Bendera Hitam Berkibar di Pantai Pasir Putih, Pertanda Apa?

this formate

JEMBER, bisniswisata.co.id: Bendera hitam kini berkibar disapu angin laut di destinasi wisata bahari Pantai Pasir Putih Pamuma Jember, Jawa Timur (Jatim). Bendera ini terpaksa dipasang mengingat kondisi cuaca saat ini tidak bersahabat. Bendera ini pertanda agar wisatawan yang berwisata di Pantai yang indah ini agar berhati-hati, meningkatkan kewaspadaan. Bendara hitam itu juga himbau kepada nelayan.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengimbau kepada wisatawan agar waspada, juga kepada nelayan tentang bahaya cuaca buruk saat melaut yang dapat menyebabkan kecelakaan laut hingga berujung pada kejadian tak diinginkan. Dengan harapan bendara hitam dikibarkan agar tidak nekat ke laut.

“Kami sudah memberikan peringatan dengan memasang bendera hitam ya. Itu tanda cuaca buruk. Bagi wisatawan yang ingin tetap melihat laut ya harus waspada. juga bagi nelayan masih nekat melaut karena untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,” papar AKBP Kusworo Wibowo di Jember, Ahad (21/10/2018).

Mengingat saat terjadi kecelakaan laut, nelayan tetap melaut pada keesokan harinya untuk mencari ikan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan nelayan saat cuaca buruk. Karena itu, pihaknya mencari solusi pekerjaan alternatif bagi nelayan pada saat cuaca buruk. Seperti pengembangan ekowisata dengan tetap memperhatikan lingkungan.

“Kami menggelar kegiatan cangkrukan bermutu atau disingkat Cerutu menyerap aspirasi nelayan dan memberikan solusi kepada nelayan saat menghadapi musim paceklik dan cuaca buruk,” kata Kusworo di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma) Jember, dilansir Antara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jember Murtadlo menyampaikan kapasitas ikan Kabupaten Jember mencapai 40.000 ton berdasarkan survei. Namun fakta di lapangan saat ini ikan yang berhasil ditangkap nelayan mencapai 22.000 ton karena adanya ombak besar dan cuaca tidak menentu.

Terkait dengan kejadian kecelakaan laut, sebenarnya Pemkab Jember telah menyediakan rompi pelampung, namun para nelayan enggan menggunakannya. “Pemkab Jember telah mengalokasikan jaket pelampung dan asuransi nelayan menggunakan anggaran APBD. Saat ini nelayan yang mendapatkan asuransi sebanyak 3.800 nelayan dari 8.000 nelayan di Jember,” ujarnya.

Kegiatan “Cerutu” tersebut diakhiri dengan pembagian bahan pokok kepada 120 nelayan di pesisir Jember, sehingga diharapkan dapat membantu nelayan selama cuaca buruk dan musim paceklik.

Pariwisata Jember, tidak terlalu populer. Justru terkenalnya Jember Fashion Carnival. Padahal, Jember juga memiliki wisata bahari pantai yang menakjubkan keindahannya. Salah satunya Tanjung Papuma. Pantainya yang memiliki pasar putih itu masih sepi dengan wisatawan.

Pantai ini memiliki keunikan, karena letaknya menjorok ke laut. Papuma sendiri memiliki akronim Pasir Putih Malikan.
Pantai ini terlihat eksotis karena memiliki laut menawan dengan air kehijauan dan kebiruan. Menariknya, saat berada di Pantai akan melihat batu karang atau atol-atol yang berada di dekat pantai seperti pulau-pulau karang.

Traveler yang datang ke sini, akan melihat sederet pulau karang besar eksotis yang memiliki nama masing-masing, Pulau Narada, Pulau Nusa Barong, Pulau Batara Guru, Pulau Kresna, Pulau Kajang, dan Pulau Kodok. Deretan pulau karang tersebut akan terlihat indah jika bongkahan karangnya diterjang ombak besar. Biasanya, ini menjadi spot menarik bagi traveler yang datang ke sini.

Meski pantai ini terlihat indah, siapa sangka di balik ini semua terdapat cerita mistis yang menyertainya, salah satunya terkait dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul, yang konon kerap mengambil korban. Tak hanya itu, ada juga cerita tentang pulau tak bernama yang dihuni ular-ular berbisa. Menarik bukan, tapi ingat bendera hitam. (EP)

Kunto Aji Beberkan Kiat Menulis Lagu

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Penyanyi asal Yogyakarta jebolan ajang pencarian bakat Tanah Air, Kunto Aji membeberkan kiat-kiat menulis lagu. Kunto mengatakan pemilihan tema yang tepat menjadi kunci kesuksesan album Generasi Y yang berisi sembilan lagu dan dirilis pada 2015 itu.

“Temanya milenial. Pada saat itu marketnya sangat besar sekali, mereka yang sedang mengalami quarter life crisis,” kata Kunto dalam Bincang Shopee edisi Sumpah Pemuda “Inspirasi Nada, Karya Pemuda,” di Jakarta, Sabtu (20/10/2018).

Selain tema, Kunto Aji mengatakan dalam menulis lagu harus memperhatikan perspektif, dinamika dan konklusi/tidak konklusi. Tema yang menjadi payung atau ide besar sebuah album kemudian dibagi menjadi subtema yang tidak jauh dari tema milenial. Sebagai contoh, lagu “Akhir Bulan” di mana Kunto Aji ingin menulis lagu tentang hedonisme.

Seperti dilansir laman Antara, Tema lagu seperti ini pernah disampaikan Efek Rumah Kaca (ERK) lewat lagu “Belanja Terus Sampai Mati.” Untuk itu, Kunto Aji mengaku ingin menulis sesuatu yang berbeda dari sudut pandangnya sendiri.

“Saya tidak mau terlalu berat, tidak mau menggurui, mengambil perspektif diri saya sendiri. Mengambil waktu saya kuliah, akhirnya saya memuat lagu yang bisa mewakili milenial karena menempatkan diri saya sendiri sebagai pelaku,” ujar bapak satu anak itu.

Tema umum, percintaan misalnya, selalu dapat dibuat lagu dengan sudut pandang bermacam-macam. “Cukup jengah dengan tema cinta yang mainstream, yang selalu pihak yang tersakiti. Bisa dibuat sesuai personalisasi saja. Patah hati enggak harus menye-menye,” kata Kunto Aji.

Selanjutnya, dinamika dalam menulis lagu, dinilai penting bagi Kunto Aji. Dinamika yang dimaksud termasuk absennya lirik dalam sebuah lagu. Menurut dia, melodi musik dapat berbicara untuk menyampaikan pesan lagu kepada pendengar. “Selain rap, jeda itu sangat penting dalam sebuah lagu karena orang butuh mencerna lirik yang didengar untuk dapat masuk ke kepala,” katanya.

Terakhir, konklusi sebuah lagu perlu disertakan dalam lirik. Konklusi, menurut Kunto Aji, tidak harus menjawab problem dalam lagu, tapi bisa saja menggantung. “Konklusi tapi masih menggantung perasaan itu justru akan mengganggu pendengar yang justru membuat sebuah lagu kuat. Mungkin kalau mereka tidak merasakan hal itu, mereka mengingat momen saat merasakan hal itu,” ujar Kunto Aji.

Contohnya, dalam lagu “Terlalu Lama Sendiri” di mana lirik “Jauh di lubuk hati aku tak ingin sendiri” menjadi penutup lagu dapat penghargaan Song of the Year” pada Indonesia Choice Awards 2015. “Inti dari menulis lagu adalah kegelisahan. Apa yang saya pelajari membentuk kita sebagai penulis. Cobalah menemukan jati diri sendiri,” kata penyanyi berlatar belakang pendidikan D3 Akuntansi. (EP)

Pikat Wisatawan agar Datang, Museum Sangiran Berbenah

this formate

SRAGEN, bisniswisata.co.id: Museum Purbakala Sangiran di Sragen, Jawa Tengah (Jateng) terus berbenah untuk memikat wisatawan nusantara, macanegara maupun pelajar dan mahasiswa agar datang. Museum manusia purba berdiri di lahan seluas 1,75 hektare tersebut terakhir direvitalisasi pada tahun lalu. Pada revitalisasi tersebut, pengelola fokus pada penambahan dan penggantian display.

“Tahun ini, lebih kepada perawatan fosil. Untuk perawatan tersebut, dana yang dibutuhkan dalam satu tahun sekitar Rp40 juta. Menurut dia, penggantian display akan kembali dilakukan pada tahun depan dengan anggaran sekitar Rp500 juta,” papar Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Muhammad Hidayat saat ditemui di Sragen, Sabtu (20/10/2018)

Dilanjutkan, Museum Purbakala Sangiran sebetulnya terdiri dari lima klaster, yaitu Klaster Krikilan, Klaster Dayu, Klaster Ngebung, Klaster Manyarejo, dan Klaster Bukuran. Meski demikian untuk kelima klaster tersebut tersebar di beberapa wilayah dengan jarak masing-masing sekitar 5 km dari Museum Sangiran itu sendiri.

“Yang disebut orang Museum Sangiran ini sebetulnya Klaster Krikilan. Klaster ini sifatnya lebih umum, yaitu tentang kekayaan fosil yang ada di Sangiran,” katanya seperti dilansir laman Antara.

Jumlah pengunjung Klaster Krikilan di hari biasa sekitar 1.000 orang/hari, sedangkan pada hari libur bisa mencapai 5.000 orang/hari. “Pengunjung ini kebanyakan yang datang ke Klaster Krikilan. Kalau untuk klaster lain sebetulnya juga terbuka untuk umum tetapi kendalanya akses jalan agak sempit dan kondisi jalan juga kurang bagus,” paparnya.

Selain itu letaknya tidak dalam satu wilayah, jadi butuh waktu lama kalau ingin mengunjungi seluruh klasternya. Untuk Klaster Krikilan terdiri tiga ruangan. Untuk ruangan pertama berisi tentang kekayaan alam yang ditemukan di Sangiran, ruangan kedua menceritakan proses kemanusiaan mulai dari terbentuknya bumi hingga manusia sekarang, dan ketiga adalah diorama menceritakan masa keemasan manusia purba.

Hidayat mengatakan dari ratusan fosil yang dipamerkan, sebagian di antaranya asli dan sebagian lagi merupakan replika. Ia mengatakan replika tersebut kebanyakan dari fosil tubuh manusia.

“Untuk fosil tengkorak manusia purba yang kami pamerkan kebanyakan tiruan tetapi bentuknya sama dengan yang asli karena pembuatannya dengan proses cetak. Kami tidak berani memamerkan yang asli karena alasan keamanan, selain itu ada yang sudah rawan rapuh,” katanya.

Sedangkan untuk koleksi asli yang dipamerkan merupakan fosil binatang, di antaranya gajah, sapi, kerbau, dan rusa. Selain itu, ada pula berbagai alat yang digunakan oleh manusia purba untuk beraktivitas.

“Bahkan untuk gajah ini kami ada koleksi gading, dari zaman 1,5 juta tahun yang lalu, 1 juta tahun yang lalu, dan 700 ribu tahun yang lalu,” katanya.

Meski sudah memiliki koleksi mencapai ribuan, dikatakannya, hingga saat ini dalam satu tahunnya museum tersebut masih menerima sekitar 1.000 fragmen fosil baru yang kebanyakan ditemukan oleh masyarakat.

Sebagai bentuk penghargaan untuk para penemu, setiap tahun pihaknya menyelenggarakan agenda pemberian imbalan 3-4 kali. Untuk penghargaan yang diberikan dalam bentuk uang.

“Besar kecilnya uang yang kami berikan tergantung dari kelangkaan, kondisi fragmen, besar kecil ukuran, dan kejujuran dari si penemu ini. Kami lebih menghargai mereka yang menemukan fosil di lahan milik sendiri,” katanya.

Ia mengatakan uang imbalan paling besar yang pernah diberikan kepada penemu sebesar Rp25 juta. Menurut dia, uang imbalan yang diberikan akan makin besar jika yang ditemukan merupakan potongan fosil manusia purba.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang menemukan fosil cukup melapor kepada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Selanjutnya petugas balai yang akan menggali sendiri untuk sekaligus melakukan penelitian.

“Kehati-hatian ini penting untuk memastikan fosil bisa diambil dalam kondisi utuh. Selain itu, kami juga butuh tahu lapisan tanah apa yang ada di sekitar fosil sehingga dapat diketahui umur dari fosil tersebut,” katanya sambil menambahkan seluruh fosil yang ada di Museum Sangiran, lebih dari setengahnya merupakan fosil pada zaman 300.000-700.000 tahun. (EP)

Lumpia Gang Lombok, Kuliner Khas Semarang Paling Menohok

this formate

SEMARANG, bisniswisata.co.id: Saat berwisata ke kota Semarang, Jawa Tengah jangan pernah terlewatkan dengan destinasi kuliner yang wajib dikunjungi, dicoba bahkan dibeli untuk oleh-oleh. Kuliner itu Lumpia Gang Lombok di kawasan Pecinan, merupakan khas Semarang dan paling ramai disambangi wisatawan juga rasanya paling menohok dibanding lumpia serupa yang tersebar di tempat lainnya.

Lumpia Semarang di Gang Lombok ini, seperti diunduh laman Bisnis.com, Sabtu (20/10/2018) sudah tutup mulai jam 16.00 WIB. Alasannya sederhana saja, lumpia yang dijual sudah habis. Jadi, Anda tentu bisa membayangkan seperti apa laris manisnya lumpia satu ini.

Lumpia di Gang Lombok disebut sebagai lumpia Semarang pertama. Ada pun pengelola saat ini penerus generasi ketiga dari Siem Swie Kiem. Keluarga inilah yang dikenal sebagai pelopor lumpia Semarang. Lokasi Lumpia Gang Lombok ini persis bersebelahan dengan klenteng tua berusia 2,5 abad yakni Klenteng Tay Kak Sie.

Ada dua jenis lumpia yang ditawatkan. Lumpia basah dan lumpiah goreng. Nggak bisa dipungkiri lumpia yang sangat laku dan sudah cepat habis adalah lumpia goreng. Kedua makanan ini sama-sama disajikan dengan selada dan saus khas Semarang yang kental, dengan daun bawang yang segar.

Lumpia basah dengan isian rebung, udang, pihi, dan orak-arik telur ini dibungkus kulit lumpia yang kenyal tanpa digoreng. Ukuran Lumpia Gang Lombok ini bisa dibilang cukup besar dibandingkan lumpia pada umumnya.

Meskipun begitu ukuran ini juga sesuai dengan satuan harga yang diberikan untuk satu lumpia saja seharga Rp15,000. Jadi, untuk dua lumpia saja Anda harus menggelontorkan Rp30,000.

Lumpia Gang Lombok disajikan dengan cabe rawit, dan juga daun bawang untuk menambang rasa pedas sesuai keinginan. Cocolan saus dibuat dari tepung maizena, kecap, dan bawang putih. Alhasil, cita rasa yang diberikan sangat unik di lidah, karena saus yang tidak manis ataupun terlalu asin.

Lumpia ini juga tidak memiliki aroma rebung yang pesing dan langu. Hal ini dikarenakan proses pencucian rebung dilakukan berulang kami guna menghilangkan bau amis rebung.

Akibatnya banyaknya pelanggan ataupun pelancong yang memburu lumpia ini, pengelola mulai memberikan kesempatan untuk bisa dibawa pulang. Apalagi, lokasi warung lumpia ini tidak terlalu besar untuk menampung ramainya pembeli lumpia setiap hari.

Jika Anda tertarik mencobanya, catat alamatnya di Jalan Gang Lombok Nomor 11, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah. Pastikan Anda bisa datang di atas jam 16.00 WIB ya, supaya tidak kehabisan. (EP)

Dongkrak Kunjungan Wisatawan, 111 Museum Direvitalisasi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kunjungan wisatawan nusantara (Wisnus) maupun mancanegara (wisman) ke museum mulai merangkak naik. Kenaikan ini didorong banyaknya generasi milenial mendatangi museum, mengabadikan kemudian mengupload foto ke media sosial (medsos). Agar museum semakin dicintai, dikunjungi sekaligus menjadi daya tarik wisata, pemerintah melalui Direktorat Jenderah Kebudayaan Kemendikbud mulai 2019 akan melakukan revitalisasi museum.

“Ada 111 museum pemerintah yang direvitalisasi tahun 2019 dengan anggaran hingga Rp 1 miliar permuseum. Anggaran ini melalui DAK (dana alokasi khusus), yang dialokasikan kepada daerah untuk tujuan khusus atau prioritas,” papar Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid kepada Bisniswisata.co.id usai membuka seminar cagar budaya digelar Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) di Gedung Kemendikbud Jakarta, Sabtu (20/10/2018).

Revitalisasi museum ini, lanjut Hilmar, memiliki nilai strategis dalam menunjang pariwisata yang kini mulai digencarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Revitalisasi juga untuk mempercantik museum sebagai pelestari cagar budaya, mengingat tudingan selama ini museum di Indonesia kurang kreatif, tidak menarik, monoton dari dulu hingga kini.

Diakui, dari 435 museum plat merah di penjuru nusantara, ada bebarapa museum paling banyak dikunjungi wisatawan seperti Museum Nasional di Jakarta, juga Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta yang dikunjungi 455.000 wisatawan pertahun. Sementara museum lainnya masih dibawah itu, namun dari sisi presentasi mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Revitalisasi museum, sambung dia, bukan hanya untuk fisik museum, tetapi juga program museum. mengingat selama ini, museum bisa dikatakan kurang kreatif dalam menarik pengunjung. Dari dulu hingga sekarang susunan dan program museum belum berkembang. Juga harga tiket masuk ke museum sangat murah, bahkan masih ada harganya Rp2000 per orang.

“Ini kan menyedihkan, dengan revitalisasi nanti diharapkan ada perubahan di museum kita. Mulai penyajian, programnya, ada atraksi wisata hingga harga tiket bisa dinaikkan. Terus terang saya iri dengan museum di luar negeri, yang banyak pengunjungnya, enak ditonton dan daya tariknya sangat kuat. Karenanya dengan revitalisasi ini bisa merubah museum kita lebih baik lagi,” harapnya.

Selain itu dengan adanya dana untuk revitalisasi, pengelola museum bisa berinovasi dalam pengelolaannya. “Kami juga mengusulkan museum dijadikan Badan Layanan Umum (BLU). Dengan dijadikan BLU, museum memiliki otonomi dalam pengelolaannya. Ini sedang disiapkan. Kami sedang menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan,” lontar Hilmar.

Dengan menjadi BLU, pengelolaan keuangan museum dapat menerapkan tarif yang dapat digunakan untuk pengembangan pelayanan kepada pengunjung. Selain itu, museum akan menjadi lebih terbuka seperti rumah sakit yang dapat merekrut dokter ahli tanpa menunggu perekrutan dalam skema calon pegawai negeri sipil (CPNS), sambungnya.

Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Wiwin Djuwita Ramelan mengutarakan selama ini masih ditemukan pelestarian cagar budaya berbentuk bangunan keseharian. Bangunan tersebut masih digunakan yang sesuai fungsi asalnya maupun dimanfaatkan untuk fungsi lain memiliki permasalahan sangat kompleks. Ia mencontohkan dalam bangunan perkantoran.

“Pada satu sisi, pemilik atau pengelola memperlakukan bangunan kantor sebagai aset yang fisiknya harus selalu mengikuti kebutuhan bisnis . Di sisi lain pemerintah memperlakukan bangunan tersebut sebagai aset budaya yang harus dijaga keotentikannya,“ ungkap Wiwin.

Dengan kata lait, Wiwin melanjutkan, peninggalan budaya itu harus dijaga nilai-nilai pentingnya seperti tercermin dari fisik atau arsitekturnya. Perbedaan sudut pandang ini seringkali menimbulkan konflik antara pemilik atau pengguna atau pengelola dengan pemerintah. “Haruskah kita terus menerus berseberangan tanpa kompromi?” ujar Wiwin.

Wiwin berpendapat Undang Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (UU-CB) seharusnya dapat menjembatani permasalahan tersebut. Ia mencontohkan Pasal 1 menyebutkan bahwa adaptasi adalah upaya pengembangan cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Caranya, dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting. Dalam kaitan itu, dibutuhkan peraturan pemerintah dan peraturan yang sifatnya lebih teknis, berupa peraturan menteri. “Kita harus sabar menunggu peraturan pemerintah atau peraturan menteri tentang pelestarian cagar budaya agar terjadi harmonisasi,” tambahnya. (END)

Musikologi Series 4 Hasilkan Dukungan Ambon Calon Kota Musik Dunia

this formate

Dwiki Dharmawan ( kanan) minta Pemkot Ambon perkuat ekosistem musik menuju Ambon Kota Musik Dunia.

AMBON, bisniswisata.co.id: Industri musik Indonesia perlu diperkuat ekosistemnya dengan penguatan di bidang edukasi, tata kelola industrinya, perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual ( HAKI), event yang berbobot dan permodalan, kata Dwiki Dharmawan,  Ketua umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI), hari ini.

“ Jika ekosistemnya kuat maka pemda/pemkot seperti Ambon misalnya bisa di dorong sebagai kota musik dunia,” tambahnya hari ini.

Berbicara usai kegiatan Musikologi Series ke-4 yang diikuti ratusan peserta di Santika Hotel, Kota Ambon, Maluku, Dwiki mengatakan untuk mewujudkan Ambon sebagai Kota musik dunia, maka harus ada peningkatan terhadap beberapa faktor seperti edukasi, menciptakan event di samping kemudahan infrastruktur.

Citra Ambon sebagai kota musik dunia dengan event musik yang menarik akan menjadi daya tarik wisata yang unik. Apalagi untuk mewujudkankannya Ambon kaya dengan musisi.

“Sebagai calon Kota Musik Dunia, para musisi Ambon perlu  didorong menghasilkan karya musik berbasis tradisi dan berbahasa daerah sebagai salah satu kekuatan produk musiknya,” kata Dwiki Dharmawan

Pihaknya beri dukungannya untuk mendorong kota Ambon menuju Kota Musik Dunia versi Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Menyinggung kegiatan Musikologi Series ke-4, kegiatan ini diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan  Yayasan AMI dan Ambon Music Office (AMO).

Dwiki yang juga adalah Ketua Program Acara Konferensi Musikologi ini menambahkan, harus ada kesiapan yang baik, misalnya soal infrastruktur yang harus ditingkatkan, kemudian edukasi ditingkatkan dan juga event.

“Musikologi Series, merupakan upaya untuk mendorong Ambon menjadi Kota musik dunia. Para ahli di bidang marketing, artis, management, publishing, maupun producing yang hadir dalam acara Musikologi diharapkan dapat mendukung dan membantu generasi muda dan insan musik di Ambon,” ungkapnya.

Menurut Dwiki, ini merupakan bagian dari upaya edukasi. Dengan pendampingan seperti ini, hasilnya akan terjadi peningkatan kapasitas pelaku musik menuju kesiapan Ambon menjadi Kota Musik Dunia.

Pada kesempatan yang sama, Walikota Ambon Richard Louhenapessy menyambut positif kegiatan Musikologi Series ini mengingat musik tak sekadar hobi.

“Kami mengucapkan terima kasih pada Bekraf, AMI dan Ambon Music Office (AMO) yang telah betul-betul memberikan perhatian untuk merubah Ambon dari sisi seni musik yang tadinya sekedar hobi menjadi sebuah kekuatan yang kreatif dan berpotensial,” kata Richard Louhenapessy.

” Tahun 2019, upaya Ambon sebagai kota musik dunia dilakukan secara serius dan kita daftarkan ke badan dunia UNESCO,” ujarnya.

Richard menyadari, tidak mudah menjadikan Ambon sebagai salah satu kota musik dunia. Oleh karena itu ekosistem musik di Kota Ambon perlu dikembangkan secara matang. Tidak sekadar hobi dan mendirikan studio rekaman saja.

“Jika telah ditetapkan sebagai Kota Musik dunia, secara otomatis industri akan berkembang dan memiliki dampak ekonomi kepada insan musik dan masyarakat di daerah ini,” ujarnya optimis.



 

 

Komunitas Otomotif Gelar Indonesian BimmerFest 2018

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komunitas Otomitif mengelar Indonesian Bimmerfest (IBF) 2018 di Pusat Rekreasi & Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang pada 18 November 2018. Gelaran ini mengusung tema “Redefining Culture”. Acara berskala internasional ini menggabungkan antara kebudayaan Semarang dengan identitas merek BMW yang didukung oleh BMW Indonesia.

BMW Car Clubs Indonesia (BMWCCI) Chapter Semarang selaku penyelenggara acara meyakini IBF 2018 menjadi salah satu daya tarik dari acara tahunan yang digagas oleh BMWCCI. “BimmerFest tahun ini merupakan salah satu yang paling ikonik karena merupakan yang ke-10, dan melihat dari beberapa tahun yang lalu selalu diikuti penggemar BMW secara antusias,” jelas Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia, Jodie O’tania dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/10/2018).

Untuk menambah daya tarik, BMW juga akan menampilkan House of BMW bertemakan Past, Present, and Future. Selain menampilkan BMW klasik, rumah BMW juga memamerkan model anyar seperti Seri-5 M Performance dan i8 Roadster yang akan menapakkan rodanya untuk pertama kali di Semarang.

Selain ajang kumpul penggemar mobil Eropa, BMW, IBF 2018 juga menyediakan bazar aksesori suku cadang dengan harga menarik, program khusus tukar tambah (trade-in), pameran dan lintasan uji BMW terbaru, serta workshop dan edukasi seputar perawatan BMW.

“Acara ini merupakan wadah ideal untuk mengombinasikan sejarah BMW, kebersamaan BMW dengan penggemar, dan untuk memberikan informasi seputar kendaraan dan layanan terbaru BMW,” sambungnya.

Indonesian Bimmerfest 2018 didukung Pemerintah Kota Semarang. Ketua Panitia Penyelenggara BimmerFest, D. Ardhanto Danuswara menjelaskan niatnya untuk menghadirkan kearifan lokal Kota Semarang ke dalam acara ini. “Kami ingin mengesampingkan image kalau acara mobil itu selalu hedon (glamor),” ucap Danu.

Event ini menonjolkan sisi lokal antara lain bazar kuliner dan UMKM asli kota Atlas dengan menggandeng komunitas kuliner Semarang guna memuaskan para pengunjung. Juga menawarkan kuliner khas daerah, kebudayaan Semarang juga bakal diangkat lewat penampilan tari tradisional dan modern. “Untung sekali kami sangat didukung oleh pihak Pemkot yang akan menyediakan itu semua,” sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

21 Oktober 2018, Bali International Triathlon 2018

this formate

SANUR BALI, bisniswisata.co.id: Triathlon, wisata olahraga yang melibatkan tiga cabang olahraga berbeda: berenang, bersepeda dan berlari yang wajib diselesaikan secara berurutan. Di Indonesia, beberapa tahun terakhir olahraga ini memang sedang naik daun. Event ini digelar hampir di pelosok tanah air, terutama yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara. Juga daerah memiliki pantai, dan panorama alam yang indah

Kini, Bali kembali mengadakan Bali International Triathlon 2018. Event tahunan ini bakal berlangsun di Pantai Mertasari Sanur Bali pada 21 Oktober 2018. Dipilihnya Sanur sebagai entry point lantaran pantainya bagus, banyak trek menarik dan pemandangan alam yang dilalui peserta sangat menakjubkan

Event sport tourism ini tiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan. Tahun 2014 pesertanya cuma 400 orang. tahun 2015 meningkat menjadi 600 orang, dan ajang ini terus mengalami peningkatan tiap tahun sekitar 100 orang. Tahun 2017 ada 800-an yang mengikuti triathlon.

Kini 2018 mengalami kenaikan tajam mencapai 2.250 peserta dari dalam maupun luar negeri. Dengan rincian 64% orang Indonesia dan 39% dari total peserta adalah newbie atau belum pernah mengikuti ajang ini.

Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan juga merasa lebih eksis menjadi alasan banyak yang tertarik mengikuti olahraga ultra ini. Sehingga diharapkan dapat memperkuat citra positif Indonesia sebagai tujuan utama sport tourism global.

Apalagi tahun 2017, AsiaTri.com, sebuah majalah online triathlon Asia, memberi peringkat Bali International Triathlon 2018 sebagai Best Triathlon Run Course in Asia 2017.

Bali Triathlon 2018 melombakan tiga kategori yaitu, Olympic Distance (Pool 1,5 Km, bike 40 Km, Run 10 Km) Sprint distance (Pool 500 M, Bike 20 Km, Run 5 Km), dan 5K Fun Run.

Tahun ini Bali Triathlon lebih menarik dan bergairah karena dihadiri langsung Bali International Triathlon Ambassador Kelly Tandiono dan Mantan Triathlete Nasional Richard Sambera. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Bebas Guncangan Tsunami, Tanjung Karang Layak Dikunjungi

this formate

DONGGALA, bisniswisata.co.id: Gempa diiringi Tsnuami yang melanda Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terjadi pada 28 September 2018, tak semuanya merusak destinasi wisata di kawasan itu. Tanjung Karang di Donggala misalnya, yang memiliki pantai indah, pasirnya sangat putih, ada spot diving, snorkling dan swimming sehingga menjadi salah satu tempat liburan yang favorite.

Sebelum gempa menguncang, wisata bahari Tanjung Karang tempat wisatawan domestik dan mancanegara. Berita gempa itu membuat pariwisata Tanjung Karang menurun drastis, padahal Tanjung Karang bebas dari guncangan tsunami. Meski gelombang ombak hanya setinggi satu meter di Tanjung Karang. Hampir tidak ada rumah yang hancur.

Rizal Ardas dari Prince John Dive Resort, hotel yang beroperasi di Tanjung Karang meyakinkan Tanjung Karang aman dan layak dikunjungi. Apalagi saat pertengahan bulan Desember merupakan musim sangat bagus bagi pecinta diving. Mengingat akhir tahun dapat menyaksikan aneka jenis ikan hias serta gelombang laut yang tak keras.

Diakui, sebelum gempa Tanjung Karang menjadi salah satu pusat periwisata di Sulteng. Ratusan wisatawan mancanegara (wisman) dari berbagai negara berlibur menikmati panorama wisata bahari yang mempesona. “Paling banyak turis dari Eropa terutama Jerman karena pemilik resort warga negara Jerman. Tapi beberapa tahun terakhir juga banyak wisatawan dari Asia seperti Jepang dan Korea Selatan,” ungkapnya.

Rizal mengatakan sekitar 90 persen warga Tanjung Karang bekerja di sektor pariwisata. Ada yang menjadi staf hotel, membuka penyediaan alat menyelam, penyewaan kapal atau membuka warung kuliner khas Donggala. “Gempa membuat perekonomian sempat melemah, namun warga bekerja keras setelah gempa untuk memikirkan aktivitas ekonomi yang bisa mereka lakukan,” lontarnya.

Tanjung Karang menjadi destinasi wisata favorit terutama bagi warga Kota Palu. Tapi kini Palu sepi karena sebagian besar warganya mengungsi atau pergi keluar kota. Sebab masih tidak sedikit warga yang khawatir ada gempa dan tsunami susulan. “Kami masih bingung untuk ke depannya,” kata Sarwan salah satu warga lainnya.

Tanjung Karang memiliki pantai yang indah dan bisa diselami. Perairan yang dangkal membuat para wisatawan bisa menikmati terumbu karang yang indah dengan perahu atau menyelam langsung. Pantai Tanjung Karang memang dipelihara agar tetap bersih dan indah. Waktu ia kecil ia melihat banyak wisatawan asing yang datang ke Tanjung Karang.

Kondisi ombak laut di pantainya sendiri tidak besar, karena lokasi lautnya menjorok ke teluk. Juga menikmati pesona wisata bawah laut, karena ada 17 gugus karang yang berada dalam radius 20 km dari bibir pantai. Bahkan bisa melakukan penyelaman di spot diving dengan menikmati karang dari kedalaman 1 meter hingga 40 meter.

Pada suatu ketika ada warga negara Jerman yang membangun hotel di daerah tersebut. Semakin banyak wisatawan yang datang. Warga pun mendapatkan keuntungan ekonomi dengan menjajakan makanan bagi para turis asing mau pun domestik.

Sejak saat itu Pantai Tanjung Karang terus dipelihara keindahannya. Tidak ada imbauan pemerintah untuk melestarikan pantai ini. Warga sekitar berinisiatif sendiri untuk menjaga lingkungan mereka.

“Pantainya kami jaga, kami larang orang luar untuk memanah ikan, masyarakat di sini juga kami larang untum buat jangkar di sini, ada tempatnya juga, kami jaga karang-karang supaya tamu melihat karang itu bagus,” kata Rizal kepada laman Republika, Sabtu (20/10/2018).

Sebelum gempa, setiap hari warga lokal selalu membersihkan pantai. Tapi karena warga masih mengungsi warga belum bisa maksimal membersihkan pantai. “Masyarakat asli sini sangat menjaga pantai jadi kalau ada orang luar memancing, yang bukan asli di sini kami usir, kami jaga, jadi ikan-ikan tidak diliar, dari Palu tamu orang asing bisa beri makan ikan, ikannya jinak kok,” tambah Rizal. (EP)

Gorga, Lukisan Jiwa Suku Batak

this formate

MEDAN, bisniswisata.co.id: Setiap suku selalu memiliki kesenian ukir, yang memiliki ciri khas tersendiri. Dan kesenian ukir ini menjadi salah satu bukti peradaban yang dibangun suku itu, sejak mula perjalanan sejarahnya. Demikian halnya dengan suku Batak Toba. Seni ukir atau pahat Batak Toba disebut dengan gorga.

Dalam tradisi Suku Batak di Sumatera Utara (Sumut), ukiran Gorga dipasang di bagian luar rumah, rumah adat atau tugu bahkan alat kesenian seperti gendang, serunai, kecapi dan lain. Uniknya lagi Gorba kini dikembangkan di dunia fashion. Gorga melukiskan jiwa si pemilik rumah atau pemesan gorga.

Gorga dapat juga disebut corak atau motif. Proses penciptaannya bukan hanya lahir dari pahatan atau ukiran, tapi juga dilukis, yang umumnya menggunakan cat tiga warna: merah, hitam, dan putih. Warna itu diambil dari bahan-bahan alami. Dengan demikian, warna itu diciptakan sendiri dari bahan yang disediakan alam. Leluhur orang Batak menciptakan warna itu dengan cara berikut:

Cat merah, misalnya diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan di semua daerah. Batu ini ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan pada ukiran. Cat putih diambil dari tanah yang berwarna putih, tanah yang halus dan lunak dan digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air.

Juga Cat hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk, kemudian digongseng hingga menghasilkan cat hitam.

Berdasarkan cara pengerjaannya, gorga Batak Toba terdiri dari 2 jenis, yaitu gorga uhir (gorga hasil pahat) dan gorga dais (gorga hasil lukisan). Namun berdasarkan bentuk ornamen, gorga memiliki banyak jenis. Ada Gorga Ipon-Ipon, Gorga Desa Naualu, Gorga Ogung, Gorga Sitompi, Gorga Simataniari, Gorga Singa-singa, Gorga Jorgom,

Juga Gorga Boraspati dan adop-adop, Gorga Gaja Dompak, Gorga Dalihan Natolu, Gorga Simeoleol, Gorga Sitagan, Gorga Sijonggi, Gorga Silintong, Gorga Iran-iran, Gorga Hariara Sundung di Langit dan lainnya.

Namun yang populer Gorga terbagi dua: Gorga Dais atau seni lukis dan Gorga Lontik alias seni ukir. Gorga lontik dapat ditemukan di beberapa bagian rumah Batak dan umumnya dipajang bagian atas rumah. Gorga dais nampak di tugu-tugu orang Batak.

Jesral Tambun, salah seorang pengukir gorga Batak dari Bona Pasogit Sumatra Utara, mempelajari seni ini secara otodidak. Bagi Jersal, gorga bukan sekadar seni lukis dan seni ukir biasa, melainkan lukisan jiwa, karena setiap lekukan motif gorga memiliki makna tersendiri.

“Saya mulai sejak 2008, mulai dengan melukis dulu motif gorga di atas kayu, yang saya pakai ini kayu mahoni, bisa juga gunakan yang lain,” kata Jesral di Nusa Gastronomy, Jumat (19/10/2018).

Jersal yang mengaku pernah tinggal di rumah berukur 2×2 meter di Bukit Barisan ini menyebut ada banyak pengalaman hidup yang membawanya menjadi pengukir gorga. Misalnya saja, saat itu ketika ibunya meninggal dunia, rumah Jersal kebakaran sehingga dia harus hidup di rumah yang kecil dan rentan kebanjiran ketika hujan deras.

Berbagai pengalaman hidup itulah yang mendorong Jersal ingin menjadi pengukir yang memelihara tradisi Batak Toba. Mengukir gorga juga unik, harus diawali dari bagian bawah ke bagian atas. “Filosofinya kata Jesral menandakan proses kehidupan yang diyakini oleh orang Batak adalah dari bawah ke atas,” lontarnya seperti dilansir laman Bisnis.com.

Dengan demikian, orang Batak juga memiliki prinsip hidup selalu menghargai proses dan tidak memaksakan hidup harus selalu di atas dan sempurna. Usai mengukir gorga, Jesral lalu memulai mengukir motif dengan pisau besi. Di sela-sela upaya mengukir, suka-dukanya membuat gorga sesuai karakter si pemesan.

Maklum saja, tidak semua orang dengan karakter baik dan tidak semua orang berkarakter buruk. Di tengah dilema itulah Jersal harus bisa bersikap bijaksana menunjukkan karakter si pemesan tanpa harus melebih-lebihkan.

“Kadangkala, ketika aku ditanya soal gorga, aku mengalihkan pembicaraan juga. Karena aku kan tidak ada hak menjelekkan orang. Seperti juga psikolog kan orang cerita masalahnya, kita tidak bisa menceritakan masalah dia ke orang lain,” tutur Jesral. (EP)