COVID- 19 vs Revolusi Industri Gen 4.0 Pariwisata

this formate

BALI, bisniswisata.co.id:  Seiring  mendunianya wabah COVID-19 dalam hitungan hari, topik paling panas di seantero jagad adalah Stay Home You Safe Lifes. Jargon berupa tagar atau hashtag termasuk #DiRumahAja milik Indonesia dan #TravelTomorrow milik UNWTO, bertebaran.

Ada lagi jargon yang lain?

Ada, dan sedang viral di dunia adalah #WhenWeTravelAgain.

Editor perjalanan di Irish Independent bernama Pol O Conghaile @poloconghaile yang memulai tagar tersebut  di Twitter. Tagar ini mendapatkan banyak reaksi sebab menandakan kebebasan dan memberikan gambaran masa depan

Saya — mestinya semua kolega– sebagai pekerja pariwisata dan perhotelan mempunyai pertanyaan selanjutnya seperti:

Apakah dampak COVID-19 bagi Indonesia?

Kira-kira pola traveling pasca pandemi seperti apa ya?

Untuk ini, saya memikirkannya dari sudut pandang optimis #ExcitedForTomorrow. Saya menaruh harapan untuk esok hari, membuat cita-cita baru, yaitu new skills – menguasai beberapa keahlian baru selama masa karantina mandiri #DiRumahAja.

Di luar kesadaran kita, momentum wabah COVID-19 ini membuat kita semua mengerjakan banyak hal secara digital. Kita,  mulai dari pelajar yang harus belajar di rumah dan sebagian tutorialnya dengan cara tele-conference. Kemudian, pekerja dengan status WFH – Work From Home, pertemuan hariannya secara live tele-conference menggunakan tool Zoom dari masing-masing gadget.

Lebih jauh lagi, golongan menengah ke bawah, jadi belajar untuk berbisnis di lingkungannya. Sementara ojol dan beragam fasilitas digital makin menunjang banyak orang untuk belajar bisnis. Disini termasuk kita-kita yang pada belajar berbelanja konsumsi makanan melalui online. Situasi ini bisa terjadi karena dipaksa oleh keadaan harus tinggal di rumah plus jaga jarak aman.

Saya meyakini, pasca COVID-19, Indonesia akan aman, maju dan malah lebih  sehat.

Bisnis menyebar ke daerah, bisnis menengah ke bawah tumbuh, dan swadesi meningkat. Inilah yang saya sebut  konsep percepatan “digitalisasi revolusi industri gen 4.0 menggunakan momentum wabah COVID-19”.

Transaksi menggunakan uang fisik kertas dan koin akan jauh berkurang, karena sudah tersedia virtual payment gateway. Pembayaran instan tunai yang menguntungkan penjual karena cash flow tetap berjalan, dan memberi manfaat juga kepada pembeli karena tidak perlu menyimpan uang kembalian yang dicurigai mengandung banyak virus karena telah dipegang banyak tangan dalam peredarannya.

Mari kita lanjutkan fokus ke  pola traveling dan tuntutan traveler pasca COVID-19. Sudah pasti tuntutan traveler nomer satu terhadap suatu destinasi adalah sehat, aman dan nyaman. Ya urutan nomer satu menjadi “sehat” menggantikan yang sebelumnya “aman”.

Dengan mengusung pengetahuan tentang COVID-19 ini — melarang kita untuk menyentuh permukaan-permukaan barang, dan harus rajin cuci tangan — maka jalan keluarnya adalah “personalized all services” dan salah satunya adalah go digital.

Beragam teknologi untuk pelayanan sudah dipikirkan, dikembangkan dan tersedia saat ini. Untuk customer service dengan menghargai dan menjaga health concious customer, maka layanan harus dilakukan dalam jarak aman.

Jadi,  banyak barang cetakan yang berupa directory, informasi, promosi, menu restoran, menu room-service dan delivery service dan banyak lagi harus digitalkan. Kemudian materi digital tersebut bisa diakses langsung oleh customer dari handphone masing-masing. Inilah solusi gen 4.0 yag murah berfaedah dan memberikan kenyamanan kepada customer karena tidak perlu menyentuh barang yang sudah dipegang banyak orang. Kebiasaan sesuai generasi nya yang tadinya kita sebut hubbing, selfish karena tidak berinteraksi dengan orang lain, sekarang menjadi “sah”.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang masih tergolong baru ini, diperlukan persiapan dan pelatihan khusus yang mendukung. Kita sudah mulai dibiasakan beribadah yang menampilkan pimpinan umat atau imam agama di rumah masing-masing dengan live-streaming. Kemudian ber-olah raga ala klub kebugaran pun dipandu dengan live streaming. Diantara banyak perusahaan yang terpuruk, saat ini bisnis penyedia jaringan internet yang meraup penghasilan paling tinggi sesuai kebutuhan masyarakat dunia.

Pernah merasakan kalau kita kehabisan pulsa? Pasti kitak tidak mau kejadian tersebut terulang lagi.

Saat ini, Indonesia sudah mulai menggarap revolusi industri 4.0, terlihat dari banyaknya perusahaan yang telah menerapkan sistem jaringan internet untuk memudahkan akses-akses informasi internal, pengawasan karyawan, sampai pembukuan. Pastilah perusahaan semacam itu, kita sebut dengan istilah smart company. Kita sudah terbiasa dengan smart phone dengan segala fiturnya bukan?

Di balik kemudahan standar era kekinian yang kita rasakan di era komunikasi ini,  dalam revolusi industri 4.0, ada 9 teknologi yang menjadi pilar utama untuk mengembangkan sebuah industri biasa, menuju industri yang siap digital.

Saya percaya banyak diantra kita yang telah mendengar sampai paham bahkan telah bekerja sama dengan piranti robotic ini.  Diantaranya adalah:

1. Internet of Things (IoT)

2. Big Data

3. Argumented Reality (AR)

4. Cyber Security

5. Artifical Intelegence

6. Addictive Manufacturing

7. Simulation

8. System Integeration

9. Cloud Computing

Nah, pasca pandemic COVID-19, perilaku dan kebiasaan orang seluruh dunia akan berubah menjadi new normal.  Salah satunya adalah kita sendiri dan jangan ragu lagi untuk bekerja sama dengan robot. Robot bukan untuk menggantikan manusia apalagi customer service di industri pariwisata, tetapi cara kerja robot dengan memori buatannya mempermudah banyak pekerjaan manusia terutama perkerjaan yang sama dilakukan berulang.

Jadi tunggu apalagi mari #ExcitedForTomorrow, bersiap #WhenWeTravelAgain sambil menguasai #NewSkills pada saat wabah yang harus kita waspadai dan jalani telah berlalu. *Jeffrey Wibisono V.

ICPI Minta Stakesholder Peka Cari Solusi Pariwisata Pasca Covid-19 

this formate

Wisman menikmati keindahan alam Indonesia sekaligus mencari serenity atau ketenangan diri (foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof.Azril Azahari Ph.D, meminta seluruh stakesholder pariwisata kompak cari solusi pengembangan pariwisata Indonesia pasca pandemi global Covid 19.

“Mewabahnya pandemi Covid-19 membawa dampak krisis global keseluruh dunia termasuk industri pariwisata. Untuk itu jangan sampai salah menerapkan kebijakan. Aksi preventif adalah terbaik dari kuratif atau menyembuhkan,” ujarnya hari ini melalui WhatsApp.

Menurut dia, kebijakan awal saat pandemi ini terjadi pada Febuari lalu dengan mengeluarkan kebijakan insentif Pemerintah tanggal 25 Februari 2020 (hotel & tiket pesawat) justru membuka peluang meningkatnya berwisata  baik bagi wisatawan nusantara ( wisnus) maupun wisman mancanegara ( (Wisman).

“Kebijakan ini adalah bentuk ketidakpekaan atas pandemi Covid-19 dunia, karena hanya mengejar target jumlah (kuantitas) pergerakan wisatawan dalam negri ( wisnus) dan kunjungan wisman,” kata Azril Azahari.

Mengapa Pemerintah dianggap tidak peka karena masih berorientasi pada target kuantitatif & ekonomi, dan ini bukanlah tindakan preventif atas pandemi Covid-19, karena malah membuka celah “imported cases”.

Dia juga menyayangkan sejak awal Maret 2020 hanya beberapa pemerintah daerah yang menutup sebagian destinasi pariwisata. Tindakan yang bisa dianggap setengah hati karena tidak dilakukan dari awal Februari untuk semua penutupan obyek-obyek wisata dan seluruh event di destinasi wisata Indonesia

Kondisi saat ini seharusnya membuat stakesholder terutama pemerintah harus sadar bahwa paradigma pariwisata dunia telah bergeser dari paradigma lama yaitu 3 S=Sun, Sand, Sea menuju paradigma Baru yaitu 3 S=Serenity, Spirituaity, Sustainability,” ungkapnya.

Pariwisata menguasai alam (nature) guna menikmati keindahan fisik alam (tangible) dan pariwisata selaras dengan alam guna mencari kedamaian batin (spirituality & intangible) guna menikmati kesenangan (enjoy) serta mencari ketenangan diri (serenity).

” Pariwisata masal hanya sesaat dan targetnya pada kuantitas. Kondisi sekarang dengan adanya pandemi global tidak bisa mengejar jumlah. Sebaliknya harus berorientasi pada pariwisata berbasis kualitas yang berkelanjutan (sustainability),” 

Langkah Penyelamatan

Untuk itu, jara Azril, sedikitnya ada 7 langkah penyelamatan yang harus dilakukan yaitu : 1.Lakukan disinfektan seluruh destinasi pariwisata, (termasuk  akomodasi & lojing seperti hotel dll), sehingga mampu menimbulkan kepercayaan lagi bahwa seluruh destinasi dan akomodasi pariwisata di Indonesia sudah terbebaskan dari sumber Covid-19 dan aman.

” Langkah ke dua yang harus diberikan insentif adalah para pelaku usaha pariwisata yang sudah terbebankan sangat berat, seperti  relaksasi pajak PPh 25, relaksasi kredit (angsuran dan bunga), stimulus utilitas seperti listrik,”

Saat ini yang dibantu oleh Kemenparekraf justru usaha besar yang masih memiliki daya sensitivitas sampai 3 bulan, sementara usaha menengah sekitar 1-2 bulan, namun yang sangat berdampak adalah UMKM Pariwisata yang harus diprioritaskan mendapatkan bantuan.

Itulah sebabnya langkah penyelamatan ke 3 adalah memberikan bantuan kepada UMKM Pariwisata seperti Bantuan Langsung Tunai ( BLT), terutama bagi usaha yang memiliki pendapatan harian.

Langkah ke 4 berikan bantuan kepada karyawan dengan memberikan, seperti: Stimulus pajak PPH 21, BLT, Bantuan Sosial, Bantuan Pangan dan Stimulus BPJS yang selama ini oleh perusahaan. 

Point 5 yang harus dilakukan adalah segera perbaiki dan fokus pada kelemahan Daya Saing Pariwisata kita selama ini (WEF, 2015, 2017, 2019) yaitu: Healthy & Hygiene, Safety & Security, Environmental Sustainability dan Tourist Service Infrastructure.

Azril juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan daya tarik pariwisata dan saatnya mengevaluasi kembali penentuan 10 KEK dan 5 Destinasi Super Prioritas, dengan berfokus pada daya tarik bagi pengunjung sebagai langkah ke enam yang diusulkannya.

“Daya tarik itu keunikan (Uniqueness)keotentikan (Authenticity) masing-masing destinasi sesuai dengan kearifan lokal dan juga Attraction artinya adalah daya tarik bukan atraksi. Daya tarik dan atraksi itu berbeda,” jelasnya.

Solusi terakhir atau ke tujuh adalah menyatukan persepsi bahwa ada pergeseran target yang tidak lagi pada jumlah kunjungan wisman tapi pada kontribusi sektor pariwusata terhadap Produk Domestik Bruto ( PDB) negara.

” Kita harus punya Big Data, riilnya tenaga Kerja yang bisa diserap oleh  sektor pariwisata itu berapa ?. Kita juga harus benahi data  investasi pada sektor pariwisata berapa,” kata ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia ini.

Segera benahi sektor pariwisata bersama BPS sehingga menjadi sektor mandiri yang tersendiri. Jadi tidak bergabung dengan sektor lain seperti yang berlaku selama ini sehingga sektor penghasil devisa ini bisa dikelola secara berkelanjutan, kata Azril

 

COVID-19, Jan Praba & Lukisan Kopi 

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.idWabah Covid-19 yang melanda dunia, dan anjuran para ulama serta umara untuk kita tetetap tinggal di rumah untuk waktu yang sudah ditentukan, nyatanya memang berdampak luas. 

Pelajar tak bisa pergi ke sekolah, pegawai tak bisa bisa ke kantor, tempat-tempat wisata ditutup, dan banyak rencana kerja yang sudah disiapkan matang terpaksa gagal dilaksanakan atau ditunda pengelenggaraannya. 

Dampak ini juga dirasakan oleh Jan Praba, seorang perupa di Jakarta dan Ketua Komunitas Pelukis Kopi Indonesia atau Coffee Painter Indonesia (CPI) yang juga mantan President Persatuan Kartunis Indonesia.

“Kami, 30 orang perupa yang tergabung dalam Komunitas, berencana menggelar pameran bertajuk ‘Coffee in CultureHeritage #2’ di Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan wisata Kota Tua Jakarta, dan sedianya diresmikan pada tanggal 21 Maret 2020,” ungkap Jan Praba yang juga aktivis Sanggar Lukis Garajas.

Tapi seperti kita ketahui, wabah Covid-19 melanda termasuk di sekujur wilayah Indonesia. Dan kita semua sepakat dengan anjuran para ulama/agamawan serta umara atau pemerintah untuk #saveStayHome, tinggal di rumah sambil terus bekerja.

Hal ini sebagai usaha memutus rantai penyebaran virus corona yang bisa menyerang siapa saja, tak peduli pejabat dan selebriti ataupun seniman yang tak punya gaji tetap. Maka, pameran pun gagal digelar. “Persisnya, kami tunda, menunggu hari baik untuk digelar lagi,” ucap Jan Praba, optimistis.

Sebagaimana yang pertama, pameran ‘Coffee in CultureHeritage #2’ digagas untuk mencatat serta mendokumentasikan peninggalan sejarah dan budaya yang ada dan berkembang di Indonesia. Untuk itu, Jan sudah menyiapkan dua buah lukisan dengan obyek sosok wayang Bima, satu dari lima persaudaraan Pandawa. 

Sebuah lukisan berukuran 75 x 120 Cm bertajuk Bersih – Tegas – Berani, sebuah lagi berukuran 75 x 150 Cm bertajuk “Two Version of Bima”. Yang menarik, sebagaimana juga karya lain yang kelak dipamerkan, kedua lukisan karya Jan  dilukis menggunakan media kopi. 

Pesona ampas minuman

Indonesia merupakan negara penghasil produk biji kopi terbesar keempat setelah Brazil, Vietman dan Kolombia. Dimana-mana orang suka ngopi. Bubuk kopi mudah didapat, bahkan di kampung-kampung di pinggir hutan dan gunung. 

Banyak pedagang asongan menawarkan kopi hangat di tempat-tempat keramaian ataupun taman kota, harganya segelas tak sampai Rp 5000. “Setelah kita teguk habis, ampasnya di dasar gelas bisa kita gunakan untuk melukis di atas kanvas,” ungkap Jan sederhana.

Melukis dengan menggunakan air dari ampas kopi bukan hal baru. Di luar negeri ataupun dalam negeri, sejak lama seniman melakukannya. “Tapi sebagai komunitas, saya kira…Coffee Painter Indonesia ( CPI) hadir sebagai yang pertama,” ungkap Jan Praba.

Dideklarasikan pada 1 Oktober 2018 bertepatan dengan International Coffee Day, Coffee Painter Indonesia sedikitnya telah menggelar tiga kali pameran di Jakarta, yakni pameran bertajuk Ekspresi Nuansa Kopi di Smesta Gallery pada November 2018, Coffee in CulturalHeritage di Museum Seni Rupa & Keramik pada 9 Februari 2019, dan Coffee in Hero di Museum Basoeki Abdullah pada bukan November 2019. 

Di luar itu, CPI juga bergiat di berbagai kegiatan. Kerap diminta untuk demo dan berekspresi di berbagai perayaan dan acara wisata, termasuk kegiatan ‘mengajar’ secara gratis kepada masyarakat, keluarga dan anak-anak ihwal bagaimana memanfaatkan bekas minuman kopi yang sudah habis diteguk ayah atau ibu, dan menjadikannya zat pewarna pengganti cat air atau watercolor berwarna sephia. 

Sama dengan cara melukis konvensional, yang menggunakan cat atau pinsil,  kapur warna serta potongan arang, melukis dengan media kopi amat mudah di lakukan. Tingal menyiapkan lembar media datar seperti kertas kwarto ataupun folio, atau kanvas bila sudah mulai mahir.

Kemudian bentuklah suatu gambar yang kita inginkan dengan menggunakan pewarna dari cairan kopi, bisa yang pekat ataupun agak encer dan encer sekali, tergantung nuansa gambar yang kita inginkan. 

Ujung kuas, atau batang lidi yang sudah dipenuhi cairan itu lantas disapu di atas kanvas yang ada. hingga muncul gambar yang kita inginkan. “Kami siap bila diminta untuk berbagi pengetahuan,” kata Jan. 

Karya berharga

Saat ini aktivitas melukis memang cenderung kita fahami sebagai kegiatan menggambar sesuatu di atas kertas atau kanvas, dengan pensil pewarna, tinta atau produk zat pewarna yang kita kenal sebagai cat. Padahal kita tahu, sejarah seni lukis lahir jauh sebelum masyarakat budaya menghasilkan tinta, pensil ataupun cat. 

Pada lempeng batu-baru atau dinding goa misalnya, para akreolog menemukan gambar-gambar hasil tangan-tangan manusia purba, yang mencoret atau menoreh gambar-gambar khas dari bahan lumpur ataupun cairan warna alamiah yang didapat di permukaan bumi di dekat situ.

Pada perkembangannya, kita juga tahu, orang lantas menggambar atau mendokumentasikan sesuatu bentuk di alam dengan menorehkan batu runcing atau arang kayu yang hitam legam, sampai kemudian ditemukan budaya sabak (batu tulis), kertas, pena bulu angsa, tinta, pensil warna-warni, lembar kain kanvas, dan juga ragam cat modern.

Namun ada hal yang tidak berobah, yakni seni menggambar atau melukis selalu menggunakan alat untuk melukis (pensil, pena, kuas atau tongkat lukis), media datar (juga cembung atau cekung) sebagai tempat untuk menggambar, serta cairan tertentu untuk menghadirkan gambar sesuai imaji dan fantasi artistik si pembuat gambar.

“Sekarang ini, siapapun yang ingin melukis, bisa dengan mudah membeli dan mendapatkan alat-alat lukis. Tapi tidak demikian dengan masyarakat di desa apalagi yang berkampung nun jauh di pinggir hutan dan gunung,” 

Cat khusus untuk melukis masih merupakan sesuatu yang susah didapat, disamping harganya yang relatif mahal. Pada situasi seperti ini maka kopi bisa menjadi alternatif baru untuk melukis.

Namun begitu Jan menegaskan bahwa penggunaan bubuk biji kopi sebagai dasar pewarna, tidak dimaksud untuk menggantikan fungsi cat. “Ada atau tidak ada gerakan melukis dengan kopi, cat atapun tinta akan tetap dicari dan digunakan orang untuk menggambar atau melukis,” katanya.

Sama dengan cara melukis menggunakan cat air, butuh teknik dan ketelatenan tersendiri untuk mahir memulas atau menutulkan warna pada kertas atau kanvas yang digunakan. Tapi semua itu bisa dipelajari. Lupakan dulu soal bakat, yang penting punya minat. 

Jika tak punya minat, mengerjakan apapun tak kan pernah berhasil. “Tak ada batasan umur. Anak-anak ataupun orang tua, asal bisa pegang kuas atau pensil, silakan menggambar dengan ampas kopi sekalipun,” lanjutnya sederhana.

Ngomong-ngomong berapa harga lukisan kopi dengan obyek Bima di atas? Jan Tak menjawab. Tapi beberapa bulan lalu, dalam sebuah ajang wisata di Jakarta, sebuah lukisan kopi karya Jan Praba bertema Semar, dijinjing pulang seorang kolektor ke negeri asalnya, setelah ‘menukar’nya dengan kocek Rp 20juta. 

 

Masyarakat Antusias Ikuti Gerakan Masker Kain

this formate

Mbak Angela Tanoesoedibjo, Wakil Menparekraf ( kedua dari kanan) membiasakan diri dengan memakai masker kain cegah penyebaran virus Covid 19.( foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:Masyarakat di berbagai wilayah di tanah air antusias dan merespon positif Gerakan Masker Kain yang diinisiasi untuk tujuan menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Kementerian Pariwisara dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ari Juliano Gema dalam pernyataanya di Jakarta, hari ini, mengatakan, masyarakat merespons positif gerakan masker kain.

“Respons tersebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang mengunggah foto menggunakan masker kain di laman sosial media mereka,” kata Ari.

Senada disampaikan Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf Josua Puji Mulia Simanjuntak yang mengapresiasi antusiasme masyarakat melalui laman media sosial terkait gerakan tersebut.

“Banyak yang merespons. Semua lapisan masyarakat dan para pelaku ekonomi kreatif juga merespons positif dan men-tag ke akun instagram @kemenparekraf dan akun Menparekraf @wishnutama,” kata Josua Puji Mulia Simanjuntak

Josua menjelaskan, penggunaan masker kain dianggap cukup memadai bagi mereka yang sehat. Maka dengan semakin banyaknya masyarakat menggunakan masker kain, ketersediaan masker medis akan cenderung mudah didapatkan oleh mereka yang lebih membutuhkan termasuk tenaga medis, pasien ODP, PDP, dan positif COVID-19.

“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplets di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan Work From Home dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” katanya.

Josua juga mengatakan, pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini mendorong semua orang memakai masker saat keluar rumah. Hal tersebut lantaran efek positif memakai masker dalam mencegah penyebaran virus Corona.

“Masyarakat terus diimbau, untuk tetap jaga kesehatan dengan menggunakan masker. Kami tentu melihat keadaan penggunaan masker, baik buatan sendiri maupun masker kain, di tingkat masyarakat dapat membantu mencegah penyebaran COVID-19” ujarnya.

Sebelumnya, Kemenparekraf juga mengajak para pelaku ekonomi kreatif khususnya desainer lokal untuk berpartisipasi dalam Gerakan Masker Kain.Gerakan ini bertekad bisa memproduksi 100.000 masker kain yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Gerakan tersebut diperuntukkan bagi para pelaku atau desainer lokal subsektor fesyen di Indonesia, diinisiasi dan dimotori oleh Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf.

Pentingnya Mengelola Work from Home Dengan Baik

this formate

Work from Home juga perlu dikelola waktu dan manajemennya dengan baik. (foto: hashmicro.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Apakah Anda mengelola tim yang bekerja dari rumah di berbagai zona waktu?  Dalam konteks peristiwa terkini di bawah tekanan wabah pandemi global Covid-19,  semua anggota tim menghadapi situasi yang sama, tapi keadaan setiap orang berbeda.  

Agar kebijakan Work from Home (WfH) berjalan lancar, Robert Kostecki, Group Manager for the Six Senses host-run Mission Wellness initiative dari jaringan hotel Six Sense Hotels Resorts Spa memberikan 6 tips agar Anda bisa memimpin jarak jauh dengan sepenuh hati dan punya perhatian besar pasa tim.

Sebagai manajer tim yang hebat, Anda mungkin telah memahami semua ini, tetapi mengapa tidak menandai sebagai  pengingat bagaimana memimpin dengan perhatian dan empati yang lebih serta berlatih untuk mengasihani diri sendiri juga ?. 

Meski berjauhan dan bekerja di tempat masing-masing kelola semangat tim Anda dengan rasa empati yang tulus. Berempati adalah sifat penting bagi pemimpin manapun, baik di kantor fisik maupun pojok kerja anggota tim. Para pemimpin perlu menyadari bahwa pojok kerja mereka itu membutuhkan lebih banyak empati karena kurangnya kedekatan fisik.

Misalnya, hanya karena salah satu anggota tim  tidak menjawab telepon Anda pada dering pertama, tidak berarti mereka tidak bekerja.  Komunikasi elektronik seringkali lebih ambigu daripada komunikasi tatap muka karena begitu banyak cara kita berkomunikasi terjadi dengan bahasa tubuh dan mata kita.  

Hal Ini dapat menyebabkan para pemimpin salah menafsirkan komunikasi digital seperti email dan WhatsApp.  Pemimpin yang mengenali hal ini dan mempraktikkan empati dan kesabaran, malah melompat ke kesimpulan lain tentang nada atau niat seseorang membantu menumbuhkan lingkungan kepercayaan, keterbukaan, dan peningkatan kinerja.

Komunikasi teratur

WfH  dapat membuat anggota tim merasa terputus dari pimpinan, kolega, dan dari apa yang terjadi di perusahaan.  Para pemimpin tim jarak jauh perlu mengatasi hal ini dengan komunikasi teratur, menjaga agar kolega terlibat, terhubung dan mendapat informasi yang mengarah pada kualitas kerja dan peningkatan produktivitas yang lebih baik. 

Cari peluang untuk membuat banyak titik kontak sepanjang minggu dengan cara yang bekerja untuk semua orang. Buat juga persyaratan sehingga harapan menjadi jelas. Gunanya untuk menghindari kesalahpahaman dan asumsi.  Ini hal yang umum bahkan dalam tim hebat dapat diperkuat ketika orang bekerja dari jarak jauh. 

Bersikap hati-hati akan membuat persyaratan dan harapan Anda jelas, dan dorong tim untuk merangkum pemahaman mereka, mengajukan pertanyaan atau mencari kejelasan.  

Setelah setuju dan jadwalkan check-in reguler untuk bertukar pikiran baru, meninjau kemajuan (atau mengubah arah atau prioritas) dan memastikan pekerja jarak jauh selalu up-to-speed pada setiap keputusan atau tindakan yang mungkin berdampak pada pekerjaan mereka.  

Intinya membangun dialog yang berkelanjutan akan mencegah kesalahan besar di kemudian hari. Tapi  juga harus mendorong tim untuk mengomunikasikan kebutuhan atau pertanyaan mereka sehingga mereka dapat tetap pada tugas dan memenuhi komitmen mereka.

 Bersikap  fleksibel

Meskipun mungkin terdengar kontra-intuitif, kerja jarak jauh mengarah pada peningkatan produktivitas jika rekan kerja didukung untuk menemukan ritme dan rutinitas yang sesuai untuk mereka.  

Beberapa orang bekerja paling baik dengan bangun pagi.  Lainnya merasa efektif bekerja antara jam 19.00 hingga 23.00 malam dan polanya mungkin bukan pola Anda.  Biarkan tim Anda memaksimalkan jadwal mereka sendiri di sekitar pekerjaan dan percaya mereka untuk melakukannya.

Soalnya  jika Anda terus-menerus khawatir tentang apakah anggota tim menjadi produktif, ada masalah kepercayaan yang lebih besar yang perlu diatasi dalam diri Anda sendiri.

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi tim jarak jauh adalah kurangnya kepercayaan.  Jika Anda ingin membangun tim berkinerja tinggi berdasarkan rasa saling percaya dan saling menghormati, pilihannya terserah Anda apakah mau menjadi panutan ?.

Hal yang perlu dipertimbangkan bisakah tim Anda mengandalkan Anda untuk terbuka dan transparan? Apakah umpan balik Anda menunjukkan rasa hormat kepada orang lain?

Apakah Anda menunjukkan etos kerja yang mirip dengan apa yang Anda minta dari tim Anda? Jika tim Anda tidak merasa percayai pada bos sendiri dan Anda tidak memperhatikan kepentingan terbaik mereka, motivasi, komitmen maka produktivitas mereka akan menukik.

Para pemimpin memainkan peran penting dalam memastikan tim mereka memiliki keseimbangan kehidupan kerja dan jangan merasa mereka harus siap sepanjang waktu.  Dorong kolega Anda untuk mengatur jam kerja yang sesuai dengan istirahat dan dipatuhi.

Luangkan waktu untuk memeriksa bagaimana perasaan tim Anda dan juga bagaimana kemajuan pekerjaan mereka, dan cari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan saat bekerja dari rumah. Semua itu harys dilakukan dengan penuh perhatian dan empati. Mudah bukan ?.

 

 

 

 

Singapura Tutup Sebagian Usaha dan Mulai Liburkan Sekolah  

this formate

Pemandangan kota Singapura yang mulai menerapkan kebijakan lebih ketat atasi wabah Corona ( Foto: ttgasia.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mulai Selasa, 7 April 2020, Singapura akan menutup sementara tempat bisnis yang tidak penting selama setidaknya satu bulan akibat jumlah total kasus virus corona di negara ini meningkat dan sudah melewati angka seribuan lebih, kata Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura.

“Layanan penting yang akan tetap dibuka adalah usaha makanan, pasar tradisional dan supermarket, klinik dan rumah sakit, utilitas, transportasi dan perbankan. Semua tempat kerja lain harus ditutup, kata Lee, ” seperti dikutip www.ttgasia.com

Usaha lain yang juga diizinkan untuk tetap terbuka adalah bisnis di sektor ekonomi utama, termasuk bagian dari rantai pasokan global, selama karyawannya pergi bekerja dengan langkah-langkah menjaga jarak yang aman. Pihaknya mendorong karyawan bekerja dari rumah dan memanfaatkan telekomunikasi saja sebisa mungkin.

Pemerintah Singapura juga  akan “membuat pengaturan untuk menjaga” pekerja asing yang tidak akan dapat bekerja, tambahnya. Hal ini mengingat banyak perusahaan dan organisasi dunia yang bermarkas di Singapura sebagai lokasi terbaik di dunia untuk pendatang (ekspatriat)

Dukungan lebih lanjut untuk bisnis dan rumah tangga akan diumumkan pada hari ini  di sesi parlemen oleh Wakil Perdana Menteri Heng Swee Kiat, termasuk undang-undang baru yang mengamanatkan tuan tanah menyerahkan potongan pajak properti secara penuh kepada penyewa, serta bantuan dari kewajiban kontrak tertentu untuk bisnis  dan individu.

 “Jita lihat perkembangannya kecuali jika kita mengambil langkah-langkah lebih lanjut, keadaan akan berangsur-angsur menjadi lebih buruk atau kelompok besar lainnya akan mendorong segalanya,” jelas Lee.

Untuk mencegah peningkatan infeksi, pemerintah akan menerapkan langkah-langkah yang lebih keras secara signifikan untuk membantu mengurangi risiko wabah besar yang terjadi, dan juga membantu secara bertahap menurunkan jumlah kasus, tambahnya.

Menurut dia, langkah-langkah ketat ini diberlakukan setelah berdiskusi dengan gugus tugas multi-kementerian Singapura. Diharapkan pada akhirnya hasilnya dapat membantu memperbaiki situasi yang akan mengarah pada kebijakan lebih longgar.

Data terakhir, kemarin,  Singapura telah melaporkan total 1.309 kasus dengan enam kematian akibat virus corona. Kantor berita Antara melaporkan ada 120 kasus baru virus corona pada hari Minggu, kemarin dan sejauh ini merupakan peningkatan tertinggi dalam sehari, dan Singapura mengkarantina hampir 10 ribu pekerja migran di dalam asrama mereka.

Dari total kasus baru yang tercatat pada Minggu, 116 kasus diantaranya ditularkan secara lokal dan banyak lainnya terkait dengan dua asrama yang ditinggali para pekerja migran—yang saat ini harus berada di dalam kamar-kamar mereka selama 14 hari.

Lonjakan kasus terjadi dua hari sebelum Singapura mulai menutup sekolah dan sebagian besar tempat kerja selama sebulan sebagai bagian dari pembatasan ketat untuk memerangi penyakit COVID-19.

Siti Tus Wulan,  asal Indonesia mengatakan dua putri majikannya mulai libur sekolah 7 April hingga 4 Mei 2020. Meskipun di Indonesia sudah lebih dulu meliburkan para pelajar dan karyawan, langkah pemerintah Singapura sangat tepat dengan kebijakan lebih ketat untuk melindungi warganya.

” Ibu rumah tangga umumnya tenang karena masyarakatnya di sini lebih disiplih dengan himbauan pemerintahnya. Para guru juga sudah membekali orang tua dengan perubahan tingkah laku anak-anak yang mungkin akan terjadi karena harus berdiam diri dalam rumah,” katanya.

Pesan guru a.l adalah anak-anak sama takutnya dengan orang dewasa saat ini.  Anak-anak kita tidak hanya dapat mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka, tetapi mereka juga merasakan ketegangan dan kecemasan, ungkapnya.

Para orangtua diingatkan bahwa mereka belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.  Walaupun gagasan tidak bersekolah selama 4 minggu kedengarannya hebat, mereka mungkin membayangkan saat yang menyenangkan seperti liburan musim panas, bukan kenyataan terjebak di rumah dan tidak melihat teman-teman mereka.

” Orangtua diingatkan juga bahwa yang dibutuhkan anak-anak saat ini adalah merasa dihibur dan dicintai.  Merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan itu bisa berarti orangtua juga tidak bisa terlalu ketat dengan jadwal tugas mereka dan lebih fleksibel,” tambahnya.

 

#dirumahaja, Yuk Jadual Ulang Penerbangan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id;  MEMASUKI bulan Februari 2020, industri perjalanan wisata dunia mulai terdampak pandemik COVID-19. Pembatasan dilakukan sejumlah negara untuk kedatangan mau pun sekadar transit moda angkutan udara. Akibatnya jutaan traveler stranded di luar negaranya. Ratusan penerbangan evakuasi pun dilakukan pemerintah untuk membawa pulang warganegaranya. Dan satu pesatu perusahaan jasa angkutan udara memarkir armadanya.

Situasi dunia menyebabkan penerbangan Anda dibatalkan, atau Anda perlu membatalkan perjalanan? Bagimana dengan tiket yang sudah ditangan atau paket wisata yang sudah dibeli lunas? Sementara maskapai penerbangan, dalam posisi keuangan yang berbahaya. Pasalnya penggunaan seat perpesawat makin minim, selain makin terbatasnya negara- negara tujuan yang masih membuka bandaranya . Umumnya menejemen jasa angkutan udara  mengarahkan sebanyak mungkin pelanggan mengganti tiket dengan  voucher untuk perjalanan di kemudian hari. Berusaha serendah mungkin mengeluarkan dana segar untuk refund tiket. Anda sebagai konsumen, masih bisa menaruh kepercayaan bahwa, airlines tersebut masih bertahan pasca pandemic COVID-19?

Dok.ist

Bisa jadi Anda kesal, sudah di rumahkan, tidak dapat melakukan perjalanan pulang kampung karena penerbangannya tidak beroperasi. Dan Anda tidak sendiri, ribuan traveler, pebisnis, mahasiswa yang harus menghentikan kegiatannya karena pandemic COVID-19.

Yang terbeban berat adalah biro perjalanan wisata, ungkap Ketua DPD ASITA NTT, Abed Frans. BPW dituntut konsumen mengembalikan harga paket yang telah dibeli, sementara airlines tidak pernah memberikan kebijakan 100 persen refund untuk tiket perjalanan, perlu waktu tunggu. DP yang telah dibayarkan ke hotel, restoran, ke perusahaan jasa angkutan darat apakah mudah dicairkan, paparnya dengan nada bertanya.

“Merumahkan karyawan, kebijakan yang meringankan semua pihak”, jelas Abed lebih lanjut. Tentu dengan tetap menyimak kebijakan- kebijakan pemerintah terkait tanggap COVID-19, melihat kemungkinan bantuan- bantuan yang dapat dimanfaatkan untuk meringankan beban perusahaan mau pun karyawan.

Suspend

Masih terkait hal  tiket penerbangan yang tak terpakai, baik karena penerbangannya yang menghentikan layanannya mau pun kehendak sendiri. Pengalaman menunjukkan, setiap operator jasa angkutan udara memiliki kebijakan masing- masing. Singapore Airlines misalnya, menetapkan kebijakan refund tiket, pengalihan waktu terbang yang berbeda dengan kebijakan Lion Group. Atau AirAsia Indonesia yang baru saja menghentikan untuk sementara semua penerbangan domestik sampai 21 April dan internasional hingga 17 Mei 2020.

Penghentian penerbangan sementara, merupakan langkah yang sangat sulit, namun hal terbaik dilakukan di tengah situasi perkembangan COVID-19. Berharap langkah ini dapat membantu upaya pemerintah untuk membatasi pergerakan orang, sehingga mengurangi tingkat penyebarannya, aku Direktur Utama AirAsia Indonesia, Veranita Yosephine Sinaga. AirAsia — menurut surel yang dikirim ke bisniswisata.co.id — berkomitmen untuk memudahkan proses pengubahan jadwal penerbangan sampai dengan 31 Oktober 2020 sehingga dapat membantu masyarakat.  

Catat baik- baik. Bagi penumpang yang telah memesan tiket melalui aplikasi AirAsia, kemudian penerbangannya dibatalkan oleh AirAsia sehubungan dengan COVID-19, silakan mengikuti langkah mudah untuk mengajukan pengubahan jadwal menggunakan fasilitas layanan pelanggan virtual AVA.

Jika Anda memesan melalui layanan group booking, agen perjalanan, online travel agent, atau pihak ketiga lainnya, silakan menghubunginya untuk membantu Anda. 

Sebelum Anda mengajukan pindah jadwal di AVA, AirAsia menyarankan Anda untuk mencatat beberapa hal berikut ini terlebih dahulu:

  1. Nomor pemesanan atau kode booking, yaitu 6 digit huruf dan/ atau angka yang tertera di tiket, misalnya DXGH6J.
  2. Jadwal penerbangan yang tertera di tiket yaitu: nomor penerbangan, asal, tujuan, tanggal keberangkatan.
  3. Nama lengkap penumpang; pastikan nama depan dan nama belakang persis sebagaimana yang tertulis di tiket.
  4. Jadwal penerbangan pergi dan pulang yang diinginkan yaitu nomor penerbangan dan tanggal penerbangan, misalnya QZ234 tanggal 31 Agustus 2020. Pastikan jadwal penerbangan yang Anda inginkan tersedia dengan mengecek,di airasia.com.
  5. Email yang digunakan pada saat pemesanan tiket dan nomor telepon Anda.

Anda juga diharapkan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Ubah jadwal dapat dilakukan hingga 48 jam sebelum jadwal penerbangan baru. Jika penerbangan Anda dibatalkan karena COVID-19, meskipun penerbangan yang dibatalkan telah lewat, Anda masih bisa mengajukan pengubahan jadwal melalui AVA.
  2. Ubah jadwal bebas biaya dan dapat dilakukan lebih dari sekali, bergantung pada ketersediaan kursi.
  3. Percakapan di AVA bersifat berkesinambungan, dan dapat terputus jika koneksi internet terganggu atau halaman percakapan dimuat ulang (refresh). 
  4. Saat ini AVA sedang dalam proses pembelajaran, silakan jawab dengan singkat sesuai yang ditanyakan, dan tidak harus dalam kalimat lengkap.
  5. Kesesuaian informasi yang Anda masukkan di AVA dengan yang tertera di tiket akan menentukan tingkat keberhasilan proses. Pastikan nama depan, nama belakang, tanggal lahir dan email sudah sesuai informasi yang dimasukkan saat pemesanan tiket. 
  6. Sistem AVA sedang menangani peningkatan jumlah permintaan hingga 10 kali lipat, Jika jadwal penerbangan Anda masih lebih dari 14 hari lagi, mohon kerja samanya karena sistem kami akan memprioritaskan menangani calon penumpang dengan jadwal keberangkatan lebih awal.
  7. Jika Anda memiliki penerbangan lebih dari satu sektor (penerbangan Jakarta – Bali PP dihitung 2 sektor, penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur – Osaka PP dihitung 4 sektor), Anda dapat mengubah jadwal satu per satu.

Nah, coba lihat tiket Anda, buka website operatornya, dengan tenang buka satu persatu folder layanannya. Jika telah ditemukan layanan yangdiperlukan simak baik- baik sebelum melakukan perubahan. Saran bisniswisata, untuk sementara mari dirumah saja, liburannya nanti saat pandemik COVID-19 sudah berlalu. *

Ketika Senior Citizen Menggali Kenangan Wisata dan Tingkatkan Kekebalan Tubuh

this formate

Endang Sungkowati dan keluarga di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur  ( foto: Dok. Pribadi) 

JAKARTA, bisniswisata.co.id; Meskipun tidak bisa naik pesawat untuk mencapai tujuan wisata yang diinginkan atau berdiri di tepi pantai yang cerah, kita masih bisa “berpetualang” untuk meningkatkan suasana hati, meningkatkan hormon bahagia yang mendukung fungsi kekebalan tubuh.

Caranya dengan mulai mengingat kenangan sederhana ketika menghabiskan waktu berlibur berdua saja dengan pasangan hidup atau dengan anak dan cucu daripada terus menerus membanjiri pikiran dengan informasi akibat wabah pandemi Covid-19 yang bisa menimbulkan ketakutan.

Luangkan waktu menikmati sensasi, kegembiraan, kesenangan dan tawa karena pengalaman-pengalaman berwisata belum hilang.  Mereka hidup di dalam diri dan tidak ada yang menghentikan untuk mengaksesnya kapanpun jika ingin menemukan saat-saat yang menyenangkan dan tenang.

Patuh mengikuti protokol kesehatan dan seruan pemerintah untuk tetap di rumah, berwisata kemudian ( Stay at home, Traveling Tomorrow ),  merupakan pilihan yang tepat apalagi bagi senior citizen berusia di atas 60 tahun yang rentan terhadap serangan wabah global ini.

Bisniswisata mengajak empat nara sumber untuk meluangkan waktu sejenak dengan membongkar kenangan liburan favorit dan tempat yang nantinya ingin mereka kunjungi. Berikut penjelasannya.

Endang Sungkowati

Ibu satu anak yang memiliki usaha toko bahan-bahan kue dan kursus membuat kue ini mengaku sekeluarga senang berwisata. Setiap kali ada kesempatan, putrinya, Mondya Purnasepta Ning Wulan akan browsing mencari ulasan obyek wisata menarik.

“Biasanya saya pilih ke tempat yang sudah direkomendasikan banyak teman seperti Raja Empat, Papua. Meski harus jalan kaki dan naik tangga asal medannya tidak terlalu berat akan saya jalani untuk mendapatkan foto pemandangan yang indah,” kata Endang 

Pemandangan alam didominasi warna hijau dedaunan dan udara yang bersih menjadi tujuan wisatanya sekaligus mengagumi semua ciptaan Allah SWT. Perjalanan wisata sekaligus untuk mengisi batin,  lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.

Lagi pula, kata Endang, bagi mereka yang biasa terjebak rutinitas, kemacetan dan polusi ibukota maka kembali ke alam adalah penyeimbang yang tepat, disamping menambah pengalaman dengan mengeksplore daerah-daerah baru.

Bersama suaminya, Sutrisno Hartowiyono, destinasi wisata yang dituju akan dibahas bersama. Biasanya Mondya jika mendengar dari temannya ada tempat bagus maka langsung dia browsing dan direkomendasikan pada orangtuanya.

“Sejauh ini antara kemauan anak dan bapaknya juga saya sendiri klop sehingga Mondya dengan mahirnya akan melakukan pemesanan tiket penerbangan, akomodasi, pesan mobil rental lewat online travel agent ( OTA),”

Dia juga tidak keberatan jika putrinya semata wayang yang sudah bekerja dan bersikap mandiri pergi berwisata dengan sahabat wanita atau cewek-cewek teman kantor untuk berwisata bersama komunitas. Hall ini mengingat  karena wisata sudah menjadi bagian gaya hidup dengan memanfaatkan tabungan sendiri.

” Rencananya tahun ini memang mau ke Inggris karena sekarang lebih religius, banyak Muslim dan makanan halal. Jadi bersama Mondya yang suka bawa mobil sendiri, kita  bisa mengeksplore banyak kota di sana,” kata Endang.

Meski  anak sudah membeli tiket murah dengan maskapai yang sudah dikenal reputasinya, namun rencana berangkat di kwartal ke tiga tahun ini tetap harus menunggu perkembangan wabah virus hilang dulu, tambahnya.

Herdjadiono 

Penggemar olahraga renang dan motor gede ini tergolong YOLD, kependekan dari “Young Old”, sebutan bagi mereka yang berusia antara 65 dan 75 tahun tapi  masih memiliki karakteristik anak muda. Kakek berusia 76 tahun yang memiliki dua anak dan 7 cucu ini kerap berwisata bersama keluarga besarnya di dalam dan luar negri.

  Herdjadiono dan keluarga saat berwisata ke Jepang dan Melbourne.     ( foto: dok.pribadi)

Bagi Herdja, panggilannya sehari-hari, seiring dengan usia maka pilihan wisatanya sekarang menghindari naik turun tangga dan jalan kaki yang terlalu jauh. istrinya  yang memiliki usaha salon Itje Her Salon di kawasan Cipete juga sudah hafal dia tidak mau naik kendaraan yang bersesakan dan terlalu lama di jalan.

” Sekarang lebih suka pergi berwisata yang tidak terlalu jauh misalnya kulineran ke Bandung dan ke tempat-tempat wisata di alam terbuka yang nyaman dan udaranya segar,” 

Di rumahnya di daerah Cilandak Tengah, banyak foto kenangan saat berwisata bersama anak, cucu, menantu baik di dalam dan luar negri. Herdja senang melihat foto-foto kompak mulai dari kostum dan gaya yang diatur sehingga sedap dipandang.

Untuk tujuan wisata biasanya peran anak dan cucu yang dominan dalam menentukan. Herdja dan Itje tinggal mengikuti kemauan mereka yang penting kompak dan dia tidak perlu diminta membawa koper sendiri terutama saat berwisata di luar negri.

” Sebenarnya liburan mendatang kami mau ke Bali dan sudah beli tiket pesawat, booking hotel, kendaraan dan lainnya tapi karena ada wabah penyakit maka perginya di tunda dulu deh,”

Magdalena Soeprapto Balcet

Saat akan melakukan perjalanan wisata  dan menyiapkan koper, Magdalena yang biasa disapa Lena nomer satu mempersiapkan obat-obatan untuk pertolongan pertama disamping memilih sepatu dan baju yang nyaman dipakai traveling. Dia juga menyertakan catatan nomer telpon yang bisa dihubungi  dalam keadaan darurat.

Maklum wanita yang menikah dengan pria berkebangsaan Perancis ini dua anaknya hidup di dua benua yaitu di Perancis dan di Amerika. Suaminya, Jean-Claude Balcet adalah Agricultural economist di World Bank  yang juga kerap berpergian sehingga Lena harus solo traveling untuk bergabung dengan anak dan cucunya.

Searah jarum jam, Lena ( kedua kanan) berssma anak, cucu, menantu ( foto: dok.pribadi)

” Kami tetap berwisata bersama, kumpul di Kuala Lumpur seperti yang kami lakukan belum lama ini. Kalau pilihan tempat wisata dan di suruh memilih saya lebih suka  back to nature seperti hiking atau ke daerah yang belum banyak di kunjungi orang,” 

Momen berwisata menjadi waktu yang penting bagi keluarganya untuk bonding, melepas rasa rindu karena terpisah jarak yang jauh. Oleh karena itu untuk kegiatan wisata keluarga dia memberikan keleluasan pada cucu-cucu untuk memilih tujuan wisata yang mereka inginkan.

Maklum salah satu dari 4 cucunya, Carla Wafa Kobeissi yang berusia 19 tahun suka sekali berwisata a.l sudah mengunjungi AS, Swiss, Pantai Gading, Mesir, Lebanon, Turki, UAE, Jepang, Singapura, Malaysia disamping Indonesia. 

” Carla suka berwisata di Indonesia bahkan sedang mencari tempat magang kerja 2 bulan untuk melengkapi tugas kuliahnya di universitas Sorbone, Paris. Namun belum terlaksana karena adanya pandemi virus global ini,” jelasnya.

Menyerahkan pilihan destinasi wisata pada cucu menjadi tantangan sendiri buat Lena apakah masih bisa mengikuti kecepatan langkah mereka. Maklum empat orang cucunya ini orangtuanya juga bule.

“Apabila wabah ini semua berakhir, saya utamakan terlebih dahulu kumpul ber sama keluarga dan meminta pendapat masing-masing  dari anak dan cucu-cucu apa yang mereka dapati pelajaran dari krisis ini dan hikmahnya bagi mereka,”

Meskipun tekhnologi sekarang tiap hari memungkinkannya bertemu secara virtual dengan mereka namun kesempatan kumpul bareng tidak bisa tergantikan. 

“Saya sendiri akan memberi pendapat saya buat argumentasi yang insya Allah lebih positif karena ingin anak, cucu dan mantu memahami secara spiritual apa yang Allah ingin sampaikan lewat wabah ini,” ungkap Lena.

Setelah wabah Corona hilang dimuka bumi, Lena akan meminta anak cucu untuk memilih tempat rekreasi ke tepi pantai dan camping bersama beberapa malam sehingga setelah berdiskusi panjang tentang kebesaran Tuhan mereka bisa merasakan tinggal beratap langit, mengagumi keagungan Sang Pencipta, tambahnya.

Purwanti Wiyogo

Pemandangan alam seperti sawah dan gunung sudah mampu memuaskan kegiatan wisata Purwanti Wiyogo yang biasa dipanggil Titie.” Kami memilih destinasi wisata dengan view indah, hotel nyaman dan aman serta  banyak tempat kuliner enak disekitarnya,”

Kenangan berwisata keluarga Purwanti Wiyogo bersama alm suami. ( foto: dok pribadi)

Saat anggota keluarga masih lengkap, almarhum suami meski memakai kursi roda tetap senang berwisata sehingga pilihan hotel dan obyek wisata adalah yang mudah dicapai. Tujuan wisatanya yang sering dikunjungi terutama Bali. Selain tujuan  favorit keluarga, Bali selalu ada tempat-tempat baru.

” Berwisata ke Bangka,  Belitung, Bandung, Jogya, Solo, Malang juga sering kami lakukan sehingga menjadi familiar. Keunggulannya juga setiap datang ada saja obyek wisata yang baru,” kata Titie.

Usulan datang dari anak cucu karena mereka yang mengurus transportasi,  hotel dan lainnya. Keputusan tergantung kondisi kesehatan alm suami, disamping ada kebiasaan sambil berwisata juga bersilaturahmi dengan saudara yang menyebar di berbagai daerah atau juga sekalian berziarah ke makam leluhur.

Meski pandemi global ini awalnya dari kota Wuhan, China. Titie tetap masih ingin mengunjungi obyek wisata di  Tiongkok suatu hari nanti setelah badai virus menghilang.

“Saya  masih ingin tamasya ke China menyusuri lagi Sungai Yang Tse Kiang dengan  river cruise yang tidak begitu besar sehingga sepanjang perjalanan dari pagi sampai senja disuguhi pemandangan  spectaculair, ” katanya mengenang.

Nenek usia 78 tahun yang memiliki 4 anak dan empat cucu ini juga masih punya pilihan pergi berwisata sungai, menyusuri Sungai Danube yang  dijuluki transboundary river karena melintasi tidak kurang dari 14 negara di Eropa. 

“Ingin menyusuri sungai Danube mulai dari Austria dan bisa singgah di kota-kota yang dilewatinya hingga Hongaria. Awalnya berada di Jerman di Hutan Hitam (Schwarzwald). Panjang sungai ini adalah sekitar 2.850 km,” katanya berharap.

Dia optimistis wabah pandemik global ini akan segera berlalu sehingga setelah sekian lama berdiam diri di rumah masyarakat akan membutuhkan kegiatan terutama untuk seusianya berwisata bersama komunitas. 

Yuk Intip Aktivitas Online Six Senses Hotels Resorts Spas Di Tengah Pandemi Global.

this formate

Panduan online dari jaringan hotel internasional Six Sense Hotel agar masyarakat tetap sehat dan semangat  selama karantina di rumah. ( foto: Sixsense.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pandemi corona COVID-19 yang melanda Indonesia membawa dampak serius bagi dunia perhotelan. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia ( PHRI) sebanyak 1.139 hotel di Tanah Air tutup sejak 1 April 2020.

Hotel tutup bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahkan hampir semua usaha yang bergerak di industri pariwisata termasuk penerbangan ( airline) dan cruise terpukul telak akibat wabah yang tiba-tiba datang menyerang dan tidak lazim ini.

Beberapa minggu terakhir masyarakat di banyak negara harus menerapkan physical distancing demi mencegah penyebaran virus corona Covid-19 dan mereka diimbau untuk tetap di rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah.

Kondisi ini bukan berarti hotel menghentikan segala aktivitasnya pula karena tidak ada tamu yang datang. Yuk simak aktivitas Six Senses Hotels Resorts Spas di tengah pandemi global ini yang disebarkannya melalui FB Live dan media sosial lainnya secara online untuk para pelanggannya dan masyarakat umum.

“Untuk saat ini, Anda mungkin tidak dapat datang dan melihat kami.  Itulah sebabnya ahli kesehatan kami di seluruh dunia siap membantu tetap seimbang di rumah melalui program online, ” tulis manajemen jaringan hotel internasional ini dari https://www.sixsenses.com dan banyak panduan yang bisa diterapkan di rumah.

Panduan yang diberikan misalnya mencoba resep makanan dan minuman. Masak sendiri untuk membuat makanan sehat, beryoga dan meditasi, tidur cukup, berkebun, baca buku bahkan kiat-kiat bagaimana bekerja dari rumah dengan cara-cara yang efektif dan efisien.

Jaringan hotel yang  peka dengan budaya lokal dan selaras dengan dunia yang lebih luas ini berharap cara-cara yang dilakukan bisa berkontribusi besar untuk membuat terus berfikir positif dan tetap aktif bergerak meskipun  harus tetap tinggal di rumah.

Mengelola 20 Hotels & Resorts di kawasan Asia & Pacific, Eropa, Timur Tengah, dua properti dengan brand Evason Resort dan 13 hotel dengan brand Six Senses Spa. Di Indonesia, jaringan hotel ini hadir di  Bali yaitu Six Sense Uluwatu.

Six Senses Hotels Resorts Spas mengeluarkan program online terkait kebugaran. Pasalnya, aktivitas spa atau meditasi di alam terbuka sedang tak dapat dilakukan. At Home With Six Senses menampilkan panduan yoga untuk dewasa dan anak-anak.

Mengapa anak-anak perlu diperkenalkan dengan yoga yang simpel ? karena gaya hidup sehari-hari sebelum ada wabah virus Corona mendunia ini, masyarakat terbiasa dalam gaya hidup “tergesa-gesa”. Tergesa-gesa sarapan, masuk sekolah, bekerja, menghadiri acara, pertemuan penting dan beragam aktivitas lainnya.

Baik anak-anak maupun anggota keluarga lainnya membutuhkan yoga untuk “memperlambat” sebanyak mungkin bisa dilakukan sehingga menjadi cara yang bagus untuk membantu hidup normal yang baru di rumah sebagai suatu keluarga

“Dalam masa-masa yang sulit ini dan sebagai perusahaan yang digerakkan oleh kesehatan. Kami merasa bahwa, paling tidak, kami dapat berbagi dengan tamu, mitra dagang, dan menyelenggarakan modul sehat yang mencakup semua aspek kesejahteraan hidup sehari- hari, ” kata CEO Six Senses Neil Jacobs.

Neil juga memaparkan jika ia senang dengan kemungkinan dan bagaimana hotelnya dapat melakukan tindakan kecil untuk ikut menciptakan beberapa hal baik serta membawa kebiasaan baik bagi masyarakat.

Seperti apa progamnya tersebut? Dalam At Home With Six Senses akan menghadirkan beragam progam kebugaran berupa artikel seperti panduan untuk bekerja dari rumah, tutorial video, resep, latihan, dan banyak lagi. Progam baru ini bisa dilihat di sixsenses.com dan melalui buletin resort serta media sosial resmi mereka.

Menurut Neil Jacobs, ketika industri perhotelan menjadi lebih kompetitif, pihaknya bekerja dengan hadiah, maksudnya para tamu mencari pengalaman yang luar biasa dan bukan hanya produk yang hebat yaitu dengan membangkitkan kembali semua indera manusia. 

“Properti kami berbaur dengan kontur lanskap alam, menggabungkan elemen budaya dan desain lokal.  Fokusnya adalah menciptakan ruang dan struktur penyembuhan, di mana setiap detail dengan cermat mempertimbangkan indera holistik untuk memberikan keseimbangan dan harmoni, “jelasnya.

 

Puluhan Hotel di Yogyakarta Sematkan “Tanda Cinta” untuk JOGJA ISTIMEWA

this formate

Lampu Tanda Cinta bersinar di Hotel The Rich Jogjakarta sebagai aksi solidaritas terhadap kondisi pariwisata yang terkena dampak pandemi Covid-19. 

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebuah aksi solidaritas bertajuk “From Jogja With Love“, kepedulian terhadap kondisi pariwisata Yogyakarta akhir-akhir ini dari para penggiat dunia perhotelan Yogyakarta berlangsung di destinasi wisata ke dua setelah Bali ini.

Selama ini, Yogyakarta dikenal dengan daya tarik wisata sejarah, simbol keagungan budaya Jawa dan menjadi kota unik, yang selalu dirindukan untuk dikunjungi wisatawan domestik hingga mancanegara. Dunia perhotelan dan pariwisata merupakan sebuah kesatuan dan telah menjadi nafas sektor mata pencaharian utama dari kebanyakan masyarakatnya. 

Aksi ini diprakarsai dan dilakukan secara sukarela serta spontanitas oleh para General Manager Hotel di Jogja, melibatkan lebih dari 58 hotel dari berbagai perwakilan wilayah di Jogjakarta. Angka tersebut telah mencapai sekurangnya seperempat dari 200-an hotel di Yogyakarta.

Aksi solidaritas dari hotel-hotel di Yogyakarta ini berupa sinyal tanda cinta yang dilakukan dengan menyalakan beberapa lampu kamar hotel atau lampu hiasan pada masing-masing hotel hingga membuat bentuk hati/cinta. Aksi ini secara serempak dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2020 mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Aksi ini membawa misi sebagai simbol empati, semangat kebersamaan, dan harapan agar pariwisata Yogyakarta dapat segera kembali menapaki babak baru yang semakin gemilang.

 Jogja itu unik dan otentik, sehingga ini yang mengilhami kami sebagai salah satu komponen dunia pariwisata untuk melakukan sebuah gerakan bersama yang vokal dan positif, dengan harapan untuk mengakselerasi optimisme para pelaku dan pegiat pariwisata, utamanya dari dunia perhotelan dan menggairahkan kembali roda pariwisata Jogja.” tutur Novi Soesanto, koordinator aksi yang juga mewakili seluruh hotel di Yogyakarta.

Beberapa hotel di kota dan negara lain memang telah melakukan hal yang sama, dengan menyematkan tanda hati pada bangunannya, namun di Jogjakarta dilakukan dengan cara berbeda, yaitu secara serempak selama satu atau dua jam pada Sabtu 04 April 2020. 

Adapun para General Manager hotel yang bersatu menginisiasi aksi ini sepakat melanjutkan menyalakan tanda hati dari Yogyakarta ini hingga periode yang tidak ditentukan sesuai kebijakan masing-masing hotel. 

Artinya bahwa kebersamaan dan semangat ini akan menguatkan seluruh pekerja hotel dalam situasi yang tak menentu saat ini, sekaligus mewujudkan kebanggan sebagai bagian dari penggerak utama roda ekonomi Yogyakarta, yaitu pariwisata.

Geliat pariwisata Yogyakarta diharapkan akan segera tumbuh kembali, dan membawa kota ini dan seluruh warganya kembali tersenyum. Yogyakarta sedang rehat dari hingar bingar wisatawan namun dengan terangnya tanda cinta ini, kami para pelaku industri perhotelan Jogjakarta akan terus berusaha segera menjadikan kota ini dirindukan kembali dan meraih canda tawa seperti sediakala.” pungkas Novi Soesanto.

Lambang cinta yang menyala adalah symbol dan gambaran dari secercah harapan yang dilandasi semangat para hotelier yang tak pernah padam. “Harapan dan semangat ini kami sampaikan kepada semua stakeholder pariwisata Jogja.. baik itu pelaku.. pemilik.. dan pemerintah.. kita harus bersama dalam sebuah langkah nyata,  penuh cinta dari hati untuk terus berjuang karena kita adalah satu nafas dalam pariwisata. 

Aksi solidaritas ini setidaknya bisa menjadi hiburan bagi masyarakat Jogja dalam situasi saat ini. Lambang cinta dari hotel Jogja menerangi gelapnya malam di Jogja. Semangat bangkit dari keterpurukan. Semangat berjuang untuk esok yang lebih cerah… 

Hotel-hotel yang berpartisipasi aktif dalam kampanye bersama ini adalah Novotel Suites Yogyakarta Malioboro,Grand Mercure Adi Sucipto, ibis Styles, ibis Malioboro,The Phoenix , Pesonna Tugu, Grand Ambarrukmo dan Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Selain itu yang berpartisipasi adalah Porta by The Ambarrukmo,Pesonna Malioboro, The 101 Tugu,Novotel , Atrium, Hotel Tentrem, Jambuluwuk Malioboro, Unisi Hotel, Cordela, Pop Malioboro,Grand Zuri, POP Timoho, Grand Senyum, Prima Inn, Whiz Malioboro dan The Rich.

Tak ketinggalan hotel Horison Urip Sumoharjo, Dafam Hotel, Grand Inna Malioboro, Grand Orchid, Grand Aston, Innside by Melia, KJ Hotel, lGrand Tjokro,Rosin Hotel,Sahid Jaya Hotel, De Laxston Hotel, Tasneem Hotel,The Atrium, Abadi Hotel, Cavinton, D’Senopati, D’Salvatore, Aveon Hotel, Ayaarta dan Hyatt Regency Yogyakarta.

Aksi solidaritas ini juga di dukung oleh Hotel Harper Mangkubumi, Greenhost Boutique Hotel, Grand Dafam Hotel, The Cube, UC Hotel UGM, Crystal Lotus, GAIA Cosmo, University Hotel, Melia Purosani, Marriott Yogyakarta Hotel, Royal Darmo Malioboro, Satoria, Lafayette Boutique Hotel dan Swisbell Boutique Hotel. #staysafe #jogjabisa,#indonesiabisa #guyubsesarengan