Pelni Lifestyle Edukasi Masyarakat Lewat Virtual Tour

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Wisata di atas kapal kini menjadi salah satu alternatif pilihan bagi wisatawan untuk menghabiskan liburan. Untuk itu Pelni Lifestyle tetap mengedukasi masyarakat untuk mengikuti virtual tour bersama KM Kelud ditengah pandemi global COVID-19 yang belum juga usai, kemarin.

Bersama host Kartika dan Wahyu, pegawai PT Pelni Jakarta, keduanya memandu sedikitnya 60 peserta zoom virtual tour dari berbagai kalangan dari Biro Perjalanan Wisata ( BPW)  termasuk Hasiyanna S Ashadi, Ketua Asita DKI Jakarta yang menaungi asosiasi perusahaan perjalanan itu.

Perjalanan dimulai dari terminal keberangkatan penumpang Pelabuhan Tanjungpriuk, Jakarta yang sudah melengkapi fasilitas dengan protokol kesehatan di era New Normal. Mulai dari check in sistem barcode, tempat cuci tangan, X-ray, tanda social distancing disegala sudut.

Host Kartika dan Wahyu lalu membahas luasnya ruang tunggu keberangkatan dengan ruang pendingin dan suasana nyaman sehingga calon penumpang bisa menunggu keberangkatan dengan santai.

Keluar dari ruangan, peserta zoom lalu disambut oleh Yayat, yang bertugas hari itu lalu diajak naik tangga kapal. di body kapal ada tulisan besar  Let’s Go To Anambas, salah satu paket bahari yang ditawarkan.

Pelni memang punya rute ke daerah yang namanya belum se-beken Raja Ampat, tapi ternyata Anambas punya pesona keindahan alam tropis yang tidak kalah dengan surga di Papua tersebut.

Sebagai bagian dari Provinsi Kepri, kepulauan yang berada di Laut China Selatan ini terdiri atas 238 pulau yang punya banyak sekali pesona alam perawan dan belum pernah terjamah: lautnya begitu biru, dan terumbu karangnya cantik dan kaya ikan hias.

Begitu tiba diatas kapal ada pemeriksaan cek suhu tubuh lagi dilanjutkan dengan meninjau berbagai ruangan lantai per lantai. Kegiatan ini banyak diikuti peserta zoom dari anak-anak yang antusias mengikuti kedua host mengeksplor semua fasilitas mulai dari fasilitas kelas satu, kelas dua hingga kelas ekonomi yang adem nyaman dan termasuk kondisi toilet-toiletnya.

Host Wahyu sebagai orang dalam alias pegawai Pelni sendiri rupanya juga merasa nyaman dengan peninjauan ke kamar. Tubuhnya yang gempal tak segan-segan langsung mendarat di kasur empuk.

Kapal memang  dilengkapi dengan kabin atau kamar mulai dari dua hingga delapan tempat tidur. Serta kelas Ekonomi dengan tempat tidur single atau bertingkat cocok untuk keluarga maupun pergi bersama komunitas.

Pelni Lifestyle sendiri telah diluncurkan sejak Maret 2015 dan merupakan salah satu cara Pelni untuk menghadirkan konsep wisata baru yang menarik bagi wisatawan, bukan hanya menjadi angkutan penumpang saja. Melainkan, menjadi sebuah wisata baru di atas kapal.

Divisi ini menawarkan pelayanan seperti Meeting on Board, Study on Board, Venue on Board, Tour on Board, dan Wisata Bahari. Masing-masing produk menawarkan pengalaman perjalanan laut yang unik dan berbeda bagi wisatawan.

Berbagai fadikitas diatas KM Kelud ( Foto: Pelni)

Saat ini, Pelni memiliki sekitar lima kapal yang bisa digunakan untuk keperluan wisata. Seperti KM Kelud, KM Dorolonda, KM Umsini, dan KM Sinabung. Keempat kapal ini berkapasitas 2000 penumpang. Sedangkan, KM Kelimutu dapat mengangkut sekitar 1000 penumpang.

Sukendra, VP Pemasaran Angkutan Penumpang Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia itu di kesempatan lain mengatakan pihaknya kini tidak hanya sebagai operator angkutan penumpang dan barang saja, tetapi juga di sektor pariwisata mempunyai potensi besar menggarap sektor pariwisata.

Kapal penumpang KM Kelud dan kapal lainnya  juga bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaran MICE. Ia menambahkan, kapal-kapal milik Pelni dilengkapi dengan ruang meeting, salon, gym, kafe, dan sebagainya.

Study On Board dan Tour on Board adalah paket-paket perjalanan sambil belajar. Kedua produk ini ditujukan bagi murid-murid sekolah dan mahasiswa. Study on Board merupakan paket perjalanan menginap di atas kapal mengikuti rute pelayaran.

Sedangkan Tour on Board adalah sebuah paket wisata sehari untuk memperkenalkan kehidupan maritim dan transportasi laut bagi murid-murid sekolah dari taman kanak-kanak hingga tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Di dalamnya berisi materi-materi pengenalan kapal laut dan berinteraksi dengan Nakhoda.

Selain itu, produk lainnya adalah paket-paket Wisata Bahari bertajuk “Let’s Go PELNI”. Paket wisata yang mengantarkan wisatawan ke destinasi-destinasi seperti Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan Raja Ampat, Papua Barat hingga destinasi lainnya.

Kapal-kapal ini juga bisa membawa wisatawan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata seperti menyelam di Banda Naira, snorkeling di Karimunjawa atau di Pulau Seribu. Selain itu, kita juga bisa menyaksikan senja di atas kapal yang sedang berlayar. Hal ini memberikan sensasi wisata yang beda.

Paket-paket Wisata Bahari diperuntukkan untuk mereka yang ingin berwisata dengan menggunakan kapal dan mencari pengalaman unik dan berbeda. Salah satu paket wisata yang bisa dipilih wisatawan adalah Paket Wisata Bahari Karimunjawa.

Ada banyak hal yang ditawarkan untuk wisatawan, misalnya saja wisatawan bisa tinggal di kapal, atau menginap di hotel-hotel yang ada di darat, hingga berkemah di tepi pantai.

Wisatawan juga bisa mengeksplorasi Karimunjawa dengan bersepeda ataupun berjalan-jalan selama beberapa jam sebelum berlayar kembali.Dengan layanan Pelni Lifestyle ini, diharapkan dapat meningkatkan jumlah penumpang kapal dan menjadikan kapal juga sebagai tujuan wisata.

Pelni sat ini mengoperasikan sebanyak 26 kapal penumpang dan menyinggahi 83 pelabuhan serta melayani 1.100 ruas. Selain angkutan penumpang, Pelni juga melayani 46 trayek kapal perintis yang menyinggahi 275 pelabuhan dengan 3.739 ruas.

Alhasil virtual tour yang berlangsung selama dua jam itu menbuat peserta jadi paham protokol kesehatan di kapal pada era New Normal Life, tahu layanan & fasilitas eksklusif yang biasa dinikmati oleh Sobat Pelni Lifestyle. Melihat-lihat isi kapal hingga ke dapur, ruang kemudi dan bertemu Kapten.

 

 

 

Berencana Jadi Digital Nomad ? Bali Salah Satu Destinasinya

this formate

Dua wisatawan asing bekerja mengandalkan komputer dan internet di tengah alam terbuka. (Foto: digitalnomadindo.wordpress.com)

DENPASAR, BALI, bisniswisata.co.id: Wisatawan mancanegara yang masih berada di Bali tidak semata-mata karena dampak pandemi global COVID-19. Tapi memang memilih tinggal sebagai digital nomad.

Datang menggunakan visa kunjungan wisata dan melakukan perpanjangan visa hingga dua kali secara total bisa tinggal selama 7 bulan. Pulau Bali memang menjadi salah satu destinasi tujuan dari para digital nomad.

Digital nomad, atau digital nomaden sebenarnya adalah istilah bagi orang-orang yang tidak menetap disatu tempat untuk bekerja. Mereka bisa travelling dan bekerja pada saat yang sama dengan mengandalkan teknologi digital terutama internet.

Kebanyakan digital nomad adalah pekerja kreatif yang memang tidak terlalu membutuhkan kehadiran fisik di tempat kerja. Beberapa profesi digital nomads antara lain developer, designer, writer, dan online marketer. 

Dari tyohan.me/blog/digital-nomad yang menceritakan pengalaman pribadinya mengatakan bahwa kehidupan sebagai digital nomad di Bali sangat menyenangkan karena dia melakukan semua pekerjaan di depan komputer dan cukup menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan team atau client.

Apalagi pekerjaan utamanya sebagai web developer yang memimpin team kecil dalam mengerjakan project, serta sebagai developer relation sebuah project open data sebenarnya tidak membutuhkan dedicated onsite time dalam sehari-harinya.

” Cuma pekerjaan sebagai mentor di Bandung Digital Valley masih mengharuskan saya bertatap muka dengan startup yang didampingi,” ungkapnya.

Walau demikian impian bekerja sebagai digital nomad tetap akan berusaha diwujudkan. Sambil travelling dan bekerja tentu hal yang tidak akan membosankan. Berpindah-pindah tempat akan menyegarkan mood (refresh mood) yang sangat dibutuhkan oleh pekerja kreatif seperti dirinya.

Canggu , Bali, masuk dalam 7 tempat yang direkomendasikan oleh bigseventravel.com jika Anda akan menjadi digital nomad di Pulau Dewata karena merupakan tempat yang bagus untuk memulai dengan biaya terjangkau sehingga destinasi ini menarik orang-orang dari seluruh dunia karena alasan itu. 

Canggu adalah tempat yang ideal untuk menjadikan diri Anda mampu membiayai diri karena harga-harga yang terjangkau, memiliki pantai yang indah dan banyak kafe untuk bekerja. Di sini,  Anda akan merasa mudah bertemu orang-orang yang melakukan hal yang sama serta memiliki basis yang indah untuk menjelajahi pulau surga ini.  

Rencana untuk para digital nomad dengan terjadinya pandemi global COVID-19 untuk tahun 2021 bisa jadi terbalik dengan masih banyaknya tujuan yang tertutup untuk wisarawan asing dan sebagian lockdown alias Penbatasan Sosial  erskala Besar ( PSBB).

Hal ini membuat rencana hidup dan tinggal di luar negeri sulit dengan semua ketidakpastian sekarang.  Jadi sementara gerakan kerja-dari-rumah  ( Work from home) telah tumbuh secara besar-besaran pada tahun 2020, gagasan untuk menjadi digital nomad menjadi jauh lebih sulit.

Tapi jika Anda masih mempertimbangkannya, maka enam kota bisa jadi pangkalan digital nomad mulai dari sisi peningkatan biaya asuransi dan pembatasan penerbangan hingga kemungkinan karantina pada saat kedatangan.  

Hanya saja tidak sesederhana (atau semurah) untuk berkeliling dunia seperti di awal 2020. Banyak digital nomad atau si pengembara itu kini terjebak di satu lokasi ditengah semakin banyak orang yang ingin merencanakan masa depan kerja ‘baru’ mereka. 

Sepertinya  digital nomad akan lebih cenderung memilih satu lokasi dari mana dia akan menetap untuk jangka waktu yang lebih lama. Basis Kota untuk  digital nomad adalah sebagai berikut: 

 Da Nang – Vietnam

 Vietnam memiliki keberhasilan awal yang spektakuler dengan penanggulangan virus Corona, dan merupakan contoh reaksi cepat yang dianggap baik.  Karena itu, pemerintahnya berencana untuk secara bertahap membuka lebih cepat daripada negara lain.

Sementara banyak yang akan menuju ke selatan ke Kota Ho Chi Minh atau ditarik ke utara ke Hanoi, kami memilih Da Nang di tepi pantai yang jadi pusat untuk kualitas hidup yang murni.  Anda tidak pernah jauh dari air dengan pantai-pantai yang menakjubkan dan banyak kegiatan untuk mengalihkan pikiran Anda dari pekerjaan.

Biaya hidup sangat murah.  Wifi luar biasa tersedia di seluruh kota dan sebagai digital nomad memiliki campuran pilihan makanan barat dan lokal.

Berlin – Jerman

Tanggapan Jerman terhadap virus tersebut dipuji sebagai salah satu yang terbaik di dunia, dengan orang-orang yang kembali bekerja dengan cepat, olahraga dilanjutkan dan bantuan ekonomi diberikan pemerintah untuk perusahaan.

Meskipun harganya sedikit lebih tinggi karena berada di level Eropa, ini adalah basis yang ideal untuk memulai bisnis selama 3-6 bulan.  Ada beberapa saham kantor yang hebat, sejumlah besar kafe yang bisa dipilih. 

Tambahkan aktivitas start-up yang hidup dengan banyak pertemuan dan Anda akan dengan cepat membangun jaringan. Berlin juga merupakan basis yang ideal untuk tidak hanya menjelajahi seluruh Jerman, tetapi juga Eropa.

Bangalore – India

Kota ini Juga dikenal sebagai Bengaluru, ini adalah tempat yang ideal untuk datang dan bekerja dengan perusahaan yang berfokus pada teknologi.  Kota ini sering disebut-sebut sebagai ‘Lembah Silikon India’, dengan kekayaan bisnis teknologi dan bakat di daerah tersebut.

 Kota ini juga sangat terjangkau untuk ditinggali dan memiliki banyak restoran lokal dan gaya Barat.  Dengan 10 juta orang tinggal di sini, ada peluang tak terbatas untuk berjejaring dan bertemu orang-orang dengan pandangan yang sama.

Cape Town – Afrika Selatan

Beberapa tempat di dunia yang cukup menghabiskan waktu untuk digital nomaden  pada 2021 adalah Cape Town.  Ini benar-benar salah satu kota paling spektakuler di dunia.  Anda akan memiliki kehidupan malam yang luar biasa, makanan, dan kehidupan di luar, semua di depan pintu Anda.

Apa yang menjadikan ini tempat yang ideal untuk tinggal selama beberapa bulan adalah semua hal menakjubkan untuk dilihat dalam jarak dekat.  Anda dapat mengunjungi kebun anggur, menyelam, dan menjelajahi pemandangan yang menakjubkan.  

Meskipun Afrika Selatan mengatakan tidak akan mengizinkan pengunjung internasional hingga awal 2021, ini adalah tempat yang tepat untuk digital nomad pada pertengahan tahun 2021 nanti untuk menghabiskan waktu.

Lisbon – Portugal

Lisbon dengan cepat menjadi salah satu kota paling keren di Eropa selama beberapa tahun terakhir. Kota Ini memiliki variasi makanan yang hebat, kehidupan malam yang murah dan  tempat-tempat populer. 

Ditambah lagi cuaca yang baik sepanjang tahun.Dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, biaya hidup murah di sini, yang membuatnya menjadi basis yang terjangkau untuk setiap digital nomad

Chiang Mai – Thailand

Thailand mencentang banyak tempat untuk bekerja saat bepergian.  Tidak hanya ada internet dan makanan yang luar biasa, tetapi negara ini sangat terjangkau.  Tambah lagi penduduk lokal yang ramah dan Anda akan langsung merasa betah di sini.

Seluruh negara telah menarik digital nomaden tetapi Chiang Mai adalah pusat utama untuk jenis pekerjaan ini.  Ini juga merupakan tempat yang sempurna untuk menjelajahi negara yang menakjubkan dengan anggaran terbatas.  Soalnya Anda akan segera menikmati bekerja seolah dari ‘surga’.

Pulau ini Dijual Untuk Mereka yang Ingin Kabur dari Virus Corona

this formate

Pulau Pumpkin dikelilingi pantai yang indah bisa untuk menghindari  COVID-19. ( Foto: Dok. Pumpkin Island)

QUEENSLAND, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 menakutkan banyak orang karena virus yang bergerak secara eksponensial ini belum ada vaksin penangkalnya. Bintang sepakbola dunia asal Portugal, Cristiano Ronaldo, sampai harus membeli sebuah pulau pribadi untuk berlindung bersama keluarganya di sana.

Anda berminat mengikuti jejaknya? Di Queensland, Australia, ada sebuah pulau pribadi, namanya Pulau Pumpkin, yang tengah diiklankan pemiliknya untuk dijual. Berlokasi sekitar 14 kilometer atau 30 menit perjalanan dengan perahu dari Pantai Queensland.

Pulau Pumpkin dikelilingi pantai yang indah. Selain itu, pemiliknya telah melengkapi sejumlah fasilitas untuk menopang kehidupan di tempat terpencil itu, termasuk energi terbarukan, penyulingan air, heli pad, bungalow, dan cottages.    

Pulau yang saat ini dimiliki pasangan Wayne dan Laureth Rumble cocok untuk tempat menyepi selama masa lockdown. Anda dijamin dapat menjalani hidup normal di pantai yang terpencil, privat, dan seolah tak terjangkau virus yang menyerang saluran pernafasan itu, demikian kata pemiliknya seperti disampaikan kepada CNN Travel via email.

Pulau ini dipasarkan dengan harga 25 juta dollar Australia atau sekitar Rp 257 miliar. “Itu pulau terpencil, Anda akan memiliki kebebasan penuh untuk bergerak, berada di luar,…anak-anak bisa bermain tanpa rasa khawatir di taman, di pantai, dan hidup terasa sangat normal di sana…,” kata pasangan itu.  

Selama ini Pulau Pumpkins dikelola sebagai pulau wisata dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sana ada lima pondok pantai mandiri yang dapat menampung hingga 34 tamu. Selain menggunakan angin dan matahari sebagai sumber energi, pulau ini juga dilengkapi dengan fasilitas penyulingan air bersih yang mengubah air hujan menjadi air minum.

Fasilitas lainnya termasuk dua bungalow di tepi laut (yang terdiri atas ruang permainan, perpustakaan, dan lounge), bar serta dua moorings (tampat menambatkan perahu) yang sudah berlisensi. Ada juga landasan helikopter, serta perahu khusus untuk 36 penumpang.

Sekadar flashback: sebelum 1961 Pulau Pumpkin dikenal sebagai tampat peternakan tiram milik Snigger Findlay. Lalu ada pasangan Roger dan Merle Mason yang jatuh cinta pada pulau tersebut dan berminat membelinya.

Sayang Snigger kala itu menolak menjual pulaunya. Konon, Roger kemudian menantang Sniggerr bermain poker sambil berujar jika dia menang maka Snigger harus mau menjual pulau tersebut kepadanya. Ternyata, Roger menang poker dan pulau itu dibelinya dengan harga 60 poundsterling, kata Rumbles, pemiliknya sekarang

Rumbles sendiri membeli pulau itu pada 2003 seharga 1,5 juta dollar Australia atau setara Rp 15 miliar, setelah ia membaca artikel di surat kabar. Pulau itu kemudian ia sewakan kepada perusahaan bir yang berbasis di Queensland antara 2012 hingga 2015. Selanjutnya Pulau Pumpkins digunakan perusahaan untuk mempromosikan bir mereka Castlemaine XXXX yang kemudian berubah nama menjadi XXXX Island.

Selama promosi berlangsung, mereka menyelenggarakan sayembara. Bagi pelanggan yang berhasil menemukan kaleng bir emas dalam wadah bir, mereka akan mendapat tiket liburan di pulau tersebut. Sang pemenang boleh membawa tiga teman lain untuk menikmati liburan ekslusif itu.

Pasangan Wayne dan Laureth Rumble mengatakan alasan menjual pulau tersebut karena mereka berencana pindah ke Selandia Baru untuk lebih dekat dengan keluarga.

“Kami ingin menyerahkan pulau itu kepada seseorang yang punya perhatian sama besar dengan kami untuk merawatnya. Pulau ini adalah tempat istimewa dan ideal. Pemilik baru akan menemukan banyak kegembiraan seperti halnya kami selama ini, karena pulau ini menawarkan keindahan alam menakjubkan.”

Manaree and Bakery Hadirkan Donza, Donat Pizza Ukuran Besar  

this formate

Ayang dengan Donza ukuran 40 cm ( foto: Manaree)

JAKARTA, bisniswisata.co.id- Siapa yang tak kenal dengan Donat dan Pizza. Makanan ini kian digemari masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta. Namun kali ini dalam rangkaian ulang tahun Manaree Bakery and Cake, Rawamangun, Jakarta Timur menghadirkan dua makanan tersebut menjadi satu, yakni Donza (Donat Pizza).

Uniknya jika donat selalu dihadirkan dalam ukuran kecil, Donza Handmade Manaree memiliki dua ukuran besar, yakni 30  cm (Rp280.000) dan 40 cm (Rp330.000). Terdiri dari dua lapisan, yakni topping dan filling.

Donza yang dibuat dengan bahan-bahan halal dan kualitas terbaik ini dipadu dengan teknik pembuatan dari Baker bintang lima. Ada 10 pilihan rasa toping, antara lain tropical fruit, flossy, straberry cheese, classic chocolate, chocolate crunchy, chocolate marshmallow, double cheese mozarella, tuna mayo, beef peperoni, dan daging cincang.

Untuk pemesanan satu Donza ukuran 40 cm, pengunjung akan mendapatkan lima pilihan rasa dari 10 rasa yang ditawarkan. Donza ini cocok sekali buat yang ingin merayakan ulang tahun atau lagi ada acara lainnya, bisa dimakan untuk 20 hingga 25 orang.

“Pada peluncuran Donza, kami memberikan diskon hingga 50%. Dan untuk mendapatkan diskon tersebut sebelumnya follow IG @manaree_bakery dan nyalakan loncengnya biar tahu kapan kita bakal diskon up to 50%,” ujar pemilik Manaree and Cake Bakery, Sari Fatimah Agus atau biasa disapa Ayang.

Voucher diskon pembelian Donza berlaku hingga 31 Juli dan bisa dilihat dengan follow @donzamanaree.  Melihat  pembuatan Donza dengan lima rasa filling dan topping pilihan jatuh pada potongan dengan rasa chocholate marshmallow dan tropical fruit. Hasilnya tidak mengecewakan dan unik tentunya. Mau coba ?

Eksplorasi Eksotisme Alam Gambut di Taman Nasional Zamrud

this formate

Kegiatan ekowisata yang diselenggarakan 
Balai Besar KSDA Riau bersama Bupati dan stakesholder lainnya ( Foto: KSDA Riau) 

PEKANBARU, bisniswisata.co.id: Ekspedisi susur Sungai Rawa di Taman Nasional (TN) Zamrud diselenggarakan secara kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Siak, Balai Besar KSDA Riau, Instansi Vertikal, swasta maupun media

Kegiatan yang berlangsung Sabtu pekan lalu ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Siak terhadap tindak lanjut Nota Kesepahaman Pengembangan Ekowisata di TN Zamrud, yang telah ditandatangani antara Bupati Siak dan Kepala Balai Besar KSDA Riau beberapa waktu yang lalu.

 Kegiatan ekspedisi dilakukan dengan merintis jalan ekowisata yang dimulai dari Kecamatan Sungai Apit menyusuri Sungai Rawa menuju Taman Nasional Zamrud, dengan perjalanan tempuh sekitar 5 jam.  Dalam perjalanannya, disuguhkan eksotisme dan tantangan dalam menuju ke Taman Nasional Zamrud.

Rombongan Bupati Siak bersama Kepala Balai Besar KSDA Riau, memimpin iring iringan susur sungai tersebut dengan sajian pemandangan awal berupa ekosistem mangrove. 

Mengutip laporan Balai Besar KSDA Riau, diungkapkan bahwa tempat ini telah berkembang menjadi ekowisata mangrove yang dikelola kelompok masyarakat setempat. Perjalanan menuju hulu disuguhi dengan pemandangan hutan rawa gambut dengan kekhasan airnya yang berwarna coklat kehitaman.

Taman Nasional Zamrud ebih dikenal dengan nama Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar Danau Bawah. ( Foto: KSDARiau)

Saat memasuki kawasan TN Zamrud, kita akan melihat beberapa tegakan Meranti yang berdiri kokoh menjulang dengan aktivitas berbagai jenis primata dan aves. Tantangan yang cukup menarik, yaitu menembus vegetasi bakung yang rapat dan tinggi.

Pada saat istirahat siang, rombongan berkesempatan untuk mengunjungi plot keramba ikan kelompok tani nelayan hutan Danau Zamrud yang merupakan wujud kerjasama kemitraan konservasi di TN Zamrud.

Di Akhir perjalanan, rombongan menuju Danau Bawah dan Danau Pulau Besar yang menjadi ikon TN Zamrud. Bupati Siak sangat terkesan dengan potensi taman nasional, dan secara kolaboratif bersama Balai Besar KSDA Riau akan intensif dalam pengembangan ekowisata yang menjadi destinasi baru di Kabupaten Siak.

Taman Nasional (TN) Zamrud secara administratif berada di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kawasan ini sebelum ditetapkan menjadi taman nasional merupakan kawasan suaka margasatwa.

Lebih dikenal dengan nama Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar Danau Bawah yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan luas 28.237,95 ha.  

Perubahan fungsi dan perluasan dari SM Danau Pulau Besar Bawah menjadi TN Zamrud diusulkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Siak pada tahun 2005 dengan surat Bupati Kabupaten Siak No. 364/Dishut/205/2005 tanggal 9 Juni 2005. 

Menurut pemda Kabupaten Siak hal ini dilakukan dengan pertimbangan nantinya ada pembagian zonasi yang diantaranya zona pemanfaatan, zona ini diperuntukkan sebagai tempat penelitian, pendidikan, pariwisata dan pemanfaatan lainnya.

Pada tanggal 4 Mei 2016 melalui surat keputusan Menteri LHKNo.350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016, menetapkan perubahan fungsi SM Danau Pulau Besar Danau Bawah serta kawasan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap menjadi TN Zamrud di Kabupaten Siak Provinsi Riau seluas 31.480 ha.

Luas kawasan tersebut berasal dari SM Danau Pulau Besar Danau Bawah dengan luas 28.238 ha dan kawasan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap dengan luas   3.242 ha.

Potensi flora dan faunanya beragam dan untuk flora ada bengku (Ganua motleyana), durian burung (Durio carinatus), punak (Tetramerista glabra), jangkang (Xylopia malayana), kolakok (Melanorrhoea sp.), pisang-pisang (Gonithalamus sp.), ramin (Gonystylus bancanus), dan jenis lainnya dari Suku Dipterocarpaceae atau disebut meranti-merantian.

Sementara untuk faunanya ada bubut, burung hantu, elang, enggang, kutilang, layang – layang, mura, punai, rangkong gading, rangkong papan, serindit, srigunting, tekukur dan kucica kampung.

Binatang lainnya di Taman Nasuinal Zamryd adalah beruang Madu, mamalis, beruk,harimau Sumatera, kancil, tapir, kucing hutan,kijang,landak, monyet ekor panjang, siamang, biawak, ungko (Presbytis thomasi), trenggiling, simpak dan babi. Nah tertantang untuk menjumpai mereka di hutan ?

 

Identix Batik, Cara Irma Susanti Berbisnis Dengan Nilai Ibadah

this formate

Irma Susanti ( tengah) , pendiri Identix Batik Tulis Indonesia tengah mengajarkan murid SMK di Jakarta proses pewarnaan batik.( Foto: Dok.Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Batik punya kekuatan budaya. Hal inilah yang bisa dijual sekaligus melestarikan. Peluang bisnis yang besar ini, oleh Irma Susanti dipadukan dengan tekhnologi dan dibuat secara custom hingga sukses membawa batik tulis karya budaya Indonesia makin terkenal dimata dunia.

Memakai batik custom yang dibuat khusus satu desain hanya untuk satu produk bukan hal yang mudah karena dipasaran justru pengusaha lokal bahkan dari China memproduksi satu desain menjadi ribuan pieces. Tentu saja orientasi bisnis adalah mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.

Di tengah maraknya fashion ready to wear, langkah yang dilakukan oleh Irma Susanti membutuhkan kekuatan spiritual dan keyakinan bahwa niat memuliakan batik sebagai warisan Dunia budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO harus terus dilestarikan.

UNESCO, organisasi di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa  dan bermarkas di pusat mode dunia di Paris pada tanggal 2 Oktober 2009 menetapkan hari penting bagi kebudayaan Indonesia, terutama batik. Sebab, pada hari itulah batik diakui sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Batik  diakui sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity). Bagi seorang Irma Susanti  merupakan pengakuan yang sangat dasyat dan bermakna. 

Sejak itulah kegelisahannya menjadi pegawai terusik. Padahal pekerjaan terakhirnya di perusahaan otomotif tergolong cemerlang. Keinginannya membuka usaha sendiri dan menjadi pengusaha mulai diasah meskipun tetap belum mampu diwujudkan.

Wanita saleha ini dari awal pilihannya sudah jelas bahwa melestarikan batik jauh lebih penting dari pada hanya mengejar kesenangan dunia berupa uang dan keuntungan. Agaknya dia meyakini bisnis yang akan dijalaninya ini adalah bentuk ibadah.

Di temui saat mengikuti pelatihan  Emosional Spiritual Quotion ( ESQ) pimpinan Ary Ginanjar Agustian, di Menara 165 bersama ratusan peserta lainnya tahun 2018, Irma Susanti mengikuti pelatihan selama tiga hari itu dengan penuh senyum.

Penampilan wanita yang saat itu belum lama berhijab dan  memadukan celana jeans plus batik sudah memikat sehingga banyak sesama peserta yang ingin berfoto bersamanya. Mungkin inner beauty dan aura positifnya yang menjadi penyebab.

Setelah pelatihan spiritual itu, disadari atau tidak, terutama dari jejak digitalnya di media online Irma Susanti makin mantap melakukan modifikasi dan membuat batik menjadi busana yang nyaman, tidak terlalu kaku dan formal. Batik diharapkannya bisa dipakai di berbagai acara. 

“Tujuannya membuat semua orang bangga mengenakan batik yang merupakan warisan dunia asli Indonesia,” tambahnya. Bahkan batik modern yang ia buat, dimodifikasi dengan kain lainnya. Misalnya songket, lurik hingga torso selain juga dipadukan dengan bahan katun khusus untuk acara santai,” kata perempuan kelahiran Pati, 17 Februari 1989 ini.

Mengusung brand IDENTIX Batik Tulis Indonesia dan membuka butik di Jalan Raya Muntal Kota Semarang, Jawa Tengah 50232, Produk yang dibuat dan memiliki ciri khas tersendiri ini sudah tersebar ke mancanegara.

Hijrah dari seorang pegawai menjadi entrepreneur, hijrah untuk berhijab dan mengikuti gaya hidup sesuai ajaran Islam membuat usahanya yang berdiri sejak April 2018 di Semarang kini  telah berhasil menembus berbagai negara di dunia.

Dalam usia dua tahun tiga bulan usaha yang dirintisnya sudah mendunia. Keyakinan bahwa melestarikan memiliki nilai ibadah yang tinggi terbukti. Begitu pula konsep custom agar motifnya tidak sama dengan motif di butik-butik batik lain. Pilihan nama brand juga secara tegas Irma menempatkan batik sebagai identitas karakter pemakainya.

“Saya pilih batik tulis karena dalam satu kali pembuatannya tak akan bisa diulang kembali, itulah kuatnya karakter batik tulis dibanding batik cap,” terang ibu muda yang juga jebolan Nanyang University Singapura Jurusan Arts and Design ini.

Sebagai generasi milenial yang mau terjun ke bisnis batik tulis, Irma awalnya sudah menjual via e-commerce dan online agar dilihat seluruh dunia.  “Alhamdulilah, banyak customer dari Singapura, Spanyol, China, Turki, Jepang, berminat karena desainnya berkarakter dan jenis batik tulis custom,” katanya.

Koleksi batik Identix Batik Rukis Indonesia dipamerkan ke mancanegara.
Irma ( kiri) bersama tim yang didominasi kaum hawa

Mendunianya batik tulis custom rupanya didengar pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Inggris di London. Gayung bersambut, Identik Batix diajak pentas bareng fashion show di Potters Fields Park London Inggris dalam gelaran Indonesian Weekend, pada 8 – 9 September 2018.

Dia  menampilkan 12 koleksi batik tulis custom dan selama di London, lewat KBRI juga, Irma Susanti diberi kesempatan untuk menularkan dan mengenalkan ilmu batik tulis di Universitas Oxford London, termasuk promosi beberapa merchandise batik Indonesia.

Irma mengaku, karya desain motif batiknya sudah ribuan dan sudah dipatenkan agar tidak ditiru, motif ada dari seluruh kekayaan lokal di Indonesia ditambah koleksi motif dari beberapa negara.

Tak puas batik sebagai fashion cuma jadi raja kandang, berbekal ilmu bangku perkuliahan, sosiologi dan antropologi, Irma Susanti mempelajari budaya dan karakter kuat negara yang akan menjadi tujuan pasar internasionalnya.

“Kebetulan saya suka travelling, tiap nemu ide saya tuangkan dalam desain. Di Jepang dan Turki sudah terkumpul beberapa motif lokal kegemaran masyarakatnya,” paparnya.

Sebagai test market, Irma Susanti membuat motif lokal beberapa negara tersebut. Dia produksi batik tulis customnya lalu di jual di dunia maya dan sambutannya ternyata luar biasa.

“Konsumen di Jepang suka dengan motif Jepang yang saya ambil dari filosofi kimono. Hal yang sana dilakukannya untuk pasar Turki sehingga line product bervariasi ada kombinasi batik, hijab, art, dan mereka ternyata tak suka warna ramai, ungkapnya 

Tak heran di WA statusnya kini Irma kerap mengunggah saat timnya di workshopnya  tengah bekerja di depan komputer, asyik membuat desain sesuai arahannya. Lain waktu dia mengunggah puluhan kotak masuk ke atas mobil box untuk di kirim ekspedisi memenuhi pernintaan ke berbagai wilayah di Indonesia maupun mancanegara.

Bidikan lensanya juga membuat para staff butik dan tamu-tamu termasuk diaspora Indonesia di mancanegara yang tengah pulang kampung mencari batik-batik tulis jadi tersipu-sipu saat memilih kemeja-kemeja batik.

Saat ini pangsa ekspornya menembus 40 persen market share-nya, seperti ke Turki, Jepang, Singapura, London dan beberapa negara Eropa. “Sehari bisa kirim 70 pax ke luar negeri, kalau corporate dan lokal bisa ribuan pax,” ujar Alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Soal harga, Irma menyasar kelas premium seharga untuk kain-kain batik tulisnya berkisar Rp 500.000 – Rp 15 juta per lembar. Dia memang spesialis produsen dengan kualitas terbaik dan ke depan bukan hanya batik.

Jika dimasa pandemi global COVID-19 banyak ajakan untuk membeli produk teman sendiri, bagi Irma sejak mulai berbisnis juga konsep ini sudah diterapkannya. Membeli dan memberdayakan sesama perajin dan pengusaha batik.

“Bagi saya, yang terpenting bisa menjadi jembatan para seniman batik di daerah-daerah untuk menyuguhkan kesenian tangan mereka agar diakui dunia. Dengan demikian mereka akan semakin menghargai karya mereka sendiri dan terpantik untuk semakin membawa batik mendunia ke negara-negara lain yang belum kami kunjungi. ” 

Jangan khawatir, alumni training ESQ sudah mencapai 1,7 juta orang dan tersebar di berbagai dunia. Kalau alumni punya komitmen beli produk teman sendiri, Insyaa Allah jadi rejeki yang mengalir. Bukan begitu Irma ?

Baru menuangkan niat luhur dan kiprah Irma sebagai seorang entrepreneur saja ternyata butuh sejumlah halaman,  belum lagi menyentuh soal leadership ESQ yang sudah dipelajari serta perannya  sebagai istri dan ibu seorang anak. 

Menulis sosok wanita cantik ini memang tidak ada habisnya, yuk kita doakan keinginannya selalu membantu orang lain dan berbuat kebaikan yang mendatangkan berkah bagi Identix Batik. Aamiin

 

Sapta Nirwandar: Halal Tourism Itu Bukan Persoalan Agama an sich 

this formate

Sapta Nirwandar saat berangkat mengikuti pertemuan Rusia-Islamic World tahun lalu. ( Foto: Dok. Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa menjadi pusat ekonomi syariah. Nyatanya, ekonomi berbasis syariah masih belum banyak kiprahnya sebagai pendorong ekonomi nasional. 

Sebut saja di sektor pariwisata: sejauh ini kita masih tertinggal dibandingkan misalnya Thailand dan negara-negara di Asia atau Eropa dimana Islam bukanlah agama mayoritas mereka.

Padahal menurut kajian Bank Indonesia (BI), pada 2018 ada 140 juta wisatawan muslim di dunia dengan belanja online sebesar US$ 35 miliar. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi 158 juta orang tahun ini. Prediksi ini dibuat sebelum pandemi COVID-19. Angkanya pasti akan menurun karena banyak negara memberlakukan aturan lockdown dan penerbangan pun dibatasi.

Hingga 2017, Indonesia belum tercatat sebagai salah satu negara tujuan wisata halal. Menurut laporan Global Islamic Economy Report 2018/19 (Laporan kerja sama antara Thomson Reuters dan Dinar Standard), negara Islam yang menjadi tujuan wisata halal di 2017 adalah Arab Saudi, Turki, Malaysia, Uni Emirat Arab dan Bahrain. Sementara di kategori negara non Islam, tujuan wisata halal adalah Rusia, Spanyol, Prancis, Thailand dan Singapura.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengapa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia belum mampu menggenjot potensi sektor pariwisata  halal, berikut wawancara Rin Hindryati dengan Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre.

Sejak kapan Anda mulai bersentuhan dengan halal tourism? 

Pada 2009-2011 saya diundang ke Dubai sebagai pembicara untuk subjek yang baru, yakni wisata syariah atau halal tourism. Berikutnya, saya diundang lagi ke Dubai pada 2012 di sebuah plenary session yang pertama. Topiknya masih mengenai halal. Sejak itulah saya mulai mendalami. Ternyata, menurut saya subyek ini sangat promising. Kan kita mayoritas. 

Saat itu, bagaimana animo di Indonesia untuk mengembangkan wisata halal?

Belum tinggi. Seingat saya yang termasuk awal mengusung kata syariah itu Hotel Sofyan. Dia itu hotel syariah yang masih kecil. Jadi belum ada istilahnya pariwisata atau kepariwisataan yang berbasis kepada dunia Islam. Belum. Setelah acara di Dubai itulah baru kita mulai promosikan halal industri.

Awalnya, masih ada skeptisisme yang tinggi. Oleh sebab itu, pada 2012, saat itu saya masih di sektor pariwisata Sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011-2014) menyelenggarakan Focus Groupd Discussion (FGD) tentang apa sih yang paling tepat judulnya mengenai tourism yang berkaitan dengan dunia Islam.

Kala itu saya mengundang hampir semua stakeholders termasuk dari kalangan muslim: Muhammadiyah dan NU, akademisi dan praktisi. Itu berapa kali FGD. Tetap gak ada yang berani menyebutkan. Akhirnya ada yang menyebut friendly tourism, halal traveling, wisata halal dst. 

Ada juga yang mengusulkan, paling gampang mengikuti gayanya bank. Makanya ada kita sebut dengan wisata syariah. Wisata syariah itu yang awalnya. Kyai H. Ma’ruf Amin (sekarang wakil presiden) saat itu juga ikut memberikan saran tersebut.

Jadi pada waktu itu masih ragu ya? 

Masih. Pada 2014, kita bikin FGD sekali lagi. Menterinya sudah baru, Pak Arief Yahya. Saya yang buatkan FGD-nya. Akhirnya teman-teman sepakat yang lebih cocok kita pakai istilah halal tourism industry. Mengapa? Karena kata halal itu (konotasinya. Red) lebih gampang, dibandingin dengan Syari’i. 

Jadi kita start dari situ. Di kantor juga kami membuat edukasi. Itu sebabnya dulu ada Keputusan Menteri yang membuat kategori, apa yang disebut dengan Hotel halal atau hotel yang berdimensi muslim. Kategori satu, misalnya: ada disediakan sajadah dan kiblat direction di setiap kamar. Sebenarnya sih itu sudah hampir semua hotel ada. Sudah lama termasuk Hotel Marriot. 

Kategori kedua, soal ketersediaan makanan. Di hotel itu, tidak ada makanan haram, babi. Sedangkan level lebih tinggi di kategori ketiga, di sana tidak ada minuman beralkohol, juga tidak ada hiburan yang seronok. 

Sebenarnya untuk kriteria satu dan dua, sudah banyak hotel yang memenuhi. Nah sekarang ini trend-nya termasuk juga pengalaman saya beberapa kali sering ke Kuala Lumpur, seperti Hotel Mandarin pun, di restorannya, mereka tidak lagi menyediakan babi. 

Mengapa? Karena lebih memudahkan dapat klien, daripada hanya dapat klien satu. Kalau tidak ada makanan haram, merekakan dapat dua-duanya. Umumnya, bagi non muslim, hal itu kan gak masalah. Sedangkan kalau buat muslim, mereka tidak akan makan kalau haram. 

Nah ini yang saya perhatikan, terus berkembang dari sisi makanan. Makanya di Bangkok tumbuh restoran-restoran halal.

Ketika Keputusan Menteri ini diperkenalkan, ada impact-nya?

Impact-nya banyak. Diam-diam pelaku industri perhotelah mulai ngikut yah. Level 1-2 kan hampir semua sudah mengikuti. You kalau masuk ke Marriot, masuk ke Sheraton Hotel , itu semua tersedia. Bahkan sekarang mallmall pun mulai menyediakan musholla. Di mall Casablanca, itu luxurios tempat sholatnya. Itu fasilitas. 

Makanya itu saya bilang halal tourism itu bukan persoalan agama an sich (bukan agama saja). Tapi juga masalah extended services, yakni pelayanan bagi yang mau melakukan. Contohnya aja kalau Budha. Itu biasanya dia vegetarian. Nah sekarang kalau kita naik pesawat, ada yang menawarkan spesial food, khusus untuk yang vegetarian. Kan itu service. Kita gak bisa paksa mereka makan sapi. Orang dia maunya sayur. 

Nah, sama aja itu di industri pariwisata halal. Nah makanya sekarang sudah mulai berkembang di Bali ada Rhadana Kuta Balu. Hotel ini menyabet gelar juara sebagai Best Halal Boutique Hotel in Asia atau Hotel Butik Halal Terbaik di Asia dalam ajang Asia Halal Brand Awards (AHBA) 2017), di  Bandung banyak hotel syariah. Di Solo ada 4 hotel besar kalau gak salah. di Jakarta, ada tadi hotel Sofyan, di Bandung, bahkan di Banyuwangi ada banyak.

Jadi kala itu label syariah masih diangap sensitif untuk disematkan pada sektor pariwisata?

Di sektor pariwisata, memang awalnya agak-agak sensitif. Sensitifnya apa? Karena orang akan berpikir, ini jangan-jangan menyangkut aturan kehidupan, misalnya, hotel. Jika hendak check-in akan ditanyain KTP, dsbnya. 

Kekhawatiran itu memang betul. Tetapi, kita bisa memulainya dengan yang lebih edukatif. Islam adalah agama yang damai, yang tidak mempersulit. Singkatnya, kemudian saya terpikir: mengapa tidak diterapkan juga untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, terutama yang paling sensitif makanan (food). Lalu, pakaian. Jadi, sandang dan pangan. Selanjutnya yang berkaitan dengan lifestyle, seperti kosmetik, perbankan, dan tentunya sektor pariwisata. 

Menurut Pak Sapta, mengapa kala itu masih ada keraguan untuk menawarkan produk-produk berlabel halal atau syariah, padahal kita kan negara muslim terbesar di dunia? 

Ada 2 aspek. Pertama, mungkin karena halal atau syariah itu dianggap lumrah aja. Jadi, nggak perlu terlalu secara eksesif diurus. Ya, udah biasa aja. Misalnya, ada restoran orang Jawa bersih dan rapi, maka kita anggap udah pastilah itu halal. Kedua, masih ada fenomena seperti ketakutan atau fobi. Di awal-awal itu ada pertanyaan, apakah dari segi bisnis dengan model seperti itu, bakal laku. 

Hal itu memang wajar-wajar aja. Bayangin aja ada hotel halal, syariah. Nanti siapa yang mau masuk? Takut? Nanti gak bisa ini, itu. Tapi sebetulnya ketakutan itu tidak terbukti karena di dunia internasional termasuk tempat yang paling gawat aja, seperti Phuket, mereka ada hotel halal. Di Phuket itu ibarat kata orang antara sajadah sama haram jadah, beda tipis. Bahkan di Phuket Pat Ada hotel syariah yang lokasinya bahkan sebelahan. Konsumen tinggal memilih. 

Bahkan di Pattaya, itu udah ada hotel syariah. Kalau di Turki, pasti banyak. Di Bangkok, saya pernah menginap di Al Meroz, leading hotel halal di Bangkok. Itu laku sekali. Hotel syariah pertama di Bangkok ini dibangun oleh TS Family Group. 

Taktanggung-tanggung,mereka menginvestasikan dana senilai 1 miliar Baht untuk membangun hotel berklasifikasi bintang empat ini. Kalau masih ragu, ternyata di sejumlah negara hotel syariah bisa laku. Ternyata banyak juga tamunya.

Nah, Keputusan Menteri itu kan regulasi untuk pengelola hotel, bagaimana dengan calon tamu yang mau menginap? 

Nah itu yang dulu kontroversi. Menurut saya sih, aturan itu bisa perlu bisa tidak. Kenapa? Karena itu kesadaran dari masyarakat sendiri. Artinya, kalau sudah masuk ke hotel syariah yang seperti itu, mestinya dia gak bisa seleluasa kalau menginap di hotel umum. Jadi tahu dirilah, itu satu. 

Yang kedua, tentunya hotel-hotel itu tidak menyediakan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah. Itu yang paling utama. Nah sekarang hotel yang di Bangkok yang saya pernah nginap, ternyata banyak juga yang non muslim tinggaldisitu. Terutama keluarga-keluarga yang juga butuh calm atmosphere, yang gak mau hingar-bingar, yang gak mau alkohol atau minuman keras. 

Belakangan ini negara seperti Korea Selatan dan Jepang juga mulai menggarap pasar wisata halal dan Sukses.

Nah gini. Muslim travelling itu kini dilihat sebagai satu pasar besar, bisa mencapai billion dollar. Bukan kecil. Sayangnya, kita baru menerima porsi relatif sangat relatif, dibandingin pihak lain. Nah itu tentunya punya dampak kepada para penyedia jasa layanan pariwisata. 

Negara mana saja yang besar meraup halal tourism. Pertama, Thailand. Thailand itu visitornya lebih banyak daripada kita. Dia ada 5 jutaan yang disebut muslim travelling atau traveler. Mengapa? Karena mereka akomodatif. Apalagi soal makanan yang sangat sensitif, mereka menyediakan banyak restoran halal, dan secara online kita bisa tahu dimana saja. 

Nah Korea juga gak mau kalah. Visitor muslim juga cukup besar dari Indonesia, Brunei, dari Asia, dan tentunya dari Timur-Tengah. Makanya mereka me-launch pada 2016-2017 150 restoran di Seoul yang bisa diklik online yang menyediakan makanan halal. 

Di Malaysia, hampir semua hotel besar franchising sudah menerapkan standar halal. Mengapa? Karena masyarakatnya sudah semakin peduli. Mereka kalau tidak ada jaminan halal, gak mau masuk, gak mau makan. Rugi, jadinya. 

Di Singapura, termasuk kuat literasinya. Jumlah warga muslimnya hanya 800 ribu orang, tapi 700-750 ribu orang itu sadar bahwa dia harus makan sesuai dengan ajaran-Nya. 

Umpamanya Deli Franc’s Bakery, itu kan franchise dari Perancis, atau Restoran Mcd. Nah si McD dengan sadar, harus bikin jadi halal. Kenapa? Kalau gak maka yang 750 ribu pelanggan ini gak mau makan. Mereka akan makan di tempat lain. 

Oleh karena itu menurut saya, halal bukan hanya sekadar aturan agama bagi pemeluknya, tapi juga buat juga si pebisnis, karena ini pasar yang gede. 

Kembali ke Indonesia, captive market-nya besar tapi kompetisi globalnya juga tinggi ?

Dari report kita, Indonesia itu tidak hanya market sasaran, target market, tetapi juga produsen terbesar. Cuma masalahnya tadi itu perlu ada sertifikasi, perlu ada pembenaran bahwa itu memang totally halal. Nah ini yang jadi masalah. 

Sejauh ini bagaimana?

Ya, itu masalahnya, karena masih ada yang berpendapat ini high cost.  

Itu ibaratnya kalau kita bicara soal lingkungan. Lingkungan itu bisa menjadi mahal, kalau kita tidak menciptakan rantai produksi yang kondusif dari awal sampai ujung. Jadi, apakah perlu keberpihakkan? Yes. Kebijakan itu untuk memberikan juga dorongan paling tidak, aturannya apa sih? Perlu ada aturan yang menjamin bahwa produk itu halal, apakah lewat sertifikat? Kalau iya, itu harus betul-betul diterapkan, bukan hanya tempelan ‘halal’.

Kedua, produknya harus berkualitas sehingga masyarakat akan cari yang berkualitas di samping halal. 

Dalam beberapa tahun terakhir, ada trend banyak orang mulai hijrah. Mereka cenderung mengonsumsi produk yang halal.

Tapi saya yakin nanti, diantara produk yang halal itu juga akan terjadi kompetisi. Jadi orang akan mencari, pertama produknya halal, kedua, juga berkualitas. 

Nah itu satu. Tantangan kedua, kita juga berkompetisi dengan produk halal dari luar negeri. Kalau you halal, produk dari luar juga oke. Nah kan bisa bersaing juga nnati. 

Jadi harus ada kedua-duanya. Contoh hijab. Hijab itu halal, tapi harga yang bahan bakunya dari Turki ternyata lebih murah dibanding bahan bakunya dari Indonesia sendiri. Atau dari China. Buktinya sekarang sajadah aja udah bikinan dari China.  Jadi tetap ada unsur ini rasionalitas. 

 

“Site Inspection”, Rancang Wisata Aman dari COVID-19

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: Mengikapisurat edaran Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru. Dan pembukaan Bali dari sejumlah keterbatasan gerak tahap pertama per 9 Juli, sebanyak  35 pengurus DPD ASITA Bali dan anggota site inspection ke lapangan.

Selain melihat praktik dan kesiapan pengelola objek wisata dalam tatanan kehidupan dan berwisata pola baru. Juga mempersiapkan anggota merancang paket- paket berlibur sesuai minat pasar nusantara yang hendak digarap.

“Tatacara menghandel pasar lokal ini sebagai ujicoba, sekaligus dasar untuk menggarap pasar wisatawan nusantara yang hendak dibuka pada tahap ke dua 31 Juli,” jelas Ketua DPD ASITA Bali, Ketut Ardana.

Tahap awal dengan 35 orang pengurus dan anggota ASITA melakukan site inspection ke objek wisata di wilayah Kabupaten Badung, Taman Ayun, DTW Sangeh dan DTW di wilayah Kabupaten Tabanan, Jatiluwih, Tanah Lot. Objek- objek popular pilihan wisatawan baik wisatawan lokal, nusantara mau pun asing.

Secara umum protokol kesehatan telah dilaksanakan pengelola objek, ketersediaan fasilitas yang diperlukan di lapangan, termasuk tanda- tanda (sinage) meski pun dalam bentuk sangat sederhana sesuai kemampuan pengelola. Menurut sejumlah anggota ASITA, penyempurnaan praktik lapangan dan ketersediaan fasilitas dilakukan dalam ujicoba melayani pengunjung yang sudah mulai melakukan kunjungan.

Misal membiasakan petugas dengan kelengkapan APD nya saat melayani tamu, tidak canggung. Hal keharusan melakukan disinfektasi kawasan, sebaiknya kapan dan dalam periode berapa waktu dilakukan? Pasalnya, jika penyemprotan dilakukan saat ada pengunjung, tentu sangat menganggu pernapasan pengunjung. Bagaimana dengan pengunjung yang alergi dengan bahan desinfektan tersebut? Jumlah dan penempatan fasilitas cuci tangan, aliran limbah dan pengolahannya.

Tanda antrian yang sering kurang diperhatikan, petugas harus lebih tegas.

Konsistensi petugas pendamping, guide di objek kunjungan melakukan pengawasan physical distancing antar pengunjung baik saat antri masuk dan diukur suhu tubuh, saat cuci tangan atau pun saat menyimak penjelasan guide tentang objek.

Bagaimana dengan fasilitas digitalisasi reservasi, terkait jumlah pengunjung yang selayaknya berada di areal dalam satu waktu. Termasuk penggunaan fasilitas tempat duduk di restoran, digitalisasi order makanan, sehingga waktu lebih efektif dan efisien baik bagi pengelola mau pun pengunjung.

“Penyempurnaan praktik di lapangan perlu didampingi pihak- pihak terkait. Pelatihannya ditambah dan intens melakukan ujicoba serta evaluasi,” papar Ketut Ardana.

Up- Date Informasi

Diberlakukannya tahap pertama pembukaan terbatas sektor kehidupan sosial di Bali dan mempersiapkan pelaksanaan tahap ke dua, anggota ASITA Bali perlu melakukan penyesuaian paket- paket wisata bagi wisatawan nusantara.

Pengelola objek, ungkap Ketua ASITA Bali perlu memperbarui informasi objeknya kepada anggota ASITA. “Duduk bareng merancang paket- paket sesuai pergeseran minat pasar dan protokol kesehatan wisata yang baru. Wisata aman COVID,” jelasnya lebih lanjut.

Pembaruan info untuk pasar diperlukan anggota ASITA

Dari hasil kunjungan lapangan ke objek- objek tersebut ASITA berkeyakinan objek sudah layak dibuka bagi wisatawan nusantara tidak hanya untuk masyarakat lokal di Bali. Dengan catatan ada komitmen dari pengelola untuk menyempurnakan layanannya, membiasakan staff melaksanakan protokol yang telah ditetapkan. Didukung pengawasan ketat dari Tim Satgas Gotong Royong yang telah dibentuk dan ditugaskan di objek- objek kunjungan wisata.

Selain mengunjungi objek wisata di Badung dan Tabanan, ASITA juga merencanakan site inspection ke objek wisata dan UMKM di wilayah Gianyar, Klungkung,Karangasem dan Bangli.

Tiga Tahapan

Pandemi COVID-19 memang selayaknya dimaknai secara positif sebagai proses alam. Dari situasi negatif-berbahaya untuk mencapai kondisi di titik nadir sebagai fondasi menuju suatu keseimbangan baru dan menjadi tatanan kehidupan baru secara holistik.

Bagi masyarakat Bali yang Hindu, munculnya wabah penyakit merupakan penanda adanya ketidakharmonisan, ketidak-seimbangan alam beserta isinya pada tingkatan berbahaya akibat ulah manusia. Berkehidupan yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasar nilai-nilai kearifan lokal: bahwa hidup harus menyatu dengan alam, yaitu: manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi.

“ Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam,” ungkap Gubernur Bali Wayan Koster dalam satu upacara di Pura Besakih.

Upaya agar tidak terpuruk dititik nadir, telah dilakukan pemerintah yang perlu dukungan masyarakat di Bali. Pasalnya, pandemi adalah tanggungjawab semua pihak dan kuncinya ada pada tingkat kedisiplinan masyarakat.

 Menurut Gubernur, pandemi COVID-19 di Bali telah menimbulkan dampak luas baik disektor kesehatan, sosial, dan ekonomi termasuk pariwisata. Masyarakat tidak dapat melaksanakan aktivitas secara normal; bekerja dari rumah, belajar dari rumah, berdoa di rumah, tidak boleh berkerumun, dan berbagai pembatasan aktivitas lainnya di luar rumah.

“Dilakukan upaya terbaik untuk menangani COVID-19, seraya mulai melakukan aktivitas kehidupan, secara bertahap, selektif, dan terbatas. Dengan melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru untuk Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19, sesuai perhitungan hari baik dalam kalender tradisi Bali, ” tegas Wayan Koster.

Tahapannya meliputi: pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari Kamis Umanis Sinta. Sesuai arahan Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19, pelaksanaan tatanan kehidupan era baru, yang diijinkan terbatas hanya pada sektor: a) kesehatan; b) kantor Pemerintahan; c) adat dan agama; d) keuangan, perindustrian, perdagangan, logistik, transportasi, koperasi, UMKM, pasar tradisional, pasar modern, restoran, dan warung; e) pertanian, perkebunan, kelautan/perikanan, dan peternakan; dan f) jasa dan konstruksi. Sedangkan untuk Sektor Pendidikan dan Sektor Pariwisata belum diberlakukan.

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas secara lebih luas, termasuk sektor pariwisata, namun hanya terbatas untuk wisatawan nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020 yang bertepatan dengan hari Jumat, Pon, Kulantir.

Tahap ketiga, melaksanakan aktivitas secara lebih luas sektor pariwisata termasuk untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020 yang bertepatan hari Jumat,  Kliwon, Sungsang, Sugihan Bali; kurun waktu 42 hari (abulan pitung dina) dari tahap kedua tanggal 31 Juli 2020. ***

Perlu Pendampingan, 479 Desa Wisata Segera Dibuka

this formate

SURABAYA, bisniswisata.co.id; Anggota Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi), menunggu rekomendasi pemerintah daerah untuk membuka layanan berwisata ke desa. Selain legalitas, anggota juga memerlukan pendampingan dalam penerapatan tatanan kenormalan baru pandemic COVID-19. Pasalnya, desa wisata (dewi) anggota Asidewi menggunakan standar protokol kesehatan sesuai pemahaman dan kebutuhan lapangan di desa masing- masing.

Demikian ditegaskan Ketua Asidewi Andi Yuwono dalam webinar Kadin Jatim bertajuk “Industri Pariwisata Jatim Menuju Tatanan Baru Ekonomi”. Dijelaskan bahwa pandemic COVID-19 memberi hikmah bagi pengembangan wisata ke desa- desa, kembali ke gaya hidup di tanah kelahiran masing2 masing orang. Wisata ke desa adalah upaya merayakan kehidupan desa.

Pandemi mengubah mindset berwisata masyarakat yang sebelumnya mewah, mahal, gemerlap. Menjadi wisata mengenali lingkungan sekitar lebih dalam, respek kelokalan akibat upaya melindungi kawasan dengan memberlakukan pembatasan- pembatasan sosial. Jika sebelumnya masyarakat desa hanya berprofesi sebagai produsen produk pertanian, peternakan di desa, masuknya usaha wisata menjadikan mereka ambil bagian pada dunia jasa tanpa meninggalkan keseharian mereka.

Keputusan pemerintah provinsi Jawa Timur membuka desa wisata  mendapat tanggapan positip anggota Asidewi. “Dan sangat siap untuk menerima wisatawan, seperti pengelola dewi  Tamansari di Banyuwangi, ” paparnya. Diakuinya Pemkab Banyuwangi relatif lebih aktif mendampingi anggota Asidewi di wilayahnya dengan melakukan simulasi dan ujicoba lapangan.

Selain Dewi Tamansari ada Dewi Tulungrejo, Situbondo, Kampung Wanasalam di Blitar, yang jelas lebih dari 1000 desa wisata anggota Asidewi baik yang di wilayah Jawa Timur mau pun di luar P Jawa, siap membuka pintu bagi wisatawan nusantara. Siap menjawab kebutuhan wisatawan akan keamanan, kenyamanan dan keselamatan dari penularan COVID-19.

Tidak hanya layanan yang berkualitas, produk atraksi serta kelengkapannya pun lebih baik jika dibandingkan sebelum pandemi. Atraksi, aktivitas lebih banyak di area terbuka, dominan ke edukasi lingkungan, sosial budaya, kuliner nya pun yang sehat, organik dan segar dari kebun setempat, jelas Andi Yuwono.

479 Desa Wisata

Dikutip dari website Pemprov. Jatim, bahwa sebanyak 479 desa wisata di Jawa Timur dipersiapkan untuk dibuka kembali di tengah pandemi COVID-19, dengan mempersiapkan penerapan tatanan kenormalan baru. Desa wisata diharapkan menjadi pengungkit ekonomi berbasis masyarakat dengan kearifan lokal.

 “Kita akan memberikan support khususnya dalam hal penegakan protokol kesehatannya. Kita kirimkan thermal gun, face shield dan masker untuk petugas yang berjaga, dan juga fasilitas seperti sarana untuk mencuci tangan,” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya

Pengiriman bantuan tersebut dikoordinasikan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jatim dan juga Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim.

Bukit Nirwana

Gubernur Jawa Timur telah mengeluarkan SE Gubernur Nomor : 650/28404/118.1/2020, perihal tatanan kenormalan baru sektor pariwisata Jatim dan ditindaklanjuti dengan SK Kadisbudpar Jatim Nomor 556/199/1185/2020, Tentang Petunjuk Teknis SOP Protokol Kesehatan di Lingkungan Usaha Pariwisata.

Dua surat tersebut diharapkan turut diterapkan di desa wisata, seperti penegakan protokol kesehatan wajib mengenakan masker baik pengelola dan pengunjung, adanya batasan pengunjung 50 persen dari kapasitas total destinasi wisata, penerapn physical distancing, hingga pengaturan arus keluar masuk pengunjung di destinasi wisata.

“Ada tim verifikasi kelayakan pembukaan destinasi yang terdiri dari gugus tugas, Pemkab/Pemkot dan juga Pemprov. Pemkab/Pemkot yang memberikan izin boleh tidaknya destinasi wisata itu dibuka, dengan tetap ada supervisi dari Pemprov.  Parameternya adalah kesiapan penerapan protokol kesehatan,” tegas Khofifah.***

Segera Dibuka! Hotel Mewah di Atas Jembatan Kereta Api

this formate

Hotel Mewah di atas jembatan kereta api (foto: the manual)

TAMAN NASIONAL KRUGER, bisniswisata.co.id: Pandemi CIVID-19 telah mendorong banyak hotel mewah di Afrika Selatan menunda untuk kembali buka. Meski demikan ada beberapa hotel baru yang justru berencana beroperasi mulai tahun ini. Salah satunya adalah Hotel Kruger Shalati: The Train to The Bridge.   

Sesuai namanya, hotel mewah ini terbuat dari bekas gerbong kereta yang berjumlah 13. Uniknya, gerbong-gerbong yang telah disulap menjadi 24 kamar hotel berkelas ini kelak akan ditempatkan di atas Jembatan Selati yang terbentang di atas Sungai Sabie di dalam Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan. Hotel ini akan secara permanen bertengger di atas jembatan kereta api tersebut. 

Menuru sejarahnya, jembatan tua itu sudah ada sejak 1920-an, dan kini sudah tak terpakai lagi. Jalur kereta Selati merupakan satu-satunya jalan untuk berkunjung ke taman tersebut pada masa itu. 

Sedangkan nama Shalati yang disematkan pada Hotel Kruger Shalati terinspirasi dari nama ratu Afrika, Shalati, yang menurut legenda adalah salah satu kepala prajurit wanita pertama dari klan Tebula. Klan kecil ini merupakan bagian dari suku Tsonga yang tinggal di semak-semak sekitar Murchison Range, atau sekarang dikenal sebagai Provinsi Limpopo.

Resor ini bersebelahan dengan Kamp Skukuza di dalam Taman Nasional Kruger, tempat yang dikenal sangat eksotik karena binatang-binatang the big five – singa, macan tutul, badak, gajah, dan kerbau Afrika – berkeliaran dengan bebas.

Selan kamar-kamar, hotel berbintang ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas mewah, seperti dapur dan bathtub. Rencananya Hotel Kruger Shalati ini akan dibuka pada Desember mendatang. Tarifnya dipatok mulai 520 dollar AS per malam per orang, sudah termasuk makan, minum, dan dua kali kunjungan ke taman nasional. Pembangunannya sempat tertunda akibat pandemi COVID-19.

Gerbong kereta didesain sedemikian rupa agar pelancong bisa melihat jauh pemandangan taman nasional. Jendela gerbong diubah menjadi seluruhnya berdinding kaca yang besar dan menghadap ke sungai. Ada juga ruang makan dan kolam renang di lokasi terpisah namun masih berada di atas jembatan. Seluruh desain interior dikerjakan lewat kolaborasi dengan para artis lokal. 

Kabar buruknya, hotel ini tidak mengizinkan keluarga yang membawa anak-anak. Pihak hotel hanya menerima pelancong berusia 12 tahun ke atas. Meski demikian mereka mengatakan ada rencana penambahan kamar yang ramah keluarga, namun itu baru akan terlaksana pada awal 2022.