Sederet Tantangan Bisnis Perhotelan Era Industri 4.0

0
380
Aplikasi pesan hotel

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kehadiran Airbnb di industri perhotelan mengubah platform digital dalam industri perhotelan. Pelaku industri hotel harus dapat beradaptasi dengan pesaing baru yang memanfaatkan teknologi dalam melayani pelanggan. Bila tidak, mereka akan gugur dengan sendirinya.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira berpendapat, para pengusaha hotel besar harus menyesuaikan diri dengan pesaing baru, terutama yang sudah terpapar teknologi seperti hotel di platform Airbnb. Dengan adanya persaingan, akan banyak pemain yang berguguran bila tak mampu mengikuti perkembangan teknologi.

“Kemunculan Airbnb memang mengubah platform digital dalam pemesanan dan promosi hotel. Sekarang rumah-rumah warga dijadikan penginapan, bahkan ada yang mematok harga Rp50 ribu per malam. Hotel besar harus menyesuaikan dengan pesaing baru itu. Pastinya banyak yang berguguran untuk pemain skala besar.” lontar Bhima.

Pertumbuhan di sektor perhotelan pada kuartal III 2018 pun lebih rendah bila dibanding pertumbuhan pada kuartal III 2017. Pada kuartal III tahun ini, pertumbuhan industri perhotelan hanya sebesar 4,31%, sedangkan di kuartal yang sama pada 2017, pertumbuhannya bernilai 5,58%. Salah satu faktor penyebab penurunan itu, persaingan bisnis yang semakin ketat di era digital ini.

“Persaingan bisnis perhotelan semakin ketat setelah munculnya hotel-hotel kecil dan Airbnb. Harga pun makin ketat, pengusaha hotel tidak bisa mendapatkan marjin untung yang terlalu tinggi,” paparnya.

Selain itu, seperti dilansir laman Warta Ekonomi, Kamis (22/11) mendekati era Industri 4.0, ada pula tantangan-tantangan yang harus dihadapi para pelaku bisnis di bidang perhotelan. Teknologi membuat pengalaman pelanggan menjadi faktor penting dalam menciptakan reputasi sebuah hotel karena pelanggan dapat memberikan umpan balik secara online. Pelayanan hotel akan ditingkatkan demi memuaskan pelanggan.

“Industri 4.0 juga membuat experiences konsumen menjadi lebih penting. Tingkat hunian ditentukan oleh banyaknya bintang yang mencerminkan reputasi kepuasan konsumen. Pelayanan hotel berlomba yang terbaik atau ditinggalkan konsumen,” papar Bhima.

Akses pasar yang luas membuat persaingan semakin kuat. Selain itu, laba tak dipatok tinggi karena permainan lebih ditingkatkan pada jumlah kamar, bukan kualitasnya. Teknologi dimanfaatkan untuk memangkas biaya tenaga kerja, membuat beberapa lapangan pekerjaan tak membutuhkan sumber daya manusia.

Bhima kemudian manambahkan, “Peran teknologi memangkas biaya tenaga kerja. Beberapa hotel di Jepang bahkan sudah mempekerjakan robot sebagai resepsionis dan tidak lama lagi Indonesia akan meniru hal itu.”

Untuk menghadapi jejeran tantangan tersebut, pelaku industri perhotelan harus memberikan pelayanan yang memuaskan, sehingga reputasi hotel mereka di dunia digital akan bernilai tinggi. Pelaku industri juga perlu meningkatkan daya tarik diskon karena pelanggan menyukai bentuk penawaran berbau potongan harga. Selain itu, pemanfaatan teknologi pun dinilai tak kalah penting.

“Otomatisasi di beberapa peran, seperti resepsionis. Lalu, lakukan adopsi digitalisasi dalam promosi, misal pemasaran via channel e-commerce dan media sosial,” kata Bhima lagi.

Dengan 143 juta pengguna internet di Indonesia, akan lebih mudah bila pelaku industri perhotelan menghubungkan bisnis mereka melalui dunia digital. Apalagi, era industri 4.0 semakin dekat, diperlukan persiapan untuk hadapi persaingan di masa itu. Bila tak mampu beradaptasi dengan teknologi, pemain besar industri perhotelan pun mungkin akan gugur di tengah jalan. (EP)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.