ART & CULTURE EVENT INTERNATIONAL NEWS

Dua karya Pertunjukan Teater RI Pertama Kali Berpartisipasi di Venice Biennale 2026

Restu Imansari Kusumaningrum dan Michele Cavallaro, Direktur Istituto Italiano di Cultura (IIC) saat jumpa pers.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bumi Purnati Indonesia akan mementaskan dua pertunjukan teater di panggung La Biennale di Venezia 2026 atau Venice Biennale 2026, di Venesia Italia pada 7 hingga 21 Juni 2026.

Restu Imansari Kusumaningrum, pimpinan Bumi Purnati yang pernah sukses menggelar I La Galigo di mancanegara pada tahun 2003 lalu mengatakan inilah pertama kalinya teater Indonesia hadir di Venice Biennale 2026.

Dua pertunjukan teater yang akan dipentaskan berjudul “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu/The Tale of Boat.”Dua pentas tersebut akan menjadi bagian di Festival Teater Internasional ke-54 Venice Biennale. Festival internasional ini digelar untuk tari, musik, teater yang berlangsung sepanjang 7 Juni-24 Oktober 2026.

Under the Volcano” digelar di Teatro alle Tese, Arsenale, pada 16-17 Juni 2026. Dilanjutkan pentas “Hikayat Perahu” di lokasi yang sama pada 18-19 Juni 2026. Permintaan berpartisipasi itu meskipun tergolong detik penutupan pendaftaran tapi membuatnya senang karena Indonesia dikenali pelaku seni di manca negara.

Restu yang juga produser pementasan I La Galigo ini tak menyangka proposal yang dikirimkan jelang penutupan pendaftaran diterima panitia. Panitia yang menghubunginya memang aktif mencari perwakilan dari Asia yang mempunyai akar budaya Melayu.

“Kami kirim 24 jam sebelum penutupan pendaftaran, dua hari berikutnya kami diberi tahu Indonesia lolos seleksi dan masuk festival,” ujar Restu saat jumpa pers di rumah kediaman Dubes Italia di kawasan Kebayoran Baru, Kamis.

Restu yang sukses Penyelenggara I La Galigo mendunia pada 2003 di Esplanades Theaters on the Bay, Singapura dan tampil di beberapa negara, seperti di Lincoln Centre Festival, New York, Amerika Serikat; Het Muziektheater, Amsterdam, Belanda; Forum Universal de les Cultures, Barcelona, Spanyol;.

Saat itu I La Galigo juga pentas di Les Nuits de Fourviere, Rhone, Prancis; Ravenna Festival di Italia; Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival, Taipei; Melbourne International Art Festival, Melbourne, Australia; Teatro Arcimboldi, Milan, Italia.

Menurut Restu pihaknya mengajukan tiga usulan pertunjukan namun panitia memilih “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu”. Karya ini mengambil inspirasi dari syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Setelah itu Restu langsung menyiapkan pertunjukan yang akan ditampilkan dan memanggil 22 seniman. Dalam waktu enam bulan mereka berlatih untuk mementaskan dua karya tersebut yang melibatkan seniman dari Aceh dan Sumatra Barat.

Dua Cerita

“Under the Volcano” adalah pentas teater tari yang disutradarai Yusril Katil. Karya ini mengambil inspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh, yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

Karya ini bermula dari kolaborasi Komunitas Seni Hitam- Putih dan Bumi Purnati Indonesia saat mengikuti di The 6th Theatre Olympics di Beijing, Cina, pada 2014. Karya ini dipentaskan di Singapura pada 2016, di Borobudur Writer and Cultural Festival di Magelang, Jawa Tengah, dan di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta pada 2022.

Sementara “Hikayat Perahu” disutradarai Sri Qadariatin. Karya ini merupakan tafsiran atas puisi Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, sebuah karya sastra Melayu Klasik abad ke-16 yang diakui sebagai memori of the World pada 2025. Rencananya karya ini dipentaskan di Jakarta pada tahun depan.

Karya ini merupakan karya teater tari yang menampilkan perjalanan spiritual mencari kedamaian di dalam diri hubungan manusia dan Tuhan yang dilambangkan dengan metafora perahu dan lautan.

Venice Biannale ini cukup panjang untuk menghadirkan karya-karya teater dari seluruh dunia dan festival untuk seni rupa sudah berlangsung 150 tahun dan digelar setiap dua tahun, sedangkan untuk festival teater ini baru berusia 54 tahunan dan mengkurasi berbagai produksi teater di dunia, tambahnya.

Festival ini akan menghadirkan 200 seniman dari seluruh dunia yang akan mengisi 55 acara, termasuk 11 acara produksi dan ko-produksi. Di Festival ini akan ada 10 pentas pertama dunia (world premiere), 2 pentas perdana Eropa, 4 pentas perdana Italia.

Restu mengatakan panitia festival menampilkan pada kekayaan teater yang menekankan pada aksara, budaya, tradisi yang berbeda satu sama lain. Ia juga menjelaskan tak kurang 610 pelamar dari berbagai negara mengajukan proposal pementasan ke festival yang bertema Alter-Native ini.

Partisipasi tim teater Indonesia di ajang Festiva Teater Interasional ini mendapat sambutan dari Michele Cavallaro, Direktur Istituto Italiano di Cultura (IIC) di Jakarta.

Menurutnya kehadiran Indonesia cukup penting dalam festival teater Internasional di Venice Biennale. Dia senang akhirnya Indonesia bisa hadir di festival ini.

“Saya merasa warisan Indonesia penting ditampilkan di kancah dunia,” ujarnya. Dia berharap ke depannya bisa mengembangkan kerja sama dalam projek lainnya.

Restu juga mengatakan dia juga meminta bantuan pemerintah Italia mendatangkan ahli tata suara yang akan berkreasi bersama grup seniman Aceh.

“Saya minta bantuan Pemerintah Italia membantu grup-grup kesenian di Aceh yang baru terdampak Banjir,”ujar Restu.

Sapta Nirwandar, salah satu tokoh Lampung yang mendukung pertunjukan I La Galigo saat menjabat di Kemenparekraf mengatakan optimistisnya pertunjukan Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu” tak kalah dengan popularitas I La Galigo yang mendunia.

Sapta optimistis pertunjukkan ini akan mendongkrak pariwisata Lampung dan sangat tergantung pada respons dan pro-aktif Pemda Provinsi Lampung untuk memanfaatkan pertunjukkan seni ini untuk kepentingan daerahnya maupun Indonesia seutuhnya.

“Reputasi Venice Biannale dan kreativitas serta respons positif sangat dibutuhkan apalagi penyairnya mengisahkan peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883 yang identik dengan Lampung,”kata Sapta Nirwandar.

Apalagi pementasan yang akan tampil dari berbagai belahan dunia antara lain Cries karya Christos Stergioglou dan Alexandros Drakos Ktistakis (Yunani), trilogi Romance familiar (Ragada, Good Bye Lindita, Taverna Miresia) karya Mario Banushi (Yunani-Albania).

Ada Mugen Noh Othello karya Satoshi Myiagi (Jepang), Mischief Dance: A Journey Through Rhythm and Spirit karya Sharmila Biswas dan Odissi Dance (India).

Star Returning Venice karya Lemi Ponifasio (Selandia Baru), Hewa Rwanda: Letter to the Absent karya Dorcy Rugamba (Rwanda), duo Angelique Kidjo-Thierry Vaton (Benin-Prancis), hingga perdana dunia I fantasmi di Basile karya Emma Dante (Italia).

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)