JAKARTA, bisniswisata.co.id; PERDANA Menteri Malaysia Muhyiddin Yasin mengumumkan bahwa pemerintah Malaysia memutuskan untuk melaksanakan lockdown mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020 di seluruh negara bagian. “Perintah kawalan pergerakan ini dibuat di bawah Undang-Undang Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit 1988 dan Undang-Undang Polisi 1967,” ujar Muhyiddin dalam pidato khusus tentang COVID-19 di Kantor Perdana Menteri Malaysia, Senin 16 Maret 2020.
Lockdown atau karantina, yang disebut dalam
bahasa setempat sebagai Perintah Kawalan Pergerakan, tersebut meliputi enam point penting yang harus diikuti
masyarakat Malaysia mau pun warga negara asing yang sedang berada di negei
jiran tersebut.
Dua hal penting bagi paratraveler dunia baik warga Malaysia mau pun wisman yang berlibur ke Malaysia adalah kewajiban menjalani pemeriksaan kesehatan dan melakukan karantina secara sukarela (atauself quarantine) selama 14 hari. Serta pembatasan masuk semua wisatawan dan warga asing ke Malaysia.
Menyikapi keputusan lockdown
pemerintah Malaysia, sejumlah operator jasa angkutan udara “meliburkan” jasa angkutan udaranya ke
Malaysia.
Malindo
Air yang berbasis di Kuala Lumpur Malaysia, serta maskapai di
Indonesia, yakni Lion Air, Batik Air dan Wings Air member of Lion Air Group menyampaikan
keterangan resmi terkait layanan penerbangan internasional dari dan menuju
Malaysia, termasuk dari Indonesia, bahwa maskapai menghentikan atau penundaan
sementara (suspend) mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020.
Lion Air Group menegaskan penundaan sementara ini juga dilakukan berdasarkan rekomendasi perusahaan serta menurut kondisi yang tenah berkembang saat ini, dalam upaya menangkal (tindakan preventif) terhadap penyebaran COVID-19.
Lion Air Group memfasilitasi kepada
seluruh calon penumpang yang sudah membeli tiket (issued ticket) dengan pengembalian dana (refund) menurut ketentuan berlaku serta
akan diberikan pilihan untuk memindahkan tanggal perjalanan (reschedule) tergantung
ketersediaan kursi.
Keputusan penghentian penerbangan
sementara ini dijalankan dalam rangka mengutamakan faktor keselamatan awak
pesawat, petugas layanan darat (ground
handling) dan para tamu atau penumpang. Mnajemen tunduk dan
melaksanakan seluruh aturan penerbangan internasional, regulator dan ketentuan
perusahaan dalam menjalankan operasional sesuai dengan standar operasional
prosedur yang memenuhi persyaratan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan
penerbangan (safety first).
Selama periode tersebut, Lion Air
Group akan terus menyediakan konektivitas dengan mengoperasikan penerbangan
domestik di Malaysia oleh Malindo Air antara Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu;
Kuala Lumpur dan Kuching; Kuala Lumpur dan Penang; dan Kuala Lumpur dan
Langkawi.
Untuk penerbangan dalam negeri di
Indonesia, Lion Air, Batik Air dan Wings Air menawarkan pilihan layanan
rute perjalanan serta ketersediaan penerbangan lanjutan (connecting flight), seperti Medan, Padang, Palembang
Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Lombok, Makassar,
Manado, Balikpapan, Jayapura serta kota-kota lainnya.
Jaringan
Penerbangan Internasional Lion Air Group dari Indonesia menuju Malaysia
Penang – Bandar Udara Internasional
Penang, Pulau Pinang, Malaysia (PEN)
• dari Banda Aceh (BTJ) – Malindo
Air 1 kali setiap hari.
• dari Medan Kualanamu (KNO) – Lion
Air 1 kali setiap hari.
• dari Soekarno-Hatta Tangerang
(CGK) – Batik Air 1 kali setiap hari.
Malaka – Bandar Udara Internasional
Melaka, Batu Berendam, Melaka, Malaysia (MKZ)
• dari Pekanbaru (PKU) – Malindo Air
1 kali setiap Senin, Rabu, Sabtu
Subang – Bandar Udara Sultan Abdul
Aziz Shah, Subang Skypark, Selangor, Malaysia (SZB)
• dari Pekanbaru (PKU) – Malindo Air
1 kali setiap Jumat, Minggu
• dari Batam (BTH) – Malindo Air 1
kali sehari.
Kuala Lumpur – Bandar Udara
Internasional Kuala Lumpur, Malaysia (KUL)
• dari Soekarno-Hatta Tangerang
(CGK) – Malindo Air 3 kali sehari, Batik Air 2 kali sehari, Lion Air 3 kali
sehari.
• dari Bandung (BDO) – Malindo Air 1
kali sehari
• dari Denpasar (DPS) – Malindo Air
6 kali sehari.
Kuching – Bandar Udara Internasional
Kuching, Sarawak, Malaysia (KCH)
• dari Pontianak (PNK) – Wings Air 1
kali setiap hari (penghentian sementara penerbangan sejak 15 Maret 2020).
KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: PER Rabu, 18 Maret 2020, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur menutup semua pelayanan hingga (31/3) sesuai dengan Perintah Kawalan Pergerakan (Movement Control Order) Pemerintah Malaysia. Dalam pernyataan pers yang dikeluarkan KBRI Kuala Lumpur, Rabu, mereka menyatakan tidak memberikan pelayanan kekonsuleran dan keimigrasian hingga (31/3) dan operasional akan dimulai kembali (1/4). Langkah tersebut ditempuh untuk mendukung pemerintah Malaysia dalam rangka mengatasi penyebaran wabah COVID-19 dan ingin memastikan warga Indonesia di Malaysia dalam keadaan terlindungi dan sehat. Kedutaan juga menghimbau agar warga Indonesia di Malaysia menjaga kesehatan diri, tidak mengadakan dan menghadiri acara perhimpunan massal, menjauhi keramaian dan mengikuti pengumuman dari Kementerian Kesehatan Malaysia dan KBRI Kuala Lumpur. Pertanyaan dan informasi lebih lanjut bisa disampaikan ke Perintah Kawal Pergerakan Malaysia pada hotline 03-88882020 atau ke KBRI Kuala Lumpur dengan nomor +6017-6240500. Kedutaan juga menginformasikan mereka tidak memberikan pelayanan online sebagaimana diumumkan sebelumnya.
Malaysia Terapkan lockdown
Dalam hal mitigasi COVID-19, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yasin mengumumkan bahwa pemerintah Malaysia memutuskan untuk melaksanakan lockdown mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020 di seluruh negara bagian. “Perintah kawalan pergerakan ini dibuat di bawah Undang-Undang Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit 1988 dan Undang-Undang Polisi 1967,” ujar Muhyiddin dalam pidato khusus tentang COVID-19 di Kantor Perdana Menteri Malaysia. Lockdown atau karantina, yang disebut dalam bahasa setempat sebagai Perintah Kawalan Pergerakan, tersebut meliputi : Pertama, larangan menyeluruh pergerakan dan kegiatan massal di seluruh negeri, termasuk aktivitas keagamaan, olah raga, sosial dan budaya. “Untuk menegakkan larangan ini, semua rumah ibadah dan tempat perniagaan hendaklah ditutup, kecuali toko serba ada (pasaraya), toko kelontong, pasar umum, kedai dan toko serba ada yang menjual barang keperluan harian,” jelasnya. Khusus untuk umat Islam, ujar dia, penangguhan semua aktivitas keagamaan di masjid dan surau, termasuk shalat Jumat, ditetapkan berdasarkan keputusan Musyawarah Panitia Muzakarah Khusus yang telah bersidang pada 15 Maret 2020. Kedua, pembatasan menyeluruh semua perjalanan warga Malaysia ke luar negeri. “Bagi yang baru pulang dari luar negeri, mereka diminta menjalani pemeriksaan kesehatan dan melakukan karantina secara sukarela (atau self quarantine) selama 14 hari,” tegasnya. Ketiga, pembatasan masuk semua wisatawan dan warga asing. Keempat, penutupan semua PAUD, sekolah pemerintah dan swasta termasuk sekolah harian, sekolah berasrama penuh, sekolah internasional, pusat tahfiz, lembaga pendidikan tingkat rendah, menengah dan prauniversitas. Kelima, penutupan semua institusi pendidikan tinggi (IPT) pemerintah dan swasta serta institut latihan ketrampilan di seluruh negara bagian. Keenam, penutupan semua lembaga pemerintah dan swasta kecuali yang terlibat dengan pelayanan penting negara, yaitu air, listrik, energi, telekomunikasi, pos, pengangkutan, pengairan, minyak, gas, bahan bakar, pelumas, penyiaran, keuangan, perbankan, kesehatan, farmasi, PMK, penjara, pelabuhan, lapangan terbang, keselamatan, pertahanan, pembersihan, eceran dan persediaan makanan. “Saya sadar bahwa saudara-saudari mungkin merasakan bahwa tindakan yang diambil oleh pemerintah ini menimbulkan kesulitan dan kesukaran untuk saudara-saudari menjalani kehidupan harian,” ungkapnya lebih lanjut. Tindakan tersebut perlu dijalankan oleh pemerintah untuk membendung penularan wabah COVID-19 dan dari kemungkinan merenggut nyawa masyarakat Malaysia. Di Malaysia, jumlah kasus virus corona meningkat tajam secara mendadak yaitu 190 kasus hingga Minggu malam (15/3), disusul dengan 125 kasus baru pada Senin (16/3). Dengan demikian, jumlah keseluruhan orang yang dijangkiti wabah COVID-19 itu adalah 553. Dari jumlah tersebut, sebanyak 511 orang sedang dirawat di rumah sakit sedangkan 42 orang sudah pulih.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh ruang area kantor pusat Kawisata di Jakarta, Hotel Transit Gambir serta Konter Gambir terkait pencegahan penyebaran Virus Corona (Covid-19), kata M Ilud Siregar, Manager Humas Kawisata, hari ini.
” Selain untuk memberikan lingkungan Guna di lingkungan kerja, juga untuk memberikan keamanan & kenyamanan bagi para pelanggan yang berkunjung ke Hotel Transit Gambir dan Konter Kawisata Gambir, ” ujarnya.
Penyemprotan disinfektan di lakukan mulai dari area lobby kantor pusat Kawisata, ruang direksi, ruang rapat, ruang kerja karyawan dan fasilitas umum karyawan yaitu musholla, pantry dan toilet.
Sementara, penyemprotan disinfektan di Hotel Transit Gambir dilakukan pada area lobby, kamar hotel dan fasilitas lain yang terdapat di hotel. Di konter Gambir, penyemprotan dilakukan di seluruh area konter Gambir.
M Ilud Siregar menambahkan, selain menyediakan masker, hand sanitizer dan penyemprotan disinfektan, Kawisata juga melakukan kegiatan sosialisasi kepada para pelanggan, karyawan dan kru Kereta Api Wisata untuk tetap menjaga kesehatan dengan melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Rangkaian kegiatan tersebut dilakukan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman serta sebagai upaya pencegahan dan antisipasi penyebaran virus corona.
“Kami terus berupaya untuk menjaga karyawan dan lingkungan kerja serta para pelanggan setia Hotel Transit Gambir yang di kelola oleh Kawisata, juga para pengunjung konter Gambir agar terhindar dari virus Covid -19”, ujar Ilud Siregar.
Cek Suhu Tubuh
Untuk stasiun Gambir sendiri, akhir pekan lalu PT Kereta Api Induk ( KAI) yang menjadi induk perusahaan Kawisata telah melakukan tindakan preventif seperti melarang penumpang dengan suhu badan 38 derajat celcius naik kereta api dan menempatkan petugas khusus saat mengecek boarding pass.
“Mereka bertugas untuk mengecek suhu tubuh dari tiap calon penumpang kereta api (KA) pada saat proses boarding atau pengecekan tiket dan kartu identitas,” kata Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa melalui keterangan tertulis.
Eva menjelaskan, penempatan petugas khusus tersebut merupakan respons PT KAI dalam mengantisipasi virus korona. Apalagi, WHO sudah mengategorikan virus korona sebagai pandemik.
“Jika pada saat pengecekan suhu badan ditemukan panas suhu badan calon penumpang mencapai 38 derajat celcius ke atas, dan atas rekomendasi petugas kesehatan, maka calon penumpang dilarang untuk melakukan perjalanan KA,” kata Eva .
Dia menegaskan penumpang yang dilarang naik kereta api akan menerima kembali pembayaran secara penuh (refund). Khusus di Daop 1 Jakarta, kata Eva, pemeriksaan suhu tubuh calon penumpang KA Jarak Jauh berada di area pintu cek boarding pass Stasiun Gambir dan Stasiun Senen.
PT KAI juga menyediakan hand sanitizer di area meja boarding pass serta menyiagakan petugas kebersihan baik di stasiun maupun selama perjalanan.
“Tim medis yang bertugas di pos kesehatan stasiun juga telah siap membantu proses rujukan ke sejumlah rumah sakit jika dibutuhkan,” kata dia.
Eva mengimbau penumpang untuk menggunakan masker jika sedang sakit. Penumpang KA juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan tiap area stasiun.
Selain itu, PT KAI, juga turut memperhatikan kebersihan di sarana dan prasarana stasiun. Di antaranya penyemprotan disinfektan menggunakan biosanitizer ke kursi, pagar, perangkat fasilitas penumpang, hingga tiap sudut stasiun.
“KAI melakukan pencucian interior dan eksterior kereta secara rutin setiap sebelum perjalanan dengan menggunakan bahan kimia untuk sterilisasi. Bantal yang disediakan di kereta pun selalu dalam kondisi baru tercuci bersih setiap pergantian penumpang,” kata Eva.
Keindahan Dead Forrest atau dijuluki Hutan Mati di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. ( foto: Heryus Saputro Samhudi).
GARUT, bisniswisata.co.id: Saya dan Resti, istri saya, berdiri di hamparan tanah debu vulkanik berwarna putih. Tubuh kami sedikit goyang oleh angin yang berkibar kencang, datang entah dari arah mana, membawa aroma belerang ke hidung yang (maaf) mirip bau kentut.
Ada kesan seram dan misteri, terlebih ketika mendadak turunnya kabut makin menebal, menjadikan semua yang ada seperti hilang ditelan kapas lembut dan dingin, sampai kemudian saya menyadari tengah berada diantara ratusan batang dan ranting pohon cantigi (Vaccinium valium).
Pohon yang tegaknya tak beraturan ini seolah tanduk-tanduk rusa jantan yang dilabur cat hitam. Begitu kesan saat mampir (lagi) di Dead Forrest atau dijuluki Hutan Mati di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tempat yang menjadi favorit pendaki alam yang satu ini memang bukan hal baru bagi saya.
Sejak tahun 1976, saya sudah beberapa kali mampir, tiap hendak mendaki dan mencapai Tegal Alun, kawasan terbuka yang tak berapa luas dan merupakan pucuk tertinggi dari Gunung Papandayan. Siapapun yang singgah, pasti setuju bahwa Hutan Mati memang seperti menyimpan misteri.
Betapa tidak! Batang dan ranting pepohonan tegak memenuhi area, namun, uniknya, tanpa daun sama sekali. Sementara nyaris berdempetan dengan semua itu, juga mengampar pohon-pohon cantigi dan pohon tipe hutan alpin lainnya. Merah-kuning-hijau, karena lengkap dirimbuni daun-daunnya.
Misterius dan bikin bulu kuduk merinding. Terlebih setelah kita tahu kalau batang-batang pohon yang menghitam itu, adalah arang-kemarang, sisa hutan terbakar. Pusat data geologi di Bandung mencatat, Gunung Papandayan erupsi dahsyat pada 11 – 12 Agustus 1772.
Akibat letusan itu, empat puluh desa yang ada di sekitar kasawan hancur-lebur. Lebih dari 3.000 orang penduduk menjadi korban dan hilang jiwa, terkubur debu vulkanik dan muntahan lahar panas yang muncrat.
Lelehan lahar panas menggelontor ke bawah, menghasilkan alur lebar berlekuk-lekuk, dibatasi dua dinding tinggi. Saya jadi ingat Grand Canyon di Colorado, USA yang dipenuhi bongkah-bongkah belerang di sana-sini, dan kawah yang menjadi sumbernya masih terus mengepul hingga kini.
Itu semua direkam sejarahwan Lee Davis dalam buku The Natural Disasters. Tahun 2002. Papandayan meletus lagi meski tak sedahsyat erupsi dua setengah abad silam, yang terus membayangi kami saat melangkah menapakinya. Namun, kesan seram tersebut tak meruntuhkan minat pendaki untuk datang dan datang lagi ke Hutan Mati.
Bukan sekadar untuk tempat istirahat, meneguk isi botol air mineral atau menikmati bekal camilan, tapi juga untuk menjadikan areal Hutan Mati sebagai spot foto yang unik dan eksklusif. Resti misalnya, langsung minta saya men’jepret’nya, saat ia berpose di antara hitam legam batang-batang pohonan yang seperti tumbuh di amparan debu halus putih dan masif.
Cantik dan misterius dan Swiss van Java Garut ini banyak menyumbang wisata alam unggulan bagi Provinsi Jawa Barat. Dijuluki sebagai Swiss van Java, karena kecantikannya merebak dimana-mana. Geografisnya yang berada di ketinggian dikitari dengan deretan gunung-gunung: Cikuray (yang tertinggi, 2.821 m-dpl), G. Guntur, G. Galunggung, Talagabodas, dan banyak lagi.
Ketinggian terendahnya merentang di sepanjang pesisir pantai selatan, antara lain berupa pantai-hutan Cibanteng dan Pamengpeuk. Gunung Papandayan (2.622 m/dpl) merupakan satu dari sekian banyak pesona Garut, dan sekaligus merupakan satu dari sekian banyak obyek pendakian di Indonesia.
Berdua, menikmati keindahan Gunung Papandayan dari tempat yang dijuluki Camp Davis dan berjalan menanjak selama dua jam (foto: Herus Saputro Samhudi).
Cara mencapainya
Cukup jauh dari pusat kota Garut, yakni sekitar 69 Kilometer, dan perlu waktu tempuh sekitar 3 jam untuk mencapainya. Bagi calon pengunjung umum, patokannya adalah Terminal Garut dan dari situ silakan naik bus regular tujuan Pameungpeuk, dan minta sopir atau kernet untuk diturunkan di Simpang Tiga Pasar Cisurupan.
Di samping Masjid Raya Cisurupan mangkal mobil-mobil pick-up bak terbuka yang biasa mengantar para pendaki gunung yang hendak dituju ke area Wisata Gunung Papandayan. mobil ngetem menunggu penumpang penuh. Biaya per penumpang Rp 20.000 – Rp 30.000. Bila datang berombongan, ada baiknya negosiasi sewa sekali antar, hingga bisa didapat kumulasi ongkos yang lebih murah.
Bagi yang berkendaraan pribadi, dari arah kota Garut bisa langsung menuju Cisurupan, dan lanjut menyusuri jalan mendaki dan berkelok-kelok hingga mencapai gerbang Wisata Gunung Papandayan. Pusat pengelolaan Wisata Gunung Papandayan ini masuk wilayah administratif Desa Karamat Wangi, Kecamatan Cisurupan, KabupatenGarut, Jawa Barat, kode pos 44163.
Hari Minggu atau hari libur, pesona wisata alam ini ramai disaksikan pengunjung domestik dari Bandung, Garut dan Tasikmalaya, Bekasi dan Jakarta. Satu dua rombongan wisatawan mancanegara yang datang dengan minibus wisata pun tampak di lokasi. Tiket masuk Rp 35.000/pengunjung. Bea parkir Rp30.00 untuk katagori sedan atau minibus.
Ojeg ‘Camp David di ’Gerbang Wisata Gunung Papandayan dilengkapi sarana dan fasilitas umum yang relatif baik. Areal parkirnya yang dengan nada gurau dijuluki ‘anak gunung’ sebagai Camp David, luas beraspal, dikitari bangunan-bangunan fungsional: kantor pengelola, resto dan warung makan sederhana, toko cenderamata dan oleh-oleh, gerai penjual buah dan sayuran segar, serta menara pandang untuk melihat view sekitar.
Dari gerbang Wisata Gunung Papandayan, perlu jalan kaki sekitar dua jam untuk mencapai Hutan Mati. Melintasi sabana dan hutan kecil yang rapat pepohonan cantigi dan alpin, menyusuri jalan setapak terbuka dipunggungan gunung yang gundul berbatu-batu, diapit tebing tinggi di kiri kanan.
Para pemula tak perlu khawatir karena track menuju Hutan Mati relative landau, tak terlalu sulit didaki. Bahkan di ‘Camp David’ tersedia jasa ojeg sepeda motor trail menuju titik terdekat Hutan Mati. Tarifnya Rp 75.000 sekali jalan atau Rp 125.000 untuk antar-pulang. Cuma, berboncengan sepeda motor, mendaki atau menuruni jalan setapak yang licin dan berbatu-batu, butuh kesiapan mental.
Di sadel boncengan, tubuh terus-menerus terantuk-antuk, bikin pinggang pegal, ha…ha…ha…! karena itu, disamping isi dompet mesti dihemat, saya dan Resti memilih jalan kaki, sebagaimana biasa kami mendaki gunung. Tak mau kalah dengan para pendaki muda yang masih bertenaga dan tegap langkahnya.
Berjalan bersama para pengunjung pemula, membantu pasangan muda yang minta tolong mereka di’jepret’ di spot foto eksotik. Perjalanan wisata yang menyehatkan dan menyenangkan.
Sekitar satu setengah jam berjalan dari Gerbang, karena banyak berhenti di spot-spot foto, kami sampai di areal lebar Kawah Papandayan yang terus mengepulkan asap belerang, dan mengeluarkan air panas yang mengalir membentuk sungai kecil ke arah bawah dengan aiir jernih bercampur belereng yang tak layak diminum.
Ada pos jaga tempat petugas memonitor aktivitas pendaki, dilengkapi warung kecil penyedia makanan dan minuman ringan, dan biasa jadi tempat istirahat pendaki sebelum bergerak kembali.
Di pos jaga ini jalan setapak bercabang dua. Yang ke arah kanan menuju Pondok Saladah, area berkemah bagi yang ingin bermalam atau tinggal lebih lama di kawasan itu dan yang di sebelah kiri adalah jalan menuju Hutan Mati dan Tegal Alun – triangulasi Gunung Papandayan.
Persisnya, kawasan Hutan Mati berada di bagian atas bibir kawah Papandayan. Lumayan dingin walau tengah hari bolong. Maklum, itu kawasan merupakan jalur lintasan angin dan kerap disapu kabut tebal. “Tempat angker”, ungkap seorang famili yang tinggal di dekat Masjid Raya Cisurupan.
Namun bila didekati dengan hati yang bersih, akan hadir dalam diri kita sudut pandang berbeda karena ini tempat yang bagus meski banyak pohon tanpa dedauan. Ratusan pohon cantigi berwarna hitam tumbuh tepat di atas material lumpur dari kawah gunung, menghadirkan suasana eksotis dan menakjubkan.
Indonesia memang cantik. Dead Forrest on top of Mt.Papandayan adalah bagian dari kecantikan itu…Oya, jangan lupa membawa topi, wind jacket water proof berbahan ringan dan hangat bila dikenakan, karena hujan lokal bisa turun kapan saja. Saputangan atau bandana berbahan flannel juga perlu untuk menutup hidung saat kepulan uap belerang melintas ke dekat kita.
Jangan juga lupa membawa tongkat. Syukur-syukur tongkat lipat dari bahan metal ringan yang bisa dikantongi atau disusupkan ke dalam tas cangklong. Juga botol berisi air mineral yang cukup, plus camilan ringan dan bergizi.
Nikmati saat harus beristirahat, sebelum melangkah lagi. Santai saja, selangkah demi selangkah. Tak dilarang untuk bergandengan tangan ataupun menuntun Si Dia dan luluskanpermintaan bila dia ingin di foto di sebuah spot yang menurutnya cantik dan perlu. Hmmm asyikkan ?…
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pekan mode terbesar di tanah air, Indonesia
Fashion Week (IFW) 2020, yang semula diagendakan pada 1-5 April, ditunda pelaksanaannya pada Oktober tahun ini. Hal itu disampaikan Poppy Dharsono, Presiden IFW dan Ketua Umum Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), hari ini.
Dia mengatakan keputusan itu diambil panitia IFW, setelah melalui serangkaian pertukar-pikiran, pertemuan, dan diskusi dengan berbagai pihak terkait. Juga melihat kondisi yang ada sekarang, danuntuk menjawab berbagai kekhawatiran dari para peserta.
“Selain tentunya memperhatikan kenyamanan dan kesehatan kita semua. Serta mengacu pada Keputusan Presiden No. 7 Tahun 2020, maka kami terpaksa menunda pelaksanaan IFW 2020 yang ke-9 ini,” ungkap Poppy di Jakarta.
Dia menjelaskan panitia IFW 2020 telah memutuskan bahwa Indonesia Fashion Week 2020 akan diundur penyelenggaraannya menjadi 7-11 Oktober 2020, dan masih bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).
Poppy menyampaikan semoga hal ini dapat diterima dengan baik oleh semua pihak. Hal-hal teknis dan lainnya akan panitia sampaikan dalam waktu dekat ini.
“Kami mohon maaf kepada para peserta atas ketidaknyamanan yang terjadi, sebagai akibat dari adanya penundaan ini. Terima kasih banyak atas segala perhatian dan dukungannya kepada Indonesia Fashion Week 2020,” tambah Poppy.
Indonesia Fashion Week, didirikan pada tahun 2012, diadakan setiap tahun dan bertujuan untuk memberikan arahan kepada industri mode Indonesia dan IFW telah menetapkan target untuk menjadi salah satu pusat mode dan pusat mode terkemuka. di kawasan dan secara global.
Sebagai sebuah negara dengan kekuatan unik dalam fashion – dikelilingi oleh kekayaan budaya Indonesia, dengan sumber daya alam dan pengetahuan lokal yang tak terbatas bersama dengan banyak orang kreatif, target tersebut akan tercapai dengan penyelenggaraan yang konsisten dan keejasama berbagai pihak.
IFW selalu menghadirkan budaya Indonesia melalui produk delux siap pakai, produk mode tinggi, produk mode etnik modern dan Bridal serta peragaan busana, seminar, lokakarya, talkshow, kompetisi, seminar, talkshow, dan pameran dagang dan wadah semua fitur unik budaya Indonesia disajikan dalam bentuk beragam busana siap pakai dan aksesoris.
Kegiatan tahunan ini menjadi daya tarik para pelaku industri garment, fashion, pengamat mode hingga kalangan pers mancanegara untuk datang ke Indonesia Fashion Week sehingga pemerintah dan swasta harus mampu mengemasnya dengan baik.
Rombongan wusman gembira berwisata di Bali, namun kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK), Visa Kunjungan Saat Kedatangan (Visa on Arrival) dan Bebas Visa Diplomatik/Dinas kini ditangguhkan selama satu bulan. ( foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pemerintah memutuskan untuk menangguhkan visa untuk seluruh kedatangan orang asing selama satu bulan menyusul perkembangan penyebaran virus penyakit Covid-19 di seluruh dunia.
kebijakan ini berlaku bagi seluruh orang asing dari seluruh negara.Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK), Visa Kunjungan Saat Kedatangan (Visa on Arrival) dan Bebas Visa Diplomatik/Dinas ditangguhkan selama satu bulan, demikian pernyataan itu dikutip dari laman kemlu.go.id, hari ini.
Oleh karena itu, setiap orang asing yang akan berkunjung ke Indonesia diharuskan memiliki visa dari Perwakilan RI sesuai dengan maksud dan tujuan kunjungan.
Pada saat pengajuan visa harus melampirkan surat keterangan sehat/health certificate yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan yang berwenang di masing-masing negara.
Selain itu, Kemenlu juga mengimbau agar warga negara Indonesia yang kini sedang bepergian ke luar negeri, diharapkan segera kembali ke Tanah Air sebelum mengalami kesulitan penerbangan yang lebih jauh lagi.
Di samping itu, bagi WNI yang hendak bepergian ke luar negeri, diimbau agar menunda hal tersebut. Kebijakan ini akan berlaku mulai Jumat (20/3/2020), pukul 00.00 WIB.
Jumlah kasus melonjak
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan bahwa hingga Selasa (17/3/2020) ada 172 kasus pasien positif virus corona atau Covid-19.
“Dengan demikian, jumlah ini bertambah 38 orang dari pengumuman terakhir yang dilakukan pada Senin sore. Total ada 172 kasus dan yang meninggal tetap lima orang,” ujar Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Selasa sore.
Yuri menjelaskan, sebanyak 12 kasus didapatkan sejak Senin sore hingga malam. Data sampai tanggal 15 Maret 2020 ada 146 kasus. Kemudian, jumlah ini bertambah setelah dengan hasil pemeriksaan spesimen yang dilakukan Balitbang Kesehatan. Jumlahnya dari data yang dicek saat itu bertambah 20 kasus.
Setelah itu, pemeriksaan yang dilakukan Universitas Airlangga memperlihatkan bahwa ada tambahan enam kasus sehingga, total saat ini adalah 172 kasus dengan penambahan pasien yang berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kepulauan Riau.
Akan tetapi, dia tidak menyebutkan jumlah pasien secara spesifik di setiap provinsi dansecara umum, 38 orang yang baru saja dinyatakan positif virus corona atau Covid-19 itu sudah membaik. Sedangkan sembilan pasien yang sudah dinyatakan sembuh dan sudah bisa pulang.
Mengenai upaya pemerintah RI menanggulangi pandemi Covid-19, Yurianto didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengklaim penanganan wabah Covid-19 di Indonesia terkendali.
Berbicara saat menggelar video conference interaktif dengan lebih dari 100 Kedutaan Besar dan Organisasi Internasional di Jakarta, Yurianto menjelaskan ada 360 rumah sakit rujukan serta pengoptimalan puskesmas dan rumah sakit swasta untuk deteksi dini bagi seluruh penduduk tanpa membedakan status kewarganegaraan.
Dia menambahkan, Kementerian Kesehatan juga terus meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dalam penanggulangan wabah ini. Termasuk juga dalam berkomunikasi dengan kedutaan dan kantor perwakilan dari semua negara yang berada di Indonesia.
Sementara itu, Mahendra mengungkapkan, social distancing juga merupakan hal yang penting dalam meminimalisasi penyebaran virus corona di masyarakat. Sejauh ini, Kemlu telah mengambil kebijakan untuk membatasi keikutsertaan delegasi Indonesia pada forum di luar negeri maupun penyelenggaraan kegiatan internasional di Indonesia. Di samping itu ada pula penjadwalan kerja dari rumah dan peluncuran hotline Covid-19 bagi korps diplomatik.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil di kesempatan yang sama menyampaikan, pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan dan upaya guna memitigasi dampak Covid-19 bagi perekonomian Indonesia.
“Pemerintah bekerjasama dengan BI dan OJK telah mengambil serangkaian kebijakan fiskal, moneter dan sektor keuangan yang sinergis. Kebijakan itu antara lain dalam bentuk stimulus berupa kelonggaran pajak guna membantu industri yang terkena dampak, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” pungkasnya.
Akses wisatawan ke tiga Gili di Lombok ditutup sementara dari pelabuhan Pemenang dan Dermaga Senggigi. ( foto: Dithubla)
MATARAM, bisniswisata.co.id: – Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut melalui Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Pemenang Lombok Utara menerbitkan kebijakan penutupan aktivitas keluar masuk wisatawan di tiga gili di Lombok.
“Penutupan dari Pelabuhan Pemenang dan Dermaga Senggigi mulai hari ini. 17 Maret 2020. Langkah akhir ini dilakukan menyusuli adanya keputusan resmi Pemprov NTB menutup akses wisata mancanegara dari Bali ke Lombok,” kata Heru Supriyadi. Kepala UPP Kelas II Pemenang, hari ini.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan sebagai tindaklanjut surat Kepala Dinas Perhubungan Pemprov NTB yang diterima kemarin. ‘’Sehubungan dengan hal tersebut, kami resmi menutup sementara Dermaga Senggigi dan Pelabuhan Pemenang serta 3 Gili mulai Selasa (17/3),’’ kata Heru.
Dengan menutup semua akses wisata menuju tiga gili, yakni Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno, kebijakan penutupan akan dilakukan di dua titik, Dermaga Senggigi dan Dermaga Bangsal dengan menginformasikan ke semua kapal yang melayani penyeberangan dari Bali ke Lombok.
Skenario terburuk pembatasan akses pintu masuk yang dilakukan Pemprov NTB itu dipahaminya sebagai upaya pencegahan dampak virus Corona setelah menjadi pandemi dunia.
Maka untuk mengantisipasi virus Corona, sebagai bentuk kewaspadaan, pihaknya menyampaikan kepada para nakhoda, pemilik atau operator, agen kapal penumpang baik fastboat mancanegara maupun kapal domestik agar tidak melakukan embarkasi dan debarkasi di dua pelabuhan tersebut.
‘’Semua operator agar tidak melakukan embarkasi dan debarkasi ke penumpang ke tiga gili dan Senggigi, sampai 14 hari kedepan,’’ tegas Heru.
Keputusan tersebut memang masih sifatnya sementara. ‘’Karena keputusan gubernur harus ditutup, maka kita tutup aktivitas penyeberangan ke tiga gili mulai besok,’’ kata Heru.
Sebagai informasi, hingga dengan hari Senin (16/3), jumlah orang yang naik dari 3 gili sebanyak 2.330 orang dengan tujuan Pelabuhan Pemenang.
Tiga pulau di kawasan Nusa Tenggara Barat ini memang menjadi tujuan wisatawan mancanegaea karena punya karakteristik masing-masing. Ketiga Gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, sama-sama dikelilingi pantai pasir putih, dengan laut yang jernih dan pemandangan yang luar biasa.
Ke tiga Gili menawarkan sekolah menyelam, namun Gili Air adalah perpaduan yang sempurna dari Gili Trawangan dan Gili Meno. Ada banyak restoran pula dan Gili Air juga menawarkan suasana kedamaian seperti di Gili Meno.
Di sini pengunjung dapat menikmati pemandangan laut lepas tanpa harus dihalangi oleh Pegunungan Lombok di Pantai Utara. Bagi yang suka kehidupan malam maka bar dan restoran banyak terdapat di sisi timur pulau. Di sinilah kehidupan malam di Gili Air berada.
Gili Meno merupakan pulau terkecil dengan suasana yang paling tenang di Kepulauan Gili. Pasir putih dan air sejernih kristal yang mengelilingi pulau ini, menjadikan Gili Meno sebagai tempat yang memiliki banyak pantai terbaik.
Bagi para pasangan baru, Gili Meno adalah tempat yang cocok untuk berbulan madu. Suasana romantis, banyaknya pasangan yang bermesraan di pantai, dan pondok beratap rumbia, maupun mengarungi laut menggunakan perahu.
Sementara Gili Trawangan merupakan pulau terbesar fiantara ketiga Gili dan Trawangan juga merupakan pulau yang paling maju dan paling ramai di antara kedua Gili lainnya. Wisarawan bisa menikmati penginapan dengan kualitas hotel bintang lima, juga restoran internasional untuk melengkapi liburan.
Sisi barat Gili Trawangan mempunyai suasana yang jauh lebih tenang. Sebagian besar memiliki resort kelas atas yang menawarkan pemandangan matahari terbenam sensasional.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PANDEMIK COVID-19, agenda travel martdi Indonesia dijadwal ulang. Di kutip dari ITN, IndonesiaTouristNews.com, Jogja International Travel Mart dijadwalkan dihelat pada akhir Maret 2020. Atas pertimbangan keselamatan seluruh peserta dan pihak-pihak lain yang terlibat– buyers, sellers, panitia, media, wakil pemerintahan daerah dan lain-lain — pasar pariwisata internasional di Yogyakarta itu diundur pada 15-18 Juni 2020 di kota Jogja.
Pasar pariwisata Majapahit International Travel Fair 2020 (MITF) yang pada awalnya digelar pada pertengahan April 2020 diundur hingga bulan Juni 2020.
Jadwal pelaksanaan akan diumumkan kemudian, begitu dikonfirmasikan Monas Tjahjono, selaku Ketua Pelaksana Travel Exchange MITF 2020. MITF tahun ini mengangkat tema East Java Culinary Journey.
Menurut dia, tema yang diangkat ini merupakan pertama kali di Indonesia ada pasar pariwisata yang meng-highlight perjalanan berbasis kulier. Indonesia dengan beragam suku bangsa dan negara kepulauan memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa.
Dengan banyaknya pasar pariwisata internasional di luar negeri yang dibatalkan terkait sebab pandemi virus corona, upaya para pemangku kepentingan pariwisata untuk tetap menghadirkan pasar-pasar pariwisata internasional di daerah menjadi sangat berarti dan perlu didukung.
Bagaimanapun, kegiatan pemasaran pariwisata sejatinya tidak pernah berhenti, dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
Bursa wisata atau travel mart mempertemukan para penjual ( seller) dan pembeli ( buyer) paket wisata dari dalam dan luar negri. Bisa menjual paker outbound ke luar negri arau paket inbound , menjual paket-paket wisara di dalam negri sendiri.
Di jaman digital ini, travel mart itu benar-benar marketplace untuk selling dan buying dalam paket-paket wisata, baik dalam bentuk package maupun dalam bentuk invidual. Hampir semua provinsi di tanah air memiliki event travel mart ini untuk menjual produk-produk dari industri wisata Indonesia.
Sementara Bali and Beyond Travel Mart masih tetap pada jadual yang telah dilansir tahun lalu. Pada penyelenggaraannya yang ketujuh tahun ini, BBTF mengangkat tema “Going Further for Cultural Heritage” di mana buyers dari dalam dan luar negeri akan menemukan produk-produk perjalanan bertema dan/atau berbasis budaya lebih beragam. Tahun 2020, Pemkab se P Sumba menjadi co-host event inisiasi DPD ASITA Bali tersebut.*
Taman Air Mancur Sri Baduga, Purwakarta banyak dikunjungi wisatawan. ( foto: Tribunnews.com)
PURWAKARTA, bisniswisata.co.id: Menindaklanjuti surat keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 7 tahun 2020, tentang percepatan penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Pemerintah Kabupaten Purwakarta menghimbau tempat wisata yang ada di Purwakarta untuk menutup sementara lokasinya.
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menuturkan, ia sudah meminta kepada kepada dinas terkait untuk menutup seluruh tempat wisata dan kegiatan yang mengundang massa lainnya.
“Selain meliburkan sementara kegiatan belajar semua tingkatan sekolah, sejumlah kegiatan yang mengundang massa. Termasuk, menghentikan sementara kegiatan masyarakat setiap akhir pekannya. Seperti kegiatan wisata kuliner setiap sabtu malam dan Car Free Day setiap minggu pagi,” Ujar Anne, kemarin seperti dikutip jabarprov.go.id.
Dia menghimbau, kepada pengelola sejumlah tempat wisata yang ada di Purwakarta untuk menutup sementara, dalam beberapa waktu kedepan.
“Saya meminta agar tempat wisata untuk menutup sementara ditutup, termasuk Air Mancur Sri Baduga, Tajug Gede Cilodong dan Bale Panyawangan Diorama,” tuturnya.
Ia berpesan, pengelola tempat wisata dan tempat makan lainnya untuk memperhatikan kebersihan bagi para pengunjung. Seperti menyediakan tempat cuci tangan atau wastafel.
“Sebenarnya, kebiasaan kita yang salah justru yang bisa memicu penularan penyakit. Seperti jarang langsung cuci tangan setelah beraktivitas. Makanya, mari tingkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Jadi, sebelum masuk ke lokasi wisata, pengunjung wajib cuci tangan terlebih dahulu,” jelas dia.
Purwakarta adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Purwakarta terletak di Kec. Purwakarta yang berjarak 80 km sebelah tenggara Jakarta. Tak heran banyak warga Jabodetabek yang berwisata ke Purwakarta karena sedikitnya ada 25 tempat wisata terbaru & paling hits.
Kepala Bidang Pariwisata pada Disporaparbud Kabupaten Purwakarta Irfan Suryana mengatakan tahun 2019 lalu Purwakarta dikunjungi 2,8 juta wisatawan dari target 4 juta orang, ujarnya. Ramainya kunjungan wisatawan Hal tidak terlepas dari keberadaan tempat wisata baru di kota tersebut.
Sebut saja destinasi seperti Giri Tirta Kahuripan, Hidden Valley Hills, hotel gantung gunung parang atau Sky lodge tertinggi di dunia. Hotel gantung pertama di Indpertamaini diklaim menyaingi hotel gantung di Peru ini letaknya berada di tebing Gunung Parang, Kampung Cisaga, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat.
Kota kecil ini sukses menarik perhatian jutaan mata dengan dibangunnya hotel gantung atau skylodge tertinggi di dunia. Hotel gantung Purwakarta ini mengalahkan Skylodge Adventure Suites di Peru yang terkenal ekstrem di kalangan traveler dunia.
Jika Skylodge Adventure Suites Peru berketinggian 122 meter, Skylodge Purwakarta lebih tinggi lagi yaitu sekitar 400 hingga 900 meter. Hotel yang diresmikan pada Oktober 2017 ini memang terinspirasi dari skylodge Peru, desain nya pun terlihat mirip.
Topografi purwakarta yang didominasi area perbukitan menghasilkan panorama alam terbuka yang menyejukkan. Makanya yang bosan liburan di Bogor dan Bandung, Purwakarta jadi destinasi alternatif selanjutnya.
Nah, berikut ini adalah beberapa rekomendasi tempat wisata di Purwakarta yang sedang hits dikunjungi adakah Hidden Valleyhills, Bukit Katumbiri, Waterpark Kuya Maranggi, Urban Farming, Cikao Park, Curug Cipurut, Curug Tilu, Desa Sejuta Batu, Tanjakan Cinta, Gunung Lembu, Gunung Parang Purwakarta.
Masih ada lagi Gunung Bongkok, Mata Air Cijanun, The Colorville at Alam Sari Wates, Pasir Langlang Panyawangan, Situ Wanayasa, Bukit Panenjoan, Waduk Jatiluhur, Jatiluhur Water World, Giri Tirta Kahuripan, Desa Wisata Tajur, Taman Air Mancur Sri Baduga dan Saung Manglid Purwakarta.
Terkait adanya himbayan afar obyek wisata di Purwajarta di tutup sementara mencegah penyebaran wabah pandemi global Covid-19, Irfan Suryana mengatakan, pihaknya tidak bisa memaksa kepada pengelola wisata untuk menutup objek bisnisnya terkait antisipasi penyebaran virus corona.
Pemerintah hanya memberikan imbauan berupa surat edaran kepada pengelola untuk memperhatikan kebersihan bagi para pengunjung. Seperti menyediakan tempat cuci tangan atau wastafel jika tetap menerima wisatawan.
“Yang kami tutup destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah, seperti Air Mancur Sri Baduga, Tajug Gede Cilodong dan Bale Panyawangan Diorama, kalau objek wisata pihak swasta kami hanya memberikan berupa imbauan,” ujarnya.
Taman Air Mancur Sri Baduga juga banyak dikunjungi wisatawan sebagai destinasi murah meriah di akhir pekan.Tata cahaya yang keren yang dipadukan dengan teknologi dan atraksi air mancur menjadi suguhan unik yang membuat suasana malam di Purwakarta semakin meriah.
Selain Sri Baduga yang instagramable juga ada Saung Manglid, salah satu tempat makan di dataran tinggi Purwakarta dengan konsep ruang terbuka di antara sayuran, tanaman hias hingga kolam ikan.
Konsep inilah yang membuat saung Manglid selalu hits di perbincangkan di social media. Bahkan, dijadikan destinasi alternatif saat liburan di Purwakarta.
Selain menu murah yang ditawarkan, tempat makan ini didekorasi menggunakan anyaman bambu unik dengan hiasan instagramable di sekitarnya.
Irfan Suryana mengaku, ditutup sementaranya objek wisata milik pemerintah akan berdampak terhadap jumlah wisatawan datang ke Purwakarta. Apalagi Tajug Gede Cilodong mampu menyedot menyebut ribuan wisatawan setiap akhir pekannya
SUMBAWA,bisniswisata.co.id: Jangan merindukan pantai di Pulau Bungin.Tidak bakal kesampaian. Karena sekujur pulau dipadati rumah. Nyaris tak ada petak kosong. Bahkan di lingkar pinggir pulau, pondasi dan tiang-penyangga rumah penduduk berhubungan langsung dengan ombak laut.
Terletak di Laut Bali, persisnya di utara Pulau Sumbawa. Secara administratif Pulau Bungin merupakan satu dari beberapa desa di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Bila dilihat dengan mata burung terbang, ini pulau ibarat tongkang yang berlayar dengan muatan penuh rumah. Rumput dan pucuk pepohonan pun nyaris tak tumbuh di tanah, karena selalu ludes dimakan kambing, yang bahkan hobi ngemil kertas koran atau bungkus rokok.
Tamasya unik Pulau Bungin yang dicatat UNESCO sebagai Pulau Terpadat di Dunia. Jumlah penduduk dunia kini mencapai 7,7 milyar jiwa. Pertumbuhan ini terus meningkat, sementara penyebarannya tidak merata.
Tak heran bila UNESCO mencatat banyak tempat yang penduduknya terlalu padat. Bahkan ada 4 pulau dengan penduduk terpadat. Satu diantaranya adalah Pulau Bungin di Indonesia.
Empat pulau terpadat itu adalah Santa Cruz del Islote, pulau buatan yang terletak di San Bernardo Archipelago di Teluk Morrosquillo, Kolombia. Ukurannya cuma seluas lapangan bola, dan kini 500 orang tinggal di atasnya. Jadi, seratus meter persegi untuk tiap 5 orang. Populasi ini terus meningkat tiap tahun.
Pulau kedua adalah Ap Lei Chau yang merupakan bagian distrik Southern di Hongkong. Luasnya cuma 80,5 kilometer persegi. Tahun 2008 tercatat di atasnya tinggal sekitar 1.289.500 orang, dan terus meningkat tahun ke tahun.
Migingo di Kenya tak kalah padat. Terletak di Danau Victoria, pulau ini jadi titik singgung teritorial antara Kenya dan Uganda. Namun sejak 1926, kepemilikan teritorial pulau ini secara konsisten telah ditunjukkan di peta dan dalam bahasa pada dokumen resmi sebagai Kenya. Dengan luas cuma dua ribu meter persegi, lebih seribu orang tercatat tinggal di Pulau Migingo.
Indonesia juga dicatat UNESCO sebagai negara pemilik pulau terpadat di dunia. Awalnya banyak yang menyangka, predikat itu akan jatuh pada Pulau Jawa yang memang padat penduduk. Siapa mengira, julukan terpadat justru ditabalkan kepada Pulau Bungin yang terletak di Laut Bali, persisnya di utara Pulau Sumbawa.
Secara administratif Pulau Bungin merupakan satu dari beberapa desa di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas 0,085 km² atau 8,5 hektar. Pulau Bungin berpenduduk 5.025 jiwa, dengan tingkat kepadatan 59.100 an jiwa/km². Padahal idealnya hanya untuk dihuni antara 800 – 1600 orang penduduk saja.
Dari pesisir timur Pulau Lombok, Pulau Bungin bisa ditempuh dalam waktu sekitar enam sampai delapan jam bermobil termasuk penyeberangan ferry dari Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur, ke Pelabuhan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa Barat – ke Kota Sumbawa Besar.
Dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa ini, Pulau Bungin cuma tinggal sekitar 70 km jaraknya. Dari Jakarta, saya ke Pulau Bungin memanfaatkan penerbangan ke Bandara Sultan Muhammad Salahudin di Kabupaten Bima di ujung timur Pulau Sumbawa, lalu bermobil 2 jam ke barat, dan tinggal beberapa malam di Kabupaten Dompu.
Usai ‘urusan’ di Dompu, kembali saya bermobil 6 jam ke barat, dan menyusup ke bagian utara Kabupaten Sumbawa. Di satu simpang di Kecamatan Alas, jalan aspal mulus yang kami susuri dari Kabupaten Bima mendadak hilang, berganti jalan berbatu-batu dan berdebu, bahkan jalan tanah melewati kampung dan kebun, terus ke utara ke ujung sebuah tanjung.
Pulau Bungin terletak di ujung lengkung tanjung. Dulu, dari ujung tanjung di pesisir utara Pulau Sumbawa ini, orang harus bersampan untuk tiba di Pulau Bungin. Tapi kini Pulau Bungin tak lagi mengapung di laut lepas.
Sudah ada jalan dari urukan batu karang, pasir dan berlapis aspal tipis, menghubungi daratan utara Pulau Sumbawa dan bagian barat daya Pulau Bungin. Pejalan kaki ataupun pengendara sedan, bisa langsung ke jantung Pulau Bungin.
Lepas senja, sedan saya menerobos gapura sederhana bertuliskan Selamat Datang Di Pulau Bungin. Tak seorang pun saya kenal di pulau itu, sedangkan hari mulai gelap dan cahaya listrik mulai menyala, remang-remang. Terdengar azan Magrib. “Kita ke Masjid…,” ucap saya ke rekan driver asal Bima yang menemani perjalanan saya blusukan ke sekujur Pulau Sumbawa.
Putusan tepat karena di masjid, usai sholat, beberapa warga ramah menyalami saya dan bertanya: siapa saya dan hendak jumpa siapa? Saya katakan bahwa saya sengaja mampir bertamu. Agar tepat sasaran, seorang tua yang tadi mengimami sholat, menyarankan kami menemui Kepala Desa.
Usai mengisi perut di sebuah warung sederhana terdiri dari nasi putih, sayur labu siam, pindang kerapu dan sotong, plus kerupuk udang, saya ke rumah Pak Kepala Desa ( Kades) tapi beliau sedang tidak berada di pulau.
Seorang Ibu mengarahkan kami menemui Sekretaris Desa (Sekdes), seorang laki-laki muda yang ternyata (siapa mengira) juga gemar menulis sajak. Di rumah panggung miliknya, beralas tikar dan berpenerangan lampu petromaks, kami menginap dan menuai banyak kisah.
Anak Selayar
Umumnya warga Pulau Bungin adalah pendatang suku Bajo, gipsy laut Nusantara yang diperkirakan berasal dari perairan Pulau Sulawesi, dan kini tersebar luas sebagai “suku laut” di berbagai pulau kecil dan pesisir Indonesia, bahkan hingga ke perairan wilayah beberapa negara di ASEAN lainnya.
Beberapa tetua yang datang dan ikut ngobrol, menyebut OrangBajo sudah menghuni Pulau Bungin sebelum Gunung Tambora (terletak di perbatasan Kabupaten Bima dan Dompu) meletus di tahun 1816.
Perintisnya adalah Palema Mayu, seorang dari 6 anak Raja Selayar. Saat itu Pulau Bungin masih berupa gosong atau pulau karang, yang timbul-tenggelam berkait arus pasang-surut air laut. Gosong kosong itu ditumbuhi pohon bungin yang menyembul di antara deret pokon bakau, yang karenanya lantas disebut sebagai Gosong (atau kini) Pulau Bungin.
Saat laut surut dan gosong karang tersembul di permukaan laut, Palema Mayu biasa memanfaatkannya buat tempat menjemur jala. Belakangan paparan gosong ditimbuni bongkah karang mati hingga membentuk dataran yang tingginya di atas permukaan laut, tak lagi tenggelam walau siklus laut sekitar sedang pasang.
Diawali gubuk-gubuk sederhana, sekadar untuk beristirahat atau berteduh saat datang badai, rumah-rumah panggung khas Suku Bajo pun bertumbuhan mengisi pulau. Gosong karang itu pun tumbuh menjadi pulau berpenghuni.
Versi lain menyebut, Pulau Bungin berawal dari kedatangan 12 orang bersaudara asal Pulau Selayar sebelum Gunung Tambora meletus mengguncang dunia. Delapan orang diantaranya, diingat masyarakat sebagai: Mbo Leso, Mbo Beda Mangintan, Mbo Sakati, Mbo Mamaha, Mbo Gigih, Mbo Punggawa, dan si bungsu Mbo Salina.
Suatu hari Salina diculik bajak laut asal Johor dan dibawa ke Labuan Bajo di Manggarai, Flores Barat. Ketika hendak diadu dengan sesama tawanan, secara rahasia Mbo Salina bersepakat dengan bakal lawannya, dan menyerang orang yang mengadu mereka.
Tak diceritakan, bagaimana nasib penculik asal Johor tersebut. Yang pasti, keduanya lantas melarikan diri dan Mbo Salina kembali ke Pulau Bungin.
Berkat keandalannya bertarung, Mbo Salina kemudian dikenal sebagai pengawal perairan Sumbawa dari serbuan bajak laut. Tapi Belanda justru mencurigai Pulau Bungin sebagai tempat sembunyi bajak laut.
Mbo Salina dituduh bersekongkol dengan para bajak laut, dan secara sepihak dijatuhi hukuman mati. Tercatat, tahun 1904 Pulau Bungin juga pernah dilanda kebakaran.
Kambing pemakan kerras dan syasana Pulau Bungin yang tenang. ( foto: Heryus Saputro Samhudi)
Tradisi Toyah
Sebagai bagian pewaris tradisi Suku Bajo, warga Pulau Bungin dikenal sebagai orang laut yang ulung. Laki-lakinya tak cuma memancing atau menjala, tapi juga menyelam untuk menombak ikan-ikan besar.
Para wanitanya, mengolah hasil laut tangkapan kaum laki-laki, juga ikut bertani ganggang laut atau beternak kerapu dan ikan konsumsi lainnya dengan sistem jaring apung.
Sejak bayi, orang Bungin sudah dikenalkan pada tradisi, antara lain melalui upacara Toyah. Tujuh orang perempuan bergantian memangku bayi sembari duduk di atas ayunan, menggumamkan ayat-ayat Qur’an dan syair-syair dalam Bahasa Bajo.
Ayunan diibaratkan ombak yang kelak dihadapi sang bayi saat dewasa, jadi nalayan yang harus selalu berada di laut. Ritual ini juga merupakan upaya memanjatkan doa bagi si bayi, saat kelak melakoni hidup sebagai manusia bahari.
Sebagaimana umumnya orang Bajo, penduduk Pulau Bungin tak banyak yang memiliki tradisi merantau. Sejauh-jauh terbang bangau, tetap akan pulang ke sarang dimana mereka lahir. Setelah menikah, umumnya mereka lebih memilih tinggal di Bungin. Inilah yang membuat Pulau Bungin kehabisan lahan dan semakin padat.
Faktanya, waktu ke waktu luas Pulau Bungin bertambah lebar dan panjang. Ini karena tiap keluarga muda, harus memiliki rumah sendiri, terpisah dari rumah keluarga batih masing-masing. Sementara itu…tak ada lagi areal kosong, kecuali halaman masjid ataupun areal yang sengaja dibiarkan kosong untuk area publik. Solusinya?
Laki-laki muda yang hendak menikah, harus lebih dulu menyiapkan bahan bangunan untuk membangun rumah. Di mana rumah baru akan dibangun? Di garis lingkar luar kontur Pulau Bungin yang padat penghuni, dengan melakukan reklamasi hingga didapat petak area untuk mendirikan tiang-tiang rumah baru tersebut.
Sebagaimana dilakukan nenek-moyang Suku Bajo, areal laut dipatok dan ditimbuni batu karang mati. Setelah didapat areal yang menonjol di atas permukaan laut saat arus pasang, tiang-tiang penyangga rumah lantas ditancapkan di atasnya.
Setelah itu sebuah rumah baru didirikan. Terserah, mau rumah kayu tembok dengan tiang-tiang besi cor beton. Buntutnya, sekitar 100 buah rumah baru tumbuh tiap tahun di Pulau Bungin.
Kambing penyuka kertas
Jangan datang ke Pulau Bungin bila niatnya ingin menikmati wisata pantai. Sekali lagi, nggak bakalan ketemu. Karena sekujur pulau dipadati rumah, dan garis pantai pun jadi pondasi rumah-rumah baru.
Ruang terbuka, cuma sekotak kecil di depan masjid, dan bagian kolong Balai Desa yang dibangun tak jauh dari gerbang. Ada beberapa warga buka toko atau warung nasi sederhana. Di situ warga saling bertebur sapa, selain di masjid saat-saat waktu sholat, atau dalam rapat dan pertemuan di rumah seorang warga atau di Balai Desa.
Tapi ada juga sih tempat asyik buat ngobrol, yakni FloatingCafe atau Kafe Terapung yang dibangun himpunan pemuda setempat, sekitar 200 meter di selatan Pulau Bungin. Di situ tersedia ragam minuman ringan dan hidangan seafood segar, akses TV dan jaringan internet serta WiFi. Sebuah sampan motor siap antar-jemput pengunjung, dari dan kembali lagi ke ‘pantai’ Pulau Bungin.
Singgah ke Pulau Bungin memang tak untuk tamasya alam, tapi lebih untuk memenuhi rasa ingin tahu: apa dan bagaimana pulau itu bisa tumbuh dan jadi yang terpadat?
Bagaimanapengaruh lingkungan dan adat-istiadat suku Bajo di pulau itu menghadirkan campuran budaya laut dan budaya darat yang khas, dan berpotensi buat dikembangkan sebagai bagian keanekaragaman budaya Indonesia.
Lautnya kaya sumberdaya alam, daratannya penting sebagai tempat tinggal serta wahana interaksi masyarakat. Bagaimana tradisi sistem mata pencaharian, kesenian dan pengobatan dipertahankan? Kearifan tradisional yang bila dikelola dengan baik, bisa jadi kekuatan dan kemajuan masyarakat.
Satu hal yang menarik perhatian saya, di pelataran yang tersisa di Pulau Bungin, tak tampak pohon dan dedaunan. Memang banyak warga yang secara sederhana melakukan penghijauan. Tapi pohon-pohon hias dalam pot ataupun bekas kemasan makanan-minuman, tak diletakkan di atas tanah, melainkan digantung atau diletakkan jauh di ketinggian dinding rumah.
Mengapa? “Di sini banyak kambing,” kata Bang Sekdessambil tertawa kecil. Ya, selain ayam dan entog (bebek manila), penduduk banyak memelihara kambing yang bergerak kesana-kemari, mencari apa saja yang bisa dimakan.
“Di sini, nyaris semua limbah dapur rumah tangga habis disantap ternak, khususnya kambing. Tak ada kehijauan yang terjangkau yang tidak dilalap kambing. Bahkan kambing di sini biasa memakan kertas atau kardus.
Tidak percaya? Bang Sekdes meraih koran Ibukota yang belum habis saya baca dan disodorkan untuk camilan kambing yang wara-wiri di jalan di samping bawah rumah panggung tempat tinggalnya. Yuuuk…kita buktikan … berpetualang ke Bungin.