Omah Kecebong, Bisnis dari Ndeso Yang Diyakini Tetap Boom Pasca Covid-19.

2
548

Aktivitas di Omah Kecebong dengan busana Jawa ( foto-foto:  FB Omah Kecebong).

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Industri pariwisata di dunia paling awal menerima dampak wabah pandemi global Covid-19. Industri perjalanan ( travel) dan tourism sudah banyak yang tutup baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Namun bisnis wisata yang melestarikan budaya dan  digerakkan dari desa Sendari, Cebongan, Sleman Jogjakarta justru pantang terpuruk dan malah menjadikan kondisi tak ada tamu ibarat masa reses, masa istirahat untuk menata ulang bentuk phisik maupun program-program yang ada.

Kalau di dunia politik anggota Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR)  reses berarti masa istirahat dari kegiatan bersidang maka Omah Kecebong memanfaatkan tutup sementaranya untuk terus berkarya dan peduli pada lkngkungan.

“Omah Kecebong melihat situasi sekarang dari sisi positif, kami tetap optimistis bisnis ndeso ini tetap boom setelah wabah virus ini berlalu dan kesehatan masyarakat dunia teratasi,” kata Hasan Prayogo, pemilik Omah Kecebong ini.

Mulai beroperasi September 2015 dan  berdiri di tanah seluas 1 hektare, pihaknya menawarkan kegiatan wisata budaya yang lengkap atau one stop place untuk banyak kegiatan, pengunjung dapat menikmati alam, budaya, dan kuliner dalam satu tempat. 

Produk wisatanya beragam untuk segala umur mulai dari anak-anak sampai dengan lansia,  dimana pengunjung dapat mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dan berkeliling desa dengan mengendarai gerobak sapi.

Tamu bisa bonding dengan keluarga, melakukan permainan tradisional masa kanak-kanak seperti tong-tong bolong hingga engrang. Wisatawan juga akan diajarkan bagaimana cara membatik, membajak,  menanam padi di sawah, sampai membuat wayang suket yang terbuat dari rumput alang-alang dan produk terbaru adalah memanah ( jemparingan).

“Berlokasi sekitar 7 Km dari Jogjakarta,  sesuai dengan konsepnya yaitu belajar dengan alam dan melestarikan budaya. Jadi semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” kata Hasan Prayogo.

Ucapannya terbukti karena pada tahun 2019   lalu sedikitnya melayani 11.000 pax yang mengambil paket.  Diluar pengunjung yang hanya datang untuk makan atau sekedar menjelajah pedesaan dengan gerobag wisata

Untuk tahun 2020, ujarnya, bulan Januari – Hingga 15 Maret sebelum tutup mulai 16 maret,  pihaknya sudah melayani sekitar 2.100 paket. Reservasi yang ditunda dan cancel dari 16 maret  hingga Juli 2020 kurang lebih 7.500 pax dengan rata rata paket yang diambil adalah paket 3BER (@ 375.00/orang). 

” Jadi dengan adanya wabah Covid-19  transaksi yang tertunda adalah sebesar  kurang lebih Rp 2,8 milyar. Kami masih optimistis untuk bisnis masih akan boom setelah wabah ini, “

Tapi tentunya ada penurunan terlebih dahulu karena setelah pandemi selesai mulai dari individu, keluarga, perusahaan hingga instansi pemerintah  masih dalam taraf menstabilkan kondisi keuangannya, tambahnya.

“Jika tidak ada hal yang lebih buruk lagi di tiga bulan terakhir ini sampai dengan bulan Agustus 2020  kami masih mempunyai group post phone (ditunda) untuk bulan agustus sebanyak 2500 pax,” ungkap Hasan.

Searah jarum jam, Hasan Prayogo ( batik merah), aktivitas kesenian, Gerobak Sapi dan wisman menikmati alam pedesaan.

Tutup Sementara

Omah Kecebong tutup untuk sementara, dan sebanyak 35 orang karyawan diliburkan  terlebih dahulu. Untuk karyawan bagian umum dan kemanan (security) masih masuk sampai dengan saat ini ada 10 orang.

Menghadapi pandemi maka kegiatan CSR, kepedulian Omah Kecebong pada warga sekitarnya dilakukan dengan membantu pengadaan spryer disinfektan untuk penyemprotan lingkungan RW/RT setempat.

“Pada prinsipnya keadaan sekarang kami manfaatkan untuk menyiapkan program yang lebih baik lagi apabila nanti setelah wabah  kami buka kembali sudah dengan kondisi lebih baik dari sebelumnya,” kata Hasan Prayogo.

Kegiatan pemeliharaan terus dilakukan juga mengadakan pembenahan, perbaikan serta menjaga kebersihan dari aset yang dimiliki. Untuk karyawan lain yang diliburkan dan berdomisili di dekat/sekitar omah Kecebong tetap mengontrol.

Mereka yang membantu di bagian busana dan photographer, masih berkewajiban untuk datang seminggu 1 x secara bergiliran untuk check dan merawat property dari mulai baju baju, spot -spot photo, kamera dan lainnya.

Selain produk ini kami juga dalam masa tiarap ini menyiapkan tempat untuk beraktifitas  dari photo bareng dengan busana jawa, Tim Building, dan kegiatan lain dengan kapasitas ruang sampai 750 pax dalam 1 group. 

Mengabadikan kebersamaan dan melestarikan budaya menjadikan daya saing Omah Kecebong untuk  tujuan komunitas maupun kegiatan MICE terutama intensive cukup tinggi.

Di dukung harga produk bervariasi mulai dari Rp 125 ribu per orang untuk busana Jawa serta menikmati keliling desa dengan gerobak sapi hingga paket 3 Ber yaitu berbusana Jawa, berkuliner makanan Ndeso serta bergerobak sapi menjelajah alam pedesaan seharga Rp 600 ribu/ orang.

” Masih banyak paket lainnya oleh karena itu pada masa istirahat ini kami menyiapkan tempat untuk beraktifitas  dari photo bareng dengan busana jawa, Tim Building, dan kegiatan lain dengan kapasitas ruang sampai 750 pax dalam satu  group,” jelasnya.

Dia menambahkan produk tambahan yang menjadi produk baru untuk paket adalah berupa kegiatan Jemparingan atau memanah dimana produk ini sangat tepat untuk memulai suatu kegiatan setelah kejenuhan yang amat sangat dengan harus dirumah. 

” Untuk kondisi saat ini kegiatan Jemparingan sangat tepat  untuk melatih setiap orang yang melakukan  harus Sabar, ikhlas, fokus, berani, penuh konsentrasi dan mampu mengendalikan diri 

Pemberdayaan masyarakat

Mau melihat langsung dampak kegiatan wisata yang multi ganda alias memiliki multiplier effect luas ?. Tak perlu studi banding ke luar negri, datang saja ke Omah Kecebong.

Grup alumni IKIP Bahasa Perancis berpose dengan busana Jawa di sawah

Siapa sangka bisnis Ndeso ini bisa menyerap keterlibatan banyak orang dari masyarakat sekitar, komunitas seni dan budaya serta kelompok masyarakat lainnya. 

“Sebagai gambaran,  kalau kami melayani group dan mengadakan acara seperti konsep Pasar Malam terdiri dari  makan malam dan kesenian serta jelajah desa maka kami melibatkan sekitar 300 personil dari kesenian, UMKM , pengamanan dan lainnya,” jelas Hasan Prayogo.

Dengan jumlah 45 orang karyawan terdiri dari  waiter, security, petugas busana, tukang masak, photografer, petugas kebersihan dan administrasi, maka pihaknya dibantu pula sedikitnya 20 orang Ibu ibu pembatik .

Untuk getobak sapi bisa melibatkan  60 orang , pemandu outbound: 15 orang, ibu-ibu PKK setempat yang membantu dalam setiap grup untuk memakai busana Jawa sebanyak 20 orang. Masih ada komunitas seni dengan personil 15 orang tampil setiap Sabtu dan Minggu.

Sejumlah kelompok  kesenian mengisi acara group MICE seperti kesenian  Bergodo (25 orang), kesenian gejok lesung (22 orang) dan siteran  4 orang. Pedagang makanan sekitar juga dilibatkan yaitu penjual bakso, nasi goreng, kambiing guling, snack tradisional, penjual jenang, mbok jamu, penjual cindera mata kerajinan ( UMKM) dan snack terlibat pada setiap acara.

Bagi Hasan, berbisnis di desa bisa memberikan contoh kepada masyarkat sekitar dengan pemanfaatan potensi wisata yang ada mampu meningkatkan pendapatan warga sekitar bukan hanya terpaku pada kegiatan bertani.

Selama bisa memberikan pengalaman terbaik maka diyakini tamu-tamu dari dalam dan luar negri yang datang akan merekomendasikan ke teman yang lain sehingga cerita  dari mulut ke mulut atau istilahnya getok tular akan terus mengalirkan tamu ke tempat ini.

“Itulah sebabnya usaha Ndeso dengain promosi via media sosial dan getok tular dengan kekuatan budaya dan kearifan lokal akan boom setelah Covid-19,”

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.