Bus amfibi di Danau Yamba-Agatsumako (foto: Asahi Shimbun)
NAGANOHARA, bisniswisata.co.id: Seperti dalam film-film action, bus ini meluncur cepat dari jalan dan langsung ‘nyemplung’ ke danau. Bedanya, ini bukanlah sebuah adegan dalam film, bukan juga sebuah kecelakaan lalu lintas, melainkan wisata baru yang ditawarkan di Prefektur Gunma, Jepang.
Bus berjenis amfibi ini tidak dapat tenggelam seperti batu saat mencapai danau. Ia justru bisa berlayar melintasi air. Tour bus amfibi di Jepang sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru.
Pada 2018 saat ‘Negeri Matahari Terbit’ itu tengah mempesiapkan Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade yang sedianya diadakan tahun ini, mereka meluncurkan tour bus yang bisa melaju di jalan aspal maupun perairan.
Bus yang diberi nama “Tokyo no Kaba” atau “Tokyo’s Hippo” ini melayani rute keliling kompleks perkantoran, tempat hiburan, dan terakhir ‘nyemplung’ ke Teluk Tokyo menyusuri bawah Jembatan Pelangi yang terbentang di atas teluk.
Tapi di Prefektur Gunma, wisata bus amfibi ini baru pertama kali diadakan. Tak tanggung-tanggung, pemerintah kota mengeluarkan dana sebesar 130 juta yen atau sekitar Rp 18 miliar untuk mewujudka wisata ini.
Mereka berharap bus yang akan meluncur ke danau buatan yang berasal dari Bendungan Yamba ini bisa menjadi daya tarik utama kota tersebut, demikian seperti dilansir Asahi Shimbun.
Uji coba telah dilaksanakan di Danau Yamba-Agatsumako pada 11 Juni lalu. Organisasi Kendaraan Amfibi di Jepang yang juga operator bus ini yang melakukannya. Mereka ingin memastikan kendaraan aman untuk digunakan. Selain itu mereka juga melatih para sopir bus.
Saat uji coba, bus dipacu melaju ke danau. Ketika mendarat, semburan airnya keluar hingga ke jalan. Ketika sudah di danau, bus ini terapung beberapa saat sebelum baling-baling di belakangnya bekerja. Lalu, bus akan melaju dengan kecepatan sepeda memulai perjalanan melintasi danau.
Bus berkapasitas 42 penumpang yang eksteriornya berhias maskot kota ini, dijuluki Yamba Nyagaten-go. Bus amfibi ini akan berjalan sejauh 4 kilometer hingga mencapai bendungan. Penguasa lokal juga telah menjalin kerjasama dengan sejumlah pengelola tujuan wisata di sana seperti pemandian air panas Kawarayu Onsen. Harapannya, atraksi wisata baru ini dapat merevitalisasi kembali kawasan ini.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengajak pelaku UMKM memanfaatkan teknologi digital sehingga dapat membuka peluang pasar yang lebih besar di tengah pandemi.
Wishnutama Kusubandio saat menjadi keynotespeaker di seminar online “Pemerintah Hadir untuk UMKM” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Selasa (21/7/2020) mengatakan, pandemi COVID-19 membuat era digital terakselerasi lebih cepat dari yang seharusnya. Pandemi ini memaksa hampir semua orang untuk mentransformasi segala kegiatannya ke platform digital.
Pemerintah sendiri bersama dengan banyak kementerian/lembaga menginisiasi kampanye nasional gerakan Belanja Buatan Indonesia yang salah satu tujuannya mendorong pelaku UMKM bertransformasi dari pasar offline ke online dengan memanfaatkan teknologi.
“Kami bersyukur karena menjadi yang pertama untuk memulai kampanye nasional Bangga Buatan Indonesia lewat program Beli Kreatif Lokal yang kami inisiasi. Saat ini dilanjutkan Kemenkominfo lewat program ‘Kita Bela Kita Beli’,” kata Wishnutama.
Dalam program Beli Kreatif Lokal, Menparekraf mengatakan pihaknya memberikan berbagai pendampingan untuk peningkatan kompetensi pelaku UMKM untuk masuk ke platform digital Diantaranya memberikan pelatihan pembuatan konten komersial yang menarik.
Kemudian membantu aktivasi media sosial UMKM, membuat online group dengan pendamping untuk membantu perencanaan keuangan, stocking dan membuka channel untuk mendapat demand, dan lainnya.
Juga menyelenggarakan webinar khusus untuk peserta BKL dan konsultasi, membantu pengurusan sertifikat HAKI untuk 200 peserta terpilih mempromosikan dan mengikutsertakan peserta dengan performa terbaik ke program-program kerjasama Kemenparekraf dengan pihak lain. Serta program Bantuan Insentif Pemerintah dengan total dana yang dialokasikan sejumlah Rp 24 miliar.
“Dari jutaan pelaku UMKM yang bergabung, telah dilakukan kurasi terhadap 500 pelaku ekonomi kreatif dan akan terus berlanjut. Diharapkan dengan berbagai dukungan dan fasilitasi tersebut para pelaku UMKM dapat onboarding di 6 mitra e-commerce dan 3 mitra layanan transportasi daring sebagai wujud dari transformasi digital,” kata Wishnutama.
Untuk itu ia berharap agar pelaku UMKM dapat memanfaatkan peluang ini dengan baik. Dengan transformasi ke digital, pemasaran yang dilakukan UMKM akan berjalan lebih cepat dan jangkauannya lebih luas.
Dengan demikian dapat mempercepat perputaran siklus ekonomi, memperbaiki daya beli masyarakat, dan pada akhirnya mendorong kebangkitan ekonomi pascapandemi.
“Setiap krisis pasti ada peluang, sekali lagi saya sampaikan mari kita manfaatkan peluang ini. Pemerintah bekerja keras dan terus berupaya untuk ciptakan peluang dalam pandemi ini. Oleh karena itu mari kita manfaatkan peluang yang diciptakan ini,”kata Wishnutama.
Di akhir tahun, Kemenparekraf dan KemenKopUKM akan bekerjasama untuk melaksanakan BBI Award yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2020. BBI Awards memiliki 15 kategori, dengan rincian 14 kategori berupa subsektor Ekonomi Kreatif dan 1 kategori UMKM.
“Diharapkan semua ini dapat membawa semangat kita semua untuk berbuat yang terbaik saat pandemi ini. Sekali lagi saya ingatkan bahwa di setiap krisis selalu ada kesempatan. Dan mari kita sama-sama manfaatkan peluang ini,” kata Wishnutama.
“Saya percaya bahwa pelaku UMKM Indonesia memiliki kemampuan untuk berinovasi dan berkreasi bersama-sama. Inovasi dan semangat gotong royong untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif harus terus digaungkan. Mari kita membawa semangat gotong royong kesatuan dan persatuan,” kata Wishnutama.
Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengatakan dalam transformasi digital bagi UMKM bahkan untuk mengantar masyarakat masuk dalam komunitas digital tidak terlepas dari deployment infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Saat ini pemerintah terus berusaha untuk menyelesaikan network infrastruktur TIK, baik middle-mile dan last-milenetwork untuk menghubungkan konektivitas telekomunikasi sampai titik terdepan. Tidak hanya di wilayah nondaerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tapi juga di wilayah 3T di Indonesia.
“Sehingga dengan demikian akan tersedia dengan baik infrastruktur untuk ekonomi digital, termasuk yang dibutuhkan untuk UMKM transformasi ke digital ekonomi kita,” kata Johnny G. Plate.
Menurut dia, penting untuk meningkatkan rasio internetifikasi di Indonesia dan memperkecil disparitas internetifikasi antar wilayah dan penduduk. Baik dari sisi jangkauan maupun kualitas layanan internet yang memadai.
Dalam acara ini juga digelar diskusi yang menghadirkan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Widodo Muktiyo, Head of Public Policy & Government Relations Shopee Radityo Triatmojo, Chief of Communication DANA Chrisma Albandjar, Manager of Public Policy and Government Relations idEA Rofi Uddarojat, dan sejumlah pelaku UMKM.
Diskusi tersebut mendorong para pelaku UMKM untuk menjadikan keterbatasan akibat COVID-19 menjadi _turning point_ untuk segera melakukan transformasi digital.
Begini Tips Agar Tetap Aman Dari Penularan COVID-19
JAKARTA, bisniswisata.co.id : Saat berwisata atau melakukan perjalanan dinas ke daerah maupun mancanegara maka fasilitas gym kerap menjadi perhatian utama saat tamu menginap di hotel untuk memulai aktivitasnya dengan olahraga pagi hari.
Namun di era pandemi global saat ini, olahraga di fasilitas gym baik di dalam hotel maupun di pusat kebugaran harus disertai dengan persiapan ekstra hati-hati sesuai dengan protokol kesehatan.
Soalnya pusat kebugaran dan tempat olahraga publik merupakan tempat dengan risiko penularan yang tinggi. Terlebih olahraga merupakan Aerosol Generating Procedures (AGPs) yaitu aktivitas-aktivitas yang dapat menimbulkan aerosol.
Untuk itulah dr. Anita Suryani, dokter spesialis olahraga hadir di Gugus Tugas Nasional di Graha BNPB, memberikan tips-tips agar tetap dapat berolahraga dengan aman terutama di gym yang berada di tempat-tempat umum.
“Kita tahu aerosol membuat droplet jadi semakin kecil dan membuat bertahan lebih lama di udara sehingga penularan jadi makin mudah,” jelas dr. Anita.
Hal inilah yang membuat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) merekomendasikan agar masyarakat melakukan latihan fisik atau berolahraga di rumah saja.
Namun, dengan melihat faktor sosial dan ekonomi, dr. Anita pun membagi tips agar tetap aman saat berolahraga di pusat kebugaran atau fasilitas olahraga pada ruang tertutup lainnya.
“Kita pengguna fitness atau pengguna gym, sebisa mungkin membawa semua peralatan sendiri. Handuk, baju, botol air,” ujar dr. Anita.
Sementara untuk peralatan olahraga yang digunakan bersama, selalu bersihkan terlebih dahulu dengan disinfektan sebelum digunakan. Ia juga menyarankan untuk tidak menyentuh mata, hidung dan mulut setelah memegang peralatan kebugaran.
Untuk penggunaan masker, dr. Anita mengakui masker dapat mengganggu metabolisme tubuh saat intensitas olahraga tinggi, namun tidak masalah untuk olahraga dengan intensitas rendah dan sedang.
Dia pun mengingatkan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak demi menekan risiko penularan saat berolahraga di pusat kebugaran.
“Olahraga intensitas sedang itu meningkatkan sistem imun, bukan yang intensitas tinggi. Jadi kalau kita tertular Corona tidak akan bergejala, kita akan sehat-sehat saja,”
Tapi penularannya tetap harus dicegah dengan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan bawa peralatan sendiri,” jelas dr. Anita.Nah siap berolahraga dan disiplin diri ?
JAKARTA,bisniswisata.co.id: Indonesia dinilai gagal dalam menangani kasus COVID-19 oleh warga dunia. Keputusan Pemerintah RI tidak langsung melakukan lockdown dinilai telah membuat perbedaan besar dalam menekan penyebaran virus dan berdampak pada pariwisata nasional.
” Saya sebut warga dunia karena yang menyerang saya di media social adalah para relasi dan networking yang selama ini saya miliki sehingga saya berharap Kemenparekraf serius menangani crisis communication ini,” kata Wuryastuti Sunario, mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia ( BPPI).
Menurut dia, apa yang diungkapkan oleh relasi dan mitra-mitra kerjanya semasa duduk di pemerintahan dan terutama BPPI adalah cerminan kebutuhan perlunya industri pariwisata di mancanegara untuk memahami kebijakan Presiden Jokowi dengan baik.
” Indonesia dari awal menerapkan Pembatasan Sosial Berskala besar ( PSBB). Presiden Jokowi juga sudah menegaskan pada seluruh dunia RI mengikuti semua protokol kesehatan yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia ( WHO) kecuali lockdown karena pertimbangan agar perekonomian tetap berjalan,” kata wanita yang akrab di sapa Tuti Sunario ini.
Menurut Tuti, keputusan pemerintah untuk menyebarkan informasi satu pintu untuk kasus virus Corona dengan membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 adalah tepat namun dalam hal pariwisata yang membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi maka seharusnya crisis center di Kemenparekraf juga difungsikan dengan baik.
“Wisatawan Indonesia senang sekali berwisata ke Jepang tapi ketika negara itu melakukan TravelBubble, yaitu pembukaan terbatas suatu negara bagi beberapa negara lain yang masing-masing memiliki kasus virus corona yang rendah atau terkontrol, RI tidak termasuk,” ujarnya.
Indonesia tidak termasuk dalam negara yang diizinkan berkunjung ke Jepang untuk alasan apapun, karena Indonesia dinilai gagal dalam menangani kasus COVID-19, tambahnya.
Di dunia pariwisata, ujarnya gainingtrust bukan slogan tapi memang membutuhkan keterbukaan sehingga crisis center Kemenparekraf seharusnya aktif merangkul industri pariwisata di dalam dan luar negri sehingga tetap memupuk kepercayaan warga asing terhadap destinasi wisata di Indonesia.
” Jadi masalah tidak dipercaya hanya karena komunikasinya macet. Kerja pemerintah untuk percepatan penanganan COVID-19 sudah on thetrack, coba ikutin perkembangan di Amerika Serikat, Pemerintah pusat dan Pemerintah daerahnya ( federal) programnya tidak sinkron malah ada politisasi soal pemakaian masker melanggar hak asasi manusia” kata Tuti.
Pariwisata dengan secanggih tekhnologi apapun di era 4.0 tetap cenderung mencari yang memanusiakan manusia, yang dekat di hati dan perasaan. Oleh karenanya, dalam hal pemasarannya sebaiknya industri menyatukan pemasaran tradisional yang lebih menggunakan human communication dengan pemasaran digital.
“Kalau mau industri pariwisata Indonesia kembali berjaya pasca pandemi global ini maka crisis center Kemenparekraf optimalkan fungsinya dan lebih menjalankan human communication agar wholle seller dan touroperator di luar negri dan wisman kembali menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama mereka,” tegas Tuti Sunario.
Tuti mengutip pimpinan WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa kepemimpinan pemerintah yang kuat dan koordinasi strategi komprehensif harus dikomunikasikan dengan jelas dan konsisten.
Di era pandemi COVID-19, banyak insentif ditawarkan bagi pelancong (foto: vermilion events)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sejak Maret lalu, seluruh dunia memberlakukan aturan lockdown. Hampir semua orang sudah empat bulan ini terjebak di dalam rumah. Hasrat untuk kembali melakukan perjalanan pun cenderung membuncah.
Namun untuk saat ini perjalanan wisata masih belum sepenuhnya bisa dilakukan. Yang terjadi, banyak orang kini mulai membuat list tempat-tempat yang hendak mereka kunjungi kelak jika aturan lockdown dilonggarkan.
Perlahan tapi pasti, sejumlah negara mulai melonggarkan aturan lockdown. Perbatasan pun mulai dibuka, hotel dan resort sudah menerima tamu. Prospek perjalanan ke depan pun semakin nyata.
Sudah berbulan-bulan pelaku bisnis pariwisata tak mendapat income. Seiring waktu, kini sejumlah destinasi mulai menawarkan paket-paket menarik untuk memikat calon wisatawan.
Cancun, di tenggara Meksiko misalnya, meluncurkan kampanye “Come to Cuncun 2 x 1”. Artinya, pelancong yang menginap di sana selama dua malam cukup membayar tarif untuk satu malam plus refund ongkos tiket pesawat bagi siapa saja yang bisa membawa teman.
Bulan lalu, pemilik kasino Derek Stevens bahkan menyediakan lebih dari 1.000 penerbangan ke Las Vegas untuk mendorong dibukanya kembali pariwisata domestik Amerika Serikat. Sementara itu di Thailand, Cape Fahn Hotel, sebuah resort mewah di Pulau (privat) Koh Samui, menawarkan paket “Buy 1 Get 1 Free”.
Seolah menyadari keadaan pelancong yang sedang dalam keadaan sulit tapi masih harus mengeluarkan dana untuk penerbangan dan akomodasi, negara Balkan Bulgaria menggratiskan semua fasilitas sewa seperti kursi berjemur, payung, bahkan meja di pantai-pantai top mereka.
Di Swiss, otoritas pariwisata di Jenewa meluncurkan “Geneva Boxes”, yakni semacam paket wisata dalam kota dan hotel dengan potongan sampai 65%. Jadi, saat ini banyak pilihan paket yang bukan hanya menawarkan diskon besar-besaran, di beberapa kasus bahkan betul-betull gratis.
Sejumlah negara memilih untuk meluncurkan kampanye kompetitif mendeklarasikan negaranya aman dikunjungi. Kampanye ini bertujuan untuk meyakinkan pelancong yang belum merasa sepenuhnya yakin untuk bepergian setelah pandemi COVID-19.
Uzbekistan, negara di Asia Tengah, misalnya bahkan bersedia membayar pengunjung yang terkontraksi COVID-19 selama mereka berlibur di sana. Pemerintah Uzbekistan berharap kampanye “Uzbekistan: Safe Travel Guaranteed” dapat meyakinkan pelancong untuk datang berkunjung. Mereka menjanjikan kompensasi sebesar 3.000 dollar AS bagi setiap wisatawan yang terinfeksi COVID-19.
Sementara itu Pulau Mediterania Siprus membuka kembali perbatasannya dengan negara-negara tertentu pada Juni. Mereka juga berjanji akan menutup seluruh biaya penginapan, makanan, minuman, dan obat-obatan bagi pengunjung yang dinyatakan positif COVID-19 selama mereka melancong di sana.
Namun, apakah segala insentif ini cukup memadai untuk meyakinkan pelancong kembali melakukan perjalanan wisata?
Sebuah survei yang dilakukan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) baru-baru ini menunjukkan 45% responden menyatakan mereka berharap bisa kembali melakukan perjalanan dalam beberapa bulan ke depan setelah pandemi mereka. Sementara 33% lainnya masih belum berminat bepergian karena takut tertular virus yang perilakunya masih misterius tersebut.
Joanna Lord, Chief Marketing Officer untuk perusahaan search engine Skyscanner, mengatakan bahwa insentif, khususnya potongan harga, merupakan cara sederhana dan efektif untuk menciptakan permintaan, tetapi seiring berjalannya waktu, pelancong akan lebih mempertimbangkan soal keamanan ketimbang harga.
“Dalam jangka pendek, diskon biaya penerbangan dan akomodasi akan cenderung menjadi biasa. Perusahaan penyedia perjalanan memulai kembali cash flow mereka dengan merangsang permintaan,” kata Lord kepada CNN Travel.
Ketua Umum PWI Pusat Atal Depari ( kanan) di dampingi Indah Depari saat zoom bersama anggota IKWI dari berbagai provinsi. ( Foto: Rahmayulis Saleh)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sekitar 300 orang ibu-ibu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI), tampak bersuka cita dan ceria. Mereka saling bertegur sapa dan tersenyum melalui media daring zoom.
Ya, ratusan ibu-ibu yang dominan isteri dari para wartawan di seluruh Indonesia tersebut, pada hari ini mengadakan kegiatan Silaturahmi Nasional dalam rangkaian HUT ke-59 IKWI.
Mereka berasal dari jajaran pengurus dan anggota IKWI yang berada di 22 provinsi dan tersebar di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku.
Pada giat HUT tersebut, mereka ikut lomba menyanyi perorangan dan pergrup. Ada juga yang tampil membaca puisi, berpantun, dan lainnya. Semua tampak gembira apalagi setelah sekian lama tidak bertemu. Sejatinya acara HUT IKWI setiap tahun diadakan di dalam ruangan khusus dan dihadiri ratusan pengurus dan anggota dari berbagai provinsi.
Namun, situasi pandemi COVID-19 yang menerjang dunia, maka giat HUT pun diadakan secara virtual.
Ketua Umum IKWI Pusat Indah Kirana menuturkan kelahiran IKWI pada 19 Juli 1961, didorong oleh semangat menjalin hubungan kekeluargaan dan kesetiakawanan di lingkungan keluarga pers, khususnya wartawan.
“IKWI lahir untuk memberikan penguatan dukungan dari para istri wartawan, terhadap para suami dalam menjalankan profesi sebagai wartawan,” ujar Indah sebelum pemotongan kue HUT di Gedung Dewan Pers Kebon Sirih, Jakarta, hari ini, Minggu (19/07/2020).
Pada perayaan HUT tersebut juga dilakukan pemotongan tumpeng di beberapa provinsi lainnya. Seperti perwakilan IKWI dari provinsi DIYogyakarta, Sulawesi Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, dan IKWI aceh, yang disaksikan oleh seluruh peserta.
Pada HUT IKWI ini juga diumumkan para juara dari peserta lomba karya tulis bertema Tetap Aktif dan Kreatif Selama Pandemi COVID-19, yang diikuti sejumlah peserta.
Koperasi IKWI
Indah mengatakan saat ini jumlah anggota IKWI terdaftar 728 orang dari 22 provinsi. “Dengan usianya yang sudah 59 tahun, jumlah anggota tersebut masih sedikit, belum sampai 1.000 orang,” tambahnya.
Program kerja ke depan, lanjutnya, IKWI akan mendirikan koperasi berskala nasional. “Kehadiran Koperasi IKWI diharapkan dapat menyejahterakan para anggotanya, dan menggairahkan gerak roda organisasi,” ungkap Indah.
Pembuatan Koperasi IKWI dengan menjual sembako yang dibandrol dibawah harga pasar, dan bekerjasama dengan Bulog Daerah. Dia menambahkan biasanya kaum ibu akan mengejar kalau ada selisih harga ketika berbelanja sembako, atau bisa mendapatkan pinjaman dengan cara mudah dan lunak berbasis kekeluargaan.
KRUI, Lampung, bisniswisata.co.id: Tulisan Ija Mit Krui yang artinya’ Ayo Datang Ke Krui di topi hitam yang diletakkan Lisa di dashboard mobil Kijang Inovanya membuat saya dan rombongan bersemangat dengan tujuan kami pagi itu melewati jalan raya provinsi menuju dermaga Tebakak, Provinsi Lampung Barat.
Jalan lurus yang disisi kiri kanannya ada perbaikan pembatas masih terlihat agak sepi. Maklum kami keluar rumah dari daerah Gunung Kemala di Krui baru jam 7.00 WIB pagi. Selingan tanjakan, turunan dan lebatnya pepohonan di kiri kanan jalan serta rumah-rumah tradisional membuat mata saya tak berkedip menikmati perjalanan.
Untunglah Lisa dengan piawai mengendarai mobilnya sehingga tak sampai satu jam kami sudah menepi di pinggiran pantai Tebakak. Berbeda dengan pantai yang berada di daerah Selatan ataupun Tengah di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pantai di bagian Utara ini dihiasi batu-batu hitam.
Namun tidak seperti di Belitung, formasi bebatuan di Tebakak tidak rapat berderet dan cendrung datar namun dari kejauhan dengan paduan warna laut yang biru berlatar belakang Pulau Pisang di kejauhan, bebatuan hitam dan formasinya yang unik ini menambah keindahan pemandangan.
Ketika Lisa mencari parkir, rombongan saya yang terdiri dari lima orang langsung turun dan melihat tiga orang calon penumpang perahu duduk di bawah saung di pinggir jalan yang langsung tersambung dengan pantai.
Sebuah papan kayu bertuliskan: “Pelabuhan Tebakak, Pekon Tebakak Way Sindi. Di sinilah sarana penyebrangan menuju Kecamatan Pulau Pisang. Dermaga yang sebelumnya saya bayangkan di parkir kapal-kapal kayu seperti di pinggiran Danau Toba, Sumatra Utara ternyata kosong melompong.
Dari jauh terlihat dua buah perahu dengan ‘sayap’ bambu di kiri-kanannya berlomba menerjang ombak ke tepi dermaga Tebakak. Agak lama kami harus memutuskan mau naik perahu yang mana karena kedua awak perahu merasa berhak mendapatkan penumpang.
Kalau penduduk sekitar cukup membayar Rp 10 ribu sekali menyebrang maka kami sebagai turis dituntut membayar Rp 200 ribu per perahu isi 5 orang , di tambah awak perahu sebanyak 6 orang penyebrangan ke Pulau Pisang total dalam satu perahu 11 orang.
Ibarat pesawat, upaya perahu untuk lepas landas membelah gelombang Samudra Hindia perlu di dorong oleh enam awak. Tinggi gelombang antara satu hingga satu setengah meter membuat baju banyak terciprat air laut terkena hempasan ombak.
Artis dan penyanyi religi Liv Vhiena yang ikut serta dalam rombongan melantunkan Asmaul Husna dan mendoakan para penarik perahu bisa tetap mendapat rejeki di tengah ganasnya ombak lautan. Hika beruntung kerap ada kelompok lumba-lumba menemani penyebrangan ini.
Belum lagi mencapai Pulau Pisang, rasa iba menyergap betapa susah payahnya warga yang ingin menyebrang meski hanya sekitar 15 menit karena tidak ada kapal reguler. Yang ada hanya sampan kayu dengan mesin motor yang tiap hari dan harus ber ‘damai’ dengan tingginya ombak.
Kemana kepedulian pemerintah daerah hingga puluhan tahun tidak menyediakan dermaga dan transportasi yang layak bagi warganya? . Kemana kepedulian para konglomerat yang mengakuisisi pulau-pulau cantik di Kabupaten Pesisir Barat untuk kepentingan kerajaan bisnisnya?.
Padahal dengan memberikan satu kapal boat sebagai bentuk kepedulian sosial mereka sudah cukup mengangkat Pulau Pisang sebagai daerah tertinggal menjadi destinasi wisata.
Turun dari perahu sejumlah motor yang sudah dipesan Lisa menunggu di bibir pantai. Laut biru, langit biru; pasir pantai yang putih bersih sungguh memukau. Jalan-jalan setapak dengan lebar sekitar dua meter menjadi infrastruktur utama di Pulau Pisang ini.
Sekolah SD sejak jaman Belanda dan spot yang disukai wisatawan. ( Foto Google)
Venda, staf camat Pulau Pisang bergabung bersama kami untuk keliling pulau. Pulau Pisang merupakan nama pulau sekaligus nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat. Sebanyak 1.400 kepala keluarga yang tinggal di pulau seluas 148,82 hektare. Pulau Pisang bisa ditempuh dalam 45 menit dari Kuala Stabas dan sekitar 15 menit dari Desa Tebakak yang dilewati jalan Trans Sumatra menuju Palembang, Bengkulu hingga ke Aceh.
Tebakak adalah sebuah desa di Kecamatan Karya Penggawa yang merupakan daratan terdekat dengan pulau ini. Sebuah kecamatan baru di Kabupaten Pesisir Barat yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan.
Di bibir pantai saya sempat terpaku melihat titik berangkat Tebakak dari kejauhan, terbayang perjuangan 15 menit lalu ‘bertarung’ menaklukan ombak lautan yang menghadap Samudra Hindia hingga kapal kayu ( jukung ) ini mendarat di atas hamparan pasir pantai.
Panggilan Dewi Nurani dan Liv Vhiena, anggota rombongan menggugah lamunan. Melompat dari jukung saat ombak lari ke laut dan berkejaran dengan ombak disertai jeritan kebasahan membuat acara turun dari jukung jadi seru-seru menegangkan.
Tapi juga bersemangat menjelajah karena ada info Taufik Kiemas, suami mantan presiden Megawati juga lahir di pulau ini. Wikipedia menyebutkan Dr. (HC) H. Muhammad Taufiq Kiemas lahir di Pulau Pisang, Pesisir Barat Lampung pada 31 Desember 1942 dan meninggal di Outram, Singapura pada umur 70 tahun.
Di atas motor nampak desa bersahaja dengan warga yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, terutama para perempuan. Sedangkan laki-laki ada yang menjadi nelayan dan berkebun. Jalan desa berupa setapak kecil yang cukup untuk dilewati motor. Tak ada mobil di sini.
Bangunan-bangunan rumah banyak telah tua dan tak terurus, ditinggalkan penghuninya yang telah pindah ke luar pulau. Umumnya rumah-rumah berada di pinggir pantai, sementara di sisi kiri pemandangan laut dengan gradasi warna yang cantik.
Spot yang dikunjungi a.l Batu Tiga, batu Ghuri, Batu Liang, Sekolahan, Pantai Dermaga dan melongok perajin tenun songket Pulau Pisang Salsabila yang juga menbuka homestay. Entah mana dulu yang disambangi karena saya memilih menikmati saja kemana arah rombongan karena tinggal duduk manis di motor.
Menyusuri bagian kiri Pulau Pisang, kita akan menemukan tiga batu besar yang tersebar di bibir pantai. Sebagian besar pantai ini terbentuk dari lapisan batu karang yang dihantam ombak. Disini bisa ikut memancing bersama warga sekitar.
Spot lain yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Batu Bughi (Ghuri). Spot yang termasuk ke dalam Pekon Labuhan ini merupakan salah satu spot yang paling banyak dijadikan lokasi selfie karena ada bangkai kapal yang terdapat di pantai. Ini merupakan kapal pengeruk yang berasal dari Padang, yang terdampar akibat hantaman ombak yang sangat besar.
Lama-lama motor menapaki jalan setapak naik turun menapaki jalan kecil diantara pepohonan dan ke un-kebun warga. Ada bunga yang unik berwarna merah menyembul dengan tumpukan bulatan merah di tengah dedaunan yang menarik perhatian.
Kami sudah jauh berjalan dan tiba di satu spot ekstrim karena melewati jalur yang lebih menantang. Motor kami hentikan di pinggir sebuah jembatan kemudian berjalan kaki masuk ke hutan dan semak. Jalan masuknya memang tidak mulus selain itu kita juga melewati sebuah kuburan tua yang dipagari oleh kayu dan beratap genteng.
Kuburan ini persis di pinggir jalan saat kita mau masuk. Lalu tidak jauh di depannya terdapat sebuah lubang berukuran 1 meter mirip seperti sumur tua. Kami pun melanjutkan perjalanan melewati tanaman berdaun panjang dan berduri dan tiba di spot Batu Liang merupakan salah satu lokasi untuk menikmati sunset dari atas bukit jurang curam melihat hempasan ombak menyentuh bebatuan.
Kami sempat melihat bangunan sekolah yang dibangun sejak Jaman Belanda. Di Pulau Pisang memang hanya ada dua sekolah salah satunya SDN Pasar Pulau Pisang sehingga dianggap bersejarah dan satu SMP. Untuk pendidikan lanjutan harus keluar pulau.
Bangunan asli berdiri di bagian depan, terdiri dari 5 ruang kelas. Sedangkan bangunan tambahannya ada di belakang. Bentuk pintu yang tinggi dan lebar, mencirikan arsitektur bangunan gaya Eropa. Tanpa jendela namun dinding bagian atas dibuat berlubang-lubang sebagai sirkulasi udara.
Alhamdulilah akhirnya mampir disebuah rumah kosong milik keluarga Venda, staf Camat dan disuguhi makan siang berupa gulai buah kelor, ikan segar goreng, sayur lodeh daun katu, kentang cabai merah, petai rebus, dan sambal pedas yang menjadi menu wajib di pulau.
Sambil makan mendengarkan sejarah Pulau Pisang yang konon kalau melihat sekeliling pulau, dari atas ketinggian maka bentuknya menyerupai buah pisang.
Suasana Pulau Pisang dengan cuaca cerah dan pemandangan indah dan banyak rumah terlantar
Namun ada versi yang mengatakan pulau ini banyak ditumbuhi pohon pisang. Versi lainnya penemu pulau ini tiba ke pulau menggunakan batang pisang yang dibuat menjadi perahu. Oleh karena itu pulau ini diberi nama Pulau Pisang.
Selain keindahan pantainya yang mempesona, Pulau ini juga memiliki spot yang paling sering dikunjungi adalah Pantai Dermaga yaitu adanya tiang-tiang beton sisa bangunan dermaga yang rusak tergerus ombak.
Sisa-sisa bangunan dermaga yang menjorok ke laut memungkinkan pengunjung untuk loncat dan menyelami keindahan laut dan menikmati airnya yang segar dan ini menjadi area yang cukup aman untuk berenang.
Saat kami datang, Pulau Pisang belum dialiri listrik PLN, jadi untuk memenuhi kebutuhan listrik warga berswadaya membangun pembangkit listrik sendiri dengan genset.Makanya usai makan siang diajak ke perajin tapis ( songket) khas Pulau Pisang langsung terpikir mereka sepenuhnya mengerjakan produk dengan mengandalkan matahari.
Namanya Salsabila, penyulam tapis sekaligus pemilik homestay. jika pengunjung Pulau Pisang mau menginap, bisa tidur di rumahnya sambil menikmati proses pembuatan tapis di ruang tamunya. Homestay biasanya memberi makan tamu dengan makan 3 x dan bertarif Rp 150 ribu- Rp 200 ribu/ per malam/ per orang.
Ternyata penduduk Pulau mampu menghasilkan karya yang luar biasa, kain tradisional khas Lampung. Berbeda dengan songket Palembang yang dibuat dengan menggunakan alat khusus, ternyata, tapis Lampung dibuat dengan cara disulam atau dijahit satu persatu.
Sebagai pekerjaan sampingan selain mengurus rumah tangga, selembar kain tapis yang bisa diselesaikan selsma 2-3 bulan harganya termurah Rp 2-3 juta ke atas. Hasilnya terutama untuk membeli bahan baku menenun tapis lagi dan membiayai anak sekolah.
Untuk itu disiasati juga membuat tapis sesuai pesanan dan produk umumnya di jual di luar Pulau Pisang juga di toko online dengan harga yang melambung bahkan reseller yang menikmati keuntungan. orang Perancis bilang C’est La Vie, itulah hidup !.
Alhasil kami juga tidak membeli produknya karena hanya membawa ATM dan tidak ada fasilitasnya di Pulau. Perajin juga tidak membuat produk kecil yang harganya lebih ekonomis seperti dompet, tempat kosmetik, tempat lipstik, topi atau barang lainnya yang bisa jadi souvenir.
Sambil berjalan menuju jukung di pantai untuk kembali ke Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat, Lampung saya terpikir agar staf camat menyampaikan ide-ide seperti lomba bersepeda keliling pulau mirip-mirip lomba Tour de Singkarak misalnya, cara cepat mensejahterakan warga setempat dan mendongjrak pariwisata Pulau Pisang.
Tokoh adat Baduy menerima bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer dari Kemenparekraf. ( Foto: Kemenparekraf)
LEBAK, Banten, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Keatif mendukung permintaan masyarakat Suku Baduy untuk membatasi kunjungan wisatawan yang datang ke perkampungan Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes, Sabtu, mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan Suku Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.
“Kita menganut Sustainable Tourism. artinya kita menjaga agar (wisatawan) tidak berjibun-jibun datang, dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari.
Dalam kesempatan tersebut, Perwakilan Suku Baduy, Uday Suhada, mengungkapkan keinginan Suku Baduy untuk mengganti istilah “Wisata Budaya Baduy” menjadi “Saba Budaya Baduy”yang sebenarnya telah dicetuskan dan ditulis dalam Perdes Saba Budaya pada 2007.
”Saba ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung,” ungkap Uday.
Hal senada juga ditambahkan oleh salah seorang tetua adat Suku Baduy Dalam, Ayah Mursid. Ia meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal.
“Kami berharap (saba budaya) diperjelas aturannya. Mana saja rute yang boleh dan tidak boleh dilewati menuju Kampung Baduy, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikerjakan,” ujar Mursid.
Dia juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai Suku Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi Kawasan Adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.
Hal ini disambut baik oleh Hari. Ia mengatakan pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua adat Suku Baduy.
Hari juga mempertimbangkan rencana pembuatan aplikasi sebagai pusat informasi dan sarana pendaftaran bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Adat Suku Baduy.
“Ini bisa berbentuk aplikasi nantinya. Jadi siapa yang datang kapan mau datang kalau sudah melebihi (batas pengunjung) ini akan ada pemberitahuan bahwa kapasitasnya sudah berlebih. Sehingga kita tidak terulang ada ribuan orang yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya Suku Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemda Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat Suku Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.
“Saat ini kami sedang dalam proses penyedian lahan di dekat perkampungan Baduy untuk dijadikan sebagai Information Center agar wisatawan lebih mengetahui bagaimana budaya Baduy pada umumnya dan informasi kegiatan Saba Baduy pada khususnya, sebelum masuk ke Perkampungan Baduy,” katanya.
Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian, Kapolres Lebak AKBP Firman Andreanto, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin,.
Hadir pula Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan handsanitizer bagi Suku Baduy.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kepedulian anggota Paduan Suara Universitas Pancasila atas pandemi global COVID-19 yang tinggi menunjukkan besarnya keinginan untuk berpartisipasi dan saling mengingatkan pada masyarakat agar disiplin mencegah penyebarannya makin meluas.
Untuk itulah, Arum Suci Sekarwangi, salah satu anggota paduan suara itu belakangan ini aktif mengirimkan link YouTube dari paduan suara (virtualchoir ) mereka yang sudah launching sejak 30 Mei 2020 lalu ke berbagai WA grup dan media sosial untuk mengajak masyarakat disiplin diri.
Maklum, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memutuskan untuk kembali memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada masa transisi fase pertama dan diperpanjang selama dua pekan, terhitung mulai Jumat hingga 30 Juli 2020.
Anies meminta seluruh warga untuk tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan mengingat hari Minggu 12 Juli 2020 lalu, Pemda DKI Jakarta yang pro-aktif melakukan tracing dan mendatangi warga untuk melakukan PCR menemukan 404 kasus baru dalam sehari yang merupakan rekor tertinggi selama ini.
Di tingkat dunia. Infeksi global coronavirus melewati 14 juta pada hari Jumat (17 Jul 2020) yang menurut penghitungan Reuters, menandai pertama kalinya ada lonjakan 1 juta kasus dalam waktu kurang dari 100 jam.
Persembahan ini sebagai salah satu partisipasi Universitas Pancasila terhadap kepedulian kepada masyarakat Indonesia yang masih bergelut dengan pandemi COVID-19.
Virtualchoir ini juga sebagai bentuk nyata bahwa kreativitas tidak terbatas pada ruang dan waktu. Komunitas kecil ini berharap dapat memberikan inspirasi pada mahasiswa dan juga siswa-siswa sekolah untuk terus berkarya, tidak kehilangan harapan dan menjadi generasi membangun memasuki era ‘New Normal’.
Paduan suara yang dilatih Hari Santosa ini prestasinya juga sudah mengikuti event-event ke mancanegara. Kali ini dengan sekitar 50 orang anggota tim, paduan suara virtual ini diawali dengan penampilan sosok Cinthia Kusuma Rani, anggota PSUP yang juga menjadi Miss Earth Indonesia 2019.
Inti pesan dalam video adalah percaya bahwa pandemi global ini akan berakhir, kehidupan akan pulih dan bagian kita adalah berdoa dan berusaha untuk kebaikan bumi dan disiplin cegah penyebarannya.
Video kemudian menayangkan cuplikan perjuangan tim medis menggunakan APD berjam- jam, tidak bisa pulang ke rumah karena banyaknya pasien dan hanya berkesempatan jumpa keluarga lewat video call.
Sambil mendengarkan paduan suara, cuplikan juga mengingatkan bahwa krisis ini sungguh menyulitkan dunia dari segala sisi dan keadaan ini membuat banyak orang merasa tidak berdaya bahkan sampai sekarang.
Apalagi kurva penderita tidak turun, kasus barupun bermunculan karena sulitnya seorang individu dalam berdisiplin diri mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan badan kesehatan dunia WHO.
Vocal mix digarap oleh Brian Agung Hari Santosa dan Octo Darma Nainggolan, sedangkan musik oleh Reksa Bonaventura dan video editor dikerjakan oleh Reindra/Kepochino.
Para penyanyi mahasiswa anggota Paduan Suara Universitas Pancasila ( PSUP) ini dari berbagai angkatan. Di bagian Tenor ada Rachmad Jupikar Arief, Gabriel Presente, Anngit Prasojo, Winto Wahyudi, Bayu Reksa Bonaventura, Fero Akbar dan Hahiz Ardiansyah.
Di bagian penyanyi Sopran ada 15 orang terdiri dari Aprilianti Ayu Irawati, Haura Usna Rahmah, Rizki Putri Ashari. Risha Fajar Maudina, Arum Suci Sekarwangi, Rizka Ridfinanda, Souha Nadala dan Putu Diah Utari.
Masih dibagian penyanyi dengan nada tinggi ini ada Febrina Demestria, Sonya Daneria, Elvira Savitri, Hanna Saphira, Erika Ilhasya, Putri Windari Saputra dan Harmaisi.
Penyanyi Alto ada 12 orang dan mereka adalah Agnes Juwita, Plyvia Nur Azizah, Berliana Diah Anggerdini, Fatema Alisya, Nevi, Pricilla M. Immanuela, Mari Etta Katarina, Maria Permatasari Ssmosir, Yemina Shania Tama, Sartika Melina Sirsit, Asima Merry Artha Chris dan Tasys Aureilla Maddina Suseno.
Di Jajaran penyanyi Bass ada 8 orang yaitu Yusuf Rasyid Yusuf Yanin, Hansel Randy Mulia, Irvin Hadis A Sitompul, Herfian Shabdha’ u Akmal, Jason Matthew Doornik, Octo Darma Nainggolan, Danar Ferdiansyah dan Wahyu Iman Santoso.
Ingin bernyanyi bersama mereka ? simak liriknya di bawah ini:
TO BELIEVE
By Jackie Evancho.
Before I lay me down to rest
I ask the Lord one small request
I know I have all I could need
But this prayer is not for me
Too many people on this day
Don’t have a peaceful place to stay
Let all fighting cease that your children may see peace
Wipe their tears of sorrow away
To believe in a day
When hunger and war will pass away
To have the hope amidst despair
That every sparrow’s counted
That you hear each cry and listen to each prayer
Let me try always to believe
That we can hear the hearts that grieve
Please help us not ignore
The anguished cries of the poor
Or their pain will never leave
To believe in a day
When hunger and war will pass away
To have the hope amidst despair
That every sparrow’s counted
That you hear their cries and listen to each prayer
Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20.000 penonton dari rumah. ( Foto: Kemenpar)
YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengapresiasi penyelenggaraan konser Prambanan Jazz Online sebagai wujud inovasi dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan akibat pandemi COVID-19.
Prambanan Jazz Online yang berlangsung Sabtu menjadi konser musik virtual pertama di Indonesia yang disiarkan secara langsung dari Candi Prambanan dengan menghadirkan penampilan dari sejumlah musisi, di antaranya Rio Febrian, Frau, dan Langit Sore.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani menyambut baik pelaksanaan kegiatan Prambanan Jazz Online. Hal ini menunjukkan semangat dari pelaku industri kreatif untuk tetap berkarya dan menciptakan kreativitas tanpa batas di masa pandemi ini. Yakni dengan memadukan kreativitas dengan teknologi sebagai solusi.
“Apresiasi kepada penyelenggara atas upaya dan kerja kerasnya untuk tetap melaksanakan kegiatan ini secara online sebagai cara membangkitkan antusiasme audiens bahwa konser tetap bisa dinikmati di situasi pandemi melalui daring,”
Telaksananya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bekerja kembali para pelaku event yang sebelumnya terhenti akibat pandemi COVID-19,” kata Rizki Handayani.
Menurut dia. konser musik virtual tetap diselenggarakan dengan selalu memperhatikan protokol keselamatan dan kesehatan kepada seluruh tim produksi dan penampil. Suguhan dari para penampil itu kemudian disiarkan secara livestreaming sehingga dapat dinikmati penonton dari rumah. Tercatat, Prambanan Jazz Online yang berlangsung sekitar 120 menit ini diikuti kurang lebih 20.000 penonton dari rumah.
“Kami berharap agar pandemi COVID-19 ini segera berakhir. Sehingga, keadaan bisa kembali normal. Dan pada saat yang sulit seperti ini kami mengajak seluruh pihak terdampak pandemi untuk bergotong royong dan saling menguatkan agar kita semua tetap dapat menjalankan kreativitas di masa yang akan datang,” kata Rizki Handayani.
Sementara Anas Syahrul Alimi selaku Founder Prambanan Jazz Festival sekaligus CEO Rajawali Indonesia mengatakan, Prambanan Jazz Festival merupakan acara tahunan.
Kegiatan ini berlangsung sejak 2015 namun tahun ini terdampak pandemi COVID-19 sehingga harus diundur pelaksanaannya. Event yang semula direncanakan pada 3 hingga 5 Juli 2020 terpaksa dijadwalkan ulang ke tanggal 30, 31 Oktober, dan 1 November 2020.
Pandemi merupakan tantangan baru bagi dunia khususnya di industri hiburan, sehingga semua dituntut untuk belajar dan berinovasi. “Prambanan Jazz Online ini sebagai salah satu jawaban dari tantangan itu kemudian mengemas konser secara online,” kata Anas.
Menurut Anas, berjarak bukan berarti jauh tetapi memberi ruang untuk mempersiapkan diri kembali. Ia berjanji untuk melakukan perbaikan demi bisa menyuguhkan konser yang tidak hanya menghibur tetapi juga membekas di hati penikmat musik jazz.
“Kami juga mengadakan donasi untuk pekerja event dan seni terdampak pandemi COVID-19, khususnya di wilayah Yogyakarta,” kata Anas.