50 Destinasi Internasional yang Paling Ingin di Kunjungi, Bali urutan 30.

this formate

Santorini, Yunani menjadi destinasi pertama yang paling ingin dikunjungi wisman setelah lockdown Bali di urutan ke 30.( Foto: Unsplash/Jaime Arrieta)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Melakukan perjalanan internasional bagi sementara orang masih jauh dari harapan untuk mewujudkannya. Tapi , itu tidak menghentikan orang melamun tentang ke mana mereka paling ingin bepergian setelah lockdown akibat pandemi global CoVIS-19.

Mengutip dari bigseventravel.com ada lonjakan permintaan untuk villa tempat tinggal peristirahatan karena para pelancong terus waspada dan pembatasan masih diberlakukan.

Melihat tujuan yang paling dicari oleh pembaca di situs, survei terhadap pembaca di media sosial, dengan mempertimbangkan lokasi liburan yang sedang tren di Google Search dalam 30 hari terakhir, dapat melihat bahwa ada tren yang jelas untuk  liburan pasca lockdown yaitu pulau-pulau terpencil, istirahat pedesaan yang damai dan pantai surga tropis.  

Daftar harapan Traveller bervariasi berdasarkan wilayah, tetapi bigseventravel.com telah memeringkatnya berdasarkan popularitas keseluruhan. Orang-orang Inggris ingin mengunjungi Thailand, Portugal, dan Pulau Langit.

Orang Amerika memiliki Puerto Rico, Florida, dan Bora Bora di benak mereka, sementara orang Australia paling suka bepergian ke Los Angeles, Italia dan kota Esperance yang indah di Aussie.

Walaupun ada beberapa kota besar dalam daftar, mayoritas orang lebih menyukai daerah yang lebih tenang dengan banyak ruang untuk jarak sosial, dengan negara-negara yang dengan cepat mengusir virus yang terbukti populer. 

Italia adalah satu-satunya pengecualian yang menonjol di sini – terlepas dari perjuangannya yang menghancurkan dengan COVID-19, negara ini tetap menjadi salah satu tempat paling populer untuk dikunjungi setelah dikurung dari wisatawan dari semua negara.

Daftar 50 destinasi di bawah  ini adalah tujuan yang akan melihat permintaan paling banyak dari wisatawan internasional pada tahun 2020-21  Mungkin perlu waktu sebelum mimpi perjalanan ini menjadi kenyataan, tetapi semua tempat ini patut ditunggu.  Bersabarlah, dan tetap aman.

Dari urutan Bali, Indonesia jadi urutan ke 30 destinasi yang ingin cepat dikunjungi lagi. Sementara untuk negara-negara di Asia Tenggara maka Palawan, Philipina masuk urutan ke 5, Koh Tao di Thailand di urutan ke 6, Hoi An , Vietnam masuk urutan ke 21 dan Chiang Mai Thailand di urutan ke 22.

Untuk Bali disebutkan Indonesia adalah negara Asia Tenggara yang terdiri dari ribuan pulau vulkanik, seperti pulau Bali yang indah.  Anda akan menemukan pantai, gunung berapi, komodo, dan hutan lindung, gajah, orangutan, dan harimau. Pada dasarnya, ini adalah surga.  Kemungkinan Anda telah melihat gambar Bali di media sosial setidaknya sekali dalam tujuh hari terakhir.

Daftar destinasi yang diinginkan wisman di urutan 50. Cinque Terre, Italy. 49. Buenos Aires, Argentina, 48 Maldives. 47. Barbados, Caribbean, 46. Los Angeles, California, USA, 45. Machu Picchu, Peru, 44. Nice, France, 43.Bridgetown, Barbados, 42 Petra, Jordan, 41. Berlin, Jerman, 40 Bergen, Norwegia, 39. Waikato, New Zealand, 38 Prince of Wales Island, Alaska, USA, 37 Culebra, Puerto Rico.

Selanjutnya di posisi 36. Cape Town, South Africa,  35. Key West, Florida, USA. 34 Dubai, UAE, 33. Gozo, Malta, 32. St. Barts, Caribbean, 31. Laucala Island, Fiji, 30. Bali, Indonesia, 29 Yosemite National Park, California, USA, 28. Ibiza, Spain, 27. Dubrovnik, Croatia, 26.. Glacier National Park, Montana, USA. 25.San Jose, Costa Rica.

Sementara itu di urutan 24. Melbourne, Australia, 23. New York, USA, 22. Chiang Mai, Thailand. 21.Hoi An, Vietnam, 20.Kruger National Park, South Africa, 19. Istanbul, Turkey, 18. Tuscany, Italy. 17, Bora Bora, French Polynesia.  Di urutan 16 Guadeloupe, Caribbean, 15 Esperance, Australia, 14.The Aran Islands, Ireland, 13 Menorca, Spanyol, 12.Isle of Skye, UK, 11. Banff National Park Alberta Canada dan posisi 10. Iceland.

Daftar ke 9 adalah  Hawaii, USA, 7 Yellowstone National Park, Wyoming, USA, 6.Koh Tao, Thailand, 5.Palawan, Philippines, 4. The Algarve, Portugal, 3. Positano, Amalfi Coast, Italy, 2. South Island, New Zealand.

Adapun tempat yang paling ingin dikunjungi untuk bepergian setelah dikunci?  Santorini!  Perjalanan ke Yunani tidak lengkap tanpa Santorini – pulau paling terkenal dan sering dibicarakan (untuk alasan yang baik) dari mereka semua. 

Sebuah ledakan vulkanik menciptakan tebing yang menakjubkan di Santorini, yang sekarang menampilkan dua kota berbatu yang indah – Oia dan Fira.

 

Baparekraf Gelar Developer Day 2020 (BDD) Secara Daring 18-19 Juli 2020

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak talenta digital kreatif di Indonesia untuk bergabung dalam event Baparekraf Developer Day (BDD) yang digelar secara daring pada 18-19 Juli 2020.

Plt Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk kreatif, Josua Simanjuntak menjelaskan, BDD merupakan event yang mempertemukan para expert di industri digital kreatif dengan para developer dalam sebuah sesi inspirasi dan transfer knowledge dari para praktisi andal yang telah sukses di bidangnya.

“BDD kali ini digelar dalam format online tapi experience akan tetap sama. Inspirasi dan transfer knowledge dari developer andal yang telah sukses sangat dibutuhkan oleh para peserta untuk mengembangkan karyanya, kata Joshua Simanjuntak.

Tujuannya sebagai upaya peningkatan kompetensi dan kapasitas para talenta digital kreatif khususnya di bidang pengembang aplikasi, game, web, dan teknologi digital yang ada di Tanah Air.

BDD merupakan bagian dari dua strategi besar pengembangan ekonomi kreatif Indonesia yaitu transformasi digital dan kewirausahaan (enterpreneurship). Josua juga menjelaskan, BDD hadir dalam tiga program, yakni event online, fasilitasi belajar, dan kompetisi.

Untuk Event online akan diberikan gratis pada 18 dan 19 Juli 2020. Nantinya peserta akan mendapat paparan dan dapat bertanya langsung terkait 4 topik yang sangat dibutuhkan industri saat ini seperti Technology Track, Android Track, Game Track; dan Web Track. Keempatnya berlangsung dari pukul 08.00-17.00 WIB selama dua hari.

“Dari rangkaian BDD sebelumnya banyak lahir local heroes yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di daerahnya.Harapannya BDD kali ini akan muncul bibit-bibit baru yang berpotensi serta memberikan solusi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Muhammad Neil El Himam menjelaskan terdapat dua pilihan track yang tersedia yakni Pengembangan Front End Web atau Pengembangan Aplikasi Android. Baparekraf akan memberikan fasilitasi sertifikasi google expert sebanyak 1.250 kepada para peserta yang berhasil lulus dalam kelas prasyarat

“Terakhir kompetisi atau Challenge di mana para peserta ditantang untuk berlomba menghasilkan solusi digital terbaik guna memecahkan persoalan sehari-hari. Challange merupakan rangkaian terakhir program BDD yang akan terbuka dari tanggal 1 September hingga 1 Desember 2020,” katanya.

Bagi para talenta digital kreatif yang ingin mengikuti event Baparekraf Developer Online bisa mengunjungihttps://www.dicoding.com/events/3221 Untuk mengikuti fasilitasi (Pengembang Aplikasi mobile dan Pengembang Aplikasi Web) para talenta digital kreatif bisa langsung mendaftar di https://bdd.kemenparekraf.go.id/registration.

 

Sapta Pesona Versus CHSE

this formate

Penulis ( kedua kiri) bersama anggota Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Ki Amuk, Banten, dalam Program pemberdayaan masyarakat untuk menguatkan Program Sapta Pesona Kemenparekraf. ( Foto: HAS) 

JAKARTA: ” Pakkkkk….di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah tidak ada divisi Pemberdayaan Masyarakat lagikah?. Ganti Menteri ganti kebijakan ya ? Sapta Pesona kok hilang sekarang hafalan pejabatnya cuma Cleanliness, Health, Safety ( CHS) melulu, ” kata saya ‘nyerocos‘ diujung telpon dengan seorang pejabat Kementrian Pariwisata dan Ekonomi  Kreatif.

Kalau rakyat desa wisata  tahunya CHS sekarang adalah Sapta Pesona. Sekarang ditambah embel-embel Environmental Sustainability menjadi CHSE yang tertuang dalam buku panduan protokol kesehatan, turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020.

Jadi CHSE itu bagi mereka adalah pilar-pilar Sapta Pesona. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia nomor 14 tahun 2016, tentang Kriteria Destinasi Pariwisata Berkelanjutan adalah menerapkan Sapta Pesona,  bersedia untuk mewujudkan unsur-unsur : Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.

Maklum sepuluh tahun terakhir sejak 2009 hingga 2019 saya banyak berinteraksi dengan warga desa wisata di Tanah Air dan menjadi juri Lomba Foto Sadar Wisata, Lomba Toilet Bersih Bandara Internasional, Lomba Kelompok Sadar Wisata, Lomba Hometay dan terakhir jadi juri Lomba Desa Wisata 2019 yang diselenggarakan secara nasional oleh Kementrian Pariwisata yang sekarang menjadi Kemenparekraf.

Sekarang dengan status sebagai Ketua Departemen Pariwisata Persatuan wartawan Indonesia ( PWI ) Pusat, program kerja saya juga membentuk, membina desa wisata yang jaraknya hanya satu jam dari bandara ataupun pusat kota Kabupaten/ Provinsi.

Kalau desa wisata jarak tempuhnya dekat ke bandara atau ke ibukota kabupaten maupun provinsi, mudah bagi wisatawan untuk datang menikmati kuliner, suvenir, keseharian warga desa termasuk berfoto dengan baju daerah layaknya ke Volendam,  Belanda untuk berfoto dengan kostum tradisional negri kincir angin itu.

Membaca pemberitaan di media massa ketika Kemenparekraf  mensosialisasikan CHSE, wajar warga desa terutama teman-teman pengurus desa wisata di berbagai daerah di tanah air menjadi bertanya-tanya mengapa tidak melanjutkan program pemberdayaan masyarakat lewat Sapta Pesona ?

Pariwisata yang “ramah” dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya disepakati sebagai pariwisata berbasis komunitas atau yang tidak merugikan masyarakat sekitar, lingkungan, dan budaya lokal masyarakat, penyebutan ini lebih dikenal sebagai Community Based Tourism (CBT).

CBT  mengutamakan masyarakat lokal sekitar destinasi wisata menjadi subjek sekaligus objek dalam managemen pariwisata. Peran masyarakat dalam konsep CBT ini sangat penting bagi keberlangsungan pariwisata.

Peran masyarakat adalah sebagai pelaku, penerima manfaat, serta sebagai pembuat kebijakan. Selain itu, dalam Community Based Tourism (CBT) mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada bidang ekonomi, dengan cara tenaga menciptakan lapangan pekerjaan di destinasi wisata yang berbasis CBT.

“Menurut saya pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata (CBT) dengan Sapta Pesona itu adalah hasil nyata sebagai usaha menyadarkan masyarakat dan mengembalikan jati diri bangsa,” ujar Arfah, Sekretaris Pokdarwis Ki Amuk, Banten.

Penerapan Sapta Pesona dan mandirinya masyarakat secara tidak langsung melestarikan budaya mereka. Hal ini tidak semudah membalik telapak tangan, ada proses panjang dalam pembinaan.

” Pilar-pilar Sapta Pesona itu adalah membangun kepercayaan, kemampuan dan kebanggaan sehingga dapat mengembalikan jati diri bangsa dalam kehidupan masyarakat,” tambahnya..

Di lapangan, kata Arfah, peran Pokdarwis adalah merubah mindset masyarakat dari kebiasaan buruk misalnya membuang sampah sembarangan, menjadikan lingkungan yang bersih dan malah sampahnya diolah hingga memiliki nilai ekonomi tinggi seperti yang dilakukannya dalam mengolah sampah plastik menjadi tas unik dan cantik.

“Kebersihan itu pilar Sapta Pesona dan sekarang jadi CHSE. Harus ada sosialisasi ditingkat desa-desa lagi karena tujuannya juga untuk pariwisata yang berkelanjutan,” kata Arfah.

Dia mengaku sangat kecewa jika program pembinaan masyarakat terutama program-program CBT yang telah dilakukan oleh para Menteri Pariwisata pendahulu kemudian hilang tak terdengar lagi program bahkan pembinaannya atas nama pandemi global COVID-19.

Jika masing-masing kementrian dan menterinya yang menjabat per periode punya program sendiri,  maka sebaik apa pun programnya jika program selalu berganti, seterusnya tidak akan terwujud keberhasilan. Malah membuat bingung masyarakat. Andai program dari masing-masing  kementrian dapat bersinergi, dikerjakan bersama., kesepakatan bersama insyaAllah apa pun programnya akan berhasil, kata Arfah.

Nun dari Bontang, Kalimantan Timur, seorang ibu rumah tangga, Halima Jannah yang juga ketua Pokdarwis Kuala Abadi, mengaku bingung dengan istilah CHSE dan belum ada penjelasan yang sampai ke tingkat desa

” Kami di Pokdarwis Bontang Kuala ini  berharap pemberdayaan masyarakat jangan berhenti. Nama program berganti silahkan yang penting adalah penerapannya dilapangan,” tegasnya.

Di kelompoknya dengan 30 kader anghota yang aktif terjun dimasyarakat, gaung Sapta Pesona tidak pernah padam karena sangat dibutuhkan dalam pengelolaan pariwisata.

“Sapta Pesona itu hasil yang nyata, tolong kembalikan dan aktifkan kembali program pemberdayaan masyakarat untuk lebih memahami CHSE. Jangan diabaikan oleh Pemerintah Pusat,” tandas Halima Jannah singkat.

Seorang teman yang sudah menikmati masa pensiun di Menado, Yabes Tosia juga masih ingat perjuangan para pimpinan dan rekan kerjanya di Kementrian Pariwisata dalam sosialisasi Sapta Pesona dan membina CBT di lingkungan kelompok Sadar Wisata di desa-desa wisata hingga ke pelosok tanah air.

“Pada prinsipnya Program Kampanye Sadar Wisata dan Sapta Pesona adalah upaya mengkondisikan masyarakat untuk berperan serta dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat diajak untuk menciptakan suasana  yang kondusif bagi bertumbuh kembangnya kegiatan kepariwisataan di destinasi pariwisata,” ujar Yabes Tosia.

Di era New Normal seperti ini Sapta Pesona yang bertransformasi menjadi CHSE harus segera disosialikasikan karena yang  perlu  ditumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan destinasi pariwisata yg AMAN bagi wistawan.

Masyarakat kini juga dituntut untuk  menjaga  ke TERTIB an sehingga nampak lingkungan yg tertata rapi; menjaga kebesihan supaya terhindar dari berbagai penyakit. Banyak destinasi wisata sudah dibuka, penerapan jaga jarak, tetap pakai masker harus tertib dilaksanakan.

Pasca COVID-19, wisatawan domestik di dorong berwisata. Pokdarwis dan pengelola destinasi harus menciptakan lingkungan yang sehat; menciptakan ke SEJUK an, menata tanaman penghijauan; menciptakan suasana lingkungan yg nampak INDAH di destinasi sehingga wisatawan merasa betah.

Yabes juga mengingatkan untuk bersikap RAMAH kepada wisatawan sangat penting dan akhirnya suasana yang kondusif dengan pengalaman unik dan mengesankan akan menimbulkan KENANGAN bagi wisatawan.

” Tujuh pilar Sapta Pesona bila di analogikan adalah “roh/ruh” pariwisata  yang memberi kehidupan bagi pertumbuhan dan pengembangan pariwisata. Dapat dibayangkan bagimana pariwisata di suatu daerah bisa maju walaupun daya tariknya sangat unik dan mempesona kalau tidak menerapkan ke 7 unsur Sapta Pesona itu. Tentunya “jauh panggang dari api”, ungkap Yabes.

Sesungguhnya, kata Yabes,  secara substansi  pembinaan tekhnis masyarakat sadar wisata berada pada domain Parekraf. Wilayahnya berada pada Kemendes. Kedua lnstansi dapat bersinergi dengan baik dalam hal memajukan desa-desa yang sangat potensial untuk pengembangan desa wisata dimana di dalamnya diterapkan unsur Sapta Pesona itu.

Mantan pejabat yang terlibat dalam bidang pemberdayaan masyarakat selama 10 tahun ini mengingatkan agar divisi pemberdayaan masyarakat di Kemenparekraf segera action dan bersinergi dengan kementrian lainnya. 

“Sesuai arahan Presiden Jokowi, pengembangan pariwisata prioritas digenjot 3 A, akses, atraksi, Amenitas jadi Kementrian terkait harus mampu mewujudkan dan semua paham intinya Sapta Pesona,” kata Yabes Tosia yang kini menjadi pengamat pariwisata dan aktif di organisasi keagamaan.

Dari Kemenparekraf, rekan saya pejabat eselon dua yang berada diujung telpon dengan sabar mengatakan bahwa memang atas nama pandemi global COVID-19 yang melanda 216 negara maka nama CHSE yang dipakai.

“Agar organisasi dan masyarakat dunia paham dengan apa yang dikerjakan kementrian ini makanya nama Sapta Pesona bertransformasi jadi bahasa Inggris yang mendunia (CHSE). Sabar ya Hilda, nanti saya ingatkan teman-teman jangan melupakan pilar-pilar Sapta Pesona dan pentingnya divisi pemberdayaan masyarakat dalam membangun pariwisata Indonesia,” tutupnya.

60% Frequent Flyers Akan Terbang 6  Bulan ke Depan Meskipun Ada Ancaman COVID

this formate

Survei Frequent Flyer Xenophon Analytics 2020  libatkan 3.000 anggota program loyalitas dari maskapai penerbangan utama AS. ( Foto: mba Aviation)

WASHINGTON, bisniswisata.co.id:   Enam puluh persen dari frequent flyers berencana untuk kembali mengudara dalam enam bulan ke depan. Demikian survei baru oleh Xenophon Analytics di Washington, DC.

Mengutip laporan  dari TravelDailyNews, Survei ini dilakukan dengan menggunakan Frequent Flyer Database perusahaan, yang terdiri dari lebih dari 200.000 keikutsertaan  frequent flyer dari seluruh Amerika Serikat. 

Sebelum pandemi, 73% responden melakukan lebih dari tiga perjalanan setahun dan 38% terbang enam kali atau lebih dan  84% dari frequent flyer belum terbang sejak krisis COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi dan darurat kesehatan pada pertengahan Maret.

“Sejumlah besar penumpang udara siap untuk mulai terbang lagi, yang merupakan kabar baik bagi industri penerbangan,” kata David Fuscus,Presiden Strategi Xenophon.  

Menurut dia, selama empat bulan terakhir, penerbangan global telah dihancurkan oleh pandemi COVID-19 dengan lebih pengurangan pekerjaan, pesawat terbang terpaksa didaratkan, pesanan pesawat yang tangguhkan  atau dibatalkan.

 Dari sekian banyak orang yang merencanakan perjalanan dalam enam bulan ke depan, 63% merencanakan perjalanan pribadi sedangkan 10% bepergian untuk bisnis dan 27% akan bepergian untuk keduanya.

Dari mereka yang bepergian untuk leisure bersenang-senang, dua pertiga akan mengambil liburan dan sepertiga akan menghadiri acara seperti wisuda, pernikahan atau peringatan.

 “Jelas dari data, bahwa setelah berbulan-bulan karantina dan gerakan terbatas, orang mengalami demam kabin dan ingin berlibur. Tapi perjalanan bisnis akan menjadi anemia, mungkin karena pembatasan perjalanan,  kerja yang berkelanjutan dan meluasnya penggunaan konferensi video dan teknologi kerja jarak jauh lainnya.” lanjut Fuscus.  

Namun, lonjakan yang diantisipasi dalam penerbangan mendatang dengan harapan tinggi dari penumpang dan hampir semua responden peduli peringkat jarak sosial, masker wajah untuk kru dan penumpang.

Ketersediaan pembersih tangan, prosedur disinfeksi pesawat yang baik, dan peningkatan penggunaan teknologi tanpa sentuhan, seperti  pengenalan wajah adalah  sebagaimana diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan diri mereka.

“Tetapi mereka juga menginginkan peningkatan teknologi tanpa kontak di check-in dan jalur keamanan bandara untuk membantu mencegah penyebaran virus.” kata Fuscus

 Delapan puluh enam persen frequent flyer menilai teknologi tanpa kontak sebagai hal penting dalam membantu mencegah penyebaran COVID-19 dan sebagian besar ingin melihatnya pada saat check-in dan penurunan bagasi, pemeriksaan keamanan, dan naik pesawat. 

Enam puluh delapan persen berpikir bahwa pandemi akan mengurangi kekhawatiran privasi tentang teknologi biometrik, seperti pengenalan wajah, dan membuat integrasi teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari lebih dapat diterima.

Survei Frequent Flyer Xenophon Analytics 2020 yang disurvei lebih dari 3.000 frequent flyer yang merupakan anggota program loyalitas dari maskapai penerbangan utama AS termasuk Delta, United, Southwest, American, JetBlue, Alaska, dan lainnya.  Survei dilakukan dari 28 Mei hingga 18 Juni 2020, dan memiliki margin kesalahan +/- 2%.

 

  

Kemitraan Booking.com dan HERE Mobility Permudah Transportasi Bandara di AS & Eropa

this formate

Aplikasi Booking.com bisa akses transportasi untyk dari dan ke bandara di 70 kota di seluruh AS dan  Eropa.( Foto: Unsplash.com/Mika Brandt)

AMSTERDAM, bisniswisata.co.id:  Booking.com dan HERE Mobility, pasar mobilitas global yang netral dan terbuka, mengumumkan kemitraan strategis baru, yang memberikan para pelancong menggunakan aplikasi Booking.com dan akses platform ke 1,3 juta kendaraan tambahan di 70 kota di 70 kota di seluruh AS dan  Eropa.

Hal ini merupakan bagian dari komitmen Booking.com untuk memanfaatkan teknologi terbaru agar wisatawan dapat memesan berbagai solusi transportasi selama perjalanan mereka. Mulai bulan Juli 2020 ini kemitraan dengan HERE Mobility akan secara signifikan meningkatkan luasnya pilihan dalam taksi bandara Booking.com saat ini. 

Di kutip dari TravelDailyNews, pelayanan yang terus berkembang selama tiga tahun terakhir dan kini saatnya para pelanggan dapat mengatur tumpangan ke dan / atau dari bandara melalui aplikasi di lebih dari 800 kota di seluruh dunia.

HERE Marketplace mobilitas pintar yang netral dan terbuka untuk mengumpulkan semua opsi transportasi, termasuk taksi dan  mobil sewaan privat. Perusahaan menghubungkan pasokan transportasi real-time dengan permintaan pengendara, mendorong efisiensi dan demokratisasi dalam ekosistem industri. 

Memanfaatkan tekhnologi dan inovasi terbaru, pasar HERE Mobility mendukung pemasok mobilitas dan membantu mereka bersaing di era perebutan kendaraan yang cepat.  Ketika preferensi konsumen berubah, HERE Mobility juga memungkinkan mitra pemasok untuk menawarkan opsi transportasi yang lebih berkelanjutan.

Berkomitmen untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, HERE Mobility adalah pemimpin industri dalam memeriksa dan menyetujui armada dan pengemudi, memastikan layanan yang aman dan berkualitas tinggi.  Pelacakan driver langsung menambahkan lapisan keamanan tambahan ke sistem registrasi yang sudah kuat dan menyeluruh.

David Adamczyk, Managing Director Rides dalam Divisi Transport Booking.com, mengatakan, “Tujuan utama kami adalah membuat pelanggan menggunakan transportasi semudah mungkin dan tanpa gesekan. Apakah mengiinginkan kemajuan bepergian dalam perjalanan di mana pun Anda berada di dunia ini ?

Ketika para pelancong mulai bermimpi tentang melakukan perjalanan lagi, dan mengingat lingkungan pandemi global saat ini, kita tahu bahwa banyak orang akan memilih untuk naik taksi atau layanan mobil daripada naik angkutan umum. 

” Dengan terus membangun penawaran kami, tujuanya adalah untuk memberikan layanan yang berguna dan tepat waktu bagi para pelancong yang akan terus relevan dalam jangka panjang karena jangkauan layanan transportasi kami terus berkembang, sangat menyenangkan bekerja dengan HERE Mobility,”  kata David Adamczyk.

Menurut dia, HERE  memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menghubungkan platform yang dimilikinya ke armada di seluruh dunia dengan cepat dan efisien, memungkinkan pihaknya untuk meningkatkan wahana secara signifikan dengan menawarkan dan melayani lebih banyak pelanggan Booking.com di seluruh dunia. 

 “Kami sangat senang dapat bermitra dengan pemain terkenal di ruang perjalanan untuk memberikan solusi ujung ke ujung yang halus bagi semua pengguna di seluruh dunia melalui Marketplace kami,” kata Liad Itzhak, Kepala HERE Mobility.  

Mobilitas sebagai Layanan kini lebih penting daripada sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat bepergian ke luar negeri, karena orang berusaha untuk berpindah dari rumah ke rumah dengan aman dan efisien. ” Bersama-sama, kami memastikan para pelancong menerima pengalaman yang mulus dan aman.” kata Liad Itzhak

Dengan memanfaatkan skala dan pengalamannya yang unik, Booking.com bermitra dengan pemasok transportasi global, baik secara langsung maupun melalui penyedia platform, untuk memberikan para pelancong akses intuitif ke opsi transportasi relevan yang dipersonalisasikan sesuai yang mereka cari.  

Kini para pelancong dapat mengambil mobil sewaan di lebih dari 160 negara, menikmati perjalanan di 8 pasar Asia Tenggara  dan, melalui uji coba yang berkelanjutan, membeli dan menggunakan tiket angkutan umum di 26 kota di seluruh Eropa, Asia, Oseania, dan Utara serta  Amerika Selatan semua melalui aplikasi Booking.com mereka.

Ambisi menyeluruh Booking.com adalah untuk menghubungkan perjalanan: memberi wisatawan satu platform yang dapat mereka gunakan untuk memesan, membayar dan mengelola setiap elemen dari setiap perjalanan, dari akomodasi dan transportasi hingga pengalaman dan atraksi.

 

 

 

Destinasi Internasional Mana yang Dibuka Kembali Untuk Wisatawan ?

this formate

Turki sudah menerima wisman sejak Juni lalu ( Foto: Burak Kara/GettyImages) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meskipun banyak pemerintah masih menyarankan agar perjalanan internasional “tidak penting”, sejumlah tujuan populer mulai mengurangi langkah-langkah kuncian COVID-19 dan mencabut  pembatasan perbatasan mereka untuk menyambut wisatawan kembali.

 Pada 1 Juli lalu, Uni Eropa mengumumkan membuka kembali perbatasan luarnya ke 15 negara di luar blok dalam upaya untuk meningkatkan industri perjalanannya. Aljazair, Australia, Kanada, Georgia, Jepang, Montenegro, Maroko, Selandia Baru, Rwanda, Serbia, Korea Selatan, Thailand, Tunisia dan Uruguay semuanya termasuk dalam daftar negara – negara yang warganya  bisa saling berkunjung bersama dengan China, asalkan setuju untuk mencabut pembatasan pada warga negara Uni Eropa.

Namun, Amerika Serikat, yang sekarang memiliki jumlah tertinggi infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi di dunia, menurut Pusat Sumber Daya Coronavirus Universitas Johns Hopkins, tidak dimasukkan.

Gelembung perjalanan atau travel bubble juga menjadi lebih populer, dengan orang-orang seperti Fiji, Australia dan Selandia Baru, mempertimbangkan untuk mengikuti jejak negara-negara Baltik Estonia, Latvia dan Lithuania, yang telah mencabut pembatasan untuk warga negara masing-masing.

Sementara itu Inggris telah membentuk “koridor perjalanan” itu dengan 59 negara yang berbeda, sementara tujuan populer seperti Dubai dan Jamaika telah membuka pintu mereka untuk pengunjung asing lagi.

Jika Anda salah satu dari banyak wisatawan yang menunggu berita tentang di mana Anda dapat melakukan perjalanan ke tahun ini, berikut adalah panduan ke tujuan utama yang membuat rencana untuk dibuka kembali, kami pilihkan destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan Indonesia  seperti Thailand, Bali, Mesir, Turki, Paris.

Daftar di atas di luar negara-negara lain yang diuraikan CNN Travel. seperti Aruba, Barbados, Bermuda, Kroasia, Siprus, Georgia, Jerman, Yunani, Hungaria, Iceland, Itali, Janaica, Inggris, Maladewa, Malta, Mexico, Portugal, Spanyol, St Lucia dan UAE. Uraiannya berikut ini; 

Thailand berencana untuk membuka kembali berbagai kawasan secara bertahap hingga akhir 2020. Yuthasak Supasorn, gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengatakan kepada CNN Travel.

Thailand telah lama menjadi tujuan utama bagi para pelancong, menerima hampir 40 juta wisatawan asing tahun lalu. Namun, pengunjung telah dilarang masuk sejak Maret karena pandemi.

Sementara jumlah kasus di sini relatif rendah dibandingkan dengan tujuan-tujuan lain – Thailand telah melaporkan lebih dari 3.000 kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 50 kematian – para pejabat tidak mengambil risiko ketika datang untuk membuka kembali negara itu.

 “Ini masih tergantung pada situasi wabah, tapi saya pikir paling awal kita mungkin melihat kembalinya wisatawan dapat menjadi kuartal keempat tahun ini,”  kata Yuthasak Supasorn. Dia menekankan ada batasan pada siapa yang dapat mengunjungi negara gajah purih itu dan daerah mana mereka dapat pergi setelah pembatasan dilonggarkan.

 “Kami tidak akan membuka sekaligus dan masih dalam siaga tinggi,harus melihat negara asal para pelancong untuk melihat apakah situasi mereka benar-benar membaik.”

Ini secara efektif berarti Thailand tidak mungkin membuka perbatasannya untuk pelancong dari tujuan yang tampaknya tidak mengendalikan situasi coronavirus. Mereka yang diberi izin untuk masuk dapat ditawarkan “paket jangka panjang” di daerah-daerah terpencil “di mana pemantauan kesehatan dapat dengan mudah dikendalikan,” seperti pulau-pulau terpencil Koh Pha Ngan dan Koh Samui.

 Pada 1 Juli, larangan penerbangan internasional dicabut oleh Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) asalkan persyaratan tertentu dipenuhi. Pelancong bisnis dan mereka yang mencari perawatan medis di Thailand adalah di antara mereka yang sekarang diizinkan untuk memasuki negara itu.

Kurangnya wisatawan asing berarti bahwa jumlah pengunjung akan turun menjadi 14 hingga 16 juta tahun ini, menurut TAT. Tetapi seperti banyak tujuan global lainnya, Thailand telah berfokus pada pariwisata domestik.Bahkan, beberapa resor dan hotel telah diberikan izin untuk membuka kembali – Hua Hin, yang terletak sekitar 200 kilometer (124 mil) selatan Bangkok, menjadi salah satunya.

Thailand akan buka bertahap untuk wisman pada akhir tahun 2020 ini. ( Foto: Jack Taylor/ AFP via Getty Images).

Bali,  Setidaknya 6,3 juta orang wisman mengunjungi Bali pada tahun 2019. Destinasi wisara utama RI ini  relatif berhasil menahan wabah coronavirus, dengan kurang dari 1.500 kasus yang dikonfirmasi dan, pada saat penulisan, total 11 kematian.

 Pulau Dewata sekarang berharap untuk menyambut wisatawan kembali pada bulan Oktober, asalkan tingkat infeksi tetap rendah. Menurut pernyataan Ni Wayan Giri Adnyani, sekretaris kementerian, Yogyakarta, yang terletak di pulau Jawa, kemungkinan akan dibuka kembali terlebih dahulu, bersama dengan provinsi Kepulauan Riau.

 Ekonomi Bali sangat tergantung pada pariwisata dan jumlah pengunjung telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan sekitar 6,3 juta orang berkunjung pada 2019.

“Coronavirus telah meruntuhkan ekonomi Bali … itu merupakan penurunan tajam sejak [pertengahan Maret] ketika langkah-langkah sosial menjauhkan,” Mangku Nyoman Kandia, seorang pemandu wisata Bali, mengatakan kepada ABC News pada bulan April.  “Tidak ada turis, tidak ada uang.” tambahnya.

Semua warga negara asing, kecuali diplomat, penduduk tetap dan pekerja kemanusiaan, saat ini dilarang masuk ke Indonesia, dan siapa pun yang memasuki pulau itu harus menjalani tes Swab dan memberikan surat yang menyatakan bahwa mereka bebas dari COVID-19.

Tidak jelas apa persyaratan masuk jika pembatasan dicabut akhir tahun ini, atau apakah Bali akan menerima wisatawan dari daerah yang terkena dampak pandemi.Namun, pejabat pariwisata telah menyerukan “gelembung perjalanan” untuk diterapkan antara Bali dan Australia.

Mesir, Penerbangan internasional sudah dimulai ke Mesir awal Juli lalu.  Sektor turisme menghasilkan sekitar US$ 1 miliar pendapatan untuk Mesir setiap bulan, sehingga dampak dari pembatasan perjalanan yang disebabkan oleh pandemi ini sangat signifikan.

Pemerintah menghentikan sementara penerbangan penumpang pada bulan Maret, sementara semua hotel, restoran dan kafe ditutup dan jam malam diberlakukan. Langkah-langkah ini saat ini hotel-hotel sedsng memenuhi persyaratan tertentu, seperti memiliki klinik dengan dokter residen di lokasi, diberikan izin untuk dibuka kembali untuk pengunjung domestik dengan kapasitas yang dikurangi.

Jam malam sempat berlaku antara jam 8 malam hingga jam 5 pagi dan dicabut pada tanggal 27 Juni 2020. Pemerintah telah mengenakan masker wajib di tempat-tempat umum dan transportasi umum.

 Wisatawan asing diizinkan di resor yang paling tidak terpengaruh oleh COVID -19. “Kita harus bersiap,” kata juru bicara kabinet Nader Saad saat wawancara televisi bulan lalu.

Turki menerima pengunjung internasional mulai pertengahan Juni lalu.Negara ini menghasilkan lebih dari US$ 34,5 miliar dari pariwisata pada tahun 2019, dan negara lintas benua itu ingin sekali berbisnis. Wisatawan Indonesia sebelum COVID-19 banyak yang mampir Turki sebelum atau setelah melaksanakan ibadah Umroh.

Seperti banyak negara lain, tujuan populer memilih untuk memulai kembali pariwisata domestik sebelum mulai menyambut pengunjung asing. Rute penerbangan internasional ke dan dari Turki secara bertahap mulai lagi sepanjang Juni, dengan Inggris, Jerman, Austria, Kroasia, Hong Kong, dan Swiss di antara 40 negara yang kini menerima wisatawan dari Turki.

Sementara wisatawan tidak diharuskan untuk menjalani tes COVID-19 sebelum perjalanan mereka, semua pengunjung akan menerima evaluasi medis, termasuk pemeriksaan suhu, pada saat kedatangan.

 “Ketika pengunjung asing datang, mereka akan diperiksa kesehatannya, dan suhu tubuh akan diukur. Jika ada kecurigaan, wisatawan akan dibawa untuk tes PCR. Pengukuran ini akan dimulai di bandara Antalya, Bodrum, Dalaman, Izmir, Istanbul, provinsi negara itu dengan daya tarik wisata paling banyak,” kata Mehmet Nuri Ersoy, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Negara ini juga telah menetapkan pedoman baru untuk fasilitas hotel dan resornya, seperti pemeriksaan suhu di pintu masuk dan setidaknya 12 jam ventilasi kamar setelah checkout.  Para tamu akan diminta untuk memakai masker wajah dan menjaga jarak sosial.

“Semakin transparan dan terperinci informasi yang kami berikan, semakin kami akan mendapatkan kepercayaan dari para wisatawan,” kata Ersoy ketika mengungkapkan rencana untuk membuka sekitar setengah dari hotel-hotel Turki tahun ini.

Sementara itu, pembatasan perjalanan antarkota telah dicabut, sementara restoran, kafe, taman, dan fasilitas olahraga sydah  diizinkan buka kembali sejak 1 Juni, bersama dengan pantai dan museum.

Grand Bazaar Istanbul, salah satu pasar terbesar di dunia, dibuka kembali untuk pertama kalinya dalam dua bulan pada 1 Juni

Perancis mendorong warganya mengambil liburan musim panas  Juli dan Agustus. Negara di Eropa inl adalah yang paling banyak dikunjungi pelancong di dunia sebelum pandemi Coronavirus. 

Hotel-hotel di negara itu akan bergantung pada pariwisata domestik setelah dibuka kembali, karena semua tanda menunjukkan bahwa wisatawan internasional tidak akan dapat masuk untuk masa mendatang.

 “Ketika tindakan penguncian melunak, wisatawan Perancis kemungkinan ingin tinggal dekat dengan rumah dalam jangka pendek. Hal Ini akan menjadi saat bagi mereka untuk menemukan kembali negara mereka sendiri dan kami akan berada di sana untuk menyambut mereka.” kata juru bicara jaringan hotel Prancis Accor kepada CNN Travel awal bulan ini

Perdana Menteri Edouard Philippe baru-baru ini mengumumkan paket stimulus $ 19,4 miliar untuk mendorong sektor pariwisata Prancis yang sedang sakit. Hotel, bar, restoran, dan kafe di negara itu diberikan izin untuk dibuka kembali  sejak 2 Juni lalu.

Sementara itu Paris diturunkan dari “zona merah” ke “zona hijau” pada pertengahan Juni dan kota itu sekarang telah dibuka kembali. Museum yang paling banyak dikunjungi di Perancis, Louvre, akan dibuka kembali pada 6 Juli.

 “Pariwisata menghadapi apa yang mungkin merupakan tantangan terburuk dalam sejarah modern,” tambah Philippe.  “Karena ini adalah salah satu permata mahkota ekonomi Perancis dan menyelamatkannya adalah prioritas nasional.”

 

 

Inggris Cabut Aturan Karantina Bagi Pelancong Asing

this formate

Inggris cabut aturan karantina bagi orang asing (foto: Financial Times)

LONDON, bisniswisata.co.id: Pemerintah Inggris melonggarkan aturan karantina bagi pelancong yang datang dari sejumlah negara tertentu, termasuk Perancis, Italia, Belgia, Jerman, dan Spanyol.

Mulai 10 Juli, kedatangan wisatawan dari 58 negara terpilih tak perlu lagi menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pelonggaran ini berlaku bagi negara-negara yang dianggap memiliki resiko penularan virus corona yang rendah. Aturan ini tidak berlaku bagi pendatang dari Amerika Serikat (AS), China, dan Portugal.

Sementara itu Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara mengeluarkan sendiri daftar negara asal turis yang bebas aturan karantina. Tercatat ada 39 negara, lebih sedikit dibanding Inggris, tapi tidak termasuk Spanyol. Bagi mereka yang melanggar aturan akan didenda.

“Apakah Anda seorang wisatawan yang bepergian ke luar negeri atau untuk urusan bisnis, ini menjadi kabar baik bagi orang Inggris dan pebisnis,” kata Menteri Transportasi Grant Shapps dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir CNN International.

Kendati demikian, Pemerintah Inggris menambahkan akan meninjau ulang pelonggaran bagi kedatangan orang asing jika di negara asal mereka terjadi peningkatan kasus corona.

“Seluruh bangsa ini telah bekerja tanpa lelah untuk mencapai tahapan ini, oleh karena itu keselamatan harus tetap menjadi perhatian utama kami. Jika tingkat infeksi kembali meningkat di negara-negara yang telah terhubung kembali, kami tak akan ragu untuk bergerak cepat demi melindungi diri.”

Aturan wajib karantina selama dua minggu, yang mulai diberlakukan pada 8 Juni, mendapat banyak kritikan terutama dari para pelaku bisnis di sektor perjalanan. Menurut mereka aturan tersebut memperlambat proses pemulihan industri yang terpuruk akibat wabah virus Corona

Paul Charles, anggota Quash Quarantine, sebuah kelompok kampanye yang melobi pemerintah untuk membatalkan tindakan itu, sebelumnya menggambarkan pedoman itu sebagai sesuatu yang bukan hanya unworkable (tidak bisa dijalankan), tetapi juga unenforceable (tidak bisa diterapkan).

“Banyak pekerjaan hilang dalam beberapa minggu terakhir karena orang belum mau liburan. Mereka takut aturan karantina. Jadi, aturan itu telah menghambat orang untuk mem-booking rencana liburan mereka di masa mendatang,” katanya kepada CNN Travel.

Meski para pelancong dari negara-negara yang disebutkan tadi tak perlu melakukan karantina mandiri, mereka tetap diwajibkan memberitahu alamat tempat tinggal selama di Inggris dan untuk berapa lama. Menurut Departemen Transportasi Inggris, itu dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan bagi warga Inggris.

Data resmi Pemerintah Inggris mencatat ada 44.600 kasus kematian di sana, termasuk salah satu angka kematian tertinggi di dunia.

 

 

Pekerja Seni Agar Aktif Bangun Kesadaran Masyarakat Jalani Protokol Kesehatan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Para selebritas atau pekerja seni di Tanah Air agar aktuf membantu menyebarluaskan dan membangun kesadaran masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi global COVID-19 yang masih berlangsung, kata Menparekraf/Ketua  ekraf Whisnutama, hari ini.

Berbicara usai mendampingi Presiden Joko Widodo bertemu sekitar 30 orang pekerja seni yang terbagi dalam dua sesi di Istana Merdeka, Jakarta, Whisnutama mengatakan masyarakat di sejumlah daerah masih kurang sadar akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara ketat di tengah pandemi COVID-19.

“Presiden berharap seniman dapat membantu menyuarakan protokol kesehatan agar lebih dapat didengar, disosialisasikan, dan dilaksanakan oleh masyarakat luas,” kata Wishnutama dalam  siaran persnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut para pekerja seni diantaranya Soleh Solihun, Raffi Ahmad, Butet Kertaradjasa, Ari Lasso, Andre Taulany, Cak Lontong, Yuni Shara, Tompi, Atta Halilintar, Desta, dan lainnya.

Menparekraf mengatakan seniman memiliki komunitas dan penggemar sehingga diharapkan sosialisasi dapat lebih masif tersampaikan dengan cara mereka masing-masing. Dalam kesempatan itu para pekerja seni juga memberi masukan tentang apa yang mereka hadapi selama pandemi.

“Dengan caranya mereka akan lebih kreatif, unik, dan fun sehingga dapat membantu menyosialisasikan protokol kesehatan dengan baik agar dapat didengar atau diperhatikan oleh masyarakat,” kata Wishnutama.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani mengatakan, bersama dengan sejumlah asosiasi penyelenggara kegiatan pihaknya tengah merumuskan Standard Operational Procedure (SOP) penyelenggaraan kegiatan.

Pembahasan tersebut membahas mulai dari apa yang harus dilakukan penyelenggara, penonton, vendors, artis sebagai subjek penyelenggara kegiatan. Pembahasan juga menyorot objek dalam penyelenggaraan kegiatan mulai dari peralatan, flow pengunjung, sistem penjualan tiket, penjualan makanan dan lainnya. Semuanya disusun berdasarkan faktor kebersihan, kesehatan, kesehatan, dan keberlangsungan lingkungan.

Diharapkan penyelenggaraan kegiatan dapat kembali berjalan, dan pekerja seni dapat kembali produktif namun tetap aman COVID-19 di era adaptasi kebiasaan baru.

“Saat ini sudah memasuki pertemuan ketiga dan kita harapkan dengan pertemuan selanjutnya akan bisa segera disepakati sehingga dapat disampaikan ke Menteri untuk menjadi protokol kesehatan di bidang penyelenggaraan event,” kata Rizki Handayani.

Namun ia menegaskan, pihaknya hanya menyusun panduan penerapan protokol, sementara untuk perizinan tetap menjadi wewenang pemerintah daerah. “Perizinan dilaksanakannya kembali berbagai kegiatan atau acara menjadi wewenang pemerintah daerah dan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 dari daerah tersebut,” kata Rizki Handayani.

 

Mau Berwisata ke Jepang ? Ikuti Perkembangan Terbarunya

this formate

Tokyo Disneyland  yang sudah beroperasi lagi awal Juli 2020 ini ( foro: Unsplash/Romeo A)

TOKYO, bisniswisata.co.id: Jepang tergolong negara tujuan wisata favorit bagi wisatawan Indonesia. Selain keterikatan sejarah penjajahan, negri Sakura ini dikenal sebagai negara yang Friendly Muslim.

Bagi yang sejak awal tahun 2020 sudah merencanakan liburan ke Jepang tetap harus sabar menanti karena negara ini belum membuka diri bagi wisatawan asing.

Wabah virus Corona memiliki dampak besar pada pariwisata di Jepang. Meski pembatasan pada pariwisata domestik telah dicabut, Jepang tetap tertutup bagi wisatawan internasional, dan belum ada tanda-tanda bahwa perbatasan akan dibuka untuk sejumlah besar wisatawan dalam waktu dekat.

Meskipun virus belum menyebar di Jepang seperti tingkat ledakan yang terlihat di Eropa dan Amerika Utara, pemerintah Jepang  sudah menyatakan keadaan darurat dari 7 April hingga 25 Mei dan meminta warga untuk tinggal di rumah dan bisnis tertentu ditutup.  

Setelah berakhirnya keadaan darurat, orang-orang di seluruh negeri diminta untuk melakukan jarak sosial dan menahan diri untuk tidak mengunjungi tempat-tempat ramai dan berventilasi buruk.  Pembatasan bisnis sebagian besar telah dicabut.  Dan semua pembatasan perjalanan antar-prefektur dicabut pada 19 Juni lalu.

Mengutip japan-guide, diinformasikan bahwa di dalam kota, transportasi umum tidak terlalu terpengaruh;  namun maskapai penerbangan dan perusahaan bus jarak jauh telah banyak mengurangi layanan mereka, dan kereta wisata telah ditangguhkan. Namun kini layanan  sedang ditingkatkan lagi.  

Kereta antar kota sebagian besar telah kembali beroperasi sesuai dengan jadwal reguler mereka setelah pengurangan layanan pada bulan Mei dan awal Juni.

Jepang saat ini menolak masuk warga non-Jepang termasuk dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam  , Filipina, Korea Selatan, China, dan sebagian besar negara Eropa (termasuk Inggris), kecuali dalam keadaan khusus.

Jepang juga menangguhkan sementara pembebasan visa untuk sementara waktu, sehingga perlu bagi semua pengunjung untuk mengajukan permohonan visa sebelum melakukan perjalanan ke Jepang.

Selain itu, semua orang yang memasuki Jepang, termasuk warga negaranya sendiri harus menjalani karantina di lokasi yang ditentukan dan tidak boleh menggunakan transportasi umum selama 14 hari setelah kedatangan.

Sebaliknya ada banyak negara yang menolak masuk  orang-orang yang datang dari Jepang atau mengharuskan pelancong yang datang dari Jepang untuk menjalani karantina.

Pembukaan kembali perbatasan Jepang secara bertahap saat ini sedang dipersiapkan, mulai dari negara-negara terpapar virus Corona yang memiliki ikatan penting dengan Jepang.  

Sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, Australia, Selandia Baru, Taiwan, Korea Selatan, China, Singapura, Malaysia, Brunei, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Mongolia adalah negara-negara  yang kandidat awal akan diperbolehkan masuk.

Tapi  Entri awalnya akan terbatas pada pelancong bisnis, pakar, dan peserta pelatihan.  Pelajar dan akhirnya turis akan mengikuti di poin selanjutnya.

Sebagian besar tempat wisata di Jepang ditutup pada bulan April dan Mei;  Namun sejak akhir Mei, sebagian besar telah dibuka kembali dan hanya beberapa yang tetap ditutup. 

Sejumlah  acara dan festival telah dibatalkan atau ditunda, namun tempat-tempat wisata utama dan keadaan bisnis mereka saat ini di beberapa tujuan wisata  populer sudah dibuka kembali.

Menara Tokyo sudah dibuka kembali pada 28 Mei, Dek observasi Gedung Pemerintah Tokyo dibuka kembali 1 Juli, Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea buka lagi awal Juli lalu.

Tur berpemandu ke Istana Kekaisaran buka 2 juni lalu begitu juga Imperial East Garden, Hama Rikyu, Rikugien, Museum Terbuka Edo, Shinjuku Gyoen, Koishikawa Korakuen.

Museum Sumida Hokusai, Tokyo Skytree, Museum Nasional Tokyo, Akuarium Sumida,Museum Edo-Tokyo juga termasuk obyek wisata yang sudah buka sejak Juni.

Obyek wisata Zoorasia, Great Buddha. pelayaran wisata di Danau Ashinoko, Outlet Premium Gotemba, kereta Gantung Komagatake, Istana Kekaisaran Kyoto, World Heritage Center Dataran Tinggi Fuji Q, Istana Osaka dan Universal Studios Jepang juga sudah buka sebulan lalu.

Begitu pula Legoland, Universal Studios Jepang, Desa Bersejarah Hokkaido, Midland Square, Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, Museum Bom Atom Nagasaki, Okinawa World semua sudah dibuka kembali.

.

Kehidupan Setelah Zoom: Travel Agent Rancang Prosedur Perjalanan Bisnis yang Aman

this formate

Perjalanan bisnis segera dimulai, akhiri pertemuan via zoom (foto: hospitality net)

SYDNEY, bisniswisata.co.id: Bisnis agen perjalanan termasuk yang paling parah terdampak pandemi Covid-19. Saat sepi order seperti sekarang, perusahaan biro perjalanan bekerja sama dengan sejumlah korporasi mencari celah bagaimana kelak mengeluarkan para staf dari konferensi via Zoom untuk kembali melakukan perjalanan udara dengan aman.

Mereka meluncurkan tools baru yang memuat informasi terkini tentang keadaan di lapangan, termasuk ketentuan penggunaan masker, aturan jarak sosial dan karantina, serta informasi detil lain terkait prosedur kesehatan dan kebersihan di hotel, pesawat, serta transportasi darat. 

Kebanyakan para pelancong korporat kini mulai beralih dari langsung memesan online ke mencari advice pada para konsultan berpengalaman. Meski lambat, namun pertumbuhannya terus merangkak naik. Dalam kondisi normal, industri travel & tourism (perjalanan dan pariwisata) korporasi menyumbang US$ 1,4 triliun dari pengeluaran tahunan. 

“Saya melihat trend-nya sekarang mulai meningkat. Kita dapat melakukan pertemuan virtual lewat Zoom atau Microsoft tetapi tetap saja tak ada yang dapat mengalahkan tatap muka,” kata Jo Sully, General Manager Regional Asia-Pasifik di American Express Global Business Travel, seperti dilansir Reuters.

“Saya pikir itu menunjukkan ada pemulihan meski berlangsung secara bertahap. Orang mungkin akan berpikir ‘Haruskah saya melakukan ini via Zoom?’ tetapi yang pasti orang akan kembali melakukan perjalanan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan,” kata eksekutif yang berbasis di Sydney itu.

Perusahaannya memperkirakan keadaan akan kembali membaik setidaknya 60-70 persen pada 2021 dan mencapai ke keadaan sebelum pandemi di tahun 2022 atau 2023.

Selandia Baru yang baru saja mengakhiri aturan lockdown pada Mei, mencatat jumlah pemesanan domestik sudah kembali 50% dari tahun lalu, kata Jamie Pherous, direktur pelaksana Corporate Travel Management yang berbasis di Brisbane.

“Ada permintaan terpendam dan saya mengunjungi beberapa pelanggan (di Australia) dan mendapat umpan balik yang penting. Kata mereka: kita telah membangun keputusan penting yang tidak akan pernah bisa diselesaikan levat konferensi video.” ujar Jamie Pherous.

Sementara itu tingkat pemesanan domestik di China telah mencapai 60% dari keadaan sebelum pandemi. Permintaan di sejumlah negara di Eropa juga mulai naik seiring pelonggaran restriksi di perbatasan, kata Chris Galanty, kepala Eksekutif Global dari divisi korporat Flight Centre Travel Group Ltd yang berbasis di London.

 “Saat negara-negara mulai dapat mengendalikan krisis kesehatan dan menekan jumlah kasus COVID-19 serta penerapan kebijakan lokal yang memungkinkan dimulainya perjalanan – yaitu pencabutan aturan lockdown dan orang bisa secara fisik melakukan perjalanan – maka bisnis travel pun akan meningkat,” katanya.  

Faktor lain yang turut memperlambat pulihnya bisnis perjalanan adalah pembatalan sejumlah acara perusahaan dan pengetatan anggaran perjalanan, kata Akshay Kapoor, Direktur Senior CWT,  yang menangani pelanggan multinasional grup, Asia Pasifik.

“Jika saya ingin bepergian, perusahaan akan meminta saya melewati sejumlah tingkatan prosedur untuk mendapatkan persetujuan,” kata eksekutif yang berbasis di Singapura itu.

“Prosedur untuk mendapatkan persetujuan menjadi lebih panjang. Perusahaan-perusahaan juga mengawasi dengan ketat tujuan perjalanan. Dan jika seseorang akhirnya bisa bepergian, perusahaan pun akan terus mengawasi dengan ketat keberadaan dan keadaan mereka.”