Kiat Air New Zealand Pikat Wisatawan di Tengah Pandemi COVID-19

this formate

Kota Napier di Selandia Baru, terkenal dengan bagunan art deco (foto: get your guide)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berlalu. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat bahkan tengah menghadapi gelombang kedua serangan virus corona. 

Di tengah pandemi, melakukan perjalanan – terutama dengan menggunakan pesawat – bagi sebagian besar orang seolah menjadi tanda tanya besar. 

Tetapi tidak demikian dengan perusahaan penerbangan Air New Zealand. Mereka berpendapat lain: mengapa tidak merangkul tanda tanya besar itu sebagai strategi memikat orang untuk kembali bepergian. 

Air New Zealand, maskapai penerbangan asal Selandia Baru, kembali menawarkan program yang mereka sebut mystery breaks program. Para wisatawan yang tertarik mengikuti program ini diminta untuk membayar biaya dengan harga flat fee untuk memesan seluruh paket liburan yang disusun perusahaan.

Uniknya, para pemesan harus sepakat untuk tidak mencari tahu kemana tujuan wisata mereka hingga dua hari sebelum keberangkatan. 

Perusahaan menyediakan paket berjenjang mulai dari great, deluxe atau luxury dengan harga paket terendah sebesar AU$ 599 atau sekitar Rp 6,2 juta. Para pelancong juga boleh memilih tanggal keberangkatan dan mengisi kolom tempat-tempat yang tidak ingin mereka kunjungi. 

Air New Zealand memiliki rute penerbangan domestik ke 20 tujuan wisata di Selandia Baru, termasuk Napier, kota yang terkenal dengan bangunan bergaya Art Deco atau Queensland, surga bagi para petualang, dan kota bersejarah Dunedin.

Para pelancong nantinya akan diinapkan di jaringan hotel Accor. Sementara kendaraan akan disediakan Avis, penyedia sewa mobil terkemuka. Kedua perusahaan ini telah lama bermitra dengan Air New Zealand.

Selandia Baru termasuk salah satu negara yang sukses mengendalikan penyebaran virus corona dengan menerapkan aturan pembatasan yang ketat terutama di perbatasan.

Hingga saat ini penduduk masih belum dapat melakukan perjalanan ke luar negeri kecuali beberapa negara bagian Australia yang telah dianggap aman.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan negara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa, ada 1.531 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di sana dan dari jumlah itu hanya ada 25 kasus kematian. 

Sejak Juni, pemerintah telah melonggarkan sejumlah restriksi. Kini, perjalanan domestik sudah kembali diizinkan. Meski demikian pemerintah masih membatasai perjalanan antar negara. 

Jadi, cara paling efektif untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata adalah dengan mendorong penduduk lokal melakukan perjalanan wisata di dalam negari

Tourism Industry Aotearoa (TIA), badan pariwisata nasional yang berisi para pelaku industri pariwisata, telah mengajukan bantuan kepada Perdana Menteri Jacinda Ardern yang baru saja terpilih kembali.

Salah satu permintaan mereka adalah agar pemerintah membagikan kartu kredit senilai US$ 200 bagi setiap warga negara untuk dibelanjakan pada hal-hal terkait pariwisata seperti hotel maupun pertunjukan.

 

 

Ketrampilan Apa yang Dibutuhkan Agen Travel Sekarang ?

this formate

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat travel dunia dilanjutkan, wisatawan mungkin merasa bahwa merencanakan perjalanan berikutnya menjadi lebih rumit dan sulit. Peraturan baru seputar pembatasan, persyaratan, karantina dan perjalanan, ketersediaan penerbangan.

Semua butuh waktu, pengetahuan dan pengalaman. Agen travel memiliki peran kunci dalam memenangkan kembali para pelancong.

Pengamatan ini, yang dilakukan oleh Amadeus dalam studi barunya tentang keterampilan agen travel dimasa mendatang, secara jelas.

Dilansir dari tourismreview, untuk berhasil memenangkan kembali para pelancong, para profesional pariwisata, dan lebih khusus lagi agen travel, harus mengandalkan beberapa keterampilan penting.

Empati

“Empati memainkan peran penting dalam merekonstruksi perjalanan yang berkesan – baik untuk bisnis maupun liburan,” kata Amadeus.

Tidak ada yang lebih penting daripada menempatkan diri pada posisi wisatawan, terutama pada saat keraguan dan ketakutan berlipat ganda sebelum atau selama perjalanan.

Dengan kontrol perbatasan yang selalu berubah, kebijakan perjalanan, dan pembatasan kesehatan, kontak dan pemahaman manusia menjadi yang terpenting.

Soliditas Tim

Dalam industri perjalanan, 50% eksekutif yang mampu berbicara mengatakan bahwa tim mereka adalah faktor kesuksesan terkuat mereka. Angka ini bahkan lebih tinggi di Eropa, di mana 63% eksekutif biro perjalanan mengatakan itu adalah faktor keberhasilan utama.

Mengelola krisis atau situasi yang sulit dalam menjalankan kembali industri, dan mempersiapkan masa depan tidak dapat dilakukan sendirian. Agen travel terbaik sebenarnya dikelilingi oleh rekan kerja yang dapat membimbing, memberi nasehat, mendukung serta membantu kapan saja.

Kemudahan Numerik

Keterampilan digital juga terbukti sangat diperlukan saat ini. Permintaan akan keterampilan ini meningkat untuk semua pekerjaan dan industri, termasuk bepergian.

“Dari percakapan kami dengan lebih dari 35 pemimpin biro perjalanan di seluruh dunia, banyak yang mengatakan bahwa mereka berjuang untuk memenuhi peran yang diperlukan untuk mengelola teknologi baru.

Menemukan keterampilan yang tepat adalah salah satu dari tiga perhatian teratas yang disorot dalam survei kami. Untuk membantu perusahaan dengan teknologi, perusahaan manajemen yang mengkhususkan diri dalam distribusi dan penjualan layanan perjalanan telah menerapkan Travel-19, sebuah interface yang menyediakan saran travel yang sering diperbarui dari berbagai sumber resmi.

Kehadiran di Jejaring Sosial

Jejaring sosial – yang sejalan dengan perkembangan teknologi di atas – juga diperlukan untuk kelancaran bisnis pariwisata. “Sementara banyak milenial memilih perjalanan mereka berikutnya berdasarkan bagaimana destinasi tersebut Instagramable .

“Promosi dari mulut ke mulut adalah bentuk rekomendasi yang paling dapat diandalkan, agen travel harus aktif di media sosial hari ini,” kata peneliti.

Keterampilan jejaring sosial harus diperoleh oleh semua tim yang berhubungan dengan pelanggan, dan tidak hanya oleh departemen pemasaran. Berbagi konten secara teratur di Facebook, Instagram, Twitter atau Tik Tok akan membangun loyalitas pelanggan dan menjangkau audiens baru.

Reaktivitas

Terakhir, agen travel harus mampu beradaptasi dengan tempat kerja yang selalu berubah dan mampu bereaksi dengan cepat. Secara khusus, mereka perlu terus memperbarui dan menyegarkan keterampilan mereka.

“Dalam pasar yang sulit, kemampuan untuk berpikir secara berbeda dan bereaksi lebih cepat akan menjadi kuncinya,” kata tim peneliti.

Kemampuan agensi untuk berkomunikasi dalam waktu nyata, memberikan informasi yang solid, dan tersedia setiap saat – singkatnya, menjadi responsif mungkin – akan memungkinkannya untuk memperkuat hubungan kepercayaan dengan kliennya.

 

Kemenparekraf Ajak Komunitas Film Gunakan Desa Wisata Sebagai Lokasi Syuting

this formate

Sutradara film nasional Hanung Bramantyo sebagai salah satu nara sumber ( Foto: Kemenparekraf)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Salaka.edu serta IFC Network menggelar kegiatan pelatihan dan peningkatan pemahaman bagi komunitas film dan pengelola desa wisata untuk optimalkan desa wisata sebagai lokasi produksi film.

Kegiatan bertajuk IN-FRAME (Indonesia Film Course and Incubation Programme) berlangsung di Yogyakarta pada 13 hingga 16 Oktober 2020 dengan melibatkan 20 peserta dari komunitas film yang berada di Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya seperti Magelang, Purworejo, dan Semarang.

Selama empat hari, peserta dibekali materi mengenai layanan produksi film dan desa wisata, layanan perizinan dan insentif, layanan lokasi dan produksi, hingga strategi pemasaran, dan sistem informasi dari para narasumber.

Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf, Syaifullah, dalam keterangannya, Selasa (20/10/2020), mengatakan, kegiatan ini memberi pemahaman kepada para filmmaker dan pengelola desa wisata mengenai manajemen dan pengelolaan lokasi syuting sebagai aset yang dapat dioptimalkan.

Bahwa lokasi film dapat memberikan efek emosional yang berpotensi menjadi pengungkit roda perekonomian dengan menghidupkan industri pariwisata dan pengembangan aspek ekonomi kreatif lainnya.

Telah banyak best practices dari industri perfilman nasional hingga mancanegara mengenai potensi ekonomi dari lokasi syuting bagi industri pariwisata dan pengembangan Intellectual Property (IP) lainnya.

“Saya harap sinergi antara filmmaker dan pengelola desa wisata dapat menjadi pengungkit bagi optimalisasi lokasi syuting,”ujar Syaifullah.

Terutama karena Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya, keindahan alam, kriya, serta kuliner merupakan salah satu lokasi favorit tempat pembuatan film (movie set) yang bisa menjadi magnet tersendiri untuk dikunjungi wisatawan, tambahnya.

Sutradara film nasional Hanung Bramantyo turut hadir sebagai salah satu pembicara. Ia berbagi mengenai studio syuting sekaligus Desa Wisata Gamplong yang diinisiasi bersama dengan warga desa terkait.

Membangun set lokasi bukan hal yang mudah dalam proses pembuatan film. Sayang sekali apabila set tersebut harus dihancurkan setelah proses syuting usai. Dari beragam referensi dan pengalaman pribadi, saya melihat lokasi syuting memberikan value tersendiri yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Untuk itu saya bersama warga desa Gamplong menginisiasi ini sekaligus sebagai penggerak perekonomian warga di sekitar,” ujar Hanung.

Hingga saat ini total terdapat 15 film dan iklan yang dibuat di lokasi tersebut. Sebagai lokasi wisata, Gamplong juga menarik banyak perhatian wisatawan.

Sebelum pandemi, jumlah wisatawan yang mengunjungi set lokasi film “Bumi Manusia”, “Sultan Agung”, “Habibie & Ainun 3”, hingga yang terbaru “Gatotkaca” ini mencapai lebih dari 40 ribu pengunjung tiap bulannya.

Meskipun sempat ditutup selama empat bulan dalam kurun waktu Maret hingga Juni, saat ini jumlah pengunjung masih lebih dari 20 ribu orang perbulan.

“Komunitas film di Yogyakarta dan sekitarnya relatif lebih berkembang dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Ekosistem perfilman di sini juga sudah cukup matang,” kata Hanung.

Dengan ditunjang aspek pariwisata yang juga sudah sangat berkembang, diharapkan Yogyakarta dapat menjadi pilot project yang baik bagi pengembangan lokasi syuting sebagai destinasi wisata dan ekraf lainnya, tambahnya.

IN-FRAME dilaksanakan di empat daerah, yaitu Bali, Yogyakarta, Danau Toba, dan akan ditutup di Jakarta dengan menghadirkan berbagai stakeholder pengembangan destinasi wisata dari lokasi syuting.

Kegiatan IN-FRAME di Yogyakarta merupakan lokasi kedua setelah sebelumnya diselenggarakan di Denpasar dengan cakupan sineas dan komunitas film dari Pulau Bali dan Nusa Tenggara.

 

 

Studi Ungkapkan Semakin Pentingnya Pelancong OTA dalam Pemulihan Ekonomi

this formate

Penelitian baru dari Grup Expedia menunjukkan bahwa pelancong OTA menghabiskan lebih banyak uang dan tinggal lebih lama, yang mengarah pada stimulus ekonomi untuk destinasi dan komunitas.

SEATTLE, AS, bisniswisata.co.id: Sebuah studi baru Expedia Group, bekerja sama dengan firma riset global BVA BDRC, meneliti kontribusi agen perjalanan online (OTA) untuk sektor perjalanan       dan pariwisata ( travel & tourism) AS.

Baik pola pengeluaran pelancong OTA maupun peran OTA dalam perjalanan pemesanan hotel. Penelitian tersebut menunjukkan semakin pentingnya pelancong OTA untuk mendorong pemulihan ekonomi bagi industri perjalanan AS.

Preferensi untuk OTA sedang meningkat

Dilansir dari Travel Daily News, berdasarkan penelitian, wisatawan 57 % lebih cenderung memesan hotel melalui OTA dibandingkan sebelum pandemi. Karena OTA menarik lebih banyak pelancong rekreasi, mereka berada di posisi yang tepat untuk menangkap satu-satunya segmen yang sedang bepergian.

Namun, motivasi pemesanan wisatawan lain yang muncul berkontribusi pada peningkatan preferensi untuk OTA, termasuk: Untuk mendapatkan tarif per malam terbaik (69%), Untuk mendapatkan kamar terbaik (40%),  Untuk membandingkan properti di satu lokasi (35%).

Motivasi lain termasuk mendapatkan poin reward (32 %), one-stop shopping (28 %), promosi langsung (26%), dan membeli paket penawaran, seperti penerbangan dan hotel, dalam satu transaksi (25 %).

Wisatawan OTA menghabiskan lebih banyak uang, tinggal lebih lama dan mendukung stimulus ekonomi. Penelitian mengungkapkan bahwa sebelum pandemi, wisatawan OTA menginap lebih banyak, menghabiskan lebih banyak di properti, dan menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat lokal dibandingkan dengan pemesan hotel langsung.

Wisatawan OTA akan menginap lebih room night dibandingkan dengan pemesan hotel langsung. Rata-rata, pelancong domestik OTA menginap hampir lima malam, sementara pemesan langsung menginap lebih dari empat malam.

Pelancong OTA internasional tinggal hampir tujuh setengah malam, dibandingkan dengan tujuh malam untuk pemesan hotel.

Pelancong OTA domestik mengeluarkan 16% lebih banyak per perjalanan daripada pemesan langsung dan, terlepas dari persepsi bahwa pelancong OTA mencari tarif yang lebih murah, mereka membelanjakan jumlah yang hampir sama dengan pemesan langsung untuk akomodasi.

Di dalam negeri, pelancong OTA lebih cenderung memesan hotel kelas atas, seperti layanan penuh atas atau mewah, daripada pemesan hotel langsung: 22 persen (OTA) vs 16 persen (hotel langsung).

Pelancong rekreasi OTA domestik menghabiskan hampir 5% lebih banyak untuk properti daripada pemesan hotel, termasuk fasilitas seperti kolam renang hotel, bar hotel, gym, layanan binatu, restoran, mini bar, dan spa.

Pelancong bisnis OTA internasional menghabiskan 5% lebih banyak untuk total perjalanan mereka sebelum pandemi. Semua pelancong bisnis OTA, baik internasional maupun domestik, menghabiskan 5% lebih banyak untuk pengeluaran harian.

Wisatawan OTA menghasilkan lebih banyak stimulus ekonomi untuk destinasi dan komunitas pendukung, menghabiskan lebih banyak untuk makanan dan minuman (+12 %), aktivitas (+6%), dan sewa mobil (+27%).

Pelancong OTA domestik adalah pelancong aktif, dengan berbelanja, mengunjungi atraksi budaya, dan mengambil bagian dalam masakan lokal di puncak daftar aktivitas perjalanan.

“Industri ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal dan menjanjikan, tetapi cara orang bepergian — dan cara mereka membuat keputusan — telah berubah,” kata Cyril Ranque, presiden, Grup Mitra Wisatawan di Grup Expedia.

“Sebagai bagian dari tujuan kami untuk menjadi mitra tepercaya bagi pemasok perjalanan, kami berdedikasi untuk menggali wawasan yang akan membantu mereka mengatur ulang strategi dan menarik wisatawan yang paling penting.”

Studi ini juga mengungkap wawasan tambahan tentang perilaku wisatawan yang muncul yang didorong oleh pandemi.

Poin-poin penting meliputi:

Kapan mereka akan pergi? Optimisme mencapai puncaknya pada bulan Juni dan secara bertahap dimoderasi pada bulan Juli dan Agustus. Di bulan Juni, 23% responden mengatakan akan bepergian dalam 1-3 bulan, 28 % mengatakan dalam enam bulan, dan 22 % mengatakan enam hingga 12 bulan.

Sisanya tidak yakin kapan mereka akan bepergian; mereka hanya tahu bahwa mereka ingin melakukannya pada suatu saat. Bagaimana mereka bisa sampai di sana? Sepanjang musim panas, lebih banyak orang Amerika bepergian dengan mobil, naik 20% pada Juni 2020 dibandingkan Juni 2019.

Dimana mereka akan tinggal? Hotel pasar menengah dan kelas atas masing-masing turun 13%  dan 30% . Anggaran dan kemewahan tetap menjadi jenis hotel yang paling dicari, dan akomodasi alternatif seperti persewaan liburan mengalami peningkatan preferensi yang berarti.

Dua pertiga wisatawan yang mencari akomodasi alternatif mengutip risiko yang lebih rendah dari paparan virus di daerah berpenduduk sedikit sebagai nilai jual utama.

Apakah mereka akan bepergian untuk bekerja? Perjalanan perusahaan berada pada jalur pemulihan yang tidak rata, yang ditentukan oleh tahapan saat pembatasan perjalanan dicabut.

Menurut penelitian global dari Egencia, perusahaan manajemen perjalanan korporat Grup Expedia, sembilan dari sepuluh perusahaan yakin tenaga kerja mereka akan kembali melakukan perjalanan bisnis pada Januari 2021.

Soalnya pembatasan pemerintah dicabut dan risiko terhadap karyawan menurun.Tren menarik muncul dari COVID -19 adalah flexcation, liburan diperpanjang yang memberikan manfaat liburan dan kepraktisan ruang kerja jarak jauh. Empat dari sepuluh pelancong yang disurvei untuk laporan ini cenderung memesan jenis perjalanan ini.

Pemerintah UEA Resmikan Nama Jalan Presiden Jokowi di Abu Dhabi

this formate

 

Hotel Ikonik di New York Ini Tutup Permanen Dihantam Corona

this formate

Hotel Roosevelt tutup selamanya (foto: CNN)

NEW YORK, bisniswisata.co.id: Tak tahan menghadapi tekanan berat akibat virus corona, Hotel Roosevelt di New York, Amerika Serikat (AS), yang telah beroperasi hampir 100 tahun akhirnya menutup pintunya secara permanen, alias tutup. 

Sejak 1924, Hotel Roosevelt telah menjadi saksi sejarah beragam peristiwa penting di kota dengan biaya hidup termahal di dunia itu. 

Hotel yang merupakan salah satu ikon kota New York ini pernah menjadi saksi sejarah yang tak pernah terlupakan. Pada pemilu presiden 1948, Gubernur Thomas Dewey menjadikan Hotel Roosevelt sebagai markasnya.

Di sana pula ia melakukan kesalahan memalukan saat mengumumkan dirinya telah mengalahkan Harry Truman yang sesungguhnya adalah pemenang pemilu presiden 1948.

Hotel Roosevelt juga muncul sebagai backdrop sejumlah film, di antaranya “The Irishman”.  Hotel ini dinamai sesuai dengan nama Presiden AS Theodore Roosevelt.

Imej hotel kerap muncul dalam banyak film Hollywood terkenal termasuk “Maid in Manhattan,” “Malcolm X”, dan “Wall Street.” dan  tradisi malam tahun baru pun dimulai di sana.

Guy Lombardo pemimpin band dan pemain biola terkenal keturunan Kanada-Amerika, untuk pertama kali di tahun 1929 memainkan dan menyiarkan lagu “Auld Lang Syne” di malam tahun baru. 

Itulah siaran Malam Tahun Baru secara nasional yang pertama di radio. Sejak saat itu dan seterusnya, orkestra pimpinan Guy Lombardo rutin memainkan lagu “Auld Lang Syne” di malam tahun baru hingga 1959.

Seolah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cakrawala kota Manhattan, Hotel Roosevelt memiliki arsitek yang menawan. Lokasinya pun sangat strategis, hanya beberapa menit saja dari Times Square dan Grand Central Terminal.  

Namun kini, Hotel Roosevelt harus menyerah mengakhiri kisahnya. Ia tak akan lagi menjadi saksi bagi sejumlah film maupun peristiwa bersejarah lain.

Hotel ini akan tutup permanen tahun ini, demikian kata juru bicara hotel kepada CNN dalam sebuah pernyataan. 

Hotel yang dimiliki Pakistan International Airlines ini menuding pandemi virus corona dan penurunan bisnis sebagai alasan utama mereka menghentikan operasinya.

“Karena lingkungan saat ini yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dampak tidak pasti yang terus berlanjut dari COVID-19, pemilik The Roosevelt Hotel telah membuat keputusan sulit untuk menutup hotel,” ungkap juru bicara hotel dalam penyataannya.

Ia menambahkan permintaan yang sangat rendah telah memaksa hotel ikonik ini menghentikan operasinya sebelum akhir tahun. ”Saat ini tidak ada rencana untuk pembangunan di luar jadwal penutupan.” 

Pandemi COVID-19 telah menghancurkan industri perhotelan dan memaksa banyak hotel di seluruh AS mengambil langkah drastis demi bertahan hidup. Tingkat hunian telah mencapai titik terendah. Banyak karyawan di industri ini dirumahkan bahkan diberhentikan.

Menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, industri rekreasi dan perhotelan telah kehilangan 7,5 juta pekerjaan pada April. Hingga saat ini, hanya sekitar setengah dari pekerjaan tersebut yang kembali.

Sebuah survei yang dilakukan Asosiasi Penginapan Hotel Amerika menunjukkan 74 persen hotel mengatakan akan melakukan lebih banyak PHK jika merekat tak mendapatkan bantuan dari pemerintah federal.

 

DK PWI : Wartawan Harus Jaga Jarak Dalam Kontestasi Pilkada

this formate

Ilhsm Bintang, Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. ( Foto: Tribun Sumbar)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dewan Kehormatan.  ( DK) PWI Pusat kembali mengingatkan pentingnya media dan wartawan agar menjaga jarak dalam kontestasi politik pilkada 2020. Seperti diketahui pilkada serentak akan digelar di 270 daerah baik provinsi, kota dan kabupaten di seluruh Indonesia pada tanggal 9 Desember 2020.

Rangkaian kegiatannya seperti kampanye saat ini tengah berlangsung hingga 5 Desember yang akan datang. Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat Ilham Bintang mengaku banyak menerima pengaduan mengenai keterlibatan wartawan dan bahkan pengurus organisasi wartawan dalam dukung mendukung pasangan calon di daerah.

“Khittah profesi wartawan dan pekerjaan jurnalistik sejak dulu adalah tidak memihak dan independen khususnya selama proses pilkada. Sikap itu untuk menjaga Pilkada berjalan demokratis, mengawasi azas jujur dan adil sehingga menghasilkan kepemimpinan daerah yang terbaik” kata Ilham seusai memimpin Rapat Dewan Kehormatan PWI Pusat Senin ( 19/10 ) yang digelar via zoom.

Rapat dihadiri Sekreraris DK Sasongko Tedjo, anggota Asro Kamal Rokan, Tri Agung Kristanto, Nasihin Masha dan Rajapane.

Harus mengundurkan diri

Bagi anggota dan pengurus PWI sendiri dari tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat, sudah jelas panduannya baik dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga, Kode Etik Jurnalistik dan Kode Perilaku Wartawan.

“Namun entah karena kurang sosialisasi atau besarnya godaan, Dewan Kehormatan mencatat masih terjadi pelanggaran yang dilakukan wartawan dan pengurus PWI,” tambahnya.

Seperti misalnya kasus yang sekarang sedang ditangani DK PWI Pusat yakni dukungan secara terbuka pengurus PWI di suatu daerah terhadap salah satu pasangan calon dalam pemilihan gubernur. Rapat DK telah merekomendasikan kepada Pengurus PWI Pusat untuk menindak tegas oknum pengurus dimaksud.

Ilham mengingatkan, mendukung saja tidak boleh apalagi menjadi tim sukses atau menjadi pasangan calon. Menurut PD PRT terbaru hasil Kongres PWI di Solo tanggal 27-30 September 2018, jika pengurus PWI bertindak partisan seperti itu, mereka harus mengundurkan diri bukan lagi cuti.

Keputusan yang lebih tegas itu tidak lain dikeluarkan demi menjaga integritas, martabat dan profesionalitas wartawan. Peran media hendaknya lebih ditekankan untuk mengawal terselenggaranya kontestasi politik yang jujur dan adil dan menyosialisasikan pasangan calon secara terang benderang agar masyarakat tidak salah pilih.

DK PWI Pusat mengajak insan pers untuk menjaga self interest distancing di musim pilkada seperti sekarang ini. Kalau perlu secara khusus memberikan panduan agar pilkada berlangsung aman karena di tengah pandemi.

DK PWI dalam kesempatan itu juga menyoroti masih banyaknya ketidakakuratan dalam pemberitaan bahkan pemelintiran berita sehingga menghasilkan bias informasi.

“Menjadi wartawan itu berat tanggung jawabnya. Dituntut selalu profesional, menjaga kode etik dan kode perilaku wartawan”, tandas Ilham Bintang.

Bimbingan Teknis Manajemen Panggung Dongkrak Profesionalisme Kerja

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Manajemen panggung mampu mendongkrak kapasitas dan profesionalisme kerja dan merupakan kebutuhan utama dalam penyelenggaraan seni pertunjukan dan kegiatan perhelatan acara hiburan, kata Mohammad Amin, Direktur Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan dan Penerbitan Kemenparekraf/Bekraf.

Berbicsra saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Panggung di Depok, Senin (19/10/2020), dia menjelaskan bidang ini menjadi penting karena berperan sebagai sebuah organisasi dalam pertunjukan.

“Pemahaman ini yang mengawal perwujudan ide seorang seniman atau kreator, mulai dari perencanaan, proses kreatif, pembangunan, hingga teknis pelaksanaan pertunjukan,” ujar Mohammad Amin.

Peran seorang manajer panggung pun menjadi penting karena mengkoordinir seluruh komponen artistik seperti set, property, lighting, sound, musik, artis, hingga jalannya sebuah pertunjukan.

Oleh karena itu tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menciptakan manajemen panggung profesional, yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Hal ini untuk meningkatkan pengalaman penanganan kasus-kasus dalam bidang seni pertunjukan. Maka dari itu diperlukan bimbingan teknis pelatihan/pengajaran teori dan praktik bagi para Manajer Panggung,” ujar Amin.

Pelaksanaan Bimbingan Teknis Manajemen Panggung dilaksanakan pada 15-17 Oktober 2020 di The Margo Hotel Depok dan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Pengajaran bimtek ini pun dilaksanakan dalam dua metode yaitu teori di hari pertama dan kedua, lalu praktik di hari ketiga yang dilaksanakan di aula Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Beberapa materi yang diberikan di antaranya Pengantar Dasar Manajemen Panggung, Persiapan Seorang Manajer Panggung Tugas dan Tanggung jawab, Sistem Kerja, Struktur dan Organisasi Manajemen Panggung, Mengelola Technical Week – Paperwork’s serta praktik sebagai Manajer Panggung melalui simulasi pertunjukan.

Amin berharap kegiatan bimbingan teknologi manajemen panggung ini dapat mendorong peserta memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan di bidang Manajemen Panggung secara standar profesional, sehingga mampu bekerja di bidangnya secara lebih baik.

“Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan iklim kerja manajemen panggung yang sistematis dan terprosedur sesuai standar kerja dan kebutuhan masing-masing pertunjukan. Hal ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam perkembangan dunia seni pertunjukan,” tutup Amin.

 

Wuhan, Kota Yang Paling Banyak Dikunjungi Wisatawan Domestik Selama Golden Week China

this formate

Tour ke  Menara Yellow Crane dan Universitas Wuhan paling banyak diminati wisatawan domesrik China. ( Foto: Skift)

WUHAN, China, bisniswisata.co.id: Meskipun ada kerinduan yang terus menerus akan turis asing, Wuhan telah menjadi kota yang paling banyak dikunjungi kembali pariwisatanya dari masa kelam dalam sejarah ibu kota porvinsi itu awal tahun ini. Pelajaran untuk Dunia? Ketika turis merasa aman, mereka akan kembali dalam jumlah besar.

dilansir dari skift, Wuhan, kota yang paling banyak dijauhi di China tengah yang menjadi pusat untuk wabah Covid-19 akhir tahun lalu, adalah kota China yang paling banyak dikunjungi selama hari libur nasional Golden Week

Menurut cerita Wall Street Journal, mengutip angka-angka dari otoritas pariwisata Tiongkok tentang kota berpenduduk 11 juta orang dan ibu kota provinsi Hubei. Statistik resmi pemerintah China memiliki jumlah kematian sebanyak 3.869 dan 50.333 terinfeksi dari virus korona selama empat bulan pertama wabah setelah isolasi 76 hari.

Pemerintah Wuhan, menurut Wall Street Journal, melaporkan bahwa 18,8 juta orang mengunjungi Wuhan selama hari libur nasional Golden Week 1-8 Oktober 2020 lalu.

Terlepas dari kenyataan bahwa turis Tiongkok bepergian ke dalam negeri untuk inkarnasi liburan 2020 alih-alih ke tempat-tempat liburan favorit seperti Thailand, Jepang, dan Vietnam, dan pengunjung internasional semuanya absen, pendapatan pariwisata di Wuhan turun sekitar 30 persen menjadi US$ 1,4 miliar.

Publikasi resmi China, mengutip permintaan yang terpendam dalam bentuk “revenge travel atau “revenge buying,” meramalkan dan memperkuat lonjakan perjalanan selama liburan.

Hal Itu mungkin telah memicu masuknya pengunjung ke Wuhan bersama dengan daya pikat pariwisata tradisional kota, dan beberapa kebanggaan nasional, dengan beberapa turis mengungkapkan dukungan yang baik untuk kota yang  tadinya dikepung masalah virus itu.

Namun, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China mengatakan Golden Week  2020, yang berlangsung selama delapan hari lebih lama dari perayaan 2019, melihat jumlah turis turun 21 persen menjadi 637 juta, menurut South China Morning Post. Belanja pariwisata juga turun 30 persen.

Kunjungan ke Wuhan Bukanlah Wisata Covid yang Suram

Kami melihat agen perjalanan online China Ctrip pada hari Sabtu menawarkan berbagai tur grup ke Wuhan melalui kereta berkecepatan tinggi dari Shanghai, misalnya, dan termasuk tour Menara Yellow Crane dan Universitas Wuhan

Seorang reviewer memuji pemandangan jalan dan sungai di sepanjang jalan pegunungan dari Yellow Crane Tower Park ke menara. Dengan sebagian besar toko tutup, distrik seni Hanyang tidak terlalu ramai.

“Saya pergi ke jalan Chu River Han sendirian, pemandangan malam sangat indah, lobsternya enak,” katanya.

Tidak seperti tour Pablo Escobar di Medellin, Kolombia, yang menjelajahi masa lalu yang  gelap kota narkotika itu, tidak ada tour Wuhan yang kami lihat membawa pengunjung ke pasar daging dan makanan laut, tempat pandemi mencatat kasus resmi pertamanya, atau ke kilasan Covid-19 terkenal lainnya.

Sebaliknya, Tripadvisor akhir pekan ini menawarkan tour harian mini-grup klasik di Wuhan yang meliputi Yellow Crane Tower, Museum Provinsi Hubei, dan East Lake, mulai dari US$139 per orang.

 

Bagaimana Industri Kapal Pesiar Mulai Menarik Pelanggan Baru?

this formate

Penumpang kapal pesiar bersantai di kolam renang di bawah udara cerah langit Norwegia.  (Foto : Lauren Bowman)

NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Saat jelajah kapal pesiar kembali dimulai, penggemar berat liburan di atas kapal akan menjadi yang pertama dalam antrean untuk naik.

Tetapi  untuk industri yang telah lama bergantung pada pelanggan baru untuk mendorong pertumbuhannya, akankah mereka yang belum pernah berlayar sebelumnya bersedia untuk memulai?

Akankah berita utama berbulan-bulan tentang karantina, tes onboard yang positif, dan berita sensasi soal virus membuat takut pemula untuk berada di atas kapal ?

Michelle Fee, CEO dan pendiri Cruise Planners, Perwakilan Perjalanan American Express, mengatakan pemula tidak akan menjadi fokus utama saat pelayaran pada awalnya dilanjutkan.

“Dengan tanda-tanda awal permintaan yang terpendam, dan fakta bahwa sebagian besar kapal akan berlayar dengan kapasitas yang dibatasi, penumpang kapal pesiar pertama kali tidak akan menjadi titik fokus – pilihan yang jelas adalah penumpang sebelumnya,” kata Fee dilansir dari travelpulse.

“Mereka tahu betapa amannya bepergian dengan kapal dan akan memiliki kepercayaan diri untuk naik, mengetahui sepenuhnya bahwa perusahaan pelayaran telah mengambil tindakan pencegahan yang luar biasa,” kata Michelle Fee,

Menurut dia bisnis pelayaran 2021-2022  memiliki dasar yang kuat, jadi sepertinya pihaknya tidak akan kesulitan mengisi kapal lagi, begitu pandemi ini sudah berlalu, tambahnya.

Pengatur waktu pertama akan mulai memesan lagi setelah semua kembali normal, dia memperkirakan.”Setelah semuanya tenang, dan akhirnya kembali normal, kapal penjelajah pertama kali akan sama menariknya, jika tidak lebih, dari sebelumnya,” tulis Fee dalam email.

Menurut dia dengan menerapkan semua protokol dan perubahan baru, kapal akan menjadi lebih menarik daripada sebelum pandemi. Mulai dari embarkasi yang mulus, latihan baru tanpa kerumunan, sanitasi pada level tertinggi, dan lainnya – rumor, mitos, dan persepsi negatif semuanya akan terbukti salah dan hilang. ”

Tentu saja, penasihat perjalanan profesional ini akan menjadi kunci pemulihan. “Penasihat perjalanan perlu fokus pada pemasaran yang menginspirasi bersama dengan menyajikan protokol kesehatan dan keselamatan yang diluncurkan oleh industri pelayaran,” kata Drew Daly, wakil presiden senior dan manajer umum Dream Vacations, CruiseOne dan Cruises Inc.

“Mereka harus menjadi ahli dalam tindakan yang diambil karena semua konsumen ingin diberi tahu tentang protokol apa yang diterapkan dalam semua aspek pengalaman liburan – termasuk penerbangan, hotel sebelum dan sesudah kapal pesiar, tour, dan onboard. ”

Fee dan Daly juga mengatakan kebijakan pembatalan yang santai akan meyakinkan klien baru yang melakukan pelayaran.

“Ya, ini jelas telah membantu penasihat kami menutup penjualan, jadi selama ada ketakutan tertular virus, perusahaan liburan harus memperpanjang kebijakan pembatalan fleksibel mereka,” kata Fee.

Daly setuju dengan pendapat itu dan menurut dia kebijakan pembatalan yang lebih fleksibel akan memberikan ketenangan pikiran kepada konsumen yang mereka butuhkan saat merencanakan liburan kapal pesiar mereka dalam jangka pendek dan panjang.

Keduanya mengatakan kampanye diperlukan untuk menyebarkan berita tentang langkah-langkah keamanan mungkin dipimpin oleh Cruise Lines International Association (CLIA) yang mewadahi semua perusahaan cruise.

Industri ini benar-benar memiliki beberapa pengendalian kerusakan yang harus dilakukan dan perlu menyampaikan kabar baik tentang protokol ketat yang akan diikuti oleh jalur pelayaran untuk terus berlayar seaman mungkin.

“Kami telah secara terbuka berbicara dan menganjurkan agar CDC mundur dari industri pelayaran karena berdampak negatif pada kepercayaan konsumen dalam berlayar dan bepergian secara umum, ”kata Fee.

Basis pelanggan setia “Cruise Planners ‘telah mendorong penjualan perjalanan di masa depan. Untuk mencapai yang baru dalam pelayaran, pihaknya membutuhkan persepsi publik agar aman untuk membantu industri tercinta kami pulih sepenuhnya dan dibangun kembali.

Di Cruise Planners, kami tidak menghentikan upaya pemasaran proaktif kami, tetapi telah beralih ke pendekatan yang lebih mendukung, mendidik, dan informatif. Satu hal yang sangat sukses adalah seri virtual Where2Next baru kami untuk klien penasihat perjalanan.

Daly menyimpulkan protokol keselamatan dan kesehatan yang akan diterapkan pasti perlu dipromosikan secara besar-besaran kepada konsumen.

Perusahaan kapal pesiar, CLIA, dan agen perjalanan semuanya harus secara kolektif membicarakan langkah-langkah tersebut dan berbagi seperti apa rasanya di dalam kapal pesiar.

“Konsumen ingin melihat seperti apa kehidupan di kapal dan membayangkan bagaimana pengalaman mereka akan terungkap. ” ungkap Daly.