MADRID, bisniswisata.co.id: Kiper legendaris Real Madrid, Spanyol dan pemenang Piala Dunia Iker Casillas, dalam upacara virtual hari ini, ditetapkan sebagai Duta Besar Khusus untuk Pariwisata yang Bertanggung Jawab (Ambassador for Responsible Tourism) Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).
Penjaga gawang ini berjanji untuk mempromosikan manfaat kepariwisataan bertanggungjawab dan memberikan visibilitas lebih besar terhadap nilai-nilai hakiki pariwisata dunia.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili, menyerahkan plakat khusus kepada Casillas atas kesediaannya mendukung keberlanjutan pariwisata dunia di saat-saat kritis, ketika sektor ini mengalami pukulan keras dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.
“Olahraga dan pariwisata mampu membangkitkan rasa kemanusian umat. Aktivitas yang mengedepankan nilai-nilai bersama tentang solidaritas, kerja tim, dan keunggulan. Spirit berkualitas ini dibutuhkan komunitas global sekarang dan kedepan, karena kita menghadapi tantangan besar darurat kesehatan dunia. Sebagai pemain, Iker Casillas adalah pemenang dan pemimpin, dan saya senang dia memutuskan untuk mendukung kami dengan kepribadian dan ide-ide baru untuk mempromosikan pariwisata, ” ungkap Pololikashvili.
Casillas kemudian bergabung dengan tokoh sepak bola terkemuka lainnya seperti Lionel Messi, Andrés Iniesta, Michel Salgado, Fernando Hierro, Didier Drogba dan Vicente del Bosque, yang telah ditunjuk sebagai duta organisasi untuk promosi pariwisata yang bertanggung jawab.
Tugas utama Iker Casillas adalah menggemakan pesan utama Organisasi Pariwisata Dunia dalam menghadapi COVID-19. Kata Casillas, “bersama-sama, kita dapat mencapainya, lebih baik tinggal di rumah hari ini sehingga kita dapat melakukan perjalanan besok.”
Rain Vortex, Changi, Air terjun indoor tertinggi di dunia (foto: sign builder)
LONDON, bisniswisata.co.id: Meski saat ini kebanyakan orang masih bertanya-tanya kapan mereka bisa kembali terbang, Skytrax – lembaga independen pemeringkat penerbangan yang berkedudukan di London – mengeluarkan daftar 10 besar bandara terbaik di dunia. Singapura untuk ke-8 kalinya kembali dinobatkan sebagai bandara terbaik.
Di peringkat kedua ada Bandara Haneda di Tokyo, disusul Bandara Internasional Hamad di Doha yang menduduki peringkat tiga. Pengumuman pemenang Award semula direncanakan dilakukan pada 1 April bertepatan dengan acara Passenger Terminal Expo di Paris, Perancis. Namun karena pandemi Covid-19, acara tersebut dibatalkan. Sebagai gantinya, panitia mengumumkan hasil survei kepuasan pelanggan bandara di seluruh dunia pada Minggu (10/5/2020) secara virtual yang disiarkan langsung di channel Youtube.
“Setelah pengumuman penghargaan tertunda selama hampir enam minggu, kami merasa kini saatnya memberi sedikit kegembiraan ke industri bandara di masa-masa sulit ini,” kata Edward Plaisted, CEO Skytrax, dalam pernyataannya.
Studi tahunan Skytrax yang dilakukan lewat survei tingkat kepuasan ini melibatkan pelanggan lebih dari 100 negara. Survei berlangsung mulai September 2019 hingga Februari 2020 dan melibatkan 550 bandara.
Kemenangan Singapura sebenarnya sudah dapat diprediksi. Peresmian Jewel Changi Airport pada April tahun lalu menegaskan bandara tersebut menawarkan sejumlah fasilitas yang mengesankan. Kompleks multi guna ini dirancang apik menghubungkan tiga dari empat terminal di Bandara Changi.
Eksterior bangunan berbentuk donat yang dibingkai dengan baja dan kaca menampilkan kesan eksotik. Pengembangan bandara seluas 135.700 meter persegi itu dirancang khusus arsitek kenamaan Moshe Safdie. Daya tarik lain di bandara tersebut adalah air terjun buatan bernama HSBC Rain Vortex setinggi 40 meter yang letaknya di tengah taman di dalam kubah Jewel. Rain Vortex disebut sebagai air terjun indoor tertinggi di dunia.
Berikut ini daftar 10 negara dengan bandara terbaik di dunia, dilansir dari CNN:
Changi Airport (Singapura)
Tokyo Haneda Airport
Hamad International Airport (Doha, Qatar)
Incheon International Airport (Korea Selatan)
Munich Airport (Jerman)
Hong Kong International Airport
Narita International Airport (Tokyo)
Chūbu Centrair International Airport (Nagoya, Jepang)
DENPASAR, bisniswisata.co.id: DIDEDIKASIKAN kepada mereka-mereka yang ada di garis depan dalam cerita menghadapi pandemi COVID-19. “Ada beberapa temanku dokter dan paramedis yang sudah terlalu lama nggak pulang ke rumah,” kata Dadang Pranoto yang lebih popular sebagai Pohon Tua, penulis lagu utama Dialog Dini Hari, saat merilis single baru yang diberi judul lantang, Garis Depan.
Pandemik COVID-19 menjadikan pergerakan masyarakat dunia menjadi senyap yang mengkhawatirkan, akibat pembatasan pergerakan oleh pemerintah. Persoalan keseharian dalam darurat kesehatan juga mempengaruhi dinamikan kalangan pemusik seperti dialami grup musisi Dialog Dini Hari. Secara kolektif, mereka bergumul dengan isu-isu yang sama; tentang bagaimana persoalan umat manusia ini ditanggulangi. Sekaligus melihat ke depan dan menyalakan harapan optimistis.
“Ingat ketika sibuk tur, main di sana, di sini. Perlu waktu lama, bengong di rumah biar dapat ide untuk karya baru. Pandemik, ketika band nggak ada kesibukan lain, ya waktunya dipakai untuk ngobrol dan diskusi. Akhirnya bikin sesuatu,” ungkap Pohon Tua menjelaskan apa yang terjadi di belakang layar kehidupannya bersama Brozio Orah (bas dan synthesizer) dan Deny Surya (drums), dua orang personil Dialog Dini Hari yang lain.
“Karena ngobrol dan diskusi itu tadi, dari satu lagu jadi dua lagu, jadi tiga lagu dan seterusnya. Prosesnya terus berlangsung,” lanjut Pohon Tua.
Single Garis Depan dan juga Kulminasi II – single lainnya– akan menjadi bagian dari mini album (EP/ Extended Player) bertajuk Setara. Uniknya mini album Setara di mixing di Lengkung Langit Studio dan mastering di Posko Studio oleh Deny Surya, rekamannya dilakukan dari studio rumah masing- masing personil Dialog Dini Hari.
Pandemik menuntut semua pihak meminimalisir komunikasi fisik dan mengubahnya jadi serangkaian obrolan virtual serta menahan rindu untuk bercengkerama dengan orang-orang yang banyak membantu Dialog Dini Hari bertahun-tahun.
“Kami masih punya banyak api yang tertahan paska Parahidupdi rilis tahun lalu. Itu yang juga membuat kami terus menulis,” jelas Pohon Tua.
Parahidup adalah album penuh ketiga Dialog Dini Hari, dirilis tahun 2019. Periode kedepan, secara optimis merupakan periode paling produktif untuk urusan karya dalam kisah panjang Dialog Dini Hari.
Selamat mendengarkan Garis Depan. EP Setara, ungkap Pohon Tua kemungkinan besar dirilis bulan Juni 2020. Bisa mundur, bisa juga tepat waktu. Namanya juga kesenian, yang selalu berjalan paralel dengan ketidakpastian.
Sektor pariwisata Afrika perlu bantuan (Foto: Hospitality net)
JENEWA, Swiss, bisniswisata.co.id: Lima lembaga transportasi udara dan pariwisata internasional meminta agar organisasi keuangan dunia, negara donor, dan mitra pembangunan, untuk ikut menyelamatkan sektor perjalanan ( travel) dan pariwisata ( tourism) di negara-negara Afrika. Saat ini ada sekitar 24,6 juta orang bergantung pada sektor ini.
Tanpa ada dana darurat, krisis akibat pandemi COVID-19 dapat menyebabkan rontoknya sektor pariwisata di Afrika dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Sektor ini menyumbang US$ 169 miliar atau setara 7,1% dari PDB seluruh negara yang ada di benua Afrika.
Kelima lembaga tersebut adalah IATA (International Air Transport Association), UNWTO (the UN World Tourism Organization), WTTC (the World Travel & Tourism Council), AFRAA (the African Airlines Association), dan AASA (the Airlines Association of Southern Africa).
“Dampak COVID-19 di Afrika akan terus berlanjut dan brutal. Perjalanan udara dan pariwisata ditutup. Inilah saatnya negara-negara internasional berkumpul untuk membantu komunitas-komunitas paling rentan. Kelangsungan hidup industri ini dan sektor terkait lainnya membawa pengaruh serius bagi seluruh sistem transportasi udara Afrika, ”kata CEO AASA, Chris Zweigenthal dalam rilis Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (World Travel and Tourism Council/WTTC) di Jenewa.
Sebenarnya, sejumlah negara di Afrika telah berupaya membantu kalangan paling terdampak. Namun, minimnya ketersediaan sumber daya telah menyulitkan mereka melewati masa krisis ini.Saat ini situasinya betul-betul kritis. Maskapai penerbangan, hotel, losmen, pondok, restoran, tempat pertemuan dan bisnis terkait lainnya mengalami kerugian yang terus meningkat.
Kondisinya semakin parah karena mayoritas atau sekitar 80% sektor travel dan tourism di sana adalah kelompok usaha kecil dan menengah. Untuk menghemat, banyak perusahaan sudah merumahkan karyawan atau menawarkan cuti yang tidak dibayar.
Usulan yang ditawarkan kelima lembaga tersebut, antara lain, termasuk: penyaluran bantuan US$10 miliar bagi industri travel & tourism di Afrika; membuka akses sumber hibah sebanyak mungkin untuk membantu keuangan perusahaan; memberi dispensasi termasuk penangguhan kewajiban membayar pinjaman; dan sesegera mungkin mencairkan dana guna menyelamatkan bisnis dari kemungkinan kolaps.
Industri penerbangan, misalnya, merupakan inti dari rantai bisnis travel dan tourism yang telah menciptakan lapangan kerja bagi 24,6 juta orang di Afrika. Kini, mata pencaharian mereka terancam akibat pandemi COVID-19.
Kebijakan pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan upaya membendung penyebaran virus ini sudah benar. “Tetapi, bantuan keuangan untuk menyelamatkan sektor perjalanan dan pariwisata juga diperlukan. Kehancuran ekonomi akibat COVID-19 akan membawa kemunduran 10 tahun ke belakang bagi Afrika. Jadi, bantuan keungan hari ini merupakan investasi penting bagi masa depan jutaan warga Afrika paska pandemi,” kata Dirjen dan CEO IATA, Alexandre de Juniac.
Kunjungan wisatawan internasional ke seluruh dunia tahun ini diperkirakan turun hingga 80% ( foto: Kemenparekraf)
MADRID, Spanyol, bisniswisata.co.id: Kunjungan wisatawan internasional telah turun 22% di kwartal pertama tahun ini dan sepanjang tahun 2020 diperkirakan bisa terjun bebas hingga 60-80%, ungkap laporan World Tourism Organization ( UNWTO).
Dunia kehilangan sedikitnya 67 juta lebih wisatawan internasional yang tidak melakukan perjalanan hingga Maret lalu dan jika diterjemahkan ke dalam kerugian ekspor senilai US$ 80 miliar
Akibat pandemi COVID-19, data terbaru dari Organisasi Pariwisata Dunia ini krisis dapat menyebabkan penurunan tahunan antara 60% dan 80% bila dibandingkan dengan angka 2019. Ini menempatkan jutaan mata pencaharian dalam risiko dan mengancam terhentinya kemajuan yang telah dicapai sustainable development goals (SDGs).
Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili mengatakan: “Dunia menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pariwisata telah terpukul keras, dengan jutaan pekerjaan berisiko di salah satu sektor ekonomi yang paling padat karya,”
Meskipun Asia dan Pasifik menunjukkan dampak tertinggi secara relatif dan absolut (-33 juta kedatangan), dampak di Eropa, meskipun dalam persentase lebih rendah, volumenya cukup tinggi (-22 juta).
Kedatangan turis internasional, 2019 dan kwartal 1 2020 (% perubahan)
Skenario Pariwisata Internasional 2020
Prospek pariwisata internasional untuk tahun ini telah diturunkan beberapa kali sejak wabah pandemi global COVID-19 yang melanda 217 negara, ditengah ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi.
Skenario saat ini menunjukkan kemungkinan penurunan kedatangan wisatawan dunia dari 58% menjadi 78% untuk tahun ini. Hal Ini tergantung pada kecepatan menahan penyebaran virus dan durasi berapa lama pembatasan perjalanan dan penutupan perbatasan dilakukan oleh suatu negara.
Skenario berikut untuk tahun 2020 didasarkan pada tiga kemungkinan dan tergantung kapan mulai dicabutnya pembatasan dan dibuka bertahap perbatasan internasional;
Skenario 1 (-58%) jika kelonggaran perjalanan mulai awal Juli. Skenario 2 (-70%) jika ada pelonggaran pembatasan perjalanan pada awal September dan skenario 3 (-78%) jika kelonggaran pembatasan perjalanan baru pada awal Desember.
Kedatangan turis internasional pada tahun 2020: tiga skenario (perubahan bulanan,%)
* Data aktual hingga Maret termasuk perkiraan untuk negara yang belum melaporkan data. Sumber: UNWTO
Catatan: Skenario yang disajikan dalam grafik ini bukan perkiraan. Mereka mewakili perubahan bulanan alternatif dalam kedatangan berdasarkan pembukaan bertahap perbatasan nasional dan pencabutan pembatasan perjalanan pada tanggal yang berbeda dan masih didominasi ketidakpastian yang tinggi.
Di bawah ini skenario dari dampak akibat hilangnya permintaan perjalanan internasional yang dapat diterjemahkan menjadi:
*Kehilangan 850 juta hingga 1,1 miliar turis internasional
*Kehilangan pendapatan dari kunjungan wisatawan internasional dari US$ 910 miliar menjadi US $ 1,2 triliun
*100 hingga 120 juta pekerjaan pariwisata langsung berisiko.
Sejauh ini ini COVID -19 adalah krisis terburuk yang dihadapi pariwisata internasional sejak data kunjungan mulai dicatat pada 1950. Dampaknya akan terasa pada tingkat yang berbeda-beda di berbagai wilayah global dan pada waktu yang tumpang tindih, dengan Asia dan Pasifik diperkirakan akan pulih lebih dulu.
Para ahli melihat pemulihan pada tahun 2021
Menurut survei Panel Pakar UNWTO, permintaan domestik diperkirakan akan pulih lebih cepat dari permintaan internasional. Mayoritas negara mengharapkan untuk melihat tanda-tanda pemulihan pada kuartal terakhir tahun 2020 tetapi sebagian besar pada tahun 2021.
Berdasarkan pengalanan menangani krisis sebelumnya, perjalanan liburan diharapkan untuk pulih lebih cepat, terutama perjalanan untuk mengunjungi teman dan kerabat, daripada perjalanan bisnis.
Perkiraan mengenai pemulihan perjalanan internasional lebih positif di Afrika dan Timur Tengah dengan sebagian besar ahli memperkirakan pemulihan masih pada tahun 2020.
Para ahli di Amerika adalah yang paling tidak optimis dan paling tidak percaya pada pemulihan pada tahun 2020, sementara di Eropa dan Asia prospek beragam, dengan setengah dari para ahli berharap untuk melihat pemulihan dalam tahun ini juga.
Kapan Anda mengharapkan permintaan pariwisata di tujuan Anda akan mulai pulih?

Kapan Anda mengharapkan permintaan internasional untuk tujuan Anda akan mulai pulih?
Bersepeda di tepi pantai, salah satu aktivitas Gen Z dalam berwisata. ( Foto: Kemenparekraf)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Generasi Z dan milenial harus tetap optimistis menghadapi perubahan perilaku manusia (New Normal) termasuk perubahan perilaku berwisata. Akibat situasi pandemi COVID-19 memang tidak mudah bagi pariwisata untuk bertahan atau berkembang, apalagi seluruh dunia merasakannya.
Menparekraf Wishnutama mengatakan hal itu saat konferensi virtual I’M Milenial dan Genersi Z dengan tema “Tantangan, Harapan dan Masa Depan New Normal” , kemarin yang dihadiri lebih dari 100 peserta dipandu Stella Nau dan menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VII Maman Abdurrahman dan Chief Executive I’M Gen Z, Budi Setiawan.
“Yang terpenting, adalah kita harus optimistis pada masa depan kita. Kita meyakini pascapandemi masa depan pariwisata kita akan luar biasa. Untuk jadi pemenang jangan ada sifat pesimistis. Pemenang mencari kesempatan, bukan kekurangan. Buat generasi muda, ayo cari apa kesempatan yang ada. Hal ini tidak bisa dipelajari, tapi harus dicari sendiri,” kata Whisnutama.
Sebetulnya sebelum pandemi COVID-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menyusun berbagai skenario strategis yang sifatnya sangat dasar dalam rencana kerja tahun 2020 seperti fasilitas wisata yang sesuai standard higienitas, kebersihan toilet, keselamatan, keamanan.
Dalam masa pandemi ini, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait sekuat tenaga mencari cara untuk mempercepat langkah pemulihan sektor parekraf. Karena negara lain juga akan berusaha keras untuk mendatangkan wisatawan. “Untuk tahap awal kita akan coba mendorong wisatawan nusantara dulu, baru kita datangkan wisatawan mancanegara,” katanya.
Seperti diketahui, pandemi COVID-19 telah membuat perilaku manusia yang baru (New Normal) yang berbeda dan berubah dari perilaku sebelumnya. Perilaku yang jauh lebih peduli terhadap kesehatan hingga selalu menjaga jarak aman. Perubahan perilaku tersebut juga kemungkinan besar akan terjadi pada wisatawan saat berkunjung ke destinasi.
“New normal tersebut ternyata inline dengan apa yang sudah dipersiapkan Kemenparekraf. Sangat dasar, ditambah dengan protokol-protokol kesehatan yang sedang kita persiapkan. Seperti protokol kesehatan di bandara, restoran, hotel, tempat hiburan, bioskop, juga terus dipersiapkan, “kata Wishnutama.
Oleh Karena itu kita juga ingin perekonomian harus tetap berjalan, harus tetap sustainable. Untuk itu antisipasi kebutuhan menghadapi new normal, yang harus dipersiapkan salah satunya adalah kebutuhan dasar, tegasnya.
New normal berikutnya, lanjut Wishnutama, adalah era digital. Dimana era digital saat ini sangat terakselerasi dengan cepat. Dia menjelaskan, dalam kondisi seperti ini semua orang dipaksa melakukan aktivitas secara digital. Yang artinya, ada potensi digitalisasi yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
“Di sektor parekrafbanyak potensi itu. Dan kita akan membuka ruang-ruang diskusi untuk itu. Yang penting di era digital, adalah bagaimana bangsa Indonesia menguasai ekosistem digital, itu yang bisa membuat kita menang. Yang juga penting adalah data. Bahkan menurut saya, saat ini data sangat berharga dibandingkan minyak. Minyak bisa habis digunakan, sedangkan data terus berkembang dan bisa dipakai sampai kapanpun,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Maman Abdurrahman juga mengakui menghadapi pandemi COVID-19 tidaklah mudah. Dia menjelaskan negara maju seperti Amerika saja kewalahan. Untuk itu langkah yang diambil pemerintah harus diapresiasi. Banyak sektor yang terdampak. Tapi memang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang paling terimbas.
“Kita semua harus memikirkannya. Semua harus bisa mendukung Kemenparekraf, minimal dengan menyampaikan hal-hal positif. Tidak hanya itu, anak-anak muda juga harus mampu menciptakan platform media sosial lokal Indonesia untuk bersaing dengan dunia. Karena, sudah saatnya Indonesia mendorong industri digital dalam negeri untuk mampu bersaing,” kata Maman.
Masakan Indonesia bubur ayam, hasil jepretan @husniatisalma ( foto: unsplash.com)
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Memfoto makanan pesanan setelah disajikan di meja menjadi hal yang lumrah jika berada di Cafe atau Restoran. Disadari atau tidak, kegiatan ini sudah menjadi sebuah budaya atau tren sekarang ini. Kenapa bisa disebut budaya? Karena dilakukan secara terus menerus, dan dilakukan oleh banyak orang.
Budaya foto sebelum makan dan meng-uploadnya atau menggunggahnya ke media sosial, apapun niatnya jangan lupa berdoa dulu ya, berterima kasih pada Allah SWT karena masih mampu menikmati berkahnya menyantap makanan yang indah di mata dan enak dilidah serta sehat tentunya.
Terlepas pada niat mereka yang datang ke Resto atau Cafe mewah dan mahal hanya demi eksistensi mereka dengan cara meng-upload makanan di media sosial agar mendapat ‘pengakuan’ dari teman-teman baik di media sosial atau di dunia nyata, foto-foto makanan itu cukup menggiurkan dan cepat viral jika netizen tergiur baik dari penampilan, review rasa maupun harganya yang terjangkau.
Bagi mereka yang suka kuliner maka budaya ini, melihat foto-foto makanan sekaligus bisa mencari referensi dimana bisa menikmati menu makanan yang disediakan, harga makanan dan fasilitas yang disediakan mulai dari streetfood alias di kaki lima hingga ke restoran mahal.
Tak salah memang jika Booking.com perusahaan e-commerce travel terbesar di dunia mengeluarkan riset di bulan Desember 2019 dan mengungkapkan
hampir sepertiga dari wisatawan global (31%) berencana untuk mengambil lebih banyak foto makanan di tahun 2020 dan ini memang kebiasaan yang sangat populer di antara traveler Asia untuk memamerkan makanan mereka yang unik selama perjalanan.
Asia adalah percampuran budaya, dan itu terlihat dari ragam jajanan yang mereka miliki. Kawasan ini menjadi hidup di malam hari, di antara gedung-gedung pencakar langit dan restoran mewah, kota-kota metropolitan Asia memiliki “harta” tersembunyi dari apa yang mereka tawarkan di restoran, di antara jalan-jalan yang ramai.
Kita akan menemukan masyarakat dari berbagai kalangan di satu jalan dengan penjual makanan yang memuaskan hasrat kuliner mereka dengan kearifan lokal dan hidangan pedas.
Pepatah mengatakan kita makan dengan “indra penglihatan” kita, hal ini terbukti karena 61% mengatakan mereka memilih destinasi wisata karena makanan atau minuman yang lezat dan lebih dari separuh wisatawan global (51%) memilih mencari pasar jajanan lokal.
Wah pantas saja media sosial kini dipenuhi foto-foto yang memamerkan petualangan perjalanan dan makan foodie adventures. Makanan yang cantik, cerah dan tidak biasa adalah cara sempurna untuk memenuhi feed dan memamerkan makanan hasil penjelajahan wisata.
Riset lainnya dari Booking.com di tahun 2018 melalui survey online dengan total 56,727 responden yang diselesaikan pada bulan Oktober 2017 di berbagai negara menunjukkan hampir sepertiga dari wisatawan (31%) berencana untuk mengambil lebih banyak gambar makanan dalam kegiatan travelingnya.
Ternyata wisatawan yang gemar jeprat-jepret sebelum makan itu untuk survey di Indonesia mencapai 50%. Kegiatan ini juga populer di antara pelancong asal Asia seperti China (65%), India (57%), Thailand (53%) dan Hong Kong (48%).
Pepijn Rijvers, Senior Vice President dan Chief Marketing Officer di Booking.com mengatakan, “Makanan memegang peranan penting bagi kita dalam pilihan perjalanan dan terutama dalam keseluruhan pengalaman perjalanan,” ujarnya.
Mencoba makanan lokal atau street food merupakan cara terbaik bagi para wisatawan untuk merasakan budaya lokal sebenarnya, dan tenggelam dalam komunitas lokal, serta eksplor sesuatu yang baru dan berbeda.
Rijvers mengatakan dengan menggunakan referensi dari ulasan para wisatawan maka hal ini membantu dalam mengidentifikasi tempat terbaik untuk dicoba dan tempat terbaru untuk dijelajahi sehingga dapat merasakan setiap kenikmatan di seluruh dunia.
Pantai di Eropa siap menerima pengunjung dengan penerapan social distancing yang ketat (foto : the atlantic)
SPANYOL, bisniswisata.co.id: Liburan musim panas, biasanya dimulai awal Juli hingga September, bagi penduduk di negara empat musim berarti saatnya melakukan aktivitas outdoor. Mandi sinar matahari di pantai menjadi pilihan banyak orang. Namun, di zaman pandemi Covid-19, ada kebijakan ‘jaga jarak sosial’ yang membatasi jumlah kerumunan orang, termasuk di pantai.
Lalu, bagamana mengaturnya? Apakah dengan membuat reservasi di muka, seperti memesan tempat di restoran? Persis. Setidaknya itulah yang terjadi di Spanyol. Para pengunjung pantai diminta untuk terlebih dahulu mem-bookingspot berjemur di pantai untuk liburan musim panas mendatang.
Canet d’en Berenguer, sebuah kota Mediterania yang terletak di utara Valencia, misalnya, hanya mengizinkan maksimum 5.000 orang setiap hari untuk berjemur di pantai setempat. Jumlah itu mewakili setengah dari keadaan normal. Pembatasan ini dilakukan untuk mematuhi aturan ‘jaga jarak sosial.’
Penguasa setempat meminta agar mereka yang hendak berjemur di pantai memesan tempat terlebih dahulu sebelum datang melalui aplikasi telepon selular.
“Musim panas kali ini akan sangat berbeda,” kata Walikota Pere Joan Antoni Chordá kepada CNN. Dia menambahkan, akan ada jarak yang lebih besar antar para pengunjung pantai. “Seperti pantai ‘kelas bisnis’.”
Penguasa di Kota Canet akan membuat semacam sekat-sekat selebar masing-masing dua meter di sepanjang pantai untuk memastikan social distancing tetap terjaga. Para pengunjung pantai hanya diizinkan memesan tempat untuk berjemur pada pagi atau sore hari, dan bukan untuk sepanjang hari.
Pemandangan seperti ini akan menjadi new normal bagi pengunjng pantai. Menurut sang walikota, mereka yang akan datang ke pantai untuk mandi matahari dapat memesan tempat seperti layaknya saat memilih kursi bioskop secara online. Waktu kedatangan pun diatur sedemikian rupa guna menghindari keramaian.
Selain itu, akses masuk ke pantai juga dibatasi. Saat tiba di pantai, para pengunjung diminta melapor ke petugas setempat yang akan mengkonfirmasi reservasi mereka. Lalu petugas akan mengarahkan mereka ke tempat yang telah disiapkan. Walikota Antoni menganggap cara ini penting untuk membendung penyebaran virus yang hingga saat ini belum ada penangkalnya.
“Saya tidak akan mampu mengontrol arus kedatangan orang tanpa dibarengi dengan langkah-langkah pencegahan baru. Mereka akan berkumpul bersama-sama dan saling menulari virus,” jelasnya.
Canet d’en Berenguer bukanlah satu-satunya kota di Spanyol yang membuat sekat-sekat dan membatasi kunjungan orang ke pantai saat musim panas mendatang. Pengelola Pantai Galacia, di kota Sanxenxo memberlakukan aturan ‘first come, first served.’
Walikota Telmo Martin mengaku tidak terlalu khawatir adanya keramaian di akses masuk ke pantai. “Pariwisata menopang 80% ekonomi kita,” kata Martin yang dilansir CNN. “Kita harus mencari solusi bagaimana agar warga di sini tetap merasa aman, terutama dari sudut pandang kesehatan. Saya meminta ini menjadi tanggung jawab semua.”
Sanxenxo yang lokasinya hanya satu jam perjalanan darat dari perbatasan Portugis, berencana membuka akses pantai hingga 75% dari jumlah pengunjung saat sebelum Pandemi Covid-19.
Sama seperti di kota Canet, Sanxenxo juga membangun sekat-sekat selebar masing-masing 1,5 meter di sepanjang pantai untuk memastikan mereka yang berjemur di pantai tetap menjaga jarak sosial.
Selain itu, pengelola pantai juga membangun tiang-tiang kayu yang membentuk kotak-kotak kecil sebagai pembatas ruang. Petugas akan rajin mengawasi akses masuk pantai serta mendampingi para pengunjung di tempat-tempat berjemur.
Lama berjemur pun dibatasi. Mereka tidak diizinkan menguasai tempat itu selama seharian penuh meski sudah meletakkan handuk di atas pasir. Jika mereka pergi makan siang, berarti tempatnya menjadi milik orang lain, kata Martin.
Nasi goreng, masakan Indonesia ( Unsplash.com/ Ariv Kurniawan)
MELBOURNE, Aussie, bisniswisata.co.id: Kuliner di suatu tempat bisa menjadi ciri khas daerah sebagai salah satu kebutuhan utama bagi wisatawan untuk dikonsumsi di tempat ataupun untuk dibawa pulang ke daerahnya sebagai oleh-oleh dari daerah yang dikunjunginya seperti gudeg Yogya, misalnya.
Dalam perkembangannya wisata kuliner bukan hanya sekedar menikmati menu makanan di tempat atau dibawa pulang. Bahkan proses pembuatan mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan masakan, dan pengemasannya dapat dijadikan paket wisata yang sangat menarik dan digemari wisatawan terutama di desa-desa wisata.
Bagi Widha Chaidir, diaspora Indonesia yang kini bermukim di Melbourne, Australia, kuliner tradisional justru membuatnya selalu mencarinya saat pulang ke Indonesia. Setiap hari saat pulang kampung akan dimanfaatkannya untuk menyantap masakan dari berbagai daerah.
“Nasi bukan makanan utama, jadi saya suka pilih gado-gado Betawi, karedok Sunda, Asinan, Mie kocok Bandung dan lainnya,” kata Widha Chaidir, hari ini melalui daring.
Meninggalkan Indonesia tahun 1983 dan bermukim serta bekerja di Marseilles, Perancis membuatnya terbiasa makan roti dan pasta ketimbang mencari nasi yang juga memang lebih sulit didapat. Tentu saja untuk kebutuhan buah dan sayurnya hampir setiap hari dia membuat salad dan bumbunya sendiri.
Saat di negri orang dimana umat Muslim menjadi kelompok minoritas masak sendiri memang yang paling aman dan saat jamuan makan baik menjamu tamu di rumah maupun jamuan di Kedutaan Besar Republik Indonesia ( KBRI) di luar negri maka menu andalan a.l nasi goreng, sate ayam dan rendang Padang.
” Saya sendiri kalau menjamu tamu di rumah lebih suka bikin nasi goreng, lumpia, salad dan kalaupun bikin opor isinya bukan ayam tapi kentang dan wortel,” kata Widha.
Hijrah dari Perancis ke Australia pada 1997, Widha yang berprofesi sebagai guru bahasa Perancis di sebuah sekolah swasta di kawasan Ivanhoe, 8 km dari pusat kota Melbourne, mengaku agak sulit mengajak teman-temannya warga Australia menikmati kuliner otentik Indonesia. Soalnya restorannya sangat terbatas dan pilihan akhirnya hanya itu-itu juga.
“Restoran Indonesia memang tidak banyak, dari dulu yang eksis misalnya Restoran Nelayan dimana yang datang kebanyakan orang Indonesia dan keturunan China. Kalau orang bule ( Aussie) umumnya yang sudah pernah datang ke Indonesia,” jelas Widha.
Menurut Widha, warga Australia adalah tamu repeater ke Bali dengan total turis Aussie ke Indonesia mencapai 1,5 juta/ tahun. Mereka bahkan hampir tiap tahun datang lagi ke Indonesia meskipun promosi pariwisata Thailand juga sangat gencar.
” Jaman Menpar Jero Wacik datang ke Aussie dan jumpa dengan diaspora RI sudah saya ungkapkan kalau bikin Festival Indonesia atau bikin Festival kuliner cukup ampuh untuk menjaring wisman. Apalagi kalau banyak restoran Indonesia dibuka di kota-kota besar di negri kangguru ini,” ungkapnya.
Negara-negara tetangga kalau mempromosikan pariwisata negaranya akan all-out dan promosi di TV nasional, bus, tram dan ruang publik lainnya minimal sebulan sebelumnya sehingga ketika eventnya tiba sambutannya juga luar biasa, jelasnya.
Sayang alasan budget promosi terbatas selalu menjadi jawaban klise sementara restoran Vietnam dengan menu unggulan Pho ( mie) dan Pad Thai serta restoran Malaysia dengan andalannya Nasi Lemak menjamur di Melbourne dan kota lainnya. Begitu pula resto Sushi Jepang.
Widha Chaidir, diaspora Indonesia di Melbourne, Australia
“Pemerintah Indonesia melalui BUMN harus berani buka restoran di kota-kota penting di dunia sehingga bisa mempopulerkan masakan Indonesia di tingkat dunia. Katanya Rendang sudah jadi makanan yang enaknya nomor satu di dunia, tapi kok turis tidak datang berduyun-dutun ke Sumatra Barat ?,” katanya kritis.
Widha Chaidir berharap dalam benak wisatawan asing akan muncul satu saja menu andalan Indonesia yang bisa menjadi trigger mereka datang ke Indonesia gara-gara kepincut kuliner yang jadi andalan. Sama seperti orang kita ke Italia pingin mencicipi originalitas pizza yang dikenalnya di Tanah Air.
Selain soal kuliner, hospitality harus menjadi perhatian pemerintah yang sudah mempromosikan 10 daerah tujuan wisata baru dan destinasi prioritasnya. Mengapa orang Australia misalnya, tetap rajin ke Bali tidak ke Sumatra Barat yang kulinernya sudah diakui dunia ?.
SDM di Bali sekalipun hanya tamatan Sekolah Dasar ( SD) sangat berbeda kemampuannya dalam melayani wisatawan asing dengan SDM pendidikan yang sama bahkan di Jakarta sekalipun.
“Pengalaman sebagai traveler di Indonesia, masalah hospitality ini harus ditingkatkan terutama di kota-kota Kabupaten. Destinasi wisata ada di pelosok bukan di ibukota provinsi saja. Di daerah kita kerap menemukan harga untuk turis meroket, pelayanan yang lama dan tidak ramah,” ungkapnya.
Soal kuliner Indonesia sudah lama jadi perhatian diaspora Indonesia di Australia, oleh karena itu pihaknya berharap BUMN di bawah Menteri Erick Thohir bisa menghadirkan restoran Indonesia di mancanegara dan membuat wisatawan juga mampu mengingat menu unggulan.
” Saya pingin satu aja menu kuliner Indonesia yang bisa diingat wisatawan saat pulang ke negaranya sudah bagus itu. Test aja apa soto ada di benak turis asing sebagai kuliner khas Indonesia ?. Hampir tiap daerah di Indonesia punya soto,” kata Widha Chaidir.
Jangan lupa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia pula dan punya 700 bahasa daerah dan 300 lebih suku etnik.
” Semua itu menjadi daya saing wisata kuliner Indonesia jika memang mau fokus mengembangkannya, kata Widha mengakhiri obrolannya.
ABU DHABI, bisniswisata.co.id: MENDAPAT kabar dari Gulf Business, bahwa mulai Sabtu 9 Mei Etihad Airways milik pemerintah Abu Dhabi melaksanakan penerbangan repatriasi dari 12 kota di luar jasirah Arab. Penerbangan repatriasi ini menganggkut warga UEA (Uni Emirat Arab) dari Amsterdam, Barcelona, Frankfurt, Jakarta, Kuala Lumpur, London, Manila, Melbourne, Seoul, Singapura, Tokyo, Toronto menuju Abu Dhabi.
UEA menangguhkan semua penerbangan regular rute internasional reguler di bulan Maret sebagai upaya memutus penyebaran COVID-19. Akibatnya sejumlah warga UEA yang sedang melakukan perjalanan di luar wilayah UEA, tertahan tidak dapat kembali ke negaranya.
Untuk dapat menggunakan layanan penerbangan repatriasi tersebut, warga UEA harus mengajukan permohonan persetujuan ICA melalui layanan residen UEA Twajudi, —tersedia di situs web Kementerian Luar Negeri (MoFAIC.gov.ae)–. Jika permohonan disetujui, warga akan menerima nomor persetujuan ICA yang harus diberikan kepada Etihad saat memesan tiket.
Menurut pihak Etihad Airways, hanya mereka yang memiliki visa tinggal UEA dan nomor persetujuan ICA yang diizinkan memasuki UEA. Setiba di Abu Dhabi, semua penumpang mendapat perlakukan sesuai protocol COVID-19 (tes PCR) dan pengujian termal dan harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.
Jadual penerbangan ke Abu Dhabi dari: Amsterdam: 13, 15, 20, 22, 27, dan 29 Mei Barcelona: 14, 17, 24 dan 31 Mei Frankfurt: 17 Mei, 24 dan 31 Jakarta: 15 dan 29 Mei Kuala Lumpur: 23 dan 30 Mei London: 9, 13, 16, 20, 23, 27 dan 30 Mei Manila: 13, 15, 16, 20, 22, 23, 27, 29, dan 30 Mei Melbourne: 13, 20 dan 27 Mei Seoul: 22 dan 29 Mei Singapura: 20 dan 27 Mei Tokyo: 20 dan 27 Mei Toronto: 12 Mei
Pihak Etihad juga menjelaskan bahwa mereka telah menerapkan program sanitasi dan keselamatan yang luas di kapal, di bandara dan di seluruh layanan transfer bandara gratis dan penumpang harus memakai masker saat bepergian.
Dalam pesawat, posisi duduk menerapkan aturan physical distancing dan akan menawarkan layanan makanan dan minuman sesuai dengan pedoman COVID-19. Selain mengoperasikan layanan repatriasi, Etihad Airways secara bertahap memulai penerbangan penumpang reguler per 16 Mei, tergantung pada langkah-langkah pengaturan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.