Crisis Center Atau Komunikasi Krisis ?

0
35

Minggu sore lalu, 29 Maret 2020 untuk pertama kalinya anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Forwaparekraf) mengadakan pertemuan ditengah kebijakan Work from Home, menggunakan aplikasi Zoom. Diskusi antara pengurus, anggota dan para pembina berjalan serius tapi santai.

Saya berpartisipasi sebagai pendiri dan pembina bersama Mimi Hudoyo dari TTG Asia dan Arifin Hutabarat dari ITN-IndonesiaTouristNews yang secara bergantian melayani pertanyaan dari rekan-rekan media.

Pengurus dan anggota Forwaparekraf sepakat menyampaikan pentingnya agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  (Kemenparekraf) segera mengaktifkan fungsi komunikasi krisis di sektor pariwisata. 

Rupanya awak media sudah mulai gregetan karena sang Menteri, Wishnutama Kusubandio dinilai tidak memiliki ‘sense of crisis’ yang seharusnya dilakukan ketika virus Corona Covid- 19 mewabah hingga memukul telak sektor industri pariwisata. Jejak digitalnya di Kompasiana malah judulnya tertulis : Menteri Wishnutama Seperti Selebriti, Sulit Ditemui Wartawan.

Kontan saja Johan Sompotan, Ketua Forwaparekraf perlu menjembatani anggotanya dengan ‘ Mas Menteri’. Meski akhirnya jawaban dari Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf pertemuan baru bisa dijadwalkan pertengahan April.

Sementara pandemi global ini dalam waktu 24 jam saja terus menyebar dengan berbagai berita fakta maupun hoax yang memerlukan komunikasi dua arah dan kehadiran crisis center untuk menyampaikan pada dunia apa saja yang akan dan telah dilakukan Pemerintah Indonesia.

“Ada dua isyu besar yang dihadapi oleh pemerintah saat ini, yaitu secara umum krisis nasional berkenaan dengan covid-19, dan secara khusus krisis di sektor pariwisata sebagai dampak dari covid -19,” kata Arifin Hutabarat yang biasa dipanggil Opung ini.

Apalagi saat pandemi terjadi masih banyak wisatawan mancanegara yang tengah asyik berwisata di Indonesia di berbagai daerah terutama Bali sebagai destinasi wisata utama. Kehadiran crisis center terutama untuk melayani wisatawan yang berada di daerah bencana.

Namanya juga crisis center, suatu bentuk kebijakan  preventif dan respon dari pemerintah menghadapi berbagai kondisi dan ancaman yang berpotensi dan berdampak pada sektor pariwisata. Apalagi dalam kasus Covid-19, tiba-tiba saja  dalam hitungan jam wisman terhambat pulang ke negaranya.

Wisman tak bisa pulang akibat penutupan sementara penerbangan, pembatasan transit,  berbagai kebijakan maupun kepanikan karena bencana yang belum pernah terjadi dan melanda hampir dua pertiga negara di dunia ini.

Tak heran para pengurus langsung minta arahan para pembina bagaimana agar industri pariwisata yang 50 juta orang sumber daya manusianya di dunia terancam pekerjaannya akibat dampak Covid-19. Mereka concern agar industri dapat tetap survive dimasa sulit saat ini karena awak media paham 80 % UMKM di dunia adalah motor penggerak pariwisata.

Pekan lalu, Virginia Messina, Direktur Pelaksana World Travel & Tourism Council ( WTTC) dalam rilisnya menyatakan kalangan industri pariwisata yang dipimpinnya sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Dari 50 juta pekerjaan yang bisa hilang, sekitar 30 juta akan berada di Asia, tujuh juta di Eropa, lima juta orang di Amerika dan sisanya di benua lain, kata Virginia Messina memproyeksikan.

Diskusi seru via Zoom dilanjutkan pada Senin 30 Maret 2020. Satu lagi pembina muncul yaitu Wahyu Indrasto, Pemimpin Perusahaan www.eksekutif.id. Lagi-lagi keinginan mendukung kalangan industri pariwisata tampak mengemuka.

Sayangnya, saat kami berdiskusi muncul juga kekecewaan karena para pelaku bahkan ketua asosiasi ada kecendrungan terlalu berhati-hati untuk berbicara dengan pers sehingga Mimi Hudoyo sempat berucap. ” Kalau kesulitan minta pendapat para pelaku, jadi ingat betapa almarhum Rudiana Jones selalu bisa menjawab pertanyaan kita ya,” ujarnya.

Rudiana Jones adalah salah satu Direksi WITA Tours yang awal tahun ini wafat. Semasa hidup menjadi media darling karena sebagai salah satu ketua di Asosiasi Travel Agent Indonesia  ( ASTINDO) selalu terbuka kepada media, ramah terhadap wartawan, dan sering kali memberi “bahan” untuk diolah menjadi berita.

Ucapan Mimi langsung diamini peserta Zoom bahkan membuat diskusi menjadi tambah semangat sesuai dengan spirit almarhum Rudiana yang kerap memberikan pencerahan dan memperlakukan awak media sebagai teman sejatinya.

Opungpun sampai takjub dan menyampaikan kegembiraannya karena rekan-rekan media punya optimisme yang besar untuk mendukung bisnis dari pelaku pariwisata sehingga saat Corona tidak ada lagi di muka bumi proses pemulihan bisa lebih cepat.

” Menparekraf pastinya juga ingin tahu bagaimana mitigasi bencana dari setiap organisasi profesi di sektor pariwisata jadi mari kita bantu agar mereka tetap semangat dalam berusaha,” kata Arifin Hutabarat.

Untuk anggota yang tidak sempat berpartisipasi, Ekasanti, salah satu pengurus yang paling sibuk telah menyiapkan siaran pers untuk memberikan masukan pada Mas Menteri dan jajarannya.

“Terima kasih masukannya, kami sudah aktifkan komunikasi krisis parekraf sejak tanggal 17 Maret 2020 lalu, mengikuti SOP manajemen krisis kepariwisataan yang dihasilkan atas masukan bersama praktisi penanganan krisis dan ahli komunikasi sepanjang 2018-2019,” jawab Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf.

Jawaban wanita yang biasa disapa  “Mbak Ayu” memperjelas “gap” yang terjadi karena saat diskusi via Zoom dilakukan belum ada yang paham rupanya Mas Menteri dan jajarannya sudah berkordinasi dan bersinergi dengan para pelaku pariwisata serta menghidupkan crisis center atau apapun namanya.

Sekali lagi ibarat pepatah Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan, maka Forwaparekraf yang menjadi mitra kerja Kemenparekraf sejak keberadaannya di tahun 1990 an justru tidak tahu komunikasi krisis sudah dihidupkan kembali di kementrian itu nyaris dua minggu sebelumnya.

Syukur alhamdulilah jika sudah berfungsi lagi karena saat ada Bom Bali 2002 dan tahun Bom Bali ke dua tahun 2005 misalnya crisis center kemenparekraf aktif berperan. Begitu juga saat Menpar Arief Yahya menghidupkan crisis center saat Gunung Agung, Bali erupsi 2018 lalu jejak digital dan langkah strategisnya bisa dibaca via internet.

Tak perlu ‘ baper ‘ meskipun satu rumah, Forwarparekraf tidak mengetahui atau terlambat mendapat informasi dari ‘orangtua’ nya sendiri karena setiap menteri juga punya gaya kepemimpinannya sendiri-sendiri.

Justru awak media yang kebanyakan dari kalangan milenial ( Gen Y) dan Gen Z telah menyerukan kegelisahannya agar pemerintah mengambil tindakan segera mencegah dampak krisis yang lebih luas. Pasalnya krisis kesehatan global ini telah menjadi bencana ekonomi dunia. 

Pertemuan itu sekaligus menjadi doa agar  30 juta orang di Asia termasuk di Indonesia yang bisa kehilangan pekerjaannya bisa memiliki semangat baja bahwa badai ini pasti berlalu. Jangan lupa sedikitnya 1,5 miliar wisman berwisata pada 2019 atau kontribusinya 7% dari ekspor global.

Industri pariwisata memang telah terbiasa dengan kejutan semacam ini dan semoga menjadi lebih tangguh dari waktu ke waktu. Sebuah studi WTTC terhadap 90 krisis berbeda menunjukkan bahwa saat ini industri membutuhkan waktu sekitar 10 bulan untuk pulih, turun dari 24 bulan satu dekade lalu.

Yakinlah, meski belum dianggap sebagai mitra sejajar, inisiatif Forwaparekraf memikirkan kelangsungan hidup jutaan orang yang mengandalkan Travel & Pariwisata untuk mata pencaharian dan kesejahteraan mereka dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang yang bergejolak adalah perbuatan mulia.

Langkah ini akan menguatkan para pelaku industri untuk merangkul kekuatan pers sebagai mitra sejajarnya. Hanya upaya bersama yang dapat pulih dari pandemi Covid-19. Bukankah begitu friends ?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.