Mbak Angela Tanoesoedibjo, Wakil Menparekraf ( kedua dari kanan) membiasakan diri dengan memakai masker kain cegah penyebaran virus Covid 19.( foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id:Masyarakat di berbagai wilayah di tanah air antusias dan merespon positif Gerakan Masker Kain yang diinisiasi untuk tujuan menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.
Juru Bicara Satgas COVID-19 Kementerian Pariwisara dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ari Juliano Gema dalam pernyataanya di Jakarta, hari ini, mengatakan, masyarakat merespons positif gerakan masker kain.
“Respons tersebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang mengunggah foto menggunakan masker kain di laman sosial media mereka,” kata Ari.
Senada disampaikan Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Josua Puji Mulia Simanjuntak yang mengapresiasi antusiasme masyarakat melalui laman media sosial terkait gerakan tersebut.
“Banyak yang merespons. Semua lapisan masyarakat dan para pelaku ekonomi kreatif juga merespons positif dan men-tag ke akun instagram @kemenparekraf dan akun Menparekraf @wishnutama,” kata Josua Puji Mulia Simanjuntak
Josua menjelaskan, penggunaan masker kain dianggap cukup memadai bagi mereka yang sehat. Maka dengan semakin banyaknya masyarakat menggunakan masker kain, ketersediaan masker medis akan cenderung mudah didapatkan oleh mereka yang lebih membutuhkan termasuk tenaga medis, pasien ODP, PDP, dan positif COVID-19.
“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplets di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan Work From Home dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” katanya.
Josua juga mengatakan, pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini mendorong semua orang memakai masker saat keluar rumah. Hal tersebut lantaran efek positif memakai masker dalam mencegah penyebaran virus Corona.
“Masyarakat terus diimbau, untuk tetap jaga kesehatan dengan menggunakan masker. Kami tentu melihat keadaan penggunaan masker, baik buatan sendiri maupun masker kain, di tingkat masyarakat dapat membantu mencegah penyebaran COVID-19” ujarnya.
Sebelumnya, Kemenparekraf juga mengajak para pelaku ekonomi kreatif khususnya desainer lokal untuk berpartisipasi dalam Gerakan Masker Kain.Gerakan ini bertekad bisa memproduksi 100.000 masker kain yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.
Gerakan tersebut diperuntukkan bagi para pelaku atau desainer lokal subsektor fesyen di Indonesia, diinisiasi dan dimotori oleh Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf.
Work from Home juga perlu dikelola waktu dan manajemennya dengan baik. (foto: hashmicro.com)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Apakah Anda mengelola tim yang bekerja dari rumah di berbagai zona waktu? Dalam konteks peristiwa terkini di bawah tekanan wabah pandemi global Covid-19, semua anggota tim menghadapi situasi yang sama, tapi keadaan setiap orang berbeda.
Agar kebijakan Work from Home (WfH) berjalan lancar, Robert Kostecki, Group Manager for the Six Senses host-run Mission Wellness initiative dari jaringan hotel Six Sense Hotels Resorts Spa memberikan 6 tips agar Anda bisa memimpin jarak jauh dengan sepenuh hati dan punya perhatian besar pasa tim.
Sebagai manajer tim yang hebat, Anda mungkin telah memahami semua ini, tetapi mengapa tidak menandai sebagai pengingat bagaimana memimpin dengan perhatian dan empati yang lebih serta berlatih untuk mengasihani diri sendiri juga ?.
Meski berjauhan dan bekerja di tempat masing-masing kelola semangat tim Anda dengan rasa empati yang tulus. Berempati adalah sifat penting bagi pemimpin manapun, baik di kantor fisik maupun pojok kerja anggota tim. Para pemimpin perlu menyadari bahwa pojok kerja mereka itu membutuhkan lebih banyak empati karena kurangnya kedekatan fisik.
Misalnya, hanya karena salah satu anggota tim tidak menjawab telepon Anda pada dering pertama, tidak berarti mereka tidak bekerja. Komunikasi elektronik seringkali lebih ambigu daripada komunikasi tatap muka karena begitu banyak cara kita berkomunikasi terjadi dengan bahasa tubuh dan mata kita.
Hal Ini dapat menyebabkan para pemimpin salah menafsirkan komunikasi digital seperti email dan WhatsApp. Pemimpin yang mengenali hal ini dan mempraktikkan empati dan kesabaran, malah melompat ke kesimpulan lain tentang nada atau niat seseorang membantu menumbuhkan lingkungan kepercayaan, keterbukaan, dan peningkatan kinerja.
Komunikasi teratur
WfH dapat membuat anggota tim merasa terputus dari pimpinan, kolega, dan dari apa yang terjadi di perusahaan. Para pemimpin tim jarak jauh perlu mengatasi hal ini dengan komunikasi teratur, menjaga agar kolega terlibat, terhubung dan mendapat informasi yang mengarah pada kualitas kerja dan peningkatan produktivitas yang lebih baik.
Cari peluang untuk membuat banyak titik kontak sepanjang minggu dengan cara yang bekerja untuk semua orang. Buat juga persyaratan sehingga harapan menjadi jelas. Gunanya untuk menghindari kesalahpahaman dan asumsi. Ini hal yang umum bahkan dalam tim hebat dapat diperkuat ketika orang bekerja dari jarak jauh.
Bersikap hati-hati akan membuat persyaratan dan harapan Anda jelas, dan dorong tim untuk merangkum pemahaman mereka, mengajukan pertanyaan atau mencari kejelasan.
Setelah setuju dan jadwalkan check-in reguler untuk bertukar pikiran baru, meninjau kemajuan (atau mengubah arah atau prioritas) dan memastikan pekerja jarak jauh selalu up-to-speed pada setiap keputusan atau tindakan yang mungkin berdampak pada pekerjaan mereka.
Intinya membangun dialog yang berkelanjutan akan mencegah kesalahan besar di kemudian hari. Tapi juga harus mendorong tim untuk mengomunikasikan kebutuhan atau pertanyaan mereka sehingga mereka dapat tetap pada tugas dan memenuhi komitmen mereka.
Bersikap fleksibel
Meskipun mungkin terdengar kontra-intuitif, kerja jarak jauh mengarah pada peningkatan produktivitas jika rekan kerja didukung untuk menemukan ritme dan rutinitas yang sesuai untuk mereka.
Beberapa orang bekerja paling baik dengan bangun pagi. Lainnya merasa efektif bekerja antara jam 19.00 hingga 23.00 malam dan polanya mungkin bukan pola Anda. Biarkan tim Anda memaksimalkan jadwal mereka sendiri di sekitar pekerjaan dan percaya mereka untuk melakukannya.
Soalnya jika Anda terus-menerus khawatir tentang apakah anggota tim menjadi produktif, ada masalah kepercayaan yang lebih besar yang perlu diatasi dalam diri Anda sendiri.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi tim jarak jauh adalah kurangnya kepercayaan. Jika Anda ingin membangun tim berkinerja tinggi berdasarkan rasa saling percaya dan saling menghormati, pilihannya terserah Anda apakah mau menjadi panutan ?.
Hal yang perlu dipertimbangkan bisakah tim Anda mengandalkan Anda untuk terbuka dan transparan? Apakah umpan balik Anda menunjukkan rasa hormat kepada orang lain?
Apakah Anda menunjukkan etos kerja yang mirip dengan apa yang Anda minta dari tim Anda? Jika tim Anda tidak merasa percayai pada bos sendiri dan Anda tidak memperhatikan kepentingan terbaik mereka, motivasi, komitmen maka produktivitas mereka akan menukik.
Para pemimpin memainkan peran penting dalam memastikan tim mereka memiliki keseimbangan kehidupan kerja dan jangan merasa mereka harus siap sepanjang waktu. Dorong kolega Anda untuk mengatur jam kerja yang sesuai dengan istirahat dan dipatuhi.
Luangkan waktu untuk memeriksa bagaimana perasaan tim Anda dan juga bagaimana kemajuan pekerjaan mereka, dan cari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan saat bekerja dari rumah. Semua itu harys dilakukan dengan penuh perhatian dan empati. Mudah bukan ?.
Pemandangan kota Singapura yang mulai menerapkan kebijakan lebih ketat atasi wabah Corona ( Foto: ttgasia.com)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mulai Selasa, 7 April 2020, Singapura akan menutup sementara tempat bisnis yang tidak penting selama setidaknya satu bulan akibat jumlah total kasus virus corona di negara ini meningkat dan sudah melewati angka seribuan lebih, kata Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura.
“Layanan penting yang akan tetap dibuka adalah usaha makanan, pasar tradisional dan supermarket, klinik dan rumah sakit, utilitas, transportasi dan perbankan. Semua tempat kerja lain harus ditutup, kata Lee, ” seperti dikutip www.ttgasia.com
Usaha lain yang juga diizinkan untuk tetap terbuka adalah bisnis di sektor ekonomi utama, termasuk bagian dari rantai pasokan global, selama karyawannya pergi bekerja dengan langkah-langkah menjaga jarak yang aman. Pihaknya mendorong karyawan bekerja dari rumah dan memanfaatkan telekomunikasi saja sebisa mungkin.
Pemerintah Singapura juga akan “membuat pengaturan untuk menjaga” pekerja asing yang tidak akan dapat bekerja, tambahnya. Hal ini mengingat banyak perusahaan dan organisasi dunia yang bermarkas di Singapura sebagai lokasi terbaik di dunia untuk pendatang (ekspatriat)
Dukungan lebih lanjut untuk bisnis dan rumah tangga akan diumumkan pada hari ini di sesi parlemen oleh Wakil Perdana Menteri Heng Swee Kiat, termasuk undang-undang baru yang mengamanatkan tuan tanah menyerahkan potongan pajak properti secara penuh kepada penyewa, serta bantuan dari kewajiban kontrak tertentu untuk bisnis dan individu.
“Jita lihat perkembangannya kecuali jika kita mengambil langkah-langkah lebih lanjut, keadaan akan berangsur-angsur menjadi lebih buruk atau kelompok besar lainnya akan mendorong segalanya,” jelas Lee.
Untuk mencegah peningkatan infeksi, pemerintah akan menerapkan langkah-langkah yang lebih keras secara signifikan untuk membantu mengurangi risiko wabah besar yang terjadi, dan juga membantu secara bertahap menurunkan jumlah kasus, tambahnya.
Menurut dia, langkah-langkah ketat ini diberlakukan setelah berdiskusi dengan gugus tugas multi-kementerian Singapura. Diharapkan pada akhirnya hasilnya dapat membantu memperbaiki situasi yang akan mengarah pada kebijakan lebih longgar.
Data terakhir, kemarin, Singapura telah melaporkan total 1.309 kasus dengan enam kematian akibat virus corona. Kantor berita Antara melaporkan ada 120 kasus baru virus corona pada hari Minggu, kemarin dan sejauh ini merupakan peningkatan tertinggi dalam sehari, dan Singapura mengkarantina hampir 10 ribu pekerja migran di dalam asrama mereka.
Dari total kasus baru yang tercatat pada Minggu, 116 kasus diantaranya ditularkan secara lokal dan banyak lainnya terkait dengan dua asrama yang ditinggali para pekerja migran—yang saat ini harus berada di dalam kamar-kamar mereka selama 14 hari.
Lonjakan kasus terjadi dua hari sebelum Singapura mulai menutup sekolah dan sebagian besar tempat kerja selama sebulan sebagai bagian dari pembatasan ketat untuk memerangi penyakit COVID-19.
Siti Tus Wulan, asal Indonesia mengatakan dua putri majikannya mulai libur sekolah 7 April hingga 4 Mei 2020. Meskipun di Indonesia sudah lebih dulu meliburkan para pelajar dan karyawan, langkah pemerintah Singapura sangat tepat dengan kebijakan lebih ketat untuk melindungi warganya.
” Ibu rumah tangga umumnya tenang karena masyarakatnya di sini lebih disiplih dengan himbauan pemerintahnya. Para guru juga sudah membekali orang tua dengan perubahan tingkah laku anak-anak yang mungkin akan terjadi karena harus berdiam diri dalam rumah,” katanya.
Pesan guru a.l adalah anak-anak sama takutnya dengan orang dewasa saat ini. Anak-anak kita tidak hanya dapat mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka, tetapi mereka juga merasakan ketegangan dan kecemasan, ungkapnya.
Para orangtua diingatkan bahwa mereka belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Walaupun gagasan tidak bersekolah selama 4 minggu kedengarannya hebat, mereka mungkin membayangkan saat yang menyenangkan seperti liburan musim panas, bukan kenyataan terjebak di rumah dan tidak melihat teman-teman mereka.
” Orangtua diingatkan juga bahwa yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah merasa dihibur dan dicintai. Merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan itu bisa berarti orangtua juga tidak bisa terlalu ketat dengan jadwal tugas mereka dan lebih fleksibel,” tambahnya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id; MEMASUKI bulan Februari 2020, industri
perjalanan wisata dunia mulai terdampak pandemik COVID-19. Pembatasan dilakukan
sejumlah negara untuk kedatangan mau pun sekadar transit moda angkutan udara.
Akibatnya jutaan traveler stranded di luar negaranya. Ratusan penerbangan
evakuasi pun dilakukan pemerintah untuk membawa pulang warganegaranya. Dan satu
pesatu perusahaan jasa angkutan udara memarkir armadanya.
Situasi dunia menyebabkan penerbangan Anda dibatalkan, atau Anda perlu membatalkan
perjalanan? Bagimana dengan tiket yang sudah ditangan atau paket wisata
yang sudah dibeli lunas? Sementara maskapai
penerbangan, dalam posisi keuangan yang berbahaya. Pasalnya
penggunaan seat perpesawat makin
minim, selain makin terbatasnya negara- negara tujuan yang masih membuka
bandaranya . Umumnya menejemen jasa angkutan udara mengarahkan sebanyak
mungkin pelanggan mengganti tiket dengan voucher untuk perjalanan di kemudian hari. Berusaha serendah
mungkin mengeluarkan dana segar untuk refund
tiket. Anda sebagai konsumen, masih bisa menaruh kepercayaan bahwa, airlines tersebut masih bertahan pasca
pandemic COVID-19?
Dok.ist
Bisa jadi Anda kesal, sudah di rumahkan, tidak dapat
melakukan perjalanan pulang kampung karena penerbangannya tidak beroperasi. Dan
Anda tidak sendiri, ribuan traveler,
pebisnis, mahasiswa yang harus menghentikan kegiatannya karena pandemic
COVID-19.
Yang terbeban berat adalah biro perjalanan wisata, ungkap
Ketua DPD ASITA NTT, Abed Frans. BPW dituntut konsumen mengembalikan harga
paket yang telah dibeli, sementara airlines
tidak pernah memberikan kebijakan 100 persen refund untuk tiket perjalanan, perlu waktu tunggu. DP yang telah
dibayarkan ke hotel, restoran, ke perusahaan jasa angkutan darat apakah mudah
dicairkan, paparnya dengan nada bertanya.
“Merumahkan karyawan, kebijakan yang meringankan semua
pihak”, jelas Abed lebih lanjut. Tentu dengan tetap menyimak kebijakan-
kebijakan pemerintah terkait tanggap COVID-19, melihat kemungkinan bantuan-
bantuan yang dapat dimanfaatkan untuk meringankan beban perusahaan mau pun
karyawan.
Suspend
Masih terkait hal tiket penerbangan yang tak terpakai, baik karena penerbangannya yang menghentikan layanannya mau pun kehendak sendiri. Pengalaman menunjukkan, setiap operator jasa angkutan udara memiliki kebijakan masing- masing. Singapore Airlines misalnya, menetapkan kebijakan refund tiket, pengalihan waktu terbang yang berbeda dengan kebijakan Lion Group. Atau AirAsia Indonesia yang baru saja menghentikan untuk sementara semua penerbangan domestik sampai 21 April dan internasional hingga 17 Mei 2020.
Penghentian penerbangan sementara, merupakan langkah yang
sangat sulit, namun hal terbaik dilakukan di tengah situasi perkembangan
COVID-19. Berharap langkah ini dapat membantu upaya pemerintah untuk membatasi
pergerakan orang, sehingga mengurangi tingkat penyebarannya, aku Direktur Utama AirAsia Indonesia, Veranita
Yosephine Sinaga. AirAsia — menurut surel yang dikirim ke bisniswisata.co.id — berkomitmen untuk
memudahkan proses pengubahan jadwal penerbangan sampai dengan 31 Oktober 2020
sehingga dapat membantu masyarakat.
Catat baik- baik. Bagi penumpang yang telah memesan tiket melalui aplikasi AirAsia, kemudian penerbangannya dibatalkan oleh AirAsia sehubungan dengan COVID-19, silakan mengikuti langkah mudah untuk mengajukan pengubahan jadwal menggunakan fasilitas layanan pelanggan virtual AVA.
Jika Anda memesan melalui layanangroup booking, agen perjalanan, online travel agent, atau pihak ketiga lainnya, silakan menghubunginya untuk membantu Anda.
Sebelum Anda mengajukan pindah jadwal di AVA, AirAsia
menyarankan Anda untuk mencatat beberapa hal berikut ini terlebih dahulu:
Nomor pemesanan atau kode booking, yaitu 6 digit huruf dan/ atau angka yang tertera di tiket, misalnya DXGH6J.
Jadwal penerbangan yang tertera di tiket yaitu: nomor penerbangan, asal, tujuan, tanggal keberangkatan.
Nama lengkap penumpang; pastikan nama depan dan nama belakang persis sebagaimana yang tertulis di tiket.
Jadwal penerbangan pergi dan pulang yang diinginkan yaitu nomor penerbangan dan tanggal penerbangan, misalnya QZ234 tanggal 31 Agustus 2020. Pastikan jadwal penerbangan yang Anda inginkan tersedia dengan mengecek,di airasia.com.
Email yang digunakan pada saat pemesanan tiket dan nomor telepon Anda.
Anda juga diharapkan memperhatikan beberapa hal sebagai
berikut:
Ubah jadwal dapat dilakukan hingga 48 jam sebelum jadwal penerbangan baru. Jika penerbangan Anda dibatalkan karena COVID-19, meskipun penerbangan yang dibatalkan telah lewat, Anda masih bisa mengajukan pengubahan jadwal melalui AVA.
Ubah jadwal bebas biaya dan dapat dilakukan lebih dari sekali, bergantung pada ketersediaan kursi.
Percakapan di AVA bersifat berkesinambungan, dan dapat terputus jika koneksi internet terganggu atau halaman percakapan dimuat ulang (refresh).
Saat ini AVA sedang dalam proses pembelajaran, silakan jawab dengan singkat sesuai yang ditanyakan, dan tidak harus dalam kalimat lengkap.
Kesesuaian informasi yang Anda masukkan di AVA dengan yang tertera di tiket akan menentukan tingkat keberhasilan proses. Pastikan nama depan, nama belakang, tanggal lahir dan email sudah sesuai informasi yang dimasukkan saat pemesanan tiket.
Sistem AVA sedang menangani peningkatan jumlah permintaan hingga 10 kali lipat, Jika jadwal penerbangan Anda masih lebih dari 14 hari lagi, mohon kerja samanya karena sistem kami akan memprioritaskan menangani calon penumpang dengan jadwal keberangkatan lebih awal.
Jika Anda memiliki penerbangan lebih dari satu sektor (penerbangan Jakarta – Bali PP dihitung 2 sektor, penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur – Osaka PP dihitung 4 sektor), Anda dapat mengubah jadwal satu per satu.
Nah, coba lihat tiket Anda, buka website operatornya, dengan tenang buka satu persatu folder layanannya. Jika telah ditemukan layanan yangdiperlukan simak baik- baik sebelum melakukan perubahan. Saran bisniswisata, untuk sementara mari dirumah saja, liburannya nanti saat pandemik COVID-19 sudah berlalu. *
Endang Sungkowati dan keluarga di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur ( foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, bisniswisata.co.id; Meskipun tidak bisa naik pesawat untuk mencapai tujuan wisata yang diinginkan atau berdiri di tepi pantai yang cerah, kita masih bisa “berpetualang” untuk meningkatkan suasana hati, meningkatkan hormon bahagia yang mendukung fungsi kekebalan tubuh.
Caranya dengan mulai mengingat kenangan sederhana ketika menghabiskan waktu berlibur berdua saja dengan pasangan hidup atau dengan anak dan cucu daripada terus menerus membanjiri pikiran dengan informasi akibat wabah pandemi Covid-19 yang bisa menimbulkan ketakutan.
Luangkan waktu menikmati sensasi, kegembiraan, kesenangan dan tawa karena pengalaman-pengalaman berwisata belum hilang. Mereka hidup di dalam diri dan tidak ada yang menghentikan untuk mengaksesnya kapanpun jika ingin menemukan saat-saat yang menyenangkan dan tenang.
Patuh mengikuti protokol kesehatan dan seruan pemerintah untuk tetap di rumah, berwisata kemudian ( Stay at home, Traveling Tomorrow ), merupakan pilihan yang tepat apalagi bagi senior citizen berusia di atas 60 tahun yang rentan terhadap serangan wabah global ini.
Bisniswisata mengajak empat nara sumber untuk meluangkan waktu sejenak dengan membongkar kenangan liburan favorit dan tempat yang nantinya ingin mereka kunjungi. Berikut penjelasannya.
Endang Sungkowati
Ibu satu anak yang memiliki usaha toko bahan-bahan kue dan kursus membuat kue ini mengaku sekeluarga senang berwisata. Setiap kali ada kesempatan, putrinya, Mondya Purnasepta Ning Wulan akan browsing mencari ulasan obyek wisata menarik.
“Biasanya saya pilih ke tempat yang sudah direkomendasikan banyak teman seperti Raja Empat, Papua. Meski harus jalan kaki dan naik tangga asal medannya tidak terlalu berat akan saya jalani untuk mendapatkan foto pemandangan yang indah,” kata Endang
Pemandangan alam didominasi warna hijau dedaunan dan udara yang bersih menjadi tujuan wisatanya sekaligus mengagumi semua ciptaan Allah SWT. Perjalanan wisata sekaligus untuk mengisi batin, lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.
Lagi pula, kata Endang, bagi mereka yang biasa terjebak rutinitas, kemacetan dan polusi ibukota maka kembali ke alam adalah penyeimbang yang tepat, disamping menambah pengalaman dengan mengeksplore daerah-daerah baru.
Bersama suaminya, Sutrisno Hartowiyono, destinasi wisata yang dituju akan dibahas bersama. Biasanya Mondya jika mendengar dari temannya ada tempat bagus maka langsung dia browsing dan direkomendasikan pada orangtuanya.
“Sejauh ini antara kemauan anak dan bapaknya juga saya sendiri klop sehingga Mondya dengan mahirnya akan melakukan pemesanan tiket penerbangan, akomodasi, pesan mobil rental lewat online travel agent ( OTA),”
Dia juga tidak keberatan jika putrinya semata wayang yang sudah bekerja dan bersikap mandiri pergi berwisata dengan sahabat wanita atau cewek-cewek teman kantor untuk berwisata bersama komunitas. Hall ini mengingat karena wisata sudah menjadi bagian gaya hidup dengan memanfaatkan tabungan sendiri.
” Rencananya tahun ini memang mau ke Inggris karena sekarang lebih religius, banyak Muslim dan makanan halal. Jadi bersama Mondya yang suka bawa mobil sendiri, kita bisa mengeksplore banyak kota di sana,” kata Endang.
Meski anak sudah membeli tiket murah dengan maskapai yang sudah dikenal reputasinya, namun rencana berangkat di kwartal ke tiga tahun ini tetap harus menunggu perkembangan wabah virus hilang dulu, tambahnya.
Herdjadiono
Penggemar olahraga renang dan motor gede ini tergolong YOLD, kependekan dari “Young Old”, sebutan bagi mereka yang berusia antara 65 dan 75 tahun tapi masih memiliki karakteristik anak muda. Kakek berusia 76 tahun yang memiliki dua anak dan 7 cucu ini kerap berwisata bersama keluarga besarnya di dalam dan luar negri.
Herdjadiono dan keluarga saat berwisata ke Jepang dan Melbourne. ( foto: dok.pribadi)
Bagi Herdja, panggilannya sehari-hari, seiring dengan usia maka pilihan wisatanya sekarang menghindari naik turun tangga dan jalan kaki yang terlalu jauh. istrinya yang memiliki usaha salon Itje Her Salon di kawasan Cipete juga sudah hafal dia tidak mau naik kendaraan yang bersesakan dan terlalu lama di jalan.
” Sekarang lebih suka pergi berwisata yang tidak terlalu jauh misalnya kulineran ke Bandung dan ke tempat-tempat wisata di alam terbuka yang nyaman dan udaranya segar,”
Di rumahnya di daerah Cilandak Tengah, banyak foto kenangan saat berwisata bersama anak, cucu, menantu baik di dalam dan luar negri. Herdja senang melihat foto-foto kompak mulai dari kostum dan gaya yang diatur sehingga sedap dipandang.
Untuk tujuan wisata biasanya peran anak dan cucu yang dominan dalam menentukan. Herdja dan Itje tinggal mengikuti kemauan mereka yang penting kompak dan dia tidak perlu diminta membawa koper sendiri terutama saat berwisata di luar negri.
” Sebenarnya liburan mendatang kami mau ke Bali dan sudah beli tiket pesawat, booking hotel, kendaraan dan lainnya tapi karena ada wabah penyakit maka perginya di tunda dulu deh,”
Magdalena Soeprapto Balcet
Saat akan melakukan perjalanan wisata dan menyiapkan koper, Magdalena yang biasa disapa Lena nomer satu mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan pertama disamping memilih sepatu dan baju yang nyaman dipakai traveling. Dia juga menyertakan catatan nomer telpon yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat.
Maklum wanita yang menikah dengan pria berkebangsaan Perancis ini dua anaknya hidup di dua benua yaitu di Perancis dan di Amerika. Suaminya, Jean-Claude Balcet adalah Agricultural economist di World Bank yang juga kerap berpergian sehingga Lena harus solo traveling untuk bergabung dengan anak dan cucunya.
Searah jarum jam, Lena ( kedua kanan) berssma anak, cucu, menantu ( foto: dok.pribadi)
” Kami tetap berwisata bersama, kumpul di Kuala Lumpur seperti yang kami lakukan belum lama ini. Kalau pilihan tempat wisata dan di suruh memilih saya lebih suka back to nature seperti hiking atau ke daerah yang belum banyak di kunjungi orang,”
Momen berwisata menjadi waktu yang penting bagi keluarganya untuk bonding, melepas rasa rindu karena terpisah jarak yang jauh. Oleh karena itu untuk kegiatan wisata keluarga dia memberikan keleluasan pada cucu-cucu untuk memilih tujuan wisata yang mereka inginkan.
Maklum salah satu dari 4 cucunya, Carla Wafa Kobeissi yang berusia 19 tahun suka sekali berwisata a.l sudah mengunjungi AS, Swiss, Pantai Gading, Mesir, Lebanon, Turki, UAE, Jepang, Singapura, Malaysia disamping Indonesia.
” Carla suka berwisata di Indonesia bahkan sedang mencari tempat magang kerja 2 bulan untuk melengkapi tugas kuliahnya di universitas Sorbone, Paris. Namun belum terlaksana karena adanya pandemi virus global ini,” jelasnya.
Menyerahkan pilihan destinasi wisata pada cucu menjadi tantangan sendiri buat Lena apakah masih bisa mengikuti kecepatan langkah mereka. Maklum empat orang cucunya ini orangtuanya juga bule.
“Apabila wabah ini semua berakhir, saya utamakan terlebih dahulu kumpul ber sama keluarga dan meminta pendapat masing-masing dari anak dan cucu-cucu apa yang mereka dapati pelajaran dari krisis ini dan hikmahnya bagi mereka,”
Meskipun tekhnologi sekarang tiap hari memungkinkannya bertemu secara virtual dengan mereka namun kesempatan kumpul bareng tidak bisa tergantikan.
“Saya sendiri akan memberi pendapat saya buat argumentasi yang insya Allah lebih positif karena ingin anak, cucu dan mantu memahami secara spiritual apa yang Allah ingin sampaikan lewat wabah ini,” ungkap Lena.
Setelah wabah Corona hilang dimuka bumi, Lena akan meminta anak cucu untuk memilih tempat rekreasi ke tepi pantai dan camping bersama beberapa malam sehingga setelah berdiskusi panjang tentang kebesaran Tuhan mereka bisa merasakan tinggal beratap langit, mengagumi keagungan Sang Pencipta, tambahnya.
Purwanti Wiyogo
Pemandangan alam seperti sawah dan gunung sudah mampu memuaskan kegiatan wisata Purwanti Wiyogo yang biasa dipanggil Titie.” Kami memilih destinasi wisata dengan view indah, hotel nyaman dan aman serta banyak tempat kuliner enak disekitarnya,”
Kenangan berwisata keluarga Purwanti Wiyogo bersama alm suami. ( foto: dok pribadi)
Saat anggota keluarga masih lengkap, almarhum suami meski memakai kursi roda tetap senang berwisata sehingga pilihan hotel dan obyek wisata adalah yang mudah dicapai. Tujuan wisatanya yang sering dikunjungi terutama Bali. Selain tujuan favorit keluarga, Bali selalu ada tempat-tempat baru.
” Berwisata ke Bangka, Belitung, Bandung, Jogya, Solo, Malang juga sering kami lakukan sehingga menjadi familiar. Keunggulannya juga setiap datang ada saja obyek wisata yang baru,” kata Titie.
Usulan datang dari anak cucu karena mereka yang mengurus transportasi, hotel dan lainnya. Keputusan tergantung kondisi kesehatan alm suami, disamping ada kebiasaan sambil berwisata juga bersilaturahmi dengan saudara yang menyebar di berbagai daerah atau juga sekalian berziarah ke makam leluhur.
Meski pandemi global ini awalnya dari kota Wuhan, China. Titie tetap masih ingin mengunjungi obyek wisata di Tiongkok suatu hari nanti setelah badai virus menghilang.
“Saya masih ingin tamasya ke China menyusuri lagi Sungai Yang Tse Kiang dengan river cruise yang tidak begitu besar sehingga sepanjang perjalanan dari pagi sampai senja disuguhi pemandangan spectaculair, ” katanya mengenang.
Nenek usia 78 tahun yang memiliki 4 anak dan empat cucu ini juga masih punya pilihan pergi berwisata sungai, menyusuri Sungai Danube yang dijuluki transboundary river karena melintasi tidak kurang dari 14 negara di Eropa.
“Ingin menyusuri sungai Danube mulai dari Austria dan bisa singgah di kota-kota yang dilewatinya hingga Hongaria. Awalnya berada di Jerman di Hutan Hitam (Schwarzwald). Panjang sungai ini adalah sekitar 2.850 km,” katanya berharap.
Dia optimistis wabah pandemik global ini akan segera berlalu sehingga setelah sekian lama berdiam diri di rumah masyarakat akan membutuhkan kegiatan terutama untuk seusianya berwisata bersama komunitas.
Panduan online dari jaringan hotel internasional Six Sense Hotel agar masyarakat tetap sehat dan semangat selama karantina di rumah. ( foto: Sixsense.com)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi corona COVID-19 yang melanda Indonesia membawa dampak serius bagi dunia perhotelan. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia ( PHRI) sebanyak 1.139 hotel di Tanah Air tutup sejak 1 April 2020.
Hotel tutup bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahkan hampir semua usaha yang bergerak di industri pariwisata termasuk penerbangan ( airline) dan cruise terpukul telak akibat wabah yang tiba-tiba datang menyerang dan tidak lazim ini.
Beberapa minggu terakhir masyarakat di banyak negara harus menerapkan physical distancing demi mencegah penyebaran virus corona Covid-19 dan mereka diimbau untuk tetap di rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah.
Kondisi ini bukan berarti hotel menghentikan segala aktivitasnya pula karena tidak ada tamu yang datang. Yuk simak aktivitas Six Senses Hotels Resorts Spas di tengah pandemi global ini yang disebarkannya melalui FB Live dan media sosial lainnya secara online untuk para pelanggannya dan masyarakat umum.
“Untuk saat ini, Anda mungkin tidak dapat datang dan melihat kami. Itulah sebabnya ahli kesehatan kami di seluruh dunia siap membantu tetap seimbang di rumah melalui program online, ” tulis manajemen jaringan hotel internasional ini dari https://www.sixsenses.com dan banyak panduan yang bisa diterapkan di rumah.
Panduan yang diberikan misalnya mencoba resep makanan dan minuman. Masak sendiri untuk membuat makanan sehat, beryoga dan meditasi, tidur cukup, berkebun, baca buku bahkan kiat-kiat bagaimana bekerja dari rumah dengan cara-cara yang efektif dan efisien.
Jaringan hotel yang peka dengan budaya lokal dan selaras dengan dunia yang lebih luas ini berharap cara-cara yang dilakukan bisa berkontribusi besar untuk membuat terus berfikir positif dan tetap aktif bergerak meskipun harus tetap tinggal di rumah.
Mengelola 20 Hotels & Resorts di kawasan Asia & Pacific, Eropa, Timur Tengah, dua properti dengan brand Evason Resort dan 13 hotel dengan brand Six Senses Spa. Di Indonesia, jaringan hotel ini hadir di Bali yaitu Six Sense Uluwatu.
Six Senses Hotels Resorts Spas mengeluarkan program online terkait kebugaran. Pasalnya, aktivitas spa atau meditasi di alam terbuka sedang tak dapat dilakukan. At Home With Six Senses menampilkan panduan yoga untuk dewasa dan anak-anak.
Mengapa anak-anak perlu diperkenalkan dengan yoga yang simpel ? karena gaya hidup sehari-hari sebelum ada wabah virus Corona mendunia ini, masyarakat terbiasa dalam gaya hidup “tergesa-gesa”. Tergesa-gesa sarapan, masuk sekolah, bekerja, menghadiri acara, pertemuan penting dan beragam aktivitas lainnya.
Baik anak-anak maupun anggota keluarga lainnya membutuhkan yoga untuk “memperlambat” sebanyak mungkin bisa dilakukan sehingga menjadi cara yang bagus untuk membantu hidup normal yang baru di rumah sebagai suatu keluarga
“Dalam masa-masa yang sulit ini dan sebagai perusahaan yang digerakkan oleh kesehatan. Kami merasa bahwa, paling tidak, kami dapat berbagi dengan tamu, mitra dagang, dan menyelenggarakan modul sehat yang mencakup semua aspek kesejahteraan hidup sehari- hari, ” kata CEO Six Senses Neil Jacobs.
Neil juga memaparkan jika ia senang dengan kemungkinan dan bagaimana hotelnya dapat melakukan tindakan kecil untuk ikut menciptakan beberapa hal baik serta membawa kebiasaan baik bagi masyarakat.
Seperti apa progamnya tersebut? Dalam At Home With Six Senses akan menghadirkan beragam progam kebugaran berupa artikel seperti panduan untuk bekerja dari rumah, tutorial video, resep, latihan, dan banyak lagi. Progam baru ini bisa dilihat di sixsenses.com dan melalui buletin resort serta media sosial resmi mereka.
Menurut Neil Jacobs, ketika industri perhotelan menjadi lebih kompetitif, pihaknya bekerja dengan hadiah, maksudnya para tamu mencari pengalaman yang luar biasa dan bukan hanya produk yang hebat yaitu dengan membangkitkan kembali semua indera manusia.
“Properti kami berbaur dengan kontur lanskap alam, menggabungkan elemen budaya dan desain lokal. Fokusnya adalah menciptakan ruang dan struktur penyembuhan, di mana setiap detail dengan cermat mempertimbangkan indera holistik untuk memberikan keseimbangan dan harmoni, “jelasnya.
Lampu Tanda Cinta bersinar di Hotel The Rich Jogjakarta sebagai aksi solidaritas terhadap kondisi pariwisata yang terkena dampak pandemi Covid-19.
JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebuah aksi solidaritas bertajuk “From Jogja With Love“, kepedulian terhadap kondisi pariwisata Yogyakarta akhir-akhir ini dari para penggiat dunia perhotelan Yogyakarta berlangsung di destinasi wisata ke dua setelah Bali ini.
Selama ini, Yogyakarta dikenal dengan daya tarik wisata sejarah, simbol keagungan budaya Jawa dan menjadi kota unik, yang selalu dirindukan untuk dikunjungi wisatawan domestik hingga mancanegara. Dunia perhotelan dan pariwisata merupakan sebuah kesatuan dan telah menjadi nafas sektor mata pencaharian utama dari kebanyakan masyarakatnya.
Aksi ini diprakarsai dan dilakukan secara sukarela serta spontanitas oleh para General Manager Hotel di Jogja, melibatkan lebih dari 58 hotel dari berbagai perwakilan wilayah di Jogjakarta. Angka tersebut telah mencapai sekurangnya seperempat dari 200-an hotel di Yogyakarta.
Aksi solidaritas dari hotel-hotel di Yogyakarta ini berupa sinyal tanda cinta yang dilakukan dengan menyalakan beberapa lampu kamar hotel atau lampu hiasan pada masing-masing hotel hingga membuat bentuk hati/cinta. Aksi ini secara serempak dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2020 mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Aksi ini membawa misi sebagai simbol empati, semangat kebersamaan, dan harapan agar pariwisata Yogyakarta dapat segera kembali menapaki babak baru yang semakin gemilang.
“Jogja itu unik dan otentik, sehingga ini yang mengilhami kami sebagai salah satu komponen dunia pariwisata untuk melakukan sebuah gerakan bersama yang vokal dan positif, dengan harapan untuk mengakselerasi optimisme para pelaku dan pegiat pariwisata, utamanya dari dunia perhotelan dan menggairahkan kembali roda pariwisata Jogja.” tutur Novi Soesanto, koordinator aksi yang juga mewakili seluruh hotel di Yogyakarta.
Beberapa hotel di kota dan negara lain memang telah melakukan hal yang sama, dengan menyematkan tanda hati pada bangunannya, namun di Jogjakarta dilakukan dengan cara berbeda, yaitu secara serempak selama satu atau dua jam pada Sabtu 04 April 2020.
Adapun para General Manager hotel yang bersatu menginisiasi aksi ini sepakat melanjutkan menyalakan tanda hati dari Yogyakarta ini hingga periode yang tidak ditentukan sesuai kebijakan masing-masing hotel.
Artinya bahwa kebersamaan dan semangat ini akan menguatkan seluruh pekerja hotel dalam situasi yang tak menentu saat ini, sekaligus mewujudkan kebanggan sebagai bagian dari penggerak utama roda ekonomi Yogyakarta, yaitu pariwisata.
Geliat pariwisata Yogyakarta diharapkan akan segera tumbuh kembali, dan membawa kota ini dan seluruh warganya kembali tersenyum. “Yogyakarta sedang rehat dari hingar bingar wisatawan namun dengan terangnya tanda cinta ini, kami para pelaku industri perhotelan Jogjakarta akan terus berusaha segera menjadikan kota ini dirindukan kembali dan meraih canda tawa seperti sediakala.” pungkas Novi Soesanto.
Lambang cinta yang menyala adalah symbol dan gambaran dari secercah harapan yang dilandasi semangat para hotelier yang tak pernah padam. “Harapan dan semangat ini kami sampaikan kepada semua stakeholder pariwisata Jogja.. baik itu pelaku.. pemilik.. dan pemerintah.. kita harus bersama dalam sebuah langkah nyata, penuh cinta dari hati untuk terus berjuang karena kita adalah satu nafas dalam pariwisata.
Aksi solidaritas ini setidaknya bisa menjadi hiburan bagi masyarakat Jogja dalam situasi saat ini. Lambang cinta dari hotel Jogja menerangi gelapnya malam di Jogja. Semangat bangkit dari keterpurukan. Semangat berjuang untuk esok yang lebih cerah…
Hotel-hotel yang berpartisipasi aktif dalam kampanye bersama ini adalah Novotel Suites Yogyakarta Malioboro,Grand Mercure Adi Sucipto, ibis Styles, ibis Malioboro,The Phoenix , Pesonna Tugu, Grand Ambarrukmo dan Royal Ambarrukmo Yogyakarta.
Selain itu yang berpartisipasi adalah Porta by The Ambarrukmo,Pesonna Malioboro, The 101 Tugu,Novotel , Atrium, Hotel Tentrem, Jambuluwuk Malioboro, Unisi Hotel, Cordela, Pop Malioboro,Grand Zuri, POP Timoho, Grand Senyum, Prima Inn, Whiz Malioboro dan The Rich.
Tak ketinggalan hotel Horison Urip Sumoharjo, Dafam Hotel, Grand Inna Malioboro, Grand Orchid, Grand Aston, Innside by Melia, KJ Hotel, lGrand Tjokro,Rosin Hotel,Sahid Jaya Hotel, De Laxston Hotel, Tasneem Hotel,The Atrium, Abadi Hotel, Cavinton, D’Senopati, D’Salvatore, Aveon Hotel, Ayaarta dan Hyatt Regency Yogyakarta.
Aksi solidaritas ini juga di dukung oleh Hotel Harper Mangkubumi, Greenhost Boutique Hotel, Grand Dafam Hotel, The Cube, UC Hotel UGM, Crystal Lotus, GAIA Cosmo, University Hotel, Melia Purosani, Marriott Yogyakarta Hotel, Royal Darmo Malioboro, Satoria, Lafayette Boutique Hotel dan Swisbell Boutique Hotel. #staysafe #jogjabisa,#indonesiabisa #guyubsesarengan
[vc_row][vc_column][vc_column_text]Minggu sore lalu, 29 Maret 2020 untuk pertama kalinya anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Forwaparekraf) mengadakan pertemuan ditengah kebijakan Work from Home, menggunakan aplikasi Zoom. Diskusi antara pengurus, anggota dan para pembina berjalan serius tapi santai.
Saya berpartisipasi sebagai pendiri dan pembina bersama Mimi Hudoyo dari TTG Asia dan Arifin Hutabarat dari ITN-IndonesiaTouristNews yang secara bergantian melayani pertanyaan dari rekan-rekan media.
Pengurus dan anggota Forwaparekraf sepakat menyampaikan pentingnya agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) segera mengaktifkan fungsi komunikasi krisis di sektor pariwisata.
Rupanya awak media sudah mulai gregetan karena sang Menteri, Wishnutama Kusubandio dinilai tidak memiliki ‘sense of crisis’ yang seharusnya dilakukan ketika virus Corona Covid- 19 mewabah hingga memukul telak sektor industri pariwisata. Jejak digitalnya di Kompasiana malah judulnya tertulis : Menteri Wishnutama Seperti Selebriti, Sulit Ditemui Wartawan.
Kontan saja Johan Sompotan, Ketua Forwaparekraf perlu menjembatani anggotanya dengan ‘ Mas Menteri’. Meski akhirnya jawaban dari Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf pertemuan baru bisa dijadwalkan pertengahan April.
Sementara pandemi global ini dalam waktu 24 jam saja terus menyebar dengan berbagai berita fakta maupun hoax yang memerlukan komunikasi dua arah dan kehadiran crisis center untuk menyampaikan pada dunia apa saja yang akan dan telah dilakukan Pemerintah Indonesia.
“Ada dua isyu besar yang dihadapi oleh pemerintah saat ini, yaitu secara umum krisis nasional berkenaan dengan covid-19, dan secara khusus krisis di sektor pariwisata sebagai dampak dari covid -19,” kata Arifin Hutabarat yang biasa dipanggil Opung ini.
Apalagi saat pandemi terjadi masih banyak wisatawan mancanegara yang tengah asyik berwisata di Indonesia di berbagai daerah terutama Bali sebagai destinasi wisata utama. Kehadiran crisis center terutama untuk melayani wisatawan yang berada di daerah bencana.
Namanya juga crisis center, suatu bentuk kebijakan preventif dan respon dari pemerintah menghadapi berbagai kondisi dan ancaman yang berpotensi dan berdampak pada sektor pariwisata. Apalagi dalam kasus Covid-19, tiba-tiba saja dalam hitungan jam wisman terhambat pulang ke negaranya.
Wisman tak bisa pulang akibat penutupan sementara penerbangan, pembatasan transit, berbagai kebijakan maupun kepanikan karena bencana yang belum pernah terjadi dan melanda hampir dua pertiga negara di dunia ini.
Tak heran para pengurus langsung minta arahan para pembina bagaimana agar industri pariwisata yang 50 juta orang sumber daya manusianya di dunia terancam pekerjaannya akibat dampak Covid-19. Mereka concern agar industri dapat tetap survive dimasa sulit saat ini karena awak media paham 80 % UMKM di dunia adalah motor penggerak pariwisata.
Pekan lalu, Virginia Messina, Direktur Pelaksana World Travel & Tourism Council ( WTTC) dalam rilisnya menyatakan kalangan industri pariwisata yang dipimpinnya sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Dari 50 juta pekerjaan yang bisa hilang, sekitar 30 juta akan berada di Asia, tujuh juta di Eropa, lima juta orang di Amerika dan sisanya di benua lain, kata Virginia Messina memproyeksikan.
Diskusi seru via Zoom dilanjutkan pada Senin 30 Maret 2020. Satu lagi pembina muncul yaitu Wahyu Indrasto, Pemimpin Perusahaan www.eksekutif.id. Lagi-lagi keinginan mendukung kalangan industri pariwisata tampak mengemuka.
Sayangnya, saat kami berdiskusi muncul juga kekecewaan karena para pelaku bahkan ketua asosiasi ada kecendrungan terlalu berhati-hati untuk berbicara dengan pers sehingga Mimi Hudoyo sempat berucap. ” Kalau kesulitan minta pendapat para pelaku, jadi ingat betapa almarhum Rudiana Jones selalu bisa menjawab pertanyaan kita ya,” ujarnya.
Rudiana Jones adalah salah satu Direksi WITA Tours yang awal tahun ini wafat. Semasa hidup menjadi media darling karena sebagai salah satu ketua di Asosiasi Travel Agent Indonesia ( ASTINDO) selalu terbuka kepada media, ramah terhadap wartawan, dan sering kali memberi “bahan” untuk diolah menjadi berita.
Ucapan Mimi langsung diamini peserta Zoom bahkan membuat diskusi menjadi tambah semangat sesuai dengan spirit almarhum Rudiana yang kerap memberikan pencerahan dan memperlakukan awak media sebagai teman sejatinya.
Opungpun sampai takjub dan menyampaikan kegembiraannya karena rekan-rekan media punya optimisme yang besar untuk mendukung bisnis dari pelaku pariwisata sehingga saat Corona tidak ada lagi di muka bumi proses pemulihan bisa lebih cepat.
” Menparekraf pastinya juga ingin tahu bagaimana mitigasi bencana dari setiap organisasi profesi di sektor pariwisata jadi mari kita bantu agar mereka tetap semangat dalam berusaha,” kata Arifin Hutabarat.
Untuk anggota yang tidak sempat berpartisipasi, Ekasanti, salah satu pengurus yang paling sibuk telah menyiapkan siaran pers untuk memberikan masukan pada Mas Menteri dan jajarannya.
“Terima kasih masukannya, kami sudah aktifkan komunikasi krisis parekraf sejak tanggal 17 Maret 2020 lalu, mengikuti SOP manajemen krisis kepariwisataan yang dihasilkan atas masukan bersama praktisi penanganan krisis dan ahli komunikasi sepanjang 2018-2019,” jawab Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf.
Jawaban wanita yang biasa disapa “Mbak Ayu” memperjelas “gap” yang terjadi karena saat diskusi via Zoom dilakukan belum ada yang paham rupanya Mas Menteri dan jajarannya sudah berkordinasi dan bersinergi dengan para pelaku pariwisata serta menghidupkan crisis center atau apapun namanya.
Sekali lagi ibarat pepatah Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, maka Forwaparekraf yang menjadi mitra kerja Kemenparekraf sejak keberadaannya di tahun 1990 an justru tidak tahu komunikasi krisis sudah dihidupkan kembali di kementrian itu nyaris dua minggu sebelumnya.
Syukur alhamdulilah jika sudah berfungsi lagi karena saat ada Bom Bali 2002 dan tahun Bom Bali ke dua tahun 2005 misalnya crisis center kemenparekraf aktif berperan. Begitu juga saat Menpar Arief Yahya menghidupkan crisis center saat Gunung Agung, Bali erupsi 2018 lalu jejak digital dan langkah strategisnya bisa dibaca via internet.
Tak perlu ‘ baper ‘ meskipun satu rumah, Forwarparekraf tidak mengetahui atau terlambat mendapat informasi dari ‘orangtua’ nya sendiri karena setiap menteri juga punya gaya kepemimpinannya sendiri-sendiri.
Justru awak media yang kebanyakan dari kalangan milenial ( Gen Y) dan Gen Z telah menyerukan kegelisahannya agar pemerintah mengambil tindakan segera mencegah dampak krisis yang lebih luas. Pasalnya krisis kesehatan global ini telah menjadi bencana ekonomi dunia.
Pertemuan itu sekaligus menjadi doa agar 30 juta orang di Asia termasuk di Indonesia yang bisa kehilangan pekerjaannya bisa memiliki semangat baja bahwa badai ini pasti berlalu. Jangan lupa sedikitnya 1,5 miliar wisman berwisata pada 2019 atau kontribusinya 7% dari ekspor global.
Industri pariwisata memang telah terbiasa dengan kejutan semacam ini dan semoga menjadi lebih tangguh dari waktu ke waktu. Sebuah studi WTTC terhadap 90 krisis berbeda menunjukkan bahwa saat ini industri membutuhkan waktu sekitar 10 bulan untuk pulih, turun dari 24 bulan satu dekade lalu.
Yakinlah, meski belum dianggap sebagai mitra sejajar, inisiatif Forwaparekraf memikirkan kelangsungan hidup jutaan orang yang mengandalkan Travel & Pariwisata untuk mata pencaharian dan kesejahteraan mereka dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang yang bergejolak adalah perbuatan mulia.
Langkah ini akan menguatkan para pelaku industri untuk merangkul kekuatan pers sebagai mitra sejajarnya. Hanya upaya bersama yang dapat pulih dari pandemi Covid-19. Bukankah begitu friends ?
Whisnutama (kedua dari kiri) meninjau dapur Swiss- Belhotel Pondok Indah. Di sampingnya adalah Direktur Utama RSUP Fatmawati dr. Mochammad Syafak Hanung, Sp. A, MPH . ( foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio pastikan tenaga kesehatan dapatkan akomodasi dan fasilitas layanan terbaik saat berkunjung ke Swiss-Belhotel Pondok Indah Jakarta Selatan, hari ini.
Kemenparekraf bekerjasama dengan sejumlah hotel memberikan akomodasi yang baik bagi petugas kesehatan yang saat ini menjadi garis terdepan dalam penanganan COVID-19 yang sangat dibutuhkan dalam menunjang kinerja mereka.
Menparekraf mengapresiasi dukungan dari industri pariwisata yang terus berjuang bersama menghadapi pandemi COVID-19, termasuk perhotelan yang memberikan akomodasi bagi tenaga Kesehatan.
“Alhamdulillah sore ini kami mendapat dukungan lagi dari Swiss-Belhotel Pondok Indah dan RedDoorz untuk mendukung tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Fatmawati sebagai salah satu rumah sakit rujukan untuk menangani pandemi COVID-19,” ujarnya.
Wishnutama mengatakan, sebagaimana hotel-hotel sebelumnya yang juga bekerja sama dengan Kemenparekraf/Baparekraf dalam menyiapkan akomodasi tenaga medis, ia memastikan fasilitas dan operasional hotel harus dijalankan dengan standar kesehatan yang baik.
“Saya sudah melihat fasilitas hotel ini dengan segala macam support-nya termasuk makanan, laundry, dan semua fasilitasnya dalam kondisi baik untuk mengakomodasi 150 tenaga kesehatan RSUP Fatmawati.” kata Wishnutama.
Ia mengatakan standar kesehatan ini perlu benar-benar diperhatikan agar memberi rasa aman dan nyaman bagi tenaga medis dan juga pekerja hotel. Wishnutama berharap do’a dan dukungan dari masyarakat dan khususnya industri pariwisata benar-benar bermanfaat bagi tenaga kesehatan di RSUP Fatmawati.
“Dengan demikian para petugas kesehatan dapat beristirahat dengan baik, dekat dengan tempat pekerjaan, dan lebih efektif pekerjaannya. Begitu juga transportasinya, Antavaya menyediakan transportasi dari rumah sakit menuju hotel dan sebaliknya sehingga segala sesuatu lebih baik bagi petugas kesehatan berjuang menghadapi COVID-19 ini,” kata Wishnutama.
Direktur Utama RSUP Fatmawati dr. Mochammad Syafak Hanung, Sp. A, MPH menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam menyiapkan akomodasi bagi lebih dari 150 tenaga kesehatan RSUP Fatmawati.
“Tidak hanya tempat menginap yang nyaman, tapi juga laundry dan makanan. Ini tentunya dapat mendukung kinerja tenaga kesehatan dan perawat kami, sehingga mereka bisa fokus melayani pasien,” kata Mochammad Syafak Hanung.
Ia mengatakan akomodasi memang menjadi salah satu kendala yang dihadapi rumah sakit dalam situasi berjuang menghadapi COVID-19 saat ini. Sebelum adanya dukungan dari Kemenparekraf dan industri, pihaknya sedang mencari cara menyiapkan sarana akomodasi bagi tenaga kesehatan yang bertugas mengingat intensitas dan risiko mereka yang tinggi.
Dengan dukungan ini mereka tentunya bisa beristirahat dengan nyaman, tidak ada pikiran yang terbebani lagi dan hanya fokus dengan pasien. Ini betul-betul dukungan yang kuat bagi kami dalam menangani pasien, tambah Mochammad Syafak Hanung
“Kami berdoa bersama mudah-mudahan Allah melindungi kita semua agar terhindar dari virus ini, dan semoga bisa cepat teratasi,” kata dia lagi.
Dalam kerja sama ini, Swiss-Belhotel menyiapkan 80 kamar dengan berbagai kebutuhan lainnya untuk tenaga kesehatan RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menjadi salah satu rumah sakit rujukan pemerintah dalam penanganan COVID-19.
Dalam kunjungan itu Wishnutama didampingi Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Fajar Utomo, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf Rizky Handayani Mustafa, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya, Juru Bicara Satgas COVID-19 Kemenparekraf Ari Juliano Gema, dan Staf Khusus Bidang Keamanan, Adi Deriyan Jayamarta.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: PANDEMIK COVID-19, pemerintah mengeluarkan himbauan untuk bekerja dari rumah, belajar di rumah bagi pelajar, mahasiswa sampai ibadah di rumah. Awalnya hanya selama 14 hari, kemudian diperpanjang sejalan dengan makin meluasnya penyebaran COVID-19. Bagi kalangan ASN yang non pelayanan public, bekerja dari rumah sembari mengontrol anak- anak yang kena wajib belajar di rumah.
Perusahaan
swasta? Mulai dikeluarkan kebijakan pengurangan jam operasional kantor, kebijakan cuti libur tak berbayar, berbagi shift kerja mingguan akhirnya kerja dari
rumah sembari menunggu perubahan kinerja perekonomian negara.
“Kebijakan bekerja dari rumah, cukup mengurangi operasional harian kantor,” ungkap eksekutif sebuah PR agencydi Bali. Pasalnya, operasional mereka selama ini lebih dominan mobile mengandalkan teknologi komunikasi yang ada. Keberadaan kantor hanya memenuhi peraturan sebuah perusahaan dan menerima tetamu yang enggan bertemu di luar kantor.
Memasuki
akhir bulan Maret, pemerintah meningkatkan status tanggap darurat COVID-19.
Sejumlah daerah memperketat kebijakan mengurangi pergerakan masyarakat antar
daerah, meminimalkan kerumunan sampai menutup tempat- tempat wisata, tempat
hiburan dan membatasi jam operasional tempat- tempat pertemuan.
Berkaitan dengan kebijakan work from home, membuka peluang pengelola hotel kreatif mengemas paket- paket jasa working space special. Di Jakarta manajemen jejaring hotel klas menengah meluncurkan paket hemat bekerja dari hotel. Kemasan paket, menjawab kebutuhan para tamu yang memerlukan kenyamanan area bekerja didukung dengan fasilitas kebersihan hingga koneksi internet berkecepatan tinggi.
Dalam
release yang diterima bisniswisata.co.id, di jejaring Holiday
Inn para tamu dapat menempati kamar tamu hotel dan menjadikannya tempat bekerja
yang nyaman serta luas. Para tamu bisa bekerja dengan lebih hemat apabila
melakukan reservasi selama lima malam. Reservasi
kamar sudah termasuk poin reward,
sarapan pagi, koneksi WiFi berkecepatan tinggi, area bekerja yang luas dan juga
kursi ergonomis yang nyaman. Para tamu juga bisa menikmati fasilitas hotel
lainnya seperti ruang kebugaran dan self-service
laundry yang secara reguler disanitasi dengan seksama.
Selain
mengeluarkan paket menginap, Holiday Inn juga menyediakan layanan antar makanan.
Terdapat berbagai menu kotak pilihan
yang dapat dinikmati oleh para pecinta makanan seperti Nasi Goreng Sayur, Mie
Goreng Jawa, Ayam Goreng Kalasan, Sate Ayam, Spageti Asam Asam Manis, Buah dan tumis
sayuran. Layanan antar makanan tidak dipungut biaya untuk pengantaran ke area
Matraman, Salemba, Senen, dan Kramat.
Fasilitas Karantina Mandiri
Di Bali, hotelier inovatif menawarkan kamarnya dengan sistem sewa harian, mingguan maupun bulanan. Paling tidak kebijakan ini membuka peluang kerja bagi tenaga kerja di hotel bersangkutan, tetap beroperasi dengan mengikuti protocol penanggulangan COVID-19 dari pemerintah. Tinggal pilih sesuai budget, sesuai klas kamarnya, lama tinggal.
Masih
dengan etikad membantu diri sendiri, sesama karyawan, perusahaan dan pemerintah ada jejaring usaha
yang tidak hanya memiliki jaringan bisnis hotel, juga rumah sakit berstandar
internasional, menawarkan fasilitas tes COVID-19 dan karantina mandiri.
Contohnya apa yang ditawarkan Lippo Groups.
Aryaduta Hotels dari Lippo Group
menawarkan paket bagi mereka yang perlu mengisolasi diri dari keluarga dan
kolega karena pandemi. “Hotel kami menyediakan lingkungan yang benar-benar
aman dan bersih bagi Anda untuk bekerja dan bersantai,” kata perusahaan
itu dalam siaran persnya.
Dijelaskan bahwa, kontak dengan orang lain (termasuk staf hotel) akan diminimalkan dan makanan
dan minuman lengkap disajikan tanpa staf hotel memasuki ruang pribadi Anda.
Stafnya dilatih protokol keselamatan
oleh Grup Rumah Sakit Siloam. Penawaran ini terbuka untuk mereka yang
mengasingkan diri selama 14 hari dan tidak menunjukkan gejala atau siapa pun
yang dites negatif tetapi harus mengikuti protocol karantina 14 hari.
Menurut Varun Khanna, Chief Commercial Officer, Siloam Hospitals,
Siloam adalah grup rumah sakit swasta
pertama yang mengembangkan kapasitas pengujian COVID-19 di Indonesia.
Juga salah satu
dari tiga rumah sakit rujukan swasta untuk pasien COVID-19.
“Offer available in
Aryaduta Semanggi, Medan, Lippo Village and Palembang”, imbuh Varun Khana.