisasi nirlaba untuk perempuan di sana untuk memberikan pengalaman budaya,” jawabnya.

Menurut Asha, para wanita Vietnam memiliki tantangan budaya mereka sendiri karena maraknya perdagangan manusia, pelecehan seksual dan fisik.  Anda bisa mengatakan itu lebih dari program pertukaran.

Apakah Anda pikir Anda berbeda dari pelancong wanita non-Muslim dalam hal layanan yang Anda cari? Kita semua bepergian karena berbagai alasan.  Hal yang sama berlaku untuk dua Wanita Muslim yang berjilbab yang  mungkin bepergian dengan tujuan yang berbeda, jawabnya.

“Apa yang membuat saya berbeda dari  wanita Muslim yang tidak berhijab karena saya harus melakukan beberapa penyesuaian untuk mengikuti aturan syariat agama saya. Makanan halal sangat penting bagi saya, tetapi saya cukup fleksibel

dan jika tidak ada makanan halal, saya akan mencari vegetarian atau sesuatu yang mudah dimakan.  Tapi saya kenal beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman dengan opsi ini,” tuturnya.

Apakah Anda pikir kalangan bisnis melakukan pekerjaan dengan baik untuk melayani wanita Muslim?

“Sekalipun ada celah, perempuan Muslim biasanya bisa beradaptasi. Ketika saya berada di Maladewa, saya harus mengambil wudhu saya di sumur dan air dibagikan oleh dua jenis kelamin alias tidak ada privasi,” 

Buat dia melakukan wudhu tanpa mengekspos kesopanan yang tidak ada pertimbangan privasi akan membuat melakukan shalat lebih mudah bagi wanita Muslim.

“Secara pribadi, saya tidak menuntut fasilitas untuk semua wanita saja. Halbitu bukan bagian dari gaya hidup kita di Singapura.  tidak masalah pergi ke spa campuran gender karena biasanya Anda akan melakukannya berada di area pribadi dengan staf wanita, jadi kesopanan Anda dilindungi.  Tapi saya mengakui ada wanita lain yang tidak bisa menerima opsi itu,” ungkapnya.

 

Kemenparekraf Luncurkan Kampanye Penerapan Protokol Kesehatan ‘Indonesia Care’

this formate

JAKARTA. bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan Indonesia Care, kampanye nasional untuk mengimplementasikan protokol kesehatan sekaligus verifikasi guna menghadirkan destinasi yang bersih, sehat, aman, dan lingkungan yang lestari.

Peluncuran kampanye Indonesia Care ditandai dengan pemutaran video kampanye “Indonesia Care” di Studio XXI Plaza Senayan, Jakarta. Sekakigus diluncurkan Panduan Pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau yang selanjutnya disebut Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan untuk sektor Hotel, Restoran dan Bioskop.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, kampanye Indonesia Care atau disingkat I Do Care menunjukkan komitmen bangsa Indonesia, khususnya seluruh pemangku kepentingan di sektor Parekraf kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia sangat peduli atas kebaikan bersama untuk menjaga kebersihan, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung untuk keamanan sesama.

Indonesia Care diinisiasi sebagai kesepakatan nasional untuk meningkatkan kepercayaan publik dengan memaksimalkan partisipasi publik serta pebisnis untuk menjunjung tinggi sanitasi dan higienitas sepenuh hati.

” Ini merupakan salah satu strategi komunikasi kita untuk dapat menjalankan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan mengutamakan prinsip kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan,” kata Wishnutama Kusubandio.

Turut hadir dalam peluncuran kampanye Indonesia Care,  Kabaharkam Polri Komjen. Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez Servia, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf R. Kurleni Ukar, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya dan Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Frans Teguh

Menparekraf mengajak seluruh pihak, yakni masyarakat dan industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk turut serta dalam kampanye “Indonesia Care” ini dengan melaksanakan pengelolaan tempat usaha dan wisata yang memastikan sanitasi, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung.

Pelaksanaan protokol sangat penting dan strategis untuk dilaksanakan sebaik-baiknya dengan melibatkan pengusaha, konsumen dan masyarakat.

“Dengan upaya ini diharapkan sektor yang sudah dibuka dan yang akan dibuka siap melaksanakan protokol kesehatan dengan baik. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bisa kembali bergerak, produktif namun tetap aman dari COVID-19,” kata dia.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya menjelaskan, Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang diterbitkan mengacu pada standar global sebagai panduan teknis operasional bagi pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam melangsungkan berbagai aktivitas ekonomi yang berangsur-angsur kembali bergerak pascapandemi COVID-19.

“Panduan protokol ini merupakan turunan yang lebih detail dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang disusun oleh Kementerian Kesehatan berdasarkan masukan dari Kemenparekraf,” kata Nia Niscaya.

Berdasarkan data dari social listening tools Sprinklr Analytic dengan keyword Indonesia, Travel, dan penanganan COVID-19, persepsi negara lain terhadap Indonesia masih rendah. Dengan diluncurkannya Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Ini merupakan bagian dari langkah gaining confidence  atau building trust baik untuk masyarakat domestik dan juga internasional,” kata Nia Niscaya.

Oleh karena itu, protokol kesehatan mesti menjadi perhatian untuk diimplementasikan secara ketat oleh pelaku industri. “Informasi soal Indonesia Care dan Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan, dan Keselamatan bisa dilihat lebih lanjut di _website_ indonesia.travel/indonesiacare,” kata Nia Niscaya.

Dalam kesempatan ini juga disosialisasikan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Panduan Teknis Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif dalam Masa Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19.