Traveling: Diperintahkan Allah dan Ambil Hikmahnya

0
18

Mengambang di Laut Mati. Tak bisa tenggelam        ( Foto-foto: Nur Hidayat)

Oleh Nur Hidayat

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Tanpa adanya perintah Allah SWT bagi hamba-Nya untuk melakukan traveling dan tanpa adanya ulama yang gemar melakukan perjalanan (jauh), niscaya ilmu pengetahuan dan agama Islam tidak akan berkembang seperti sekarang. Benarkah.??

“Banyak ayat dalam al Qur’an yang menginspirasi pendahulu kita melakukan perjalanan jauh,” ujar ustadz Ahmad Sahal Hasan. Contohnya adalah ayat 15 surat al Mulk: “Dia lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Para sahabat dan tabi’in gemar melakukan perjalanan untuk berdakwah, menyebarkan agama Islam. Imam Bukhari kerap kali melakukan perjalanan yang sangat jauh, dengan sarana transportasi amat terbatas di zaman itu, “hanya” untuk memverifikasi satu hadis. Bayangkan, berapa sering dan berapa jauh jarak yang ditempuh serta banyaknya orang-orang yang ditemui penulis kitab Sahih Bukhari yang berisi ribuan hadis itu.

Ibnu Batutah, petualang muslim yang lahir di Tangier, Maroko, pada 1304, bepergian sangat jauh. Dia bertualang dari Mekah ke banyak negara selama 30 tahun dan telah menyinggahi 44 negara. Sejarawan George Sarton menyebut Ibnu Batutah sebagai “pelopor penjelajah terbesar di dunia pada abad 14, sejauh 75.000 mil, melebihi jarak yang ditempuh Marcopolo.”

Melalui perintah Allah SWT, kita diminta untuk mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari aktivitas traveling atau safari itu. Apa saja hikmahnya.? Antara lain:

1. Merenungkan hakikat kehidupan
Dengan melihat bekas-bekas suatu peradaban yang hancur, misalnya, kita paham bahwa kehidupan itu tidak kekal, mudah dihancurkan oleh Yang Maha Kuasa. Mereka dibinasakan karena berbuat dosa, fasik dan mendustakan-Nya. Membangkang.

2. Tafakkur melalui alam
Dengan melihat pemandangan alam yang indah, misalnya, kita diharapkan dapat merenungkan ciptaan Allah SWT, bersyukur dan menjadikan itu semua sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan kita akan betapa maha besarnya kekuasaan Allah.

3. Mensyukuri nikmat sehat
Tanpa tubuh sehat, traveling tidak dapat kita nikmati dan malah bisa menimbulkan masalah baru. Di situ kita makin mampu mensyukuri nikmat sehat dan memahami betapa tidak ternilainya badan sehat itu, lalu memanfaatkannya untuk berbuat kebaikan.

Sejenak berpose bergantian dengan istri di samping patung unik di Bratislava, Slowakia..

4. Makin meyakini kebenaran al Qur’an
Allah SWT menciptakan manusia dengan perbedaan suku, ras, adat istiadat agar mereka saling berkenalan dan menjalin silaturrahmi, tidak bermusuhan, seperti disebut dalam kitab suci. Dengan bertemu mereka yang berbeda-beda itu, kita makin meyakini kebenaran ayat-ayat al Qur’an.

5. Menambah teman dan networking
Setidak-tidaknya, bila kita traveling bersama dalam satu grup, teman kita bertambah banyak. Dari berbagai kota, suku, profesi dan hobi. Itu akan memperluas networking kita, yang pada suatu saat nanti pasti bermanfaat.

6. Menambah pengalaman, wawasan
Mengambang di Laut Mati, misalnya, atau ikut merasakan Hari Nyepi di Bali, pasti menambah pengalaman, memperluas wawasan. Kita tidak seperti katak dalam tempurung. Pikiran kita makin terbuka. Makin mudah menerima dan menghargai perbedaan.

Tuntunan Islam tidak menghendaki kita bersafari untuk melakukan hal-hal terlarang. Misalnya, ikut tur ke Macau atau Las Vegas sambil berjudi, minum minuman keras dan pesta kuliner dengan makanan haram. “Katakanlah: Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS an Naml: 69)

Mari kita ambil hikmah dari acara traveling tersebut. Tidak sekedar untuk senang-senang, selfie, mengoleksi suvenir dan foto-video, lalu meng-upload nya ke Instagram, Facebook dan Youtube. Jangan lupa bahwa doa-doa dari mereka yang bersafari termasuk doa yang diijabah oleh Allah SWT.

Sayangnya, di masa pandemi Covid-19 ini, kita tidak bisa pergi ke mana-mana untuk memperkecil penularan virus mematikan Itu. Lebih aman stay at home. Lagi pula, lebih dari 60 negara melarang warga Indonesia masuk ke negara itu. Mungkin baru 2 tahun lagi kita bisa traveling ke mana pun, setelah tertunda sekian lama..

Kata sufi terkemuka Jalaluddin Rumi, “Traveling mengembalikan kekuatan dan cinta dalam hidup.” Sastrawan terkenal Ernest Hemingway bilang, “Memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang bagus; tapi pada akhirnya, yang penting adalah perjalanannya.

Penulis adalah: Senior Journalist, pengamat dan penikmat pariwisata mancanegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.