Mencicipi ‘Chiken Fillet with Mushroom Sauce’ Yang Bikin Nagih di First Corner Coffee & Roastery

this formate

“Makanannya enak banget!” begitu kata seorang teman saat sedang menghasut saya untuk mengunjungi sebuah kafe milik mutual friend kami. Setelah seharian beraktifitas, wajar saja jika rasa lapar mulai menghantui kami dan membuat saya semakin penasaran. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menyetujui ajakannya dan beranjak mengikuti arahan.

Bergeser sedikit dari pusat kota BSD yang modern, saya dibawa ke tepian kota Bintaro Jaya Sektor 9 tepatnya di Jl. Kasuari yang dipenuhi pepohonan nan asri. Terlihat sebuah bangunan modern dengan kelap-kelip lampu bohlam menghiasi bagian depan bangunan. “First Corner Coffee & Roastery” namanya.

Saat memasuki kafe, kami disambut dengan kesan yang sejuk dan homey dengan bangunan yang baru saja direnovasi dan berkesan modern yang ‘instagrammable’ banget. Belum saja berjalan beberapa langkah, saya dikejutkan saat melihat beberapa wajah yang tampak familiar. Rupanya, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong rutin bagi sebagian teman kami dari SMA.

Salah satunya adalah Delvintor Alfarizi, yang tidak lain merupakan salah satu pemilik kafe. Ia merekomendasikan menu ‘Chicken Fillet with Mushroom Sauce’ hasil kreasinya sendiri. Saat saya cicipi, terjawab sudah ekspektasi tinggi saya saat membayangkan rasa dari menu ini. Chicken fillet mungkin saja kerap terasa kering dan keras jika tidak dimasak dengan benar, namun tidak dalam kasus ini. Saus jamur yang creamy menyelimuti potongan daging ayam lembut dan dilengkapi dengan roti panggang yang renyah.

Selain kopi dan makanan, kafe ini juga menyediakan berbagai cemilan seperti ‘Cinnamon Berry Pancake’, ‘Butterscotch Biscoff Waffle’, sampai ‘Bitterballen’ yang gurih. Saya memesan kopi Cappuccino sebagai pelepas dahaga yang cocok untuk dinikmati sambil menikmati senja dengan diselangi oleh obrolan hangat nostalgia masa sekolah.

Objek kunjungan wisata Ulun Danu

Ketika “Penghasil Devisa” Terlupakan

this formate

Oleh Paul E Talo

Di zaman Belanda – ketika negeri ini disebut Hindia Belanda –, biro perjalanan wisata (BPW) tidak dikenal. Hal wajar, karena warga negara Belanda tidak memahami bahasa Indonesia. Sebutan BPW alias “biro perjalanan wisata”, baru disempurnakan tahun 1987 oleh seorang tokoh pariwisata Indonesia, Direktur Jenderal Pariwisata dan Menteri Pariwisata Joop Ave.

 

BALI, bisniswisata.co.id: MASA pemerintahan Hindia Belanda, pemerintah merasa perlu menghadirkan perusahaan perjalanan yang disebut reisbureau. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “biro perjalanan” — tercantum di dalam Undang-Undang Pariwisata Nomor 9Tahun 1990 sebagai “Jasa Biro Perjalanan Wisata/BPW”, dan Undang-Undang Pariwisata Nomor 10Tahun 2009 disebut: Jasa Usaha Perjalanan Wisata.

Untuk memenuhi keinginan tersebut, tahun 1927 Lissone Lindeman — merger dua reisbureau  Belanda yaitu Lisonne dan Lindeman — diminta membuka kantor cabangnya di Batavia. Lisonne Lindeman  bertugas merencanakan dan melaksanakan perjalanan wisata bagi warga Belanda yang sedang bekerja atau menetap di Hindia Belanda.

Di tahun 1928 Lissone Lendeman di Batavia dilikuidasi dan diganti namanya menjadi Nederlandche Indische Touristen yang disingkat menjadi Nitour, Inc. Dalam perjalanan bisnis, Nitour, Inc bekerja sama dengan beberapa tour operator (TO) asing  antara lain Lissone Lindeman di negeri Belanda,Thomas Cook dari Inggris, American Express dari Amerika Serikat untuk mendatangkan wisatawan dari berbagai belahan dunia, berwisata di Hindia Belanda.

Beberapa dari wisatawan itu memilih menetap di Bali. seperti halnya: Hanns Snell, Walter Spies, Le Mayeur, Roever-Bonnet, Antonio Blanco(Piccard; 2006). Salah seorang wisatawan Miguel Covarubias setelah kembali ke negaranya  menulis bukuThe Island of Bali  yang menjadikan Bali popular sebagai destinasi wisata.

Setelah Indonesia merdeka, Nitour, Inc dinasionalisasi dan berkantor di ujung Jalan Majapahit Jakarta sampai hari ini. Nitour, Inc tetap menjalankan fungsinya mendatangkan wisatawan asing dari berbagai negara asal wisatawan, khususnya penanganan kapal pesiar. Perlu diketahui, selama perang dunia ke II dan masa pendudukan Jepang, tidak ada perkembangan pariwisata sama sekali.

Setelah Indonesia merdeka, praktis hanya Nitour, Inc yang dapat melaksanakan kegiatan sebagai travel biro. Di tahun 1947 Pemerintah Indonesia membentuk bagian hotel dan tourisme dalam lingkungan Kementerian Perhubungan. Pada tahun 1958 melalui Musyawarah Nasional Tourism ke II di Tretes kata tourisme diganti menjadi “pariwisata” (Prajogo; 1976). Di era tersebut, pemerintah mulai secara serius merencanakan pengembangan pariwisata di tengah kekurangan dan keterbatasan pemahaman hal kepariwisataan.

Langkah-langkah yang diambil antara lain menjadi anggota PATA (Pacific Area Tourism Association) tahun 1957. Masih menurut Prajogo, kata travel biro diperkenalkan pada waktu itu.

Di tahun 1960-an, muncul beberapa travel biro, misalnya: Pacto, Universal, Tunas Indonesia, Compass Travel, Bali Tour, Vista Travel, Vayatour, Dwi Daya, Anta Express,Satrya Tour & Travel Service, ISTA Tour & Travel, Insebu Travel, Pasopati Travel,Golden Bali Tour, Antarruang, Bali Hai dan lainnya, seiring dengan terbentuknya Direktorat Jenderal Pariwisata di bawah Departemen Perhubungan dengan Direktur Jenderal pertama M. J. Prajogo.

Beberapa perusahaan tersebut  bertahan hidup sampai sampai saat ini, ada pula yang menghilang. Di tahun 1970-an, jumlah travel biro bertambah dimana tahun 1974 PATA melaksanakan kongres di Jakarta dan loka karya di Yogyakarta serta Bali. Diajang tersebut, para pelaku pariwisata Indonesia belajar dan memahami arti pemasaran dengan hadirnya pemilik-pemilik perusahaan perjalanan dari Asia Pacific.

Beberapa perusahaan perjalanan luar negeri yang disebut wholesaler dan tour operator (Mill & Hill; 1977) mulai aktif mengirimkan wisatawan mereka melalui travel biro yang dianggap sanggup menangani wisatawan mereka.

Pertumbuhan usaha jasa travel biro makin berkembang di era tahun 1980, sehingga dilakukan penertiban pembukaan travel biro, dengan sejumlah persyaratan ketat antara lain: harus berbentuk perseroan terbatas, modal setor Rp. 500 juta, di depan kantor harus ditempatkan tulisan “Biro Perjalanan Umum” berwarna biru (pengganti kata travel biro). Izin operasional hanya diberikan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata di Jakarta.

Direktur Jenderal Pariwisata kemudian diganti oleh Ahmad Tirto Sudiro. Di masa kepemimpinannya, diadakan ASEAN Travel Forum (ATF) pertama di Genting Highland-Malaysia tahun 1981. ATF adalah pertemuan pejabat tinggi pariwisata dari seluruh negara-negara ASEAN.

Pararel dengan pertemuan tingkat menteri pariwisata, diselenggarakan pertemuan dagang antara pengusaha travel biro dari negara-negara ASEAN dengan para wholesalers dan tour operator dari seluruh dunia. Di sini adalah ajang saling bertukar informasi tentang keunggulan destinasi wisata, saling menjajagi kecocokan untuk menjadi rekan kerja dan waktu untuk membuat kontrak kerja sama.

Kantor Direktorat Jenderal Pariwisata mengikutsertakan pimpinan travel biro Indonesia dalam kegiatan tersebut. Yang hadir di Genting Highland, Malaysia adalah pimpinan travel biro dari Jakarta, Yogyakarta, Bali, Makasar dan Medan.

Tahun 1982 Dirjen Pariwisata Joop Ave menggantikan Ahmad Tirto Sudiro yang memasuki masa pensiun. Pada saat yang sama berlangsung kegiatan Pata Mart di Bangkok-Thailand, Joop Ave hadir di sana. Di sana, Joop berpidato di depan para delegasi dari Indonesia, isinya antara lain:”Saudara-saudara, saya ditugaskan Presiden untuk memimpin Direktorat Jenderal Pariwisata.Tugas saya bersama saudara adalah untuk mendatangkan devisa bagi negara. Saya menggantungkan harapan kepada saudara-saudara, karena saudara bertemu dan berbicara langsung dengan para wholesalers dan tour operators dari negara-negara asal wisatawan.

Merekalah yang menjual destinasi kita dan produk tour saudara kepada calon turis di negaranya masing-masing. Setelah mereka menerima informasi dari saudara tentang Indonesia, setelah mereka menerima paket wisata dari saudara, mereka akan menyesuaikan dengan keinginan turis-turis di negara mereka.

Mereka menjual, mempromosikan dan mengirim turis kepada saudara untuk menikmati perjalanan wisatanya. Para turis menikmati liburannya, saudara mendapat pembayaran dan keuntungan sedangkan negara mendapatkan devisa.Terima kasih saudara, pahlawan devisa”.

Sejak saat itu Joop Ave selalu mengharapkan atau membawa serta biro perjalanan wisata serta mendampingi mereka walau pun biro perjalanan itu membayar sendiri seluruh biaya perjalanan termasuk menyewa “booth, — kantor sementara selama 3 hari/selama ATF berlangsung — dengan biaya tinggi.

Plus, biaya-biaya lain seperti membuat materi promosi, berupa booklet, leaflet, confidential tariff yang pada masa itu masih dalam bentuk buku sehingga harus membayar kelebihan barang pada perusahaan penerbangan, biaya perjalanan selama beberapa hari dan ada pula perusahaan biro perjalanan wisata melakukan perjalanan lebih panjang dari jadual pertemuan untuk mendapatkan mitra kerja baru.

Dimasa kepemimpinan Dirjen Pariwisata Joop Ave, biro perjalanan wisata juga disebut Inbound Tour Operators (ITO) selalu hadir pada setiap kegiatan travel mart, baik penyelenggaraan dinegara-negara Asia dan negara-negara Pacific serta Asean Travel Mart atau Asean Travel Exchange, acara tahunan negara-negara Asean.

Selain ATF se ASEAN, kegiatan pemasaran produk wisata Indonesia juga dilakukan di ITB Berlin, WTM –London, Jata-Jepang, AFTA –Australia, BIT-Milan, ITIX dan Sea Trade di Amerika, Vacatiebeur di Belanda, BITE di Beijing-China, Matta Fair di Malaysia, Dubai Travel Fair dan sederet kegiatan pasar wisata di negara-negara lain yang berpotensi mengirimkan turis ke Indonesia.

Di dalam negeri pun terdapat kegiatan pasar wisata seperti JTX di Bandung, Borobudur Fair dan lainnya yang menghadirkan tour operator asing sebagai buyer. Joop Ave tidak pernah merasa malu dan bosan mendatangi semua delegasi Indonesia, baik dari inbound tour operator, hotelier dan pemerintah Provinsi atau kabupaten.

Menciptakan Produk Wisata

Di era kepemimpinan Joop Ave sebutan biro perjalanan umum diganti dengan biro perjalanan wisata/BPW. Dan tahun 1987, Direktorat Jenderal Pariwisata dikeluarkan dari Departemen Perhubungan, masuk dalam jajaran Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dibawah komando Ahmad Taher sebagai Menteri Parpostel.

Di tahun yang sama Menteri Parpostel mengeluarkan: SKKM-96/HK.103/MPPT-87 yang membagi 2 (dua) usaha perjalanan wisata: 1) Biro Perjalanan Wisata (BPW)  pasal 1 ad b yang berbunyi:” Biro Perjalananan Wisata adalah badan usaha yang menyelenggarakan usaha perjalanan ke dalam negeri dan atau ke luar negeri. Biro perjalanan wisata adalah terjemahan dari bahasa Inggris: tour operator.

2) Agen Perjalanan Wisata adalah badan usaha yang menjual paket wisata, tiket pesawat, tiket-tiket lainnya, dan voucher hotel. Agen perjalanan wisata adalah terjemahan dari bahasa Inggris (travel agent). Jenis usaha wisata ini tidak membuat paket wisata dan tidak menjalankan perjalanan wisata.

Di undangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan, menetapkan pasal 9, ayat 1 berbunyi: Usaha jasa pariwisata dapat berupa jenis-jenis usaha: a. Jasa biro perjalanan wisata, lalu pasal 11 berbunyi: “Usaha jasa Biro Perjalanan Wisata merupakan usaha penyedia jasa perencanaan dan atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan wisata.”Selanjutnya, Undang-Undang Pariwisata No. 10 Tahun 2009 pasal 13 menyebut usaha perjalanan.

Kata-kata biro perjalanana wisata tidak tercantum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun2009, namun di dalam Pasal 69 berbunyi: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 3427), dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Dengan demikian istilah biro perjalanan wisata tetap dipakai dan kegiatannya tetap sama yaitu merencanakan dan melaksanakan perjalanan wisata.

Dalam hal merencanakan dan melaksanakan/ menyelenggarakan perjalanan wisata ke dalam negeri (inbound) sesuai dengan penjelasan di atas, biro perjalanan wisata atau inbound tour operator kegiatan utamanya adalah menciptakan produk dalam bentuk paket wisata.

Paket wisata dikemas setelah melakukan survei, pengumpulan data, kunjungan langsung ke destinasi-destinasi wisata untuk mendapatkan data-datatentang fasilitaswisata, atraksi wisata dan aksesibilitas.

Menghitung dan menetapkan harga jual, lalu mendistribusikan produk melalui berbagai tempat seperti kantor perwakilan parwisata (VITO), kedutaan besar dan konsulat, wholesalers dan tour operators.

Melaksanakan tindakan promosi yang menurut Marketing mix, Kotler; 1984, adalah dengan menghadiri setiap kegiatan pasar wisata (travel mart) untuk memperbaharui kontrak kerja sama dengan partner lama, mencari dan bekerja sama dengan para wholesalers dan tour operators yang baru serta memperkenalkan produk baru.

BPW melakukan kegiatan promosi dengan biaya mereka sendiri. Melakukan perjalanan sendiri-sendiri, mengunjungi kantor-kantor perusahaan perjalanan di luar negeri dalam upaya memberikan penjelasan langsung produk wisata kepada pihak yang membutuhkan. Dalam hal ini mereka mempraktekan bauran promosi (Promotional mix, Kotler; 1984).

Pemerintah melakukan kegiatan pemasaran destinasi Indonesia, sedangkan biro perjalanan wisata, BPW (inbound tour operators) memasarkan produk usaha mereka agar tetap dapat hidup.

Penghasil Devisa Negara:

Dalam hubungan dengan rekan kerja di negara asal wisatawan, BPW hanya berkerja sama dengan wholesalers dan tour operators. BPW “tidak” pernah bekerja sama dengan travel agent.

Mereka —BPW– dapat bekerja dengan beberapa perusahaan wholesalers dan tour operators dari salah satu negara wisatawan, ada pula bekerja sama dengan perusahaan dari beberapa negara asal wisatawan yang berbeda.

Setelah wholesalers atau tour operators menentukan tanggal kedatangan para wisatawan, ada yang berseri (dengan jadwal kedatangan sepanjang tahun, dengan jumlah peserta yang ditentukan terlebih dahulu) atau kedatangan perorangan yang diminta berdasarkan tailor made, pegawai BPW melakukan pemesanan kamar di hotel.

Pemesanan itu bisa untuk satu kamar atau 15 kamar atau 30 kamar untuk satu kali kedatangan, dapat juga diminta dan dikontrak untuk selama satu tahun. Sebuah BPW dapat memesan 1 atau 2x di sebuah hotel, dapat juga memesan 10x atau 50x, dikalikan dengan jumlah kamar yang dibutuhkan.

Pernyataan ini untuk mengkonfirmasi bahwa pihak hotel menginapkan antara lain wisatawan yang dipercayakan BPW kepada hotel yang diinginkan. Pemilihan hotel dilakukan oleh biro perjalanan wisata atau oleh wholesaler/ tour operator, ada pula ditentukan oleh wisatawan.

Wisatawan yang menginap di sebuah hotel dibagi dalam 4 (empat) jenis bila ditinjau dari segi pemesanan:

1)Wisatawan yang dipesan oleh BPW.

2)Wisatawan yang dipesan oleh wholealers atau tour operators.

3)Wisatawan yang dipesan oleh online travel agent.

4)Wisatawan yang dipesan sendiri oleh wisatawannya sendiri.

Dalam hubungan dengan pembayaran pajak, pihak hotel membayar pajak penjualan dari keempat jenis wisatawan di atas. Hal ini juga terjadi pada restoran, tontonan, obyek wisata dan lainnya. Semua jenis pajak itu berasal dari wisatawan yang sebagian besar didatangkan oleh biro perjalanan wisata/BPW.

Belum ada penelitian yang memberikan perbandingan dari keempat jenis pemesanan di atas, tetapi berdasarkan asumsi berdasar pengalaman, kedatangan wisatawan dan pemesanan  kamar di hotel-hotel, dilakukan oleh biro perjalanan masih lebih dominan.

Atau diera milenial kita kembali kejaman Hindia Belanda, “menghilangkan” fungsi peran BPW sebagai penghasil devisa?

 

Penulis adalah:Praktisi dan Akademisi Pariwisata.

Kemenparekraf Gandeng Kemenlu dan SBM ITB Luncurkan Buku “Modelling a Healthy Creative Scene”

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan School of Business Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) meluncurkan buku “Modelling a Healthy Creative Scene”.

Buku ini merupakan salah satu upaya untuk memetakan komunitas kreatif di beberapa kota besar di Indonesia dengan karakteristiknya masing-masing sekaligus sebagai acuan bagi para pelaku ekonomi kreatif dalam memulai skena kreatif mereka sendiri.

Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf Baparekraf, Kartika Candra Negara, dalam webinar mengatakan buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pelaku ekonomi kreatif mengenai pentingnya skena kreatif sebagai ekosistem yang dapat memacu para pelaku untuk menggali potensi semaksimal mungkin dalam berkarya. “Skena kreatif dapat memberikan ruang yang aman bagi para kreator untuk menggali potensi dan berkarya secara maksimal,” kata Candra.

Candra menuturkan, buku ini merupakan riset dari tim Global Center of Excellence and International Cooperation for Creative Economy (G-CINC) yang terbentuk sejak 2019. “Pembentukan G-CINC ini sebagai bentuk komitmen dalam mengedepankan isu-isu sektor ekonomi kreatif dan berbagi praktik-praktik terbaik seiring dengan pengembangan kerja sama internasional pada sektor ekonomi kreatif,” katanya.

Selain itu, Candra juga mengungkapkan peluncuran buku yang dapat diunduh secara gratis di laman http://gcinc.id/ ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pelaku ekonomi kreatif dalam membangun suatu skena kreatif yang sehat dan dapat mendukung para pelaku yang tergabung dalam lingkup skena tersebut.

“Kami berharap buku ini dapat memberikan ide tentang cara mengembangkan suasana kreatif yang sehat dalam komunitas dan lanskap kreatif. Selain itu, buku ini juga diharapkan memberi gambaran bagaimana skena kreatif yang berkembang dapat membawa kesuksesan bagi seniman, pencipta, pelaku, dan komunitas secara umum,” ungkap Candra.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan, Komoditas dan Kekayaan Intelektual Kemenlu, Hari Prabowo, mengatakan peluncuran buku ini merupakan bukti sinergitas kementerian dan lembaga terkait dalam upaya memajukan sektor ekonomi kreatif di Indonesia sesuai dengan Resolusi PBB Tahun Internasional Ekonomi Kreatif bagi Pembangunan Berkelanjutan (International Year of Creative Economy for Sustainable Tourism – IYoCE) 2021.

“Kita perlu memastikan IYoCE menghasilkan implementasi yang berguna dan bermanfaat sehingga lewat peluncuran buku ini kita bisa melihat peran nyata G-CINC untuk memajukan industri kreatif di Indonesia agar dapat menarik perhatian dunia internasional,” kata Hari.

Sementara itu, Director of Business Incubator SBM ITB, Dina Dellyana, yang juga terlibat dalam penyusunan buku “Modelling a Healthy Creative Scene” ini menuturkan isi buku ini nantinya akan terus diperbaharui. Mengingat, data komunitas yang ada dalam buku ini akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

“Harapannya, buku ini dapat diperbaharui secara berkala dengan tambahan-tambahan praktik terbaik skena kreatif di kawasan Asia Pasifik. Sehingga buku ini dapat selalu menjadi referensi yang selalu relevan dari waktu ke waktu,“ ujar Dina.

 

Munculnya staycation: Mengapa perjalanan Domestik Jadi Norma Baru pada  2021

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menurut Organisasi Pariwisata Dunia, perjalanan internasional turun 22% pada kuartal pertama tahun 2020, dengan Maret saja mengalami penurunan 57%.

Hal ini menyebabkan kerugian sebesar US $ 80 miliar di seluruh sektor. Proyeksi saat ini untuk sisa tahun ini menempatkan penurunan perjalanan internasional antara 58% dan 78%.

Dilansir dari The Daily News, meskipun industri perjalanan internasional akan membutuhkan waktu untuk pulih, faktanya tetap bahwa orang-orang sangat ingin keluar dan pergi.

Dengan mayoritas dunia sekarang mengalami tingkat penguncian yang tidak terlalu ketat, hal ini telah membuka kemungkinan bagi orang-orang untuk bepergian di dalam negara mereka sendiri.

Perjalanan domestik sekarang sedang meningkat, meskipun perbatasan internasional mungkin ditutup, orang dengan cepat menemukan banyak hal untuk dijelajahi di halaman belakang mereka.

Sementara staycation secara tradisional berarti liburan yang dihabiskan di rumah, saat ini definisi tersebut telah diperluas untuk mencakup tinggal di dekat tempat Anda tinggal, atau di resor.

Bisa juga maksudnya kota yang berjarak beberapa jam. Banyak orang dengan cepat mengetahui manfaat staycation, dan hanya beberapa keuntungan yang ditawarkan oleh liburan lokal meliputi:

Tidak perlu terbang

Anda dapat mencapai sebagian besar tempat di suatu negara dengan mobil, meskipun beberapa tempat mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk dijangkau daripada yang lain.

Ini menjadikannya metode perjalanan yang menarik, karena Anda tidak dibatasi oleh ruang terbatas, dengan orang yang tidak Anda kenal, selama perjalanan.

Meskipun maskapai penerbangan bersikukuh bahwa pesawat mereka memiliki sistem penyaringan udara mutakhir yang menyaring udara di dalam kabin, tidak ada jaminan hal ini dapat membunuh semua kuman. Banyak orang akan merasa tidak nyaman saat menginjak pesawat sekarang, dan untuk alasan yang bagus.

Jika Anda berkendara ke tujuan, Anda memegang kendali penuh atas lingkungan Anda dan dapat membersihkannya untuk kepuasan Anda. Selain itu, tidak perlu menggunakan masker saat mengemudi. Karena banyak orang kesulitan memakai masker selama berjam-jam, ini adalah keuntungan yang sangat besar.

Tidak ada risiko penutupan perbatasan

Jika Anda bepergian secara domestik, tidak ada kemungkinan untuk tidak dapat kembali ke negara asal Anda jika perbatasan tiba-tiba ditutup. Berita tersebut penuh dengan cerita tentang para pelancong yang terjebak di negara-negara yang jauh dari rumah karena penutupan perbatasan

Soalnya hal ini dapat menyebabkan banyak komplikasi. Dalam beberapa kasus, para pelancong berada dalam kondisi limbo selama berbulan-bulan, menunggu untuk pulang.

Ini adalah kekhawatiran yang tidak akan memengaruhi wisatawan lokal, karena pergerakan mereka tidak akan diatur oleh penutupan perbatasan, atau perubahan tiba-tiba pada peraturan pemerintah. Jika wabah COVID-19 merebak atau ada peraturan baru yang diberlakukan, pelancong domestik akan jauh lebih dekat ke rumah

Mereka dapat kembali dengan selamat, dan pada waktu yang tepat. Ini mengurangi stres saat bepergian, dan membuatnya jauh lebih menyenangkan.

Pemotongan biaya

Menyinggung lagi poin perjalanan udara, jika Anda berkendara ke tujuan Anda tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk menyewa mobil.

Ini membuat perjalanan Anda jauh lebih terjangkau. Bensin juga umumnya jauh lebih murah daripada tiket pesawat, dan Anda dapat menganggarkan sesuai dengan jarak yang ingin Anda tempuh.

Saat Anda bepergian di dalam negara Anda, Anda tidak tunduk pada nilai tukar yang berfluktuasi, yang dapat sangat menambah label harga liburan Anda.

Perjalanan domestik tidak perlu membuat khawatir tentang dokumen tambahan seperti paspor atau visa. Hal ini membuat stres Anda berkurang, dan juga menghemat biaya.

Dengan industri perjalanan dalam kesulitan seperti itu, sejumlah besar perusahaan menawarkan penawaran atau diskon yang luar biasa. Untuk pelancong domestik.

Kesempatan untuk tinggal di hotel mewah atau makan di beberapa restoran terbaik mungkin dapat dijangkau untuk pertama kalinya. Peluang di dunia baru terbuka bagi penduduk setempat, dan dalam banyak kasus, mereka menjadi turis di kota mereka sendiri.

Mendukung lokal

Setiap industri, sektor, dan individu telah terpengaruh secara negatif oleh COVID-19 dengan satu atau lain cara. Sektor perhotelan, perjalanan, dan pariwisata telah terkena dampak paling parah, dan dalam beberapa kasus masih belum dapat beroperasi sepenuhnya. Dengan bepergian secara domestik, Anda mendukung bisnis lokal dan membantu mereka bangkit kembali.

Dari hotel hingga restoran, pub, dan tempat wisata lokal, semua orang akan mendapatkan keuntungan saat Anda bepergian di dalam negeri. Entitas ini mungkin sebelumnya hanya mengandalkan pengunjung internasional, tetapi sekarang, penduduk lokal akan menjadi sumber pendapatan utama mereka.

Perekonomian lokal membutuhkan semua bantuan yang bisa mereka dapatkan, dan daripada menghabiskan uang Anda di negeri asing, Anda akan membantu warga negara Anda sendiri menghadapi badai.

Mendorong eksplorasi lokal

Bagi banyak orang, perasaan berada di dekat rumah adalah perasaan yang aman, dan selama pandemi keamanan telah menjadi perhatian utama.

Seiring dengan berkembangnya peralihan dari perjalanan internasional ke domestik, orang akan menginvestasikan lebih banyak waktu dan upaya untuk menjelajahi lingkungan sekitar mereka karena mereka merasa lebih aman.

Di sebagian besar kota kecil dan kota besar ada banyak atraksi yang dilihat penduduk setempat sepanjang waktu, tetapi jangan dijelajahi. Sekarang, atraksi ini akan menarik perhatian lokal – dan pendapatan lokal.

Hal Ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan karena banyak orang akan menjadi pengunjung berulang ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah mereka pertimbangkan untuk dikunjungi.

Tren baru yang akan terus ada

Dapat dikatakan bahwa di tengah pandemi, kebiasaan bepergian berubah. Tidak ada yang tahu berapa lama pembatasan perjalanan internasional akan diberlakukan, dan kapan industri perjalanan akan kembali normal.

Namun, dapat dikatakan bahwa setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, perjalanan domestik akan mengalami pertumbuhan pesat, terutama selama musim perayaan.

Jika sebelumnya orang akan terbang secara internasional, fokus mereka sekarang adalah pada tujuan yang dapat mereka tuju, tanpa risiko penutupan perbatasan.

Untungnya, ada manfaatnya, dan alih-alih melihatnya sebagai sisi negatif, ini bisa dianggap positif. Bepergian ke dalam negeri meningkatkan ekonomi lokal, dan itu adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini.

 

Amadeus: Riset Konsumen Baru Ungkapkan  Teknologi Tingkatkan Kepercayaan Wisatawan Singapura

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id:  – Menjelang akhir tahun 2020, para pemimpin di pemerintahan dan industri utama bekerja untuk menentukan bagaimana orang dapat kembali bekerja dengan aman, terutama di sektir travel & tourism  (perjalanan dan pariwisata).

Di mana pekerjaan di bidang perhotelan, maskapai penerbangan, kapal pesiar, agen perjalanan, persewaan mobil, acara , atraksi dan banyak lagi, menyumbang 1 dari 10 pekerjaan di dunia sebelum COVID.

Dilansir dari Travel Daily News Asia, untuk mendapatkan lebih banyak wawasan tentang bagaimana industri perjalanan dan pemerintah dapat bekerja untuk membangun kembali kepercayaan wisatawan, Amadeus membuat penelitian.

Hal ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang perhatian utama wisatawan dan jenis teknologi apa yang akan membantu wisatawan merasa aman dan cukup nyaman untuk bepergian dan membantu memacu pemulihan sektor perjalanan

Diinformasikan oleh 6.000 pelancong di Singapura, India, Prancis, Jerman, Inggris, dan AS, studi tersebut menemukan bahwa teknologi memainkan peran penting dalam mendukung pemulihan.

Lebih dari 4 dari 5 (84%) wisatawan mengatakan teknologi akan meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk bepergian dengan menangani kekhawatiran seputar pencampuran dengan orang banyak, jarak sosial, dan titik kontak fisik. Sekitar 1.000 responden berasal dari Singapura.

Ketika ditanya tentang apa yang membuat mereka lebih cenderung bepergian, responden di Singapura mengatakan:

1.Ketersediaan informasi lengkap di titik pencarian, pemesanan, dan sebelum perjalanan adalah opsi yang paling banyak dipilih (56%) untuk mengatasi masalah, diikuti oleh pengalaman nirsentuh di hotel (52%) dan pengalaman pembayaran nirsentuh sepanjang perjalanan (51%). Sedangkan check-in bagasi jarak jauh adalah teknologi yang paling sedikit dipilih (23%).

2.Pengalaman nirsentuh adalah teknologi yang paling mungkin untuk meyakinkan pelancong bisnis, dengan lebih dari setengah (53%) memilih pengalaman nirsentuh di hotel, diikuti oleh 40% untuk pengalaman pembayaran nirsentuh.

3.Ketika memikirkan tentang apa yang orang ingin teknologi lakukan, melindungi data keuangan adalah perhatian yang lebih tinggi untuk generasi muda (Gen Z 45% vs Gen X 37%). Sementara pengurangan antrian dan kemacetan lebih tinggi untuk generasi yang lebih tua (Baby Boomers 50% vs Gen Z 39%).

4.Terkait keberlanjutan, teknologi yang membantu mengurangi dampak lingkungan dari perjalanan lebih penting bagi generasi muda (Gen Z 24% vs 13% Baby Boomers).

5 Aplikasi seluler untuk memberikan pemberitahuan perjalanan dan peringatan adalah teknologi yang paling dipilih untuk meningkatkan kepercayaan diri bagi 57% wisatawan Singapura, diikuti oleh pengalaman pembayaran nirsentuh (54%) dan naik seluler serta check-in swalayan (keduanya 48%) .

Khususnya, survei tersebut menemukan bahwa penerimaan dan preferensi teknologi berbeda menurut negara dan demografis, menggarisbawahi pentingnya personalisasi dalam mendapatkan kepercayaan wisatawan. Wawasan meliputi:

1. Rata-rata di semua negara yang disurvei, hampir setengah (47%) dari Generasi Baby Boom mengatakan bahwa mereka harus mampu menjaga jarak secara sosial atau fisik selama perjalanan, dibandingkan dengan kurang dari 3 dari 10 (27%) generasi Milenial.

Ini serupa dengan orang Singapura, karena hampir dua pertiga (58%) dari Generasi Baby Boom khawatir tentang pembatasan jumlah penumpang di pesawat untuk mengurangi kontak, sementara visibilitas tindakan sanitasi, kebersihan, dan keselamatan menjadi prioritas tertinggi untuk hampir setengahnya (47 %) dari Milenial.

2.Nirsentuh dan kenyamanan jelas penting bagi wisatawan Singapura: 46% ingin pembayaran nirsentuh / nirsentuh diterima di seluruh dunia dan 44% ingin satu identifikasi wisatawan digital universal di ponsel mereka. Wisatawan global tidak terlalu menghargai hal ini (masing-masing 37% dan 33%).

3.Selain itu, lebih dari setengah (52%) wisatawan di Singapura memilih pengalaman nirsentuh di hotel sebagai teknologi yang akan membuat mereka lebih mungkin untuk bepergian, sementara secara global ini hanya dipilih oleh 39% wisatawan.

4.Seperempat (25%) wisatawan Inggris dan lebih dari seperempat (26%) wisatawan AS mengatakan bahwa mereka paling menyukai teknologi untuk mengurangi kebutuhan mereka untuk memiliki dokumen fisik. Ini adalah prioritas yang lebih tinggi bagi warga Singapura, dengan 34% memilih ini, dan pelancong bisnis (38%) menilai ini lebih tinggi daripada pelancong rekreasi (32%).

5.Program tes, lacak, dan jejak yang efektif juga menjadi prioritas tinggi bagi hampir setengah (45%) wisatawan Singapura untuk merasa nyaman bepergian lagi. Wisatawan India (40%) dan wisatawan Inggris (38%) juga memberi peringkat tinggi, sedangkan wisatawan Jerman (29%), AS (28%) dan Prancis (26%) menilai ini lebih rendah.

6. Untuk wisatawan Prancis, proses pembersihan otomatis (36%) adalah yang paling populer dari opsi teknologi yang disarankan, sedangkan pilihan paling populer di Singapura adalah untuk aplikasi seluler yang memberikan pemberitahuan dan peringatan dalam perjalanan (57%, seperti yang disebutkan di atas).

Secara keseluruhan, tiga hal terbesar yang diinginkan pelancong Singapura dari teknologi adalah:

  1. Mengurangi antrian dan kemacetan di ruang publik (45%)
  2. Pastikan keakuratan dan efektivitas tes nasional, program lacak dan jejak (39%)
  3. Lindungi data keuangan dan informasi pribadi (37%)

Pada akhirnya, saat para pemangku kepentingan bekerja untuk memikirkan kembali perjalanan, hasil survei menunjukkan bahwa beberapa cara terbaik untuk membangun kepercayaan wisatawan di Singapura meliputi:

  1. Menyediakan akses ke perubahan yang fleksibel, kebijakan pembatalan dan ketentuan pembayaran untuk menghindari kehilangan uang (50%)
  2. Akses ke program pengujian, lacak, dan penelusuran yang efektif (45%)
  3. Kemampuan wisatawan untuk menjaga jarak secara fisik selama perjalanan (45%)

“Asia Pasifik diharapkan menjadi yang terdepan dalam pemulihan pariwisata secara global, dengan perjalanan regional dan domestik yang populer untuk perjalanan liburan dan bisnis,” kata Mieke De Schepper, Wakil Presiden Eksekutif, Perusahaan Perjalanan Online dan Direktur Pelaksana, Asia-Pasifik, Amadeus.

Tanda-tanda pemulihan bertahap menjanjikan dengan negara-negara yang perlahan membuka perbatasannya, termasuk Singapura, yang telah membentuk gelembung perjalanan dengan Hong Kong, dan baru-baru ini membuka perbatasannya untuk pelancong dari Brunei, Selandia Baru, Vietnam, Australia, dan China daratan.

Indikasi awal tunas hijau ini menyoroti kebutuhan untuk berkolaborasi di seluruh industri, sektor swasta dan publik, serta pemerintah, tentang cara terbaik untuk mengembangkan teknologi dan mempercepat adopsi jika kita ingin mendorong perjalanan dan kepercayaan konsumen, dan pada gilirannya mendorong kemakmuran global. ungkapnya.

“Amadeus telah bekerja sama dengan pelanggan dan mitra industri kami untuk memenuhi kekhawatiran yang ditunjukkan oleh penelitian konsumen ini,” kata De Schepper

Inovasi ada dalam DNA kami, dan kami menerapkan teknologi kami melalui berbagai inisiatif seperti aplikasi seluler, biometrik, atau solusi tanpa kontak untuk membangun kepercayaan wisatawan dan mempercepat pemulihan, tambahnya. 

Kiprah Seorang Diaspora Indonesia Berwirausaha Kopi Spesialiti di Kanada.

this formate

Oleh:  Bagas Hapsoro

VANCOUVER, Kanada, bisniswisata.co.id: . Dalam pertemuan bisnis antara para eksportir kopi Indonesia dan importir Kanada tanggal 19 Nopember 2020, terdapat kisah perjuangan diaspora Indonesia membuka usaha kopi. Wirausaha tersebut bernama Liza Wajong. Menetap di Vancouver sejak belasan tahun yang lalu. Saat berbicara dan berbagi pengalaman, maka yang disampaikan adalah: asal muasal kopi serta rasa dan aroma kopi Indonesia yang unik.

”Kopi yang enak menjernihkan pikiran setiap orang, dan yang lebih penting memberi pelanggan kepuasan”, kata Liza pemilik Cafe Coffee Nusa.

Setiap barista dan roastery di Kanada ingin menyajikan kopi yang beraroma enak dan bercita rasa bagus. Oleh karena itu masing-masing mempunyai langganan sendiri.

Sustainability adalah alasan lain bagi Liza untuk menjual produk kopinya. Yang dimaksud sustainability adalah hubungan yang berkelanjutan antara petani dan konsumen. Dengan konsep from farm to cup, Cafe Coffee Nusa menghubungkan titik-titik antara petani kopi dengan pembeli.

”Kami bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada kedua belah pihak tentang sumber serta preferensi khusus konsumen dalam perjalanannya dari kebon sampai dihidangkan di cangkir”, imbuh Liza.

Perdagangan langsung dengan petani kopi dengan pembeli berjalan dengan lancar saat membuka Nusa Cafe pada Januari 2017. Saat ini perusahaan kopi ini juga bekerja sama dengan Koperasi Arinagata – Aceh Gayo dan beberapa mitra lainnya.

Beberapa tips sukses yang Liza bagikan.

Merek kopi Indonesia mulai terhubung dengan masyarakat Vancouver saat mereka mengetahui keragaman kopi Indonesia. Sumatra Gayo sekarang memiliki keakraban yang lebih baik. Kopi Kerinci juga disukai. Kopi tubruk memiliki penggemar tersendiri.

Pada tahun 2018 KJRI Vancouver menyelenggarakan acara Kopi Spesial Indonesia yang didukung oleh ITPC Vancouver dan Liza Wajong bekerja sama dengan tim kopi dari Proyek TPSA Kanada.

Delta Coffee adalah roastery lokal di Vancouver yang memiliki 3 merek: Pacific Roastery (Specialty), Los Beans (Blends), dan Best Gourmet (Komersial). Nusa Coffee memiliki kemitraan jangka panjang dengan Delta Coffee Works.

Sebelum pandemi awal tahun ini, Nusa Coffee berhasil mengimpor 2 kontainer muatan Sumatera Gayo, Flores Bajawa, dan Madu Kerinci – Sumatera Barat. Ini menghasilkan sekitar 200 ribu transaksi .

Liza menambahkan bahwa pada Februari 2020, Delta Coffee dan Nusa Coffee memulai mengadakan perundingan dengan Swiss Water Decaf untuk Sumatra Gayo di pusat pemrosesan Swiss Water decaf di Burnaby, Kanada. Munculnya pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 menyebabkan kesepakatan tersebut masih belum dilaksanakan segera.

Pada Maret 2020, Nusa Coffee diundang oleh ITPC Vancouver untuk menghadiri acara ”Restaurant Canada Show” di Toronto, pameran dagang layanan makanan dan minuman terbesar di Kanada.

Tujuannya adalah untuk mengadakan penjajagan awal dengan operator kafe pembeli ramah lingkungan dan produsen kopi, sehingga perusahaan Liza dapat memperluas jangkauan distribusi biji panggang di Ontario. Namun semuanya masih tertunda karena Covid-19.

Pesan dari Liza Wajong dalam diskusi adalah perlunya peningkatan pengetahuan tentang kopi dan bisnis kopi. Pendidikan dan pengetahuan tentang kopi adalah mutlak. Berikutnya adalah solusi tentang harga kopi Indonesia yang tinggi.

Hal itu memang bisa dipahami mengingat jarak yang jauh, logistik dan pemasaran. Pesaing Indonesia juga banyak, antara lain Brazil dan Kolombia. Oleh karena itu bantuan pemerintah masih terus diharapkan.

Liza menyatakan penghargaannya kepada Konsulat Jenderal RI di Vancouver. Disebutkan bahwa Perwakilan RI tersebut selalu memfasilitasi dan membuat program berkelanjutan yang dapat mendorong promosi kopi. Kopi sekarang menjadi lebih personal untuk setiap individu.

Perlunya agrowisata

Dalam hal ini Kemlu memandang perlunya kunjungan importir kopi Kanada ke kebun kopi serta koperasi petani atau agrowisata. Kopi adalah minuman yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Tidak begitu banyak orang yang tahu atau mau tahu mengenai proses penanaman dan perawatan kopi, dari biji kopi yang dibudidayakan hingga masuk ke dalam mesin penggiling.

Agrowisata mengenai kopi diperlukan untuk mengakomodasi rasa ingin tahu para wisatawan mengenai kopi yang petani produksi. Tetapi, selain untuk kepentingan wisatawan, tentu pusat agrowisata juga dikelola agar terjadi peningkatan perekonomian petani lokal.

Dengan kata lain, selama mengadakan kunjungan wisatawan juga bisa menikmati kopi yang tersedia dan kalau memungkinkan ikut membeli kopi bubuk yang dijual dari kawasan agrowisata.

Beberapa komitmen awal yang telah disepakati :

Webinar berakhir dengan catatan positif, dengan komitmen dari Dellysa Prima Indonesia untuk mengekspor 20.000 produk kapsul kopi yang diperkirakan bernilai USD $ 200.000 ke mitranya di Kanada Barat, Archipelago Inc.

Kesepakatan itu akan membuat Kopi Spesialisasi Indonesia dijual melalui raksasa e-commerce Amazon di seluruh dunia khususnya di wilayah Amerika Utara.

Webinar menyambut baik gagasan untuk memiliki “Pusat Kopi” Indonesia yang berbasis di Vancouver untuk memfasilitasi hubungan bisnis dan mempromosikan kopi spesial di Amazon dan gerai lainnya.

Penulis adalah:  Mantan dubes Swedia dan Latvia, Kementerian Luar Negeri. Email: bagas.hapsoro11@gmail.com

 

Prabu Revolusi Luluh Hati Lihat Pariwisata Dunia Terpuruk Akibat Pandemi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mau menurunkan berat badan dengan cepat ? coba tanya pada Prabu Revolusi, yang belum genap dua minggu jadi Staf Khusus Komunikasi sekaligus Juru Bicara Kemenparekraf/Baparekraf.

” Berat badan saya sudah turun 5 kg, ternyata pekerjaannya nggak brenti-brenti,” katanya sambil tertawa saat diskusi bertajuk Jurnalisme Pariwisata di Era New Normal yang berlangsung di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (20/11/2020). Psrnyataannya langsung disambut tawa gerr… dari anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Forwaparekraf).

Wajah Prabu Revolusi langsung merespons ceria. Begitu jadi staf khusus dan juru bicara Kemenparekraf, namanya sempat ramai di WAGrup Forwaparekraf karena salah sebut namanya jadi Prabu Siliwangi yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun (1482-1521).

Pemilik nama lengkap Prabunindya Revta Revolusi yang lahir di Bandung pada 16 Juni 1980 ini bercerita penunjukkannya memang terasa cepat karena tiba-riba diundang datang ke gedung Sapta Pesona dan ditemui tiga tokoh utama sekaligus yaitu Mas Mentri nama akrab Menparekraf Whisnutama Kusubandio, Mbak Wamen Angela Tanoesoedibyo serta Sesmen Ni Wayan Giri Adyani.

Bagi penonton setia televisi, wajah Prabu Revolusi tentunya familiar karena dia tergabung di CNN Indonesia sebagai Senior News Anchor dan Head of Anchors sejak tahun 2015 yang tayang di Trans TV.

Dengan gayanya yang khas dan berwibawa saat membawakan berita, Prabu sukses membuat program berita tersebut menjadi semakin menarik. Suami dari aktris cantik Zee Zee Shahab ini Juni lalu telah berusia 40 tahun dan menjadi ayah dari dua anak.

Sebelumnya, Prabu juga sempat menjadi pembawa berita di Trans TV dan di Metro TV. Salah satunya adalah program berita yang bertajuk “Editorial Media Indonesia”. Jadi penugasannya sebagai jubir dan staff khusus Mas Menteri yang juga orang media diharapkan bisa klop dan langsung ‘lari’.

Apalagi pria multi talenta ini juga dosen di dua universitas swasta di Jakarta. Prabu mengampu mata kuliah yang sesuai dengan jurusannya, yaitu komunikasi, di samping juga menjadi pebisnis sebagai pengusaha kuliner, jasa pendukung sektor pariwisata.

Kepiawaiannya memasak di dapat dari sang ayah yang juga pandai memasak. Oleh sebab itulah mengapa Prabu memutuskan untuk berbisnis di bidang kuliner. Dia membuka resto bernama Fusion Steak, yaitu resto yang menyediakan berbagai menu steak dan juga kopi kekinian.

Nah sampai disini tak heran kan  mengapa Prabu tiba-tiba ‘ngantor’ di Gedung Sapta Pesona. Soalnya sejak mendapat instruksi dari RI satu agar beberapa Kementrian memerlukan juru bicara, Mas Mentri langsung memanggil Prabu Siliwangi eh Revolusi…..

“Teman-teman, mulai hari ini saya akan menjalankan tugas sebagai Staf Khusus dan Juru Bicara di @kemenparekraf.ri. Berharap sekali dukungan dari sahabat2 agar saya bisa jalanin tugas ini dengan baik,” tulisnya di akun Instagram @praburevolusi. ( 10/11/2020).

Singkat cerita Prabu mengaku langsung luluh hatinya ketika sang senior, Mas Mentri menceritakan bagaimana terpuruknya sektor pariwisata Indonesia dan dunia akibat pandemi global COVID-19 ini. Parahnya perkiraan pemulihannya nanti juga paling belakangan dari sektor lain.

Oleh sebab itu kegiatan perdananya bersama Forwaparekraf sekaligus menjadi sarana silaturahim dan kerjasama awal untuk menghadapi tantangan bersama dan musuh bersama si virus Corona.

Prabu Revolusi mengatakan, saat ini terdapat dua tantangan yang dihadapi media. Yakni era media baru dan New Normal. Desakan teknologi digital memberikan dorongan perubahan pada konsep ruang berita yang lebih tech savvy dan inklusif. Sementara New Normal akibat pandemi COVID-19 memaksa terjadinya disrupsi jurnalistik lebih cepat. 

“Ruang kolaborasi yang lebih kuat inilah yang nantinya akan kita terus bangun dengan media sehingga perspektif publik terhadap policy (kebijakan) pemerintah jadi semakin terbuka,” kata Prabu Revolusi. 

Saat ini adanya Forwaparekraf memungkinkan membuat  yang disebut Collaboration Newsroom. bisa saja Semua anggota  Forwaparekraf memasukkan berita wisatanyanya ke satu newsroom sehingga wartawan bisa lebih kreatif mengembangkan berita-berita pariwisata.

Fungsi pers untuk memberikan apresiasi ataupun kritisi juga bisa dioptimalkan. Jurnalisme penjaga atau yang lebih dikenal Watchdog Journalism ditingkatkan karena dalam UU Nomor 40 tahun 1999 pasal 22 tentang pers, fungsi dari pers yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan juga menjadi lembaga ekonomi atau bisnis.

Nah, dalam fungsi kontrol sosial tersebut terdapat makna demokratis di mana di dalamnya terdapat unsur-unsur berupa: Social Participation (keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan); Social Responsibility (pertanggungjawaban pemerintahan terhadap rakyat); Social Support (dukungan rakyat terhadap pemerintah); dan juga Social Control (pengawasan terhadap tindakan pemerintah dan masyarakat). Kerenkan ?.

Prabu lalu menerangkan lagi apa yang disebut News Commerce Platform. Di era digital ini semua orang bisa menjadi wartawan ( Citizen journalism). ” Kalau dulu namanya kontributor, penghasilannya lebih tinggi dari wartawan resmi media yang dipasok beritanya,” kata Prabu.

Menjadi independent journalist saat ini lebih menggiurkan dan mereka yang sudah punya nama tinggal datang ke News Outlet atau media yang mau membiayai gagasan dan liputannya sehingga dia bisa menghasilkan karya sesuai passion.

Prabu yang akrab dengan dunia fotografi juga mengingatkan lahirnya Prosumer Jounalist yang akrab dengan media sosial, membuat riview, vlog, video apalagi sekarang ini peralatan yang mendekatkan produsen (produser) dan konsumen ( consumer) juga tersedia.

Kamera prosumer misalnya  adalah kamera yang memiliki dua nilai sekaligus yaitu untuk para profesional layaknya DSLR dan untuk orang awam layaknya kamera pocket. Dari sana, maka sudah terlihat jelas kalau kamera prosumer menjadi  kamera 2-in-1.

” Intinya diperlukan penyesuaian pola ataupun medium komunikasi agar informasi dan layanan publik tetap berjalan dengan baik dan Forwaparekraf juga dapat meningkatkan kolaborasinya,” kata Prabu.

Prabu Revolusi paparkan Jurnalisme pariwisata di dampingi Kabiro Humas Agustini Rahayu ( Ayu) dan Johan Sompotan

Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu yang sengaja menggelar kegiatan ini untuk memperkenalkan jubir Prabu mengatakan acara ini sekaligus silaturahinisetelah 8 bulan aktivitas daring. Tentu saja berkumpul dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Setelah penunjukkan saya sebagai Kabiro Humas disusul langsung dengan pandemi COVID karena itu kita baru bisa jumpa sekarang,” kata wanita yang akrab disapa Ayu.

Dalam situasi pandemi COVID-19 yang membuat pergerakan masyarakat jadi terbatas, Ayu mengatakan pihaknya berupaya memberikan pelayanan publik yang prima bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang kepariwisataan dan ekonomi kreatif. 

Lahirlah beberapa layanan publik yang lahir diera pandemi seperti layanan call center melalui WA danbtask force serta website www.wonderfulimage.id agar publik bisa mengakses foto-foto keindahan Indonesia, ada Pesona E-Magz dan E-sadarparekraf.

” Kalau para senior dan pemerhati pariwisata minta kita mengaktifkan crisis center dimasa pandemi dengan struktur baru Biro Humas kami punya ‘mbak’ TIWI, singkatan dari Thoughtful Wonderful Indonesia yang menjawab pertanyaan 24 jam dengan memanfaatkan tekhnologi artificial intelligent ( AI),” kata Ayu.

“Mbak TIWI itu dapat memberikan layanan informasi dan pengaduan publik selama 24 jam dan terintegrasi dengan sistem lain yang ada di biro komunikasi,” jelasnya sambil menjelaskan Mbak TIWI memang maskot sosok wanita muda.

Pihaknya melakukan penyesuaian pola komunikasi terhadap masyarakat dan tidak terkecuali media sebagai salah satu mitra penting Biro Komunikasi dalam menyampaikan kebijakan dan program kementerian dalam upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Soal membentuk satuan tugas (task force) sejauh ini berjalan sebagai jembatan komunikasi bagi media untuk mendapatkan informasi tentang program ataupun kebijakan yang dijalankan Kemenparekraf maupun Baparekraf. 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani dan Ketua Forwaparekraf Johan Jhony Sompotan. 

Ni Wayan Giri Adnyani dalam kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan media, khususnya Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) sebagai salah satu unsur dalam pentahelix untuk berkolaborasi dengan pemerintah. 

“Kemenparekraf/Baparekraf sudah mengeluarkan panduan kesehatan berbasis CHSE. Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dukungan media selama ini dan tentunya berharap dukungan ini dapat terus berlanjut ke depan. Tentunya tanpa mengurangi peran media menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol sosial,” kata Ni Wayan Giri Adnyani. 

Prabu Revolusi mengatakan memang banyak sekali hal-hal yang harus dikomunikasikan ke publik setelah adanya pandemi ini. ementparekraf punya banyak program untuk disosialisasikan terkait event hingga protokol kesehatan.

“Banyak banget program-program di kementerian yang belum muncul ke publik ya. Saat ini saya diminta oleh mas Menteri dan mbak Wamen untuk bisa mengkurasi program-program di kementerian dan kemudian kita komunikasikan ke publik. Itu jadi tugas saya sekarang ini,” jelasnya.

Dia juga tidak menyangka bahwa Mas Tama dan Mbak Angela bekerja hingga larut malam  lebih dari orang “swasta”. Entah apakah dengan jabatan barunya ini Prabu Revolusi yang belakangan bermain film seperti Serigala Langit, bersama dengan Deva Mahendra dan sejumlah aktor lainnya masih bisa menyalurkan bakatnya itu. 

Ayah dari Kaisar Prabuditya Putra Revolusi dan Fauzi Khaleev Putra Revolusi ini pastinya harus menyamakan langkah dengan para seniornya itu dan mengikhlaskan sebagian besar waktunya untuk berbakti pada negara dulu.

 

 

Para Pecinta Kopi Dimanjakan Festival Kopi di Sleman City Hall

this formate

SLEMAN, DIY, bisniswisata.co: Sleman City Hall  memanjakan para pecinta kopi dengan acara Sleman Kopi Festival #2 yang berlangsung dari tanggal 20- 22 November 2020, ungkap Tika Sari,  Public Relations, hari ini.

Bagaimana tidak para pecinta kopi selama tiga hari disuguhi brand brand kopi beraroma sedap dengan cita rasa nikmat dari tenant-tenant yang bergabung dalam event ini.

Kopi, kini memang menjadi bagian dari gaya hidup anak muda terutama di kota – kota besar, salah satunya Yogyakarta Dalam beberapa tahun terakhir, tren minum kopi semakin marak ditandai dengan menjamurnya kedai – kedai kopi yang menawarkan berbagai konsep apik.

Sleman Kopi Festival #2.

Tahun ini merupakan tahun kedua Sleman City Hall mengadakan Sleman Kopi Festival, sedikit berbeda dengan tahun lalu, kaki ini  Sleman Kopi Festival dadakan di Garden Lt. 1, area semi outdoor yang nyaman bagi mereka para pecinta kopi untuk bisa bersantai menikmati udara sejuk sambil ditemani secangkir kopi

Berbagai acara mengisi event kopi ini mulai dari kompetisi hingga talk showi.

Kembali menggandeng Komunitas Kopi Nusantara, Sleman Kopi Festival #2 selain bertujuan untuk  memperkenalkan berbagai macam varian kopi dan tentunya juga untuk mengangkat potensi kopi lokal.

Harapannya agar produk kopi lokal dapat dilirik tidak hanya secara nasional namun hingga kancah Internasional tegas Tika Sari,  Public Relations Sleman City Hall.

Acaranya mulai dari kompetisi, talkshow hingga penampilan dari para bintang tamu yang turut memeriahkan di setiap harinya. Kompetisi utama yaitu Sleman Brewers Championship yang akan menghadirkan juri tingkat nasional.

Kemudian untuk kompetisi hiburan,  ada Fun Battle Aeropress dan Latte Art serta PUBG Mobile Offline Tournament. Selain kompetisi, juga ada talkshow pada hari terakhir yang akan mengangkat topik- topik menarik yang membahas terkait perkebunan dan proses paska panen industry roastery, peran barista dalam membangun industri kopi serta industri kopi di mata konsumen.

Pengunjung akan disuguhi penampilan dari Kranz, Kazzmir, Megantoro dan Megahits.Tentunya tidak melupakan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan selama acara berlangsung. Sebelum memasuki area mal pun, pengunjung telah melewati beberapa protokol kesehatan yang wajib dijalankan. 

Mulai dari wajib menggunakan masker, pengecekkan suhu tubuh, mencuci tangan di area yang telah disediakan serta menerapkan physical distancing. Saat memasuki area Garden pun telah disediakan handsanitizer serta terdapat team yang mobile untuk memastikan bahwa pengunjung setia Sleman City Hall menjalankan protokol kesehatan dengan 

Sleman City Hall merupakan pusat perbelanjaan yang menawarkan konsep yang unik dan bahkan berbeda dari mal – mal lainnya yang ada di Yogyakarta. 

Mall yang memiliki jargon Sleman City Hall – Pavilion of Jogja ini mengangkat kata pavilion sendiri yang mana memiliki arti pendopo, dimana pendopo sendiri merupakan tempat titik kumpulnya masyarakat untuk melakukan berbagai macam aktivitas didalamnya. 

Mengangkat dari kata pavilion tersebut. Sleman City Hall memiliki harapan agar kehadirannya dapat menjadi titik kumpulnya masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya. 

Lokasinya tepat berada di Jl Provinsi penghubung antara Provinsi DIY dan Jawa Tengah dan memiliki dua ballroom yaitu Kalama Grand Ballroom dan Malika Ballroom, dimana kedua ballroom tersebut menjadikannya satu-satunya mal di Yogyakarta yang memiliki fasilitas ballroom

 

Potret Suram Industri Hotel di Amerika Serikat

this formate

JAKARTA, bisniswista.co.id: Survei terkini Asosiasi Hotel & Penginapan Amerika (AHLA) menunjukkan kesuraman industri perhotelan di Amerika Serikat (AS), setidaknya hingga enam bulan ke depan. Jika keadaan tak membaik, 71% hotel diperkirakan akan tutup. 

Kasus COVID-19 di AS terus bertambah, Amerika menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia. Data terkini menunjukkan ada 11.679.041 orang terinfeksi virus corona. Dari jumlah itu, 254.070 orang di antaranya meninggal dunia.  

Pandemi COVID-19 telah menghantam banyak usaha. Industri perhotelan termasuk sektor yang pertama dan terdampak cukup parah. Banyak pakar bahkan memproyeksikan pemulihannya akan butuh waktu lama. 

Para pemilik hotel berjuang untuk tetap beroperasi di tengah permintaan kamar yang menurun drastis. Data terkini menunjukkan tingkat hunian saat ini hanya 44%.

Survei AHLA menunjukkan tujuh dari 10 pemilik hotel mengaku tak akan bisa bertahan dalam enam bulan ke depan jika pemerintah federal tidak memberi bantuan keuangan. Sedangkan 77% hotel melaporkan akan mem-PHK lebih banyak karyawan dalam waktu dekat.

Bahkan hampir separuh responden menyatakan akan segera menutup hotel mereka. Lebih dari sepertiga responden bahkan mengaku sudah bangkrut atau akan menjual hotelnya pada akhir tahun.

Survei AHLA melibatkan lebih dari 1200 responden yang terdiri dari pemilik hotel, operator, dan karyawan. Survei yang dilakukan pada 10-13 November 2020 menghasilkan sejumlah poin penting, antara lain:

Lebih dari 2/3 hotel atau 71%  menyatakan hanya akan mampu bertahan selama 6 bulan. Proyeksi ini didasari pada perhitungan pendapatan dan tingkat hunian yang rendah pada saat ini. Sementara 34% lainnya menyatakan hanya mampu bertahan antara 1 hingga 3 bulan ke depan.

Jumlah staf hotel yang bekerja full-time berkurang drastis. 63% hotel menyatakan hanya memiliki kurang dari separoh pekerja full time.

Sebanyak 82% pemilik hotel mengatakan tak lagi memiliki keringanan pembayaran hutang setidaknya hingga akhir tahun. Itu berarti ancaman bagi keberlangsungan hotel. Sedangkan 52% responden menyatakan hotel akan ditutup jika pemerintah tak memberikan bantuan tambahan dan 98% pemilik hotel mengaku akan mengajukan program pinjaman tahap kedua 

Gambaran menyedihkan ini diperkirakan akan terus berlangsung. Apalagi, banyak warga Amerika sudah menyatakan tidak akan melakukan perjalan selama musim liburan tahun ini.

Survei terkini menunjukkan 72% warga Amerika tidak akan melakukan perjalanan di liburan Thanksgiving dan 69% tak akan bepergian selama liburan Natal. 

Sementara itu perjalanan bisnis maupun group tour masih belum akan terjadi hingga 2023. Ini berarti potret suram masih membayangi industri perhotelan di Amerika Serikat.

 

 

UEA memperpanjang pembebasan denda bagi pelanggar visa hingga 31 Desember 2020

this formate

ABU DHABI, bisniswisata.co.id: Orang-orang yang telah tinggal secara ilegal di UEA setelah visa mereka kedaluwarsa sebelum 1 Maret 2020, memiliki waktu hingga akhir tahun ini untuk meninggalkan negara itu tanpa membayar denda, ungkap Otoritas Federal untuk Identitas dan Kewarganegaraan (ICA) UEA.

Dilansir dari Gulf News, sesuai dengan perintah Kabinet sebelumnya, batas waktu adalah 17 November namun tenggang waktu diperpanjang hingga akhir tahun berjalan (31 Desember 2020).

 Mayor Jenderal Saeed Rakan Al Rashidi, Direktur Jenderal Urusan Luar Negeri dan Pelabuhan di Otoritas Federal untuk Identitas dan Kewarganegaraan (ICA), mengatakan perpanjangan masa tenggang berlangsung hingga akhir tahun ini.

Jangka waktu perpanjangan bagi pelanggar yang melebihi batas tinggal telah diperpanjang hingga akhir 31 Desember 2020. Perpanjangan ini untuk mereka yang melanggar undang-undang masuk dan  orang asing yang tinggal sebelum 1 Maret 2020.

“Mereka akan dibebaskan dari semua denda asalkan mereka keluar dari negara ini sebelum batas waktu, ”kata Mayjen Al Rashidi dalam sebuah pernyataan.

 Sesuai pernyataan tersebut, perintah tersebut berlaku untuk orang-orang yang telah tinggal secara ilegal di negara itu setelah visa mereka – kunjungan, turis atau tempat tinggal – telah berakhir sebelum 1 Maret tahun ini.

Mayor Jenderal Al Rashidi mengatakan bahwa perintah kabinet untuk memperpanjang masa tenggang datang setelah arahan dari para pemimpin negara untuk memberikan kesempatan kedua bagi pelanggar untuk mengubah status mereka.

Dia berterima kasih kepada para pemimpin UEA atas kebijakan baru tersebut, dengan menunjukkan bahwa ini adalah kesempatan baru bagi pelanggar untuk mengubah status mereka sebelum akhir tahun.