Let’s Go! Tetaplah Bergerak Agar Tak Tenggelam

this formate

KITA semua sudah paham, semua kesusahan dalam masa pandemi COVID-19 ini disebabkan oleh terbatasi ruang gerak secara global. Masyarakat, baik pengusaha mau pun pekerja hanya dalam posisi bertahan hidup selama dua triwulan berturut-turut. Untuk pemulihan ekonomi kuncinya hanya ada di pandemi.

Aksi pemerintah melakukan percepatan dengan membuka akses lintas-batas domestik masih terhambat dengan peningkatan area-area yang secara paparan  angka menunjukkan peningkatan resiko tertular dari sang virus tipe super-spreader ini. Pemerintah telah menawarkan dan melakukan aksi solusi berjenjang.

Kalau kita amati, masa pandemi di Indonesia bisa menjadi lebih lama lagi, karena faktor ketaatan masyarakatnya.

Mengapa bisa tidak taat?

Pasalnya penduduk kehilangan penghasilan dan harus tetap bergerak —terutama yang bergantung pada penghasilan harian—. “Tetaplah bergerak supaya kau tidak tenggelam.” Begitu kata salah satu kata bijak. Maka tidak ada pilihan, interaksi jual-beli harus tetap berlangsung, bahkan naik tajam di area mikro — UMKM–.

Selanjutnya, kita yang mengikuti berita dan menelisik data-data yang disampaikan oleh para juru bicara pemerintah dan otoritas terkait, sekarang sudah bisa mengambil kesimpulan.– Ini bisa menjadi suatu kelegaan karena parameternya tersedia–.

Secara umum bisa dikatakan pemerintahan NKRI dalam menanggulangi pandemi COVID-19 saat ini fokus pada ketersediaan vaksin. Penanggulangan berdasarkan adanya vaksin, “bukan” terhadap pandeminya, walau pun pemerintah daerah berkoordinasi dengan pemerintah pusat melakukan PSBB – lockdown locally – termasuk pembuatan peraturan dan payung hukumnya.

Yang menarik dari sini adalah informasi “jadwal” ketersediaan vaksin. Sehingga kemudian bisa kita perhitungkan dan tentukan periode pandemi COVID-19 di Indonesia akan masuk dalam fase under-control tertanggulangi. Kemudian diikuti pergerakan pemulihan ekonomi dan kontrakasi sektor industri pariwisata yang bisa bergerak lebih awal.

Terkonfirmasi Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang vaksin COVID-19. Aturan tersebut mengatur pengadaan dan pelaksanaan vaksin virus corona — rencananya dimulai pada akhir tahun 2020–. Impor vaksin COVID-19 tiba di Indonesia bulan depan (November 2020). Vaksin virus corona yang didatangkan dari luar negeri tersebut tahap pertama akan diberikan untuk tenaga medis atau garda depan.

 Selain vaksin impor, Indonesia tengah mengembangkan vaksin di dalam negeri. Vaksin tersebut saat ini masih dalam tahap III uji klinik yang kemudian akan diproduksi secara massal oleh Biofarma. Keputusan relevan dari hasil uji klinis masih harus kita tunggu sampai bulan Desember mendatang. Kita semua tentu berharap  vaksin produksi dalam negeri dinyatakan berhasil. Dengan begitu, vaksin bisa diproduksi secara massal pada Januari 2021. Masyarakat dengan risiko tinggi kemungkinan mendapatkan vaksin pada awal tahun depan, triwulan pertama memasuki tahun baru.

Baru-baru ini dari hasil berbincang bersama Direktur Riset CORE Indonesia, Piter A. Redjalam pada  webinar iDEATE, saya mendapatkan insight tentang dampak pandemi bagi perekonomian bangsa. Pak Piter pada penutupan presentasinya menyuntikkan semangat akan adanya kontraksi di sektor industri pariwisata Bali, bahkan mampu menyampaikan periodenya.

CORE adalah kependekan dari Center of Reform on Economics atau terjemahannya Pusat Pemulihan Ekonomi Nasional. Sedangkan acara webinar berbayar diprakarsai oleh KHAS Studio dengan moderator Elprisdat Zen yang juga adalah Managing Director studio tersebut.

Berita baiknya, tinggal satu langkah lebar lagi untuk masuk ke momentum “pemulihan ekonomi nasional”. Tentunya termasuk industri pariwisata dimana Bali sebagai fokus utama untuk percepatan.

Status under control adalah triwulan pertama 2021 karena sudah ada vaksin untuk garda depan.

Lalu masuk triwulan kedua mulai April 2021, kita  sudah masuk masa pemulihan/recovery dengan  vaksin  buatan Indonesia sendiri mulai dipakai.

Selanjutnya pada triwulan ketiga pada Juli  2021, bisa dipastikan  lalu lintas pariwisata sudah meningkat dengan perhitungan pemulihan ekonomi telah berjalan dan masyarakat mulai berpenghasilan baik.

Sehingga pada triwulan keempat mulai bulan Oktober 2021 akan ada lonjakan minat berwisata yang utuh. Permintaan sudah bisa dikatakan menuju normal karena euforia para pelaku wisata untuk melakukan perjalanan.

Apa rekomendasi kita terhadap pemerintah dalam konsep pentahelix pariwisata untuk memasuki triwulan per triwulan?

Ini adalah momentum. Jangan sampai dilewatkan.

Saat pandemi berakhir pemerintah hendaknya siap dengan program-program pemulihan ekonomi. Salah satu untuk mendukung pariwisata adalah memberikan berbagai diskon tiket pesawat dan saran transformasi lainnya yang diluncurkan lebih awal,— early-bird.

Jadi, apakah pekerjaan rumah  kita dalam dua triwulan ini, agar tepat waktu masuk ke masa recovery yang secara logis realistis kita perhitungkan di atas kertas?

  1. Fokus pada penanggulangan wabah dengan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
  2. Pemerintah turut andil untuk memberikan jaring pengaman sosial dan meningkatkan ketahanan masyarakat terdampak
  3. Pemerintah memberikan bantuan untuk meningkatkan ketahanan dunia usaha.

Bagaimana pemikiran Anda?

 

 

Oasis Terbesar & Terindah di Dunia Ada di Arab Saudi

this formate

Al-Ahsa, oasis terbesar di dunia (foto: al-arabiyya)

ARAB SAUDI, bisniswisata.co.id: Oasis atau daerah subur terpencil di tengah gurun terbesar di dunia ada di Provinsi Timur Arab Saudi. Oasis Al-Ahsa, demikian ia berjulukan, baru saja memasuki Rekor Dunia Guinness sebagai oasis mandiri terbesar di dunia.

Di tengah daratan Arab Saudi yang sebagian besar adalah gurun pasir, wilayah ini menjadi yang terhijau. Keberadaannya sangatlah penting sejak dahulu kala.

Oasis ini terbentang di area seluas lebih dari 85,4 kilometer persegi, mencakup lebih dari 2,5 juta pohon palem yang memakan akuifer besar malalui 280 mata air.

Selain jutaan pohon palem, di sini juga ada lahan pertanian seluas 10.000 hektar yang ditanami beragam jenis kurma, sayuran, buah-buahan dan padi.

Diketahui pula terdapat 150 mata air panas, dingin dan hangat yang mengalir alami, mengairi wilayah Al-Ahsa yang berada di tengah gurun ini.

Lokasinya termasuk mudah dijangkau, berjarak sekitar 60 km dari Teluk Arab. Sedangkan dari Riyadh jaraknya sekitar 360 km dan dari Damman 250 km. 

Oasis Al-Ahsa telah memainkan peran peting bahkan sebelum adanya Islam. Memiliki sumber air yang berlimpah, Al-Ahsa menjadi daratan pertama di Arab Saudi yang dihuni manusia alias berpenduduk. 

Penelitian menunjukkan peradaban penduduk yang menghuni oasis ini dulunya berfokus pada pertanian. Terbukti dari ditemukannya sistem irigasi dan kanal yang canggih yang membawa air ke lahan pertanian.

Adanya saluran yang kuat membantu pergerakan perdagangan dan karavan yang masuk ke Arab Saudi. Bukti arkeologis lain menunjukkan bahwa manusia pertama di Al-Ahsa berasal dari milenium kelima SM.

Itulah juga yang menjadikan Al-Ahsa sebagai salah satu pemukiman tertua di Semenanjung Arab. Oasis ini juga terbukti memiliki hubungan kuat dengan peradaban kuno di Levant, Mesir dan Mesopotamia.

Tahun lalu, Oasis Al-Ahsa masuk ke dalam Warisan Dunia UNESCO sebagai daratan budaya yang berkembang, bersama sejumlah situs lainnya seperti, Al-Hijr di Al-Ula, lingkungan Al-Turaif di Ad Diriyah yang bersejarah, Jeddah yang bersejarah, dan situs seni batu di Jubbah dan Shuaimis di Hail.

Hingga kini Al-Ahsa tetap menawan terutama bagi iwisatawan. Ia menjadi destinasi wisata yang kaya akan sejarah dan tradisi masa lalu.

Jika dulu dikenal sebagai pintu gerbang ke Semenanjung Arab bagi para pedagang, kini perannya bertambah sebagai destinasi wisata yang siap menyambut wisatawan yang hendak ke Arab Saudi.

IITCF Terus Kampanyekan Wisata Halal pada Para Vendor

this formate

Priyadi Abadi, Ketua IITCF di depan Grande Mosque de Paris. ( Foto: dok pribadi

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Muslim menjadi segmen konsumen yang pertumbuhannya sangat cepat di dunia. Oleh karena itu kini Muslim traveller sudah punya banyak pilihan fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan mereka, mulai dari menu makanan di restoran, fasilitas tempat ibadah dan destinasi wisata yang Muslim Friendly. 

“Halal sekarang sudah menjadi trend di beberapa negara non Muslim. Oleh karena itu IITCF terus meyakinkan para vendor dan negara non-Muslim bahwa halal tourism pasarnya besar,” kata Priyadi Abadi, Ketua  Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), hari ini.

Negara non Muslim seperti Jepang, Korea, Thailand, Taiwan sudah lama mendeklarasikan sebagai tujuan wisata ramah Muslim atau Muslim Friendly, tambahnya.

Priyadi mengatakan pihaknya lebih dari 10 tahun lalu sudah menggarap paket wisata halal karena kebutuhan Muslim bukan hanya ibadah Umroh dan Haji. Oleh karena itu IITCF banyak mengedukasi travel agent untuk menyusun paket wisata halal,

” Muslim suka bepergian ketempat-tempat populer seperti Menara Eiffel. Namun mereka juga punya kebutuhan untuk melaksanakan ibadah ditengah kegiatan wisatanya, juga harus menyantap makanan halal, ” kata Priyadi

Bicara halal bukan bicara persoalan SARA tapi tambahan pelayanan ( extended service) yang diberikan pada peserta tour yang beragama Islam. Dalam undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen , seorang Muslim traveller juga harus dilindungi kewajibannya untuk shalat, mendapat jaminan makanan halal dan sebagainya.

“Itu sebabnya umat Islam punya hak untuk menjalankan atau mendapatkan kebaikan dari sesuatu yang halal sebagai upaya memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani saat travelling pula” katanya.  

Data GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan Muslim  diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. 

Meski pastinya ada dampak dari pandemi COVID-19, diyakininya hanya bersifat sementara saja Muslim Traveller menunda perjalanannya.

Menurut Direktur Utama Adinda Azzahra Travel & Tour ini, pihaknya tidak surut langkah dalam mengemas paket wisata halal sehingga dalam tour ke Paris misalnya, banyak travel agent dari Indonesia membuat  rencana perjalanan misalnya dari Menara Eiffel dilanjutkan ke Sacre-Coeur.

Basilika Hati Kudus atau Basilique du Sacré-Coeur adalah salah satu landmark Paris yang agung, berdiri tinggi di atas kota di Butte Montmartre kubah-kubahnya berkilau dengan detail dekoratif yang menyerupai hiasan. Sedikitnya ada 300 anak tangga untuk masuk ke dalam bangunan gereja gaya Romawi dan Bizantium ini.

Keindahan Grande Mosque de Paris yang banyak dikunjungi wisatawan Halal Tour dari Indonesia.

Bagi Azzahra Tour yang dipimpinnya, paket wisata halalnya, pilihannya bukan ke gereja itu tapi menyambangi Grand Mosque de Paris atau Mesjid Raya Paris yang terinspirasi dari Masjid Al-Hambra di Spanyol.

” Generasi milenial keturunan Yahudi di Perancis  harus tahu bahwa saat Perang Dunia ke I, banyak lekuhur mereka, orang Yahudi diburu pasukan Jerman dan mereka selamat karena berlindung dan memang dilindungi oleh saudara Muslimnya di Mesjid Raya Paris ini,” kata Priyadi.

Masjid ini didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana yang ikut melawan pasukan Jerman.

Dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di daerah perbukitan utara Kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Prancis pada 1916 sekitar 100 ribu tentara Muslim tewas, ungkap Priyadi Abadi.

Lebih dari sekadar tempat sholat, Masjid Agung Paris juga memiliki hammam, ruang teh, dan restoran. Pengunjung akan dapat memperoleh suvenir  dengan tersedianya toko suvenir serta fasilitas lainnya.

Bangunannya juga indah dan jika menilik lebih jauh setiap detail bangunannya, sarat dengan gaya arsitektur Al-Hambra yang banyak mengadopsi arsitektur bangsa Moor.

Untuk mempertegas gaya Moor, Pemerintah Prancis memerintahkan sejumlah seniman asal Afrika Utara untuk mendesain Grande Mosque de Paris. Komunitas Muslim yang bermukim di Kota Paris pada masa itu merupakan para imigran asal Afrika Utara.

Masjid dengan gaya Spanyol-Maroko itu memiliki menara setinggi 33 meter. Dari atas menara inilah, suara azan berkumandang memanggil orang-orang untuk menunaikan shalat lima waktu. Suaranya membahana di keempat penjuru langit Prancis. 

Menara yang berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska ini mengadopsi kaidah Mazhab Maliki. Pada keramik-keramik tersebut, dapat dilihat kerumitan tatanan dinding yang berwarna abu-abu.

Di dalam bangunan menara, terdapat sebuah tangga menuju bagian puncak menara. Dari kejauhan, bentuk menara ini mirip dengan menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko.

Oleh karena itu pihaknya selalu mengajak peserta tour untuk beribadah di Mesjid Raya Paris ini dan sejenak menyelami sejarahnya sehingga peserta juga mendapat wawasan luas mengenai perkembangan Islam di Eropa Barat itu.

Di sinilah setiap tahun diumumkan tanggal mulai Ramadhan di Prancis oleh karena itu menjadi tempat beribadah yang penting bagi Muslim Perancis yang jumlahnya terus bertambah seperti halnya di Inggris.

Dalam meyakinkan para vendor sebagai mitra kerjanya, IITCF juga melakukan kunjungan ke beberapa kedutaan terkait program kampanye IITCF tentang wisata halal di Eropa dan Asia.

Bahkan IITCF menebar perangkat sholat di masjid-masjid di Eropa, sebagai bentuk kepedulian dalam menyiapkan fasilitas umat Islam dalam shalat.

” Alhamdulilah IITCF terus berkampanye agar wisatawan Muslim mendapatkan layanan yang minimal Muslim friendly dan menjaga ibadah-ibadahnya tepat waktu,” katanya.

 

 

Kelompok Tani Porang Makmur Sejahtera ( PMS), Akan Wujudkan Desa Wisata Porang Banjar Baru

this formate

Ketua Departemen Pariwisata Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hilda Ansariah Sabri, melongok desa-desa wisata di kota Banjarmasin dan Banjar Baru sesuai program kerja pengembangan desa wisata organisasi profesi itu. Berikut laporan perjalanannya bagian ke lima ( terakhir).

BANJAR BARU, bisniswisata.co.id: Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani  Porang Makmur Sejahtera (PMS) tengah menanam bibit porang di tanah kavling milik PT Mah Sajajar Djaya sekitar 3 km dari bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Menggarap lahan tanah kavling saja sudah membuat saya penasaran karena lahan yang sedang ditanami bibit itu seluas 2 ha. Tahap kedua di sampingnya ada 6 ha, tahap ke tiga tersedia 17 ha dan tahap keempat ada 117 ha.

Siapa sangka tanaman porang jadi naik daun ? Porang atau dikenal juga dengan nama iles-kiles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri.

Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air,  biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental.

Porang bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Tak heran budidaya tanaman porang sangat populer pada sektor pertanian Indonesia dikarenakan tingginya permintaan ekspor atas tumbuhan ini.

Pasar ekspor porang sendiri meliputi Jepang, Taiwan, Korea, China serta beberapa negara Eropa. Oleh karenanya pemerintah melalui Kementerian Pertanian berencana untuk meningkatkan produksi pengolahan porang yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Membina Kelompok Tani PMS

Adalah Harun Broto Abd Rahman, tenaga ahli dari perusahaan pengembang properti yang kini membina kelompok tani Porang Makmur Sejahtera (PMS). 

Tidak tanggung-tanggung, para petani penggarap lahan ini terjamin dalam beberapa tahun kedepan statusnya bukan lagi sebagai petani penggarap tapi menjadi pemilik lahan pertanian porang.

” Soalnya sebagai petani penggarap lahan milik PT Mah Sajajar Djaya kami membimbing para petani yang menggarap lahan kavling ini dengan bagian 30% dari hasil panen. Hak pemilik lahan 50% dan sisanya adalah bagian perusahaan terdiri dari Koperasi Mahligai, tim marketing dan operasional perusahaan,” ungkap Harun.

Pihaknya membina kelompok tani Porang Makmur Sejahtera ( PMS) dengan konsep Agriqultural Maintain System ( AMS) yang merupakan konsep syariah dibawah Koperasi Mahligai. Sudah bukan rahasia lagi, permasalahan krusial yang biasa dialami oleh petani Indonesia adalah dipermainkan oleh tengkulak. 

“Ketika panen raya tiba, banyak petani di Indonesia yang menjual hasil panen pada pengepul atau tengkulak. Karena menjual secara individu dan hampir sebagian besar memiliki jenis atau komoditas yang sama mengakibatkan tengkulak bertindak semena-mena. Mereka dengan sengaja membeli dengan harga murah,” kata Harun

Petani Indonesia yang kebanyakan kurang mengetahui kabar pasar dengan mudahnya masuk dalam permainan tengkulak. Dari kejadian ini petani mendapatkan harga jual yang relatif rendah dan banyak kasus diantara mereka mengalami kerugian karena biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil panen. 

Koperasi adalah jalan yang tepat untuk para petani agar bisa meningkatkan harga jual hasil panennya. Jika petani-petani membentuk satu kelompok dengan beranggotakan minimal 20 orang lalu menjual hasil panen mereka secara kolektif pastinya akan terkumpul dalam jumlah yang sangat besar.

Bersama Ketua HPI Kalsel Bebez yang mendampingi kunjungan ke Cindai Halus, tempat budidaya porang di Banjar Baru.

Nah disinilah para petani bisa bertindak sebagai price maker dan tingkat harga yang mereka dapatkan dapat lebih tinggi. Poktan PMS bisa menjual lebih efektif yaitu dengan memotong rantai pemasaran,” jelas Harun.

Pasalnya, para petani yang telah bergabung dalam suatu koperasi tidak harus menjual ke pengepul atau tengkulak, tetapi mereka langsung menjual ke pedagang besar. Nah disitulah harga yang mereka dapatkan jauh lebih tinggi dibanding dengan dijual ke tengkulak.

Lokasi tanam di wilayah Cindai Alus Kabupaten Banjar ini terdapat dua lokasi, yakni Pondok Mekar Sari, serta Pondok Indah Sari. Dari 10 grup lokasi itu, tanah di kawasan Kilometer 17 merupakan yang pertama atau terlama, tepatnya sejak 2001 saat usaha masih dimiliki perseorangan.

Kini, owner PT. MAH Sajajar Group, Ali Hasni yang bergerak di bidang penjualan tanah kavling telah menjual tak kurang pada 13.000 orang nasabah perusahaan yang mulai berbadan hukum sejak 2008. 

Tanah kavling merupakan beberapa bidang tanah dalam satu kawasan yang sengaja dilakukan pemecahan sertifikatnya, baik oleh perorangan maupun badan usaha yang sah seperti Mah Sajajar Grup, berasal dari sertifikat induk hasil penggabungan maupun satu sertifikat induk biasa.

Sebenarnya tak ada perbedaan membeli tanah kavling dalam satu kawasan dengan membeli tanah kavling biasa bidang per-bidang milik penduduk pada umumnya. Persyaratan dan ketentuan jual belinya sama, ungkap Harun.

Asal melibatkan subyek hukum (penjual dan pembali) yang sah, objek tanahnya pun sah untuk diperjualbelikan, dan menggunakan mekanisme jual beli yang sesuai dengan ketentuan perundangan, maka transaksi jual beli tanah tersebut sah.

Seiring dengan naik daunnya tanaman porang sebagai komoditi ekspor, kini oleh induk perusahaan PT Mah Sajajar Grup,  para pemilik kavling ditawarkan untuk memanfaatkan lahan kavling tidur untuk budidaya porang.

” Responsnya bagus karena para pemilik kavling bisa searching di internet semua informasi mengenai potensi porang. Kami juga menjual kavling-kavling baru plus budidaya porang dan gratis perawatan untuk tanah seluas 200 M seharga Rp 50 juta dalam bulan promosi karena harga normalnya adalah Rp 60 juta,” kata Harun.

Lewat konsep Agricultural Maintain System  ( AMS) secara Syariah, ke depannya para petani yang biasanya menjadi obyek alias jadi sapi perah, akan menjadi subyek yaitu pemilik usaha dan sekaligus pemilik tanah. 

” Oleh karena itu Mah Sajajar Group yang selama ini bergerak di bidang pendidikan, property, Wisata (tour and travel) maupun dibidang budidaya porang ini juga akan mendorong para petani mengelola agrowisata di lahan Cindai Alus ( Pondok Mekar Sari)  dan membentuk Kelompok Sadar Wisata guna membangun desa wisata Porang,” jelas Harun.

Porang ukuran 3 kg, 1 kg dan 0,5 kg

Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) PMS

Mendengar penjelasan Harun dari A-Z membuat saya optimistis tahun depan Poktan Porang Makmur Sejahtera ( PMS) sudah bisa membentuk Pokdarwis dan mengembangkan agrowisata Porang.

Apalagi porang yang ditanam musim penghujan di awal bulan 11 dan 12 ini sudah bisa menghasilkan dalam 6 bulan ke depan sehingga kunjungan ke lokasi tanah kavling dan melihat semangat para petani menanam bibit yang akan merubah nasib mereka membuat saya optimistis desa wisata Porang akan terwujud.

Kalau desa wisata Umbul Ponggok di Klaten, Jateng bisa menghasilkan Rp 10,3 miliar/ tahun. Bukan tidak mungkin Poktan PMS di Banjarbaru, Banjarmasin ini kelak juga bisa menjadi desa binaan PWI Pusat dan berkontribusi bagi PAD Pemko Banjarbaru yang menghasilkan miliaran rupiah dari aktivitas wisatawan yang singgah.

Maklum dalam pengembangan desa-desa wisata binaan PWI pusat diharapkan jarak tempuh dari dan ke bandara atau ke ibukota Kabupaten ataupun Provinsi berkisar satu jam saja dan bisa menjadi tempat tujuan untuk wisata kuliner, beli souvenir dan melakukan aktivitas unik sebelum kembali ke kota atau negara asal.

Kawasan Cindai Halus berpeluang dikembangkan sebagai kampung wisata edukasi porang. Apalagi lokasinya hanya sekitar 2,5 – 3 km sebelum Bandara Syamsudin Noor, bahkan menara kontrol pesawat bisa terlihat.

Petani setempat selain bisa mengedukasi masyarakat untuk budidaya Porang dan tanaman tumpang sari lainnya juga bisa memperkenalkan kuliner dari bahan baku porang.

Untuk kuliner kekinian dan menjadi makanan sehat adalah Shirataki dan Konyaku dari Jepang. Tak heran negeri Sakura itu menyerap banyak hasil porang dari Indonesia untuk menjadi bahan baku makanan sehat.

Lewat pelatihan para petani juga akan mahir membuat Shirataki dan Konyaku itu. Di Jepang itu, ada 5 jenis Konnyaku. Namanya adalah Ita Konnyaku, Tsuki Konnyaku, Tama Konnyaku, Ito Konnyaku, dan juga Nejiri-ito Konnyaku. 

Ita Konnyaku adalah jenis yang paling sering ditemui di pasar-pasar yang ada di Jepang. Bentuknya balok, jadi bisa dipotong sendiri sesuai selera. Tsuki Konnyaku adalah  Konnyaku yang bentuknya seperti mi, tapi tebal dan pendek-pendek. 

Biasanya, Tsuki Konnyaku ini lebih sering digunakan untuk masakan-masakan yang ditumis atau digoreng. Kalau Tama Konnyaku bentuknya bulat dan biasanya digunakan untuk masakan-masakan berkuah, seperti sup dan udon. 

Nah, kalau yang biasanya dikenal sebagai Shirataki adalah Ito Konnyaku,  bentuknya memang seperti mi, dan di Jepang biasanya juga dipakai di masakan-masakan berkuah. Sedangkan Nejiri-ito Konnyaku adalah Shirataki yang dipuntir, sehingga lebih mudah digigit.

Sesuai namanya, penampilan mi Shirataki memang tipis, bening dan memiliki tekstur lembut yang unik. Shirataki merupakan komponen utama dari Sukiyaki, yaitu masakan Jepang yang berkuah dengan daging (biasanya sapi) yang diiris tipis dan berbagai macam sayuran. 

Kalau nanti para ibu petani yang tergabung dalam Pokdarwis bisa mengolah masakan kekinian berbahan Shirataki dan Konnyaku dari porang ini maka penghasilannya akan luar biasa. 

PT Mah Sajajar Group, PT Angkasa Pura I, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI), Beragam perusahaan tambang dan perusagaan besar lainnya di Banjar Group perlu memiliki kepedulian yang sama untuk membina pokdarwis ini.

Dengan demikian pokdarwis dan agrowisata porang bisa menjadi identitas baru mengangkat citra daerah ini kedunia internasional.

Bukan tidak mungkin Banjar Baru dan provinsi Kalsel ke depan justru ramai dikunjungi oleh investor dari dalam dan luar negri. Namun yang jelas Pokdarwis adalah basis pengembangan pariwisata berbasis dari masyarakat untuk masyarakat. Siapkah ?

 

ACI dan IATA Menyerukan Dukungan Mendesak di Seluruh Industri untuk Mendukung Pemulihan

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id:  Airports Council International (ACI) dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) gencar menyerukan bagi pemerintah untuk membuka kembali perbatasan dengan aman dan membangun kembali konektivitas global.

Langkah ini untuk mencegah keruntuhan sistemik  industri penerbangan dengan memberikan dukungan finansial pada maskapai penerbangan nasionalnya yang tidak menghasilkan hutang baru ungkap IATA dalam rilisnya pada bisniswisata.

Tindakan  ganda tersebut akan melindungi negara dari impor kasus COVID-19, mencegah krisis ketenagakerjaan di sektor perjalanan dan pariwisata, dan memastikan bahwa struktur penerbangan yang penting tetap layak dan mampu mendukung manfaat ekonomi dan sosial yang menjadi sandaran dunia.

Air Transport Action Group (ATAG) memperkirakan 46 juta pekerjaan berisiko karena hilangnya konektivitas akibat krisis COVID-19.  Sebagian besar dari jumlah ini  atau 41,2 juta pekerjaan berada di sektor travel & tourism yang bergantung pada bisnis penerbangan. 

Sisanya atau sekitar 4,8 juta pekerjaan tersebar di pekerjaan langsung di penerbangan, termasuk bandara dan maskapai penerbangan. Kelangsungan hidup sektor penerbangan untuk mendukung pekerjaan sedang ditantang oleh kejatuhan bisnis yang parah dan berkepanjangan

ACI memperkirakan industri bandara akan mengalami penurunan pendapatan -60%, mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya  menvapai US$ 104,5 miliar. IATA memperkirakan pendapatan maskapai penerbangan akan turun setidaknya 50% US$ 419 miliar dibandingkan US$ 838 miliar pada 2019. 

Membuka kembali perbatasan dengan aman tanpa karantina dengan menggunakan pendekatan terkoordinasi untuk pengujian akan meningkatkan perekonomian secara keseluruhan dan menjadi jalur pendapatan bagi maskapai penerbangan dan bandara.  

ACI dan IATA telah meminta Satuan Tugas Pemulihan Penerbangan Dewan ICAO untuk memberikan pendekatan yang disepakati dan diakui secara internasional untuk pengujian yang dapat diadopsi di tingkat nasional.

Pemerintah juga didesak untuk mengatasi dampak yang menghancurkan dari penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintah lainnya.

Caranya  dengan mendukung kelangsungan penerbangan melalui bantuan keuangan langsung yang melindungi pekerjaan dan operasinal yang tidak meningkatkan tingkat hutang dan meminimalkan default pada hutang dan kerugian kredit.

 “Pandemi COVID-19 tetap merupakan krisis eksistensial dan bandara, maskapai penerbangan serta mitra komersial mereka membutuhkan bantuan keuangan langsung dan cepat untuk melindungi operasi dan pekerjaan penting,” kata Direktur Jenderal ACI, Luis Felipe de Oliveira. 

Namun bantuan semacam itu hanyalah satu bagian dari teka-teki saat industri dimulai kembali dan bersiap untuk mempertahankan operasi berkelanjutan yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan para pelancong, staf, dan masyarakat.  

ACI dan IATA desak pemerintah untuk hapuskan persyaratan karantina, desak untuk memperkenalkan pengujian penumpang secara luas dan terkoordinasi untuk memungkinkan penghapusan persyaratan karantina.  Tanpa tindakan ini, tidak berlebihan jika industri ini menghadapi keruntuhan. 

Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA, mengatakan: “Kami membutuhkan tindakan cepat.  Sebagian besar jaringan udara global telah rusak parah selama lebih dari setengah tahun.  Kehilangan pekerjaan — di dalam dan di luar industri — meningkat dengan setiap hari perbatasan ditutup.  

Hilangnya setiap pekerjaan,pemulihan dan dampaknya pada ekonomi yang lebih luas menjadi lebih sulit.  Momentum sedang dibangun untuk mendukung pengujian untuk membuka kembali perbatasan.  

“Ini adalah prioritas operasional utama dan  untuk memastikan bahwa kami memiliki sektor penerbangan yang layak di akhir krisis ini, bantuan finansial putaran kedua tidak dapat dihindari. “

Sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ACI dan IATA bersatu dalam keyakinan bahwa biaya yang terkait dengan tindakan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran penyakit menular, termasuk pengenalan pendekatan terkoordinasi untuk pengujian, harus ditanggung  oleh pemerintah nasional.

Himbauan biaya ditanggung pemerintah belum terjadi di Indonesia dan banyak negara lain. Syarat terbang menggunakan hasil rapid test maupun PCR masih menjadi tanggungan konsumen. 

Airports Council International (ACI), asosiasi perdagangan bandara dunia, didirikan pada tahun 1991 dengan tujuan membina kerja sama di antara bandara anggotanya dan mitra lainnya dalam penerbangan dunia.

Mitranya termasuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, Asosiasi Transportasi Udara Internasional dan  Organisasi Pelayanan Navigasi Udara Sipil.  

Dalam mewakili kepentingan terbaik bandara selama fase utama pengembangan kebijakan, ACI memberikan kontribusi signifikan untuk memastikan sistem transportasi udara global yang aman dan terjamin.

Pelayanan ACI berpusat pada kepentingan pelanggan, dan berkelanjutan secara lingkungan. Per Januari 2020, ACI melayani 668 anggota, mengoperasikan 1979 bandara di 176 negara.

 

Mode Perjalanan & Tujuan Jadi Pertimbangan untuk Berwisata Kembali.

this formate

INGGRIS, bisniswisata.co.id: Masih seputar temuan riset yang dilakukan World Travel & Tourism Council (WTTC) September lalu, Sebagian besar dari mereka yang disurvei menyatakan mode perjalanan dan tujuan jadi pertimbangan.

Mereka yang  berencana untuk berlibur mengatakan akan terbang ke tujuan liburan berikutnya (47 persen), 21% pilih berwisata dengan kendaraan pribadi dan siap  mengemudi, 17% mengatakan mereka berencana untuk melakukan pelayaran laut, dan  5 % memilih untuk wisata dengan pelayaran sungai .

“Kami terus melihat minat yang kuat pada perjalanan domestik, tujuan pantai, dan tujuan yang tidak terlalu ramai baik di AS dan Kanada, sementara popularitas Eropa secara keseluruhan menggembirakan,” kata Stephen McGillivray, Chief Marketing Officer untuk Travel Leaders Group.

Responden yang berani melakukan perjalanan udara dengan tujuan internasional untuk Eropa  mencapai 38% responden, Karibia (34 persen) dan Meksiko 15 % dengan tujuan internasional peringkat teratas, diikuti oleh Kanada (untuk wisatawan AS), Amerika Tengah dan Selatan, Australia, Afrika dan Asia.

Untuk wisatawan AS, pengalaman luar ruangan dan pantai yang sepi menduduki puncak daftar tujuan domestik yang diinginkan, dengan tujuan ke Taman Nasional, Florida, Hawaii, Alaska, California, dan di mana saja yang tidak ramai berada di urutan teratas untuk dikunjungi. Sementara situs tradisional populer, seperti New York dan Nevada, mencetak lebih rendah.

Untuk orang Kanada, British Columbia, Kanada Atlantik, Alberta, Ontario, “di mana saja yang tidak ramai” dan Taman Nasional memimpin dalam daftar keinginan mereka untuk berwisata.

Hasil survei divalidasi oleh pertanyaan online Travel Leaders Group. Bisnis online menurun pada akhir Maret, mencapai titik terendah pada 12 April lalu memuncak pada 14 Juni. Setelah wabah kedua COVID-19 di beberapa daerah, prospek turun lagi dan sekarang naik dan terus naik capai  88 dari titik terendah pada bulan April , ungkap McGillivray 

Pemesanan jarak dekat adalah tren di antara pembeli online. Mayoritas konsumen yang menjangkau online ingin melakukan perjalanan pada akhir tahun 2020, diikuti pada Januari / Februari 2021.

Musim semi dan musim panas, saat berulang tahun, hari jadian bagi pasangan dan bulan madu adalah alasan penting dan populer untuk bepergian. Van kemping serta penyewaan rumah dan villa kini juga sangat diminati.

Banyak yang datang mencari nasihat ahli dari seorang penasihat perjalanan dengan beragam pertanyaan seperti “Ke mana saya bisa pergi tanpa karantina mandiri?”, “Saya harus keluar dari sini, ke mana saya bisa pergi?”

Ada yang  belum pernah menggunakan agen perjalanan sebelumnya dan mulai membutuhkan masukan-masukan. “Saya seorang penjelajah yang rajin selalu memesan langsung, tetapi membutuhkan agen perjalanan untuk membantu saya memesannya sekarang.” ungkap seorang konsumen.

“Pemesanan dengan arahan penasihat perjalanan adalah strategi terbaik untuk menavigasi dunia baru perjalanan,” kata McGillivray.

Mereka dapat memberikan semua fakta yang perlu Anda ketahui tentang tujuan, persyaratan, cara melindungi pembelian Anda, dan yang terbaik dari semuanya, mereka memberikan ketenangan pikiran, tambahnya. Nah siap berwisata lagi ? 

Survei Konsumen Menemukan 70% Wisatawan Berencana Liburan di 2021

this formate

INGGRIS, bisniswisata.co.id: Mayoritas pelancong AS dan Kanada (99 persen) sangat ingin bepergian lagi, dengan 70% menyatakan bahwa mereka berencana untuk berlibur pada 2021. Riset menyediakan data tentang masalah yang perlu ditangani industri untuk mempercepat pemulihan.

Menurut survei Grup Pemimpin Perjalanan terhadap hampir 3.000 pelancong yang sering bepergian,  Survei yang dipimpin World Travel & Tourism Council (WTTC) yang mewakili sektor swasta travel & tourism global ini dilakukan pada bulan September 2020.

Dilansir dari situs WTTC, hasil penelitian menunjukkan bahwa 45% responden sudah membuat rencana atau mulai membuat rencana terbatas untuk liburan berikutnya, sementara 54% mengatakan mereka bermimpi kapan mereka bisa bepergian lagi.

“Ini adalah angka yang sangat kuat. Fakta bahwa 99% pelancong yang disurvei mengatakan bahwa mereka merencanakan perjalanan atau menantikan waktu mereka dapat melakukan perjalanan lagi menunjukkan bahwa ketika kekhawatiran tentang COVID-19 ditangani, pelancong rekreasi akan memimpin pemulihan, ”kata John Lovell, Travel Leaders Group.

Dalam survei tersebut, 23 % responden mengatakan mereka berencana melakukan perjalanan pada akhir 2020, 70%  mengatakan mereka akan bepergian pada 2021 dan hanya 18% mengatakan mereka akan melanjutkan perjalanan pada 2022.

“Ketidakpastian konsumen tentang risiko paparan atau kekhawatiran tentang karantina adalah masalah inti,” kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC. 

Dengan pengujian cepat untuk menggantikan persyaratan karantina, pelacakan kontak yang ditingkatkan, dan standar seluruh industri berdasarkan sektor yang dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada publik, pihaknya dapat membantu meringankan banyak kekhawatiran tersebut.

Kesediaan orang Amerika untuk bepergian dapat dilihat dari peningkatan yang lambat namun stabil dalam jumlah pantauan Transportation Security Administration’s (TSA) yang turun di bawah 90.000 per hari pada bulan April dan sekarang mendekati 1 juta per hari pada periode puncak. 

Pada 2019, jumlah penumpang harian TSA rata-rata antara 2,3 dan 2,7 juta penumpang per hari.

Lebih dari separuh pelancong yang disurvei mengatakan bahwa mereka prihatin dengan risiko terinfeksi saat bepergian dengan pesawat atau kapal pesiar, terjebak saat jauh dari rumah, atau dikarantina di kapal pesiar atau di hotel. 

Kekhawatiran tentang mereka atau anggota keluarga yang tertular virus saat bepergian, kekhawatiran tentang pengembalian dana jika perjalanan dibatalkan, dan kekhawatiran tentang anggota keluarga dengan kondisi kesehatan berisiko lebih tinggi, lebih sedikit disebutkan.

Mayoritas responden survei mengatakan inisiatif kesehatan dan keselamatan berikut di bandara, di dalam pesawat, dan di resor akan membuat perbedaan besar dalam keputusan mereka untuk bepergian di masa depan.

Wajib pakai  masker, jaga jarak sosial, pembersihan yang ditingkatkan, pemeriksaan suhu, dan  ketersediaan  gel pembersih . Untuk resor, layanan bebas kontak dan pembersihan kamar yang dapat disesuaikan juga disebutkan.

“Industri kami perlu berbuat lebih banyak untuk memberi tahu calon pelancong tentang semua protokol kesehatan dan keselamatan yang telah diterapkan di seluruh industri dan terus menstandarkan protokol tersebut untuk memulihkan kepercayaan konsumen dalam perjalanan,” kata Lovell. 

Maskapai penerbangan, bandara, dan jalur pelayaran telah membuat langkah besar dalam langkah-langkah kesehatan dan kebersihan yang telah mereka ambil melalui konsultasi erat dengan para ahli medis terkemuka dunia. Kami perlu berbagi cerita itu dengan publik yang melakukan perjalanan. 

Hampir 60 % responden mengatakan persyaratan tes PCR negatif sebelum tiba di suatu tujuan tidak akan membuat perbedaan atau akan dianggap positif, sementara sekitar 40% mengatakan persyaratan seperti itu akan menghalangi.

Kekhawatiran tersebut dapat diatasi dengan pengujian cepat, kata Lovell. “Kami yakin ketersediaan pengujian cepat yang meluas akan menghasilkan penerimaan yang lebih besar terhadap pengujian pra-perjalanan dan mendorong lebih banyak orang untuk melakukan perjalanan,” katanya.

 

Hong Kong Keluarkan Standarisasi Protokol Kesehatan

this formate

Ilustrasi Disneyland Hong Kong (foto: shutterstock)

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Dewan Pariwisata Hong Kong merilis standardisasi protokol kesehatan guna menjamin keamanan turis, kata Dr. YK Pang, Ketua Dewan Pariwisata Hong Kong dalam siaran resmi.

Standardisasi ini disusun bersama lembaga penilaian kualitas Hong Kong Quality Assurance Agency (HKQAA), salah satu lembaga penilaian kualitas terkemuka di sana. 

Tujuan dikeluarkannya protokol ini adalah untuk menyediakan pedoman terpadu terkait langkah-langkah kebersihan, kesehatan, dan anti epidemi untuk industri pariwisata yang mudah dipahami pengunjung.

“Telah banyak biro perjalanan dan organisasi pariwisata internasional yang menerapkan pedoman kebersihan dan kesehatan, protokol anti epidemi, dan standardisasi protokol kebersihan di setiap sektor,” kata Dr. YK Pang.

Hal ini dapat memberikan pesan kepada para turis bahwa berbagai sektor industri di Hong Kong sangat mengutamakan kebersihan, kesehatan dan keselamatan. Pada akhirnya ini akan sangat membantu memulihkan kepercayaan publik pada perjalanan di luar rumah.

YK Pang menambahkan, protokol tersebut akan mencakup pusat perbelanjaan, hotel, restoran, toko ritel, perusahaan bus, atraksi pariwisata hingga agen wisata.

Semua pihak yang berpartisipasi dalam protokol ini wajib mematuhi serangkaian tindakan kebersihan dan anti epidemi.

Di antaranya pengunjung dan staf wajib mengenakan masker, menjaga jarak 1 meter dengan orang lain, menyediakan hand sanitizer, mendisinfektan ruangan atau area wisata, dan mengecek suhu tubuh pengunjung sebelum masuk area.

Bisnis dan outlet yang berpartisipasi diharuskan untuk mematuhi serangkaian tindakan kebersihan dan anti epidemi, setelah lulus penilaian, detilnya akan diunggah ke situs https://hkhygiene.hkqaa.or.

Sementara itu, turis juga dapat melihat bisnis mana yang sudah mematuhi protokol kesehatan dan kebersihan dari logo yang dicantumkan pemilik bisnis dan outlet. Akan ada inspeksi dadakan untuk memeriksa protokol kesehatan yang diterapkan pemilik bisnis.

“Kami saat ini bekerja sama dengan Tim SAR dari Pemerintah Hong Kong dan industri pariwisata untuk lebih mempersiapkan Hong Kong yang lebih baik ke depannya, yang bertujuan untuk menyambut para pengunjung kembali dengan berbagai pengalaman dan penawaran menarik di Hong Kong.”

 

 

Jadi Favorit, Pelanggan Kafe di Praha Buru Cake Berbentuk Virus Corona

this formate

Makanan penutup ini viral karena bentuknya yang mirip virus corona (foto: Forbes)

PRAHA, bisniswisata.co.id: Kini, apapun terkait virus  Corona cepat menjadi hit. Di Praha, sebuah restoran di pusat kota tiba-tiba viral lantaran menyediakan menu pencuci mulut berupa cake berbentuk virus Corona. 

Ide ini menurut pencetusnya muncul sebagai upaya untuk kembali meningkatkan bisnis yang sedang melorot.

Black Madonna, kafe yang menjual kue itu, biasaya – sebelum pandemi – sudah kerap ramai dikunjungi wisatawan. Mereka umumnya mengagumi interior kubisme yang apik di sana. Namun sejak COVID-19 melanda seluruh dunia termasuk Praha – kota paling cantik di Eropa ini – restoran ini pun ikut terdampak. 

Saat aturan pembatasan diberlakukan, turis tak lagi datang ke ibu kota Republik Ceko itu. Negara dengan tingkat infeksi virus corona tertinggi di Eropa ini, kini sedang berjuang melawan penyebaran virus mematikan itu.

Gelombang kedua pandemi Corona disebut sedang melanda Eropa. Lonjakan kasus COVID-19 terjadi di sebagian wilayah Eropa.

Di tengah keprihatinan, Olga Budnik menciptakan makanan penutup unik berbentuk virus corona. Dia mengatakan mendapat gagasan saat aturan pembatasan wilayah diberlakukan pada musim semi lalu.

“Saya menemukan foto virus di internet, saya memikirkan detil untuk membuat makanan penutup, bagaimana membuat mahkotanya, seperti apa warnanya, dan saya menyiapkan itu semua,” katanya kepada Reuters.

Makanan penutup itu ukurannya sedikit lebih kecil dari bola tenis. Luarnya berwarna cokelat, juga dihiasi dengan bubuk cokelat. Mahkota virusnya dibuat dari cokelat putih dan raspberry kering.

Di dalamnya, isian pistachio dengan puree raspberry dan buah raspberry di bagian tengah. Makanan penutup unik ini terbukti sukses, berhasil terjual lebih dari 100 buah per hari dan angkanya terus meningkat.

“Virus Corona membuat bisnis kami menurun, puluhan persen, sama seperti usaha makanan lainnya,” kata manajer pemasaran kafe Vojtech Hermanek.

“Tapi di saat yang sama ada kesempatan untuk mengeluarkan kue virus Corona yang jadi simbol…tidak semuanya hancur.”

Budnik, orang Ukraina yang tinggal di Praha selama enam tahun terakhir, telah merencanakan produk baru, kue bertema vaksin Covid-19 yang punya rasa jeruk dan minuman keras. “Rasanya akan dominan jeruk dengan sedikit alkohol,” kata dia.

 

Peluang dan Potensi Kampung Pelangi Sebagai Magnet Wisata di Banjarbaru  

this formate

Ketua Departemen Pariwisata Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hilda Ansariah Sabri, melongok desa-desa wisata di kota Banjarmasin dan Banjar Baru sesuai program kerja pengembangan desa wisata organisasi profesi itu. Berikut laporan perjalanannya bagian ke empat

BANJAR BARU, bisniswisata.co.id: Pilihan untuk mengunjungi Kampung Pelangi di Jalan Kemuning Ujung/Delima Ujung, RT.03/RW.01, Loktabat Sel, Kec. Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, karena dekat dengan bandara Syamsudin Noor. pintu gerbang provinsi Kalimantan Selatan.

” Dari bandara kurang dari 30 menit asal tidak mengikuti jalan resmi dari dan ke bandara. Jalan pintas mungkin hanya 15 menit dari bandara,” kata Bebez, Ketua HPI Banjarmasin yang mendampingi kunjungan ini.

Maklum jalan dari dan ke bandara yang menjadi pintu gerbang ke Provinsi Kalimantan Selatan ini bukan hanya diprotes warga tapi juga orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden Jokowi karena membuat banyak calon penumpang bingung.

Akses jalan menuju Bandara Internasional Syamsuddin Noor yang baru selain lebih jauh, aksesnya berbelok-belok dan rambu-rambu pun masih minim sehingga banyak waktu terbuang padahal perjalanan bisa lebih ringkas.

Dalam pengembangan suatu destinasi wisata, faktor 3 A sangat penting yaitu Akses, Amenitas dan Atraksi. Oleh karena itu akses menuju maupun dari Kampung Pelangi ke bandara Syamsudin Noor tidak bisa diabaikan.

Maklum dalam pengembangan desa-desa wisata binaan PWI pusat diharapkan jarak tempuh dari dan ke bandara atau ke ibukota provinsi berkisar satu jam saja. 

Selama ini desa wisata yang ada, lokasinya cukup jauh bisa 4-8 jam dari pintu gerbang ibukota provinsi atau Kabupaten sehingga kurang dikunjungi wisatawan dalam dan luar negri. 

Desa wisata yang jarak tempuhnya sekitar satu jam saja dari dan ke bandara bisa menjadi tempat tujuan untuk wisata kuliner, beli souvenir dan melakukan aktivitas unik sebelum kembali ke kota atau negara asal.

Kampung Pelangi adalah salah satu destinasi wisata di Banjarbaru, Kalsel yang potensial untuk dikembangkan sebagai kampung wisata, salah satu daya tarik dari kota Banjarbaru yang diapit kota Banjarmasin  sebagai Ibukota Provinsi Kalsel dan kota Martapura, ibukota Kab. Banjar.

Lokasinya berada di kawasan Kelurahan Guntung Paikat yang bisa dituju melalui Jl Kemuning atau melalui kampung Sumberadi, Banjar baru Selatan.

Memasuki Kampung Pelangi, ada pintu gerbang yang cukup megah, namun setelah itu pengunjung bingung mau memarkir kendaraan dimana karena fasilitasnya tidak ada.

Kemudian di turunan jalan menuju Kampung Pelangi, kita disambut gapura dan tugu penunjuk arah yang berdiri di dekat  parit jembatan dan lampu-lampu lampion warna-warni bergantungan di seputar jembatan.

Warna penunjuk arah berbentuk pohon ini masih cerah, sementara fasilitas lain catnya hampir semua sudah pudar. Air sungai Kemuning yang jejak digitalnya digadang- gadang bersih malah terlihat penghuninya, yaitu dua ikan sapu-sapu ukuran besar dan kecil mengambang mati berdampingan dan mengundang tanya.

Tugu penunjuk arah di gerbang Kampung Pelangi, Guntung Paikat, Banjarbaru, Kalsel, itu bertuliskan Taman Baca arah kiri berjarak 70 meter. Area fitness arah kiri berjarak 100 meter. Kemudian di arah kanan ada Menara pandang berjarak 1,5 Km dan Kampung Sultan berjarak 750 meter.

Saya berpose sejenak di atas jembatan berlatar belakang tulisan dari huruf huruf warna stainless steel Sungai Kemuning. Bantaran  sungai inilah yang menjadi tujuan wisata di sini. Konon bekas pemukiman kumuh dan sungai yang sebelumnya tak terawat.

Setelah itu menyusuri bantaran sungai ada terlihat shelter-shelter mirip halte bis dari besi-besi dengan bangku panjang untuk duduk. Dari informasi yang saya terima, sejak 2010 bantaran sungai sudah direvitalisasi juga disiring sehingga menjadi bersih dan nyaman dipandang.

Setelah ditata tahap pertama pada 2010 yaitu normalisasi sungai dan penyiringan, kemudian pada 2016 dibuat pedestarian (jalur pejalan kaki) sekaligus jogging track di tepian siring. Pada Februari 2017 muncul ide masyarakat untuk bikin Kampung Pelangi. Awalnya 4 rumah dicat aneka warna.

Selanjutnya saat itu Wali Kota Banjarbaru tertarik membantu dengan mencarikan donatur cat, sehingga bertambah banyak rumah yang bisa diwarnai.

 Dari 700 meter bantaran sungai yang direvitalisasi dan siring, 400 meter di antaranya dihiasi cat warna-warni dan aneka lukisan terutama untuk 350 rumah warga dari enam RT yang berada di tepi sungai disebut Kampung Pelangi.

Pemko Banjarbaru kemudian melalui APBD membuatkan fasilitas baru berupa taman dan peralatan fitness outdoor. Institusi seperti Dinas Tata Kota, dan Satker PUPR yaitu Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) dan bantuan CSR dari BRI serta Rindam VI Mulawarman, dibangun fasilitas lainnya macam gazebo, taman bermain anak, menara pandang dan lainnya.

Kampung Pelangi saat cat warna-warni masih mempercantik longkungan. Kini kondisi warna sudah pudar ( Foto: Google)

Amati, Tiru & Modifikasi ( ATM)

Membangun desa wisata atau kampung wisata bisa dalam hitungan hari, namun memeliharanya bukan perkara yang mudah dan harus melibatkan warga setempat karena butuh waktu yang panjang apalagi jika ingin berusia berabad-abad.

Oleh karena itu saat tiba di Kampung Pelangi tanpa ada retribusi pintu masuk, tak ada semacam  kios atau counter Tourism Information Center        ( TIC) maka tak banyak informasi yang bisa diperoleh seorang individual traveler seperti saya ini, kecuali sekedar mengamati dan menikmati bantaran kali dengan suasana yang tenang.

Nampaknya konsep ATM, Amati, Tiru & Modifikasi lebih kental ketika Kampung ini berubah menjadi kampung wisata. Sekedar kejar tayang ingin segera memiliki daya tarik baru tapi siapa yang menjadi pengelola ? siapa melakukan  apa antara Pemko Banjarbaru dan warga setempat ?.

Di setiap Desa Wisata seharusnya langsung dibentuk Kelompok Sadar Wisata  ( Pokdarwis) karena pendekatannya adalah pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dan berkelanjutan ( sustainable tourism). 

Sedikitnya ada 8 kriteria Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat yaitu 1. Kepemilikan & kepengurusan oleh Masyarakat, 2. Berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial.

Kriteria ke 3. Berkontribusi untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan dan ke 4. Mendorong terjadinya partisipasi / interaktif antara masyarakat lokal dan pengunjung ( wisatawan). 

Sedangkan kriteria ke 5 adalah jasa perjalanan wisata & pramuwisata yang berkualitas, 6. Kualitas makanan & minuman, 7. Kualitas akomodasi      ( homestay)  dan kriteria ke 8 adalah kinerja friendly tour operation ( FTO).

Hadirnya Kampung Pelangi, selain harus dilengkapi kelembagaannya juga membutuhkan pembinaan berkesinambungan dari Pentahelix yang terdiri dari unsur Pemerintah, Akademisi, Swasta, Pers dan Masyarakat.

Ketua plt ASITA Kalimantan Selatan, H.Sumedi.SP.MM yang juga pendiri dan pemilik PT Intan Cempaka Tour & Travel, Banjarmasin, mengatakan dia sependapat mengenai pentingnya pembentukan Pokdarwis jika memang belum terbentuk sejak kehadiran Kampung Pelangi tiga tahun lalu.

Sebenarnya kalau mau konsep Amati Tiru & Modifikasi ( ATM) maka Pemko  Banjarbaru bisa melihat bagaimana kampung Morten Melaka, Malaysia menjadi living museum kehidupan suku Melayu di negri itu, kata Sumedi.

” Nanti kami bahas bersama Kadispora Banjarbaru yang baru dan juga di tingkat DPRD Kota Banjarbaru  agar Kampung Pelangi kelembagaannya dan 3 A juga dilengkapi ” kata Sumedi yang juga anggota Komisi II DPRD Kota Banjarbaru.

Sumedi sudah berkunjung ke  Kampung Morten Melaka, yang berada dibantaran  sungai lebar berbentuk huruf U. Di sana rumah-rumah Melayu yang ada tetap dipertahankan,  dikepung gedung-gedung modern menjulang tinggi.

 ” Di Kampung Morten juga  ada homestay, restoran, bar, souvenir dan toko-toko lainnya. Hanya saja Sungainya cukup lebar sehingga jasa yang bisa ditawarkan ke wisatawan termasuk susur sungai. Di Kampung Pelangi, kendalanya pada sungainya yang sempit,” kata Sumedi.

Dia sepakat dengan program PWI Pusat agar desa wisata yang memiliki akses terdekat dengan ibukota Kabupaten maupun provinsi serta dekat bandara bisa menjadi hits sebagai tempat menyambut kedatangan tamu dengan budaya khas Banjar dan menjadi tempat transit sebelum kembali ke kota asal.

Jembatan di Kampung Pelangi sudah kehilangan warna-warni

Fokuslah ke budaya khas Banjar

Wisatawan yang baru mendarat di Bandara Syamsudin Noor baik tujuan bisnis maupun tour nantinya bisa langsung ke Kampung Pelangi untuk kuliner ataupun langsung mengenal budaya khas suku Banjar.

Begitupula yang akan pulang ke kota atau negara asal bisa mampir di Kampung Pelangi untuk membeli oleh-oleh dan kulineran pula.

Agar sebuah destinasi wisata terus eksis, diperlukan kesadaran semua pihak untuk menjaga lingkungan wisata ini. Sebab itu sebuah destinasi wisata harus sesuai Sapta Pesona yang terdiri tujuh unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan.

” Sapta Pesona ini merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau wilayah di negara kita,” kata Sumedi.

Saat kunjungan ke lokasi, Kampung Pelangi ini masih kelihatan indah dan tertata kecuali warna-warninya sudah pudar semua terutama di jembatan dan trotoarnya tak menunjukkan warna Pelanginya lagi.

Sebuah baliho besar terpampang dengan ajakan agar warga setempat dan pengunjung menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah di sungai. Di beberapa sudut, tempat sampah tersedia dengan 3 jenis sampah yang harus dipilah-pilah.

Membayangkan Kampung Pelangi yang mampu menyedot kunjungan wisatawan baik domestik dan mancanegara, usulan saya  sederhana saja. Bentuk kelembagaannya, kembalikan warna-warninya, fokuskan untuk mempromisikan budaya khas Banjar yang juga merupakan budaya Melayu.

Menyusuri pinggiran Sungai Kemuning, bisa saja sejumlah perahu klotok panjang berseliweran bergantian atau cukup hanya untuk spot foto tamu yang datang dengan  berpakaian khas Melayu Banjar atau ala pedagang pasar terapung Kuin dengan topi lebar tanggui.

Perahu klotok mau berseliweran seperti naik perahu Gondola di Venesia, Italia sambil diputarkan lagu-lagu khas Banjar juga unik dan tinggi jembatan masih memungkinkan melintas di bawahnya.

Melihat sudut-sudut bantaran sungai, peluangnya masih ada lahan untuk dibuatkan panggung pertunjukan dan sekaligus menjadi spot selfie bagi pengunjung ( wisatawan).

Terbayang pula jika keunikan tarian khas Banjar yang kerap di pertunjukan seperti Japin dan Hadrah yang bisa mendorong terjadinya partisipasi / interaktif antara masyarakat lokal dan pengunjung ( wisatawan) mengisi acara-acara dipanggung mini.

Sebagai individual traveler saya tidak keberatan berganti pakaian dan ikut menari bersama , belajar tari Japin yang singkat tapi  menjadi kenangan manis yang sulit dilupakan jika menjadi atraksi rutin di Kampung Pelangi ini.

Kalau perlu, wisatawan diperkenalkan pula dengan atraksi Madihin yang merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan atau ikut permainan Balogo dengan menggunakan alat dari batok kelapa.

Balogo, permainan tradisional Suku Banjar ini biasanya dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa, baik secara beregu maupun perorangan. Jumlah pemain terdiri atas dua hingga lima orang. 

Usai COVID-19 saat wisatawan mancanegara datang ke kampung ini dan  diperkenalkan permainan Balogo yang sudah banyak ditayangkan di Youtube, pastinya seru dan bisa tidak pulang-pulang. 

Soalnya batok kelapa yang jadi alat permainan sudah jadi daya tarik wisata tersendiri bagi mereka yang datang dari belahan Eropa dan tidak punya pohon kelapa.

Kampung Pelangi bisa tambah  sukses asal ada keunikan khas Suku Banjar termasuk memperkenalkan Nasi kebuli yang telah ditetapkan oleh Walikota Banjar baru terdahulu, alm Nadjmi Adhani pada tanggal 31 Agustus 2016 sebagai makanan tradisional atau khas Banjarbaru.

Awalnya, nasi kabuli ini banyak dijual di daerah Cempaka Banjarbaru. Bisa ditemui di Warung 41 Cempaka, dan Warung Bawah Asam Kelurahan Sungai Tiung Cempaka Banjar baru

Kepedulian Pentahelix untuk mewujudkan impian ini agar Kampung Pelangi menjadi kampung wisata yang hits sangat penting terutama CSR dari PT Angkasa Pura 1 sebagai pengelola bandara Syamsydin Noor serta Sadar Wisata dari seluruh lapisan masyarakatnya. Semoga sukses dan kunjungan ini bukan menghasilkan impian semusim.