Kemenparekraf Terbitkan Buku Panduan Protokol Kesehatan di Bidang Hotel dan Restoran

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menerbitkan buku panduan protokol kesehatan di bidang hotel dan restoran agar para pelaku bisa tetap produktif dan merasa aman di tengah pandemi COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, mengimbau pelaku parekraf untuk aktif dalam mencari, memahami, serta mengimplementasikan protokol kesehatan dengan taat dan disiplin.

“Perlu adanya buku panduan praktis bagi industri pariwisata dalam menyiapkan produk dan pelayanan yang bersih, sehat, aman, dan ramah lingkungan khususnya hotel dan restoran,” ujar Wishnutama, hari ini

Buku panduan protokol kesehatan ini merupakan turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Penyusunan buku panduan protokol kesehatan juga melibatkan berbagai pihak, yaitu asosiasi usaha hotel dan restoran, asosiasi profesi terkait bidang perhotelan dan restoran, serta akademisi dengan tetap mengacu pada protocol kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan arahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Buku panduan ini terdiri dari dua pokok materi, yaitu panduan umum dan panduan khusus.

Panduan umum meliputi manajemen atau tata kelola hotel dan restoran seperti memperhatikan informasi terkini serta imbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), menyediakan dan memasang imbauan tertulis, serta menerapkan protokol kesehatan dasar bagi karyawan, tamu, dan pihak lain yang beraktivitas di hotel maupun restoran seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Sedangkan, panduan khusus meliputi tiga alur pelayanan hotel dan restoran mulai dari pintu masuk hingga ruang karyawan, yaitu panduan bagi pengusaha dan pengelola terhadap fasilitas yang harus disediakan, panduan bagi tamu, serta panduan bagi karyawan.

Pelaksanaan protokol kesehatan disebutnya sangat penting untuk dilakukan dengan baik. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk mendorong pergerakan sektor parekraf, serta meningkatkan kepercayaan dan produktivitas masyarakat agar merasa aman dari COVID-19.

Buku panduan ini juga dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, serta asosiasi usaha dan profesi terkait hotel dan restoran untuk melakukan sosialisasi, edukasi, simulasi, uji coba, pendampingan, pembinaan, pemantauan dan evaluasi dalam penerapan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) demi meningkatkan keyakinan para pihak, reputasi usaha, dan destinasi pariwisata.

Dengan adanya buku panduan ini, Menparekraf Wishnutama Kusubandio berharap dapat meningkatkan pemahaman para pihak terkait usaha hotel dan restoran dalam mengimplementasikan protokol kesehatan serta dapat berkontribusi dalam membangkitkan kembali industri pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas.

Bagi para pelaku parekraf yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai buku panduan protokol kesehatan di bidang hotel dan restoran dapat mengakses link https://www.kemenparekraf.go.id/post/panduan-pelaksanaan-kebersihan-kesehatan-keselamatan-dan-kelestarian-lingkungan-untuk-sektor-parekraf.

 

Pengusaha Hotel dan Restoran Agar Bangkitkan Usaha dengan Menerapkan CHSE

this formate

 

Noviendi Makalam ( duduk tengah),  Analis Kebijakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf/ Barekraf) dorong pengusaha hotel & restoran terapkan CHSE. ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kemenparekraf/Baparekraf mendorong para pengusaha hotel dan restoran bangkitkan usaha dengan  menerapkan protokol kesehatan sesuai standar Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Berbicara  dalam webinar dengan Alodokter bertajuk “Adaptasi Kebiasaan Baru yang Sehat, Aman, dan Produktif bagi para Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif”, Senin (13/7/2020) , Noviendi Makalam, Analis Kebijakan Kemenparekraf/ Baparekraf,  mengatakan penerapan protokol kesehatan punya peran penting untuk bangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Protokol ini disusun untuk mendorong upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, kesiapan destinasi dalam adaptasi kebiasaan baru dan merupakan salah satu tindakan untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata Indonesia,” ungkapnya.

Saat ini ada kecenderungan wisatawan akan mencari destinasi wisata yang aman dan bersih untuk menghindari penyebaran COVID-19. “Kita melihat profil pengunjung hotel sekarang berubah. Sehingga kalau ada hotel yang tidak mau menerapkan CHSE dia sendiri yang akan rugi karena ini adalah permintaan konsumen,” katanya.

Hal ini diamini oleh Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Rusiawan. Menurutnya, protokol kesehatan perlu diterapkan dan dipatuhi untuk meningkatkan kepercayaan dan daya tarik wisatawan untuk datang ke destinasi wisata.

“Yang penting sekarang adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan agar COVID-19 segera berakhir dan sektor parekraf kembali bangkit,” ungkap Wawan.

Pada Kesempatan yang sama, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, juga mengapresiasi penyusunan protokol kesehatan bagi pengelola dan pengunjung hotel dan restoran memasuki fase kebiasaan baru. Menurut Syaiful, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan sektor yang harus segera dibangkitkan kembali untuk memperbaiki perekonomian negara.

Tak hanya itu, Syaiful juga berharap Kemenparekraf/Baparekraf dapat membantu para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terkena dampak pandemi COVID-19.

“Harus ada relaksasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif selain keringanan juga perlu ada tambahan dana agar mereka bisa bangkit kembali ketika masuk era pemulihan ini,” tutur Syaiful.

Selain itu, turut hadir pula Medical Application Development Specialist Alodokter, dr. Gloria Kemala. Ia berpesan agar para pengunjung serta pekerja hotel dan restoran untuk selalu menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan seperti selalu mencuci tangan, menerapkan physical distancing dan selalu mengenakan masker.

“Jika akan keluar rumah disarankan untuk membawa masker kain lebih dari satu. Karena optimalnya 4 jam sekali masker itu harus diganti,” ucap Gloria.

 

ASTINDO Selenggarakan Virtual Travel Mart Nusantara   

this formate

Elly Hutabarat ( kiri), Ketua ASTINDO saat kegiatan  travel fair tahun 2019 lalu ( Foto: Astindo)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Untuk pertama kalinya ASTINDO menggelar ajang bisnis (B to B) secara virtual yaitu ASTINDO Virtual Travel Mart Nusantara 2020 yang dibuka oleh Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Barekraf).

Elly Hutabarat, Ketua Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia ini mengatakan, dampak COVID-19 memang sangat berat dan  para  pelaku industri pariwisata selama beberapa bulan terakhir ini bisnusbta terpuruk.

” Itu sebabnya kami menginisiasi penyelenggaraan ASTINDO Virtual Travel Mart Nusantara yang mempertemukan Seller dan Buyer dari  anggota untuk mendinamiskan bisnis para pelaku industri pariwisata dan industri pendukungnya serta mendorong para pelaku industri pariwisata agar segera menyiapkan produk wisatanya agar dapat segera dipasarkan paska pandemi Covid-19. 

Dia sangat optimis sektor pariwisata domestik akan cepat bangkit melihat sinergi antara para pelaku industri pariwisata dan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder lainnya untuk membangkitkan pariwisata domestik. 

“Kami mendukung penuh upaya dan langkah-langkah pemulihan yang dibuat oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dalam menyambut kondisi kenormalan baru di sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, utamanya terkait dengan penerapan Cleanliness, Health, and Safety (CHS) untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan,” lanjut Elly.

Sejalan dengan hal ini, pihaknya telah mensosialisasikan program CHS tersebut kepada para tour operator dan travel agent, khususnya anggota ASTINDO agar dapat diterapkan dengan baik. Dia juga optimistis gaining trust atau confidence merupakan kunci dalam percepatan pemulihan pariwisata, tambahnya.

Produk paket wisata yang ditawarkan pada Virtual Travel Mart Nusantara ini merupakan produk wisata yang sudah sesuai dengan standar protokol CHS. 

Kegiatan ini dapat mendorong pemulihan bisnis pariwisata Indonesia serta membangkitkan semangat para pelaku industri pariwisata agar tetap mendapat kesempatan membangun networking sekaligus menciptakan peluang bisnis baru. “Ke depan, kami bermaksud untuk melanjutkan kegiatan ini  dalam beberapa series selama masa pandemi ini,” tutup Elly. 

Ketua Pelaksana Anton Sumarli, menyampaikan, kegiatan diikuti oleh 14 Seller yang terdiri dari tour operator, hotel, asuransi dan 120 Buyer yang merupakan travel agent anggota ASTINDO yang tersebar dari 11 provinsi di Indonesia. 

Pada ajang perdana ini, jumlah peserta dibatasi agar dapat fokus dan untuk efisiensi waktu. Kegiatan ini merupakan satu wujud kepedulian terhadap eksistensi seluruh anggota ASTINDO ditengah situasi pandemi COVID-19  dan sekaligus memberikan dukungan kepada pemerintah pada salah satu programnya yaitu membangkitkan industri pariwisata nasional,” tutup Anton.

 

WTTC Kampanyekan Wajib Masker & Luncurkan Program #wear2care

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  World Travel & Tourism Council (WTTC) kampanyekan hashtag #wear2care dan meminta semua wisatawan untuk menggunakan masker pelindung dalam perjalanan di era normal yang baru.

” Ketika negara-negara bertransisi dari lockdown  ke pembukaan kembali perbatasan mereka, pemakaian masker wajah menandakan kembalinya perjalanan yang lebih aman,”  kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC dalam siaran persnya, hari ini.

Wisatawan di seluruh dunia didorong untuk bergabung di media sosial untuk kampanyekan tagar #wear2care yang telah diluncurkan WTTC membiasakan  penggunaan masker wajah akan mengurangi risiko penularan, melindungi sipengguna dan orang-orang di sekitar mereka.

Selain itu juga memperkenalkan kembali rasa normal karena kita harus membiasakan dirii untuk hidup bersama virus sampai vaksin ditemukan.

“Saran dari WTTC pemakaian masker sifatnya wajib karena terbukti bahwa negara-negara yang pulih lebih cepat dan menghindari lonjakan COVID-gelombang kedua adalah negara-negara di mana penggunaan masker wajah telah ditegakkan dan didorong secara luas,” tegas Gloria Guevara.

Peneliti Utama dan Rekan Penelitian di Universitas Harvard, T.H.Chan School of Public Health, mengatakan: “Mengenakan masker wajah telah terbukti memberikan tingkat perlindungan tertinggi terhadap transmisi pada 82%.  Kebersihan dan permukaan tangan yang konstan pembersihan bisa membunuh lebih dari 90% virus yang ditemukan di permukaan, juga mencegah virus mencapai wajah dari tangan.

WTTC telah meminta pemerintah di seluruh dunia untuk mewajibkan  pemakaian masker wajah dan  meminta dukungan sektor swasta untuk mengingatkan pelanggan akan kewajiban mereka melindungi kesehatan mereka dan sesama pelancong.

Rekomendasi baru WTTC adalah mengikuti pedoman baru untuk perjalanan aman & mulus termasuk pengujian dan penelusuran untuk memastikan orang dapat menikmati rasa aman bepergian dalam  era Normal Baru.

Sering mencuci tangan dan menggunakan sanitiser tangan melengkapi selalu penggunaan masker wajah  secara signifikan dapat mengurangi risiko penularan COVID-19.

“Keselamatan dan kebersihan pelancong dan mereka yang bekerja di industri travel & tourism sangat penting, itulah sebabnya kami sekarang sangat kuat merekomendasikan pemakaian masker adalah wajib ” kara Gloria Guevara

Pemakaian masker  tidak harus dipolitisasi tapi disosialisasikan agar  menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk memastikan semua orang menikmati perjalanan yang aman sampai vaksin untuk COVID-19 ditemukan.  

“Publik harus menjaga jarak dua meter kapan saja mereka bisa, namun jika itu tidak mungkin, orang harus meningkatkan ventilasi di sekitar mereka.  Di dalam gedung ini bisa dilakukan dengan membuka pintu dan jendela yang mengurangi konsentrasi virus lebih banyak dari 70%.

 “Ventilasi mekanis, seperti pendingin ruangan mengurangi 80%, saat keluar rumah terbukti lebih efektif dengan mengurangi konsentrasi virus antara 90% dan 95%. “

WTTC telah memimpin serangkaian inisiatif yang dirancang untuk membangun kembali kepercayaan dan konsumen global mendorong kembalinya Safe Travels.

Protokol Perjalanan Aman dikembangkan untuk sektor travel & tourism global yang terfokus pada langkah-langkah yang mengarahkan bisnis ke perusahaan penyewaan mobil, bandara, operator tur, objek wisata dan produk sewaan jangka pendek di antara banyak sektor perjalanan lainnya, untuk memungkinkan mereka mengikuti protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat ketika membuka kembali bisnis mereka.

Kesejahteraan pelancong dan jutaan orang yang bekerja di industri travel & tourism selain didukung oleh organisasi Pariwisata Dunia di bawah  PBB (UNWTO) juga banyak fiterapkan oleh ribuan bisnis di dunia.

Wisatawan di seluruh dunia dapat terlibat dengan kampanye WTTC dengan berbagi foto mereka dengan bangga bepergian dengan masker wajah mereka dan berbagi hashtag #wear2care.

 

 

Campervan, Pilihan Wisata di Era Pandemi COVID-19

this formate

Plesiran dengan Campervan lebih aman (foto: ABC) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Seorang kerabat yang tinggal di Perth, Australia, baru-baru ini mem-posting gambar saat mereka sekeluarga sedang plesiraran selama seminggu dengan membawa campervan atau mobil kemping.

Nampaknya piknik dengan cara seperti ini sedang menjadi tren, terutama di negara-negara yang menawarkan pemandangan outdoor menawan ditengah himbauan untuk berwisata ke alam yang jauh lebih aman.

Yang pasti, wisata alam seperti ini menurut beberapa kalangan dianggap sebagai alternatif berwisata yang lebih aman dilakukan di era pandem Covid-19. Pelancong tak perlu naik transportasi massal di darat atau pesawat.

Merekapun tak perlu mengkhawatirkan kondisi higienitas akomodasi, meski banyak hotel telah menerapkan protokol kesehatan karena semua dapat dilakukan di dalam campervan

Di Indonesia melancong dengan van masih belum menjadi pilihan, tapi di negara-negara seperti Selandia Baru, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Eropa, orang mulai melihatnya sebagai solusi untuk liburan terutama bagi tenaga medis yang berbulan-bulan bekerja dalam tekanan tinggi.

Perawat sebuah rumah sakit di Spanyol, Yone Alberich dan suaminya menyewa campervan untuk berlibur. Alasan memilih campervan, untuk menghindari kerumunan dan tidak yakin jika harus menginap di hotel.

“Idenya adalah menjauhkan diri dari orang-orang agar terhindar dari infeksi,” kata perawat 32 tahun yang memiliki balita dan tinggal di Valencia, Spanyol seperti dilansir AFP. Alberich menyebut campervan adalah pilihan terbaik untuk berlibur pada masa pandemi.

Menurut warta AFP, 90 persen warga Spanyol enggan berpergian ke luar negeri. Sementara sebesar 83 persen di antaranya memilih kendaraan pribadi jika terpaksa keluar rumah.

Fabrizio Muzzati, pemilik usaha campervan Aquiestoy Caravaning mengatakan banyak orang yang memilih campervan sebagai alternatif wisata domestik.

“Pada saat seluruh dunia sangat mencari rasa aman, ada banyak orang yang mencoba (campervan) karena kondisi  keadaan hidup fi tengah pandemi global,” kata Fabrizio.

Bisnis penyewaan campervan pun menjadi lebih ramai, kata asosiasi campervan ASEICAR. Asosiasi nirlaba itu memprediksi bahwa bisnis penyewaan mobil kemping dapat menghidupkan kembali pariwisata pada musim panas.

Banyak pilihan destinasi untuk berpetualang dengan van. Namun menurut catatan Andrew Ditton  yang telah berpengalaman tour dengan van selama 20 tahun, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat (AS) masih yang terbaik, demikian seperti dilansir Lonely Planet

Di sana jalan-jalan sudah lebar dan mulus sehingga Anda lebih percaya diri untuk mengendarai mobil van yang lumayan besar. Selain itu, di sana juga banyak pilihan lokasi berkemah. Negara-negara itu juga memiliki pemandangan outdoor yang menakjubkan.

Jika Anda cukup piawai mengendarai kendaraan besar di jalan sempit, maka Skotlandia dan Islandia yang memiliki landskap luar biasa bisa menjadi alternatif tujuan. Saat menjelajah negara ini, ingatlah selalu membawa pakain tebal karena udara dingin di sana bisa sangat brutal.

 

ASTINDO: Kemana Harus Meminta Uang Refund Tiket ?, Ikuti Alurnya.  

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kegiatan bisnis mulai menggeliat, sebagian kantor sudah beroperasi termasuk Biro Perjalanan Wisata             ( BPW). Selain minat masyarakat untuk berwisata masih sepi, justru travel agent kini direpoti permintaan Refund Tiket.

” Masyarakat yang membeli tiket penerbangan dan batal berangkat minta refund tiket jangan ke travel agent atau BPW tapi minta ke airlines waktu dulu pesannya kemana ?,” ungkap Sjachrul Firdaus, Direktur Eksekutif ASTINDO, hari ini.

Menurut Firdaus, uang konsumen untuk pembelian tiket penerbangan sepenuhnya ada di perusahaan penerbangan ( airlines). Bahkan uang travel agent berupa top up juga tertahan di pihak airlines sehingga konsumen dan travel agent nasibnya sama, uang miliknya belum dikembalikan atas nama pandemi global COVID-19 ditahan oleh perusahaan penerbangan.

Sjachrul Firdaus mengatakan waktu bulan Januari-Febuari 2020 masyarakat banyak yang membeli tiket penerbangan dan paket-paket wisata di pameran-pameran maupun promo-promo menarik airlines untuk Lebaran, momen liburan sekolah dan kebutuhan wisata lainnya.

” Masyarakat banyak yang beli paket wisata dalam dan luar negri, paket umroh, voucher-voucher hotel  dan mendadak ada pandemi semua yang sudah dibeli tidak bisa dipakai,”  kata Sjachrul Firdaus.

Semua fasilitas penerbangan kemudian lumpuh, konsumen tidak dapat memanfaatkan apa yang sudah dibelinya. Ada yang bisa dijadwalkan ulang tapi uang tidak bisa kembali terutama semua tiket penerbangan itu. Dalam suatu paket wisata, biaya penerbangan sudah menguras 60% dari harga paket.

Dia lalu menjelaskan alur pembelian tiket domestik pada konsumen yang datang pada travel agent ( TA). Untuk memenuhi permintaan konsumen mendapatkan tiket maka pihak TA melakukan deposit dulu ke rekening airlines istilahnya Top Up.

Setelah dana Top Up cukup baru tiket dikeluarkan dan TA kemudian menagih pada konsumen yang memesan. Untuk tiket international, TA harus bayar maksimal seminggu setelah tiket pesanan dikeluarkan.

” Jadi semua dana tidak mengendap di TA karena kalau dalam seminggu tidak setor ke pihak penerbangan makan TA tidak akan dilayani pembelian tiket internasional yang baru,” ungkap Firdaus.

Selama ada pandemi global COVID-19 dan industri pariwisata termasuk industri penerbangan terhenti dan muncul persoalan yang diciptakan oleh penerbangan.

” Mengapa ? karena dalam zoom meeting dengan International Air Transport Association ( IATA) dimana untuk wilayah Indonesia basisnya ada di Singapura, ditetapkan bahwa tidak ada pengembalian uang konsumen dan secara sepihak diputuskan dalam bentuk voucher yang pemakaiannya bisa diurus dan dijadwal ulang”

Telah terjadi pelanggaran karena tidak ada satupun dalam klausul IATA yang mengatur refund menjadi voucher. Padahal dana beli tiket sebagian dana penuh penumpang tapi juga ada dana talangan dari TA atas nama konsumen ( pembeli).

” Jadi kalau konsumen belinya lewat Travel Agent ( TA) maka perusahaan penerbangan baik domestik maupun asing harus kembalikan dana itu ke TA untuk diteruskan pada sipembeli. Saat ini selain refund tiket domestik tidak dibayar tunai, malah dibayar dengan  sistem Top Up sehingga TA tetap tidak bisa mencairkan hak penumpang,” ungkap Firdaus.

Dia berharap pemerintah dapat memberikan solusi sebagai regulator. Tapi ternyata  Dirjen Perhubungan Darat, Kemehub  melihat hal ini ranahnya Business to Business ( B to B) sehingga akhirnya berlarut-larut dan melemahkan posisi konsumen Indonesia.

” Sekarang para pekerja outsourcing Lion Air sedang berunjuk rasa karena PHK yang tidak dibayarkan hak-hak pesangonnya. Jika perusahaan gulung tikar dan menyatakan pailit seperti kasus Adam Air maka hilanglah semua uang milik konsumen dan travel agent. Keberpihakan negara tidak ada, semua lepas tangan,” tegasnya. 

 

Tazbir: Sambut Pembukaan Obyek Wisata, Kordinasi Pusat-Daerah Harus Kuat  

this formate

Wisatawan domestik menyewa Jeep untuk wisata di kawasan Merapi, Yogyakarta. Kordinasi pemerintah pusat dan daerah dibutuhkan untuk mengajak masyarakat kembaki berwisata.  ( Foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Siapa melakukan apa dan kordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangatlah penting untuk mempersiapkan masyarakat kembali berwisata di era kenormalan baru, ” kata Tazbir Abdullah, pengamat pariwisata, hari ini.

Mantan Asisten Deputi Bisnis di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang belakangan aktif webinar ini mengatakan sejumlah obyek wisata di Jakarta dan berbagai daerah mulai dibuka secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kemenparekraf bahkan akhir pekan lalu sudah meluncurkan kampanye Indonesia Care atau disingkat I Do Care menunjukkan komitmen bangsa Indonesia, khususnya seluruh pemangku kepentingan di sektor Parekraf kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia sangat peduli atas kebaikan bersama untuk menjaga kebersihan, higienitas, dan pelayanan tanpa kontak langsung untuk keamanan sesama.

Menurut Tazbir langkah itu sangat baik agar pengelola obyek dan destinasi wisata sudah mempersiapkan standar normal barunya dan wisatawan juga mempunyai kepercayaan yang tinggi untuk berwisata.

Sekarang ini, fokus Pemerintah Pusat harus pada kesiapan destinasi dengan standar normal baru. Oleh karena itu koordinasi bersama dengan Pemda, mana yang sudah siap dengan protokol standar normal baru harus intensif.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istinewa Yogyakarta ini mengharapkan Pemda harus punya data fasilitas apa yang perlu didukung Pusat. “Minimal satu atau dua spot wisata ditiap provinsi sudah harus teridentifikasi saat ini,” imbaunya.

Saat ini Tazbir mengaku sedang  melakukan survey kecil-kecilan kepada ratusan temannya memanfaatkan jaringan komunitas grup yang dimilikinya juga.

“Hasil sementara sebanyak 95 % menjawab akan kembali berwisata jika Covid-19 berakhir dalam tahun 2020 ini,” tambah Tazbir.

Tazbir sangat optimis pariwisata akan normal kembali karena berdasarkan survey itu dan diperkuat data akurat lainnya minat berwisata tidak pernah padam. 

Oleh karena pandemi global berlangsung di seluruh dunia dan orang kesulitan finansial maka untuk membangkitkan minat wisatawan domestik pemerintah banyak membantu dengan sistem voucher dan subsidi.

Saat ini pihaknya juga mengharapkan agar pemerintah yang sudah mengalokasikan anggaran menginformasikan pula up date dilapangan apa saja kegiatan yang sudah dilaksanakan, bagaimana respon dari masyarakat, stakeholder dan industri terkait ” paparnya. 

Dia juga berharap para pejabat Kemenparekraf membuat tim “task force”, dengan tugas yang jelas dan target capaian yang bisa diakses 24 jam oleh pelaku industri untuk koordinasi hal teknis, tambahnya.

Siapa melakukan apa dan kordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangatlah penting sehingga bila ada destinasi wisata yang menyatakan akan membuka destinasi wisatanya pasti disambut gembira oleh industri wisata

“Bagaimanapun destinasi itu penanggung jawabnya Pemda, Maka Pemda dengan industri harus dalam kolaborasi yang bagus,” pesannya.

 

Turki Ubah Museum Ikonik Hagia Sophia Kembali Menjadi Masjid

this formate

Museum Hagia Sophia di Istanbul kembali menjadi masjid (foto:unsplash.com/Nurullah ABALI)

ISTANBUL, bisniswisata.co.id: Musem ikonik Hagia Sophia di Istanbul, Turki, akan kembali beralih fungsi menjadi masjid setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada Jumat (10/7) menandatangani dekrit yang manjadi dasar hukum perubahan status bangunan berusia 1.500 tahun itu. Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih di kota Istanbul, di sisi barat Selat Bosporus.

Dekrit Presiden Erdogan dikeluarkan setelah sebelumnya pengadilan membatalkan status museum bagi situs budaya dunia yang semula adalah katedral. Seruan agar bangunan itu kembali dikonversi menjadi masjid telah lama diserukan Kelompok Islam di Turki, namun selalu ditentang kelompok oposisi yang berhaluan sekuler.

Tak lama setelah pengumuman dekrit tersebut, adzan pertama segera dikumandangkan di Hagia Sophia dan disiarkan langsung ke seluruh saluran berita utama di Turki, demikian seperti dilansir BBC International.

Hagia Sophia sendiri dibangun pada abad keenam atas perintah Kaisar Bizantium, Justinian I. Selama hampir 1.000 tahun, ia menjadi katedral terbesar di dunia. Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut. 

Pada 1453, saat kekhalifahan Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) merebut kota Istanbul, bangunan itu lalu diubah menjadi masjid. Namun pada 1934, bangunan besejarah yang merupakan destinasi favorit di Turki ini dikonversi menjadi museum oleh  Presiden Turki yang pertama, Mustafa Kemal Ataturk.

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyayangkan keputusan tersebut. Melansir unesco.org, pemerintah Turki membuat keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan pihak UNESCO. 

Pasalnya, situs warisan dunia yang ditetapkan di negara mana pun harus memberi tahu UNESCO jika ada perubahan status. UNESCO menilai, perubahan status dan fungsi Hagia Sophia bisa memengaruhi nilai universal situs bersejarah

Pemerintah Siem Reap Resmi Larang Perdagangan Asu Untuk Konsumsi Turis

this formate

Anjing ( Asu) dilarang dikonsumsi di Angkor Wat Kamboja (foto: tourism observer)

PNOM PENH, bisniswisata.co.id: Berwisata ke Siem Reap, Kamboja tentunya adalah mengunjungi Angkor Wat, Candi yang namanya semakin mendunia setelah dijejaki Angelina Jolie di film “Tomb Rider”. 

Dibangun selama kurang lebih 30 tahun lamanya di era Raja Suryavarman II di pertengahan abad ke-12, Angkor Wat juga termasuk dalam daftar situs UNESCO World Heritage.

Siem Reap, sebuah provinsi di utara Kamboja yang terkenal dengan kompleks arkeologi Angkor Wat ini setiap tahun sedikitnya dikunjungi lebih dari dua juta wisatawan per tahun.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke obyek wisata utama negri itu ternyata, berdampak pada naiknya permintaan daging anjing  ( Asu) di sana. Menurut catatan kelompok kesejahteraan hewan FOUR PAW, yang berbasis di Austria, Siem Reap telah diidentifikasi sebagai pusat perdagangan anjing di Kamboja. 

 Direktur Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Provinsi Siem Reap, Tea Kimsoth, permintaan terutama didorong oleh wisatawan mancanegara terutama asal Korea Selatan, yang paling gemar mengonsumsi daging anjung itu.

Akibat banyaknya  permintaan yang meningkat, banyak restoran di sana menyajikan masakan tersebut. Setiap bulan ada 2,900 anjing dikonsumsi yang tersaji di 21 restoran di Provinsi Siem Reap saja.

“Selama beberapa tahun terakhir, naiknya penjualan, pembelian dan pemotongan anjing untuk dikonsumsi telah berlangsung secara anarkis, dan itu telah menimbulkan keprihatinan besar,” tulis pengumuman dari pemerintah itu, seperti dilansir Kyodo.

Itulah sebabnya pemerintah setempat kini  mengeluarkan larangan memperdagangkan  dan menyembelih anjing untuk dimakan. Alasannya, karena hewan tersebut dianggap setia dan mampu menjaga properti, bahkan melayani militer. 

Selain itu, ada potensi risiko kesehatan jika praktek menu daging anjing itu terus dilanjutkan, apalagi ditengah situasi pandemi global COVID-19 seperti yang terjadi saat ini.

Situasi ini menurut mereka dapat menimbulkan penyebaran rabies dan penyakit lainnya, dari satu daerah ke daerah lain, sehingga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.

“Daging anjing telah jauh lebih populer setelah kedatangan orang asing, terutama di antara orang Korea Selatan,” kata Tea Kimsoth kepada Reuters, dan menyebut bahwa perdagangan semacam itu semakin “mengkhawatirkan”.

Lebih jauh, otoritas setempat juga meminta agar pelarangan ini dimasukkan dalam UU Kesehatan dan Produksi Hewan sehingga ada sanksi bagi pelanggarnya. Menurut UU tersebut, mereka yang melanggar dapat dikenai hukuman penjara hingga 5 tahun, dan denda maksimal 50 juta riel atau setara 12.500 dollar AS.

Katherine Polak, kepala FOUR PAWS Stray Animal Care di Asia Tenggara, menyebut larangan yang dikeluarkan Provinsi Siem Reap sebagai bersejarah dan mencerminkan sentimen publik.

“Kami berharap bahwa Siem Reap dapat menjadi model bagi seluruh provinsi lain di negara itu,” katanya kepada Reuters.

 

Tahap Pertama, Pariwisata Dibuka Untuk Warga di Bali

this formate

TEGALALANG, Gianyar, bisniswisata.co.id: Sudah weekend ya, hampir lupa akibat terlalu lama kerja dari rumah, ibadah di rumah yang sekolah pun di rumah. Dan per 9 Juli objek wisata di Bali mulai dibuka bagi warga di Bali.

Gubernur Bali mengumumkan pembukaan “terbatas hanya untuk warga di Bali” sektor pariwisata dengan menggelar pawai armada mobil VW Kodok dan meninjau ojek- objek wisata.

Saya, akhir pekan ini memilih berkunjung ke tempat santai Kumulilir. Tempat melepas kepenatan, kebosanan dan kesesakan udara perkotaan yang penuh polutan. Tempat belajar perlengkapan upacara jika bertepatan dengan hari raya bagi umat Hindu. Tempat saya menimba ilmu dari “pak tani” yang mengerjakan sawah di areal Kumulilir. Belajar merontokkan padi jika bertepatan dengan masa panen, atau turun ke sawah ikut menanam benih padi bahkan sekadar bermain dengan burung “kokokan”. Burung yang habitatnya berada di Desa Petulu, dan sedang mencari kudapan ke persawahan di desa- desa sekitar Ubud. Kumulilir posisinya setelah melewati kawasan desa Petulu,  berada di ruas kiri rute perjalanan saya dari kota Kecamatan Ubud menuju Kintamani.

Check suhu tubuh

Sepanjang perjalanan, toko- toko kerajinan masih belum membuka lapaknya. Arus lalu lintas tidak sepadat biasanya, jika pada masa sebelum COVID-19 merebak jalur Denpasar – Ubud- Tegalalang perlu waktu satu jam 30 menit dan tersedat macet di pusat Ubud. Hari ini perjalanan saya lancar, hanya 55 menit saya sudah memasuki gerbang Kumulilir.

Staf penyambut tamu – tentu dengan standar kesehatan yang ditetapkan–  melakukan tugasnya, meminta saya memilih menggunakan  handsanitaizer atau mencuci tangan pakai sabun. Kemudian, staf Kumulilir meminta ijin untuk mengukur suhu tubuh dengan mendekatkan alat ukur ke telinga saya.

“35 derajat. Silahkan pilih paket,” lanjutnya sembari menunjukkan paket kunjungan yang disiapkan pada masa uji coba ini.

Menu kudapannya sederhana, olahan paon (dapur) Bali khas Tegalalang yang bahan bakunya ada di areal Kumulilir. Sayur dan aneka buah, tumbuh alamiah di pematang sawah, dilereng tebing yang memisahkan areal sawah dengan kebun kelapa, palawija dan areal atraksi wisata. Kebutuhan daging unggas – ayam, bebek–, ikan air tawar dan nasi dari padi hasil sawah di areal tersebut.

Niat saya memang refreshing, mengamati uji coba standar kehidupan baru di objek wisata dan makan siang di luar rumah, saya memilih menu Nasi Sela Kumulilir. Masa uji coba, mereka hanya menawarkan dua menu makan siang khas Kumulilir yaitu Nasi Sela dan Nasi Kuning Goreng Kelor. Olahan ini semua menggunakan bumbu Bali dengan base genep nya, paket sudah dilengkapi infuse water, ada beberapa pilihan minuman hangat yang ditawarkan dengan kudapan kecil.

Makan siang di alam terbuka berudara segar dingin, bertambah nikmat dengan memandang, meresapi saujana sekitar yang khas. Bagi saya, mahal itu relatif untuk menikmati saujana Kumulilir setelah hampir lima bulan hanya beraktifitas seputar halaman rumah.

Dari ketinggian menikmati saujana Tegalalang

Bagi anda yang berniat mencoba piknik namun berdamai dengan COVID-19, bisa mencoba fasilitas di Kumulilir. Kumulilir menyediakan sejumlah permainan anak- anak, untuk memacu andrenalin boleh mencoba trampoline atau makan siang bersama di ketinggian  melalui jembatan gantung? Mencoba berayun dari satu pohon ke pohon? Swing?

Untuk tahap ujicoba ini Kumulilir mengenakan tarif 50 ribu ruliah saja untuk masing- masing menu makan siang, jika menambah air mineral dan secangkir kopi hitam harganya 20 ribu rupiah.

Catatannya pengunjung diminta disiplin mengikuti protokol kesehatan, fasilitas tersedia di setiap sudut areal Kumulilir. Hirup udara segarnya, nikmati saujana desanya, nikmati kudapannya. Boleh mencoba trekking ringan seputar areal.

Tiga Tahapan

Hal penerapan protokol tata kehidupan baru dalam kepariwisataan,  Pemprov Bali menetapkan tiga tahapan pembukaan usaha. Tahap pertama, melaksanakan aktivitas secara terbatas dan selektif hanya untuk lingkup lokal masyarakat Bali, mulai tanggal 9 Juli 2020.

Tahap kedua, melaksanakan aktivitas sektor pariwisata lebih luas, dengan melibatkan wisatawan Nusantara, mulai tanggal 31 Juli 2020. Tahap ketiga, diperluas untuk wisatawan mancanegara, mulai tanggal 11 September 2020 yang bertepatan hari Jumat, Kliwon, Sungsang, Sugihan Bali.

Pembukaan secara bertahap juga berlaku dimasing- masing objek kunjungan. Di Kumulilir jumlah pengunjung dibatasi, meski areal piknik dialam terbuka lebih kurang seluas lima hektar.

“Kami hanya menetapkan 30 persen dari kapasitas, jika kunjungan sudah pada posisi, petugas menutup gerbang,” ungkap Nyoman Deyana, pemilik Kumulilir.

Provinsi Bali memulai tahapan pertama ditandai dengan pelepasan rombongan mobil kuno “Road to Penerapan Tata Kehidupan Era Baru Provinsi Bali” dari halaman Kantor Gubernur Bali, Denpasar. Rombongan mobil kuno ini dipimpin  langsung Wakil Gubernur Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dengan melakukan sosialisasi di sejumlah obyek wisata di Karangasem, Buleleng dan Tabanan. ***