IATA: Aturan Jaga Jarak Dalam Kabin Pesawat Kurang Efektif 

this formate

Data IATA: 4,5 juta penerbangan di seluruh dunia batal dan estimasi kerugian perusahaan penerbangan hingga Juni 2020 capai US$ 318 triliun. ( sumber : IATA)

HONGKONG, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional ( IATA) menolak aturan  jaga jarak (phsyical distancing) di kursi pesawat karena dinilai kurang efektif dibandingkan kebijakan lain untuk pencegahan penularan virus corona di pesawat.

” Soal jaga jarak di kursi pesawat kurang efektif. Sebab, sebagian besar otoritas merekomendasikan jarak 1–2 meter, sementara jarak rata-rata kursi pesawat kurang dari 50 cm,” ujar Alexandre de Juniac, CEO IATA, dalam rilisnya hari ini.

Jaga jarak di kursi pesawat juga dianggap akan membuat maskapai penerbangan merugi. Muatan maksimum pesawat akan terpotong menjadi 62% Hal tersebut berada jauh di bawah rata-rata yaitu 77 %

Aturan yang dianjurkan IATA yakni penggunaan masker, pemeriksaan suhu penumpang, pekerja bandara dan pelancong, pengurangan kontak dengan penumpang atau kru pesawat dalam proses naik dan turun penumpang. Membatasi pergerakan dalam kabin sepanjang penerbangan. Selain itu pembersihan kabin yang lebih sering dan mendalam. Prosedur katering yang lebih sederhana. Terakhir, pergerakan kru pesawat dan interaksi dengan penumpang dikurangi.

Kalau jaga jarak diberlajukan maka  biaya akan meningkat, karena kursi hanya sedikit terjual. Dibandingkan tahun 2019, tarif pesawat harus naik secara dramatis hanya untuk menutup biaya. Tarif diprediksi naik antara 43%–54% tergantung wilayah.

“Maskapai penerbangan berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Menghilangkan kursi tengah akan meningkatkan biaya. Jika itu bisa diimbangi dengan tarif yang lebih tinggi, maka era perjalanan dengan biaya terjangkau akan selesai,” kata Juniac.

Di sisi lain, apabila maskapai tidak bisa menutup biaya dengan tarif yang lebih tinggi, maka maskapai akan bangkrut,” lanjutnya. Alasan lain IATA tidak mendukung jaga jarak di kursi pesawat karena tidak ditemukan dugaan transmisi antara penumpang.

Survei Informal 

IATA hanya menemukan tiga cara dugaan transmisi virus corona di pesawat, di mana semuanya berasal dari penumpang ke kru. Temuan ini didapat dari Survei informal IATA terhadap 18 maskapai penerbangan besar pada Januari–Maret 2020.

Survei ini hanya mengidentifikasi tiga cara dugaan transmisi virus corona saja. Semuanya berasal dari penumpang ke kru. Sementara empat cara lain merupakan laporan transmisi jelas dari pilot ke pilot yang bisa saja terjadi saat sebelum, dalam, atau sesudah penerbangan termasuk saat pemberhentian en route (layover).

Tidak ada perumpamaan dugaan transmisi virus corona dari penumpang ke penumpang. Pemeriksaan yang lebih terperinci oleh IATA dalam pelacakan kontak 1.100 penumpang dalam periode yang sama. Para penumpang tersebut terkonfirmasi virus corona setelah melakukan perjalanan udara.

Namun, pemeriksaan tersebut juga tidak menemukan transmisi sekunder di antara lebih dari 100.000 penumpang dalam penerbangan yang sama. Hanya dua kemungkinan kasus yang ditemukan di antara anggota kru.

Terdapat beberapa alasan yang masuk akal mengapa virus corona yang terutama disebarkan melalui tetesan pernapasan (droplet respitory) tidak menghasilkan transmisi dalam pesawat yang lebih banyak. Penumpang menghadap ke depan dengan interaksi tatap muka yang terbatas. Kursi menyediakan penghalang untuk transmisi ke depan atau ke belakang (aft) bagian pesawat.

Aliran udara dari atap ke lantai semakin mengurangi potensi transmisi ke depan dan ke belakang bagian pesawat. Terlebih lagi, laju udara tinggi dan tidak kondusif bagi tetesan untuk menyebar dengan cara yang sama dalam ruang lingkup lainnya. Filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) dalam pesawat modern membersihkan udara kabin menjadi seperti kualitas dalam ruang operasi di rumah sakit. Filter tersebut juga selanjutnya dibantu dengan sirkulasi udara segar yang tinggi.

Juniac juga menuturkan, mereka harus mendapatkan solusi yang memberi penumpang rasa percaya untuk terbang kembali, dan menjaga agar biaya penerbangan tetap terjangkau.

“Lingkungan kabin secara alami membuat penularan virus sulit karena berbagai macam alasan. Ini membantu menjelaskan mengapa kami melihat sedikit sekali adanya transmisi dalam penerbangan,” kata Juniac.

Dia juga menuturkan, dalam jangka waktu dekat, tujuan mereka adalah membuat lingkungan kabin lebih aman dengan langkah-langkah yang efektif agar penumpang dan kru bisa kembali melakukan perjalanan dengan percaya diri.

Screening (suhu tubuh), penutup wajah, dan masker merupakan beberapa dari banyak tindakan yang direkomendasikan IATA. Namun mereka tidak merekomendasikan pengosongan kursi tengah.

“Kami membutuhkan vaksin, paspor imunitas, atau tes Covid-19 efektif yang bisa diberikan dalam skala yang besar. Semua hal itu sangat menjanjikan. Namun, tidak ada yang akan direalisasikan sebelum kami harus memulai kembali industri penerbangan,” kata Juniac.

Maka dari itu, pihaknya  harus siap dengan beberapa langkah. Kombinasi yang akan mengurangi risiko penularan dalam pesawat yang sudah rendah, ujarnya. 

 

Penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival 2020 Mundur ke Akhir Oktober

this formate
  • YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Memasuki tahun ke-enam penyelenggaraannya, Prambanan Jazz Festival #6 2020 tak luput dari pandemi global COVID-19 sehingga penyelenggaraannya dijadwalkan ulang.

Semula Prambanan Jazz Festival #6 direncanakan akan digelar pada 3, 4, dan 5 Juli 2020 di Kompleks Candi Prambanan, namun Promotor harus menjadwalkan ulang pada 30, 31 Oktober dan 1 November 2020. 

Pertimbangan kesehatan dan keselamatan penonton, artis serta pengisi acara, kru, dan semua yang terlibat di dalam pelaksanaan festival menjadi proritas Rajawali  Indonesia selaku promotor. Tentunya Prambanan Jazz Festival 2020 akan diselenggarakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pemerintah.

“Kami meminta maaf dengan penjadwalan ulang ini, turut prihatin dengan adanya pandemi COVID-19, tetapi kami tetap berupaya menghadirkan festival tahunan ini walaupun harus mengubah jadwal dan semoga pandemi ini segera berakhir,” ujar Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia sekaligus Founder Prambanan Jazz Festival.

Sederet artis dari mancanegara dan juga musisi tanah air akan kembali dihadirkan di Prambanan Jazz Festival #6 | 2020 mendatang. Panggung Festival Show pada hari pertama, akan menampilkan Fourtwnty, Hindia, Pamungkas, Andmesh, Nadine Amizah, Reality Club, Once Mekel, Joey Alexander, Kunto Aji, dan akan di update artis lainnya.

Pada hari kedua, panggung Festival Show akan diisi oleh Eva Celia, Isyana Sarasvati, Joko in Berlin, Egha De Latoya, dan akan diupdate artis lainnya. Sementara, pada hari terakhir, pengunjung akan dihibur dengan penampilan dari Reza Artamevia, Sinten Remen (Tribute To Djaduk F), Ardhito Pramono, Janapati (Dewa Budjana dan Tohpati), Yura Yunita, dan akan di update artis lainnya.

Ada sedikit perubahan jadwal dari line up artis yang sudah dijadwalkan sebelumnya karena pergantian tanggal membutuhkan penyesuaian ulang. Menariknya masih akan ada banyak artis yang akan ditambahkan dalam deretan line up artis Prambanan Jazz Festival 2020, ujar Anas Syahrul Alimi.

Sementara, untuk panggung Special Show akan diisi musisi manca negara. Salah satunya, Postmodern Jukebox yang akan tampil pada hari ketiga. Postmodern Jukebox adalah sebuah grup musisi bergenre jazz / swing yang ditemukan oleh Scott Bradlee yang mengusung konsep unik berupa rotating musical collective.

Group asal Amerika Serikat yang eksis dalam jagat maya YouTube ini mengandalkan coveran lagu-lagu modern dengan balutan aura vintage dalam beraksi. Tak diragukan lagi, kanal PMJ sudah meraih 4 juta subscriber dan sudah tayang sebanyak 1,3 milyar kali di YouTubePrambanan Jazz menjadi satu festival yang beruntung akan menghadirkan mereka pertama kali ke Indonesia.

Beberapa line up artis Special Show akan menjadi surprise tersendiri, seperti di hari kedua akan ada grammy’s award winner, juga hari pertama grup musik dreampop yang mengawali debut musiknya melalui soundcloud dan memiliki banyak fans di Indonesia sangat sayang untuk dilewatkan.

Prambanan Jazz sudah menjadi event yang dinantikan penggemar setiap tahun. Oleh karena itu, untuk mengobati kerinduan masyarakat terhadap Prambanan Jazz Festival maka pada Sabtu, 4 Juli 2020 akan tetap diadakan Prambanan Jazz Festival dengan konsep online. 

Prambanan Jazz Festival Online ini akan  dihadirkan di depan Candi Prambanan secara istimewa dengan pengisi acara yang akan dikabarkan selanjutnya. Acara ini gratis, penonton bisa menyaksikan dari rumah masing-masing.

Co Founder Prambanan Jazz Bakkar Wibowo mengatakan penjadwalan ulang Prambanan Jazz Festival #6 |2020 akan membuatnyamenghadirkan konsep tata panggung dan venue yang semakin matang. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dia akan bekerja sama dengan commission artist dan senantiasa menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Sementara, bagi para pemegang tiket, Prambanan Jazz menginformasikan bahwa tiket berlaku untuk konser mendatang, tentunya dengan line up artis yang lebih banyak lagi akan dihadirkan dari yang sudah di release.

Tovic Raharja selaku Direktur Utama Rajawali Indonesia menambahkan, bagi yang belum memiliki tiket Prambanan Jazz Festival 2020, tiket PRESALE II akan dibuka kembali penjualannya 

melalui www.tiketapasaja.com dengan harga daily pass Rp. 250.000, Special Show dengan harga PRESALE II kategori Rp. 750.000 dan Standing dengan harga Rp. 500.000.

“Akan ada kategori tiket baru yaitu 3 Days Pass Special Show Standing dengan harga PRESALE II Rp. 1.200.000 (sudah termasuk tiket Festival Show),”  kata Tovic

 

7 Alasan Mengapa Bepergian Membuat Anda Bahagia Secara Pribadi Dan Profesional  

this formate

 Miliki rasa bahagia dalam kehidupan ( Foto:  Josh Felise/ unsplash.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Setelah Tagar #WhenWeTravelAgain ramai dan menjadi populer di media sosial karena banyak negara menerapkan kebijakan agar masyarakatnya tidak bepergian atau traveling dan hanya melakukan aktivitas di rumah, keinginan untuk berwisata di kalangan masyarakat tetap besar.

Sejak virus Corona ( COVID-19) hadir di muka bumi ini, aktivitas berwisata sementara waktu memang mati suri. Padahal sedikitnya ada 7 Alasan mengapa berwisata membuat seseorang menjadi bahagia secara pribadi dan profesional. Hormon bahagia itulah yang saat ini sangat dibutuhkan dalam tubuh kita.

Agaknya memahami situasi ini, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf ) menyebarkan sejumlah link pada masyarakat untuk menjelajah keindahan negri kita dari rumah. Bagi yang rajin browsing, boleh juga kunjungi situsnya dan menikmati

Indonesia.Travel 360º Images. Coba liat yuk disini; 

1.Indonesia.Travel 360º Images https://www.indonesia.travel/id/en/image-360

2.Indonesia.Travel 360º Videos https://www.indonesia.travel/id/en/video-360

3.Google Art and Culture Indonesia https://artsandculture.google.com/project/wonders-of-indonesia

4.Indonesia.Travel YouTube Channel https://www.youtube.com/user/TheIndonesiaTravel

5.360indonesia Photo https://360indonesia.id/category/photo-360/

6.360indonesia Video https://360indonesia.id/category/video-360/ 

Online Museum:

1.Museum Nasional https://www.museumnasional.or.id/en/virtual-tour

2.Museum Bank Indonesia http://idvr360.com/vr360/museum/mbi/mbi.html

3.Museum Tsunami Aceh https://360indonesia.id/museum-tsunami-aceh-2/

4.Museum Kepresidenan Balai Kirti https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/muspres/

5.Museum Sumpah Pemuda http://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/

6.Museum Perumusan Naskah Proklamasi https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mpnp/

7.Galeri Nasional https://galeri-nasional.or.id/

Bahagia menjadi syarat utama yang harus dimiliki  mereka yang positif terpapar virus Corona Covid-19, begitu juga yang  baru tahap suspect ( diduga kuat) , Orang Dalam Pemantauan ( ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus ini. Begitu pula bagi masyarakat yang hingga kini masih sehat walafiat.

Nah, Penelitian terbaru telah membuktikan bahwa satu jalan menuju kebahagiaan adalah berwisata. Pada 2016, Konferensi Happiness 360 bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Dunia PBB ( UNWTO) menetapkan bahwa orang-orang yang paling bahagia di dunia lebih banyak bepergian.  

Kebahagiaan, yang didefinisikan sebagai kesejahteraan subjektif, adalah masalah yang sangat besar di sebagian besar lingkaran masyarakat. Jawabannya sederhana karena semakin bahagia,  semakin sehat Anda. Begitu juga semakin sehat maka semakin kreatif dan produktif Anda jadinya.

Filsuf dan profesor A.C. Grayling merasa bahwa berwisata adalah kunci untuk memperluas pikiran dan jiwa. Dikutip dari traveltriangle.com, dia percaya kita mendidik diri kita sendiri dengan bepergian dan mengekspos diri kita pada ide-ide dan orang-orang baru.  

Berikut 7 alasan lain mengapa bepergian membuat Anda bahagia:

  1. Traveling merangsang otak karena ketika kita bepergian, kita mengubah otak kita.  Ini karena pengalaman baru adalah kunci untuk membangun jalur saraf baru di otak. Hasilnya menjadi lebih kreatif dan menerima ide-ide baru.  Inilah sebabnya mengapa perjalanan wisata membuat Anda bahagia.
  1. Ini Meningkatkan Hubungan:  Orang yang paling bahagia adalah orang yang memiliki koneksi terkuat dengan orang lain, baik itu keluarga, teman atau masyarakat umum.  Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan hubungan ini adalah dengan bepergian bersama dan mengalami hal-hal baru bersama. Stefan Klein, penulis The Science of Happiness, percaya bahwa kesenangan menemukan hal-hal  baru dan kegembiraan yang datang dengan bertemu orang-orang baru atau sensasi dari wisara kuliner, makan makanan baru semua datang bersama-sama untuk menciptakan perasaan bahagia di setiap pelancong.
  1. Membangun Koneksi : Perjalanan membuat kita bahagia, inilah alasannya.  Melalui perjalanan, Anda bisa bertemu orang-orang baru, orang-orang yang sebelumnya tidak akan pernah Anda temui.  Anda bisa menjalin hubungan baru dan mulai menjalin hubungan dengan orang-orang baru, yang berkontribusi terhadap kebahagiaan Anda secara keseluruhan dalam hidup.
  1. Pengalaman Lebih Berharga Daripada Benda. Penelitian telah menunjukkan bahwa kita lebih menghargai pengalaman kita daripada harta benda apa pun yang kita miliki.  Menghabiskan uang untuk pengalaman baru lebih penting daripada membeli sesuatu yang baru karena pengalaman itu tetap bersama Anda selamanya dan Anda selalu dapat membawanya ke mana pun Anda pergi.  
  1. Memori yang baik-baik : Bukan hal yang aneh untuk mendengar kisah perjalanan orang dan membayangkan mereka memiliki pengalaman yang luar biasa. Suka dan duka berwisata mungkin ada, tapi saat berbagi cerita dengan orang lain kita cenderung meminimalkan bagian duka. Anda mungkin jatuh sakit di perjalanan, tetapi bagian itu tidak diingat dalam beberapa tahun.  Sebaliknya, kenangan itu akan digantikan oleh bagian terbaik dari perjalanan. Inilah sebabnya bepergian membuat seseorang lebih bahagia.
  1. Pengalaman perjalanan membuat cerita yang baik untuk dikenang. Semua kisah perjalanan adalah peluang besar untuk berbagi pengalaman kami dengan orang lain dan hanya membangun koneksi yang lebih kuat.
  2.  Sulit membandingkan pengalaman perjalanan. Suka membandingkan diri dengan orang lain adalah penyebab utama ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan di zaman sekarang ini. Oleh karena itu sulit untuk membandingkan pengalaman perjalanan ke Karibia dan perjalanan ke Asia. Keduanya adalah pengalaman yang penting dan membuat Anda bahagia.

 

Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata UNWTO dirancang untuk dukung pemerintah & swasta 

this formate

Wisman menikmati pemandangan indah di Indonesia. UNWTO siapkan bantuan teknis untuk pemerintah dan swasta pulihkan sektor pariwisata. ( foto: Kemenparejraf) 

MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id : Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) telah merilis Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata dan  menawarkan panduan kepada negara-negara anggota dalam menanggapi COVID-19. Paket ini disusun di sekitar tiga pilar utama: pemulihan ekonomi, pemasaran dan promosi dan penguatan kelembagaan dan pembangunan ketahanan.

Pariwisata adalah sektor yang paling terpukul karena pandemi global ini dan, UNWTO telah mengidentifikasi tiga skenario untuk beberapa bulan ke depan.  Tergantung kapan pembatasan perjalanan dicabut karena kedatangan wisatawan internasional dapat menurun 60-80% pada tahun 2020 ini.

 Ini bisa berarti penurunan pendapatan ekspor dari pariwisata hingga US$ 910 miliar menjadi US $ 1,2 triliun dan menempatkan 100-120 juta pekerjaan secara langsung dalam risiko.  Efek riak sosial juga dikhawatirkan setidaknya sama-sama mengancam banyak masyarakat di seluruh dunia.

Dengan latar belakang ini, Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata COVID-19 dirancang untuk mendukung pemerintah, sektor swasta dan lembaga donor menghadapi keadaan darurat sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili mengatakan: “Kita harus mendukung sektor pariwisata sekarang dengan tindakan nyata sementara disaat bersamaan kita mempersiapkan diri untuk bangkit kembali dan menjadi lebih kuat serta lebih berkelanjutan,”

Rencana dan program pemulihan untuk pariwisata akan diterjemahkan ke dalam pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di dalam pariwisata itu sendiri tetapi di seluruh masyarakat.  Paket dukungan ini akan membantu pemerintah dan bisnis mengimplementasikan rekomendasi untuk pemulihan, tambah Pololikashvili.

Seruan untuk bertindak itu guna mempercepat pemulihan pariwisata di bidang ekonomi, promosi  dan kelembagaa bersamaan dengan serangkaian rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh UNWTO untuk mengurangi dampak sosial-ekonomi dari COVID dan didukung oleh Komite Krisis Pariwisata Global UNWTO. 

Paket Bantuan Teknis Pemulihan Pariwisata COVID-19 menjelaskan kebijakan dan tindakan yang akan diperkenalkan untuk merangsang pemulihan ekonomi sektor pariwisata.  Ini harus diperkenalkan bersamaan dengan pengembangan penilaian kebutuhan dampak dan rencana spesifik negara untuk pemulihan pariwisata serta langkah-langkah lainnya.

Dalam hal pemasaran dan promosi, UNWTO siap memberikan bantuan teknis untuk mengidentifikasi pasar yang dapat membantu mempercepat pemulihan, menangani diversifikasi produk, dan (kembali) merumuskan strategi pemasaran dan kegiatan promosi.

Pilar ketiga, penguatan kelembagaan dan pembangunan ketahanan, terutama ditujukan untuk meningkatkan kemitraan publik-swasta dan mempromosikan upaya kolaboratif untuk pemulihan pariwisata, dan, meningkatkan keterampilan dalam manajemen dan pemulihan krisis.

Dukungan teknis yang ditawarkan oleh UNWTO dirancang untuk membantu anggota bekerja menuju Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).  Beberapa Tujuan ini secara langsung berkaitan dengan pariwisata, terutama SDGs 8, 12 dan 17, pada ‘Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi’, ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’, dan ‘Tujuan Kemitraan’

UNWTO juga bekerja sebagai bagian dari respons PBB yang lebih luas terhadap COVID-19, menekankan peran yang dapat dimainkan pariwisata dalam melindungi negara-negara berkembang dan anggota masyarakat yang paling rentan dari dampak terburuk dari krisis saat ini.

 

80%  Sponsor Perusahaan Tertarik Berinvestasi di Acara Virtual yang Berinteraksi  

this formate

Pertemuan virtual kini menggantikan conference secara langsung. (Foto: Michael Browning/ unsplash.com)

MILAN, Italia, bisniswisata.co.id:  – AIM Group International, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kongres, acara, dan komunikasi, menerbitkan hasil survei “Acara mensponsori selama Covid Crisis”.  Survei ini dilakukan di antara 350 perwakilan perusahaan farmasi dan biomedis yang mencakup semua bidang pengobatan utama.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mempelajari bagaimana sponsor terbuka mendukung acara selama keadaan darurat kesehatan COVID-19 ini, dan khususnya untuk peluang baru yang ditawarkan oleh acara digital dan hybrid seperti dikutip laporan oleh Tatiana Rokou dari Traveldailynews.com

Hasilnya mengungkapkan bahwa minat terhadap platform virtual baru tinggi, tetapi perusahaan masih yakin bahwa acara tatap muka menawarkan nilai yang lebih besar.

Berikut ini adalah snapshot dari temuan survei:

 *58% responden akan mensponsori multi-sponsor tradisional atau sponsor eksklusif untuk acara yang akan diadakan antara September dan Desember 2020.

 *72% akan tertarik pada solusi hybrid yang menggabungkan kehadiran dengan acara digital.

 *78% akan tertarik untuk mensponsori acara yang sepenuhnya virtual.

*Bagaimana acara virtual seharusnya, menurut responden?  Interaktif, fleksibel, 3D dan dalam augmented reality ( panggilan video atau webinar biasa) dan dapat melacak data.

 *99,5% menganggap berguna bahwa konten tersedia sesuai permintaan setelah kongres, memastikan ketersediaan yang lebih besar baik untuk peserta dan visibilitas yang lebih besar untuk sponsor.

* 72% ingin melihat pembelajaran jarak jauh (DL) dimasukkan ke dalam acara digital, yang akan tersedia setelah kongres.

*56% sponsor ingin berinvestasi lebih sedikit dalam acara virtual, 34% akan berinvestasi sama dan 10% bersedia untuk meningkatkan anggaran jika visibilitas yang lebih besar dijamin.

Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan perubahan dalam sektor MICE memotivasi kami untuk melakukan survei khusus untuk lebih memahami jika sponsor tradisional konferensi seperti perusahaan farmasi dan biomedis tertarik pada acara digital dan bagaimana mereka akan berinvestasi, ungkap Gaia Santoro, kepala Sponsorship  Unit di AIM Group International. 

 “Pertama-tama, tingginya jumlah jawaban yang kami terima dalam waktu singkat sangat penting. Ini menyoroti  topik yang hangat untuk perusahaan yang ingin berkomunikasi dengan audiens target mereka, meskipun ada krisis kesehatan. Ini juga luar biasa, mungkin bahkan mengejutkan  bahwa sebagian besar sponsor perusahaan ingin melihat kembalinya acara tatap muka di Musim Gugur.

Hal ini menggarisbawahi bahwa Sponsor menganggap acara berhadapan langsung berada pada titik kritis dan mereka tidak ingin melihat mereka ditinggalkan atau dianggap usang tergantikan oleh peluang dari tekhnologi digital. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa sponsor siap memberikan dukungan untuk mewujudkan pengalaman virtual baru, asalkan konten ilmiah relevan, peserta dilibatkan dan interaksi dengan sponsor dijamin.

“Pada saat kritis ini, kami fokus untuk bekerja sama secara erat dengan komunitas medis dan sponsor untuk menemukan solusi terbaik untuk kebutuhan baru mereka,” jelas Rosangela Quieti, Direktur Pelaksana Kongres Departemen dari AIM Group International. 

Pihaknya telah mempertimbangkan temuan-temuan survei ini untuk membentuk kembali dan mengadaptasi proposal sponsor dan solusi digital. 

” Kami memahami bahwa pertemuan virtual adalah salah satu format paling populer yang siap untuk diuji coba oleh para pemangku kepentingan,” katanya

Rosangela Quieti mengatakan pihaknya  baru saja menyelenggarakan kongres digital yang pertama untuk masyarakat ilmiah, AIOP. ” Kami sangat senang melaporkan bahwa dewan asosiasi dan peserta melaporkan tingkat kepuasan yang tinggi dengan acara ini,” 

Terinspirasi oleh pengalaman positif ini, pihaknya lebih bertekad untuk membayangkan format kreatif baru di masa depan seperti hybrid atau multi-hub, ketika akan memungkinkan untuk membuat pertemuan daring lagi.

WTTC Keluarkan Panduan Global Cara Aman Bepergian

this formate

Travelers  di Paris bersiap berangkat di stasiun besar kereta api. Sekarang bepergian ada panduannya agar terhindar dari penyakit ( Foto: HAS)

LONDON, bisniswisata.co.id: World Travel and Tourism Council (WTTC) mengeluarkan panduan global berisi langkah-langkah bagaimana memulai kembali bisnis perjalanan dan pariwisata di tengah pandemi Covid-19. Panduan ini dirancang untuk membangkitkan kepercayaan para konsumen, menciptakan rasa aman bepergian jika kelak pembatasan dicabut.

Protokol baru bepergian secara aman ini berlaku bagi semua daerah tujuan wisata dan negara. Penekanan pada aspek kesehatan dan kebersihan menjadi pendekatan baru panduan perjalanan bagi penyedia jasa perjalanan wisata, operator, dan pelancong, di era pandemi Covid-19.

Kesehatan dan keselamatan para pelancong serta pekerja di sektor perjalanan dan pariwisata menjadi prioritas utama protokol global baru yang disusun para anggota WTTC ini. Terbitnya panduang global ini sekaligus dimaksudkan untuk menghindari munculnya berbagai standar yang hanya akan menunda pemulihan sektor ini.

 “Kami belajar dari masa lalu, khususnya setelah tragedi 9/11. Saat itu koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta tidak terbangun dengan baik. Akibatnya gangguan perjalanan berlangsung lebih lama. Biaya yang dikeluarkan makin besar dan masa pemulihan lebih panjang,” kata Gloria Guevara, presiden dan CEO WTTC seperti dikutip dalam rilis, Selasa (13/5). 

Dia menambahkan koordinasi dan keselarasan di sektor perjalanan dan pariwisata penting agar langkah-langkah global yang kuat dapat betul-betul diterapkan dengan baik oleh swasta maupun pemerintah. “Ini dapat membantu mengembalikan kepercayaan konsumen.”

 “Kami senang bahwa untuk pertama kalinya, secara global seluruh sektor swasta telah bersama-sama menyelaraskan diri pada protokol ‘aman bepergian’ yang kami keluarkan, sehingga tercipta konsistensi menyeluruh. Kini, kami meminta agar pemerintah di seluruh dunia juga mengadoposinya. Ini penting untuk mengembalikan kepercayan yang penting bagi pemulihan sektor perjalanan dan pariwisata,”imbuhnya.   

Laporan Kesiapan Krisis yang disusun WTTC berdasarkan studi 90 jenis krisis menunjukkan pentingnya kerjasama publik dan swasta untuk memastikan terciptanya kebijakan yang cerdas dan masyarakat yang efektif. Dengan demikian sektor perjalanan dan pariwisata menjadi lebih tangguh.

WTTC merancang protokol terbaru cara bepergian dengan aman. Ini merupakan hasil konsultasi yang intensif dengan para anggota dan asosiasi indusri, seperti: Airports Council International (ACI), Asosiasi Internasional Kapal Pesiar (CLIA), dan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan pada industri ini. Panduan yang jelas diperlukan para pelancong jika kelak mereka diizinkan kembali melakukan perjalanan.

Protokol ini akan berlaku di seluruh industri perjalanan dan pariwisata, termasuk: perhotelan, penerbangan, bandara, operator kapal pesiar, ritel, transportasi, MICE, dan operator wisata lainnya.

Diskusi secara terperinci yang melibatkan para pemangku kepentingan dan organisasi utama di sektor ini telah dilaksanakan. Harapannya agar tercapai panduan praktis yang efektif. Inisiatif WTTC ini didukung pula oleh para CEO top dan pemilik bisnis perjalanan dan pariwisata terkemuka. 

 “Kami melihat ada harapan besar saat komunitas global mengarahkan seluruh perhatian pada upaya pemulihan pandemi Covid-19. Kita tahu para pelancong hanya akan kembali menjelajah dunia jika mereka merasa aman untuk melakukannya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk memberi mereka rasa percaya diri dan ketenangan pikiran terhadap apa yang mereka butuhkan,” kata Chris Nassetta, CEO Hilton yang juga ketua WTTC.

Menurut Chris protokol global yang disusun WTTC ini sekaligus dirancang untuk menyelaraskan pedoman kesehatan dan keselamatan yang konsisten bagi industri perjalanan dan pariwisata di seluruh dunia. Dengan demikian, panduan ini akan membantu melindungi wisatawan yang hendak bepergian kemanapun mereka pergi.  

Sementara itu Federico J. González, Presiden dan CEO Radisson Hospitality, menekankan pentingnya bahasa yang sama soal prosedur keselamatan. Menurutnya industri agen perjalanan harus memiliki bahasa yang sama saat berbicara dengan konsumen, terkait jaminan keselamatan di hotel, dimanapun mereka berada. Dengan adanya protokol umum yang berlaku di seluruh dunia, konsumen dapat mendapatkan standar keselamtan yang sama dimanapun mereka berada. 

Itu sebabnya Radisson Hotel Group mendukung sepenuhnya inisiatif ini dengan cara membantu menyebarluaskan protokol WTTC tentang cara aman bepergian ke seluruh dunia. 

Keith Barr, Kepala Eksekutif Grup InterContinental Hotels, mengatakan: “Sebagai sebuah industri, kami selalu memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan para tamu dan kolega. IHG dengan bangga mendukung WTTC dalam menyusun pedoman praktik terbaik, terutama soal higienitas dan kebersihan.”

Pedoman penting ini sekaligus menunjukkan bagaimana industri kita mampu bersatu memberikan jaminan serta keyakinan bagi pelanggan. “Ini penting sehingga orang dapat kembali melakukan perjalanan.”

Berikut ini sejumlah langkah utama yang perlu diambil sesuai dengan protokol baru WTTC:

Perhotelan:

  • Tinjau kembali panduan tim kebersihan untuk semua area hotel dengan fokus khusus pada titik-titik yang paling panyak disentuh, seperti kartu kunci kamar.
  • Pastikan jarak sosial tetap terjaga dengan membuat rambu dan petunjuk termasuk dalam lift
  • Latih kembali para staf mengendalikan infeksi, jarak sosial, dan meningkatkan langkah hidup higienes lainnya termasuk mencuci tangan dan menggunakan masker serta sarung tangan
  • Seluruh item asing harus disingkirkan dari hotel
  • Terapkan teknologi untuk mengaktifkan otomatisasi seperti pembayaran tanpa kontak
  • Sediakan layanan room service dengan metode tanpa kontak
  • Komunikasikan dengan jelas dan konsisten kepada pelanggan tentang protokol kesehatan dan kebersihan yang baru, baik secara digital maupun fisik di hotel
  • Buka kembali counter makanan dan minuman serta ruang-ruang untuk acara dengan tetap memperhatikan prosedur jarak sosial, disinfeksi, dan keamanan makanan

Ritel:

  • Menerapkan rejim kebershihan yang lebih tinggi
  • Pastikan para staf sudah sepenuhnya akrab dan terlatih dengan kebijakan baru, termasuk menjaga jarak sosial, menggunaan pemindai suhu dan masker wajah 
  • Jarak sosial harus dipantau dengan stiker penanda aturan jaga jarak
  • Kurangi sentuhan obyek dengan memperkenalkan peta digital, membuat antrian digital, elektronik menu, belanja virtual, dan roving concierges
  • Promosikan layanan pembayaran tanpa kontak dan tanda terima lewat email dengan menyedakan WIFI gratis 
  • Sediakan hand sanitisers di pintu masuk dan keluar, serta di dalam ruangan dan kamar mandi
  • Seluruh menu di kafe, restoran, dan tempat makan harus tersedia dalam bentuk digital
  • Perlu perhatian khusus soal pengelolaa tempat duduk dan antrian yang harus diatur sesuai protokol jarak sosial
  • Kapasitas tempat parkir harus dibatasi untuk menghindari kepadatan berlebihan

Sementara itu WTTC masih membahas langkah tambahan untuk sektor penerbangan dan pelayaran; protokol baru akan segera diumumkan. Kedua sektor ini sudah memiliki standar kesehatan dan keselamatan yang tinggi. Namun saat ini WTTC sedang menilai ulang standar protokol mereka terkait higienitas, aspek kebersihan, dan jarak sosial. 

Laporan WTTC 2020 soal Dampak Ekonomi menunjukkan sektor perjalanan dan periwisata memiliki peran penting bagi ekonomi secara global. Industri ini bertanggung jawab atas 1 dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberi kontribusi 10,3% terhadap PDB, dan menciptakan satu dari empat lapanangan kerja baru.

 

Budi Isman: Paket Sekoci Solusi Win-win di Tengah Pandemi

this formate

Budi Satria Isman ( kiri) bersama Anton Thedy dalam New Normal Seri di Instagram Live

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Meski bisnis travel & tourism yang paling pertama terpukul dengan pandemi global COVID-19, para pelaku usahanya masih tetap optimistis di tengah kondisi pemasukan nihil alias nol dengan keyakinan  kondisi ini hanya bersifat sementara dan jangka pendek.

” Teman-teman saya di bisnis travel yang umumnya kategori UMKM tetap optimistis kondisi sekarang ini bukan ‘kiamat’ tapi hanya serangan ‘badai’  yang pasti berlalu meskipun dari sisi cash-flow hanya tinggal hingga Juni,” kata Anton Thedy, pendiri TX Travel di Instagram Live, hari ini.

Bersama tamunya, Budi Satria Isman yang pernah menjabat posisi CEO dan posisi kunci lainnya di beberapa perusahaan multi nasional, Anton membahas Leadership in Crisis dan langkah apa yang harus dilakukan ke depan karena pandemi global COVID-19 sudah melanda 215 negara dan ada 4,18 juta kasus.

Budi Isman yang lebih suka disebut Angel Investor, Pengusaha dan Pelatih Eksekutif (Executive Coach) mengatakan sejak lahir kedunia dia sudah melewati krisis tingkat nasional maupun dunia dan semua bisa dilewati dengan selamat.

” Waktu kecil ada gerakan G 30 S PKI, lalu tahun 1973 perang minyak pertama, lanjut perang minyak ke dua tahun 1978-1979, setelah itu tiap 10 tahun sekali ada siklus krisis, misalnya hancurnya saham dunia pada 1987- 1989, Krisis moneter 1997-1998 serta tumbangnya rezim Presiden Soeharto, lanjut global krisis lagi 2007-2008,” kata Budi santai

Meski sebenarnya sudah pengalaman menghadapi krisis, tapi memang belum pernah terjadi pembatasan perjalanan dan pergerakan orang secara serentak di seluruh dunia sehingga akhirnya berdampak langsung pada perekonomian yang tumbuh minus dan menimbulkan krisis baru.

” Krisis-krisis sebelumnya, perusahaan besar colapse tapi tertolong oleh UMKM dimana usaha ini justru yang memperkerjakan 97% rakyat Indonesia. Di krisis pandemi global saat ini dua-duanya banyak colapse, ” jelas Budi Isman.

Oleh karena itu, untuk yang menggeluti bisnis travel & tourism dan meyakini bisnisnya masih bisa bangkit lagi pasca COVID-19 maka identifikasilah dan buat skenario bisnis dulu untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Perbarui model bisnis dan kalau cash-flow sudah tidak bisa dipertahankan maka ibarat makanan bekukan saja dulu masuk freezer.

” Mau pakai teori apapun yang jelas dalam jangka pendek ini, bisnis penghasilannya nol. Jadi pengusaha maupun karyawannya cari cash flow dengan mengerjakan bisnis yang masih bisa bertahan untuk bisa mempertahankan hidup,” ujarnya blak-blakan.

Bagi yang masih memiliki uang cadangan jangan lupa terus menggemakan brand  di media sosial seperti yang dilakukan Anton Thedy dengan Instagram Live tiap hari dan program lainnya agar orang tidak lupa untuk berwisata.

Meski tidak ada THR, bahkan terima gajipun hanya 25%, tetaplah kreatif dan cari peluang untuk bisa menghasilkan cash-flow yang seimbang. Jutaan orang kini sudah dirumahkan, cuti tanpa gaji, banyak pula yang sudah benar-benar kehilangan pekerjaan.

” Jadi simpelnya ganti haluan dulu meski tidak cocok dengan bisnis kita karena semua orang harus bisa bertahan hidup.Kalau perlu jual aset-aset untuk bisa survive ditengah ketidakpastian kapan pandemi ini berakhir,” sarannya.

Bisnis yang cocok dengan kondisi sekarang tentunya E-commerce, makanan sehat, E-learning, home entertainment, jamu dengan kemasan modern, bisnis nutrisi, E-Magazine, pengiriman logistik dan lainnya.

” Pokoknya karena orang banyak di rumah maka kalau perlu produk branded Versace keluarkan seri daster nyaman buat di rumah. Kalau saya pilih E-Learning misalnya karena mau cari pahala yang banyak. Kursus sistem daring biaya jadi murah dan yang ikut bisa banyak orang,” kata Budi tergelak.

Dia mengingatkan bahwa di setiap krisis pasti juga ada tipe orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nah banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan sehingga meskipun aset bagus terpaksa harus dijual oleh pemiliknya dengan harga miring.

“Kalau harga idealnya Rp 100 bisa-bisa dijual dengan harga Rp 25. Tak heran di tengah krisis ini para investor pemakan ‘bangkai’ istilah untuk mereka yang mengincar perusahaan bagus dengan harga miring akan mencari perusahaan colapse dengan harga serendah-rendahnya,” kata Budi Isman.

Dia bercerita dari kalangan investor yang banyak membuka restoran di mall -mall begitu ada pandemi dan saat terjadi karantina, PSBB dan mall ditutup mereka juga langsung menutup bisnisnya untuk dibekukan selama setahun minimal.

” Buat investor yang juga menjalankan uang orang lain,  keputusan cepat menutup bisnis triliunan rupiah memang mudah saja karena begitu kondisi pulih dan orang mulai ke restoran lagi tinggal re-start. Nah buat yang kategori UMKM tentu sangat berat dan umumnya ingin mempertahankan karyawannya yang loyal dan profesional,” kata Budi.

Karyawan yang loyal dan profesional harus dipertahankan karena menjadi aset penting yang menjalankan perusahaan. Oleh karena itu untuk perusahaan kategori UMKM saat harus terjadi pengurangan karyawan maka mereka yang sudah mau pensiun, punya performa kurang bagus dan karyawan lepas maka merekalah yang didahulukan keluar untuk mengurangi fix cost.

Leader in crisis memang harus jaga cash flow, mengurangi fix cost tetapi tetap harus manusiawi dalam melepas karyawannya untuk berbagai skema yang disepakati karena PHK di saat krisis juga memakan biaya yang besar.

Anton menjelaskan bahwa bisnis TX travel adalah bisnis franchaise yang rata-rata jumlah karyawan cabang maksimal 20 orang. Perusahaan biro perjalanan wisatanya ini ada 200 cabang lebih di seluruh negri dengan kantor pusat yang memiliki 150 karyawan.

Apa yang disarankan Budi Isman telah dijalankan bahkan dia juga mendorong para karyawannya untuk mendapatkan penghasilan dari sektor lain misalnya ada yang jualan ranginang, makanan tradisional yang banyak disajikan masyarakat Betawi kala Lebaran.

Budi Isman pada kesempatan itu juga berbagi program paket sekoci yang dijalankannya ketika terjadi krisis  moneter global dan tengah memimpin perusahaan multinasional Coca Cola. Dia harus memangkas 8000 tenaga sales dari 20.000 karyawan yang ada.

” Sekoci itu perahu penyelamat, jadi kalau kita harus menyelamatkan perusahaan carilah program yang win-win solution. Kami jual truk-truk pengangkut minuman kepada karyawan yang harus di PHK. Mereka bisa beli cicil dan jadi distributor mandiri dan tetap mendistribusikan soft drink yang jadi produk kami,”

Dari sisi perusahaan, ujarnya status 8000 karyawan yang dilepas itu tetap jadi sales dari usaha mereka sendiri dan tidak menjadi beban fix cost yang harus ditanggung  perusahaan.

Saat pandemi Corona sekarang ini, salah satu perusahaan kue dengan 1000 karyawan yang menjadi klien Budi juga mengurangi pegawai tetapnya dengan jalan menerapkan paket sekoci. Sebagian dari mereka tidak bekerja lagi tapi menjadi agent dari produk kue yang selama ini diproduksinya.

” Karyawan yang berubah jadi mitra ini aktif menjual produk bahkan ada yang bisa menjual 3000 boks/ hari. Dengan demikian pabrik terus beroperasi sementara berkurangnya fix cost menyelamatkan cash flow sehingga perusahaan bisa bertahan,” urainya.

Budi yang aktif sebagai pembicara di berbagai seminar, pelatih business di perusahaan besar dan asing, penasehat perusahaan dan pegiat sosial, berpesan mengorbankan 100 orang untuk mempertahankan 900 orang lainnya adalah program sekoci yang manusiawi.

Pria asal Sungai Penuh, Kerinci, Jambi yang mendirikan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Mandiri atau lebih dikenal ProIndonesia ini juga mengingatkan untuk mencari pahala sebesar-sebesarnya di saat pandemi.

 

Pameran Move On , Angkat Perempuan dan  Corona

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pameran dari rumah karya Yusuf Susilo Hartono ( YSH)  bertajuk “Move On”, yang didukung oleh  Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, digelar via Zoom, pada Jumat, 15 Mei 2020, pukul 11.00 WIB. Selanjutnya dapat dilihat pada kanal YouTube – budayasaya. Rencananya pameran ini diresmikan oleh Sri Hartini Sesditjenbud, mewakili Direktorat Jenderal Kebudayaan yang mendukung program ini. Dengan host meeting wartawan Indah Ariani.

Perupa Yusuf Susilo Hartono (YSH) melalui 70-an sketsa (pilihan 2002-2020) dengan subyek perempuan, ingin menyuarakan kebebasan, kasih sayang, tradisi, kebenaran dan kemanusiaan. Dihasratkan sebagai ekspresi sekaligus doa agar pandemic Corona COVID-19 segera berakhir, dan manusia di muka bumi bisa hidup dengan kesadaran dan cara baru, yang lebih manusiawi dan berkeilahian.

Menurut Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Citra Smara Dewi selaku kurator pameran ini menyatakan perempuan dalam karya YSH bukan semata memiliki spirit keindahan, kelenturnan dan dinamis, seperti tersirat pada seri karya Ballerina, namun juga memiliki spirit cinta kasih yang tulus melalui karya  ibu dan anak.

Dalam dimensi lain perempuan juga hadir dalam mengisi ruang-ruang psikologis melalui karya sketsa potret dengan berbagai eskpresi yang penuh misteri. Menggenapi karya sketsa YSH, tema-tema kemanusiaan yang terbalut dengan dimensi spiritual terlihat pada karya yang merespon fenomena global yaitu wabah COVID-19. YSH menyikapi fenomena tersebut melalui sosok perempuan dalam doa yang khusuk mengharap wabah cepat berlalu.

Tema-tema perempuan dalam sejarah perkembangan seni rupa merupakan tema klasik yang tetap relevan dimaknai dan diinterpretasikan kembali pada spirit jamannya. Bagi YSH,  perempuan tidak identik dengan stigma “yang lemah”, justru sebaliknya sebagai mahluk yang lebih kuat, indah dan istimewa.

Sebagai seniman multi talenta, yang sekaligus wartawan dan penyair, alam bawah sadarnya mempengaruhi konsep berkaryanya. Saat sketsanya mengkritisi berbagai peristiwa sosial, budaya, kemanusiaan,kadang terlihat kontemplatif, yaitu suasana sunyi yang jauh dari kebisingan, dengan menghadirkan seorang sosok/figur. Kadang tersirat keramaian melalui berbagai peristiwa yang dirangkai dalam satu bingkai karya bak reportase sebuah berita.

Citra menegaskan, “Sketsa-sketsa YSH menyiratkan kekuatan ‘estetika yang berbicara’ melalui keragaman bentuk ekspresi.  Sementara berbagai material, media dan eskpresi beragam yang menjadi pilihan YSH tentu bukan merupakan akhir dari sebuah pencapaian, karena kreativitas merupakan proses yang terus bergerak secara organik.”

Sebagian karya- karya sketsa Yusuf Susilo yang dipamerkan secara virtual berjudul Corona merah hati, 2020, Antara Hidup Mati? 2020, Bersabung do’a di taman korona, 2020 dan Perayaan dan Kenangan, 2019

Testimoni para sahabat

Beberapa sahabatnya memberi kesaksian atas karya dan perjalanan YSH di bidang seni. Budayawan Madura KH.D. Zawawi Imron, yang dikenal luas sebagai sastrawan, penyair dan pelukis, yang mengikuti sepak terjang YSH sejak 1980-an menyatakan, “ Yang saya hargai pada YSH ialah kesetiaannya berkarya di bidang sketsa selama 40 tahun. Ke mana saja ia pergi selalu membawa peralatan bikin sketsa. Belakangan ia melakukan eksperimen selingkar bentuk sehingga pada karya-karyanya terakhir ia menemukan sejenis deformasi yang unik dan estetik.”

Pengamat seni rupa Agus Dermawan T menambahkan, sebagai seniman multi minat dan multi bisa, YSH antusias merekam masa lalu, dan bersemangat mengangkat peristiwa masa kini yang berkonteks, misalnya kali ini wabah Corona. Karya-karya YSH, tambah koreografer Rusdi Rukmarata dari EKI Dance Company, menunjukkan keterikatan perasaannya yang sangat kuat dengan obyek yang akhirnya menjadi goresan-goresan indah tetapi dramatis.

“Goresan-goresan YSH dipantik oleh rasa,” tutur penari, aktris film dan Dosen IKJ Nungki Kusumastuti, yang mengenalnya sejak 1980-an. Goresan rasa tadi, juga dirasakan oleh salah satu tokoh balet Indonesia Maya Tamara LRAD-ARAD, dari Namarina Dance Academy.

“Simak sketsa ballerinanya. Garisnya tajam dan lentur. Seakan gerakan Ballet Achappe Pas de bourrée…Pose into Arabesque dan attitude Bersama ketukan musik Allegro, Andante, Vituoso. Itulah yang ada di kanvasnya,” tutur Maya.

Mantan guru yang pernah kuliah di  FKIP-IKIP ini dikenal sebagai perupa, wartawan budaya senior dan penyair, mulai berkarya sejak 1980 melalui jalur sanggar. Sampai sekarang  mantan Pemred Majalah Seni Rupa Visual Art, yang kini mengelola Majalah Galeri, pernah beberapa kali pameran tunggal antara lain di Balai Budaya (1990), Taman Ismail Marzuki (2010), Pusat Kebudayaan Jepang – Indonesia (2012) , Galeri Nasional Indonesia (2014),

Yusuf juga pernah Pameran Sketsa Keliling 3 kota : Jakarta, Bojonegoro, Surabaya (2013). Pameran bersamanya yang pernah diikuti antara lain bersama Daoed Joesoef, Ruliati dkk (1993),  “Manifesto” (2010), “Bayang” (2011), “Sketsaforia” (2019). Tahun 2000 menjadi Finalis Philip Morris Indonesia Art Awards, dan tahun 2001 finalis Indofood Art Award.

Di antara buku-bukunya tentang seni rupa, sastra dan jurnalistik, berjudul  “Menangkap Momen dan Memaknai Essensi (Moment and Essence)”, merupakan kumpulan 300 sketsa pilihan tahun 1982- 2013, terbit tahun 2013.

 

 

Kisah Para Turis Asing Pilih Tetap Tinggal di Indonesia Akibat Corona

this formate

Juan Pablo (kanan) foto bersama dengan salah seorang peselancar lokal, Minggu, 26 April lalu. (Foto: rizal adhi pratama/ tugumalang.id )

MALANG, Jatim, bisniswisata.co.id: Tidak bisa pulang dan tidak mau pulang adalah dua hal yang berbeda. Namun pandemi global COVID-19 yang kini melanda 215 negara dengan jumlah kasus 4,1 juta orang memang membuat wisatawan mancanegara yang tengah berlibur di Indonesia dihadapi dilema pilihan yang berat.

Di satu sisi ingin segera pulang namun pembatasan perjalanan dan lockdown yang diterapkan dinegara asal juga membuat mereka juga ‘terjebak’ di tempat-tempat eksotis sehingga akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia hingga pandemi berakhir dan menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

Jupa, begitu warga Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang, akrab menyapa Juan Pablo, turis asal Spanyol yang tidak bisa pulang ke negaranya karena lockdown. Saat ditemui tugumalang.id, Jupa sedang bersantai di kemah, pinggir pantai Wedi Awu, sebuah pantai di Pelosok Purwodadi, Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Jupa sedang santai bermain saksofon, memainkan alunan lagu lokal Spanyol. Pria 56 tahun tersebut sudah berada di kawasan pantai Wedi Awu sejak 15 Januari 2020. Dia mengatakan, masuk ke Indonesia untuk berwisata di Bali.

“Setelah Bali memutuskan menutup pariwisata, teman saya mengajak ke sini (Tirtoyudo),” ucapnya dengan bahasa Inggris dan menambahkan bahwa dia sebenarnya sudah berniat pulang ke Spanyol.

Namun, dia dua kali terlambat pergi ke bandara. Pertama yaitu penerbangan ke Singapura, kedua penerbangan ke Thailand. Dari dua  negara transit tersebut Jupa seharusnya sudah kembali ke Spanyol. “Ya sudah tiket saya melayang karena terlambat pergi ke bandara waktu di Bali,” jelasnya dengan ekspresi santai.

Namun, terjebaknya Jupa di Indonesia, menurutnya sebuah berkah yang luar biasa. Pasalnya, dia memang ingin berwisata di Bali. Meski akhirnya dia malah tinggal lama di Purwodadi, yang pantainya, menurut Jupa, tak kalah dengan Bali. Seolah Jupa jatuh cinta dengan pantai Wedi Awu dan suasana pedesaan yang asri dan sejuk.

“Di sini saya hidup sehat, no smoking no alcohol. Saya selalu menunggu ombak bagus, main surfing di sini (Wedi Awu), di pantai Lenggoksono. Saya juga mancing ikan buat makan,” 

Jupa bercerita, keluarganya memang keturunan pelaut. Empat generasi keluarganya keturunan pelaut di Basque Country (wilayah otonom Kerajaan Spanyol). Indonesia menurutnya tidak beda jauh dengan Spanyol, karena banyak pelabuhan dan perahu.

Jupa sendiri sudah pernah datang ke Indonesia tahun 1985 lalu. Saat itu menurutnya, Bali masih bersih dan asri. Berbeda dengan saat ini yang sudah ramai dikunjungi para wisatawan. Namun pesona Bali kata Jupa, tetap menarik bagi turis mancanegara.

Untuk urusan komunikasi, Jupa ternyata sudah lama belajar Bahasa Indonesia, meskipun sedikit saja. Tidak banyak bendahara kata yang dia punya, tapi Jupa bisa mengatakan “aku cinta Indonesia”. Bahkan logatnya pun mulai medok, terkontaminasi logat penduduk lokal Jawa.

“Saya berkomunikasi English-Indonesia dan campur Bahasa Jawa,” kata dia sambil tersenyum bangga. Selama lebih 2 bulan tinggal di Purwodadi Kabupaten Malang ini, Jupa sangat jatuh cinta dengan pantai, terumbu karang dan ombaknya. 

Bahkan seandainya ada kesempatan selama 3 bulan lagi untuk tinggal, Jupa akan bersemangat belajar Bahasa Jawa. “Senang sekali tinggal di sini. Saya pernah menangkap ikan besar selengan pakai tombak, ikan di sini luar biasa. Papan surfing saya ketika berselancar, pernah digigit sama hiu besar, dua kali,” Jupa bercerita dengan semangat.

Meskipun, rumah menurutnya adalah tempat pulang. Dia sudah ingin pulang, karena rindu dan khawatir dengan istri dan 3 anaknya di Spanyol. Saat ini, komunikasi yang mereka jalin hanya lewat pesan daring. Jupa berharap virus Corona segera musnah dan berhenti penyebarannya.

“Dua bulan lalu kita semua masih bisa bercanda tentang Corona, tapi saat ini kita harus sopan dengannya. Di Kuala Lumpur, Australia dan Amerika, corona sudah jadi masalah besar, ribuan orang meninggal,” 

Tetap aman di Bali 

Anastasia Strelevske, wanita Ukraina, yang tiba di Bali bersama ibunya Larysa pada Januari 2020, adalah salah satu dari sedikit wisatawan yang tersisa di pulau Dewata dan memilih tidak mau pulang ke negaranya.

Dia telah membayar $ 240 per bulan untuk tinggal di hotel mewah baru di tepi pantai Kuta dan mereka tidak memiliki rencana untuk pergi. “Tinggal di sini baik, saya tidak ingin kembali ke negara saya. Ini bagus,” katanya.

Sementara toko dan bar bekerja dengan jam terbatas atau ditutup, kehidupan belum sepenuhnya terhenti di Bali dan bisnis lokal masih bersaing untuk mendapatkan permasukan dari beberapa wisatawan yang masih tertinggal.

Anastasia bercerita, dia mengambil bagian dalam kelas yoga reguler bersama dengan 50 orang dan berjalan-jalan di sepanjang jalan pantai bersama ibunya. “Tetap di sini baik, aku tidak ingin kembali ke negaraku.” kata Anastasia Strelevske seperti dikutip dari  Sydney Morning Herald.

Kebetulan dia bekerja di Dubai dan Arab Saudi, di sana sangat ketat dibandingkan dengan Bali. “Jadi saya tinggal, saya senang di sini, itu bagus. Saya akan tinggal sampai selesai.”

Dia pragmatis tentang risiko kesehatan yang terkait dengan tetap di Bali. “Jika saya menjaga jarak, tetap sehat, menjaga [sistem kekebalan] saya kuat, bahkan jika saya sakit, saya akan menjadi lebih baik.”

Dari Denpasar, Agence France-Presse atau AFP melaporkan bahwa ratusan wisatawan China yang gemar berwisata di Bali telah memperpanjang izin tinggal sampai situasi di negaranya benar-benar aman.

Mereka berupaya untuk tidak pulang karena khawatir terinfeksi virus korona atau Covid-19 yang justru berawal dari Wuhan, China, negara asal mereka. Indonesia telah menutup semua penerbangan menuju dan dari China sejak Februari. 

Pemerintah China sebenarnya telah menjemput warga mereka di luar negeri, termasuk Indonesia, namun hanya puluhan orang yang memanfaatkannya. Penolakan pulang itu setidaknya disampaikan Li, turis China yang bekerja di sebuah perusahaan Eropa.

Dia mengaku seperti pengungsi yang bertahan di negeri orang untuk menghindari dampak buruk di kampung halaman. “Saya seorang pengungsi internasional. China seperti penjara besar, semua kota diisolasi,” kata pria yang hanya menyebutkan nama keluarga itj.

Li mengaku tak percaya dengan jaminan Pemerintah China bahwa virus korona telah berhasil dikendalikan. Meski demikian Li mengaku punya kekhawatiran. Istri dan dua anaknya yang masih kecil ditinggal di kampung halaman sampai menunggu krisis kesehatan di negaranya berakhir. 

Selain itu dia juga mengkhawatirkan pekerjaannya. Sebagai manager perusahaan multinasional, dia tetap harus menggerakkan anak buah. “Saya seorang manager, tidak bisa meminta anak buah melanjutkan bekerja sementara saya sembunyi di sini,” katanya.

Sekitar 1,2 juta turis China mengunjungi Bali setiap tahun, kelompok pendatang terbesar kedua setelah Australia. Turis China menghabiskan ratusan juta dolar AS bagi perekonomian lokal Bali.

Dua wisatawan asing asal Italia juga tidak bisa keluar dari Raja Ampat, Papua Barat. Mereka tidak bisa kembali ke negara asalnya karena penerbangan dari Indonesia menuju Italia ditutup di tengah wabah virus corona.

Ceo wisatawan asal Italia di Pelabuhan Falaya Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat, medio Maret lalu seperti dikutip Antara mengatakan dia belum tahu sampai kapan penerbangan ke Italia ditutup. Namun dirinya dan sahabatnya masih tetap tinggal di Kabupaten Raja Ampat sampai habis masa berlaku visa izin berwisata.

“Saya dan seorang sahabat sudah berada di Indonesia khususnya di Raja Ampat sebelum wabah virus corona melanda negara kami hingga akhirnya penerbangan ditutup. Kami menikmati keindahan alam sampai habis masa berlakunya visa,  baru mencari jalan pulang ke Italia,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa dirinya takut terinfeksi virus corona yang saat ini melanda belahan dunia dan mengakibatkan banyak orang meninggal dunia. Bahkan takut pulang ke negaranya sendiri.

Dia  berharap setelah masa berlakunya visa berakhir pemerintah Indonesia masih memberikan izin untuk tinggal sampai virus corona di negara asalnya berakhir.

“Kami berharap masih diberikan izin tinggal di Indonesia sampai virus yang menghebohkan dunia ini berakhir. Mari kita berdoa agar Indonesia dan Italia cepat pulih dari virus corona,” tambahnya.

 

Program BISA Sasar Kelompok Sadar Wisata, Pelaku dan Pengelola Destinasi Wisata

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Program Bersih, Indah, Sehat dan Aman ( BISA) akan menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat kelompok sadar wisata, asosiasi pariwisata dan ekonomi kreatif serta sentra kreatif untuk menerapkan aturan baru pasca pandemi global COVID-19 atau disebut New Normal.

“Gerakan ini akan memberdayakan para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan, keindahan, Kesehatan, keamanan, di destinasi wisata dan tetap menghasilkan karya kreatif,” kata Dr. Frans Teguh MA, Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan & Konservasi Kemenparekraf, hari ini.

Seperti diketahui, tiga tahapan program Kemenparekraf menghadapi pandemi global ini adalah masa Tanggap Darurat, Pemulihan dan Normalisasi. Oleh karena itu melalui program tersebut, ujarnya, pada tahap normalisasi para pelaku diharapkan sudah terbantu dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan memiliki stabilitas ekonomi yang lebih baik.

” Usaha mereka harus terus jalan, namun dengan program BISA maka para pelaku akan terbiasa menerapkan aturan  New Normal” pasca-COVID-19 sesuai prinsip hygiene dan sanitasi yang prima untuk memperkuat daya tarik dan reputasi destinasi wisata,” kata Frans Teguh.

Bagi desa-desa wisata dan kelompok sadar wisata di tanah air sudah familiar dalam penerapan 7 Sapta Pesona yaitu Aman, Tertib. Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah dan Kenangan. Melalui program BISA maka di dorong untuk menerapkan pariwisata yang berkelanjutan, memiliki ketahanan dan bertanggung jawab.

“Fokus kita adalah penerapan Community Base Tourism yang berfokus pada manusianya untuk mengembangkan dan memperkuat ekosistem Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sehingga dalam mengelola usaha maupun destinasi wisatanya menerapkan aksi sesuai prinsip sustainable tourism,” tambahnya.

Hal-hal yang harus menjadi perhatian adalah masalah kebersihan ( Bersih = B) berarti selain toilet dan sampah juga menjaga polusi sehingga menghasilkan Indah = I  meningkatkan daya tarik alam dan budaya. Masyarakatnya harus pro-aktif memperkuat ambiance atau aura destinasi dengan tradisi dan atraksi seni budaya.

Selain itu ada keserasian bentang alam dan budaya misalnya  penataan taman, kegiatan tanam pohon restorasi karang. Selanjutnya unsur Sehat = S, hygiene, sanitation, health care dan terakhir Aman = A seperti menghidupkan kembali budaya siskamling, cakap dalam menghadapi situasi darurat (emergency ) dan safety service.

“Budaya Jaga Jarak ( Social dan physic distancing serta protokol kesehatan harus mendapat dukungan dari berbagai unsur di daerah mulai dari Pemerintah Daerahnya, Badan Otorita, Pengelola kawasan destinasi bahkan termasuk peran Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTNP),”

Frans Teguh mengatakan banyak yang harus dilakukan di era New Normal karena metode atau pola kerja, sistem monitoring, pendampingan, quality control, kebersihan dan keamanan.  Bahkan perlu sertifikasi bahwa suatu destinasi wisata  sudah memenuhi kebutuhan wisatawan pasca COVID-19.

Persaingan antar destinasi wisata akan sangat ketat karena itu untuk memenangkan persaingan maka manajemen pengelolaan usaha tidak bisa diabaikan mulai dari promosinya, reputasi branding, pengelolaan  keuangan sampai laporan akuntabilitasnya.

” Sasaran utamanya adalah Kelompok sadar wisata (Pokdarwis), Asosiasi Parekraf, Homestay, sentra kreatif di lokasi destinasi wisata. Seperti diketahui kita memiliki lima destinasi super prioritas di tambah lagi Kepulauan Riau, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogya sehingga total 11 Provinsi.

Untuk setiap provinsi dialokasikan bagi 10 lokasi  destinasi pariwisata dengan pelaksanaan kegiatan a.l bantuan pembelian peralatan dan modal kerja, fasilitas kebersihan, keindahan, peralatan kesehatan dan fasilitas keamanan/keselamatan.

Selain itu pihaknya juga akan memberikan pelatihan dan pendampingan pengelolaan untuk  mendorong dan mengapresiasi program ketahanan usaha dan mitigasi plan di destinasi pariwisata. 

Untuk menopang ketahanan usaha para pelaku, kata Frans Teguh, dilakukan penyusunan dan review SOP dan  mitigasi plan, rekap/identifikasi entitas atau kelembagaan yang telah maupun yang belum memiliki SOP & mitigasi plan serta menyusun rekomendasi insentif utk entitas yang memiliki skema mitigasi plan dan SOP.

” Penerapan New Normal pasca pandemic dalam pelaksanaannya akan membutuhkan rebound strategy terutama kesiapan destinasi dalam aspek Standar Kemanusiaan Inti dalam hal Kualitas dan Akuntabilitas atau biasa disebut the Core Humanitarian Standard ( CHS) “

CHS, ungkap Frans untuk membangun kepercayaan (trust) dan simpati publik yaitu wisatawan domestik maupun mancanegara melalui penguatan promosi destinasi yang sudah memenuhi CHS. Seperti diketahui pandemi global yang melanda 215 negara ini sudah mencapai 4,18 juta kasus sehingga ke depan pelaksanaan verifikasi, audit, dan sertfikasi CHS memang dibutuhkan.