SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mendesak negara-negara Asia-Pasifik untuk mengambil tindakan segera dan berikan dukungan keuangan kepada industri penerbangan mereka yang terkena dampak krisis COVID-19.
Negara-negara besar Asia-Pasifik dapat melihat permintaan penumpang pada tahun 2020 berkurang antara 34% hingga 44%. Ini didasarkan pada skenario di mana pembatasan perjalanan dicabut setelah 3 bulan, diikuti oleh pemulihan bertahap.
Penurunan penumpang di Kamboja (-34%), Vietnam (-34%) dan Filipina akan berada di ujung bawah kisaran (-36%), sementara Thailand (-40%), Pakistan (-40%), Republik Korea ( -40%) dan Sri Lanka yang paling tinggi terdampak hingga (-44%).
“Berdasarkan skenario di mana pembatasan perjalanan yang parah berlangsung selama tiga bulan, wilayah Asia-Pasifik secara keseluruhan akan melihat permintaan penumpang berkurang 37% tahun ini, dengan hilangnya pendapatan US $ 88 miliar,” kata Conrad Clifford, Wakil Presiden Regional IATA, Asia-Pasifik.
Sementara masing-masing negara akan melihat dampak yang berbeda pada permintaan penumpang, tapi hasilnya adalah sama ujung-ujungnya maskapai penerbangan harus berjuang untuk bertahan hidup.
Perusahaan penerbangan menghadapi krisis likuiditas dan membutuhkan bantuan keuangan segera untuk mempertahankan bisnis mereka melalui situasi yang tidak stabil ini, tambah Conrad Clifford.
Dalam analisis terbarunya, IATA melihat maskapai akan membukukan kerugian bersih US $ 39 miliar selama kuartal kedua yang berakhir 30 Juni 2020. Hal itu masih diberatkan lagi oleh kewajiban US $ 35 miliar untuk potensi pengembalian uang tiket. Tanpa bantuan dari pemerintah masing-masing, posisi keuangan industri penerbangan dapat memburuk hingga US $ 61 miliar pada kuartal kedua
Australia, Selandia Baru, dan Singapura telah mengumumkan paket tindakan besar untuk mendukung industri penerbangan mereka. “Tetapi yang lain di wilayah ini, termasuk India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Republik Korea, Sri Lanka dan Thailand, belum mengambil tindakan tegas dan efektif.
Pemerintah perlu memastikan bahwa maskapai penerbangan memiliki arus kas yang cukup untuk mengatasinya selama periode sukit dampak dari wabah global Covid-19 ini dengan memberikan dukungan keuangan langsung, memfasilitasi pinjaman, jaminan pinjaman, dan dukungan untuk pasar obligasi korporasi.
Pajak, retribusi, dan biaya bandara dan aeronautika untuk industri juga harus dibebaskan sepenuhnya atau sebagian. Sangat penting bahwa negara-negara ini masih memiliki sektor penerbangan yang layak untuk mendukung pemulihan ekonomi, menghubungkan pusat-pusat manufaktur dan mendukung pariwisata ketika krisis berakhir.
” Jadi pemerintah di kawasan Asia Pasifik ini harus segera bertindak , sekarang juga sebelum terlambat, ”kata Clifford.
Hotel Ritz Carlton di Chengdu, China ( Foto: Google/ booking.com)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Hunian harian hotel di China daratan mencapai tingkat absolut 31,8% pada 28 Maret, naik dari okupansi 7,4% selama minggu pertama Februari, menurut data awal dari lembaga riset STR.
Negara yang pertama menjadi episentrum wabah pandemi global Covid-19 ini kegiatan ekonominya mulai bangkit. Selain itu, tingkat hunian pembukaan diantaranya naik signifikan di pasar-pasar utama di seluruh wilayah negri itu.
“Kami melihat tunas hijau dalam angka hunian hotel, tetapi ini hanyalah tanda awal pemulihan yang kemungkinan akan berkembang secara lambat,” kata Christine Liu, manajer regional STR untuk Asia Utara.
Beberapa permintaan kamar hotel berasal dari perusahaan, terutama di provinsi yang sama untuk pertemuan skala kecil. Selain itu, menggeliatnya bisnis hotel datangnya dari para pelancong yang dikarantina setelah kembali ke tanah airnya dari negara lain untuk bekerja.
” Secara keseluruhan, kami melihat bisnis hiburan yang terbatas di pusat kota tetapi sedikit lebih banyak pemulihan di segmen itu di pinggiran kota sekitarnya. ” ungkapnya.
Di Beijing, tingkat hunian hotel sekitar 10% pada minggu pertama Maret, tetapi naik hingga 21,6% pada 28 Maret. Hotel di Shanghai yang okupansinya 11,0% pada awal Maret juga naik jadi 28,6%.
Berdasarkan data pada 28 Maret itu, di antara kota-kota yang ditentukan oleh STR untuk Tiongkok Daratan, tingkat hunian absolut tertinggi telah terlihat di Xi’an mencapai 35,9% dan Chengdu okupansi hotelnya capai 35,6%.
“Xi menangkap bisnis dari Korea Selatan karena pabrik manufaktur Samsung di zona teknologi dimana ekspatriat memindahkan keluarga mereka ke Xi’an ketika wabah melanda Korea Selatan. Selain itu, Xi’an adalah salah satu tujuan alternatif untuk penerbangan masuk yang dijadwalkan mendarat di Beijing.” kata Liu.
Tapi Garis tren hunian di Wuhan masih naik-turun ketimbang dengan kota-kota lain. Tingkat hunian di kota ini turun hingga 7,5% pada 23 Januari, melonjak ke level tertinggi 72,7% pada 7 Maret, tapi sejak itu cenderung turun ke 62,4% pada 28 Maret.
“Wuhan melihat masuknya permintaan hotel ketika pekerja medis berdatangan, tetapi permintaan kamar telah berkurang karena situasi di Wuhan menjadi lebih stabil,” kata Liu.
STR mendapati sebanyak 87% hotel yang dijadikan sampelnya di China Daratan sekarang sudah buka beroperasi lagi setelah ditutup selama dua bulan terakhir.
STR menyediakan pembandingan data premium, analitik, dan wawasan pasar untuk sektor perhotelan global. Didirikan pada tahun 1985, STR mempertahankan keberadaannya di 15 negara dengan kantor pusat di Hendersonville, Tennessee, AS. Kantor pusat internasional di London, dan kantor pusat Asia Pasifik di Singapura.
Resti berpose dekat semburan pasir panas yang bisa membuat payung jadi bolong ( Foto- foto: Heryus Saputro Samhudi)
JAKARTA,bisniswisata.co.id: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi lagi pada Jumat sore dan Sabtu dinihari tanggal 11 April 2020, mengejutkan masyarakat yang tengah menerapkan social dan physical distancing terkait pandemi virus Covid-19 yang melanda dunia.
Kontan saya jadi ingat kunjungan ke bibir kawah Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu. Udara cerah saat saya menggandeng Resti – istri saya, mendaki ke pucuk pulau vulkanik dan menikmati bibir kawah Gunung Anak Krakatau yang populer seantero dunia itu.
Dengan ketinggian tak lebih dari 200 m-dpl (meter di atas permukaan laut), pulau gunung api itu lebih mirip sebuah bukit. Namun begitu, butuh ketrampilan dan ketabahan tersendiri untuk bisa mencapai bibir kawah yang menggelegak di pucuknya.
Susah payah kami melangkah mendaki kemiringan tebing pasir, yang tiap ditapaki maka tapak kaki kami akan balik melorot ke bawah, karena gembur dan tebalnya pasir.
Tak ada kehijauan sama sekali yang bisa dijadikan pegangan untuk merambat ke atas. Sementara, sesekali tanah pasir yang kami pijak terasa bergetar, pertanda kawah di pucuk pulau tengah memuntahkan isi perutnya ke langit, menghasilkan debu pasir, kerikil bahkan batu-batu seukuran kepalan tangan yang berjatuhan ke sekitar kami.
Beberapa payung nylon yang digunakan teman sebagai alat tadah teduh, tampak bolong-bolong oleh jatuhan pasir panas yang cukup melepuhkan bila terkena kulit.
Jadi ingat saat tadi kami baru mendarat di pesisir pulau vulkanik Anak Krakatau yang kehadirannya baru diketahui para ahli di tahun 1927. Ada bagian pesisir pulau ini yang sudah dihiasi oleh kehijauan hutan pionir, berjenis pohon jenis baringtonia dan pohon kayu lainnya bertumbuhan menjadi hutan.
Uniknya, banyak pohon besar yang bagian cabangnya semplak dan sempal. Daun di bagian cabang tersebut kering terbakar, akibat kejatuhan bongkah lahar panas yang muncrat dari kepundan Gunung Anak Krakatau yang erupsi dari waktu ke waktu.
Trip to the top of montain yang sungguh mendebarkan sekaligus menjadi catatan prestasi tersendiri bagi kami. Banyak orang berduit dan berpengalaman berwisata ke berbagai tempat indah. Tapi (maaf) belum tentu punya kesempatan seperti ini: menjejakkan kaki di bibir kawah gunung berapi terpopuler dunia Subhanallah…!
Batuwara, Sang Purba
Apa dan siapa Gunung Anak Krakatau yang gerak-geriknya tak lepas dari teropong ilmiah para ahli? Melihat struktur dan tipe lingkungan sekitar, para ahli memperkirakan bahwa di masa purba di kawasan Selat Sunda terdapat gunung amat besar, yang akhirnya meletus dahsyat.
Letusan itu bukan cuma menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) bernama Gunung Krakatau, tapi juga membelah pulau dimana gunung purba itu berada, menjadi dua pulau Jawa dan Andalas atau Sumatera.
Seberkas catatan menyebut, gunung purba tersebut meletus pada tahun 416 Masehi. Para ahli juga mengaitkan letusan gunung purba dan akibat yang ditimbulkannya ini dengan sebentuk pupuh sebagaimana tertuang dalam Kitab Pedalangan Pustaka Raja Purwa:
“… ada suara guntur menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Lalu bumi menggoncang menakutkan. Petir dan kilat menyambar-nyambar. Lalu datang badai angin dan hujan. Mengerikan. Dunia gelap total. Banjir besar datang dari Gunung Batuwara, mengalir ke timur ke arah Gunung Kamula dan menenggelamkannya. Ketika air surut, pulau Jawa terpisah jadi dua, menciptakan pulau Sumatra…”
Pakar geologi Berend George Escher, berpendapat bahwa Gunung Batuwara sebagaimana disebut dalam teks Pustaka Raja Purwa, itu tak lain adalah Gunung Krakatau Purba dengan tinggi 2.000 m-dpl dan lingkar pantai mencapai 11 Kilometer.
Ledakan Gunung Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
Letusan Gunung Krakatau Purba disinyalir bertanggung jawab atas terjadinya tahun kegelapan di muka bumi. Wabah sampar terjadi karena suhu bumi menurun. Penyakit ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.
Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arab Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki.
Berperahu motor menuju Anak Krakatau di kejauhan
Berita dunia
Ledakan dahsyat di abad ke-4 Masehi itu menyebabkan tiga per empat tubuh Gunung Krakatau Purba hancur, menyisakan sebuah kaldera besar di Selat Sunda, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
Kaldera besar tersebut lantas dikenal masyarakat sekitar sebagai Pulau Rakata atau Pulau Krakatau. Toponimi “rakata” atau “Krakatau” diambil dari keberadaan sejenis kepiting batu, yang hingga kini banyak hidup di kawasan tersebut.
Pulau Rakata atau Krakatau tumbuh sesuai dorongan vulkanik dari perut bumi, menghadirkan kawah api dan membentuk kerucut Gunung Krakatau. Belakangan pada papar kaldera tersebut juga muncul dua gunung api lain, yakni Gunung Danan dan Gunung Perbuatan.
Keduanya menyatu bareng kerucut Gunung Krakatau yang muncul lebih dulu, menghasilkan sebuah pulau gunung api yang awam menyebutnya sebagai Pulau Gunung Krakatau.
Gunung yang pernah meletus di tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu di tahun 1880, Gunung Perbuwatan juga aktif mengeluarkan lava, tapi tidak sampai meletus.
Setelah itu, Gunung Krakatau seperti tidur panjang selama 200 tahun, tanpa aktivitas vulkanis yang berarti, sampai kemudian tanggal 20 Mei 1883, para ahli mencatat terjadinya ledakan kecil yang ditengarai sebagai pertanda bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda.
Benar saja, ledakan-ledakan kecil terjadi susul-menyusul, dan puncaknya pada 26-27 Agustus 1883. Gunung Krakatau meledak mengguncang dunia. Saat itu peradaban modern sedang tumbuh mengisi kehidupan masyarakat dunia.
Dimulai dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt dan lahirnyaRevolusi Perancis, berbagai perangkat baru juga ditemukan. Jaringan telegraf bawah laut misalnya, sudah ditemukan dan dibentang dari daratan Eropa ataupun Amerika ke di seberang samudera, termasuk kawasan Nusantara yang sedang dikuasai Belanda.
Komunikasi antar manusia jadi lebih cepat tinimbang jasa pos burung merpati. Juga saat Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus. Sebentar saja beritanya mendunia.
Dari Hawaii hingga Arab
Modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan saat itu menghasilkan gambaran cukup jelas, berkait ledakan Krakatau. Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis di majalah National Geographic misalnya, mencatat bahwa pada hari Senin, 27 Agustus 1883, pukul 10:20, terjadi ledakan paling besar, dengan suara paling keras.
Peristiwa vulkanik itu disebutnya sebagai yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suaranya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan, bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.
Berkas lain juga mengungkap, letusan Gunung Krakatau terdengar sampai di Alice Springs, Australia, dan Pulau Rodrigues dekat Afrika yang berjarak 4.653 kilometer dari Selat Sunda. Daya ledaknya (tulis peneliti modern) diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan paling hebat yang tercatat dalam sejarah. Para peneliti di University of North Dakota menambahkan bahwa ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern.
Dibandingkan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung berapi Taupo di Selandia Baru dan Gunung Katmai di Alaska, sebenarnya ledakan Krakatau masih kalah hebat, Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sedikit.
Sementara saat Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Bisa dibilang, teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat, menjadikan letusan Krakatau dicatat sebagai berdampak paling besar terhadap kehidupan manusia.
Gegara letusan Krakatau, ikllim global saat itu mengalami perobahan. Dunia gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatra bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Letusan itu juga menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata (Krakatau) di mana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter.
Tsunami (gelombang laut) naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang ada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, dimana terjadi gempa tektonik dan tsunami Aceh, tsunami tahun 1883 merupakan yang terdahsyar di kawasan Samudera Hindia. Tercatat 36.417 jiwa melayang akibat awan panas dan tsunami yang ditimbulkan ledakan tersebut.
Korban tewas itu terutama berasal dari 295 kampung kawasan pantai, mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Ujung Kulon dan Pulau Panaitan, serta Sumatra Bagian selatan.
Di Ujungkulon, gelombang tsunami masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. ( bersambung).
Guide tengah memandu turis, pekerja di sektor Parekraf ini diusulkan sebagai penerma Kartu Pra Kerja dampak wabah Covid-19 ( foto: Kemenparekraf).
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendata sebanyak 189.586 tenaga kerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dari 34 provinsi telah diusulkan sebagai penerima Kartu Pra Kerja.
“Mereka yang terdampak wabah pandemi COVID-19 akan menerima bantuan melalui program kartu pra kerja yang dibuka pendaftarannya pada Sabtu (11/4/2020). Data yang masuk ke Kemenparekraf tersebut diperoleh dari asosiasi industri dan profesi pariwisata dan ekonomi kreatif serta dinas-dinas pariwisata,” kata Menparekraf Whisnutama Kusubandio, hari ini.
Nenurut dia, data sudah melalui proses data cleansing dan sudah dilaporkan ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk dijadikan basis data penerima kartu pra kerja.
“Data tersebut merupakan data yang berasal dari pekerja formal, tenaga kerja informal, PHK, dan pekerja yang dirumahkan. Selain itu juga pelaku seni, federasi musisi Indonesia, persatuan karyawan film dan televisi, serta pelaku ekonomi kreatif lainnya,” katanya.
Wishnutama juga mengimbau agar dinas pariwisata di daerah bisa membantu tenaga kerja yang kesulitan mendaftar di daerahnya masing-masing agar para pelaku parekraf bisa menerima insentif sehingga dapat meringankan beban dan biaya operasional, katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara resmi membuka membuka Pendaftaran Program Kartu Prakerja melalui situs resmi www.prakerja.go.id. Program Kartu Prakerja merupakan program bantuan biaya pelatihan dan insentif bagi para pekerja, pencari kerja, serta pelaku usaha mikro dan kecil yang kehilangan pekerjaan dan/atau mengalami penurunan daya beli akibat pandemi COVID-19.
“Kartu Prakerja diharapkan mampu meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan daya saing angkatan kerja, serta dapat meringankan biaya hidup akibat pandemi COVID-19” katanya.
Syarat peserta program Kartu Prakerja adalah Warga Negara Indonesia (WNI) berusia di atas 18 tahun dan tidak sedang mengikuti pendidikan formal. Pendaftarannya terdiri dari 3 (tiga) tahap. Pertama, calon peserta atau pendaftar membuat akun Prakerja di situs www.prakerja.go.id.
Kemudian pendaftar memasukkan biodata, seperti nama, tempat/tanggal lahir, Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan sebagainya. Data akan diverifikasi ke Kementerian/Lembaga (K/L) terkait.
Kedua, pendaftar mengikuti tes motivasi dan kemampuan dasar selama ±15 menit. Ketiga, pendaftar bergabung di gelombang pendaftaran yang sedang dibuka. Setiap minggunya, mulai kemarin (11 April 2020) sampai minggu ke-4 November 2020, akan dibuka kuota untuk sekitar 164.000 peserta.
Pendaftaran dapat dilakukan setiap saat, 24 jam 7 hari dalam seminggu. Untuk gelombang pertama, pendaftaran dibuka sampai Kamis (16 April 2020), pukul 16.00 WIB. Pengumuman peserta yang lolos untuk gelombang pertama akan diumumkan pada Jumat, 17 April 2020. Jika belum berhasil diterima sebagai peserta pada gelombang pertama, pendaftar dapat bergabung di gelombang selanjutnya.
”Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mendaftar maka manajemen pelaksana kartu prakerja menyediakan layanan masyarakat atau call center di 02125541246. Tiap Senin sampai Jumat 08.00-19.00 WIB. Bisa juga di email di info@prakerja.go.id,” katanya.
Sampai akhir 2020, direncanakan akan ada lebih dari 30 gelombang pendaftaran. Dan, total anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk tahun ini adalah sebesar Rp20 triliun.
Setiap penerima Kartu Prakerja akan mendapatkan paket manfaat total senilai Rp3.550.000, yang terdiri dari bantuan biaya pelatihan sebesar Rp1.000.000 yang dapat digunakan untuk membeli aneka pelatihan di platform digital mitra. Lalu untuk insentif akan ditransfer ke rekening bank atau e-wallet LinkAja, OVO, atau GoPay milik peserta.
Insentif ini terdiri dari dua bagian. Pertama, insentif pasca penuntasan pelatihan pertama sebesar Rp600.000 perbulan selama 4 bulan (Rp2.400.000). Kedua, Insentif pasca pengisian survei evaluasi sebesar Rp50.000 persurvei untuk 3 kali survei (Rp150.000).
Sebanyak 189.000 pekerja tersebut diusulkan oleh Kemenparekraf untuk mendapatkan manfaat Kartu Pra Kerja. Di samping itu, masyarakat dan para pelaku parekraf diimbau untuk mendaftar secara mandiri melalui platform www.prakerja.go.id.
JAKARTA, bisniswisata.co.id;
MENDUKUNG upaya pencegahan
penyebaran COVID-19, PT Angkasa Pura II
(Persero) melakukan penyesuaian jam operasional di 12 bandara. Bandara-bandara
itu adalah Kertajati (Majalengka), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir
(Pangkalpinang), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh),
Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Sultan
Mahmud Badaruddin II (Palembang), Radin Inten II (Lampung), Supadio
(Pontianak), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) dan Banyuwangi,
“Jam operasional di 12
bandara dipersingkat, bandara juga tetap dibuka jika ada pesawat yang terpaksa
mendarat di luar jam operasional bandara. Juga siaga jika ada penerbangan
terkait medis dan penerbangan logistik khususnya yang mengangkut sampel infection substance COVID-19,” jelas President Director PT Angkasa Pura II
Muhammad Awaluddin
Kebijakan ini telah
mendapat persetujuan dari regulator dengan diterbitkannya Notice to Airmen
terkait jam operasional bagi masing-masing bandara. Lebih lanjut, Muhammad
Awaluddin mengatakan dipersingkatnya jam operasional dapat menjaga aspek
kesehatan traveler dan personel bandara.
“Pada masa penuh tantangan
akibat mewabahnya COVID-19 ini yang paling utama adalah kesehatan dan
keselamatan traveler serta personel bandara. Kami sudah melakukan penyesuaian
pola operasional dan penyesuian jam operasional sehingga memungkinkan
diterapkannya konsep work from home
dan physical distancing bagi personel
operasional di bandara,” jelas Muhammad Awaluddin.
Berikut jam operasional
terbaru di 12 bandara yang diterapkan pada periode tertentu:
1. Sultan Mahmud Badaruddin
II (Palembang)
Sesuai Notice to Airmen
(NOTAM) B0859/20, jam operasional menjadi 06.00-18.00 WIB pada 11-30 April
2020, dari sebelumnya 05.00-24.00 WIB
2. Radin Inten II (Lampung)
Sesuai NOTAM CO413/20, jam
operasional menjadi 10.00-20.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya
06.00-21.00 WIB
3. Supadio (Pontianak)
Sesuai NOTAM B0861/20, jam
operasional menjadi 06.00-18.30 WIB pada 10 April – 29 Mei 2020, dari
sebelumnya 06.00-24.00 WIB
4. Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru)
Sesuai NOTAM B0885/20, jam
operasional menjadi 06.00-16.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya
06.00-24.00 WIB
5. Banyuwangi
Sesuai Notam B0865/20, jam
operasional menjadi 06.00-16.00 WIB pada 10-30 April 2020, dari sebelumnya
06.00-18.00 WIB
6. Kertajati (Majalengka)
Sesuai Notice to Airmen
(NOTAM) A0913/20, jam operasional menjadi 06.00-17.00 WIB pada 2 April-30 April
2020, dari sebelumnya 06.00-19.00 WIB
7. Sultan Thaha (Jambi)
Sesuai NOTAM C0409/20, jam
operasional menjadi 06.00-19.00 WIB pada 8-30 April 2020 dari sebelumnya
06.00-21.00 WIB.
8. Depati Amir
(Pangkalpinang)
Sesuai NOTAM B0846/20, jam
operasional menjadi 08.00-17.00 WIB pada 8-21 April 2020 dari sebelumnya
06.00-21.00 WIB
9. Fatmawati Soekarno
(Bengkulu)
Sesuai NOTAM C0408/20, jam
operasional menjadi 07.00-17.00 WIB pada 7-30 April 2020 dari sebelumnya
06.00-21.00 WIB
10. Sultan Iskandar Muda
(Aceh)
Sesuai NOTAM A0937, jam
operasional menjadi 08.00-18.00 WIB pada 5-15 April 2020, dari sebelumnya
06.00-22.00 WIB
11. Tjilik Riwut
(Palangkaraya)
Sesuai NOTAM C0410/20, jam
operasional menjadi 05.00-18.00 WIB pada 10 April – 11 Mei 2020 dari sebelumnya
05.00-20.30 WIB
12. Raja Haji Fisabilillah
(Tanjung Pinang)
Sesuai Notam B0854/20, jam
operasional menjadi 07.00-18.00 WIB pada 9-30 April 2020 dari sebelumnya
07.00-19.00 WIB
Sementara tujuh (7 ) bandara PT Angkasa Pura II lainnya masih beroperasi dengan jam operasional normal dengan melihat perkembangan terbaru. “Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma dan Kualanamu masih beroperasi 24 jam,” lanjut Muhammad Awaluddin.
PT Angkasa Pura II juga melakukan penyesuaian pola operasional di bandara-bandara yang dikelola dari normal operation, slow down 0peration, minimum operation dan terminate operation. Penetapan pola operasional, dilakukan dengan mempertimbangkan tren pergerakan penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan di masing-masing bandara. Maka setiap bandara dapat melakukan optimalisasi terhadap fasilitas dan personel di tengah pandemi global COVID-19.
Berawal dari kota Wuhan China, kini wabah Covid-19 telah mengglobal, merata di seluruh wilayah benua, tak terkecuali di negri kita dengan korban yang terus bertambah di semua provinsi.
Berbagai macam spekulasi tentang penyebab dan dampaknya juga turut mewarnai media. Berbagai tanggapan pakar hingga kebijakan penguasa dengan segala pro kontranya terus mengemuka.
Masyarakat bingung, cemas, dan bertanya bagaimana kehidupan kami dengan musibah ini ? Sebagai seorang muslim dan muslimah tentu memiliki sikap yang khas terkait musibah ini, pada tataran keimanan, sikap masyarakat maupun bagaimana seharusnya kebijakan penguasa.
Saya beruntung diundang bergabung dalam Forum Tokoh Muslimah Peduli Bangsa yang dimotori Umi Irena Handono ini melalui Zoom cloud meeting, berdiskusi dengan para ibu dengan tema Tuntunan Syariah Menghadapi Wabah.
Peserta yang sebagian besar ibu rumahtangga dari berbagai profesi menyimak uraian nara sumber Dr. Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), pengamat ekonomi, Iffah Ainur Rahmah dan Dedeh Wahidah Ahmad, pengamat kebijakan publik.
Dari peserta, Fatimah misalnya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya menghadapi pandemi global ini. Apalagi jika dirunut pertama kali pemerintah mengumumkan kasus pada 2 Maret 2020 baru ada dua kasus di Depok.
Kini tiba-tiba per10 April 2020 secara nasional sudah menyebar ke 34 provinsi di tanah air dengan jumlah 3.512 kasus, naik sebanyak 219 kasus baru dari hari sebelumnya. Sementara, jumlah pasien meninggal menjadi 306 orang atau bertambah 26 orang. Mereka yang telah dinyatakan sembuh kini berjumlah 282 orang, naik 30 orang dari pengumuman di hari sebelumnya.
” Apa langkah konkrit kita sebagai ibu untuk keluarga dan masyarakat agar bisa ikut mencegah penyebaran wabah ini yang kenaikannya demikian cepat,” tanya Fatimah.
Menariknya dari diskusi ini adalah para pembicara melakukan pendekatan keibuan pula. Apa yang akan dilakukan seorang ibu jika tiba-tiba anaknya sakit dan memerlukan pertolongan rumah sakit dan diagnosa para medis untuk mendapatkan solusi kesembuhan ?.
“Seorang Ibu tidak akan mikir biaya lagi.Kalau dia memiliki cadangan uang yang semula untuk tabungan, maka uangnya itu akan dikeluarkan untuk biaya pengobatan sang anak hingga sembuh,” kata Dedeh, begitu pula jika ibu itu adalah sebuah negara.
Jika ditarik ke unit terkecil yaitu keluarga, Fatimah lebih mudah menerapkan pada anggota keluarganya untuk social & physical distancing ( jaga jarak). Tapi giliran mengedukasi kepada masyarakat memang tidak mudah.
Apalagi dengan data yang kurvanya terus naik, kebijakan yang berubah-ubah dan istilah karantina diri, lockdown hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSPB) yang belum tentu dipahami dan dipatuhi semua orang.
Memang memprihatinkan juga sebagai negara dengan mayoritas penduduknya adalah umat muslim terbesar di dunia, negara justru tidak membuat kebijakan yang mengacu pada syariat Islam yang sudah memiliki solusi dari semua musibah yang pernah terjadi di muka bumi.
Peserta lainnya Sawitri mempertanyakan hal ini pula karena wabah sudah terjadi sejak dulu di jaman para Nabi dan Rasululah masih hidup. Wabah terulang dan terpola dan sekarang melanda seluruh dunia.
” Ada makna dan pelajaran apa yang bisa kita petik dari pandami global ini ?,” tanya Sawitri dengan kalimat sedih dan keprihatinan yang dalam.
Umi Irene Handono membenarkan di jaman Rasululah wabah penyakit yang cepat menular seperti kusta juga sudah terjadi dan memakan banyak korban dan tuntunannya ada pada Hadist riwayat Imam Bukhari. Isinya ” Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”.
Makna hadist itu terbukti bahwa jaga jarak dan karantina diri dianjurkan sejak jaman Rasululah. Tujuan terbesar hukum Islam sebenarnya adalah melindungi manusia dari segala bahaya. “Memprioritaskan keselamatan dan kemaslahatan serta menolak mara bahaya, terlebih terkait dengan keselamatan jiwa raga,” pungkasnya
Di jaman Rasululah juga ada waba’ suatu penyakit yang menimpa banyak orang di suatu daerah tertentu atau sekarang disebut wabah atau epidemi. Jenis penyakitnya dapat berbeda dari jenis penyakit kebanyakan bahkan jenis penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya atau sesudahnya.
Menghadapi pandemi saat ini, Iffah Ainur Rachmah mengingatkan bahwa dalam Islam ada 3 pilar yaitu pilar pertama ketakwaan individu. kedua adalah masyarakat yang peduli dan ketiga adalah Negara yang menerapkan syariat.
Ketiga pilar harus kompak karena jika pemerintah terus menerus membuat kebijakan yang salah dan masyarakat dan individu hanya diam tidak peduli kepada kebijakan salah maka kasus Covid-19 akan terus melambung.
Sebagai individu tidak peduli pada kondisi sesama umat seperti tetangganya yang terpaksa puasa karena tidak bisa membeli makanan maka di kehidupan akhirat akan dimintai pertanggungan jawab pula.
Dalam Islam, musibah adalah takdir dari Allah SWT. Pihak yang bertanggung jawab dalam musibah adalah negara sebagai penguasa/ pemimpin. Oleh karena itu negara bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya
Setiap hari, setiap nyawa melayang akibat Covid-19 ini akan dimintai pertanggungan jawabnya oleh Allah SWT dari para pemimpin pembuat kebijakan. Karena itu kepedulian umat sangat dibutuhkan. Miliki sikap amar ma’ruf nahi munkar yang ditekankan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran dimana tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.
Ajaran Islam merupakan jalan hidup (wayof life) yang senantiasa memberikan ketentraman jiwa bagi seluruh umat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Oleh karena itu Islam bukan hanya untuk Muslim tapi untuk seluruh umat manusia.
” Makanan halal bukan hanya untuk Muslim tapi untuk semua penduduk dunia. Sayangnya di negara kita hukum syariah belum diterapkan kecuali urusan ibadah yang diterapkan oleh individu dan muamalah yang baru diterapkan sebagian masyarakat. Muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia dalam bergaul dengan manusia lainnya ( berinteraksi).” kata Iffah.
Sementara yang harusnya diterapkan negara yaitu uqubat ( sanksi), sistem ekonomi, pemerintahan, sospol dan jihad belum diterapkan sepenuhnya dengan tuntunan syariat. “Jihad dalam Islam artinya berjuang dan berusaha untuk menata masyarakat yang lebih baik dan bermartabat, seperti damai dan saling menghormati, bukan seperti yang digambarkan saat ini,”
Dedeh Wahidah Ahmad mengatakan wabah dan bencana hadir atas izin Allah SWT dan datang berulang-ulang, berpola tapi manusia biasanya tomat alias tobat sesaat. Manusia mencari rezeki dari Allah dan karunia dari-Nya dengan berdagang dan aktivitas lainnya.
Semua itu agar manusia bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan dan mentauhidkan-Nya dalam ibadah, mentaati-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
Namun sifat manusia yang terus melanggar, pemimpin yang tidak amanah, rakyat yang tidak peduli dan tidak disiplin adalah bukti bahwa penghuni bumi ini sudah melakukan hal-hal yang melampaui batas.
“Melalui wabah Covid-19, maka orang-orang yang beriman bisa mengambil hikmahnya bahwa Allah akan menyelamatkan umat Muhammad SAW, untuk restart dab kembali ke ajaran inti,”
Coba renungkan, ujar Dedeh, setiap kali Ramadhan, sebagian dari kita malah berbuka puasa di mall-mall bahkan kehilangan sholat karena berbuka puasa bersama komunitasnya. Dulu kita lebih mementibgkan acara seremonial dan besok diingatkan Allah untuk fokus ke inti puasa, fokus di rumah dan beribadah.
Kita semua menjadi saksi bahwa negara Adi Daya, Adi Kuasa semua takluk pada virus tidak terlihat mata. Sistem kapitalisme, ideologi sekularisme, sifat individu maupun negara yang mengambil keuntungan diatas musibah serta nyawa para korban yang terabaikan akibat salah kebijakan maka pertanggungan jawabnya adalah langsung pada sang Khalik.
Jangan lupa ada sistem Islam untuk menyelesaikannya. Tobat individu, tobat negara bukan hanya mengakui, menyesali kesalahan tapi hijrah ke sistem kepemimpinan yang Islami, tutup Dedeh.
DUBAI, bisniswisata.co.id: PENERBANGAN pesawat Airbus 330-300 AirAsia X Malaysia dengan registrasi 9M-XXJ, menjejak landasan pacu bandara Ngurah Rai, Bali pada Kamis 9 April 2020, pukul 00.15 WITA. Terdapat 1 (satu) orang PMI-ABK yang batal untuk terbang dan saat berita ini diterbitkan, KJRI Dubai sedang mengkonfirmasi alasan pembatalan tersebut dengan pihak terkait.
“Kami tetap memonitor perkembangan PMI-ABK dimaksud untuk memastikan proses pemulangannya, jelas Konsul Jenderal Republik Indonesia di Dubai, Ridwan Hassan dalam surel yang diterima bisniswisata.
KJRI Dubai berkoordinasi dengan KBRI Abu Dhabi dan Pemerintah setempat telah memfasilitasi proses pemulangan (repatriasi) sebanyak 334 orang warga negara Indonesia anak buah kapal (PMI ABK) MSC Bellissima dan MSC Lirica. Proses repatriasi ini berhasil dilaksanakan atas koordinasi erat KJRI Dubai dengan pihak perusahaan, MSC Cruise S.A. di Jenewa, Swiss, serta pihak agensi Sharaf Shipping dan PT. Marinaio Prima Success.
MSC Lirica berlayar dari Khasab (Oman) dan berlabuh di Dubai pada tanggal 11 Maret 2020, sedangkan MSC Bellissima berlayar dari Sir Bani Yas (Abu Dhabi) dan berlabuh pada tanggal 12 Maret 2020 di Pelabuhan Dubai. Kedua kapal pesiar tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran ke destinasi selanjutnya dan harus berhenti di Dubai dikarenakan adanya pandemi COVID-19 yang berimbas pada pemberhentian sementara operasional pelayaran.
Para PMI-ABK tersebut kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat charter Air Asia, yang disediakan oleh pihak perusahaan, MSC Cuise S.A., dengan rute penerbangan Kuala Lumpur–Dubai–Kuala Lumpur–Denpasar. Penerbangan tersebut berangkat dari Bandara Internasional Dubai pada tanggal 8 April 2020 pukul 10.50 waktu setempat, transit di Kuala Lumpur untuk pengisian bahan bakar.
Seluruh PMI-ABK telah menjalani rapid test COVID-19 pada tanggal 2 April 2020 dengan hasil tes negatif COVID-19 dan dinyatakan sehat untuk terbang. Meski demikian, seluruh PMI-ABK tersebut tetap melakukan langkah-langkah pencegahan seperti penggunaan masker, pemeliharaan kesehatan dan kebersihan diri serta menerapkan social distancing.
“Setibanya di Indonesia, kami harap mereka juga menjalani rangkaian screening COVID-19, yang telah ditetapkan secara internasional,” tegas Ridwan Hasan.
Menurut pihak AirAsia Indonesia, setiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, seluruh WNI juga melalui serangkaian prosedur pengecekan kesehatan, termasuk rapid test yang dikoordinir oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Denpasar.
AirAsia menerapkan standar ketat dalam pengangkutan penumpang dan barang sesuai dengan rekomendasi otoritas kesehatan dunia serta kebijakan otoritas penerbangan di negara-negara yang akan diterbangi. AirAsia melakukan desinfeksi secara menyeluruh terhadap pesawat yang digunakan untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang serta awak pesawat pada penerbangan berikutnya.
Di Rumah
Sementara Sekretaris Daerah Provinsi Bali yang juga selaku Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra, menerangkan bahwa pada Jumat 10 April 2020, di terminal kedatangan Internasional bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga menerima kedatangan PMI dari luar negeri dimulai dari pukul 14.00 wita.
Kedatangan PMI berjumlah 537 terdiri dari 97 orang ABK Carnival Cruise Line, Miami – Amerika dan 440 orang ABK Carnival Cruise Line, New Orleans – Amerika. Tercatat — menurut Gubernur Bali W Koster, dalam virtual prescon beberapa hari lalu—diperkirakan ada 20. 000 PMI asal Bali di luar negeri.
Mereka disambut oleh petugas kesehatan dan petugas pendamping, petugas kesehatan dari KKP / Kantor Kesehatan Pelabuhan – Kesdam, Dokkes Polda Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Badung dan Kota Denpasar. Petugas pendamping (mengawasi kedatangan) – Disnaker ESDM – PolPP – BPBD – Dishub dan unsur TNI & Polri.
PMI kata Dewa Indra harus melewati protokol kesehatan dengan 3 tahap : tahap 1, PMI melakukan registrasi dan di cek suhu tubuh menggunakan thermo gun. Tahap 2, petugas kesehatan melakukan cek saturasi O² dan melakukan wawancara gejala batuk (batuk, sakit tenggorokan dan demam/riwayat demam) serta wawancara riwayat perjalanan. Tahap 3, petugas melakukan rapid test terhadap PMI.
Dewa Indra menekankan, penerimaan PMI telah disesuaikan dengan SOP yang berlaku. Untuk itu Dewa Indra meminta kepada para PMI yang berpotensi negatif untuk menjalankan karantina mandiri di rumah secara disiplin. Selain itu Satgas Gotong Royong yang ada di desa dengan dibantu Dinas Kesehatan Kab/Kota atau Puskesmas mau pun Puskesmas Pembantu agar secara disiplin memantau para PMI yang karantina secara mandiri.
Terkait dengan pekerja migran Indonesia (PMI) atau anak buah kapal (ABK) yang baru tiba, Dewa Indra menekankan agar masyarakat tidak melakukan penolakan, menjauhi apalagi melakukan pengucilan. Pemerintah Provinsi Bali telah menerapkan rapid test di Bandara Ngurah Rai, rapid test yang menunjukkan potensi postitif maka akan dikarantina.
Sedangkan yang menunjukkan potensi negative dipersilahkan pulang dengan catatan karantina minimal 14 hari, dan pada hari ke 8 (delapan) mereka wajib kembali melakukan rapid test pada petugas kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota. Jika pada hari kedelapan hasilnya positif, maka akan dikarantina oleh pemerintah dan dilakukan tes PCR.
Aktivitas di Omah Kecebong dengan busana Jawa ( foto-foto: FB Omah Kecebong).
JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri pariwisata di dunia paling awal menerima dampak wabah pandemi global Covid-19. Industri perjalanan ( travel) dan tourism sudah banyak yang tutup baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.
Namun bisnis wisata yang melestarikan budaya dan digerakkan dari desa Sendari, Cebongan, Sleman Jogjakarta justru pantang terpuruk dan malah menjadikan kondisi tak ada tamu ibarat masa reses, masa istirahat untuk menata ulang bentuk phisik maupun program-program yang ada.
Kalau di dunia politik anggota Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR) reses berarti masa istirahat dari kegiatan bersidang maka Omah Kecebong memanfaatkan tutup sementaranya untuk terus berkarya dan peduli pada lkngkungan.
“Omah Kecebong melihat situasi sekarang dari sisi positif, kami tetap optimistis bisnis ndeso ini tetap boom setelah wabah virus ini berlalu dan kesehatan masyarakat dunia teratasi,” kata Hasan Prayogo, pemilik Omah Kecebong ini.
Mulai beroperasi September 2015 dan berdiri di tanah seluas 1 hektare, pihaknya menawarkan kegiatan wisata budaya yang lengkap atau one stopplace untuk banyak kegiatan, pengunjung dapat menikmati alam, budaya, dan kuliner dalam satu tempat.
Produk wisatanya beragam untuk segala umur mulai dari anak-anak sampai dengan lansia, dimana pengunjung dapat mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dan berkeliling desa dengan mengendarai gerobak sapi.
Tamu bisa bonding dengan keluarga, melakukan permainan tradisional masa kanak-kanak seperti tong-tong bolong hingga engrang. Wisatawan juga akan diajarkan bagaimana cara membatik, membajak, menanam padi di sawah, sampai membuat wayang suket yang terbuat dari rumput alang-alang dan produk terbaru adalah memanah ( jemparingan).
“Berlokasi sekitar 7 Km dari Jogjakarta, sesuai dengan konsepnya yaitu belajar dengan alam dan melestarikan budaya. Jadi semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” kata Hasan Prayogo.
Ucapannya terbukti karena pada tahun 2019 lalu sedikitnya melayani 11.000 pax yang mengambil paket. Diluar pengunjung yang hanya datang untuk makan atau sekedar menjelajah pedesaan dengan gerobag wisata
Untuk tahun 2020, ujarnya, bulan Januari – Hingga 15 Maret sebelum tutup mulai 16 maret, pihaknya sudah melayani sekitar 2.100 paket. Reservasi yang ditunda dan cancel dari 16 maret hingga Juli 2020 kurang lebih 7.500 pax dengan rata rata paket yang diambil adalah paket 3BER (@ 375.00/orang).
” Jadi dengan adanya wabah Covid-19 transaksi yang tertunda adalah sebesar kurang lebih Rp 2,8 milyar. Kami masih optimistis untuk bisnis masih akan boom setelah wabah ini, “
Tapi tentunya ada penurunan terlebih dahulu karena setelah pandemi selesai mulai dari individu, keluarga, perusahaan hingga instansi pemerintah masih dalam taraf menstabilkan kondisi keuangannya, tambahnya.
“Jika tidak ada hal yang lebih buruk lagi di tiga bulan terakhir ini sampai dengan bulan Agustus 2020 kami masih mempunyai group post phone (ditunda) untuk bulan agustus sebanyak 2500 pax,” ungkap Hasan.
Searah jarum jam, Hasan Prayogo ( batik merah), aktivitas kesenian, Gerobak Sapi dan wisman menikmati alam pedesaan.
Tutup Sementara
Omah Kecebong tutup untuk sementara, dan sebanyak 35 orang karyawan diliburkan terlebih dahulu. Untuk karyawan bagian umum dan kemanan (security) masih masuk sampai dengan saat ini ada 10 orang.
Menghadapi pandemi maka kegiatan CSR, kepedulian Omah Kecebong pada warga sekitarnya dilakukan dengan membantu pengadaan spryer disinfektan untuk penyemprotan lingkungan RW/RT setempat.
“Pada prinsipnya keadaan sekarang kami manfaatkan untuk menyiapkan program yang lebih baik lagi apabila nanti setelah wabah kami buka kembali sudah dengan kondisi lebih baik dari sebelumnya,” kata Hasan Prayogo.
Kegiatan pemeliharaan terus dilakukan juga mengadakan pembenahan, perbaikan serta menjaga kebersihan dari aset yang dimiliki. Untuk karyawan lain yang diliburkan dan berdomisili di dekat/sekitar omah Kecebong tetap mengontrol.
Mereka yang membantu di bagian busana dan photographer, masih berkewajiban untuk datang seminggu 1 x secara bergiliran untuk check dan merawat property dari mulai baju baju, spot -spot photo, kamera dan lainnya.
Selain produk ini kami juga dalam masa tiarap ini menyiapkan tempat untuk beraktifitas dari photo bareng dengan busana jawa, Tim Building, dan kegiatan lain dengan kapasitas ruang sampai 750 pax dalam 1 group.
Mengabadikan kebersamaan dan melestarikan budaya menjadikan daya saing Omah Kecebong untuk tujuan komunitas maupun kegiatan MICE terutama intensive cukup tinggi.
Di dukung harga produk bervariasi mulai dari Rp 125 ribu per orang untuk busana Jawa serta menikmati keliling desa dengan gerobak sapi hingga paket 3 Ber yaitu berbusana Jawa, berkuliner makanan Ndeso serta bergerobak sapi menjelajah alam pedesaan seharga Rp 600 ribu/ orang.
” Masih banyak paket lainnya oleh karena itu pada masa istirahat ini kami menyiapkan tempat untuk beraktifitas dari photo bareng dengan busana jawa, Tim Building, dan kegiatan lain dengan kapasitas ruang sampai 750 pax dalam satu group,” jelasnya.
Dia menambahkan produk tambahan yang menjadi produk baru untuk paket adalah berupa kegiatan Jemparingan atau memanah dimana produk ini sangat tepat untuk memulai suatu kegiatan setelah kejenuhan yang amat sangat dengan harus dirumah.
” Untuk kondisi saat ini kegiatan Jemparingan sangat tepat untuk melatih setiap orang yang melakukan harus Sabar, ikhlas, fokus, berani, penuh konsentrasi dan mampu mengendalikan diri
Pemberdayaan masyarakat
Mau melihat langsung dampak kegiatan wisata yang multi ganda alias memiliki multiplier effect luas ?. Tak perlu studi banding ke luar negri, datang saja ke Omah Kecebong.
Grup alumni IKIP Bahasa Perancis berpose dengan busana Jawa di sawah
Siapa sangka bisnis Ndeso ini bisa menyerap keterlibatan banyak orang dari masyarakat sekitar, komunitas seni dan budaya serta kelompok masyarakat lainnya.
“Sebagai gambaran, kalau kami melayani group dan mengadakan acara seperti konsep Pasar Malam terdiri dari makan malam dan kesenian serta jelajah desa maka kami melibatkan sekitar 300 personil dari kesenian, UMKM , pengamanan dan lainnya,” jelas Hasan Prayogo.
Dengan jumlah 45 orang karyawan terdiri dari waiter, security, petugas busana, tukang masak, photografer, petugas kebersihan dan administrasi, maka pihaknya dibantu pula sedikitnya 20 orang Ibu ibu pembatik .
Untuk getobak sapi bisa melibatkan 60 orang , pemandu outbound: 15 orang, ibu-ibu PKK setempat yang membantu dalam setiap grup untuk memakai busana Jawa sebanyak 20 orang. Masih ada komunitas seni dengan personil 15 orang tampil setiap Sabtu dan Minggu.
Sejumlah kelompok kesenian mengisi acara group MICE seperti kesenian Bergodo (25 orang), kesenian gejok lesung (22 orang) dan siteran 4 orang. Pedagang makanan sekitar juga dilibatkan yaitu penjual bakso, nasi goreng, kambiing guling, snack tradisional, penjual jenang, mbok jamu, penjual cindera mata kerajinan ( UMKM) dan snack terlibat pada setiap acara.
Bagi Hasan, berbisnis di desa bisa memberikan contoh kepada masyarkat sekitar dengan pemanfaatan potensi wisata yang ada mampu meningkatkan pendapatan warga sekitar bukan hanya terpaku pada kegiatan bertani.
Selama bisa memberikan pengalaman terbaik maka diyakini tamu-tamu dari dalam dan luar negri yang datang akan merekomendasikan ke teman yang lain sehingga cerita dari mulut ke mulut atau istilahnya getok tular akan terus mengalirkan tamu ke tempat ini.
“Itulah sebabnya usaha Ndeso dengain promosi via media sosial dan getok tular dengan kekuatan budaya dan kearifan lokal akan boom setelah Covid-19,”
Alghufron, MMR (@alghufron), rajin memberikan edukasi gratis melalui IG ( foto: @alghufron).
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pahlawan Medis di Indonesia Bergandengan Tangan dalam Mengedukasi Masyarakat dan Memberikan Konsultasi Kesehatan Gratis di Instagram.
Selama beberapa minggu terakhir, masyarakat Indonesia menjalankan gerakan #dirumahaja sebagai dukungan terhadap himbauan pemerintah dalam menjaga jarak fisik. Gerakan #dirumahaja telah mendorong setiap orang menjadi lebih kreatif dalam berinteraksi dan menjalani aktivitas mereka sehari-hari.
Para pahlawan medis yang saat ini berjuang tanpa kenal lelah di garda terdepan juga menunjukkan kreativitas mereka dalam mendukung gerakan #dirumahaja ini. Selain memberikan penanganan langsung bagi pasien di lapangan.
Mereka juga memanfaatkan teknologi dan Instagram untuk menyebarkan informasi kesehatan, dukungan terhadap sesama rekan sejawat, hingga menyediakan konsultasi gratis melalui Instagram.
Alghufron, MMR (@alghufron) dan dr. Dianca Oetama (@dianca.oetama) adalah beberapa contoh dokter Indonesia yang memberikan layanan konsultasi gratis seputar COVID-19 melalui Instagram Direct mereka.
Konsultasi gratis tersebut tentu memberikan kemudahan bagi para pasien yang membutuhkan pertolongan tim medis secara cepat tanpa harus mengunjungi rumah sakit yang saat ini berisiko menjadi sumber penyebaran COVID-19.
Selain itu, beberapa dokter lainnya menggunakan akun Instagram mereka untuk mengedukasi masyarakat seputar informasi terkait COVID-19 sesuai rujukan dan saran dari sumber-sumber organisasi kesehatan terpercaya secara interaktif dan menarik melalui Feed, Stories, dan IGTV.
Beberapa pahlawan medis yang secara aktif membagikan informasi kesehatan di Instagram, antara lain Dokter sekaligus model, dr. Mesty Ariotedjo (@mestyariotedjo) membagikan sebuah IGTV tentang urgensi penanganan COVID-19 melalui penerapan perilaku jaga jarak fisik (physical distancing) dan tes massal.
Selain aktif memberikan konten kesehatan edukatif, dr. Mesty yang juga merupakan Co-Founder WeCare.id, pionir platform galang dana medis, mengadakan penggalangan dana untuk pembelian alat pelindung diri bagi para tenaga medis. Putu Ayuwidia Ekaputri (@diadiawidia) membagikan tips dan langkah-langkah yang dapat diambil oleh seseorang jika dinyatakan positif COVID-19.
Sementara dr. Anton Tanjung (@antontanjung) berkolaborasi dengan @drg.mirza dan @drg.irene menggunakan akun Instagram mereka untuk mempublikasikan informasi seputar rumah sakit, puskesmas maupun rekan sejawat yang membutuhkan donasi alat pelindung diri maupun alat medis lainnya.
Sedangkan dr. Reisa Broto Asmoro (@reisabrotoasmoro) memberikan edukasi seputar virus COVID-19 dan himbauan bagi masyarakat Indonesia untuk berhenti menggunakan sarung tangan medis agar dapat digunakan oleh tenaga medis yang benar-benar membutuhkan.
Sebagai alternatif, dr. Reisa memberikan solusi agar masyarakat dapat lebih sering mencuci tangan atau menggunakan sarung tangan yang terbuat dari karet.
Berjembur merupakan sebuah rutinitas sederhana yang dapat dilakukan selama #dirumahaja untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh. Selama beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia tengah ramai membicarakan seputar waktu terbaik untuk berjemur.
Untuk meluruskan hal tersebut, beberapa pakar kesehatan Indonesia ikut angkat suara, termasuk dr. Listya Paramita, Sp.KK (@drmita.spkk) yang memberikan penjelasan seputar waktu terbaik untuk berjemur selama di rumah melalui IGTV.
Di tengah pandemi COVID-19, calon ibu tentunya merasa resah akan keselamatannya dan bayi yang dikandungnya. Untuk itu, dokter spesialis kandungan Gahrani Chen (@gahranichen) mencoba mengakomodasi pertanyaan-pertanyaan dari para calon ibu ini dengan memanfaatkan Stiker Pertanyaan di Stories.
Instagram berkomitmen untuk mengambil bagian dalam memerangi pandemi dengan terus meningkatkan fitur-fitur di layanannya agar dapat mendukung ekspresi diri setiap pengguna selama #dirumahaja, menghubungkan mereka dengan hal-hal dan orang-orang yang mereka cintai, serta melindungi pengguna dari misinformasi terkait COVID-19.
Keindahan kota Riga, ibukota Latvia yang menjadi lingkup kerja KBRI Swedia. ( Foto: Unsplash/ Sergei Wing) .
STOCKHOLM, Swedia, bisniswisata.co.id: Kedutaan Besar Republik Indonesia ( KBRI) untuk Swedia dan Latvia menyelenggarakan video conference bersama membahas pademi global Covid-19 bersama Duta Besar Bagas Hapsoro dengan nara sumber Prof. Nawi Ng, Guru Besar Universitas Gothenburg.
Video Confrence yang berlangsung Kamis ( 9 April) bertujuan untuk memberikan perkembangan terkini kasus Coronavirus dan juga perkembangan kebijakan Pemerintah setempat bagi WNI di Swedia dan Latvia yang menjadi lingkup kerja KBRI Swedia.
Dubes Bagas Hapsoro
Dalam siaran persnya Humas KBRI, Fajar menyebutkan kegiatan ini diikuti sedikitnya 68 peserta dari Swedia dan Latvia dengan narasumber di luar KBRI adalah Prof. Nawi Ng, Guru Besar Universitas Gothenburg, yang menjelaskan mengenai definisi, asal muasal, dan serba-serbi Coronavirus.
“Terima kasih sudah menyempatkan waktu bagi Bapak Ibu untuk bergabung dalam video conference ini, kami akan memberikan perkembangan mengenai Coronavirus” tutur Dubes Bagas dalam pembukaannya.
Pelaksana Fungsi ( PF) Pensosbud di KJRI kemudian menyampaikan perkembangan terkini kasus Coronavirus yang terjadi baik itu di Indonesia, Swedia, maupun di Latvia. Setelah itu, PF. Protkons menyampaikan kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Swedia maupun Pemerintah Latvia.
Menurut Prof Nawi Ng, penyakit dengan gejala seperti Coronavirus sudah pernah muncul, seperti SARS di tahun 2002, dan MERS di tahun 2012. Diluar gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas, terdapat gejala baru, seperti hilangnya kemampuan indera perasa dan penciuman.
Ditambahkan bahwa virus ini memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi, dimana 1 orang pasien dapat menulari 2-2,5 orang lainnya. Masa inkubasi virus ini pun bervariasi antara 2-14 hari, dimana seseorang yang terjangkit bisa langsung mengalami gejala pada hari kedua atau bahkan baru merasakan gejalanya 14 hari kemudian.
Selain itu, disampaikan bahwa fatalityrate virus ini berada di angka 2% untuk golongan umur 50-59 tahun, namun demikian meningkat pesat di golongan umur yang lebih tua.
Setelah paparan Prof. Nawi, sejumlah peserta juga memberikan pertanyaan dan tanggapan. Kegiatan berjalan dengan lancar dan baik. Nantinya kegiatan video conference ini akan dilaksanakan secara berkala.