Ada Ceruk Pasar Digital Nomad & Bali jadi Rumah ke Dua

0
10

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Ceruk pasar digital nomad  (pekerja daring) masuk Bali seirama dengan berkembangnya jasa digitalisasi perekonomian dunia. Namun belum mendapat perhatian khusus dari pihak- pihak terkait.

Yang dipahami adalah meningkatnya pangsa pasar wisatawan belia dengan lama tinggal panjang, meningkatnya angka repeater guest yang dalam setahun bolak- balik Bali dua, tiga kali, meningkatnya permintaan kos- kosan, penyewaan villa- villa milik warga negara asing dengan fasilitas tertentu.

Berkembangnya coffee shop ber fasilitas wifi berkecepatan tinggi, penyewaan kendaraan baik roda dua mau pun roda empat jangka panjang dan outlet kurir kebutuhan mamin, jasa cuci pakaian, mau pun jasa cleaning service kamar kos merebak.

Berkembangnya bisnis co-working space baik yang dimiliki warga negara asing mau pun warga Indonesia serta merebaknya tawaran live-in dalam kawasan pemukiman dengan fasilitas lengkap dari pusat belanja, pusat kebugaran sampai tempat kerja santai.

“Trend digital nomad masuk Bali sudah lebih dari sepuluh tahun lalu ya, masyarakat Bali dan pejabat terkait yang kurang jeli melihat hal ini. Prilaku pasar khusus, mulai diperhatikan setelah cyber crime meningkat”, ungkap salah seorang pekerja digital asal Perancis yang telah bertahun- tahun bekerja dari Bali.

Berbekal visa kunjungan wisata, perancang busana asal Perancis tersebut menyewa kamar tahunan di wilayah Umalas dan bekerja dari kamarnya. Jika bosan, dia memilih menyewa meja di co working space, atau duduk di café, di restorant di wilayah Kuta, Seminyak, sembari tetap bekerja.

“Bali itu sudah rumah ke dua kami, kalangan digital nomad. Tidak hanya dari kalangan belia, yang sudah berkeluarga pun, tidak sedikit memindahkan kantornya ke rumah sewa di Bali. Atau sudah memiliki rumah, villa sendiri di Bali. Lihat saja, pada saat darurat COVID- 19, berapa ribu warga asing yang memilih tetap tinggal di Bali dan memanfaatkan fasilitas kelonggaran keimigrasian pemerintah Indonesia,” paparnya lebih lanjut.

Diprediksi ada 200.000  pekerja digital nomads, yang menetap dan bekerja di Bali pada Juni 2019. Belum terlambat, jika pelaku usaha wisata dan pemerintah menggarap peluang bisnis ceruk pasar digital nomad. Dengan menyiapkan ekosistem yang aman baik bagi pasar mau pun Bali sebagai destinasi.  Pasalnya, pasar potensial tersebut tidak hanya membawa peluang juga membawa dampak yang wajib diantiasipasi.

Dari riset IDC dalam dua tahun kedepan setidaknya terjadi peningkatan 50 % pekerja digital masuk pasar kerja dunia. Peluang terbuka bagi Bali sebagai destinasi wisata sekaligus destinasi bekerja produktif. Ungkap  Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ) dalam Webinar Road Map to Bali Next Normal : Imagine Working from Bali, Why Not?

Webinar diselenggarakan Bali Tourism Board, bekerjasama dengan BaliCEB, Bank Indonesia menghadirkan pembicara Paulus Herry MA ( MD AVB ASIA ), Allen Jordan (CEO Goshen Group), Christina Halang, BA, JD Law ( Founder & CEO  Panorama Growth ), Kelvin Tan, PHD MBA  ( Co Founder  Eyemail Technology ).

Pengantar diberikan Wakil Gubernur Bali yang juga Ketua BPD PHRI Bali, Ketua GIPI dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali. Gambaran pasar digital nomad dari beberapa negara diberikan oleh Dubes RI untuk PRC dan Mongolia, Djauhari Oratmangun dan  Pratito Soeharyo dutabesar Indonesia untuk Laos. Menghadirkan pekerja seni film Jeremy Thomas dari London.

Para digital nomad menurut Christina mengutamakan mental wellness mengutamakan keseimbangan bekerja dengan kehidupan sosialnya. “Estonia, negara yang bisa dijadikan contoh mengelola pasar digital nomad,”jelasnya.

Pilihan Pertama

Di negeri orang, sewa rumah dikawasan yang disenangi, status tetap bekerja. Teknologi mempermudah semua urusan pekerjaan sepanjang ada jaringan internet yang handal. @RI

Dalam kekinian dunia, bekerja secara daring sangat memungkinkan, tegas  Jeremy Thomas dari London, Inggris dan pada saat yang sama mengerjakan satu proyek film di Indonesia. Tim kerja tersebar di beberapa wilayah untuk pengambilan gambar dan kelengkapan produksi lainnya.

“Pandemi ini memang sebuah isu global, namun ide Work from Bali merupakan ide yang brilian,” ungkapnya.

Untuk dapat memanfaatkan kecepatan teknologi, peluang pasar dan posisi strategis Bali, perlu dibentuk ekosistem digital dan leader yang mampu mendrive peluang tersebut menjadi nyata, ungkap Kelvin Tan menambahkan.

Sementara pegiat dunia digital Paulus Herry Ariyanto memaparkan data dan pemikiran untuk mengelaborasi potensi ide Work from Bali. Mengutip hasil survey Future of Works  bahwa 78 %  orang memilih jadwal waktu bekerja yang fleksibel serta telecommuting (komunikasi jarak jauh) ; 82 % orang mengharapkan keseimbangan dalam hal bekerja dan kehidupan.

Sedangkan hasil dari riset Gallup menyatakan 54 % orang berani meninggalkan pekerjaannya jika mereka mendapat pekerjaan baru yang dapat memberikan fleksibilitas dalam ruang dan waktu.

“ Perkembangan digital membawa perubahan peradaban dunia, termasuk sikap seseorang atas sebuah pekerjaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa survey Nomad List untuk Travel Destination, Bali merupakan tujuan nomor satu bagi kalangan digital nomad . Alasan utama cuaca yang bagus, biaya hidup lebih murah dari kota-kota lainnya, pantai-pantai yang indah,  kaya akan sejarah dan jati diri budaya, serta aman untuk tinggal.

Para pekerja daring (digital nomad) memiliki kekuatan belanja tidak kecil yaitu USD 1300 / orang. Dan ini , menjadi kontribusi untuk ekonomi Bali. “Lebih baik jika setiap kabupaten memiliki area khusus ekosistem digital nomad.  Jangan tinggalkan banjar, karena desa / banjar harus mendapatkan efek sebesar- besarnya dengan kehadiran digital nomad di wilayahnya.  Dan level berikutnya tidak hanya menjadi tempat digital nomad namun juga mampu menumbuhkan digital worker,” jelas Paulus Herry mengingatkan.

Hal tersebut sangat sejalan dengan visi besar pemerintah provinsi Bali melalui RAPERDA RPIP (Rencana Pembangunan Industri bali 2020-2040) dalam tiga pilar utamanya yaitu pilar pariwisata, pilar agrikultur berbasis teknologi dan Industri 4.0. Semoga.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.