Kunjungan Wisatawan Domestik Percepat  Pemulihan Ekonomi DIY dan Jateng.  

this formate

Destinasi Super Prioritas Borobudur ( Foto: Kemenparekraf)

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke lima

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Yogya bangkit, itu kesimpulan singkat dari pengalaman naik taksi online, melihat aktivitas pameran lukisan di hotel dan berinteraksi dengan warga begitu tiba di kota gudeg ini setelah delapan bulan total meninggalkan daerah istimewa ini sejak awal Januari 2020 pasca Tahun Baru.

Inggih bu, saking awal Agustus Yogya sampun rame. Kathah turis domestik ingkang tindak teng Yogya,”  kata supir taksi online senin sore  saat menuju makam Gambiran untuk nyekar dari The Phonix Hotel Yogyakarta.

Maksudnya benar,  sejak awal Agustus sudah ramai, banyak turis domestik datang ke Yogya kata Adi, sang driver. Akhir Juli hatinya mulai berbunga-bunga karena order masuk untuk antar tamu sudah naik bisa 6 kali per hari. Lalu sepanjang Agustus hingga jelang akhir September per hari dia sudah bisa 12-15 kali bolak-balik antar tamu.

Selasa pagi di ruang Rapat Kordinasi Pengembangan Desa Wisata DSP Borobudur di Hotel The Phonix Yogyakarta,  Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo berterima kasih pada Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf)  yang telah memilih kota Yogyakarta untuk kegiatan pertemuan ini.

” Kembalinya wisatawan domestik ke Yogya diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi karena kegiatan rapat-rapat seperti ini membuat hotel mendapat pemasukan dari kamar-kamar peserta dan ruang meeting, toko oleh -oleh kedatangan pembeli lagi,” kata Singgih.

Sejauh ini, ujarnya, kegiatan wisata di DIY berjalan lancar dan program sosialisasi  penerapan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) terus di tingkatkan mendorong keyakinan para pelaku  industri wisata  dan wisatawan untuk menerapkannya.

” Di Yogya ada 141 desa wisata dan yang telah menerapkan CHSE sudah 50%. Uji coba menerima tamu terutama program Live In juga sudah dilakukan  pendampingan dan simulasinya,” kata Singgih Raharjo.

Menurut dia, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY), Agustus lalu sudah meluncurkan dua aplikasi yaitu Visiting Jogja dan Jogja Pass. Wisatawan yang datang ke Yogyakarta wajib mengisi aplikasi wisata itu. Tujuannya memudahkan wisatawan dalam mengakses berbagai layanan wisata di Kota Gudeg tersebut.

Hal ini sekaligus membantu pemerintah melacak jika terjadi kasus COVID-19 dan yang juga penting untuk memantau perekonomian khususnya di sektor parwisata.

Saat ini, ujarnya, wisatawan domestik memang menjadi andalan. Pemda DIY dan Jateng bersinergi dengan kuat sehingga kunjungan wisatawan ke Yogya terbanyak dari Semarang, di susul dari Jawa Timur, Jawa Barat dan Jakarta.

” Jadi wisatawan domestik asal Jakarta di urutan ke empat. Adanya kebijakan Pemda DKI Jakarta yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala  Besar (PSBB) hingga 11 Oktober 2020 hanya berpengaruh pada pembatalan hotel-hotel berbintang empat & lima di Yogya” ungkap  Singgih Raharjo.

Warga Yogya juga berwisata di akhir pekan maupun hari libur lainnya dengan mengunjungi kota Semarang, Bandung dan juga ke Jakarta. Pergerakan wisatawan domestik terutama dengan kendaraan pribadi antar kota, antar provinsi inilah yang menggerakkan perekonomian daerah.

Sebelum ada jalan tol Trans Jawa yang tersambung, jarak Surabaya -Yogya misalnya minimal 8 jam namun kini bisa kurang dari 6 jam sehingga pergerakan wisatawan domestik dari Jatim ke Yogya di posisi kedua.

” Berkat aplikasi bisa kita mengetahui untuk hari kerja Yogya dikunjungi rata-rata 7000 orang/ hari dan di akhir pekan Sabtu -Minggu jumlah wisatawan mencapai 30 ribu hingga 40 ribu orang,”  kata Singgih Raharjo.

Malah ada laporan bahwa ada hotel yang week-end sudah mulai menolak tamu, ungkapnya. Untuk obyek wisata di Yogya juga selalu muncul destinasi yang hits sehingga menjadi daya tarik untuk menyerap kunjungan wisatawan domestik terutama kalangan milenial dan netizen.

” Obyek wisata yang tidak mematuhi protokol kesehatan dan abai melakukan pengontrolan pada pengunjung kami pasang banner besar-besar sebagai peringatan dan jika tidak ada peningkatan tak diijinkan beroperasi,”  tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinporapar Jateng,  Sinoeng Rachmadi mengatakan pihaknya juga akan tegas  menutup tempat wisata yang tidak patuh pada protokol kesehatan di era pandemi global ini.

Wisatawan domestik kini menjadi andalan Jawa Tengah dan  di provinsi ini ada kurang lebih 690 destinasi wisata, yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Sedangkan destinasi wisata yang sudah mengantungi izin buka di masa pandemi, ada 424 destinasi atau 61 persen dari total seluruh obyek wisata di Jateng.

Sinoeng menjelaskan, pihaknya juga telah menerima pengajuan izin buka dan simulasi penerapan protokol kesehatan di 51 destinasi wisata di Jateng. Nantinya, destinasi wisata yang mengajukan izin buka dan sudah menggelar simulasi akan dievaluasi untuk mendapat rekomendasi.

Pihaknya  menggandeng Satpol PP untuk melakukan pengawasan terhadap destinasi yang sudah buka di masa pandemi ini. “Yang sudah buka tetap harus kita pantau, untuk menjaga penerapan protokol kesehatan. Yang teledor tidak menerapkan protokol kesehatan, akan kita kirimi surat peringatan,”

Surat peringatan itu berisi penutupan satu hari, untuk dievaluasi. Kalau belum berbenah, ya ditutup terus. Kerja sama dengan Satpol PP gencar masuk ke tempat wisata. Yang tidak taat pada protokol kesehatan, maka langsung ditutup,” kata Sinoeng 

Pihaknya meminta kerja sama dengan pengelola tempat wisata yang sudah mendapat rekomendasi beroperasi di masa pandemi untuk tetap patuh. Terutama, soal pemantauan pengunjung selalu memakai masker dan menjaga jarak aman selama berada di areal tempat wisata.

“Jangan sampai, kelonggaran dan rekomendasi yang diberikan itu diabaikan. Jangan sampai membuat klaster baru, dan itu merugikan semua pihak,” tandasnya

Sinergi yang kuat dengan provinsi tetangga seperti DIY dan adanya tol Trans Jawa yang memudahkan pergerakan wisatawan antar kota, antar provinsi memang diharapkan pemulihan ekonomi di Jawa Tengah.   ( Jateng) dari sektor pariwisata optimististis cerah.

Bahkan warga Surabaya, Jawa Timur yang berwisata ke Semarang jika tidak menginap dan hanya pulang-pergi juga sudah nyaman melakukan bersama keluarga maupun komunitas.

” Untuk Jawa Tengah Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan agar fokus pada desa wisata untuk meningkatkan ekonomi rakyat. Targetnya dari 353 desa wisata yang ada di Jateng menjadi 500 pada 2023,” kata Sinoeng.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kucurkan dana Rp 1 miliar per desa dan komitmen menjadikan Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Borobudur tidak hanya terpaku pada peningkatan kunjungan wisatawan dan pembangunan infrastruktur semata.

“Tapi juga harus memiliki dampak ekonomi kepada masyarakat. Bukan hanya “Masyarakat” yang memiliki modal, tetapi yang utama adalah masyarakat dengan ekonomi lemah,”

Disinilah tantangan Pemerintah  untuk memberdayakan potensi masyarakat lokal menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT), salah satunya dengan menggerakan masyarakat untuk membangun Desa Wisata. tambah Sinoeng Rachmadi

Laporan : Arum Suci Sekarwangi

Desa wisata Harus Berjejaring, Saling Melengkapi Produk & Jasa untuk Wujudkan Target  RPJM  2024

this formate

Para narasumber, dari kiri ke kanan, Kadispar DIY Singgih Raharjo, Direktur Regional 1, Oni Yulfian, Deputi Hari S Sungkari, Burhanudin, Kordinator Wilatah 4, Kadisporapar Jateng, Sinoeng Nugroho Rahmadi dan Oneng Setyaharini, Sekretaris Deputi 

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke tiga.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastuktur Kemenparekraf, Dr . Ir. Hari Santoso Sungkari mengingatkan peserta Rakor Desa Wisata di Destinasi  Super prioritas ( DSP) Borobudur untuk perkuat jejaring dan membuat paket wisata terusan.

” Selama ini produk dan jasa yang diselenggarakan oleh desa wisata adalah program Live In, yang merupakan kearifan lokal dan tantangannya adalah kesiapan SDM dan paradigma bisakah desa wisata menghibur wisatawan,”  ujarnya.

Menurut dia, desa wisata tidak hidup sendirian tapi hidup berjejaring sehingga antara 12 desa di DSP Borobudur bisa mengemas satu paket  tour menarik yang saling melengkapi. Jadi seperti paket terusan sehingga dibutuhkan keunikan dari masing-masing desa wisata bukan membuat produk seragam.

“Kolaborasi yang baik antar desa wisata dan mitra-mitra lainnya akan menaikkan dampak positif pada penduduk lokal sesuai harapan Presiden Jokowi untuk menggerakan ekonomi pedesaan, “kata Hari Santoso Sungkari.

Kunjungan wisatawan ke desa wisata adalah untuk mendapatkan pengalaman baru seperti membajak sawah, menanam padi, menjaring ikan dan hidup layaknya penduduk lokal yang ujung-ujungnya adalah mendapat pengalaman yang menghibur dan melestarikan kearifan lokal termasuk dari sisi kuliner.

Sekurangnya ada empat kiat yang dilontarkannya. Pertama, pengelola desa wisata harus mengemas daya tarik, paket wisata, dan kegiatan di desa wisatanya dalam kemasan yang menghibur bagi wisatawan.

“Semua kegiatan yang dilakukan di desa wisata dibungkus menjadi hiburan buat wisatawan, menjadikan wisatawan aktif atau ikut terlibat bukan menjadikan wisatawan pasif,” terangnya.

Hari mencontohkan, kalau desa wisatanya memiliki persawahan bisa membuat kegiatan menanam padi sawah, memeras susu sapi, dan lainnya. Jika desa wisatanya dekat dengan pantai, bisa mengajak wisatawan menjaring ikan atau udang dan lainnya.

“Uniknya Kita bisa menyuruh-nyuruh wisatawan untuk beraktivitas seperti yang warga lokal lakukan. Hebatnya, biasanya kalau kita minta orang melakukan pekerjaan, maka kita yang harus bayar. Nah ini dengan adanya paket wisata maka justru  mereka yang melakukannya yang bayar,” ujar Hari.

Membuat program yang memberikan pengalaman atau experience inilah yang membuat wisatawan punya kenangan. Sebab ujungnya program Kemenparekraf sejak dahulu kala yaitu Sapta Pesona itu adalah punya kenangan, jelasnya lagi.

Sapta Pesona menanamkan pada seluruh stakesholder pariwisata untuk menerapkan unsur Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah-Tamah dan Kenangan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam melayani tamu-tamunya dari dalam dan luar negri.

Kenangan, lanjut Hari, datang dari memori yang ada dari kegiatan yang dibuat pengelola desa wisata dan juga  souvenir atau oleh-oleh baik itu berbentuk makanan ataupun kerajinan. Souvernir itu sebaiknya harus menggambarkan daerah tersebut, mengedepankan kearifan lokalnya. Di sini letak challenge kita,” ungkapnya.

Hari S Sungkari mengingatkan bahwa Pengembangan desa wisata saat ini menjadi prioritas dalam RPJMN 2020-2024. Oleh karena itu, rakor ini sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat/Kemenparekraf dalam mendukung pembangunan pariwisata di DSP Borobudur.

“Saya berharap rakor ini  dapat kita jadikan sebagai wadah sinkronisasi program pengembangan desa wisata DSP Borobudur untuk merealisasikan sebagian dari rencana aksi yang akan kami susun. Desa wisata menjadi kreatif menciptakan produk dan jasa yang unik dan saling melengkapi.

Pada rakor yang diikuti sekitar 75 peserta dari kalangan desa wisata, Dinas Pariwisata di daerah termasuk media ini, Hari Sungkari menegaskan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia dalam mengembangkan destinasi wisata.

“Buatlah program pengembangan SDM dulu, ajarkan kepada warga bagaimana menerima dan melayani wisatawan yang datang serta mengemas kegiatan yang menghibur tamu. Buat desa wisata yang sudah siap SDM-nya, bisa dilanjutkan dengan memperhatikan amenitas dan lainnya,” tambahnya.

Hari memberi contoh kesuksesan Desa Wisata Nglanggaran, Merapi, dan Desa Wisata Bilebante yang dari nol membangun desa wisatanya sampai 2 tahun lebih hingga akhirnya meraih kesuksesan.

“Kalau kita mencetak sawah, menanam padi dalam 6 bulan sudah panen tapi pariwisata dalam 2 tahun belum kelihatan apa-apa, perlu kerja keras dan kreativitas. Paradigma ini yang harus disosialisaikan,” pesannya.

Pengalaman dari desa-desa wisata yang sukses tersebut, sambung Hari bisa dicontoh buat pengelola wisata yang baru mulai. Kiat terakhir atau keempat dari Hari, desa-desa wisata harus bersinergi dan ber-jejaring satu sama lain, bukan malah saling ego dan bersaing.

“Saya ingin desa-desa wisata di DSP Borobudur tidak hidup sendirian. Harus buat jaringan dan kerjasama dengan desa wisata lain. Mana desa wisata yang kuat dari sisi kuliner tradisionalnya, alamnya, hasil kerajinannya, budayanya dan lainnya harus saling berkolaborasi sehingga nantinya sama mendapatkan tambahan ekonomi dari kunjungan wisatawan,” pungkas Hari.

Dia juga mengingatkan ujung pariwisata termasuk desa wisata itu harus mampu mensejahterakan penduduk lokal dengan mengangkat keunikan, kekhasan, dan kearifan lokalnya.

Kemenparekraf melalui kegiatan rakor dan mapping akan mengidentifkasi sejauhmana peran serta seluruh stakeholder yang terkait dalam perumusan rencana aksi pengembangan desa wisata di DSP Borobudur. 

Pencerahan dari dua nara sumber dari kalangan akademisi dan konsultan yaitu Yani Andriyani, P2Par ITB dan Wiwiek Mahdayani, Direktur Desma Center.

Rakor yang diisi dengan format talkshow juga mengajak peserta untuk mendapatkan pencerahan dari dua nara sumber dari kalangan akademisi dan konsultan yaitu Yani Andriyani, P2Par ITB dan Wiwiek Mahdayani, Direktur Desma Center.

Wiwiek Mahdayani mengatakan di Indonesua ada sedikitnya 1700 desa wisata dan 50% berada di Jawa dan Bali sehingga jadi benchmarking dan sisanya di pulau- pulau atau daerah lainnya.

” Jika desa wisata yang ada memiliki keunggulan masing-masing, bukan paket yang itu-itu saja  dan seragam maka desa akan menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Wiwiek.

Saat ini, desa-desa wisata yang sudah maju terbukti dapat mensejahterakan masyarakatnya dengan penghasilan Rp 10 miliar/ tahun. Hal ini juga didukung oleh sebaran kunjungan wisatawan baik domestik mancanegara mencapai 21% yang mengunjungi desa wisata.

” Jadi peluang berkembang lebih jauh sangat besar karena survei menunjukkan, mereka yang berwisata ke desa itu 45% menyatakan mencari pengalaman di desa,” kata Wiwiek.

Menurut dia lebih dari 135 desa wisata layak jual dan jadi langkah pengeloka desa seperti potensi Pokdarwis untuk  naik level lewat kuliner, permainan tradisional, potensi alam dan sumber daya lainnya besar maupun suvenir khas karena UMKM akan diserap sektor pariwisata. 

“Tantangan yang dihadapi  adalah pertama SDM atraksi wisata supaya punya totalitas untuk menghibur, 2 stakeholder kunci atau  komitmen dari para pengelolanya dan ke tiga  adalah kelembagaan karena harus ada kejelasan lembaganya apa ? apakah kelompok sadar  wisata ( pokdarwis), “

Tantangan lainnya adalah kreativitas membuat produk & jasa yang berkualitas. Selana ini konsumennya anak sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi dan jarang menjaring wisatawan mandiri atau individual traveler baik dari dimestik maupun mancanegara.

“Pengelola desa wisata juga perlu memahami akses pasar, membuat kemitraan dengan stakeholder lainnya dan bagaimana bisa menjadi “gula”. Saat ini yang menjadi gulanya adalah Candi Borobudur, bagaimana desa wisatanya bisa menjadi gula yang banyak dikunjungi wisatawan,”

Hal ini terkait dengan komitmen bagaimana pemerintah desanya bisa membantu pengelokaan desa wisara yang profesional, pembinaan SDM dan mampu menjadi institusi yang aktif sebagai penghubung dengan Pentahekix.

Sementara itu Yani Andriani dari Pusat Perencanaan & Pengembangan Pariwisata ( P2P) Institut Tekhnologi Bandung ( ITB) mengatakan pihaknya mendapat tugas melakukan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di 12 DSP Borobudur.

” Pariwisata bukan tanggungjawab Kemenparekraf saja. Dalam Renstra Kemendes PDTT 2020-2024), pengembangan desa wisata sebagai prioritas pengembangan RPJMN 2020-2024 (Perpres 18/2020) 10 Destinasi Prioritas juga ada target-target yang akan dicapai,” kata 

Destinasi Pariwisata Prioritas ( DPP) adalah Danau Toba,  Borobudur , Lombok-Mandalika, Labuan Bajo, Manado-Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, Kepulauan Bangka Belitung, Bromo-Tengger-Semeru ( BTS) dan Morotai.

Sasaran Pembangunan kawasan pedesaan pada 2024 diharapkan kontibusinya sektor pariwisata terhadap PDB mencapai total mencapai  5,5%, nilai devisa pariwisata US$ 30 miliar,  penyerapan tenaga kerja 15 juta orang, kunjungan wisman 22,3 juta orang, pergerakan wisatawan Nusantara ( wisnus)  35-400 juta orang.

“Sasaran target lainnya pada 2024 ada desa mandiri 10.559 desa berkembang  59.879, desa tertinggal  3.232, Bundes berkembang 1.800,” kata Yani Andriani.

Strategi perceparan pembangunan desa secara terpadu untuk mendiring transfirmasi sosial , budaya dan ekonomi  dengan meningkatkan daya saing destinasi dan industri. Desa wisata itu dasarnya adalah Community Base Tourism ( CBT), artinya aktivitasnya dan manfaatnya dari warga dan untuk warga desa itu, tanbahnya.

Desa wisata bisa naik status termasuk dukungan dari Bumdes masing-masing dengan rantai nilai dan eko sistem yang  punya identitas yang kuat dari tiap desa. 

“Kalau mau jadi acuan harus bisa memenuhi standar internasional dan di tingkat Asean sudah ada standarisasinya mulai dari homestay di desa-desa wisata. Jadi terapkan acuannya. Adanya pandemi global maka perubahan perilaku wisatawan juga harus bisa difasilitasi kearah standar internasional,” tegas Yani.

Dalam acuan rujukan itu sasaran pada 2024 bisa angkat kelokalan tapi daya saingnya dunia sehingga  dalam roadmap yang disusun mengacu CBT Asean 2016. ” Apa saja yang harus dipenuhi dan mana yang belum bisa dipenuhi dengan protokol kesehatan sesuai standar  WHO atas pandemi COVID-19,” kata Yani menyelesaikan uraiannya.

 

Begini 10 Cara Aman Bersepeda saat Pandemi

this formate

Bersepeda di Kebun Raya (foto: Liputan6)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sejumlah batasan diberlakukan di era pandemi COVID-19. Salah satu aspek kehidupan yang terimbas adalah kegiatan berolahraga. Saat ini olah raga yang sedang digemari orang adalah bersepeda karena dianggap memiliki tingkat risiko infeksi virus Corona yang lebih rendah dibandingkan olah raga luar ruang lain. 

Meski demikian kita perlu patuh pada protokol kesehatan. Ada sejumlah tips agar bersepeda tetap aman dan memberikan manfaat yang baik untuk tubuh.

Dokter Muliadi Limanjaya dari RS Pondok Indah, Bintaro Jaya dalam keterangan resmi yang diterima bisniswisata.co.id, Selasa (22/9), memberikan 10 kiat yang dapat diterapkan sebelum Anda memulai bersepeda;

  1. Memakai alat pelindung diri seperti helm dan lampu sepeda, Apalagi jika bersepeda pada malam hari.
  2. Memakai masker mutlak diperlukan untuk menjaga diri sendiri dan orang lain dari penularan penyakit. Pilih masker dari bahan yang mudah menyerap keringat, supaya kenyamanan ketika bersepeda tidak terganggu.
  3. Bawa air minum untuk hidrasi dan jangan lupakan hand sanitizer di dalam tas kecil.
  4. Cari rute perjalanan yang sepi, hindari daerah yang ramai atau rute populer yang banyak dilalui orang bersepeda lainnya.
  5. Cobalah mengatur waktu bersepeda, carilah waktu di mana tidak banyak orang lain bersepeda.
  6. Menjaga jarak setidaknya 1,5 meter dari orang lain dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit.
  7. Sebaiknya bersepeda dengan keluarga atau kerabat yang serumah dengan Anda, untuk meminimalkan risiko terjadinya penularan penyakit.
  8. Apabila ingin bersepeda dengan berkelompok, batasi kelompok bersepeda Anda maksimal lima orang.
  9. Apabila Anda ingin bersepeda dengan teman atau kerabat yang tidak serumah, pastikan Anda dan kerabat Anda sudah melakukan tes pemeriksaan COVID-19 sebelumnya dengan hasil negatif, agar tetap aman. Meskipun demikian, masker harus selalu digunakan.
  10. Langsung pulang ke rumah dan mandi setelah bersepeda, untuk sementara hindari dulu kegiatan sosialisasi atau beristirahat setelah bersepeda sambil makan minum dengan kerabat, karena kegiatan ini biasanya membuat Anda harus membuka masker.

 

 

Cara Tetap Aktif Saat Bepergian ke Luar Negeri

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Perjalanan ke luar negeri bisa menjadi salah satu perjalanan paling aktif yang pernah Anda alami. Melihat semua pemandangan membutuhkan banyak berjalan kaki, dan banyak kota terbaik untuk dikunjungi di dunia tidak dibangun di atas tanah datar.

Dilansir dari Travel Daily News, meski tergantung pada jenis perjalanan yang Anda lakukan, namun pasti anda lebih banyak duduk daripada biasanya. Penerbangan panjang dan tur bus akan membuat kaki Anda lelah, pertunjukan dan konser dapat membuat Anda duduk berjam-jam, dan kamar hotel kecil bukanlah yang terbaik untuk berolahraga di pagi hari.

Belum lagi bahwa banyak berjalan kaki dapat membuat kaki Anda sakit, tetapi Anda tidak akan mendapatkan latihan kardio saat berjalan-jalan.

Namun, jangan khawatir, karena kami memiliki beberapa saran yang akan membantu Anda menemukan cara untuk terus bergerak, memompa jantung, dan membuat Anda merasa baik meskipun jet lag dan diet perjalanan yang penuh dengan natrium dan gula.

Rawat otot yang kaku dan persendian 

Rasa sakit karena duduk adalah salah satu hambatan terbesar untuk aktif saat bepergian ke luar negeri. Setelah penerbangan 15 jam, hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah berolahraga.

Namun, penting untuk membuat diri Anda bergerak lagi secepat mungkin, atau Anda mungkin mulai lebih ketat. Duduk dalam jangka waktu yang lama bahkan membuat Anda rentan terhadap pembekuan darah di kaki Anda.

Stimulasi aliran darah, bantu otot Anda rileks, dan lawan peradangan dengan krim CBD. Ketika Anda memijat hanya dengan sedikit krim CBD seperti yang dibuat oleh Evn CBD.

Anda akan cepat lega karena Anda menargetkan kelompok otot tertentu dan mendapatkan dosis penyembuhan CBD langsung kepada mereka. Tingkatkan keefektifan lebih banyak lagi dengan mengonsumsi permen karet CBD  jika legal di negara tujuan Anda bepergian.

 Periksa hukum di negara tujuan Anda untuk memastikan bahwa produk CBD Anda legal sebelum Anda naik ke pesawat. Topikal CBD umumnya baik-baik saja di mana saja, tetapi CBD yang dapat dikonsumsi memiliki beberapa batasan ketat di sebagian besar negara Asia dan Timur Tengah.

Gunakan aplikasi untuk dap rute lari yang bagus

Jika Anda suka berlari dan Anda ingin sekali berolahraga kardio saat bepergian, gunakan aplikasi untuk menemukan rute yang tepat. Beberapa aplikasi memungkinkan Anda menyesuaikan tingkat kesulitan, dan Anda dapat menemukan rute yang akan membawa Anda ke situs terbaik di wilayah Anda.

Saat berada di area asing, selalu ada baiknya untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk memastikan keselamatan Anda. Jangan lupa untuk memberi tahu mitra perjalanan Anda ke mana tujuan Anda dan berapa lama Anda berniat untuk pergi — dan pastikan Anda membawa ponsel Anda.

Ikuti kelas di gym atau studio

Mengikuti kelas olahraga adalah cara yang bagus untuk bertemu orang baru, mempelajari teknik dan gerakan baru. Mengambil kelas olahraga saat bepergian ke luar negeri membawa segalanya ke tingkat yang baru.

Ini akan memberi Anda kesempatan untuk melihat hal-hal seperti orang lokal, bertemu orang-orang yang akan memberi Anda petunjuk tentang cara melakukan squat yang lebih baik dan tempat makan terbaik.

Anda mungkin bisa mendapatkan tarif diskon untuk biaya satu atau dua kelas karena Anda bepergian; dan Anda bisa mendapatkan perspektif yang sama sekali baru tentang rutinitas olahraga yang sama yang telah Anda latih selama bertahun-tahun.

Tetap terhidrasi

Ketika Anda keluar dari rutinitas normal Anda, Anda mungkin lupa untuk minum air dalam jumlah yang sama seperti yang biasanya Anda lakukan — namun Anda mungkin kehilangan lebih banyak dari biasanya.

Menginap di hotel, berada di lingkungan yang berbeda, dan makan di luar membuat lebih sulit untuk mendapatkan semua air yang Anda butuhkan. Namun, ini adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk mendapatkan hasil maksimal dari perjalanan Anda.

Bergantung pada waktu dan wilayah perjalanan Anda, tetap terhidrasi dapat menyelamatkan Anda dari sengatan panas. Paling tidak, itu akan melawan kelelahan dan kram otot. Sebagai aturan umum, Anda sudah mengalami dehidrasi saat Anda haus, jadi jangan gunakan itu sebagai indikator berapa banyak air yang harus Anda minum.

Alih-alih, cari tahu berapa asupan ideal Anda berdasarkan berat badan dan aktivitas fisik Anda, kemudian usahakan untuk minum setidaknya sebanyak itu setiap hari.

Pikiran terakhir

Jika Anda sedang berlibur ke luar negeri, Anda harus bersenang-senang! Pastikan Anda merawat diri sendiri dengan baik, dan cobalah untuk melakukan aktivitas fisik sehingga Anda dapat merasakan yang terbaik tidak peduli seberapa banyak Anda harus duduk.

Namun, jangan stres karena melewatkan satu atau dua hari latihan kardio jika Anda sedang keluar dan ingin menikmati waktu perjalanan. Itu semua akan ada di sana menunggu Anda ketika Anda kembali ke rumah.

 

Finnair Bermitra dengan Terveystalo untuk Tawarkan Pengujian Virus Corona Bagi Para Pelancong

this formate

Finnair bermitra dengan Terveystalo untuk menawarkan pengujian virus korona bagi para pelancong*

Finnair telah memulai kerja sama dengan perusahaan layanan kesehatan swasta Finlandia, Terveystalo, untuk menawarkan pelanggannya akses mudah dan cepat ke pengujian virus corona sebelum melakukan perjalanan. Layanan tersebut akan diluncurkan pada 28 September 2020.

Dilansir dari Travel Daily News, beberapa negara mewajibkan hasil tes virus corona negatif dan sertifikat dari penumpang yang tiba di negara tersebut.

Kemitraan antara Finnair dan Terveystalo memastikan bahwa pelanggan diberikan sertifikat ujian yang diwajibkan oleh negara tujuan dengan nyaman dan tepat waktu.

Selain itu, pelanggan Finnair mendapatkan akses ke layanan pengujian dengan harga diskon dan kemungkinan untuk membeli dengan poin Finnair Plus.

Keselamatan dan kelancaran perjalanan sangat penting bagi kami. Sayangnya, para pelancong menghadapi semakin banyak persyaratan akhir-akhir ini. Melalui kemitraan kami dengan Terveystalo, kata Jaakko Schildt, Chief Operations Officer, Finnair.

“kami ingin mempermudah perjalanan bagi pelanggan kami ke negara-negara yang membutuhkan sertifikat uji virus corona, ” tambahnya

Saat pembatasan perjalanan dicabut, penting untuk memungkinkan perjalanan dengan ketenangan pikiran. Meskipun interaksi melalui saluran digital adalah pilihan yang baik untuk banyak situasi, pertemuan tatap muka masih diperlukan baik untuk bekerja maupun bersantai.

“Di Terveystalo, kami juga ingin mendukung bisnis dan menawarkan solusi bagi pelancong kerja, ”kata Karita Reijonsaari, Direktur Pengembangan Bisnis, Kesehatan Perusahaan Terveystalo.

Tes PCR dari hidung dan tenggorokan yang digunakan oleh Terveystalo memenuhi standar kualitas internasional. Metode ini adalah tes virus korona yang paling diterima di seluruh dunia.

Negara yang berbeda memiliki persyaratan yang berbeda untuk pengujian virus korona dan dokumen terkait. Spesialis Terveystalo mendiskusikan persyaratan ini dengan pelanggan, dan pelanggan diberikan tes yang memadai dan sertifikat yang memenuhi persyaratan negara tujuan yang berlaku pada saat itu.

Pelanggan juga dapat memilih opsi hanya tes dan mereka akan menerima hasilnya melalui layanan Oma Terveys segera setelah hasilnya siap. Opsi ini berlaku misalnya untuk warga negara Finlandia, yang pulang dari negara berisiko tinggi dan ingin mempersingkat karantina 14 hari dengan menjalani tes setelah kedatangan.

Pelanggan Finnair diarahkan ke layanan digital Terveystalo melalui situs web Finnair dimana mereka dapat memilih klinik Terveystalo terdekat untuk pengujian dari jaringan luas di seluruh Finlandia.

Tes dan hasil dijadwalkan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan tujuan. Pelanggan memiliki akses ke layanan pengujian cepat, dan waktu tunggu untuk hasilnya diminimalkan.

Di wilayah ibu kota Finlandia, hasilnya siap dalam 24 jam dari pengujian dan di tempat lain di Finlandia rata-rata dalam 36 jam. Pelanggan menerima informasi tentang hasil dengan pesan singkat, dan sertifikat dikirimkan secara elektronik atau dalam bentuk tercetak.

Pelanggan Finnair menerima diskon 10% dari harga uji PCR normal Terveystalo. Untuk anggota Finnair Plus Platinum Lumo, Platinum dan Gold diskon 15%.

 

Pokdarwis: Aktivitas dan Penghasilan Kami kembali ke Titik Nol

this formate

Dr. Ir. Hari Santoso Sungkari, Deputi Bidang mengarahkan kegiatan rakor desa wisata. 

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke empat 

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang merupakan penjabaran dari visi, misi  program Presiden Jokowi  dan desa wisata saat ini menjadi prioritas dalam menggerakkan perekonomian rakyat, kata  Dr. Ir. Hari Santoso Sungkari, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf.

Berbicara saat membuka rapat kordinasi , Hari menjelaskan rakor ini sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat/Kemenparekraf dalam mendukung pembangunan pariwisata di destinasi super prioritas dan sekitarnya oleh karena itu agar benar-benar dimanfaatkan untuk berkordinasi, berjejaring dan bekerjasama dengan baik.

Apalagi Organisasi Pariwisata Dunia.  ( UNWTO ) telah sejalan dengan pemikiran Presiden Jokowi, dimana dimasa depan desa wisata adalah tujuan wisata yang mampu mensejahterakan masyarakat dari dampak berganda ( multiplier effect) aktivitasnya.

Hari Pariwisata Dunia setiap tahun dirayakan tanggal  27 September, maka tahun 2020 ini  temanya adalah Pariwisata dan Pembangunan Pedesaan yang menjadi tema sentral di seluruh negara-negara anggota organisasi  di bawah PBB itu.

Peringatan tahun ini datang pada saat yang kritis dan negara-negara di seluruh dunia memandang pariwisata mampu mendorong pemulihan, termasuk di komunitas pedesaan di mana sektor tersebut merupakan pemberi kerja utama dan jadi pilar ekonomi negara.

RJPM yang in line dengan UNWTO itu oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah dijabarkan di tahun anggaran 2020 dengan memiliki pilot project pengembangan 50 desa wisata di 5 Destinasi Super Prioritas termasuk pengembangan 12 desa wisata di Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, ungkap Hari Sungkari.

” Tujuannya untuk mendorong perekonomian desa, optimalkan hidup berjejaring ( networking) dan dari 12 desa DSP Borobudur ini buat produk atau paket wisatanya saling melengkapi dan menunjang dengan keunikan masing-masing sehingga jadi satu kesatuan paket tour yang menarik,” kata Hari Sungkari.

Pengelolaan desa wisata yang saling membantu ini akan berdampak pada  lama tinggal wisatawan di desa wisata. Kolaborasi akan meningkatkan dampak positif yang tinggi pada penduduk lokal. Kalau bisa terwujud sinkronisasi program maka Anggaran Pendapatan Belanja Daerah ( APBD) yang berasal  dari desa wisata akan tinggi.

” Di era  COVID-19 ini saya yakin warga desa wisata DSP Borobudur tidak terpapar seperti di kota besar yang tumbuh kluster baru dari perkantoran. Selain tidak ada laporannya, alam pedesaan dan penerapan Sapta Pesona terutama kebersihan sudah lama diterapkan,” 

Bagi para peserta Rakor Desa Wisata ini, pandemi global bukan hanya membuat industri pariwisata bisnisnya jadi rontok, desa wisata yang selama ini kental dengan program Live In bagi pelajar  tingkat TK, SD, SMP, SMA hingga kalangan perguruan tinggi maupun grup outbond berbagai perusahaan juga tidak bisa menerima tamu lagi.

Selain para pemilik homestay di desa-desa wisata masih takut menerima wisman, individual traveler juga selama ini sebelum COVID-19 juga  belum banyak berkunjung ke desa wisata.

Kembali ke Titik Nol

” Karena pandemi global yang menyeluruh, desa wisata kami aktivitasnya kembali nol dan tidak ada penghasilan,” ungkap Sulisno dari Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) Jatimulyo.

Pihaknya berharap dari rakor ini bisa mendapatkan masukan bagaimana untuk menbangkitkan kembali semangat anggota Pokdarwisnya dari keterpurukan. Selain membutuhkan pendampingan, pencerahan juga simulasi dalam menerapkan desa wisata yang dijalankan sesuai dengan prosedur kesehatan sesuai protokol kesehatan  standar dunia ( WHO ). 

Agung Mulyanto, dari Pokdartis Kaligono menyambut baik inisiatif Kemenparekraf yang setelah rakor juga akan menindak lanjuti dengan sosialisasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) khususnya bagi para pelaku usaha maupun konsumen di sektor pariwisata.

Sosialisasi memang penting tapi yang utama para pengelola Pokdarwis butuh totalitas dalam menjalankan visi-misinya dan harus cinta pariwisata karena bidang yang digeluti tanpa gaji dan kategori relawan desa.

“Selain itu menjalankan kegiatannya dengan keikhlasan yang tinggi karena dari pengalaman kami, 10 orang pionir  pengelola desa wisata kini tinggal 3 orang yang masih aktif,” kata Agung Mulyanto.

Dia sepaham dengan Sulisno bahwa ada program pendampingan bagi desa wisata sehingga apa yang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hari Sungkari harapkan bisa saling mendukung dan lahir produk & jasa desa wisata yang unggul bisa terwujud.

” Maaf selama ini pembinaan atau pelatihan yang diberikan oleh Disparda belum menyesuaikan kebutuhan jaman. Ibaratnya kami dapat materi pelajaran SD padahal sudah mau masuk universitas,” kata Agung.

Kebangkitan desa wisata dengan ikonik baru juga menjadi harapan. Dedek, dari Desa Wisata Purwosari agar pokdarwis mendapatkan pendampingan sehingga bisa membuat perencanaan yang berkelanjutan sesuai yang diharapkan.

” Kami berharap di tahap selanjutnya  ada komunikasi yang berkelanjutan dalam perencanaan sehingga pendampingan sangat dibutuhkan. Kami terutama butuh bimbingan untuk menemukan produk ikonik agar tidak terjadi keseragaman dalam menghibur wisatawan di desa wisata,” kata Dedek.

Ir Oni Yulfian MBTM, Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf.

Dari para nara sumber sebelumnya di rakor ini, peserta oleh Hari Sungkari diajak untuk memanfaatkan masa pandemi global ini untuk riview produk & jasa apa saja yang selama ini sudah diberikan karena desa wisata jangan puas dikategori perintis saja. Mereka harus naik ke level desa wisata berkembang hingga menjadi desa wisata maju.

” Yang sudah di kategori desa wisata maju, bantu desa wisata di sekitarnya untuk naik level dan punya keunikan masing-masing. Masa pandemi adalah saat yang tepat kita melakukan perencanaan, pembenahan dan saatnya meningkatkan kualitas SDM,” tegas Hari Sungkari.

Pendampingan 

Masukan dari anggota pokdarwis oleh Ir Oni Yulfian MBTM, Direktur Pengembangan Destinasi Regional I, Kemenparekraf dan Oneng Setyaharini MM sebagai Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur ditanggapi dengan cepat.

” Betul, pendampingan tidak cukup dengan sosialisasi sehingga perlu pendampingan untuk sebulan atau hingga setahun,” kata Oni Yulfian.

Bersama Oneng Setyaharini , dia sepakat agar anggaran Kemenparekraf tahun depan untuk Destinasi Super Prioritas di Borobudur dan Danau Toba akan diberikan pendampingan masing-masing untuk 25 desa disekitarnya. ” Bentuk pendampingan akan disesuaikan dengan kondisi desa-desa wisata tersebut untuk 2021,” kata Oni Yulfian.

Roadmap yang tengah dikerjakan oleh tim Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung, kata Oni, untuk mendorong peningkatan kualitas produk desa wisata dengan magnet utama Candi Borobudur.

Menurut Oni, geopark Gn Sewu yang lokasinya disekitar Borobudur juga bisa menjadi daya tarik alternatif selain Candi Borobudur sehingga Pokdarwis disekitarnya bisa kreatif membuat paketnya.

” Desa wisatalah salah satu varian dari perjalanan wisatawan hingga menjadi alternatif tujuan yang patut dikunjungi,”

Dia berharap 50 desa wisata yang menjadi pilot project dan 12 desa yang ada  di kawasan Joglosemar, mencakup 6 kabupaten membuat perencanaan yang bagus karena menjadi salah satu sasaran rakor.

” Kami akan menyusun roadmap desa wisata di kawasan Borobudur ini. Bagaimana desa wisata harus berkembang dan produknya tidak bentrok satu sama lain. Sasarannya untuk pemetaan potensi masalah,  analisis dan kajian bagaimana desa wisata harus dikembangkan,” kata Oni Yulfian.

Faktor penting adalah mengetahui potensi masyafakat agar terlibat dalam pengembangan wisata. Rakor harus dimanfaatkan untuk jadi media saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, ungkap Oni Yulfian.

 

Kemenparekraf Siapkan Pengembangan 12 Desa Wisata Super Prioritas Borobudur

this formate

Dr . Ir. Hari Santoso Sungkari, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastuktur Kemenparekraf ( paking kanan) saat membuka acara. ( Foto: HAS).

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan ke dua.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Pengembangan desa wisata saat ini menjadi prioritas dalam RPJMN 2020-2024 sebagai pendukung pencapaian percepatan pengembangan Destinasi Super Prioritas (DSP) termasuk salah satu diantaranya adalah DSP Borobudur dan sekitarnya.

“Dengan mengacu pada RPJMN 2020-2024 tersebut,  tujuan pengembangan desa wisata di DSP Borobudur adalah sebagai pendorong peningkatan kapasitas masyarakat dan kualitas produk pariwisata berbasis masyarakat dalam mendorong peningkatan perekonomian desa,” kata Ir Oni Yulfian MBTM, Direkrur Pengembangan Destinasi Regional I, Kemenparekraf.

Berbicara pada Rakor Desa Wisata DSP Borobudur di Hotel Phonix, Yogyakarta, Oni Yulfian melaporkan pada Dr . Ir. Hari Santoso Sungkari, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastuktur Kemenparekraf dan para peserta bahwa desa wisata di kawasan Borobudur ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.

“Untuk itu, tentu posisinya harus terus diperkuat. Pada tahun anggaran 2020, kemenparekraf memiliki pilot project pengembangan 50 desa wisata di 5 Destinasi Super Prioritas.  Pengembangan desa wisata di DSP Borobudur dalam tahun anggaran ini meliputi 12 Desa Wisata yang termasuk dalam dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta mencakup 6 kabupaten, ” tambah Oni Yulfian.

Desa wisata prioritas dalam cakupan wilayah Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur yang termasuk dalam wilayah Prov. Jawa Tengah terdiri dari 2 (dua) kabupaten yaitu Kab. Magelang dan Kab Purworejo.

Untuk kabupaten Magelang ada 3 (tiga) desa wisata yang menjadi prioritas pengembangan, yaitu Desa Wisata Karanganyar, Desa Wisata Karangrejo, dan Desa Borobudur sedangkan untuk Kab. Purworejo hanya 1 (satu) desa yaitu Desa Kaligono. 

Desa Wisata yang termasuk Prov. DI. Yogyakarta mencakup 4 (empat) Kabupaten yaitu Kab. Kulonprogo, Kab. Gunung Kidul, Kab. Sleman dan Kab. Bantul. Kab. Kulon Progo ada 4 (empat) desa yang menjadi prioritas pengembangan.

Desa-desa itu adalah  Desa Glagah, Desa Segajih, Desa Tinalah dan Desa Jatimulyo. Untuk Kab. Gunung Kidul 1 (satu) desa yaitu Desa Bleberan Sri Getuk. Kab. Sleman 2 (dua) desa wisata yaitu Desa Pulesari dan Desa Garongan. Sedangkan untuk Kab. Bantul 1 (satu) desa wisata yaitu Desa Mangunan. 

“Sekarang ini Kemenparekraf sedang dalam proses menyusun roadmap pengembangan desa wisata di Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur dengan memetakan dan membuat profil terkait 12 Desa Wisata Prioritas 2020 tersebut yang dibantu dengan tim peneliti dari P2Par ITB,”

Roadmap ini dibuat sebagai pedoman pengembangan desa wisata dalam jangka waktu lima tahun kedepan dan sebagai pedoman operasional dalam melaksanakan kebijakan dan strategi pembangunan desa wisata dalam Ripparnas, RPJMN dan Rencana Terpadu Kawasan.

Sasaran dari pembentukan roadmap pengembangan desa wisata ini diharapkan dapat menggambarkan :

  1. Profil dari masing-masing desa yang mencakup kebijakan pengembangan desa wisata baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/ kota, 
  2. Karakteristik dan tingkat perkembangan desa 
  3. Potensi dan tantangan pengembangan 
  4. Strategi dan indikasi program kegiatan pengembangan desa wisata di DSP Borobudur 

Rapat koordinasi hari ini, tanggal 22 September 2020 diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Destiansi Regional 1 sebagai media transformasi informasi dan pengetahuan baru bagi para peserta terkait pengembangan desa wisata sebagai upaya pendorong perekonomian di Destinasi Super Prioritas Borobudur.

Narasumber yang mengisi materi dalam kegiatan rakor ini terdiri dari : Oneng Setyaharini, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Kemenparekraf;  Sinoeng Nugroho Rahmadi, Kadispar  Prov. Jawa Tengah ; Singgih Raharja, Kadispar  Prov. DI Yogyakarta; Yani Adriani, Peneliti Senior P2Par ITB dan Wiwiek Mahdayani, Direktur Desma Center.

Secara umum para nara sumber menyampaikan konsep pengembangan desa wisata berbasis masyarakat yang dapat mendukung perekonomian desa terutama di desa wisata yang termasuk ke dalam kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur.

Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini  sekitar 75 orang dari Dispar Kab. Magelang, Dispar Kab. Purworejo, Dispar Kab. Kulonprogo, Dispar Kab. Bantul, Dispar Kab. Gunungkidul, Dispar Kab. Sleman, dan Perwakilan dari Pengelola 12 Desa Wisata. 

“Kemenparekraf sangat mengapresiasi upaya Pemerintah daerah dalam membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif di masa pendemi covid-19 ini, namun tentu saja perlu didukung dengan kesamaan visi-misi antar seluruh stakeholder pariwisata terutama terkait pengembangan desa wisata,” kata Hari Santoso Sungkari, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastuktur Kemenparekraf 

Melalui rapat koordinasi ini diharapkan beragam masalah terkait akselerasi desa wisata akan diurai sehingga potensinya tentu dapat didorong agar optimal mengingat pengembangan desa wisata adalah bagian janji kampanye Presiden Jokowi yang sangat strafegis.

” Kita punya kewajiban mewujudkan harapan Presiden untuk kesejahteraan masyarakat desa melalui pengembangan desa wisata itu,” kata Hari.

Oleh karena itu  harus membuat program berdasarkan pengalaman seperti Live In, yang merupakan kearifan lokal dan tantangannya adalah kesiapan SDM dan paradigma desa wisata bisa menghibur wisatawan. 

“Desa wisata tidak hidup sendirian tapi hidup berjejaring sehingga antara 12 desa di DSP Borobudur bisa mengemas satu paket  tour menarik yang saling melengkapi. Kolaborasi yang baik antar desa wisata dan mitra-mitra lainnya akan menaikkan dampak positif pada penduduk lokal, kata Hari Santoso Sungkari.

 

 

Menikmati Prosedur Penerbangan di Tengah Pandemi global & Kegalauan

this formate

Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Parekraf mengundang bisniswisata. co.id untuk menghadiri Rapat Kordinasi Desa Wisata Super Prioritas Borobudur di Hotel The Phoenix Hotel Yogyakarta – MGallery Collection. Berikut tulisan pertama.

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  Selama tujuh bulan tidak mengunjungi bandara dan tinggal di rumah  mengikuti anjuran pemerintah untuk Work from Home ( WfH) baru hari inilah saya menjejakkan kaki kembali di Terminal 3 Soekarno Hatta, Tangerang.

Terakhir pulang dari Banjarmasin awal Febuari 2020 lalu menghadiri Hari Pers Nasional ( HPN 2020). Kepergian saya kali ini ditengah pandemi global yang membuat Jakarta menjadi zona merah memang penuh kontroversi diantara tiga anak dan seisi rumah. Namun  doa keluar rumah terus meluncur di hati.

” Bismillahi Tawakkaltu ‘Ala Allah, Laa Haula Quwwata Illaa  Billah ”                                         “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

Dari rumah di kawasan Andara Village, Cinere ternyata hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di terminal tiga domestik. Sejak berdinas menjadi ‘kuli tinta’ saya memang 99% menggunakan penerbangan Garuda Indonesia untuk kegiatan dilingkungan domestik termasuk ritual ” pulang kampung,” karena almarhum suami sang pangeran dari silsilah HB IV memang berasal dari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tiba dibandara saya langsung duduk di area luar sambil mengawasi kondisi bandara. Taksi dan mobil pribadi cukup ramai menurunkan penumpang. Alhamdulilah kesadaran menggunakan masker di semua petugas yang ada cukup tinggi, begitu juga dari para penumpang yang turun dari kendaraannya.

Tiba di dalam area check-in, saya diarahkan staff Garuda Indonesia untuk konfirmasi hasil rapid test yang sudah saya bawa hasil pemeriksaan di rumah sakit swasta di Lebak Bulus. Counter nya  ditengah antara Tempat check-in C & D.

Karena datang awal tiga jam sebelum keberangkatan maka tidak ada antrian panjang. Petugas membaca hasil rapid test lalu memberikan tanggal pemeriksaan dan cap bertuliskan Goverment of Indonesia, bukan cap Angkasa Pura 2, pengelola bandara.

Kalau melihat dari panjangnya tali pembatas maupun gambar jejak kaki di lantai tempat calon penumpang harus berdiri  membuat antrian demi social distancing, kemungkinan sudah ada kecendrungan tingkat kepadatan penumpang nih, apalagi ada sekitar  6 petugas yang melayani.

Dari counter rapid test, saya kembali check-in dan petugas memeriksa lagi surat hasil rapid test yang sudah dikasih cap. Alhamdulilah gate 11 dan nomor kursi sudah tertera di boarding pass. Maklum gate 11 adalah pintu masuk ke pesawat yang terdekat di terminal yang sangat luas ini, jadi saya tidak perlu jalan jauh.

Setelah beres pemeriksaan saya duduk sejenak dan buka aplikasi  eHAC Indonesia, kepanjangan dari nama : Indonesia Health Alert Card dari Ditjen Pencegahan & Pengendalian Penyakit, Departemen Kesehatan RI.

Kebetulan semalam aplikasi sudah di unduh jadi tinggal daftar email dan password, lalu duduk sambil mengisi pertanyaan dasar (basic)  dari mana mau kemana hingga ke nomor tempat duduk dalam pesawat. pastinya sih untuk kemudahan tracing apabila seseorang terpapar COVID-19 karena banyak yang menjadi Orang tanpa Gejala ( OTG).

Setelah itu langsung menuju gate untuk masuk ke dalam pesawat dan melewati pemeriksaan lagi. Tiga petugas wanita menghadang dan kita harus memperlihatkan surat rapid test, boarding card serta KTP. Setelah lolos dari sini antri untuk melewati  pemeriksaan alat memindai dan metal detector

Kaum pria biasanya harus melepas ikat pinggang segala. Sementara kalau wanita meskipun tidak perlu melepas perhiasan terutama kalung, petugas khusus wanita akan segera bereaksi kita ada bunyi akan perhiasan.

Selesai pemeriksaan turun dengan tangga berjalan ( escalator) menuju gate, melewati beberapa toko seperti Batik Keris dan toko oleh-oleh. Saat turun dengan escalator itu terlihat area cafe dan restoran 90% masih tutup akibat bandara sempat  lumpuh karena pandemi COvID-19.

Saat turun sudah terlihat tanda Gate 11 di ujung escalator jadi tinggal jalan lurus. Tapi untuk gate 12 hingga 28 harus  belok ke kiri dan mengikuti panduan yang ada. Untuk menuju gate yang jauh ada buggy car atau mobil golf bisa muat untuk 4-5 orang kalau tidak bawa banyak bagasi. 

Turun dari escalator di kiri ada dua musholla. Tadinya mau cari aman dan berjauhan dari calon penumpang lainnya dengan ‘ngumpet’  karena dari rumah sudah shalat dhuha dan masih ada 2 jam lagi hingga tiba keberangkatan. Tapi setelah melongok sejenak lebih baik duduk dibagian luar atau depan musholla.

Tapi sudah keduluan dua orang yang asyik bekerja dengan laptopnya. Akhirnya cari tempat duduk seputar gate 11 saja di tempat duduk bertuliskan ‘ Priority’ maksudnya sih buat wanita hamil dan warga senior gituh seperti di commuterline.

Kebetulan ada kursi yang kosong jadi kursi yang boleh diisi saya duduki, sementara kursi yang diberi tanda silang saya lap dulu dengan tisu basah untuk menempatkan tas tangan dan tas Kipling coklat  isi baju untuk 4 hari kerja yang sudah menemani saya traveling 17 tahun terakhir.

Berpose di ruang Bandara Yogjakarta Internasional Airport, antrian upload eHAC, ruangan bandara dan wajah depan YAI.

Reflek begitu duduk langsung potret-potret dan baru menyadari banyak juga calon penumpang. Terlihat toko-toko branded dan restoran jajanan pasar tempat saya biasa nyantai dan ngopi masih tutup. Begitu juga kedai-kedai kopi di sisi escalator tadi masih banyak yang tutup. Cuma jam tangan dan butik tas yang buka.

Pandangan luas ke depan dengan struktur ruangan beratap  tinggi dan pandangan facades dari stainless steel dan kaca-kaca lebar. Kalau area ruangan Terminal 3 ini totalnya mencapai 422.804 m2  atau 4.551.020 square fit.

Suara pengumuman keberangkatan berkumandang terus ada ke Papua, Aceh dan kota-kota lainnya yang jadi rute andalan Garuda Indonesia. Alhamdulilah, bersyukur Indonesia negara kepulauan dan himbauan organisasi penerbangan dunia ( IATA) agar negara-negara mencabut larangan terbang sudah mulai efektif.

Jujur ketika Singapore Airlines  mengumumkan rencana PHK 4300 karyawannya membuat saya sedih sekali karena perusahaan yang dimata dunia begitu kuat dan punya reputasi berbagai penghargaan terbaik itu akhirnya rontok juga karena hanya punya jalur internasional yang lumpuh di seluruh dunia karena pandemi.

Bersyukur Indonesia negara Kepulauan dan banyak jalur domestik yang masih bisa dilayani hingga meski ada ancaman PHK 1,6 juta karyawan hotel di berbagai daerah, untuk airlines nasional maupun milik swasta insya allah masih bisa menyambung ‘nyawa’.

Apalagi Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memastikan Safe Travel Campaign yang dilaksanakan sejak awal Agustus 2020, mampu meningkatkan rasa percaya diri masyarakat untuk kembali terbang. 

Diterapkannya protokol kesehatan secara ketat oleh maskapai penerbangan dan pengelola bandara, menjadi faktor pendorong masyarakat untuk kembali bepergian.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja melaporkan asosiasi maskapai yang dipimpinnya telah melakukan Safe Travel Campaign mulai 7 Agustus 2020 dengan mensosialisasikan kesehatan dan keselamatan penerbangan menuju Bandara Ngurah Rai, Bali dan Bandara Kualanamu, Medan.

Selain melibatkan maskapai anggotanya, INACA juga merangkul PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) sebagai pengelola bandara, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), AirNav Indonesia, serta pengelola rumah sakit untuk menjalankan kampanye tersebut.

Alhamdulilah panggilan untuk masuk pesawat tiba. Prosesnya harus kenbali me unjukkan hasil rapid test dan KTP. Saat melewati pintu masuk pesawat, tempat yang biasa di letakkan koran dan permen berganti dengan hand sanitizer.

Dengan demikian penumpang harus melakukan.     ‘ prosesi’ ini. Dengan demikian jaga jarak secara otomatis berlaku karena yang lain harus sabar sejenak mengerem langkah.

Saya mendapat kursi dua baris sebelum ujung ekor pesawat. Wah lumayan sesuai harapan agar tidak terlalu bersinggungan dengan banyak orang. Duduk di sisi kiri, dua baris di belakang saya full ada penumpang mulai dari baris depan. Sementara di sisi kanan dua baris kosong. Setiap baris diisi dua orang jadi kursi tengah memang sengaja dikosongkan untuk jaga jarak.

Ketika makanan tiba di bungkus kertas, kedua tangan pramugari memakai sarung tangan tipis yang biasa saya pakai saat bikin Sushi dan lemper. Saya terima jatah makan padahal Aida, asisten keluarga  di rumah sudah wanti-wanti : “Ibu tahan jangan makan ya, nanti kalau makan buka masker lagi ” ujarnya galak.

Aduh laper nih, maaf deh kan mas Adit, anak sulung malem sebelum keberangkatan sudah membekali mamanya dengan face shield ala helm motor. Jadi saya tetap makan dengan membuka masker bagian bawah sedikit dan makan satu buah roti bakery isi daging dan camilan kacang.

Lagi pula Sabtu siang, anak perempuan saya Deska sudah mendatangkan bidan dari RS Bunda untuk memvaksin saya dan anggota keluarga terutama baby Dasha anak Deska yang berusia 9 bulan. Vaksin untuk saya adalah vaksin Influensa dan melindungi paru-paru juga, insya allah cocok untuk menghadang virus.

Tak terasa satu jam perjalanan terlewati dengan tontonan Drakor Korea, Pilot menginformasikan untuk bersiap mendarat di Yogyakarta International Airport ( YAI) yang baru di Kulon Progo, sekitar 1,5 jam dari kota Yogyakarta. Laut biru pantai Selatan menjadi pemandangan indah saat pesawat mulai mendarat.

YAI adalah  Bandar Udara Internasional yang dibangun di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggantikan  Internasional Adisutjipto yang sudah tidak mampu lagi menampung kapasitas penumpang dan pesawat.

Bandar udara ini berdiri di tanah seluas 600 hektar dan diperkirakan menelan biaya Rp9 triliun. Bandara ini akan memiliki terminal seluas 210.000 meter persegi dengan kapasitas 20 juta penumpang per tahun.

Selain itu, bandar udara tersebut diperkirakan bakal memiliki hanggar seluas 371.125 meter persegi yang direncanakan bakal sanggup menampung hingga sebanyak 28 unit pesawat. Bandara ini juga, bisa menampung pesawat berbadan lebar, seperti B777, B747, A380

Untuk menuju tempat pengambilan bagasi, penumpang fihadang lagi untuk menunjukkan data isian eHAC tinggal scan saja sih ke petugas yang melayani. Namun setelah HP dimatikan dalam pesawat sata tidak bisa mengunduh dan jawaban eror, bikin nervous.

Akhirnya sama petugas biarding pass di sobek sebagian dsn dibaliknya isi dara manual, nama, usia, tujuan di Yogja barulah lolos bergabung dengan rombongan di lantai bawah pengambilan bagasi. Ternyata tinggal menunggu saya saja yang terhambat karena internet tidak mukus padahal di Handphone sudah tersedia paket data juga tidak mengandalkan WiFi.

Saat mampir makan siang di restoran di daerah Wates, jam sudah menunjukkan 2.45 menit. Ruang yang diblok khusus untuk 20 orang rombongan dan prosedur masuk restoran yang juga mengikuti protokol kesehatan membuat saya merasa lega dan sudah melakukan Safe Travel.

Saat perjalanan ke hotel langsung teringat pesan menantuku Mitha dan cucu pertama Sarah Anjani, agar begitu tiba langsung mandi jangan rebahan dulu di tempat tidur karena perjalanan dari Jakarta hingga Yogyakarta prosesnya cukup panjang. Ahamdulilah lancar jaya, semua terlampaui. Nah siapa berani terbang ? Yuk ikuti prosedur dan nikmati wisata domestik. 

 

 

Bayar via Virtual, Sebuah Keniscayaan

this formate

Pembayaran via virtual semakin populer (foto: travel leader corporate)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di ara pandemi COVID-19, pembayaran via virtual menjadi sebuah keniscayaan. Hampir seluruh aktivitas kini mulai bergeser dari konvensional (offline) menjadi digital. Hampir semua tempat wisata, hotel, maupun usaha terkait industri perjalanan mewajibkan bayar via virtual account.

Itulah yang menjadi topik bahasan utama dalam webinar bertajuk “Buyer Discussion: Virtual Payments for the Future of Travel” yang menampilkan tiga pembicara yang merupakan wakil dari perusahaan travel dan penerbit kartu kredit berbasis di Eropa. 

Semua pembicara sepakat bahwa pembayaran secara virtual dapat meningkatkan efisiensi perusahaan. Membayar secara virtual saat hendak memesan hotel terbukti nyaman, demikian menurut Ryan Pierce, manajer senior divisi perjalanan Salesforce, seperti dilansir gbta.org.

Sejumlah masalah yang kerap muncul ketika membayar secara konvensional, seperti kesulitan otorisasi kartu kredit, pengiriman copy kartu lewat fax yang sering gagal, penyalahgunaan kartu oleh orang lain, atau kerepotan mengajukan reimbursement menjadi cerita masa lalu.

Pierce bahkan menambahkan batar via virtual account dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja yang biasa melakukan penyocokan pemilik kartu dengan tagihan hotel mereka.    

Sementara itu menurut Clive Cornelius dari Visa Business Solutions untuk wilayah Eropa, sistem keamanan dan perlindungan privasi bagi para pengguna kartu virtual telah ditingkatkan dan terjaga baik.

Kartu virtual akan otomatis menerbitkan nomor kartu baru yang berbeda untuk setiap pemesanan baru dengan batas kredit tertentu pada sejumlah merchant yang disetujui. Dengan demikian, peluang untuk terjadi penyalahgunaan kartu menjadi lebih kecil. 

Para panelis mengakui awalnya mereka menghadapi kesulitan terutama saat baru memperkenalkan metode pembayaran virtual. Sesuatu yang biasa terjadi saat kita hendak memulai proses baru.

Salah satu tantangannya, menurut Sally Ferrell dari McDermott International, adalah membuat karyawan di hotel-hotel terbiasa dan memahami proses transaski menggunakan kartu virtual. 

Apalagi petugas front-desk secara berkala berganti orang. Jadi kuncinya, menurut pengalamannya adalah, secara rutin terus berbicara kepada bukan hanya staf di front-desk tetapi juga marketing manager dan petinggi lain di hotel untuk memastikan semua familiar dengan sistem pembayaran secara virtual.

Cornellius menambahkan Visa Business Solution Europe menyediakan satu lembar khusus bagi setiap wisatawan untuk memudahkannya menyampaikan keluhan atau masalah saat di hotel; satu halaman ini menjadi referensi yang bagus.

Meski semua panelis umumnya menyoroti pembayaran via virtual saat memesan hotel, mereka ternyata sudah mulai melihat peluang memanfaatkan teknologi ini untuk transaksi di sektor lain seperti transportasi dan kuliner.

Cornelius mengatakan Visa sebagai salah satu penerbit kartu kredit berencana untuk sepenuhnya meninggalkan metode lama dan mulai memperkenalkan virtual cards yang dapat digunakan para pelancong bukan hanya untuk membayar hotel, tetapi juga membeli makanan, membayar taksi, dan berbagai pengeluaran lain saat bepergian.

Seluruh panelis sepakat bahwa tidak ada solusi yang sederhana, tapi mereka mengapresiasi perkembangan pemanfaatan kartu virtual yang terbukti meningkatkan efisiensi di perusahaan. Menurut mereka inilah saat yang tepat untuk memperbaiki sistem karena pembayaran virtual menjadi sebuah keniscayaan.

 

 

Traveling: Diperintahkan Allah dan Ambil Hikmahnya

this formate

Mengambang di Laut Mati. Tak bisa tenggelam        ( Foto-foto: Nur Hidayat)

Oleh Nur Hidayat

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Tanpa adanya perintah Allah SWT bagi hamba-Nya untuk melakukan traveling dan tanpa adanya ulama yang gemar melakukan perjalanan (jauh), niscaya ilmu pengetahuan dan agama Islam tidak akan berkembang seperti sekarang. Benarkah.??

“Banyak ayat dalam al Qur’an yang menginspirasi pendahulu kita melakukan perjalanan jauh,” ujar ustadz Ahmad Sahal Hasan. Contohnya adalah ayat 15 surat al Mulk: “Dia lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Para sahabat dan tabi’in gemar melakukan perjalanan untuk berdakwah, menyebarkan agama Islam. Imam Bukhari kerap kali melakukan perjalanan yang sangat jauh, dengan sarana transportasi amat terbatas di zaman itu, “hanya” untuk memverifikasi satu hadis. Bayangkan, berapa sering dan berapa jauh jarak yang ditempuh serta banyaknya orang-orang yang ditemui penulis kitab Sahih Bukhari yang berisi ribuan hadis itu.

Ibnu Batutah, petualang muslim yang lahir di Tangier, Maroko, pada 1304, bepergian sangat jauh. Dia bertualang dari Mekah ke banyak negara selama 30 tahun dan telah menyinggahi 44 negara. Sejarawan George Sarton menyebut Ibnu Batutah sebagai “pelopor penjelajah terbesar di dunia pada abad 14, sejauh 75.000 mil, melebihi jarak yang ditempuh Marcopolo.”

Melalui perintah Allah SWT, kita diminta untuk mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari aktivitas traveling atau safari itu. Apa saja hikmahnya.? Antara lain:

1. Merenungkan hakikat kehidupan
Dengan melihat bekas-bekas suatu peradaban yang hancur, misalnya, kita paham bahwa kehidupan itu tidak kekal, mudah dihancurkan oleh Yang Maha Kuasa. Mereka dibinasakan karena berbuat dosa, fasik dan mendustakan-Nya. Membangkang.

2. Tafakkur melalui alam
Dengan melihat pemandangan alam yang indah, misalnya, kita diharapkan dapat merenungkan ciptaan Allah SWT, bersyukur dan menjadikan itu semua sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan kita akan betapa maha besarnya kekuasaan Allah.

3. Mensyukuri nikmat sehat
Tanpa tubuh sehat, traveling tidak dapat kita nikmati dan malah bisa menimbulkan masalah baru. Di situ kita makin mampu mensyukuri nikmat sehat dan memahami betapa tidak ternilainya badan sehat itu, lalu memanfaatkannya untuk berbuat kebaikan.

Sejenak berpose bergantian dengan istri di samping patung unik di Bratislava, Slowakia..

4. Makin meyakini kebenaran al Qur’an
Allah SWT menciptakan manusia dengan perbedaan suku, ras, adat istiadat agar mereka saling berkenalan dan menjalin silaturrahmi, tidak bermusuhan, seperti disebut dalam kitab suci. Dengan bertemu mereka yang berbeda-beda itu, kita makin meyakini kebenaran ayat-ayat al Qur’an.

5. Menambah teman dan networking
Setidak-tidaknya, bila kita traveling bersama dalam satu grup, teman kita bertambah banyak. Dari berbagai kota, suku, profesi dan hobi. Itu akan memperluas networking kita, yang pada suatu saat nanti pasti bermanfaat.

6. Menambah pengalaman, wawasan
Mengambang di Laut Mati, misalnya, atau ikut merasakan Hari Nyepi di Bali, pasti menambah pengalaman, memperluas wawasan. Kita tidak seperti katak dalam tempurung. Pikiran kita makin terbuka. Makin mudah menerima dan menghargai perbedaan.

Tuntunan Islam tidak menghendaki kita bersafari untuk melakukan hal-hal terlarang. Misalnya, ikut tur ke Macau atau Las Vegas sambil berjudi, minum minuman keras dan pesta kuliner dengan makanan haram. “Katakanlah: Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS an Naml: 69)

Mari kita ambil hikmah dari acara traveling tersebut. Tidak sekedar untuk senang-senang, selfie, mengoleksi suvenir dan foto-video, lalu meng-upload nya ke Instagram, Facebook dan Youtube. Jangan lupa bahwa doa-doa dari mereka yang bersafari termasuk doa yang diijabah oleh Allah SWT.

Sayangnya, di masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa pergi ke mana-mana untuk memperkecil penularan virus mematikan Itu. Lebih aman stay at home. Lagi pula, lebih dari 60 negara melarang warga Indonesia masuk ke negara itu. Mungkin baru 2 tahun lagi kita bisa traveling ke mana pun, setelah tertunda sekian lama..

Kata sufi terkemuka Jalaluddin Rumi, “Traveling mengembalikan kekuatan dan cinta dalam hidup.” Sastrawan terkenal Ernest Hemingway bilang, “Memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang bagus; tapi pada akhirnya, yang penting adalah perjalanannya.

Penulis adalah: Senior Journalist, pengamat dan penikmat pariwisata mancanegara.