Gorga, Lukisan Jiwa Suku Batak

0
229
Gorga (Foto: Medan Bisnis.com)

MEDAN, bisniswisata.co.id: Setiap suku selalu memiliki kesenian ukir, yang memiliki ciri khas tersendiri. Dan kesenian ukir ini menjadi salah satu bukti peradaban yang dibangun suku itu, sejak mula perjalanan sejarahnya. Demikian halnya dengan suku Batak Toba. Seni ukir atau pahat Batak Toba disebut dengan gorga.

Dalam tradisi Suku Batak di Sumatera Utara (Sumut), ukiran Gorga dipasang di bagian luar rumah, rumah adat atau tugu bahkan alat kesenian seperti gendang, serunai, kecapi dan lain. Uniknya lagi Gorba kini dikembangkan di dunia fashion. Gorga melukiskan jiwa si pemilik rumah atau pemesan gorga.

Gorga dapat juga disebut corak atau motif. Proses penciptaannya bukan hanya lahir dari pahatan atau ukiran, tapi juga dilukis, yang umumnya menggunakan cat tiga warna: merah, hitam, dan putih. Warna itu diambil dari bahan-bahan alami. Dengan demikian, warna itu diciptakan sendiri dari bahan yang disediakan alam. Leluhur orang Batak menciptakan warna itu dengan cara berikut:

Cat merah, misalnya diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan di semua daerah. Batu ini ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan pada ukiran. Cat putih diambil dari tanah yang berwarna putih, tanah yang halus dan lunak dan digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air.

Juga Cat hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk, kemudian digongseng hingga menghasilkan cat hitam.

Berdasarkan cara pengerjaannya, gorga Batak Toba terdiri dari 2 jenis, yaitu gorga uhir (gorga hasil pahat) dan gorga dais (gorga hasil lukisan). Namun berdasarkan bentuk ornamen, gorga memiliki banyak jenis. Ada Gorga Ipon-Ipon, Gorga Desa Naualu, Gorga Ogung, Gorga Sitompi, Gorga Simataniari, Gorga Singa-singa, Gorga Jorgom,

Juga Gorga Boraspati dan adop-adop, Gorga Gaja Dompak, Gorga Dalihan Natolu, Gorga Simeoleol, Gorga Sitagan, Gorga Sijonggi, Gorga Silintong, Gorga Iran-iran, Gorga Hariara Sundung di Langit dan lainnya.

Namun yang populer Gorga terbagi dua: Gorga Dais atau seni lukis dan Gorga Lontik alias seni ukir. Gorga lontik dapat ditemukan di beberapa bagian rumah Batak dan umumnya dipajang bagian atas rumah. Gorga dais nampak di tugu-tugu orang Batak.

Jesral Tambun, salah seorang pengukir gorga Batak dari Bona Pasogit Sumatra Utara, mempelajari seni ini secara otodidak. Bagi Jersal, gorga bukan sekadar seni lukis dan seni ukir biasa, melainkan lukisan jiwa, karena setiap lekukan motif gorga memiliki makna tersendiri.

“Saya mulai sejak 2008, mulai dengan melukis dulu motif gorga di atas kayu, yang saya pakai ini kayu mahoni, bisa juga gunakan yang lain,” kata Jesral di Nusa Gastronomy, Jumat (19/10/2018).

Jersal yang mengaku pernah tinggal di rumah berukur 2×2 meter di Bukit Barisan ini menyebut ada banyak pengalaman hidup yang membawanya menjadi pengukir gorga. Misalnya saja, saat itu ketika ibunya meninggal dunia, rumah Jersal kebakaran sehingga dia harus hidup di rumah yang kecil dan rentan kebanjiran ketika hujan deras.

Berbagai pengalaman hidup itulah yang mendorong Jersal ingin menjadi pengukir yang memelihara tradisi Batak Toba. Mengukir gorga juga unik, harus diawali dari bagian bawah ke bagian atas. “Filosofinya kata Jesral menandakan proses kehidupan yang diyakini oleh orang Batak adalah dari bawah ke atas,” lontarnya seperti dilansir laman Bisnis.com.

Dengan demikian, orang Batak juga memiliki prinsip hidup selalu menghargai proses dan tidak memaksakan hidup harus selalu di atas dan sempurna. Usai mengukir gorga, Jesral lalu memulai mengukir motif dengan pisau besi. Di sela-sela upaya mengukir, suka-dukanya membuat gorga sesuai karakter si pemesan.

Maklum saja, tidak semua orang dengan karakter baik dan tidak semua orang berkarakter buruk. Di tengah dilema itulah Jersal harus bisa bersikap bijaksana menunjukkan karakter si pemesan tanpa harus melebih-lebihkan.

“Kadangkala, ketika aku ditanya soal gorga, aku mengalihkan pembicaraan juga. Karena aku kan tidak ada hak menjelekkan orang. Seperti juga psikolog kan orang cerita masalahnya, kita tidak bisa menceritakan masalah dia ke orang lain,” tutur Jesral. (EP)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.