WTTC: Paska wabah Covid Hilang, Bisnis Travel & Tourism Paling Penting untuk Pemulihan Ekonomi

this formate

LONDON, Inggris, bisniswisata.co.id: Laporan WTTC belum lama ini mengungkapkan paska hilangnya wabah pandemi global maka sektor travel & tourism yang cepat memulihkan perekonimian.

Laporan Dampak Ekonomi (EIR) tahunan WTTC  menunjukkan kontribusi vital yang akan dilakukan Travel & Tourism terhadap pemulihan ekonomi Asia-Pasifik sangat penting begitu pandemi COVID-19 dapat ditaklukan dan dibasmi di muka bumi 

Publikasi oleh World Travel & Tourism Council (WTTC), yang mewakili sektor swasta travel & tourism global menyebutkan bagwa kawasan Asia Pasifik pertumbuhannya tercepat selama 2019. Hal ini  didorong oleh pertumbuhan berkelanjutan di rumah tangga kelas menengah, fasilitasi visa, peningkatan konektivitas dan prioritas pemerintah.

Sektor Perjalanan ( travel)  & Pariwisata ( tourism) menghasilkan US$ 2.971 miliar terhadap PDB, atau 9,8% dari ekonomi kawasan. Tumbuh sebesar 5,5  % dari tahun sebelumnya dan terdepan dalam perekonomian regional secara keseluruhan selama lima tahun berturut-turut sebesar 4,2%.

Wisatawan internasional menghabiskan total US $ 548 miliar, mewakili 6,6% dari total ekspor kawasan. Jadi penelitian menunjukkan selama lima tahun terakhir, di wilayah Aspak, sektor ini menciptakan lebih dari 21 juta pekerjaan baru, setara dengan  56% dari semua pekerjaan baru secara global.

Laporan komprehensif juga menunjukkan bahwa perjalanan wisata merupakan mayoritas dari total pengeluaran Perjalanan & Pariwisata (81%), dengan hanya 19% yang dikaitkan dengan perjalanan bisnis.

Ketika mempertimbangkan pengeluaran domestik dan internasional, jumlahnya cenderung sama, dengan pengeluaran pengunjung domestik membuat 74% dari total, dan internasional membuat 26%.

 China memimpin pertumbuhan wilayah tahun 2019 dalam hal PDB dan ukuran lapangan kerja, dengan kinerja yang kuat di pasar utama Asia lainnya seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina.

Travel & tourism mendukung lebih banyak pekerjaan di Tiongkok daripada di negara lain manapun di kawasan ini dengan hampir 80 juta pekerjaan, atau, 10,3% dari total pekerjaan. Sektor  ini tumbuh sebesar 9,3%, terbesar kedua di dunia, mencapai 11,3% dari keseluruhan ekonomi Tiongkok.

Malaysia dan Vietnam juga memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan, masing-masing naik 6,6% dan 7,7% dan keduanya menunjukkan perbedaan antara pengeluaran pengunjung domestik dan internasional, dengan 49% pengeluaran wisatawan domestik dan 51% dari pengeluaran internasional. 

Mayoritas pengeluaran travel & tourism di kedua negara sangat banyak berasal dari perjalanan wisata, dengan Malaysia mengaitkan 86% dari pengeluaran wisatawan dan Vietnam menyumbang 90%.

Filipina juga melihat pertumbuhan signifikan sebesar 8,6% sekali lagi,  menyumbang 25,3% dari total ekonomi di negara itu dan mendukung 24,1% dari total lapangan kerja yang menciptakan lebih dari 10 juta pekerjaan.  Pengeluaran dari wisata merupakan 66% dari total pengeluaran wisatawan , dan 85% dari wisatawan domestiknya.

Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, mengatakan: “Laporan Dampak Ekonomi  WTTC 2019 menunjukkan bagaimana bisnis travel & tourism ini tahun lalu menggerakkan perekonomian di Asia-Pasifik dan menjadikannya wilayah ini dengan pertumbuhan tercepat di dunia yang  kontribusi ke PDB. Sektor ini mendukung lebih dari 182 juta pekerjaan atau 9,6% dari total jumlah orang yang dipekerjakan.

 “Laporan kami menggarisbawahi betapa pentingnya travel & tourism dalam mendorong pemulihan ekonomi kawasan, menghasilkan lapangan kerja baru dan mendorong pengunjung kembali ke Asia-Pasifik. Dampak berganda ekonominya sangat positif untuk usaha kecil dan menengah.

Menurut Gloria Guevara, sangat penting semua pemerintah di seluruh kawasan membantu melindungi bisnis travel & tourism karena pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi regional dan global dimana saat ini sedang berjuang untuk bertahan hidup.  

“Penelitian kami menunjukkan 75 juta pekerjaan secara global berisiko langsung dan diantaranya 48 juta pekerjaan terancam kehilangan pekerjaan  di Asia Pasifik. Hal ini saja sudah menunjukkan betapa kritisnya untuk segera mendapatkan dukungan dari pemerintah masing-masing di kawasan. ”

Di tingkat global, travel & tourism mengungguli tingkat pertumbuhan PDB global 2,5% untuk sembilan tahun berturut-turut, berkat tingkat pertumbuhan PDB tahunan sebesar 3,5%.  Ini menjadikannya sektor tertinggi ketiga ekonomi global dalam hal pertumbuhan PDB.

Dampak ekonomi menunjukkan sektor ini mendukung satu dari 10 (330 juta) pekerjaan, memberikan kontribusi 10,3% terhadap PDB global dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru.

Perincian oleh WTTC menunjukkan Asia Pasifik menjadi wilayah dengan kinerja terbaik di seluruh dunia dengan tingkat pertumbuhan yang mengesankan sebesar 5,5%, diikuti Timur Tengah sebesar 5,3%.  AS dan Uni Eropa keduanya menunjukkan tingkat pertumbuhan yang stabil sebesar 2,3%, sementara negara dengan pertumbuhan tercepat adalah Arab Saudi.

 

 

 

Hotel Banyak Tutup Tapi Mengapa Banyak Yang Merindukan ?

this formate

Berlibur di hotel dekat pantai jadi idaman keluarga kecil ( Foto: dok pribadi Aditya)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Selain sebagian besar jaringan hotel memutuskan tutup untuk sementara waktu, maka sisanya  yang bertahan di tengah pandemi Covid-19 juga melakukan berbagai strategi untuk bertahan hidup.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, sampai dengan Senin pekan lalu (6/4) tercatat sudah ada 1.226 hotel tutup.Untuk angka riil jumlah hotel tutup lebih banyak karena pihaknya hanya punya data berdasarkan yang melapor saja.

Penutupan hotel berdampak terhadap sekitar 150.000 karyawan.Tak heran agar dana kas tetap mengalir berbagai strategi baru dilakukan. ” “Pengeluaran hotel paling besar adalah gaji karyawan, dan utilitas, seperti listrik dan air. Hotel bisa ditutup supaya biaya utilitas berkurang, tetapi karyawan, kan, enggak bisa,” ujar Haryadi.

Tak heran kini beredar promo-promo menjadikan kamar hotel untuk tempat bekerja sekaligus karantina diri yang bisa dibayar per minggu hingga sebulan seperti sewa kamar kost.

Jaringan hotel Holiday Inn menawarkan  tamu bisa bekerja dengan lebih hemat apabila melakukan reservasi selama lima malam.  Reservasi kamar sudah termasuk poin reward, sarapan pagi, koneksi WiFi berkecepatan tinggi, area bekerja yang luas dan juga kursi ergonomis yang nyaman.

Para tamu juga bisa menikmati fasilitas hotel lainnya seperti ruang kebugaran dan self-service laundry yang secara reguler disanitasi dengan seksama. 

Hotel lainnya  di Bali juga menawarkan paket bekerja dari hotel dengan rentang waktu seminggu sampai sebulan sampai akhir Mei. Paket itu dihargai mulai dari Rp 650.000 hingga Rp 2.500.000 dengan fasilitas Wi-Fi, akses ke kolam renang, diskon laundry, dan pembersihan kamar dua kali seminggu.

Meskipun banyak hotel menawarkan paket menginap yang menarik, bagi keluarga muda tetap saja memilih kerja dari rumah. Home Sweet Home dinilai tetap lebih efektif meskipun saat berliburan dengan keluarga hotel tetap menjadi pilihan mereka.

Aditya, 35 tahun, eksekutif di perusahaan start-up bidang telekomunikasi misalnya setiap tahun sedikitnya melakukan liburan keluarga dua kali dengan destinasi wisata berbeda-beda, baik di dalam maupun luar negri. 

Pilihan wisatanya masih Bali, Jogja, Malang dan negri jiran seperti Singapura karena selalu ada  obyek wisata baru dan banyak pilihan untuk berwisata bersama istrinya,  Vidya Paramitha dan anaknya,  Sarah Anjani yang 21 April nanti genap berusia lima tahun.

Pilihan hotel saat liburan menjadi perhatian utama karena saatnya bonding dengan keluarga sehingga sebelum memesan secara online memang benar-benar memperhatikan fasilitas yang ada karena kini mudah mendapatkan video, gambar dan lainnya sebelum melakukan pemesanan.

Aditya berharap pemerintah fokus menangani pandemi yang saat ini tengah terjadi agar perekonomian bisa kembali pulih setelah wabah virus corona selesai dan barulah liburan keluarga bisa kembali diwujudkan.

Prasetyo Yudo dan keluarga ( foto: dok.pribadi)

Prasetyo Yudo, 42 tahun, juga  menunggu wabah pandemi virus ini tuntas untuk kembali berlibur di Hotel. Eksekutif yang bekerja di perusahaan distributor buah ini banyak pilihan untuk berlibur di hotel bersama ke dua putrinya Devana dan Danya.

Pilihan berlibur di hotel karena adanya beragam fasilitas di bawah satu atap sehingga dia biasanya memilih hotel yang lengkap untuk beraktivitas bersama kedua putrinya. Merindukan berlibur di hotel yang nyaman dengan kolam renang yang indah  tentunya.

Maklum sang istri, Dea Asdewi , 41, kerja di perbankan yang sehari-harinya juga sibuk dengan jam kerja yang ketat sebagai usaha jasa layanan. Oleh karena itu pilihan tinggal di hotel saat liburan sekolah memang menjadi pilihan, ninimal dua kali liburan dalam setahun.

“Tapi untuk sekarang kerja dari rumah saja pilihan terbaik.  Tapi kelar wabah kami juga sudah punya tujuan hotel mana yang di tuju,” kata Prasetyo Yudo.

Hotel resort di Bali misalnya, sangat menggoda apalagi yang lokasinta di pinggir pantai dan ada kolam renang. Dia juga pilih lokasi yang dekat kemana-mana karena bisa lebih hemat waktu sehingga liburan lebih efektif dan efisien tidak habis waktu di jalan.

Di luar liburan keluarga, pria yang akrab dipanggil Yudo ini juga menyempatkan liburan 2-3 hari hanya bersama istri tercinta baik di dalam maupun di luar negri. Online Travel Agent ( OTA) banyak membantu untuk membuat reservasi mendadak sekalipun.

OTA menghubungkan traveler dengan pengalaman yang berkesan, pilihan transportasi yang mudah, dan tempat menginap yang luar biasa , dari rumah sampai hotel dan masih banyak lagi, sehingga Yudo mengaku kesempatan untuk cuti tahunan juga disisihkan untuk berdua saja.

Scoot pernah melakukan riset tahun lalu yang menyatakan lebih dari 50% milenial Indonesia telah melakukan traveling dua kali, masing-masing selama satu hingga empat hari, menunjukkan bahwa milenial lebih suka traveling singkat namun sering. Nah sudah memutuskan kelar Covid-19 mau kemana ?.

 

Kini Giliran Tenaga Medis RS Persahabatan & RSPAD Dapat Akomodasi dari Kemenparekraf

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kini gikiran tenaga medis RS Persahabatan dan RSPAD sebagai garda terdepan wabah global Pandemi Virus Corona yang mendapat perhatian Kemenparekraf dengan pelayanan akomodasi sementara di hotel.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyiapkan akomodasi tambahan bagi 313 tenaga kesehatan yang bertugas di RS Persahabatan dan RSPAD melalui kerja sama dengan industri pariwisata dalam menyediakan akomodasi dan transportasi dalam menghadapi COVID-19.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya dalam dalam siaran persnya  mengatakan, akomodasi tambahan tersebut terbagi menjadi dua yakni 239 tenaga kesehatan dari RS persahabatan dan 74 tenaga kesehatan dari RSPAD.

“Tentunya akomodasi yang disediakan bagi tenaga kesehatan diupayakan jaraknya berdekatan dengan RS tempatnya bekerja. Mereka ada yang mendapatkan fasilitas di Mercure Cikini dan yang di RS Persahabatan di Hotel Maxone Jalan Pemuda dengan jarak sekitar 1,7 kilometer,” kata Nia Niscaya.

Nia Niscaya mengatakan, tidak hanya akomodasi, segala kebutuhan para tenaga kesehatan selama menjalani menginap juga disiapkan. Mulai dari laundry, makanan, serta shuttle bus setiap harinya tersedia bagi para tenaga kesehatan.

“Kami juga bekerja sama dengan Trac Astra Rent Car untuk transportasi yang telah berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik untuk tenaga medis. Dengan memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan baik untuk para tenaga kesehatan, awak kendaraan, dan juga masyarakat pada umumnya karena menerapkan SOP Sanitasi Hygiene ”, katanya.

Penambahan dukungan ini merupakan permintaan dari pihak rumah sakit mengingat bertambahnya jumlah tenaga kesehatan yang membantu menangani pasien COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, fokus utama pemerintah dalam masa tanggap darurat ini adalah penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19. Namun di sisi lain juga berusaha menjaga keberlangsungan industri pariwisata, salah satunya perhotelan dan transportasi.

“Dukungan dan kerja sama dari industri pariwisata menjadi upaya bersama kita dalam menghadapi pandemi global serta membantu operasional di lapangan. Sekaligus  juga menggerakkan pelaku di bidang usaha jasa MICE agar dapat membantu perputaran roda bisnis di masa sulit ini,” kata Wishnutama.

Ayo Tetap Optimistis Siapkan Paket Liburan Akhir Tahun dan Cuti Bersama

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Perubahan cuti bersama Idulfitri 2020 ini harus benar-benar diantisipasi masyarakat untuk tidak bepergian atau mudik saat lebaran nanti yang digantikan pemerintah menjadi libur akhir tahun dan cuti bersama, kata Menparekraf & Kepala Badan Bekraf, Wishnutama dalam pernyataanya di Jakarta, hari ini. 

“Fokus pemerintah di masa tanggap darurat ini adalah penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19. Jadi dukung kebijakan dengan tetap di rumah dan tidak mudik Lebaran,” katanya.

Para pelaku industri yang bergerak di sektor pariwisata diajak untuk optimistis di tengah pandemi COVID-19 agar yakin untuk tetap mempersiapkan paket liburan cuti bersama di akhir tahun ini setelah masa darurat corona berlalu.

Pihaknya akan mempersiapkan rencana dan langkah dalam mendukung program yang menggeser cuti bersama Idulfitri 1441 H ke akhir tahun nanti. Apalagi  akhir tahun juga merupakan masa liburan sekolah dan memberikan waktu pada keluarga untuk memiliki waktu yang cukup dalam merencanakan liburan

Pergeseran libur bersama ke akhir tahun dilakukan dengan pertimbangan bahwa di akhir tahun Pandemi COVID-19 diperkirakan telah tertangani dengan baik. Jadi sesuai dengan rencana maka  pihaknya akan mengutamakan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

Tahun 2019 Kemenparekraf membidik 275 juta perjalanan wisnus. Dalam masa pemulihan (_recovery_) setelah pandemi COVID-19 dinyatakan selesai oleh pemerintah, maka pergerakan wisnus akan sangat menbantu dalam menggerakkan perekonomian nasional.

Kemenparekraf/Baparekraf akan menjalin kerja sama dengan industri/asosiasi serta masyarakat pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan menyiapkan berbagai program yang dapat dimanfaatkan masyarakat di libur akhir tahun nanti. 

“Saya berharap, bergesernya liburan ke akhir tahun bersamaan dengan berakhirnya pandemi ini sehingga dapat membantu industri pariwisata yang terdampak untuk bangkit kembali,” kata Wishnutama. 

Perubahan cuti bersama 2020 tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, MenteriKetenagakerjaan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 391/2020.

Surat Nomor 02/2020 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri PANRB Nomor 728/2019, Nomor 213/2019, dan Nomor 01/2019 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2020. 

Ketetapan dalam SKB antara lain menggeser cuti bersama Idulfitri 1441 H, yang semula ditetapkan 26 – 29 Mei 2020 digeser ke tanggal 28 – 31 Desember 2020; libur Hari Raya Idulfitri tetap pada 24-25 Mei 2020 serta tambahan cuti bersama pada hari libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada 28 Oktober 2020.

Wisata di Bibir Kawah Anak Krakatau ( 2)

this formate

JAKARTA,bisniswisata.co.id: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi lagi pada Jumat sore dan Sabtu dinihari tanggal 11 April 2020, mengejutkan masyarakat yang tengah menerapkan social dan physical distancing terkait pandemi virus Covid-19 yang melanda dunia.

Pada tulisan bagian pertama, saya telah kisahkan peristiwa vulkanik yang mendunia itu yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suaranya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan, bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Siapa sangka meletusnya Gunung Krakatau ternyata juga menginspirasi karya seni ?. Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 juga diabadikan kaum seniman dalam bentuk karya sastra dan musik. Di Betawi misalnya, hingga kini populer Syair Kramat Karam (karya anonim) yang umum didendangkan dengan iringan musik Gambang Kromong.

Syair dan tembang Kramat Karam berkisah ihwal situs keramat di Tanjung Kait di utara Tangerang, yang nyaris tenggelam (karam) saat terjadinya tsunami akibat letusan Gunung Krakatau. Sebuah naskah sastra berbahasa Melayu, bertajuk Syair Lampung Karam karya Mohammad Saleh (sastrawan Lampung kah ia?) juga terbit di akhir 1883 di Singapura. 

Tak cuma dalam bentuk sastra dan musik, letusan Krakatau tahun 1883 juga menginspirasi para sineas dunia. Bioskop Majestik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan misalnya, pernah memutar film layar lebar (yang laris diserbu penonton) bertajuk “Krakatoa, Eas of Java”, Film drama produksi Amerika Serikat tahun 1969 ini disutradarai Bernard Kowalski, dengan pemeran utama Maximilian Schell.

Di sebuah festival film indie di Jakarta tahun 2006, saya juga sempat menonton film doku-drama berdurasi 45 menit, bertajuk “Krakatau – Ein Vulkan verändert die Welt” karya sutradara sekaligus penulis skenario Jeremy Hall, Produksi: ZDF. Film lainnya adalah “Krakatoa. The Last Days’, Dokudrama, Britania Raya, 2006, 87 Min., Sutradara: Sam Miller, Produksi BBC, dengan pemeran utama Rupert Penry-Jones dan Olivia Williams. 

Anak Krakatau

Pasca ledakan, Gunung Krakatau hilang di gelam laut, menyisakan tiga gugus pulau kecil: Sertung, Panjang dan (tertinggi serta terbesar) pulau Rakata. Tapi aktivitas vulkanik ternyata tak berhenti. Tahun 1927 atau 44 tahun setelah letusan besar itu, para nelayan yang biasa memancing melaporkan melihat pulau timbul di sekitar situ. Tanggal 12-13 Mei 1929, seorang fotografer memotret temuan itu. 

Foto yang kini jadi koleksi Troppen Museum di Belanda segera menyebar dan jadi perhatian dunia Kaldera purba itu tak benar-benar hilang. Dari bawah laut muncul gunung api baru, Anak Krakatau. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 0.5 meter per bulan. 

Tiap tahun ia jadi lebih tinggi sekitar 6 meter dan lebih lebar 12 meter. Penambahan tinggi dan lebarnya disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 m-dpl, sementara induknya, Gunung Krakatau, saat meletus tingginya 813 m-dpl.

Apa yang terjadi di masa lalu memang menakutkan. Tapi realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatra yang aneh, mengisyaratkan bahwa apa yang dulu terjadi suatu ketika bukan tak mungkin terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. 

Beberapa ahli geologi memprediksi letusan akan terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 yang menghadirkan musibah tsunami di Aceh dan sekitarnya, juga tidak bisa diabaikan.

Di pulau gunung api Anak Krakatau itu beberapa waktu lalu, saya dan istri saya, Resti memang sengaja singgah ke kawasan kepulauan vulkanik aktif di Selat Sunda, cagar biosfer dengan kawah berapi paling aktif dan paling dipantau oleh para ilmuwan dunia. 

Sensasi hujan batu salah satu aktivitas yang terjadi. Karena keunikannya, UNESCO – Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Dunia menetapkan kawasan Kepulauan Krakatau di Selat Sunda sebagai cagar biosfir warisan dunia.

Banyak ilmuwan dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu mendapat izin dari otoritas setempat, untuk datang berkunjung ke situ. Dalam skala terbatas, Cagar Alam Krakatau juga membuka diri sebagai ajang wisata. 

Bagaimana cara mencapainya ? Caranya? urus perizinan pada pihak terkait, dan penuhi aturan SIMAKSI. Siapkan sendiri moda transportasi dan akomodasi, termasuk juga kebutuhan makan-minum selama perjalanan.

Dengan memenuhi dan mematuhi semua kewajiban awal itu, saya, Resti dan beberapa teman backpackers menggelar Trip to The Lip of Krakatau. Banyak jalan ke situ, dan kami memilih yang paling aman dan murah, walau waktu tempuh jadi lebih lama dan jauh. Tak mengapa, sebab dengan pilihan ini, kami justru jadi bisa menikmati tamasya saujana lainnya di sepanjang perjalanan

Dari rumah kami bermobil minibus  ke Pelabuhan Merak di pesisir barat Banten, menyeberang menggunakan jasa ferry ke Pelabuhan Bakauhuni, lalu melanjutkan perjalanan darat ke sebuah pelabuhan rakyat di pesisir selatan Lampung

Minibus yang kami sewa kembali ke pos perusahaan mereka di Bandarlampung, untuk kelak, di hari yang sudah kami sepakati, kembali menjemput kami di pelabuhan rakyat ini, untuk memulangkan kami ke titik rendevouz di Jakarta.

Kapal kayu berkapasitas sekitar 30 penumpang, yang kami sewa jauh-jauh hari, sudah menunggu di dermaga pelabuhan rakyat di kawasan Lampung. usai lunch, menikmati sajian ala prasmamam yang sebelumnya juga sudah kami pesan pada pemilik resto di situ, kami berlayar sekitar dua jam. 

Tak langsung ke sasaran, melainkan singgah dulu ke Pulau Sebesi yang berdampingan dengan Pulau Sebuku. Kami menginap semalam di sebuah homestay yang dikelola koperasi desa setempat. Pilihan menginap agar bisa menikmati tamasya sekitar kampung nelayan yang sepi dan bersih, pantai-pantai landau berpasir.

Disini juga kami bisa melihat  ‘wasata’ yaitu berburu babi hutan dan rusa dengan tumbak dan parang, dilakukan secara berkala oleh masyarakat setempat serta bantuan anjing kampung yang difungsikan sebagai pelacak sasaran. 

Esoknya usai sarapan, panggang tengiri dengan sambal tung kedire (tomat muda), kami berlayar sekitar dua jam menuju sasaran, Kepulauan Krakatau. Ya, Pulau (gunung api) Anak Krakatau tak berdiri sendiri tapi tiga pulau yang sudah saya sebut tadi.

Letusan Gunung Krakatau 1883 menyisakan sedikitnya tiga  kepingan gunung yang membentuk pulau saling terpisah, yakni Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata yang masih terus berasap. Ditambah kemunculan pulau baru di tahun 1927, yakni Pulau (gunung api) Anak Krakatau, maka kelompok pulau-pulau di Selat Sunda ini lantas disebut sebagai Kepulauan Krakatau. 

Tak ada fasilitas akomodasi di Pulau Anak Krakatau. Berkemah juga tidak disarankan. Itu pula kosong. Tak ada sumber air tawar di hutannya. Berkunjung ke Pulau Anak Krakatau idealnya harus dilakukan dengan konsep pulang hari, dan tiap pengunjung harus siap dengan bekal pribadi.

Semua barang yang tak perlu ditinggal di penginapan di Pulau Sebesi. Saya dan resti cuma bercelana ngatung selutut, mengenakan T-shirt dan topi rimba. Resti memilih bersandal Spartan, dan saya tetap bersepatu gunung yang menurut saya lebih save untuk untuk menjelajahi berbagai medan.

Kami juga membawa dry-bag cangklong. Isinya: obat-obat pribadi dank rim matahari, pakaian renang dan kacamata selam kalau-kalau ada kesempatan snorkeling, kamera, jas-hujan, tongkat-lipat, pisau lipat, roti dan kue-kue kering. 

Tak lupa, kami juga membawa cukup air minum, plus payung lipat yang pasti berguna bukan cuma untuk menghindari terik matahari, tapi juga untuk penapis debu dan kerikil yang yang berhamburan ke langit tiap kali Anak Krakatau batuk. 

Dengan perlengkapan itu kami mendarat di bagian pasir pantai yang landai, dan mendaki menuju bibir Anak Krakatau. Pengalaman langka jauh sebelum virus Covid-19 merambah dunia ini menjadi pengalaman berharga yang tidak terlupakan. Apalagi tidak setiap orang bisa menjangkaunya ke sana. 

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih nikmat di negeri sendiri” begitu kata pepatah. Alhamdulillah, saya dan Resti pernah mengalami nikmatnya sensasi “hujan batu di negeri sendiri” saat trip to the lip of Anak Krakatau.

Mengubah Episode Krisis COVID-19, Menjadi Peluang

this formate

PERIHAL pertama yang harus kita lakukan adalah merubah mindset, mulai berpikir dan mengakui terlebih dahulu, bahwa dunia akan sangat berbeda dari dunia sebelumnya, — setelah krisis COVID-19 berlalu. Serba digital, mulai dari kebersihan dan sanitasi, panduan informasi atau teminologinya compendium,  sampai ke transaksi bisnis mikro.

Bisnis travel & tourism – perjalanan dan pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang terpuruk akibat krisis Corona saat ini. Mari kita pastikan bisnis travel & tourism ini akan terus berlanjut, baik  untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Tertunya kita paham kalau tidak ada tourism  tanpa travel. Pada dua kuartal di tahun 2020 ini, secara bertahap sampai mencapai tingkat global, perjalanan dan pergerakan manusia berhenti total akibat Coronavirus.

Tantangan untuk sektor bisnis  perjalanan dan pariwisata adalah bagaimana berkontribusi dan memimpin transformasi –seluruh masyarakat– memasuki dan menjalani era ekonomi baru, era pasca Coronavirus.

Pertanyaan saya adalah, bagaimana kemudian kita bisa mendapatkan dana untuk penyelamatan bisnis dan revitalisasi perusahaan?

Perusahaanyang dimaksud disini, industri perjalanan dan pariwisata, termasuk maskapai penerbangan, perusahaan pelayaran, agen perjalanan, dan operator tur juga perhotelan.

Kesehatan ekonomi — secara menyeluruh — satu-satunya cara bagi sektor travel & tourism untuk tumbuh dan mendapatkan manfaat. Suatu tantangan yang tidak hanya mampu membawa kita ke pemulihan yang sehat, tetapi juga memindahkan kita ke dunia yang berbeda. Dunia yang lebih maju dan makmur, dunia yang lebih baik.

Krisis COVID-19 memiliki dua fase berbeda;

  1. Fase  #DiRumahAja / Karantina Mandiri: Mengurung dan menahan diri untuk menjaga diri sendiri dan orang lain supaya tetap sehat dan hidup.  Tantangan berat dari segi  kesehatan massa yang memberi dampak langsung saat ini.
  2. Fase pemulihan: Persiapan yang strategis dan penuh perhitungan untuk mengatasi dan  harus dapat menjamin dampak serius dari krisis ekonomi, sosial dan lapangan pekerjaan.

Menurut saya, kita sekarang harus mulai merencanakan dan mempersiapkan fase dua dan biayanya dengan memperhitungan keterlibatan dan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Mengingat kerusakan ekonomi besar-besaran terjadi pada fase #DiRumahAja, dampaknya sudah bisa dipastikan akan mempengaruhi pencapaian pada fase pemulihan. Masa yang diperhitungkan mulai dari status under-control diumumkan.

Kita semua tentunya berharap, sementara kita bekerja dengan status WFH – Work From Home, kita harus tetap berprestasi di luar lingkup kerja dalam kondisi normal,  saling berbagi wawasan positif  akan sangat membantu menguatkan dan meyakinkan secara mental juga pemikiran, bahwa kita masih punya team-work dalam perjuangan pada fase #DiRumahAja saat ini.

Mengacu pada fase #DiRumahAja, dampak negatifnya, kita dalam posisi sedang limbung, bingung menghadapi dan mengatasi permasalahan yang sedang berlangsung. Buat saya pribadi kita perlu menyoroti

  • Kondisi finansiil atau keuangan perusahaan
  • Kondisi ketidakpastian akan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang berkesinambungan
  • Strategi taktis dan kreatif dalam hal pemasaran dan penjualan
  • Tindakan proaktif untuk menjemput bola
  • Ber-empati, turun tangan membantu pekerja dan masyarakat terdampak yang sudah semakin kecil kesempatan untuk berpenghasilan.

Mohon ijin, untuk mempersiapkan masuk ke fase recovery, saya mengutip dari dari situs resmi  The World Tourism Organization (UNWTO).

Perlu kita ketahui,  bahwa komite krisis COVID-19 memasang target untuk recovery/ pemulihan travel & tourism,  pariwisata global, melalui tiga cakupan makro antara lain:

  1. Healing for people – Solusi yang berfokus pada langkah-langkah keselamatan, metode sanitasi, deteksi dini, antara lain untuk pariwisata dan travel-related stakeholders – suatu pedoman untuk dipergunakan oleh wisatawan, pekerja pariwisata, operasional perhotelan, agen perjalanan, tour-operator, transportasi, taman hiburan, dll.
  2. Healing for prosperity – Solusi yang difokuskan pada aplikasi digital untuk pariwisata, sharing-economy, circular-economy, manajemen pendapatan, pemulihan permintaan, dan investasi. Di antara bidang-bidang lainnya, akan diterapkan untuk seluruh sektor strategi jangka pendek dan jangka panjang.
  • Healing for destinations – Solusi yang difokuskan pada teknik pemulihan untuk destinasi: komunikasi krisis, manajemen krisis, mobilitas, re-branding destinasi pariwisata, pemulihan travel-confidence, di antara bidang terkait lainnya.

Lalu kapan status under-control ini dideklarasikan oleh pemerintah?

Berapa hari lagi atau berapa bulan lagi?

Semoga bulan Juni 2020 kita bisa memulai pergerakan bisnis lagi mengacu pada Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 13.A tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit akibat Virus Corona di Indonesia yang berlaku selama 91 hari terhitung sejak tanggal 29 Februari – 29 Mei 2020.

Secara ilmu sales and marketing  perhotelan – dimana saya sebagai salah satu praktisi yang terlibat langsung dalam pemulihan bisnis pasca bom Bali pertama – proses pemulihan bisnis ini seperti yang tercantum di contract rate hotel vs biro perjalanan yang berhubungan dengan seasons/ musiman, yaitu Low, Shoulder, High, Peak. Ada empat (4) tahapan untuk bisa kembali kepada hasil bisnis yang sangat positif di tahun 2019 lalu bagi semua sektor bisnis yang terpuruk saat ini

Prediksi saya, dari status under-control di umumkan atau di deklarasikan, bisnis kita memasuki tahap pertama, yaitu Low Season. Jangka waktunya bisa dari enam (6) sampai sembilan (9) bulan.

Mengapa demikian?

Karena pada 6 sampai 9 bulan pertama perjalanan pasca-coronavirus ini adalah jangka waktuuntuk menawarkan harga promosi yang dibuat oleh sektor industri travel & tourism. Mari jangan segan-segan membuat harga promosi yang berlaku untuk jangka waktu terbatas dan penawarannya sampai pada tingkat tidak bisa ditolak lagi oleh potential travelers. Sebenarnya, target market  disini adalah para traveler  yang nekad “first to fly” dan traveling kembali menjadi keharusan bagi golongan kelas ekonomi kuat. Saya menyebutnya The Have and The Rich.

Peluang ini harus kita ciptakan dengan menempatkan dan mempraktekkan secara konsisten  aturan baru dalam hal passenger / guest handling dalam hal Hygiene & Sanitation for passengers’ health concern, modifikasi standar customer service untuk meyakinkan pasar yang lebih luas lagi untuk membangun travel confidence.

Dalam perjalanan bisnis enam (6) bulan pertama, kita bisa bersiap dengan strategi pemasaran memasuki Shoulder Season.

Di tahap 6 sampai 9 bulan kedua ini, kita sudah mulai bisa men-targetbusiness danfrequent traveler. Mereka-mereka yang mempunyai cukup uang untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Biasanya kita menyebut kelompok menengah ke atas.

Selanjutnya ke tahap bisnis yang lebih sehat, High Season pada 6 sampai 9 bulan ke-tiga.

Jadi, pada tahap ke-tiga ini, magnet travel & tourism sudah mulai menarik para pelaku perjalanan yang telah lama harus menahan diri karena dipaksa oleh situasi.  Perjalanan bisnis tentunya sebagian besar akan kembali normal, atau setidaknya mendekati normal kalau diprediksi mengacu pada hasil sukses tahun 2019. Sepertinya di tahap ke-tiga ini a new normal akan kita  dapatkan.

Akhirnya, tahap ke-empat pada 6 sampai 9 bulan setelah High Season selanjutnya si Peak Season ini yang kita tunggu-tunggu. Sudah waktunya sektor industri travel & tourism menikmati kembali volume lalu lintas bisnis massal dengan intensitas tinggi dan bikin orang sibuk seperti pada masa sebelum wabah COVID-19 mendunia.

Harap selalu diingat, bisnis travel & tourism termasuk hospitality industry bisa kembali normal hanya melalui team-work, kebersamaan yang solid dalam menciptakan suatu destinasi yang sehat, aman dan nyaman untuk menembus reputasi bisnis kelas dunia.

Semoga dalam perjalanan pemulihan bisnis pasca wabah COVID-19,  tidak ada lagi bencana kelas dunia. Orang bijak punya kalimat “Always expect the worst”, kita harus belajar dari kondisi saat ini terutama dalam me-manage reserved fund untuk menangani kondisi darurat.

Salam sehat dari saya dan semoga menjadi berkat bagi sesama dan dunia.

 Bali, Senin, 13 April 2020

Jeffrey Wibisono V.

Kemenparekraf Luncurkan  Program #BeliKreatif Lokal Ajak Masyarakat Dukung Pelaku Ekraf

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerjasama dengan enam platform marketplace dan transportasi  pasarkan produk kuliner, fashion, dan kriya,” kata Nia Niscaya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf melakui rilisnya, hari ini.

“Melalui program #BeliKreatifLokal kami bermitra dengan Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blue Bird, Gojek, dan Grab agar pelaku Ekraf  mampu meningkatkan omzet penjualannya dengan optimasi promosi melalui platform e-commerce secara terintegrasi,” jelasnya.

Program ini bertujuan untuk mendukung pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, fashion, dan kriya meningkatkan omzet penjualannya. Untuk itu dia akan melakukan seleksi terbuka dalam program #BeliKreatifLokal yang merupakan penguatan usaha ekonomi kreatif di tengah pandemi Covid-19.

Dia mengajak masyarakat untuk mendukung dan membantu kelangsungan usaha para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) melalui program #BeliKreatifLokal sehingga roda perekonomian di sektor itu terus berjalan

Kemenparekraf sekaligus membuka kesempatan bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk tetap bisa memasarkan produk-produknya di masa pandemi COVID-19 terutama bagi pelaku ekra yang berada di zona merah (Jabodetabek).

Kemenparekraf memberikan tempat bagi 500 pelaku ekraf terpilih yang produknya bisa dipasarkan secara cuma-cuma di marketplace itu, namun, lanjut Nia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pelaku ekraf. 

Persyararannya seperti, lokasi usahanya harus berada di sekitar Jabodetabek, akun sosial media tidak boleh di mode _private_. Pengikut (followers) dari akun pendaftar program ini tidak lebih 10 ribu dan program ini khusus untuk pelaku ekonomi kreatif bidang Kuliner, Fashion, dan Kriya.

Para pelaku ekraf bisa mendaftarkan secara gratis melalui bit.ly/BeliKreatiflokal_form atau untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor whatssap 081382376126 atau melalui email di belikreatiflokal@kemenparekraf.go.id.

Pendaftaran dilakukan secara terbuka dan gratis dari April hingga Mei 2020. Dan masa aktivasi programnya akan berlangsung dari Juni hingga Desember 2020.

 

 

EXPLORE! eps.12: Berkelana Menuju Serambi Mekkah, Aceh

this formate

EXPLORE! by bisniswisata.co.id
eps. 12: Berkelana Menuju Serambi Mekkah, Aceh

Sebagai salah satu provinsi terluar di Indonesia, Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus yang juga merupakan pintu masuknya penyebaran Agama Islam di Indonesia.

Sembari mengunjungi sebuah acara di Kota Bireuen, saya bersama Ivana Maida dan Jufry Ijup menyempatkan diri untuk mencicipi nikmatnya Kopi Aceh di pusat Kota Bireuen yang tak lain pernah ditetapkan sebagai ibukota Republik Indonesia kedua pada tanggal 18 Juni 1948.

“Semakin ditarik, semakin enak” kutip Jufry Ijup yang merupakan warga asli Aceh. dengan membayar sekitar Rp 4000 untuk satu gelas , kami sudah bise menikmati kenikmatan Kopi Tarik Aceh yang mendunia. Biji kopi yang digunakan tidak boleh sembarangan. Karena Aceh merupakan salah satu produsen kopi terbesar di Indonesia, jadi biji kopi yang digunakan tidak perlu mengambil dari daerah atau kota lain.

Khusus untuk Kopi Tarik, biji kopi yang banyak dipakai adalah hasil produksi Ulee Kareng. Bahkan untuk varian kopi lain dari Aceh hampir semua menggunakan biji kopi ini. Alasan utama penggunaan biji kopi Ulee Kareng adalah cita rasa unik yang berbeda dari biji kopi lain. Biji yang sudah menjadi bubuk tidak hanya diseduh dengan air panas melainkan dimasak bersama air sehingga aroma dan rasa yang dihasilkan lebih kuat.

Di penghujung malam, kami kembali sampai di Banda Aceh setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam lamanya. Tak lama kemudian, kami kedatangan seorang vlogger asal jakarta; @inimasabi dan mengajak kami untuk menikmati Mie Racing di Kedai Mie Aceh dan Nasi Goreng Bardi yang terkenal karena kelezatanya, aromanya dan juga kelengkapan bumbu rempah-rempahnya dan sering menjadi buruan wisatawan saat ke kota Banda Aceh.

Untuk harga seporsi mie Aceh akan dikenakan biaya Rp 40.000 . Bisa kalian pilih jenis mie acehnya akan disajikan tanpa kuah, sedikit kuah atau berkuah.

Keesokan harinya, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, sebuah museum dengan bangunan yang modern dan arsitektual yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini merupakan monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan bencana dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3000, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Beranjak dari Museum Tsunami Aceh, kami menghampiri landmark kota Banda Aceh lainnya yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang konon katanya dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ini terletak di pusat kota Banda Aceh dan sempat menjadi bahan pembicaraan publik dunia karena selamat dari peristiwa Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang hanya mendapatkan sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak.

Sebelum beranjak ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk kembali ke Jakarta, kami menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh Khas Aceh di Pusaka Souvenir yang direkomendasi oleh tour guide kami. Tempat ini menawarkan berbagai cinderamata, makanan ringan, dan kopi Khas Aceh yang siap kami bawa pulang sebagai buah tangan untuk teman dan keluarga di Jakarta.

Ubud Village Jazz Festival 2020, Dibatalkan

this formate

BALI, bisniswisata.co.id; GELAR musik berskala internasional Ubud Village Jazz Festival (UVJF) ke-7 tahun 2020, tertunda penyelenggaraannya. Sebagai salah satu event tahunan di Bali, penyelenggara UVJF mengambil sikap untuk membatalkan perhelatan tahun ini yang semula akan diadakan pada tanggal 14,  15 Agustus 2020. Penundaan acara merupakan upaya mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan pandemic COVID-19. Pasalnya pagelaran musik, bisa dipastikan mendapat kunjungan penikmat music dalam jumlah besar.

 “Semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik dan kita bisa memulai lagi tahun depan 2021,” jelas Anom Darsana, festival director dan juga co-founder UVJF.    

“Sebenarnya banyak pihak yang menyarankan agar penundaan tidak melewati tahun 2020,  dengan harapan COVID-19 sudah mereda dalam beberapa bulan ke depan” kata Yuri Mahatma, musisi dan juga co-founder UVJF.

Namun, lanjutnya lebih jauh, penyelenggara masih harus mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, jika kondisi membaik dalam beberapa bulan kedepan, tetap memerlukan waktu untuk masa recovery Dalam periode ini, semua orang akan berhati-hati, berhemat dan perlahan bangkit dari keterpurukan ekonomi. Kedua, lebih ke alasan moral. “Kami merasa alangkah bijaksana apabila kita semua, ikut prihatin dan empati kepada saudara-saudara kita yang jauh lebih membutuhkan bantuan” tambahnya.

Pandemik COVID-19, mengakibatkan darurat kesehatan di185 negara,  sampai Senin 13 April jam 10.05 waktu Bali sebanyak 1.850.220 jiwa terpapar virus tersebut, 430.455 jiwa dapat disembuhkan setelah menjalani perawat dan 114.215 jiwa tak terselamatkan.

Darurat kesehatan ini memukul telak industri pariwisata Indonesia yang memposisikan dunia piknik ini sebagai penghasil devisa ke dua terbesar setelah migas. Terlebih untuk di Bali. Perekonomian masyarakat Bali bersandar pada kinerja kepariwisataan baik didimensi primer mau pun pendukung. *

Di Amerika, Sumbang Satu Juta “Room Night”

this formate

NEW ORLEANS, bisniswisata.co.id; “KAMI menyumbangkan kualitas layanan Hilton untuk profesional medis yang bekerja dalam keadaan paling menantang, mengorbankan kebutuhan mereka sendiri untuk kebaikan yang lebih besar. Dan juga bagi pekerja EMT selama masa sulit ini,” kata Presiden dan CEO Hilton, Christopher J. Nassetta seperti dikutip cntraveler.com.

Keputusan menutup perbatasan, menutup fasilitas publik dan membatasi gerak masyarakat akibat pandemic COVID-19, menyebabkan jutaan kamar hotel kosong di seluruh Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong manajemen jejaring hotel besar menyerahkan inventarisnya kepada mereka yang paling membutuhkannya: seperti mereka yang bertugas berjam-jam di rumah sakit untuk memerangi virus. Dari petugas cleaning service sampai dengan tenaga medis ahli, serta unit layanan EMT (Teknisi Medis Darurat/Emergency Medical Team).
Hilton Hotels and Resorts, yang portofolionya mencakup 18 merek hotel seperti Waldorf Astoria dan Double Tree by Hilton dengan 971.000 kamar di seluruh dunia, mengumumkan kemitraan dengan American Express minggu ini untuk menyumbangkan satu juta room night jejaring hotel mereka di seluruh negeri untuk menjamu perawat, dokter, dan pekerja EMT sampai akhir Mei.

Marriott, kelompok hotel terbesar di dunia, melalui program Bonvoy menyumbangkan 100.000 malam — nilai hingga $ 10 juta — kepada petugas kesehatan garis depan di kota-kota di seluruh Amerika Serikat, termasuk Kota New York dan New Orleans.  Manajemen juga mendorong pemegang kartu keanggotaan Bonvoy melalui fasilitas Marriott Bonvoy Giving Platform untuk menyumbangkan poin mereka guna mendukung pekerja COVID-19 di seluruh dunia, termasuk World Central Kitchen dan UNICEF.

Tercatat anggota American Hotel and Lodging Association, yang mengelola 15.000 properti di seluruh Amerika Serikat, berkapasitas lebih dari dua juta kamar, telah diidentifikasi untuk menampung pekerja kesehatan dan mengisolasi pasien coronavirus.

“Terlibat aktif dalam situasi darurat kesehatan adalah bagian dari layanan hospitality itu sendiri,” kata Chip Rogers, Presiden dan CEO AHLA.

Di Amerika dan hampir di seluruh destinasi wisata, pengelola industri pariwisata harus merumahkan dan atau mengurangi jumlah staf, akibat pandemi COVID-19. Beberapa telah menyiapkan halaman GoFundMe untuk membantu karyawan mereka tetap bertahan.*