Wisata Religi Banten Lama bakal Dilengkapi Homestay

0
151
Masjid Banten Lama (Foto: Quipper)

SERANG, bisniswisata.co.id: Revalitasi Kawasan Wisata Religi Banten Lama, berhasil dengan sempurna. Untuk menunjung aksesbilitas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berencana membangun penginapan berbentuk homestay. Keberadaan Homestay ini sangat penting sekaligus memiliki nilai strategis, salah satunya untuk memudahkan wisatawan sehingga terjadi peningkatan kunjungan wisatawa.

“Jadi untuk melengkapi fasilitas wisata di kawasan peninggalan Kesultanan Banten, memang perlu dibangun homestay yang memenuhi standar pariwisata agar wisatawan peziarah mendapat pelayanan dan kenyamanan. Keberadaan homestay ini bisa menggunakan rumah warga yang akan dipoles dan dipercantik,” papar Gubernur Banten Wahidin Halim dalam keterangan resminya, Ahad (14/04/2019).

Gubernur terus berupaya menjadikan Banten Lama sebagai kawasan wisata religi yang nyaman, aman, bersih dan memberikan kesan positif bagi wisatawan. Salah satu caranya melengkapi Banten Lama dengan fasilitas homestay. “Kini ada pihak swasta yang mau bangun kerja sama dengan masyarakat. Ini kan bagus, sehingga warga yang rumahnya dijadikan homestay diperbaiki, akan mendapatkan tambahan ekonomi,” sambungnya.

Pembuatan homestay rencananya mulai berjalan tahun ini, diawali dengan pendataan rumah penduduk. Pendataan ini untuk memastikan rumah warga yang akan jadi homestay memiliki sertifikat. Dan kerja sama homestay dilakukan dengan sistem bagi hasil. Warga yang rumahnya dijadikan homestay otomatis mendapat nilai tambah.

“Kalau dua kamar kan bisa Rp 200.000. Kalau orang berdua kan satu orang Rp 100.000, dua orang Rp 200.000. Paling tidak bisa secara ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar destinasi wisata religi Banten Lama,” lontarnya.

Di kawasan Banten Lama, Pemprov tidak hanya membangun infrastruktur dan penataan, pemprov juga ingin melakukan pembangunan sisi ekonomi, sosial dan budaya. “Makanya di beberapa titik ada pusat kajian kitab-kitab Syekh Nawawi Albantani, ada rumah tahfidz, ada debus,” ucapnya.

Meski penataan kawasan Banten Lama di pemprov, ia memastikan dalam pelaksanaannya masih melibatkan Pemkot Serang. “Yang berkaitan dengan izin dan regulasi kan dia (Pemkot Serang), walaupun kita yang ngelola. Jadi, jangan merasa bahwa ini provinsi semua, provinsi ada keterbatasan. Kalau terminal kita yang bangun, kita yang ngelola, 20 persen kewajibannya mesti ke pemerintah kota,” ucapnya.

Disinggung apakah pemprov juga akan memperbaiki sistem perairan di Banten Lama, mantan Anggota DPR RI ini tidak membantahnya. Menurutnya, setelah homestay jadi tidak menutup kemungkinan sistem perairan juga diperbaiki. “Nanti kalau udah tertata, kawasan (Banten Lama) harus ada PDAM di situ. Kalau engga ada air tapi akan ada terminal air yang bisa kita simpan,” tuturnya.

Tercatat ada beberapa wisata relegi serta sejarah di Banten Lama antara lain:

#. Masjid Agung Banten

Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama berjarak 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kesultanan Demak. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati. Ciri khas masjid ini: atap bangunan utama bertumpuk lima, mirip pagoda China. Ini adalah karya arsitektur China yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Di serambi kiri masjid terdapat kompleks makam Sultan-sultan Banten dan keluarganya, yaitu Maulana Hasanuddin dengan Permaisurinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Kahhar atau Sultan Haji. Di serambi kanan, terdapat makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, Sultan Abdul Fattah, Pangeran Aria, Sultan Mukhyi, Sultan Abdul Mufakhir, Sultan Zainul Arifin, Sultan Zainul Asikin, Sultan Syarifuddin, Ratu Salamah, Ratu Latifah, dan Ratu Masmudah.

#. Situs Istana Kaibon

Istana Kaibon adalah sebuah Istana tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifuddin. Bentuknya hanyalah tinggal reruntuhan saja. Disampingnya ada sebuah Pohon besar dan sebuah Kanal. Menurut penduduk sekitar, dulunya sebuah Istana yang sangat megah. Tahun 1832, Belanda menghancurkannya saat terjadi peperangan melawan Kerajaan Banten. Sekarang tempat ini sering digunakan untuk acara-acara persepsi pernikahan, padahal itu melanggar.

#. Situs Keraton Surosoan

Tak Jauh dari Istana Keraton Kaibon, terdapat Situs Istana Surosoan merupakan Kediaman para Sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin hingga Sultan Haji yang pernah berkuasa tahun 1672-1687, Istana ini dibangun tahun 1552. Dibanding Istana Kaibon yang terlihat masih berupa bangunan, Istana Surosoan, hanya tinggal berupa sisa-sisa bangunannya saja. Sisa bangunan megah ini berupa Benteng terbuat dari batu merah dan batu karang dengan tinggi 0,5 – 2 meter.

Ditengahnya terdapat kolam persegi empat. Konon, kolam ini bekas pemandian para putri termasuk Rara Denok. Dengan luas sekitar 4 hektare. Bangunan sejarah ini dihancurkan oleh Belanda pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680. Ditempat pemandian putri kalangan spiritual masih sering digunakan mandi kembang ditengah malam terutama malam Jum’at atau waktu-waktu tertentu.

#. Benteng Spellwijk

Lokasi Benteng Spellwijk tak jauh dari Masjid Agung Banten. Bangunan ini dibangun tahun 1585 memiliki ketinggi dinding 5 meter. Nama Spellwijk digunakan sebagai penghormatan terhadap Gubernur Jenderal VOC Cornelis Janzoon Spellwijk. Bentuk bangunan ini menyerupai segi empat dan tiap sisinya dibangun ruang inti atau menara pengintai. Sementara itu, benteng ini dikelilingi parit dengan luas mencapai 10 meter. Dahulunya Benteng Spellwijk digunakan sebagai Menara Pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam dan alat pertahanan lainnya. Di tempat ini juga terdapat sebuah Terowongan yang katanya terhubung dengan Keraton Surosowan.

#. Vihara Avalokitsevara

Bangunan ini terletak 15 kilometer arah utara dari Kota Serang, Banten. Letaknya di Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama. Vihara ini dibangun sejak abad ke-16 dan memiliki luas mencapai 10 hektare dengan altar Dewi Kwan Im. Versi lain menyebutkan jika vihara ini dibangun pada 1652, yaitu saat masa keemasan kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Vihara ini merupakan Vihara tertua di Indonesia. Keberadaan Vihara ini diyakini merupakan bukti bahwa pada saat itu penganut Agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dengan damai tanpa Konflik yang berarti. Kondisi di dalam Vihara ini sendiri sejuk karena banyak pepohonan rindang dan terdapat tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Selasar koridor Vihara yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya ini terdapat relief cerita hikayat Ular Putih, yang dilukis dengan berwarna-warni sebagai elemen estetis.

#. Prasasti Cidanghiyang Munjul

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu yang pernah berjaya sekitar abad ke-4 sampai abad ke-5 Masehi di Barat Pulau Jawa ini konon merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Bukti sejarah diketahui melalui catatan dan peninggalan yang tersebar di sekitarnya, salah satunya seperti prasasti yang ditemukan di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten tepatnya di tepi Sungai Cidanghiyang.

Prasasti yang dipahatkan pada batu alam dengan ukuran 3x2x2 meter ini merupakan 1 dari 7 prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara atau Kerajaan Taruma yang ditemukan di Nusantara. Prasasti ini bukanlah satu-satunya prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara. Karena, selain Prasasti Cidanghiyang/Munjul masih ada sekitar 6 prasasti lainnya yang ditemukan di tempat berbeda di antaranya Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten.

Prasasti Cidanghiyang berisikan sebuah puisi yang mempunyai beberapa baris kalimat dengan huruf pallawa dan dibuat menggunakan bahasa Sansekerta. Puisi tersebut berisikan sebuah pujian dan pengagungan terhadap raja Kerajaan Tarumanegara pada saat itu yaitu Raja Purnawarman.

#. Danau Kuno Tasik Kardi

Danau ini terletak tidak jauh dari Istana Kaibon, Konon, danau tersebut luasnya 5 hektare dan bagian dasarnya dilapisi oleh batu bata, Pada masa itu danau ini dikenal dengan nama “Situ Kardi” yang memiliki sistem ganda, selain sebagai penampung air di Ci Banten yang digunakan sebagai pengairan persawahan, danau ini juga dimanfaatkan sebagai pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya.

Air dialirkan dari pipa-pipa yang terbuat dari terakota berdiameter 2–40 cm. Sebelum digunakan air danau harus disaring dan diendapkan di penyaringan khusus yang dikenal dengan Pengindelan Abang atau Penyaringan Merah, Pengindelan Putih atau Penyeringan Putih, dan Pengeindelan Emas atau Penyaringan Emas.

#. Museum Kepurbakalaan Banten Lama

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa Barat seperti yang terlihat pada bentuk atapnya. Museum yang terletak antara Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten Lama ini menyimpan banyak benda-benda purbakala. Dilihat dari bentuk bangunannya Museum Situs Kepurbakalaan lebih mirip seperti sebuah rumah yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum.

Dari sekian banyak benda-benda purbakala yang menjadi koleksinya, benda-benda tersebut dibagi menjadi 5 kelompok besar. Arkeologika, benda-benda yang digolongkan dalam kategori ini adalah Arca, Gerabah, Atap, Lesung Batu, Numismatika, koleksi bendanya berupa Mata Uang, baik Mata Uang lokal maupun Mata Uang asing yang dicetak oleh masyarakat Banten.

Etnografika, benda-benda koleksinya berupa miniatur Rumah Adat Suku Baduy dan berbagai macam Senjata Tradisional dan juga senjata peninggalan Kolonial seperti Tombak, Keris, Golok, Meriam, Pistol. Keramologika, yaitu benda-benda koleksi berupa macam-macam Keramik. Keramik yang tersimpan berasal dari berbagai tempat seperti Burma, Vietnam, China, Jepang, Timur Tengah dan Eropa. Tidak ketinggaln pula keramik lokal asal Banten yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan Gerabah dan biasanya gerabah ini digunakan sebagai alat-alat rumah tangga.

Selain menyimpan benda-benda koleksi kepurbakalaannya di dalam ruangan, terdapat dua Artefak yang disimpan di halaman Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, yaitu artefak Meriam Ki Amuk dan juga alat penggilingan Lada. Yang paling terkenal adalah Meriam Ki Amuk, meriam yang terbuat dari tembaga dengan tulisan arab yang panjangnya sekitar 2,5 meter ini merupakan bantuan dari Ottoman Turki.

Konon Meriam Ki Amuk memiliki kembaran yaitu Meriam Ki Jagur yang saat ini tersimpan di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Sedangkan alat penggilingan lada yang terbuat dari batu padas yang sangat keras telah hancur menjadi beberapa bagian. Pada zaman dahulu Banten memang dikenal sebagai penghasil lada, itulah yang menyebabkan Belanda datang ke Banten, salah satunya ingin menguasai produksi lada. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here