Daftar Destinasi Wisata Terbaik Versi Lonely Planet

this formate

Kota batu kuno Petra di Yordania, salah satu dari 7 keajaiban dunia (foto: Lonely Planet)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 telah memaksa banyak orang untuk memikirkan kembali rencana perjalanan mereka. Tetapi jika Anda ingin sejenak berandai-andai membayangkan petualangan melancong di masa depan, situs perjalanan Lonely Planet baru saja merilis buku besar “Ultimate Travel List”.

Isinya mencakup 500 tujuan wisata yang tak bisa dilewatkan. Buku yang merupakan edisi kedua ini setidaknya dapat menjadi pelipur lara kekecewaan karena liburan yang terpaksa dibatalkan.

Buku yang kerap menjadi rujukan coffee table book ini menampilkan lebih dari 200 tujuan baru dan memeringkat 500 tempat dalam urutan kemewahannya.

Daftar baru dalam buku edisi ini disusun oleh para tim ahli Lonely Planet. Isinya banyak menyoroti hal-hal apa saja yang harus dilihat (must-see) dan pengalaman yang harus dilakukan (must-do). 

Kebanyakan isinya memuat pengalaman outdoor dan backpacking, seperti melihat satwa liar di Kepulauan Galapagos atau mengagumi air terjun spektakuler Iguazu Falls yang terbentang di Argentina dan Brazil, hingga pengalaman menjelajah lanskap geotermal Taman Nasional Yellowstone.

Tim mengevaluasi buku panduan Lonely Plant yang lama dan menilai komitmen setiap destinasi terhadap keberlanjutan.

“Untuk edisi kali ini, kami memberikan poin ekstra untuk destinasi dan atraksi yang mengelola pariwisata secara berkelanjutan,” kata Piers Pickard, Wakil Presiden penerbitan Lonely Planet, dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu Tom Hall, eksekutif Lonely Planet kepada CNN Travel mengakui bahwa pilihan untuk bepergian saat ini sangat terbatas. “Tetapi daftar [dalam buku] tersebut bertujuan untuk memberi inspirasi untuk 2021 dan setelahnya saat perjalanan mulai pulih.”

Dia menambahkan buku ini dapat menjadi semacam daftar keinginan orang [untuk bepergian] yang dapat digunakan bukan untuk saat ini tetapi di masa depan. 

Di antara 500 tujuan wisata, 29 di antaranya berada di Amerika Serikat, termasuk sembilan taman nasional serta perpaduan yang baik antara lembaga budaya dan seni.

Salah satu dari 200 lokasi wisata baru adalah Museum Nasional Sejarah dan Kebudayaan Afrika Amerika di Washington, D.C.. 

Lalu, apa saja deretan destinasi teratas versi Ultimate Travel List yang diterbitkan Lonely Planet? Berikut daftar 10 yang teratas:

  1. Petra, Yordania
  2. Kepulauan Galapagos, Ekuador
  3. Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Australia
  4. Delta Okavango, Botswana
  5. Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat
  6. Danau Bled, Slovenia
  7. Air Terjun Iguazu, Argentina – Brasil
  8. Kuil Angkor, Kamboja
  9. Salar de Uyuni, Bolivia
  10. Sirkuit Annapurna, Nepal

Bekal Pulang Kampung bagi Binaan Shelter KJRI Jeddah

this formate

JEDDAH, bisniswisata.co.id: Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah menggelar pelatihan usaha kuliner bagi 95 WNI binaan shelter, bertema “Merintis Usaha Kuliner: Menjadi Purna PMI yang Mandiri”, akhir pekan ini.

Konjen KJRI Jeddah,  Eko Hartono berharap, sepulang dari Arab Saudi para peserta dapat memanfaatkan modal yang diperoleh selama bekerja untuk merintis usaha kecil.

KJRI Jeddah, lanjut Konjen, berupaya memberikan bekal kerampilan yang diperlukan oleh para WNI/PMI binaan shelter untuk mendukung keinginan mereka merintis usaha, agar mereka mempunyai kemandirian ekonomi.

“Selain ini (pelatihan usaha kuliner), kami sedang merancang pelatihan kewirausahaan. Jadi, bagaimana kita bisa menjadi pengusaha UMKM yang masih dalam kemampuan ibu-ibu sekalian,” ucap Konjen.

KJRI Jeddah, sedang berupaya  memberikan bekal lebih, bukan sekedar pelatihan keterampilan,  juga kesempatan meningkatkan pendidikan melalui program kejar paket A, B dan C.

Pelatihan usaha kuliner diberikan chef Raden Daru Sulistiono  dan kawan- kawan yang saat ini bekerja sebagai inflight chef salah satu maskapai di Arab Saudi.
Panitia menerapkan protokol kesehatan dengan mewajibkan seluruh peserta mengenakan masker selama acara berlangsung, menjaga jarak dan memeriksa suhu tubuh sebelum memasuki ruang acara.

Praktik membuat kue Gemblong, masak Sop Buntut dan ayam goreng/bakar presto

Narasumber mengawali pemaparannya dengan memberikan motivasi bagi peserta dan gambaran secara umum kiat sukses merintis usaha kuliner. Mulai dari perhitungan harga dasar, harga jual, harga terbuang, minat dan daya beli konsumen, pembuatan produk,  ketersediaan bahan baku, pengemasan, penentuan target, penentuan produk, legalitas produk dan aspek lainnya.
Usai mengikuti teori dan pemaparan bahan-bahan yang diperlukan, peserta mengikuti praktik membuat kue Gemblong, sop buntut, ayam goreng/bakar presto.

Menurut  Pelaksana Fungsi Konsuler-1 merangkap Koordinator Pelayanan dan Pelindungan Warga Safaat Ghofur, tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk memberikan bekal dan pengalaman bagi peserta.

“Berbekal ilmu dan pengalaman, diharapkan ibu-ibu dapat merintis usaha yang diminati oleh orang-orang sekitar,” kata Safaat selaku Koordinator acara.

VResorts Ubah Pengalaman Virtual-Reality Di Industri Perhotelan

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id : Berkantor pusat di Singapura, VResorts adalah VR-commerce dan inovator konten VR yang melayani resor dan hotel di seluruh dunia dengan solusi virtual reality yang inovatif.

VResorts kini telah meluncurkan platform pemesanan Virtual Reality – yang pertama dari jenisnya, memungkinkan para pelancong untuk memilih tujuan wisata mereka dan membeli liburan mereka dari dalam ruang realitas virtual.

Pembuatan konten inovatif dan platform meta-pencarian ini sekarang memungkinkan wisatawan untuk merasakan pengalaman imersif berkualitas tinggi sebelum membeli atau memastikan keunggulan kompetitif untuk hotel dan resor yang ada di platform tersebut.

Di lansir dari Travel Daily News, Inovasi yang mengganggu dalam saluran distribusi perhotelan terbatas pada munculnya agen perjalanan online di pertengahan 90-an dan, lebih dari satu dekade kemudian, evolusi ke platform pemesanan seluler.

VResorts memperkenalkan VR-commerce, untuk barang dan layanan offline, sebagai konsep baru untuk merintis era baru bisnis e-commerce.

VR-commerce dengan sempurna menggabungkan manfaat belanja online dan offline dalam satu platform. Ini memberi konsumen kemudahan untuk berbelanja dari rumah serta membandingkan harga, sambil terlibat dengan produk atau layanan pada tingkat sensorik.

Platform ini membantu pengguna untuk ‘merasakan’ tujuan dan fasilitas sebelumnya, menghilangkan kebutuhan akan konten yang panjang dan tidak perlu, dan ini akan berdampak positif pada pengalaman pelanggan dalam pengambilan keputusan mereka.

Hotel dan resor di sisi lain, mendapatkan keuntungan dari pengalaman imersif ini yang dapat digunakan sebagai alat penjualan dan pemasaran yang kuat, meningkatkan penawaran merek dan personalisasi produk – membuat konversi penjualan lebih mungkin terjadi.

Awalnya dikembangkan untuk pemesanan perjalanan, teknologi ini juga dapat diterapkan pada produk atau layanan apa pun di semua industri dan pengguna dapat merasakannya secara nyaman dari rumah mereka.

Ini adalah kali pertama platform perdagangan VR di dunia membuat para pengguna pencarian liburan yang merasakan sealami dan seinutisi mungkin. Karena pandemi 2020 mendorong pengalaman jarak jauh ke garis terdepan.

Patform pemesanan realitas virtual ini akan membantu hotel dan resor membedakan diri mereka di pasar; tugas yang semakin menantang bagi merek dan pemasar di dunia saat ini.

“Kami percaya pemesanan realitas virtual, dan memang perdagangan, adalah penerima manfaat langsung dari Pandemi Corona. Konsumen menuntut kemampuan untuk berinteraksi dengan merek dalam format yang paling nyaman dan alami bagi mereka.

“Kami percaya bahwa perdagangan VR untuk barang dan layanan offline yang hanya menyediakan kebutuhan ini, ”kata Vladimir Varnavskii, pendiri VResorts.

Dia melanjutkan dengan mengatakan, “Norma baru bagi kami adalah terus mengkurasi pengalaman VR yang beragam dan mulus di platform kami untuk memastikan bahwa kepercayaan konsumen terhadap apa yang mereka beli adalah mutlak”.

Orang ingin merasakan produk dan layanan dengan kemudahan menggunakan perangkat mereka. Dalam skenario seperti itu, VR adalah bagian yang layak dari ruang digital dan telah mengalami percepatan perkembangan selama beberapa tahun terakhir.

VResorts percaya bahwa mereka saat ini berada dalam fase transisi di mana sebagian besar pengguna diperkenalkan ke VR-commerce untuk barang dan layanan offline untuk pertama kalinya.

Tim ini memiliki silsilah dalam VR yang membentang dari pembuat konten untuk Discovery dan National Geographic hingga konsultan raksasa seperti Mckinsey dengan semua anggota menjadi pelaku bisnis perhotelan sehingga memastikan alat dan solusi yang difokuskan pada industri.

 

‘Start Your Journey’, Program Pelatihan Bidang Fotografi dari Kemenparekraf

this formate

TANGERANG, bisniswisata.co.id: Kemenparekraf Luncurkan ‘Start Your Journey!’, Program Pelatihan Bidang Fotografi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai bimbingan teknis peningkatan keterampilan fotografi dan ilustrasi bekerja sama dengan platform pembelajaran digital, Vokraf.

Program pelatihan akan dilakukan secara daring melalui platform Vokraf mulai  besok, 19 Oktober hingga akhir November 2020 kepada 1.000 peserta terpilih melalui kurasi sebelum ajang digelar. Peserta program Start Your Journey! ini datang dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh, Kalimantan, hingga Papua.

Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf mengatakan, program itu digelar mempertimbangkan kondisi pandemi COVID-19 yang sedang melanda dan menyebabkan hampir semua sektor terdampak oleh pandemi ini.

“Kemenparekraf secara proaktif mendukung peningkatan _skill_ masyarakat agar tetap produktif sehingga perekonomian Indonesia tetap berputar,” kata Muhammad Neil El Himam.

Turut hadir dalam acara konferensi, Mohammad Amin, Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi, Kemenparekraf, Syaifullah, Plt. Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf , Muhammad Azhar Iskandar Zainal, Co-founder & CPO Vokraf Mahatma Waskitadi, Ilustrator expert Anindito Wisnu, dan Fotografer, Rez Harditya.

Neil mengatakan, pelatihan bidang fotografi dan ilustrasi diharapkan mendorong masyarakat tetap produktif. Kedua bidang tersebut dinilai dibutuhkan oleh berbagai sektor industri, bahkan dari sektor terkecil seperti berjualan makanan dari rumah.

Khususnya fotografi, target peserta difokuskan pada pemilik maupun masyarakat yang bekerja di sektor UMKM. Terlebih di zaman serba digital ini, ilustrasi pada suatu produk menjadi visual marketing yang menambah daya tarik.

“Kedua bidang baik fotografi dan ilustrasi menjadi bagian penting pendukung dalam transformasi digital sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif dalam bidang tersebut,” kata Neil.

Di platform Vokraf.com terdapat video pembelajaran dengan materi yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini, tugas praktik untuk membuat karya yang outputnya bisa menjadi portofolio, serta sertifikat yang akan dikeluarkan oleh Vokraf dan Kemenparekraf.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mendukung kreativitas masyarakat dalam hal menggambar digital, menuangkan ide, dan mendukung visualisasi produk digital,” kata Muhammad Neil.

Ia mengatakan, saat ini pemerintah telah meluncurkan gerakan #BanggaBuatanIndonesia dan #BeliKreatifLokal sebagai bentuk dukungan dan dorongan dalam pemulihan dampak pandemi.

Melalui pemanfaatan teknologi, diharapkan konten kreatif dan inovatif dapat memberikan alternatif bagi masyarakat untuk tetap produktif di tengah masa yang tidak menentu ini.

“Sembari kita berharap kondisi segera kembali normal, mari kita terus tingkatkan kapasitas dan keterampilan agar semakin memiliki daya saing dan daya jual yang tinggi,” kata Muhammad Neil.

 

 

Hadapi Libur Akhir Tahun 2020 Kemenparekraf Percepat Program Diskon Wisata Domestik

this formate

Wisatawan domestik pergi wisata  dengan keluarga maupun dengan komunitasnya. ( Foto: tutisunario. wordpress.com).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pengamat pariwisata Wuryastuti Sunario berharap Kemenparekraf dorong pergerakan wisatawan domestik segera tanpa harus menunggu awal 2021, mengingat kalangan industri sudah berteriak kehabisan dana sejak September lalu.

” Pernyataan Wakil Menparekraf/ Bekraf Angela Tanoesudibjo bahwa akan membangkitkan kembali sektor pariwisata Tanah Air melalui program diskon pariwisata baru  pada 2021 atau setelah vaksin COVID-19 rampung terlalu lama karena kebutuhannya adalah sekarang,” kata Wuryastuti yang akrab disapa Tuti Sunario.

Diskon pariwisata ini gunanya untuk mendorong paket wisata domestik. Karena di masa pandemi ini, selain faktor kepercayaan masyarakat atas kebersihan destinasi wisata, daya beli masyarakat juga tengah menurun di masa pandemi ini, ucap Angela.

Wamenparekraf juga sudah punya agenda  dalam peningkatan spending wisatawan nusantara. “Karena Indonesia merupakan negara dengan populasi besar, kita memiliki peluang di wisata domestik yang masih bisa dimaksimalkan,” jelas Angela.

Dari pernyataan itu, kata Tuti, apalagi pemerintah telah menetapkan akhir Oktober 2020 sebagai cuti bersama yang bisa dinikmati seluruh masyarakat,  mengapit perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 29 Oktober 2020 maka kalau sudah ada program  tanggal 28 dan 30 Oktober 2020 sebagai cuti bersama Maulid Nabi Muhammad SAW akan dimanfaatkan untuk berwisata ke daerah.

” Seperti biasa akhir tahun ada liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru jadi kalau kebijakan diskon wisata mukai Oktober akan tepat sekali membangkitkan wisata domestik dan memulihkan perekonomian daerah, “kata Tuti.

Industri sudah berteriak terpaksa mulai mem-PHK karyawannya, atau bahkan menutup usaha. Dalam keadaan krisis berkepanjangan demikian, apa yang bisa kita lakukan agar tetap bertahan, tidak saja sebagai usaha , tetapi bahkan bagaimana keluarga dan pribadi bisa lanjut hidup, dan apakah akan mampu melewati krisis ini?

“Semua sepakat wisata domestik penyelamat sektor pariwisata keluar krisis. Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dengan gamblang menyatakan bahwa mengingat perkembangan COVID 19 secara global belum sesuai harapan, maka perkembangan sektor pariwisata hendaknya difokuskan kepada wisatawan domestik hingga akhir 2020.

Statistik BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan domestik Indonesia tahun 2018 mencapai tidak kurang 303,4 juta perjalanan, yang meningkat 12,37% banding tahun sebelumnya, sedangkan dalam 5 tahun belakangan, kegiatan wisatawan domestik mencuat 21%.

Terbanyak menggunakan transportasi darat (80%) berupa mobil pribadi, bis atau kereta api; 5,7% menggunakan pesawat, dan 4,75% menggunakan kapal laut atau transportasi danau.

Dilihat dari segi usia, jumlah terbesar wisatawan nusantara adalah anak-anak sampai umur 15 tahun (24,2%) yang tentunya dibawa orang tua atau guru . Kemudian dewasa umur 35-44 tahun sebanyak 18,6%, dan yang berumur 55 tahun keatas sebanyak 12%.

Sedangkan menurut ASITA selama 2019 jumlah wisatawan Indonesia ke luar negri ( outbound) capai  9,75 juta  orang dengan destinasi pilihan terutama ke ASEAN , Eropa , Jepang dan Rusia.

“Bagi industri wisata Indonesia, mereka yang naik pesawat dan juga yang biasa ke luar negeri merupakan captive market apalagi karena mereka juga “terperangkap” tidak mungkin ke luar negeri karena perbatasan banyak negara masih tutup.

Seorang kawan Tour Operator, kata Tuti, mengatakan bahwa ia sudah terima 8 booking overland memakai mobil Alphard untuk rombongan keluarga berwisata selama 10 hari meliputi Jakarta, Yogyakarta dan Bali.

Ada kawan yang sewakan rumah zaman dulu di Yogya, dan katanya penuh terus. Rupanya yang datang memang sendiri-sendiri dengan mobil pribadi. Jadi rombongan keluarga, wisata ke beberapa kota dan menginap 2-3 malam.

Tuti mengatakan yang diperlukan sekarang adalah survey wisnus, terutama yang tadinya wisatawan outbound ( biasa ke luar negri), bagaimana oleh tour operator diajak wisata domestik mumpung semua borders juga masih tutup.

Mana yang Utama, Kesehatan VS Ekonomi ?

this formate

Obyek wisata Lumina di Grand Maerakaca, Semarang terapkan protokol kesehatan demi keamanan pengunjung. ( Foto: HAS) 

UPAYA  memulihkan aktivitas pariwisata digaungkan oleh semua asosiasi industri pariwisata dunia dan di tanah air. Maklum pandemi COVID-19 telah menjatuhkan perekonomian banyak negara. Bahkan beberapa negara telah masuk ke jurang resesi.

Menurut data Trading Economics. sedikitnya 50 negara termasuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang telah resmi menyatakan resesi. Untuk AS hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonominya selama kuartal II nya tertekan dalam.

Tak heran organisasi dunia seperti Badan Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO), World Travel & Tourism Council ( WTTC), International Air Transport Association ( IATA) dan Airports Council International (ACI) sejak awal pandemi sudah gencar mengeluarkan berbagai rekomendasi, pernyataan sikap, seruan, himbauan dan rangkaian kampanye.

Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi dunia, terhitung 7% dari perdagangan internasional.  Secara global, pariwisata menghasilkan secara langsung atau tidak langsung satu dari setiap sepuluh pekerjaan.  

Krisis COVID-19 telah hancurkan ekonomi pariwisata, dengan efek yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pekerjaan dan bisnis.  Pariwisata adalah salah satu sektor pertama yang sangat terpengaruh oleh langkah-langkah penahanan COVID-19.

Pembatasan perjalanan yang sedang berlangsung dan resesi global yang membayangi masih ditambah  risiko menjadi salah satu sektor yang terakhir pulih. Kini 100 juta pekerjaan di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan.

Hidup di era New Normal, ternyata adalah hidup berdampingan dengan COVID-19 yang belum ada vaksinnya dan diwarnai perdebatan seru antara mana yang diutamakan lebih dulu ?. Kesehatan atau ekonomikah ?. Seperti halnya ayam dan telur, mana yang lebih dulu utamanya ?

Industri pariwisata termasuk industri penerbangan di dalamnya giat mengkampanyekan safe travel. Di tanah air, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sejak awal Agustus lalu juga sudah mengkampanyekan program safe travel  ini.

Inti dari seruan-seruan dan kampanye juga terkait dengan menyelamatkan industri penerbangan nasional dinegara masing-masing dengan suntikan dana tanpa harus berhutang, maupun permintaan IATA agar biaya rapid test misalnya, ditanggung oleh pemerintah bukan konsumen calon pengguna angkutan udara.

Endorse pada selebgram untuk mengajak masyarakat melakukan perjalanan aman dan nyaman dengan moda transportasi udara juga gencar dilakukan oleh instansi pemerintah seperti Kementrian Perhubungan, Kemenparekraf/ Bekraf dan lainnya.

Meski belum ada pernyataan resmi atau hasil survey mana yang lebih ampuh menanamkan rasa aman perjalanan,  peranan pers nasionalkah ? atau para influencer berbayaran selangit itu ?.

Rasa jelous memang harus dikesampingkan dulu karena yang jelas perlu tindakan kuat dan terkoordinasi untuk menyelamatkan jutaan mata pencaharian baik di Indonesia maupun seluruh dunia akibat pandemi global ini.

Dengan prediksi penurunan 60-80% dalam pariwisata internasional tahun 2020, dan penurunan ekspor antara US$910 miliar dan US$ 1,2 triliun. Selain dampak langsung ini, ekonomi pariwisata bukan hanya  terkait dengan transportasi udara, darat maupun laut.

Pariwisata banyak terkait sektor lain termasuk konstruksi, agro-pangan, jasa distribusi dan lainnya  yang kesemuanya memperburuk besarnya guncangan.  COVID-19 telah mengungkapkan pentingnya ekonomi makro pariwisata di sebagian besar negara OECD dan G20.

Hal itu terungkap pada pertemuan para Menteri Pariwisata G20 tanggal 7 Oktober lalu yang menyerukan tindakan kuat dan mendesak di tiga bidang untuk menopang jutaan mata pencaharian.

Pertama, kerja sama multilateral yang diperkuat dan dukungan yang kuat sangat penting untuk mengaktifkan kembali perjalanan.

Kedua, pemerintah harus mendekati pemulihan pariwisata dengan cara yang lebih terintegrasi – melibatkan semua tingkat pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat sipil dalam rencana yang praktis dan dapat ditindaklanjuti untuk hidupkan kembali sektor pariwisata.

Ketiga, kita perlu membentuk kembali pariwisata yang bertanggung jawab dan inklusi.  Sektor pariwisata, dapat memiliki pengaruh lingkungan dan sosial yang penting, baik melalui emisi gas rumah kaca, dengan mempengaruhi lingkungan alam dan budaya yang rapuh atau mempengaruhi  masyarakat yang jadi tuan rumah ?.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, kemarin di Bali  menekankan pentingnya berbagai upaya atau program sinergi untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurut data UNWTO, sejak Januari hingga Juni 2020 pariwisata dunia kehilangan 440 juta turis. “Indonesia diperkirakan kehilangan devisa sebesar  US$14,5-15,8 miliar  karena adanya penurunan kunjungan wisman karena sektor ini  sangat andalkan pergerakan manusia,” kata Angela.

Pihaknya telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan bantuan untuk membantu para pelaku pariwisata yang terdampak oleh pandemi ini dan dari segi ketahanan industri pariwisata, fokusnya saat ini adalah untuk peningkatan kualitas dari destinasi dan persiapan industri dalam adaptasi kenormalan baru serta pascapandemi COVID-19.

Selain itu, Kemenparejraf juga telah mengalokasikan lebih dari 119 miliar untuk sertifikasi Clean Health Safety Environement ( CHSE) secara gratis dengan lembaga independen, yang ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap sektor pariwisata.

Sementara, untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Tanah Air, Angela menuturkan pihaknya akan memberdayakan wisatawan nusantara melalui program diskon pariwisata yang rencananya akan diluncurkan pada 2021 atau setelah vaksin COVID-19 rampung.

“Diskon pariwisata ini gunanya untuk mendorong paket wisata domestik. Karena di masa pandemi ini, selain faktor kepercayaan masyarakat atas kebersihan destinasi wisata, daya beli masyarakat juga tengah menurun di masa pandemi ini,” ucap Angela.

Kebijakan ini in line dengan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Widodo Muktiyo yang menyatakan sektor pariwisata bisa kembali bergeliat dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya untuk mengurangi jumlah pengangguran.

Untuk itu, wilayah destinasi pariwisata wajib menerapkan Protokol kesehatan (Prokes) sebagai standar baru dalam prosedur pelayanan kepada wisatawan agar dapat terhindar dari infeksi virus COVID-19 yang masih mewabah.

“Mengedepankan Prokes dalam setiap prosedur pelayanan kepada wisatawan yang tidak boleh ditawar oleh siapapun,” ujarnya.

Pernyataan Widodo Muktiyo beralasan karena saat sata melakukan perjalanan ke tiga provinsi dan satu Kabupaten sejak 21 September hingga 13 Oktober 2020 lalu, pengalaman berada di obyek-obyek wisata terutama setelah makan atau foto-foto banyak pengunjung obyek wisata yang lupa memakai maskernya lagi.

Masker dan aturan jaga jarak terutama untuk rombongan keluarga harus disiplin ditegakkan agar obyek wisata tidak menjadi kluster baru COVID-19. Cukuplah warung soto di Solo menjadi kluster baru virus ini dengan jumlah tracing yang mengejutkan gara-gara satu pengunjung.

Perlu ekstra pengawasan bagi pengelola obyek wisata untuk mengingatkan pengunjung untuk melaksanakan protokol kesehatan itu. Kalau perlu lewat pengumuman menggunakan pengeras suara dengan santun sehingga pengunjung juga tidak terganggu. 

UNWTO &  Expedia Group Sepakat Berbagi Data dan Panduan untuk Pemulihan Pariwisata

this formate

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) bekerja sama dengan Grup Expedia (Expedia Group) untuk memperkuat hubungan antara sektor publik dan swasta serta mendorong pemulihan pariwisata dari dampak pandemi COVID-19.

Kedua pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang akan membuat mereka bekerja sama dalam berbagai topik, dengan tujuan bersama untuk mendorong pemulihan dan membuat sektor ini lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili bertemu dengan perwakilan dari Grup Expedia di Brussel, di balik pembicaraan yang sukses dengan para pemimpin Lembaga Eropa. Menyoroti komitmen UNWTO untuk memperkuat hubungan dengan sektor swasta, kemitraan yang ditingkatkan ini akan membuat Badan Khusus PBB ini bekerja lebih erat dengan Grup Expedia.

Tindakan bersama fokus pada intelijen dan inovasi pasar. UNWTO dan Expedia juga akan bekerja sama untuk mempromosikan kewirausahaan dan pendidikan profesional, dan di bidang perlindungan konsumen.

Sejak awal krisis ini, UNWTO telah menjadi pendukung kuat kerjasama erat antara sektor publik dan swasta. “Sejak awal krisis ini, UNWTO telah menjadi pendukung kuat kerjasama erat antara sektor publik dan swasta. Kemitraan yang ditingkatkan ini akan membantu meningkatkan pengetahuan kami tentang tren pariwisata global, kata Sekretaris Jenderal Zurab Pololikashvili dalam rilisnya.

Kerjasama, ujarnya, memungkinkan untuk menanggapi tantangan baru dan memandu pemulihan pariwisata. Ini juga akan membantu untuk menempatkan inovasi dan keberlanjutan di jantung pemulihan ini dan memastikan pariwisata muncul lebih kuat dari sebelumnya, tambah Zurab Pololikashvili.

Kemitraan antara UNWTO dan Expedia Group akan memungkinkan kedua belah pihak berbagi data tentang tren dan perkembangan pariwisata, baik di skala global maupun lokal.

Hal Ini akan membantu menginformasikan pengambilan keputusan, menghasilkan kebijakan berbasis data yang bertujuan untuk pemulihan pariwisata berkelanjutan dan pembangunan di masa depan.

IATA Sambut Laporan Transkom AS atas Rendahnya Resiko COVID-19 dalam Penerbangan

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id: – Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyambut baik laporan hasil pengujian oleh Komando Transportasi Amerika Serikat (Transkom AS) yang mengkonfirmasi rendahnya risiko terpapar COVID-19 di dalam pesawat.

Pengujian yang dilakukan Transcom AS, yang dilakukan pada bulan Agustus, menemukan bahwa “risiko paparan keseluruhan patogen aerosol, seperti virus Corona, sangatlah rendah” pada jenis pesawat seperti maskapai yang biasanya digunakan untuk memindahkan personel Departemen Pertahanan (DOD) dan keluarganya.

Transcom AS menyatakan. Lebih dari 300 aerosol dilepaskan, simulasi pemaparan penumpang yang terinfeksi COVID-19, dilakukan selama delapan hari menggunakan Pesawat Amerika Boeing 767-300 dan pesawat lorong ganda 777-200.

“Minggu lalu, IATA melaporkan bahwa sejak awal 2020 terdapat 44 kasus COVID-19 telah dilaporkan dan penularannya diduga akibat dari perjalanan dengan menggunakan pesawat, dari 1.2 miliar perjalanan pesawat pada tahun 2020.

Riset Transcom AS membuktikan lebih lanjut bahwa risiko terinfeksi dalam pesawat tampaknya sangatlah rendah, dan pastinya lebih rendah dibandingkan lingkungan dalam ruangan lainnya” ucap Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA dalam rilisnya kepada bisniswisata.co.id.

Pengujian yang dilakukan Transcom AS menunjukkan bahwa aerosol “dengan cepatnya diturunkan dengan tingginya pertukaran udara” dari kabin pesawat pada umumnya. Partikel aerosol tetap dapat dideteksi pada kurun waktu rata-rata kurang dari enam menit.

Kedua model pesawat diuji menghilangkan partikulat 15 kali lebih cepat daripada sistem ventilasi rumah pada umumnya dan 5-6 kali lebih cepat daripada spesifik desain yang direkomendasikan untuk ruang operasi dan isolasi pasien di rumah sakit modern.

Pengujian yang dilakukan dalam kerjasama Boeing dengan United Airlines, Serta Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA), Zeteo Tech, S3i dan Institut Penelitian Strategi Universitas Nasional Nebraska.

 

Wisatawan Penyandang Disabilitas Hadapi Tantangan Baru di Tengah Pandemi

this formate

Kaum Difabel Hadapi Tantangan Baru (foto: smarter travel)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi kebanyakan orang, pandemi COVID-19 telah memaksa mereka untuk menunda dulu rencana bepergian. Ternyata, keadaan ini lebih parah dialami para wisatawan penyandang disabilitas.

“COVID-19 memaksa kami untuk menyetop 100 persen tur bagi individu penyandang disabilitas,” kata Don Douglas, pemilik Able Trek Tours, perusahaan tur berbasis di Wisconsin, AS.

Perusahaannya mengkhususkan diri pada perjalanan yang dapat diakses kaum disabilitas. “Banyak tujuan dan atraksi ( seperti acara olahraga, festival, dan konser) yang tutup,” imbuhnya seperti dilansir Skift.

Douglas tidak sendirian. Dia bukanlah satu-satunya pelaku dalam bisnis ini yang dilumpuhkan akibat pandemi virus corona.

Josh Grisdale, pendiri Accessible Japan, sebuah komunitas online yang menyediakan dukungan bagi wisatawan penyandang disabilitas, mengeluhkan hal serupa.

Menurutnya dampak pandemi  terbesar bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan saat bepergian adalah larangan untuk membawa asisten pergi bersama.

“Beberapa agency yang menyediakan jasa pendamping sama sekali tidak menginginkan kami [kaum disabilitas] keluar. Mereka menganggap itu hanya akan berpotensi memaparkan virus corona ke pengasuh yang akan menjadi pembawa virus lalu kemudian menularkan ke pelanggan lain termasuk kepada mereka yang menyandang disabilitas lebih parah,” imbuhnya.

Seperti menurut Grisdale, pandemi telah memperberat tantangan yang dihadapi para wisatawan penyandang cacat. 

“Aturan jarak sosial adalah sesuatu yang tidak mungkin diterapkan kepada mereka. Perhatian khusus bagi mereka juga muskil dilakukan tanpa kontak yang intens antara staf dan pelancong,” kata Douglas.

Jelas, keadaan ini sungguh tak menguntungkan bagi para pelancong penyandang disabilitas. Apalagi seperti dalam kasus Douglas, sebagian besar kliennya memiliki sejumlah penyakit bawaan sehingga rentan terpapar virus corona.

Wajar jika banyak wisatawan penyandang disabilitas menyatakan khawatir terkait COVID-19. Apalagi sebuah survei yang dilakukan pengusaha Josh Wintersgill terhadap 330 penyandang disabilitas mengamini hal itu.

Menurut survei itu ada lebih dari sepertiga responden menyatakan tidak akan melakukan perjalanan dengan pesawat sampai vaksin COVID-19 tersedia. Mereka juga khawatir banyak orang tak disiplin mengikuti aturan jarak sosial, baik saat di bandara maupun dalam kabin pesawat. 

Bahkan di beberapa kasus, masa depan perjalanan bagi penyandang disabilitias terlihat kurang cerah. Menurut Candy Harrington, editor blog Emerging Solutions yang fokus pada wisata bagi penyandang disabilitas, ada sejumlah perusahaan travel kecil yang khusus membantu mengatur perjalanan bagi wisatawan penyandang disabilitas tak lagi dapat bertahan selama masa pandemi.

John Sage, CEO sekaligus pendiri Accessible Travel Solutions [satu-satunya perusahaan travel bagi penyandang disabilitias yang tergabung dalam Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia] mengatakan kematian perusahaan travel bagi penyandang disabilitias berarti memengaruhi ketersediaan van khusus disabilitas dan perencana perjalanan.

Tetapi Srin Madipalli, co-founder Accomable [penginapan startup bagi kaum disabilitas], yakin pelaku bisnis yang dapat mengikuti tren dan berpikiran maju, akan mampu melewati tantangan dalam dua tahun ke depan. 

Madipalli yang juga mantan kepala divisi AirBnB khusus bagi penyandang disabilitas mengatakan kesuksesan akan ditentukan oleh,” bagaimana mereka menjalankan bisnis, kesiapan sumber daya dan seberapa kuat mengencangkan ikat pinggang.”

Yang pasti, hasrat untuk melancong tak akan pernah mati, jadi semua tergantung pada “bagaimana kita mengubah model bisnis mengikuti tren kekinian,” misalnya.

Bagaimana pelaku bisnis dapat menyesuaikan kembali model bisnis dengan memfasilitasi perjalanan ke tempat-tempat yang tak terlalu berisiko. Kuncinya adalah adaptasi pada keadaan normal baru.

 

 

Food Startup Indonesia (FSI) MMXX, 3 Pemenang Dapat Akses Pembiayaan

this formate

Menparekraf Whisnutama ( tengah),  saat melihat Demoday ajang Food starup Indonesia. ( Foto: Kemenparekraf).

NUSA DUA, Bali, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengumumkan tiga pelaku usaha terbaik di ajang Food Startup Indonesia (FSI) MMXX yang berhak mendapatkan fasilitasi akses pembiayaan guna pengembangan bisnis.

Ketiga pelaku usaha tersebut sebelumnya melakukan presentasi dalam kegiatan pitching di depan panelis serta calon investor dalam kegiatan puncak Demoday FSI MMXX yang berlangsung di Sofitel, Nusa Dua, Bali.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo, dalam acara puncak Demoday FSI MMXX, Kamis (15/10/2020), mengatakan, Demoday yang berlangsung selama tiga hari pada pada 12 hingga 15 Oktober menghadirkan 100 finalis FSI MMXX.

Seluruh finalis mendapatkan pendampingan mulai dari direct mentoring, business coaching dan pemasaran. “Pendampingan dilakukan sejumlah expertise yang dulunya juga merupakan pelaku usaha. Antara lain Sano Superfood (Eka Seafood Indonesia), Donny Wangke (Sano Superfood), dan Nilamsari (Sari Kreasi Boga),” kata Fadjar Hutomo.

Dari 100 finalis tersebut, dipilih 25 finalis yang berhak melakukan presentasi dalam kegiatan pitching di depan panelis yang memiliki kompetensi di industri kuliner.

“Peserta terpilih ini terdiri dari 17 _food manufacture dan delapan food service yang berasal sembilan provinsi. Perwakilan terbanyak berasal dari Jawa Barat sebanyak delapan peserta, DKI Jakarta lima peserta, dan Jawa Timur lima peserta,” kata Fadjar Hutomo.

Dari sesi pitching tersebut kemudian terpilih tiga pelaku usaha terbaik yaitu peringkat pertama KATO DEHYDRATED FOODS (Malang, Jawa Timur), kedua PROSPERO REALCHO (Kabupaten Tangerang, Banten), dan ketiga EGGY TELUR ASIN PEDAS (Sumedang, Jawa Barat).

Penilaian yang dilakukan berdasarkan kesiapan produk, keamanan, inovasi, kesiapan pasar, risiko investasi, partnership dan strategi investasi.

“Kehadiran investor dalam Demoday menunjukkan dukungan terhadap pelaku usaha sektor kuliner sangat besar. Dengan terbukanya peluang permodalan ini, pemerintah berharap ekosistem sektor kuliner tetap optimis dalam situasi pandemi,” ungkap Fadjar Hutomo.

Selain suntikan dana dari investor, masing-masing peserta terbaik mendapat green card mengikuti program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) 2021.

Tidak hanya bagi 25 peserta terpilih, FSI MMXX membuka kesempatan yang besar bagi seluruh finalis untuk memperoleh kesempatan akses permodalan dan pemasaran melalui jejaring yang terjalin selama acara Demoday.

Beberapa investor yang hadir dalam Demoday FSI MMXX berasal dari kategori Fintech, Fintech ECF, dan Venture Capital. Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim, mengungkapkan pada aspek jenis pendanaan yang dibutuhkan, panitia FSI MMXX mengidentifikasi ke dalam lima sumber yaitu bank, equity,  fintech profit sharing, dan lembaga pinjaman lainnya.

Sumber pendanaan dari bank dan _equity_ paling diminati oleh masing-masing perusahaan baik _food manufacture_ dan _food service_.

“Berbagai jenis pendanaan yang diajukan tersebut tentu saja harus disertai oleh profesionalisme dan akuntabilitas pelaku usaha sektor kuliner yang mengikuti FSI. Proses seleksi yang panjang dan kompetitif ini dimaksudkan agar akses permodalan dan pemasaran tepat sasaran,” kata Hanifah Makarim.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi penyelenggaraan Food Startup Indonesia (FSI) MMXX sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, khususnya dalam mendapatkan akses pembiayaan guna pengembangan bisnis.

Wishnutama yang turut hadir dalam kegiatan Demoday FSI MMXX di Bali, mengatakan, fasilitasi ini menjadi kesempatan besar bagi pelaku usaha ekonomi kreatif subsektor kuliner untuk mengembangkan bisnis hingga mendapat akses pembiayaan.

Saat meninjau pelaksanaan Demoday Menparekraf Wishnutama melihat langsung produk-produk kuliner yang dihasilkan para finalis peserta Food Startup Indonesia MMXX. Ragam kreasi produk kuliner yang dihadirkan menjadi bukti betapa besarnya potensi ekonomi kreatif tanah air.

“Kami berharap finalis dan investor sama-sama dapat menjalin kerja sama agar pelaku usaha kita dapat terus tumbuh di tengah pandemi COVID-19,” ujar Wishnutama.

Kegiatan Demo Day FSI tahun ini dilakukan secara hybrid, gabungan antara _offline_ dan _online_. Seluruh kegiatan yang dilakukan secara fisik mengacu pada standar protokol kesehatan pemerintah kepada setiap peserta yang berlangsung di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.